Anda di halaman 1dari 10

NOV

20

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN GANGGUAN


MUSKULUSKELETAL “SKOLIOSIS”

I. KONSEP MEDIS

A. Definisi
Skoliosis adalah penyimpangan tulang belakang ke lateral dari garis tengah atau
terjadi lengkungan yang abnormal pada vertebra kea rah lateral.
Skoliosis merupakan suatu kelainan yang menyebabkan suatu lekukan yang
abnormal dari spine. Spine mempunyai lekukan-lekukan yang normal ketika
dilihat dari samping, namun ia harus nampak lurus ketika dilihat dari depan.
§ Kyphosis adalah suatu lekukan yang dilihat dari sisi dimana spine
bengkok ke depan (maju).
§ Lordosis adalah suatu lekukan yang dilihat dari sisi dimana spine
bengkok ke belakang.

B. Klasifikasi
Kasifikasi skoliosis sebagai berikut:
1. Skoliosis congenital. Kelainan sudah ada sejak lahir
2. Skoliosis didapat. Kelainan tidak ada sejak lahir, berkemban
sejak masa berikutnya.
3. Skoliosis idiopatik adalah bentuk yang paling umum terjadi dan
diklasifikasikan menjadi 3 kelompok yaitu:
a. Infantile, yang muncul sejak lahir sampai usia 3 tahun;
b. Anak-anak, yang muncul dari usia 3 tahun sampai 10
tahun; dan
c. Remaja, yang muncul setelah usia 10 tahun (usia yang
paling umum).
4. Skoliosis fungsional. Kelainan ini berkaitan dengan postural
atau nonstructural dan berkembang dari pengaruh postur yang
tenporer (sementara) mudah di perbaiki.
5. Skoliosis structural. Perubahan struktur tulang belakang karena
sebab ang berfariasi.
6. Skoliosis Neuromuskuler, anak yang menderita penyakit
neuromuskuler (seperti paralisis otak, spina bifida, atau distrofi
muskuler) yang secara langsung menyebabkan deformitas. (Nettina,
Sandra M.)

C. Etiologi
Penyebab terjadinya skoliosis diantaranya kondisi osteopatik, seperti fraktur, penyakit
tulang, penyakit arthritis, dan infeksi. Pada skoliosis berat, perubahan progresif pada
rongga toraks dapat menyebabkan perburukan pernapasan dan kardiovaskuler.
(Nettina, Sandra M.)
Terdapat 3 penyebab umum dari skoliosis:
a. Kongenital (bawaan), biasanya berhubungan dengan suatu
kelainan dalam pembentukan tulang belakang atau tulang rusuk yang
menyatu
Neuromuskuler, pengendalian oto yang buruk atau kelemahan otot atau
kelumpuhan akibat penyakit berikut:
· Cerebral palsy
· Distrofi otot
· Polio
· Osteoporosis juvenile Idiopatik, penyebabnya tidak
diketahui.
b. Pada kebanyakan kasus2, penyebab dari skoliosis tidak diketahui
(idiopatik). Tipe dari skoliosis ini digambarkan berdasarkan pada umur
ketika skoliosis berkembang. Jika orang itu kurang dari 3 tahun
umurnya, ia disebut infantile idiopathic scoliosis. Skoliosis yang
berkembang antara umur 3 dan 10 tahun disebut juvenil idiopathic
scoliosis, dan orang2 yang diatas 10 tahun umurnya mempunyai
adolescent idiopathic scoliosis.
v Ada 3 tipe utama lain dari skoliosis:
a. Funktional: pada tipe skoliosis ini, spine normal, namun suatu
lekukan abnormal berkembang karena suatu persoalan ditempat lain
didalam tubuh. Ini dapat disebabkan oleh satu kaki adalah lebih pendek
daripada yang lainna atau oleh kekejangan-kekejangan di punggung.
b. Neuromuscular: pada tipe ini, ada suatu persoalan ketika spine
terbentuk. Baik tulang-tulang spine yang gagal untuk membentuk
sepenuhnya, atau mereka gagal untuk berpisah satu sama lain. Tipe
skoliosis ini berkembang pada orang-orang dengan kelainan lain
termasuk kerusakan-kerusakan kelahiran, penyakit otot (muscular
distrophy), cerebral palsy, atau penyakit marfan. Jika lekukan hadir
waktu dilahirkan, ia disebut kongenital. Tipe skoliosis ini seringkali
jauh lebih parah dan memerlukan perawatan yang lebih agresif
daripada bentuk-bentuk lain dari skoliosis.
c. Degenerative: tidak seperti bentuk-bentuk lain dari skoliosis
yang ditemukan pada anak-anak dan remaja, degenerative scoliosis
terjadi pada dewasa. Ia disebabkan oleh perubahan pada spine yang
disebabkan oleh arthritis. Pelemahan dari ligament-ligamen dan
jaringan-jaringan lunak lain yang normal dari spine digabungkan
dengan spur-spur tulang yang abnormal dapat menjurus pada suatu
lekukan dai spine yang abnormal.
d. Lain-lain : ada penyebab potensial lain dari skoliosis, termasuk
tumor-tumor spine seperti steroid osteoma. Ini adalah tumor jinak yang
dapat terjadi pada spine dan menyebabkan nyeri. Nyeri menyebabkan
orang-orng untuk bersandar pada sisi yang berlawanan untuk
mengurangi jumlah tekanan yang diterapkan pada tumor. Ini dapat
menjurus pada suatu kelainan bentuk spine.

D. Patofisiologi
Kelainan bentuk tulang punggung yang disebut skoliosis ini berawal dari adanya
syaraf yang lemah atau bahkan lumpuh yang menarik ruas-ruas tulang belakang.
Tarikan ini berfungsi untuk menjaga ruas tulang belakang berada pada garis yang
normal yang bentuknya seperti penggaris atau lurus. Tetapi karena suatu hal,
diantaranya kebiasaan duduk yang miring, membuat sebagian syaraf yang bekerja
menjadi lemah. Bila ini terus berulang menjadi kebiasaan, maka syaraf itu bahkan
akan mati. Ini berakibat pada ketidakseimbangan tarikan pada ruas tulang belakang.
Oleh karena itu, tulang belakang penderita bengkok atau seperti huruf S atau huruf C.

Pohon masah:

Skoliosis

Dapat terjadi pada tulang spinal

Atau termasuk rongga tulang spinal

Lengkungan berbentuk s atau c

Derajat lengkungan penting untuk diketahui

Menekan paru-paru mempengaruhi stabilitas


tulang belakang dan
pergerakan pinggul

Mempengahui gaya
berjalan
E. Manifestasi Klinik
Ø Tanda-tanda skoliosis berupa:
1. Bahu tidak sama tinggi.
2. Garis pinggang sama tinggi.
3. Badan belakang menjadi bongkok sbelah
4. Badan bengkok ke satu arah
5. Sebelah pinggul lebih tinggi
Ø Gejala-gejala skoliosis yaitu berupa:
1. Tulang belakang melengkung secara abnormal kea rah samping.
2. Bahu dan pinggul kiri dan kanan tidak sama tingginya.
3. Nyeri punggung
4. Kelelahan pada tulang belakang setelah duduk atau berdiri lama
5. Skoliosis yang berat (dengan kelengkungan yang lebih besar dari
60°c) bisa menyebabkan gangguan pernafasan.

F. Komplikasi
a. Kerusakan paru-paru dan jantung
b. Tulang belakang terasa sakit
c. Masalah imej

G. Pemeriksaan Diagnostik
Adapun pemeriksaan diagnostik untuk menetapkan skoliosis adalah sebagai berikut:
1. Mielografi yaitu untuk melihat kondisi kolumna vertebralis dan
rongga intervetebra, saraf spinal, dan pembuluh darah.
2. Computed tomography yaitu untuk mendeteksi masalah
musculoskeletal terutama kolumna vertebralis.
3. Pengukuran dengan skoliometer (alat untuk mengukur
kelengkungan tulang belakang).
4. CT Skan
5. Foto Ronsen
6. MRI

H. Prognosis
Prognosis tergantung pada penyebab, lokasi dan beratnya kelengkungan. Semakin
besar kelengkungan skoliosis, semakin tinggi resiko terjadinya progresivitas sesudah
masa pertumbuhan anak berlalu. Skoliosis ringan yang hanya diatasi dengan brace
memiliki prognosis yang baik dan cenderung tidak menimbulkan masalah jangka
panjang selain kemungkinan timbulnya sakit pinggang pada saat usia penderita
semakin bertambah. Penderita skoliosis idiopatik yang menjalani pembedahan juga
memiliki prognosis yang baik dan bisa hidup scara aktif dan sehat. Penderita skoliosis
neuromuskuler selalu memiliki penyakit lainnya yang serius (misalnya cerebral palsy
atau distrofi otot). Karena itu tujuan dari pembedahan biasanya adalah memungkinkan
anak bisa duduk tegak pada kursi roda. Bayi yang menderita skoliosis kongenital
memiliki sejumlah kelainan bentuk yangmendasarinya, sehingga penanganannyapun
tidak mudah dan perlu dilakukan beberapa kali pembedahan.

I. Penatalaksanaan
Pengobatan yang dilakukan tergantung kepada penyebab, derajat dan lokasi
kelengkungan serta stadium pertumbuhan tulang. Jika kelengkungan kurang dari 20%,
biasanya tidak perlu dilakukan pengobatan, tetapi penderita harus menjalani
pemeriksaan secara teratur setiap 6 bulan. Pada anak-anak yang masih tumbuh,
kelengkungan biasanya bertambah sampai 25-30%, karena itu biasanya dianjurkan
untuk menggunakan brace (alat penyangga) untuk membantu memperlambat
progresivitas kelengkungan tulang belakang. Brace dari Milwaukee & Boston efektif
dalam mengendalikan progresivitas skoliosis, tetapi harus dipasang selama 23
jam/hari sampai masa pertumbuhan anak berhenti. Brace tidak efektif digunakan pada
skoliosis kongenital maupun neuromuskuler.
Jika kelengkungan mencapai 40% atau lebih, biasanya dilakukan pembedahan. Pada
pembedahan dilakukan perbaikan kelengkungan dan peleburan tulang-tulang. Tulang
dipertahankan pada tempatnya dengan bantuan 1-2 alat logam yang terpasang sampai
tulang pulih (kurang dari 20 tahun). Sesudah dilakukan pembedahan mungkin perlu
dipasang brace untuk menstabilkan tulang belakang. Kadang diberikan perangsangan
elektrospinal, dimana otot tulang belakang dirangsang dengan arus listrik rendah
untuk meluruskan tulang belakang.
Adapun penatalaksanaan medis untuk skoliosis yaitu:
1. Postural skoliosis dapat diperbaiki dengan latihan postural dan
latihan yang dikombinasi dengan traksi (mis, traksi kotrel).
2. Skoliosis dengan lengkungan fleksibel (kurang dari 40̊˚c derajat)
dan pasien koperatif. Dengan pemasangan brace dikombinasi dengan
latihan cukup untuk memperbaiki kelainan.

II. KONSEP DASAR KEPERAWATAN


A. Pengkajian
1. Pengkajian fisik meliputi:
a. Mengkaji skelet tubuh
Adanya deformitas dan kesejajaran. Pertumbuhan tulang yang
abnormal akibat tumor tulang. Pemendekan ekstremitas, amputasi dan
bagian tubuh yang tidak dalam kesejajaran anatomis. Angulasi abnormal
pada tulang panjang atau gerakan pada titik selain sendi biasanya
menandakan adanya patah tulang.
b. Mengkaji tulang belakang
Skoliosis (deviasi kurvatura lateral tulang belakang), Kifosis (kenaikan
kurvatura tulang belakang bagian dada), Lordosis (membebek, kurvatura
tulang belakang bagian pinggang berlebihan)
c. Mengkaji system persendian
Luas gerakan dievaluasi baik aktif maupun pasif, deformitas, stabilitas,
dan adanya benjolan, adanya kekakuan sendi
d. Mengkaji system otot
Kemampuan mengubah posisi, kekuatan otot dan koordinasi, dan
ukuran masing-masing otot. Lingkar ekstremitas untuk mementau adanya
edema atau atropfi, nyeri otot.
e. Mengkaji cara berjalan
Adanya gerakan yang tidak teratur dianggap tidak normal. Bila salah
satu ekstremitas lebih pendek dari yang lain. Berbagai kondisi neurologist
yang berhubungan dengan caraberjalan abnormal (mis. cara berjalan
spastic hemiparesis - stroke, cara berjalan selangkah-selangkah – penyakit
lower motor neuron, cara berjalan bergetar – penyakit Parkinson).
f. Mengkaji kulit dan sirkulasi perifer
Palpasi kulit dapat menunjukkan adanya suhu yang lebih panas atau
lebih dingin dari lainnya dan adanya edema. Sirkulasi perifer dievaluasi
dengan mengkaji denyut perifer, warna, suhu dan waktu pengisian
kapiler.
2. Pemeriksaan penunjang
a. Rontgen tulang belakang.
X-Ray Proyeksi Foto polos : Harus diambil dengan posterior dan
lateral penuh terhadap tulang belakang dan krista iliaka dengan posisi
tegak, untuk menilai derajat kurva dengan metode Cobb dan menilai
maturitas skeletal dengan metode Risser. Kurva structural akan
memperlihatkan rotasi vertebra ; pada proyeksi posterior-anterior,
vertebra yang mengarah ke puncak prosessus spinosus menyimpang
kegaris tengah; ujung atas dan bawah kurva diidentifikasi sewaktu
tingkat simetri vertebra diperoleh kembali.
b. Pengukuran dengan skoliometer (alat untuk mengukur
kelengkungan tulang belakang).
Skoliometer adalah sebuah alat untuk mengukur sudut kurvaturai. Cara
pengukuran dengan skoliometer dilakukan pada pasien dengan posisi
membungkuk, kemudian atur posisi pasien karena posisi ini akan
berubah-ubah tergantung pada lokasi kurvatura, sebagai contoh kurva
dibawah vertebra lumbal akan membutuhkan posisi membungkuk lebih
jauh dibanding kurva pada thorakal. Kemudian letakkan skoliometer
pada apeks kurva, biarkan skoliometer tanpa ditekan, kemudian baca
angka derajat kurva. Pada screening, pengukuran ini signifikan apabila
hasil yang diperoleh lebih besar dari 5 derajat, hal ini biasanya
menunjukkan derajat kurvatura > 200 pada pengukuran cobb’s angle
pada radiologi sehingga memerlukan evaluasi yang lanjut.
c. MRI (jika ditemukan kelainan saraf atau kelainan pada rontgen).

B. Analisa Data
a. Data subjektif:
1. Pakaian tidak pas atau menggantung
2. Pasien bernapas tidak leluasa
3. Pasien mengeluh kesulitan dalam bergerak
4. Pasien mempunyai perasaan negative terhadap dirinya.
b. Data objektif:
1. Tulang belakang melengkung ke lateral.
2. Cara berjalan tidak seimbang.
3. Postur tubuh miring ke samping.
4. Keterbatasan kemampuan untuk bangkit dari kursi.
5. Ketinggian bahu tidak sama.

C. Diagnose Keperawatan
1. Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan penekanan paru.
2. Nyeri punggung yang berhubungan dengan posisi tubuh miring ke lateral.
3. Gangguan mobilitas fisik yang berhubungan dengan postur tubuh yang tidak
seimbang.
4. Gangguan citra tubuh atau konsep diri yang berhubungan dengan postur tubuh
yang miring ke lateral.
5. Kurang pengetahuan yang berhubungan dengan kurang informasi tentang
penyakitnya.

D. Intervensi dan Rasional


1. Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan penekanan paru.
· Tujuan : pola nafas tetap efektif
· Intervensi:
a. Kaji status pernapasan setiap 4 jam.
R//: memantau perkembangan untuk menentukan tindakan selanjutnya.
b. Bantu dan ajarkan pasien melakukan nafas dalam-dalam setiap 1
jam.
R//: agar tidak terjadi sesak.
c. Atur posisi semi fowler
d. R//: untuk meningkatkan ekspansi paru.
e. Auskutasi dada untuk mendengarkan bunyi napas setiap dua jam.
R//: perubahan simetrisan dada menunjukan terjadi penekanan
paru-paru oleh tulang belakang.
f. Pantau tanda-tanda vital setiap 4 jam.
R//: memantau perkembangan untuk menentukan tindakan selanjutnya.
2. Nyeri punggung yang berhubungan dengan posisi tubuh miring ke lateral.
· Tujuan: nyeri berkurang/hilang.
· Intervensi dan rasional.
a. Kaji tipe, intensitas, dan lokasi nyeri.
R//: bermanfaat dalam mengevaluasi nyeri, menentukan pilihan
intervensi, menentkan evektivitas terapi.
b. Atur posisi yang meningkatkan rasa nyaman.
R//: menurunkan tegangan otot dan koping adekuat.
c. Pertahankan lingkungan yang tenang.
R//: meningkatkan rasa nyaman
d. Ajarkan relaksasi dan teknik distraksi
R//: untuk mengalihkan perhatian, sehingga mengurangi nyeri.
e. Anjurkan latihan postural secara rutin
R//: dengan latihan posturan secara rutin mempercepat proses
perbaiki posisi tubuh.
f. Kaloborasi pemberian analgetik
R//: untuk meredahkan nyeri.
3. Gangguan mobilitas fisik yang berhubungan dengan postur tubuh yang tidak
seimbang.
· Tujuan : meningkatkan mobilitas fisik.
· Intervensi dan rasional.
a. Kaji tingkat mobilitas fisik.
R//: pasien mungkin dibatasi oleh pandangan diri/persepsi diri
tentang keterbatasan fisik actual, memerlukan
informasi/intervensi untuk meningkatkan kemajuan
ksehatan.
b. Tingkatkan aktivitas jika nyeri berkurang.
R//: memberikan kesempatan untuk mengeluarkan energy,
meningkatkan rasa control diri/harga diri, dan membantu menurunkan
isolasi social.
c. Libatkan ddalam melakuka perawatan diri.
d. Tingkatkan kembali dalam aktivitas normal.
4. Gangguan citra tubuh atau konsep diri yang berhubungan dengan postur tubuh
yang miring ke lateral.
· Tujuan: meningkatkan citra tubuh,
· Intervensi dan rasional
a. Anjurkan untuk mengungkapkan perasaan dan masalahnya.
R/: membantu dalam memastikan masalah untuk memulai proses
pemecahan masaah.
b. Beri lingkungan yang terbuka atau yang mendukng pada pasien.
R//: meningkatkan pernyataan keyakinan/nilai tentang subjek
positif dan mengidentifikasi kesalahan konsep/mitos yang
dapat mempengaruhi penilaian situasi.
c. Diskusikan presepsi pasien tentang diri dan hubungannya dengan
perubahan dan bagaimana pasien melihat dirinya dalam pola/peran
fungsi biasanya.
R//: membantu mengartikan masalah sehubungan dengan pola
hidup sebelumnya dan membantu dalam pemecahan masalah.
d. Doron/berikan kunjungan oleh orang yang menderita skoliosis,
kususnya yang sudah berhasil dalam rehabilitasi.
R//: teman senasib yang telah melalui pengalaman yang sama
bertindak sebagai model peran dan dapat memberikan
keabsahan pernyataan dan juga harapan untuk pemulihan dan
masa dengan normal.
5. Kurang pengetahuan yang berhubungan dengan kurang informasi tentang
penyakitnya.
· Tujuan: pemahaman tentang program pengobatan.
· Intervesi dan rasional
a. Jelaskan tentag keadaan penyakitnya.
R//: menurunnya rentang perhatian pasien dapat menurunkan
kemampuan untuk menerima/memproses dan mengingat
menyimpan imformasi yang di berikan.
b. Tekankan pentingnya dan keuntungan mempertahankan program
latihan yang dianjurkan.
R//: mengingatkan pada pasien demi mempercepat
proses penyembuhan.
c. Jelaskan tentang pengobatan: nama, jadwal, tujuan, dosis dan efe
sampingnya.
R//: meningkatkan proses penyembuhan.
d. Peragakan pemasangan dan perawatan brace atau korset.
R//: menghindari kecelakaan dan membantu proses koping individu.

E. Evaluasi
Setelah intervensi keperawatan, diharapkan:
a. Pola napas efektif
1) menunjukkan bunyi napas yang normal
2) frekuensi dan irama napas teratur
b. Nyeri hilang atau berkurang
1) Melaporkan tingkat nyeri yang dapat diterima
2) Memperlihatkan tenang dan rileks
3) Keseimbangan tidur dan istirahat
c. Meningkatkan mobilitas fisik
1) Melakukan latihan rentang gerak secara adekuat
2) Melakukan mobilitas pada tingkat optimal
3) Secara aktif ikut serta dalam rencana keperawatan
4) Meminta bantuan jika membutuhkan
d. Meningkatkan harga diri
1) Mencari orang lain untuk membantu mempertahankan harga diri
2) Secara aktif ikut serta dalam perawatan dirinya
3) Menggunakan keterampilan koping dalam mengatasi citra tubuh
e. Pemahaman pengetahuan
1) Mengungkapkan pengertian tentang proses penyakit, rencana
pengobatan, dan gejala kemajuan penyakit
2) Memperagakan pemasangan dan perawatan brace atau korset
3) Mengekspresikan pengertian tentang jadwal pengobatan

DAFTAR PUSTAKA
a. Doengoes, Marylinn. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta : EGC
b. Nettina, Sandra, M. 2001. Pedoman Praktik Keperawatan. Jakarta : EGC
c. Rasjad, Chairuddin. 2003. Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi. Makasar : Bintang
Lamumpatue
d. http://www.kuliah-keperawatan.co.cc/2009/04/skoliosis.html