Anda di halaman 1dari 19

KONTRASEPSI MANTAP PADA WANITA

(TUBEKTOMI)
Dosen Pengampu : Millatin Puspaningtyas, S.SiT, M.Kes

Nama Kelompok :

1. Eva Kurnia Ningsih (P0113117)


2. Fina Yuliani (P0113119)
3. Ipana Pujianti (P0113122)

Kelas A Semester IV

AKADEMI KEBIDANAN HARAPAN IBU


PEKALONGAN
TAHUN AKADEMIK 2014/2015
KONTRASEPSI MANTAP PADA WANITA
(TUBEKTOMI)

A. Pengertian

Tindakan yang dilakukan di kedua tuba falopi yang

mengakibatkan orang / pasangan yang bersangkutan tidak

akan mendapatkan keturunan lagi. Kontrasepsi ini untuk

jangka panjang dan sering disebut tubektomi / sterilisasi.

B. Jenis
1. Mencapai Tuba Falopii

a. Abdominal

1) Laparatomi

Sudah jarang digunakan karena diperlukan insisi

yang panjang dan anastesi umum/spinal.

Laparatomi hanya diperlukan jika cara-cara

kontrasepsi mantap lainnya gagal/timbul

komplikasi, sehingga memerlukan insisi yang


lebih besar/ pada keadaan-keadaan lain. Jika

kontap bukan merupakan operasi utama, tetapi

sebagai pelengkap misal pada sectio cesarea,

KET, dll.

2) Mini Laparatomi

Laparatomi khusus untuk tubektomi yang paling

mudah dilakukan 1-2 hari pasca persalinan.

 Efektivitas : angka kegagalan 0-2,7

kehamilan per 100 wanita.

 Sayatan dibuat di garis tengah di atas

simphisis sepanjang 3 cm sampai menembus

peritoneum. Untuk mencapai tuba digunakan

alat khusus (elevator uterus) ke dalam kavum

uteri.

 Dengan bantuan alat tersebut, uterus yang

semula dalam keadaan retrofleksi dijadikan

antefleksi dahulu kemudian didorong ke arah


lubang sayatan, lalu dilakukan penutupan

tuba dengan salah satu cara.

 Keuntungan Mini laparatomi:

Aman, mudah, wanita yang baru melahirkan

umumnya mempunyai motivasi tinggi untuk

mencegah lebih banyak anak.

 Kerugian Mini laparatomi :

Risiko komplikasi (kesalahan, kegagalan

teknis), perdarahan serta risiko infeksi.

3) Laparaskopi

merupakan gabungan dari 2 tindakan

(laparaskopi dan oklusi tuba falopii). Dengan

posisi trendelenburg, pemberian pneumo

peritoneum melalui luka insisi superfisial.

 Keuntungan Laparaskopi: Cepat, insisi kecil,

kurang mnyebabkan sakit jika dibanding

mini laparatomi
 Kerugian Laparaskopi :

Risiko terjadi komplikasi, lebih sukar

dipelajari, memerlukan keahlian bedah,

harga peralatan mahal.

b. Vaginal

1) Kolpotomi

yang sering dipakai adalah kolpotomi posterior.

Insisi dilakukan di dinding vagina transversal 3-

5 cm dengan gunting/skalpel. Cavum douglas

(terletak antara dinidng depan rektum & dinding

belakang uterus) dibuka melalui vagina untuk

mencapai tuba. Insersi vertikal ini menyebabkan


timbulnya jaringan parut di fornik posterior

dengan akibat timbul dyspareunia.

Keuntungan : bisa rawat jalan, alat sederhana,

lebih murah.

2) Kuldoskopi

Keuntungan : bisa rawat jalan, alat sederhana,

murah, waktu singkat.

Kerugian : posisi akseptor mungkin kurang

nyaman (posisi lutut-dada).

2. Oklusi Tuba Falopii

a. Ligasi

pengikatan dan pemotongan tuba falopii untuk

mencegah perjalanan dan pertemuan

spermamatozoa dan ovum

b. Fimbriektomi

c. Tubal Rings
Metode ini melibatkan pemasangan sebuah cincin

atau klip ke tuba falopi, yang memutuskan aliran

darah dan membentuk jaringan parut di simpul tuba.

Tuba falopi akhirnya terpisah menjadi dua segmen.

d. Tubal Clips

e. Tehnik Pomery

1) Merupakan tehnik kontap-wanita yang paling

sering dikerjakan

2) Bagian tengah tuba dijepit dengan klem lalu

diangkat sehingga membentuk suatu loop

3) Dasar dari loop diikat dengan benang yang

dapat diserap (plain catgut)

4) Bagian loop di atas ikatan dipotong


Gb. Teknik Polimery

Gb. Ligasi
Gb. Tubal Ring Gb. Tubal Clips

C. Instruksi untuk Klien


1. Jagalah luka operasi tetap kering hingga pembalut

dilepaskan. Mulai beraktivitas normal secara bertahap

(sebaiknya dapat kembali ke aktivitas normal di dalam

wktu 7 hari setelah pembedahan)

2. Hindari hubungan intim hingga merasa cukup nyaman.

3. Hindari mengangkat benda-benda berat & bekerja

keras selama 1 minggu setelah pembedahan


4. Jika sakit, minum 1-2 tablet analgetik setiap 4 hingga 6

jam.

5. Jadwalkan sebuah kunjungan pemeriksaan secara rutin

antara 7 dan 14 hari setelah pembedahan.

6. Kembali setiap waktu apabila pasien menghendaki

perhatian tertentu/ tanda-tanda yang tidak biasa.

D. Efek Samping MOW


1. Nyeri bahu selam 12-24 jam setelah laparaskopi relatif

lazim dialami karena gas (CO2/udara) di bawah

diafragma, sekunder terhadap pneumoperitoneum.

2. Tubektomi efektif setelah operasi

3. Periode menstruasi akan berlanjut seperti biasa. (apabila

mempergunakan metode hormonal sebelum prosedur,

jumlah dan durasi haid dapat meningkat setelah

pembedahan).

4. Tubektomi tidak memberikan perlindungan IMS


E. Mekanisme Kerja

Dengan mengoklusi tuba falopii (mengikat, memtong /

memasang cincin) sehingga sperma tidak dapat bertemu

dengan ovum.

F. Manfaat kontrasepsi
1. Sangat efektif (0,5 kehamilan per 100 perempuan

selama tahun pertama penggunaan)

2. Tidak mempengaruhi proses menyusui

3. Tidak bergantung pada faktor senggama

4. Bagi klien apabila kehamilan akan menjadi risiko

kesehatan yang serius

5. Pembedahan sederhana dengan anastesi lokal

6. Tidak ada efek samping jangka panjang

7. Tidak ada perubahan dalam fungsi seksual

G. Manfaat Non Kontrasepsi

Berkurangnya risiko kanker ovarium


H. Keterbatasan

1. Harus dipertimbangkan sifat permanen

2. Klien dapat menyesal di kemudian hari

3. Risiko komplikasi kecil

4. Rasa sakit / ketidaknyamanan dalam jangka pendek

setelah tindakan

5. Dilakukan oleh dokter yg terlatih

6. Tidak melindungi diri dari IMS

I. Syarat
1. Syarat Sukarela

2. Syarat Bahagia

3. Syarat Sehat

J. Indikasi
1. Wanita pada usia > 26 tahun

2. Wanita dengan paritas lebih dari 2


3. Wanita yang telah yakin mempunyai besar keluarga

yang di kehendaki

4. Wanita yang jika hamil akan menimbulkan risiko

kesehatan yang serius

5. Wanita pasca persalinan

6. Wanita pasca keguguran

7. Wanita yang paham & secara sukarela setuju dengan

prosedur ini

K. Waktu Pemasangan

1. Selama siklus menstruasi apabila diyakini tidak hamil

2. Hari ke-6 sampai ke-13 dari siklus menstruasi

(proliferasi)

3. Pasca persalinan :

b. Minilap : dalam waktu 2 hari/stlh 6 mgg/12mgg

c. Laparaskopi : tidak tepat untuk klien pasca

persalinan
4. Pasca keguguran :

a. Triwulan pertama : dalam waktu 7 hari sepanjang

tidak ada bukti infeksi pelvik (minilap /

laparaskopi)

b. Triwulan kedua : dalam waktu 7 hari sepanjang

tidak ada bukti infeksi pelvik (minilap saja)

L. Persiapan Pre-Operatif

1. Informed consent

2. Riwayat medis/ kesehatan : penyakit pelvik, riwayat

operasi abdominal, DM, penyakit paru-paru, obesitas,

penyakit perdarahan, alergi, medikamentosa pada saat

ini

3. Pemeriksaan fisik

4. Pemeriksaan laboratorium (pemeriksaan darah lengkap,

urine, paps smear)


M. Instruksi untuk Klien

1. Jagalah luka operasi tetap kering hingga pembalut

dilepaskan. Mulai neraktivitas normal secara bertahap

(sebaiknya dapat kembali ke aktivitas normal di dalam

wktu 7 hari setelah pembedahan)

2. Hindari hubungan intim hingga merasa cukup nyaman.

3. Hindari mengangkat benda-benda berat & bekerja

keras selama 1 minggu setelah pembedahan

4. Jika sakit, minum 1-2 tablet analgetik setiap 4 hingga 6

jam.

5. Jadwalkan sebuah kunjungan pemeriksaan secara rutin

antara 7 dan 14 hari setelah pembedahan.

6. Kembali setiap waktu apabila pasien menghendaki

perhatian tertentu/ tanda-tanda yang tidak biasa.


N. Efek Samping MOW

1. Nyeri bahu selam 12-24 jam setelah laparaskopi relatif

lazim dialami karena gas (CO2/udara) di bawah

diafragma, sekunder terhadap pneumoperitoneum.

2. Tubektomi efektif setelah operasi

3. Periode menstruasi akan berlanjut seperti biasa. (apabila

mempergunakan metode hormonal sebelum prosedur,

jumlah dan durasi haid dapat meningkat setelah

pembedahan).

4. Tubektomi tidak memberikan perlindungan IMS


O. Penanganan Komplikasi

Komplikasi Penanganan

Infeksi luka  Apabila teihat infeksi luka,

obati dengan antibiotik. Bila

terdpt abses, lakukan drainase

& obati seperti terindikasi.

Demam pasca operasi  Obati infeksi berdasarkan apa

yang ditemukan

 Apabila kandung kemih / usus


Luka pada kandung
luka dan diketahui sewaktu
kemih
operasi, lakukan reparasi

primer. Apabila ditemukan

pasca operasi, dirujuk ke RS

yang tepat bila perlu.


 Gunakan packs yang hangat &

Hematoma (sub lembab di tempat tersebut. Hal

cutan) ini akan berhenti dengan

berjalannya waktu, tetapi

dapat membutuhkan drainase

bila ekstensif.

 Pastikan adanya infeksi / abses

Rasa sakit pada lokasi dan obati berdasarkan apa

pembedahan yang ditemukan

Perdarahan  Mengontrol perdarahan dan

superfisisal (tepi kulit obati berdasarkan apa yng

/ sub cutan) ditemukan


DAFTAR PUSTAKA

http://jurnalbidandiah.blogspot.com/2012/04/kontrasepsi-kb-

mantap-medis-operatif.html#ixzz3VXCktAXT