Anda di halaman 1dari 13

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR............................................................................................................... I

DAFTAR ISI............................................................................................................................ II

BAB 1 PENDAHULUAN......................................................................................................... 1

1.1. LATAR BELAKANG............................................................................................ 1

1.2. TUJUAN................................................................................................................ 2

BAB 2 ISI.................................................................................................................................. 3

2.1. PENGERTIAN....................................................................................................... 3

2.2. GEJALA................................................................................................................. 3

2.3. PENYEBAB........................................................................................................... 4

2.4. DIAGNOSA........................................................................................................... 5

2.5. PENGOBATAN DAN PENANGANAN PADA PENDERITA HIV................... 6

2.6. KOMPLIKASI....................................................................................................... 7

2.7. PENCEGAHAN..................................................................................................... 8

BAB 3 PENUTUP................................................................................................................... 10

3.1 KESIMPULAN..................................................................................................... 10

3.2 SARAN................................................................................................................. 11

DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................................. 12

i
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Herpes genital adalah penyakit kelamin yang disebabkan oleh virus herpes simplex (HSV).
Penyakit ini biasanya ditandai dengan bentol-bentol berair pada alat kelamin, anus, atau mulut.
Herpes genital dapat menyebar melalui sentuhan, meski lebih sering menyebar melalui
hubungan seksual.

Ada 2 jenis virus herpes simplex, yaitu herpes tipe 1 dan 2. Herpes tipe 1, disebut juga
HSV 1 atau herpes oral, menyebabkan bentol berair (lenting) di sekitar mulut dan bibir.
Walaupun HSV 1 dapat menyebar dan menyebabkan herpes genital, herpes genital umumnya
disebabkan oleh virus herpes yang lain, yaitu herpes simplex tipe 2 (atau HSV 2).

Herpes Genital (HG) merupakan virus yang menempati urutan kedua tersering di dunia
dan merupakan penyebab ulkus genital tersering di negara maju. Virus herpes simpleks tipe -2
(VSH-2) merupakan penyebab herpes genital tersering (82 %), sedangkan virus herpes
simpleks tipe – 1 (VHS-1) yang lebih sering dikaitkan dengan lesi di mulut dan bibir, ternyata
dapat pula ditemukan pada 18 % kasus herpes genitalis.

Herpes genitalis atau herpes kelamin аdаlаh penyakit kelamin yang cukup sulit untuk
diobati dan pengobatan penyakit herpes genitalis ini pun cukup memakan waktu. Penyakit
dіtаndаі dеngаn tіmbulnуа vеѕіkulа (реnіnggіаn kulіt bеrbаtаѕ tеgаѕ dеngаn dіаmеtеr kurаng
dаrі 1 сm dаn dараt ресаh mеnіmbulkаn еrоѕі seperti kоrеng kесіl) раdа реrmukааn mukоѕа
kulіt, bеrgеrоmbоl dі аtаѕ dаѕаr kulіt уаng bеrwаrnа kеmеrаhаn. Pаdа umumnуа tеrјаdі раdа
bаgіаn tubuh dі bаwаh рuѕаr, tеrutаmа dаеrаh gеnіtаl dаn ѕеkіtаrnуа. Akan tetapi, mоhоn
dііngаt. bаhwа tіdаk ѕеmuа bіntіk dі kulіt layaknya kоrеng kесіl-kесіl раdа аrеа ѕеkіtаr оrgаn
ѕеkѕuаl lаntаѕ dіаnggар Hеrреѕ gеnеtаlіѕ.

Wаlаuрun Herpes Simplex Virus tуре II mеruраkаn реnуеbаb tеrbаnуаk hеrреѕ


gеnіtаlіѕ, nаmun dеngаn trеnd mеnіngkаtnуа аktіfіtаѕ ѕеkѕuаl ѕесаrа оrоgеnіtаl (aktifitas
seksual mеlаluі mulut), kеduаnуа (HSV-1 dаn HSV-2) dараt dіtеmukаn di sekitar ріnggаng kе
bаwаh, tеrutаmа аrеа оrgаn ѕеkѕuаl dаn ѕеkіtаrnуа.

1|Page
Oleh karena itu, herpes genitalis perlu adanya pengobatan segera untuk
menanggulanginya dengan pengobatan simtomatik secara rutin bagi orang yang sudah terkena
supaya tidak menularkan ke yang lain. Sedangkan pencegahan diperlukan untuk mencegah
orang terkena penyakit ini.

1.2 Tujuan

1. Untuk mengetahui apa itu penyakit Herpes Genital


2. Untuk mengetahui gejala penyakit Herpes Genital.
3. Untuk mengetahui apa penyebab penyakit Herpes Genital.
4. Untuk mengetahui bagaimana mendiagnosa penyakit Herpes Genital
5. Untuk mengetahui cara pengobatan penyakit Herpes Genital.
6. Untuk mengetahui apa komplikasi dari penyakit Herpes Genital
7. Untuk mengetahui pencegahan untuk penyakit Herpes Genital

2|Page
BAB 2

ISI

2.1 Pengertian

Herpes genital adalah infeksi pada alat kelamin yang bisa terjadi pada pria dan wanita. Penyakit
ini termasuk salah satu infeksi menular seksual (IMS) karena umumnya ditularkan melalui
hubungan seksual (vagina, anal, dan oral). Herpes genital bisa dikenali dengan kemunculan
luka melepuh berwarna kemerahan dan terasa sakit di sekitar area kelamin. Luka ini bisa pecah
dan menjadi luka terbuka.

Infeksi yang terjadi pada kasus herpes genital disebabkan oleh virus herpes simpleks
atau sering disebut sebagai HSV. HSV dapat menular dan masuk ke dalam tubuh melalui
berbagai membran mukosa dalam tubuh, seperti mulut, kulit, dan kelamin. Virus ini seringkali
menetap di tubuh manusia dan suatu saat bisa aktif lagi. Saat virus ini aktif, gejala-gejala herpes
genital akan kembali muncul. Virus ini bisa kambuh antara empat sampai lima kali pada dua
tahun pertama sejak terinfeksi.

2.2 Gejala

Terkadang virus HSV tidak menyebabkan gejala. Bagi yang baru pertama kali terinfeksi
herpes, mungkin tidak akan menyadari adanya gejala-gejala tertentu. Akibatnya, mereka tidak
tahu bahwa dirinya telah terinfeksi virus herpes. Gejala-gejala herpes genital bisa berupa:

 Luka yang terbuka dan terlihat merah tanpa disertai rasa sakit, gatal, atau geli.
 Sensasi rasa sakit, gatal, atau geli di sekitar daerah genital atau daerah anal.
 Luka melepuh yang kemudian pecah dan terbuka di sekitar genital, rektum, paha, dan
bokong.
 Merasakan sakit saat membuang air kecil.
 Sakit punggung bawah.
 Mengalami gejala-gejala flu seperti demam, kehilangan nafsu makan, dan kelelahan.
 Luka terbuka atau melepuh pada leher rahim.
 Adanya cairan yang keluar dari vagina.

3|Page
Virus HSV bisa menjadi laten atau tidak aktif di dalam tubuh selama beberapa waktu. Namun
virus ini bisa kembali aktif dan memicu timbulnya gejala herpes genital. Dengan kata lain,
setelah gejala dari infeksi pertama menghilang, bukan berarti virus juga menghilang dari tubuh
kita. Virus itu kemungkinan masih mengendap di dalam tubuh.

Ketika pertama kali terinfeksi, tubuh akan menghasilkan antibodi untuk melawan
infeksi. Hal itu membuat tubuh bisa mengenali virus dan menyusun kekuatan yang dibutuhkan
untuk melawan HSV secara lebih efektif. Maka dari itu, infeksi atau gejala kambuhan yang
terjadi tidak akan separah infeksi pertama. Frekuensinya akan berkurang dan gejalanya akan
lebih cepat hilang.

2.3 Penyebab

Herpes genital disebabkan oleh virus herpes simpleks atau HSV yang umumnya ditularkan
melalui hubungan seks vagina, oral, dan anal. Ada dua jenis virus herpes simpleks, yakni HSV
tipe 1 dan HSV tipe 2. Herpes genital umumnya disebabkan oleh HSV tipe 2. HSV tipe 1
seringkali menyebabkan herpes di rongga mulut, atau yang seringkali disebut dengan cold
sores. Namun tidak menutup kemungkinan bahwa herpes genitalis juga disebabkan oleh HSV
tipe 1.

Penyebaran virus ini terjadi melalui kontak langsung dengan pasangan yang terinfeksi
oleh HSV. Hal ini bisa terjadi meski orang yang terinfeksi tidak mengalami gejala apa pun.
Virus ini menyebar melalui bagian yang lembap dari dinding kulit kelamin, mulut, dan anus.
Selain itu, virus ini juga bisa menyebar melalui luka herpes dan bisa terjadi di sekitar mulut,
mata, dan bagian tubuh lain.

Herpes genital tidak bisa menyebar melalui benda perantara, kecuali dengan alat bantu
seksual yang dipakai oleh penderita herpes. Peralatan seperti handuk, alat makan, dan sikat gigi
umumnya tidak bisa menjadi perantara penyebaran virus ini. Sebab, virus tidak akan sanggup
bertahan lama jika terlepas dari kulit.

Herpes genital sangat mudah menular. Setelah terinfeksi, tubuh penderitanya akan
selamanya memiliki virus ini. HSV bisa bersifat laten untuk beberapa waktu sebelum menjadi
aktif lagi. Inilah yang menyebabkan herpes genital bisa kambuh.

4|Page
Virus HSV akan kembali aktif ketika sistem pertahanan tubuh menurun. Hal ini bisa
terjadi ketika penderita sedang mengalami infeksi, sedang mengalami masa-masa stres, sedang
menjalani kemoterapi sebagai langkah pengobatan kanker, atau terkena virus HIV. Selain itu,
konsumsi alkohol yang berlebihan juga dapat memicu virus HSV untuk kembali aktif.

2.4 Diagnosa

Pada umumnya, dokter akan menegakkan diagnosis herpes genitalis dengan mengajukan
pertanyaan seputar gejala yang dialami dan melakukan pemeriksaan fisik pada bagian tubuh
yang terkena. Selain itu, dokter mungkin akan mengambil sampel cairan dari luka melepuh
yang muncul. Untuk mengetahui apakah kita menderita herpes genitalis, sampel ini akan
dibawa dan diteliti di laboratorium.

Selain tes dengan menggunakan sampel cairan luka herpes, keberadaan antibodi
terhadap virus herpes juga bisa diperiksa melalui tes darah.

PCR atau tes reaksi berantai polimerase juga bisa dilakukan untuk mendiagnosis
keberadaan virus herpes genital. Tes ini dapat memeriksa keberadaan dan tipe HSV yang telah
menjangkiti tubuh melalui sampel darah atau cairan tubuh.

Jika mengalami kondisi kesehatan tertentu selain herpes genital ini, mungkin perlu
menemui dokter spesialis untuk menerima perawatan khusus. Infeksi yang terjadi bisa
berdampak kepada bagian tubuh yang lain.

Bagi wanita hamil yang terinfeksi herpes genital, terutama yang merencanakan atau
sedang hamil, sebaiknya segera menemui dokter spesialis kandungan. Infeksi yang terjadi pada
wanita hamil bisa menulari bayi yang sedang dikandungnya.

Pasien herpes genital yang memiliki masalah dengan sistem kekebalan tubuh juga perlu
menemui dokter spesialis, sama halnya dengan para penyandang HIV/AIDS dan penderita
kanker. Kondisi kesehatan dan daya tahan tubuh penderita herpes genital sangat berpengaruh
terhadap lama tidaknya infeksi berlangsung dan juga tingkat keparahannya.

5|Page
2.5 Pengobatan & Penanganan Pada Penderita HIV

Untuk mengurangi gejala infeksi herpes genital, dokter akan memberikan obat-obatan antivirus
seperti asiklovir, famsiklovir, dan valasisklovir. Obat-obatan ini hanya berfungsi mencegah
virus herpes simpleks agar tidak menggandakan diri, tapi tidak bisa menghilangkan virus dari
tubuh secara sepenuhnya.

Jika gejala infeksi tidak terlalu parah, konsumsi obat antivirus mungkin tidak
diperlukan. Sebagai gantinya, dokter akan menyarankan pasien untuk meredakan gejala yang
muncul dengan perawatan mandiri di rumah. Berikut ini adalah beberapa hal yang bisa
dilakukan:

 Bersihkan luka atau tukak agar tidak menjadi infeksi sekaligus mempercepat
penyembuhan. Pembersihan ini bisa dengan menggunakan air biasa atau air garam.
 Untuk meringankan rasa sakit, tutup luka dengan es batu yang dibalut dengan kain.
Jangan menempelkan es secara langsung pada permukaan yang terluka.
 Gunakan krim penghilang rasa sakit pada luka melepuh atau tukak. Selain itu
perbanyaklah minum air mineral. Kedua hal ini bertujuan untuk memudahkan dan
meringankan rasa sakit saat buang air kecil.
 Gunakan pakaian yang longgar untuk mengurangi rasa sakit pada area kulit yang
mengalami luka lepuh.

Penanganan Herpes Genital pada Pengidap HIV

Herpes genital yang terlalu sering kambuh bisa disebabkan karena sistem kekebalan tubuh
melemah. Hal ini menandakan bahwa jumlah antibodi yang dihasilkan tubuh untuk melawan
infeksi berkurang. Alhasil, gejala herpes lebih sering terjadi dan tingkat keparahannya menjadi
lebih serius.

Bagi yang sering mengalami infeksi herpes genital berulang dan memiliki rutinitas
seksual kurang aman (berganti-ganti pasangan, tidak mengenakan kondom atau pengaman,
melakukan hubungan seks anal), disarankan untuk melakukan tes HIV. Penderita HIV
memiliki kekebalan tubuh yang jauh lebih lemah dibanding orang yang sehat, sehingga
memerlukan penanganan khusus yang berbeda dengan penderita lainnya.

Dokter spesialis akan menangani herpes genital yang terjadi pada penderita HIV.
Dokter umumnya akan memberikan antivirus dengan dosis yang lebih tinggi. Selain itu, banyak

6|Page
penderita HIV yang terjangkit oleh jenis HSV yang kebal terhadap obat-obat antivirus standar.
Oleh karenanya, penderita mungkin akan diresepkan jenis antivirus yang lebih baru.

2.6 Komplikasi

Komplikasi yang mungkin bisa terjadi bersamaan dengan herpes genital umumnya berupa
penyakit infeksi menular seksual, inflamasi, infeksi pada bayi, dan gangguan pada kandung
kemih. Akan dijelaskan di bawah ini:

Infeksi Menular Seksual Lainnya

Penderita herpes genital dengan luka terbuka memiliki risiko lebih tinggi untuk menyebarkan
atau tertular penyakit seksual lainnya, terutama jika berhubungan seksual tanpa pengaman.
Penularan paling parah adalah terjadinya komplikasi berupa HIV/AIDS.

Inflamasi atau Peradangan

Pada beberapa kasus, herpes genital bisa menyebabkan inflamasi atau peradangan di saluran
kemih. Pembengkakan yang terjadi bisa menutup jalur uretra selama beberapa hari. Dalam
kasus ini, kateter harus dimasukkan untuk menyedot isi kandung kemih.

Selain pada uretra, peradangan juga bisa terjadi pada bagian rektal. Inflamasi pada
dinding rektum ini lebih sering terjadi pada pria yang berhubungan seksual dengan pria lainnya.
Pada kasus yang sangat langka, virus herpes simpleks juga bisa mengakibatkan meningitis atau
radang pada selaput otak.

Pada Masa Kehamilan

Virus herpes simpleks atau HSV bisa menimbulkan masalah kehamilan. Virus ini bisa
ditularkan kepada bayi saat melahirkan. Jika infeksi HSV terjadi sebelum kehamilan,
kemungkinan penularan pada sang bayi sangatlah kecil.

Pada beberapa bulan terakhir di masa kehamilan, sang ibu akan melepaskan banyak
antibodi pelindung kepada bayinya. Antibodi inilah yang akan melindungi sang bayi dari
berbagai mikroorganisme termasuk HSV. Antibodi ini dapat bertahan pada saat melahirkan
hingga beberapa bulan setelahnya.

7|Page
Jika gejala herpes kembali muncul, obat asiklovir mungkin perlu dikonsumsi. Tanyakan
kepada dokter kandungan tentang penanganan yang bisa dapatkan, termasuk di dalamnya dosis
dan aturan pakai obat tersebut.

Jika mengalami infeksi pertama pada awal 3-6 bulan masa kehamilan, maka risiko
infeksi menular pada bayi akan meningkat, begitu juga dengan risiko keguguran. Oleh karena
itu, asiklovir mungkin perlu dikonsumsi.

Virus herpes bisa menular saat proses persalinan. Jika infeksi pertama terjadi di atas 6
bulan usia kehamilan, risiko penularan infeksi pada bayi sangat tinggi. Hal ini terjadi karena
tubuh sang ibu memerlukan waktu untuk menghasilkan antibodi sebelum sang bayi dilahirkan.
Untuk menghindarinya, perlu dilakukan operasi caesar. Kelahiran normal akan membuat risiko
penularan infeksi pada bayi meningkat 40 persen lebih tinggi.

Infeksi pada Bayi dalam Proses Persalinan

Bagi bayi yang terinfeksi HSV pada saat proses persalinan, infeksi yang terjadi bisa sangat
berbahaya dan terkadang mematikan. Kondisi ini dikenal sebagai neonatal herpes. Herpes yang
terjadi pada saat melahirkan ini dapat berdampak buruk kepada organ tubuh seperti pada mata,
mulut, dan kulit. Selain itu, otak dan sistem saraf lainnya juga bisa terkena dampak dari infeksi
ini. Pada kasus neonatal herpes yang parah, berbagai organ tubuh lainnya seperti paru-paru dan
hati juga bisa terserang hingga dapat menyebabkan kematian.

2.7 Pencegahan

Virus herpes simpleks dapat menular dari penderita tanpa gejala apa pun. Tapi tingkat
penularan virus ini akan lebih tinggi jika infeksi sedang kambuh. Penderita herpes simpleks
disarankan untuk tidak berhubungan seksual ketika sedang memiliki luka yang terbuka.

Jika terdapat luka terbuka atau melepuh pada bagian mulut, jangan mencium pasangan.
Berbagi mainan seksual juga bisa menularkan virus ini. Jika ingin berbagi, pastikan
mencucinya terlebih dahulu.

Walau tidak sepenuhnya menghilangkan risiko terkena herpes genital, kondom dapat
membantu menghambat penularannya. Penggunaan kondom dapat melindungi diri dan
pasangan. Tapi perlu diingat bahwa kondom hanya menutupi penis saja. HSV dapat menular
melalui kontak dengan bagian tubuh lain, seperti mulut saat melakukan seks oral atau anus saat

8|Page
melakukan seks anal. Jika merasa berisiko terinfeksi HSV, segeralah lakukan tes untuk
memastikan diagnosis.

Virus herpes simpleks tidak bisa bertahan lama pada benda di luar tubuh manusia. Virus
ini membutuhkan tubuh manusia untuk bertahan hidup. Tapi tidak ada salahnya untuk
menghindari risiko penularan dengan tidak berbagi handuk atau pun pakaian.

Pada Wanita Hamil

Bagi wanita yang merencanakan kehamilan atau sedang hamil dan dicurigai mengidap herpes,
disarankan untuk melakukan tes infeksi TORCH. TORCH adalah sekelompok virus yang
terdiri dari virus toksoplasmosis, rubela, sitomegalovirus, virus herpes simpleks, dan virus lain
(misalnya sifilis, cacar air, gondongan, parvovirus dan HIV). Tes infeksi TORCH dilakukan
untuk memastikan status herpes pada ibu sehingga jika terdiagnosis positif, penanganan bisa
dilakukan agar janin tidak terinfeksi virus.

9|Page
BAB III

PENUTUP

3.1. Kesimpulan

Herpes genital adalah penyakit kelamin yang disebabkan oleh virus herpes simplex (HSV).
Penyakit ini biasanya ditandai dengan bentol-bentol berair pada alat kelamin, anus, atau mulut.
Herpes genital dapat menyebar melalui sentuhan, meski lebih sering menyebar melalui
hubungan seksual.

Ada 2 jenis virus herpes simplex, yaitu herpes tipe 1 dan 2. Herpes tipe 1, disebut juga
HSV 1 atau herpes oral, menyebabkan bentol berair (lenting) di sekitar mulut dan bibir.
Walaupun HSV 1 dapat menyebar dan menyebabkan herpes genital, herpes genital umumnya
disebabkan oleh virus herpes yang lain, yaitu herpes simplex tipe 2 (atau HSV 2).

Terkadang virus HSV tidak menyebabkan gejala. Bagi yang baru pertama kali terinfeksi
herpes, mungkin tidak akan menyadari adanya gejala-gejala tertentu. Akibatnya, mereka tidak
tahu bahwa dirinya telah terinfeksi virus herpes. Gejala-gejala herpes genital bisa berupa:

• Luka yang terbuka dan terlihat merah tanpa disertai rasa sakit, gatal, atau geli.
• Sensasi rasa sakit, gatal, atau geli di sekitar daerah genital atau daerah anal.
• Luka melepuh yang kemudian pecah dan terbuka di sekitar genital, rektum, paha,
dan bokong.
• Merasakan sakit saat membuang air kecil.
• Sakit punggung bawah.
• Mengalami gejala-gejala flu seperti demam, kehilangan nafsu makan, dan
kelelahan.
• Luka terbuka atau melepuh pada leher rahim.
• Adanya cairan yang keluar dari vagina.

Penyebaran virus ini terjadi melalui kontak langsung dengan pasangan yang terinfeksi oleh
HSV. Hal ini bisa terjadi meski orang yang terinfeksi tidak mengalami gejala apa pun. Virus
ini menyebar melalui bagian yang lembap dari dinding kulit kelamin, mulut, dan anus. Selain
itu, virus ini juga bisa menyebar melalui luka herpes dan bisa terjadi di sekitar mulut, mata,
dan bagian tubuh lain.

10 | P a g e
Pada umumnya, dokter akan menegakkan diagnosis herpes genitalis dengan
mengajukan pertanyaan seputar gejala yang dialami dan melakukan pemeriksaan fisik pada
bagian tubuh yang terkena. Selain itu, dokter mungkin akan mengambil sampel cairan dari luka
melepuh yang muncul. Untuk mengetahui apakah kita menderita herpes genitalis, sampel ini
akan dibawa dan diteliti di laboratorium.

Untuk mengurangi gejala infeksi herpes genital, dokter akan memberikan obat-obatan
antivirus seperti asiklovir, famsiklovir, dan valasisklovir. Obat-obatan ini hanya berfungsi
mencegah virus herpes simpleks agar tidak menggandakan diri, tapi tidak bisa menghilangkan
virus dari tubuh secara sepenuhnya.

Komplikasi yang mungkin bisa terjadi bersamaan dengan herpes genital umumnya
berupa penyakit infeksi menular seksual, inflamasi, infeksi pada bayi, dan gangguan pada
kandung kemih.

Virus herpes simpleks dapat menular dari penderita tanpa gejala apa pun. Tapi tingkat
penularan virus ini akan lebih tinggi jika infeksi sedang kambuh. Penderita herpes simpleks
disarankan untuk tidak berhubungan seksual ketika sedang memiliki luka yang terbuka.

3.2. Saran

Diharapkan bagi pembaca untuk tidak berhubungan seks sebelum nikah, karena dengan free
seks potensi terjangkitnya penyakit ini menjadi lebih besar.

11 | P a g e
DAFTAR PUSTAKA

dr. Marianti, 2018, Herpes Genital (Herpes Simplex).


https://www.alodokter.com/herpes-genital (Online) Diakses pada 02 November 2018

dr. T. Savitri, 2018, Apa itu herpes genital?,


https://hellosehat.com/penyakit/herpes-genital-adalah-penyakit/ (Online) Diakses
pada 02 November 2018

Groves, MJ. (2016). Genital Herpes: A Review. American Family Physician, 93(11), pp. 928-
934.

Sauerbrei, A. (2016). Herpes Genitalis: Diagnosis, Treatment, and Prevention. Geburtshilfe


und Frauenheilkunde, 76(12), pp. 1310-1317.

Unknown, 2018, Herpes Genital – Penyebab, Gejala, Diagnosis, Pengobatan, dan


Pencegahan,
https://doktersehat.com/herpes-genital/ (Online) Diakses pada 02 November 2018

WebMD (2016). Genital Herpes and HIV. (Online) Diakses pada 02 November 2018

WebMD (2018). Common Symptoms of Genital Herpes. (Online) Diakses pada 02


November 2018

12 | P a g e