Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PRAKTIKUM

PEMATAHAN DORMANSI

KELOMPOK 4

Disusun oleh:

AHMAD HADI P. (A41181445)

HELNA KURNIATI (A41181161)

MELA SANTIKA (A41181132)

MUHAMMAD NAUFAL P. (A41181317)

M.WILDAN ADZKA A. (A41180851)

JURUSAN PRODUKSI PERTANIAN

TEKNIK PRODUKSI BENIH

POLITEKNIK NEGERI JEMBER

2018
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Perkecambahan benih dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu faktor dalam


dari benih tersebut maupun faktor lingkungan. Faktor dalam diantaranya yaitu
tingkat kemasakan benih, ukuran benih,genetik dan zat-zat penghambat
perkecambahan sedangkan faktor lingkungan yaitu suhu oksigen dan cahaya.

Pematahan dormansi ini bertujuan agar benih tersebut lebih mudah dan cepat
dalam perkecambahan. Pematahan dormansi dapat dilakukan secara fisik dan
kimia. Pematahan dormansi secara fisik yaitu dapat dilakukan antara lain
memecahkan atau membuang sebagian kulit biji untuk benih yang mempunyai
tekstur kulit yang keras misal pada perkecambahan benih semangka, benih jati
dan lain sebagainya. Selain itu pematahan dormansi secara fisik karna benih
dipengaruhi oleh suhu atau cahaya sehingga perlu dikecambahkan ditempat yang
suhunya hangat atau cahaya yang gelap misalnya pada perkecambahan melon,
kelapa sawit atau pepaya.

Pematahan dormansi secara kimia yaitu memperlakukan beni dengan


menggunakan bahan kimia untuk mempercepat perkecambahan. Sebagai contoh
yaitu pada perkecambahan sengon laut yaitu dengan menggunakan larutan H2SO4
96% direndam selama 5 menit.

Sehubungan dengan hal tersebut perlu dipelajari pematahan dormansi secara


fisik atau secara kimia dalam perkecambahan benih. Serta keterkaitan antara
kebutuhan suhu atau cahaya serta kelembapan terhadap perkecanbahan

1.2 Tujuan
1. Untuk mengetahui dan memahami pematahan dormansi benih dengan
perlakuan secara fisik dan kimia.
2. Untuk mengetahui dan mempelajari ada tidaknya dormansi pada benih
serta cara untuk mematahkan dormansi.
1.3 Manfaat
1. Mahasiswa dapat mengetahui dan memahami pematahan dormansi
benih dengan perlakuan secara fisik dan kimia.
2. Mahasiswa dapat mengetahui dan mempelajari ada tidaknya dormansi
pada beni serta cara untuk mematahkan dormansi.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
` Dormansi adalah suatu keadaan pertumbuhan yang tertunda atau keadaan
istirahat, merupakan kondisi yang berlangsung selama suatu periode yang tidak
terbatas walaupun berada dalam keadaan yang menguntungkan untuk
perkecambahan. Biji yang dorman adalah biji yang gagal berkecambah, apabila
diletakkan pada suatu lingkungan yang mendukung perkecambahan anggota
populasi biji yang lain, yang tidak dorman (Gardner, 1991).

Menurut Abidin (1993) dormansi terjadi disebabkan oleh faktor luar


(eksternal) dan faktor dalam (internal). Faktor-faktor yang menyebabkan dormansi
pada biji adalah ; tidak sempurnanya embrio (rudimetery embrio), embrio yang
belum matang secara fisiologis, kulit biji yang tebal (tahan terhadap gerakan
mekanis), kulit biji impermeable, dan adanya zat penghambat (inhibitor) untuk
perkecambahan.

Fase induksi terjadi pada saat biji mengalami pematangan (maturation)


menuju fase istirahat. Proses ini dipengaruhi oleh cahaya, temperatur, zat kimia
dan faktor lingkungan lainnya. Kehadiran inhibitor (seperti ABA) dan promoter
(auksin, giberelin, dan sitokinin) sangat berpengaruh terhadap biji yang
mengalami dormansi dan perkecambahan (Abidin 1993).

Perkembangan kulit biji impermeabel berpengaruh secara langsung


terhadap fase istirahat (dormansi). Kulit biji impermeabel bagi biji yang sedang
mengalami dormansi, dapat mereduksi kandungan oksigen yang ada dalam biji,
sehingga dalam keadaan anaerobik, terjadi sintesa zat penghambat tumbuh.
Pemecahan dormansi dan penciptaan lingkungan yang cocok sangat perlu untuk
memulai proses perkecambahan untuk beberapa spesies. Perlakuan tergantung
pada tipe dormansi yang terlibat (dormansi fisik, dormansi fisiologi, atau
dormansi ganda). Perlakuan tersebut mencakup skarifikasi, stratifikasi, biakan
embrio, dan berbagai kombinasi dari perlakuan-perlakuan ini dengan pengaturan
lingkungan yang cocok (Harjadi 1991).
Perkecambahan benih yang mengandung kulit biji yang tidak permeabel
(impermeabel) dapat dirangsang dengan skarifikasi – pengubahan kulit biji untuk
membuatnya menjadi permeabel terhadap gas-gas dan air. Ini tercapai dengan
bermacam teknik, cara-cara mekanik termasuk tindakan pengempelasan
merupakan tindakan paling umum. Tindakan air panas 77 – 100 0C efektif untuk
benih “honey locust”. Beberapa benih dapat diskarifikasi dengan tindakan H2SO4
(Harjadi 1991).
BAB III
METODOLOGI
3.1 Waktu dan Tempat
Praktikum ini dilakukan pada hari senin 5 November 2018 pukul 09:00-
11:00 WIB. Di laksanakan di Laboratorium Teknologi Benih Politeknik Negeri
Jember.

3.2 Alat dan Bahan


1) Alat
 Timbangan
 Plastik
 Bak plastik
 Kertas label
 Pasir
 Pinset
 Pemotong kuku
 Glas beker
 Oven
2) Bahan
 H2SO4 30%
 KNO3 0,2%
 GA3 0,1%
 Bawang merah + air kelapa
 Benih sengon
 Benih semangka
 Benih cabai
 Benih tomat
 Benih padi
 Benih pepaya
3.3 Cara Kerja
3.3.1 Pematahan dormansi secara fisik (benih pepaya)
1. Menyiapkan alat dan bahan
2. Mengambil benih pepaya yaitu biji pepaya bagian tengah
3. Benih pepaya dibuang lendirnya dengan menggunakan tanggan .
4. Membuat perlakuan benih pepaya tersebut sebagai berikut:
a. Benih dikupas seluru kulitnya
b. Benih dikupas setengah bagian
c. Benih tidak dikupas kulitnya
5. Menanam benih pepaya dengan menggunakan pasir
6. Menanam benih pepaya yang telah diberi perlakuan sebanyak 25 butir
7. Melakukan pengamatan
3.3.2 Pematahan dormansi secara fisik (benih semangka)
1. Menyiapkan benih semangka
2. Membuat perlakuan benih semangka yaitu dengan memecahkan ujung
kulitnya
3. Menanam benih semangka dengan metode insen dalam pasir
4. Melakukan pengamatan
3.3.3 Pematahan dormansi secara fisik (benih sengon)
1. Menyiapkan benih sengon
2. Melakukan perlakuan pada benih sengon dengan merendam benih
sengon menggunakan H2SO4 selama 10-20 menit.
3. Meniriskan benih sengon dari larutan H2SO4
4. Menanam benih sengon dengan metode dalam pasir
5. Melakukan pengamatan
3.3.4 Pematahan dormansi secara fisik (benih tomat)
1. Menyiapkan benih tomat
2. Merendam benih sengon dengan larutan GA3 dan bawang merah dan
air kelapa
3. Menanam benih tomat dalam metode pasir
4. Melakukan pengamatan
3.3.5 Pematahan dormansi secara fisik (benih padi)
1. Menyiapkan benih padi
2. Menanam benih padi dalam media pasir
3. Melakukan pengamatan
3.3.6 Pematahan dormansi secara fisik (benih cabai)
1. Menyiapkan benih cabai
2. Merendam benih cabai menggunakan cairan KNO3
3. Menanam benih cabai dalam media pasir
4. Melakukan pengamatan
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
ulangan First Final count
count Daya
BN BN ABN BM berkeca
mbah
1 1 13 2 9 56%
Semangka

2 19 2 - 4 84%
Tomat GA3

3 21 - 3 1 84%
Tomat
Bm+air
kelapa
4 15 - - 10 60%
Padi

5 - 1 - 24 4%
Pepaya

6 4 - - 21 16%
Sengon
10 menit
7 3 - - 22 12%
Sengon
20 menit

8 7 - - 18 28%
Cabai

9 - 18 - 7 72%
Cabai
KNO3

4.2 Pembahasan
Pada praktikum kali ini yang berjudul pematahan dormansi biji memiliki
tujuan untuk mengetahui pengaruh cara pematahan dormansi pada biji asam yang
berkulit keras dengan melakukan perakuan fisik ataupun kimiawi.
Dalam hal ini dormansi sendiri merupakan masa istirahat dari biji
mengakibatkan tidak terjadinya proses perkecambahan, biasanya dormansi ini di
pengaruhi oleh faktor luar dan faktor dalam dari biji tersebut. Dormansi pada
benih ini berhubungan dengan usaha dari benih itu sendiri yang menunda
perkecambahan, hingga waktu tertentu dimana lingkungan akan mendukung
terjadinya perkecambahan yaitu dengan ketersediaan air ataupun nutrisi yang ada
di lingkungannya baru benih akan berkecambah. Dormansi ini nantinya dapat
terjadi pada kulit biji ataupun pada embryo. Pematahan embryo yang di lakukan
dengan karifikasi di gunakan untuk mematahkan dormansi kulit biji sedangkan
stratifikasi digunakan untuk mengatasi dormansi embryo.
Perkecambahan sendiri di mulai dengan proses imbibisi atau penyerapan
air oleh benih atau biji, kemudian biji yang tadinya keras menjadi lunak, dan
terjadi hidrasi oleh protoplasma. Kemudian tahap selanjutnya terjadi kegiatan sel
dan enzim serta naiknya tingkat respirasi benih. Kemudian selanjutnya tahap
penguraian bahan-bahan karbohidrat, lemak dan protein menjadi bentuk terlarut
atau sudah di uraikan oleh enzim sebelumnya kemudian di translokasikan ke
semua titik tumbuh. Lalu proses selanjutnya terjadi proses perkecambahan benih
atau biji yaitu terjadi asimilasi dari bahan-bahan yang telah terurai pada daerah
meristematik yang nantinya akan menghasilkan energi yang nantinya di gunakan
untuk kegiatan pembentukan komponen seperti batang daun dan bagian lainnya,
pertumbuhan pun dimulai dari proses perkecambahan melalui proses pembelahan
sel-sel, kemudian diferensiasi sel pada daerah meristematik, lalu sel menjadi sel
yang sudah utuh atau sempurna yang nantinya akan membentuk struktur-struktur
bagian tumbuhan di mulai dari batang dari hipokotil, plumul yang nantinya akan
berubah menjadi daun, radikula yang akan tumbuh menjadi akar sehingga
nantinya akan membentuk tumbuhan yang sempurna. Yang nantinya akan tumbuh
terus pada bagian ujung yaitu bagian sel-sel meristemnya.
BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
1. pematahan dormansi benih dengan perlakuan secara fisik dan kimia
adalah salah satu upaya untuk melwati masa istirahat dari benih.
2. Cara mematahkan dormasi secara fisik dan kimiawi
5.2 Saran
Mahasiswa dalam melakukan praktikum harus memperhatikan keselamatan
kerja agar tidak terjadi kesalahan dan melakukan praktikum seperti prosedur.
DAFTAR PUSTAKA
Gardner, F. P. ; R. B. Pearce dan R. L. Mitchell. 1991. Fisiologi Tanaman
Budidaya. Jakarta: UI Press

Abidin, Z. 1993. Dasar-Dasar Pengetahuan tentang Zat Pengatur


Tumbuh. Bandung: Penerbit Angkasa

Harjadi. 1991. Dasar-Dasar Teknologi Benih. Dept. Bogor: Agronmi IPB Press

Anda mungkin juga menyukai