Anda di halaman 1dari 51

Strategi Pengembangan Permukiman dan Infrastruktur Perkotaan (SPPIP)

Kota Medan

2
1
KEBIJAKAN PEMBANGUNAN PERMUKIMAN DAN
IDENTIFIKASI VISI, MISI DAN KEBIJAKAN KOTA
MEDAN
2.1. Kebijakan Nasional

Kebijakan nasional yang terkait dengan pengembangan permukiman adalah


Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang
Nasional (RPJPN) Tahun 2005-2025, Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2010 tentang
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2010-2014, serta
Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang dan Undang-Undang Nomor
4 Tahun 1992 tentang Perumahan dan Permukiman.

2.1.1 Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) Tahun 2005-2025

Arah pembangunan jangka panjang nasional tahun 2005-2025, seperti yang tertuang
dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka
Panjang Nasional (RPJPN) Tahun 2005-2025, yang terkait dengan penataan kawasan
permukiman kumuh adalah:
.1 Mewujudkan Pembangunan yang Lebih Merata dan Berkeadilan
Pembangunan yang merata dan dapat dinikmati oleh seluruh komponen bangsa di
berbagai wilayah Indonesia akan meningkatkan partisipasi aktif masyarakat dalam
pembangunan, mengurangi gangguan keamanan, serta menghapuskan potensi konflik
sosial untuk tercapainya Indonesia yang maju, mandiri, dan adil. Untuk mewujudkan
pembangunan yang lebih merata dan berkeadilan, pembangunan nasional dalam jangka
panjang yang terkait dengan penataan kampung kumuh diarahkan untuk:
.a Dalam rangka pembangunan berkeadilan, pembangunan kesejahteraan sosial
dilakukan dengan memberi perhatian yang lebih besar pada kelompok masyarakat
yang kurang beruntung, termasuk masyarakat miskin dan masyarakat yang tinggal
di wilayah terpencil, tertinggal, dan wilayah bencana.

Laporan Antara II-1


Strategi Pengembangan Permukiman dan Infrastruktur Perkotaan (SPPIP)
Kota Medan

.b Pemenuhan perumahan beserta prasarana dan sarana pendukungnya diarahkan


pada:
 Penyelenggaraan pembangunan perumahan yang berkelanjutan, memadai,
layak, dan terjangkau oleh daya beli masyarakat serta didukung oleh prasarana
dan sarana permukiman yang mencukupi dan berkualitas yang dikelola secara
profesional, kredibel, mandiri, dan efisien.
 Penyelenggaraan pembangunan perumahan beserta prasarana dan sarana
pendukungnya yang mandiri mampu membangkitkan potensi pembiayaan yang
berasal dari masyarakat dan pasar modal, menciptakan lapangan kerja, serta
meningkatkan pemerataan dan penyebaran pembangunan.
 Penyelenggaraan pembangunan perumahan beserta prasarana dan sarana
pendukungnya yang memperhatikan fungsi dan keseimbangan lingkungan.
.c Pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat yang berupa air minum dan sanitasi
diarahkan pada:
 Peningkatan kualitas pengelolaan aset dalam penyediaan air minum dan
sanitasi.
 Pemenuhan kebutuhan minimal air minum dan sanitasi dasar bagi masyarakat.
 Penyelenggaraan pelayanan air minum dan sanitasi yang kredibel dan
profesional.
 Penyediaan sumber-sumber pembiayaan murah dalam pelayanan air minum dan
sanitasi bagi masyarakat miskin.
.2 Mewujudkan Indonesia yang Asri dan Lestari
Sumberdaya alam dan lingkungan hidup merupakan modal pembangunan nasional dan
sekaligus sebagai penopang sistem kehidupan. Lingkungan hidup yang asri akan
meningkatkan kualitas hidup manusia. Untuk mewujudkan Indonesia yang asri dan
lestari, pembangunan nasional dalam jangka panjang yang terkait dengan penataan
kampung kumuh diarahkan untuk:
.a Mengendalikan Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan.
Dalam rangka meningkatkan kualitas lingkungan hidup yang baik perlu penerapan
prinsip-prinsip pembangunan yang berkelanjutan secara konsisten di segala bidang.
Pembangunan ekonomi diarahkan pada pemanfaatan jasa lingkungan yang ramah
lingkungan sehingga tidak mempercepat terjadinya degradasi dan pencemaran
lingkungan. Pemulihan dan rehabilitasi kondisi lingkungan hidup diprioritaskan pada
upaya peningkatan daya dukung lingkungan dalam menunjang pembangunan
berkelanjutan.

Laporan Antara II-2


Strategi Pengembangan Permukiman dan Infrastruktur Perkotaan (SPPIP)
Kota Medan

.b Meningkatkan Kesadaran Masyarakat untuk Mencintai Lingkungan Hidup.


Kebijakan itu diarahkan terutama bagi generasi muda sehingga tercipta
sumberdaya manusia yang berkualitas dan peduli terhadap isu sumberdaya alam
dan lingkungan. Dengan demikian, pada masa yang akan datang mereka mampu
berperan sebagai penggerak bagi penerapan konsep pembangunan berkelanjutan
dalam kehidupan sehari-hari.

2.1.2 Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2010-2014

Arah pembangunan jangka menengah nasional tahun 2010-2014, seperti yang


tertuang dalam Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan
Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2010-2014, yang terkait adalah seperti yang
tercantum dalam arah kebijakan perumahan dan permukiman, yaitu:
.1 Meningkatkan aksesibilitas masyarakat berpenghasilan rendah terhadap hunian yang
layak dan terjangkau, dengan:
.a Meningkatkan penyediaan hunian yang layak dan terjangkau bagi masyarakat
berpenghasilan rendah melalui:
 Pembangunan 650 twin block rusunawa.
 Pembangunan 685.000 unit Rumah Sederhana Sehat Bersubsidi.
 Fasilitasi pembangunan 180 tower rusunami melalui peran swasta.
 Penyediaan prasarana, sarana dan utilitas pengembangan kawasan perumahan
antara lain untuk mendukung pengembangan kota baru (New Town
Development).
 Fasilitasi pembangunan baru/peningkatan kualitas perumahan swadaya serta
penyediaan prasarana, sarana dan utilitas perumahan swadaya.
 Pembangunan rumah khusus termasuk rehabilitasi dan rekonstruksi perumahan
pasca bencana.
 Fasilitasi penyediaan lahan.
 Pemanfaatan dan pengembangan sumber daya lokal, teknologi dan penelitian di
bidang perumahan dan permukiman.
.b Meningkatkan aksesibilitas masyarakat berpenghasilan menengah-bawah terhadap
hunian yang layak dan terjangkau melalui:
 Penyediaan subsidi perumahan.
 Pengembangan fasilitasi likuiditas.
 Peningkatan mobilisasi sumber-sumber dana jangka panjang.

Laporan Antara II-3


Strategi Pengembangan Permukiman dan Infrastruktur Perkotaan (SPPIP)
Kota Medan

 Pengembangan tabungan perumahan nasional.


.c Meningkatkan kualitas lingkungan permukiman melalui penyediaan prasarana,
sarana dasar, dan utilitas umum yang memadai dan terpadu dengan pengembangan
kawasan perumahan dalam rangka mewujudkan kota tanpa permukiman kumuh.
.d Meningkatkan jaminan kepastian hukum dalam bermukim (secure tenure) melalui
fasilitasi pra-sertifikasi dan pendampingan pasca-sertifikasi tanah bagi masyarakat
berpenghasilan rendah; serta standardisasi perijinan dalam membangun rumah.
.e Meningkatkan kenyamanan, keamanan dan keselamatan bangunan gedung melalui
pengawasan dan pembinaan teknis standar bangunan gedung serta peningkatan
keserasiannya dengan tata ruang dan lingkungan.
.f Meningkatkan kualitas perencanaan dan penyelenggaraan pembangunan perumahan
dan permukiman melalui:
 Pengembangan regulasi dan kebijakan.
 Pemberdayaan dan kemitraan pelaku pembangunan perumahan dan
permukiman.
 Peningkatan kapasitas dan koordinasi berbagai pemangku kepentingan
pembangunan perumahan dan permukiman.
 Pengembangan pengelolaan aset (property management).
 Fasilitasi penyusunan rencana induk pengembangan permukiman daerah.
.g Memantapkan pasar primer dan pembiayaan sekunder perumahan yang didukung
oleh sumber pembiayaan jangka panjang yang berkelanjutan melalui
pengembangan informasi dan standardisasi KPR, serta pengembangan peraturan
perundangan pendukungnya.
.2 Meningkatkan aksesibilitas masyarakat terhadap layanan air minum dan sanitasi yang
memadai, melalui:
.a Menyediakan perangkat peraturan di tingkat Pusat dan/atau Daerah untuk
mendukung pelayanan air minum, air limbah dan persampahan, melalui
penambahan, revisi, maupun deregulasi peraturan perundang-undangan yang
diantaranya adalah penyusunan peraturan pendukung Undang-Undang Nomor 18
Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah.
.b Memastikan ketersediaan air baku air minum, melalui pengendalian penggunaan air
tanah oleh pengguna domestik maupun industri; perlindungan sumber air tanah dan
permukaan dari pencemaran domestik melalui peningkatan cakupan pelayanan
sanitasi; serta pengembangan dan penerapan teknologi pemanfaatan sumber air
alternatif termasuk air reklamasi.

Laporan Antara II-4


Strategi Pengembangan Permukiman dan Infrastruktur Perkotaan (SPPIP)
Kota Medan

.c Meningkatkan prioritas pembangunan prasarana dan sarana permukiman (air minum


dan sanitasi), melalui peningkatan kesadaran semua pihak akan pentingnya
pembangunan prasarana dan sarana permukiman serta peningkatan koordinasi
antar pemangku kepentingan dalam pengarusutamaan pembangunan prasarana dan
sarana permukiman.
.d Meningkatkan kinerja manajemen penyelenggaraan air minum, penanganan air
limbah, dan pengelolaan persampahan melalui: (a) penyusunan business plan,
penerapan korporatisasi, pelaksanaan manajemen aset, dan peningkatan kapasitas
sumber daya manusia, baik yang dilakukan oleh institusi maupun masyarakat; (b)
peningkatan kerja sama antar pemerintah, antara pemerintah dengan masyarakat,
antara pemerintah dengan swasta, ataupun antara pemerintah, swasta dan
masyarakat; (c) peningkatan keterkaitan antara sistem pengelolaan yang dilakukan
oleh masyarakat dengan pemerintah; dan (d) optimalisasi pemanfaatan sumber
dana. Khusus bagi pengelolaan persampahan, perbaikan layanan pengelolaan
persampahan dilakukan melalui (a) minimasi sampah yang tidak terangkut ke TPS
(Tempat Pengolahan Sampah Sementara); (b) meningkatkan penggunaan sistem
pengolahan sampah alternatif; (c) optimalisasi penggunaan TPA regional; dan (d)
penerapan sistem sanitary landfill pada TPA. Adapun peningkatan kinerja
pengelolaan drainase dilakukan melalui penegasan kewenangan dan tanggung
jawab lembaga pengelola drainase; serta penerapan manajemen aset dan
peningkatan kualitas sumber daya manusia.
.e Meningkatkan sistem perencanaan pembangunan air minum dan sanitasi, melalui
penyusunan rencana induk sistem penyediaan air minum (RISSPAM) sesuai prinsip-
prinsip pembangunan air minum dan sanitasi berbasis masyarakat maupun lembaga;
penyusunan Strategi Sanitasi Kota (SSK) yang selaras dengan RIS-SPAM; penyusunan
rencana induk sistem pengelolaan persampahan; penyusunan rencana induk sistem
pengelolaan drainase; serta pemantauan dan evaluasi pelaksanaannya.
.f Meningkatkan cakupan pelayanan air minum, air limbah, persampahan dan drainase
melalui optimalisasi sistem yang ada; percepatan penambahan kapasitas sistem dan
sambungan rumah air minum, baik berbasis masyarakat maupun lembaga;
peningkatan pemanfaatan teknologi tepat guna; pengelolaan pemanfaatan air
minum menggunakan instrumen tarif; percepatan pembangunan sanitasi perkotaan
maupun perdesaan yang terdiri dari pengembangan sistem air limbah terpusat (off-
site) skala kota maupun komunal, peningkatan pengelolaan sistem air limbah
setempat (onsite), penanganan air limbah berbasis masyarakat tanpa subsidi,

Laporan Antara II-5


Strategi Pengembangan Permukiman dan Infrastruktur Perkotaan (SPPIP)
Kota Medan

peningkatan pemanfaatan teknologi tepat guna; penambahan kapasitas


pengangkutan sampah menuju TPS maupun TPA; pembangunan TPA baru dengan
sistem sanitary landfill; dan pembangunan saluran drainase terutama di kawasan
strategis perkotaan.
.g Meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pentingnya perilaku hidup bersih
dan sehat (PHBS), melalui pembangunan prasarana dan sarana air minum dan
sanitasi di sekolah sebagai bagian dari upaya peningkatan sosialisasi perilaku yang
higienis bagi siswa sekolah dan penerapan praktik perilaku hidup bersih dan sehat
oleh masyarakat; serta meningkatkan kepedulian dan keterlibatan masyarakat
dalam pengelolaan saluran drainase mikro.
.h Mengembangkan alternatif sumber pendanaan bagi pembangunan air minum, air
limbah dan persampahan, melalui pemberian subsidi tarif dalam bentuk PSO bagi
masyarakat berpenghasilan rendah; pemberian jaminan kredit dan subsidi selisih
bunga pada pinjaman PDAM; pemberian insentif berbasis kinerja (output based aid)
bagi pemerintah daerah yang lebih memprioritaskan pembangunan air minum dan
air limbah; pemberian hibah imbal balik (matching grant) bagi pemerintah daerah
yang lebih memprioritaskan pembangunan sanitasi; penerbitan instrumen keuangan
melalui pasar modal; pengembangan skema-skema pembiayaan yang berasal dari
dana masyarakat; serta pemberian insentif fiskal dan non fiskal bagi dunia usaha
yang terlibat dalam pembangunan air minum, air limbah dan persampahan.
Menyediakan sumber pendanaan bagi pengembangan sistem drainase serta operasi
dan pemeliharaan prasarana dan sarana drainase yang memadai.
.i Meningkatkan keterlibatan masyarakat dan swasta dalam pengelolaan
persampahan, pada (a) upaya pengurangan timbulan sampah mulai dari sumbernya
melalui penerapan prinsip 3 R (reuse, reduce and recycle), dan mendorong swasta
untuk menggunakan kemasan pembungkus yang ramah lingkungan; serta (b) upaya
pengelolaan persampahan secara profesional, melalui pemasaran bisnis
persampahan pada masyarakat dan swasta; dan pentahapan (unbundling)
pengelolaan persampahan sehingga menarik bagi masyarakat dan swasta.
.j Mengurangi volume air limpasan, melalui penyediaan bidang resapan, baik oleh
masyarakat maupun pemerintah daerah.

2.1.3 Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 Tentang Penataan Ruang

Penataan ruang sebagai suatu sistem perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang,
dan pengendalian pemanfaatan ruang merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan
Laporan Antara II-6
Strategi Pengembangan Permukiman dan Infrastruktur Perkotaan (SPPIP)
Kota Medan

antara yang satu dan yang lain dan harus dilakukan sesuai dengan kaidah penataan ruang
sehingga diharapkan: (1) dapat mewujudkan pemanfaatan ruang yang berhasil guna dan
berdaya guna serta mampu mendukung pengelolaan lingkungan hidup yang berkelanjutan;
(2) tidak terjadi pemborosan pemanfaatan ruang; dan (3) tidak menyebabkan terjadinya
penurunan kualitas ruang. Dalam rangka mencapai tujuan penyelenggaraan penataan
ruang tersebut, Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 ini memuat ketentuan pokok yang
antara lain tentang pembagian wewenang antara Pemerintah, pemerintah daerah provinsi,
dan pemerintah daerah kabupaten/kota dalam penyelenggaraan penataan ruang untuk
memberikan kejelasan tugas dan tanggung jawab masing-masing tingkat pemerintahan
dalam mewujudkan ruang wilayah nasional yang aman, nyaman, produktif, dan
berkelanjutan.

Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 pasal 11 memuat tentang wewenang


pemerintah daerah kabupaten/kota dalam penyelenggaraan penataan ruang di daerah,
yang meliputi: (1) pengaturan, pembinaan, dan pengawasan terhadap pelaksanaan
penataan ruang wilayah kabupaten/kota dan kawasan strategis kabupaten/kota; (2)
pelaksanaan penataan ruang wilayah kabupaten/kota; (3) pelaksanaan penataan ruang
kawasan strategis kabupaten/kota; dan (4) kerja sama penataan ruang antar
kabupaten/kota.

Penyelenggaraan penataan ruang adalah kegiatan yang meliputi pengaturan,


pembinaan, pelaksanaan, dan pengawasan penataan ruang. Pengaturan penataan ruang
diartikan sebagai upaya pembentukan landasan hukum bagi Pemerintah, pemerintah
daerah, dan masyarakat dalam penataan ruang. Pembinaan penataan ruang merupakan
upaya untuk meningkatkan kinerja penataan ruang yang diselenggarakan oleh Pemerintah,
pemerintah daerah, dan masyarakat. Pelaksanaan penataan ruang adalah upaya
pencapaian tujuan penataan ruang melalui pelaksanaan perencanaan tata ruang,
pemanfaatan ruang, dan pengendalian pemanfaatan ruang. Sedangkan pengawasan
penataan ruang adalah upaya agar penyelenggaraan penataan ruang dapat diwujudkan
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Wewenang pemerintah daerah kabupaten/kota dalam pelaksanaan penataan ruang


wilayah kabupaten/kota meliputi: (1) perencanaan tata ruang wilayah kabupaten/kota; (2)
pemanfaatan ruang wilayah kabupaten/kota; dan (3) pengendalian pemanfaatan ruang
wilayah kabupaten/kota. Perencanaan tata ruang adalah suatu proses untuk menentukan
struktur ruang dan pola ruang yang meliputi penyusunan dan penetapan rencana tata
ruang. Pemanfaatan ruang adalah upaya untuk mewujudkan struktur ruang dan pola ruang
Laporan Antara II-7
Strategi Pengembangan Permukiman dan Infrastruktur Perkotaan (SPPIP)
Kota Medan

sesuai dengan rencana tata ruang melalui penyusunan dan pelaksanaan program beserta
pembiayaannya. Pengendalian pemanfaatan ruang adalah upaya untuk mewujudkan tertib
tata ruang.

Dalam Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 disebutkan bahwa yang dimaksud


dengan kawasan perkotaan adalah wilayah yang mempunyai kegiatan utama bukan
pertanian dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perkotaan,
pemusatan dan distribusi pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial, dan kegiatan
ekonomi.

Penataan ruang kawasan perkotaan diatur dalam Undang-Undang Nomor 26 Tahun


2007 pasal 41. Penataan ruang kawasan perkotaan diselenggarakan pada kawasan
perkotaan yang merupakan bagian wilayah kabupaten, atau kawasan yang secara
fungsional berciri perkotaan yang mencakup 2 (dua) atau lebih wilayah kabupaten/kota
pada satu atau lebih wilayah provinsi.

2.1.4 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1992 Tentang Perumahan dan Permukiman

Lingkup pengaturan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1992 ini meliputi penataan dan
pengelolaan perumahan dan permukiman, baik di daerah perkotaan maupun perdesaan,
yang dilaksanakan secara terpadu dan terkoordinasi. Penataan perumahan yang dimaksud
meliputi kegiatan pembangunan baru, pemugaran, perbaikan, peremajaan, perluasan,
pemeliharaan, dan pemanfaatannya.

Perumahan dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1992 ini didefinisikan sebagai


kelompok rumah yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian
yang dilengkapi dengan prasarana dan sarana lingkungan. Selain berfungsi sebagai
lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian untuk kehidupan dan penghidupan
keluarga, perumahan juga merupakan tempat untuk menyelenggarakan kegiatan
bermasyarakat dalam lingkungan terbatas. Sedangkan permukiman didefinisikan sebagai
bagian dari lingkungan hidup di luar kawasan lindung, baik yang berupa kawasan perkotaan
maupun perdesaan yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan
hunian dan tempat kegiatan yang mendukung perikehidupan dan penghidupan.
Permukiman yang dimaksud dalam Undang-Undang ini mempunyai lingkup tertentu
kawasan yang didominasi oleh lingkungan hunian dengan fungsi utama sebagai tempat
tinggal yang dilengkapi dengan prasarana, sarana lingkungan, dan tempat kerja yang
memberikan pelayanan dan kesempatan kerja terbatas untuk mendukung perikehidupan
Laporan Antara II-8
Strategi Pengembangan Permukiman dan Infrastruktur Perkotaan (SPPIP)
Kota Medan

dan penghidupan sehingga fungsi permukiman tersebut dapat berdaya guna dan berhasil
guna.

Hak dan kewajiban masyarakat dalam penataan perumahan dan permukiman diatur
dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1992 pasal 5 yang menyebutkan bahwa: (1) setiap
warga negara mempunyai hak untuk menempati dan/atau menikmati dan/atau memiliki
rumah yang layak dalam lingkungan yang sehat, aman, serasi, dan teratur; serta (2) setiap
warga negara mempunyai kewajiban dan tanggung jawab untuk berperan serta dalam
pembangunan perumahan dan permukiman. Rumah yang layak yang dimaksud dalam
Undang-Undang ini adalah bangunan memenuhi persyaratan keselamatan bangunan dan
kecukupan minimum luas bangunan serta kesehatan penghuninya. Sedangkan lingkungan
yang sehat, aman, serasi, dan teratur diartikan sebagai lingkungan yang memenuhi
persyaratan penataan ruang, persyaratan penggunaan tanah, pemilikan hak atas tanah,
dan kelayakan prasarana serta sarana lingkungan.

Dalam penataan perumahan dan permukiman harus mengikuti ketentuan seperti


yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1992 pasal 7, yaitu: (1) mengikuti
persyaratan teknis, ekologis, dan administratif; (2) melakukan pemantauan lingkungan
yang terkena dampak berdasarkan rencana pemantauan lingkungan; dan (3) melakukan
pengelolaan lingkungan berdasarkan rencana pengelolaan lingkungan. Persyaratan teknis
berkaitan dengan keselamatan dan kenyamanan bangunan, dan keandalan sarana serta
prasarana lingkungannya. Persyaratan ekologis berkaitan dengan keserasian dan
keseimbangan, baik antara lingkungan buatan dengan lingkungan alam maupun dengan
sosial budaya, termasuk nilai-nilai budaya bangsa yang perlu dilestarikan. Persyaratan
administratif berkaitan dengan pemberian izin usaha, izin lokasi, dan izin mendirikan
bangunan serta pemberian hak atas tanah. Pemantauan lingkungan bertujuan untuk
mengetahui dampak negatif yang terjadi selama pelaksanaan pembangunan rumah atau
perumahan, sedangkan pengelolaan lingkungan bertujuan untuk dapat mengambil tindakan
koreksi bila terjadi dampak negatif dari pembangunan rumah atau perumahan. Rencana
pemantauan dan pengelolaan lingkungan disusun dan dilaksanakan dengan
mempertimbangkan tingkatan dampak yang timbul sesuai dengan peraturan perundang-
undangan yang berlaku.

Peran pemerintah dalam penataan perumahan dan permukiman diatur dalam pasal
27 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1992 ini. Pemerintah memberikan bimbingan, bantuan
dan kemudahan kepada masyarakat baik dalam tahap perencanaan maupun dalam tahap
pelaksanaan, serta melakukan pengawasan dan pengendalian untuk meningkatkan kualitas
Laporan Antara II-9
Strategi Pengembangan Permukiman dan Infrastruktur Perkotaan (SPPIP)
Kota Medan

permukiman. Peningkatan kualitas permukiman tersebut dilakukan melalui kegiatan: (1)


perbaikan atau pemugaran; (2) peremajaan; (3) pengelolaan dan pemeliharaan yang
berkelanjutan. Perbaikan atau pemugaran merupakan kegiatan tanpa perombakan yang
mendasar, bersifat parsial dan memerlukan peran serta masyarakat yang dilaksanakan
secara bertahap. Peremajaan merupakan kegiatan dengan perombakan mendasar bersifat
menyeluruh dan memerlukan peran serta masyarakat secara menyeluruh pula. Pengelolaan
dan pemeliharaan secara berkelanjutan, selain dilakukan dengan melestarikan kemampuan
fungsi dan daya dukung lingkungan. Agar peningkatan kualitas permukiman dapat
merupakan kegiatan yang bertumpu pada masyarakat dan sekaligus menegaskan bahwa
peningkatan kualitas permukiman sebagai bagian dari peningkatan kesejahteraan
masyarakat selain merupakan tugas dan tanggung jawab Pemerintah, juga tidak terlepas
dari tanggung jawab dan peran serta masyarakat.

Pada pasal 28 Undang-Undang ini diatur mengenai peran Pemerintah Daerah dalam
penataan perumahan dan permukiman. Untuk terciptanya lingkungan permukiman yang
memenuhi persyaratan keamanan, kesehatan, kenyamanan dan keandalan bangunan,
suatu lingkungan permukiman yang tidak sesuai dengan tata ruang, kepadatan bangunan
sangat tinggi, kualitas bangunan sangat rendah, prasarana lingkungan tidak memenuhi
syarat dan rawan, yang dapat membahayakan kehidupan dan penghidupan masyarakat
penghuni, dapat ditetapkan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota yang bersangkutan
sebagai lingkungan permukiman kumuh yang tidak layak huni dan perlu diremajakan.
Dalam pelaksanaan program peremajaan lingkungan kumuh tersebut, perlu adanya
kesepakatan antara masyarakat pemilik tanah dan/atau penghuni dengan Pemerintah
Daerah, karena dalam pelaksanaan peremajaan tersebut dapat terjadi perombakan
menyeluruh, sehingga penghuni untuk sementara waktu dimukimkan di tempat lain untuk
kemudian dimukimkan kembali di kawasan yang telah diremajakan tersebut.

Peran serta masyarakat dalam penataan perumahan dan permukiman diatur dalam
Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1992 pasal 29. Masyarakat mempunyai hak dan
kesempatan yang sama dan seluas-luasnya untuk berperan serta dalam pembangunan
perumahan dan permukiman. Hak dan kesempatan untuk berperan serta yang sebesar-
besarnya tersebut meliputi kegiatan dalam proses pemugaran, perbaikan, peremajaan
lingkungan, dan pembangunan perumahan. Agar masyarakat bersedia dan mampu berperan
serta dalam kegiatan tersebut, Pemerintah menyelenggarakan penyuluhan dan
pembimbingan, pendidikan, serta pelatihan yang sesuai dengan kemampuan masyarakat.
Peran serta masyarakat dilibatkan secara dini, mulai dari tahapan menyepakati

Laporan Antara II-10


Strategi Pengembangan Permukiman dan Infrastruktur Perkotaan (SPPIP)
Kota Medan

permasalahan bersama, merumuskan program, menyusun rencana pelaksanaan,


mengawasi dan mengendalikan program dengan pendekatan dari bawah ke atas.
Pelaksanaan peran serta masyarakat di bidang perumahan dan permukiman dapat melalui
proses formal dan non formal, baik dalam bentuk koperasi maupun bentuk usaha bersama
swadaya masyarakat yang lain.

2.1.5 Kebijakan Penanganan Permukiman Kumuh

A. Klasifikasi Permukiman Kumuh dan Metoda Penanganannya

Berdasarkan buku Panduan Pelaksanaan Peremajaan Kawasan Permukiman


Perkotaan yang diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Cipta Karya Departemen Pekerjaan
Umum tahun 2006, kondisi kekumuhan kawasan permukiman perkotaan dapat dibagi
menjadi dua jenis, yaitu: kawasan permukiman kumuh di atas tanah legal dan kawasan
permukiman kumuh di atas tanah tidak legal.

.1 Kawasan Permukiman Kumuh Legal


Yang dimaksud dengan kawasan permukiman kumuh legal adalah kawasan permukiman
kumuh (dengan segala ciri dan karakteristiknya) yang berlokasi di atas lahan yang
dalam dokumen rencana tata ruang diperuntukkan sebagai zona perumahan. Model
penanganan kawasan permukiman kumuh legal ini dapat dilakukan dengan beberapa
pendekatan, yaitu:
.a Model Land Sharing, yaitu penataan ulang di atas lahan dengan tingkat kepemilikan
masyarakat cukup tinggi. Dalam penataan kembali tersebut, masyarakat akan
mendapatkan kembali lahannya dengan luasan yang sama sebagaimana yang selama
ini dimiliki/dihuni secara sah, dengan memperhitungkan kebutuhan untuk
prasarana umum (jalan, saluran, dan sebagainya). Beberapa prasyarat untuk
penanganan ini antara lain:
 Tingkat pemilikan/penghunian secara sah (mempunyai bukti
pemilikan/penguasaan atas lahan yang ditempati) cukup tinggi dengan luasan
yang terbatas.
 Tingkat kekumuhan tinggi dengan kesediaan lahan yang memadai untuk
menempatkan prasarana dan sarana dasar.
Laporan Antara II-11
Strategi Pengembangan Permukiman dan Infrastruktur Perkotaan (SPPIP)
Kota Medan

 Tata letak permukiman tidak terpola.


.b Model Land Consolidation, yaitu penataan ulang di atas lahan yang selama ini telah
dihuni. Beberapa prasyarat untuk penanganan dengan model ini antara lain:
 Tingkat penguasaan lahan secara tidak sah (tidak memiliki bukti primer
pemilikan/penghunian) oleh masyarakat cukup tinggi.
 Tata letak permukiman tidak/kurang berpola, dengan pemanfaatan yang
beragam (tidak terbatas pada hunian).
 Berpotensi untuk dikembangkan menjadi kawasan fungsional yang lebih
strategis dari sekedar hunian.
.2 Kawasan Permukiman Kumuh Tidak Legal
Yang dimaksudkan dengan kawasan permukiman kumuh tidak legal adalah kawasan
permukiman kumuh yang dalam dokumen rencana tata ruang berada pada peruntukan
yang bukan perumahan. Di samping itu, penghuniannya dilakukan secara tidak sah pada
bidang tanah; baik milik negara, milik perorangan atau badan hukum. Contoh nyata
dari kondisi ini antara lain: permukiman yang tumbuh di sekitar TPA (tempat
pembuangan akhir persampahan), kantong-kantong kumuh sepanjang bantaran sungai,
kantong kumuh yang berasal di belakang bangunan umum dalam suatu kawasan
fungsional, dan sebagainya. Model penanganan kawasan permukiman kumuh tidak legal
ini antara lain dilakukan melalui:
1. Resettlement atau pemindahan penduduk pada suatu kawasan yang khusus
disediakan, yang biasanya memakan waktu dan biaya sosial yang cukup besar,
termasuk kemungkinan tumbuhnya kerusuhan atau keresahan masyarakat.
Pemindahan ini apabila permukiman berada pada kawasan fungsional yang
akan/perlu direvitalisasi sehingga memberikan nilai ekonomi bagi Pemerintah
Kota/Kabupaten.
2. Konsolidasi lahan apabila dalam kawasan tersebut akan dilakukan re-fungsionalisasi
kawasan dengan catatan sebagian lahan disediakan bagi lahan hunian, guna
menampung penduduk yang kehidupannya sangat bergantung pada kawasan sekitar
ini, bagi penduduk

B. Konsep Pendekatan Sosial dalam Penataan Kampung Kumuh

Penataan kawasan kumuh tidak akan berhasil apabila tidak disertai dengan
pembangunan sosial masyarakat di kawasan tersebut. Pembangunan sosial tidak terkait
dengan individu, baik dalam bentuk pemberian bantuan dan pelayanan, penyembuhan

Laporan Antara II-12


Strategi Pengembangan Permukiman dan Infrastruktur Perkotaan (SPPIP)
Kota Medan

ataupun rehabilitasi, melainkan memfokuskan pada komunitas atau masyarakat serta pada
proses dan struktur sosial secara luas. Oleh karena itu, pembangunan sosial bersifat
komprehensif dan universal. Pembangunan sosial bersifat dinamis, yakni mendorong dan
meningkatkan proses pertumbuhan dan perubahan. Pembangunan sosial berusaha
membuat mata rantai antara usaha-usaha pembangunan sosial dengan ekonomi. Di dalam
proses pembangunan, pembangunan sosial dan pembangunan ekonomi bagaikan dua sisi
dari sebuah mata uang logam. Pembangunan sosial tidak akan banyak berperan tanpa
pembangunan ekonomi, dan begitu pula sebaliknya, pembangunan ekonomi tidak akan
berarti kecuali disertai perbaikan kesejahteraan sosial bagi masyarakat secara
keseluruhan.

Konsep Pembangunan Sosial

Untuk dapat memahami konsep pembangunan sosial dengan lebih mendalam, ada
tiga kategori makna pembangunan sosial yang perlu dipahami terlebih dahulu, yaitu:
.1 Pembangunan sosial sebagai pengadaan pelayanan masyarakat. Dalam konsep ini,
pembangunan sosial diartikan sebagai upaya memenuhi kebutuhan dasar manusia yang
antara lain berupa pendidikan, kesehatan, pangan, sandang dan perumahan. Pada
konsep ini Pemerintah cenderung menempatkan manusia si penerima pelayanan
sebagai aktor yang harus secara pasif menerima pelayanan apapun yang diberikan oleh
birokrasi Pemerintah sesuai dengan kebijakan mereka dengan cara, waktu dan tempat
yang telah ditentukan oleh birokrasi. Konsep ini mendekati metode konvensional top
down yang bercirikan charity strategy.
.2 Pembangunan masyarakat sebagai upaya terencana untuk mencapai tujuan sosial yang
kompleks dan bervariasi. Konsep ini tidak hanya menekankan aspek pelayanan sosial
saja, tetapi unsur manusia sebagai penerima pelayanan sosial juga turut mendapatkan
perhatian. Tujuan utama dari pembangunan sosial adalah melibatkan setiap pribadi
dalam proses pembebasan dirinya sendiri dari setiap bentuk dominasi atau tekanan,
sehingga setiap individu dapat tumbuh secara lengkap dalam hubungannya dengan
orang lain.
.3 Pembangunan sosial sebagai upaya terencana untuk meningkatkan kemampuan
manusia untuk berbuat. Konsep pembangunan sosial ini meliputi suatu usaha
terencana untuk meningkatkan kemampuan dan potensi manusia dan untuk
mengerahkan minat mereka untuk ikut serta dalam proses pembentukan keputusan
mengenai berbagai hal yang memiliki dampak bagi mereka dan bagi penerapan
keputusan tersebut. Konsep pembangunan sosial ini banyak diakui sebagai konsep ideal
Laporan Antara II-13
Strategi Pengembangan Permukiman dan Infrastruktur Perkotaan (SPPIP)
Kota Medan

yang dapat mengkoreksi ketidakpekaan konsep pembangunan yang berorientasi


pertumbuhan, terutama pada dimensi kemanusiaannya. Partisipasi tidak hanya
menjadi salah satu tujuan dari pembangunan sosial, tetapi juga suatu bagian integral
dari poses pembangunan sosial.

Strategi Pembangunan Sosial

Ada tiga strategi pembangunan sosial yang dapat dikembangkan dalam penataan
kampung kumuh, yaitu sebagai berikut:
.1 Strategi Pembangunan Sosial Melalui Pendekatan Individu
Pendekatan individu menganggap bahwa kesejahteraan masyarakat akan meningkat
jika individu anggota masyarakat berusaha untuk meningkatkan kesejahteraan sendiri
di mana peran pemerintah masih diharapkan untuk membantu individu untuk
berpartisipasi efektif dalam kehidupan ekonomi pasar. Strategi ini dikembangkan
melalui:
.a Pengembangan Budaya Wiraswasta untuk Meningkatkan Kemajuan Sosial
Para pendukung strategi ini menganggap bahwa pengembangan wiraswasta secara
positif harus diciptakan dan didukung oleh pemerintah maupun organisasi yang
relevan. Intervensi tertentu sangat diperlukan dalam memaksimalkan kesempatan
bagi individu untuk berpartisipasi serta berfungsi dalam kegiatan pasar.
.b Pengembangan Usaha Kecil
Dalam strategi ini diyakini bahwa pemerintah menciptakan kondisi yang kondusif
bagi tumbuhnya kegiatan usaha kecil, yang disebut sebagai sektor informal yang
mampu memberikan kesempatan kepada masyarakat miskin dalam memaksimalkan
sumber daya yang mereka miliki untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri.
.c Pengembangan Kesejahteraan Sosial Melalui Peningkatan Keberfungsian Individu
Para pendukung strategi ini meyakini bahwa jika masyarakat ingin mengembangkan
kesejahteraannya, mereka harus mampu melaksanakan keberfungsiannya secara
efektif serta mampu bekerja dengan penuh keyakinan dalam konteks budaya
wiraswasta. Strategi ini berusaha menciptakan serta mengembangkan budaya
wiraswasta maupun usaha kecil.
.2 Strategi Pembangunan Sosial yang Lebih Menekankan pada Pentingnya Masyarakat
Lokal
Pandangan ini beranggapan bahwa pembangunan sosial sebaiknya dilakukan oleh
masyarakat sendiri, atau biasa disebut dengan pendekatan communitarian. Para
pendukung strategi ini yakin bahwa masyarakat memiliki kemampuan dalam
Laporan Antara II-14
Strategi Pengembangan Permukiman dan Infrastruktur Perkotaan (SPPIP)
Kota Medan

mengorganisir dirinya untuk memahami dan memecahkan masalahnya dalam memenuhi


kebutuhannya serta mampu menciptakan kesempatan untuk mengembangkan diri.
Untuk mencapai tujuan tersebut mereka perlu saling bekerja sama. Dengan demikian
masyarakat mampu menguasai sumber, baik internal maupun eksternal secara lebih
baik. Terdapat tiga strategi dalam pendekatan ini yaitu:
.a Strategi community development dan pembangunan sosial.
Strategi ini merupakan model pengembangan masyarakat dengan menggunakan
pendekatan partisipasi serta kemampuan lokal untuk mengatasi permasalahan lokal
dalam memenuhi kebutuhannya (prinsip self determination serta self help).
.b Strategi yang bersifat radikal dan berusaha mengatasi persoalan dengan cara
mengambil jalan pintas untuk memberdayakan kelompok yang paling rentan
terhadap permasalahan.
Para pendukung strategi ini berkeyakinan bahwa masyarakat yang menjadi
sasarannya adalah orang yang seringkali tertindas oleh struktur kekuasaan. Oleh
karena itu teknik yang digunakan adalah teknik pemberdayaan kelompok rentan
tersebut menentang atau melawan para penindasnya.
.c Strategi gender dan peningkatan kontribusi kaum perempuan dalam pembangunan
sosial.
Jika program-program pembangunan sosial juga diarahkan untuk mengembangkan
potensi perempuan serta member kesempatan pada kaum perempuan untuk
berperan pada sektor publik, maka pertumbuhan ekonomi yang dihasilkannya akan
meningkat yang pada akhirnya kesejahteraan sosial pun akan meningkat.
.3 Strategi Pembangunan Sosial yang Lebih Menekankan pada Pemerintah
Keyakinan bahwa pembangunan sosial sebaiknya dilakukan oleh pemerintah yang
terlaksana melalui para perencana kebijakannya, lembaga-lembaga khususnya serta
para administratornya membentuk suatu landasan yang disebut pendekatan statis pada
pembangunan sosial. Pendekatan ini memandang bahwa negara merupakan
penjelmaan dari kepentingan masyarakat secara menyeluruh, dan dengan demikian
bertanggung jawab untuk meningkatkan kesejahteraan seluruh rakyatnya. Pendekatan
statis berkeyakinan bahwa pemerintah memiliki tanggung jawab untuk memenuhi
kesejahteraan sosial rakyatnya serta memiliki kewenangan mobilisasi sumber yang
dimiliki untuk mencapai tujuan tersebut. Selain itu, pemerintah juga bertanggung
jawab untuk meyakinkan bahwa kebijakan-kebijakan pembangunan sosialnya dapat
dilaksanakan dengan baik secara mengupayakan secara optimal bagi harmonisasi

Laporan Antara II-15


Strategi Pengembangan Permukiman dan Infrastruktur Perkotaan (SPPIP)
Kota Medan

kebijakan ekonomi maupun sosialnya. Ada beberapa strategi yang dapat digunakan
dalam pendekatan ini, yaitu:
.a Strategi Memajukan Pembangunan Sosial Melalui Perencanaan Secara Terpadu
Penerapan strategi ini mengharuskan pemerintah untuk mengupayakan seoptimal
mungkin harmonisasi dari perencanaan pembangunan ekonomi serta perencanaan
pembangunan sosial. Selain itu, strategi ini juga mengharuskan adanya penekanan
yang sama pada pertumbuhan ekonomi maupun kemajuan sosial, serta
mengharuskan para perencana ekonomi maupun sosial untuk bersama membahas
upaya perencanaan peningkatan kesejahteraan bagi seluruh rakyat.
.b Strategi Pertumbuhan Ekonomi, Kesejahteraan dan Persamaan
Model strategi ini beranggapan bahwa dengan pertumbuhan ekonomi secara pesat
akan menjamin munculnya industri dengan secara besar yang akan menyerap
ribuan bahkan jutaan tenaga kerja, yang dengan sendirinya akan meningkatkan
taraf kesejahteraan sosial bagi seluruh buruh, mengurangi kemiskinan, dan pada
akhirnya dapat meningkatkan taraf kesejahteraan sosial bagi seluruh rakyat.
.c Strategi Kesejahteraan dan Kebutuhan Dasar
Para pendukung strategi ini berkeyakinan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak akan
mampu mengurangi kemiskinan serta tidak akan mampu meningkatkan standar
hidup bagi rakyat. Pertumbuhan ekonomi yang diperoleh melalui pemberian
dorongan bagi pertumbuhan industri maupun bisnis dengan skala besar akan
menghasilkan ketimpangan yang justru akan memicu permasalahan lain yang
memerlukan biaya yang sangat besar. Penerapan strategi ini mengharuskan
pemerintah untuk mengupayakan perencanaan sosial maupun program pelayanan
sosial yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan dasar keluarga miskin.
.d Strategi Pembangunan yang Berkelanjutan
Dalam strategi ini mengharuskan pemerintah untuk melakukan intervensi bagi
perlindungan terhadap lingkungan, sekaligus juga tidak mengabaikan aspek
ekonomi dan lingkungan yang dapat dimanfaatkan untuk mensejahterakan rakyat.
Aspek ekonomi dari lingkungan ini berupa migas, hutan, air serta unsur-unsur
tambang lainnya.

C. Konsep Tridaya dalam Penataan Kampung Kumuh

Konsep ini diadopsi dari konsep yang diterapkan oleh P2KP (Proyek Penanggulangan
Kemiskinan di Perkotaan). Pada konsep Tridaya ini sebenarnya suatu konsep yang sejalan
dengan konsep Pembangunan Sosial yang telah dijelaskan di atas. P2KP menerapkan
Laporan Antara II-16
Strategi Pengembangan Permukiman dan Infrastruktur Perkotaan (SPPIP)
Kota Medan

pendekatan Tridaya melalui pengokohan kelembagaan masyarakat, sehingga nantinya


diharapkan dapat tercipta wadah organisasi yang mampu menjadi wadah perjuangan kaum
miskin dalam menyuarakan aspirasi dan kebutuhan mereka. Yang pada akhirnya upaya-
upaya penanggulangan kemiskinan dapat dijalankan oleh masyarakat secara mandiri dan
berkelanjutan. Kelembagaan masyarakat yang bersifat 17ocia itulah (BKM) diharapkan
menjadi motor penggerak dalam melembagakan dan membudayakan kembali nilai-nilai
kemanusiaan dan kemasyarakatan sebagai nilai utama yang melandasi aktivitas
penanggulangan kemiskinan di perkotaan.

Dalam pendekatan Tridaya 17ocia program diarahkan untuk memberdayakan masyarakat


(membangun manusianya), sehingga:
.1 Secara 17ocial akan membangun 17ocial 17ocial17 di dalam masyarakat untuk
mewujudkan komunitas yang efektif.
.2 Secara ekonomi mampu mewujudkan komunitas yang produktif.
.3 Secara lingkungan, mampu menumbuhkan daya pembangunan di dalam masyarakat
untuk mewujudkan lingkungan permukiman yang sehat, produktif dan lestari.

Model tersebut diharapkan mampu memberikan kontribusi untuk penyelesaian


persoalan kemiskinan yang bersifat multi dimensional dan 17ocial17ral, khususnya yang
terkait dengan dimensi-dimensi politik, 17ocial, dan ekonomi, serta dalam jangka panjang
mampu mengembangkan asset yang lebih baik bagi masyarakat miskin dalam
meningkatkan pendapatannya, meningkatkan kualitas perumahan dan permukiman mereka
maupun menyuarakan aspirasinya dalam proses pengambilan keputusan.

Laporan Antara II-17


Strategi Pengembangan Permukiman dan Infrastruktur Perkotaan (SPPIP)
Kota Medan

Gambar 2.1
Konsep Tridaya dalam Penataan Kampung Kumuh

C.. Beberapa Contoh Program Penanganan Kampung Kumuh di Indonesia

Program penanganan perumahan dan permukiman kumuh yang sudah diterapkan di


Indonesia antara lain adalah NUSSP (Neighbourhood Upgrading and Shelter Sector Project)
dan PLP2K-BK (Penanganan Lingkungan Perumahan dan Permukiman Kumuh Berbasis
Kawasan).

.1 NUSSP (Neighbourhood Upgrading and Shelter Sector Project)

NUSSP (Neighbourhood Upgrading and Shelter Sector Project) menggunakan


pendekatan Tridaya. Masyarakat diorganisasikan dalam kelembagaan lokal bermitra
dengan pemerintah daerah dan dunia usaha untuk bekerjasama dalam menyediakan
sarana, pembiayaan, dan keahlian teknis. Dalam hal ini masyarakat secara kolektif tetap
dapat memutuskan sendiri segala sesuatu yang membawa akibat langsung maupun tidak
langsung bagi mereka. Pelaksanaan pendekatan Tridaya dalam NUSSP meliputi:
.1 Pemberdayaan pemerintah daerah dan masyarakat melalui pengembangan kapasitas
dalam bentuk pelatihan dan pendampingan;

Laporan Antara II-18


Strategi Pengembangan Permukiman dan Infrastruktur Perkotaan (SPPIP)
Kota Medan

.2 Pendayagunaan fasilitas lingkungan dengan peningkatan kualitas lingkungan


permukiman melalui pengadaan dan perbaikan prasarana dan sarana dasar serta
perbaikan rumah tidak layak huni melalui fasilitas kredit mikro perumahan; dan
.3 Pemberdayaan ekonomi masyarakat yang dilaksanakan melalui channelling dengan
program lain di bidang Pekerjaan Umum dan berbagai kegiatan yang dilaksanakan di
daerah.

Melalui NUSSP proses pembangunan akan dimulai pada kelurahan yang memiliki area
kumuh sebagai wilayah pusat kegiatan (nuclear spot area). Selanjutnya diperluas pada
area lain di kelurahan yang sama dan selanjutnya dapat dikembangkan di seluruh wilayah
kota/kabupaten yang bersangkutan.

NUSSP memiliki tujuan untuk:


.1 Meningkatkan kualitas lingkungan permukiman dan perumahan bagi Komunitas
Berpenghasilan Rendah (KBR) melalui penyediaan sumberdaya bagi pemerintah daerah
yang bekerja sama dengan masyarakat dan sektor swasta.
.2 Membentuk Komunitas Berpenghasilan Rendah (KBR) dalam pengadaan dan perbaikan
rumah tidak layak huni melalui fasilitas kredit mikro perumahan.
.3 Meningkatkan kemampuan pemerintah daerah dan masyarakat untuk menyusun
perencanaan partisipatif dengan penekanan pada berbagi peran dan tanggung jawab
secara harmoni antara masyarakat, pemerintah daerah dan kelompok swasta.

NUSSP memiliki sasaran fungsional dan sasaran operasional sebagai berikut:


.1 Sasaran Fungsional:
.a Terlembaganya pendekatan partisipatif dalam pengembangan perencanaan
permukiman oleh masyarakat secara harmoni yang didukung oleh pemerintah
daerah.
.b Tercapainya peningkatan kapasitas pemerintah daerah dalam menangani
permasalahan perumahan dan permukiman bagi KBR yang tinggal di tempat-tempat
kumuh dan tidak layak.
.c Teralokasikannya dukungan kebijakan dan pembiayaan oleh pemerintah daerah
dalam rangka memenuhi kebutuhan perumahan dan permukiman bagi KBR.
.d Terbangunnya sistem pembiayaan perumahan yang didukung lembaga keuangan
formal dan non formal pada tingkat pemerintah pusat dan daerah sehingga program
pengembangan perumahan dan permukiman bagi KBR dapat terselenggara secara
harmoni dan berkelanjutan.

Laporan Antara II-19


Strategi Pengembangan Permukiman dan Infrastruktur Perkotaan (SPPIP)
Kota Medan

.e Terbangunnya sistem penyediaan sarana dan prasarana perumahan dan


permukiman yang berdaya guna dan berkelanjutan, sehingga dapat mendukung
produktivitas penduduk terutama bagi KBR.
.2 Sasaran Operasional:
.a Terbangunnya kelembagaan lokal sebagai representasi warga masyarakat (Badan
Keswadayaan Masyarakat/BKM) yang mampu melakukan peran dan fungsi serta
mampu memfasilitasi role sharing antara warga masyarakat dengan pelaku kunci
lainnya serta mampu memfasilitasi terbangunnya aksesibilitas dan posisi tawar KBR
terhadap pemerintah sebagai pemegang kewenangan dalam penetapan kebijakan
dan penganggaran.
.b Terfasilitasinya aksesibilitas masyarakat miskin kepada sumber daya keuangan
sehingga dapat membantu dan memberikan peluang untuk meningkatkan kualitas
rumah secara berkelanjutan.
.c Terpenuhinya kebutuhan rumah yang layak huni pada lingkungan permukiman yang
sehat dan harmonis.

Prinsip yang harus diterapkan dan disepakati secara konsisten oleh para pelaku dalam
penyelenggaraan NUSSP:
.1 Lokasi sesuai dengan Rencana Tata Ruang setempat, NUSSP hanya melayani KBR yang
tinggal di permukiman kumuh yang legal.
.2 Membangun tanpa menggusur, pengalaman menunjukkan bahwa penggusuran pada
kenyataannya sering menimbulkan permasalahan baru dan berakibat kontra-produktif
terhadap upaya pemenuhan kebutuhan rumah.
.3 Mengembangkan potensi lokal, mengembangkan potensi yang ada secara maksimal
melalui penggalian sumberdaya yang ada dalam masyarakat.
.4 Mendorong kepedulian terhadap lingkungan, kegiatan NUSSP dilaksanakan dengan
mengutamakan keamanan, keselamatan dan kelestarian lingkungan hidup.
.5 Mengembangkan partisipasi dan keterpaduan, melibatkan semua pelaku terkait secara
mandiri, seimbang dan harmonis serta menjalin keterpaduan dengan berbagai pihak.
.6 Mendorong desentralisasi, pengertian desentralisasi memiliki makna sejalan dengan
transformasi kewenangan dalam pengambilan keputusan. Pengambilan keputusan dan
pelaksanaan kegiatan NUSSP harus diposisikan sedekat mungkin dengan penerima
manfaat dan penerima dampak.

.2 PLP2K-BK (Penanganan Lingkungan Perumahan dan Permukiman Kumuh Berbasis


Kawasan)
Laporan Antara II-20
Strategi Pengembangan Permukiman dan Infrastruktur Perkotaan (SPPIP)
Kota Medan

Pada Sidang Umum PBB, yang diselenggarakan tahun 2000 tercapai kesepakatan
tujuan pembangunan global yang tertuang dalam Millennium Development Goals (MDGs).
Salah satu targetnya adalah peningkatan kualitas hidup 100 juta masyarakat dunia di
perumahan dan permukiman kumuh pada tahun 2020. Selanjutnya, Kongres Perumahan
dan Permukiman II yang dilaksanakan pada tanggal 18-19 Mei 2009 yang lalu juga
menargetkan tercapainya kota tanpa permukiman kumuh tahun 2025 dalam Agenda
Menyongsong Era Baru Perumahan dan Permukiman Indonesia.

Sejak Tahun Anggaran 2004-2009, Kementerian Negara Perumahan Rakyat telah


melaksanakan beberapa program dan kegiatan untuk meningkatkan kualitas lingkungan
perumahan terutama bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR). Kegiatan tersebut
antara lain adalah Bantuan Stimulan Pembangunan Perumahan Swadaya (BSP2S) dan
Peningkatan Kualitas Perumahan (PKP), Pembangunan Rusunawa dan Rusunami, Bantuan
Stimulan Prasarana Sarana dan Utilitas (PSU) Perumahan dan Permukiman dan penyaluran
KPRS/KPRS Mikro Bersubsidi. Program-program penanganan tersebut sangat perlu untuk
disinergikan dan diintegrasikan dalam skenario pengembangan kawasan. Dalam hal ini,
dibutuhkan penanganan yang bersifat multi sektoral dan berkelanjutan dengan
menekankan pada Pendekatan Tridaya (pembangunan manusia, lingkungan dan ekonomi),
pengembangan prasarana dan sarana yang memadai, mengintegrasikan seluruh kondisi dan
aktivitas di perumahan dan permukiman kumuh dengan kegiatan kota, mendorong peran
pemerintah daerah dan masyarakat sebagai pelaku utama penanganan lingkungan
perumahan dan permukiman kumuh.

Sehubungan dengan hal tersebut, Kementerian Negara Perumahan Rakyat pada


Tahun Anggaran 2010 mulai melaksanakan program Penanganan Lingkungan Perumahan
dan Permukiman Kumuh Berbasis Kawasan (PLP2K-BK). Karakteristik PLP2K-BK TA 2010
tersebut antara lain:
.1 Mengembangkan kawasan perumahan dan permukiman terintegrasi dengan tata ruang
dan sistem kota,
.2 Menggunakan Pendekatan Tridaya (manusia, lingkungan dan ekonomi),
.3 Melengkapi kebutuhan PSU agar terpenuhi lingkungan permukiman yang layak, dan
.4 Mengintegrasikan pendekatan sektor dan pelaku lainnya.

Penanganan berbasis kawasan dalam penanganan kumuh pada prinsipnya adalah


suatu upaya untuk menata dan meningkatkan kualitas lingkungan perumahan dan
permukiman kumuh secara berkelanjutan melalui perbaikan dan pembangunan perumahan
serta penyediaan PSU yang memadai untuk mendukung penghidupan dan kehidupan
Laporan Antara II-21
Strategi Pengembangan Permukiman dan Infrastruktur Perkotaan (SPPIP)
Kota Medan

lingkungan menjadi layak dan produktif, yang keseluruhannya disusun berdasarkan


kesesuaian dengan rencana tata ruang wilayah yang mengintegrasikan konsep
penanganannya dengan potensi kegiatan kota disekitarnya. Rencana penanganan berbasis
kawasan terhadap lingkungan perumahan dan permukiman kumuh selanjutnya disebut
dengan Rencana Penanganan Lingkungan Perumahan dan Permukiman Kumuh Berbasis
Kawasan (PLP2K-BK). Sesuai dengan amanat Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1992 Pasal 27,
Rencana PLP2K-BK dilaksanakan dengan Pendekatan Tridaya dimana masyarakat dan
pemerintah daerah menjadi unsur utama. Berdasarkan pendekatan Tridaya tersebut, perlu
disusun Rencana Tindak Komunitas (Community Action Plan) yang difasilitasi oleh Tenaga
Penggerak Masyarakat (TPM).

Gambar 2.2
Prinsip Penanganan Lingkungan Perumahan dan Permukiman Kumuh Berbasis Kawasan

Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1992 Pasal 27, lingkup penanganan
lingkungan permukiman kumuh mencakup hal-hal berikut di bawah ini.
.1 Perbaikan dan Pemugaran
Secara konseptual, implementasi prinsip perbaikan dan pemugaran meliputi:

Laporan Antara II-22


Strategi Pengembangan Permukiman dan Infrastruktur Perkotaan (SPPIP)
Kota Medan

.a Revitalisasi, adalah upaya menghidupkan kembali suatu kawasan mati, yang pada
masa silam pernah hidup, atau mengendalikan dan mengembangkan kawasan untuk
menemukan kembali potensi yang dimiliki atau pernah dimiliki atau seharusnya
dimiliki oleh sebuah kota.
.b Rehabilitasi, merupakan upaya mengembalikan kondisi komponen fisik lingkungan
permukiman yang mengalami degradasi.
.c Renovasi, melakukan perubahan sebagian atau beberapa bagian dari komponen
pembentukan lingkungan permukiman.
.d Rekonstruksi, merupakan upaya mengembalikan suatu lingkungan permukiman
sedekat mungkin dari asalnya yang diketahui, dengan menggunakan komponen-
komponen baru maupun lama.
.e Preservasi, merupakan upaya mempertahankan suatu lingkungan permukiman dari
penurunan kualitas atau kerusakan. Penanganan ini bertujuan untuk memelihara
komponen yang berfungsi baik dan mencegah dari proses penyusutan dini
(kerusakan), misalnya dengan menggunakan instrumen: Ijin Mendirikan Bangunan
(IMB). Ketentuan atau pengaturan tentang: Koefisien Lantai Bangunan, Koefisien
Dasar Bangunan, Garis Sempadan Bangunan, Garis Sempadan Jalan, Garis
Sempadan Sungai, dan lain sebagainya.
.2 Peremajaan
Peremajaan adalah upaya pembongkaran sebagian atau keseluruhan lingkungan
perumahan dan permukiman dan kemudian di tempat yang sama dibangun prasarana
dan sarana lingkungan perumahan dan permukiman baru yang lebih layak dan sesuai
dengan rencana tata ruang wilayah. Tujuan utama dari kegiatan ini adalah untuk
meningkatkan nilai pemanfaatan lahan yang optimal sesuai dengan potensi lahannya.
Di samping itu, diharapkan mampu memberikan nilai tambah secara ekonomis dan
memberi vitalitas baru dari lahan permukiman yang diremajakan. Pada umumnya,
peremajaan ini memberikan konsekuensi bentuk teknis penanganan seperti halnya:
land consolidation, land re-adjustment, dan land sharing.
.3 Pengelolaan dan Pemeliharaan Berkelanjutan
Pengelolaan dan pemeliharaan berkelanjutan adalah upaya-upaya untuk mencegah,
mengendalikan atau mengurangi dampak negatif yang timbul, serta meningkatkan
dampak positif yang timbul terhadap lingkungan hunian.

Laporan Antara II-23


Strategi Pengembangan Permukiman dan Infrastruktur Perkotaan (SPPIP)
Kota Medan

2.2. Visi dan Misi Pembangunan Kota Medan

2.2.1. Visi dan Misi dalam RPJP Kota Medan tahun 2006-2025

Visi dan Misi Kota Medan menurut RPJP Kota Medan tahun 2006-2025 adalah :

Visi : Kota Medan Yang Maju, Sejahtera, Religius Dan Berwawasan Lingkungan.

Misi :

 Mewujudkan perekonomian kota yang tangguh dan dinamis.

 Mewujudkan masyarakat kota yang berilmu pengetahuan dan menguasai teknologi,


beriman dan bertaqwa serta mandiri.

 Mewujudkan prasarana dan sarana kota yang modern, handal dan berwawasan
lingkungan.

 Mewujudkan kota yang aman, nyaman dan religius melalui pembangunan kota yang
berkeadilan.

2.2.2. Visi dan Misi RPJMD Kota Medan tahun 2006-2010

Visi dan Misi Kota Medan berdasarkan RPJMD Kota Medan tahun 2006-2010 adalah :

Visi : Medan Kota Metropolitan yang Modern, Madani dan Religius

 Makna Visi Modern : Kota modern yang akan diwujudkan adalah jasa,perdagangan,
keuangan dan pendidikan yang siap bersaing secara regional dan global, dengan
sistem lalulintas keuangan yang efisien serta kompetitif, dengan dukungan
infrastruktur sosial ekonomi lengkap, pondasi perekonomian daerah yang kuat,
stabilitas keamanan, sosial politik yang kondusif dan tata pemerintahan yang
efisien dan efektif, serta pembangunan yang berfokus pada kemajuan, peningkatan
kemakmuran serta kesejahteraan masyarakat, kualitas SDM, IPTEK, serta Iman dan
Taqwa (IMTAQ).

 Makna Visi Madani : Kota Madani akan diwujudkan adalah kota beradab dan agamis
sebagaimana tercermin dalam cara berfikir, sikap dan perilaku yang berbudaya,
mandiri, menghargai ilmu pengetahuan, kemajemukan, adil, terbuka dan
demokrasi.

Laporan Antara II-24


Strategi Pengembangan Permukiman dan Infrastruktur Perkotaan (SPPIP)
Kota Medan

 Makna Visi Religius : Kota religius akan diwujudkan adalah kota dengan masyarakat
dinamis, menjunjung tinggi nilai ajaran agama, sehingga menjadikan agama
sebagai landasan etika dan moral, serta terwujudnya, sikap toleransi dan
kerukunan hidup beragama antar umat beragama dan antar etnik serta antar umat
beragama yang tercermin dalam kehidupan sehari-hari.

Misi :

 Mewujudkan percepatan pembangunan wilayah lingkar luar, dengan meningkatkan


pertumbuhan ekonomi melalui pengembangan usaha kecil, menengah dan koperasi
(UKMK), untuk kemajuan dan kemakmuran yang berkeadilan bagi seluruh
masyarakat kota

 Mewujudkan tata pemerintahan yang baik dengan birokrasi yang lebih efisien,
efektif, kreatif, inovatif dan responsif

 Penataan kota yang ramah lingkungan berdasarkan prinsip keadilan sosial ekonomi,
membangun dan mengembangkan pendidikan, kesehatan serta budaya daerah

 Meningkatkan suasana religius yang harmonis dalam kehidupan berbangsa serta


bermasyarakat

2.2.4. Visi dan Misi Kota Medan 2011-2015

Visi Kota Medan telah dirumuskan dalam VISI DAN MISI KOTA MEDAN 2011-2015.
Dalam dokumen tersebut telah ditetapkan :

Visi : Kota Metropolitan Yang Berdaya Saing, Melayani Dan Berkesejahteraan.


Sebagai kota metropolitan maka Kota Medan memiliki kedudukan dan fungsi-fungsi
utama tata ruang wilayah yang cukup strategis secara lokal, regional dan nasional.
Kota Metropolitan juga ditandai oleh semakin terintegrasinya kegiatan sosial
ekonomi masyarakat antar pusat kota dengan wilayah lingkar luar dan dengan kota-
kota satelit lainnya yang dihubungkan dengan sistem transportasi cepat (express
way).

Kota Metropolitan yang ingin diwujudkan juga ditandai dengan semakin besarnya
peranan Kota Medan dalam pengembangan kawasan yang terintegrasi secara
regional, sekaligus sebagai barometer pertumbuhan sosial ekonomi Sumatera Utara.
Sebagai mesin penggerak pertumbuhan, maka kota medan berkembang dengan

Laporan Antara II-25


Strategi Pengembangan Permukiman dan Infrastruktur Perkotaan (SPPIP)
Kota Medan

kemitraan stratejik yang menonjol guna pengembangan wilayah- wilayah perbatasan,


terutama kebutuhan akan ketersediaan infrastuktur sosial ekonomi yang relatif sama
baiknya dengan inti (pusat) kota.

Kota Metropolitan juga didukung oleh kawasan industri yang besar dan terspesialisasi
sebagai kawasan khusus yang pengembangannya dipicu dengan kemudahan, fasilitas
dan insentif penanaman modal yang sangat menarik bagi investor. Intinya, Kota
Metropolitan yang dibangun secara terstuktur baik fisik, sosial-budaya maupun
ekonominya, sehingga serasi, selaras dan seimbang dengan daerah-daerah lainnya
secara menonjol, sekaligus mampu menjadi pemimpin pasar terhadap berbagai
produk yang dipasarkan secara lokal, regional dan nasional.

Kota berdaya saing yang ingin diwujudkan adalah kota yang mengoptimalkan
pemanfaatan tenaga kerja yang semakin terdidik dan produktif dengan dukungan
ketersediaan infrastruktur yang handal. Kemampuan daya saing yang ingin
diwujudkan juga adalah kemampuan untuk mengantisipasi pengaruh eksternal dari
lingkungan makro dan stratejiknya, sehingga Kota Medan tetap menjadi pilihan
berinvestasi yang menonjol dengan menghasilkan berbagai produk dengan kualitas
tinggi dan terspesialisasi serta dengan harga yang ekonomis. Untuk itu, kota
kompetitif yang diwujudkan mengacu pada prinsip keunggulan kompetitif dan
keunggulan skala ekonomi, dengan kemampuan menciptakan regional branding dan
regional competitivenes melalui efesiensi alokasi dan efisiensi produksi serta
penguasaan pasar.

Selanjutnya, kota melayani diartikan dan dimaknai sebagai kota yang menyediakan
kualitas pelayanan umum yang distandarisasi. Untuk itu, pemerintah kota dapat
berfungsi sebagai pengendali dan katalisator penyelenggaraan pelayanan umum,
mendorong partisipasi luas masyarakat dan swasta berfungsi sebagai penyedia
kebutuhan pelayanan umum. Kota melayani akan semakin tercermin dari inovasi
daerah yang berkembang, kemauan politik yang konsisten dan penerapan
e-goverment.

Selanjutnya visi utama masyarakat Kota Medan yang berkesejahteraan adalah kota
yang mampu menurunkan secara signifikan jumlah kemiskinan absolut, kota yang
memberikan kualitas pelayanan pendidikan dan kesehatan secara merata terhadap

Laporan Antara II-26


Strategi Pengembangan Permukiman dan Infrastruktur Perkotaan (SPPIP)
Kota Medan

segenap lapisan masyarakat. Untuk itu, pembangunan dengan visi kesejahteraan


bekerja secara sistemik mengembangkan ekonomi lokal dan perbaikan pelayanan
umum dengan politik fiskal yang sehat dan komitmen mensejahterakan yang
konsisten, berdasarkan basis partisipatif, responsif dan akuntabel.

Berdasarkan rancangan visi pembangunan yang ditetapkan maka dirumuskan


rancangan misi pembangunan kota 2010-2015 sebagai berikut :
1. Meningkatkan keterkaitan dan keterpaduan struktural, natural dan kultural
sosial ekonomi masyarakat inti (pusat) kota dengan wilayah lingkar luar
(hinterland).

Sebagai kota metropilitan maka keterkaitan dan keterpaduan struktural sosial


ekonomi masyarakat antara inti kota dengan wilayah lingkar luar dimaksudkan
sebagai upaya mewujudkan keterkaitan ke depan (forward) dan ke belakang
(backward) yang semakin tinggi antara sektor-sektor ekonomi yang dikelola
antara usaha ekonomi yang ada pada pusat kota dengan unit-unit ekonomi yang
dikelola pada wilayah lingkar luarnya, baik itu pasar modern dengan pasar
tradisional.

Usaha struktural yang paling utama akan dilakukan adalah pengembangan


infrastruktur sosial ekonomi terutama prasarana jalan dan sarana transportasi
cepat pada wilayah lingkar luar, guna menghapuskan kesenjangan prasarana dan
sarana sosial ekonomi yang masih ada antara pusat kota dengan lingkar luar.

Selanjutnya, peningkatan keterkaitan dan keterpaduan antara wilayah inti kota


dengan lingkar luar akan didorong dengan formulasi regulasi yang mendorong
keadilan ekonomi, sehingga menciptakan saling ketergantungan, membutuhkan
dan menguntungkan antar usaha besar-menengah-kecil-mikro. Upaya pokok yang
dilakukan adalah meningkatkan kemempuan kompetitif usaha besar-menengah-
kecil-mikro baik di pasar lokal, regional dan nasional. Usaha besar harus mampu
meningkatkan akses dan berkompetisi dalam skala regional, nasional dan
internasional melalui kegiatan ekspor-impor dan perdagangan interinsuker
sedangkan usaha menengah dan kecil mampu berkompetitif di skala lokal dan
regional.

Laporan Antara II-27


Strategi Pengembangan Permukiman dan Infrastruktur Perkotaan (SPPIP)
Kota Medan

Selanjutnya keterkaitan dan keterpaduan antara wilayah inti kota dengan lingkar
luar dalam dimensi kultural adalah upaya membangun satu kultur (sikap dan
prilaku) masyarakat perkotaan yang modern, dengan sikap dan prilaku rasional
guna dapat mengembangkan pengelolaan sumber daya ekonomi daerah yang
semakin efisien, efektif dan ekonomis.

2. Meningkatkan keunggulan kompetitif dan skala ekonomi daerah sekaligus


kemampuan mengantisipasi tantangan kompetisi antar daerah.
Sesuai dengan kecenderungan internasionalisasi dan regionalisasi global,
kemampuan kompetitif tidak hanya dibutuhkan pada level negara tetapi juga
daerah. Pembangunan ekonomi daerah dengan orientasi pertumbuhan dan
pemerataan hanya akan dapat diwujudkan bila daerah memiliki keunggulan
kompetitif dan skala ekonomi yang terus meningkat. Faktor kunci keunggulan
kompetitif adalah efisiensi, sedangkan skala ekonomi adalah spesialisasi.

Untuk itu, misi pembangunan ekonomi kota 5 (lima) tahun ke depan akan
difokuskan kepada upaya sistematis meningkatkan kemampuan kompetitif
daerah secara ekonomi melalui strategi menghasilkan produk-produk yang
berskala ekonomi tinggi dengan dukungan kelembagaan ekonomi yang kokoh dan
pengintegrasian sektor-sektor ekonomi yang memiliki keunggulan komperatif
daerah. Kota Medan akan ditumbuhkembangkan sebagai pusat pertumbuhan
Indonesia bagian barat, sehingga mampu mengantisipasi kecenderungan-
kecenderungan lingkungan stratejik yang cenderung sangat dinamis.

3. Mewujudkan penyelenggaraan pelayanan umum yang semakin berkualitas dan


melayani.
Sebagai dimensi penting implementasi desentralisasi dan otonomi daerah, maka
perwujudan penyelenggaraan pelayanan umum yang semakin berkualitas dan
melayani dimaksudkan sebagai komitmen operasional penyelenggaraan fungsi-
fungsi dan urusan pemerintahan daerah baik yang bersifat wajib maupun pilihan
secara berkualitas dan merata. Kota Medan harus mampu mengembangkan
standar pelayanan minimal sebagaimana yang telah ditetapkan Pemerintah dan
mengelolanya dengan efisien, efektif dan ekonomis.

Laporan Antara II-28


Strategi Pengembangan Permukiman dan Infrastruktur Perkotaan (SPPIP)
Kota Medan

Penyelenggaraan pelayanan umum yang pokok adalah pelayanan perizinan yang


mudah, penyediaan fasilitas infrastruktur sosial ekonomi yang berkualitas, serta
politik fiskal yang menstimulus perekonomian daerah dan berdimensi keadilan
sosial dengan prinsip good governance. Di samping itu, penyelenggaraan
pelayanan umum yang semakin berkualitas harus didukung sikap dan perilaku
pelayanan yang melayani bukan dilayani, sehingga membentuk perilaku atau
budaya birokrasi yang rasional tidak ekslusif, transparan dan akuntabel.

4. Mengurangi kemiskinan sejalan dengan peningkatan akses dan kualitas


pendidikan dan kesejahteraan masyarakat.
Indikator kinerja pembangunan yang paling cocok adalah upaya mengurangi
kemiskinan terutama kemiskinan absolut. Oleh karena itu pembangunan kota
dengan visi kesejahteraan harus mengembangkan azas paling elementer yaitu
keadilan sosial. Untuk menciptakan keadilan sosial maka fungsi pemerintah Kota
Medan yang utama adalah mendorong distribusi pendapatan sekaligus
mengurangi kesenjangan antara kelompok dengan pendapatan tinggi dengan
masyarakat dengan kelompok pendapatan rendah, melalui peningkatan akses
produksi masyarakat secara merata.

Upaya penanggulangan kemiskinan yang utama yang menjadi upaya pokok


dilakukan secara struktural dengan pendekatan komprehensif dan terintegrasi.
Sedangkan secara natural akan didorong dengan keadilan ekonomi. Untuk
pembangunan 5(lima) tahun ke depan (2011-2015) harus dapat mewujudkan
akses, pemerataan dan kualitas pendidikan dan kesehatan yang semakin baik.

Tujuan Pembangunan Kota 2011-2015


Berdasarkan visi dan misi pembangunan yang ditetapkan dirumuskan tujuan
pembangunan kota 2011-2015 sebagai berikut :
Sesuai dengan misi “meningkatkan keterkaitan dan keterpaduan struktural, natural dan
kultural sosial ekonomi masyarakat inti (pusat) kota dengan wilayah lingkar luar
(hinterland)”, dirumuskan tujuan pembangunan kota sampai tahun 2015 sebagai berikut :
1. Meningkatkan kualitas perencanaan, pemanfaatan dan pengendalian tata ruang daerah
sebagai pembangkit ekonomi daerah
2. Mendorong perwujudan penduduk berkualitas
3. Meningkatkan manajemen lalu lintas yang semakin handal

Laporan Antara II-29


Strategi Pengembangan Permukiman dan Infrastruktur Perkotaan (SPPIP)
Kota Medan

4. Meningkatkan kualitas, dan kelestarian budaya lokal sebagai aset daerah


5. Meningkatkan eksplorasi sumber daya perikanan, kelautan dan pertanian
6. Pengembangan kepariwisataan daerah
7. Meningkatkan keterkaitan sektor-sektor ekonomi daerah

Sesuai dengan misi “meningkatkan keunggulan kompetitif dan skala ekonomi


daerah sekaligus kemampuan mengantisipasi tantangan kompetisi antar daerah”
dirumuskan tujuan pembangunan kota sampai tahun 2015 sebagai berikut :
1. Meningkatkan ketentraman umum dan ketertiban masyarakat
2. Meningkatkan kualitas lingkungan hidup, melalui pengelolaan ruang terbuka hijau yang
semakin ideal
3. Meningkatkan kualitas infrastruktur sosial ekonomi daerah
4. Meningkatkan iklim penanaman modal daerah
5. Mendorong koperasi sebagai soko guru perekonomian daerah
6. Mendorong perkuatan UKM dan usaha mikro, khususnya melalui pengembangan sektor
unggulan
7. Mendorong peningkatan kesempatan kerja bagi angkatan kerja daerah
8. Pengembangan kawasan ekonomi khusus
9. Mendorong Kota Medan sebagai pusat jasa perdagangan regional dan nasional
10. Mendorong fasilitas pemerintah dalam pengadaan energi, gas, air bersih,
telekomunikasi dan infrastruktur kepelabuhan.

Sesuai dengan misi mewujudkan “penyelenggaraan pelayanan umum yang semakin


berkualitas dan melayani” dirumuskan tujuan pembangunan kota sampai tahun 2015
sebagai berikut :
1. Meningkatkan koordinasi dan sinergitas kebijakan dan program pembangunan antar
kota
2. Meningkatkan kemitraan dan efektivitas hubungan eksekutif dan legislatif dan dengan
instansi vertikal lainnya
3. Mengembangkan kebutuhan regulasi daerah yang selaras dengan kebutuhan
pembangunan kota
4. Mengembangkan iklim partisipasi, keterbukaan dan akuntabilitas publik dalam
penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan daerah
5. Mengembangkan sumber-sumber pendapatan dan kapasitas fiskal daerah tanpa
memberatkan kegiatan ekonomi masyarakat

Laporan Antara II-30


Strategi Pengembangan Permukiman dan Infrastruktur Perkotaan (SPPIP)
Kota Medan

6. Mendorong pengembangan kreativitas dan inovasi daerah


7. Mengembangkan kelembagaan pemerintah daerah yang efektif dan efisien serta
produktif
8. Meningkatkan kualitas SDM aparatur daerah
9. Meningkatkan kualitas perencanaan, pengelolaan keuangan dan barang daerah
10. Memfasilitasi pembinaan olahraga masyarakat dan olahraga prestasi
11. Meningkatkan akses informasi masyarakat

Sesuai dengan misi “mengurangi kemiskinan yang sejalan dengan peningkatan


kualitas pendidikan dan kesehatan masyarakat” dirumuskan tujuan pembangunan kota
sampai tahun 2015 sebagai berikut :
1. Meningkatkan akses dan kualitas pendidikan masyarakat
2. Meningkatkan budaya baca dan cinta ilmu pengetahuan masyarakat
3. Meningkatkan akses dan kualitas kesehatan masyarakat
4. Mendorong ketersediaan perumahan layak huni terutama bagi kelompok masyarakat
menengah ke bawah dan miskin
5. Memperkuat ketahanan pangan daerah
6. Menggerakkan pengarusutamaan gender dalam pembangunan kota
7. Meningkatkan program-program pemberdayaan masyarakat
8. Meningkatkan penanganan penyandang masalah kesejahteraan sosial
9. Meningkatkan jaminan pemenuhan kebutuhan berbagai pelayanan dasar masyarakat

2.3.Visi dan Misi Rencana Tata Ruang

2.3.1. Visi dan Misi RTR Metropolitan Membidangro 2010-2029


Visi pengembangan Kawasan Metropolitan Mebidangro adalah mewujudkan Kawasan
Metropolitan Mebidangro sebagai Kota Global yang bercirikan Keragaman Budaya
setempat.

Adapun misi pengembangan Kawasan Metropolitan Mebidangro adalah:

1. Mewujudkan perekonomian yang tangguh dan dinamis, berdaya saing secara


internasional.

2. Menjadikan Metropolitan Mebidangro sebagai pintu gerbang internasional bagian


barat Indonesia.

Laporan Antara II-31


Strategi Pengembangan Permukiman dan Infrastruktur Perkotaan (SPPIP)
Kota Medan

3. Menjadi pusat perekonomian di bagian barat Asean (termasuk didalamnya IMT-GT


(Indonesia Malaysia Thailand-growth triangle).

4. Mewujudkan Metropolitan Mebidangro sebagai pusat logistik dan pelayanan Bagian


Utara Pulau Sumatera.

5. Mewujudkan Kawasan Metropolitan Mebidangro yang aman, nyaman, produktif dan


berkelanjutan melalui pembangunan perkotaan yang berkeadilan.

6. Mewujudkan prasarana dan sarana perkotaan yang handal, bermanfaat dan


bersinergi dengan sektor lain.

7. Mewujudkan masyarakat kota multikultur yang harmonis dan memiliki identitas


sosial-budaya yang unik.

Sedangkan tujuan pengembangan Kawasan Metropolitan Mebidangro terkait visi tersebut


adalah:

1. Mewujudkan Metropolitan Mebidangro sebagai pusat pelayanan wilayah Provinsi


Sumatera Utara serta memberi manfaat bagi pencapaian tujuan pembangunan
nasional.

2. Mendukung pencapaian pertumbuhan ekonomi yang sehat di Kawasan Metropolitan


Mebidangro.

3. Menciptakan pemanfaatan ruang dikawasan metropolitan Mebidangro secara


optimal dengan memaksimalkan fungsi lahan.

4. Memaksimalkan dan melindungi peran kawasan lindung di kawasan metropolitan


Mebidangro.

5. Mendorong perkembangan industri di kawasan metropolitan Mebidangro secara


berkelanjutan.

6. Mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat dengan pengaturan dan


pembangunan infrastruktur yang terarah dan sinergi.

2.3.2. Tujuan Penataan RTRW Kota Medan Tahun 2008-2028

Tujuan penataan ruang wilayah Kota Medan mencerminkan keterpaduan


pembangunan antarsektor, antarkecamatan dan antarpemangku kepentingan. Tujuan
penataan ruang Kota Medan pada masa yang akan datang tidak akan terlepas dari peran,
fungsi dan kedudukannya dalam lingkup wilayah yang lebih luas. Untuk mendukung

Laporan Antara II-32


Strategi Pengembangan Permukiman dan Infrastruktur Perkotaan (SPPIP)
Kota Medan

pengembangan peran dan fungsi Kota Medan sebagai Pusat Kegiatan Nasional, serta
tanggap dengan dinamika perkembangan dan permasalahan Kota Medan saat ini, maka
Tujuan Pembangunan Kota Medan yang akan dituju, adalah:

“Terciptanya wilayah Kota Medan yang aman, nyaman, produktif dan berkelanjutan
serta mempunyai daya saing dan daya tarik sebagai daerah tujuan investasi”

Untuk mewujudkan tujuan pembangunan tersebut, maka melalui Rencana Tata Ruang
Wilayah Kota Medan Tahun 2008-2028 ini, ditetapkan beberapa Tujuan Penataan Ruang
Kota Medan, yaitu ;

1. Terselenggaranya pemanfaatan ruang Kota Medan yang berkelanjutan dan


berwawasan lingkungan sesuai dengan daya dukung lingkungan hidup serta
kebijaksanaan pembangunan nasional dan daerah;

2. Terwujudnya pemanfaatan ruang Kota Medan yang sesuai dengan fungsi Kota Medan
sebagai Pusat Kegiatan Nasional (PKN) dan Kota Metropolitan serta tanggap terhadap
dinamika perkembangan kota yang pesat;

3. Mengembangkan kawasan perumahan dan permukiman yang berkelanjutan dan


harmonis baik dari sisi sosial, ekonomi, maupun daya dukung lingkungan;

4. Membangun dan mengembangkan sarana dan prasarana kota sesuai dengan


kebutuhan perkembangan Kota Medan sebagai Pusat Kegiatan Nasional (PKN) dan Kota
Metropolitan;

5. Meningkatkan pelayanan sarana dan prasarana kota yang dapat dijangkau oleh
segenap warga;
6. Terlaksananya pengendalian pemanfaatan ruang yang efektif dan efisien dengan
memperhatikan aspirasi masyarakat;

7. Merangsang dan mendorong pengembangan sektor-sektor kegiatan ekonomi di


Kawasan Utara dan Pusat Kota yang diperkirakan mempunyai skala pelayanan lokal,
regional dan Internasional, sehingga diharapkan terbina hubungan saling
ketergantungan yang saling menguntungkan antar Kawasan Utara Medan dengan
Kawasan Pusat Kota maupun daerah belakangnya;

8. Penataan Ruang Kota Medan harus berwawasan lingkungan dengan mengikuti kaidah-
kaidah dan norma-norma perencanaan yang tepat dengan memberikan kesempatan
kepada masyarakat untuk berpartisipasi dalam proses perencanaan dan
implementasinya;
Laporan Antara II-33
Strategi Pengembangan Permukiman dan Infrastruktur Perkotaan (SPPIP)
Kota Medan

9. Tersedianya Ruang Terbuka Hijau (RTH) Kota yang memadai;

10. Melindungi kawasan sosial-budaya (bersejarah) yang merefleksikan elemen-elemen


dari unit historis, sejarah pembangunan kota, arsitektur, arkeologi, teknologi dan
budaya melalui pelestarian kawasan sosial-budaya dan bangunan bersejarah.

11. Rencana Penataan Ruang Kota Medan ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan
masyarakat dan pertahanan keamanan;

2.4. Kebijakan pembangunan Perumahan dan Permukiman (RP4D)

Dalam Rencana Pembangunan Perumahan dan Permukiman (RP4D), kota Medan


telah dirumuskan kebijakan pembangunan perumahan Kota Medan, yaitu :

1. Membatasi proposal kawasan perumahan maksimum 60% dari luas lahan kota
2. Mendorong oengembangan perumahan di wilayah Medan Utara dengan pola Kasiba
dan Lisiba yang berdiri sendiri
3. Mengembangkan perumahan secara vertikal untuk wilayah kecamatan atau kawasan
yang padat penduduk dengan memperhatikan ketersediaan prasarana yang ada.
Perumahan vertikal meliputi rumah susun dengan ketinggian maksimum 5 laintai,
aparteemen rendah dengan ketinggian sampai 8 lantai dan apartemen tinggi
dengan ketinggian lebih dari 8 lantai. Prasarana yang harus dipertimbangkan
terutama ketersediaan kapasitas prasarana jalan dan air bersih
4. Meremajakan dan merehabilitasi lingkungan yang menurun kualitasnya diupayakan
dikembangkan menjadi rumah susun sederhana sewa lengkap dengan saran dan
prasarana lingkungannya.
5. Melestarikan lingkungan perumahan lama yang mempunyai karakter khusus
(Kawasan lindung cagar budaya) dari alih fungsi perubahan fisik bangunan
6. Membatasi luas lantai bangunan perumahan yang diperbolehkan untuk kegiatan
usaha serta menyediakan prasarana memadai terutama parkiran

2.5.Visi dan Misi Pembangunan Infrastruktur (RPIJM)

Kota Medan telah memiliki RPIJM. Visi dan misi pengembangan infrastruktur RPIJM
2013 Kota Medan adalah sebagai berikut :
Visi :
 Terwujudnya sanitasi yang bersih dan sehat di Kota Medan pada Tahun 2013

Misi :
Laporan Antara II-34
Strategi Pengembangan Permukiman dan Infrastruktur Perkotaan (SPPIP)
Kota Medan

 Meningkatkan kesadaran dan partisipasi masyarakat terhadap sanitasi kota


 Meningkatkan kualitas sumber daya aparatur dalam pelayanan dan pengelolaan
sanitasi kota.
 Mengembangkan sarana dan prasarana sanitasi kota sampai pada tingkat yang
memadai.
 Mengembangkan teknologi pengelolaan limbah yang berbasis rumah tangga dan
komunal dalam format teknologi daur ulang.
 Mendorong kemandirian dan kesadaran masyarakat untuk hidup sehat.

2.6.Kebijakan Perumahan Permukiman dan Infrastruktur RPJP

2.6.1 Kebijakan Perumahan Permukiman RPJP

Kebijakan perumahan permukiman Rencana Pembangunan Jangka Panjang adalah sebagai


berikut :

 Pembangunan perumahan

 Penataan permukiman yang sehat, layak huni, dan nyaman huni

 Penataan kawasan kumuh dan program rumah sehat

 Pembangunan lingkungan pemukiman perkotaan yang asri

2.6.2 Kebijakan Infrastruktur RPJP

Kebijakan infrastruktur Rencana Pembangunan Jangka Panjang terdiri atas:

 Singkronisasi pembangunan prasarana dan sarana

 Pendistribusian pembangunan prasarana dan sarana ke kawasan lingkar luar

 Penataan manajemen pengelolaan prasarana dan sarana

 Pembangunan sistem transportasi kota

 Penataan jaringan jalan dan sistem pergerakan lalu-lintas

 Pengembangan pelayanan penyediaan air bersih

 Pengembagan kelistrikan, gas dan sumber daya energi lainnya

 Pembangunan jaringan drainase

Laporan Antara II-35


Strategi Pengembangan Permukiman dan Infrastruktur Perkotaan (SPPIP)
Kota Medan

 Pengendalian air banjir

 Peningkatan pelayanan sistem jaringan sanitasi

 Pembangunan sistem pengelolaan persampahan

 Peningkatan kualitas, kuantitas dan keragaman sarana perkotaan

 Pembangunan infrastruktur telekomunkasi

2.7. Kebijakan Perumahan Permukiman dan Infrastruktur Perencanaan Prioritas


Pembangunan Kota Medan Tahun 2010-2015

2.7.1. Kebijakan Perumahan Permukiman Perencanaan Prioritas Pembangunan Kota


Medan Tahun 2010-2015

Kebijakan perumahan dan permukiman perencanaan prioritas pembangunan Kota


Medan tahun 2010-2015 adalah sebagai berikut :
1. Mendorong pembangunan perumahan yang layak huni

2. Meningkatkan kualitas sarana dan prasarana permukiman

3. Meningkatkan kualitas bangunan milik pemerintah

4. Meningkatkan kemampuan pelayanan dan tanggap bencana


kebakaran

2.7.2. Kebijakan Infrastruktur Perencanaan Prioritas Pembangunan Kota Medan Tahun


2010-2015

Pembangunan dan pemeliharaan prasarana jalan, jembatan, drainase serta energi


dan sumber daya mineral diarahkan pada kebijakan sebagai berikut :

1. Mempertahankan dan meningkatkan kinerja pelayanan prasarana jalan, jembatan,


drainase serta energi dan sumber daya mineral yang telah terbangun melalui
peningkatkan kuantitasrdan kualitas pembangunan, pemeliharaan jaringan jalan dan
jembatan dan meningkatkan kualitas dan kuantitas sarana dan prasarana penunjang
kelancaran operasional lapangan dan fasilitas pendukung.

2. Meningkatkan kuantitas dan kualitas data base perencanaan jalan, jembatan, drainse
serta energi dan sumber daya mineral melalui pengembangan sistem informasi dan
pelaksanaan studi.

Laporan Antara II-36


Strategi Pengembangan Permukiman dan Infrastruktur Perkotaan (SPPIP)
Kota Medan

3. Melakukan koordinasi dan peningkatan kerjasama pembangunan dan pemeliharaan


prasarana jalan, jembatan, drainase serta energi dan sumber daya mineral dengan
Pemerintah Pusat, Propinsi dan Kabupaten/Kota sekitar, serta lembaga pembiayaan
pembangunan lainnya.

4. Meningkatkan kualitas dan profesionalisme sumber daya aparatur melalui pelatihan


dan pembinaan.

5. Mendorong keterlibatan peran dunia usaha dan masyarakat dalam penyelenggaraan,


penyediaan dan pemeliharaan prasarana jalan, jembatan, drainase serta energi dan
sumber daya mineral.

2.8.Kebijakan Perumahan Permukiman dan Infrastruktur RTRW

2.8.1 Kebijakan Perumahan Permukiman RTRW

Kawasan perumahan dan permukiman di Kota Medan pada dasarnya akan


dikembangkan kearah Utara Kota sebagai permukiman padat, sedangkan pengembangan ke
arah Selatan akan dikembangkan perumahan dan permukiman kepadatan sedang.
Kebijaksanaan pengembangan kawasan perumahan dan permukiman, dapat diuraikan
sebagai berikut:
a. Perumahan Type Besar :

• Jenis penggunaan yang diijinkan antara lain : bangunan perumahan besar


renggang dengan konstruksi permanen, bangunan perumahan flat, bangunan
kantor renggang, bangunan dengan jenis kegiatan sosial, atau perdagangan atau
administrasi;

• Garis sempadan bangunan depan sekurang-kurangnya 5 meter;

• Garis sempadan bangunan belakang sekurang-kurangnya 2 meter;

• Jenis penggunaan yang dilarang antara lain : bangunan perumahan sedang


renggang dengan konstruksi permanen, bangunan perumahan berhimpitan terdiri
atas dua rumah (kopel), bangunan kantor berhimpitan, bangunan rumah sedang
berhimpitan/gandeng lebih dari dua rumah;

• Luas persil 500 M2 atau lebih.

• Jumlah perumahan type besar ditetapkan sebesat 10% dari total kebutuhan
rumah dengan menggunakan konsep 1:3:6, yang artinya setiap pembangunan 10

Laporan Antara II-37


Strategi Pengembangan Permukiman dan Infrastruktur Perkotaan (SPPIP)
Kota Medan

unit rumah 1 unit rumah dialokasikan untuk rumah type besar, 3 unit rumah type
sedang dan 6 unit rumah type kecil.

b. Perumahan Type Sedang :

• Jenis penggunaan yang diijinkan antara lain : bangunan perumahan sedang


renggang dengan konstruksi permanen, bangunan perumahan flat, bangunan
perumahan berhimpitan terdiri atas dua rumah (kopel); bangunan kantor
berhimpitan;

• Garis sempadan bangunan depan sekurang-kurangnya 5 meter;

• Garis sempadan bangunan belakang sekurang-kurangnya 2 meter;

• Jenis penggunaan yang dilarang antara lain : bangunan perumahan dengan


konstruksi semi permanen dan sementara, bangunan rumah sedang
berhimpitan/gandeng lebih dari dua rumah; bangunan perumahan besar
renggang, bangunan bertingkat,

• Luas persil 100 – 250 M2 atau lebih.

• Jumlah perumahan type sedang ditetapkan sebesat 30% dari total kebutuhan
rumah dengan menggunakan konsep 1:3:6.

c. Perumahan Type Kecil :

• Jenis penggunaan yang diijinkan antara lain : bangunan perumahan dengan


konstruksi semi permanen dan sementara, bangunan perumahan berhimpitan
terdiri atas dua rumah (kopel), bangunan rumah sedang berhimpitan/gandeng
lebih dari dua rumah, bangunan kantor berhimpitan;

• Garis sempadan bangunan depan sekurang-kurangnya 3 meter;

• Garis sempadan bangunan belakang sekurang-kurangnya 1,5 meter;

• Jenis penggunaan yang dilarang antara lain : bangunan perumahan flat,


bangunan bertingkat, bangunan perumahan besar renggang;

• Luas persil < 100 M2 atau lebih.

• Jumlah perumahan type kecil ditetapkan sebesat 60% dari total kebutuhan
rumah dengan menggunakan konsep 1:3:6.

2.8.2 Kebijakan Infrastruktur RTRW

Kebijakan infrastruktur RTRW Kota Medan adalah sebagai berikut:

Laporan Antara II-38


Strategi Pengembangan Permukiman dan Infrastruktur Perkotaan (SPPIP)
Kota Medan

1. Untuk mendukung aksesibilitas semua jenis komponen fasilitas kota dan aksesibilitas
dalam skala bagian wilayah kota, maka diperlukan peningkatan dan pembangunan
jaringan jalan secara terpadu yang memudahkan hubungan pergerakan antar
bagian wilayah kota. Pemisahan dan penegasan fungsi dari ruas-ruas jalan sangat
diperlukan mengingat intensitas kegiatan yang diarahkan dan terdapatnya lalulintas
lokal dan regional yang melalui wilayah perencanaan sehingga tercipta struktur kota
yang dituju.

2. Pengembangan transportasi diarahkan untuk mendukung aktivitas ekonomi dan sosial


penduduk. Pelayanan transportasi yang murah, mudah dan efisien merupakan
prioritas utama bagi kebutuhan masyarakatnya sehingga perlu diprioritaskan
pelayanan transportasi umum dan angkutan massal untuk kemudahan pergerakan dari
pusat kota ke bagian wilayah lain (pusat-pusat sekunder).

3. Mengoptimasikan dan memadukan peranan setiap moda angkutan dengan


menciptakan kemudahan perpindahan antar moda angkutan.

4. Mengembangkan pola jaringan jalan yang paling efisien untuk mendukung pergerakan
penduduk. Mengingat topografi yang datar tanpa kendala berarti, pola jaringan grid
sesuai dikembangkan untuk Kota Medan.

5. Menciptakan sistem transportasi yang terpadu dan terintegrasi dengan kegiatan


lainnya, sehingga memberikan efisiensi, efektivitas dan keamanan yang baik. Hal Ini
dapat dilakukan dengan cara pengintegrasian terminal dengan stasiun kereta api dan
kegiatan lainnya seperti pasar, jasa dan perdagangan.

6. Membuat jalur pemisah antara kecepatan tinggi dengan kecepatan rendah pada jalan-
jalan arteri kota;

7. Membuat jalur khusus pejalan kaki pada jalan-jalan utama kota;

8. Mengembangkan pola jaringan jalan tidak sebidang untuk mengatasi kemacetan lalu-
lintas.

9. Kebijaksanaan pembangunan jaringan utilitas dilakukan berdasarkan prinsip


peningkatan kesehatan masyarakat dan lingkungan dengan memanfaatkan topografi
alami wilayah Kota Medan. Program pengembangan jaringan utilitas saling berkaitan
dengan membentuk satu sistem yang terpadu.

10. Dalam pengembangan jaringan utilitas, beban yang menjadi tanggungan pemakai
hendaknya disesuaikan dengan tingkat pelayanan yang diberikan.

Laporan Antara II-39


Strategi Pengembangan Permukiman dan Infrastruktur Perkotaan (SPPIP)
Kota Medan

11. Penyediaan air bersih dilakukan dengan memperhatikan sumber daya alam yang
ada dan disalurkan kepada masyarakat secara efisien.

12. Pembuangan air hujan dan air limbah dilakukan dengan menggunakan sistem
tertutup secara bertahap sesuai kemampuan pembiayaan kota.

13. Kebijaksanaan tahap pertama untuk sistem drainase adalah perbaikan jaringan
yang ada. Tahap selanjutnya adalah usaha penanggulangan genangan secara
komprehensif (menyeluruh).

14. Pembuangan sampah diatur dengan baik melalui sistem yang efisien dan efektif
yaitu menjalin kerja sama antara masyarakat, pemulung, pengumpul dan
pengangkutan sampah ke tempat pembuangan akhir sampah.

15. Penyediaan utilitas umum perlu mendapat perhatian serius mengingat Kota Medan
merupakan wilayah yang sedang dan terus berkembang dengan pesat. Oleh karena
itu perlu penanganan yang tegas mengenai dimensi dan pola distribusi serta
pelayanan kebutuhan akan utilitas umum.

2.8.3 Kebijakan Rencana Struktur Ruang Kota

Rencana struktur ruang kota merupakan susunan yang diharapkan dari unsur-unsur
pembentuk rona lingkungan alam, rona lingkungan sosial, dan rona lingkungan buatan yang
secara hirarkis dan struktural saling berhubungan satu sama lain, sehingga membentuk
tata ruang kota. Rencana Struktur Wilayah Kota Medan digambarkan dalam bentuk :

1. Arahan Pengembangan dan Distribusi Penduduk yang merupakan perkiraan jumlah


penduduk hingga akhir tahun perencanaan yang selanjutnya diuraikan dalam rencana
pendistribusian untuk setiap kawasan/kecamatan sesuai dengan daya dukungnya.

2. Rencana Sistem Pusat-Pusat Pelayanan yang merupakan pengembangan sistem


penyebaran pusat-pusat pelayanan kota yang disusun secara hirarkis dan terstruktur
sesuai dengan arahan dan rencana fungsi masing-masing pusat.

3. Rencana Sistem Jaringan Transportasi merupakan pengembangan sistem jaringan yang


menggambarkan pola pergerakkan dan penyebaran prasarana dan sarana
penunjangnya.

4. Rencana Sistem Jaringan Utilitas adalah pengembangan sistem jaringan pelayanan yang
memungkinkan kota dapat terlayani secara optimal dengan memperhatikan arahan

Laporan Antara II-40


Strategi Pengembangan Permukiman dan Infrastruktur Perkotaan (SPPIP)
Kota Medan

pengembangan dan distribusi penduduk, sistem pusat-pusat pelayanan serta arah


pengembangan kota dalam jangka panjang.

2.8.4 Kebijakan Rencana Pola Ruang Kota Medan

Rencana pola ruang kota adalah bentuk pengaturan pemanfaatan ruang kota yang
menggambarkan ukuran, fungsi serta karakter kegiatan manusia dan/atau kegiatan alam
yang diwujudkan dalam bentuk kawasan lindung dan kawasan budidaya. Pengaturan
pemanfaatan tersebut harus dapat menggambarkan keterpaduan, keterkaitan dan
keseimbangan perkembangan serta keserasian antar-sektor pembangunan kota.

Rencana Pola Ruang Kota Medan terdiri dari

 Rencana Kawasan Lindung

- Kawasan Perlindungan Setempat

- Kawasan Suaka Alam dan Cagar Budaya

 Rencana Kawasan Budidaya

- Kawasan permumahan permukiman

- Kawasan komersial

- Kawasan industri

- Fasilitas pelayanan

- Kawasan khusus

- Kawasan ruang terbuka hijau kota

Laporan Antara II-41


Strategi Pengembangan Permukiman dan Infrastruktur Perkotaan (SPPIP)
Kota Medan

GAMBAR 2.3

PETA RENCANA STRUKTUR RUANG KOTA

Laporan Antara II-42


Strategi Pengembangan Permukiman dan Infrastruktur Perkotaan (SPPIP)
Kota Medan

GAMBAR 2.4

PETA RENCANA POLA RUANG KOTA MEDAN

Laporan Antara II-43


Strategi Pengembangan Permukiman dan Infrastruktur Perkotaan (SPPIP)
Kota Medan

2.8.5 Kebijakan Kawasan Strategis

Kawasan strategis merupakan kawasan yang di dalamnya berlangsung kegiatan yang


mempunyai pengaruh besar terhadap:

a. Tata ruang di wilayah sekitarnya;

b. Kegiatan lain di bidang yang sejenis dan kegiatan di bidang lainnya; dan/atau

c. Peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Jenis kawasan strategis, antara lain, adalah kawasan strategis dari sudut
kepentingan pertahanan dan keamanan, pertumbuhan ekonomi, sosial, budaya,
pendayagunaan sumber daya alam dan/atau teknologi tinggi, serta fungsi dan daya dukung
lingkungan hidup.

Laporan Antara II-44


Strategi Pengembangan Permukiman dan Infrastruktur Perkotaan (SPPIP)
Kota Medan

GAMBAR 2.5

PETA KAWASAN STRATEGIS KOTA MEDAN

Laporan Antara II-45


Strategi Pengembangan Permukiman dan Infrastruktur Perkotaan (SPPIP)
Kota Medan

2.9. Rekap Visi, Misi Dan Kebijaksanaan Perumahan,Permukiman dan


Infrastruktur Kota

Visi Kota Medan


KEBIJAKAN
VISI
PEMBANGUNAN

Kota Medan Yang Maju, Sejahtera,


RPJP
Religius Dan Berwawasan Lingkungan.

Kota Metropolitan yang berdaya saing,


VISI DAN MISI KOTA
melayani dan berkesejahteraan
MEDAN 2011-2015

Mewujudkan Kawasan Metropolitan Kota Metropolitan yang


Mebidangro sebagai Kota Global yang berdaya saing, melayani,
RTR Metropolitan berkesejahteraan,
bercirikan Keragaman Budaya
Mebidangro berbudaya dan
setempat.
berkelanjutan
Terciptanya wilayah Kota Medan yang
aman, nyaman, produktif dan
RTRW berkelanjutan serta mempunyai daya
saing dan daya tarik sebagai daerah
tujuan investasi
Medan Kota Metropolitan yang
RP4D Modern, Madani dan Religius

Terwujudnya sanitasi yang bersih dan


RPIJM
sehat di Kota Medan pada Tahun 2013
Laporan Antara II-46
Strategi Pengembangan Permukiman dan Infrastruktur Perkotaan (SPPIP)
Kota Medan

Berdasarkan kajian beberapa kebijakan pembangunan permukiman dan


infrastruktur di Kota Medan, dapat disimpulkan visi dan Misi Kota Medan dari beberapa
dokumen rencana pembangunan adalah sebagai berikut :
Tabel 2.1
Visi Kota Medan

Laporan Antara II-47


Strategi Pengembangan Permukiman dan Infrastruktur Perkotaan (SPPIP)
Kota Medan

Tabel
Identifikasi kebijakan permukiman dan Infrastruktur Kota Medan

Laporan Antara II-48


Strategi Pengembangan Permukiman dan Infrastruktur Perkotaan (SPPIP)
Kota Medan

Tabel 2.2

1.
Visi dan Misi Kota Medan

VISI MISI

 Mewujudkan perekonomian yang tangguh dan


dinamis, berdaya saing secara internasional.

 Menjadikan Kota Medan sebagai pintu gerbang


Kota Metropolitan yang
internasional bagian barat Indonesia.
berdaya saing, melayani,
berkesejahteraan,  Menjadi pusat perekonomian di bagian barat Asean

berbudaya dan (termasuk didalamnya IMT-GT (Indonesia Malaysia

berkelanjutan Thailand-growth triangle).


 Mewujudkan tata pemerintahan yang baik dengan
birokrasi yang lebih efisien, efektif, kreatif, inovatif
dan responsif

 Penataan kota yang ramah lingkungan berdasarkan


prinsip keadilan sosial ekonomi, membangun dan
mengembangkan pendidikan, kesehatan serta budaya
daerah

 Terselenggaranya pemanfaatan ruang Kota Medan


yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan
sesuai dengan daya dukung lingkungan hidup serta
kebijaksanaan pembangunan nasional dan daerah;
 Mengembangkan kawasan perumahan dan
permukiman yang berkelanjutan dan harmonis baik
dari sisi sosial, ekonomi, maupun daya dukung
lingkungan;
 Mewujudkan prasarana dan sarana kota yang
modern, handal, dan berwawasan lingkungan.

Laporan Antara II-49


Tabel 2.3
Isue Strategis, Visi, Misi, kebijakan dan Startegi Pengembangan Kota Medan 2030
VISI MISI KEBIJAKAN
Strategi Pengembangan Permukiman dan Infrastruktur Perkotaan (SPPIP)
Kota Medan
 Mewujudkan perekonomian  Menjadikan Kota Medan sebagai pintu gerbang internasional bagian barat
yang tangguh dan dinamis, Indonesia.
berdaya saing secara
 Menjadi pusat perekonomian di bagian barat Asean (termasuk didalamnya
internasional.
IMT-GT (Indonesia Malaysia Thailand-growth triangle).
(RPJP)
(Mebidangro)

Kota Metropolitan
yang berdaya saing,
melayani,
berkesejahteraan,  Kualitas SDM dan peran
serta masyarakat
berbudaya dan
berkelanjutan  Mewujudkan tata
pemerintahan yang baik
dengan birokrasi yang lebih
efisien, efektif, kreatif,
inovatif dan responsif

(RPJP)

 Penataan kota yang ramah  Peningkatan keterpaduan antarkegiatan budi daya darat dan perairan
lingkungan berdasarkan serta keseimbangan antar bagian wilayah kota sesuai dengan daya
prinsip keadilan sosial tampung dan daya dukung lingkungan;
ekonomi, membangun dan
mengembangkan
pendidikan, kesehatan
serta budaya daerah

 Terselenggaranya
pemanfaatan ruang Kota
Medan yang berkelanjutan
dan berwawasan
lingkungan sesuai dengan
Laporan Antara daya dukung lingkungan II-50
hidup serta kebijaksanaan
pembangunan nasional dan
daerah;
Strategi Pengembangan Permukiman dan Infrastruktur Perkotaan (SPPIP)
Kota Medan

Laporan Antara II-51