Anda di halaman 1dari 4

BAB II

PEMBAHASAN
2.1 KETERAMPILAN BERTANYA DASAR
A. Pengertian
Secara etimologis keterampilan bertanya dapat diurai menjadi dua suku yaitu
“terampil dan Tanya”. Menurut kamus besar Bahasa Indonesia “Bertanya” berasal dari
kata “Tanya” yang berarti antara lain permintaan keterangan. Sedangkan kata “terampil”
yang berarti memilki arti “cakap dalam menyelesaikan tugas atau mampu dan cekatan”.
Dengan demikian keterampilan bertanya secara sederhana dapat dirumuskan adalah
kecakapan atau kemampuan seseorang dalam meminta keterangan atau penjelasan dari
orang lain, atau pihak yang menjadi lawan bicara. (Djamarah 2002)
Yang dimaksud keterampilan bertanya dasar adalah pertanyaan yang pertama atau
pembuka yang diajukan guru pada awal pembelajaran untuk mendapatkan pengetahuan
atau informasi dari siswa. Tujuannya agar siswa memperoleh pengetahuan dakat
meningkatkan kemampuan berpikir.
B. Pentingnya Pembelajaran Keterampilan Bertanya Dasar
1. Metode ceramah, kebiasaan mengajar yang menempatkan guru sebagai sumber
informasi, sedangkan siswa menjadi penerima informasi yang pasif.
2. Latar belakang kehidupan anak dalam lingkungan keluarga dan masyarakat yang
kurang biasa mengajukan pertanyaan dan mengeluarkan pendapat.
3. Penggalakan penerapan gagasan, cara belajar siswa aktif sekarang ini, yang menuntut
siswa lebih banyak terlibat secara mental dalam proses belajar mengajar, seperti
bertanya, berusaha menemukan jawaban-jawaban dari masalah yang dihadapi.
4. Pandangan yang salah mengenai tujuan pertanyaan yang mengatakan bahwa
pertanyaan hanya dipakai untuk mengevaluasi hasil belajar siswa.
Dengan menggunakan keterampilan bertanya yang efektif dalam proses belajar
mengajar diharapkan timbul perubahan sikap pada guru dan siswa. Perubahan dari guru
ialah lebih banyak memberi informasi, menjadi lebih banyak mengundang interaksi. Serta
perubahan pada siswa ialah lebih banyak mendengarkan informasi guru, menjadi lebih
banyak berpartisipasi dalam bentuk bertanya, menjawab dan mengajukan pendapat.
C. Komponen-komponen Keterampilan Bertanya Dasar
1. Penggunaan pertanyaan secara jelas dan singkat
Pertanyaan guru harus jelas, singkat, tidak panjang dan berbelit-belit dengan
menggunakan kata-kata yang dapat dipahami oleh siswa sesuai dengan usia dan

2
tingkat perkembangannya. Dan juga memberikan pertanyaan atau merespon jawaban
siswa dengan gerakan badan dan mimik muka yang ceria.
Contoh:
a. Apa yang menyebabkan sehingga penyusunan isi buku-buku paket bila
dibandingkan dengan kurikulum 1975, tidaklah serasi? (Terlalu panjang dan
berbelit-belit)
b. Mengapa urutan isi buku paket tidak serasi dengan kurikulum 1975? (singkat, jelas
dan mudah dipahami)
2. Pemberian acuan
Guru perlu memberikan acuan yang berupa pertanyaan yang berisi informasi
yang relevan dengan jawaban yang diharapkan. Hal ini memudahkan siswa untuk
memakai serta mengolah informasi untuk menemukan jawaban pertanyaan dan
menolong siswa tetap fokus terhadap topik yang sedang dibicarakan.
Contoh:
Kita telah mengetahui bahwa erosi tanah dapat disebabkan oleh air dan angin terutama
jika tanah itu gundul, tanah yang bagaimana lagi yang mudah terjadi erosi tanah oleh
air?
3. Pemusatan
Berdasarkan batas lingkupnya pertanyaan dapat dibagi menjadi dua, yaitu
pertanyaan luas dan pertanyaan sempit. Pada umumnya pertanyaan dimulai dengan
pertanyaan yang berfokus luas, kemudian diikuti dengan pertanyaan yang lebih
khusus.
Contoh:
Menurut pendapat anda apa ciri-ciri dari kota besar? (pertanyaan luas)
Sebutkan nama-nama kota besar yang ada di pulau jawa? (pertanyaan sempit)
4. Pemindahan giliran
Satu pertanyaan perlu dijawab oleh lebih dari satu siswa, karena terkadang
jawaban siswa benar atau belum memadai. Awalnya guru bertanya kepada seluruh
kelas, kemudian memilih siswa untuk menjawab dengan menyebutkan nama mereka
atau menunjuknya.
Contoh: Bertanya kepada beberapa orang siswa dengan pertanyaan yang sama.
Apa yang dimaksud transmigrasi?
5. Penyebaran
Untuk melibatkan banyak siswa dalam pembelajaran, guru perlu menyebarkan
giliran menjawab pertanyaan secara acak. Guru hendaknya berusaha agar semua siswa
3
mendapat giliran secara merata. Beberapa pertanyaan berbeda disebarkan giliran
menjawabnya kepada siswa yang berbeda pula.
6. Pemberian waktu berfikir
Setelah mengajukan pertanyaan kepada seluruh siswa, guru perlu memberi
waktu untuk berfikir sebelum menunjuk salah seorang siswa untuk menjawab. Teknik
ini memberikan kesempatan untuk menemukan dan menyusun jawaban.
Contoh:
Coba kalian pikirkan, apa saja dampak dari ledakan penduduk? (menunggu 5-10 detik,
kemudian menunjuk beberapa orang siswa untuk menjawab)
7. Pemberian tuntunan
Bila siswa itu menjawab salah atau tidak bisa menjawab pertanyan, guru
hendaknya memberikan tuntunan kepada siswa itu agar dapat menemukan sendiri
jawaban yang benar.
Contoh:
a. Mengungkapkan sekali lagi pertanyaan dengan cara lain yang lebih sederhana.
b. Mengajukan pertanyaan yang lebih sederhana.
“Bagaimana keadaan ekonomi bangsa yang dijajah?”
“Apakah penjajah suka membangun ekonomi bangsa jajahannya?”
c. Mengulangi penjelasan sebelumnya yang berhubungan pertanyaan.
“Bagaimana keadaan ekonomi bangsa yang dijajah?”
(karena siswa tidak menjawab atau jawabannya salah, maka guru menerangakn
kembali. “Ingatlah bapak telah mengatakan kepadamu dahulu bahwa penjajah tidak
memperdulikan kepentingan bangsa yang dijajah, misalnya hasil bumi dibawa
negerinya dan rakyat dibiarkan melarat, jadi kalau demikian, bagaimana keadaan
ekonomi bangsa yang diajajah?)”
D. Prinsip Penggunaan Keterampilan Bertanya Dasar
1. Tujuan yang dapat dicapai
Pertanyaan yang diajukan kepada siswa bertujuan:
a. Membangkitkan minat dan rasa ingin tahu siswa terhadap suatu pokok bahasan.
b. Memusatkan perhatian siswa terhadap suatu pokok bahasan atau konsep.
c. Mendiagnosa kesulitan-kesulitan khusus yang menghambat siswa belajar.
d. Mengembangkan cara belajar siswa aktif.
e. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengasimilasikan informasi.
f. Mendorong siswa menemukan pandangan dalam diskusi.
g. Menguji dan mengukur hasil belajar siswa.
4
2. Hal-hal yang perlu diperhatikan
a. Kehangatan dan keantusiasan
Guru harus menunjukkan sikap kehangatan, baik pada waktu mengajukan
pertanyaan maupun ketika menerima jawaban siswa. Keterampilan ini memberikan
penguatan, baik secara verbal maupun non verbal. Sikap, gaya guru, termasuk suara,
ekspresi wajah dan gerakan atau posisi badan akan menampakkan ada tidaknya
kehangatan dan keantusiasan. Salah satu caranya adalah menggunakan jawaban siswa
sebagai titik tolak uraian selanjutnya.
b. Kebiasaan-kebiasaan yang perlu dihindari
1. Mengulangi pertanyaan sendiri
Kebiasaan ini dapat menyebabkan siswa tidak memperhatikan pertanyaan guru,
karena mengharapkan pertanyaanya untuk diulang.
2. Mengulangi jawaban siswa
Hal ini mengakibatkan waktu terbuang dan siswa tidak mendengarkan dan
memperhatikan jawaban temannya karena mengharapkan jawaban itu diulang oleh
guru. Sehingga mengurangi kesempatan siswa belajar dari siswa lainnya.
3. Menjawab pertanyaan sendiri
Kebiasaan ini mengakibatkan siswa frustasi dan tidak mengikuti pelajaran dengan
baik karena siswa tidak punya kesempatan untuk memikirkan jawabannya. Siswa
akan menyetujui jawaban guru dan berpendapat bahwa mereka memahami
pelajarannya, padahal belum.
4. Pertanyaan yang memancing jawaban serentak
Kebiasaan ini dapat membuat guru tidak dapaat mengetahui dengan pasti siapa yang
benar menjawab dan siapa yang salah.
Contoh: Apa nama ibu kota Republik Indonesia?
5. Pertanyaan ganda
Pertanyaan ini dapat mematahkan semangat siswa yang hanya sanggup
menyelesaiakan satu dari pertanyaan ganda tersebut. Seharusnya pertanyaan ini
diajukan secara terpisah.
Contoh:
Siapa pemimpin orang belanda yang pertama datang ke Indonesia?
Mengapa mereka datang, dan apa akibat mereka itu bagi bangsa Indonesia?
6. Menunjuk siapa yang harus menjawab sebelum mengajukan pertanyaan
Hendaknnya pertanyaan diajukan kepada seluruh kelas dahulu, lalu setelah itu guru
menunggu sejenak dan barulah ditentukan siswa yang menjawabnya.
5