Anda di halaman 1dari 9

PEMERIKSAAN KLINIS PADA KAMBING

Kelompok 8: Rizki Pratiwi1, Nurul Fadillah Sultan, Sigit Wicaksono, Mukh. Yusuf Kadir Pole,
Nurul Fajriani
Asisten: Rini Amriani

2
Bagian Bedah & Radiologi. Departemen Klinik, Reproduksi & Patologi
Program Studi Kedokteran Hewan (PSKH), Universitas Hasanuddin (UNHAS)

Korespondesi penulis email: tiewcester@gmail.com

ABSTRAK
Praktikum diagnosa klinik kali ini bertujuan untuk mengetahui prosedur-prosedur
pemeriksaan pada kambing, dimana pemeriksaan tersebut dilakukan secara urut atau sistematis
berdasarkan tata cara diagnostik yang sering dilakukan oleh dokter hewan. Pada praktikum kali ini
digunakan kambing peranakan etawa yang diberi nama Uci. Uci memiliki tingkah laku yang sangat
aktif, terlihat saat ia selalu ingin lari saat ditangkap. Adapun prosedur pemeriksaan yang dilakukan
yaitu dimulai dari sinyalemen, anamnesa, pemeriksaan fisik serta pemeriksaan tambahan.
Sinyalemen terdiri dari 8 hal penting utama yang harus dicatat diawal pemeriksaan berupa nama
hewan, jenis hewan, bangsa atau ras, jenis kelamin, umur, warna rambut/bulu/kulit, berat badan,
dan ciri-ciri khusus. Anamnesa atau history dapat berarti berita atau keterangan dari pemilik hewan.
Kemudian cara pemeriksaan klinis dapat dilakukan dengan cara yang berurutan mulai dari inspeksi
atau peninjauan, palpasi atau perabaan, perkusi atau mengetuk, auskultasi atau mendengar,
mencium atau membaui, mengukur atau menghitung, proof puctio, serta tes alergi. Jika diperlukan
maka dapat pula dilakukan pemeriksaan tambahan dengan pemeriksaan laboratorium klinik dan
juga pemeriksaan dengan alat diagnostik lain seperti USG dan EKG. Diagnosa akhir yang
didapatkan yaitu Uci dalam kondisi yang sehat meskipun badannya terlihat kurus sehingga ia
membutuhkan perbaikan gizi untuk meningkatkan bobot badannya.
Kata Kunci: Anamnesa, Peranakan Etawa, Kambing, Pemeriksaan Fisik, Sinyalemen

PENDAHULUAN ada 333 genus yang dapat dideteksi dan hanya


86 genus yang masih hidup, Ternak
Ternak ruminansia termasuk dalam ruminansia yang sebenarnya (infra ordo
ordo Artiodactyla (hewan mamalia berkuku Pecora) dibagi dalam 3 familia, yaitu
genap) dan sub ordo ruminantia. Menurut asal Cervidae yang terdiri dari 17 genus, familia
katanya, ruminansia berasal dari bahasa Latin, Giraffidae yang terdiri dari 2 genus dan
yaitu ruminae yang berarti mengunyah familia Bovidae (ruminansia dengan tanduk
kembali sehingga ruminansia adalah hewan berlubang) yang terdiri dari 49 genus yang
mamalia yang memamah biak atau masih hidup (Rahmadi et al., 2003).
mengunyah kembali (Rahmadi et al., 2003). Di Indonesia populasi kambing sangat
Sebagai ternak herbivora, ruminansia besar (14,4 juta ekor atau sekitar 38% total
merupakan kelompok ternak yang penting, ruminansia di Indonesia) dan tersebar di
baik yang sudah mengalami domestikasi seluruh wilayah, sehingga peternakan
maupun yang masih liar. Hal ini mengingat kambing bagi warga dan negara Indonesia
jumlah dan jenis ternak mamalia saat ini mempunyai peran yang sangat strategis dan
semakin berkurang. Pada ordo Artiodactila mempunyai prospek yang baik sebagai
pemasok protein hewani maupun sumber menegakan diagnosis suatu kasus. Diagnosis
devisa. Namun demikian, usaha petemakan penunjang dapat berupa pemeriksaan
ini pada kenyataannya masih menghadapi hematologi dan kimia darah, radiography,
permasalahan yang sangat menghambat dan ultrasonography (USG), serta endoscophy
merugikan yakni angka kesakitan dan (Widodo, 2011).
kematian yang sangat tinggi. Beberapa survei Sinyalemen atau jati diri atau identitas
menunjukkan bahwa angka kematian kambing diri atau ciri-ciri dari seekor hewan
di Indonesia sangat tinggi (11% 36%) yang merupakan ciri pembeda yang
hampir seluruhnya (93,9%) pada periode membedakannya dari hewan lain sebangsa
sebelumnya (Widiyono et al., 2003). dan sewarna meski ada kemiripan satu sama
Sebagian besar kematian ternak ini lannya (twin). Sinyalemen dapat terdiri atas
(>60%) diakibatkan oleh penyakit, termasuk nama hewan, jenis hewan, bangsa atau ras,
penyakit yang dapat menular ke manusia. jenis kelamin, umur, warna kulit dan bulu,
Untuk mengatasi keadaan seperti ini, deteksi berat bada serta ciri-ciri khusus (Widodo,
gangguan kesehatan temak yang lebih dini 2011).
dan tepat serta adanya penanganan medik Anamnesa adalah upaya mencari tahu
yang akurat menjadi suatu kebutuhan mutlak. dengan bertanya kepada klien/pemilik hewan,
Namun demikian, dunia kedokteran hewan mengenai segala sesuatu yang berhubungan
pada saat ini masih dihadapkan pada satu dengan penyakit yang diderita oleh
kendala berupa ketiadaan/keterbatasan nilai pasien/hewan yang diperiksa (sejarah hewan
fisiologis untuk beberapa parameter sebelum sakit, dan keadaan hewan pada saat
pemeriksaan klinis untuk kelompok umur, sakit, pakan yang diberikan, keadaan sekitar
sehingga tindakan diagnostik dan penanganan apakah ada hewan yang sakit atau tidak dan
yang cepat dan akurat terhadap suatu lain-lain) (Sutomo, 2015).
gangguan penyakit menghadapi kesulitan Tata cara atau tata urut dapat juga
(Widiyono et al., 2003). disebut sebagai tahapan yang dipakai untuk
Seekor hewan dapat dikatakan sakit menemukan atau mengenali gejala – gejala
karena hewan tersebut menujukkan kelainan- penyakit adalah bervariasi. Pemeriksaan fisik
kelainan dibandingkan dengan hewan yang hewan dapat dilakukan dengan menggunakan
sehat. Untuk kepentingan tersebut diatas catur indra pemeriksa, yakni dengan
diperlukan pengetahuan tentang segala penglihatan, perabaan, pendengaran, serta
sesuatu yang berkaitan dengan kelainan pada penciuman (pembau) (Widodo, 2011).
hewan sakit, dikatakan sebagai pengetahuan Inspeksi atau peninjauan atau
dalam pemeriksaan fisik atau ekseminasi fisik pemantauan dapat dilakukan dengan cara
(Widodo, 2011). melihat hewan atau pasien secara keseluruhan
Tata cara dalam melakukan dari jarak pandang secukupnya sebelum
pemeriksaan fisik yaitu inspeksi, palpasi atau hewan didekati untuk suatu pemeriksaan
perabaan, perkusi atau mendengar, mencium lanjut. Yang diinspeksi adalah permukaan luar
atau membaui, mengukur dan menghitung, dari badan hewan dari daerah kepala, leher,
pungsi pembuktian atau proof punctio, tes badan samping kiri dan kanan, belakang dan
alergi, pemeriksaan laboratorium klinik, serta kaki-kaki/ekstremitas, aspek kulit, aspek
pemeriksaan dengan alat diagnostik lain rambut, orifisium eksternum mulut, anus,
(Widodo, 2011). vulva/vagina atau preputium (Widodo, 2011).
Palpasi atau perabaan yaitu
TINJAUAN PUSTAKA pemeriksaan permukaan luar ragawi dapat
dilakukan dengan cara palpasi atau perabaan
Diagnosis penyakit dapat dilakukan dengan tangan. Di setiap bagian-bagian
melalui beberapa tahapan yaitu anamnesa, ragawi baik bagian tengkorak, leher, bagian
sinyalemen, dan pemeriksaan fisik. Tahapan rongga dada atau thorax, bagian perut atau
ini bertujuan menemukan kondisi-kondisi abdomen, bagian punggu atau pelvis, dan alat
patologis seperti muntah, penurunan bobot gerak atau extremitas dapat dinilai kualitasnya
badan, dan anoreksia. Tahapan diagnosis dengan cara palpasi. Limfonodus adalah salah
penunjang diperlukan untuk membantu
satu yang dapat dipalpasi. Limfonodus (Ln.) menyusui, suku Ruminansia (binatang
terletak berdekatan dengan permukaan kulit memamah biak), anak suku kambing-
atau disebut terletak superfisial dan sebagian kambingan (Caprinae). Kelompok anak suku
besar dapat dipalpasi (Widodo, 2011). itu masih dibagi-bagi lagi dalam kelompok
Prinsip perkusi atau mengetuk atau yang lebih kecil, yakni terbagi dalam 5 tribe
memukul alat untuk mengeluarkan denting (rumpun) dan 11 genus (marga atau induk
atau gema. Pada pemeriksaan dengan cara jenis). Kambing yang tersebar di alam dapat
perkusi ini adalah dengan mendengarkan dibedakan menjadi dua jenis, yaitu kambing
pantulan gema yang ditimbulkan oleh alat liar dan kambing ternak (Sarwono, 2008).
pleximeter yang diketuk oleh palu (hammer) Kambing memiliki kemampuan untuk
atau jari pemeriksa (Widodo, 2011). membedakan rasa pahit, manis, asin, dan
Melakukan auskultasi adalah asam. Bahkan kambing memiliki toleransi
mendengarkan suara yang ada yang yang lebih tinggi terhadap rasa pahit
ditimbulkan oleh kerja organ baik pada saat dibandingkan dengan sapi. Kambing memiliki
sehat fungsional maupun pada kasus-kasus kemampuan mengolah serat dan mencerna
tertentu. Prinsip penggunaan alat auskultasi selulosa yang lebih tinggi dibandingkan
adalah mendengarkan suara yang ditimbulkan domba dan sapi. Pasalnya, berat badan
oleh aktifitas organ ragawi kemudian kosong pada kambing lebih kecil
dievaluasi untuk mendapatkan keterangan dibandingkan dengan domba (Setiawan,
kejadian pada organ yang mengeluarkan suara 2011).
tersebut (Widodo, 2011). Kambing akan tumbuh sehat bila suhu
Kambing merupakan ternak tubuhnya sekitar 39,5°C -40,5°C dan denyut
ruminansia kecil yang menduduki tempat jantungnya 70-80 per menit (Iebih cepat pada
tersendiri di kalangan bangsa-bangsa di Asia anak). Tinggi rendahnya suhu tubuh sangat
dan Afrika. Jumlah populasi kambing di Asia berkaitan dengan stress, aktivitas kegiatan,
ditaksir sekitar 225 juta ekor atau 49% dari dan suhu lingkungan sekitarnya. Kalau
total populasi dunia. Peran ternak ruminansia kambing menderita kaget, terlalu banyak
kecil ini telah memberi sumbangan yang gerak, atau berada di tempat yang panas dan
sangat berarti bagi kesehatan dan gizi berjuta- lembap. suhu tubuhnya akan naik. Oleh
juta penduduk di negara-negara berkernbang, karena itu, sebaiknya kambing dibiarkan
terutama mereka yang hidup di bawah garis dalam keadaan tenang agar suhu tubuhnya
kemiskinan Pada tahun 1969 Indonesia stabil. Kambing disebut menderita demam
memiliki sekitar 7.5 juta ekor kambing. ringan jika suhu tubuhnya 41°C -41,5° C dan
kemudian pada tahun 1990 meningkat demam tinggi kalau suhunya lebih dari 42° C
menjadi 11,2 juta ekor. Populasi kambing (Sarwono, 2008).
terus-menerus mengalami peningkatan. Pada Kambing etawa berasal dari wilayah
tahun 1994 sudah mencapai sekitar 12,8 juta Jamnapari (India), sehingga kambing ini
ekor dan pada tahun 2001 populasi kambing disebut juga sebagai kambing jamnapari.
sekitar 12,5 juta ekor. Dari data tersebut dapat Kambing ini adalah kambing yang paling
disimpulkan bahwa laju populasi kambing populer di Asia Tenggara. Di negara asalnya,
terus meningkat rata-rata 2,2% sampai 4,3% kambing etawa termasuk kambing tipe
tiap tahun (Sarwono, 2008). dwiguna, yakni sebagai penghasil susu dan
Kambing tergolong hewan memamah daging. Kambing etawa rnemiliki postur
biak, berkuku genap, dan bertanduk sepasang tubuh besar, telinga panjang menggantung,
menggantung. Hampir semua jenis kambing bentuk muka cembung, serta bulu di bagian
merupakan hewan pegunungan yang suka paha belakang sangat panjang (Sodiq, 2009).
hidup di lereng-lereng curam. Kambing Berat badan kambing etawa jantan
mempunyai kebiasaan makan sambil berdiri bisa mencapai 90 kg, sedangkan betinanya
dan gemar sekali mencari hijauan daun-daun hanya 60 kg. Pada kambing etawa betina,
(Sarwono, 2008). ambing tumbuh secara baik dengan puting
Dalam klasifikasi biologi, kambing memanjang. Produksi susunya sangat tinggi,
digolongkan dalam kelompok binatang yakni mencapai 235 kg per masa laktasi (261
hari). Pada masa puncak laktasi, produksinya saat kurang pakan dan air (Suhardono et al.,
mencapai 3,8 kg per hari (Sodiq, 2009). 2005).
Disebabkan tingkat produksi susu dan Pada kasus yang parah dapat terlihat
laju pertumbuhannya yang tinggi, serta gejala klinis yang lain yaitu hewan akan
didukung oleh daya adaptasi yang sangat baik menggesek-gesekkan daerah yang gatal ke
terhadap kondisi lingkungan yang ekstrim, tiang kandang atau pohon-pohon, menggaruk
kambing ini banyak digunakan untuk garuk atau mencakar dan menggigit kulitnya
memperbaiki mutu kambing-kambing lokal di secara terus-menerus. Hewan menjadi kurus
suatu negara. Di Indonesia, perbaikan mutu jika tidak segera diobati maka akan terjadi
genetik kambing lokal dengan kambing etawa kematian (Kasmar, 2015).
rnenghasilkan kambing peranakan etawa Pada kambing yang terinfeksi terlihat:
(PE). Sentra terbesar kambing PE adalah di lesu, tidak ada nafsu makan, kulit tampak
wilayah Kaligesing, Purworejo, Jawa Tengah menebal, berkerak, turgor kulit jelek, bulu
(Sodiq, 2009). rontok, gatal-gatal atau Pruritis, Hyperemi
Kambing peranakan etawa merupakan pada selaput lendir mulut, terdapat lepuh pada
hasil persilangan antara etawa dan kambing mukosa mulut dan terjadi Conjungtivitis
lokal Indonesia, yaitu kambing kacang. (Kasmar, 2015).
Tujuan persilangan untuk menghasilkan jenis Pneumonia (radang pam-pam)
kambing yang lebih mampu beradaptasi merupakan penyakit penting pada kambing
dengan kondisi Indonesia. Secara fisik PE, karena keterlambatan penanganan, akan
peranakan kambing PE merupakan campuran dapat berakibat fatal yang dapat merugikan
antara kedua induknya, sebagian ada yang peternak. Sampai saat ini kasus pneumonia
mirip kambing PE, dan sebagian lagi ada pada kambing PE masih banyak ditemukan di
yang seperti kambing kacang. Hasil silangan lapangan, bila tidak dilakukan pengobatan
yang lebih mirip kambing kacang lebih dengan tuntas, proses dapat melanjut menjadi
dikenal dengan nama jawarandu. Kambing ini kronis yang akhirnya sukar disembuhkan,
digunakan sebagai kambing pedaging. bahkan kambing PE yang menderita
Sementara itu, kambing PE lebih banyak pneumonia pada awalnya akan menunjukkan
digunakan sebagai kambing penghasil susu. gejala anoreksia dan terjadi gangguan
Walaupun ada juga yang menggunakan pernafasan seperti batuk-batuk, sesak nafas
kambing PE sebagai kambing pedaging dan bila melanjut hewan akan menjadi kurus
karena memiliki sosok tubuh yang besar kadang berakhir dengan kematian. Untuk
(Andoko dan Warsito, 2013). menanggulangi penyakit ini, harus dilakukan
Masalah kudis pada kambing pengobatan yang tuntas. Pengobatan yang
umumnya terlihat pada musim kemarau dan efektif dapat dicapai antara lain bila diketahui
yang digembalakan. Penyakit ini jenis kuman yang mungkin menyebabkan
mengakibatkan rendahnya harga jual ternak penyakit tersebut dan sensitivitasnya terhadap
penderita, kematian.dan dapat menular ke antimikrobia (Yuriadi dan Tjahajati, 2002).
manusia. Penyakit kudis atau disebut skabies Gejala klinis pneumonia sangat
merupakan penyakit kulit menular yang bervariasi, dari yang ringan sampai paling
menyerang hewan terutama kambing, kelinci, berat. Stadium awal radang paru-paru berupa
kerbau, anjing, dan babi. Khusus pada hiperemia pulmonum, yang selanjutnya diikuti
kambing adalah salah satu penyakit yang gejala dispnoe atau sesak nafas, dan
sering ditemukan, mengakibatkan penurunan pernafasan frekuen dengan tipe abdominal,
bobot badan, nampak jijik sehingga harga jual respirasi cepat dan dangkal merupakan gejala
berkurang tinggal 1/3 dari harga kambing utama dari pneumonia stadium awal. Gejala
sehat, dan bila dibiarkan akan mati dalam klinis lain yang sering timbul adalah
waktu 3 bulan. Prevalensi penyakit ini pada anoreksia, lesu, mukosa sianosis, adanya
berbagai ternak di Indonesia adalah 0,22%, peningkatan suhu, pulsus, dan perubahan
pada kambing khususnya di pulau Lombok auskultasi dan perkusi paru-paru. Selanjutnya
berkisar 4–11%. Umumnya kejadian penyakit dikatakan bahwa pneumonia dalam beberapa
tinggi pada musim kemarau (Juli–September), hari akan menimbulkan gejala berupa batuk,
keluar leleran dari hidung, pada keadaan akut g. Berat Badan :
suhu tubuh meningkat, kadang-kadang h. Tanda-tanda Lain: Telinga kiri terlipat,
mencapai 42°C. Hewan berdiri dengan kaki terdapat black line pada dorsal tubuh.
diabduksikan dan kepala merunduk (Yuriadi
dan Tjahajati, 2002). Adapun data-data lain mengenai pasien
Pink eye sering disebut juga penyakit terlampir pada Kartu Rekam Medis.
bular mata/ radang mata/ katarak, atau kelabu Setelah melakukan sinyalemen yaitu
mata yang sering terjadi pada kambing pencatatan data-data umum mengenai hewan,
maupun domba. Pink eye disebut juga kemudian dilakukan anamnesa. Uci adalah
penyakit epidemik, karena ditempat yang kambing peranakan etawa yang merupakan
telah terinfeksi dapat berjangkit kembali kambing ternak yang terdapat pada kawasan
setiap tahunnya. Penyakit ini sering timbul peternakan Fakultas Peternakan Universitas
dengan tiba-tiba terutama pada hewan dalam Hasanuddin. Pada saat dilakukan praktikum
keadaan lelah (Irwan, 2014). diagnosa klinik, pemilik ataupun pengurus
Pink eye dapat menyerang semua jenis dari peternakan tersebut sedang tidak berada
ternak dan semua tingkat umur, tetapi hewan ditempat sehingga tidak dilakukan anamnesa.
muda lebih peka dibandingkan dengan hewan Setelah dilakukan pemeriksaan fisik
tua. Penyebab utama pink eye terhadap hewan. Pemeriksaan pertama yang
pada sapi adalah moraxella bovis, sedangkan dilakukan adalah pemeriksaan keadaan
pada domba dan kambing sering umum. Didapatkan bahwa perawatan Uci
dikenal rickettsia colesiota, namun para ahli sedang dengar rambut yang begitu rontok.
masih banyak berbeda pendapat ada yang Kemudian mengamati tingkah laku Uci yaitu
menyebutkan penyebabnya bakteri, virus, cenderung gelisah saat dilakukan
chlamidia dan juga rickettsia (Irwan, 2014). pemeriksaan. Kemudian pemeriksaan status
Faktor-faktor yang mempengaruhi gizi dimana status gizi Uci terbilang sedang.
timbulnya infeksi pink eye yaitu lalat, debu, Pertumbuhan badan yang baik serta sikap
kelembaban, musim, kepadatan hewan di berdiri yang tegak. Pemeriksaan berikutnya
dalam kandang serta kualitas makanan. yaitu dengan mengukur berat badan serta suhu
Infeksi pink eye lebih banyak berjangkit pada rektal dari Uci, karena tidak adanya
peralihan musim kemarau dibandingkan timbangan pada peternakan tersebut maka
dengan musim penghujan. Tetapi pada kasus berat badan hanya dapat diperkiarakan, kira-
yang kronis dapat berlangsung sepanjang kira berat badannya itu sekitar 7 kg dan suhu
tahun. Masa inkubasi penyakit ini biasanya 2 tubuhnya yaitu 39,7ºC, ini sesuai dengan
3 hari, kadang-kadang lebih panjang, hewan literatur yang didapatkan yang mengatakan
penderita mengalami demam, depresi dan bahwa suhu normal kambing yaitu berkisar
penurunan nafsu makan, mata mengalami antara 39,5 ºC-40,5ºC.
konjunctivitis, kreatitis, kekeruhan kornea dan Pemeriksaan selanjutnya yaitu dibagian
lakrimasi. Pada kasus yang berat dapat kepala dan leher dimana hal pertama yang
menimbulkan ulserasi kornea dan kebutaan. dilakukan yaitu inspeksi berupa pemantauan
Pada kornea mata hewan yang sembuh dari ekspresi kepala, pertulangan kepala, posisi
penyakit ini terdapat jaringan parut (Irwan, tegak telinga, warna rambut, dan lain
2014). sebagainya. Setelah melakukan inspeksi
didapatkan tidak ada perubahan atau dapat
HASIL DAN PEMBAHASAN disingkat TAP. Ekspresi kepala Uci tampak
tenang, pertulangan kepala yang simetris,
Pada praktikum ini, diperoleh data posisi tegak telinga yang terkulai meski
pasien (sinyalmen) berupa: terdapat lipatan pada bagian telinga kiri, ini
a. Nama/Nomor : Uci mungkin adalah kelainan saat lahir yang
b. Spesies : Kambing didapatkan oleh Uci dan dapat menjadi tanda
c. Ras/Breed : Peranakan Etawa khas dari kambing tersebut. Namun lipatan
d. Kelamin/Sex : Betina tersebut bukanlah sebuah penyakit yang parah
e. Umur/Age : ±1 tahun melainkan hanya sebuah tanda khas yang
f. Warna rambut : Coklat
didapatkan Uci sejak ia lahir. Posisi kepala ternyata semuanya menunjukkan TAP.
Uci yang tegak, Kemudian dilakukan palpasi Kemudian pemeriksaan daerah leher.
pada bagian turgor kulit, ini bermaksud untuk Dilakukan palpasi pada perototannya, bagian
mengetahui apakah terdapat bengkak atau trachea dan esophagus ditemukan TAP.
benjol pada sekitar kulit, dapat juga dilakukan Pemeriksaan tahap selanjutnya yaitu
tes dehidrasi dimana kulit dari hewan dicubit, pemeriksaan thoraks pada bagian sistem
jika kulit kembali normal dalam 1-2 detik pernafasan. Pertama dilakukan inspeksi pada
maka hewan sedang tidak dalam keadaan bentuk rongga thoraks, dimana Uci
dehidrasi. Uci menunjukkan bahwa dia menujukkan bentuk rongga thoraks yang
sedang tidak dalam keadaan dehidrasi karena normal. Kemudian dilakukan inspeksi pada
kulitnya kembali normal dalam waktu 1-2 tipe pernafasan. Tipe pernafasan yang
detik. dilakukan kambing adalah tipe pernafasan
Pemeriksaan selanjutnya yaitu inspeksi perut atau disebut tipe abdominal dimana kita
dan palpasi pada daerah mata kanan dan kiri. dapat melihat pergerakan pada daerah
Tes dehidrasi juga dapat dilakukan dengan abdomen saat kambing melakukan ekspirasi
melakukan inspeksi didaerah mata tepatnya dan inspirasi. Jika saat melakukan inspirasi
pada konjunctiva. Kemudian dilakukan lagi dan ekspirasi ternyata juga terdapat
pemeriksaan lain seperti pada cilia, palpebra, pergerakan pada daerah thoraks atau dada
sclera, cornea, iris, limbus, pupil, reflex maka itu berarti kambing tersebut tidak
pupil, dan vasa injectio, semua menunjukkan normal karena kambing tidak melakukan
TAP. Pada pemeriksaan reflex pupil pernafasan tipe costoabdominal. Pada
digunakan penlight, didapatkan bahwa Uci kambing yang diperiksa yaitu Uci
memiliki refleks yang normal dimana pupil menunjukkan normal dimana ia menggunakan
akan mengecil seketika saat dilakukan sistem pernafasan abdomen. Ritme dari
penyinaran pada mata dengan menggunakan pernafasan Uci yaitu ritmis, intensitasnya
penlight. dangkal. Kemudian menghitung frekuensi
Pemeriksaan selanjutnya yaitu pada nafas Uci, didapatkan yaitu 76 kali/menit.
bagian hidung, mulut dan telinga. Pada bagian Hasil tersebut dapat dikatakan melewati batas
hidung dilakukan palpasi pada rongga hidung normal, dimana frekuensi nafas kambing
beserta sinus-sinusnya, tidak didapatkan normal hanya berkisar 26-54 kali/menit. Ini
adanya gangguan seperti leleran lendir dari dapat diakibatkan karena kambing yang
hidung dan sebagainya. Kemudian pada mulut mengalami stress dan kelelahan pada saat
pemeriksaan pertama yaitu melihat apakah dilakukan pemeriksaan. Kemudian dilakukan
terdapat rusak/luka pada bibir, ternyata tidak pula pemeriksaan pada lapangan paru-paru
ditemukan adanya kerusakan. Kemudian dan juga gema perkusi dimana didapatkan
dapat pula melakukan uji dehidrasi pada hasil TAP. Tidak ditemukan perluasan pada
rongga mulut, tepatnya pada daerah mukosa. daerah lapangan paru-paru. Gema perkusi
Bila mukosa atau gusi normalnya memiliki juga didapatkan suara yang resonan. Lalu
warna merah mudah dan bila ditekan maka dilakukan auskultasi untuk memeriksa suara
akan terlihat perubahan warna menjadi pucat. pernafasan dan suara ikutan dimana semuanya
Jika kulit kembali normal dengan cepat maka mendapatkan hasil TAP.
hewan sedang tidak dalam keadaan dehidrasi. Pemeriksaan selanjutnya yaitu
Itulah yang ditunjukkan Uci. Pemeriksaan pemeriksaan pada sistem peredaran darah.
selanjutnya pada telinga, dimana pertama Pertama dilakukan perhitungan pulsus pada
dilakukan penciuman atau pembauan pada kambing, dimana dapat dilakukan
daerah telinga, pada telinga Ical tidak dicium pemeriksaan pada bagian Arteri maxillaris
bau yang kurang mengenakkan, itu externa dan juga pada Arteri coccygea pada
menunjukkan tidak adanya serumen yang bagian ekor kambing. Didapatkan hasil yaitu
terdapat dalam telinga yang biasanya akan 140 kali/menit. Hasil tersebut lebih tinggi
menghasilkan bau yang kurang mengenakkan. dibandingkan dengan data pulsus normal
Pemeriksaan selanjutnya dilakukan palpasi kambing yaitu 100-120 kali/menit. Ini dapat
pada permukaan dan juga krepitasinya, diakibatkan oleh pengaruh stress yang
dirasakan kambing saat dilakukan didaerah tersebut, tetapi semunya didapatkan
pemeriksaan. Selain itu, dilakukan TAP. Kemudian dapat pula dilakukan
pemerikaan peredaran darah dengan metode pemeriksaan pada frekuensi gerak rumen
auskultasi, frekuensi denyut jantung adalah dengan cara uji tinju, didapatkan hasil yaitu 9
68 kali/menit, intensitasnya cepat dan dalam, kali/5menit. Hasil tersebut normal
ritme teratur, systole dan dyastole normal, berdasarkan literatur yang mengatakan
tidak ada ekstrasystole, lapangan jantung gerakan peristaltik rumen adalah 5-10 kali/5
normal, dan adanya sinkronisasi antara pulsus menit.
dengan jantung. Pemeriksaan lain yang dilakukan yaitu
Kemudian dilakukan pula pemeriksaan pada alat perkemihan dan kelamin. Kambing
berupa uji alu dan uji gumba. Sebenarnya yang diperiksa adalah kambing betina
pemeriksaan ini dilakukan pada ruminansia sehingga praktikan dapat memeriksa daerah
besar saja seperti sapi dan kerbau, tetapi pada vulva dan sekitarnya. Dilakukan inspeksi dan
praktikum kali ini juga dilakukan palpasi pada mukosa vagina dan kelenjar
pemeriksaan tersebut kepada Uci. Pertama mamae. Pada mukosa vagina terlihat normal
dilakukan uji gumba yaitu pengangkatan ke dan kering. Kemudian pada kelenjar mamae,
atas pada daerah punggung dari kambing, bila besar, letak, bentuk, kesimetrisan dan
ada reaksi dari hewan berupa gerakan konsistensi kelenjar semuanya didapatkan
menahan badan atau gerakan menunduk saat tidak ada perubahan (TAP).
diangkat keatas, maka hewan dalam keadaan Pemeriksaan selanjutnya yaitu pada
normal. Namun jika tidak ada reaksi bagian alat gerak. Dilakukan inspeksi pada
menunduk ke bawah maka kemungkinan perototan kaki depan, kaki belakang, spasmus
adanya gangguan pada hewan tersebut, seperti otot dan tremor. Pada pemeriksaan perototan
contohnya gangguan pada jantung, karena jika kaki depan, belakang dan spamus didapatkan
hewan menundukkan badannya ke bawah saat TAP.
diangkat ke atas, malah akan membuatnya Kemudian dilakukan palpasi pada
kesakitan sehingga dia tidak akan melakukan struktur pertulangan, kaki kanan dan kiri
reaksi apa-apa ketika diangkat ke atas. depan, kaki kanan dan kiri belakang,
Pemeriksaan selanjutnya berupa uji alu, yaitu konsistensi pertulangan dan reaksi pada
dapat dilakukan tekanan-tekanan palpasi. Setelah dilakukan palpasi ternyata
menggunakan bambu atau kayu yang tidak didapatkan normal pada semua pemeriksaan
runcing atau tumpul pada bagian Processus tersebut, tidak terdapat gangguan. Panjang
xyphoideus dari hewan. Jika tidak ada reaksi kaki kiri dan kanan, baik depan dan belakang
maka hewan dalam keadaan normal, namun juga sama panjang dan tidak ditemukan
jika ada reaksi dari hewan mungkin itu adalah kelainan.
reaksi dari rasa sakit sehingga dapat dikatakan Pemeriksaan selanjutnya yaitu palpasi
kondisi hewan dalam keadaan tidak normal. pada Lymphonodus popliteus. Mulai dari
Uci menunjukkan keadaan yang normal ukuran, konsistensi, lobulasi,
karena dia tidak menunjukkan reaksi apa-apa perlekatan/pertautan, panasnya, kesimetrisan
saat dilakukan uji alu dan uji gumba. antara kanan dan kiri, semuanya mendapatkan
Selanjutnya yaitu pemeriksaan pada hasil yang TAP atau normal. Selanjutnya
abdomen dan organ pencernaan yang pemeriksaan terakhir yaitu palpasi pada Tuber
berkaitan. Pertama dilakukan inspeksi pada ischii dan Tuber coxae yang juga
abdomen, didapatkan yaitu besarnya simetris mendapatkan hasil yang TAP.
antara bagian kiri dan kanan dan bentuknya Setelah dilakukan seluruh tahapan
normal. Kemudian dilakukan auskultasi untuk diagnosa klinik, maka Uci didiagnosa sehat
mendengar suara peristaltik lambung dan sejara fisik. Tetapi ada beberapa terapi yang
usus, ternyata didapatkan TAP. Pemeriksaan disarankan kepada pemilik yaitu untuk
selanjutnya yaitu palpasi didaerah menjaga pola makan dari kambing agar bobot
epigastricus, mesogastricus, hypogastricus, tubuhnya dapat naik atau bisa dikatakan lebih
isi usus halus dan isi usus besar untuk gemuk.
mengetahui apakah terdapat pembengkakan
KESIMPULAN Rahmadi, Didiek. 2003. Diktat Kuliah
Berdasarkan pemeriksaan klinik yang Ruminologi Dasar. Semarang: Fakultas
dilakukan terhadap seekor kambing bernama Peternakan Universitas Diponegoro
Uci maka dapat diambil kesimpulan bahwa
diagnosa klinik harus dilakukan secara Sarwono B. 2008. Beternak Kambing Unggul.
sistematis. Dimulai dari sinyalemen yang Bogoe: Penebar Swadaya
berisi 8 hal penting termasuk nama hewan, Setiawan, Budi S. 2011. Beternak Domba dan
jenis hewan dan seterusnya. Kemudian Kombang. Jakarta: Agromedia Pustaka
dilakukan anamnesa. Setelah itu dilakukan
pemeriksaan fisik. Hasil yang diperoleh Sodiq, Akhmad. Zainal Abidin. 2009.
setelah melakukan pemeriksaan fisik yaitu Meningkatkan Produktivitas Kambing
Uci memiliki kondisi fisik yang baik dan Peranakan Etawa. Jakarta: Agromedia
sehat meskipun ada beberapa hal yang Pustaka
menunjukkan abnormalitas saat diperiksa Suhardono et al. 2005. Pengendalian Penyakit
lebih lanjut. Abnormalitas pada kambing Kudis Pada Kambing di Kabupaten Deli
tersebut didapati saat memeriksa ritme dan Serdang. Seminar Nasional Teknologi
intensitas pernafasan yang cepat dan dangkal, Peternakan dan Veteriner
serta saat dihitung frekuensi napasnya
didapatkan hasil 76 kali/menit, padahal Sutomo, Wisnu. 2015. Diagnosa Klinis.
frekuensi pernafasan kambing normal yang http://pertanian.slemankab.go.id/diagn
sehat hanya berkisar 26-54 kali/menit. Ini osa-klinis/. Diakses pada tanggal 25
dapat diakibatkan karena kambing dalam Oktober 2015 pukul 15.30
keadaan stress dan kelelahan saat dilakukan
Widiyono, Irkham et al. 2003. Frekuensi
pemeriksaan. Faktor stress dan kelelahan juga
Nafas, Pulsus, dan Gerak Rumen Serta
mungkin berpengaruh pada frekuensi pulpus
Suhu Tubuh Pada Kambing Peranakan
Uci yang juga menunjukkan abnormalitas
Ettawa Selama 3 Bulan Pertama
yaitu 140 kali/menit padahal frekuesi pulsu
Kehidupan Pasca Lahir. Jurnal Sain Vet.
normal kambing hanya 100-120 kali/menit.
XXI Volume 2
Namun secara keseluruhan status kesehatan
tubuhnya masih normal. Diagnosa akhir dari Widodo, Setyo. 2011. Diagnostik Hewan
pemeriksaan yaitu Uci dalam keadaan yang Kecil. Bogor: IPB Press
sehat, namun Uci membutuhkan beberapa
terapi seperti perbaikan gizi agar bobot badan Yuriadi. Ida Tjahajati. 2002. Isolasi dan Uji
Uci dapat lebih meningkat. Sensitivitas Bakteri Saluran Pernafasan
Kambing PE Penderita Pneumonia.
Jurnal Sains Vet Vol. XX Nomor 2
DAFTAR PUSTAKA
Andoko, Agus. Warsito. 2013. Beternak
Kambing Unggul. Jakarta: Agromedia
Pustaka
Irwan. 2014. Penanganan Pink eye Pada
Ternak Kambing di Loka Penelitian
Kambing Potong Sei Putih. Surabaya:
Fakultas Kedokteran Hewan Universitas
Airlangga
Kasmar, Ihwal Nur. 2015. Revalensi Scabies
Pada Kambing di Kecamatan
Bontotiro, Kabupaten Bulukumba.
Makassar: Fakultas Kedokteran
Universitas Hasanuddin