Anda di halaman 1dari 34

KUALITAS PENGELOLAAN KELAS DITINJAU DARI LATAR

BELAKANG PENDIDIKAN GURU DAN PENGALAMAN MENGAJAR


GURU GEOGRAFI DI MTs. NURUL WATHAN REMAJUN
KECEMATAN PUJUT KABUPATEN LOMBOK TENGAH
TAHUN 2013

1. Pendahuluan

1.1 Latar Belakang

Pendidikan bagi kehidupan manusia merupakan kebutuhan mutlak

yang harus dipenuhi sepanjang hayat. Tanpa pendidikan, mustahil dapat

berkembang sejalan dengan aspirasi (cita-cita) maju, sejahtera dan bahagia

menurut konsep pandangan hidup. Maka pendidikan menjadi sarana yang

utama dan perlu dikelola secara sistematis dan konsisten berdasarkan

pandangan teoritikal dan praktikal sepanjang waktu sesuai dengan lingkungan

hidup manusia.

Guru dalam proses belajar mengajar memiliki peran yang strategis

sebagai upaya untuk mencerdaskan kehidupan masyarakat dan bangsanya.

Karena itu secara teoritis bahwa tinggi rendahnya kualitas pendidikan sangat

ditentukan oleh tinggi rendahnya kualitas yang disandang guru. Dengan

perannya yang begitu sentral dalam proses pendidikan maka hampir sebagian

besar kebijakan untuk meningkatkan kualitas pendidikan diarahkan terlebih

dahulu pada upaya peningkatan kualitas gurunya. Oleh karena itu, dalam

sistem pendidikan komponen guru sebagai tenaga pendidik menempati posisi

terpenting dan merupakan kunci pertama untuk tercapainya tujuan pendidikan.

Mengingat profesi guru bukan sekedar wahana untuk menyalurkan

minat atau menjadikan sebagai ajang pekerjaan sambilan, tetapi harus

1
diketahui untuk mewujudkan keahlian profesional, guru memegang peranan

dan tanggung jawab yang penting dalam pelaksanaan program pengajaran di

sekolah. Dengan demikian, untuk menjalani proses kaderisasi itu, mereka

harus menjadi professional dan tampil sebagai guru terbaik di sekolahnya.

Mengingat pentingnya pengelolaan kelas sebagai motivasi siswa dalam


proses belajar mengajar, maka pengelolaan kelas perlu diketahui oleh
guru maupun oleh calon guru lebih-lebih kepala sekolah. Dengan
mengetahui pengelolaan kelas dengan baik, setiap guru diharapkan
dapat mengelola kelas dan mengelola proses belajar mengajar, agar
murid dapat termotivasi sehingga tujuan pengajaran dapat dicapai
seoptimal mungkin, karena kelas yang dikelola dengan baik akan
menunjang jalannya interaksi edukatif, sebaliknya kelas yang tidak
dikelola dengan baik akan menghambat kegiatan pengajaran”
(Djamarah, 2001:47).

Berdasarkan pendapat di atas bahwa tingkat pendidikan dan

pengalaman mengajar guru akan menentukan cara pandangnya terhadap

pengelolaan kelas, dimana dalam suatu lembaga pendidikan formal, dengan

latar belakang dan pengalaman mengajar guru yang berbeda masing-masing

memiliki pandangan yang berbeda terhadap pengelolaan kelas. Mengingat

pendidikan selalu berkenaan dengan upaya pembinaan manusia maka

keberhasilan pendidikan sangat tergantung pada unsur manusia unsur yang

paling menentukan keberhasilannya adalah pelaksanaan pendidikan yaitu

guru. Tujuan yang diniatkan dalam setiap kegiatan belajar mengajar di dalam

kelas, baik yang sifatnya instruksional maupun tujuan dapat dicapai secara

optimal apabila dapat menciptakan dan mempertahankan kondisi yang

menguntungkan bagi peserta didik. “Usaha guru dalam menciptakan kondisi

yang diharapkan akan efektif apabila, pertama diketahui secara tepat faktor-

faktor yang dapat menunjang terjadinya kondisi yang menguntungkan dalam

2
proses belajar mengajar, kedua dikenal masalah-masalah yang diperlukan dan

biasanya yang timbul dan dapat merusak iklim belajar mengajar dikuasainya

berbagai pendekatan dalam pengelolaan kelas dan diketahui pula kapan dan

untuk masalah mana suatu pendekatan yang digunakan.

Hasil observasi awal penelitian bahwa pemerintah telah mencanangkan

penyeleksian dalam merekrut tenaga-tenaga guru yang handal, hal ini terbukti

dari tenaga guru yang berada di Madrasah Tsanawiyah Nurul Wathan Remajun

Desa Pengembur Kecamatan Pujut Kabupaten Lombok Tengah 2013, yang

telah mengenyam pendidikan dan pengalaman mengajar guru.

Sehubungan dengan hal tersebut, penulis tertarik untuk mengadakan

penelitian dengan judul: “Kualitas Pengelolaan Kelas Ditinjau dari Latar

Belakang Pendidikan dan Pengalaman Mengajar Guru Geografi di Madrasah

Tsanawiyah Nurul Wathan Remajun Kecamatan Pujut Lombok Tengah 2013”

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, dapat dirumuskan suatu

permasalahan. Adapun rumusan masalah dari penelitian ini adalah:

Bagaimanakah kualitas pengelolaan kelas ditinjau dari latar belakang

pendidikan dan pengalaman mengajar guru Geografi di Madrasah Tsanawiyah

Nurul Wathan Remajun Kecamatan Pujut Lombok Tengah Pujut 2013?

1.3 Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas, yang menjadi tujuan penelitian

ini adalah untuk mengetahui kualitas pengelolaan kelas ditinjau dari latar

3
belakang pendidikan dan pengalaman mengajar guru Geografi di Madrasah

Tsanawiyah Nurul Wathan Remajun Kecamatan Pujut Lombok Tengah Pujut

2013.

1.4 Manfaat Penelitian

Berdasarkan tujuan penelitian di atas, manfaat yang dapat diambil

dalam penelitian ini:

a. Untuk menambah khasanah ilmu pengetahuan khususnya dalam

melaksanakan penelitian-penelitian yang berkaitan dengan model

pembelajaran.

b. Diharapkan informasi yang diperoleh dan hasil penelitian dapat meransang

peneliti lainnya untuk meneliti secara lebih mendalam aspek-aspek yang

belum terungkap dalam penelitian ini.

Dalam batas-batas tertentu, hasil penelitian ini dapat dijadikan

sebagai bahan pertimbangan bagi upaya penelitian selanjutnya. Dengan

demikian, hasil penelitian ini dapat menyumbangkan uji empirik bagi upaya

pengembangan ilmu pengajaran.

1.5 Asumsi Penelitian

Asumsi atau anggapan dasar merupakan kerangka awal atau acuan

yang akan memandu cara-cara berpikir di dalam suatu penelitian baik usaha

untuk melihat kedudukan suatu masalah. Oleh karena itu, asumsi tentang suatu

masalah dapat di nyatakan sebagai suatu keharusan dalam pelaksanaan

penelitian, yang dapat membawa pemikiran dalam persepektif keilmuan (teori)

4
yang berkembang. Namun demikian, sebelum mengajukan asumsi

sehubungan dengan hakekat masalah yang dijadikan bahan penelitian ini,

maka terlebih dahulu dikemukakan batasan asumsi itu sendiri sebagai tolak

ukur untuk melangkah lebih lanjut.

Asumsi dapat diartikan sebagai “Suatu yang diyakini kebenarannya

oleh peneliti” (Arikunto, 2002:59). Dengan demikian, suatu masalah yang

diyakini kebenarannya merupakan suatu asumsi bagi seorang peneliti sebelum

dikukuhkan dengan hasil penelitian. Dilain pihak, asumsi juga diartikan

sebagai “Hasil abstraksi pemikiran yang oleh peneliti dianggap benar dan

dijadikan sebagai pijakan untuk mengkaji satu atau beberapa gejala” (Danim,

1997:113).

Berdasarkan kedua pendapat tersebut dapat dikatakan bahwa asumsi

adalah suatu pemikiran yang diyakini oleh peneliti tentang kebenaran suatu

fakta sebagai dasar untuk mengkaji suatu gejala. Sementara itu, kebenaran

suatu fakta yang ada tidak perlu dibuktikan lagi. Dengan demikian, asumsi

merupakan pijakan awal bagi seorang peneliti untuk melakukan penelitian

lebih lanjut dan lebih jauh. Oleh karena itu, asumsi yang diajukan dalam

penelitian ini adalah sebagai berikut :

a. Setiap Guru memiliki kemampuan untuk memproses informasi atau

pengetahuan sedemikian rupa sehingga menjadi bermakna.

b. Kemampuan seorang guru dalam memproses informasi dan memahami

materi pelajaran dalam proses pengelolaan kelas yang ditentukan oleh

lingkungan pembelajaran.

5
c. Semakin tinggi keterlibatan atau keaktifan guru dalam pengelolaan kelas

semakin tinggi pula pengelolaan kelas yang diciptakan dalam memelihara

kondisi belajar yang optimal.

2. Landasan Teori

2.1 Kajian Pustaka

1. Pengelolaan Kelas

Pengelolaan kelas adalah keterampilan guru menciptakan dan

memelihara kondisi belajar yang optimal bila ada gangguan

mendisiplinkan kelas (Depag RI, 2001:120). Yang dimaksud dengan

pengelolaan kelas adalah suatu upaya untuk menciptakan dan memelihara

suatu kondisi yang memungkinkan belajar siswa menjadi optimal, serta

mengembalikan kelas ke kondisi belajar optimal bila mendapat gangguan

dengan cara mendisiplinkan kelas. (Ahsanudin, 2001:37). Made Pidarta

mengatakan pengelolaan kelas adalah proses seleksi dan pengguaan alat-

alat yang tepat terhadap problem dan situasi kelas. Ini berarti guru

bertugas menciptakan, memmperbaiki, memelihara sistem atau organisasi

kelas (Djamarah, 2000:172). Sedangkan menurut Sardiman N. (2001:31)

pengelolaan kelas merupakan upaya dalam mendayagunakan potensi

kelas. Karena itu telah mempunyai peranan dan fungsi tertentu dalam

menunjang keberhasilan proses interaksi edukatif. (Djamarah, 2000:172)

Dari beberapa pandapat tokoh di atas, penulis dapat menyimpulkan

bahwa masalah pokok yang dihadapi guru, baik pemula maupun yang

6
sudah pengalaman adalah pengelolaan kelas, karena pengelolaan kelas

adalah masalah yang kompleks.

Guru menggunakannya untuk menciptakan dan mempertahankan

kondisi kelas untuk mencapai tujuan pengajaran. Tujuan pengajaran secara

efesien dan memungkinkan anak didik dapat belajar. Dengan demikian

pengelolaan kelas yang efektif adalah syarat bagi pengajaran yang efektif.

Tugas utama dan yang paling sulit dilakukan guru adalah pengelolaan

kelas, lebih-lebih tidak ada satu pun pendekatan yang dikatakan paling

baik. Diatas telah disinggung bahwa tidak ada satu pun pendekatan yang

paling baik. Ada beberapa pendekatan yang berkaitan dengan pengelolaan

kelas adalah sebagai berikut :

a. Pendekatan Kekuasaan
Pengelolaan kelas diartikan sebagai suatu proses mengontrol
tingkah laku anak didik. Peran guru disini menciptakan dan
mempertahankan situasi disiplin dalam kelas.
b. Pendekatan Ancaman
Dalam pendekatan ini, pengelolaan kelas diartikan suatu proses
tingkah laku anak didik.
c. Pendekatan kebebasan
Pengelolaan kelas diartikan sebagai suatu proses membantu anak
didik untuk merasa bebas mengerjakan sesuatu pengungkapan saja
dan dimana saja. Peran guru adalah mengusahakan semaksimal
mungkin kebebasan anak didik.
d. Pendekatan resep (Cook Book)
Pendekatan ini dilakukan dengan mendatar apa yang harus dan apa
yang tidak boleh dikerjakan guru dalam mereaksi semua masalah
atau situasi yang terjadi di kelas.
e. Pendekatan pengajaran
Pendekatan ini didasarkan atas suatu anggapan bahwa perencanaan
dan pelaksanaan akan mencegah munculnya masalah tingkah laku
anak didik, dan pemecahan diperlukan bila masalah tidak bisa
dicegah.
f. Pendekatan perubahan tingkah laku
Sesuai dengan namanya pengelolaan kelas di sini diartikan sebagai
suatu proses mengubah tingkah laku anak didik.

7
g. Pendekatan sosio emosional
Menurut pendekatan ini pengelolaan kelas merupakan suatu proses
menciptakan iklim sosio emosional yang positif dalam kelas. Sosio
emosional yang positif artinya adanya hubungan positif antara guru
dan anak didik.
h. Pendekatan proses kelompok
Pengelolaan kelas diartikan sebagai suatu proses menciptakan kelas
sebagai suatu sistem social dan proses kelompok merupakan yang
paling utama.
i. Pendekatan pluralistik
Pada pendekatan pluralistic, pengelolaan kelas berusaha
menggunakan berbagai pendekatan yang memiliki potensi untuk
dapat menciptakan dan memperatahankan suatu kondisi yang
memungkinkan proses interaksi educatif berjalan efektif dan
efesien. (Djamarah, 2000:147)

Dari beberapa pendapat di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa

pengelolaan kelas merupakan tugas guru yang paling utama, maka akan

bisa tercapai pengelolaan kelas yang optimal apabila gurunya professional

dalam mengelola kelas.

2) Tujuan Pengelolaan kelas

Pengelolaan kelas adalah keterampilan guru untuk menciptakan

dan memelihara kondisi belajar yang optimla bila ada gangguan dalam

mendisiplinkan kelas. Adapun tujuan pengelolaan kelas sebagai berikut:

a. Bagi Siswa

1. Menumbuhkan rasa tanggung jawab siswa terhadap tingkah

lakunya serta sadar untuk mengendalikan diri.

2. Agar tingkah laku siswa terarah dan sesuai dengan tata tertib kelas.

3. Menimbulkan rasa berkewajiban untuk menciptakan diri dalam

aktifitas belajar mengajar secara wajar.

8
Untuk memelihara kelancaran penyajian pelajaran sebelum

mulai belajar ada beberapa hal yang perlu dilakukan yaitu :

Pastikan bahwa anda sudah siap sebelum mulai pelajaran yang

sebenarnya, aturlah buku, kertas, dan sebagainya sehingga anda dapat

mengambilnya dengan mudah jika anda memerlukannya. Seorang guru

yang gugup cenderung tergesa-gesa untuk memulai pelajaran. memang

anda tidak dapat berlama-lama menyiapkan diri tetapi waktu yang anda

ambil akan tampak lebih pendek bagi murid-murid dengan apa yang

anda duga, dan beberapa dari mereka sibuk melakukan hal lain.

Cara memulai pelajaran agar segera dikenal oleh murid-murid

dan kelak mereka bahkan akan mulai sendiri bagian persiapan mereka

tanpa harus diamati oleh anda. Rutinitas bagian awal pelajaran ini akan

menciptakan suasana yang aman. Ini juga menciptakan situasi yang

bersahabat tetapi bermanfaat dan kondusif untuk pekerjaan yang serius

tapi menyenangkan.

b. Bagi Guru

Tanggap dan mampu merespon terhadap tingkah laku siswa

yang menimbulkan gangguan-gangguan di kelas (Ahsanudin,

2000:38). Untuk memelihara kelancaran penyajian pelajaran ada

beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh guru sebagai berikut:

1. Menggunakan daftar hadir kelas, murid akan tahu jika anda

memanggil mereka menurut urutan daftar nama, tetapi jika anda

menggunakan nama kedua atau ketiga atau pola lain, mereka

9
mungkin tidak menyadari urutan yang anda gunakan. Metode ini

mempunyai kelemahan yaitu anda perlu melihat ke meja untuk

melihat daftar tersebut. Ini bukan cara alami untuk memanggil

seseorang, jadi anda perlu meletakkan daftar hadir di tempat yang

mudah dilihat.

2. Menganggap kelas sebagai satu set baris atau deretan murid dan

ajukan satu pertanyaan untuk setiap orang baris atau deretan secara

bergiliran.

3. Jika ada beberapa murid yang cendrung meneriakkan jawaban

sebelum orang lain mempunyai waktu untuk mencobanya, pada

beberapa keadaan buatlah peraturan bahwa jika seorang murid

meneriakkan satu kali maka ia akan kehilangan tiga kali

kesempatan sebelum ia menjawab kembali.

4. Setelah mengajukan pertanyaan pertama, persilahkan murid yang

telah menjawab untuk menyebut nama murid selanjutnya yang

harus menjawab pertanyaan. Jika murid anda sudah terbiasa

dengan sistem ini, latihan ini dapat berjalan dengan cepat dan

sukses, tetapi akan menjadi tidak menyenangkan bila murid-murid

melihatnya sebagai cara untuk mengorbankan teman-temannya.

Jika ini terjadi pada kelompok tertentu, maka jangan

menggunakannya lagi.

Jika murid yang anda tanya tidak mampu memberikan respon anda
akan selalu terdorong untuk membantunya dengan mengulang atau
mendorongnya dan akan meminta seluruh kelas untuk tetap diam.
Tetapi kadang-kadang anda ingin meneruskan pertanyaan itu ke

10
murid lain, atau kepada kelas secara umum, terutama jika ini
merupakan pertanyaan faktual (Poerwoko, 2000:47).

Kebanyakan kepada guru sering dinasehati untuk

memformulasikan ulang pertanyaannya jika murid mereka mengalami

kesulitan untuk memahaminya tetapi harus dilakukan dengan hati-hati.

Sering kali pengulangan ini menghasilkan ujaran yang lebih kompleks

ketimbang pertanyaan semula.

3. Peranan Guru dalam Pengelolaan Kelas

Dalam kaitannya dengan tugas pengelolaan kelas, ada beberapa

peran guru yang harus dilakukan yaitu :

a. Peran sebagai pengajar (instruksional)

Peran ini mewajibkan guru menyampaikan sejumlah materi

pelajaran sesuai dengan Garis-garis Besar Program Pengajaran, yang

berupa informasi, fakta serta tugas dan keterampilan yang harus

dikuasai oleh siswa. Untuk itu, guru harus menguasai pelajaran,

metode mengajar dan teknik-teknik evaluasi. Dalam peran ini, guru

dianggap sebagai sumber informasi dan sumber belajar utama. Oleh

karena itu, guru harus selalu menanamkan dan memperluas

wawasannya dengan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sedang

berkembang saat ini.

Dalam melaksanakan perannya sebagai tenaga pengajar, hal-hal


yang perlu diperhatikan guru sebagai berikut: a) Menyusun
program pengajaran selama kurun waktu tertentu secara
berkelanjutan; b) Membuat persiapan mengajar dan rencana
kegiatan belajar mengajar untuk tiap bahan kajian dan yang akan
diajarkan berkaitan dengan penggunaan metode tertentu; c)
Menyiapkan alat peraga yang dapat membantu terlaksananya

11
kegiatan belajar mengajar yang efektif; d) Merencanakan dan
menyiapkan alat evaluasi belajar; e) Menyiapkan hal-hal yang
berkaitan dengan pelajaran yang merupakan program sekolah; f)
Mengontrol ruang kelas; g) Mengatur tempat duduk siswa dengan
kemampuan dan kondisi fisik serta daya tampung siswa terhadap
pelajaran (Akib, 2002;83).

b. Peran sebagai

pendidik (educational)

Tugas guru bukan saja mengajar, tetapi lebih dari itu mengantar

siswa menjadi manusia dewasa yang cerdas dan berbudi luhur. Dalam

hal ini, peran guru dalam pembentukan sikap, mental dan watak sangat

dominan. Dengan demikian sistem guru kelas sangatlah sesuai karena

secara psikologis, siswa memerlukan guru di sekolah sebagai

pengganti orang tuanya.

c. Peran sebagai

pemimpin (managerial)

Peran ini bukan saja pada saat pelajaran berlangsung, tetapi

juga sebelum dan sesudah pelajaran berlangsung. Guru adalah

pemimpin, penanggung jawab utama kelasnya. Oleh karena itu, yang

terjadi di kelas yang berkaitan dengan siswa secara langsung menjadi

tanggung jawab guru kelas (Aqib, 2000:82).

4. Pendidikan Guru

Ditinjau dari struktur kalimat pendidikan guru, maka istilah

tersebut merupakan perpaduan dari dua istilah yaitu latar belakang, dan

pendidikan guru. Secara sekilas kedua istilah itu telah dibatasi dan

mengandung pengertian kongkrit kepada para pembaca, namun kedua

12
istilah itu perlu dijelaskan lebih lanjut agar membawa suatu pemahaman

yang lebih jelas.

Latar belakang pendidikan guru mempunyai pengertian bahwa

seluruh pengalaman guru dalam mengikuti pendidikan sekolah menurut

jenjang yang telah dilalui baik jenjang pendidikan dasar, menengah

maupun pendidikan tinggi. Hal ini perlu dibatasi masalahnya agar dapat

memberikan ketegasan dan untuk tidak menimbulkan interpretasi yang

berbeda dalam pembaca.

Menurut Undang-Undang No. 2 tahun 1989 tentang Sistem

Pendidikan Nasional Bab V Pasal 12 bahwa “Jenjang pendidikan yang

termasuk jalur pendidikan sekolah terdiri atas pendidikan dasar,

pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi”

5. Tinjauan Pendidikan Geografi

Pendidikan Geografi sebagai ilmu telah lama berkembang dan telah

memberikan kontribusi yang besar bagi pembangunan suatu bangsa. Hal

ini karena geografi mempunyai fokus studinya adalah interaksi, interelasi

dan interdependensi antara manusia dengan lingkungan dan segala proses

yang mempengaruhinya. Dalam perkembangannya geografi yang semula

hanya bersifat ilmu murni sekarang telah berubah menjadi ilmu terapan,

artinya dapat diaplikasikan untuk berbagai kepentingan pembangunan

Ilmu Geografi baik geografi akademis (geografi di perguruan tinggi)

maupun geografi pengajaran (geografi di sekolah) semakin penting untuk

13
dipelajari agar manusia lebih mencintai dan melestarikan lingkungan yang

merupakan tempat yang memberikan kehidupan.

Pendidikan adalah proses yang terus menerus (abadi) dari

penyesuaian yang lebih tinggi bagi makhluk manusia yang telah

berkembang secara fisik dan mental, yang bebas dan sadar kepada vtuhan,

seperti termanifestasi dalam alam sekitar intelektual, emosional dan

kemanusiaan dari manusia. Sadangkan Geografi dapat didifinisikan

sebagai ilmu yang mempelajari/mengkaji tentang bumi dan segala sesuatu

yang ada di atasnya seperti penduduk, fauna, flora, iklim, udara dan segala

interaksinya (Wardiyatmoko, 2004:18).

Untuk merealisasikan tujuan pembelajaran tersebut perlu adanya

model pembelajaran yang diharapkan dapat mengembangkan potensi serta

kompetensi yang dimiliki mahasiswa, baik potensi kognitif, afektif dan

psikomotor untuk menghadapi lingkungan hidupnya, baik fisik maupun

sosial budaya di mana mereka hidup kini dan hari esok.

Penerapan pembelajaran geografi pun semakin berkembang dan

terus menerus ditingkatkan dalam bentuk pembaharuan sistem

instruksional yang banyak dilakukan dalam rangka pembaharuan sistem

pendidikan, dengan maksud agar sistem tersebut dapat lebih serasi dengan

tuntutan kebutuhan masyarakat, serasi pula dengan perkembangan ilmu

pengetahuan dan teknologi. Tujuannya adalah untuk meningkatkan

efektifitas dan efisiensi proses pembelajaran.

14
Menurut Karti Soeharto (2003:19), pengembangan sistem

pembelajaran adalah suatu cara yang sistematis dalam

mengidentifikasikan, mengembangkan, dan mengevaluasi serta

memanfaatkan komponen sistem pembelajaran untuk mencapi tujuan

pembelajaran tertentu. Prinsip dasar pengembangan sistem pembelajaran

adalah; (1) berfokus pada mahasiswa atau pihak yang belajar, (2)

menggunakan pendekatan sistem, dan (3) memaksimalkan penggunaan

berbagai sumber belajar. Menyarankan pentingnya kita menyesuaikan

pendidikan dengan berbagai alasan, yakni: (1) kebijakan pemerintah

berubah, (2) hasil belajar kurang memuaskan, (3) kelompok mahasiswa

berlainan atau jumlahnya berubah, (4) perubahan dalam mata pelajaran

yang lain, (5) mata pelajaran yang kurang aktual dan sebagainya. Semua

itu merupakan alasan bagi dosen untuk memikirkan penerapan pendekatan

pembelajarannya Utomo dan Ruijter (2004:9).

Penerapan pendekatan pembelajaran itu harus selalu didasarkan

atas evaluasi pembelajaran, walaupun keterangan itu hanya sedikit atau

bersifat kualitatif.

6. Kajian Tentang Pengalaman Mengajar Guru

Kajiaan tentang Pengalaman mengajar guru geografi adalah

pemberian tugas pada siswa adalah suatu metode mengajar. Belajar terjadi

apabila suatu situasi stimulus bersama dengan isi ingatan siswa

sedemikian rupa sehingga perbuatan yang berubah dari sebelum ia

mengalami situasi itu ke waktu sesudah ia mengalami situasi tadi.

15
Belajar adalah suatu proses usaha yang di lakukan individu untuk

memperoleh suatu perubahan tingkah laku siswa secara keseluruhan

sebagai hasil pengalaman individu ini sendiri dalam interaksi dengan

lingkungan.” (Slameto, 2002:4)

Pengalaman mengajar guru Geografi adalah pengalaman yang berupa


pelajaran tentang alam di sekitar kita yang menghasilkan perubahan
(pematangan) pendewasaan pola tingkah laku perubahan dalam sistem
nilai dalam suatu kegiatan direncanakan demikian, oleh karena itu
kegiatan mengajar mengandung banyak unsur yang secara serempak
harus dilakukan bersama unsur-unsur tersebut meliputi ilmu
tekhnologi, ilmu pendidikan, ilmu seni dan lain-lain. (Imran,2009:122)

Experience is the best teacher, pengalaman adala guru yang paling

baik. Pengalaman adalah guru yang tidak pernah marah. Pengalaman

adalah sesuatu yang mengandung kekuatan. Oleh karena itu, setiap orang

selalu mencari dan memilikinya (Bakri, 2009:30).

Pengalaman belajar bagi seorang guru Geografi merupakan sesuatu

yang sangat berharga, untuk itu guru sangat memerlukannya sebab

pengalaman mengajar tidak pernah ditemukan dan diterima selama duduk

di bangku sekolah lembaga formal. Pengalaman teoritis tidak selamanya

menjamin keberhasilan seorang guru dalam mengajar bila tidak ditopang

dengan pengalaman mengajar. Mengajar bukan sebagai ilmu, sosial,

teknologi dan seni belaka, tetapi ia juga sebagai keterampilan. Mengajar

adalah seni yang harus dirasakan oleh guru sebagai pribadi yang tidak ada

pelajarannya di sekolah.

Mengajar sebagai suatu keterampilan merupakan aktualisasi dari

ilmu pengetahuan teoritis ke dalam interaksi belajar mengajar. Efektif dan

16
efesien. Ilmu pengetahuan teoritis yang dikuasai guru akan lebih baik bila

dilengkapi oleh pengalaman mengajar perpaduan kedua pengalaman itu

akan melahirkan figur guru-guru yang profesional. Profesi guru-guru yang

ideal adalah guru yang profesional. Profesi guru yang mengabdikan

dirinya berdasarkan tuntutan hati nurani dan bekerja sama dengan anak

didiknya dalam kebajikan.

Profesionalisme guru ketika baru pertama kali menerjunkan dirinya

mengajar di depan kelas biasanya merasa kesulitan dan terkadang bingung

untuk memulai proses pembelajaran. Keadaan seperti itu terkadang

mendatangkan trauma. Hal ini memungkinkamn keringat keluar

membasahi sekujur tubuh karena kurang terbiasa berhadapan dengan anak

didik di depan kelas. tentnuya ini kurang menguntungkan, karena bisa jadi

hal ini akan menjadilkan proses belajar mengajar menjdi kurang optimal.

Dari uraian di atas akan kita petik pelajaran bahwa guru yang

mengajar bidang studi Geografi, misalnya akan mengalami kesulitan untuk

mengelola kelas bila tidak ditopang dengan pengalaman berhadapan

dengan siswa/atau anak didik di depan kelas. Pemilihan dan penggunaan

metodepun terkadang kurang tepat, yang disebabkan emosi yang belum

stabil ketika berhadapan dengan siswa yang mempunyai karakteristik yang

berbeda antara yang satu dengan yang lain. Mereka seorang guru berlatar

belakang ilmu keguruan jurusan Geografi dan dengan pengalaman

mengajar diandalkan, belum tentu dapat memberikan bahwa memberikan

pelajaran dengan baik bila bahan pelajaran tidak dikuasai dengan baik.

17
Oleh karena itu, bahan pelajaran perlu dikuasai dan dipersiapkan guru

dengan baik sebelum mengajar di depan kelas.

7. Pengalaman mengajar guru Geografi

Dalam penelitian ini, pengalaman mengajar diartikan sebagai

pengalaman yang berupa pelajaran akan menghasilkan perubahan

(pematangan) pendewasaan pola tingkah laku, perubahan dalam sistem

nilai. Mengajar adalah sesuatu kegiatan, dinamakan demikian, oleh karena

kegiatan mengajar mengandung banyak unsur secara serempak harus

dilakukan bersamaan, unsur-unsur tersebut meliputi ilmu teknologi, ilmu

pendidikan, seni dan lain-lain.

Yang dimaksud dengan pengalaman guru Geografi adalah

pemberian tugas pada siswa adalah suatu metode mengajar yang

diterapkan guru Geografi dalam proses belajar mengajar. Belajar terjadi

apabila suatu situasi stimulus bersama dengan isi ingatan siswa

sedemikian rupa sehingga perbuatan yang berubah dari waktu sebelum ia

mengalami situasi itu ke waktu sesudah ia mengalami situasi tadi. Belajar

adalah setiap perubahan yang relatif menetapkan dalam tingkah laku yang

terjadi sebagai suatu hasil dari latihan atau pengalaman.

Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk

memperoleh suatu perubahan tingkah laku siswa secara keseluruhan

sebagai hasil pengalaman individu ini sendiri dalam interaksi dengan

lingkungan.

18
Dalam penulisan penelitian ini adalah pengalaman mengajar guru

Geografi yang pernah dialami selama menjadi guru di Madrasah

Tsanawiyah Nurul Wathan Remajun Lombok Tengah, baik ditempat

semula ia mengabdi maupun ditempat lain.

8. Kualitas Pengelolaan Kelas ditinjau dari Latar Belakang Pendidikan


dan Pengalaman Mengajar Guru Geografi

Setelah peneliti menjelaskan secara rinci mengenai kualitas

pengelolaan kelas, maka peneliti juga menjelaskan latar belakang

pendidikan dan pengalaman guru dalam mengajar pelajaran geografi yang

mana hal ini memberikan pengaruh besar terhadap situasi pengelolaan

kelas itu sendiri. Guru yang memiliki pengalaman mengajar tentunya akan

dapat memahami karakter siswa, keadaan kelas maupun metode yang

harus digunakan sewaktu mengajar di dalam kelas.

Agar dapat mengelola kelas dengan baik, setiap guru semestinya

terus menerus mengembangkan ilmu pengetahuannya baik yang diperoleh

secara akademis sebagai suatu latar belakang pendidikannya maupun dari

hasil pengalaman yang diperoleh sehari-hari.

Pengalaman guru dalam mengajar menentukan juga keberhasilan

dalam pengelolaan kelas yang mana seorang guru akan mampu memahami

keadaan kelas sehingga seorang guru dalam menerapkan metode yang

cocok atau sesuai dengan keadaan dan situasi kelas yang sedang dilakukan

proses belajar mengajar.

19
Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa keberhasilan

pengelolaan kelas tergantung juga tidak hanya dari pengalaman mengajar

akan tetapi berpengaruh juga terhadap latar belakang pendidikannya.

2.2 Kerangka Teori

Kerangka teori juga dapat dilakukan melalui pengkajian hasil-hasil

penelitian yang releven yang telah dilakukan peneliti lainnya. Hasil penelitian

yang releven dijadikan titik tolak penelitian kita dalam mencoba melakukan

pengulangan, revisi, modifikasi, dan sebagainya.

Berdasarkan kajian teoritis dan hasil-hasil penelitian yang releven,

maka tahap berikutnya peneliti menyusun kerangka berfikir yang

mengarahkan perumusan hepotisis. Dengan demikian produk akhir dari proses

pengkajian kerangka teoritis adalah perumusan hepotisis secara ringkas,

langkah penyususnan teoritis dan pengajuan hipotesis dapat dibagi ke dalam

kegiatan sebagai berikut:

Pengkajian mengenai teori-teori ilmiah yang akan dipergunakan dalam

analisis : a) Pembahasan mengenai penelitian-penelitian lain yang releven; b)

Penyusunan kerangka berfikir dengan menggunakan premis-premis

sebagaimana yang terkandung dalam teori dan hasil penelitian tersebut dengan

menyatakan secara tersurat pernyataan, postulat, asumsi, dan prinsip yang

dipergunakan.

2.3 Hipotesis

Kata hipotesis berasal dari dua rangkaian kata yakni : “hypo” yang

berarti di bawah, dan “thesa” yang berarti kebenaran. Dengan demikian,

20
hipotesis ini secara etimologis berarti di bawah kebenaran (Arikunto,

2002:64). Pernyataan di atas memberikan pemahaman bahwa hipotesis

merupakan pernyataan sementara yang masih perlu diuji kebenaran.

Sedangkan secara difinitif hipotesis ini dapat diterjemahkan sebagai

“Rumusan jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian

(Sugiyono,2000:10). Jawaban sementara terhadap permasalahan penelitian ini

pada dasarnya adalah kesimpulan yang bersifat sementara dari setiap gejala

yang dapat diamati, sedangkan untuk menjadi dalil yang sesungguhnya,

hipotesis perlu pembuktian secara emperis.

Dalam buku metodologi penelitian dijelaskan bahwa “Hipotesis dilihat

dari kategori rumusannya dibagi menjadi dua bagian yaitu: (1) hipotesis nihil

(null hypotheses) yang biasa disingkat dengan Ho, dan (2) hipotesis alternatif

(alternative hypotheses) yang biasanya disebut hipotesis kerja atau disingkat

Ha (Riyanto, 2001:17).

Berdasarkan kutipan-kutipan di atas, maka dapat ditarik suatu

kesimpulan bahwa hipotesis merupakan kesimpulan sementara yang

kebenarannya membutuhkan pembuktian melalui suatu penelitian.

Lebih lanjut Riyanto menjelaskan pengertian dari hipotesis nihil dan

hipotesis alternatif yaitu “Hipotesis nihil (Ho) adalah hipotesis yang

menyatakan tidak ada hubungan atau pengaruh antara variabel dengan variabel

lainnya. Sedangkan hipotesis alternatif (Ha) adalah hipotesis yang menyatakan

ada hubungan atau pengaruh antara variabel dengan variabel lainnya”.

(Riyanto, 2002:17).

21
Berdasarkan hal tersebut di atas, maka penulis mengajukan hipotesis

alternatif (Ha) dan hipotesis nihil (Ho) sebagai berikut:

Ha : Ada pengaruh kualitas pengelolaan kelas dengan latar belakang

pendidikan dan pengalaman guru Geografi di Madrasah Tsanawiyah

Nurul Wathan Remajun Kecamatan Pujut Kabupaten Lombok Tengah

Tahun 2013.

Ho : Tidak ada pengaruh kualitas pengelolaan kelas dengan latar belakang

pendidikan dan pengalaman mengajar guru Geografi di Madrasah

Tsanawiyah Nurul Wathan Remajun Kecamatan Pujut Kabupaten

Lombok Tengah Tahun 2013.

Dengan demikian hipotesis kerja yang diajukan dalam penelitian

ini adalah mengenai kualitas pengelolaan kelas dengan latar belakang

pendidikan dan pengalaman mengajar guru Geografi di Madrasah Tsanawiyah

Nurul Wathan Remajun Kecamatan Pujut Kabupaten Lombok Tengah Tahun

2013.

3. Metode Penelitian

3.1 Rancangan Penelitian

Rancangan dalam penelitian ini sesuai dengan masalah yang akan

dikaji dengan memperhatikan tujuan yang ingin dicapai serta manfaatnya,

maka pendekatan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif, yaitu :

“penelitian yang bersifat atau yang memiliki karakteristik bahwa datanya

ditanyakan dalam data statistik dalam bentuk angka” (Hadari,2004:72).

22
Melalui pendekatan kuantitatif ini diharapkan dapat memberikan hasil

penilitian yang rehabilitas atau valid. Adapun data yang diperoleh dan

sekaligus dibahas melalui pendekatan kuantitatif ini adalah data tentang

kualitas pengelolaan kelas dengan latar belakang pendidikan dan pengalaman

mengajar guru Geografi di Madrasah Tsanawiyah Nurul Wathan Remajun

Kecamatan Pujut Lombok Tengah”.

3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian

1. Lokasi penelitian

Penelitian ini bertempat di MTs. Nurul Wathan Remajun Desa

Pengembur Kecamatan Pujut Kabupaten Lombok Tengah. MTs Nurul

Wathan Remajun termasuk madrasah yang berada di daerah pedesaan

dengan jarak kira-kira 40 km dari pusat kota Mataram dan sekitar 17 km

dari kota Praya.

MTs. Nurul Wathan Remajun melaksanakan pembelajaran di

gedung sendiri. Sekolah ini termasuk kelompok sekolah swasta dalam

naungan yayasan pondok pesantren Nurul Wathan Remajun Kegiatan

pembelajarannya dilaksanakan pada pagi hari.

2. Waktu Penelitian

Waktu penelitian ini dilaksanakan kurang lebih selama 1 bulan yang

diperkirakan dimulai pada bulan Oktober 2013.

3.3 Ruang Lingkup Penelitian

Pengertian ruang lingkup penelitian adalah batasan. Agar tidak terjadi

pembiasan terhadap penelitian, maka peneliti hanya membatasi lingkup

23
penelitian pada kualitas pengelolaan kelas dan latar belakang pendidikan guru

serta pengalaman mengajar guru Geografi di MTs. Nurul Wathan Remajun

Kecamatan Pujut Kabupaten Lombok Tengah tahun 2013.

3.3.1 Metode Penelitian

Metode penelitian adalah suatu cara ilmiah untuk mendapatkan data

dengan tujuan dan kegunaan tertentu. Cara ilmiah berarti kegiatan penelitian

itu didasarkan pada ciri-ciri keilmuan yaitu rasional, empiris dan sistematis.

a. Rasional berarti kegiatan penelitian tersebut di lakukan dengan cara-cara

yang masuk akal, sehingga terjangkau oleh penalaran manusia.

b. Empiris berarti cara yang di lakukan itu dapat diamati oleh indra

manusia sehingga orang lain pun dapat mengamatinya.

c. Sistematis berarti proses yang di lakukan dalam penelitian itu

menggunakan langkah -langkah tertentu bersifat logis.

Secara garis besar metode penelitian dibedakan atas tiga metode

pokok yaitu:

a. Studi Kasus

Kasus artinya kejadian atau peristiwa. Studi kasus berarti

penelitian terhadap suatu kejadian atau peristiwa ini hendaknya tidak

diartikan sebagai kejadian atau peristiwa biasa, yang menurut konsep

bahasa inggris disebut event. Suatu kejadian atau peristiwa yang

mengundang masalah atau perkara, sehingga perlu ditela’ah kemudian

dicarikan cara penanggulangannya antara lain melalui penelitian seperti

studi kasus yang dilakukan oleh psikologi. Dalam rangka mempelajari

24
suatu masalah yang timbul akibat adanya gejala kriminal atau perdata,

kemudian juga untuk dicari cara-cara penanggulangannya melalui

pendekatan hukum.

b. Eksperimen

Eksperimen artinya percobaan. Metode eksperimen berarti metode

percobaan untuk mempelajari pengaruh dari variabel tertentu terhdap

varibel yang lain, melalui uji coba dalam kondisi khusus yang sengaja di

ciptakan. Dalam metode ini ditetapkan sedikitnya tiga variabel yang akan

di hadapi.

1. Variabel yang dipelajari pengaruhnya

disebut variabel tidak terikat

2. Variabel eksperimen.

3. Variabel non eksperimen.

Variabel eksperimen ialah variabel yang dimanipulasi atau diberi

perlakuan oleh variabel yang terikat disebut non-eksperimen ialah

variabel yang tidak dimanipulasi tetap difungsikan sebagai alat control

dan oleh sebab itu variabel ketiga ini disebut variabel control. Variabel

terikat yaitu kualitas pengelolaan kelas, sedangkan variabel control yaitu

latar belakang pendidikan dan pengalaman guru geografi.

c. Survei

Survei artinya pemeriksaan atau pengukuran. Metode survei

berarti metode pemeriksaan dan pengukuran metode penelitian yang

dilakukan untuk mengadakan pemeriksaan dan pengukuran-pengukuran

25
terhdap gejala empirik yang berlangsung di lapangan atau lokasi

penelitian, umumnya dilakukan terhadap unit sampel yang dihadapi

sebagai responden dan bukan terhadap seluruh populasi sasaran.

3.4 Penentuan Sumber Data

Menurut Surakhmad (2008:134) sumber data menurut sifatnya

digolong-kan menjadi 2 yaitu sumber data primer dan sumber data sekunder.

Sumber primer adalah sumber-sumber yang memberikan data langsung dari

tangan pertama. Sedangkan Sumber sekunder adalah sumber mengutip dari

sumber lain. Jika disimak dari keterangan tersebut di atas, maka sumber data

yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah sumber data primer yang

diperoleh dari hasil observasi. Dan sumber sekunder yang diperoleh dari

dokumen-dokumen yang lainnya.

Sumber data dalam penelitian adalah sumber subjek dari mana

diperoleh. Apabila peneliti menggunakan kuisioner atau wawancara

dalam pengumpulan datanya, maka sumber data disebut responden yaitu

orang yang merespon atau menjawab pertanyaan-pertanyaan peneliti baik

pertanyaan tertulis maupun lisan. Sumber data berupa responden ini dipakai

dalam penelitian kuntitatif.

Disamping itu, sumber data juga berupa narasumber (informan). Nara

sumber dalam hal ini yaitu orang yang bisa memberikan informasi lisan

tentang sesuatu yang ingin kita ketahui, seorang informan bisa saja

menyembunyikan informasi penting yang dimiliki. Oleh karena itu, peneliti

26
harus pandai-pandai menggali data dengan cara membangun kepercayaan,

keakraban dan kerja sama dengan subjek yang diteliti disamping tetap kritis

dan analitis, peneliti harus mengenal lebih mendalam informalnya, dan

memilih informan yang benar-benar bisa diharapkan memberikan informasi

yang akurat.

3.5 Variabel Penelitian

3.5.1 Identifikasi Operasional Variabel

Dalam penelitian ini ada dua jenis variabel, yaitu variabel bebas

dan variabel terikat.

a. Variabel Bebas

Menurut Riyanto (2001:15) variabel bebas adalah faktor-faktor

yang mempengaruhi variabel terikat. Yang menjadi variabel bebas dalam

penelitian ini kualitas pengelolaan kelas Guru Geografi di Madrasah

Tsanawiyah Nurul Wathan Remajun Kecematan Pujut Kabupaten

Lombok Tengah Tahun 2013.

b. Variabel Terikat

Menurut Sugiyono (2006:6) variabel terikat adalah variabel yang

dipengaruhi atau yang menjadi akibat karena adanya variabel bebas.

Yang menjadi variabel terikat adalah latar belakang pendidikan guru dan

pengalaman mengajar guru Geografi di Madrasah Tsanawiyah Nurul

Wathan Remajun Kecematan Pujut Kabupaten Lombok Tengah Tahun

2013.

3.6 Teknik Pengumpulan Data

27
Beberapa teknik dalam pengumpulan data penelitian ini

menggunakan instrumen penelitian sebagai alat pengumpul data adalah

sebagai berikut :

1. Metode Angket

Angket adalah sejumlah pernyataan tertulis yang digunakan untuk

memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang

kepribadian atau hal-hal yang dia ketahui (Surakhman, 2004:20). Data

angket yang diperoleh dengan metode ini adalah pengaruh latar belakang

pendidikan dan pengalaman guru geografi terhadap kualitas pengelolaan

kelas. Dalam hal ini, angket dapat dibagi dalam dua jenis yaitu:

a) Angket terbuka (Open questions) yaitu dimana Siswa yang menjadi

sasaran angket itu diberikan kesempatan yang seluas-luasnya untuk

mengemukakan jawabannya atau tanggapannya terhadap

pertanyaan/pernyataan yang diajukan.

b) Angket tertutup (Closed questions) yaitu dimana Siswa yang menjadi

sasaran angket itu tinggal memilih jawaban-jawaban yang disediakan

di dalam angket itu. Dalam penelitian ini angket yang digunakan

adalah angket tertutup yaitu angket yang sudah disediakan jawabannya

sehingga responden tinggal memilih (Suharsimi, 2007:151).

Teknik pengumpulan data penelitian ini adalah dengan teknik

angket untuk data variabel tentang kemampuan guru dalam mengelola

kelas yang diberikan kepada responden. Dalam hal ini yang menjadi

responden adalah siswa MTs. Nurul Wathan Remajun.

28
Teknik studi dokumen, terutama untuk keperluan data tentang

keadaan siswa, guru dan berbagai dokumen sekolah yang relevan dengan

keperluan pengumpulan data penelitian ini

2. Metode observasi

Metode observasi adalah pengamatan dan pencatatan secara

sistematis terhadap gejal yang tampak pada obyek penelitian (Nawawi,

Hadari: 2005:100). Metode ini dipergunakan untuk mengamati beberapa

masalah terutama yang berkaitan dengan kegiatan pembelajaran di MTs.

Nurul Wathan Remajun

Teknik ini dilakukan untuk mengamati berbagai keadaan siswa.

Langkah dalam pengumpulan data melalui teknik observasi adalah

mengamati menggunakan lembar observasi tentang semua aktivitas siswa

selama pelaksanaan penelitian yaitu saat melakukan pembelajaran.

3. Metode Dokumentasi

Metode dokumentasi merupakan cara pengumpulan data dengan

mencatat data-data yang sudah ada (Riyanto, 2001:103). Sedangkan

pendapat lain mengatakan bahwa “Metode dokumentasi adalah mencari

data atau hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkrip, buku, surat

kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, leger, agenda dan sebagainya

(Arikunto, 2002:26).

Dari kedua pendapat di atas, maka yang dimaksud dengan metode

dokumentasi adalah suatu cara untuk memperoleh data yang dilakukan

dengan jalan mencatat keterangan-keterangan yang terdapat dalam

29
dokumen-dokumen seterti daftar nilai (leger) dan catatan khusus dari Guru

yang terkait dengan masalah yang diteliti.

Sehubungan dengan penelitian ini, metode dokumentasi digunakan

untuk mengetahui tentang jumlah Siswa, nama-nama Siswa dan nilai yang

diberikan oleh Guru.

Teknik studi dokumen, terutama untuk keperluan data tentang

keadaan siswa, guru dan berbagai dokumen sekolah yang relevan dengan

keperluan pengumpulan data penelitian ini.

Langkah yang dilakukan dalam pengumpulan data melalui teknik

studi dokumentasi dalam penelitian ini adalah mengumpulkan data-data

yang berhubungan dengan keadaan siswa seperti data pribadi, dan data

tentang kegiatan siswa.

3.7 Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian adalah alat pada waktu peneliti menggunakan

suatu metode” (Arikunto, 2002:126). Untuk memperlancar peneliti dalam

melakukan penelitian, ada beberapa instrument yang digunakan, sehingga

memperlancar peneliti dalam melakukan penelitian.

Dengan demikian untuk memperoleh data, peneliti menggunakan

suatu metode masing-masing dan metode tersebut mempunyai alat atau

instrumen angket, angket (questioner) adalah “sejumlah pertanyaan tertulis

yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti

laporan tentang prihalnya atau hal-hal lain yang diketahui” (Arikunto,

2002:128). Sedangkan angket (questioner) yang diberikan adalah sikap

30
kemandirian (sikap mandiri). Questioner (angket) sikap kemandirian yang

digunakan dalam penelitian ini adalah angket tertutup, maksudnya item-item

disusun dalam bentuk pertanyaan dengan alternative jawaban selalu diberi

skor 3, sering diberi skor 2, kadang-kadang diberi skor 1, dan tidak pernah di

beri skor 0 (nol).

Instumen Penelitian menurut Ibnu Hadjar adalah alat ukur yang

digunakan untuk mendapatkan informasi kuantitatif tentang variasi

karakteristik variabel secara objektif. (Ibnu Hadjar, 1996:160).

Instrumen yang diperlukan dalam penelitian ini adalah data hasil

observasi (pengamatan) kualitas penelolaan kelas di tinjau dari latar belakang

pendidikan guru dan pengalaman mengajar guru geografi.

Untuk memperoleh data seperti yang dimaksud, maka insrtumen

penelitian yang akan dipergunakan dalam penelitian ini adalah metode

observasi, angket, dan metode dokumentasi.

3.8 Prosedur Penelitian

Langkah-langkah atau urutan yang harus di lalui atau di kerjakan dalm

suatu penelitian.

3.8.1 Tahapan Prosedur

a. Mendefinisikan dan merumuskan maslah

Mendefinisikan masalah harus jelas, baik dari segi keluasannya

maupun dari segi kedalamannya.

b. Melakukan studi kepustakaan (studi pendahuluan).

31
c. Mengacu pada teori-teori yang berlaku dan dapat di cari atau di

temukan pada buku-buku teks ataupun penelitian orang lain.

d. Merumuskan hepotesis

Hipotisis merupakan pernyataan atau anggapan yang sifatnya

sementara tentang fenomena yang akan diselidiki, berguna untuk

membantu peneliti menuntun jaln pikirannya agar mencapai hasil

peneitiannya, yang di hepotesiskan adalah pernyataan yang ada pada

rumusan masalah.

1. Menentukan model atau desain penelitian

Model yang di pakai dapat berupa model matematika, tahap ini dapat

diganti dengan tahap menentukan desain peneliti.

2. Menentukan data

Data harus di cari dengan teknik yang sesuai. Mengolah dan

menyajikan informasi setelah data di kumpulkan selanjutnya di olah

sehingga informasi yang tersaji lebih mudah di interprestasikan dan di

analisis lebih lanjut, misalnya dalam bentuk table, grafik dan nilai

statistic. Menganalisis dan menginterprestasikan selanjutnya hasil

olahan tersebut di analisis lebih lanjut dengan menggunakn alat-alat

analisis yang sesuai agar dapat di hasilkan kajian yang cukp tajam,

mendalam dan luas.

3. Membuat kesimpulan

32
4. Pada tahap ini peneliti membuat kesimpulan yang sesuai dengan

hepotesis yang di ajukan, saran di sajikan pula karena penelitian

mempunyai keterbatasan-keterbatasan atau asumsi-asumsi.

5. Membuat laporan.

3.9 Analisa Data

Analisa data yaitu suatu cara-cara yang digunakan dalam pengelolaan

data yang telah dihimpn dari berbagai penelitian sehingga diperoleh

imformasi-imformasi yang berdaya guna. Karena data yang diperoleh

melalui instrument penelitian masih berupa data mentah, maka untuk

menganalisisnya memakai statistik.

Sehubungan dengan analisis statistic ini seorang ahli mengatakan

Analisis statistic dibagi dua yaitu; analisis statistic deskriptif dan statistic

infrensial (deduktif). Analisis statistic deskriptif biasanya digunakan kalau

tujuan penelitiannya penjajakan atau pendahuluan, tidak menarik kesimpulan

hanya memberikan gambran tentang data yang ada. Sedangkan analisis

statistic inferensial digunakan jika peneliti akan memberikan interpretasi

mengenai data atau ingin menarik kesimpulan (Margono, 2007:196).

Setelah data terkumpul maka langkah selanjutnya data tersebut diolah

dan dianalisis dengan jalan tertentu. Data yang diperoleh tersebut dianalisa

dengan teliti sehingga dapat disimpulkan sebagai bahan laporan. Proses

analisis merupakan usaha untuk menemukan jawaban atas pertanyaan-

pertanyaan rumusan dan pelajaran yang diperoleh dalam proyek penelitian.

33
Dalam penelitian ini data yang dimaksud adalah data yang berbentuk

kuantitatif yaitu data yang diselesaikan dalam bentuk angka. dalam

menganalisa data yang terkumpul peneliti menggunakan analisis statistic,

sehingga ruusan yang digunakan adalah rumusan regresi, karena peneliti

ingin mengetahuikualitas pengeloln kelas dengan latar belakang pendidikan

dan pengalaman guru Geografi di Madrasah Tsanawiyah Nurul Wathan

Remajun Lombok Tengah.

Adapun data yang diperoleh selanjutnya akan dianalisis dengan

menggunakan rumus Regresi, yaitu:

NXY (X)(Y)
{X (X) }{NXY (Y })
rxy =
2 2 2 2

Ket. :

rxy = angka indeks korelasi “r” Regresi

N = Number Cases

XY = Jumlah Hasil Perkalian antara skor X dan skor Y

X = Jumlah skor X

Y = Jumlah skor Y (Suharsimi Arikunto, 1998 : 26)

34