Anda di halaman 1dari 38

BAB I

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang Permasalahan

Pada hakikatnya setiap negara yang berdaulat memiliki hukum atau aturan yang kokoh

dan mengikat pada seluruh perangkat yang ada didalamnya. Seperti pada Negara Kesatuan

Republik Indonesia yang memiliki mainstrem hukum positif untuk mengatur warga negaranya.

Salah satu hukum positif yang ada di indonesia adalah Hukum Perdata Internasional

yang nantinya akan dibahas lebih detail.

Permasalahan mengenai keperdataan yang mengaitkan antara unsur unsur

internasional pada era globalisasi saat sekarang ini cukup berkembang pesat. Faktor non negara

dan faktor individu mempunyai peran yang dominan.

Perusahaan perusahaan multi nasional, baik yang berorientasi pada keuntungan atau

yang tidak berorientasi pada keuntungan, hilir mudik melintasi batas teritorial suatu negara

untuk melakukan transaksi perdagangan. Mereka yang mempunyai uang lebih uatau ingin

mencari uang lebih, keluar masuk dari satu negara ke negara lain dengan proses yang begitu

cepat. Terjadinya perkawinan antara dua warga negara yang berbeda, mempunyai keturunan di

suatu negara, mempunyai harta warisan dan lain sebagainya.

Inilah sebuah konsensi dari sebuah globalisasi. Tidak bisa dihindari, akan tetapi inilah

sebuah kebutuhan dan merupakan sifat dasar umat manusia. Di bidang ekonomi, negara kita

Republik Indonesia mencapai hasil-hasil yang mengesankan dengan diundangnya modal asing

untuk melakukan investasi dan semakin menggiatnya perdagangan internasional, meningkat


pula hubungan Indonesia dengan pihak luar negeri. Menurut kenyataan, untuk sementara waktu

Indonesia masih memerlukan penanaman modal asing dalam berbagai bidang industri dan

kehidupan ekonomi lainnya. Makin meluasnya perdagangan internasional dan penanaman

modal asing di negara kita ini, makin banyak titik-titik taut dengan sistem-sistem hukum dari

luar negeri.

Lalu lintas hukum yang bersifat internasional yakni yang melintasi batas-batas wilayah

nasional (National Boundaries) semakin bertambah sebagai akibat yang wajar dari

perkembangan tersebut. Kenyataan ini memaksakan kita pula untuk dalam rangka

pembangunan Hukum Nasional selanjutnya menyesuaikan sistem hukum kita dengan standar-

standar internasional.

Dengan demikian akan diciptakan iklim hukum yang “favorable” untuk bertambahnya

penanaman modal asing yang masih diperlukan, akan bertambah pula kegiatan-kegiatan

perdagangan internasional dan dipercepatnya stabilitasi ekonomi di negara kita.

Masyarakat di tiap-tiap negara membutuhkan suatu pengertian hukum yang

memungkinkan bahwa dalam perhubungan-perhubungan hukum di masyarakat, tidak hanya

orang perseorangan (individu) saja mempunyai hak-hak, kekuasaan-kekuasaan dan kewajiban-

kewajiban hukum, melainkan juga suatu badan yang tidak bersifat dan berkepentingan

perseorangan. Oleh karena badan hukum ini adalah ciptaan hukum suatu negara dan tiap-tiap

negara tentulah berdaulat untuk meuwujudkan hukum itu, maka tidaklah aneh apabila ada

perbedaan antara peraturan-peraturan perihal badan hukum di pelbagai negara.

Badan hukum dalam hukum perdata di Indonesia dapat berupa suatu kumpulan orang-

orang (Korporasi) atau suatu harta benda atau perusahaan yang tertentu (yayasan, stichting).
Oleh karena badan-badan hukum ini melakukan pelbagai perbuatan-perbuatan hukum

seperti manusia, maka dapatlah tercipta perhubungan hukum antara badan hukum dari suatu

negara dan badan hukum negara lain.

2. Rumusan Masalah

Penulisan ini dimaksudkan untuk memberikan pemahaman mengenai beberapa hal, antara lain

1) Bagaimana yang dimaksud Hukum Perdata Internasional?

2) Menjelaskan titik pertalian Hukum Perdata Internasional ?

3) Contoh kasus hukum perdata internasional


BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Pengertian Perjanjian.

1. Menurut Kitab Undang Undang Hukum Perdata

Perjanjian menurut Pasal 1313 Kitab Undang Undang Hukum Perdata berbunyi : “Suatu

Perjanjian adalah suatu perbuatan dengan mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya

terhadap satu orang lain atau lebih”.

Ketentua pasal ini sebenarnya kurang begitu memuaskan, karena ada beberapa kelemahan.

Kelemahan- kelemahan itu adalah seperti diuraikan di bawah ini:

a) Hanya menyangkut sepihak saja, hal ini diketahui dari perumusan, “satu orang atau

lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang atau lebih lainnya”.

b) Kata perbuatan mencakup juga tanpa consensus

c) Pengertian perjanjian terlalu luas

d) Tanpa menyebut tujuan

e) Ada bentuk tertentu, lisan dan tulisan

Ada syarat- syarat tertentu sebagai isi perjanjian, seperti disebutkan di bawah ini:

a) syarat ada persetuuan kehendak

b) syarat kecakapan pihak- pihak

c) ada hal tertentu


d) ada kausa yang halal

2. Menurut Rutten

Perjanjian adalah perbuatan hokum yang terjadi sesuai dengan formalitas-formalitas dari

peraturan hukum yang ada, tergantung dari persesuaian pernyataan kehendak dua atau

lebih orang-orang yang ditujukan untuk timbulnya akibat hukum demi kepentingan salah

satu pihak atas beban pihak lain atau demi kepentingan dan atas beban masing-masing

pihak secara timbal balik.

3. Menurut adat

Perjanjian menurut adat disini adalah perjanjian dimana pemilik rumah memberikan ijin

kepada orang lain untuk mempergunakan rumahnya sebagai tempat kediaman dengan

pembayaran sewa dibelakang (atau juga dapat terjadi pembayaran dimuka).

B. Pengertian perjanjian internasional, diantaranya adalah sebagai berikut :

1. Konvensi Wina 1969, perjanjian internasional adalah perjanjian yang diadakan oleh dua

negara atau lebih yang bertujuan untu mengadakan akibat-akibat hukum tertentu.

2. Konvensi Wina 1986, Perjanjian internasional sebagai persetujuan internasional yang

diatur menurut hukum internasional dan ditanda tangani dalam bentuk tertulis antara satu

negara atau lebih dan antara satu atau lebih organisasi internasional, antarorganisasi

internasional.

3. UU No 37 Tahun 1999 tentang Hubungan Luar Negeri, perjanjian internasional adalah

perjanjian dalam bentuk dan sebutan apapun yang diatur oleh hukum internasional dan

dibuat secara tertulis oleh pemerintah RI dengan satu atau lebih negara, organisasi
internasional atau subjek hukum internasional lainnya, serta menimbulkan hak dan

kewajiban pada pemerintah RI yang bersifat hukum publik.

4. UU No. 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional, perjanjian internasional adalah

perjanjian dalam bentukdan nama tertentu yang diatur dalam hukum internasional yang

dibuat secara tertulis serta menimbulkan hak dan kewajiban di bidang hukum publik.

5. Oppenheimer-Lauterpact, Perjanjian internasional adalah suatu persetujuan antarnegara

yang menimbulkan hak dan kewajiban diantara pihak-pihak yang mengadakan.

6. Dr. B. Schwarzenberger, Perjanjian internasional adalah persetujuan antara subjek hukum

internasional yang menimbulkan kewajiban-kewajiban yang mengikat dalam hukum

internasional, dapat berbentuk bilateral maupun multilateral. Adapun subjek hukum yang

dimaksud adalah lembaga-lembaga internasional dan negara-negara.

7. Prof. Dr. Muchtar Kusumaatmaja, S.H. LLM, Perjanjian internasional adalah perjanjian

yang diadakan antarbangsa yang bertujuan untuk menciptakan akibat-akibat tertentu.

Kerjasama internasional secara hukum diwujudkan dalam bentuk perjanjian internasional,

yaitu negara-negara dalam melaksanakan hubungan atau kerjasamanya membuat perjanjian

internasional. Berdasarkan beberapa pengertian tersebut, disimpulkan bahwa perjanjian

internasional adalah perjanjian yang dilakukan oleh subjek-subjek hukum internasional dan

mempunyai tujuan untuk melahirkan akibat-akibat hukum tertentu.

Perjanjian antarbangsa atau yang sering disebut sebagai perjanjian internasional merupakan

persetujuan internasional yang diatur oleh hubungan internasional serta ditandatangani dalam

bentuk tertulis. Contoh perjanjian internasional diantaranya adalah antarnegara atau lebih,

antarorganisasi internasional atau lebih, dan antarorganisasi internasional.


Perjanjian internasional pada hakekatnya merupakan suatu tujuan atau agreement. Bentuk

perjanjian internasional yang dilakuka antarbangsa maupun antarorganisasi internasional ini

tidak harus berbentuk tertulis. Dalam perjanjian internasional ini ada hukum yang mengatur

perjanjian tersebut. Dalam perjanjian internasional terdapat istilah subjek dan obyek. Yang

dimaksud subjek perjanjian internasional adalah semua subjek hukum internasional, terutama

negara dan organisasi internasional. Sedangkan yang dimaksud dengan obyek hukum

internasional adalah semua kepentingan yang menyangkut kehidupan masyarakat

internasional, terutama kepentingan ekonomi, sosial, politik, dan budaya.

a. Perjanjian Internasional Bilateral, yaitu Perjanjian Internasional yang jumlah peserta atau

pihak-pihak yang terikat di dalamnya terdiri atas dua subjek hukum internasional saja

(negara dan / atau organisasi internasional, dsb). Kaidah hukum yang lahir dari perjanjian

bilateral bersifat khusus dan bercorak perjanjian tertutup (closed treaty), artinya kedua pihak

harus tunduk secara penuh atau secara keseluruhan terhadap semua isi atau pasal dari

perjanjian tersebut atau sama sekali tidak mau tunduk sehingga perjanjian tersebut tidak

akan pernah mengikat dan berlaku sebagai hukum positif, serta melahirkan kaidah-kaidah

hukum yang berlaku hanyalah bagi kedua pihak yang bersangkutan. Pihak ketiga, walaupun

mempunyai kepentingan yang sama baik terhadap kedua pihak atau terhadap salah satu

pihak, tidak bisa masuk atau ikut menjadi pihak ke dalam perjanjian tersebut.

b. Perjanjian Internasional Multilateral, yaitu Perjanjian Internasional yang peserta atau pihak-

pihak yang terikat di dalam perjanjian itu lebih dari dua subjek hukum internasional. Sifat

kaidah hukum yang dilahirkan perjanjian multilateral bisa bersifat khusus dan ada pula yang

bersifat umum, bergantung pada corak perjanjian multilateral itu sendiri. Corak perjanjian

multilateral yang bersifat khusus adalah tertutup, mengatur hal-hal yang berkenaan dengan
masalah yang khusus menyangkut kepentingan pihak-pihak yang mengadakan atau yang

terikat dalam perjanjian tersebut. Maka dari segi sifatnya yang khusus tersebut, perjanjian

multilateral sesungguhnya sama dengan perjanjian bilateral, yang membedakan hanya dari

segi jumlah pesertanya semata. Sedangkan perjanjian multilateral yang bersifat umum,

memiliki corak terbuka. Maksudnya, isi atau pokok masalah yang diatur dalam perjanjian

itu tidak saja bersangkut-paut dengan kepentingan para pihak atau subjek hukum

internasional yang ikut serta dalam merumuskan naskah perjanjian tersebut, tetapi juga

kepentingan dari pihak lain atau pihak ketiga. Dalam konteks negara, pihak lain atau pihak

ketiga ini mungkin bisa menyangkut seluruh negara di dunia, bisa sebagian negara, bahkan

bisa jadi hanya beberapa negara saja. Dalam kenyatannya, perjanjian-perjanjian multilateral

semacam itu memang membuka diri bagi pihak ketiga untuk ikut serta sebagai pihak di

dalam perjanjian tersebut. Oleh karenanya, perjanjian multilateral yang terbuka ini

cenderung berkembang menjadi kaidah hukum internasional yang berlaku secara umum

atau universal.

C. Macam-Macam Perjanjian Internasional

Perjanjian internasional sebagai sumber formal hukum internasional dapat

diklasifikasikan sebagai berikut.

1. Berdasarkan Isinya

 Segi politis, seperti pakta pertahanan dan pakta perdamaian.

 Segi ekonomi, seperti bantuan ekonomi dan bantuan keuangan.

 Segi hukum

 Segi batas wilayah

 Segi kesehatan.
Contoh :

 NATO, ANZUS, dan SEATO

 CGI, IMF, dan IBRD

2. Berdasarkan Proses/Tahapan Pembuatannya

 Perjanjian bersifat penting yang dibuat melalui proses perundingan,

penandatanganan, dan ratifikasi.

 Perjanjian bersifat sederhana yang dibuat melalui dua tahap, yaitu perundingan

dan penandatanganan.

Contoh :

 Status kewarganegaraan Indonesia-RRC, ekstradisi.

 Laut teritorial, batas alam daratan.

 Masalah karantina, penanggulangan wabah penyakit AIDS.

3. Berdasarkan Subjeknya

 Perjanjian antarnegara yang dilakukan oleh banyak negara yang merupakan subjek

hukum internasional.

 Perjanjian internasional antara negara dan subjek hukum internasional lainnya.

 Perjanjian antarsesama subjek hukum internasional selain negara, yaitu organisasi

internasional organisasi internasional lainnya.

Contoh :

 Perjanjian antar organisasi internasional Tahta suci (Vatikan) dengan organisasi

MEE.

 Kerjasama ASEAN dan MEE.


4. Berdasarkan Pihak-pihak yang Terlibat.

 Perjanjian bilateral, adalah perjanjian yang diadakan oleh dua pihak. Bersifat

khusus (treaty contact) karena hanya mengatur hal-hal yang menyangkut

kepentingan kedua negara saja. Perjanjian ini bersifat tertutup, yaitu menutup

kemungkinan bagi pihak lain untuk turut dalam perjanjian tersebut.

 Perjanjian Multilateral, adalah perjanjian yang diadakan oleh banyak pihak, tidak

hanya mengatur kepentingan pihak yang terlibat dalam perjanjian, tetapi juga

mengatur hal-hal yang menyangkut kepentingan umum dan bersifat terbuka yaitu

memberi kesempatan bagi negara lain untuk turut serta dalam perjanjian tersebut,

sehingga perjanjian ini sering disebut law making treaties.

Contoh :

 Perjanjian antara Indonesia dengan Filipina tentang pemberantasan dan

penyelundupan dan bajak laut, perjanjian Indonesia dengan RRC pada tahun 1955

tentang dwi kewarganegaraan, perjanjian ekstradisi antara Indonesia dan Singapura

yang ditandatangani pada tanggal 27 April 2007 di Tampaksiring, Bali.

 Konvensi hukum laut tahun 1958 (tentang Laut teritorial, Zona Bersebelahan, Zona

Ekonomi Esklusif, dan Landas Benua), konvensi Wina tahun 1961 (tentang

hubungan diplomatik) dan konvensi Jenewa tahun 1949 (tentang perlindungan

korban perang).

 Konvensi hukum laut (tahun 1958), Konvensi Wina (tahun 1961) tentang hubungan

diplomatik, konvensi Jenewa (tahun 1949) tentang Perlindungan Korban Perang.


5. Berdasarkan Fungsinya

 Law Making Treaties / perjanjian yang membentuk hukum, adalah suatu perjanjian

yang meletakkan ketentuan-ketentuan atau kaidah-kaidah hukum bagi masyarakat

internasional secara keseluruhan (bersifat multilateral).

 Treaty contract / perjanjian yang bersifat khusus, adalah perjanjian yang

menimbulkan hak dan kewajiban, yang hanya mengikat bagi negara-negara yang

mengadakan perjanjian saja (perjanjian bilateral).

Contoh :

Perjanjian Indonesia dan RRC tentang dwikewarganegaraan, akibat-akibat yang timbul

dalam perjanjian tersebut hanya mengikat dua negara saja yaitu Indonesia dan RRC.

Perjanjian internasional menjadi hukum terpenting bagi hukum internasional positif, karena

lebih menjamin kepastian hukum. Di dalam perjanjian internasional diatur juga hal-hal yang

menyangkut hak dan kewajiban antara subjek-subjek hukum internasional (antarnegara).

Kedudukan perjanjian internasional dianggap sangat penting karena ada beberapa alasan,

diantaranya sebagai berikut :

1. Perjanjian internasional lebih menjamin kepastian hukum, sebab perjanjian internasional

diadakan secara tertulis.

2. Perjanjian internasional mengatur masalah-masalah kepentingan bersama diantara para

subjek hukum internasional.


D. Syarat Sahnya Perjanjian

Perjanjian yang sah artinya perjanjian yang memenuhi syarat yang telah ditentukan oleh

undang- undang, sehingga ia diakui oleh hukum (legally concluded contract). Menurut

ketentuan pasal 1320 KUHPdt, syarat- syarat sah perjanjian adalah sebagai berikut:

1) Ada persetujuan kehendak antara pihak- pihak yang membuat perjanjian (consensus)

2) Ada kecakapan pihak- pihak untuk membuat perjanjian (capacity)

3) Ada suatu hal tertentu (a certain subject matter)

4) Ada suatu sebab yang halal (legal cause)

Perjanjian yang sah artinya perjanjian yang memenuhi syarat yang telah ditentukan oleh

undang- undang, sehingga ia diakui oleh hukum (legally concluded contract). Menurut

ketentuan pasal 1320 KUHPdt, syarat- syarat sah perjanjian adalah sebagai berikut:

1) Ada persetujuan kehendak antara pihak- pihak yang membuat perjanjian (consensus)

2) Ada kecakapan pihak- pihak untuk membuat perjanjian (capacity)

3) Ada suatu hal tertentu (a certain subject matter)

4) Ada suatu sebab yang halal (legal cause)

Berdasarkan ketentuan Pasal 1320 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, suatu perjanjian

dinyatakan sah apabila telah memenuhi 4 (empat) syarat komulatif. Keempat syarat untuk

sahnya perjanjian tersebut antara lain :

1) Sepakat diantara mereka yang mengikatkan diri. Artinya para pihak yang membuat

perjanjian telah sepakat atau setuju mengenai hal-hal pokok atau materi yang

diperjanjikan. Dan kesepakatan itu dianggap tidak ada apabila diberikan karena

kekeliruan, kekhilafan, paksaan ataupun penipuan.


2) Kecakapan untuk membuat suatu perikatan. Arti kata kecakapan yang dimaksud dalam

hal ini adalah bahwa para pihak telah dinyatakan dewasa oleh hukum, yakni sesuai dengan

ketentuan KUHPerdata, mereka yang telah berusia 21 tahun, sudah atau pernah menikah.

Cakap juga berarti orang yang sudah dewasa, sehat akal pikiran, dan tidak dilarang oleh

suatu peraturan perundang-undangan untuk melakukan suatu perbuatan tertentu. Dan

orang-orang yang dianggap tidak cakap untuk melakukan perbuatan hukum yaitu : orang-

orang yang belum dewasa, menurut Pasal 1330 KUHPerdata jo. Pasal 47 UU Nomor 1

tahun 1974 tentang Perkawinan; orang-orang yang ditaruh dibawah pengampuan,

menurut Pasal 1330 jo. Pasal 433 KUPerdata; serta orang-orang yang dilarang oleh

undang-undang untuk melakukan perbuatan hukum tertentu seperti orang yang telah

dinyatakan pailit oleh pengadilan.

3) Suatu Hal Tertentu. Artinya, dalam membuat perjanjian, apa yang diperjanjikan harus

jelas sehingga hak dan kewajiban para pihak bisa ditetapkan.

4) Suatu Sebab Yang Halal. Artinya, suatu perjanjian harus berdasarkan sebab yang halal

yang tidak bertentangan dengan ketentuan Pasal 1337 Kitab Undang-undang Hukum

Perdata, yaitu : • Tidak bertentangan dengan ketertiban umum; • Tidak bertentangan

dengan kesusilaan; dan • Tidak bertentangan dengan undang-undang.

Sebagaimana yang telah dijelaskan diatas, syarat kesatu dan kedua dinamakan syarat subjektif,

karena berbicara mengenai subjek yang mengadakan perjanjian, sedangkan ketiga dan

keempat dinamakan syarat objektif, karena berbicara mengenai objek yang diperjanjikan

dalam sebuah perjanjian. Dalam perjanjian bilamana syarat-syarat subjektif tidak terpenuhi

maka perjanjiannya dapat dibatalkan oleh hakim atas permintaan pihak yang tidak cakap atau

yang memberikan kesepakatan secara tidak bebas. Selama tidak dibatalkan, perjanjian tersebut
tetap mengikat. Sedangkan, bilamana syarat-syarat objektif yang tidak dipenuhi maka

perjanjiannya batal demi hukum. Artinya batal demi hukum bahwa, dari semula dianggap

tidak pernah ada perjanjian sehingga tidak ada dasar untuk saling menuntut di pengadilan.

E. Standar Kontrak

Upaya manusia untuk memenuhi berbagai kepentingan bisnis, diantaranya adalah

mewujudkannya dalam bentuk kontrak bisnis. Dalam bisnis, kontrak merupakan bentuk

perjanjian yang dibuat secara tertulis yang didasarkan kepada kebutuhan bisnis. Kontrak

atau contracts (dalam bahasa Inggris) dan overeenskomst (dalam Bahasa Belanda) dalam

pengertian yang lebih luas kontrak sering dinamakan juga dengan istilah perjanjian

Istilah “kontrak” atau “perjanjian” dalam sistem hukum nasional memiliki pengertian

yang sama, seperti halnya di Belanda tidak dibedakan antara pengertian “contract” dan

“overeenkomst”. Kontrak adalah suatu perjanjian (tertulis) antara dua atau lebih orang

(pihak) yang menciptakan hak dan kewajiban untuk melakukan atau tidak melakukan hal

tertentu.

Dalam hukum kontrak sendiri terdapat asas yang dinamakan kebebasan berkontrak.

Menurut Pasal 1338 Ayat (1) KUH Perdata menyatakan bahwa semua perjanjian yang

dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya. Dari

bunyi pasal tersebut sangat jelas terkandung asas :

a. Konsensualisme, adalah perjanjian itu telah terjadi jika telah ada konsensus antara

pihak-pihak yang mengadakan kontrak;

b. Kebebasan berkontrak, artinya seseorang bebas untuk mengadakan perjanjian, bebas

mengenai apa yang diperjanjikan, bebas pula menentukan bentuk kontraknya;


c. Pacta Sun Servanda, artinya kontrak itu merupakan Undang-undang bagi para pihak

yang membuatnya (mengikat).

Asas kebebasan berkontrak adalah refleksi dari perkembangan paham pasar bebas yang

dipelopori oleh Adam Smith. Dalam perkembangannya ternyata kebebasan berkontrak dapat

mendatangkan ketidakadilan karena prinsip ini hanya dapat mencapai tujuannya, yaitu

mendatangkan kesejahteraan seoptimal mungkin, bila para pihak memiliki bargaining power

yang seimbang

Communis opinio doctorum selama ini dengan bertitik tolak pada pasal 1313 KUH Perdata

menyatakan bahwa “perjanjian adalah suatu perbuatan hukum yang berisi dua” (“een

tweezijdige rechtshandeling”) untuk menimbulkan persesuaian kehendak guna melahirkan

akibat hukum. Yang dimaksud dengan satu perbuatan hukum yang berisi dua ialah penawaran

(aanbod/offer) dan penerimaan (aanvaarding acceptance). Penawaran dan penerimaan itu

masing-masing pada hakekatnya adalah perbuatan hukum. Sedangkan yang dimaksud dengan

perbuatan hukum adalah perbuatan subyek hukum yang didasarkan pada kehendak yang

dinyatakan untuk menimbulkan akibat hukum yang dikehendaki dan diakui oleh hukum.

Berarti masing-masing pihak seyogyanya mempunyai kebebasan kehendak. Itulah sebabnya

Buku III KUH Perdata dikatakan menganut sistem terbuka dan didasarkan pada asas kebebasan

berkontrak.

F. Defenisi Hukum Perdata Internasional

Menurut Van Brakel dalam buku “Grond en beginselen van nederland internationaal

privatrecht” menyatakan bahwa internationaal privatrecht is a national recht voor internationale

recht verhouding geschreven. Maksudnya bahwa HPI adalah hukum nasional yang ditulis
(diadakan) untuk hubungan-hubungan hukum internasional. Sedangkan menurut Prof. DR. S.

Gautama. S.H. HPI adalah keseluruhan peraturan atau keputusan hukum yang menunjukkan

stelsel hukum manakah yang berlaku, atau apakah yang merupakan hukum jika hubungan-

hubungan atau peristiwa antar warga negara pada suatu waktu tertentu memperlihatkan titik

pertalian dengan stelsel-stelsel dan kaidah-kaidah dari dua atau lebih negara yang berbeda

dalam lingkungan kuasa, tempat, pribadi dan soal-soal.

Berdasarkan pendapat kedua ahlil tersebut, dapat disimpulkan bahwa HPI adalah

hukum nasional, bukanlah hukum internasional. Sumber hukum HPI adalah hukum nasional

dan yang internasional adalah hubungan-hubungan atau peristiwa-peristiwanya. Contohnya

adalah kasus pernikahan antar warga negara satu dengan warga negara lain. Masalah-masalah

pokok yang dibahas dalam HPI adalah sebagai berikut:

1. Hakim/ badan hukum peradilan manakah yang berwenang menyelesaikan perkara-

perkara hukum yang mengandung unsur asing. (chioce of yuridiction) merupakan

hukum acara dalam HPI.

2. Hukum manakah yang akan dipergunakan untuk menyelesaikan maasalah HPI (the

appropriate legal system).

3. Sejauh mana suatu peradilan harus memperahatikan dan mengakui putusan hukum

asing (recognition of foreign judgements)

Luas lingkup HPI menurut negara yang pertama, HPI merupakan

Rechtstoepassingrecht/ choice of law (paling sempit). Artinya, istilah HPI terbatas pada

masalah-masalah hukum mana yang diberlakukan. Contoh: negara Jerman, negara Nederland.

Kedua, HPI adalah choice of law + choice of juridiction (lebih luas). Maksudnya, mengenai

hukum mana yang berlaku ditambah dengan kompetensi wewenang hakim untuk mengadili
perkara yang bersangkutan. Contoh: negara Anglo Saxon, Inggris, dan Amerika Serikat.

Ketiga, HPI merupakan choice of law + chioce of juridiction + condition des estranges (lebih

luas). Maknanya, mengenai hukum mana yang berlaku + kompetensi wewenang hakim + status

orang asing. Contoh: Italia dan Spanyol. Keempat, HPI adalah choice of law + chioce of

juridiction + condition des estranges + natonalite (terluas). Artinya, mengenai hukum mana

yang berlaku + kompetensi wewenang hakim + status orang asing + kewarganegaraan. Contoh:

Perancis.

G. Hukum Perdata Internasional Menurut Beberapa Ahli Hukum

1) Sudargo Gautama : keseluruhan peraturan dan kekhususan hukum yang menunjuk

stelsel hukum manakah yang berlaku atau apakah yang merupakan hukum, jika

hubungan-hubungan dan peristiwa antara warga-warga Negara pada suatu waktu

tertentu memperlihatkan titik pertalian-pertalian dengan stelsel-stelsel dengan kaidah-

kaidah hukum 2 (dua) atau lebih Negara yang berbeda dalam lingkungan, kuasa

tempat, pribadi dan soal-soal.

2) Van Brakel : yaitu hukum nasional yang khusus diperuntukkan bagi perkara-perkara

internasional.

3) Moechtar Koesoemaatmadja : yaitu keseluruhan kaidah yang mengatur hubungan

perdata yang melintasi batas negara. Atau hukum yang mengatur hubungan antar

pelaku yang masing masing tunduk pada hukum perdata negaranya.


H. Ruang Lingkup Hukum Perdata Internasional

1. Techtstoepassingrecht/choice of law (Aliran paling sempit). Artinya, istilah HPI

terbatas pada masalah-masalah hukum mana yang diberlakukan untuk menyelesaikan

masalah-masalah yang mengandung unsur asing. Contoh: negara Jerman dan Belanda.

2. Mengatakan bahwa HPI adalah mengenai hakim mana yang harus menyelesaikan

masalah (Choice of Yuridiction), setelah itu baru hukum mana yang berlaku terhadap

permasalahan tersebut (Choice of Law). Contoh: negara Anglo Saxon.

3. Luas bidang HPI meliputi mengenai hakim mana yang harus menyelesaikan masalah

(Choice of Yuridiction), hukum mana yang berlaku dan status/kedudukan orang asing

tersebut. Contoh: Italia dan Spanyol.

4. Luas bidang HPI meliputi mengenai hakim mana yang harus menyelesaikan masalah

(Choice of Yuridiction), hukum mana yang berlaku dan status/kedudukan orang asing

tersebut dan kewarganegaraannya. Contoh: Perancis.

Apabila dilihat dari ruang lingkup HPI tersebut maka masalah-masalah pokok yang

dihadapi oleh HPI yaitu: Choice of Law, Choice of Yuridiction untuk menyelesaikan masalah-

masalah yang mengandung unsur asing, serta yang terakhir sejauh mana keputusan hakim dari

suatu negara diakui mengenai hak dan kewajiban yang timbul dari keputusan tersebut. Suatu

perjanjian yang mengandung unsur asing atau foreign element jika salah satu pihak dalam

perjanjian tersebut tunduk pada hukum yang berbeda dengan pihak lainnya, dan atau adanya

unsur asing karena substansi perjanjian itu tunduk pada hukum negara lain. Misalnya jual beli

apartemen yang terletak di Singapura antara seorang warga negara Indonesia dengan

Warganegara Indonesia lainnya.


Apabila para pihak dalam membuat kontrak bisnis- internasional telah melakukan

choice of law pada suatu sistem hukum tertentu dan choice of yuridiction di pengadilan tertentu

yang telah mereka sepakati, lalu timbul sengketa dikemudian hari mengenai hal-hal yang

berkaitan dengan pelaksanaan kontrak tersebut, maka hukum dan pengadilan yang dipilih

itulah yang berlaku. Misalnya mengenai wanprestasi, maka hukum yang dipilih itulah yang

menentukan syarat-syarat dan kapan terjadi serta akibat hukum apa atas wanprestasi tersebut.

I. Asas-Asas Hukum Perdata Internasional

1. Orang yang berbeda kewarganegaraan yang melakukan perjanjian atau hubungan hukum

diantara keduanya. Dengan kata lain orangnya yang asing

2. Teori Lex Rai Sitae Yaitu dimana orang yang melakukan hubungan hukum tersebut

memiliki kewarganegaraan yang sama, Namun obyeknya ada di lain negara. (tempat

letaknya barang)

3. Teori Lex Loci Contractus Yaitu dimana orang yang melakukan hubungan hukum

tersebut memiliki kewarganegaraan yang sama. Namun tempat pembuatan perjanjiannya

berbeda negara. (tempat dilakukanya tindakan)

4. Teori Lex Loci Solutionis Yaitu dimana orang yang melakukan hubungan hukum dan

tempat pembuatan perjanjiannya sama. Namun pelaksanaan perjanjiannya berbeda

negara (tempat dilangsungkanya perbuatan)

Kelemahan teori ini apabila pelaksanaan dari kontrak dilakukan di berbagai negara.

J. Sumber-Sumber Hukum Perdata Internasional

1. Sumber Utama

a) Sumber Tertulis : UU dan Trakat


b) Sumber Tidak Tertulis : Yurisprudensi dan Kebijaksanaan

2. Sumber Hpi Indonesia

a) Masa sebelum tahun 1945 .Sumber HPI Indonasia (HINDIA Belanda) yaitu:

 Pasal 16 AB, 17 AB, 18 AB

 Pasal 131 IS dan 163 IS

b) Masa setelah tahun 1945 ( Setelah Indonesia merdeka )

 Pasal 16 AB, 17 AB, 18 AB

 UU kewarganegaraan RI yaitu UU no 62 / 1958

 UU no 5 tahun 1960, UU pokok agrarian. Dalam uu ini ada 2 pasal yang

Menyangkut dengan HPI Isi Dari Pasal 16, 17 dan 18 AB Tersebut Diatas :

1. Pasal 16 AB Status Personil Seseorang & Wewenang.

Status & wewenang seseorang harus dinilai menurut hukum nasionalnya ( Lex patriae )

Jadi seseorang dimanapun ia berada tetap terikat kepada hukumnya yang menyangkut status

& wewenang demikian pula orang asing maksudnya status & wewenang orang asing itu

harus dinilai hukum nasional orang asing tersebut

2. Pasal 17 AB Status Kenyataan atau Riil

Status Mengenai benda2 tetap harus dinilai menurut hukum dari negara atau tempat dimana

benda itu terletak ( lex resital )

3. Pasal 18 AB Status Campuran

Status campuran bentuk tindakan hukum dinilai menurut hukum dimana tindakan itu

dilakukan ( Locus Regit Actum )


Ketiga pasal tersebut diatas merupakan contoh dari ketentuan penunjuk disebut sebagai

ketentuan penunjuk karena menunjuk kepada suatu sistim tertentu mungkin hukum nasional

maupun hukum asing, dalam prakteknya hakim yang mengadili kasus HPI ini merupakan atau

memakai hukum asing hal ini dilakukan oleh sang hakim dengan dasar karena UU yang berlaku

dinegara orang asing tersebut yang memerintahkan bahwa dalam kasus yang dihadapi tersebut

menerapkan hukum asing

K. TITIK PERTALIAN/TAUT

Titik pertalian adalah hal-hal atau keadaan-keadaan yang dapat menunjukkan adanya

kaitan antara fakta-fakta yang ada di dalam suatu perkara dengan suatu tempat/sistem hukum

yang harus atau mungkin untuk dipergunakan.

1. Titik pertalian primer (TPP)

Titik pertalian primer adalah hal-hal dan keadaan-keadaan yang menciptakan

hubungan Hukum Perdata Internasional.

Perincian titik pertalian rimer (TPP) adalah sebagai berikut:

a) Kewarganegaraan

Kewarganegaraan para pihak dapat merupakan faktor TPP karena mana timbul HPI.

Dimana keewarganegaraan daripada pihak dalam suatu peristiwa hukum tertentu

menjadi sebab lainnya hubungan-hubungan HPI. Kewarganegaraan pihak-pihak


bersangkutan yang merupakan faktor bahwa stalsel-stalsel hukum Negara-negara

tertentu di pertautkan.

1) Prinsip-prinsip umum kewarganegaraan:

Kebebasan suatu negara untuk melakukan siapa warga negaranya dibatasi oleh

prinsip umum (general principles) Hukum Internasional mengenai

kewarganegaraan.

2) Cara menentukan kewarganegaraan:

Dua asas utama dalam menentukan kewarganegaraan adalah:

· Asas tempat kelahiran (Ius Soli)

Kewarganegaraan seseorang ditentukan oleh tempat kelahiran, bila seseorang

lahirkan di wilayah X, maka ia warganegara daripada negara X tersebut. Asas ini

dianut oleh Negara Amerika Serikat.

· Asas keturunan (Ius Sanguinis)

Kewarganegaraan seseorang berdasarkan keturunannya, bila seseorang yang lahir

dari orang tua yang berkewarganegaraan Y, maka orang tersebut warganegara dari

Negara Y pula. Asas ini adalah dianut oleh Negara China.

b) Bendera Kapal
Bendera dari suatu kapal dapat diibaratkan sebagai kewarganegaraan pada seseorang.

Bendera kapal menautkan kepada stelsel hukum tertentu, karenanya timbul persoalan-

persoalan hukum yang memperlihatkan unsur-unsur asing., maka terciptalah HPI.

c) Tempat Kediaman

Tempat kediaman merupakan pengertian de facto. Tempat ini adalah diaman sehari-

hari yang bersangkutan mempunyai kediaman, dimana ada rumah, dimana ia bekerja

sehari-hari disitu ada residence dari orang itu. Dan tempat kediaman seseorang secara

defacto juga bisa menimbulkan soal-soal HPI.

d) Domisili

Domisili ini merupakan suatu pengertian hukum yang baru lahir kalau sudah terpenuhi

syarat-syarat tertentu, misalnya kediaman yang permanent di suatu tempat.

Konsep domisili di Inggris, Sistem hukum inggris mempunyai keistimewaan tersendiri

dengan 3 macam domisili:

· Domicile of Origin

Domicile of Origin di peroleh seseorang pada waktu kelahirannya.

· Domicile of Choice

System hukum Inggris memerlukan 3 syarat bagi seseorang untuk memiliki

“domicile of Choice” yaitu : 1) kemampuan/capacity, 2) tempat

kediaman/residence, 3) hasrat atau itikat/intention.


· Domicile by Opration of law

Domisili yang dimiliki seseorang berdasarkan ketergantungan pada domisili

orang lain. Mereka ini adalah anak-anak yang belum dewasa domisilinya

mengikuti ayahnya.

e) Tempat Kedudukan

Persoalan-persoalan HPI timbul karena badan-badan hukum yang bersangkutan dalam

suatu peristiwa hukum tertentu berkedudukan diluar negeri. Karena faktor tempat turut

berbicara pada ”tempat kedudukan” ini maka titik pertalian ini bersifat terotorial.

Asas-asas untuk menentukan status badan hukum

Yang dapat menjadi masalah dalam kaitan ini adalah system hukum mana yang dapat

digunakan untuk menetapkan serta mengatur status dan kewenangan yuridik suatu badan

hukum yang mengandung elemen asing.

Dalam teori dan praktek HPI berkembang beberapa asas yang digunakan, yaitu

1) Asas Kewarganegaraan/domicile

Status badan hukum ditentukan berdasarkan hukum dari tempat mayoritas pemegang

saham berkewarganegaraan.

2) Asas Centre of Administration

Status yuridik suatu badan hukum harus tunduk pada kaidah-kaidah hukum dari tempat

yang merupakan pusat kegiatan administrasi badan hukum tersebut.


3) Asas Place of Incorporation

Status yuridik suatu badan hukum hendaknya ditentukan berdasarkan hukum dari tempat

badan hukum itu secara resmi didirikan/dibentuk.

4) Asas Centre of Exploitation

Status yuridik suatu badan hukum diatur berdasarkan tempat perusahaan itu memusatkan

kegiatan oprational atau memproduksi barang.

2. Titik pertalian sekunder (TPS)

Terdapatnya titik pertalian primer telah terciptalah suatu hubumgan HPI,dimana HPI

menurut konsepsi di Indonesia merupakan persoalan tentang ”choice of law”. Dalam

malaksanakan tugas ini, titik pertalian sekunderlah yang memberi bantuan kepada si

pelaksana hukum. Titik pertalian sekunder ini karena sifatnya sebagai yang menentukan

akan hukum yang harus diperlukan, disebut pula dengantitik taut penentu.

Perincian Titik Pertalian Sekunder (TPS)

Khusus untuk kewarganegaraan, bendera kapal, tempat kediaman, domisili, dan tempat

kedudukan yang merupakan TPP dan sekaligus TPS tidak dijelaskan lagi. Dilanjutkan ke

nomor :

f) Tempat Letak Benda

Berlaku untuk benda tetap dan benda bergerak yang menentukan hukum yang harus

dipertautkan. Pada zaman dahulu dengan pengaruh ajaran statute, asas lex rei sitae ini
sejalan dengan perkembangan feodalisme dibatasi kepada benda-benda tak bergerak

(ststute realia). Untuk barang-barang bergerak berlakulah ketentuan: Mobilia Personam

Sequntuur.

g) Tempat dilangsungkan Perbuatan Hukum

Tempat dimana dilangsungkannya suatu perbuatan hukum atau perjanjian (lex loci

actus) merupakan faktor yang menentukan hukum yang harus dipergunakan.

h) Tempat dilaksanakan Perjanjian

Salah satu faktor yang menentukan akan hukum yang harus berlaku adalah tempat

dimana perjanjian dilaksanakan, tempat dimana para pihak harus menunaikan kewajiban-

kewajiban kontraktuil mereka.

i) Pilihan Hukum

Pilihan Hukum dapat:

 Dilakukan secara tegas, yaitu dengan menyatakan dalam kata-kata yang tercantum

di dalam perjanjian tersebut.

 Dilakukan pilihan secara diam-diam. Pilihan hukum semacam ini bisa

disimpulkan dari ketentuan-ketentuan dan fakta-fakta yang ada dalam perjanjian

tersebut.

Pembatasan-pembatasan terhadap Pilihan Hukum:

 Tidak boleh bertentangan dengan ketertiban umum.

 Bila pengusahaan telah mengadakan peraturan khusus yang bersifat memaksa

tentang apa yang di perjanjikan tersebut.


 Pilihan hukum ini hanya diperbolehkan dalam bidang hukum perjanjian.

j) Tempat Terjadinya Perbuatan Melawan Hukum

Ada tiga kemungkinan mengenai hukum yang di pergunakan untuk menyelesaikan

perkara penyelewengan perdata.

 Hukum dari tempat terjadinya penyelewengan perdata (lex loci delicti commisi).

 Hukum dari tempat dimana perbuatan itu diadili (kex fori).

 Dipakai teori ”The proper law of tort”.


BAB III

PEMBAHASAN

Badan hukum adalah suatu badan yang memiliki harta kekayaan terlepas dari anggota-

anggotanya yang dianggap sebagai subjek hukum yang mempunyai kemampuan untuk

melakukan perbuatan hukum, mempunyai tanggung jawab dan memiliki hak-hak serta

kewajiban-kewajiban seperti yang dimiliki oleh seseorang.

Badan Hukum Perdata Internasional, Prof. Sudargo Gautama, SH menggolongkan

badan hukum menjadi 2 (dua) bagian yaitu :

1. Badan hukum yang mempunyai suatu kehidupan tersendiri sebagai subjek hukum yang

mempunyai hak-hak dan kewajiban perdata yang meliputi :

a) Badan hukum publik, mis : negara, kota atau organisasi hukum publik lainnya yang

didirikan oleh negara sebagai suatu badan hukum tersendiri.

b) Asosiasi-asosiasi yang bersifat perdata dan bertstatus badan hukum (incorporated), mis

: koperasi, Perseroan Terbatas, termasuk yayasan-yayasan perdata atau privat

foundation.

2. Asosiasi-asosiasi yang tidak berbadan hukum (Un-incorporated association) yang dalam

praktek HPI juga seringkali diberlakukan sebagaimana layaknya suatu badan hukum yang

meliputi persekutuan perdata pada umumnya. Dalam kelompok ini termasuk persekutuan -

persekutuan perdata yang tidak mengejar keuntungan seperti yang diorganisasikan untuk

tujuan-tujuan sosial.
Dalam HPI, pembicaraan status personil seringkali pula meliputi bentuk-bentuk usaha seperti

kontrak-kontrak, usaha bersama atau joint ventures, disamping itu juga dikenal badan-badan

hukum yang bersifat pluri nasional.

Berhubungan dengan status personil suatu badan hukum, dalam HPI dikenal beberapa prinsip,

namun yang terpenting diantaranya adalah prinsip incorporation dan kantor pusat yang efektif

(Siege Reel).

Contoh kasus Hukum Perdata Internasional

1. Sekilas Tentang Kasus Versace dan Jono

1.1. Gianni Versace S.p.A merupakan salah satu perusahaan yang didirikan oleh seorang

desainer bernama Gianni Versace di Itali pada tahun 1978. Perusahaan ini bergerak di

bidang fashion, berupa busana, perhiasan, kosmetik, farfum dan produk-produk

lainnya. Presiden perusahaan Gianni Versace adalah Santo Versace dan Wakil

presiden dipegang serta direksi kreasi dipegang oleh Donatella Versace. Perusahaan

Versace ini menjual produksinya di Indonesia. Bahkan beberapa mereknya pun telah

dilindungi oleh hukum indonesia.

Semakin hari, perusahaan ini semakin berkembang. Misalnya, pada tahun 2000 ia

bekerjasama dengan Sundland Group Ltd, sebuah perusahaan terkemuka di Australia

membuka “Pallazo Versace”, yaitu sebuah hotel berbintang enam yang terletak di Gold

Coast Australia. Saat ini Versace Group ini dipegang oleh keluarga Versace yang

terdiri dari Allegra Beck Versace (50%), Donatella Versace (20%) dan Santo Versace

(30%).
Produk Versace ini sudah terkenal hampir di 30 negara, termasuk salah satunya adalah

negara Indonesia. Beberapa merek yang sudah terdaftar di berbagai negara sebagai

merek terkenal itu antara lain :

a) VERSUO

b) VERSUS GIANNI VERSACE

c) VERSACE CLASSIC V2

d) VERSUS VERSACE

Sedangkan beberapa merek yang sudah terdaftar di Indonesia, yaitu VERSUS,

VERSUS GIANNI VERSACE, dan VERSACE CLASSIC V2. Serta VERSUS dan

VERSUS VERSACE yang sedang didaftarkan tertanggal 7 April 2001 dan 23 Januari

2002.

1.2. Sedangkan Jono merupakan salah satu warga negara Indonesia yang berkedudukan di

Medan. Ia mendaftarkan merek V2 VERSI VERSUS yang mempunyai unsur

kesamaan dalam kata-kata utamanya. Sehingga Gianni Versace merasa terusik

kenyamanannya karena unsur-unsur utama merek miliknya didaftarkan secara

serempak oleh Jono. Oleh karena itu, ia melaporkannya ke Pengadilan Niaga Jakarta

Pusat.

Dalam kasus ini, Gianni sebagai penggungat merupakan pemilik yang berhak atas Merek

“VERSUS”, “VERSACE”, “VERSACE CLASSIS V2” dan “VERSUS VERSACE’, yang

mana Merek-Merek tersebut telah dipakai, dipromosikan serta terdaftar di negara asalnya Italia

sejak tahun 1989 dna terdaftar pula di 30 negara lebih, sehingga Merek penggugat berdasarkan

Pasal 6 ayat 1 Butir b Undang-undnag No.15 Tahun 2001 tentang Merek dikualifikasikan
sebagai Merek Terkenal, di mana Merek yang disengketakan adalah Merek penggugat yang

telah terdaftar pada kelas 9,18 dan 25. Kemudian Jono tanpa seizin Gianni telah mendaftar

Merek “V2 VERSI VERSUS” yang mempunyai persamaan pada pokoknya dengan Merek-

merek penggugat dan Merek milik tergugat tersebut terdaftar dalam kelas yang sama dengan

Merek-Merek milik penggugat.

Sedangkan menurut pasal 4 UU No. 15 Tahun 2001 tentang merek mengatakan bahwa

seandainya tindakan Jono tersebut merupakan itikad buruk yang hendak ingin membonceng

keterkenalan Merek-Merek milik Gianni yang nantinya akan mendapatkan keuntungan

ekonomi dengan mudah atas penjualan produk tersebut, maka seharusnya permohonan

pendaftaran merek tersebut ditolak.

Dengan demikian, maka dengan menyertakan beberapa bukti untuk memperkuat gugatannya,

Gianni menuntut pengadilan untuk :

1. Mengabulkan gugatannya

2. Menyatakan Gianni adalah pemilik satu-satunya yang berhak atas merek-merek terkenal

VERSUS, VERSUS GIANNI VERSACE CLASSIC V2 dan VERSUS VERSACE di

wilayah Republik Indonesia

3. Menyatakan bahwa merek Jono memiliki unsur kesamaan pada pokoknya dengan merek

terkenal milik Gianni

4. Menyatakan bahwa tindakan Jono merupakan tindakan yang didasari itikad tidak baik

5. Kemudian menyatakan batal merek

6. Dan menghukum Jono dengan membayar biaya perkara menurut hukum


Setelah diterima permohonannya, pengadilan melakukan panggilan beberapa kali kepada Jono,

akan tetapi ia tidak datang. Ia hanya mengutus kuasa hukumnya untuk menghadiri sidang. Yang

akhirnya diputuskan bahwa : Majelis Hakim Pengadilan Niaga mengambil penafsiran

persaingan curang berdasarkan ketentuan Penjelasan Pasal 4 Undang-Undang No.15 Tahun

2001 tentang Merek tanpa merujuk pada Yurisprudensi Mahkamah Agung RI No.426

pk/pdt/1994. Pernyataan Majelis Hakim Pengadilan Niaga mengenai persaingan curang adalah

“ Menimbang bahwa dari Penjelasan Pasal 4 tersebut berdasarkan penafsiran a contario ,

terdapat 2 elemen penting untuk menentukan adanya itikad baik yaitu :

1. Adanya niat untuk menguntungkan usaha pendaftar sekaligus merugikan pihak lain;

2. Melalui cara penyesatan konsumen atau perbuatan persaingan curang, atau menjiplak atau

menumpang ketenaran merek orang lain “

Selain pernyataan mengenai permasalahan persaingan curang, lebih jauhnya Majelis Hakim

memberikan pertimbangan mengenai tindakan penyesatan konsumen sebagai berikut:

a) Penyesatan tentang asal-usul suatu produk. Hal ini dapat terjadi karena Merek dari

suatu produk menggunaka Merek luar negeri atau ciri khas suatu daerah yang

sebenarnya Merek tersebut bukan berasal dari daerah luar negeri atau dari suatu daerah

yang mempunyai ciri khusus tersebut;

b) Penyesatan karena produsen. Penyesatan dalam bentuk ini dapat terjadi karena

masyarakat konsumen yang telah mengetahui dengan baik mutu suatu produk,

kemudian di pasaran ditemukan suatu produk dengan Merek yang mirip atau

menyerupai yang ia sudah kenal sebelumnya;


c) Penyesatan melalui penglihatan. Penyesatan ini dapat terjadi karena kesamaan atau

kemiripan dari Merek yang bersangkutan.

d) Penyesatan melalui pendengaran. Hal ini sering terjadi bagi konsumen yang hanya

mendengar atau mengetahui suatu produk dari pemberitahuan orang lain”

Pertimbangan mengenai tindakan penyesatan yang cukup rinci tersebut memang tidak terdapat

dalam Undang-Undang No.15 tahun 2001 tentang Merek maupun dalam Yurisprudensi

Mahkamah Agung RI No.426/PK/PDT/1994. Interpretasi mengenai tindakan penyesatan ini

merupakan interpretasi ekstensif dari istilah menyesatkan konsumen yang terdapat dalam

Penjelasan Pasal 4 Undang-Undang No.15 tahun 2001 tentang Merek. Interpretasi terhadap

istilah dalam undang-undang ini bukanlah menjadi tugas Hakim semata, para ilmuwan sarjana

hukum pun dapat melakukan interpretasi, terutama bagi para pengacara yang mewakili

kepentingan para pihak di pengadilan. Boleh dikatakan bahwa setiap undang-undang perlu

dijelaskan atau ditafsirkan terlebih dahulu sebelum dapat diterapkan pada peristiwanya.

Dengan demikian, berarti merek yang diajukan oleh Jono dinyatakan batal.

Analisis Kasus diatas

Seperti yang kita ketahui bahwa Merek merupakan salah satu tanda yang berupa gambar, nama,

kata, huruf-huruf, angka-angka, susunan warna atau kombinasi dari unsur tersebut yang

memiliki daya pembeda dan digunakan dalam kegiatan perdagangan . Dari kata memiliki daya

pembeda dalam kalimat diatas berarti merek tersebut digunakan sebagai daya pembeda antar

produk milik seseorang. Sehingga tidak mungkin ada satu unsur kesamaan dalam beberapa

produk. Kecuali pemilik produk tersebut bermaksud untuk mengambil keuntungan dari produk

yang sudah ada sebelumnya tersebut. Begitupun dalam kasus ini, Jono berusaha untuk
menyatukan beberapa unsur yang sama dengan merek milik Gianni Versace seorang warga

negara Italia yang berwirausaha dalam bidang fashion, parfum, dan lain sebagainya. Merek

milik Gianni tersebut sudah terdaftar di hampir 30 negara dan sudah terkenal. Maka dari itu,

pengadilan memutuskan bahwa memang benar, Jono tersebut ingin numpang terkenal dari

merek-merek Gianni. Karena tidak ada pembelaan dari Jono. Bahkan Jono pun tidak hadir

dalam acara persidangan dan hanya diwakilkan oleh kuasa hukumnya.

Untuk memutuskan bahwa suatu perkara tersebut merupakan Hukum Perdata Internasional

atau bukan, maka terlebih kita harus mengetahui titik-titik taut yang ada dalam permasalahan

tersebut.

Titik taut itu dibagi menjadi dua. Yaitu titik taut primer dan titik taut sekunder. Yang menjadi

titik taut primer dalam kasus ini adalah kewarganegaraan. Karena Gianni Versace SpA

merupakan salah seorang warga negara Italia yang berkedudukan di Italia. Sedangkan Jono

merupakan salah seorang warga negara Indonesia yang berkedudukan di Medan. Kemudian

titik taut sekundernya adalah lex loci. Yaitu hukum yang berlaku adalah hukum Indonesia,

sesuai dengan tempat dimana kegiatan dagang atau industri tersebut berjalan.
Kasus IPB dan Amerika

IPB melakukan perjanjian untuk mengirim 800 kera ke Amerika, Kera tersebut hanya

akan diambil anaknya saja dan babonnya akan dikembalikan ke Indonesia. Harga perekor

disepakati sebesar 80 (delapan puluh) juta dan pihak Amerika Serikat hanya membutuhkan

anaknya saja dan harus beranak di Amerika serikat. Ketika posisi pesawat masih di Swiss,

seekor monyet stress dan lepas,melahirkan anaknya. Karena induknya telah dilumpuhkan dan

mati, maka dokter hewan IPB menyuntik mati anak monyet tersebut karena pertimbangan rasa

kasihan . Lawyer Amerika serikat menuntut IPB atas dasar perlindungan satwa dan dianggap

tak memenuhi prestasi dengan sempurna serta membunuh seekor anak monyet. Disatu sisi,

Kera di Indonesia tidak lebih sebagai hama, sedangkan bagi Amerika serikat merupakan satwa

yang harus mendapat perlindungan.

Fakta-faktanya :
1. IPB melakukan perjanjian dengan Amerika untuk mengirim 800 kera ke Amerika, kera

tersebut hanya akan diambil anaknya saja dan harga perekornya 80 juta.

2. Amerika hanya membutuhkan anaknya saja dan harus beranak di Amerika Serikat.

3. Ketika posisi pesawat di Swiss, seekor monyet stress dan lepas, melahirkan anaknya,

dan induknya telah dilumpuhkan dan mati.

4. Dokter hewan IPB menyuntik mati anak monyet atas dasar rasa kasihan.

5. Lawyer Ameika menuntut IPB atas dasar perlindungan satwa dan dianggap tidak

memenuhi prestasi, serta membunuh seekor anak monyet.

6. Anak monyet bagi Amerika merupakan satwa yang dilindungi.

Titik Taut Primer :

Titik taut primer adalah faktor-faktor dan keadaan-keadaan yang memperlihatkan

bahwa kita berhadapan dengan peristiwa hukum perdata Internasional. Atau faktor-faktor dan

keadaan-keadaan yang memperlihatkan bahwa suatu hubungan atau peristiwa adalah peristiwa

hukum perdata Internasional.

Dalam kasus ini titik taut primernya adalah kewarganegaraan dari para pihak. Dimana

pihak penggugat yaitu Lawyer berkewarganegaraan Amerika Serikat, sedangkan pihak

tergugat yaitu dokter hewan IPB berkewarganegaraan Indonesia.

Titik Taut Sekunder :

Titik taut sekunder adalah faktor-faktor dan keadaan-keadaan yang menentukan

hukum Negara mana yang harus berlaku dalam suatu peristiwa hukum perdata internasional.
Dalam kasus ini titik taut sekundernya karena dari perjanjian antara IPB dan Amerika

Serikat tidak ada pilihan hukum atau pilihan forum yang diatur secara tegas dalam

perjanjiannya, maka titik taut sekundernya ada lebih dari satu yaitu :

1. Lex Loci Contractus (hukum tempat dilangsungkannya perjanjian).

2. Lex Loci Solutionis (hukum tempat dilaksanakannya perjanjian).

3. Lex Loci Delicti Commisi (hukum tempat perbuatan melawan hukum dilakukan).

4. The Most Characteristic Connection (pihak yang lebih menonjol dalam kontrak).

Hukum Yang Berlaku :

1. Berdasarkan Lex Loci Contractus,maka hukum yang berlaku adalah hukum perdata

Indonesia karena perjanjian dibuat di Indonesia.

2. Berdasarkan Lex Loci Solutionis, maka hukum yang berlaku adalah hukum Amerika

Serikat karena perjanjian dilaksanakan di Amerika Serikat yaitu, anak monyet yang

diperjanjikan harus beranak di Amerika Serikat.

3. Berdasarkan Lex Loci Delicti Commisi, maka hukum yang berlaku adalah hukum

Swiss, karena perbuatan melawan hukum berupa penyuntikan mati anak monyet yang

diperjanjikan dilakukan ketika pesawat berada diatas wilayah Negara Swiss.

4. Berdasarkan The Most Characteristic Connection, maka hukum yang berlaku adalah

hukum perdata Indonesia, karena pihak yang paling menonjol adalah IPB (Indonesia)

sebagai penjual kera, karena IPB yang harus menyerahkan kera,merawat dan menjaga
kera dengan baik sampai nanti kera diserahkan kepada pihak AmerikaSerikat. Dan

dalam perjanjian jual-beli pihak yang paling menonjol atau dominan adalah pihak

penjual dalam hal ini adalah IPB.