Anda di halaman 1dari 7

TEKNIK PEMERIKSAAN MYELOGRAPHY

Dosen: Ferdinand Ginting Manik, SKM, MARS.

Disusun oleh :

ARUM KUSUMANINGRUM 32171002

DHEA EKA SAFITRI 32171004

PUTRI VICADILLA 32171005

YUSUF STEVEN HUBERT 32171007

PROGRAM STUDI D3 RADIODIAGNOSTIK DAN RADIOTERAPI

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN PERTAMINA BINA MEDIKA JAKARTA

Jl. Bintaro Raya No. 10, Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, 12240

Tahun Ajaran 2018-2019


A. PENGERTIAN
Myelografi adalah pemeriksaan radiografi dari canalis spinalis dengan penyuntikan
kontras media positif atau negatif ke dalam ruang subarachnoid secara lumbal atau
cisterna punksi.
B. ANATOMI DAN FISIOLOGI

a. Columna Vertebralis
Columna vertebralis adalah sebuah struktur lentur yang dibentuk oleh sejumlah tulang
yang disebut vertebrae atau ruas tulang belakang. Di antara tiap dua ruas tulang
belakang terdapat bantalan tulang rawan. Panjang rangkaian tulang belakang pada
orang dewasa dapat mencapai 57 sampai 67 cm. Seluruhnya terdapat 33 ruas tulang,
24 buah di antaranya adalah tulang-tulang terpisah dan 9 ruas sisanya bergabung
membentuk dua tulang.
Fisiologi columna vertebralis:
1. Sebagai pendukung tubuh dengan perantara yang berbentuk cakram intervertebralis
dan lengkungan dimana memungkinkan untuk membungkuk tanpa patah.
2. Sebagai penyearah getaran dimana tubuh batang otak dan sumsum tulang belakang
terlindungi dari getaran atau goncangan.
3. Menyediakan permukaan untuk kaitan otot dan memberi kaitan pada iga serta
memberikan tapal batas posterior yang kokoh untuk rongga badan.
b. Lumbal
Vertebrae lumbal atau tulang pinggang merupakan bagian dari columna vertebralis
yang terdiri dari lima ruas tulang dengan ukuran ruasnya lebih besar dibandingkan
dengan ruas vertebrae cervical maupun thoracal. Di bagian atas vertebrae lumbal
terdapat vertebrae thoracal, yang persendiannya disebut thoracolumbal joint atau
articulation thoracolumbalis. Di bagian bawah vertebrae lumbal terdapat vertebrae
sacrum dan persendiannya disebut lumbosacral joint atau articulation lumbosacralis.
c. Medulla Spinalis
Medulla spinalis adalah bagian dari sistem saraf pusat yang bermula pada medulla
oblongata menjulur ke arah caudal melalui foramen magnum dan berakhir di antara
vertebrae lumbalis satu dan lumbalis dua, kemudian meruncing sebagai conus
medularis.
Fisiologi Medulla Spinalis:
1. Melakukan interaksi antara otak dengan seluruh bagian tubuh.
2. Sebagai pusat gerak pada otot seluruh tubuh.
3. Mengantarkan rangsangan dari otot dan sendi ke cerebral.
4. Menghubungkan antara segmen dan medulla spinalis.
5. Pusat reflex spinal.
C. INDIKASI PEMERIKSAAN
a. Hernia Nukleus Pulposus (HNP)
Hernia Nukleus Pulposus (HNP) adalah kondisi ketika bantalan atau cakram di antara
vertebrata (tulang belakang) keluar dari posisi semula dan menjepit saraf yang berada
di belakangnya. Kondisi ini juga disebut dengan istilah “saraf terjepit”.
b. Tumor
Tumor-tumor spinal menurut lokasinya dibagi atas:
1. Tumor Ekstradural
Lesi yang mengelilingi dural sac seperti suatu manset dan menimbulkan
penyempitan yang kosentris terhadap kontras sekeliling medula spinalis. Lesi
asimetris atau lei lateralis akan menimbulkan pelebaran jarak antara medulla
spinalis dengan pedikel.
2. Tumor Intradural, dibagi atas dua bagian, yakni:
1) Tumor Intradural indramedular
Dural sac berbentuk oval dengan diameter anteroposteriornya yang lebih kecil,
sehingga pada lesi yang lebih kecil ruang ubarachnoid pada posisi
anteroposteriot yang lebih dulu menyempit. Pada lesi yang lebih besar terjadi
pelebaran medulla spinalis sehinga menimbulkan penyempitan ruang
subarachnoid secara keseluruhan.
2) Tumor Intradural ekstramedular
Lesi ini memberikan filling defect yang jelas dan berbatas tegas di dalam dural
sac. Tampak penekanan dan pendesakan spinal cord jika lesi cukup besar. Pada
lesi di bawah konus medularis, maka radiks akan terdesak.
3. Arachnoiditis
Istilah arachnoiditis sebenarnya kurang tepat, karena tidak adanya pembuluh darah
pada arachnoid yang memungkinkan terjadinya suatu itis (radang). Ada beberapa
tipe yang dikenal yaitu:
1) Pure Arachnoiditis, penyebab yang sering adalah pemberian obat-obatan secara
suntikan. Kebanyakan terdapat di daerah thoracal. Pada myelogram akan
tampak kontras pecah-pecah oleh karena sdhesi arachnoid, berbentuk seperti
stalakmid, kantung-kantung.
2) Concoinitant arachnoiditis, gangguan ini merupakan komplikasi kelainan-
kelainan terdahulu di daerah tersebut akibat operasi spinal, fraktur vertebrae.
D. TUJUAN PEMERIKSAAN
Pemeriksaan Myelografi ini bertujuan untuk memperlihatkan struktur canalis spinalis
dengan menggunakan bahan kontras, baik kontras positif maupun kontras negatve.
E. PERSIAPAN
a. Alat dan bahan
1. Steril
a) Jarum punksi 2 buah
b) Spuit 2 CC dan 10
c) Sarung tangan
d) Kain kassa
e) Korentang
f) Kontras Media ( Bahan Kontras)
2. Non Steril
a) Jarum disposibel
b) Skin Cleaner ( contoh : Hebitadhine )
c) Lokal Anastesi ( contoh : Lignokain 4 % )
d) Kontras Media
e) Botol LCS
f) Plester
g) Obat-obatan Emergensi
b. Perisapan Pasien
Yang harus di ketahui sebelum tes myelografy :
1. Buat foto polos AP dan Lateral dari object yang akan diperiksa.
2. Puasa 5 jam sebelum dilakukan pemeriksaan.
3. Miksi sebelum pemeriksaan.
4. Jelaskan prosedur pemeriksaan kepada pasien dan keluarga pasien
F. TEKNIK PEMASUKAN KONTRAS DAN PUNKSI
a. Pasien dalam posisi lateral dengan sisi kiri yang menempel pada meja pemeriksaan.
b. Dilakukan penyuntikkan anestesi lokal di area yang akan dilakukan punksi lumbal
c. Atur pasien dengan posisi lateral dengan kedua hip dan knee difleksikan maksimal lalu
tangan pasien dirotasikan kedepan.
d. Tepi atas os illeum ditarik garis lurus ke arah tulang belakang kemudian di desinfektan
menggunakan betadine.
e. Setelah kering dicari discus intervertebralis lumbal 3-4, ditusuk dengan jarum spinal
sampai keluar liquor cerebro spinalis (LCS).
f. Sebagai indikator jarum telah memasuki ruangan sub arakhnoid adalah ditandai
dengan keluarnya cairan liquor cerebro spinal dari jarum dan bila cairan tersebut belum
keluar maka jarum ditusukkan kearah yang lain.
g. Liquor cerebro spinal yang keluar ditampung kedalam botol specemen untuk dianalisa
di laboratorium.
h. Setelah itu kontras media dimasukkan kedalam ruang subarakhnoid 10-12 cc
tergantung dengan kondisi pasien yang diperiksa.
i. Lalu ketika kontras sudah masuk kemudian spuit dicabut kemudian ditahan
menggunakan kain kasa yang sudah diberikan betadine lalu diberi plester.
j. Setelah pemeriksaan selesai jarum punksi langsung dicabut karena bahan kontras
tersebut dapat diserap oleh tubuh.
k. Dilakukan gambar radiografi.
G. TEKNIK PEMERIKSAAN
Proyeksi Pemotretan
Myelografi dapat dilakukan dengan menggunakan teknik radiografi konvensional ataupun
dengan fluoroskopi. Sebelum pemeriksaan myelografi dilakukan dibuat terlebih dahulu
foto pendahuluan (polos) dari vertebre dengan proyeksi AP dan lateral. Apabila foto
pendahuluan taelah baik / informatif yang dinyatakan oleh radiolog, pemeriksaan
diteruskan dengan penyuntikkan media kontras. Pengambilan foto setelah pemasukkan
media kontras tergantung klinis penderita dan permintaan dokter pengirim.
1. Proyeksi Lateral
Tujuan:
Untuk melihat kedalaman jarum yang menusuk ke dalam diskus intervertebralis
menembus Medulla Spinalis.
Posisi Pasien :
Pasien lateral recumbent, kepala di atas bantal, knee fleksi, di bawah knee dan ankle
diberi pengganjal.
Posisi Obyek :
Atur MSP tegak lurus kaset/meja pemeriksaan (jika pakai buki),pelvis dan tarsal true
lateral,letakkan pengganjal yang radiolussent di bawah pinggang agar vertebra lumbal
sejajar pada meja (palpasi prosessus spinosus).
Central Ray:
Tegak lurus kaset.
Central Point:
Setinggi L3 (palpasi lower costal margin/4 cm di atas crista iliaka)
Eksposi: Ekspirasi tahan nafas.
Kriteria:
Tampak gambaran jarum yang menusuk bagian diskus intervertebralcontras dan
menembus Medula Spinallis. Tampak gambaran Medula Spinallis telah terisi zat
contras.Tampak foramen intervertebralis L1 – L4, Corpus vertebrae, space
intervertebrae, prosessus spinosus tidak ada.
2. Proyeksi Antero Posterior(AP)
Tujuan:
Untuk melihat zat contas yang telah terisi contras media.
Posisi Pasien:
Pasien tidur supine, kepala di atas bantal, knee fleksi.
Posisi Obyek:
Atur MSP tegak lurus kaset/meja pemeriksaan (jika pakai buki),letakkan kedua
tangan diatas dada,tidak ada rotasi tarsal / pelvis.
Central Ray:
Tegak lurus kaset.
Central Point:
a. Setinggi Krista iliaka (interspace L4-L5) untuk memperlihatkan lumbal sacrum
dan posterior Cocygeus.
b. Setinggi L3 (palpasi lower costal margin/4 cm di atas crista iliaka) untuk
memperlihatkan lumbal.
c. Eksposi:
Ekspirasi tahan nafas.
Kriteria:
Tampak vertebra lumbal, space intervertebra, prosessus spinosus dalam satu
garis pada vertebra, prosessus transversus kanan dan kiri berjarak sama.
H. PERAWATAN PASCA TINDAKAN
a. Setelah pemeriksaan selesai, pasien kembali ke ruangan rawat inap dengan posisi
kepala pasien harus lebih tinggi atau diganjal dengan bantal.
b. Instruksikan kepada perawat bahwa pasien tidak boleh tidur terlentang selama kurang
lebih 12 jam dengan posisi panggul harus lebih tinggi dengan di ganjal.
c. Pasien harus bed rest selama kurang lebih 24 jam setelah pemeriksaan.

DAFTAR PUSTAKA
http://erlhank.blogspot.com/2013/02/makalah-sederhana-pemeriksaan-myelografi.html

http://myblogracma.blogspot.com/2016/07/pemeriksaan-myelografi-atro-nusantara.html

Anda mungkin juga menyukai