Anda di halaman 1dari 10

Konflik antar kelompok : Perspektif Psikologi Sosial

Abstrak
Salah satu permasalahan sosial yang utama adalah konflik antar kelompok. Konflik antar
kelompok adalah pertentangan yang terjadi antara dua kelompok atau lebih yang
disebabkan oleh kepentingan yang sama. Penyebab konflik dapat berasal dari faktor internal
dan eksternal kelompok. Konflik antar kelompok memiliki dampak bagi kelompok, baik yang
menang maupun kalah. Bagi yang menang dapat meningkatkan loyalitas dan identitas sosial
dan bagi yang kalah dapat menimbulkan perpecahan dalam kelompok. Untuk mengurangi
konflik, ada beberapa langkah, yaitu melakukan kontak (komunikasi), berunding, menerima
dan melakukan hasil kesepakatan bersama dan melakukan evaluasi.

Kata kunci: konflik, kelompok,

Pendahuluan

Konflik merupakan suatu hal yang sering dialami oleh individu dan kelompok. Dalam
sejarah kehidupan manusia konflik merupakan bagian dari kehidupan yang tak pernak
terpisahkan Konflik merupakan suatu dilema yang dialami individu atau kelompok. Selama
ini kebanyakan orang memandang konflik dalam dua hal, yaitu sebagai hal yang natural,
normal, dibutuhkan,dan tak dapat dielakan dan sebagai suatu problem yang harus diatasi.
Namun selama ini image terhadap konflik terkesan negatif, artinya konflik selalu diidentik
dengan permasalahan, kekerasan, tidak menyenangkan, penderitaan, dan perang.

Manusia adalah makhluk social. Sebagai makhluk social manusia memilki keinginan untuk
hidup bersama atau berkelompok. Manusia memiliki sifat ketergantungan satu sama lain.
Secara kodrati, manusia tidak dapat hidup sendirian, maka itu manusia selalu ingin menjadi
bagian suatu komunitas atau kelompok tertentu. Kelompok merupakan salah satu ‘alat’ bagi
seseorang dapat dapat mengekspresi segala keinginan, minat dan aspiriasinya. Seseorang
yang bergabung pada suatu kelompok memiliki motivasi dan tujuan tersendiri. Kelompok
membuat seseorang mempunyai suatu identitas tersendiri, yang berbeda dengan orang lain.

Di Indonesia, yang terkenal dengan keberagaman suku, bahasa, dan budaya menjadi suatu
kebanggan tersendiri bagi bangsa Indonesia. Namun, dengan keberagaman itu tak jarang
menimbulkan konflik antar kelompok (suku,d an agama). Kita masih ingat ketika bangsa
indonesia terkena krisis ekonomi tahu 1998, setahun setelah itu konflik antar kelompok
masyarakat dengan menggunakan identitas agama dan etnis di berbagai propinsi di
Indonesia seperti Maluku, Poso, dan Sampit terjadi. Konflik itu tidak hanya menimbulkan
korban jiwa saja melainkan menimbulkan luka psikologis yang sangat dalam bagi mereka
korban konflik.

Berbicara mengenai konflik antar kelompok, maka erat kaitannya dengan kepentingan.
Konflik terjadi antar dua kelompok disebabkan oleh perbedaan pendapat, kepentingan atau
tujuan antara dua atau lebih pihak yang mempunyai obyek yang sama. Konflik juga bisa
terjadi terjadi karena adanya ketidaksesuaia antara harapan dengan realita. Ketika suatu
kelompok mempunyai harapan atau keinginan, dan ketika harapan itu terbentur oleh situasi
nyata yang berlawanan, maka bisa menimbulkan konflik di dalam dan di luar kelompok.
Namun dalam memahami konflik antar kelompok tidak sesederhana itu, banyak faktor yang
menyebabkan mengapa timbul konflik antar kelompok tergantung konteksnya seperti apa.
Masalah perekonomian, psikologis (kecemburuan, prasangka), hukum, ekonomi, serta
perbedaan identitas kelompok (etnik, agama) menjadi masalah utama yang menyebabkan
konflik terutama di negeri ini. Konflik intergroup juga bisa terjadi karena masalah politik,

Electronic copy available at: http://ssrn.com/abstract=2552360


agama, etnik, sejarah dan ekonomi (Costarelli, 2006). Contohnya konflik yang terjadi antara
orang madura dan dayak.

Definisi
Definisi konflik sangat kompleks dan beragam tergantung bagimana tempat dan persepsi
terhadap konflik tersebut. menurut Rubin, dkk (dalam Isenhart & Spangel, 2000) konflik
diartikan sebagai persepsi terhadap kepentingan berbeda. Menurut Swanström dan
Weissmann (2005) konflik adalah perbedaan persepsi terhadap suatu isu oleh dua
kelompok pada waktu yang sama. Wallensteen (dalam Swanström & Weissmann (2005)
mendefinisikan konflik secara umum, ia mengatakan bahwa konflik adalah situasi yang
dimana ada dua atau lebih kelompok yang menginginkan sumber yang langka pada waktu
yang sama. Sumber langka tidak hanya berorentasi secara ekonomi saja, tetapi sejarah,
lingkungan dan keamanan.

Dalam memahmi konsep konflik, kita harus mengetahui tiga hal bagian dari konflik, yaitu
persepsi, perasaan, dan konflik tindakan. Konflik persepsi berkaiatan dengan pemahaman
terhadap sesuatu yang dinginkan kepentingan, nilai yang berseberangan dengan orang lain
atau kelompok lain. konflik sebagai perasaan berkaitan dengan reaksi emosi terhadap
sesautu, setuju atau tidak setuju, suka atau tidak suka. Sedangkan konflik sebagai action
merupakan ekspresi dari perasaan dan persepsi. Konflik sebagai action biasanya
berhubungan dengan power, bisa berbentuk kekerasan,dan destruktif. Lalu bagaimana
konflik antar kelompok?

Konflik antar kelompok terjadi ketika ada dan kepentingan sama atau berbeda dengan
tujuan berbeda dari masing-masing kelompok. menururt teori realistis konflik (realistic
conflict theory) bahwa dalam hubungan antar kelompok terdapat dua tujuan berbeda
terhadap sesuatu yang sama. Hal ini menyebabkan setiap kelompok ingin meraih
keuntungan sebesar-besarnya dengan mengorbankan kelompok lain. selain itu konflik antar
kelompok juga dapat dijelaskan dengan teori identitas sosial. Teori ini meliha bahwa
hubungan antar kelompok harus dilihat dari perspektif kelompok bukan individu. Setiap
individu dalam masyarakat dikelompokkan berdasarkan katagori yang berbeda-beda, misal
jenis kelamin, suku, agama, dan pekerjaan. Maka terbentuk identitas individu, yang nantinya
dapat membentuk identitas kelompok. setiap kelompok merasa lebih unggul dari kelompok
lain. kelompok menjadi pusat segalanya atau etnosentris dan cenderung besifat in-group,
melihat kelompok lain sebagai musuh. Hal-hal sepeti ini yang berpotensi timbulnya konflik
intergroup.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa konflik intergroup merupakan ketidaksesuaian
atau perselisihan yang terjadi antar kelompok, yang diakibatkan oleh kepentingan sama atau
beda dan tujuan berbeda terhadap sesuatu isu dan terjadi pada waktu relatif sama.

Tipe konflik intergroup

Tajfel and Turner (dalam Hewstone & Cairns, 2006) membedakan tipe konflik intergorup
menjadi dua tipe, yaitu :

a. Objective Vs Subjective Conflict


Konflik objektif merupakan konflik yang memiliki sasaran atau tujuan yang jelas. Misalkan
kekuasaan, kekayaan dan wilayah. Factor penyebab Konflik objektif biasanya bukan berasal
dari factor psikologis, tetapi lebih mengarah pada factor social, ekonomi, politik, dan struktur
sejarah. Sedangkan konflik subjektif lebih kearah factor psikologis (prasangka, stereotype).
Walaupun berbeda, konflik objektif dan subjektif dapat saling berhubungan dan konflik
subjektif dapat bertahan lebih lama.

Electronic copy available at: http://ssrn.com/abstract=2552360


b. Explicit Vs Implicit Conflict
Konflik eksplisit (terbuka) adalalah konflik legitimasi dan institusional berdasarakan
peraturan atau norma (kompetisi antar group atau kompetisi world cup dalam sepakbola).
Menurut Tajfel and Turner perilaku terhadap out-group dalam konflik ini dibagi menjadi dua,
yaitu : Instrumental behavior (perilaku sebagai alat) mengacu pada tindakan yang diarahkan
pada in-group untuk memenangkan kompetisi (perilaku seperti itu) dapat diterangkan dalam
kaitan dengan alasan untuk memenangkan) dan Noninstrumental behavior ialah perilaku
yang berkaitan dengan aspek psikologis. Hal ini berkaitan dengan bagaimana seseorang
bersikap,dan berperilaku terhadap kelompok lain. Misalkan, Perilaku diskriminasi dan sikap
prasangka terhadap out group.
Konflik implicit (tersembunyi) adalah konflik yang mengacu pada perbedaan yang ada di
dalam kelompok diakibatkan ketiadaan institusi yang jelas. Pembedaan di dalam kelompok
sengaja dihembuskan oleh anggota kelompok tersendiri atau dari luar. Padahal sebenarnya
tidak ada sesuatu hal berbeda secara mendasar. Misalkan kasus suku Hutu dan Tutsi di
Rwanda. Suku Hutu dan Tutsi memiliki banyak keasamaan, mulai dari bahasa, agama,
budaya dan sejarah melalui pertukaran identitas dengan perkawinan antar suku tesebut.
Tetapi karena perbedaan kecil (tinggi, warna kulit) dihembuskan oleh kaum kolonial, maka
terjadilah konflik antara kedua suku tersebut.

Penyebab konflik antar kelompok (intergroup)


Ada beberapa penyebab konflik antar kelompok, yaitu :
 Kepentingan sama.
Bila dua kelompok mempunyai kepentingan sama terhadap sesuatu, maka timbul
persaingan untuk mendapatkannya. Ketika persaingan terjadi, maka ada upaya-
upaya dari setiap kelompok untuk mendapatkan yang diinginkan, sehingga
terkadang kelompok menggunakan tindakan-tindakan yang merugikan kelompok
lain. Akibatnya timbul konflik antar kelompok (Bornstein, 2003). Misalkan: pada
pemilihan kepala desa. Ada dua kelompok ikut dalam pemilihan tersebut. Kedua
kelompok tersebut memeiliki tujuan sama, yaitu ingin menang;menjadi kepala desa.
Namun karena persaingan yang ketat, ada kelompok yang bermain curang. Hal ini
diketahui kelompok lain. Akibat kelompok tersebut tidak terima dengan hal tersebut.
Dan pada akhirnya dapat menimbulkan konflik antar kelompok bila tidak ditangani
secara baik.
 Streotype, prasangka dan diskriminiasi (Sear, dkk, 1994)
Menururt Sears, dkk, (1983) Streotype, prasangka dan diskriminiasi merupakan tiga
komponen dalam antagonisme kelompok. Pertama, streotype—yang merupakan
komponen kognitif. Streotype adalah keyakinan tentang sifat-sifa pribadi yang dimiliki
orang dalam kelompok. Biasanya streotype berdasarkan katagori sosial. Misalkan
orang batak selalu distreotype sebagai seorang yang keras, dan kasar. Padahal
belum tentu semua orang Batak seperti itu. Kedua, prasangka—yang merupakan
komponen afektif. Prasangka merupakan salah satu sikap yang cenderung negatif.
Prasangka adalah sikap negatif terhadap kelompok tertentu atau seseorang karena
keanggotaannya dalam kelompok tertentu (Baron & Bryne, 1997). Dasar munculnya
prasangka adalah kekeliruan dan generalisasi yang tidak fleksibel (Allport, 1974).
Menurut Baron dan Bryne, (1997) bila prasangka diartikan sebagai siikap, maka
dalam memahami prasangka ada dua aspek, yaitu schema kognitif. Skema ini
berfungsi sebagai framework kognitif;bagaimana mengorganisasi, mengintrepetasi,
dan me-recall informasi (e.g.Fisk & Tayler, 1995). dan evaluasi negatif. Seseorang
yang berprasangka, terhadap anggota kelompok lain, maka cenderung
mengevaluasi secara negatif. Ketiga, diskriminasi—yang merupakan komponen
konatif. Diskriminasi adalah perilakuan berbeda dari pihak lain berdasarkan oleh
keanggotaannya kelompoknya. Ketika seseorang mengalami perlakukan diskriminasi
karena keanggotaanya sebagai aggota kelompok tertentu, maka, akan timbul konflik
kecil pada diri orang tersebut. Bila ini terus berlanjut dan berlangsung lama, maka
bisa terjadi konflik. Misalkan kasus kerusuhan imigran di Prancis tahun 2005. pada
kasus itu tindakan diskriminasi yang diterima dari pihak pemerintah dan masyarakat
Perancis telah menyebabkan timbulnys konflik, yang berujung pada kesrusuhan.
Ketiga komponen ini (Streotype, prasangka dan diskriminiasi) bisa terjadi secara
bersama-sama atau terjadi sacara terpisah, tergantung dari kasusnya seperti apa.
 Sumber daya
Konflik sumber daya, khususnya alam menjadi suatu yang sangat banyak kita temui
di negeri ini. Sumber daya alam menajdi suatu daya tarik yang luar biasa bagi
kelompok-kelompok yang ingin mengambil keuntungan dari sumber daya tersebut.
Sumber daya yang langka bisa menjadi sumber konflik (Swanström &
Weissmann,2005) Misalkan pada kasus air. Biasanya kasus air ini banyak terjadi di
dareha pertanian. Air menajdi suatu yang sangat penting bagi petani, sehingga
mereka berbut untuk menguasai air untuk irigasi sawah. Tak jarang untuk
mendapatkannya mnimbulkan konflik dengan kelompok lain.
 Identitas sosial atau katagori berbeda.
Setiap kelompok mempunyai identitas sosial berbeda. Indentitas suatu kelompok
berkaiatan dengan dengan atribut yang dimiliki. Seperti ciri-ciri, nilai yang dianut,
tujuan, dan norma. Identifikasi social sangat berguna untuk proses katagori dan
perbandingan social (Hogg & Grieve, 1999). Deaux, dkk., (dalam Reid, 2004)
mengidentifikasi ada empat katagori dalam identifikasi social, yaitu lapangan kerja
dan hobi (siswa, atlet),afiliasi politik (democrat, feminis), etnik dan agama (Hispanic,
jewish) dan stigma identitas (alkoholik). Identitas seperti yang di atas berdasarkan
pada anggota yang memiliki kolektivitas besar. Kolektivitas bisa berdasarkan
kesamaam yang dimiliki anggota kelompok. Seseorang cenderung menilai homogen
kelompoknya dan cenderung menilai kelompok lain berbeda. Perbedaan identitas
dapat memicu timbulnya konflik antar kelompok, bila tidak ditangani secara cepat
dan tepat.
 Ketidakadilan (injustice)
ketidakadilan sering kali menimbulkan konflik. Kita bisa melihat banyak konflik-konflik
yang terjadi diakibatkan ketidakadilan. Menururt teori keadilan (equity theory), konflik
terjadi karena adanya ketidakadilan dalam distribusi yang membuat orang atau
kelompok menjadi distress dan frustasi. Akibatnya kelompok menggunakan cara
menurut pandangan mereka benar, tetapi bagi kelompok lain hal tersebut dapat
menimbulkan konflik. Namun perlu dipahami bahwa sebenarnya keadilan keadilan
bersifat relatif atau subjektif bagi setiap orang atau kelompok.persepsi keadilan bagi
setiap kelompok berbeda-beda. Orang atau kelompok lebih cenderung menilai
sesuatu itu adil ketika hasil yang diperoleh lebih menguntungkan bagi kelompoknya
sendiri.
 Perilaku agresif
Perilaku agresif yang dilakukan suatu kelompok terhadap kelompok lain dapat
menimbulkan konflik antar kelompok. Ketika suatu kelompok menyerang kelompok
lain, maka kelompok yang diserang akan membalas. Hal ini akan bisa berlanjut
kepada konflik yang berkepanjangan. Misalkan, ketika pertandingan sepakbola,
suporter persija menyerang suporter persib Bandung, akibat terjadi tawuran.
Kejadian ini berdampak timbulnya konflik

Dari uraian diatas diketahui banyak faktor-faktor yang menyebabkan timbulnya konflik
intergroup, mulai dari kepentingan, sumberdaya, atau masalah psikologis. Namun yang tak
kalah pentingnya adalah situasi di mana konflik itu terjadi. Situasi yang tidak menyenangkan
(aversif situation) dapat meningkatkan kecenderungan timbulnya konflik intergroup (Forsyth,
1983).

Dampak konflik intergroup


Menurut Blake dan Mountein (dalam Johnson & Johnson,2000) konflik intergroup
dihadapkan kepada dua kondisi, yaitu menang atau kalah. Kedua kondisi ini memiliki efek
terhadap anggota dalam kelompok, hubungan antar kelompok dan struktur kelompok
sendiri.
Bagi kelompok yang menang dalam konflik akan berdampak pada:
 Cohesion meningkat
 Ketegangan menururn
 Berkuangnya figh spirit
 Santai
 Timbul kepasan diri
 Streotype positif terhadp kelompok sendiri
 Sterotype negatif terhadap kelompok lain
 Konsolidasi semakin kuat

Bagi kelompok yang kalah dalam konflik akan berdampak pada:


 Mencari alasan kenapa kalah
 Ketegangan meningkat
 Kelompok bekerja lebih keras
 Melakukan recovery
 Mencari kambing hitam atas kekalahan
 Konformitas menurun
 Menggantikan pemimpin
 Belajar lebih banyak

Ditinjau dari dampak konflik antar kelompok, ada dua dampak yang ditimbulkan
akibat konflik intergroup, pertama dampak di dalam kelompok dan luar kelompok.
1) out-group
Setiap kelompok yang terlibat dalam konflik, secara langsung atau tidak langsung
akan memiliki dampak terhadap kelompok tersebut. Bagi kelompok yang menang,
kebanggaan dan popularitas kelompok semakin meningkat, dan bagi yang kalah,
popularitas kelompoknya akan semakin pudar atau bahkan kelompok nya menjadi
bubar. Adanya menang dan kalah dalam konflik intergroup membuat sikap dan
image antar kelompok cenderung negatif (Echebarria & Guide,2003). Menurut
Forsyth (1983) konflik intergroup akan menyebabkan terjadi misperception antar
kelompok. Konflik menjadikan persepsi atau image setiap kelompok menjadi
negative. Selain itu, konflik intergroup juga dapat menimbulkan atau meningkatkan
prasangka antar kelompok. selain itu hubungan antar kelompok khusunya
komunikasi berkurang.
2) in group
Menurut Schein (dalam Wheelan, 1994) ada dua konsekuensi konflik intergroup
terhadap anggota kelompok yaitu: pertama, Cohesion semakin meningkat. Ketika
konflik intergroup terjadi, maka setiap anggota kelompok akan meningkatkan
interaksi antar anggota kelompok. Komunikasi dalam kelompok juga lebih intens
dilakukan dari pada sebelum terjadi konflik. Konflik membuat setiap anggota
kelompok harus sering berinteraksi. Hal ini guna menghadapi atau mengantisipasi
kelompok lain. Bila di dalam kelompok timbul perpecahan, maka akan sangat sulit
bersaing dengan kelompok lain. untuk setiap kelompok yang berkonflik berusaha
untuk “mengikat” setiap anggota kelompok agar terus kompak dan solid, sehingga
peluang untuk menang menjadi lebih besar. Kedua, loyalitas anggota kelompok
semakin meningkat. Konflik membuat setiap anggota kelompok harus lebih patuh
dan comform terhadap kelompoknya. Jika tidak demikian kelompoknya akan sulit
melawan kelompok lawan. Konflik intergroup membuat setiap anggota kelompok
lebih mempunyai rasa memiliki dan rasa tanggung jawab terhadap kelompoknya,
sehingga mereka berusaha untuk terus meningkatkan loyalitas terhadap
kelompoknya. Menururt Blake dan Mouton (dalam Johnson & Johnson, 2000) konflik
intergroup berdampak pada kekuatan struktur kelompok, misalkan pemimpin lebih
militan dalam mengontrol dan anggota kelompok harus mau menerima pemimpin
yang otoriter,

Hasil peneltian yang dilakukan oleh Cho, dan Connelley (2006) tentang efek konflik
intergroup adalah peningkatan identitas sosial. Identitas sosial merupakan perasaan
‘memiliki’ terhadap kelompok. Dia juga mengatakan bahwa Ketika tingkat konflik tinggi,
maka identitas sosial lebih baik dari pada ketika mengalami konflik yang lebih rendah. Hal ini
menunjukan tinggi-rendahnya konflik mempengaruhi identitas sosial anggota terhadap
kelompoknya. Menurut hasil penelitian Rempel, dkk, (1997), ancaman yang dirasa kelompok
akibat konflik intergroup dapat mempengaruhi dalam pemecahan maslah. Semakin besar
ancaman yang dirasa, maka kemampuan dalam pemecahan masalah semakin menurun
dibandingkan dengan kelompok yang menerima sedikit ancaman.

Dinamika konflik intergroup

Interaksi antar kelompok merupakan suatu hal yang penting bagi setiap kelompok. Dengan
berinteraksi, setiap kelompok akan memperoleh banyak manfaat. Kelompok akan
mempunyai jaringan relasi serta kelompok bisa belajar dari kelompok lain. Namun tak
jaerang interaksi dapat menimbulkan konflik antar kelompok. konflik intergroup terjadi ketika
dua atau lebih kelompok memperebutkan sesuatu yang sama dan terjadi pada waktu yang
sama. Biasanya hal yang diperebutkan suatu hal yang penting atau sumber yang langka.
Kondisi ini akan menimbulkan persaingan antar kelompok untuk meraih apa yang dinginkan.
Persaingan antar kelompok dapat berpotensi menimbulkan konflik (Sherif, dkk dalam
Forsyth, 1983). Menurut Campbell dan Sherif (dalam Echebarria & Guide,2003) Persaingan
antar kelompok dapat membuat relasi antarkelompok semakin buruk dan sikap memilih in -
group dan diskriminisai out-group. Setiap kelompok menganggap lebih baik dari kelompok
lain. timbul suatu sikap bahwa kelompoknya-lah yang paling benar. Menganggap kelompok
lain salah dan sebagai musuh. Timbul sikap etnosentris, yaitu pandangan yang
menganggap kelompok diri sendiri adalah pusat segalanya.

Selain itu, persaingan antar kelompok membuat timbulnya permusuhan (hostility) antar
kelompok tersebut. Menurut Sear, dkk. (1994) setiap kelompok merasa tidak senang bila
kelompok yang menjadi lawannya memperoleh target yang ingin diraih setiap kelompok.
Akibatnya timbul reaksi ketidaksenangan, yang pada akhirnya menimbulkan rasa iri,
permusuhan dan persaan marah. Menurut DeSteno, dkk., (2004).rasa marah sangat
berkaitan dengan kompetisi dan konflik. Rasa marah dapat menimbulkan bias dan
kecenderungan untuk menimbulkan prasangka terhadap kelompok lain. Prasangka juga bisa
lahir dari streotype yang terbentuk dari suatu kelompok. ketika kondisi ini terjadi, maka
setiap kelompok akan cenderung menutup diri dari pihak luar dan cenderung mengurangi
komunikasi dengan pihak lawan (Blake & Mounten, dalam Johson &Johson, 2000).

Ketika setiap kelompok berada pada situasi, yang dimana kepentingan kelompok yang
menjadi dominan, maka setiap kelompok berasaha melakukan yang ‘terbaik’ bagi kelompok.
setiap kelompok berusaha untuk meraih segala tujuan, dan kalau perlu dengan cara
mengorbankan kelompok lain. Bila ini terjadi, maka akan terjadi konflik terbuka antar
kelompok. konflik terbuka akan dapat menimbulkan korban jiwa. Kondisi ini merupakan
puncak dari konflik. Ketika timbul korban jiwa, biasanya setiap kelompok mulai menyadari
bahwa konflik yang terjadi perlu segera untuk diakhiri. Namun untuk mengakhiri konflik
tidaklah mudah, perlu kerjasama dari kedua kelompok yang berkonflik. Ada niatan baik
untuk mewujudkan tujuan bersama. Kalau tidak, maka konflik akan terus berlanjut, walau
tidak separah sebelumnya.
Konflik terbuka lebih mudah diatasi dari konflik yang bersifat psikologis. Menurut Tajfel and
Turner (dalam Hewstone & Cairns, 2006) konflik yang bersifat psikologis lebih mampu
bertahan lebih lama. Karena konflik psikologis melekat pada individu masing-masing
kelompok, dan perlu waktu untuk mengatasinya. Misalkan, konflik secara terbuka (fisik) telah
selesai, namun setiap kelompok masih berkembang hal –hal yang bersifat psikologis,
seperti, prasangka, streotype, atau persaan marah. Kondisi inilah yang nantinya bisa
memudahkan untuk munculnya konflik antar kelompok. untuk mengatasi hal seperti perlu
dilakukan usaha bersama dari kedua kelompok yang berkonflik, yang nanti dijelaskan
setelah ini.

Mengurangi konflik Intergroup

Ada beberapa cara yang harus dilakukan untuk mengurangi konflik, yaitu:

a). Komunikasi
Hal yang pertama dilakukan adalah melakukan kontak dengan kelompok yang menjadi
lawan konflik. Hal ini bertujuan untuk membuka komuniksi antar kelompok—yang selama
konflik tidak berjalan dengan baik. Pendekatan Komunikasi merupakan elemen penting
dalam memahami konflik dan menemukan resolusi konflik (Elliz &Maoz, 2003). Komunikasi
merupakan salah satu saran yang efektif untuk mengurangi konflik intergroup. Dengan
komunikasi dapat mengurangi bias-bias yang terjadi dalam konflik.Selain itu, komunikasi
dapat mengurangi prasangka-prasangka yang terjadi selama konflik (Allport, dalam
Costarelli, 2006).

b). Berunding
Setelah terjalin komunikasi antar kelompok, yang harus dilakukan adalah mengadakan
perundingan untuk membuat suatu kesepakatan-kesepakatan yang dapat mengurangi
konflik. Menurut Bila kedua kelompok tidak bisa menemui kesepakatan karena setiap
kelompok amsing berpegang pada ego kelompoknya masing-masing, maka perlu orang
ketiga sebagai mediator. Diharapkan dengan adanya pihak ketiga, jalannya perundingan
lebih bisa fokus dan terkontrol pada permasalahan.

Ada beberapa sifat yang harus dikembangkan setiap kelompok ketika dalam perundingan.
Pertama, Keterbukaan, setiap kelompok harus terbuka terhadap informasi, keinginan-
keinginan dan permasalahan yang ada. Dengan sikap saling terbuka akan membuat setiap
kelompok akan mengetahui, memahami apa yang sebenarnya yang terjadi pada setiap
kelompok. Keterbukaan juga bermanfaat untuk mengklarifikasi isu-isu selama terjadi konflik.
Kedua, Saling menghargai, setiap kelompok harus saling menghargai pendapat atau
keinginan padas setiap kelompok. Dengan sikap ini dapat menjaga dan membuat suasana
kondusif selama proses perundingan. Sikap saling menghargai membuat setiap kelompok
merasa nyaman dan bebas dalam menyampaikan ide-ide dan keinginan yang dimiliki. Bila
kedua sifat diatas dikembangkan dalam perundingan, maka tidak mustahil kesepakat
bersama akan lebih cepat diperoleh.

c). Menerima dan menjalani keputusan yang disepakati


Setelah kesepakatan telah ditetapkan secara bersama, yang harus dilakukan setiap
kelompok adalah menerima kesepakatan tersebut dengan lapang dada. Selanjut setiap
kelompok melaksanakan ketetapan yang telah disepakati bersama.

d). Evaluasi
Evaluasi sangat diperlukan untuk menilai apakah kesepakatan yang telah disepakati dijalan
dengan baik oleh setiap kelompok. Bila tidak berjalan dengan baik, maka proses evaluasi
harus dilakukan oleh setiap kelompok. Evaluasi juga bermanfaat untuk mengidentifikasi
hambatan-hambtan atau permasalahan yang terjadi setelah perundingan. Dengan adanya
evaluasi setiap kelompok akan mengetahui apa-apa yang sebaiknya harus dilakukan ke
depan.

Kesimpulan

 Konflik integroup merupakan konflik yang terjadi antara dua kelompok atau lebih,
yang biasanya disebabkan oleh kepentingan yang sama terhadap sesuatu langka
dan terjadi pada waktu realtif sama. Ada beberapa penyebab konflik intergroup, yaitu
Kepentingan sama, antagonis kelompok (Streotype, prasangka dan diskriminiasi),
sumber daya, ketidakadilan, dan perilaku agresif. selain itu, faktor situasi khusunya
situasi aversif akan lebih mudah menimbulkan terjadinya konflik intergroup
 Dampak konflik intergroup ada dua, yaitu di dalam kelompok (in group) dan di luar
kelompok (out group). Dampak konflik intergroup di dalam kelompok adalah
Cohesion semakin meningkat, loyalitas meningkat, identitas sosial kelompok
meningkat dan gangguan dalam pemecahan masalah. Semakin besar ancaman
yang dirasa, maka kemampuan dalam pemecahan masalah semakin menurun
dibandingkan dengan kelompok yang menerima sedikit ancaman.
 Konflik antar kelompok akan meyebabkan adanya kelompok yang menang dan yang
kalah. Menang dan kalah memiliki dampak yang berbeda-beda. Bagi yang menang
dampaknya adalah cohesion meningkat, ketegangan menururn, berkuangnya figh
spirit, Santai, timbul kepasan diri, streotype positif terhadp kelompok sendiri,
sterotype negatif terhadap kelompok lain dan konsolidasi semakin. Sedangkan yang
kalah, dampaknya adalah mencari alasan kenapa kalah, ketegangan meningkat,
kelompok bekerja lebih keras, melakukan recovery, mencari ‘kambing hitam’ atas
kekalahan, konformitas menurun, menggantikan pemimpin, dan belajar lebih banyak
 Konflik intergroup biasanya diawali dengan persaingan untuk memperbutkan sesuatu
yang memiliki nilai yang langka. Setiap kelompok berusaha ingin meraihnya, dan
berusaha untuk menyingkirkan kelompok lain. persaingan antar kelompok
menimbulkan sikap permusuhan antar kelompok tersebut. Rasa permusuhan dapat
menimbulakn prasangka, persaan marah dan perilaku diskriminasi. Ketika kondisi ini
dibiarkan, maka eskalasi konflik akan mencapai puncaknya. Biasanya diwujudkan
dengan konflik terbuka antar kelompok. setiap kelompok merasa kelompoknya
sendiri yang paling benar. Etnosentris anggota kelompok berkembang. Setelah itu
konflik akan mulai mereda, dan setiap kelompok mulai menyadari bahwa konflik
hanya membawa korban bagi kedua belah pihak. Setiap kelompok mulai
mengadakan kontak untuk mengurangi atau menyelesaikan konflik tersebut.
 Ada beberapa langkah yang bisa digunakan untuk mengurangi konflik intergroup,
yaitu melakukan kontak (komunikasi), berunding, menerima dan melakukan hasil
kesepakatan bersama dan melakukan evaluasi

Daftar Pustaka
Baron, R.A & Bryne. 1997. Social Psychology. (8 th edition). Boston:Ally & Bacon.

Bornstein, G. 2003.Intergroup Conflict: Individual, Group, and Collective Interests.


Personality and Social Psychology Review.2003, Vol. 7, No. 2, 129–145

Cho, B & Connelley,D.L. (2006) The Effect Of Conflict And Power Differentials On Social
Identity And Intergroup Discrimination.
http://papers.ssrn.com/sol3/papers.cfm?abstract_id=320286

Isenhart, MW. & Spangel,M. 2000. Colaborative Aproach to Resolving Conflict.London:Sage


Publication.
Costarelli, S. 2006. Heldref Publications The Distinct Roles of Subordinate andSuperordinate
Group Power, Conflict, and Categorization on Intergroup Prejudice in a
Multiethnic Italian Territory The Journal of Social Psychology, 2006, 146(1), 5–13

DeSteno,D, Dasgupta, N., Monica Y. Bartlett, M.Y and Cajdric,A. 2004.Prejudice From Thin
Air The Effect of Emotion on Automatic Intergroup Attitudes. Psychological
Science. Volume 15—Number 5

Echebarria, A & Guede, E. E. F. 2003. Extending the Theory of Realistic Conflict to


Competition in Institutional Setting: Intergroup Status and Outcome. The Journal of
Social Psychology. 143(6),763-782

Ellis, D.G & Maoz,I.2003 A Communication And Cultural Codes Approach To Ethnonational
Conflict.The International Journal Of Conflict Management, Vol 14, No. 3/4, Pp.
255-272

Forsyth,D. R.1983. An Introduction to Group dynamics. California:Brooks/cole publishing


company

Hewstone. M And Cairns, E. 2006. Social Psychology And Intergroup Conflict.


From:http://www.ripon.edu/academics/psychology/FYS175/syllabus/Hewston.htm

Hogg & Grieve. 1999. Social identity theory and the crisis convidence in social psychology:A
comentari and some research on uncertain reduction. Asial journal of social
psychology (1999) 2:79-93

Johnson, D.W. & Johnson, F.P. (2000). Joining Together:Group Theory and Group Skill.
Seventh edition. Boston:Ally & Bacon.

Miles Hewstone, M. & Cairns. E. Social Psychology And Intergroup Conflict retrieved. 22
April 2006 http://www.ripon.edu/academics/psychology/

Reid, A.2004.Social Identity-Specific Collectivism (SISCOL) and Group Behavior. Self and
Identity, 3: 310–320, 2004

Rempel, Martin W., Fisher, & Ronald J.1997.Perceived Threat, Cohesion, And Group
Problem Solving In Intergroup Conflict. International Journal of Conflict
Management (1997), Vol. 8, Issue 3.

Sears, D.G., Freedman,J.L & Peplau, L.A. 1994. Psychology Sosial. Jilid 2. Alih
Bahasa:Michael Adriyanto. Jakarta :Erlangga

Swanström, N.L.P &. Weissmann, M. S. 2005.Conflict, Conflict Prevention andConflict


Management and beyond: a conceptual exploration. © Central Asia-Caucasus
Institute and Silk Road Studies Program, 2005
(http://www.silkroadstudies.org/new/docs/ConceptPapers/2005)

Wheelan, 1994. Group Procces A Development Perspective. Boston :Allyn & Bacon.

Oleh
Ivan M. Agung/
Fak Psikologi UIN Suska Riau.