Anda di halaman 1dari 47

LAPORAN ASUHAN KEPERAWATAN ANAK

DENGAN POST OP APPENDICTOMY PADA


AN. F DI RUANG MELATI RSUD
TUGUREJO SEMARANG

DISUSUN OLEH :
Agus Wartawan ( 1808001 )
Eliya Vita Afiyanti ( 1808008 )
Fatiha Aisyah P.S ( 1808011 )
Gilang Deka Hayuna ( 1808012 )
Laeli Mahfudoh ( 1808017 )

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


STIKES WIDYA HUSADA SEMARANG
TAHUN AJARAN 2018/2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang
telah melimpahkan karunia-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah
yang berjudul “LAPORAN ASUHAN KEPERAWATAN ANAK DENGAN
TYPHOID PADA AN. F DI RUANG MELATI RSUD TUGUREJO
SEMARANG”.
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Keperawatan Anak.
Kami menyadari bahwa makalah ini dapat tersusun berkat bimbingan dan bantuan
dari berbagai pihak. Maka dalam kesempatan ini kami mengucapkan terima kasih
kepada :
1. Ns. Tri Sakti W, M. Kep, Sp.Kep.An selaku dosen pembimbing dalam praktik
keperawatan Anak yang telah memberikan bimbingannya.

2. Yusril Akhya, S. Kep. Ns, selaku CI di ruang Melati RSUD Tugurejo


Semarang yang telah memberikan bimbingan dan arahan dengan baik
sehingga makalah ini dapat terselesaikan.

Kami menyadari bahwa penulisan makalah ini masih banyak kekurangan


baik pada teknik penulisan maupun materi. Untuk itu kami mengharapkan kritik
dan saran yang bersifat membangun. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi
kita semua dan siapa saja yang membacanya.

Semarang, 5 Februari 2019

Kelompok
DAFTAR ISI

Halaman Judul ............................................................................................. i


Kata Pengantar ............................................................................................ ii
Daftar Isi ....................................................................................................... iii

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ...................................................................................... 1
B. Tujuan .................................................................................................. 1
BAB II LAPORAN PENDAHULUAN
I. Konsep Dasar
A. Definisi .......................................................................................... 2
B. Etiologi .......................................................................................... 2
C. Patofisiologi ................................................................................... 3
D. Pathways ......................................................................................... 5
E. Manifestasi Klinik .......................................................................... 6
F. Penatalaksanaan ............................................................................. 7
G. Pemeriksaan Penunjang ................................................................. 7
II. Konsep Keperawatan
A. Pengkajian ....................................................................................... 8
B. Diagnosa Keperawatan .................................................................... 10
C. Rencana Tindakan ........................................................................... 11
BAB III ASUHAN KEPERAWATAN
A. Pengkajian Keperawatan ....................................................................... 17
B. Analisa Data .......................................................................................... 29
C. Diagnosa Keperawatan .......................................................................... 31
D. Intervensi Keperawatan ....................................................................... 31
E. Implementasi Keperawatan ................................................................... 35
F. Evaluasi ................................................................................................ 42
BABIV PEMBAHASAN
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan .......................................................................................... 49
B. Saran .................................................................................................... 49
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Apendiksitis merupakan kasus bedah gawat darurat pada bagian
abdomen karena adanya peradangan apendiks vermiformis yang menjadi salah
satu penyebab pasien mengalami abdomen akut. Istilah apendisitis di kalangan
masyarakat sering di sebut sebagai usus buntu padahal apendisitis adalah
sekum (Wijaya & Putri, 2013).
Insiden apendisitis Pada tahun 2011 di negara maju lebih tinggi
penyerangannnya pada negara maju, tetapi dalam kurung waktu 3-4 dasawarsa
terakhir kejadiannya menurun. Penyebab dari apendisitis adalah karena
seringnya masyarakat yang mengkonsumsi makanan yang kurang berserat
pada menu kesehariannya. Apendiksitis sama-sama bisa terjadi pada laki-laki
maupun perempuan, tetapi insidensi pada laki-laki umumnya lebih banyak dari
perempuan terutama pada usia 20-30 tahun (Syamsuhidayat & De Jong, 2011).
Hasil penelitian di Amerika, kejadian apendiksitis sebesar 7 % dari
seluruh populasi, dengan insiden 11 kasus per 80.000 penduduk per tahun. Dari
usia 20-30 tahun usia yang paling sering mengalami apendisitis. Laki-laki 1,4 x
lebih sering dari pada wanita. Angka kematian secara keseluruhan adalah
0,2-0,8 % dan lebih sering karena komplikasi yang terjadi dari pada akibat
tindakan bedah yang dilakukan. Insiden perforasi lebih tinggi pada pasien usia
< 18 tahun dan > 50 tahun, hal ini kemungkinan terjadi terkait keterlambatan
diagnosis yang kemudian meningkatkan resiko morbiditas dan mortalitas
(Muttaqin & Sari, 2011).
Pada tahun 2008 kejadian apendiksitis di negara indonesia masih
tergolong tinggi. Jumlah penderita apendisitis sekitar 179.000 orang di negara
indonesia. Menurut Departemen Kesehatan tahun 2008 di indonesia,
apendisitis masuk kedalam indikasi penanganan operasi kegawat daruratan
abdomen. Tahun 2009 kasus apendisitis di indonesia 177 dari 5.980 pelaporan
menjadi penyebab terjadinya kematian (Dinkes Jateng, 2009).
Kronologis apendiksitis dapat dimulai di mukosa, kemudian melibatkan
seluruh lapisan dinding apendiks dalam waktu 24-48 jam pertama. Usaha
pertahanan tubuh adalah membatasi proses radang dengan menutup apendiks
dengan omentum, usus halus atau adneksa sehingga terbentuk massa
peripendikuler yang secara salah dikenal dengan istilah infiltrat apendiks. Di
dalamnya dapat terjadi nekroses jaringan berupa abses yang dapat mengalami
perforasi. Jika tidak berbentuk abses, maka apendiksitis akan sembuh, dan
masa periapendikuler akan menjadi tenang untuk selanjutnya akan mengurai
diri secara lambat. Apendiks yang pernah meradang tidak akan sembuh
sempurna, tetapi akan membentuk jaringan perut yang menyebabkan
pelengketan dengan jaringan sekitarnya. Perlengketan juga dapat
menimbulkan nyeri ulang pada bagian perut kanan bawah, pada suatu saat
ketika organ ini dapat meradang akut lagi dan dinyatakan eksaserbasi akut
(Muttaqin & Sari, 2011).
Peran perawat pada klien dengan apendiksitis yaitu memberikan
perawatan yang sesuai dengan kondisi klien, perawat juga mempunyai peran
sebagai pendidik dalam memberikan pendidikan kesehatan agar dapat
meningkatkan pengetahuan klien mengenai penyakit apendiksitis, perawat
memberikan pelindungan dalam mendapatkan pelayanan kesehatan (Perri &
Potter, 2009).
Uraian latar belakang dari data diatas membuat penulis tertarik untuk
mengangkat asuhan keperawatan pada pasien dengan Post Operasi
Appendiktomi di RSUD Tugurejo Semarang

B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Mendeskripsikan Asuhan Keperawatan pada klien An. F pada kasus post
apendektomi di RSUD Tugurejo Semarang
2. Tujuan Khusus
Setelah menyusun asuhan keperawatan ini, diharapkan mahasiswa mampu :
a. Mengetahui konsep dasar dari apendiksitis yang meliputi pengertian,
penyebab, patofisiologi, manifestasi klinis, pemeriksaan diagnostik,
komplikasi dan penatalaksanaan.
b. Mengetahui konsep dasar asuhan keperawatan pasien dengan apendiksitis
yang meliputi pengkajian, diagnosa, dan fokus intervensi keperawatan.
c. Menganalisis asuhan keperawatan pada pasien Post Operasi apendiktomi
di RSUD Tugurejo Semarang yang meliputi pengkajian, diagnosa,
perencanaan, implementasi dan evaluasi keperawatan.

BAB II
TINJAUAN TEORI
A. Konsep Dasar
1. Pengertian
Apendisitis merupakan suatu kondisi dimana infeksi terjadi di
umbai cacing. Dalam kasus ringan dapat sembuh tanpa perawatan, tetapi
banyak kasus memerlukan laparotomi dengan penyingkiran umbai cacing
yang terinfeksi.Sebagai penyakit yang paling sering memerlukan tindakan
bedah kedaruratan, apendisitis merupakan keadaan inflamasi dan
obstruksi pada apendiks vermiformis. Apendiks vermiformis yang disebut
pula umbai cacing atau lebih dikenal dengan nama usus buntu,
merupakan kantung kecil yang buntu dan melekat pada sekum.
(Nurfaridah, 2015)
Apendisitis merupakan inflamasi di apendiks yang dapat terjadi
tanpa penyebab yang jelas, setelah obstruksi apendiks oleh feses atau
akibat terpuntirnya apendiks atau pembuluh darahya (Corwin, 2009).
Appendiks adalah tonjolan kecil mirip jari di dasar sekum atau berbentuk
kantung buntu di bawah tautan antara usus halus dan usus besar di katup
ileosekum. (Sandi, 2013)
2. Klasifikasi
a. Apendisitis akut
Apendisitis akut adalah : radang pada jaringan apendiks. Apendisitis
akut pada dasarnya adalah obstruksi lumen yang selanjutnya akan
diikuti oleh proses infeksi dari apendiks.
Penyebab obstruksi dapat berupa :
 Hiperplasi limfonodi sub mukosa dinding apendiks.
 Fekalit
 Benda asing
 Tumor.
Adanya obstruksi mengakibatkan mucin / cairan mukosa yang
diproduksi tidak dapat keluar dari apendiks, hal ini semakin
meningkatkan tekanan intra luminer sehingga menyebabkan tekanan
intra mukosa juga semakin tinggi. Tekanan yang tinggi akan
menyebabkan infiltrasi kuman ke dinding apendiks sehingga terjadi
peradangan supuratif yang menghasilkan pus / nanah pada dinding
apendiks. Selain obstruksi, apendisitis juga dapat disebabkan oleh
penyebaran infeksi dari organ lain yang kemudian menyebar secara
hematogen ke apendiks.
b. Apendisitis Purulenta (Supurative Appendicitis)
Tekanan dalam lumen yang terus bertambah disertai edema
menyebabkan terbendungnya aliran vena pada dinding appendiks dan
menimbulkan trombosis. Keadaan ini memperberat iskemia dan
edema pada apendiks. Mikroorganisme yang ada di usus besar
berinvasi ke dalam dinding appendiks menimbulkan infeksi serosa
sehingga serosa menjadi suram karena dilapisi eksudat dan fibrin. Pada
appendiks dan mesoappendiks terjadi edema, hiperemia, dan di dalam
lumen terdapat eksudat fibrinopurulen. Ditandai dengan rangsangan
peritoneum lokal seperti nyeri tekan, nyeri lepas di titik Mc Burney,
defans muskuler, dan nyeri pada gerak aktif dan pasif. Nyeri dan
defans muskuler dapat terjadi pada seluruh perut disertai dengan
tanda-tanda peritonitis umum.
c. Apendisitis kronik
Diagnosis apendisitis kronik baru dapat ditegakkan jika dipenuhi
semua syarat : riwayat nyeri perut kanan bawah lebih dari dua minggu,
radang kronik apendiks secara makroskopikdan mikroskopik, dan
keluhan menghilang satelah apendektomi.
Kriteria mikroskopik apendiksitis kronik adalah fibrosis menyeluruh
dinding apendiks, sumbatan parsial atau total lumen apendiks, adanya
jaringan parut dan ulkus lama dimukosa, dan infiltrasi sel inflamasi
kronik. Insidens apendisitis kronik antara 1-5 persen.
d. Apendissitis rekurens
Diagnosis rekuren baru dapat dipikirkan jika ada riwayat serangan
nyeri berulang di perut kanan bawah yang mendorong dilakukan
apeomi dan hasil patologi menunjukan peradangan akut. Kelainan ini
terjadi bila serangn apendisitis akut pertama kali sembuh spontan.
Namun, apendisitis tidak perna kembali ke bentuk aslinya karena
terjadi fribosis dan jaringan parut. Resiko untuk terjadinya serangn lagi
sekitar 50 persen. Insidens apendisitis rekurens biasanya dilakukan
apendektomi yang diperiksa secara patologik.
Pada apendiktitis rekurensi biasanya dilakukan apendektomi karena
sering penderita datang dalam serangan akut.
e. Mukokel Apendiks
Mukokel apendiks adalah dilatasi kistik dari apendiks yang berisi
musin akibat adanya obstruksi kronik pangkal apendiks, yang biasanya
berupa jaringan fibrosa. Jika isi lumen steril, musin akan tertimbun
tanpa infeksi. Walaupun jarang,mukokel dapat disebabkan oleh suatu
kistadenoma yang dicurigai bisa menjadi ganas.
Penderita sering datang dengan eluhan ringan berupa rasa tidak enak di
perut kanan bawah. Kadang teraba massa memanjang di regio iliaka
kanan. Suatu saat bila terjadi infeksi, akan timbul tanda apendisitis
akut. Pengobatannya adalah apendiktomi.
f. Tumor Apendiks
Adenokarsinoma apendiks
Penyakit ini jarang ditemukan, biasa ditemukan kebetulan sewaktu
apendektomi atas indikasi apendisitis akut. Karena bisa metastasis ke
limfonodi regional, dianjurkan hemikolektomi kanan yang akan
memberi harapan hidup yang jauh lebih baik dibanding hanya
apendektomi.
g. Karsinoid Apendiks
Ini merupakan tumor sel argentafin apendiks. Kelainan ini jarang
didiagnosis prabedah,tetapi ditemukan secara kebetulan pada
pemeriksaan patologi atas spesimen apendiks dengan diagnosis
prabedah apendisitis akut. Sindrom karsinoid berupa rangsangan
kemerahan (flushing) pada muka, sesak napas karena spasme bronkus,
dan diare ynag hanya ditemukan pada sekitar 6% kasus tumor
karsinoid perut. Sel tumor memproduksi serotonin yang menyebabkan
gejala tersebut di atas. Meskipun diragukan sebagai keganasan,
karsinoid ternyata bisa memberikan residif dan adanya metastasis
sehingga diperlukan opersai radikal. Bila spesimen patologik apendiks
menunjukkan karsinoid dan pangkal tidak bebas tumor, dilakukan
operasi ulang reseksi ileosekal atau hemikolektomi kanan
3. Etiologi
Apendisitis belum ada penyebab yang pasti atau spesifik tetapi ada factor
prediposisi yaitu:
a. Faktor yang tersering adalah obstruksi lumen. Pada umumnya
obstruksi ini terjadi karena:
 Hiperplasia dari folikel limfoid, ini merupakan penyebab
terbanyak.
 Adanya faekolit dalam lumen appendiks
 Adanya benda asing seperti biji-bijian
 Striktura lumen karena fibrosa akibat peradangan sebelumnya
b. Infeksi kuman dari colon yang paling sering adalah E. Coli dan
Streptococcus
c. Laki-laki lebih banyak dari wanita. Yang terbanyak pada umur 15-30
tahun (remaja dewasa). Ini disebabkan oleh karena peningkatan
jaringan limpoid pada masa tersebut
d. Tergantung pada bentuk apendiks:
 Appendik yang terlalu panjang
 Massa appendiks yang pendek
 Penonjolan jaringan limpoid dalam lumen appendiks
 Kelainan katup di pangkal appendiks
(Nuzulul, 2009)

4. Manifestasi Klinik
a. Nyeri kuadran bawah terasa dan biasanya disertai dengan demam
ringan, mual, muntah dan hilangnya nafsu makan.
b. Nyeri tekan local pada titik McBurney bila dilakukan tekanan.
c. Nyeri tekan lepas dijumpai.
d. Terdapat konstipasi atau diare.
e. Nyeri lumbal, bila appendiks melingkar di belakang sekum.
f. Nyeri defekasi, bila appendiks berada dekat rektal.
g. Nyeri kemih, jika ujung appendiks berada di dekat kandung kemih
atau ureter.
h. Pemeriksaan rektal positif jika ujung appendiks berada di ujung pelvis.
i. Tanda Rovsing dengan melakukan palpasi kuadran kiri bawah yang
secara paradoksial menyebabkan nyeri kuadran kanan.
j. Apabila appendiks sudah ruptur, nyeri menjadi menyebar, disertai
abdomen terjadi akibat ileus paralitik.
k. Pada pasien lansia tanda dan gejala appendiks sangat bervariasi. Pasien
mungkin tidak mengalami gejala sampai terjadi ruptur appendiks.
Nama pemeriksaan Tanda dan gejala
Rovsing’s sign Positif jika dilakukan palpasi dengan tekanan
pada kuadran kiri bawah dan timbul nyeri pada
sisi kanan.
Psoas sign atau Obraztsova’s sign Pasien dibaringkan pada sisi kiri, kemudian
dilakukan ekstensi dari panggul kanan. Positif
jika timbul nyeri pada kanan bawah.
Obturator sign Pada pasien dilakukan fleksi panggul dan
dilakukan rotasi internal pada panggul. Positif
jika timbul nyeri pada hipogastrium atau vagina.
Dunphy’s sign Pertambahan nyeri pada tertis kanan bawah
dengan batuk
Ten Horn sign Nyeri yang timbul saat dilakukan traksi lembut
pada korda spermatic kanan
Kocher (Kosher)’s sign Nyeri pada awalnya pada daerah epigastrium
atau sekitar pusat, kemudian berpindah ke
kuadran kanan bawah.
Sitkovskiy (Rosenstein)’s sign Nyeri yang semakin bertambah pada perut
kuadran kanan bawah saat pasien dibaringkan
pada sisi kiri
Aure-Rozanova’s sign Bertambahnya nyeri dengan jari pada petit
triangle kanan (akan positif
Shchetkin-Bloomberg’s sign)
Blumberg sign Disebut juga dengan nyeri lepas. Palpasi pada
kuadran kanan bawah kemudian dilepaskan
tiba-tiba

5. Patofisiologi
Apendisitis biasanya disebabkan oleh penyumbatan lumen apendiks
oleh hiperplasia folikel limfoid, fekalit, benda asing, striktur karena
fibrosis akibat peradangan sebelumnya, atau neoplasma.
Obstruksi tersebut menyebabkan mukus yang diproduksi mukosa
mengalami bendungan. Makin lama mukus tersebut makin banyak, namun
elastisitas dinding apendiks mempunyai keterbatasan sehingga
menyebabkan penekanan tekanan intralumen. Tekanan yang meningkat
tersebut akan menghambat aliran limfe yang mengakibatkan edema,
diapedesis bakteri, dan ulserasi mukosa. Pada saat inilah terjadi terjadi
apendisitis akut fokal yang ditandai oleh nyeri epigastrium.
Bila sekresi mukus terus berlanjut, tekanan akan terus meningkat.
Hal tersebut akan menyebabkan obstruksi vena, edema bertambah, dan
bakteri akan menembus dinding. Peradangan yang timbul meluas dan
mengenai peritoneum setempat sehingga menimbulkan nyeri di daerah
kanan bawah. Keadaan ini disebut dengan apendisitis supuratif akut.
Bila kemudian aliran arteri terganggu akan terjadi infark dinding
apendiks yang diikuti dengan gangren. Stadium ini disebut dengan
apendisitis gangrenosa. Bila dinding yang telah rapuh itu pecah, akan
terjadi apendisitis perforasi.
Bila semua proses di atas berjalan lambat, omentum dan usus yang
berdekatan akan bergerak ke arah apendiks hingga timbul suatu massa
lokal yang disebut infiltrat apendikularis. Peradangan apendiks tersebut
dapat menjadi abses atau menghilang. Pada anak-anak, karena omentum
lebih pendek dan apediks lebih panjang, dinding apendiks lebih tipis.
Keadaan tersebut ditambah dengan daya tahan tubuh yang masih kurang
memudahkan terjadinya perforasi. Sedangkan pada orang tua perforasi
mudah terjadi karena telah ada gangguan pembuluh darah (Mansjoer,
2010) .

6. Pathway

2010
7. Komplikasi
Komplikasi terjadi akibat keterlambatan penanganan Apendisitis. Faktor
keterlambatan dapat berasal dari penderita dan tenaga medis. Faktor
penderita meliputi pengetahuan dan biaya, sedangkan tenaga medis
meliputi kesalahan diagnosa, menunda diagnosa, terlambat merujuk ke
rumah sakit, dan terlambat melakukan penanggulangan. Kondisi ini
menyebabkan peningkatan angka morbiditas dan mortalitas. Proporsi
komplikasi Apendisitis 10-32%, paling sering pada anak kecil dan orang
tua. Komplikasi 93% terjadi pada anak-anak di bawah 2 tahun dan 40-75%
pada orang tua. CFR komplikasi 2-5%, 10-15% terjadi pada anak-anak dan
orang tua.43 Anak-anak memiliki dinding appendiks yang masih tipis,
omentum lebih pendek dan belum berkembang sempurna memudahkan
terjadinya perforasi, sedangkan pada orang tua terjadi gangguan pembuluh
darah. Adapun jenis komplikasi diantaranya:
e. Abses
Abses merupakan peradangan appendiks yang berisi pus. Teraba
massa lunak di kuadran kanan bawah atau daerah pelvis. Massa ini
mula-mula berupa flegmon dan berkembang menjadi rongga yang
mengandung pus. Hal ini terjadi bila Apendisitis gangren atau
mikroperforasi ditutupi oleh omentum
f. Perforasi
Perforasi adalah pecahnya appendiks yang berisi pus sehingga
bakteri menyebar ke rongga perut. Perforasi jarang terjadi dalam 12
jam pertama sejak awal sakit, tetapi meningkat tajam sesudah 24 jam.
Perforasi dapat diketahui praoperatif pada 70% kasus dengan
gambaran klinis yang timbul lebih dari 36 jam sejak sakit, panas lebih
dari 38,50C, tampak toksik, nyeri tekan seluruh perut, dan leukositosis
terutamapolymorphonuclear (PMN). Perforasi, baik berupa perforasi
bebas maupun mikroperforasi dapat menyebabkan peritonitis.
g. Peritononitis
Peritonitis adalah peradangan peritoneum, merupakan
komplikasi berbahaya yang dapat terjadi dalam bentuk akut maupun
kronis. Bila infeksi tersebar luas pada permukaan peritoneum
menyebabkan timbulnya peritonitis umum. Aktivitas peristaltik
berkurang sampai timbul ileus paralitik, usus meregang, dan hilangnya
cairan elektrolit mengakibatkan dehidrasi, syok, gangguan sirkulasi,
dan oligouria. Peritonitis disertai rasa sakit perut yang semakin hebat,
muntah, nyeri abdomen, demam, dan leukositosis.

8. Pemeriksaan Penunjang
a. Laboratorium
Terdiri dari pemeriksaan darah lengkap dan C-reactive protein (CRP).
Pada pemeriksaan darah lengkap ditemukan jumlah leukosit antara
10.000-18.000/mm3 (leukositosis) dan neutrofil diatas 75%,
sedangkan pada CRP ditemukan jumlah serum yang meningkat. CRP
adalah salah satu komponen protein fase akut yang akan meningkat 4-6
jam setelah terjadinya proses inflamasi, dapat dilihat melalui proses
elektroforesis serum protein. Angka sensitivitas dan spesifisitas CRP
yaitu 80% dan 90%.
b. Radiologi
Terdiri dari pemeriksaan ultrasonografi (USG) dan Computed
Tomography Scanning(CT-scan). Pada pemeriksaan USG ditemukan
bagian memanjang pada tempat yang terjadi inflamasi pada appendiks,
sedangkan pada pemeriksaan CT-scan ditemukan bagian yang
menyilang dengan fekalith dan perluasan dari appendiks yang
mengalami inflamasi serta adanya pelebaran sekum. Tingkat akurasi
USG 90-94% dengan angka sensitivitas dan spesifisitas yaitu 85% dan
92%, sedangkan CT-Scan mempunyai tingkat akurasi 94-100%
dengan sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi yaitu 90-100% dan
96-97%.
c. Analisa urin bertujuan untuk mendiagnosa batu ureter dan
kemungkinan infeksi saluran kemih sebagai akibat dari nyeri perut
bawah.
d. Pengukuran enzim hati dan tingkatan amilase membantu mendiagnosa
peradangan hati, kandung empedu, dan pankreas.
e. Serum Beta Human Chorionic Gonadotrophin (B-HCG) untuk
memeriksa adanya kemungkinan kehamilan.
f. Pemeriksaan barium enema untuk menentukan lokasi sekum.
Pemeriksaan Barium enema dan Colonoscopy merupakan
pemeriksaan awal untuk kemungkinan karsinoma colon.
g. Pemeriksaan foto polos abdomen tidak menunjukkan tanda pasti
Apendisitis, tetapi mempunyai arti penting dalam membedakan
Apendisitis dengan obstruksi usus halus atau batu ureter kanan.

9. Penatalaksanaan
a. Penatalaksanaan medis.
1) Sebelum operasi
 Observasi
Dalam 8-12 jam setelah timbulnya keluhan, tanda dan gejala
appendisitis sering kali masih belum jelas. Dalam keadaan ini
observasi ketat perlu dilakukan. Pasien diminta melakukan tirah
baring dan dipuasakan. Laksatif tidak boleh diberikan bila
dicurigai adanya appendisitis atau bentuk peritonitis lainnya.
Pemeriksaan abdomen dan rektal serta pemeriksaan darah
( leukosit dan hitung jenis) diulang secara periodik. Foto
abdomen tegak dilakukan untuk mencari kemungkinan adanya
penyulit lain. Pada kebanyakan kasus, diagnosis dilakukan
dengan lokalisasi nyeri di daerah kanan bawah dalam 12 jam
setelah timbulnya keluhan.
 Intubasi bila perlu
 Berikan Antibiotik (ampisilin, gentamisin, metronidazol, atau
klindomisin)
2) Operasi appendiktomi
Pembedahan diindikasikan bila diagnosa apendisitis telah
ditegakkan. Antibiotik dan cairan IV diberikan setelah diagnosa
ditegakkan. Apendiktomi dapat dilakukan sesegera mungkin
untuk menurunkan resiko perforasi. Apendiktomi dapat
dilakukan dibawah anestesi umum atau spinal dengan insisi
abdomen bawah atau dengan laparoskopi yang merupakan
metode terbaru yang sangat efektif.
3) Pasca operasi Perlu dilakukan:
 Observasi TTV dan tanda – tanda syok.
 Baringkan pasien dalam posisi semi fowler.
 Pasien dikatakan baik bila dalam 12 jam tidak terjadi
gangguan dan selama itu pasien dipuasakan.
 Berikan minum mulai 15 ml/jam selama 4 – 5 jam lalu
naikkan menjadi 30 ml/jam keesokan harinya diberikan
makanan saring dan hari berikutnya diberikan makanan
lunak.
 Satu hari post operasi pasien dianjurkan miring kiri / kanan
dan secara bertahap duduk tegak ditempat tidur selama 2 x 30
menit.
 Pada hari kedua pasien dapat diberdirikan dan duduk di luar
kamar.
 Pada hari ke tiga rawat luka dengan teknik aseptic
 Hari berikutnya diberikan makanan lunak dan anjurkan
berdiri tegak dan berjalan di luar kamar
 Hingga hari ketujuh luka jahitan diangkat, dan jika tidak ada
keluhan delegasikan kepada dokter agar pasien dapat
dipulangkan.
b. Penatalaksanaan keperawatan
Adapun tindakan non medis yang diberikan adalah persiapan pasien
untuk apendiktomi diantaranya: perawat memastikan kepada dokter
bahwa pasien melakukan tes darah,cek urin, rontgen, dan puasa sudah
dilaksanakan. Kemudian tindakan keperawatan yang dapat diberikan
post-op adalah perawatan luka jahitan dan mobilisasi pasien secara
teratur untuk mencegah dekubitus.

B. Konsep Keperawatan
1. Pengkajian
Pengkajian merupakan tahap awal dan landasan proses keperawatan
untuk mengenal masalah klien, agar dapat memberi arah kepada tindakan
keperawatan. Tahap pengkajian terdiri dari tiga kegiatan, yaitu
pengumpulan data, pengelompokkan data dan perumusan diagnosis
keperawatan.
Pengumpulan data adalah mengumpulkan informasi tentang status
kesehatan klien yang menyeluruh mengenai fisik, psikologis, sosial budaya,
spiritual, kognitif, tingkat perkembangan, status ekonomi, kemampuan
fungsi dan gaya hidup klien.
a. Identitas
1) Identitas klien
Meliputi nama, umur, jenis kelamin, pendidikan, alamat,
pekerjaan, agama, suku bangsa, tanggal dan jam MRS, nomor
register, diagnose medis, dan status pernikahan.
2) Identitas penanggung jawab klien
Meliputi nama, umur, jenis kelamin, pendidikan, alamat,
pekerjaan, agama, suku bangsa, tanggal dan jam MRS, nomor
register, status pernikahan, dan hub. Dengan klen.
b. Riwayat kesehatan
1) Alasan utama masuk rumah sakit
Pasien mengeluh mual, nyeri hilang timbul pada abdomen bagian
kanan bawah, dan pasien merasa lemas.
2) Keluhan utama
Nyeri pada daerah abdomen kanan bawah
3) Riwayat kesehatan sekarang
Pre operasi: pasien mengeluh nyeri pada abdomen bagian kanan
bawah
Post operasi: Pasien mengeuh nyeri pada luka post operasi
apendektomi, mual muntah, lemas dan badan terasa panas.
4) Riwayat kesehatan dahulu
Kebiasaan makan makanan rendah serat yang dapat menimbulkan
konstipasi sehingga meningkatkan tekanan intrasekal yang
menimbulkan timbulnya sumbatan fungsi appendiks dan
meningkatkan pertumbuhan kuman folar kolon sehingga menjadi
appendisitis akut.
5) Riwayat kesehatan keluarga
Riwayat penyakit yang mungkin pernah diderita oleh keluarga
pasien.
6) Riwayat alergi
Riwayat alergi merupakan apakah pasien ada alergi terhadap
makanan dan obat tertentu atau tidak.
c. Genogram
Adanya genogram untuk mengetahui garis keturunan dari pasien, agar
mengetahui informasi bilamana ada penyakit keturunan pada keluarga
pasien.
d. Pola-pola fungsi kesehatan menurut Gordon
1) Persepsi dan pemeliharaan kesehatan
Pre operasi dan Post operasi
Mengkaji apakah ada kebiasaan merokok, penggunaan obat-obatan,
alkohol dan kebiasaan olah raga (lama frekuensinya),dan bagaimana
cara pasien selama ini memelihara kesehatannya.
2) Nutrisi dan metabolic
Pre operasi
Biasanya pasien tidak ada nafsu makan karena dipengaruhi oleh
adanya nyeri di daerah abdomen bagian kanan bawah. Umumnya
pola minum pasien tidak mengalami gangguan.
Post operasi
Biasanya pasien tidak ada nafsu makan karena dipengaruhi oleh
adanya nyeri di daerah abdomen yang disertai pengaruh anastesi.
Umumnya pola minum pasien tidak mengalami gangguan.
3) Aktivitas dan latihan
Pre operasi
Umumnya pasien masih bisa melakukan aktivitas namun masih
dibantu orang lain, hal ini disebabkan karena adanya nyeri pada
daerah abdomen bagian kanan bawah.
Post operasi
Umumnya pada pasien operasi apendiktomy pola aktivitas
mengalami gangguan karena disebabkan nyeri pada daerah bekas
insisi. aktifitas biasanya terbatas karena harus bedrest berapa waktu
lamanya setelah pembedahan.
4) Tidur istirahat
Pre operasi
Pada umumnya pola istirahat pasien mengalami gangguan disebabkan
nyeri pada abdomen bagian kanan bawah.
Post operasi
Pada umumnya pola istirahat pasien mengalami gangguan disebabkan
nyeri pada luka insisi.
5) Eliminasi
Pre operasi
Pada pola eliminasi urine akan terjadi penurunan akibat rasa nyeri
pada abdomen. Pola eliminasi alvi umumnya akan mengalami
gangguan akibat terjadinya konstipasi, sehingga terjadi penurunan
fungsi.
Post operasi
Pada pola eliminasi urine akibat penurunan daya konstraksi kandung
kemih akibat efek dari obat anastesi, rasa nyeri atau karena tidak
biasa BAK ditempat tidur akan mempengaruhi pola eliminasi urine.
Pola eliminasi alvi akan mengalami gangguan yang sifatnya
sementara karena efek obat anastesi dapat menurunkan peristaltik
lambung
6) Pola persepsi kesehatan (konsep diri)
Pre operasi
Klien mengalami kecemasan tentang keadaan dirinya sehingga
penderita mengalami emosi yang tidak stabil.
Post operasi
Penderita menjadi ketergantungan dengan adanya kebiasaan gerak
segala kebutuhan harus dibantu. sehingga penderita mengalami emosi
yang tidak stabil.
7)Peran dan hubungan social
Pre operasi
Pada umumnya pasien mengalami gangguan pada peran serta
hubungan social akibat nyeri pada abdomen yang disebabkan
karena penyakit appendiksitis
Post operasi
Dengan keterbatasan gerak kemungkinan penderita tidak bisa
melakukan peran baik dalam keluarganya.
8) Seksual dan reproduksi
Pre operasi dan Post operasi
Pada umumnya pola seksual dan reproduksi akan mengalami
gangguan akibat nyeri pembedahan appendiktomi
9) Manajemen koping
Pre operasi
Jika klien setres mengalihkan pada hal lain.
Post operasi
Klien kalau stress murung sendiri, seperti mencoba menutup diri
10) Kognitif perceptual
Pre operasi dan Post operasi
Ada tidaknya gangguan sensorik nyeri, penglihatan serta pendengaran,
kemampuan berfikir, mengingat masa lalu, orientasi terhadap orang
tua, waktu dan tempat
11) Nilai dan kepercayaan
Pre operasi
Umumnya pasien masih bisa melakukan aktivitas spiritual dengan
dibantu oleh orang lain
Post operasi
Umumnya pada pasien apendiktomy keadaan spiritualnya mengalami
gangguan karena terjadinya nyeri akibat dari proses pembedahan
abdomen
e. Pemeriksaan fisik
1) Keadaan umum
Kesadaran : umumnya tidak mengelami penurunan kesadaran
Tanda-tanda vital
 Tekanan darah
 Suhu
 Pernafasan
 Denyut nadi
2) Pre operasi
 Abdomen :
 Inspeksi: Pada apendisitis akut sering ditemukan adanya
abdominal swelling, sehingga pada pemeriksaan jenis ini
biasa ditemukan distensi perut.
 Auskultrasi: Pada umumnya adanya penurunan peristaltik
akibat konstipasi
 Perkusi : Pada umumnya terdapat
 Palpasi: Pada daerah perut kanan bawah apabila ditekan
akan terasa nyeri. Ini disebut tanda Rovsing (Rovsing Sign).
Dan apabila tekanan di perut kiri bawah dilepaskan juga
akan terasa nyeri pada perut kanan bawah.Ini disebut tanda
Blumberg (Blumberg Sign).Nyeri tekan perut kanan bawah
merupakan kunci diagnosis dari apendisitis

3) Post operasi
 Sistem hematologi : terjadi peningkatan leukosit yang merupakan
tanda adanya infeksi dan pendarahan.
 Sistem gastrointestinal: Distensi abdomen dan adanya penurunan
bising usus dapat terjadi pada pasien post appendiktomi karena
pasien dalam efek anastesi sehingga aliran vena dan gerakan
peristaltik usus menjadi menurun.
 Sistem muskuloskeletal : ada kesulitan dalam pergerakkan karena
post operasi
 Sistem Persyarafan: Terdapat nyeri pada luka insisi pembedahan.
 Sistem Integumen : adanya luka bekas operasi pada kulit bagian
abdomen kanan bawah.
 Abdomen :
 Inspeksi : Akan tampak adanya luka bekas operasi pada
abdomen kanan bawah.
 Auskultrasi: Umumnya terjadi penurunan paristaltik usus
akibat dari pengaruh sisa obat anastesi
 Perkusi: Perkusi pada seluruh kuadran kecuali pada kuadran
ke-4 suara normal (timpani)
 Palpasi: didaerah perut kanan bawah bila ditekan akan terasa
nyeri dan bila tekanan dilepas juga akan terasa nyeri
(Blumberg sign) dan Dengan tindakan tungkai kanan dan
paha ditekuk kuat / tungkai di angkat tinggi-tinggi, maka rasa
nyeri di perut semakin parah (psoas sign), bila tekanan
dilepaskan juga akan terasa nyeri.

2. Prioritas dan diagnosa Keperawatan


a. Pre operasi
1) Nyeri akut berhubungan dengan agen injuri biologi (distensi jaringan
intestinal oleh inflamasi)
2) Perubahan pola eliminasi (konstipasi) berhubungan dengan
penurunan peritaltik.
3) Kekurangan volume cairan berhubungan dengan mual muntah.
4) Cemas berhubungan dengan akan dilaksanakan operasi.
b. Post operasi
1) Nyeri akut berhubungan dengan agen injuri fisik (luka insisi post
operasi appenditomi).
2) Resiko infeksi berhubungan dengan tindakan invasif (insisi post
pembedahan).
3) Defisit self care berhubungan dengan nyeri.
4) Kurang pengetahuan tentang kondisi prognosis dan kebutuhan
pengobatan b.d kurang informasi.
3. Perencanaan Keperawatan
PRE OPERASI
N DIAGNOSA
NOC NIC RASIONAL
O KEPERAWATAN
1. Nyeri akut Setelah dilakukan asuhan a. Kaji tingkat nyeri, lokasi a. Untuk mengetahui sejauh mana
berhubungan dengan keperawatan, diharapkan nyeri dan karasteristik nyeri. tingkat nyeri dan merupakan
agen injuri biologi klien berkurang dengan kriteria b. Jelaskan pada pasien indiaktor secara dini untuk dapat
(distensi jaringan hasil : tentang penyebab nyeri memberikan tindakan
intestinal oleh a. Klien mampu mengontrol c. Ajarkan tehnik untuk selanjutnya
inflamasi) nyeri (tahu penyebab nyeri, pernafasan diafragmatik b. Informasi yang tepat dapat
mampu menggunakan tehnik lambat / napas dalam menurunkan tingkat kecemasan
nonfarmakologi untuk d. Berikan aktivitas pasien dan menambah
mengurangi nyeri, mencari hiburan (ngobrol pengetahuan pasien tentang
bantuan) dengan anggota nyeri.
b. Melaporkan bahwa nyeri keluarga) c. Napas dalam dapat menghirup
berkurang dengan e. Observasi tanda-tanda O2 secara adequate sehingga
menggunakan manajemen vital otot-otot menjadi relaksasi
nyeri f. Kolaborasi dengan tim sehingga dapat mengurangi rasa
c. Tanda vital dalam rentang medis dalam pemberian nyeri.
normal : TD (systole analgetik d. Meningkatkan relaksasi dan
110-130mmHg, diastole dapat meningkatkan kemampuan
70-90mmHg), kooping.
HR(60-100x/menit), RR e. Deteksi dini terhadap
(16-24x/menit), suhu perkembangan kesehatan pasien.
0
(36,5-37,5 C) f. Sebagai profilaksis untuk dapat
d. Klien tampak rileks mampu menghilangkan rasa nyeri.
tidur/istirahat
2. Perubahan pola Setelah dilakukan asuhan a. Pastikan kebiasaan a. Membantu dalam pembentukan
eliminasi keperawatan, diharapkan defekasi klien dan gaya jadwal irigasi efektif
(konstipasi) konstipasi klien teratasi dengan hidup sebelumnya. b. Kembalinya fungsi
berhubungan dengan kriteria hasil: b. Auskultasi bising usus gastriintestinal mungkin
penurunan peritaltik. a. BAB 1-2 kali/hari c. Tinjau ulang pola diet terlambat oleh inflamasi intra
b. Feses lunak dan jumlah / tipe peritonial
c. Bising usus 5-30 kali/menit masukan cairan. c. Masukan adekuat dan serat,
d. Berikan makanan tinggi makanan kasar memberikan
serat. bentuk dan cairan adalah faktor
e. Berikan obat sesuai penting dalam menentukan
indikasi, contoh : konsistensi feses.
pelunak feses d. Makanan yang tinggi serat dapat
memperlancar pencernaan
sehingga tidak terjadi konstipasi.
e. Obat pelunak feses dapat
melunakkan feses sehingga tidak
terjadi konstipasi.
3. Kekurangan volume Setelah dilakukan asuhan a. Monitor tanda-tanda a. Tanda yang membantu
cairan berhubungan keperawatan diharapkan vital mengidentifikasikan fluktuasi
dengan mual keseimbangan cairan dapat b. Kaji membrane volume intravaskuler.
muntah. dipertahankan dengan kriteria mukosa, kaji tugor kulit b. Indicator keadekuatan sirkulasi
hasil: dan pengisian kapiler. perifer dan hidrasi seluler.
a. kelembaban membrane c. Awasi masukan dan c. Penurunan haluaran urin pekat
mukosa haluaran, catat warna dengan peningkatan berat jenis
b. turgor kulit baik urine/konsentrasi, berat diduga dehidrasi/kebutuhan
c. Haluaran urin adekuat: 1 jenis. peningkatan cairan.
cc/kg BB/jam d. Auskultasi bising usus, d. Indicator kembalinya peristaltic,
d. Tanda-tanda vital dalam batas catat kelancaran flatus, kesiapan untuk pemasukan per
normal : TD (systole gerakan usus. oral.
110-130mmHg, diastole e. Berikan perawatan e. Dehidrasi mengakibatkan bibir
70-90mmHg), mulut sering dengan dan mulut kering dan
HR(60-100x/menit), RR perhatian khusus pada pecah-pecah
(16-24x/menit), suhu perlindungan bibir. f. Selang NG biasanya dimasukkan
(36,5-37,50C) f. Pertahankan pada praoperasi dan
penghisapan dipertahankan pada fase segera
gaster/usus. pascaoperasi untuk dekompresi
g. Kolaborasi pemberian usus, meningkatkan istirahat
cairan IV dan elektrolit usus, mencegah mentah.
g. Peritoneum bereaksi terhadap
iritasi/infeksi dengan
menghasilkan sejumlah besar
cairan yang dapat menurunkan
volume sirkulasi darah,
mengakibatkan hipovolemia.
Dehidrasi dapat terjadi
ketidakseimbangan elektrolit
4. Cemas berhubunga Setelah dilakukan asuhan a. Evaluasi tingkat a. Ketakutan dapat terjadi karena
n dengan akan keperawatan, diharapkan ansietas, catat verbal nyeri hebat, penting pada
dilaksanakan kecemasan klien berkurang dan non verbal pasien. prosedur diagnostik dan
operasi. dengan kriteria hasil : b. Jelaskan dan persiapkan pembedahan.
a. Melaporkan ansietas menurun untuk tindakan prosedur b. Dapat meringankan ansietas
sampai tingkat teratasi sebelum dilakukan terutama ketika pemeriksaan
b. Tampak rileks c. Jadwalkan istirahat tersebut melibatkan
adekuat dan periode pembedahan.
menghentikan tidur. c. Membatasi kelemahan,
d. Anjurkan keluarga menghemat energi dan
untuk menemani meningkatkan kemampuan
disamping klien koping.
d. Mengurangi kecemasan klien
POST OPERASI
N DIAGNOSA
NOC NIC RASIONAL
O KEPERAWATAN
1. Nyeri aberhubungan Setelah dilakukan asuhan a. Kaji skala nyeri lokasi, a. Berguna dalam pengawasan dan
dengan agen injuri keperawatan, diharapkan nyeri karakteristik dan keefesien obat, kemajuan
fisik (luka insisi post berkurang dengan kriteria hasil : laporkan perubahan penyembuhan,perubahan dan
operasi a. Melaporkan nyeri berkurang nyeri dengan tepat. karakteristik nyeri.
appenditomi). b. Klien tampak rileks b. Monitor tanda-tanda b. Deteksi dini terhadap
c. Dapat tidur dengan tepat vital perkembangan kesehatan pasien.
d. Tanda-tanda vital dalam batas c. Menghilangkan tegangan
normal : TD (systole c. Pertahankan istirahat abdomen yang bertambah dengan
110-130mmHg, diastole dengan posisi semi posisi terlentang.
70-90mmHg), powler. d. Meningkatkan kormolisasi fungsi
HR(60-100x/menit), RR d. Dorong ambulasi dini. organ.
(16-24x/menit), suhu e. Berikan aktivitas e. Meningkatkan relaksasi.
(36,5-37,50C) hiburan. f. Menghilangkan nyeri.
f. Kolaborasi tim dokter
dalam pemberian
analgetika.
2. Resiko infeksi Setelah dilakukan asuhan a. Kaji adanya tanda-tanda a. Dugaan adanya infeksi
berhubungan dengan keperawatan diharapkan infeksi infeksi pada area insisi b. Dugaan adanya
tindakan invasif dapat diatasi dengan kriteria hasil : b. Monitor tanda-tanda vit infeksi/terjadinya sepsis, abses,
(insisi post a. Klien bebas dari tanda-tanda al. Perhatikan demam, peritonitis
pembedahan). infeksi menggigil, berkeringat, c. Mencegah transmisi penyakit
b. Menunjukkan kemampuan perubahan mental virus ke orang lain
untuk mencegah timbulnya c. Lakukan teknik isolasi d. Mencegah meluas dan
infeksi untuk infeksi enterik, membatasi penyebaran
c. Nilai leukosit (4,5-11ribu/ul) termasuk cuci tangan organisme infektif / kontaminasi
efektif. silang.
d. Pertahankan teknik e. Menurunkan resiko terpajan.
aseptik ketat pada f. Terapi ditunjukkan pada bakteri
perawatan luka insisi / anaerob dan hasil aerob gra
terbuka, bersihkan negatif.
dengan betadine.
e. Awasi / batasi
pengunjung dan siap
kebutuhan.
f. Kolaborasi tim medis
dalam pemberian
antibiotik
3. Defisit self care Setelah dilakukan asuhan a. Mandikan pasien setiap a. Agar badan menjadi segar,
berhubungan dengan keperawatan diharapkan hari sampai klien melancarkan peredaran darah dan
nyeri. kebersihan klien dapat mampu melaksanakan meningkatkan kesehatan.
dipertahankan dengan kriteria sendiri serta cuci rambut b. Untuk melindungi klien dari
hasil : dan potong kuku klien. kuman dan meningkatkan rasa
a. klien bebas dari bau badan b. Ganti pakaian yang nyaman
b. klien tampak bersih kotor dengan yang c. Agar klien dan keluarga dapat
c. ADLs klien dapat mandiri bersih. termotivasi untuk menjaga
atau dengan bantuan c. Berikan personal hygiene.
Hynege Edukasipada d. Agar klien merasa tersanjung dan
klien dan keluarganya lebih kooperatif dalam
tentang pentingnya kebersihan
kebersihan diri. e. Agar keterampilan dapat
d. Berikan pujian pada diterapkan
klien tentang f. Klien merasa nyaman dengan
kebersihannya. tenun yang bersih serta mencegah
e. Bimbing keluarga klien terjadinya infeksi.
memandikan / menyeka
pasien
f. Bersihkan dan atur
posisi serta tempat tidur
klien.
4. Kurang pengetahuan Setelah dilakukan asuhan a. Kaji ulang pembatasan a. Memberikan informasi pada
tentang kondisi keperawatan diharapkan aktivitas pascaoperasi pasien untuk merencanakan
prognosis dan pengetahuan bertambah dengan b. Anjuran menggunakan kembali rutinitas biasa tanpa
kebutuhan kriteria hasil : laksatif/pelembek feses menimbulkan masalah.
pengobatan b.d a. menyatakan pemahaman ringan bila perlu dan b. Membantu kembali ke fungsi
kurang informasi. proses penyakit dan hindari enema usus semula mencegah ngejan
pengobatan c. Diskusikan perawatan saat defekasi
b. berpartisipasi dalam program insisi, termasuk c. Pemahaman meningkatkan kerja
pengobatan mengamati balutan, sama dengan terapi,
pembatasan mandi, dan meningkatkan penyembuhan
kembali ke dokter untuk d. Upaya intervensi menurunkan
mengangkat resiko komplikasi lambatnya
jahitan/pengikat penyembuhan peritonitis.
d. Identifikasi gejala yang
memerlukan evaluasi
medic, contoh
peningkatan nyeri
edema/eritema luka,
adanya drainase,demam
BAB III
TINJAUAN KASUS

1. PENGKAJIAN FUNGSIONAL MENURUT GORDON


a. Persepsi Kesehatan dan Pola Manajemen Kesehatan
1) Status kesehatan anak sejak lahir
Ibu klien mengatakan anaknya sehat, jarang sakit. Hanya demam
batu pilek biasa. Setiap sakit ibu klien memeriksakan anaknya ke
bidan/puskesmas terdekat dan diberi obat langsung sembuh.
2) Pemeriksaan kesehatan kelengkapan imunisasi
Ibu klien mengatakan anaknya sudah diimunisasi lengkap di
puskemas dekat rumah
3) Penyakit yang menyebabkan anak absen dari sekolah
Ibu klien mengatakan jika anak demam tinggi, batuk terus
menerus biasanya klien ijin sakit tidak mengikuti kegiatan sekolah
4) Praktek pencegahan kesehatan
Ibu klien selalu mengajarkan anaknya untuk mencuci tangan baik
sebelum makan maupun setelah makan.
5) Apakah orang tua merokok didekat anak?
Ibu An. F tidak merokok, sedangkan bapak An. F memiliki
kebiasaan merokok, Bapak An.F mengatakan saat merokok
biasanya menjauh dari anaknya agar anaknya tidak terkena asap
rokok
6) Mainan anak? Keamanan kendaraan ?
Ibu An. F mengatakan mainan-mainan klien dirumah aman, tidak
membahayakan klien, jika mengantar anaknya pergi dengan
kendaraan bermotor An. F menggunakan helm
7) Praktek Keamanan Orang Tua
Ibu An. F mengatakan produk rumah tangga yang tajam,
berbahaya, beracun diletakkan jauh dari jangkauan anaknya,
sedangkan penyimpanan obat-obatan lengkap, mudah ditemukan,
tersimpan dengan baik
b. Nutrisi – Pola Metabolik
1) Nutrisi Anak
An. F selama di RS mendapatkan diit makanan berupa nasi lauk
pauk, makan 3x/hari habis 1/2 porsi ± 150 cc/hari. Mual (+)
muntah (-) dan tidak nafsu makan.
An. F masih minum air putih 800 cc/hari.
A : BB sebelum sakit : 25 kg
BB selama sakit : 25 kg
TB : 132 cm
IMT : 14,92 (sangat kurus)
B: Hemoglobin : H 15,70 gr/dL
Lekosit : 5,13 10^3/uL
Trombosit : 329 10^3/uL
Hematocrit : 45,30%
C: Konjungtiva tidak anemis, mukosa bibir kering
D: Bubur TK Protein 1700 kalori
Balance Cairan
 Input
Makan : 150 cc/hari
Minum : 800 cc/hari
Infus : 1000 cc/hari
Obat : 63 cc/hari
AM : 50 cc/hari ( 5 cc x 10 kg) +
: 2063 cc/hari
 IWL : (30 – usia dalam tahun) x kg BB/ 24 jam
: 20 x 25 kg BB/ 24 jam

: 500 x / 24 jam
: 500 cc/ 24 jam atau 20,83 cc/jam

 IWL Kenaikan suhu


: IWL normal + 200 (suhu sekarang – 36,8˚C)
: 500 + 200 (37,0 ˚C – 36,8 ˚C)
: 500 + 200 (0,2)
: 540 cc
 Output
BAB : 100 cc
BAK : 1200 cc
IWL : 540 +
: 1840 cc/hari
 Input – Output : 2063 – 1840 = 223 cc/hari
c. Pola Eliminasi
Ibu klien mengatakan anaknya BAB pagi 1 kali ± 100 cc. Dengan
konsistensi lembek, warna kuning, bau khas. Tidak diare.
BAK 6-7 kali sehari ± 1200 cc/hari dengan konsistensi kuning jernih.
d. Aktivitas dan Latihan
Ibu klien mengatakan disibin dengan air hangat dan sabun, toileting
dibantu oleh keluarga, berpakaian dibantu, makan dan minum dapat
dilakukan mandiri
e. Pola Istirahat dan Tidur
Ibu klien mengatakan An. Y tidur siang dari jam 12.00 – 15.00 WIB,
tidur malam dari jam 20.30 – 05.30 WIB. Post op hari ke 0, Posisi tidur
terlentang. Gerakan motorik anak normal.
f. Pola Kognitif dan Persepsi
Ketika diajak bicara klien selalu menatap lawan bicara, apabila diberi
sentuhan, klien selalu menghindar, mampu menyebutkan nama,
mampu menunjukkan siapa orang tuanya, mampu menunjukkan
bagian yang sakit dan apa yang dirasakan, suara vocal normal, bicara
pelan, tidak mempunyai gangguan persepsi sensori.
g. Pola Persepsi Diri dan Konsep Diri
Klien tidak mudah marah atau menangis saat diberikan tindakan
keperawatan, klien mengetahui bahwa dirinya adalah seorang laki-laki.
Klien mempunyai banyak teman dirumahnya. Klien adalah anak yang
aktif dan periang.
h. Seksualitas
Klien adalah seorang anak laki-laki
i. Koping dan Toleransi Stress
1) Penyebab stress pada anak
Penyebab stress pada anak adalah ketika sakit, klien merasa tidak
nyaman sehingga membuat klien rewel dan menangis
2) Apabila anak sakit, Ibu klien selalu membawa klien ke dokter atau
puskesmas terdekat.
j. Nilai dan Keyakinan
1) Perkembangan moral anak baik, anak selalu diajarkan berdoa
sebelum melakukan kegiatan.
2) Keluarga yakin bahwa setiap penyakit pasti ada obatnya. Dan
selalu berdoa kepada Allah untuk meminta kesembuhan.

2. PEMERIKSAAN FISIK
a. Keadaan Umum
Kesadaran : composmentis
Postur Tubuh : Kurus
b. Tanda Vital
Tekanan darah : 106/67 mmHg
Suhu : 37 OC
Nadi : 100 x/menit
RR : 20x/ menit
SPO2 : 99 %
c. Atropometri
Lingkar Kepala : 20 cm
LILA : 15 cm
Lingkar Dada : 38 cm
TB : 132 cm
BB : 26 kg
Z – Score :
 WAZ (Baku berat menurut umur)
Z – Score = nilai riel – nilai median
SD lower
= 26 – 33,9
5,20
= -1,51 (Berat badan normal)
 HAZ (Baku tinggi badan menurut umur)
Z – Score = nilai riel – nilai median
SD lower
= 132 – 141,3
6,50
= -1,43 (normal)
 WHZ (Baku berat badan menurut tinggi badan)
Z – Score = nilai riel – nilai median
SD upper
= 132 – 27,6
3,9
= 26,77 (gemuk)
d. Kepala : Mesochepal, rambut hitam, bersih, tidak berbau, lurus, tidak
mudah dicabut.
e. Mata : Bersih, conjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik,
pelpebra tidak edema, pupil ishokor, reaksi terhadap cahaya.
f. Hidung : simetris,tidak terdapat secret RR :20 x/menit
g. Mulut : Bersih, mukosa lembab, tidak ada stomatitis, tidak ada
perdarahan gusi, tidak ada karies gigi.
h. Telinga : Bersih, tidak ada sekret/serumen, fungsi pendengaran tidak
ada gangguan, bentuk simetris.
i. Jantung
I : iktus kordis tidak tampak, bentuk dada simetris
P : tidak ada pembesaran jantung
P : suara jantung pekak, batas jantung tidak melebar.
A : bunyi jantung S I dan S II regular dan tidak ada suara
tambahan.
j. Paru-paru
Paru (depan)
I : simetris kanan dan kiri, terlihat tidak ada retraksi subcostal
P : vokal fremitus kanan dan kiri normal.
P : sonor di kedua lapang paru.
A : vesikuler normal, Ronkhi -/-, wheezing -/-
k. Abdomen
I : datar, terdapat luka post op appendictomy, terbalut kasa
A : Bising usus (+) normal 10 x/menit
P :-
P :-
l. Genetalia : Bersih, normal, tidak ada penyakit kelamin, tidak ada
hemoroid.
m. Ekstremitas : Tidak ada sianosis, akral hangat, tidak ada kelemahan
otot, refleks fisiologis ada, refleks patologis tidak ada.
n. Kulit : Warna sawo matang, lembab, ada bekas luka post op
appendictomy diperut bagian kanan bawah

3. PEMERIKSAAN PERKEMBANGAN
Pemeriksaan perkembangan diatas 6 tahun
a. Perkembangan sekolah
Lancar, Ibu klien mengatakan anaknya rajin, tidak ada masalah
dengan teman dan guru-gurunya disekolah
b. Interaksi dengan peer dan orang dewasa
Interaksi baik, mudah bergaul dengan teman seusiannya, hubungan
dengan orang yang lebih tua baik, sopan dan menghormati
c. Partisipasi dengan kegiatan organisasi
Ibu klien mengatakan An.F mengikuti ekstrakuler di sekolahnya
seperti pramuka, futsal

4. ANALISA DATA
No. DATA FOKUS PROBLEM ETIOLOGI
1 S : Klien mengatakan nyeri Nyeri agen injuri fisik
P : nyeri bertambah saat (luka insisi post
banyak gerak operasi
Q : seperti ditusuk- tusuk appenditomi).
R : di perut sebelah kanan
bawah
S : Skala 4
T : hilang timbul, timbul 2
menit
O : Klien tampak menahan nyeri,
meringis sakit saat nyeri
bertambah. TTV : TD: TD :
O
106/67 mmHg, Suhu : 37 C,
Nadi : 100 x/menit, RR: 20x/
menit, tampak klien sering
memegang daerah nyeri
2 S : Klien mengatakan mual-mual, Ketidakseimbanga mual, muntah
tidak muntah n nutrisi kurang
O : Klien tampak sering dari kebutuhan
memegang daerah perut,
pengkajian nutrisi :
A : BB sebelum sakit : 25 kg
BB selama sakit : 25 kg
TB : 132 cm
IMT : 14,92
(sangat kurus)
B: Hemoglobin : H 15,70 gr/dL
Lekosit : 5,13 10^3/uL
Trombosit : 329 10^3/uL
Hematocrit : 45,30%
C: Konjungtiva tidak anemis,
mukosa bibir kering
D: Bubur TK Protein 1700 kalori
Nilai Z – Score : WAZ (Baku
berat menurut umur)= -1,51
(Berat badan normal)

HAZ (Baku tinggi badan menurut


umur) = -1,43 (normal)

WHZ (Baku berat badan menurut


tinggi badan) = 26,77 (gemuk)

3 S : Klien mengatakan nyeri saat Intoleransi kelemahan


banyak gerak Aktivitas
O : Tampak ADL makan minum
mandiri sedangkan mandi,
toileting, berpakaian dibantu oleh
keluarga, KU : lemah, pasien
tampak bed rest
DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Nyeri akut berhubungan dengan agen injuri fisik (luka insisi post operasi
appenditomi).
2. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan mual,
muntah
3. Intoleransi Aktivitas berhubungan dengan kelemahan

INTERVENSI KEPERAWATAN

DIAGNOS
N A
NOC NIC RASIONAL
O KEPERA
WATAN
1 Nyeri Setelah dilakukan a. Kaji skala a. Berguna dalam
. aberhubung asuhan nyeri lokasi, pengawasan dan
an dengan keperawatan, karakteristik keefesien obat,
agen injuri diharapkan nyeri dan kemajuan
fisik (luka berkurang dengan laporkan penyembuhan,per
insisi post kriteria hasil : perubahan ubahan dan
operasi e. Melaporkan nyeri karakteristik
appenditom nyeri berkurang dengan nyeri.
i). f. Klien tampak tepat. b. Deteksi dini
rileks b. Monitor terhadap
g. Dapat tidur tanda-tanda perkembangan
dengan tepat vital kesehatan pasien.
h. Tanda-tanda c. Menghilangkan
vital dalam c. Pertahankan tegangan
batas normal : istirahat abdomen yang
TD (systole dengan bertambah
110-130mmHg, posisi semi dengan posisi
diastole powler. terlentang.
70-90mmHg), d. Dorong d. Meningkatkan
HR(60-100x/m ambulasi kormolisasi
enit), RR dini. fungsi organ.
(16-24x/menit), e. Berikan e. Meningkatkan
suhu aktivitas relaksasi.
(36,5-37,50C) hiburan. f. Menghilangkan
f. Kolaborasi nyeri.
tim dokter
dalam
pemberian
analgetika.
2 Ketidaksei Tujuan : Setelah a. Kaji a. Untuk
. mbangan dilakukan tindakan frekuensi mengetahui
nutrisi keperawatan selama mual, status nutrisi
kurang dari
3x24 jam tidak ada durasi, pasien sehingga
kebutuhan
mual muntah, intake tingkat dapat
berhubunga
n dengan nutrisi yang adekuat keparahan, menentukan
mual, Kriteria Hasil: faktor intervensi yang
muntah 1. Adanya frekuensi, diberikan.
peningkatan berat presipitasi b. Makan sedikit
badan yang demi sedikit
2. Mempertahankan menyebabk dapat
berat badan dalam an mual meningkatkn
batas normal b. Anjurkan intake nutrisi
3. Peningkatan nafsu pasien c. Makanan dalam
makan makan kondisi hangat
4. Tidak ada tanda sedikit dapat
malnutrisi demi menurunkan rasa
5. Menunjukan sedikit tapi mual sehingga
peningkatan sering. intake nutrisi
fungsi c. Anjurkan dapat
pengecapan dari pasien ditingkatkan.
menelan untuk d. Antiemetik dapat
6. Tidak terjadi makan digunakan
penurunan berat selagi sebagai terapi
badan yang berarti hangat farmakologis
d. Kolaboratif dalam
pemberian manajemen mual
terapi dengan
antiemetik menghamabat
e. Berikan sekres asam
informasi lambung.
yang tepat e. Informasi yang
terhadap diberikan dapat
pasien dan memotivasi
keluarga untuk
tentang meningkatkan
kebutuhan intake nutrisi.
nutrisi f. Apabila
yang tepat karakteristik
dan sesuai. mual dan faktor
f. Kaji penyebab mual
frekuensi diketahui maka
mual, dapat menetukan
durasi, intervensi yang
tingkat diberikan.
keparahan, g. Dengan
faktor menimbang berat
frekuensi, badan dapat
presipitasi memantau
yang peningkatan dan
menyebabk penrunan status
an mual. gizi.
g. Timbang
berat badan
pasien jika
memungkin
an dengan
teratur.

3
.

BAB IV
PEMBAHASAN

BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan

B. Saran
a. Bagi rumah sakit, perlu menyiapkan sarana dan prasarana yang lebih
memadai sebagai sarana peningkatan kualitas asuhan keperawatan
khususnya klien dengan pre op apendisitis.

b. Bagi Keperawatan, Peningkatan sumber daya manusia sangat dibutuhkan


untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan.

c. Bagi mahasiswa keperawatan diharapkan dapat memahami konsep


dasar penyakit apendisitis yang berguna bagi profesi dan orang sekitar
kita.
d. Bagi masyarakat diharapkan dapat memanfaatkan makalah ini untuk
menambah pengetahuan tentang penyakit apendisitis
Daftar Pustaka

Bulechek, Gloria M., dkk. 2013. Nursing Interventions Classification (NIC) Edisi
Keenam Bahasa Indonesia. Elsevier

Corwin. 2009. Buku saku Patofisiologi. Jakarta: EGC

Herlman, T. Heather, dkk. 2015. NANDA International Diagnosis Keperawatan :


Definisi dan Klasifikasi 2015-2017. Jakarta: EGC

Mansjoer, Arief. 2010. Kapita Selekta Kedokteran, edisi 4. Jakarta : Media.


Aesculapius
Moorhead, S. dkk. 2013. Nursing Outcomes Classification (NOC) Edisi Kelima
Bahasa Indonesia. Elsevier
Nurfaridah, V. 2015. E- Journal (E. Kep) Vol. 7 No. 2 : Penurunan Tingkatan
Nyeri Post Operasi Appendistis dengan Teknik distraksi Nafas Ritmik
Nuzulul. 2009. Askep Appendicitis. Diakses
http://nuzulul.fkp09.web.unair.ac.id/artikel_detail-35840-Kep%20Pencer
naan Askep%20Apendisitis.html tanggal 26 Februari 2019
Sandi, W. 2013. E- Journal Keperawatan ( E-Kep) Fakultas Kedokteran UI :
Karya Tulis Ilmiah Akhir Ners Analisis Praktik Klinik Keperawatan
Kesehatan Masyarakat Nyeri Post Operasi Lapartomi Apendiks E.T
Causa Appendisistis Perforasi di RSUP Fatmawati. Jakarta: Universitas
Indonesia