Anda di halaman 1dari 22

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala

limpahan rahmat, kemudahan, dan karunia-Nya sehingga penulis dapat

menyelesaikan Laporan Toxikologi dengan judul “ Pemeriksaan Argentum” sesuai

yang di harapkan.

Laporan telah penulis susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari

berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan laporan ini. Untuk itu

penulis menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah

berkontribusi dalam pembuatan laporan ini.

Terlepas dari semua itu, penulis menyadari sepenuhnya bahwa masih ada

kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu

dengan tangan terbuka penulis menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar

kami dapat memperbaiki laporan ini.

Akhir kata penulis berharap semoga Laporan Toxikologi dapat bermanfaat untuk

masyarakan maupun inpirasi terhadap pembaca.

Gorontalo , Maret 2019

Penulis

i
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR .................................................................................................. i

DAFTAR ISI ................................................................................................................ ii

DAFTAR TABEL ...................................................................................................... iv

BAB I PENDAHULUAN ............................................................................................ 1

1.1 Latar Belakang ............................................................................................... 1

1.2 Rumusan Masalah .......................................................................................... 2

1.3 Tujuan Praktikum ........................................................................................... 2

1.4 Manfaat Prakitikum ........................................................................................ 2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA................................................................................. 3

2.1 Definisi Toksikologi ....................................................................................... 3

2.2 Definisi Argentum .......................................................................................... 3

2.3 Sifat Umum, Kimia dan Fisika Argentum ...................................................... 4

2.4 Prinsip Pemeriksaan Argentum ...................................................................... 5

2.5 Karakteristik Argentum .................................................................................. 5

2.6 Identfikasi Bahaya .......................................................................................... 6

2.7 Penaganan Argentum ..................................................................................... 7

2.8 Uraian Bahan .................................................................................................. 8

BAB III METODE PRAKTIKUM .......................................................................... 10

3.1 Waktu dan Tempat Praktikum ..................................................................... 10

3.2 Tujuan .......................................................................................................... 10

3.3 Metode ......................................................................................................... 10

ii
3.4 Prinsip .......................................................................................................... 10

3.5 Pra Analitik .................................................................................................. 10

3.6 Analitik ........................................................................................................ 10

3.7 Pasca Analitik .............................................................................................. 11

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN .................................................................. 12

4.1 Hasil ............................................................................................................. 12

4.2 Pembahasan ................................................................................................. 13

BAB V PENUTUP ..................................................................................................... 16

5.1 Kesimpulan .................................................................................................. 16

5.2 Saran ............................................................................................................ 16

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

iii
DAFTAR TABEL

Table 4.1.1 Hasil Pemeriksaan Argentum………………………………………….12

iv
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Logam berat ialah benda padat atau cair yang mempunyai berat 5 gram atau

lebih untuk setiap cm3, sedangkan logam yang beratnya kurang dari 5g adalah

logam ringan. Dalam tubuh makhluk hidup logam berat termasuk dalam mineral

“trace” atau mineral yang jumlahnya sangat sedikit. Beberapa mineral trace

adalah esensiil karena digunakan untuk aktivitas kerja system enzim misalnya

seng (Zn), tembaga (Cu), besi (Fe) dan beberapa unsur lainnya seperti kobalt

(Co), mangaan (Mn) dan beberapa lainnya. Beberapa logam bersifat non-esensiil

dan bersifat toksik terhadap makhluk hidup misalnya : merkuri (Hg), kadmium

(Cd) dan timbal (Pb).

Logam merupakan kelompok toksikan yang dapat berubah-ubah akibat

pengaruh fisikokimia, biologis, atau akibat aktivitas manusia. Logam

memperlihatkan rentang toksisitas yang lebar. Kerja utama logam adalah

menghambat enzim. Efek ini biasanya timbul akibat interaksi antara logam

dengan gugus SH pada enzim itu. Selain itu, logam dapat menggangu fungsi

enzim dengan menghambat sintesisnya. Umumnya efek toksik logam merupakan

akibat dari reaksi antara logam dan komponen intrasel. Untuk dapat menimbulkan

efek toksiknya pada suatu sel, logam harus memasuki sel dengan melintasi

membran. Dengan demikian, logam yang bersifat lipofilik misalnya metil merkuri

akan lebih bersifat toksik. Apabila suatu logam terikat pada suatu protein, ikatan

1
tersebut akan diserap secara endositosis. Logam juga dapat masuk ke dalam sel

melalui difusi pasif, misalnya timbal.

Logam berat tidak mengalami metabolism, tetap berada dalam tubuh dan

menyebabkan efek toksik dengan cara bergabung dengan suatu atau beberapa

gugus ligan yang esensial bagi fungsi fisiologis normal. Ligan adalah suatu

molekul yang mengikat molekul lain yang umumnya lebih besar. Ligan member

atau menerima electron untuk membentuk ikatan kovalen, biasanya dengan

logam. Antagonis logam berat, suatu kelator (chelating agent) khusus dirancang

untuk berkompetisi dengan ligan terhadap logam berat, sehingga meningkatkan

ekskrsi logam dan mencegah atau menghilangkan efek toksiknya. Logam berat

biasa bereaksi membentuk ikatan koordinat dengan ligan dalam tubuh berbentuk

–OH, -COO-, -OPO3H-, -C=O, -SH, -S-S-, NH2 dan =NH.

1.2 Rumusan Masalah

Bagaimana cara melakukan pemeriksaan argentum (Ag) dengan menggunakan

sampel air sumur dan sampel AgNo3?

1.3 Tujuan Praktikum

Tujuan dari praktikum ini yaitu untuk mengetahui adanya argentums (Ag)

dengan menggunakan sampel air sumur dan AgNo3.

1.4 Manfaat Prakitikum

Manfaat praktikum yaitu agar mahasiswa dapat mengetahui cara pemeriksaan

argentums (Ag) pada sampel air sumur dan AgNo3.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi Toksikologi

Toksikologi merupakan ilmu atau pemahaman tentang pengaruh berbagai

macam zat-zat kimia yang merugikan bagi kelangsungan hidup makhluk hidup.

Toksikologi menurut para ahli kimia merupakan ilmu yang bersangkut paut

dengan berbagai macam efek dan mekanisme kerja yang dapat merugikan dari

agen kimia terhadap binatang dan manusia. Toksikologi menurut para ahli

farmakologi adalah cabang dari farmakologi yang berhubungan dengan efek

samping zat kimia di dalam sistem biologik. Dalam toksikologi terdapat unsur –

unsur yang saling berinteraksi antara satu dengan yang lain dengan suatu cara

tertentu sehingga dapat menimbulkan suatu respon pada sistem biologi yang dapat

menimbulkan kerusakan terhadap sistem biologi tersebut (Darmono. 2009).

2.2 Definisi Argentum

Argentum atau perak adalah elemen kedua di kolom kesebelas dari tabel

periodik. Perak diklasifikasikan sebagai logam transisi. Atom perak memiliki 47

elektron dan 47 proton dengan 60 neutron dalam isotop yang paling melimpah.

Dalam kondisi standar perak adalah logam lunak yang memiliki lapisan logam

mengkilap. Perak sangat elastis (yang berarti dapat ditarik ke kawat) dan lunak

(yang berarti dapat ditempa menjadi lembaran datar). Perak memiliki

konduktivitas listrik tertinggi dari semua elemen serta konduktivitas termal

tertinggi dari semua logam. Perak juga sangat reflektif. Perak sangat tidak reaktif.

3
Ini tidak akan bereaksi dengan udara atau air. Perak akan memudar ketika

bersentuhan dengan sulfur (Sugiyarto. 2003).

2.3 Sifat Umum, Kimia dan Fisika Argentum

2.3.1 Sifat Umum

Perak nitrat berwarna putih dan sangat mengkilap, penghantar listrik yang

baik (daya hantar listrik perak jauh lebih baik dibandingkan tembaga karena

hambatan jenis perak jauh lebih kecil dibandingkan tembaga. Akan tetapi,

tembaga lebih banyak digunakan sebab perak lebih mahal dari pada

tembaga), tahan korosi dan mudah ditempa, logam yang tidak reaktif dan

tidaak teroksidasi oleh oksigen diudara (Petrucci. 1987).

2.3.2 Sifat Kimia

Bila larutan argentum ditambahkan HCl atau NaCl akan terbentuk endapan

putih (Petrucci. 1987).

2.3.3 Sifat Fisika

1. Nomor atom : 47

2. Berat jenis : 10,5

3. Bobot atom : 107,880

4. Kekerasan : 2,5-7,5

5. Titik lebur : 960OC

6. Titik didih : 1950OC

7. Susunan isotop : 107 (52%), 190 (42,1%)

8. Panas jenis : 0,0544

4
9. Warna : Putih mengkilap (Petrucci. 1987).

2.4 Prinsip Pemeriksaan Argentum

Prinsip dari pemeriksaan argentum (Ag+) yaitu jika argentum direaksikan

dengan Cl- akan membentuk endapan putih (AgCl) dan jika direaksikan dengan

K2CrO4 akan membentuk endapan merah bata (AgCrO4) (Petrucci. 1987).

2.5 Karakteristik Argentum

Argentum (Ag) atau perak atau metal berwarna putih. Ag didapat pada

industry antara lain industry alloy, keramik, gelas, fotografi, cermin dan vcat

rambut. Bila masuk kedalam tubuh, Ag akan diakumulasikan diberbagai organ

danmenimbulkan pigmentasi kelabu yang disebut agryria. Pigmentasi ini bersifat

permanen, karena tubuh tidak dapat mengekskresikannya. Sebagai debu, senyawa

Ag dapat menimbulkan iritasi kulit, dan menghitamkan kulit (agryria). Bila

terikat nitrat, Ag akan menjadi sangat korosif. Agryria sistematik dapat juga

terjadi, karena diakumulasikan didalam selaput lender dan kulit (Eisler,1996).

Perak terjadi secara alami dalam beberapa bilangan oksidasi, paling umum

menjadi elemen perak (Ag+). Garam perak yang umumnya lebih beracun dari

garam tidak dapat larut. Perak memasuki tubuh hewan melalui inhalasi, gerakan

menelan, dan pada selaput lender dan kulit rusak. Perbedaan kemampuan

antarspesies hewan dalam mengumpulkan, meyimpan, dan menghilangkan perak

adalah besar. Hampir semua dari total asupan perak biasanya diekresikan dalam

tinja dengan cepat, kurang dari 1% dari total asupan perak diserap dan

dipertahankan dalam jaringan, terutama hati, melalaui pengendapan garam perak

5
larut. Pada mamalia, perak biasanya berinteraksi secara antginistis dengan

selenium, tembaga, dan vitamin E dalam lingkungan, perairan, perak ionic atau

perak bebas mengganggu dengan metabolism kalsium dalam kulit dan annelid

laut dan dengan serapan sodium dan klorida dalam insang ikan (Eisler,1996).

2.6 Identfikasi Bahaya

Ag atau perak merupakan salah satu bahan kimia yang memiliki efek korosif,

yaitu merusak area yang berkontak dengannya. Biasanya dapat beracun,

berbahaya dan bisa menyebabkan lukabakar pada setiap jaringan tubuh, bisa fatal

jika tertelan, berbahaya jika dihirup oksidator kuat dapat menyebabkan

kebakaran apabila kontak dengan bahan lain. (Dirjen DIKTI, 2002), Ada

beberapa efek kesehatan yaitu :

1. Inhalasi

Sangat merusak jaringan dari selaput lender dan saluran pernapasan bagian

atas. Uap yang terhirup dapat menyebabkan batuk, mengi, radang

tenggorokan, sesak nafas, sakit kepala mual dan muntah. Debu yang

mengendap diparu-paru dapat menyababkan pneumoconiosis (Darmono.

2006).

2. Tertelan

Menelan dapat menyebabkan luka bakar parah pada tenggorokan, mulut,

dan perut. Dapat menyebabkan sakit tenggorokan, muntah, diare dan beracun.

Gejalanya mmeliputi nyeri dan selaput lender, tenggorokan, dan perut, air

liur, muntah bahan hitam, kolaps, dan syok (Darmono. 2006).

6
3. Kontak kulit

Gejalanya menimbulkan kemerahan atau noda coklat atau kehitaman yang

umumnya dapat menhilang sendiri dalam waktu tertentu (bergantung dengan

konsentrasi larutan tersebut), nyeri dan dapat membakar kulit (Darmono.

2006).

4. Kontak Mata

Dapat menyebabkan penglihatan kabur, kemerahan, luka bakar pada

jaringan mata dan kerusakan pada mata (Darmono. 2006).

2.7 Penaganan Argentum

Walaupun unsure perak itu sendiri tidak beracun, banyak senyawa garamnya

sangat berbahaya. Exposisi pada perak (baik logam maupun senyawa-

senyawanya yang dapat larut) diudara jangan sampai melebihi 0,01 g/m 3

(berdasarkan 8 jam berat rata-rata, selama 40 jam /minggu). Senyawa-senyawa

perak dapat diserap dalam system sirkulasi tubuhdan hasil reduksi perak dapat

terdepositkan pada banyak jaringan tubuh. Sebuah kondisi (agryria) dapat

menimbulkan pigmen-pigmen abu-abu pada kulit tubuh dan selaput-selaput

mucous. Perak memiliki sifat-sifat yang dapat menumbuhkan bakteri tanpa

membahayakan binatang-binatang besar.

Penangan pertama jika terpapar oleh perak pada kulit dan segera basuk kulit

dan mata dengan banyak air sekurang-kurangnya 15 menit sambil

menghilangkan kontaminan pada pakaian dan sepatu dan mata sambil dikedip-

kedipkan segera pertolangan medis. Jika diudara bisa dihilangkan dengan udara

7
segar atau gunakan masker. Jika tidak bernapas, berikan pernapasan buatan, jika

sulit bernapas, dan berikan oksigen agar mendapatkan perhatian medis segera

(Dirjen DIKTI, 2002).

2.8 Uraian Bahan

1. Natrium Klorida (FI III,403)

Nama resmi : NATRII CHLORIDUM

Nama lain : Natrium klorida

RM/BM : NaCL/58,44

Kelarutan : Larut dalam 2,8 bagian air, dalam 2,7 bagian air

mendidih, dan dalam kurang lebih 10 bagian gliserol P, sukar

larut dalam etanol (95%) P.

Pemerian : Hablur heksahedral tidak berwarna atau serbuk hablur

putih, tidak berbau, dan rasa asin .

Kegunaan : Sebagai sampel

Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.

2. Kalium Kromat (FI III,690)

Nama resmi : KALII KROMAT

Nama lain : kalium kromat

RM/BM : K2CrO4/194,2

Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air, larutan jernih

Kegunaan : Sebagai pereaksi

Pemerian : Massa hablur, berwarna kuning

8
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat

3. Perak Nitrat (FI III,97)

Nama resmi : ARGENTI NITRAS

Nama lain : Perak nitrat

RM/BM : AgNO3/169,87

Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air ;larut dalam etanol (95%)P.

Kegunaan : Sebagai indicator

Pemerian : Hablur transparan atau serbuk hablur berwarna putih,tidak

berbau,menjadi gelap jika kena cahaya.

Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik ,terlindung dari cahaya.

9
BAB III
METODE PRAKTIKUM
3.1 Waktu dan Tempat Praktikum

Praktikum yang berjudul “Pemeriksaan Ag pada sampel air sumur”

dilaksanakan pada tanggal 06 Maret 2019 di Laboratorium Stikes Bina Mandiri

Gorontalo.

3.2 Tujuan

Praktikum ini bertujuan untuk melihat adanya kandungan Ag pada sampel air

sumur.

3.3 Metode

Pada pemeriksaan Ag (Argentum) pada sampel air sumur dilakukan dengan

metode analisa kualitatif.

3.4 Prinsip

Ag (Argentum) direaksikan dengan Cl akan membentuk endapan putih (AgCl)

dan jika direaksikan dengan K2CrO4 akan membentuk endapan merah bata.

3.5 Pra Analitik

Adapun alat dan bahan yang digunakan pada praktikum kali ini yaitu tabung

reaksi, pipet tetes sampel air sumur, NaCl, K2CrO4, dan AgNo3 Pemeriksaan Ag

pada sampel air sumur

3.6 Analitik

3.6.1 Pemeriksaan argentum pada sampel air sumur

1. Siapkan alat dan bahan

10
2. Tabung I dan tabung II diisi sampel air sumur 2ml

3. Tabung I ditetesi dengan NaCl 2 ml

4. Tabung II ditetesi dengan K2CrO4

5. Amati perubahan yang terjadi.

3.6.2 Pemeriksaan Ag Pada AgNO3

1. Siapkan alat dan bahan

2. Tabung I dan tabung II diisi sampel AgNO3 2ml

3. Tabung I ditetesi dengan NaCl 2 ml

4. Tabung II ditetesi dengan 2 tetes K2CrO4

5. Amati perubahan yang terjadi.

3.7 Pasca Analitik

a. Negatif : Sampel tidak mengandung argentum (Ag+) jika direaksikan

dengan Cl tidak membentuk endapan putih (AgCl) dan jika

direaksikan dengan K2CrO4 tidak membentuk endapan merah

bata

a. Positif : Sampel mengandung argentum (Ag+) jika direaksikan dengan Cl

membentuk endapan putih (AgCl) dan jika direaksikan dengan

K2CrO4 membentuk endapan merah bata.

11
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil

Berdasarkan pengamatan terhadap pemeriksaan argentum, hasil yang

diperoleh adalah sebagai berikut :

No. Sampel Gambar Keterangan

1. Sampel A + NaCl = Tidak

ada endapan putih

Sampel (negatif)
1.
A 2. Sampel A + K2CrO4 =

Tidak ada endapan merah

bata (negatif)

1. Sampel B + AgNO3+

NaCl = Perubahan warna

dan endapan putih

2. Sampel B + AgNO3+
2. Sampel B
K2CrO4= Perubahan

warna dan endapan merah

bata

Table 4.1.1 Hasil Pemeriksaan Argentum

12
4.2 Pembahasan

Perak atau argentum (Ag) adalah metal berwarna putih dengan nomor atom

47. Perak merupakan salah satu logam transisi yang berwarna putih mengkilat

dan mudah menghantarkan arus listrik maupun panas serta tahan terhadap korosi.

Oleh karena itu, perak banyak digunakan sebagai bahan industri konduktor listrik

dan panas, fotografi serta sebagai perhiasan. Limbah yang mengandung perak

sangat berbahaya bila langsung dibuang ke lingkungan. Perak selain termasuk

logam berat, juga merupakan logam beracun yang dapat menimbulkan gangguan

kesehatan manusia bila tercemar dengan air. Dalam praktikum pemeriksaan

argentum ini tujuannya yaitu untuk mengetahui adanya perak atau argentum (Ag)

dalam sampel air.

Pada praktikum ini, sampel A (air sumur)di masukkan kedalam tabung I dan

tabung II. Pada tabung I sampel di tambahkan dengan larutan NaCl 2-3 tetes.

Fungsi dari larutan NaCl ini yaitu sebagai pereaksi untuk mengetahui apakah

sampel tersebut mengandung perak atau argentum (Ag). Dan pada tabung II

sampel ditambahkan dengan larutan K2CrO4. Fungsi dari larutan K2CrO4 yaitu

sebagai indikator yang digunakan untuk mendeteksi kelebihan Ag. Setelah

penambahan larutan NaCl (Tabung I) dan larutan K2CrO4 (Tabung II) tidak

terjadi perubahan warna dan tidak adanya endapan yang terbentuk. Hal ini karena

sampel tersebut tidak mengandung argentum (Ag).

Pada sampel B (larutan AgNO3) dimasukkan pada tabung I dan tabung tabung

II. Pada tabung I sampel di tambahkan dengan larutan NaCl 2-3 tetes, terjadi

13
perubahan warna dan terbentuk endapan putih. Hal ini karena ion Cl- dari NaCl

yang terdapat dalam larutan bereaksi dengan ion Ag+ yang ditambah sehingga

terbentuk endapan putih (AgCl). Dan pada tabung II di tambahkan dengan larutan

K2CrO42-3 tetes, terjadi perubahan warna dan terbentuk endapan merah bata

(AgCrO4). Hal ini menandakan bahwa ion CrO4- dari K2CrO4bereaksi dengan

Ag+ sehingga terbentuk endapan merah bata.

Endapan terbentuk jika larutan menjadi terlalu jenuh dengan zat yang

bersangkutan. Kelarutan suatu endapan adalah sama dengan konsentrasi molar

dari larutan jenuh. Kelarutan bergantung pada berbagai kondisi seperti tekanan,

suhu, konsentrasi bahan-bahan lain dalam larutan itu dan pada komposisi

pelarutnya. Jelas terlihat bahwa konsentrasi pelarut sangat berpengaruh dengan

proses pengendapan. Adapun reaksi-reaksi yang terjadi pada percobaan ini

diantaranya adalah:

AgNO3 + NaCl AgCl + NaNO3

Endapan putih

AgNO3 + K2CrO4 AgCrO4 + 2KNO3

Endapan merah bata

Dampak kesehatan bila argentum (Ag) masuk ke dalam tubuh yaitu Ag akan

di akumulasikan di berbagai organ dan menimbulkan pigmentasi kelabu yang

disebut argyria. Argyria dalah suatu kondisi yang ditandai perubahan warna kulit

normal menjadi abu-abu kebiruan sampai abu-abu gelap. Penyakit ini disebabkan

oleh pengendapan partikel perak di kulit.Pigmentasi ini bersifat permanen karena

14
tubuh tidak dapat mengekskresikannya. Sebagai debu, senyawa Ag dapat

menimbulkan iritasi dan menghitamkan kulit. Bila terikat nitrat, Ag akan

menjadi sangat korosif. Argyria sistemik dapat juga terjadi karena perak di

akumulasi didalam selaput lender dan kulit.

15
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan

Dari hasil praktikum yang telah dilakukan dapat disimpulkan hasil yang

diperoleh pada pemeriksaan unsure Ag+ menggunakan dua sampel yakni sampel

air sumur dan sampel larutan AgNO3. Untuk sampel air sumur tidak terjadi

perubahan setelah ditambahkan pereaksi NaCl dan K2CrO4. Artinya sampel air

sumur tidak mengandung unsure Ag+. Sedang untuk sampel larutan AgNO3

terjadi perubahan adanya endapan putih dan merah batas etelah ditambahkan

pereaksi NaCl dan K2CrO4. Sebab larutan AgNO3 tersebut memang mengandung

unsur Ag+.

5.2 Saran

Saran yang dapat disampaikan pada praktikum kali ini ialah untuk praktikan

agar kiranya untuk praktikum selanjutnya sampel yang disediakan lebih

diperhatikan kembali kandungannya agar pada praktikum tidak terjadi kesalahan

lagi yang diakibatkan oleh sampel itu sendiri, dan untuk memperhatikan

kesterilan alat dan bahan praktikum.

16
DAFTAR PUSTAKA
Darmono. 2009. Farmasi Forensik dan Toksikologi. Jakarta : UI-Press

Dirjen Pom. 1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Jakarta: Departemen kesehatan RI.

Eisler, R. 1996. Silver Hazars to Fish, Wildlife, and Invertebrates :A Synoptic

Review. U.S. Dpeartemen of the Interior, National Biological Service, Patuxent

Wildlife Research Center.

Petrucci, Ralph H. 1987. Kimia Dasar Prinsip dan Terapan Modern Jilid 3. Jakarta :

Erlangga

Sugiyarto, Kristian H. 2003. Kimia Anorganik II. Kimia FMIPA UNY : Yogyakarta

Tim Supervisi Ditjen Dikti. 2002. Pelatih Manajemen Laboratorium. Dirjen Dikti :

Proyek Peningkatan Manajemen Pendidikan Tinggi


LAMPIRAN

Gambar 1 Sampel A (Air sumur) Gambar 2 perlakuan Sampel A yang

direaksikan dengan larutan

NaCl dan K2CrO4

Gambar 2 perlakuan Sampel B yang direaksikan dengan

larutan NaCl dan K2CrO4