Anda di halaman 1dari 11

TUGAS ILMU LINGKUNGAN

PEMANFAATAN OBYEK WISATA ROWO JOMBOR


KLATEN SEBAGAI LOKASI EKOWISATA BERBASIS
LINGKUNGAN AIR

Disusun oleh :
Nama : Devi Susanti
NIM : 16304241021
Kelas : Pendidikan Biologi A

JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2018
MIND MAP

Teknologi

Sosial Lembaga

Obyek
Wisata
Rawa
Jombor

Edukasi
Konservasi

Potensi ekonomi

Berkelanjutan
Pemanfaatan Rawa

Waduk Rowo Jombor terletak di Dukuh Jombor, Desa Krakitan,


Kecamatan Bayat, + 8 Km. (delapan kilo meter) ke arah tenggara dari
pusat Kota Klaten, Jawa Tengah. Dari Kota Klaten ada dua rute perjalanan
yang dapat ditempuh menuju ke objek wisata ini. Lewat jalur barat: Kota
Klaten – pertigaan Bendogantungan Desa Sumberejo, belok kiri / ke arah
selatan – Desa Danguran – Desa Glodogan – Desa Jimbung – Rowo
Jombor. Lewat jalur timur: Kota Klaten – Stasiun Klaten – By Pass –
belok kanan / ke arah selatan – Terminal Klaten yang bari dibangun -
Kelurahan Buntalan – Desa Jimbung – Rowo Jombor.

Waduk Rowo Jombor mempunyai panjang 7,5 Km. (tujuh setengah


kilo meter).Bentuknya memang tidak persegi empat, tetapi segi banyak
tidak beraturan. Waduk ini mempunyai kedalaman 4.5 m (empat setengah
meter) dan mampu menampung air 4.000.000 m3 (empat juta meter
kubik). Tujuan utama pembuatan waduk Rowo Jombor adalah untuk
menampung air dari sungai-sungai di sekitarnya untuk mengendalikan
banjir, dan sebagai persediaan air irigasi untuk mengoncori sawah-sawah
di sekelilingnya pada musim kemarau. Namun kemudian juga
dimanfaatkan untuk keperluan lain, seperti pariwisata dan perikanan.

Di sekitar waduk Rowo Jombor ini terdapat pemandangan alam


yang indah, situs peninggalan zaman dahulu yang diyakini mempunyai
nilai sejarah, museum pertanian, pusat-pusat kerajinan, warung apung,
arena olahraga, arena bermain, dan lain-lain.

Bila ingin mengelilingi Rowo Jombor jalannya juga bagus.


Kondisi jalan sudah diaspal halus, lebar jalan tanggul Rowo Jombor 12
meter, dan tanggul keliling Rowo Jombor sejauh 7,5 km. Dengan
mengendarai mobil apa lagi sepeda motor tidak akan kesulitan bila
berpapasan. Pada hari Sabtu, malam Minggu juga banyak orang rekreasi di
Rowo Jombor.

Pemandangan air di Rowo Jombor yang membentang seluas 198


hektar, kedalaman air mencapai 4,5 meter, dan dapat menampung air
mencapai 4 juta meter kubig. Ini yang menjadikan faktor Rowo
Jombor mempesona. Setiap hari di Rowo Jombor ada orang yang
melakukan aktifitas. Ada yang memancing sekedar untuk santai-santai
saja. Namun juga ada orang yang memancing di Rowo Jombor
memang untuk melakukan pekerjaan sehari-hari untuk mendapatkan
nafkah dari hasil mancing ikan. Bedanya, orang yang melakukan mancing
di Rowo Jombor hanya untuk santai maka cara mancing tidak ada
perasaan penuh semangat. Mereka hanya duduk di bawah pohon yang
rindang. Tidak berharap segera berhasil dapat ikan yang dipancingnya.
Sedangkan orang yang mancing ikan untuk mencari napkah terlihat cara
mancingnya nampak penuh semangat. Ada orang cara mancing dengan
turun di dalam air Rawa Jombor yang dalamnya mencapai dada.

Pemandangan orang yang sedang mancing ikan jenis nila cukup


mengasyikkan. Yang melakukan aktifitas mancing ikan di Rowo Jombor
ada anak usia remaja, usia pemuda, juga ada yang sudah usia dewasa.

Selain melihat orang yang mancing ikan, di tengah Rowo Jombor


juga ada orang sedang menjala ikan di kerambanya. Mereka yang menjala
ikan di keramba berarti mereka merupakan warga yang tinggal di sekitar
Rowo Jombor. Mereka menuju ke keramba menggunakan gethek dari
bambu. Setelah sampai di dalam keramba kemudian menjala ikan
nila yang ada di keramba. Warga di sekitar Rowo Jombor, Desa Krakitan
budi daya ikan dengan cara keramba merupakan pekerjaan harian.

Rowo Jombor merupakan sebuah cekungan atau rowo yang


dikembangkan menjadi obyek wisata daerah. Dahulu Rowo Jombor hanya
dimanfaatkan sebagai penampung air. Kemudian dikembangkan menjadi
tempat wisata dengan cara membuat gethek (perahu penumpang dari
bambu) di rowo dan masyarakat dapat membayar sejumlah uang jika ingin
menaikinya.

Selain terkenal dengan warung apungnya, Rowo Jombor juga


terkenal dengan deratan perbukitannya yang indah yaitu Bukit Sidoguro.
Lokasi bukit ini tepat bersebelahan dengan Rowo Jombor. Pada hari-hari
tertentu di bukit ini diadakan pertunjukan dangdut. Hari yang paling ramai
di Rowo Jombor adalah pada saat Hari Syawalan. Syawalan di Rowo
Jombor biasanya diadakan pada tanggal 8 Syawal atau seminggu setelah
lebaran setiao tahun. Acara yang digelar adalah pertunjukan dangdut, pasar
malam dan sebagai puncaknya adalah kirab gunungan di Bukit Sidoguro.
Pada saat Syawalan dipastikan banyak warga sekitar Klaten yang
mengunjungi Rowo Jombor.
Pengelolaan Rawa Jombor oleh Pemerintah

Warung Apung

Penataan dan pembangunan kawasan wisata Rawa Jombor di Desa


Krakitan, Kecamatan Bayat bakal dilakukan tahun ini. Guna
merealiasasikan rencana tersebut, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Klaten
bakal memindahkan pedagang warung apung.

Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga


(Disbudparpora) Klaten, Joko Wiyono mengatakan relokasi pedagang
warung apung tersebut merupakan bagian dari penataan yang dilakukan.
Selain itu, relokasi tersebut dilakukan untuk mempermudah pembangunan
di kawasan wisata andalan Kabupaten Klaten itu.

Menurutnya konsep yang diusung seperti yang ada di Bedugul


(Bali). Potensi wisata yang ada di Rawa Jombor masih sangat mungkin
dikembangkan juga memperhatikan kondisi sosial dan kemasyarakatan di
kawasan Rawa Jombor . Termasuk memperhatikan warung apung yang
juga menjadi penyokong wisata di kawasan ini.
Untuk itu harus diperhatikan. Dilakukan penataan agar potensinya
lebih berkembang. Maka dari itu, konsep yang diusung harus mampu
mengakomodasi kepentingan masyarakat. Penataan dan pembangunan
kawasan Rawa Jombor mendapatkan anggaran sekitar Rp 2 miliar dari
Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Klaten tahun 2017.

Pemanfaatan dan pengembangan obyek wisata Rowo Jombor


sebagai wisata edukasi adalah dengan dibuatnya warung apung, di tempat
itulah selain tempat wisata kuliner bisa juga digunakan untuk sarana
edukasi bagi wisatawan untuk mengenal rawa dan ekosistemnya.

Setelah itu Rowo Jombor dikembangkan lagi dengan membuat


warung apung, yakni tempat makan yang terapung di atas rowo. Warung
apung ini jumlahnya puluhan dan masing-masing memiliki nama
tersendiri. Pembangunan warung ini dari rangkaian bambu dan
dibawahnya dipasang drum agar dapat terapung. Untuk menuju warung
apung yang terdapat ditengah ini, pengunjung dapat menaiki perahu
khusus yang berjalan dengan cara ditarik pekerja khusus.
Banyak warga di sekitar Rowo Jombor yang berusaha warung
apung di Rowo Jombor. Warung apung yang didirikan di Rowo
Jombor cukup banyak jumlahnya. Di warung apung orang
jualan makanan dari ikan nila maupun jenis ikan lainnya. Menunya
ikan macam-macam, ada ikan yang digoreng, dibakar, maupun menu
ikan lainnya. Warung-warung apung di Rowo Jombor setiap hari buka.
Kalau hari-hari biasa yang datang di warung apung tidak begitu
banyak. Tetapi di hari Minggu maupun hari besar banyak
orang meluangkan waktu untuk menikmati wisata desa di Rowo Jombor.

Enceng Gondok

Gerbano (2005) menyebutkan, eceng gondok termasuk famili


Pontederiaceae. Tanaman ini hidup di daerah tropis maupun subtropis.
Eceng gondok digolongkan sebagai gulma perairan yang mampu
menyesuaikan diri terhadap perubahan lingkungan dan berkembang biak
secara cepat. Tempat tumbuh yang ideal bagi tanaman eceng gondok
adalah perairan yang dangkal dan berair keruh, dengan suhu berkisar
antara 28-30C dan kondisi pH berkisar 4-12. Di perairan yang dalam dan
berair jernih di dataran tinggi, tanaman ini sulit tumbuh. Eceng gondok
mampu menghisap air dan menguapkanya ke udara melalui proses
evaporasi. Bunga eceng gondok berwarna ungu muda (lila) dan banyak
dimanfaatkan sebagai bunga potong. Pada Gambar 2 dapat dilihat gambar
eceng gondok (Hidayat, 1993).

Eceng gondok merupakan gulma di air karena pertumbuhannya


yang begitu cepat. Karena pertumbuhan yang cepat, maka eceng gondok
dapat menutupi permukaan air dan menimbulkan masalah pada
lingkungan. Selain merugikan karena cepat menutupi permukaan air,
eceng gondok ternyata juga bermanfaat karena mampu menyerap zat
organik, anorganik serta logam berat lain yang merupakan bahan
pencemar.

Eceng gondok memiliki keunggulan dalam kegiatan fotosintesis,


penyediaan oksigen dan penyerapan sinar matahari. Bagian dinding
permukaan akar, batang dan daunnya memiliki lapisan yang sangat peka
sehingga pada kedalaman yang ekstrem sampai 8 meter di bawah
permukaan air masih mampu menyerap sinar matahari serta zat-zat yang
larut di bawah permukaan air. Akar, batang, dan daunnya juga memiliki
kantung-kantung udara sehingga mampu mengapung di air.
Keunggulan lain dari eceng gondok adalah dapat menyerap
senyawa nitrogen dan fosfor dari air yang tercemar, berpotensi untuk
digunakan sebagai komponen utama pembersih air limbah dari berbagai
industri dan rumah tangga. Karena kemampuanya yang besar, tanaman ini
diteliti oleh NASA untuk digunakan sebagai tanaman pembersih air di
pesawat ruang angkasa. Eceng gondok juga dapat digunakan untuk
menurunkan konsentrasi COD dari air limbah (Zimmel (2006) dan Tripathi
(1990) ).

Daftar Pustaka

Garbono, A dan Siregar, A. 2005. Kerajinan Enceng Godok. Yogyakarta :


Kanisius.

Sriyana, H. Y., 2006. Kemampuan Enceng Gondok dalam Menurunkan


Kadar Pb(II) dan Cr(VI) pada Limbah dengan Sistem Air
Mengalir dan Sistem Air Menggenang, Tesis S2, Fakultas Teknik
Jurusan Teknik, Jurusan Teknik Kimiaa UGM, Yogyakarta.

Zimmels, Y., Kirzhner, F.A and Malkovskaja. 2005. Application of


Eichornia crassipes and Pistia stratiotes for treatment of urban
sewage in Israel. Journal of Environmental Manajement 81, 420-
428.