Anda di halaman 1dari 21

1

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Kanker adalah suatu penyakit sel dengan ciri ganguan atau kegagalan mekanisme
pengatur multifikasi dan fungsi homeostatis lainya pada organisme multiseluler
Sifat umum dari kanker adalah:

a. Pertumbuhan berlebihan umumnya berbentuk tumor


b. Ganguan diferensiasi dark sel Dan jaringan sehinga mirip jaringan mudigah
c. Bersifat infansif mampu tumbuh di jaringan di sekitar nya( perbedaan pokok
dengan jaringan normal).
d. Bersifat metastatik menyebar ke tempat yang lain Dan menyebabkan pertumbuhan
baru.
e. Memiliki heriditas bawaan (acquired heredity) yaitu keturunan sel kangker Dan
dapat menimbulkan kangker.
f. Pergeseran metabolisme kearah pempentukan makromolel dari nukleosida Dan
asam amino serta peningkatan katabolisme karbohidrat untuk energiy sel.

Kanker kolorektal adalah kanker usus besar (kolon) dan usus pembuangan akhir
(rektum). Kebanyakan kanker kolorektal berawal dari pertumbuhan sel yang tidak ganas
(disebut adenoma) dimana pada stadium awal membentuk sebuah polip (Harold Shryock,
1982:310). Kanker kolorektal (colo-rectal carcinoma) atau disebut juga kanker usus besar
merupakan suatu tumor ganas yang ditemukan di colon atau rectum. Colon atau rectum
adalah bagian dari usus besar pada sistem pencernaan yang disebut juga traktus
gastrointestinal yang berfungsi sebagai penghasil energi bagi tubuh dan membuang zat-
zat yang tidak berguna. Menurut Siregar (2007: 4).

Kanker kolorektal (KKR) kanker ke empat terbanyak di seluruh dunia, dan kanker
kedua terbanyak di negara-negara barat dan penyebab kematian kedua akibat kanker di
Amerika Serikat dan Kanada. Ada sekitar satu juta kasus baru tiap tahun dengan angka
kematian 500 000 jiwa per tahun, dan bila dibiarkan angka ini akan semakin meningkat
karena populasi dunia terutama kelompok usia tua semakin banyak. Beberapa tahun
terakhir, insiden KKR di Asia semakin meningkat dan di Indonesia saat ini menjadi
kanker ketiga terbanyak. Penelitian yang mendalam mengenai KKR menunjukkan
bahwa sebagian besar KKR berasal dari polip adenoma sporadik, sisanya dapat
muncul pada individu dengan kelainan genetik antara lain sindrom polyposis dan
penyakit inflamasi usus. Prevalensi polip adenomatous yang dijumpai ketika skrining
dengan kolonoskopi adalah 18-36 %. Bila adenoma dapat dijumpai secara dini,
lesi ini dapat dibuang dengan tindakan polipektomi. Tindakan ini akan
2

menurunkan risiko berkembangnya adenoma menjadi karsinoma. Menemukan lesi


adenoma ini adalah salah satu tujuan dari skrining KKR, dan hal ini merupakan
tindakan yang belum biasa, sebab di daerah-daerah yang penduduknya berisiko tinggi
KKR, angka skrining justru rendah, penyebabnya antara lain pengetahuan
masyarakat yang rendah terhadap kanker kolon, tenaga medis yang belum
waspada terhadap risiko timbulnya kanker kolon, keterbatasan sarana pemeriksaan
(darah samar feses, kolonoskopi) dan penolakan dari pasien untuk diperiksa. Tindakan
skrining yang baik, sosialisasi faktor risiko dan faktor protektif KKR
diharapkan dapat menurunkan insiden KKR, namun skrining KKR belum familiar
dikalangan masyarakat, bahkan dikalangan tenaga kesehatan.

1.2 Tujuan Makalah

A. Untuk mengetahui definisi kanker kolorektal


B. Untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi kanker kolorektal
C. Untuk mengetahui tanda dan gejala penyakit kanker kolorektal
D. Untuk mengetahui klasifikasi kanker kolorektal
E. Untuk mengetahui komplikasi kanker kolorektal
F. Untuk mengetahui patofisiologi kanker kolorektal
G. Untuk mengetahui pathway kanker kolorektal
H. Untuk mengetahui pemeriksaan diagnostik terkait kanker kolorektal
I. Untuk mengetahui penatalaksanaan kanker kolorektal
J. Untuk mengetahui pengkajian dan pemeriksaan fisik pada pasien kanker kolorekral
K. Untuk mengetahui diagnosa keperawatan yang muncul pada kanker kolorektal
L. Untuk mengetahui rencana tindakan keperawatan pada penyakit kanker kolorektal.

1.3 Rumusan Masalah

A. Apa definisi kanker kolorektal?


B. Apa sajafaktor yang mempengaruhi kanker kolorektal?
C. Bagaimana tanda dan gejala penyakit kanker kolorektal?
D. Bagaimana klasifikasi kanker kolorektal?
E. Bagaimana komplikasi kanker kolorektal?
F. Bagaimana patofisiologi kanker kolorektal?
G. Bagaimana phatway kanker kolorektal?
H. Bagaimana pemeriksaan diagnostik terkait penyakit kanker kolorektal?
I. Bagaimana penatalaksanaan kanker kolorektal?
J. Bagaimana pengkajian dan apa saja pemeriksaan fisik pada pasien kanker kolorektal?
K. Apa saja diagnosa yang timbul pada kanker kolorektal?
L. Apa saja rencana tindakan keperawatan berdasarkan (nic, noc) ?
3

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Definisi
4

Kanker adalah pertumbuhan sel abnormal yang cenderung menyerang jaringan


disekitarnya dan menyebar ke organ tubuh lain yang letaknya jauh. Kanker terjadi karena
proliferasi sel yang tidak terkontrol yang kemudian berubah menjadi sel-sel kanker
(Ariani, 2015).

Kanker merupakan salah satu penyebab kematian utama di seluruh dunia. Pada
tahun 2017 ini diprediksikan hampir 9 juta orang meninggal diseluruh dunia dan akan
terus meningkat hingga 13 juta orang per tahun di 2030. Prevalensi kanker di Indonesia
adalah 1,4 per 100 penduduk atau sekitar 347.000 orang (Kemenkes, 2017).

Kanker kolorektal adalah suatu tumor malignan yang terdiri dari jaringan epitel
dari kolon atau rektum (Dessen, 2011 ; Suratun & Lusianah, 2010).

Kanker kolon suatu bentuk keganasan dari masa abnormal / neoplasma yang
muncul dari jaringan ephitel dari kolon (Haryono, 2010).

Kanker kolorektal merupakan suatu tumor malignant yang muncul pada jaringan
ephitelial dari colon/rectum. Umumnya tumor kolorektal adalah adenokarsinoma yang
berkembang dari polip adenoma (Wijaya dan Putri, 2013).

2.2 Faktor-faktor yang Mempengaruhi

Adapun beberapa faktor yang menpengaruhi kejadian kanker kolorektal menurut


(Soebachman, 2011) yaitu :

A. Usia

Risiko terkena kanker kolon meningkat dengan bertambahnya usia. Kebanyakan


kasus terjadi pada orang yang berusia 60 - 70 tahun. Jarang sekali ada penderita kanker
kolon yang usianya dibawah 50. Kalaupun ada, bisa dipastikan dalam sejarah
keluarganya ada yang terkena kanker kolon juga.

B. Polip

Adanya polip pada kolon, khususnya polip jenis adenomatosa. Jika polip ini
langsung dihilangkan pada saat ditemukan, tindakan penghilangan tersebut akan bisa
mengurangi risiko terjadinya kanker kolon di kemudian hari.

C. Riwayat kanker

Seseorang yang pernah terdiagnosis mengidap kanker kolon ( bahkan pernah


dirawat untuk kanker kolon ) berisiko tinggi terkena kanker kolon lagi dikemudian hari.
5

Wanita yang pernah mengidap kanker ovarium ( indung telur), kanker uterus, dan kanker
payudara juga memiliki risiko yang lebih besar untuk terkena kanker kolon.

D. Faktor keturunan / genetika

Sejarah adanya kanker kolon dalam keluarga, khususnya pada keluarga dekat.
Orang yang keluarganya punya riwayat penyakit FAP ( Familial Adenomatous
Polyposis ) atau polip adenomatosa familial memiliki risiko 100% untuk terkena kanker
kolon sebelum usia 40 tahun bila FPA-nya tidak diobati. Penyakit lain dalam keluarga
adalah HNPCC ( Hereditary Non Polyposis Colorectal Cancer ), yakni penyakit kanker
kolorektal nonpolip yang menurun dalam keluarga, atau sindrom Lynch.

E. Penyakit kolitis ( radang kolon ) ulseratif yang tidak diobati.

F. Kebiasaan merokok

Perokok memiliki risiko jauh lebih besar untuk terkena kanker kolon
dibandingkan dengan yang bukan perokok.

G. Kebiasan makan

Pernah diteliti bahwa kebiasaan makan banyak daging merah ( dan sebaliknya
sedikit makan buah, sayuran serta ikan ) turut meningkatkan risiko terjadinya kanker
kolon. Sebab daging merah ( sapi dan kambing ) banyak mengandung zat besi. Jika
sering mengkonsumsi daging merah berarti akan kelebihan zat besi.

H. Terlalu banyak mengonsumsi makanan yang mengandung pewarna, apalagi jika


pewarnanya adalah pewarna nonmakanan.

I. Terlalu banyak mengonsumsi makanan makanan yang mengandung bahan pengawet.

J. Kurangnya aktivitas fisik, Orang yang beraktivitas lebih banyak memiliki risiko lebih
rendah untuk terkena kanker kolon.

K. Berat badan yang berlebihan ( obesitas ).

L. Infeksi virus tertentu seperti HPV (Human Papiloma Virus) turut andil dalam terjadinya
kanker kolon.

M. Kontak dengan zat-zat kimia tertentu. Misalnya logam berat, toksin,dan ototoksin serta
gelombang elektromagnetik.

2.1 Tanda dan Gejala


6

Tanda dan gejala dari kanker kolon sangat bervariasi dan tidak spesifik. Keluhan
utama pasien pasien dengan kanker kolorektal berhubungan dengan besar dan lokasi dari
tumor. Tumor yang berada pada kolon kanan, dimana isi kolon berupa cairan, cenderung
tetap tersamar hingga lanjut sekali sedikit kecenderungan menyebabkan obstruksi karena
lumen usus lebih besar dari feses masih encer. Gejala klinis sering brupa rasa penuh,
nyeri abdomen, perdarahan dan symptomatik anemia (menyebabkan kelemahan, pusing
dan penurunan berat badan). Tumor yang berada pada kolon kiri cenderung
mengakibatkan perubahan pola defekasi sebagai akibat iritasi dan respon refleks,
perdarahan, mengecilnya ukuran feses, dan komplikasi karena lesi kolon kiri yang
cenderung melingkar mengakibatkan obstruksi. Tumor pada rektum atau sigmoid bersifat
lebih infiltratif pada waktu diagnosis dari leksi proksimal, maka prognosisnya lebih jelek
(Kumar dkk, 2010).

Menurut Japaries (2013) Kanker usus besar dibagi menajadi dua stadium yaitu :

A. Stadium dini

a. Tanda iritasi usus dan perubahan kebiasaan defekasi : sering buang air
besar, diare atau obstipasi, kadang kala obstipasi dan diare silih berganti,
tenesmus, anus turun tegang, sering terdapat nyeri samar abdomen. Pasien
lansia bereaksi tumpul dan lamban, tidak peka nyeri, kadang kala setelah
terjadi perforasi tumor, peritonitis baru merasakan nyeri dan berobat.

b. Hematokezia : tumor luka ulserasi berdarah, kadang kala merah segar atau
merah gelap, biasanya tidak banyak, intermitan. Jika posisi tumor agak
tinggi, darah dan feses becampur menjadikan feses mirip selai. Kadang
kala keluar lendir berdarah.

c. Ileus : ileus merupakan tanda lanjut kanker kolon. Ileus kolon sisi kiri
sering ditemukan . kanker kolon tipe ulseratif atau hiperplstik menginvasi
kesekitar dinding usus membuat lumen usus menyempit hingga ileus,
sering berupa ileus mekanik nontotal kronis, mula-mula timbul perut
kembung, rasa tak enak perut intermiten, borborigmi, obstipasi atau feses
menjadi kecil (seperti pensil atau tahi kambing) bahkan tak dapat buang
angin atau feses. Sedangkan ileus akut umumnya disebabkan karsinoma
kolon tipe infiltratif. Tidak jarang terjadi intususepsi dan ileus karena
tumor pada pasien lansia, maka pada lansia dengan intususepsi harus
memikirkan kemungkinan karsinoma kolon. Pada ileus akut maupun
kronik, gejala muntah tidak menonjol, bila terdapat muntah, mungkin usus
kecil (khususnya proksimal) sudah terinvasi tumor.

d. Massa abdominal. Ketika tumor tumbuh hingga batas tertentu didaerah


abdomen dapat diraba adanya massa, sering ditemukan pada koon belahan
7

kanan. Pasien lansia umumnya mengurus,dinding abdomen relatif longgar,


massa mudah diraba. Pada awalnya massa bersifat mobil, setelah
menginvasi sekitar menjadi infeksi.

e. Anemia, pengurusan, demam, astenia dan gejala toksik sistemik lain.


Karena pertumbuhan tumor menghabiskan nutrisi tubuh, perdarahan kronis
jangka panjang menyebabkan anemia; infeksi sekunder tumor
menyebabkan demam dan gejala toksik.

B. Stadium lanjut

Selain gejala lokal tersebut diatas, dokter harus memperhatikan tumo


adalahpenyakit sistemik, pada fase akhir progresi kanker usus besar timbul
gejala stadium lanjut yang sesuai. Misal, invasi luas tumor dalam kavum pelvis
menimbulkan nyeri daerah lumbosakra, iskialgia dan neuralgia obturatoria; ke
anterior menginvasi mukosa vagina dan vesika urinaria menimbulkan
perdarhan pervaginam atau hematuria, bila parah dapat timbul fistel
rektovaginal, fistel rektovesikel; obstruksi ureter bilateral menimbulkan anuria,
uremia; tekanan pada retra menimbulkan retensi urin; asites, hambatan saluran
limfatik atau tekanan pada vena iliaka menimbulkan udem tungkai, skrotal,
labial; perforasi menimbulkan peritonitis akut, abses abdomen; metastasis ke
paru menimbulkan batuk, nafas memburu, hemoptisis; metastasis ke otak
menyebabkan koma; metastasis tulang menimbulkan nyeri tulang, pincang dll.
Akhirnya dapat timbul kakeksia, kegagalan sistemk (Japaries, 2013).

2.4 Klasifikasi

Klasifikasi kanker kolon menurut modifikasi DUKES adalah sebagai berikut


(FKUI, 2001 : 209) :

A : kanker hanya terbatas pada mukosa dan belum ada metastasis.

B1 : kanker telah menginfiltrasi lapisan muskularis mukosa.

B2 : kanker telah menembus lapisan muskularis sampai lapisan propria.

C1 : kanker telah mengadakan metastasis ke kelenjar getah bening sebanyak


satu sampai empat buah.

C2 : kanker telah mengadakan metastasis ke kelenjar getah bening lebih dari 5


buah.
8

D : kanker telah mengadakan metastasis regional tahap lanjut dan


penyebaran yang luas & tidak dapat dioperasi lagi.

Klasifikasi kanker kolon dapat ditentukan dengan sistem TNM (T = tumor, N =


kelenjar getah bening regional, M = jarak metastese).

T : Tumor primer

T0 : Tidak ada tumor

T1 : Invasi hingga mukosa atau sub mukosa

T2 : Invasi ke dinding otot

T3 : Tumor menembus dinding otot

N : Kelenjar limfa

N0 : tidak ada metastase

N1 : Metastasis ke kelenjar regional unilateral

N2 :Metastasis ke kelenjar regional bilateral

N3 : Metastasis multipel ekstensif ke kelenjar regional

M : Metastasis jauh

M0 : Tidak ada metastasis jauh

M1 : Ada metastasis jauh

Kanker usus besar di klasifikasikan menjadi 3 kelompok :

A. Tipe menonjol

Semua tumor yang massa utamanya menonjol ke dalam lumen usus


termasuk tipe ini. Tumor tampak nodular, polipoid, seperti kembang kola tai
fungoid. Massa tumor besar, permukaan mudah mengalami perdarahan, infeksi,
dan nekrosis. Umumnya terjadi di belahan kanan kolon. Sifat invasi rendah,
prognosis agak baik.

B. Tipe ulseratif

Setiap tumor dengan permukaan memiliki tukak jelas yang agak dalam
(kedalamannya biasanya mencapai atau melebihi tunika muskularis) termasuk tipe
9

ini.tipe ulseratif paling sering di jumpai, menempati lebih dari separuh kanker
besar. Karakteristiknya adalah pada massa terdapat tukak yang agak dalam,
bentuk luar mirip kawah gunung berapi, tepinya menonjol dank eras, dasarnya
tidak rata, nekrosis, derajad keganasan tinggi, metastasis limfogen lebih awal.

C. Tipe infiltrative

Tumor menginfiltrasi tiap lapisan dinding usus secara difus, sehingga


dinding usus setempat menebal, tapi tampak dari luar seringkali tidak jelas
terdapat tukak atau tonjolan. Tumor seringkali mengenai sekeliling saliran usus,
disertai hyperplasia abnormal jaringan ikat, lingkaran usus jelas menyusut,
membentuk konstriksi anular, dipermukaan serosa setempat sering tampak cincin
konstriksi akibat traksi jaringan ikat. Oleh karena itu mudah terjadi ileus, timbul
diare dan obstipasi silih berganti. Tipe ini sering ditemukan pada kolon sigmoid
dan bagian atas rectum, derajad keganasan tinggi, metastasis lebih awal

2.5 Komplikasi

Komplikasi pada pasien dengan kanker kolon yaitu:

A. Pertumbuhan tumor dapat menyebabkan obstruksi usus parsial atau lengkap.

B. Metastase ke organ sekitar, melalui hematogen, limfogen dan penyebaran langsung.

C. Pertumbuhan dan ulserasi dapat juga menyerang pembuluh darah sekitar kolon
yang menyebabkan hemorragi.

D. Perforasi usus dapat terjadi dan mengakibatkan pembentukan abses.

E. Peritonitis dan atau sepsis dapat menimbulkan syok.

F. Pembentukan abses

Pembentukan fistula pada urinari bladder atau vagina. Biasanya tumor


menyerang pembuluh darah dan sekitarnya yang menyebabkan
pendarahan. Tumor tumbuh kedalam usus besar dan secara berangsur-angsur
membantu usus besar dan pada akirnya tidak bisa sama sekali. Perluasan tumor
melebihi perut dan mungkin menekan pada organ yang berada disekitanya
( Uterus, urinary bladder,dan ureter ) dan penyebab gejala-gejala tersebut tertutupi
oleh kanker.

2.6 Patofisiologi
10

Kanker kolorektal timbul melalui interaksi yang kompleks antara faktor genetik
dan faktor lingkungan. Kanker kolorektal yang sporadik muncul setelah melewati rentang
masa yang lebih panjang sebagai akibat faktor lingkungan yang menimbulkan berbagai
perubahan genetik yang berkembang menjadi kanker. Kedua jenis kanker kolorektal
(herediter dan sporadik) tidak muncul secara mendadak melainkan melalui proses yang
diidentifikasikan pada mukosa kolon (seperti pada displasia adenoma) (Abdullah, 2006).

Faktor lingkungan yang berperan pada karsinogenesis kanker kololrektal dapat


dilihat pada tabel di bawah ini :

Faktor Lingkungan Yang Berperan Pada Karsinogenesis Kanker Kololrektal


1. Probably related
a. Konsumsi diet lemak tinggi
b. Konsumsi diet lemak rendah
2. Possibly related
a. Karsinogen dan mutagen
b. Heterocyclic amines
c. Hasil metabolisme bakteri
d. Bir dan konsumsi alkohol
e. Diet rendah selenium
3. Probably protektif
a. Konsumsi serat tinggi
b. Diet kalsium
c. Aspirin dan OAINS
d. Aktivitas fisik (BMI rendah)
4. Possibly protekstif
a. Sayuran hijau dan kuning
b. Makanan dengan karoten tinggi
c. Vitamin C dan E
d. Selenium
e. Asam folat
5. Cyclooxygenase-2 (COX-2) inhibitor
6. Hormone Replacement Theraphy (estrogen)
(Sumber : Abdullah, 2006).

Kanker kolon terjadi sebagai akibat dari kerusakan genetik pada lokus yang
mengontrol pertumbuhan sel. Perubahan dari kolonosit normal menjadi jaringan
adenomatosa dan akhirnya karsinoma kolon menimbulkan sejumlah mutasi yang
mempercepat pertumbuhan sel. Terdapat 2 mekanisme yang menimbulkan instabilitas
11

genom dan berujung pada kanker kolorektal yaitu : instabilitas kromosom (Cromosomal
Insyability atau CIN) dan instabilitas mikrosatelit (Microsatellite Instability atau MIN).
Umumnya asl kenker kolon melalui mekanisme CIN yang melibatkan penyebaran materi
genetik yang tak berimbang kepada sel anak sehingga timbulnya aneuploidi. Instabilitas
mikrosatelit (MIN) disebabkan oleh hilangnya perbaikan ketidakcocokan atau missmatch
repair (MMR) dan merupakan terbentuknya kanker pada sindrom Lynch (Abdullah,
2006)

2.7 Pathway

Desenden Faktor yang


mempengaruhi
(Konstipasi,Feses
b’bntuk pita/pensil)
Diit tinggi lemak – Alkoholik - < aktivitas - Obesitas

Asenden Ansietas
Jinak Neoplasia -Stadium 1
b.d
( diare, malaise, BB)
-Stadium 2 Ancaman
Ganas (Ca Colon) pada
Sigmoid & rectum -Stadium 3 Terapi
Aliran balik ke status
Obstruksi -Stadium 4 terkini Paliatif
( Konstipasi, feses vena hemoroidalis
trdpt darah, nyeri pd
Penumpukan di proksimal Distensi abdomen Perut keras
bag bwh pinggul) Vasodilatasi

Kompensasi tubuh Nyeri abdomen


Hemoroid

Tekanan Merangsang saraf parasimpatis Nyeri akut b.d


Agens Cidera
Pecah Feses tetap tersumbat Biologis

BAB bercampur darah Konstipasi

Kolostomi Diit serat, pencahar,minum air putih


Resiko defisien volume cairan
b.d hambatan mengakses
cairan Kerusakan integritas
kulit b.d Ekskresi
12

2.8 Pemeriksaan Diagonstik Kanker Kolorektal

A. Tes darah samar pada feses atau kotoran (Fecal Occult Blood Test- FOBT)
Terkadang kanker atau polip mengeluarkan darah dan FOBT dapat mendeteksi jumlah
darah yang sangat sedikit dalam kotoran karena tes ini hanya mendeteksi darah, tes-tes ini
dibutuhkan untuk menemukan sumber darah tersebut. Kondisi jinak (seperti hemoroid) juga bisa
menyebabkan darah dalam kotoran.

B. Sigmoidoskopi
Merupakan pemeriksaan dengan suatu alat berupa kabel seperti kabel kopling yang
ujungnya ada alat petunjuk yang ada cahayanya dan bisa teropong. Jika ditemukan polip
(pertumbuhan jinak yang dapat menjadi kanker) makan polip bisa diangkat.

C. Endoskopi
Penting untuk dilakukan karena gambaran yang khas karsinoma atau ulkus akan dapat
dilihat dengan jelas pada endoskopi dan untuk menegakkan diagnosis perlu dilakukan biopsi.

D. Radiologi
Terdiri dari : foto dada untuk melihat ada tidaknya metastase kanker ke paru. Dan foto
kolon (barium enema) dapat terlihat suatu filling defect pada suatu tempat atau suatu stitura.

E. Ultrasonografi (USG)
Berguna untuk mendeteksi ada tidaknya metastasis kanker kelenjar getah bening di
abdomen dan di hati.

F. Hispatologi
Gambaran hispatologi karsinoma kolorektal ialah adenokarsinoma dan perlu ditentukan
differensiasi sel.

G. Pemeriksaan rektal dengan jari (Digital Rectal Exam)


Pemeriksaan keadaan dinding rektum sejauh mungkin dengan jari, pemeriksaan ini tidak
selalu menemukan adanya kelainan, khususnya kanker yang terjadi di kolon saja dan belum
menyebar ke rektum

H. Pemeriksaan darah dalam tinja


I. CT Scan
Dapat mengevaluasi abdominal cavity dan pasien kanker kolon pre operator. Bisa
mendeteksi metastase ke hepar, kelenjar adrenal, ovarium, kelenjar limfa, dan organ lainnya di
pelvis. CT Scan sangat berguna untuk mendeteksi pada pasien dengan nilai CEA yang meningkat
setelah pmbedahan kanker kolon. CT Scan memegang peranan penting pada pasien dengan
kanker kolon karena sulitnya dalam menentukan stage dari lesi sbelum tindakan operasi.
13

J. Whole Body PET Scan Imaging


Merupakan pemeriksaan diagnostik yang paling akurat untuk mendeteksi kanker
kolorektal rekuren (yang timbul kembali).

K. Pemeriksaan DNA tinja


L. Proktosigmoidoskopi
Dilakukan pada pasien yang dicurigai menderita karsinoma usus besar. Jika tumor
terletak dibawah bisa terlihat langsung. Karsinoma kolon dibagian proksimal sering berhubungan
dengan adanya polip pada daerah rektosigmoid.

M. Sitoskopi
Indikasinya adalah adanya gejala atau pemeriksaan yang mencurigai invasi keganasan ke
kandung kemih.

N. Biopsi
Konfirmasi adanya malignansi dengan pemeriksaan biopsi sangat penting. Jika terdapat
sebuah obstruksi sehingga tidak memungkinkan dilakukannya biopsi maka sifat biopsi akan
sangat berguna.

O. Imagingteknik
MRI, CT Scan, Transrectal Ultrasound merupakan bagian dari teknik imaging yang
digunakan untuk evaluasi, staging dan tindak lanjut pasien dengan kanker kolon, tetapi teknik ini
bukan merupakan screening test.

P. MRI
Sensitifitas MRI lebih tinggi daripada CT Scan. MRI dipergunakan untuk
mengidentifikasi metastasis ke hepar.

Q. Colok dubur
Merupakan pemeriksaan yang rutin dilakukan bila ada tumor di rektum akan teraba dan
diketahui dengan pemerksaan ini.

R. CEA (Carcio Embryonic Antigen)


Untuk pemeriksaan organ spesifik maupun tumor spesifik, CEA dapat meninggi pada :
a. Tumor epitelia dan mesenkima
b. Emfisema pulmonom
c. Sirosis hati
d. Hepatitis
e. Perlemakan hati
f. Pankreatitis
g. Kolitis ulserosa
h. Penyakit chron
i. Divertikulitis
j. Tukak peptik
k. Orang sehat yang perokok

Peranan CEA penting misalnya pada diagnosis karsinoma kolon yang sudah ditegakkan
CEA meninggi yang kemudian menurun setelah dioperasi. Bial dikemudian hari CEA meninggi
lagi, kemungkinan residif dan metastasis menjadi besar sekali. Tetapi kadang-kadang ada juga
14

residif dan metastasis tanpa meningginya kadar CEA. Berdasarkan penelitian CEA tidak bisa
digunakan untuk mendeteksi dini karsinoma kolorektal, sebab ditemukan titer lebih dari 5 gr/ml
hanya pada sepertiga kasus stadium III.

S. Laboratorium
Pemeriksaan Hb penting untuk memeriksa kemungkinan pasien mengalami perdarahan
(FKUI, 2001 : 201 )

2.9 Penatalaksanaan CA Colorectal

A. Penatalaksanaan medis

Pasien dengan gejala obstruksi usus diobati dengan cairan IV dan


pengisapan nasogastrik. Apabila terjadi perdarahan yang cukup bermakna terapi
komponen darah dapat diberikan.
Pengobatan medis untuk kanker kolorektal paling sering dalam bentuk pendukung
atau terapi ajufan. Terapi ajufan biasanya diberikan selain pengobatan bedah.
Pilihan mencakup kemoterapi, terapiradiasi dan atau imunoterapi.

Kemoterapi yang diberikan ialah 5-flurourasil (5-FU). Belakangan ini


sering dikombinasi dengan leukovorin yang dapat meningkatkan efektifitas terapi.
Bahkan ada yang memberikan 3 macam kombinasi yaitu: 5-FU, levamisol, dan
leuvocorin. Dari hasil penelitian, setelah dilakukan pembedahan sebaiknya
dilakukan radiasi dan kemoterapi

B.Penatalaksanaan bedah

Pembedahan adalah tindakan primer untuk kebanyakan kanker kolon dan


rektal, pembedahan dapat bersifat kuratif atau paliatif. Kanker yang terbatas pada
satu sisi dapat diangkat dengankolonoskop. Kolostomi laparoskopik dengan
polipektomi merupakan suatu prosedur yang baru dikembangkan untuk
meminimalkan luasnya pembedahan pada beberapa kasus. Laparoskop digunakan
sebagai pedoman dalam membuat keputusan dikolon, massa tumor kemudian di
eksisi. Reseksi usus diindikasikan untuk kebanyakan lesi kelas A dan semua kelas
B serta lesi C. Pembedahan kadang dianjurkan untuk mengatasi kanker kolon
kelas D. Tujuan pembedahan dalam situasi ini adalah paliatif. Apabila
tumor sudah menyebar dan mencakup struktur vital sekitar, operasi tidak dapat
dilakukan. Tipe pembedahan tergantung dari lokasi dan ukuran tumor.

Prosedur pembedahan pilihan adalah sebagai berikut:

a. Reseksi segmental dengan anastomosis (pengangkatan tumor dan porsi


usus pada sisi pertumbuhan, pembuluh darah dan nodus limfatik)
15

b. Reseksi abominoperineal dengan kolostomi sigmoid permanen


(pengangkatan tumor dan
porsisigmoid dan semua rektum serta sfingter anal)

c. Kolostomi sementara diikuti dengan reseksi segmental dan anastomosis


serta reanastomosis lanjut dari kolostomi

d. Kolostomi permanen atau iliostomy (untuk menyembuhkan lesi obstruksi


yang tidak dapat direseksi)

C.Difersi vekal untuk kanker kolon dan rektum

Berkenaan dengan tehnik perbaikan melalui pembedahan, kolostomi dilakukan


pada kurang dari sepertiga pasien kanker kolorektal. Kolostomi adalah pembuatan
lubang (stoma) pada kolon secara bedah. Stoma ini dapat berfungsi sebagai difersi
sementara atau permanen. Ini memungkinkan drainase atau evakuasi isi kolon keluar
tubuh. Konsistensi drainase dihubungkan dengan penempatan kolostomi yang
ditentukan oleh lokasi tumor dan luasnya invasi pada jaringan sekitar.

D. Penatalaksanaan Keperawatan

a. Dukungan adaptasi dan kemandirian.

b. Meningkatkan kenyamanan

c. Mempertahankan fungsi fisiologis optimal.

d. Mencegah komplikasi.

e. Memberikan informasi tentang proses/ kondisi penyakit, prognosis, dan


kebutuhan pengobatan.

E. Penatalaksanaan Diet

a. Cukup mengkonsumsi serat, seperti sayur-sayuran dan buah-buahan. Serat


dapat melancarkan pencemaan dan buang air besar sehingga berfungsi
menghilangkan kotoran dan zat yang tidak berguna di usus, karena kotoran
yang terlalu lama mengendap di usus akan menjadi racun yang memicu sel
kanker.

b. Kacang-kacangan (lima porsi setiap hari)

c. Menghindari makanan yang mengandung lemak jenuh dan kolesterol tinggi


terutama yang terdapat pada daging hewan.
16

d. Menghindari makanan yang diawetkan dan pewarna sintetik, karena hal


tersebut dapat memicu sel karsinogen / sel kanker.

e. Menghindari minuman beralkohol dan rokok yang berlebihan.

f. Melaksanakan aktivitas fisik atau olahraga secara teratur.

2.10 Pengkajian Keperawatan dan Pemeriksaan Fisik Kanker Kolorektal

A. Pengkajian Keperawatan
a. Identitas klien
b. Identitas penanggung jawab
c. Riwayat kesehatan masa lalu
a) Penyakit yang pernah diderita
b) Kebiasaan buruk
c) Pembedahan
d. Riwayat kesehatan sekarang
a) Keluhan utama

B. Pemeriksaan fisik
a. Umum: Status kesehatan secara umum
b. Tanda-tanda vital: tekanan darah, nadi, pernapasan, dan suhu tubuh
c. Pemeriksaan fisik
Teknik pemeriksaan fisik
a) Pengkajian objektif mencakup auskultasi abdomen terhadap bising usus
b) Palpasi abdomen untuk area nyeri tekan, distensi dan masa padat.
c) Spesimen feses diinspeksi terhadap karakter dan adanya darah.
d) Pemeriksaan colok dubur

2.11 Diagnosa Keperawatan

A. Nyeri Akut berhubungan dengan Agens Cidera Biologis


B. Kerusakan Integritas Kulit berhubungan dengan eksresi
C. Ansietas berhubungan dengan ancaman pada status terkini
D. Resiko defisien volume cairan berhubungan dengan hambatan meng akses cairan

2.12 Rencana Tindakan Keperawatan


17

A. Nyeri Akut berhubungan dengan Agens Cidera Biologis

NOC NIC
Setelah dilakukan tindakan keperawatan I.1 Lakukan pengkajian nyeri
selama 3 x24 jam diharapkan tingkat rasa komprehensif yang meliputi
nyeri dapat teratasi dengan indikator : lokasi, beratnya nyeri dan factor
- Mengenali kapan nyeri terjadi pencetus.
Ket : ( 4 – 1 ) I.2 Tentukan akibat dari
- Menggunakan analgesic yang di
pengalaman nyeri terhadap
rekomendasikan
kualitas hidup pasien (misalnya,
Ket : ( 4 – 1 )
- Menggunakan tindakan pencegahan tidur, nafsu makan, pengertian,
Ket : ( 4 – 1 )
perasaan hubungan, perform
kerja dan tanggung jawab
peran)
I.3 Gali bersama pasien faktor
faktor yang dapat menurunkan
atau memperberat nyeri
I.4 Pastikan perawatan analgesik
bagi pasien dilakukan dengan
pemantauan
I.5 Berikan informasi mengenai
nyeri, seperti penyebab nyeri,
berapa lama nyeri akan
dirasakan, dan antisipasi ketidak
nyamanan akibat prosedur

B.Kerusakan Integritas Kulit berhubungan dengan eksresi


NOC NIC
Setelah dilakukan tindakan keperawatan Perawatan kulit “ perawatan topical”
selama 2 x 24 jam diharapkan dapat 2.1 sapu kulit dengan bubuk obat,
teratasi dengan indikator : dengn tepat
- integritas kulit 2.2 berikan anti inflamasi topical
Ket : ( 3 – 5 )
untuk daerah yang terkena dengan
- Nekrosis
18

Ket : ( 3 – 4 ) tepat
- Lesi pada kulit 2.3 dokumentasikan derajat
Ket : ( 2 – 5 )
kerusakan kulit
2.4 jaga alas Kasur tetap bersih,
Skala :
kering dan bebas kerut
1. Sangat terganggu
2.5 mulai memberikan jasa
2. Banyak terganggu
3. Cukup terganggu konsultasi oerawat untuk terapi
4. Sedikit terganggu
enterostomal, jika diperlukan
5. Tidak terganggu

C.Ansietas berhubungan dengan ancaman pada status terkini

NOC NIC
Setelah dilakukan tindakan keperawatan Pengurangan Kecemasan
selama 2 x 24 jam diharapkan dapat 3.1 Gunakan pendekatan yang
teratasi dengan indikator : tenang dan meyakinkan
3.2Berikan informasi factual terkait
- Tingkat kecemasan yang di
diagnosis, perawatan dan prognosis
sampaikan secara lisan
3.3 Identifikasi pada saat terjadi
Ket : ( 3 – 5 )
- Perasaan gelisah perubahan tingkat kecemasan
Ket : ( 3 – 5 ) 3.4 Instruksikan klien untuk
- Tidak dapat beristirahat
menggunakan teknik relaksasi
Ket : ( 3 – 5 )
3.5 Kaji untuk tanda verbal dan non
Skala :
verbal kecemasan
1. Berat
2. Cukup berat
3. Sedang
4. Ringan
5. Tidak ada
D.Resiko defisien volume cairan berhubungan dengan hambatan mengakses cairan
NOC NIC
Setelah dilakukan tindakan keperawatan Manajemen cairan
selama 1 x 24 jam diharapkan dapat 4.1 monitor tanda tanda vital pasien
teratasi dengan indikator : 4.2 monitor perubahan berat badan
19

Keseimbangan cairan pasien sebelum dan setelah dianalisis


-Tekanan darah 4.3 monitor makanan/ cairan yang
Ket : (3-5)
konjungsi dan hitung ajuran kalori
-Berat badan
Ket : (4-5) asupan
-Turgor kulit
4.4 berikan cairan, dengan tepat
Ket : (2-5)
4.5 dukung pasien dan keluarga
Skala : untuk membantu dalam pemberian
1. Sangat terganggu makan yang baik
2. Banyak terganggu
3. Cukup terganggu
4. Sedikit terganggu
5. Tidak terganggu

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan
20

Kanker colon adalah suatu kanker yang yang berada di colon. Kanker colon
adalah penyebab kedua kematian di Amerika Serikat setelah kanker paru-paru (ACS
1998) Penyakit ini termasuk penyakit yang mematikan karena penyakit ini sering tidak
diketahui sampai tingkat yang lebih parah. Pembedahan adalah satu-satunya cara untuk
mengubah kanker Colon.

Penyebab dari pada kanker kolon tidak diketahui. Diet dan pengurangan waktu
peredaran pada usus besar (aliran depan feces) yang meliputi faktor kausatif. Petunjuk
pencegahan yang tepat dianjurkan oleh Amerika Cancer Society (The National Cancer
Institute), dan organisasi kanker lainnya.

3.2 Saran

a. Sebagai tindakan pencegahan sebaiknya kita banyak, menjaga asupan nutrisi yang
adekuat serta istirahat yang teratur dan menjalankan pola hidup sehat.

b. Persiapan diri sebaik mungkin sebelum melaksanakan tindakan asuhan keperawatan

c. Bagi mahasiswa diharapkan bisa melaksakan tindakan asuhan keperawatan sesuai


prosedur yang ada

d. Semoga dengan pembelajaran ini kita sebagai mahasiswa keperawatan, akan lebih
mudah mengetahui seluk beluk penyakit kangker kolon, bagaimana gejala hingga
komplikasinya sehingga kita mampu memberikan asuhan keperawatan yang tepat untuk
pasien penderita kangker kolorektal kelak.

DAFTAR PUSTAKA

Bulechek M. Gloria, Butcher K. Howard,dkk. 2016. Nursing Interventions Classification (NIC)


Edisi Keenam. Yogyakarta: Mocomedia

Herdman Heather, Kamitsuru Shigemi. 2018. Nanda-I Diagnosis Keperawatan Definisi dan
Klasifikasi 2018-2019. Jakarta: EGC
21

Lutfi Aulia. 2013. Patofisiologi kanker kolorektal di


https://www.scribd.com/doc/132652435/Patofisiologi-kanker-kolorektal ( di akses 12 Februari
2019)

Moorhead Sue, Johnson Marion,dkk. 2016. Nursing Outcomes Classification (NOC) Edisi
Kelima. Yogyakarta: Mocomedia

Rahmadania Emma,Wibowo Ary Agung, Rosida Lena. 2016. Distribusi Pola Diet Pasien
Kanker kolorektal di RSUD Ulin Banjarmasin Periode Agustus- Oktober 2015 :volume 12 no.12

Ratna Ekawati. 2012. Pemeriksaan Diagnostik Kanker Kolorektal di


https://www.scribd.com/document/86157638/Pemeriksaan-Diagnostik-Kanker-Kolorektal ( di
akses 12 Februari 2019)

Goxil Wendy. 2014. Asuhan Keperawatan CA Colon di


https://www.scribd.com/document/234761443/Asuhan-Keperawatan-CA-Colon ( di akses 12
Februari 2019)