Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PRAKTIKUM

ANATOMI FISIOLOGI TUMBUHAN


Kurva Sigmoid Pertumbuhan

NAMA : SRI WAHYUNI


NIM : F1072161005
KELAS : 5/ PP.APK

PRODI PENDIDIKAN BIOLOGI


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS TANJUNGPURA
PONTIANAK
2018
ABSTRAK

Jagung (Zea mays) merupakan tumbuhan lengkap, bagian-bagian atau sel-selnya


sehingga laju pertumbuhannya jika digambarkan pada sebuah grafik dapat
membentuk kurva sigmoid. Adapun tujuan praktikum kali ini yaitu untuk mengukur
laju tumbuh tanaman jagung minggu pertama hingga tanaman jagung (Zea mays
berbunga. Untuk memperoleh kurva sigmoid dilakukan pengambilan sampel dengan
2 perlakuan berbeda yakni secara nondestruktif dan destruktif. secara nondekstruktif,
tumbuhan jagung dilakukan pengukuran suhu tanah, suhu udara, kelembaban, dry,
wet, evaporasi, tinggi tanaman, dan jumlah daun. Sedangkan pada destruktif ,
tumbuhan jagung diukur pertumbuhannya dengan mengambil organ tanaman secara
lengkap, kemudian mengukur berat basah dan berat kering dari tajuk tanaman (batang
dan daun) serta akar.disediakan. Alat yang digunakan pada praktikum ini kertas
milimeter blok, pisau, pot, penggaris, oven, neraca analitik, termometer, dry and wet.
Sedangkan bahan yang digunakan yaitu biji jagung, pupuk serta media tanah (pasir
dan tanah bakar) dan air.. Dilakukan perbandingan laju pertumbuhan antara
tumbuhan yang diberi pupuk dan tumbuhan yang tidak diberi pupuk, maka diperoleh
laju pertumbuhan paling cepat pada tumbuhan yang diberi pupuk. Faktor yang
mempengaruhi laju pertumbuhan adalah Faktor internal dapat berupa faktor hereditas
dan hormon, sedangkan faktor eksternal yang dapat mempengaruhi pertumbuhan
jagung antara lan air, tanah, dan mineral, kelembaban udara, suhu, udara, suhu tanah,
cahaya, dan evaporasi, serta curah hujan.
Kata kunci : Jagung (Zea mays), kurva sigmoid pertumbuhan, destruktif, nondestruktif, faktor
eksternal, faktor internal
PENDAHULUAN

Suatu hasil pengamatan pertumbuhan tanaman yang paling sering dijumpai


khususnya pada tanaman setahun adalah biomassa tanaman yang menunjukkan
pertambahan mengikuti bentuk S dengan waktu, yang dikenal dengan model sigmoid.
Biomassa tanaman mula-mula (pada awal pertumbuhan) meningkat perlahan,
kemudian cepat dan akhirnya perlahan sampai konstan dengan pertambahan umur
tanaman. Liku demikian dapat simetris,yaitu setengah bagian pangkal sebanding
dengan setengah bagian ujung jika titik belok terletak diantara dua asimptot. Seorang
ilmuan akan tidak menerima begitu saja kenyataan tersebut, tetapi mengajukan
pertanyaan mengenai proses atau mekanisme yang mengajukan pertanyaan mengenai
proses atau mekanisme yang membuat hubungan biomassa dengan waktu demikian,
dan faktor-faktor yang mengendalikannya.
Sebagai jawaban dari pertanyaan tersebut beberapa pertanyaan kemudian akan
muncul seperti apakah itu karena factor X,Y dan Z. Apakah itu karena hubungan
yang demikian di antara faktor-faktor tersebut. Faktor-faktor dan proses atau
hubungan diantara satu dengan faktor lain, hipotatik akan dilahirkan yaitu yang
mendapatkan dukungan paling kuat (sesuai fakta yang tersedia). Faktor dan hubungan
yang ditempatkan tersebut kemudian ditampilkan secara bersama dalam suatu bentuk
bahasa matematik yaitu model matematik.
Pertumbuhan tanaman mula-mula lambat, kemudian berangsur-angsur lebih
cepat sampai tercapai suatu maksimum, akhirnya laju tumbuh menurun. Apabila
digambarkan dalam grafik, dalam waktu tertentu maka akan terbentuk kurva sigmoid
(bentuk S). Bentuk kurva sigmoid untuk semua tanaman kurang lebih tetap, tetapi
penyimpangan dapat terjadi sebagai akibat variasi-variasi di dalam lingkungan.
Ukuran akhir, rupa dan bentuk tumbuhan ditentukan oleh kombinasi pengaruh faktor
keturunan dan lingkungan (Tjitrosomo, 1999).
Beberapa cara tersedia dalam pendekatan kepada sistem seperti sistem
tanaman dengan produk biomassa yang meningkat secara sigmoid dengan waktu
untuk mendapatkan faktor-faktor dan proses hipotetik. Menerapkan fenomena yang
sudah dikenal cukup baik kepada suatu sistem yang sedang dipelajari merupakan
suatu pendekatan yang umum dilakukan.
Untuk sistem tanaman suatu kompertemen dapat dianggap sebagai tempat
substrat dan kompertemen lain sebagai tempat produk yang dapat berupa senyawa
organik atau biomassa (berat kering) jaringan, organ atau keseluruhan tumbuhan.
(Sitompul.S.M.1995)
Kurva menunjukkan ukuran kumulatif sebagai fungsi dari waktu. Tiga fase
utama biasanya mudah dikenali, yaitu fase logaritmik, fase linier dan fase penuaan.
Pada fase logaritmik ini berarti bahwa laju pertumbuhan lambat pada awalnya, tapi
kemudian meningkat terus. Laju berbanding lurus dengan ukuran organisme.
Semakin besar organisme, semakin cepat ia tumbuh. Pada fase linier, pertambahan
ukuran berlangsung secara konstan. Fase penuaan dicirikan oleh laju pertumbuhan
yang menurun, saat tumbuhan sudah mencapai kematangan dan mulai menua
(Srigandono, 1991).
Kurva pertumbuhan berbentuk S (sigmoid) yang ideal yang dihasilkan oleh
banyak tumbuhan setahun dan beberapa bagian tertentu dari tumbuhan setahun
maupun bertahunan, Pada fase logaritmik ukuran (V) bertambah secara eksponensial
sejalan dengan waktu (t). Ini berarti laju kurva pertumbuhan (dV/dt) lambat pada
awalnya. Tetapi kemudian meningkat terus. Laju berbanding lurus dengan organisme,
semakin besar organisme semakin cepat ia tumbuh.
Laju pertumbuhan relative (relative growth rate) menunjukkan peningkatan
berat kering dalam suatu interval waktu dalam hubungannya dengan berat asal.
Dalam situasi praktis, rata-rata pertumbuhan laju relative dihitung dari pengukuran
yang di ambil pada waktu t1 dan t2 (Susilo, 1991)
Laju pertumbuhan suatu tumbuhan atau bagiannya berubah menurut waktu,
oleh karena itu, bila laju tumbuh digambarkan dengan suatu grafik, dengan laju
tumbuh ordinat dan waktu pada absisi. Maka grafik itu merupakan suatu kurva
berbentuk huruf S atau kurva sigmoid. Kurva sigmoid ini berlaku bagi tumbuhan
lengkap bagian-bagiannya ataupun sel-selnya (Sujarwati, 2004).
Kurva pertumbuhan berbentuk S (sigmoid) yang ideal. Tiga fase utama
biasanya mudah dikenali: fase logaritmik, fase linier, dan fase penuaan. Pada fase
logaritmik, ukuran (v) bertambah secara eksponensial sejalan dengan waktu (t). Ini
berarti bahwa laju pertumbuhan (dv/dt) lambat pada awalnya, tapi kemudian
meningkat terus. Pada fase linier, pertambahan ukuran berlangsung secara konstan.
Fase penuaan dicirikan oleh laju pertumbuhan yang menurun saat tumbuhan sudah
mencapai kematangan dan mulai menua (Salisbury dan Ross, 1992).
Pertumbuhan dipengaruhi oleh beberapa faktor dalam dan luar dan adalah
penyesuaian diri antara genetik dan lingkungan ( Mukherji and Ghosh, 2002 ). Faktor
lingkungan juga penting dalam pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Tidak
hanya lingkungan yang mempengaruhi pertumbuhan, tetapi juga banyak faktor
seperti cahaya, temperatur, kelembaban, dan faktor nutrisi mempengaruhi akhir
morfologi dari tanaman. Cahaya meliputi pada lekukan dari batang morfogenesis.
Temperatur, kelembaban,dan nutrisi mempunyai efek yang lebih halus, tetapi juga
mempengaruhi perubahan morfologi ( Ting, 1987).
Laju pertumbuhan tanaman jagung tentunya dipengaruhi faktor luar dan
dalam, maka akan diamati bagaimana laju pertumbuhan dan perkembangan tanamnan
jagung dari fase logaritmik, linear dan penuaan yang nantinya dapat terlihat pada
kurva sigmoid pertumbuhannya, sehingga dilakukan praktikum yang bertujuan untuk
mengukur laju tumbuh tanaman jagung (Zea mays).
Dari paparan beberapa teori, apabila pertumbuhan digambarkan dalam bentuk
grafik maka akan terbentuk kurva sigmoid (bentuk S), dan umumnya laju
pertumbuhan berjalan lambat pada awalnya, kemudian konstan dan berangsur
mengalami penurunan.
METODELOGI

Bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah biji jagung (Zea
mays),dimulai dari tanggal 9 September 2018 sampai 4 Oktober 2018 menggunakan
tanah bakar dan pasir dengan perbandingan 2 : 1 sebagai media tanam, serta air
untuk menyiram tanaman. Alat yang digunakan adalah pot sebagai wadah
penanaman, meteran dan penggaris sebagai alat untuk mengukur tinggi tanaman,
label nama untuk menandai media yang digunakan, pisau untuk memotong tanaman,
oven untuk mengeringkan tanaman, timbangan untuk menimbang berat basah dan
berat kering tanaman , buku serta alat tulis untuk mencatat data.
Media tanah yang telah disiapkan diisi ke dalam pot, setiap pot diberi label.
Sementara biji jagung yang hendak ditanam direndam terlebih dahulu agar proses
perkecambahannya lebih cepat. Biji jagung ditanam sebanyak 5-9 biji pada setiap pot
yang telah berisi media tanah. Kemudian disiram secukupnya. Pot tersebut diletakkan
pada lapangan terbuka. Pertumbuhan dicek setiap minggu dengan cara destruktif /
nondestruktif. Diukur tinggi tanaman, luas daun, jumlah daun, berat basah,berat
kering dari bagian atas (batang dan daun) dan bagian bawah akar setelah dibersihkan
terlebih dahulu. Berat kering didapatkan dengan menimbang berat tanaman yang
telah dikeringkan dengan oven pada suhu 80ᵒC dimana berat tidak berubah lagi
minimal 3 hari. Dicatat temperatur tanah dan udara, kelembaban relatif dan curah
hujan sebagai data pendukung setiap hari. Dibuat tabel pengamatan untuk
pertumbuhan dan faktor iklim. Setelah pengamatan selesai, dibuat grafik rerata dari
pertumbuhan tanaman dan faktor iklim dengan waktu sebagai absisa. Estimasi
pertumbuhan dibuat dengan regresi.
HASIL DAN PEMBAHASAN

DATA HASIL PENGAMATAN


Tabel Pengamatan Pertumbuhan Jagung Destruktif dengan pupuk
Tabel tinggi tanaman, jumlah daun, berat akar
Tinggi Daun Akar Bagian Atas
Minggu
tanaman Luas BB BK BB
ke- Jumlah BK (gr)
(cm) (cm2) (gr) (gr) (gr)
1 5,19 2 16 0,19 0,04 0,23 0,06
2 22,68 3 74,12 0,35 0,21 1,23 0,72
3 35,21 4 126 0,58 0,27 2,18 0,93
172,7
4 59,69 5 1,51 1,02 3,54 2,16
1
202,2
5 75,73 6 2,07 1,37 7,78 4,27
3
337,1
6 89,96 6 2,51 1,41 8,69 5,12
8
10,7
7 97,13 7 365,2 2,67 1,43 5,83
2
393,7 13,3
8 101,21 7 3,89 1,72 6,12
2 4
Tabel suhu, kelembaban, curah hujan, dry and wet dan evaporasi

Suhu Suhu Curah


Dry Wet Kelembapan Evaporasi
Tanah Udara hujan
(C°) (C°) (%) (ml)
(C°) (C°) (mm)

35 32 38,14 27,71 53,57 0 1,83

36 34 37,56 25,89 53,85 0 1,62

34 32 37,24 27,56 54,52 0,28 2,02

32 36 38,37 26,63 51,67 0,42 1,83

33 36 37,56 25,89 51,82 0 1,73

33 32 38,14 27,71 55,36 0 1,76

32 30 37,54 25,57 57,35 0,42 1,83

33 34 38,29 26,56 53,57 0,42 1,73


Tinggi Tanaman AKAR
120 6
100 5

BERAT (GR)
4
80
3
cm
60
2
40 1
20 0
1 2 3 4 5 6 7 8
0
1 2 3 4 5 6 7 8 BK 0.04 0.21 0.27 1.02 1.37 1.41 1.43 1.72
Tinggi 5.2 23 35 60 76 90 97 101 BB 0.19 0.35 0.58 1.51 2.07 2.51 2.67 3.89

BAGIAN ATAS luas


25 450
400
20
BERAT (GR)

350
15
300
10
250
cm

5
200
0
1 2 3 4 5 6 7 8 150
BK 0.1 0.7 0.9 2.2 4.3 5.1 5.8 6.1 100
BB 0.2 1.2 2.2 3.5 7.8 8.7 11 13 50
0
1 2 3 4 5 6 7 8
luas 16 74.12 126 172.7 202.2 337.2 365.2 393.7
Tabel Pengamatan Pertumbuhan Jagung (Destruktif Non Pupuk)

Tinggi Jumlah Luas Suhu Suhu Curah Wet


Minggu Kelembapan Dry
Tanaman Daun Daun Tanah Udara Hujan Evaporasi Temperature
ke- (%) (o)
(cm) (lembar) (cm2) (o) (o) (mm) (o)
1 4.85 2 14 31.59 30.93 60 5.14 3.91 30.86 29.43
2 11.39 3 10 31.84 32.14 59 33.90 1.91 29.86 28.86
3 17.15 4 62 30.72 29.43 72 3.57 3.83 26.29 28.79
4 22.54 5 92 29.77 30.71 67 10.43 5.07 28.57 28.71
5 24.83 6 260 30.1 34.57 40 23.43 9.51 30.86 29.43
6 36.08 4 134 31.21 30.86 48 0.14 7.13 30.43 28.79
7 45.15 5 209 32 35.14 48 0.23 8.71 31.37 28.72
8 50.15 6 243 31 32.49 52 0s 7.53 28.42 29.94

Tinggi tanaman Jumlah dan Luas Daun


60 300

50 250

40 200 Jumlah Daun


Tinggi 150 (lembar)
30
Tanaman 100 Luas Daun
20 (cm)
50 (cm2)
10
0
0
-50 0 5 10
0 5 10
Tabel Pengamatan Pertumbuhan Jagung Non Destruktif Pupuk

Tinggi Jumlah Luas Suhu Suhu Curah


Minggu Kelembapan Dry Wet
Tanaman Daun Daun Tanah Udara Hujan Evaporasi
ke- 2 o o (%) (oC) (oC)
(cm) (Lembar) (cm ) ( C) ( C) (mm)

1. 35.5 10 740 28.98 30.92 59.85 5.14 3.91 30.85 29.42

2. 45.5 23 1680 32.38 32.38 58.71 33.9 3.11 29.85 28.85

3. 63.38 30 4220 31.71 29.42 71.71 3,57 3.64 23.14 28.78

4. 85.9 37 5960 27.94 30.71 67.28 12.16 5.21 28.5 29

5. 98.4 40 348 33.28 34.6 40.3 23.4 9.5 30.9 29.4

6. 116.2 43 890 31.12 31.47 50 1 10 29.5 27

7. 117.41 43 730 31.63 35.14 47.5 0 8.7 31 28

8. 118.53 42 1240 31.56 32.49 51.6 0 7.5 28 29

LUAS DAUN Tinggi Tanaman (cm)


8000
150
6000
100
4000 Tinggi
LUAS DAUN Tanaman
50
2000 (cm)
0
0
1 2 3 4 5 6 7 8
1 2 3 4 5 6 7 8
Tabel Pengamatan Pertumbuhan Jagung Non Destruktif Non Pupuk

Jumlah Luas Suhu Suhu Curah


Minggu Tinggi Kelembapan Dry
Daun Daun Tanah Udara Hujan Eva Wet (o)
ke- (cm) (%) (o)
(lembar) (cm2) (o) (o) (mm)

1 1.98 64 18 33.56 30.93 60 5.14 3.91 30.86 29.43

2 11.12 187 54 32.39 32.14 59 33.90 1.91 29.86 28.86

3 16.72 219 38 31.76 29.43 72 3.57 3.83 26.29 28.79

4 20.81 250 72 33.09 30.71 67 10.43 5.07 28.57 28.71

5 26.32 240 180 33.18 34.57 40 23.43 9.51 30.86 29.43

6 35.89 255 130 32.69 30.86 48 0.14 7.13 30.43 28.79

7 42.95 221 125 31.63 35.14 48 0.23 8.71 31.37 28.72

8 49.13 238 118 31.56 32.49 52 0s 7.53 28.42 29.94

Tinggi tanaman Jumlah dan Luas Daun


60 300

50 250

40 200
Jumlah Daun
Tinggi (lembar)
30 150
Tanaman
20 (cm) Luas Daun
100
(cm2)
10 50

0 0
0 5 10 0 5 10

Percobaan kurva sigmoid pertumbuhan ini menggunakan jagung (Zea mays) yang
bertujuan untuk mengukur laju tumbuh tanaman jagung. Laju pertumbuhan
jagung nantinya akan digambarkan dengan suatu grafik, dengan laju tumbuh
ordinat dan waktu pada absis maka grafik tersebut a kan membentuk suatu kurva
berbentuk S yang disebut kurva sigmoid. Kurva sigmoid hanya dapat berlaku bagi
tumbuhan lengkap, bagian-bagian atau sel-selnya, dan jagung memenuhi syarat
itu.Tanaman jagung (Zea mays) ditanam selama 2 bulan sampai menunggu organ
generatifnya berkembang. Dilakukan 2 macam perlakuan pada pengamatan laju
pertumbuhannya yakni dengan cara nondekstruktif dan destruktif. secara
nondekstruktif, tumbuhan jagung dilakukan pengukuran suhu tanah, suhu udara,
kelembaban, dry, wet, evaporasi, tinggi tanaman, dan jumlah daun. Sedangkan
pada destruktif , tumbuhan jagung diukur pertumbuhannya dengan mengambil
organ tanaman secara lengkap, kemudian mengukur berat basah dan berat kering
dari tajuk tanaman (batang dan daun) serta akar.disediakan. dengan adanya
pencabutan tanaman pada perlakuan destruktif membuat tanaman yang lainnya
lebih cepat tumbuh dibandingkan pertumbuhan tanaman secara nondestruktif. Hal
ini dikarenakan saat tanaman dicabut dari pot, maka akan mengurangi persaingan
tanaman dalam menyerap zat hara yang ada dalam pot.
Berdasarkan pengamatan tinggi tanaman, jagung yang diberi pupuk memiliki
tinggi tanaman lebih tinggi dan batang yang lebih kokok dibandingkan dengan
tanaman yang tidak diberi pupuk. karena pupuk memberikan tambahan nutrisi
bagi tanaman untuk mengalami pertumbuhan. Diperoleh juga tinggi tanaman pada
pengamatan kurva sigmoid mulai minggu pertama sampai minggu kesembilan
pertumbuhan tunggi tanamannya logaritmik. Belum terjadi fase linier dan fase
penuaan pada tahap ini. Tanaman belum menghasilkan buah. Hal ini sesuai
dengan literatur Salisbury dan Ross (1996), Kurva pertumbuhan berbentuk S
(Sigmoid) yang ideal, yang dihasilkan oleh banyak tumbuhan setahun dan
beberapa bagian tertentu dari tumbuhan setahun maupun bertahun, dengan
mengambil contoh tanaman jagung. Tiga fase utama biasanya mudah dikenali:
fase logaritmik, fase linear, dan fase penuaan. Pada fase logaritmik laju
pertumbuhan lambat pada awalnya, tapi kemudian meingkat terus. Padafase linier
pertambahan ukuran berlangsung konstan. Fase peuaan dicirakan oleh laju
pertumnuhan yang menurun saat tumbuhan sudah mencapai kematangan.
Dari data percobaan dapat dilihat bahwa jagung mengalami pertambahan
tinggi dari minggu pertama rataanya awal hingga minggu kesembilan rataannya
terjadi peningkatan. Semakin lama, tanaman semakin tinggi. Hal ini terjadi karena
jagung melakukan pertumbuhan dan perkembangan. Pada fase pertumbuhan
vegetatif ini ada tiga aspek penting yang perlu diketahui, yaitu pembelahan sel
(cell division), pembesaran sel (cell enlargemen), dan diferensiasi (penggandaan)
sel (cell differentiation). Terjadinya perbedaan pertumbuhan tinggi tanaman bisa
disebabkan beberapa faktor yakni volume, biomassa, dan diameter umur tanaman
mengikuti bentuk ideal pertumbuhan. Pola pertumbuhan tegakan antara lain dapat
dinyatakan dalam bentuk kurva pertumbuhan yang merupakan hubungan
fungsional antara sifat tertentu tegakan, antara lain volume, tinggi, bidang dasar,
biomassa, dan diameter dengan umur tegakan. Bentuk kurva pertumbuhan tegakan
yang ideal akan mengikuti bentuk ideal bagi pertumbuhan organisme yaitu
berbentuk kurva sigmoid.Pada pengamatan jumlah daun, terjadi juga pertumbuhan
dan perkembangan . hal ini dapat kita lihat Jumlah daun, dari minggu pertama
hanya 2- 3 daun, rataan akhir pada minggu kesembilan menjadi 5-6. Fase vegetatif
terjadi pada perkembangan akar, batang, daun dan batang yang baru, terutama saat
awal pertumbuhan atau setelah massa berbunga dan berbuah. Terjadi penurunan
jumlah daun dan kenaikan jumlah daun merupakan suatu proses pertumbuhan dan
perkembangan. Pada fase pertumbuhan vegetatif ini ada tiga aspek penting yang
perlu diketahui, yaitu pembelahan sel, pembesaran sel, dan diferensiasi
(penggandaan) sel. Terdapat juga perbedaan warna daun antara tanaman jagung
yang diberi pupuk dan yang tidak. Tanaman yang diberi pupuk akan memiliki
warna daun lebih hijau dan lebih banyak dibandingkan tanaman yag tidak diberi
pupuk. Hal ini dikarenakan tanaman yang diberui pupuk memiliki nutrisi lebih
banyak untuk melakukan metabolisme pertumbuhan
Pengamatan pada panjang daun juga dilakukan, terjadi kenaikan pemanjangan
daun setiap minggunya. Meskipun begitu, terjadi perbedaan panjang daun antara
pot 1 dengan yang lainnya, hal ini bisa disebabkan oleh beberapa faktor yaitu :

1. Kualitas biji benih


2. Sulitnya pematahan dormansi
3. Kurangnya unsur hara dalam tanah
4. Kurangnya penyiraman atau pemberian air terhadap tanaman

Pada perlakuan destruktif, ditambah lagi pengamatan terhadap berat basah dan
berat kering bagian atas tanaman dan bagian bawah tanaman(akar). Setelah
diamati selama 8 minggu terjadi peningkatan berat dari 0,21 menjadi 0,67. Tidak
terlalu banyak perubahan berat dari minggu pertama – minggu terakhir.
Untuk menghitung luas daunnya pada perlakuan destruktif dibantu dengan kertas
HVS yang digunting sesuai dengan bentuk daun sebenarnya dan dapat
dimasukkan kedalam rumus sebagai berikut :

𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑘𝑒𝑟𝑡𝑎𝑠 𝑑𝑎𝑢𝑛


Luas= 𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑘𝑒𝑟𝑡𝑎𝑠 𝑝𝑎𝑡𝑜𝑘𝑎𝑛 𝑥 𝐿𝑢𝑎𝑠 𝑘𝑒𝑟𝑡𝑎𝑠

Pertumbuhan dan perkembangan pada tumbuhan merupaka hasil interaksi antara


dua faktor, yaiu faktor luar dan faktor dalam. Faktor dalam adalah faktor yang
berasal dari dalam tubuh tumbuhan sendiri yang berpengaruh terhadap
pertumbuhan yang dapa dibedakan menjadi faktor intrasel dan intersel. Yang
termasuk faktor intrasel adalah sifat menurun atau faktor hereditas, sedangkan
yang termasuk faktor intersel adalah hormone. Faktor luar yang mempengaruhi
pertumbuhan dan perkembangan adalah air tanah dan mineral, kelembaban udara,
suhu tanah, cahaya, dan evaporasi, serta curah hujan .
KESIMPULAN

Berdasarkan pengamatan yang dilakukan laju pertumbuhan tanaman


jagung terus meningkat dari mulai perkecambahan hingga menjadi tanaman
dewasa. Dalam proses pertumbuhan tersebut melalui 3 fase yaitu fase logaritmik
dimana pada awalnya laju pertumbuhan tanaman jagung berjalan lambat pada
awal minggu pertama hingga awal minggu ke 2, kemudian memasuki fase linear
dimana laju pertumbuhan tanaman jagung teus meningkat dan relative konstan
yang berangsur memasuki fase penuaan laju pertumbuhan mulai menurun, fase-
fase tersebut dapat terlihat pada gambaran laju pertumbuhan tanaman jagung
dalam grafik yang membentuk huruf S atau sering disebut kurva sigmoid
pertumbuhan. Bentuk kurva sigmoid ini juga dipengaruhi faktor eksternal atau
lingkungan dan faktor internal, dalam pengamatan pengaruh eksternal yang dapat
terlihat dampaknya pada laju pertumbuhan tanaman jagung (Zea mays) adalah
pengamatan yang dilakukan secara dekstruktif dan nondekstruktif dimana
tanaman yang diukur secara dekstruktif memiliki ukuran akhir tinggi tanaman dan
luas daun yang lebih besar daripada tanaman yang diukur secara nondekstrutif.
DAFTAR PUSTAKA

Elkawakib, dkk. 2008. Pertumbuhan dan Pembungaan Krisan pada Berbagai


Konsentrasi dan Frekuensi Pemberian Paclobuctrazol. Jurnal
Agrioigor 7(2)

Mukherji, S. and Glosh, A.K., 2002. Plant Fisiology. New Delhi : Tata Mc-Graw
Hill. Pradhan, S., 2001. Plant Physiology. Har-Anand.
Salisbury, F.B dan C.W. Ross., 1992. Fisiologi Tumbuhan. Jilid Tiga Edisi
Keempat.

Sitompul.S.M.1995.Analisis Pertumbuhan Tanaman.UGM Press : Yogyakarta.


Srigandono, B. 1991. Fisiologi Lingkungan Tanaman. Gadjah Mada University
Press,Yogyakarta

Sujarwati,dkk . 2004. Perkecambahan dan Pertumbuhan Palem Jepang akibat


Perendaman Biji dalam Lumpur. Jurnal Natur Indonesia. 6(2)
Susilo, W. 1991. Fisiologi Tanaman Budidaya. Universitas Indonesia, Jakarta.

Tjitrosomo, G. 1991. Botani umum 2. Bandung : Angkasa.

Ting, I.P., 1987. Plant Physiology. California : Addision- Wesley Publishing


Company.