Anda di halaman 1dari 4

DINAS KESEHATAN KOTA GORONTALO

Jl. Ir. Hi. Yoesoef Dalie Kelurahan Wongkaditi Barat Kec. Kota Utara
Kota Gorontalo Telp. (0435) 823062

KERANGKA ACUAN KERJA


DONOR DARAH
( SAFE BLOOD FOR SAVING MOTHER )

A. PENDAHULUAN
Darah merupakan suatu cairan yang sangat penting bagi manusia karena berfungsi
sebagai alat transportasi serta memiliki banyak kegunaan lainnya untuk menunjang
kehidupan. Tanpa darah yang cukup seseorang dapat mengalami gangguan kesehatan dan
bahkan dapat mengakibatkan kematian. Darah pada tubuh manusia mengandung 55%
plasma darah (cairan darah) dan 45% sel-sel darah (darah padat). Jumlah darah yang ada
pada tubuh kita yaitu sekitar sepertiga belas berat tubuh orang dewasa atau sekitar 4 atau
5 liter.
B. LATAR BELAKANG
Angka Kematian Ibu (AKI) merupakan salah satu Indikator untuk melihat derajat
Kesehatan Masyarakat. Angka Kematian Ibu Melahirkan merupakan salah satu target
yang ditentukan dalam tujuan Pembangunan Millenium yaitu Tujuan ke-5 meningkatkan
Kesehatan Ibu dimana angka yang dicapai sampai tahun 2016 adalah mengurangi sampai
¾ mengurangi resiko Kematian Ibu.
Persoalan Kematian Ibu Melahirkan yang terjadi lantaran indikasi yang Lazim
muncul yaitu Perdarahan, Keracunan Kehamilan, Aborsi dan Infeksi. Faktor lain yang
cukup penting yaitu Pemberdayaan Perempuan yang masih kurang, latar belakang
Pendidikan, Sosial Ekonomi. Perdarahan menempati persentase Posisi Tertinggi sebagai
Penyebab Kematian Ibu Melahirkan, Anemia dan Kekurangan Energi Kronis pada Ibu
Hamil menjadi penyebab uatamanya terjadi Perdarahan dan Infeksi pada Ibu Melahirkan.
Pada kasus Perdarahan membutuhkan Penanganan yang CEPAT dan TEPAT,
serta tersedianya Darah yang Cukup di PMI. Oleh karena belum tersedianya darah yang
cukup di PMI dan Rendahnya partisipasi masyarkat tentang tujuan dan manfaat donor
darah. Berdasarkan uraian di atas, maka Puskesmas Kota Utara membentuk kegiatan Safe
Blood For Saving Mother untuk menurunkan Angka Kematian Ibu ( AKI ).
C. TUJUAN
a. TUJUAN UMUM
1. Meningkatkan pengetahuan dan pemahaman masyarakat tentang Donor Darah.
2. Untuk mengaktifan Kegiatan Donor Darah.
3. Sebagai Penunjang Bank Darah.
4. Meningkatkan Rasa Kepedulian terhadap sesama.
5. Program Safe Blood For Saving Mother.

b. TUJUAN KHUSUS
1. Meningkatkan pengetahuan dan pemahaman masyarakat tentang
kesiapsiagaan terhadap Ibu Hamil/ Melahirkan dan masyarakat yang
membutuhkan.
2. Meningkatkan pengetahuan dan pemahaman masyarakat dalam rangka
Penyelamatan Ibu Hamil/ Melahirkan.
3. Mengajak seluruh masyarakat untuk Peduli sesama dan ber sukarela
menyumbangkan setetes Darahnya untuk Pencegahan Angka Kematian
Ibu ( AKI ) di Kota Gorontalo.
D. KEGIATAN POKOK
Kegiatan Pokok adalah
1. Pemeriksaan Fisik pada Calon Pendonor yang berumur 17-45 tahun.
2. Pemeriksaan Golongan Darah dan Screening calon pendonor.
E. CARA PELAKSANAAN
Setiap masyarakat yang ingin mendonorkan darah segera menghubungi
kader/ atau petugas kesehatan untuk mendonorkan darahnya setiap ada
kegiatan donor darah.
F. SASARAN
Seluruh Masyarakat Kota Utara Pria/ Wanita yang berusia 17 – 45 tahun.
G. PESERTA
Seluruh Masyarakat Pria/ Wanita yang berusia 17 – 45 tahun yang telah lulus screening
untuk Donor Darah.
H. JADWAL
Setiap 3 Bulan Sekali.
I. EVALUASI
Evaluasi dilakukan setiap pertemuan kegiatan donor darah 3 bulan sekali.
J. PENCATATAN DAN PELAPORAN
Pencatatan dilakukan setiap pertemuan kegiatan dan dibahas pada saat pertemuan.
DINAS KESEHATAN KOTA GORONTALO

Jl. Ir. Hi. Yoesoef Dalie Kelurahan Wongkaditi Barat Kec. Kota Utara
Kota Gorontalo Telp. (0435) 823062

KERANGKA ACUAN KERJA


SCREENING HIPOTYROID KONGENITAL
( SHK )
A. PENDAHULUAN
Anak yang sehat dan cerdas merupakan suatu modal dasar dan aset yang sangat
penting bagi pembangunan bangsa. Namun tidak semua anak dapat tumbuh menjadi sehat
dan cerdas seperti yang diharapkan karena berbagai faktor. Salah satu diantaranya terjadi
pada anak yang lahir dengan kelainan Hipotiroid Kongenital. Di Indonesia, diantara
penyakit-penyakit yang bisa dideteksi dengan skrining pada bayi baru lahir, Hipotiroid
Kongenital (HK)merupakan penyakit yang cukup banyak ditemui. Kunci keberhasilan
pengobatan anak dengan HK adalah dengan deteksi dini melalui pemeriksaan
laboratorium dan pengobatan sebelum anak berumur 1 bulan.
B. LATAR BELAKANG
Hipotiroid kongenital adalah keadaan menurun atau tidak berfungsinyakelenjar
tiroid yang didapat sejak lahir. Hal ini terjadi karena kelainan anatomi atau gangguan
metabolisme pembentukan hormon tiroid atau defisiensi iodium. Hormon Tiroid yaitu
Tiroksin yang terdiri dari Tri-iodotironin (T3) dan Tetra-iodotironin (T4), merupakan
hormone yang diproduksi oleh kelenjar tiroid (kelenjargondok). Pembentukannya
memerlukan mikro nutrieniodium. Hormonini berfungsi untuk mengatur produksi panas
tubuh,metabolisme, pertumbuhan tulang,kerja jantung, syaraf, serta pertumbuhan dan
perkembangan otak. Dengan demikian hormone ini sangat penting peranannya pada bayi
dan anak yang sedang tumbuh. Kekurangan hormone tiroid pada bayi dan masa awal
kehidupan,bisa mengakibatkan hambatan pertumbuhan (cebol/stunted) dan
retardasimental (keterbelakanganmental).
Deteksi dini kelainan bawaan melalui skrining bayi baru lahir(SBBL) merupakan
salah satu upaya mendapatkan generasi yang lebih baik.Skrining atau uji saring pada bayi
baru lahir (Neonatal Screening) adalah tes yang dilakukan pada saat bayi berumur
beberapa hari untuk memilah bayi yang menderita kelainan kongenital dari bayi yang
sehat. Skrining bayi baru lahir dapat mendeteksi adanya gangguan kongenital sedini
mungkin, sehingga bila ditemukan dapat segera dilakukan intervensi secepatnya.
C. TUJUAN
a. TUJUAN UMUM
Seluruh bayi baru lahir di Indonesia mendapatkan pelayanan Skrining Hipotiroid
Kongenital (SHK)sesuai standar.
b. TUJUAN KHUSUS
Tersedianya pedoman penyelenggaraan pelayanan SHK.b.Tersedianya pedoman
penyelenggaraan laboratorium SHK. c.Meningkatnya akses, cakupan serta
kualitas pelayanan SHK. d.Tersedianya jejaring laboratorium rujukan untuk
Skrining Hipotiroid Kongenital (SHK) pada bayi baru lahir.
D. KEGIATAN POKOK
Kegiatan pokok secara garis besar dibedakan tiga tahapan utama yang sama pentingnya
dalam pelaksanaan skrining yaitu:
 Pra skrining: Sebelum tes laboratorium diperlukan sosialisasi dan edukasi pada
Keluarga bayi .
 Skrining: Proses skrining, bagaimana prosedur yang benar, sensitivitas dan
spesifisitas, validitas, pemantapan mutu.
 Pasca skrining: Tindak lanjut hasil tes, pemanggilan kembali bayi untuk tes
konfirmasi, dilanjutkan diagnosis dan tatalaksana pada kasus hasil tinggi HK.
E. CARA PELAKSANAAN
1. Persiapan
 Bayi dan Keluarga
 Informed Consent
 Persiapan Alat
 Persiapan Diri
2. Pengambilan Spesimen
 Waktu
 Identitas Bayi
 Metode Pengambilan
 Pengiriman
F. SASARAN
Seluruh Bayi Baru Lahir usia 48 – 72 jam.
G. PESERTA
Bayi Baru Lahir usia 48 – 72 jam.
H. JADWAL
Tidak Terjadwal ( setiap ada bayi baru lahir ).
I. EVALUASI
Evaluasi dilakukan setiap dilakukan kegiatan.
J. PENCATATAN
Pencatatan dilakukan setiap dilakukan kegiatan.