Anda di halaman 1dari 29

1

ANALISIS KESULITAN BERDASARKAN KEMAMPUAN


MULTIREPRESENTASI SISWA DALAM

PENYELESAIAN SOAL FISIKA

PROPOSAL TESIS

Diajukan sebagai sakah satu syarat untuk memperoleh

gelar Magister Pendidikan

Oleh

Niken Tri Widayati

0403518004

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA

PASCASARJANA

UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG

TAHUN 2018
2

PROPOSAL TESIS

Disususun untuk memenuhi tugas mata kuliah Penelitian


Kependidikan

Dosen pengampu : 1. Prof. Dr. Ani Rusilowati, M.Pd

2. Dr. Sujarwata, MT

Disusun oleh :

Niken Tri Widayati


NIM. 0403518004

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA

PASCASARJANA

UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG

TAHUN 2018
3

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Sekolah adalah lembaga atau sarana dalam melaksanakan pelayanan
belajar atau proses pendidikan. Sebagai organisasi pendidikan formal, sekolah
memiliki tanggungjawab dalam meningkatkan mutu pendidikan.
Penyelenggaraan satuan pendidikan secara baik, tertata dan sitematis hingga
proses yang terjadi di dalamnya dapat menjadi suatu sumbangan besar bagi
kehidupan social masyarakat.
Sekolah sebagai suatu institusi yang melaksanakan proses pendidikan
dalam tatanan mikro menempati posisi penting, karena di lembaga ilmiah
setiap anggota masyarakat dalam hal ini siwa dapat mengikuti proses
pendidikan dengan tujuan membekali mereka dengan berbagi ilmu dan
pengetahuan sehingga menjadi manusia yang berkualitas sesuai dengan tujuan
pendidikan nasional yang tertuang dalam UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang
Sistem Pendidikan Nasional, dikatakan bahwa: “Pendidikan nasional berfungsi
mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa
yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan
untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang
berimann dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat
berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis
serta bertanggung jawab.”
Pendidikan mempunyai arti penting dalam kehidupan. Salah satu
cabang ilmu pengetahuan yang dipelajari dalam proses pendidikan adalah
Fisika. Fisika merupakan salah satu mata pelajaran dari bidang Ilmu
Pengetahuan Alam (IPA) atau sains yang diajarkan di sekolah menengah di
Indonesia. Checkly (2010) mengemukakan bahwa Fisika merupakan mata
pelajaran yang penting dan patut dikuasai oleh pelajar pada era kemajuan
teknologi dan informasi saat ini. Elwan (2013) menyatakan bahwa sebagian
4

dari sains, tujuan mata pelajaran Fisika adalah untuk meningkatkan


keterampilan proses sains, keterampilan observasi, kemampuan melakukan
analisis, keterampilan berpikir tinggi, dan keterampilan berpikir tinggi. Dengan
demikian, penguasaan terhadap sains Fisika merupakan sesuatu yang tidak
dapat dihindari oleh siswa dalam proses pendidikan pembelajaran (Ukoh,
2012) .
Derliana & Afriani (2016) menyatakan bahwa kegiatan pembelajaran
sains yang dilakukan sesuai dengan hakikat sains, akan memberikan makna
pada proses pembelajaran sains itu sendiri. Dalam pembelajaran sains, siswa
tidak hanya mempelajari sejumlah teori, dan prinsip, tetapi juga
menganalisisbagaimana cara memperoleh fakta dan prinsip tersebut.
Pembelajaran sains juga mampu membuat siswa memiliki kemampuan untuk
mengkonstruksi pengetahuannya sendiri, menggeneralisasikan dan mengaitkan
konsep, menganalisis dan menajwab pertanyaan.
Siswa yang mampu mencapai hasil belajar dengan baik merupakan
tujuan utama dalam proses pendidikan, sedangkan yang tidak mencapai
keberhasilan diduga disebabkan karena salah satu factor yaitu siswa mengalami
kesulitan dalam belajar. Syah (2007:184) mengungkapkan bahwa kesulitan
belajar merupakan suatu kondisi dalam proses belajar yang ditandai oleh
adanya hambatan-hambatan tertentu untuk mencapai hasil belajar. Syah (2007:
184) mengungkapkan bahwa kesulitan belajar merupakan suatu kondisi dalam
proses belajar yang ditandai oleh adanya hambatan-hambatan tertentu untuk
mencapai hasil belajar. Pada proses pembelajaran yang dilakukan, siswa
cenderung sulit untuk memecahkan masalah khususnya mata pelajaran Fisika
karena pelajaran ini menuntut siswa untuk berpikir kritis dan sistematis dalam
penyelesaiannya. Kohl & Noah (2005) menyimpulkan bahwa keberhasilan
mahasiswa dalam memecahkan masalah Fisika dipengaruhi oleh format
representasi-representasi itu. Representasi yang dimunculkan oleh siswa
merupakan ungkapan dari gagasan-gagasan atau ide-ide matematis yang
ditampilkan siswa dalam upaya untuk memecahkan masalah.
5

Hasil penelitian Prabowo (1992) mengungkapkan kelemahan-


kelemahan dalam pembelajaran siswa untuk menguasai konsep dan
membudayakan sikap ilmiah adalah : a). kesalahan guru dalam visualisasi
konsep dan kurangnya penjelasan arti fisis dari setiap perumusan matematik
dalam kegiatan belajar mengajar Fisika; b). belum tersedianya media cetak
tentang pokok bahasan yang diajarkan dan dibuat oleh guru; c). tidak
digunakannya kerja kelompok oleh guru sebagai pengalaman belajar siswa; d).
digunakannya oleh guru konstruksi soal yang memacu pada linieritas
taksonomi Bloom tanpa ditunjang keterampilan proses; e). guru belum
menyadari dan memberlakukan evaluasi kemajuan belajar siswa sebagai
kegiatan penelitian; f). kegiatan demostrasi (peragaan) dan pemecahan masalah
yang tidak memenuhi syarat yang dilakukan oleh guru dengan konsentrasi pada
pemenuhan target materi; g). belum diantisipasi lingkungan belajar oleh guru
dalam menentukan strategi belajar mengajar. Kelemahan tersebut sebagian
besar berkaitan dengan proses pembelajaran fisika yang dilakukan oleh guru.
Oleh karena itu diperlukan inovasi dalam proses pembelajaran, misalnya
media, metode, model, strategi, maupun pendekatan pembelajaran, dan salah
satunya melalui penggunaan strategi representasi.
Siswa diharapkan mempunyai kemampuan untuk mempresentasikan
suatu masalah baik dalam bentuk verbal, gambar, matematis dan grafis atau
yang dikenal dengan multirepresentasi (Mahardika, 2012). Hal ini siswa harus
memiliki kemampuan berpikir, kemampuan bekerja, kemampuan bersikap
ilmiah dan kemampuan memecahkan masalah, sehingga siswa diharapkan
memiliki kemampuan untuk mempresentasikan suatu informasi dengan banyak
cara.
Representasi adalah suatu konfigurasi (bentuk atau susunan) yang
dapat menggambarkan, mewakili atau melambangkan sesuatu dalam suatu cara
(Godin, 2002). Representasi merupakan sesuatu yang mewakili,
menggambarkan atau menyimpulkan obyek atau proses (Waldrip, 2008).
Representasi dapat dilakukan melalui berbagai cara antara lain verbal, gambar,
grafik dan matematik (Prain dan Waldrip, 2007).
6

Beberapa penelitian terdahulu menyelidiki kemampuan siswa dalam


memecahkan soal fisika (Sujarwanto,2014) menemukan sebagian besar siswa
membuat kesalahan dalam proses penyelesaian masalah dikarenakan tidak
mampu melibatkan multirepresentasi dengan baik. Sujarwanto (2014)
lmenemukan sejumlah siswa kesulitan membuat representasi fisis, sementara
Rahman (2014) menemukan sejumlah siswa tidak mampu
mengkomunikasikan dengan baik konsep fisika dalam bentrtuk verbal. Haratua
dan Judtanto (2016) menemukan banyak siswa sukses menyelesaikan masalah
yang didalami dengan proses visualisasi menggunakan sketsa atau diagram
daripada siswa yang langsung pada penyelesaian matematis. Maka,
berdasarkan temuan-temuan ini tampak keberhasilanm siswa dalam
memecahkan masalah fisika perlu diiringi dengan kesuksesan memahami dan
menggunakan multireprsentasi.
Peneliti melakukan obdervasi di lapangan dengan melakukan
wawancara dengan salah satu guru pengampu Fisika, tepatnya guru yang
mengajar di kelas XI SMA Negeri 1 Pati. Berdasarkan hasil wawancara
diketahui bahwa siswa di kelas XI SMA tersebut memperoleh nilai Fisika yang
rata-rata di bawah ketuntasan yang telah ditetapkan oleh sekolah,di mana nilai
Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) untuk mata pelajaran Fisika adalah 75.
Hal ini diakibatkan karena beberapa siswa masih mengalami kesulitan dalam
menyelesaikan permasalahan fisika.
Kemampuan memecahkan masalah seorang individu sangat
dipengaruhi oleh kemampuan berpikirnya (Judiyanto, 2003). Metode yang
dilakukan oleh setiap siswa dalam memecahkan masalah berbeda-beda,
walaupun masalah yang dihadapi sama. Hal ini dikarenakan perbedaan
karakteristik yang dimiliki siswa antara lain ditemukan ada siswa yang pandai
dan yang tidak pandai. Siswa pandai akan lebih mudah menerima materi
pembelajaran dibandingkan dengan siswa yang kurang pandai dan yang tidak
pandai. Untuk itu dalam penelitian ini perlu dilihat pola pemecahan masalah
siswa dan kecenderungan letak kesulitan yang dialami berdasarkan
kemampuan multirepresentasi siswa dalam menyelesaikan soal fisika.
7

1.2 Identifikasi Masalah


Berdasarkan uraian latar belakang masalah di atas, maka masalah
yang muncul adalah siswa masih mengalami kesulitan dalam pemecahan
masalah saat menyelesaikan soal Fisika.

1.3 Cakupan Masalah


Perlu adanya batasan masalah dengan tujuan memfokuskan perhatian
pada objek penelitian sehingga pengkajian dapat terkaji dengan jelas, maka
diperlukan cakupan masalah sebagai berikut :
a. Penelitian ini dibatasi pada analisis kesulitan berdasarkan kemampuan multi
representasi siswa dalam menyelesaikan soal Fisika SMA.
b. Instrumen yang digunakan berupa soal berupa essay dengan materi usaha
dan energy.

1.4 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, maka dapat dirumuskan
masalah sebagai berikut :
a. Bagaimana kecenderungan letak kesulitan menyelesaikan soal fisika
berdasarkan kemampuan multipresentasi siswa?
b. Bagaimana pola pemecahan masalah siswa berdasarkan kesulitan dalam
menyelesaikan soal Fisika?
8

BAB II
KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA TEORITIS, DAN
KERANGKA BERPIKIR

2.1 Kajian Pustaka

Kajian yang relevan dengan penelitian ini adalah penelitian oleh


Sarwanto (2013) yang melakukan penelitiannya dengan mengidentifikasi factor
yang mempengaruho representasi mahasiswa dan pengaruh kemampuan
representasi mahasiswa terhadap performance pada mahasiswa. Bahwa
mahasiswa pada aspek komunikasi verbal dan representai visual mengalami
kelemahan, karena pengalaman belajar sebelumnya guru dalam mengajar secara
monoton diawali dengan memberikan definisi, menjelaskan rumus, memberikan
contoh soal, mengerjakan latihan dan terakhir ulangan.
Harper (2006) melakukan penelitian dengan mengklasifikasikan
mahasiswa ke dalam dua kategori, yaitu mahasiswa terampil dan kurang
terampil dalam memecahkan masalah Fisika. Mahasiswa yang terampil
memandang bahwa pemecahan masalah merupakan sebuah proses dan
mahasiswa yang kurang terampil memandang pemecahan masalah sebagai tugas
mengingat kembali.
Penelitian yang dilakukan oleh Hidayati & Widodo (2015) adalah
menggunakan 3 siswa sebagai subjek berdasarkan kategori kemampuan.
Penelitian Fitria (2013) menunjukkan untuk menurunkan kesulitan
siswa dalam mengerjakan soal secara optimal diperlukan kemampuan
multirepresentasi yang harus dimiliki setiap siswa. Kemampuan
merepresentasikan proses fisika dalam beberapa representasi dapat membantu
siswa menyelesaikan masalah-masalah fisika yang dianggap sulit. Oleh karena
itu, penguasaan konten fisika secara benar dapat dilihat dari penguasaan fisika
9

secara multirepresentasi, yaitu dalam representasi verbal, matematika, gambar


dan grafik
Aminudin (2013) pada penelitiannya menjelaskan bahwa sebagian
besar siswa berada dalam tingkat cukup konsisten baik konsitensi repreentasi
maupun konsistensi ilmiah. Siswa tidak konsisten, hal ini disebabkan siswa
belum terbiasa menghadapi soal yang representasi berbeda dengan konsep yang
sama, karena siswa hanya terbiasa dengan soal yang bentuknya verbal atau
matematis. Dalam pembelajaran sebagian besar siswa cenderung masih
canggung untuk aktif hanya dengan mendekati siswa-siswa yang aktif dalam
kelompoknya. Dan kebanyakan siswa kebingungan saat menyelesaikan soal
yang bentuk matematis, karena siswa terbiasa menggunakan kalkulator.
Penelitian yang dilakukan oleh Linuwih & Setiawan (2010)
memperoleh salah satu penyebab penguasaan Fisika yang lemah adalah karena
siswa hanya belajar pada pola permukaan, yaitu mendengarkan ceramah
pengajar dan berlatih cara mengerjakan latihan soal tanpa memahami persoalan
secara detail.
Berdasarkan beberapa hasil penelitian di atas didapatkan bahwa
pemahaman siswa mengenai suatu materi pembelajaran dapat mempengaruhi
bagaimana siswa tersebut memecahkan masalah sehingga kecenderungan letak
kesulitan yang dialami siswa dapat diketahui berdasarkan kemampuan
multirepresentasinya.

2.2 Kerangka Teoritis


2.2.1 Pemecahan Masalah
2.2.1.1 Definisi Pemecahan Masalah
Menurut Hartanto (1996: 130), masalah adalah soal atau
suatu hal yang harus dipecahkan. Masalah adalah suatu kendala
atau persoalan yang harus dipecahkan dengan kata lain masalah
merupakan kesenjangan antara kenyataan dengan suatu yang
diharapkan dengan baik, agar tercapai tujuan dengan hasil yang
maksimal.
10

Pemecahan masalah oleh Evans didefinisikan sebagai


suatu aktivitas yang berhubungan dengan pemilihan jalan keluar
atau cara yang cocok bagi tindakan dan pengubahan kondisi
sekarang (present state) menuju kepada situasi yang diharapkan
(future state atau desire goal) (Suharman, 2002:289).
Kemampuan pemecahan masalah menurut etimologi
atau bahasa dalam kamus psikologi Chaplin diartikan sebagai
semua perbuatan dimana individu melakukan interaksi dengan
lingkungan sekitarnya dengan tujuan menyelesaikan suatu tugas
atau masalah (Kartono, 1987: 440).
Kemampuan pemecahan masalah yang baik adalah
mampu mengenal karakteristik masalah yang sedang dihadapi
dan menemukan inti dari masalah tersebut. Hal ini sesuai dengan
pendapat Anderson (dalam Kurniasih, 2008: 5) bahwa individu
yang kurang mampu dalam memecahkan masalah umumnya
dikarenakan mengalami kesulitan untuk menemukan inti
masalah. Sebaliknya, individu dengan kemampuan yang baik
dalam memecahkan masalah cenderung lebih mudah menemukan
inti masalah, peka terhadap permasalahan yang dihadapi, dan
aktif dalam memecahkan maalahnya. Apabila individu terbiasa
menghadapi permasalahan, individu akan menjadi peka terhadap
permasalahan yang muncul dan aktif memecahkannya.
Kemampuan seseorang dalam pemecahan masalah
sangat ddiperlukan dimanapun individu berada sebagaimana
pendapat Dina Diana (2000: 24) mendefinisikan kemampuan
pemecahan masalah merupakan suatu proses yang dibutuhkan
sepanjang waktu, baik dalam lingkungan keluarga, sekolah,
maupun masyarakat. Kunci ini dapat dipakai sebagai kunci dalam
menangani reaksi seseorang terhadap stress maupun hambatan-
hambatan.
11

Funke & Frech (dalam Astutin 2005: 47) berpendapat


bahwa factor internal yang mempengaruhi kemampuan
pemecahan masalah seseorang individu adalah pengalaman yang
meliputi pengetahuan, dan strategi evaluasi. Lebih lanjut Reed
(dalam Kurniasih, 2008: 6) mengatakan bahwa kemampuan
memecahkan masalah bergantung pada keluasan mencari dan
bagaimana remaja tersebut memiliki pemecahan masalah yang
dahulu digunakan. Pengalaman dalam memecahkan masalah
sangat berguna dalam menghadapi masalah yang hamper sama,
maka sangat penting untuk menyimpan pengalaman tersebut ke
dalam memori, cara untuk menyimpan ke dalam memori adalah
dengan memberikan kesan positif terhadap suatu peristiwa atau
permasalahan.
Pemecahan masalah dibangun oleh konsep-konsep
pemecahan dan pemecahan masalah. Masalah (problem) adalah
suatu situasi yang tak jelas jalan pemecahannya yang
mengkonfrontasikan individu atau kelompok untuk menemukan
jawaban. Pemecahan masalah (problem solving) adalah upaya
individu atau kelompok untuk menemukan jawaban berdasarkan
pemahaman yang telah dimiliki sebelumnya dalam rangka
memenuho tuntutan situasi yang tak lumrah (Santyasa: 4). Jadi
aktivitas pemecahan masalah diawali dengan konfrontasi dan
berakhir apabila sebuah jawaban telah diperoleh sesuai dengan
kondisi masalah.
2.2.1.2 Tahap Pemecahan Masalah
Adapun langkah-langkah dalam siklus pemecahan
masalah antara lain sebagai berikut (Suharman, 2002:289) :
a. Pemahaman Masalah
Untuk memperoleh pemecahan masalah yang benar maka
seseorang harus memahami dan mengenali gambaran pokok
persoalan secara jelas. Lama waktu yang dibutuhkan untuk
12

mengerti permasalahan berbeda-beda bagi setiap orang.


Perbedaan ini tergantung pada hakekat permasalahan terutama
dalam penampakannya, informasi di sekitar persoalan, dan
keakraban seseorang terhadap permasalahan.
b. Penemuan berbagai hipotesis mengenai cara permasalahan,
dan memilih salah satu di antara hipotesis-hipotesis itu.
Setelah memahami yang dihadapi kemudian seseorang
memilih dan menentukan hipotesis berdasarkan dari hakekat
permasalahan yang terjadi.
c. Menguji hipotesis yang dipilih
Agar diperoleh pemilihan hipotesis yang terbaik maka
selanjutnya seseorang harus menguji dari beberapa hipotesis
yang ada kemudian dipilih untuk mendapatkan hipotesis
terbaik terhadap persoalan tersebut.
d. Mengevaluasi hasilnya
Yaitu meliputi pengecekan fakta, baik yang mennguatkan
maupun yang melemahkan dari solusi masalah serta
mengidentifikasi solusi yang terbaik.
2.2.1.3.Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kemampuan Pemecahan
Masalah
Menurut Charles dan Laster dalam Kaur Brinderject, ada
tiga factor yang mempengaruhi permasalahan seseorang :
a. Factor pengalaman, baik lingkungan maupun personal seperti
usia, isi pengetahuan, pengetahuan tentang strategi
penyelesaian, pengetahuan tentang konteks masalah dan isi
masalah.
b. Factor efektif, misalnya minat, motivasi, tekanan kecemasan,
toleransi terhadap ambiguinitas, ketahanan dan kesabaran.
c. Factor kognitif, seperti kemampuan membaca, berwawasan
(spatial ability), kemampuan menganalisis, keterampilan
menghitung dan sebaginya.
13

2.2.2 Kemampuan Reprentasi


Prain dan Waldrip (Ulfarina, 2011) mengemukakan bahwa
representasi berarti mempresentasi ulang konsep yang sama dengan
format yang berbeda, diantaranya verbal, gambar, dan grafik. Menurut
Jones dan Knuth (Hudiono, 2005), representasi adalah sebuah model atau
bentuk alternative dari situasi masalah atau aspek dari situasi masalah
yang digunakan untuk menemukan solusi. Sebagai contoh, masalah dapat
dipresentasikan melalui objek-objek, gambar-gambar, kata-kata atau
symbol-simbol Fisika.
Menurut Rosengrant, Etkina, dan Heuvelen (Ulfarina, 2011)
representasi juga merupakan sesuatu yang mewakili, menggambarkan
atau menyimbolkan objek dan atau proses. Dengan demikian dapat
disimpulkan bahwa multi representasi adalah suatu cara menyatakan
suatu konsep melalui berbagai cara dan bentuk.
Multirepresentasi memiliki tiga fungsi utama sebagai
pelengkap, pembatas interpretasi, dan pembangun pemahaman
(Ainsworth, 1999)
a. Multirepresentasi digunakan untuk memberikan representasi yang
berisi informasi pelengkap atau membantu melengkapi proses kognitif
dalam memecahkan soal fisika. Selain itu juga penjelasan secara
verbal melalui teks akan menjadi lebih mudah dipahami ketika
dilengkapi gambar atau grafik yang relevan dengan informasi yang
diberikan. Multirepresentasi berfungsi untuk menyampaikan
informasi dalam bentuk yang berbeda dan digunakan untuk
melengkapi suatu representasi yang tidak mencukupi untuk
menyampaikan informasi atau mungkin terlalu sulit bagi siswa untuk
mengartikan representasi tersebut.
b. Suatu representasi digunakan untuk membatasi kemungkinan
kesalahan menginterpretasi dalam menggunakan representasi yang
14

lain. Hal ini dapat dicapai dengan memanfaatkan representasi yang


biasa dikenal untuk mendukung interpretasi dan representasi yang
kurang biasa dikenal atau lebih abstrak dan menggali sifat-sifat
inheren satu representasi untuk membatasi interpretasi representasi
kedua.
c. Multirepresentasi dapat digunakan untuk mendorong siswa
membangun pemahaman terhadap situasi secara mendalam.
Multirepresentasi dapat digunakan untuk meningkatkan abstraksi,
membantu generalisasi dan membangun hubungan antar representasi.
Multirepresentasi untuk membantu generalisasi antara lain
menggunkan berbagai bentuk representasi untuk menyediakan
informasi dalam memecahkan soal dan mempresentasikan konsep
yang sama dengan menggunakan representasi yang berbeda. Dan
membangun hubungan antar representasi digunakan untuk
meningkatkan abstraksi dan membantu genralisasi.
Multirepresentasi juga untuk menggali perbedaan-perbedaan
dalam suatu informasi yang dinyatakan oleh masing-masing representasi.
Pada setiap kasus terdapat dua sub-bagian pada kategori ini :
a. Dimana setiap representasi menyimbolkan aspek-aspek yang unik
dari suatu konsep yang menyajikan informasi yang berbeda.
b. Dimana terdapat tingkat informasi yang berlebihan dibagi ole dua
informasi yang sma-sama unik.

Ada beberapa alasan pentingnya menggunakan multi representasi :


a. Multi kecerdasan (multiple intelligences)
Menurut teori multi kecerdasan orang dapat memiliki kecerdasan yang
berbeda-beda. Oleh karena itu, siswa belajar dengan cara yang berbeda-
beda sesuai dengan kecerdaannya. Representasi yang berbeda-beda
memberikan kesempatan belajar yang optimal bagi setiap jenis kecerdasan.
b. Visualisasi bagi otak
15

Kuantitas dan konsep-konsep bersifat fisik seringkali daoat divisualisasi


dan dipahami lebih baik dengan menggunakan representasi konkret.

c. Membantu mengkonstruksi representasi tipe lain


Beberapa representasi konkret membantu dalam mengkonstruksi
representasi yang lebih abstrak.
d. Beberapa representasi bermanfaat bagi penalaran kualitatif
Penalaran kualititatif sering terbantu dengan menggunakan representasi
yang konkret.
e. Representasi matematik yang abstrak digunakan untuk oenalaran kualitatif
dimana representasi matematik dapat digunakan untuk mencari jawaban
kuantitatif terhadap soal.
Dalam fisika ada beberapa format representasi yang dapat dimunculkan.
Waldrip (Maahardika, 2011) mengatakan bahwa penyajian representasi
dapat dikelompokkan secar khusus seperti gambar, model, table, grafik dan
diagram.
a. Format verbal, untuk memberikan definisi dari suatu konsep, verbal adalah
suatu cara yang tepat untuk digunakan.
b. Format matematik, untuk menyelesaikan persoalan kuantitatif,
representasi matematik sangat diperlukan. Namun penggunaan
representasi matematik ini akan banyak ditentukan keberhasilannya oleh
penggunaan representasi kualitatif yang baik, pada proses tersebutlah
tampak bahwa siswa tidak seharusnya menghapalkan semua rumus-rumus
matematik.
c. Gambar, suatu konsep akan menjadi jelas ketika dapat direpresentasikan
dalam bentuk gambar. Gambar dapat membantu memvisualisasikan
sesuatu yang masih bersifat abstrak.
d. Format grafik, penjelasan yang panjang terhadap suatu konsep dapat dapat
direpreentasikan dalam suatu grafik. Oleh karena itu kemampuan dalam
membuat dan membaca grafik adalah suatu keterampilan yang sangat
dipelukan.
16

2.2.3 Kesulitan Belajar


2.2.3.1 Pengertian Belajar
Terdapat beberapa pengertian belajar menurut
beberapa ahli, diantaranya: Asri (Irham & Wahyunu, 2013: 117)
belajar merupakan suatu proses internal yang mencakup
ingatan, reteni, pengolahan informasi. Selain itu RS Chauhan
(Prawira, 2011: 227) mengemukakan bahwa belajar adalah
membawa perubahan-perubahan dalam tingkah laku organisme
(learning is a relatedly enduring change in behavior which is a
function of prior behviour, usually called practice).
Sedangkan menurut Suryabrata, definisi belajar selalu
mencakup beberapa point penting sebagai berikut :
a. Proses belajar selalu membawa perubahan perilaku, baik
kognitif, afektif maupun psikomotorik.
b. Pada dasarnya yang dimaksud perubahan tersebut pokonya
adalah proses mendapatkan kecakapan atau keterampilan
baru.
c. Adanya perubahan tersebut karena dilakukan secara sadar
dan penuh usaha.
Jadi dapat disimpulkan bahawa belajar adalah proses
perubahan yang terjadi pada individu yang mencakup
perubahan perilaku yang dapat ditunjukkan dalam berbagai
bentuk, seperti perubahan pengetahuan, keterampilan, dan
pemahamannya terhadap sesuatu yang dilakukan secara sadar
dan penuh usaha.
2.2.3.2 Definisi Kesulitan Belajar
17

Kesulitan belajar merupakan terjemahan dari istilah


bahasa inggris learning disability. Kesulitan belajar merupakan
suatu konsep multidisipliner yang digunakan di lapangan ilmu
pendidikan, psikologi, maupun ilmu kedokteran. Berikut ini
definisi kesulitan belajar menurut para ahli.
Rumini dkk (Irham & Wiyani, 2013: 254)
mengemukakan bahwa kesulitan belajar merupakan kondisi saat
siswa mengalami hambatan-hambatan tertentu untuk mengikuti
proses pembelajaran dan mencapai hasil belajar secara optimal.
Kesilitan belajar adalah hal-hal atau gangguan yang
mengakibatkan kegagalan atau setidaknya menjadi gangguan
yang dapat membuat hambatan kemajuan belajar (Hamalik,
1983:112).
Sejalan dengan pendapat di atas menurut Blassic &
Jones (Irham & Wiyani, 2013: 254), kesulitan belajar yang
dialami siswa menunjukkan adanya kesenjangan atau jarak antara
prestasi akademik yang diharapkan dengan prestasi akademik
yang dicapai oleh siswa pada kenyataannya (prestasi actual).
Berdasarkan pemaparan diatas dapat disimpulkan bahwa
kesulitan belajar merupakan hambatan yang dialami oleh siswa
dalam proses belajar yang menyebabkan siswa mendapatkan hasil
yang kurang optimal dalam proses belajarnya.

2.2.3.3 Klasifikasi Kesulitan Belajar


Menurut Abdurrahman (2003:11) secara garis besar
kesulitan belajar dapat diklasifikasikan kedalam dua kelompok
yaitu :
a. Kesulitan belajar yang berhubungan dengan perkembangan (
developmental learning disabilities ) yaitu kesulitan belajar
yang berhubungan dengan perkembangan mencakup
gangguan motorik dan persepsi, kesulitan belajar bahasa dan
18

komunikasi, dan kesulitan belajar dalam penyesuaian


perilaku sosial.
b. Kesulitan belajar akademik ( academic learning disabilities
) yaitu kesulitan belajar yang mencakup adanya kegagalan-
kegagalan pencapaian prestasi akademik yang sesuai dengan
kapasitas yang diharapkan. Kegagalan-kegagalan tersebut
mencakup penguasaan keterampilan dalam membaca,
menulis, atau matematika.
Kesulitan yang dikaji dalam penelitian ini adalah
kesulitan belajar akademik saja yaitu tentang prestasi atau
kemampuan akademik dimana dalam hal ini siswa memiliki
intelegensi tidak dibawah rata-rata namun mendapatkan prestasi
belajar rendah.

2.2.3.4 Faktor-faktor Penyebab Kesulitan Belajar


Ahmadi dan Supriyono (Irham & Wiyani, 2013:264-
265), menjelaskan faktor-faktor penyebab kesulitan belajar
dapat digolongkan kedalam dua golongan yaitu berikut ini:
a. Faktor intern (factor dari dalam diri manusia itu snediri) yang
meliputi :
1. Factor fisiologi
Factor fisiologis yang dapat menyebabkan munculnya
kesulitan belajar pada siswa seperti kondisi siswa yang
sedang sakit, kurang sehat, adanya kelemahan atau cacat
tubuh dan sebagainya.
2. Factor psikologi
Faktor psikologi siswa yang dapat menyebabkan kesulitan
belajar meliputi tingkat intelegensi pada umumnya
rendah, bakat terhadap mata pelajaran rendah, minat
belajar yang kurang, motivasi yang rendah, dan kondisi
kesehatan mental yang kurang baik.
19

b. Faktor Ekstern (factor dari luar manusia) meliputi :


1. Faktor-faktor non-sosial.
Faktor non social yang dapat menyebabkan kesulitan
belajar pada siswa dapat berupa peralatan belajar atau
media belajar yang kurang baik atau bahkan kurang
lengkap, kondisi ruang belajar atau gedung yang kurang
layak, kurikulum yang sangat sulit dijabarkan oleh guru
dan dikuasai oleh siswa, waktu pelaksanaan proses
pembelajaran yang kurang disiplin, dan sebagainya.
2. Faktor-faktor sosial.
Faktor-faktor sosial yang juga dapat menyebabkan
munculnya permasalahan pada siswa seperti faktor
keluarga, faktor sekolah, teman bermain, dan lingkungan
masyarakat yang lebih luas.
Faktor sosial lainnya yang dapat menyebabkan
kesulitan belajar pada siswa adalah faktor guru. Menurut
Ahamadi dan Supriyono ( Irham dan Wiyani, 2013:266),
kondisi guru yang dapat menjadi penyebab kesulitan belajar
pada siswa adalah sebagai berikut:
a. Guru yang kurang mampu dalam menentukan mengampu
mata pelajaran dan pemilihan metode pembelajaran yang
akan digunakan
b. Pola hubungan guru dengan siswa yang kurang baik, seperti
suka marah, tidak pernah senyum, sombong, tidak pandai
menerangkan, pelit, dsb.
c. Guru menuntut dan menetapkan standar keberhasilan belajar
yang terlalu tinggi diatas kemampuan siswa secara umum.
Berdasarkan pendapat para ahli dapat disimpulkan
bahwa faktor penyebab kesulitan belajar dibedakan menjadi 2
20

yaitu internal dan eksternal. Faktor kesulitan belajar internal


disebabkan dari dalam siswa sendiri sedangkan faktor eksternal
berasal dari luar dirinya seperti keluarga, lingkungan
masyarakat, teman, dan sekolah. Faktor tersebut adalah
penghambat siswa untuk mendapatkan hasil belajar yang baik
yang mengakibatkan siswa memperoleh prestasi belajar yang
rendah.

2.3. Kerangka Berpikir


Kerangka penelitian dibentuk atas dasar kompetensi inti SMA, yaitu
menggunakan kemampuan pengetahuan dan keterampilan siswa dalam
memecahkan masalah Fisika. Penelitian ini berusaha menjelaskan bagaimana
siswa memecahkan suatu masalah menggunakan konsep yang dimiliki di mana
hasil studi lapangan diperoleh bahwa beberapa siswa kelas XI pada sekolah
tertentu masih mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soal fisika dalam
beberapa kemampuan representasi.
21

Hasil studi lapangan diperoleh Hal ini berarti beberapa siswa


diperoleh bahwa beberapa masih mengalami kesulitan
siswa kelas XI dalam suatu dalam menyelesaikan soal
sekolahan memperoleh nilai fisika dalam beberapa
fisika di bawah nilai KKM. representasi

Mengidentifikasi kecenderungan
letak kesulitan menyelesaikan
soal fisika berdasarkan
kemampuan multirepresentasi
siswa

Mengetahui pola pemecahan


masalah dalam menyelesaikan
soal fisika berdasarkan kesulitan
yang dialami siswa

Analisis Data

1. Skor hasil tes kemampuan


Profil kemampuam
multirepresentasi
multirepresentasi siswa
2. Hasil tes wawancara
22

Gambar 2.1 Kerangka Berpikir

BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Desain Penelitian


Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode
penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif dilakukan dalm keadaan normal/
wajar (natural setting) serta data yang dikumpulkan bersifat kualitatif.
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif analitik.
Data yang diperoleh tidak dituangkan dalam bentuk angka statistic maupun
bilangan melainkan dalam bentuk deskripsi berupa uraian naratif yang
menggambarkan situasi yang diteliti.

3.2 Latar Penelitian


Penelitian ini berusaha mengungkap kesulitan siswa berdasarkan pada
kemampuan multirepresentasinya. Penelitian ini diawali dengan studi teoritis
yang bertujuan untuk membangun arah dan kerangka penelitian melalui
penyusunan instrumen penelitian. Asumsi yang digunkan, yaitu bahwa proses
berpikir manusi tidak dapat diungkap seluruhnya sehingga yang dapat
diketahui adalah respons otak terhadap suatu rangsangan yang diberikan.
Rangsangan yang diberikan berupa tes essai dan responsnya berupa jawabn tes
serta cara menjawabnya. Renspons inilah yang menjadi data penelitian.
Untuk menentukan potensi dan taraf kemampuan peserta didik
peneliti memberikan tes kepada peserta didik untuk mengukur kemampuan
koneksi matematika peserta didik tersebut. Untuk itu ada beberapa tahapan
yang peneliti lakuakan, yaitu:(1). Perangkat tes yang peneliti kembangkan
berupa tes uraian, agar dapat mengetahui sejauh mana kemampuan koneksi
matematik peserta didik, sehingga dapat teridentifikasi masalah atau kesulitan
peserta didik. Soal yang diberikan dijabarkan berdasarkan pada tiga hal pokok
yang harus dikuasai peserta didik dalam mengembangkan kemampuan koneksi
matematikanya; (2). Sebelum dilakukan ujicoba pemberian tes pada peserta
23

didik, terlebih dahulu dilakukan validitas tes. Suatu tes dapat dikatakan valid
apabila tes tersebut dengan tepat, benar, dan sahih dapat mengukur apa yang
akan diukur (Asnelly:2006,60).

3.3 Fokus Penelitian


Batasan masalah dalam penelitian kualitatif disebut dengan focus
penelitian yang berisi pokok masalah yang masih bersifat umum (Sugiyono,
2010: 286). Fokus dalam penelitian ini adalah bagaimanan kemampuan
multirepresentasi siswa dalam menyelesaikan soal fisika yang kemudian
dianalisis kesulitannya.

3.4 Data dan Sumber Data Penelitian


Sumber data penelitian menyatakan darimana data penelitian berawal.
Sumber data dalam penelitian ini adalah :
a. Responden
Responden adalah orang yang memberikan informasi dan merupakan
sumber data utama dalam penelitian. Responden dalam penelitian ini adalah
semua siswa pada jenjang kelas XI SMA Negeri 1 Pati.
b. Dokumen
Dokumen dalam hal ini adalah buku-buku yang memiliki hubungan dengan
masalah yang akan diteliti, jurnal, majalah, dokumentasi pribadi, dokumen
resmi atau laporan penelitian terdahulu. Hal ini dimaksudkan untuk
mempertajam metodologi, memperdalam kajian teoritis dan memperoleh
informasi mengenai penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti lain.

3.5 Intrumen dan Teknik Pengumpulan Data


Pengumpulan data dilaksanakan untuk mendapatkan informasi dalam
penelitian. Pengumpulan data dilakukan melalui :
a. Observasi
Peneliti langsung ke lapangan untuk mengamati perilaku dan aktivitas
individu-individu di lokasi peneltian (Cresswell, 2010: 267)
24

b. Wawancara
Wawancara dilaksanakan secara berhadap-hadapan dengan partisipam atau
terlibat dalam kelompok interview tertentu yang terdiri atas enam sampai
delapan partisipan perkelompok (Cresswell, 2016: 267). Dalam melakukan
wawancara, selain harus membawa instrument sebagai pedoman untuk
wawancara, dapat digunakan tape recorder, gambar, brosur dan material lain
yang dapat membantu pelaksanaan wawancara (Sugiyono, 2010: 319).
Wawancara dilakukan untuk melihat bagaimana pola pikir kemampuan
multirepresentasi siswa dalam menyelesaikan soal pemecahan masalah,
serta mengetahui bagaimana pola kesulitan yang dialami siswa dalam
menyelesaikan soal fisika.
Wawancara yang akan dilaksanakan dalam penelitian ini adalah wawancara
tidak terstruktur yang berifat terbuka. Sugiyono (2015: 320)
mengungkapkan bahwa wawancara tidak terstruktur adalah wawancara
yang bebas dimana peneliti tidak menggunakan pedoman wawancara yang
telah tersusun secara sistematis dan lengkap untuk pengumpulan datanya,
pedoman wawancara yang didgunakan hanya berupa garis besar
permasalahan yang akan ditanyakan.
c. Tes
Tes adalah sederetan pertanyaan atau latihan serta alat lain yang digunakan
untuk mengukur keterampilan, pengetahuan intelegensi, kemampuan atau
bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok (Arikunto, 2010: 193). Tes
yang akan diberikan berupa soal uraian pemecahan masalah dengan bergai
bentuk kemampuan representasi (multirepresentasi), untuk mengetahui
bagaimana kemampuan multirepresentasi yang dimiliki siswa serta
mengidentifikasi pola kesulitan siswa, dlam menyelesaikan soal fisika yang
ditinjau dari hasil kerja siswa.
25

d. Dokumentasi
Dokumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah nilai hasil tes
multirepresentasi yang diberikan ke siswa pada jenjang kelas XI SMA
Negeri 1 Pati. Nilai hasil tes ini digunakan untuk mengkategorikan siswa
ke dalam tiga kategori yaitu tinggi, sedang, rendah.
Dokumentasi akan dilakukan dengan bantuan alat perekan berupa video
maupun kamera pada saat proses wawancara berlangsung. Hal ini
dilakukan agar dapat melihat dan mendengar kembali hasil percakapan
antara peneliti dan subyek penelitian.

3.6 Teknik Keabsahan Data


Validitas data penelitian kualitatif merupakan penerapan prosedur
tertentu sebagai upaya pemeriksaan terhadap akurasi hasil penelitian
(Cresswell, 2010: 285). validitas kualitatif merupakan pemeriksaan terhadap
akurasi hasil penelitian dengan menerapkan prosedur-prosedur tertentu,
sementara reliabilitas kualitatif mengindikasikan bahwa pendekatan yang
digunakan peneliti konsisten jika diterapkan oleh peneliti-peneliti lain. Gibss
sebagaimana yang dikutip oleh Creswell, 2010 (dalam Suryani, 2012) merinci
sejumlah prosedur reliabilitas sebagai berikut:

a. Mengecek hasil transkrip untuk memastikan tidak adanya kesalahan yang


dibuat selama proses transkripsi.
b. Memastikan tidak ada definisi dan makna yang mengambang mengenai
kode-kode selama proses koding. Hal ini dapat dilakukan dengan terus
membandingkan data dengan kode-kode atau dengan menulis catatan
tentang kode-kode dan definisi-definisinya
c. Untuk penelitian yang berbentuk tim, mendiskusikan kode-kode bersama
partner satu tim dalam pertemuan rutin atau sharing analisis.

Peneliti hanya hanya akan menggunakan salah satu yaitu dengan


strategi trianggulasi (trianggualte).Alasan menggunakan satrategi trianggulasi
26

karena pertama strtegi ini mudah terjangkau untuk digunakan peneliti. Kedua
secara praktis, metode ini lebih mudah dipraktekkan untuk memvalidasi data
ini (Suryani, 2012).
Penelitian diukur berdasarkan kemampuan multirepresentasi dengan
cara memeriksa lembar jawaban siswa dengan menggunakan pedoman
penskoran, yang kemudian akan diperoleh nilai rerata pencapaian siswa
peraspek kesulitan. Nilai rerata pencapaiannya siswa per aspek kesulitan dan
hubungannya dengan kriteria ditampilkan table 3.1.
Tabel 3.1 Pedoman Penafsiran Data
Nilai Kriteria
Kesulitan
0-40 Tinggi
41-60 Sedang
61-100 Rendah
Sumber : Aryanti (2013)

Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah


analisis data kualitatif Model Strauss dan Corbin khusus penelitian Grounded
Theory yang terdiri atas tiga jenis pengkodean, yaitu : open coding, axial
coding dan selective coding (Cresswell, 2010). Tahapan analisis data kualitatif
dijelaskan sebagai berikut :

a. Pengkodean terbuka (open coding)


Pengodean terbuka adalah bagian analisis yang berhubungan dengan
penamaan dan pengategorian fenomena melalui pengujian data secara teliti.
Selama pengodean terbuka data dipecah kedalam bagian bagian terpisah,
diuji dengan cermat, dibandingkan persamaan dan perbedaannya serta
diajukan pertanyaan-pertanyaan tentang fenomena sebagaimana tercermin
dalam data.
b. Pengkodean berporos (axial coding)
27

Pengodean berporos meletakkan data tersebut kembali ke belakang


bersama-sama dalam cara-cara baru dengan membuat hubungan antara
kategori dan subkategorinya. Pengodean ini adalah pengkhususan sebuah
kategori / fenomena dalam istilah dari kondisi-kondisi yang memberikan
tambahan konteks, strategi tindakan, dan konsekuensi-konsekuensi dari
strategi ini.
c. Pengkodean selektif (selective coding)
Pengodean selektif adalah mengintegrasikan kategori-kategori tersebut
untuk membuat sebuah teori dasar. Integrasi final adalah sebuah proses yang
kompleks tetapi tentu saja dapat dilakukan. Ada beberapa langkah untuk
melakukan pengintegrasian yaitu melibatkan penjelasan alur cerita,
menghubungkan kategori-kategori tambahan di sekotar kategori inti,
menghubungkan kategori-kategori pada level dimensional, menyertakan
validasi hubungan-hubungan ini dengan data, memasukkannya dalam
kategori yang mungkin memerlukan pembersihan dan/pengembangan lebih
lanjut.
28

DAFTAR PUSTAKA

Checkley, D. (2010). High School Students ‘Perceptions of Physics’. [Online].


Tesis. Master Education University of Lethbridge, Alberta

Elwan, A.A,. Serage, M., & Alwan, A. (2013). “The institutional factors affecting
the achieve-ment in Physics in Tripoli”. Libya. VFAST Transactions on
Research in Education, 1(2), 1–18

Gerald Goldin,Representation in Mathematical Learning and Problem


Solving,dalamLyn D. English, Handbook of International Research In
Mathematics Education,(London:Lawrence Erlbaum Associates, 2002) h.
208

Harper, K.A. (2006). “Student Problem-Solving Behavior” The Physics Teacher,


44, 250-251

Hidayati, Anisatul., dan Suryo Widodo. 2015. “Proses Penalaran Matematis Siswa
dalam Memecahkan Masalah Matematika Pada Materi Pokok Dimensi Tiga
Berdasarkan Kemampuan Siswa Di SMA Negeri 5 Kediri”. Jurnal Math
Educator Nusantar.Vol. 1 No. 2, 131-143

Hudiono. 2005. Meningkatkan Kemampuan Representasi dan Pemecahan Masalah


Siswa SMA Melalui Model Pembelajaran Mathematics Project. Skripsi
FPMIPA UPI Bandung: Tidak diterbitkan

Kartono dan Gulo (1987). Kamus Psikologi. Bandung: Pionir Jaya

Kurniasih, 2008. Pendidikan Anak Usia Dini. Jakarta: Edukarsa

Linuwih, S., Setiawan, A. 2010. Latar Belakang Konsepsi Paralel Mahasiswa


Pendidikan Fisika dalam Materi Dinamika. Jurnal Pendidikan Fisika
Indonesia. 6 (12)

Mahardika, I.K. 2012. Model Inkuiri Untuk Meningkatkan Kemampuan


Representasi Verbal dan Matematis Pada Pembelajaran Fisika di
SMA.Jurnal Pembelajaran Fisika, ISSN NO. 2301-9794

Suherman, E. (2001). Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. Bandung:


JICA -Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)

Sujarwanto E., & A. Hidayat Wartono.(2014). Kemampuan Pemecahan Masalah


Fisika Pada Modeling Instruction Pada Siswa SMA Kelas XI. Jurnal
Pendidikan IPA Indonesia.JPII 3 (1) (2014) 65-78
29

Ukoh, E.E. 2012. “Effect of Interactive Invention Instructional Strategy on NCE


Pre-Service Teacher’s Achievement in Physics and Acquisition of Science
Process Skills,” Journal of Innovative Research in Management and
Humanities, 3(1), 122– 13