Anda di halaman 1dari 10

Adab Interaksi Sosial dalam Kehidupan Muslim (Adabut Ta'amul Fil Jama'ah)

Hal ini juga merupakan indikator apakah seseorang itu beriman atau belum.
Manusia adalah makhluq sosial, dia tak bisa hidup seorang diri, atau mengasingkan diri dari “…Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah ia memuliakan
kehidupan bermasyarakat. Dengan dasar penciptaan manusia yang memikul amanah berat tetangganya” (HR. Bukhari, Muslim)
menjadi khalifah di bumi, maka Islam memerintahkan ummat manusia untuk saling ta’awun,
saling tolong-menolong, untuk tersebarnya nilai rahmatan lil alamin ajaran Islam. Maka Islam Apa saja yang bisa dilakukan untuk memuliakan tetangga, diantaranya:
menganjurkan ummatnya untuk saling ta’awun dalam kebaikan saja dan tidak dibenarkan - Menjaga hak-hak tetangga
ta’awun dalam kejahatan ( QS Al Maaidah:2) - Tidak mengganggu tetangga
- Berbuat baik dan menghormatinya
Oleh karena itu manusia selalu memerlukan oranglain untuk terus mengingatkannya, agar tak - Mendengarkan mereka
tersesat dari jalan Islam. Allah SWT mengingatkan bahwa peringatan ini amat penting bagi - Menda’wahi mereka dan mendo’akannya, dst.
kaum muslimin.
4. Saling menziarahi.
“Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi
orang-orang yang beriman” (Adz Dzariyat: 55) Rasulullah SAW, sering menziarahi para sahabatnya. Beliau pernah menziarahi Qois bin Saad
bin Ubaidah di rumahnya dan mendoakan: “Ya Allah, limpahkanlah shalawat-Mu serta
Bahkan Allah SWT menjadikan orang-orang yang selalu ta’awun dalam kebenaran dan rahmat-Mu buat keluatga Saad bin Ubadah”. Beliau juga berziarah kepada Abdullah bin Zaid
kesabaran dalam kelompok orang yang tidak merugi hidupnya. (QS: Al Ashr: 1-3). Maka bin Ashim, Jabir bin Abdullah juga sahabat-sahabat lainnya. Ini menunjukkan betapa ziarah
hendaknya ummat Islam mngerahkan segala daya dan upayanya untuk senantiasa memiliki nilai positif dalam mengharmoniskan hidup bermasyarakat.
mengadakan tashliihul mujtama’, perubahan ke arah kebaikan, pada masyarakat dengan
memanfaatkan peluang, momen yang ada. “Abu Hurairah RA. Berkata: Bersabda Nabi SAW: Ada seorang berziyaroh pada temannya di
suatu dusun, maka Allah menyuruh seorang malaikat (dengan rupa manusia) menghadang di
Jika kita berada di bulan Ramadhan maka bisa melakukan ta’awun, misalnya dengan saling tengah jalannya, dan ketika bertemu, Malaikat bertanya; hendak kemana engkau? Jawabnya;
membangunkan untuk sahur, mengingatkan pentingnya memanfaatkan waktu selama Saya akan pergi berziyaroh kepada seorang teman karena Allah, di dusun itu. Maka ditanya;
menjalankan puasa. Mengingatkan agar jangan menyia-nyiakan puasa dengan amalan yang Apakah kau merasa berhutang budi padanya atau membalas budi kebaikannya? Jawabnya;
dilarang syari’at, dsb. Di bulan Syawal, lebih ditingkatkan lagi dengan hubungan sosial yang Tidak, hanya semata-mata kasih sayang kepadanya karena Allah. Berkata Malaikat; Saya
berkelanjutan, mengesankan. Bulan Dzulhijjah juga momen penting untuk merajut kembali utusan Allah kepadamu, bahwa Allah kasih kepadamu sebagaimana kau kasih kepada
benang-benang ukhuwah. Tentu saja hari-hari selain itu perlu kita tegakkan aktivitas-aktivitas kawanmu itu karena Allah” (HR. Muslim).
sosial yang memang merupakan seruan Islam.
5. Memberi ucapan selamat.
1. Silaturahim
Islam menganjurkan silaturahim antar anggota keluarga baik yang dekat maupun yang jauh, Islam amat menganjurkan amal ini. Ucapan bisa dilakukan di acara pernikahan, kelahiran
apakah mahram ataupun bukan. Apalagi terhadap kedua orang tua. Islam bahkan anak baru, menyambut bulan puasa. Dengan menggunakan sarana yang disesuaikan dengan
mengkatagorikan tindak “pemutusan hubungan silaturahim” adalah dalam dosa-dosa besar. zamannya. Untuk sekarang bisa menggunakan kartu ucapan selamat, mengirim telegram
“Tidak masuk surga orang yang memutuskan hubungan silaturahim” (HR. Bukhari, Muslim) indah, telepon, internet, dsb.
Sesungguhnya ucapan selamat terhadap suatu kebaikan itu merupakan hal yang dilakukan
2. Memuliakan tamu Allah SWT terhadap para Nabinya dan kepada hamba-hamba-Nya yang melakukan amalan
Tamu dalam Islam mempunyai kedudukan yang amat terhormat. Dan menghormati tamu surga. Misalnya;
termasuk dalam indikasi orang beriman. “Sampaikanlah kabar baik, kepada mereka yang suka mendengarkan nasihat dan mengikuti
“…barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan yang baik daripadanya” (Az Zumar: 17).
tamunya” (HR. Bukhari, Muslim) “Maka Kami memberi selamat kepada Ibrahim akan mendapat putra yang sopan santun
(sabar)”. (Al Maidah: 101),
3. Menghormati tetangga
Rasulullah SAW juga memberikan kabar gembira (surga) kepada para sahabatnya semisal, berkelahi, masalah kecurangan, tipu menipu dalam perdagangan, dan sebagainya yang
Abu bakar RA, Umar bin Khaththab RA, Utsman RA, Ali RA, dsb. meliputi di hampir setiap bidang kehidupan kita. Semua membuat sesaknya nafas kehidupan
ini. Memang sebenarnya negara ini bukan disesakkan oleh jumlah penduduknya tetapi akhlaq
6 Peduli dengan aktivitas sosial. yang buruklah yang menyesakkan dada.

Orang yang peduli dengan aktivitas orang di sekitarnya, serta sabar menghadapi resiko yang Atas dasar inilah harus dibuat arus kebaikan, budaya kebaikan, sehingga orang mudah
mungkin akan dihadapinya, seperti cemoohan, cercaan, serta sikap apatis masyarakat, adalah menemukan kebaikan dimana saja dia berada. Seseorang mudah mendapatkan salam dan
lebih daripada orang yang pada asalnya sudah enggan untuk berhadapan dengan resiko yang senyum ketika bertemu orang lain walaupun belum saling kenal, tidak mudah curiga terhadap
mungkin menghadang, sehingga ia memilih untuk mengisolir diri dan tidak menampakkan yang lain, banyak orang yang mampu menahan marah, mendapati orang suka berbuat baik,
wajahnya di muka khalayak. menolong dsb. Kondisi kehidupan seperti ini layaknya kehidupan zaman Rasulullah SAW,
ataupun para salafush sholeh, dimana banyak orang berbuat baik tanpa disuruh dan diminta,
“Seorang mukmin yang bergaul dengan orang lain dan sabar dengan gangguan mereka lebih hanya kerena mengharap ridho Allah SWT semata. Kita masih ingat kisah dua orang di
baik dari mukmin yang tidak mau bergaul serta tidak sabar dengan gangguan mereka” (HR. zaman salafush shaleh, sedang mengadakan tarnsaksi jual beli sebidang tanah. Tanah telah
Ibnu Majah, Tirmidzi, dan Ahmad). dibeli oleh seorang pembelinya dan diolah tanah tersebut, ternyata dia mendapatkan sebatang
emas dalam timbunan tanah tsb. Lantas dikembalikannya emas itu kepada si penjual, tapi
7. Memberi bantuan sosial. ditolaknya, lantaran dia telah menjual semuanya apapun didalamnya. Namun si penemu emas
Orang-orang lemah mendapat perhatian yang cukup tinggi dalam ajaran Islam. Kita (pembeli) tak bersedia menerima kembali karena dia hanya bermaksud membeli tanah.
diperintahkan untuk mengentaskannya. Bahkan orang yang tidak terbetik hatinya untuk Terjadilah cek-cok saling menolak batangan emas. Akhirnya diadukan ke qodli, dan
menolong golongan lemah, atau mendorong orang lain untuk melakukan amal yang mulia ini diputuskan dengan adil. Orang yang menemukan emas menikahkan anak laki-lakinya dengan
dikatakan sebagai orang yang mendustakan agama. anak perempuan si penjual tanah, dengan mahar emas tsb. Maka selesailah masalah.
“Tahukah kamu orang yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim,
dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin” (Al Maa’un: 1-3). Demikianlah jika setiap kita suka berlomba dalam kebaikan maka dampaknya, yang akan
menikmati hasilnya adalah kembali ke kita juga. Yaitu sebuah kehidupan yang kita impikan,
BERINTERAKSI DENGAN NON MUSLIM surplus kebaikan.

- Muamalah dengan yang setimpal. Di zaman sekarang ini surplusnya kebaikan hanya terjadi dalam waktu dan tempat yang
- Tidak mengakui kekufuran mereka. tertentu saja. Misalnya hanya di bualan Ramadhan saja orang menahan marah, suka
- Berbuat yang adil terhadap mereka dan menahan diri dari mengganggu mereka. shodaqoh, jujur, dsb, dan setelah itu amalan tersebut langka. Di tempat tertentu misalnya
- Mengasihani mereka dengan rohamh insaniyah. hanya di seputar Ka’bah ketika bulan Hajji, di sana sering didapatkan orang memberikan
- Menumjukkan kemuliaan akhlaq muslim dan izzah Islam. uangnya kepada siapa saja yang ditemuinya, bahkan ada yang menyebarnya. Di Kuwait
ketika Ramadhan telah tiba, saat menjelang ifthor, banyak warga yang membuka warung
Dari uraian-uraian di atas jelaslah bahwa Islam menuntut ummatnya untuk menerapkan makan dan mempersilakan siapa saja untuk ifthor di sana, gratis!
perilaku-perilaku kebaikan sosial. Untuk lebih luas lagi dapat dikatakan bahwa wujud nyata
atau buah dari seorang mu’min yang rukuk, sujud, dan ibadah kepada Allah SWT adalah Sungguh nikmat jika adat seperti itu berjalan di sepanjang waktu dan di setiap tempat. Namun
dengan melakukan aktivitas kebaikan. Seorang yang menyatakan diri beriman hendaknya yang terjadi setelah bulan itu berlalu, kehidupan berjalan sebagaimana yang sebelumnya.
senantiasa menyuguhkan , menyajikan kebaikan-kebaikan di tengah masyarakat. Jika setiap
orang yang beriman rajin melakukan hal ini, maka lingkungan kita akan “surplus kebaikan”. Untuk itu hanya orang-orang mu’minlah satu-satunya manusia harapan untuk menciptakan
Dus, defisit keburukan. peradaban seperti itu.

Sementara yang terjadi sekarang adalah tata kehidupan sosial masyarakat yang “surplus “Hai orang-orang yang beriman, ruku’lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan
keburukan”. Seseorang tidak akan merasa aman membawa uang dalam jumlah besar di jalan perbuatlah kebaikan, supaya kamu mendapat kemenangan.” (Al Hajj: 77).
raya, di bus kota. Orang tidak tenang meninggalkan hartanya tanpa adanya sistem keamanan
yang ketat. Fenomena seperti orang mudah sekali terprovokasi untuk anarkhi, mudah sekali
Sikap Rasul kepada Abu Sufyan. Rumahnya dijadikan baitul qoshid. Kedudukannya tidak
BAGAIMANA ADAB BERINTERAKSI DENGAN MASYARAKAT? direbut tetapi di ta’ziz.

Dengan atau tanpa da’wah, interaksi dengan masyarakat adalah suatu kemestian sosial. Bagi 2. Dihormati di tengah-tengah para pengikutnya.
seorang muslim untuk menyebarkan rahmat Islam bagi semesta alam tentu dilakukan dnegan Sa’ad bin Muadz ketika diberikan kehormatan untuk mengambil putusan hukum atas bani
berinteraksi dengan masyarakat. Terlebih jika dikaitkan dnegan da’wah. Karena karakter Quraidzah, Rasul SAW bersabda: “Quumuu ilaa sayyidatikum”.
da’wah sendiri harus berbaur dengan masyarakat (mukholathoh), yaitu dengan mukholathoh
yang ijabi (positif). 3. Sebitkan juga jasa-jasa mereka kepada Islam.
Ketika khalifah di Tsaqifah, pidato Abu bakar sangat bijak. Ia menyebut-nyebut nikmat Islam,
Dengan demikian thobiah da’wah itu adalah da’wah ammah. Da’wah khoshshoh bukan jasa-jasa kaum Anshar dan kebaikan-kebaikan Muhajirin. Dengan begitu kaum Anshar ikut
merupakan suatu badil (pengganti) bagi da’wah ammah tetapi lebih merupakan unsur mendukung.
penunjangnya. Karena da’wah ammah belum dapat dimunculkan sebagaimana mestinya. Dalam sebuah munasabah, Asy Syahid juga pernah diminta untuk mengisi acara semacam
Berinteraksi dengan masyarakat dimulai dari yang terdekat dengan kita. Kita melihatnya tabligh. Namun sayangnya panitia kurang memiliki fiqhul mujtama’ sehingga terjadi konflik
dengan mizanud da’wah, sementara sikap atau asas berinteraksi dengan masyarakat adalah dengan ulama di sekitar tempat acara. Setelah diceritakan oleh panitia mengenai konflik
mu’amalah bimitsli. Sedangkan sikap ta’amul da’wah adalah ‘amilun naas bimaa tuhibbu ‘an tersebut kepada Asy Syahid sebelum acara dimulai, akhirnya Asy Syahid mohon ijin untuk
tu’aamiluuka bihi. Bagaimana atau apa yang seharusnya kita berikan kepada masyarakat mendatangi para ulama di sekitar itu satu per satu untuk memohon maaf kepada mereka.
Setelah itu baru ia memulai ceramah. Dua per tiga dari isi ceramahnya, menyebut-nyebut
A. BERINTERAKSI DENGAN PARA DA’I YANG LAIN kebaikan dan jasa-jasa para ulama tersebut terhadap Islam. Akhirnya para ulama mendatangi
tempat dimana Asy Syahid berceramah.
Adapun yang dimaksud dengan da’i di sini adalah para da’i yang belum indhimam satu shaf
dengan kita. 4. Berhubungan dengan mereka dan mendo’akan mereka.
Rasulullah menghububgi tokoh Thoif serta mendo’akan mereka.
1. Kita memiliki tujuan umum yang sama yaitu membela Islam dan memajukan ummat. Umar Tilmitsani ketika Sadat meninggal dunia, ia mengucapkan do’a; “inna lillahi wa inna
2. Namun kita tetap menyadari adanya perbedaan dalam khiththah dan uslub (cara kerja). ilaihi raji’un” yang membuat ikhwah tercengang.
3. Menjalin kerjasama dalam hal-hal yang disepakati dan bersikap toleran dalam hal yang
ikhtilaf. 5. Memperhatikan kepentingan bersama.
4. Menyenangi ijma’ untuk mencapai wihdatul fikriyah dan tidak menyenangi nyleneh Mulailah pembicaraan dari titik-titik persamaan, jangan dari titik perbedaan.
(syadz). Karena syadz berbeda dengan ghorib. Syadz tidak punya akar apapun juga (misalnya Asy Syahid memulai dari point-point yang sama kemudian mendudukkan point-point yang
adanya pemikiran dari Ahmadiyah yang mengatakan bahwa semua orang baik kafir atau berbeda.
muslim masuk surga. Atau pemikiran Gus Dur yang mengomentari ayat; wa lan tardlo ‘ankal
yahud….dst, sudah tak berlaku lagi). Sedangkan grorib adalah pemikiran yang baik, tetapi ADABUT TA’AMUL FIL JAMA’AH
tidak dikenal oleh masyarakat.
5. Toleransi dalam masalah khilaf dan furu’ dan membenci ta’shub. “Sesungguhnya jikalau engkau tak bersama mereka maka engkau tak akan bersama selain
6. Persoalan apaun tidak perlu merusak mawaddah di anatara kaum muslimin. mereka. Sekiranya mereka tak bersama engkau, maka mereka akan bersama selain engkau”.
Pernah As Syahid difitnah bahwa Jinah Asykari akan menyerang Jama’ah Jihad. Tentu saja
pimpinan Jama’ah Jihad marah dan meminta dialog dengan Asy Syahid untuk mengeluarkan A. DENGAN DA’WAH
segala uneg-unegnya. Asy Syahid hanya menjawab dengan “sammihuuni”, maafkan saya.
7. Khilaf hendaknya dikaji secara ilmiyah, tidak hanya terhenti sebagai apologetik 1. Lepaskan hubungan dengan lembaga/jama’ah manapun terutama (dan secara khusus) lagi
(pembelaan) saja. jika engkau diminta untuk itu.
Hidup dalam sebuah jama’ah memang dituntut untuk tajarrud dan profesional di dalamnya.
B. BERINTERAKSI DENGAN TOKOH MASYARAKAT Kadangkala seorang a’dho’ (anggota jama’ah) diminta untuk masuk dalam organisasi tertentu
dengan tujuan untuk belajar (on mission), menjalin hubungan, dsb. Namun adakalanya juga
1. Di tempatkan pada posisinya. kita diminta untuk meninggalkannya. Mungkin karena lembaga tersebut dinilai
membahayakan secara siyasi, aqidah, fikroh ataupun lainnya. Atas dasar itulah seorang a’dho’ ”ta’allamul lughatal ‘arabiyah fainnaha min diinikum” (Pelajarilah bahasa Arab karena dia
harus memahami betul akan permintaan jama’ahnya dan diterimanya dengan legowo. Sebab adalah bagian dari dien kalian). Juga hadits Rasulullah saw yang diriwayatkan oleh Al Hafidz
sebuah jama’ah pasti mempunyai arah dan tujuan dalam menjalankan manhajnya. Semua Ibnu Asakir dengan sanad dari Malik:
tentunya telah disyurokan terlebih dahulu dengan pihak-pihak yang terkait. Setiap a’dho
jama’ah berperan dalam menjalankan tugasnya dengan sebuah ikatan amal jama'i. “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Rabb itu satu, bapak itu satu, dan agama itu satu.
Bukanlah Arab di kalangan kamu itu sebagai bapak atau ibu. Sesungguhnya , Arab itu adalah
2. Menghidupkan budaya Islami. lisan (bahasa), maka barangsiapa yang berbicara dengan bahasa Arab, dia adalah orang
Arab”.
a. At tahiyat (salam).
Demikianlah kaum muslimin sedunia telah disatukan dan dipersaudarakan dengan satu
Abdullah bin Amru bin Al-ash r.a. berkata: Seorang bertanya kepada Rasulullah s.a.w: bahasa, bahasa Arab. Kita akan jaya dengan bahasa Arab.
“Apakah yang terbaik di dalam Islam? Nabi s.a.w. menjawab: Memberi makanan dan
memberi salam terhadap orang yang kau kenal atau tidak kau kenal” (HR. Bukhari, Muslim) c. Penanggalan.
Salam, selain do’a juga merupakan pintu pembuka komunikasi. Hendaknya salam ini kita
budayakan, karena dampaknya cukup besar terhadap peradaban Islam yang akan datang. Urgensi penanggalan hijriyah:
Ketika seorang muslim yang belum kita kenal diberi salam maka dia akan membalas salam
dan biasanya dilanjutkan jabat tangan, akan terjadi komunikasi, kontak hubungan, selanjutnya Hijrah adalah moment terpenting dalam sejarah dakwah islamiyah. Hijrah adalah masa
terserah anda, apakah akan berkenalan atau silaturahim, dari sinilah muncul benih-benih peralihan dalam sejarah kaum muslimin. Sebelum hijrah mereka adalah ummatud da’wah.
ukhuwah, dst. Karena itulah Abdullah bin Umar RA sengaja menyempatkan diri untuk pergi Mereka menyampaikan da’wah Allah swt. kepada manusia tanpa didukung basis politis yang
ke pasar, dan ia mengucapkan salam kepada setiap muslim yang dijumpainya, sampai suatu bisa melindungi para da’I-nya atau menangkal serangan musuh kepada mereka.
saat dia ditanya oleh seseorang; “Apa yang anda perbuat di pasar? Anda bukan seorang
pedagang, tidak pula membeli dagangan, Anda juga tidak duduk dalam kepengurusan pasar, Setelah hijrah berdirilah daulatud da’wah. Satu kedaulatan yang di pundaknya terletak
mengapa anda selalu ada di pasar? Jawab Ibnu Umar, ‘Aku sengaja setiap pagi pergi ke pasar tanggung jawab menginternasionalisasikan Islam ke seluruh jazirah arab dan sekitarnya.
hanya untuk mengucapkan salam kepada setiap muslim yang aku temui” (HR. Bukhari).
Maka tak heran jika masa keemasan khalifah Umar bin Khaththab RA telah sepakat
b. Bahasa Arab. menjadikan tahun hijrah nabawiyah sebagai permulaan penanggalan Islami. Pada waktu itu
Khalifah Umar mengumpulkan sejumlah sahabat dan meminta pendapat mereka mengenai
Bahasa Arab adalah bahasa kesatuan kaum muslimin sedunia, bahasa yang digunakan untuk penanggalan Islami. Tujuannya adalah bahwa dengan penanggalan tsb mereka bisa
komunikasi Allah SWT. dengan hamba-Nya (Rasulullah SAW) berupa Al Quran. Bahasa mengetahui kapan saatnya melunasi hutang, dan lain-lain yang berkaitan dengan
yang telah dipilih oleh Allah SWT. ini adalah bahasa yang paling sempurna di antara bahasa- penanggalan.
bahasa yang ada di bumi ini. Suatu bahasa yang tetap akan terjaga asholah-nya (keaslian)
sampai hari qiyamat, tak akan terkontaminasi oleh lajunya peradaban dunia. Tidak seperti Seorang sahabat memberi usulan untuk membuat penanggalan seperti Parsi, yang lain
bahasa lain yang mudah tercemar seiring dengan globalisasi dan majunya peradaban. mengusulkan seperti Romawi, namun Umar RA menolaknya. Ada juga yang mengusulkan
Misalnya saja bahasa Indonesia atau bahasa Inggris seratus tahun yang lalu tak mudah penanggalan berdasarkan kelahiran Rasulullah SAW, berdasarkan tahun diutusnya Rasulullah
dipahami oleh manusia/ bangsanya pada saat ini. SAW, hijrahnya atau wafatnya beliau.

Seseorang tak akan mampu memahami Islam dengan benar tanpa melalui kidah bahasa Arab. Namun pada akhirnya khalifah Umar RA cenderung membuat penanggalan berdasarkan
Menafsirkan Al qur’an wajib menggunakan kaidah bahasa Arab, bukan dengan kaidah/tata hijrahnya Rasulullah SAW, dengan pertimbangan bahwa hijrah adalah babak baru munculnya
bahasa bahasa selainnya. Seorang muslim tak akan mungkin (mustahil berpisah dari bahasa Islam dan hal yang tidaka asing lagi bagi kaum muslimin.
Arab). Untuk itu kita mesti medalami dan mensyi’arkannya dalam kehidupan sehari hari. Asy
Syahid Hasan Al Bana telah mewasiatkan: “ takallamul lughatal ‘arabiyatal fushkha fainnaha Umar RA tidak mau membuat penanggalan dengan bi’tsah Nabi SAW meskipun hal tersebut
min sya’airil islam” (Berbicaralah dengan menggunakan bahasa Arab karena hal ini penting. Hal ini disebabkan bi’tsah dan masa setelah itu Islam dan kaum muslimin dalam
merupakan bagian dari syi’ar Islam). Shahabat Umar bin Khattab RA. pernah mengatakan: kondisi lemah, mereka mustadl’afin, tak punya kekuatan apa-apa. Sementara pucuk pimpinan
saat itu adalah Abu Jahal, Abu Lahab, Walid bin Mughirah dkk. Maka dari hal tsb tidaklah untuk diterapkan.
logis kalau dibuat penanggalannya karena tiadak mempunyai sejengkalpun daerah kekuasaan.
Sedangkan Hijrah Nabawiyah merupakan “unjuk gigi” baik dalam konsep maupun qiyadah. 3. Mengenal ikhwah du’at dengan ma’rifah yang sempurna dan sebaliknya.
Semua para sahabat tak terkecuali punya andil dalam membuat peristiwa-peristiwa hijrah dan
sesudahnya. Setelah itu mereka menguatkannya dengan daulah Islamiyah. “Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara” (Al Hujurat:10).
Ukhuwwah, setelah generasi pertama ummat Islam berlalu, telah hanya menjadi kata-kata
Penanggalan hijrah menunjukkan betapa kuat dan hebatnya jihad dan perjuangan ummat penghias bibir kaum muslimin dan khayalan belaka di benak mereka, sampai kita datang
Islam. Sejarah tak mungkin diukir satu orang saja, meski ia mempunyai kemampuan lebih, dengan ukhuwah islamiyahnya. Kita telah berusaha menerapkannya di kalangan kita dan
bahkan ia seorang nabi atau rasul. Sesungguhnya yang membuat sejarah adalah ummat secara menginginkan kembalinya ikatan ummat yang saling bersaudara dengan jiwa ukhuwah
keseluruhan, yaitu ummat yang berdiri di pihak rasul-Nya atau qo’id-nya. Sudah berapa islamiyah. Memang untuk meng- ukhuwah islamiyah-kan masyarakat, kita harus mewujudkan
banyak rasul yang dikecewakan dan dihinakan oleh kaumnya sendiri dan mereka tak bisa dahulu dalam kalangan kita sendiri.
berbuat apa-apa. Maka sesungguhnya ummat sekarang ini terpanggil untuk membuat
sejarahnya dengan jiwa mereka sendiri. Ikhwah berarti saudara sedarah, sekandung. Setiap mu’min kita jadikan sebagai saudara
sekandung, lebih dari sekedar teman kerabat. Rukun ukhuwah adalah ta’aruf, tafahum dan
Dengan demikian kaum muslimin menjadi excelent (mutamayyiz) tidak mengekor ataupun takaful. Ta’aruf yang sempurna adalah dengan mengenali seluruh jati dirinya; fisik, pola
menyerupai, Yahudi, Nashrani ataupun Majusi, dll. Kita menginginkan kepribadian yang berpikir (baca: fikroh), dan jiwanya. hendaknya kita tidak lalai dalam hal ini, sebab akan
bersih tak terkontaminasi dengan fikroh kafir yang membahayakan. Sudah menjadi aksioma dapat membawa resiko.
bahwa di antara pilar-pilar suatu ummat adalah sejarahnya yang mereka banggakan yang akan
menjadi ukiran peristiwa sejarah dengan penuh perjuangan dan titik darah penghabisan. Pernah dalam suatu acara mukhoyyam ikhwah, ketika sedang mengadakan perjalanan yang
panjang di malam hari melewati bukit-bukit berbatu, jurang yang dalam, menyeberangi
d. Busana. sungai nan deras, seorang ikhwah “hilang” dari barisan Setelah cukup lama, peserta baru
sadar ada satu anggota yang “hilang”. Pemandu segera menyusur balik dan akhirnya
Untuk wanita hendaknya senantiasa menutupkan aurat-nya ketika keluar rumah, dalam hal ini ditemukan. Usut punya usut ternyata ikhwah yang tertinggal tersebut mempunyai penyakit
perintah Allah SWT sudah jelas. Hindari pakaian yang menimbulkan fitnah, ataupun rabun senja. Untunglah dengan izin Allah SWT al-akh tsb selamat, tak masuk jurang.
perdebatan. Akan tetapi walaupun sudah menutup aurat jika terlalu mewah ataupun terlalu
kumuh akan membuat peluang orang untuk menggunjingnya (dosa). Perhatikan juga warna Demikianlah satu akibat jika kita tak pernah mengenali ikhwah kita sendiri (fisiknya). Dan
dan corak yang tidak mencolok hingga menarik perhatian banyak orang. Sementara untuk mungkin al akh yang menderita sakit tersebut sebelumnya juga tak pernah mengenalkan
laki-laki jangan memakai pakaian yang tasabuh (meniru) orang kafir. Seperti berpakaian dirinya kepada ikhwah lainnya. Untuk itu bersegeralah mengenali ikhwah sedini dan
dengan pakaian yang biasa (khusus) dipakai oleh para rahib atau pendeta, biksu, dsb. Hindari sesempurna mungkin, sebaliknya kita juga mengenalkan diri kita kepada ikhwah. Selanjutnya
pakaian dengan gambar, assesoris, simbul agama tertentu, ataupun juga gambar dan tulisan tafahum dan takaful akan terwujud serta membentuk bangunan yang kuat seiring dengan
jorok. Hal ini selain tidak berakhlaq juga akan mengusik kebersihan hati orang lain. Untuk kadar soliditas ukhuwah kita.
pakaian yang bertuliskan kata-kata tertentu, perhatikan jangan sampai mengganggu
konsentrasi orang lain, misalnya ketika shalat berjamaah di masjid. Bayangkan saja jika 4. Menunaikan kewajiban maaliyah.
antum memakai kaos yang di belakangnya ada tulisan “mburiku munyuk”, padahal antum
menjadi imam shalat! Jihad, selain memerlukan personil (rijal) juga membutuhkan finansial (maal). Dahulu seorang
Mujahid Muslim menyiapkan sendiri perlengkapan, kendaraan dan perbekalan perangnya.
Untuk pakaian di masjid hendaknya memakai yang terbaik yang kita miliki, terutama shalat Tak ada gaji bulanan yang diterima oleh para pimpinan dan prajurir. Yang ada hanya suka
Jum’at. Dalam berbusana yang terpenting adalah memenuhi syarat, yaitu menutup aurat, rela menyumbangkan harta dan jiwa. Itulah yang diperbuat oleh aqidah bila telah menjadi
(tidak menampakkan ataupun menonjolkannya) dan tidak tasabuh, setelah itu bisa landasan tegaknya sistem dan undang-undang.
menyesuaikan adat setempat. Jadi tidak harus berjubah dan bersorban ala Arab. Namun jika
hal itu untuk menandakan rasa cinta terhadap Rasul SAW dalam hal berpakaian maka Dahulu kaum muslimin yang miskin ingin berjihad membela manhaj Allah SWT dan panji
tentunya tidak mengapa. Akan tetapi hendaknya melihat kondisi masyarakat setempat. Jika aqidah, tak memiliki apa yang bisa dijadikan bekal untuk dirinya dan tak memiliki
mereka anti pati dan semakin menjauhi kita gara-gara pakaian , maka itu belum prioritas perlengkapan serta kendaraan. Kemudian mereka menghadap Nabi SAW meminta agar
diikutsertakan ke medan pertempuran yang jauh, yang tak bisa ditempuh dengan berjalan Allah SWT berfirman mengenai keseimbangan antara infaq dan penghasilan.
kaki. Bila Nabi SAW tak mendapatkan apa yang bisa dipakai untuk membawa mereka maka;
“mereka kembali, sedang mata mereka bercucuran air mata karena kesedihan, lantaran “Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu
mereka tidak memperoleh apa yang mereka nafkahkan” (At Taubah:92) terlalu mengulurkannya, yang karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal”. (Al Isra:29)

Banyak ayat Al Qur’an maupun hadits Rasulullah SAW yang menganjurkan untuk infaq di Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW bersabda:
jalan Allah SWT. Ajakan berjihad sering diiringi dengan ajakan untuk berinfaq. Ada juga
dalam ayat Al Qur’an yang mengidentikkan orang yang tak berinfaq dengan kebinasaan. “Tidak miskin orang yang hemat”

“Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah , dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu Sebagaimana harta itu membawa manfaat kepada pribadi, maka harta itupun akan membawa
sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai manfaat kepada ummat. Rasulullah saw bersabda:
orang-orang yang berbuat baik” (Al Baqarah:195).
“Sebaik-baik harta adalah harta yang ada orang-orang shalih”.
Tak mau berinfaq di jalan Allah SWT adalah tindakan membinasakan jiwa dengan sifat kikir,
disamping membinasakan jama’ah dengan ketidakberdayaan dan kelemahan, khususnya Sistem ekonomi yang baik -apapun namanya dan dari manapun sumbernya- akan diterima
dalam suatu sistem yang didasarkan pada suka rela, sebagaimana dalam sistem Islam. oleh Islam. Dan ummat pun akan didorong untuk mendukung dan menumbuhsuburkannya.
Asy Syahid Hasan Al Bana telah berwasiat untuk memperhatikan aspek ini, dengan
Suatu saat seorang sahabat bernama Abu Dahdah dirinya merasa tersindir ketika Rasul SAW menggalakkan kegiatan perekonomian, membuka lapangan kerja, menangkal penindasan
dalam khutbahnya terkesan sedang membutuhkan dukungan dana. Lantas Abu Dahdah praktek monopoli. Selain itu juga pengelolaan zakat yang profesional.
mengatakan; “Yaa Rasulallah, saya mempunyai kebun (yang luasnya 600 pohon kurma), itu
semua akan saya infaqkan fi sabilillah”. Kemudian Abu Dahdah pulang dan konfirmasi 5. Menyebarkan da’wah dan membentuk keluarga atas hal itu.
kepada istrinya bahwa kebunnya sudah menjadi milik kaum muslimin. Istrinya berkomentar;
“robahal bai’..” (perniagaan yang menguntungkan). Karena kebun yang sepetak itu akan Hal ini sudah ditegaskan oleh Asy Syahid dalam risalah ta’lim-nya bab amal. Pembentukan
diganti dengan kebun surga. Subhanallah.. keluarga muslim, yaitu dengan mengkondisikan keluarga agar menghargai fikrahnya,
menjaga etika islam dalam setiap aktivitas kehidupan rumah tangganya, memilih istri yang
Marilah kita galakkan syi’ar ini (zakat, infaq, shodaqoh, dsb) untuk menggapai ridha Allah baik dan menjelaskan kepadanya hak dan kewajibannya, mendidik anak-anak dan
SWT. pembantunya dengan didikan yang baik, serta membimbing mereka dengan prinsip-prinsip
islam.
“Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai ridha
Allah, maka (yang berbuat demikan) itulah orang-orang yang melipatgandakan pahalanya” Bimbingan terhadap masyarakat, yaitu dengan menyebarkan da’wah, memerangi perilaku
(Ar rum:39). yang kotor dan munkar, mendukung perilaku mulia, utama, melakukan amar ma’ruf,
bersegera mengerjakan kebaikan, menggiring opini umum untuk memahami fikrah islamiyah
Di samping itu kita juga diperintahkan untuk membangun syarikat-syarikat islami untuk dan mencelup praktek kehidupan dengannya terus menerus. Itu semua adalah kewajiban yang
membangun ekonomi ummat Islam. Ummat Islam yang tengah bangkit membutuhkan harus ditunaikan oleh setiap sebagai pribadi, juga kewajiban bagi jama’ah sebagai institusi
penanganan atas urusan ekominya, karena ia merupakan persoalan paling penting saat ini. yang dinamis.
Islam sama sekali tak mengesampingkan masalah ini, bahkan ia telah meletakkan kaidah
dasar dan konsep-konsepnya secara jelas dan tuntas. Lihatlah bagaimana Allah SWT. Demikianlah bahwasanya keluarga adalah miniatur masyarakat Islam. Robohnya nilai Islam
mengingatkan kita untuk menjaga harta, menjelaskan nilainya dan kewajiban untuk dalam keluarga maka roboh pula nilai Islam di masyarakat. Jika kita menginginkan daulah
memperhatikannya. islamiyah (yang berarti menegakkan nilai-nilai Islam dalam sebuah kehidupan bermasyarakat
dan bernegara), maka tegakkan dulu di hatimu maka akan tegak di bumimu. Ingat jargon yang
“Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna aqalnya, harta salimah ini: “takun daulatal islamiyah fi qolbika takun fi ardlika”.
yang dijadikan Allah sebagai kehidupan…”.(An Nisa’:5)
6. Mengenal harakah islamiyah.
2. Tsiqoh, tentramnya jiwa dengan seluruh yang keluar darinya.
Hal ini perlu dilakukan agar kita mengerti medan da’wah yang dihadapi, sehingga bisa diatur
taktik dan strateginya. Adapun yang perlu kita ketahui berkaitan dalam hal ini antara lain: Ibarat seorang tentara yang merasa puas dengan komandannya, dalam hal kapasitas
nama gerakan, manhaj-nya, nama pendirinya, nama pemimpinnya sekarang, sejarah kepemimpinannya maupun keikhlasannya, dengan kepuasan yang mendalam yang
berdirinya, markasnya, jaringannya, tokoh-tokohnya, buku-buku rujukannya, produk- menghasilkan rasa cinta, penghargaan, penghormatan serta ketaatan.
produknya, bentuk-betuk aktivitasnya, karakteristik gerakannya, kebaikan dan
kekurangannya. “Maka demi Rabb-mu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan
kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa
Untuk mengetahui masalah ini kita perlu aktif mengadakan diskusi, tatsqif dan membaca dalam hati mereka esuatu keberatan terhadap sesuatu keputusan yang kamu berikan, dan
buku terkait. Dan yang penting kita harus senantiasa “buka mata buka telinga” untuk terus mereka menerima dengan sepenuhnya” (An Nisa’ (4):65).
mencari informasi dan mengikuti perkembangannya.
Pemimpin adalah unsur penting dalam dalam da’wah; tak ada da’wah tanpa kepemimpinan.
B. MA’AL MAS’UL (KETUA/PIMPINAN) Kadar tsiqoh yang timbal balik antara pemimpin dengan yang dipimpin menjadi neraca yang
menentukan sejauhmana kekuatan sistem jama’ah, ketahanan khthithah-nya, keberhasilannya
- Dalam da’wah Ikhwanul Muslimin seorang pemimpin mempunyai hak orang tua dalam mewujudkan tujuan, dan ketegarannya menghadapi tantangan. Tsiqoh kepada pemimpin
hubungan ikatan hati, dan ustadz dalam hubungan memberikan ilmu. adalah segalanya dalam keberhasilan da’wah. Untuk mengetahui kadar ke-tsiqoh-an dirinya
terhadap mas’ul-nya bertanyalah kepada diri sendiri dengan tulus mengenai beberapa hal sbb:
- Seperti halnya seorang syaikh dalam hubungan tarbiyah ruhiyah.
- Sejauhmana mengenal mas’ul tentang riwayat hidupnya
- Menjadi pemimpin dalam hubungan dengan kebijakan politik bagi da’wah secara umum dan
da’wah kita menghimpun seluruh nilai-nilai ini. - Kepercayaan terhadap kapasitas dan keikhlasannya.

1. Taat, yaitu melaksanakan perintah dan merealisasikannya dalam kondisi semangat atau - Kesiapan menerima perbedaan pendapat dengan mas’ul, dan mas’ul telah memberi perintah
malas dan dalam kondisi sulit ataupun mudah. dan atau larangan yang berbeda dengan pendapat kita.

“Wajib atas seorang muslim mendengar dan taat, dalam keadaan senang maupun benci, - Kesiapan meletakkan seluruh aktivitasnya dalam da’wah, dalam kendali mas’ul.
kecuali perintah untuk maksiat, karena tak ada ketaatan terhadap makhluq dalam bermaksiyat
kepada Allah” (HR. Muslim). 3. Minta izin, jama’ah mengetahui segala kondisimu dan selalu ada hubungan ruh dan
aktivitas dengan jama’ah.
Jama’ah, dalam merealisasikan tujuannya pastilah membutuhkan jundi yang taat dan
memahami akan tuntutannya. Ingatlah juga syurut tajnid Asy Syahid Hasan Al Bana; faham, Sebenarnya bergerak dalam suatu jama’ah adalah tugas, tanggung jawab, amanat yang harus
ikhlash, amal, jihad, pengorbanan, taat, tajarrud, tsabat, ukhuwwah, tsiqoh. Tuntutan demikan dipikul oleh pemimpin beserta seluruh anggotanya. Kesemuanya harus terkoordinasi rapi
amatlah logis dan tidak mengada-ada. Organisasi jahat kaliber internasional pun menuntut hal ibarat sebuah bangunan yang kokoh bershaf-shaf. Tidak boleh saling menelantarkan,
yang identik demikian, bahkan kadang tidak logis. Para agen Mossad Yahudi bahkan tak berperilaku bahaya dan saling membahayakan. Tidak menyempal dari jama’ah atau hilang
segan-segan untuk membunuh anggotanya jika terbukti berkhianat. Jama’ah da’wah tidaklah dari “peredaran” jama’ah dalam kurun waktu tertentu. .Harus ada jalinan komunikasi yang
demikian, orang boleh masuk dan tak akan menahan yang mau keluar darinya. Masing- efektif serta terus menerus ber-musyarokah. Asy Syaikh Musthafa Masyur pernah memberi
masing akan memetik buahnya sendiri, baik di dunia maupun di akhirat. taujihat yang luar biasa: “Mutu jama’ah tergantung dari mutu harokah (gerakan), mutu
harokah tergantung dari mutu musyarokah (berserikat), mutu musyarokah tergantung dari
Jama’ah kita mempunyai tujuan yang amat mulia, perjuangannya melibatkan antar generasi mutu muhawaroh (komunikatif, saling keterbukaan), dan mutu muhawaroh tergantung dari
dalam rentang waktu yang tak terbatas, menegakkan kalimattullah hiyal ‘ulya sampai dunia bagaimana mutu ukhuwahnya”.
ini musnah. Hanya tentara Allah SWT sajalah yang mampu menegakkannya, bukan orang
yang leda-lede. 4. Memuliakan mas’ul.
Memuliakan, menghormati mas’ul tidak semata-mata didasarkan kepada diri mas’ul, tetapi “Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras
karena dirinya dipandang sebagai lambang jama’ah yang mengibarkan bendera Islam untuk terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka” (Al Fath:29)
menyerukan hidayah ke ummat manusia. Setiap gerakan yang merugikan kedudukan
pemimpin akan merusak citra dan keutuhan jama’ah Bahkan kadang kala kecintaan itu kita ikrarkan. Abu Kuraimah bin Ma’diy Karib Ra berkata;
Bersabda Rasulullah SAW: “Jika seorang mencintai saudaranya, maka beritahukanlah
5. Merahasiakan nasihat. kepadanya bahwa ia mencintainya karena Allah” (Abu Dawud).

Di antara sifat mu’min adalah suka nasihat menasehati dengan kebenaran dan saling Sedangkan anjuran untuk menahan marah cukuplah nasihat Rasulullah SAW ketika seseorang
berwasiat dengan kesabaran. Ketinggian kedudukan mas’ul tidak boleh menjadi penghalang datang kepada beliau dan berkata: “Nasihatilah saya”, kemudian Nabi SAW bersabda:
untuk itu, dalam rangka untuk memperbaiki amal dan menghindarkan hal-hal negatif. Tidak “Jangan marah”, kemudian orang itu meminta mengulangi nasihat lagi, jawab Nabi :“Jangan
boleh merasa berat dalam memberi nasihat, begitu juga mas’ul harus lapang dada, dan marah” (HR Bukhari).
bersyukur dalam menerimanya.
Marah itu menghimpun berbagai kejahatan dan setiap kejahatan membawa dosa, sedangkan
“Ad dien itu adalah nasihat. Kami bertanya, ‘untuk siapa?’ Rasulullah SAW menjawab, ‘Bagi menahannya adalah menangkal dosa yang berarti memetik pahala surga.
Allah, Rasul-Nya, pemimpin-pemimpin kaum muslimin dan orang orang awamnya” (HR.
Muslim). Muadz bin Anas berkata: Bersabda Rasulullah SAW: ”Siapa yang menahan marah padahal ia
mampu memuaskannya, maka kelak di hari qiyamat Allah akan memanggilnya di depan
Adapun adab yang harus kita jaga dalam memberi nasihat kepada mas’ul adalah dengan sekalian makhluq, kemudian disuruhnya memilih bidadari sekehendaknya” (HR. Abu Daud,
memilih ketepatan suasana dan cara. Paling tidak ada tiga hal yang perlu diperhatikan. At Tirmidzi).
Pertama, berilah nasihat dalam bentuk yang paling baik, dan nasihat tersebut hendaknya
diterima menurut bentuknya. Kedua, dengan menasihatinya secara diam-diam berarti telah 3. Mendo’akan mereka ketika ghaib
menghormati dan memperbaikinya. Sebab jika kita menasihatinya dengan cara terang-
terangan di hadapan orang banyak, seolah kita telah mempermalukan dan merendahkannya. “Mintalah ampun untuk dosamu sendiri dan untuk kaum muslimin lelaki dan perempuan”
Ketiga, tatkala memberi nasihat maka hati/niat kita tidak boleh berubah walau sehelai (Muhammad: 19)
rambutpun. Tidak merasa lebih mulia, tidak menggurui sehingga menjadikan obyek seolah-
olah seorang pesakitan yang penuh dengan kekurangan. Rasa cinta dan hormat kepadanya tak Wujud ukhuwah Islamiyah yang telah dibina Rasulullah SAW ketika periode hijrah sangat
bergeser sedikitpun. nyata, bukan seruan bibir semata. Mereka saling mengutamakan kebutuhan saudaranya yang
baru dibina itu Mereka saling memberikan harta bahkan jiwanya untuk sebuah persudaraan
C. DENGAN IKHWAH (SAUDARA SEPERJUANGAN) karena Allah SWT. Mereka juga memberikan do’anya.

1. Husnudzon dan memohonkan maaf pada mereka. “Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: ‘Ya
Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu
2. Menampakkan cinta pada mereka dan menahan marah karena kelalaian mereka. dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-
orang yang beriman” (Al Hasyr: 10)
“…dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah
menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan” (Ali Imron:134) Abu Darda’ RA berkata, bersabda Rasulullah SAW: “Do’a seorang muslim untuk saudaranya
di luar pengetahuan yang dido’akan itu do’a yang mustajab, di atas kepala orang yang berdo’a
Manusia adalah tempatnya salah dan lalai. Baik diri kita maupun saudara kita tak luput dari itu ada Malaikat yang ditugaskan supaya tiap ia berdo’a baik untuk saudaranya itu supaya
sifat itu. Adalah tidak adil jika kita memarahi saudara, apalagi memutuskan hubungan disambut: amin wa laka bi mitslin (semoga diterima dan untukmu sendiri seperti itu)” (HR.
dengannya ketika lalai. Justru yang paling baik adalah dengan menesihatinya. Setinggi-tinggi Muslim).
martabat pergaulan adalah dengan tetap menjalin kasih sayang baik ketika lalai maupun ingat.
Seperti itulah salah satu ciri kehidupan masyarakat muslim. 4. Bantulah saudaramu baik dalam kondisi mendzolimi atau terdzolimi, yaitu mencegah
kejahatannya.
wajah yang berseri ketika bertemu dengan saudaramu” (HR.Muslim)
D. DENGAN MUAYYID (PENDUKUNG)
3. Mendo’akan mereka ketika ghaib. (“Do’a seorang muslim kepada saudaranya terkabulkan
1. Tawazun dalam menilai/memuji, mereka bukanlah segalanya sampai tak menghiraukan dalam kesendiriannya, pada kepala orang itu ada malaikat yang ditugaskan setiap dia berdoa
yang lain, dan tidak pula meremehkan mereka sehingga kita jadikan mereka sebagai kasta kebaikan untuk saudaranya, malaikat berkata: amin dan akan mendapatkan seperti itu pula”)
rendah tak bernilai. HR. Ahmad, Muslim dan Ibnu Majah dari Abi Darda’.

2. Mendahulukan yang terpenting dari yang penting, dan permulaan yang terbaik adalah 4. Mengakui pertolongan mereka baik dalam senang atau duka sebagai ungkapan bahwa
menempatkan aqidah dalam hati kekuatannya (baca:kita) tidak mungkin bergerak sendiri dalam kehidupan.

3. Sedikit dalam nasihat. 5. Tidak suka mencelakakan mereka dan bersegera untuk menghilangkannya/ menolak.

4. Menghindari cara menggurui, meskipun dengan argumen yang jitu. 6. Saling menolong, “tolonglah saudaramu baik saat mendzolimi atau saat terdzolimi, yaitu
dengan mencegahnya”.
5. Hindari jawaban langsung atau kritik pedas
7. Mempermudah urusan-urusan yang sulit.
6. Hati-hati dari penyia-nyiaan potensi dengan penyembuhan/membuang urusan-urusan yang
sepele atau debat yang tak bermanfaat. Salah satu dari ciri seorang muslim adalah suka mempermudah segala urusan yang dialami
saudaranya.
7. Menganggap mereka (mad’u) cerdas dan berilmu, maka jangan terlalu memperpanjang “Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesulitan” (Al
dalam menjelaskan yang aksiomatik (badihiyat). Baqarah:185)
“Ajarilah olehmu dan mudahkanlah olehmu dan jangan kamu mempersulit, dan jika salah
8. Setiap ucapan ada tempatnya, setiap tempat ada perkataannya, “khotibun naas ‘ala qodri seorang di antara kamu ada yang marah, maka hendaklah kamu diam” (HR. (Bukhari).
‘uqulihim “ (maka sampaikanlah pada manusia menurut kadar akalnya). Dari Ummul Mu’minin RA:
“Jika menghadapi dua perkara, Rasulullah akan memilih yang termudah, jika kiranya tidak
9. Mempelajari kondisinya dan mengetahui akan halnya: mengandung dosa. Maka jika urusan itu mengandung dosa, seluruh manusia harus
Jangan mencacinya apabila terlambat dari kegiatan menjauhinya. Dan apa yang menjadi pendirian Rasulullah SAW dalam menghadapi sesuatu,
Jangan memaksanya ke dalam pekerjaan tertentu ialah tidak membalas dendam kepada siapapun jika yang disakiti itu hanya dirinya sendiri,
Jangan membebani melebihi kemampuan kecuali jika larangan Allah telah dilanggar, maka beliau akan marah, dan membalasnya
semata-mata hanya karena Allah” (HR. Muttafaq ‘alaih).
10. “Membina tidak cukup sehari semalam”. Abu Qatadah RA berkata:
“Aku mendengar Rasulullah SAW berkata, ”Barangsiapa yang memudahkan kesulitan
11. Jadilah qudwah baginya dalam segala sesuatu (“amat besar kebencian di sisi Allah bahwa muslim lainnya, untuk mendapatkan keselamatan dari Allah dari kesulitan-kesulitan hari
kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan” Ash Shoff: 3) kiamat, maka mudahkanlah kesulitan (orang lain) atau melepaskan bebannya” (HR. Muslim).

12. Terus menerus dalam menda’wahi sampai tampak hasilnya. 8. Memberikan nasihat.

E. DENGAN IKHWAN (SAUDARA-SAUDARA SEPERJUANGAN) Tak tersisa dalam hidup ini kecuali tiga kelompok: Seorang dimana kamu mendapatkan
bergaul/ma’asyaroh dengannya, kalau kamu menyimpang dari jalur dia meluruskanmu, dan
1. Husnudzon dan memohonkan maaf pada mereka dia memberikan cukup kehidupanmu, tidak ada seorang yang bisa membebanimu, dan sholat
2. Menampakkan cinta dan menahan marah serta dendam di masjid jami’ kamu terhindar dari lupa padanya dan mendapatkan penghalang. (Perkataan
Hasan Al Bashri).
“Janganlah kamu meremehkan perbuatan ma’ruf sedikitpun, walaupun sekedar menunjukkan
Dan berkata Al Muhasibiy, “Ketahuilah orang yang menasihatimu sungguh dia mencintaimu,
dan barangsiapa yang menjilat kamu maka dia menipumu/mengujimu, dan siapa yang tak
menerima nasihatmu bukanlah saudaramu”.

F. DENGAN MUROBBI (PENDIDIK)

1. Penghargaan dan memuliakan mereka karena Allah SWT telah menjadikan mereka sebab
masuknya kalian ke dalam bintang yang besar (jama’ah) meskipun kalian mendahuluinya.

Adab dalam bergaul dengan murobbi adalah dengan memuliakannya karena Allah SWT,
memohonkan do’a bagi mereka. Karena mereka adalah orang-orang sholeh yang telah
meghantarkan kita ke jalan Allah SWT. Tidak diperkenankan bagi kita untuk mencelanya,
membesar-besarkan keburukannya dan berpaling bahkan membutakan diri dari kebaikan-
kebaikan yang telah kita terima. Kita hendaknya bersabar dalam berjuang bersama-sama
mereka, tidak terprovokasi oleh orang-orang hendak yang menjerumuskan, melemahkan atau
membelokkan arah jalan da’wah kita, misalnya ada yang sering mengatakan kita dengan
eksklusif, taqlid buta, jumud, tarbiyah tak akan mendapatkan apa-apa dan bukan segalanya
untuk apa diteruskan, dan suara-suara miring lainnya. Ingatlah firman Allah SWT.

“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang yang menyeru Rabb-nya di pagi hari dan
senja hari dengan mengharap ridha-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka
(karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang
yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan
mereka adalah kaum yang melampaui batas” (Al Kahfi:28).

Dahulu kita dalam keterpurukan jahiliyah, dan sekarang tampak kemilau cahaya keislaman,
kemudian memasukkan kita ke dalam sebuah gerakan besar, mewujudkan segala potensi yang
selama ini terpendam, serta mengikatnya dengan jalinan ruhul islami.

“Manusia itu ibarat barang tambang seperti logam emas dan perak, terpandangnya mereka
ketika masa jahiliyah akan terpandang juga ketika masa islamnya, jika mereka telah
memahami. Adapun ruh-ruh itu ibarat laskar tentara yang siap tempur, maka yang saling
mengenal akan intim, sedangkan yang tidak mengenal akan berceceran” (HR. Bukhori dan
Asy Syaikhoni)

Siapakah yang mengasah dan membentuknya ke arah itu? Adalah para murobi tercinta!

2. Sesungguhnya mereka bukan ustadz-mu dahulu saja, maka jangan kalian putus mereka, dan
hormatilah mereka serta keluarga mereka untuk di ziyarahi.

3. Terus menerus menyebut kebaikan mereka dan melupakan keburukan mereka.