Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
Generasi milenial menjadi generasi yang saat ini digadang-gadang menjadi
bagian penting dalam perkembangan Negara Indonesia. Apalagi jika melihat para
prediksi periode bonus demografi yang pada tahun 2020 sampai dengan 2030,
usia produktif lebih banyak dibandingkan usia yang non-produktif. Namun apakah
koperasi sadar akan hal ini ?
Bisa dikatakan saat ini koperasi merupakan barang antik yang perlu
dikenalkan ke generasi milenial. Mengingat koperasi saat ini sudah berusia 70
tahun, perlu adanya pembaruan brand dari koperasi agar kembali dikenal oleh
generasi tersebut. Dimulai dari adanya keinginan koperasi untuk dapat
menyesuaiakan dengan era saat ini. Era dimana teknologi dan informasi menjadi
komoditi utama dalam pergerakan ekonomi global.
Sudah seharusnya koperasi mengembalikan kejayaanya yang pernah ada pada
jaman orde baru, dimana koperasi menjadi poros dalam setiap kegiatan ekonomi
di perkantoran pemerintah, di setiap desa, bahkan di setiap sekolah. Generasi
milenial yang kini terbiasa dengan kecepatan arus informasi menjad alasan
mengapa koperasi perlu berbenah diri, terutama dalam mengimplementasikan
teknologi dalam kegiatan koperasi.
Koperasi yang kini hanya dijadikan pelengkap buku pelajaran perlu diubah
menjadi sebuah kebutuhan di masyarakat. Terutama dimulai dari sekolah dan
perguruan tinggi dimana koperasi perlu menyatukan dirinya ke dalam budaya dan
lingkungan generasi milenial. Kebiasaan dari generasi itu perlu dipelajari dan
disesuaikan sehingga koperasi bukan lagi menjadi barang yang jadul. Misalnya
dengan membuat akun di media sosial yang memperkenalkan diri bahwa koperasi
tidak diisi hanya oleh orang tua saja. Koperasi juga mampu bermain dalam
gelombang teknologi dan infromasi. Oleh karena itu koperasi perlu memberikan
added value yang dibutuhkan oleh anak-anak muda saat ini.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Salah satu cara untuk mewujudkan pembangunan sebagaimana tertuang dalam
pembukaan Undang- Undang Dasar 1945, yaitu tercapainya masyarakat yang adil
dan makmur baik materil maupun sprituil adalah dengan berkoperasi. UUD 1945
menegaskan di dalam pembukaannya bahwa salah satu tujuan Negara Indonesia
adalah untuk memajukan kesejahteraan umum. Penegasan di atas tdak terlepas
dari pokok pikiran yang terkandung dalam pembukaan yaitu Negara hendak
mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh Indonesia.
Definisi awal umumnya menekankan bahwa koperasi itu merupakan wadah
bagi golongan ekonomi lemah, seperti definisi yang diberikan Dr. Fay (1908),
yang menyatakan bahwa koperasi adalah suatu perserikatan dengan tujuan
berusaha bersama yang terdiri atas mereka yang lemah dan diusahakan selalu
dengan semangat tidak memikirkan diri sendiri sedemikian rupa, sehingga
masing-masing sanggup menjalankan kewajibannya sebagai anggota dan
mandapat imbalan sebanding dengan pemanfaatan mereka terhadap organisasi.
R.M. Margono Djojohadikoesoemo dalam bukunya yang berjudul “sepuluh
tahun koperasi : penerangan tentang koperasi oleh pemerintah 1930-1940”
menyatakan bahwa : “koperasi adalah perkumpulan manusia seorang-seorang
yang dengan sukanya hendak bekerja sama untuk memajukan ekonominya”
Prof. R.S. Soeriaatmadja memberikan definisi koperasi sebagai suatu
perkumpulan dari orang-orang yang atas dasar persamaan derajat sebagai
manusia, dengan tidak memandag haluan agama dan politik secara sukarela
masuk, untuk sekedar memenuhi kebutuhan bersama yang bersifat kebendaan atas
tanggungan bersama.
Definisi lain dikemukakan Paul Hubert Casselaman dalam bukunya berjudul
“The Cooperative Movement and some of its Problems” mengatakan : “
cooperation is an economic system with social contrast” (Koperasi adalah suatu
sistem, ekonomi yang megandung unsur sosial)
Defines Casselman di atas Nampak sederhana, tetapi di dalamnya terkandung
makna yang luas. Koperasi mengandung dua unsur, yaitu unsur ekonomi dan
unsur sosial. Koperasi merupakan suatu system dan sebagaimana diketahui system
itu merupakan himpunan komponen-komponen atau bagian yang saling berkaitan
yang secara bersama-sama berfungsi mencapai tujuan.
BAB III
PEMBAHASAN
Tujuan Koperasi
Salah satu tujuan pokok koperasi adalah memajukan ekonomi anggota.
Mengapa memajukan ekonomi perorangan tersebut dilakukan dengan jalan
berkoperasi? Karena tidak semua kegiatan untuk memajukan ekonomi anggota itu
dapat dilakukan sendiri-sendiri oleh masing-masing anggota, atau kalau dilakukan
bersama-sama akan lebih menguntungkan. Misalnya dalam menghadapi
persaingan dengan pengusaha-pengusaha besar untuk menjual barang-barang hasil
produksinya, maka dengan bergabung ke dalam koperasi, kemampuan bersaing
mereka dapat lebih besar.
Contoh lain ialah, apabila anggota membeli bersama mesin-mesin
pengolahan atau alat angkutan, hal ini akan dpat meningkatakan penghematan.
Disamping itu, bantuan-bantuan fasilitas dari pemerintah kepada individu-
individu akan dapat menjadi lebih mudah dan lebih efektif karena dapat
disalurkan kepada perorangan-perorangan melalui koperasinya.

Koperasi Mahasiswa
Kalau kita uji ulang sejarah perkembagan koperasi, khususnya koperasi
Rochdale, tampak bahwa koperasi pernah berperanan terutama dalam
menanggulangi akibat negative yang disebabkan oleh industrialisai. 1
Ditemukannya daerah jajahan baru berhasil memacu perkembangan
industry di negar Barat, sehingga untuk memenuhi keperluan tenaga kerja banyak
anak-anak dibawah umur masuk ke lapangan pekerjaan. Tetapi dengan
ditemukannya mesin uap, yang kemudia merupakan tanda permulaan revolusi
industry, maka keperluan tenaga kerja tersebut kemudian justru menyusut.
Kemudian, muncullah berbagai problem sosial yang diakibatkan oleh munculnya
pengangguran dalam skala masif tersebut.
Memang kalau dilihat dari kegiatannya, koperasi Rochdale lebih bercorak
koperasi konsumen. Artinya, kegiaan utamanya adalah membantu para
anggotannya agar mendapat barang-barang konsumsi dengan biaa murah.

1
Panji Anoraga dan Ninik Widiyanti, Dinamika Koperasi, Rineka Cipta, Jakarta,2007, hlm.201
Misalnya saja mendapatkan bahan pangan, ataupun mendapatkan batu bara
sebagai pemanas di musim dingin.
Dalam perkembangan selanjutnya, bukan saja ada koperas konsumsi,
tetapi juga koperasi produksi dan koperasi simpan pinjam, dan dalam
perkembangannya di Indonesia, gerakan koperasi juga sudah menjangkau bidang-
bidang yang sebelumnya tidak pernah terbayangkan. Misalnya saja jaga
pengangkutan ataupun perumahan rakyat.
Dalam upaya pelaksanaan, yang utama adalah pembangunan sosial
ekonomi, industrialisasi merupakan titik sentral. Tetapi seperti yang dapat dikaji
dari sejarah, industrialisasi ataupun kemudian secara spesifik adalah penerapan
teknologi pada salah satu aspek kehidupan masyarakat, selalu menimbulkan
akibat-akibat yang cukup besar, baik pada pemilik teknologi baru ataupun mereka
yang kegiatannya digantikan oleh teknologi baru. 2

Re-Branding Koperasi
Mendengar kata koperasi tak ubahnya mendengar kata toko maupun
warung. Sering kita jumpai koperasi yang hanya berupa toko kecil disekolahan
ataupun minimarket di perkantoran. Begitulah image koperasi yang tak lepas dari
peranan UMKM.
Namun sangat disayangkan, masih banyak dari kalangan generasi muda
yang masih tidak paham dan mengerti tentang peranan koperasi yang
sesungguhnya. Anggapan mereka, koperasi itu hanya sebatas took atau warung
yang hanya mencari penghasilan semata. Melihat fenomena seperti ini, tentu tidak
salah jika kita menilik eksistensi koperasi sekarang ini.
Zamannya sudah berubah, sekarang bukan jamannya orde baru yang
ketika itu koperasi menjadi poros kegiatan perekonomian masyarakat, tidak hanya
di perkantoran pemerintah maupun di setiap desa, bahkan di setiap sekolah
maupun perguruan tinggi.
Berbanding terbalik dengan kondisi saat ini yang telah didominasi oleh
generasi millennial. Koperasi layaknya barang antic, lembaga jadul yang hanya di
koordinir oleh para orang tua saja.

2
Panji Anoraga dan Ninik Widiyanti, Dinamika Koperasi, Rineka Cipta, Jakarta,2007, hlm.201
Koperasi sudah seharusnya melakukan perubahan. Diperlukan Re-branding
Koperasi agar generasi milenial ikut serta menjadi bagian pertumbuhan ekonomi
kerakyatan yang akan memajukan UMKM di masa depan.
Menurut Muzellec and Lambkin (2006) rebranding adalah sebuah praktek
dari pembentukan nama baru yang mempresentasikan perubahan posisi dalam
pola piker para stakeholder dan pembedaan identitas dari kompetitornya.
Bisa dikatakan bahwa rebranding koperasi merupakan langkah yang tepat
untuk kembali mengajak dan memberikan peluang bagi generasi muda kita turut
serta dalam mewujudkan sebuah system ekonomi masa depan yang modern.
Menurut muzellec et al. (2003) rebranding dapat dibagi menjadi 4 dimensi, yaitu :
1. Brand Repositioning, proses ini dianggap lebih dinais karena merupakan
proses tambahan dimana harus selalu diatur setiap waktu untuk selalu siap
dengan perubahan market trend dan tekanan kompetitif dalam eksternal event
yang lebih luas. Brand positioning dilakukan untuk merubah persepsi
konsumen.
2. Brand Renaming merupakan yang paling komprehensif dan paling beresiko
dalam proses rebranding. Renaming menjadi tahapan dimana nama baru
menjadi media mengirimkan sinyal kuat kepada seluruh stakeholder bahwa
perusahan atau brand melakukan perubahan strategi, perubahan focus, atau
perubahan struktur kepemilikan.
3. Brand Redesign adalah mendesain ulang logo, gaya dan pesan seiring dengan
menciptakan citra merek baru. Nama, slogan, dan logo merupakan elemen
penting dalam merancang sebuah merek, karena merupakan kebutuhan
perusahaan untuk membangun misi dan nilai-nilai dalam proses rebranding.
4. Brand Relaunching adalah peluncuran atau pemberitahuan brand baru ke
dalam internal dan eksternal perusahaan. Untuk internal dapat dilakukan
dengan brosur atau buletin, internal meeting, dan juga melalui workshop atau
intranet. Sedangkan untuk eksternal dapat melalui press relase, advertising dan
media lainnya. untuk menarik perhatian akan brand baru tersebut dan juga
dapat memfasilitasi proses adopsi dari nama baru tersebut kepada para
stakeholder.
Maka dapat disimpulkan bahwa rebranding adalah proses upaya yang
dilakukan untuk merubah total atau memperbarui sebuah brand image yang telah
ada agar menjadi lebih baik, dengan tidak mengabaikan tujuan awal pembentukan
koperasi yaitu pada pelayanan dan profit.
Ada beberapa alasan mengapa koperasi harus melakukan rebranding, antara lain:
1. Alasan finansial, dengan melakukan rebranding ini diharapkan secara
finansial koperasi dapat menaikkan marginnya.
2. Analisa prospektif pasar/masyarakat, dengan rebranding diharapkan pola
pikir masyarakat tentang koperasi dapat berubah menjadi lebih baik.
3. Merger, kemungkinan menggabungkan satu koperasi dengan koperasi
lain bisa saja dilakukan dan dengan rebranding akan membuat nama
koperasi tersebut menjadi lebih dikenal.
Dari beberapa alasan tersebut, analisa prosfektif pasar/masyarakat bisa
menjadi fokus rebranding koperasi agar koperasi tetap hidup dalam pusaran
generasi milenial. Kenapa demikian, karena brand image generasi muda era
milenial yang telah ada agar menjadi lebih baik terhadap koperasi, yang
diharapkan akan mempengaruhi sikap dan loyalitas terhadap koperasi.
Generasi muda yang hidup dalam masa dulu dan perjuangan akan
cenderung memiliki kreativitas tinggi, rajin, mempunyai semangat belajar yang
tinggi, bijaksana dalam mengambil keputusan, berjiwa kepemimpinan untuk
melakukan perubahan dan mempertahankan budaya serta harkat dan martabat
Indonesia.
Pada saat ini, generasi muda yang hidup dalam kondisi nyaman, aman,
tentram cenderung apatis, tidak banyak berbuat hanya mempertahankan apa yang
telah di capai tanpa keinginan dan kerja keras untuk mencapai sesuatu yang lebih
baik lagi. Bahkan generasi muda saat ini cenderung tidak produktif malah
sebaliknya bersikap konsumtif, seharusnya melalui generasi muda terlahir
inspirasi dan ide-ide kreatif untuk mengatasi persoalan atau masalah.
Era globalisasi dan milenial ini telah membawa dampak perubahan besar
bagi pola pikir tiap individu. Proses perkembangan milenial pada awalnya
ditandai kemajuan bidang teknologi informasi dan komunikasi. Bidang tersebut
merupakan penggerak globalisasi. Dari kemajuan bidang ini kemudian
mempengaruhi sektor-sektor lain dalam kehidupan, seperti bidang politik,
ekonomi, sosial, budaya dan lain-lain. Contoh sederhana dengan teknologi
internet, parabola dan televisi, orang di belahan bumi manapun akan dapat
mengakses berita dari belahan dunia yang lain secara cepat. Dengan masuknya
unsur-unsur tersebut banyak pengaruh-pengaruh yang kita terima baik itu positif
dan negatif.
Lantas, bagaimana rebranding koperasi bisa masuk menjadi brand image
pada generasi muda saat ini? Brand image adalah pandangan publik pada sebuah
brand. Dia sangat penting bagi sebuah brand karena dapat menentukan
keberhasilan dari brand tersebut. Bahkan setiap perusahaan dagang akan
mendapat pembeli yang lebih banyak apabila masyarakat memberikan nilai positif
pada brand serta produknya.
Perusahaan jasa pun akan semakin banyak dibutuhkan apabila masyarakat
menyukainya. Brand image yang baik dan mengakar pada kehidupan masyarakat,
bahkan mampu membawa brand tersebut selamat dari persaingan. Bukan hal
mudah dalam membangun brand image. Pandangan serta kepercayaan masyarakat
yang tulus tidak dapat dibeli dengan hadiah-hadiah saat pembelian. Apalagi
mengingat banyaknya pesaing-pesaing yang bisa saja dianggap lebih segar dan
lebih baik. Brand image lah yang akan membuat sebuah brand tetap bertahan
menjadi brand yang lebih dipercaya.
Brand image timbul dari setiap perilaku brand. Baik buruk perilaku sebuah
brand akan berpengaruh pula pada brand image. Dan tentu saja ia harus dibangun
untuk mendapatkan perhatian serta kepercayaan dari masyarakat khususnya anak
muda.
Berikut beberapa hal yang dapat dilakukan dalam mendapatkan
kepercayaan dari masyarakat.
1. Identitas Brand
Melalui pengenalan identitas, sebuah brand akan mengumumkan keberadaanya.
Bahwa brand tersebut ada dan layak untuk diperhitungkan.
Mengenalkan brand dapat dilakukan melalui tiga cara, yakni
 secara visual
 secara komunikasi, dan
 secara perilaku.
Cara visual ditempatkan pada urutan yang pertama karena ia akan menjadi hal
pertama yang dilihat oleh masyarakat. Ini dapat dilakukan dengan cara membuat
logo, packaging, atau hal berbentuk fisik lain seperti kendaraan, bangunan
perusahaan, atau bahkan seragam karyawan. Tapi perlu diingat, kemasan yang
menarik, bangunan perusahaan megah, atau bangunan mewah akan sia-sia tanpa
sebuah logo. Ada banyak produk dengan kemasan yang kreatif, bangunan-
bangunan perusahaan yang bahkan tinggi mencakar langit, tetapi logo lah yang
akan menbuat nya berbeda. ia seperti simbol kepemilikan serta cara benda-benda
fisik tersebut berbicara siapa dirinya.
Ketika ingin membeli sebuah produk minuman botol yang berjajar di etalase
sebuah toko dengan brand yang berbeda-beda, kemasan akan berbicara dan
memanggil calon konsumen untuk membeli. Tetapi logo yang kan membuatnya
mengingat minuman apa yang dia minum. Meskipun demikian, setiap upaya
pengenalan brand secara visual ini penting adanya. Ia akan dapat menentukan
brand image. Bangunan perusahaan akan membuat masyarakat tahu bahwa brand
tersebut benar-benar ada.
Cara mengenalkan brand yang kedua adalah melalui komunikasi.
komunikasi ini tidak harus secara langsung antara produsen dengan pembeli. Saat
ini komunikasi melalui internet sedang digemari dan bahkan menjadi sarana
komunikasi yang lebih mudah dan murah. Meskipun demikian, komunikasi
melalui media lain juga tetap digunakan. Seperti halnya iklan pada sela-sela
tayangan televisi populer atau juga melalui radio.
Kemudian yang ketiga dan sangat penting adalah melalui perilaku brand.
Memastikan bahwa masyarakat mengetahui nilai-nilai perusahaan anda dan tentu
memastikan brand dan setiap orang yang berada di bawah bendera brand tersebut
untuk menjalankan nilai-nilai brand tersebut adalah suatu keharusan. Masyarakat
akan selalu menilai bagaimana brand koperasi memuaskan keinginan serta
kebutuhan mereka.
Kepercayaan yang telah dibangun dan dijaga selama bertahun-tahun dapat
hilang hanya dengan satu pembatalan janji saja. Masyarakat tidak dapat dibeli,
baik di katakan baik, buruk dikatakan buruk. Penilaian mereka terhadap brand
akan terus berjalan dan ini lah yang akan memperngaruhi brand image. Maka
brand image dapat dibangun dengan cara membangun identitas brand terlebih
dahulu.
Sebuah brand dapat saja usang seiring dengan berjalannya waktu, karena
dunia terus berubah dan diinginkan pasarpun juga turut berubah, apabila koperasi
bahkan perusahaan tidak bisa membaca kondisi tersebut, maka ia dapat tertinggal.
Karena itu sebuah koperasi harus terus melakukan inovasi, salah satunya dengan
melakukan perubahan pada identitas brandnya.
Hal ini pula ditekankan oleh Williams (2006), ”Untuk memaksimalkan
kepuasan konsumen, sebuah brand tidak harus berada dalam posisi atau bentuk,
baik bentuk fisik maupun non fisiknya. Ketika suatu perusahaan merasa brand
yang dimilikinya telah mapan, tapi terasa usang, maka penambahan atribut-
atribut baru bisa jadi dibutuhkan demi memberi sisi “segar” pada brand dan
meningkatkan pengetahuan serta persepsi pelanggan yang telah disebutkan
sebelumnya. Dari situlah muncul gagasan rebranding dengan merujuk pada suatu
keadaan dimana sebuah brand dirasa perlu mendapatkan suatu identity baru”.
Rebranding tidak selalu berdampak positif bagi sebuah brand, rebranding
juga dapat mengurangi kesadaran konsumen terhadap brand sehingga koperasi
harus berusaha menumbuhkan kembali kesadaran terhadap brand yang baru yang
mana proses ini akan memakan biaya yang tidak
sedikit pula (Octavianus, 2008:178).
Komunikasi pemasaran memiliki peran kunci dalam membentuk
citra/image brand dan dalam meningkatkan penjualan sebuah produk. Menurut
Prof M. Suyanto (2008, p.13-14) yang mengutip dari buku Jack Trout, inti dari
strategi komunikasi pemasaran adalah bagaimana bertahan hidup dalam dunia
kompetitif, bagaimana membuat persepsi yang baik di benak konsumen, menjadi
berbeda, mengenali kekuatan dan kelemahan pesaing, menjadi spesialisasi,
menguasai satu kata sederhana di kepala, kepemimpinan yang memberi arah dan
memahami realita pasar dengan menjadi yang pertama dari pada menjadi yang
terbaik.
Dengan menjalankan proses Rebranding, koperasi harus memiliki Public
Relation (PR). Karena lebih baik apabila menjalankan proses rebranding ini
dengan PR. Apabila koperasi memiliki PR yang bagus, maka PR memiliki
hubungan kepada media, karena media sebagai peran dalam penyampaian
informasi kepada masyarakat. Sehingga rebranding dari koperasi dapat sampai
tepat pada sasaran.
Dengan adanya PR juga menjaga brand association dan brand image pada
koperasi, jika terjadi adanya masalah dilapangan. Koperasi melalui PR dapat
memberikan tanggapan langsung melalui media sehingga konsumen tidak
menerima tanggapan negatif dari luar.
Untuk memperkuat Brand Image, dengan cara menjadi sponsorship di
berbagai event acara anak muda. Contohnya: koperasi mensponsori lomba musik,
nari , pameran, seminar dan kegiatan lainnya yang biasanya diadakan disekolah –
sekolah, komunitas maupun kampus. Hal tersebut membangun image koperasi
kepada konsumen khususnya anak muda, dimana konsumen melihat
perkembangan yang dilakukan oleh koperasi.
Selain itu juga untuk memperkuat Brand Image koperasi, Media online
juga dimanfaatkan untuk aktifitas PR koperasi, seperti Website, facebook, twitter.
Dengan begitu koperasi bisa meningkatkan proximity atau kedekatan serta
menjaga relationship-nya dengan konsumen, khususnya anak muda.
Dengan demikian pada akhirnya, akan terjadi pergeseran positioning pada
koperasi ketika melakukan rebranding identitynya. Koperasi melakukan perluasan
segmentasi ketika melakukan transformasi brand identity-nya yang dulunya
dianggap jadul akan menjadi koperasi kekinian nuansa milenialnya. Dengan tetap
menjaga dan mempertahankan tujuan awal pembentukan koperasi yaitu pada
pelayanan dan profit, koperasi membranding serta membentuk brand identitynya
melalui pendekatan kepada segmen remaja.
Karena koperasi itu adalah usaha masa depan, maka sudah seharusnya
pemuda sebagai generasi penerus bangsa menjadi koperasi sebagai masa depan
mereka. Konsep koperasi yang post revolutionary yaitu meniadakan konsep buruh
dan majikan melainkan menjadi konsep mitra cocok untuk pemuda generasi
milenials yang cenderung ingin bebas berkreasi. Oleh sebab itu generasi milenials
dapat menjadi penggerak bagi koperasi di masa depan.
Kemudian ada beberapa opsi tambahan untuk strategi pemasaran yang bisa
dilakukan untuk rebranding koperasi di era milenial ini. Secara umum ada tiga
opsi yang bisa ambil: aliansi, transformasi, merusak diri sendiri (self-disruption).
1. Aliansi, yaitu menggandeng disruptor brand agar dampak buruk “stempel”
sebagai disrupted brand yang sudah terlanjur melekat bisa dinetralisir dan
dikurangi. Ini adalah cara paling mudah dan paling aman untuk menyelamatkan
kapal yang mau karam. Strategi ini dilakukan oleh Blue Bird yang menggandeng
Go-jek, sang disruptor, dengan meluncurkan layanan baru: Go Blue Bird. Dengan
merangkul disruptor, maka asosiasi positif dari disruptor brand akan berimbas
baik ke disrupted brand.
2. Transformasi, yaitu melakukan perubahan besar-besaran untuk menjadi
digital company (dico). Artinya disruptor brand melakukan transformasi
mengikuti jalan yang telah ditempuh oleh si disruptor. Matahari melakukan
strategi ini dengan meluncurkan ritel versi online yaitu Mataharimall.com.
Telkom melakukan strategi yang sama dengan melakukan transformasi besar-
besaran untuk menjadi dico dengan menarget area-area bisnis baru yaitu TIMES:
telecommunication, information, media, edutainment, dan services.
3. Self-disruption, yaitu cara yang paling ekstrim dan paling berisiko, dengan
cara mendisrupsi diri sendiri.
DAFTAR PUSTAKA

Djojohadikoesoemo, R.M. Margono, 1941. Sepuluh Tahun Koperasi :


Penerangan Tntang Koperasi oleh Pemerintah 1930-1940. Balaipustaka,
Batavia-C
Casselman, Paul Hubert. 1952. The Cooperative Movement and Some of Its
Problem New York : Philosophical Library
Muzellec, Laurent and Marry Lambkin. 2006. Corporate Rebranding : Destroting,
Transferring or Creating Brand Equity. J.of Marketig.40 :803-824
Band, William A. 1991. Crafeting Value for Customer , Jhon willey and Sons Inc,
New York
Octavianus, Ricky.2008. Rebranding Industri Kreatif Pakaian Jadi Jurnal Bisnis
dan Manajemen, Forum Pemasaran Kota Bandung, Vol. IX No. 2, Hal.
177-186
Suyanto, M. 2008. Marketing Strategy Top Brand Indonesia. Yogyakarta. Andi