Anda di halaman 1dari 16

KATA PENGANTAR

Segala puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang
telah memberikan kekuatan dan kemampuan, sehingga makalah yang berjudul
“ASERSI DALAM LAPORAN KEUANGAN” ini dapat diselesaikan.
Dengan adanya makalah ini Penulis berharap sedikit membantu para
pembaca dalam memahami lebih dalam tentang Pengauditan I. Kami menyadari
bahwa dalam penulisan makalah ini masih jauh dari kata sempurna.
Oleh karena itu, kami mohon saran dan kritiknya yang bersifat
membangun untuk menyempurnakan makalah ini dengan harapan untuk
memperbaiki kualitas makalah. Semoga makalah ini dapat berguna khususnya
bagi kami dan umumnya bagi kita semua yang membacanya.

Jimbaran, 7 Maret 2019

1
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR………………………………………………… i
DAFTAR ISI………………………………………...………………… ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah………………………………. 3
1.2 Rumusan Masalah…………………………………….. 3
1.3 Tujuan Penulisan……………………………………… 4
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Asersi……………………………………… 5
2.2 Tinjauan Umum………………………………………. 6
2.3 Penjelasan Mengenai Asersi………………………….. 7
2.4 Asersi Gabungan……………………………………… 10
2.5 Asersi dalam Auditing………………………………… 10
2.6 Penilaian Resiko di Tingkat Laporan Keuangan…….. 11
2.7 Penilaian Resiko di Tingkat Asersi…………………... 11
2.8 Tujuan Auditor Menggunakan Asersi……………….. 13
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan…………………………………………… 15
3.2 Saran………………………………………………….. 15
DAFTAR PUSTAKA

2
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah


Audit merupakan suatu proses pengumpulan data, penilaian ataupun
pengevaluasian yang dilakukan untuk menilai sesuatu apakah telah sesuai dengan
kriteria yang mendasarinya. Dalam proses mengumpulkan data, auditor menerima
representasi dari pihak manajemen berupa laporan keuangan secara menyeluruh
atau disajikan secara wajar sesuai dengan kerangka pelaporan keuangan yang
berlaku. Representasi umum tersebut mengandung beberapa asersi. Hal ini sangat
diperlukan dalam laporan keuangan untuk mengidentifikasi dan menilai resiko
salah saji yang material melalui pemahaman terhadap entitas dan lingkungan.
Sangat penting bagi auditor untuk mengukur seberapa besar salah saji
suatu laporan keuangan (materialitas). Hal itu mengharuskan auditor untuk
mempertimbangkan keadaan yang berkaitan dengan entitas dan kebutuhan
informasi pihak yang meletakkan kepercayaan atas laporan keuangan auditan.
Dalam laporan audit atas laporan keuangan, auditor tidak dapat memberikan
jaminan (guarantee) bagi klien atau pemakai laporan keuangan yang lain, bahwa
laporan keuangan auditan adalah akurat. Hal ini karena akan memerlukan waktu
dan biaya yang jauh melebihi manfaat yang dihasilkan. Untuk member keyakinan
pada pengguna laporan keuangan, audit menggunakan berbagai konsep yang akan
dijelaskan dalam makalah ini.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa yang dimaksud dengan Asersi?
2. Bagaimana tinjauan umum dalam Asersi?
3. Bagaimana penjelasan mengenai Asersi?
4. Apa yang dimaksud Asersi Gabungan?
5. Bagaimana Asersi dalam auditing?
6. Bagaimana penilaian resiko di tingkat laporan keuangan?
7. Bagaimana penilaian resiko di tingkat Asersi?
8. Apa tujuan auditor menggunakan Asersi?

1.3 Tujuan Penulisan

3
1. Untuk mengetahi pengertian dari Asersi
2. Untuk mengetahui tinjauan umum dalam Asersi
3. Untuk mengetahui penjelasan mengenai Asersi
4. Untuk mengetahui Asersi Gabungan
5. Untuk mengetahui bagaimana Asersi dalam auditing
6. Untuk mengetahui penilaian resiko di tingkat laporan keuangan
7. Untuk mengetahui penilaian resiko di tingkat Asersi
8. Untuk mengetahui tujuan auditor menggunakan Asersi

4
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Asersi


ISA 315 mendefenisikan sebagai berikut:
“ASERSI merupakan represtensasi oleh manajemen secara eskplisit
(dalam bentuk pernyataan) maupun implisit (tersirat) yang terkandung dalam
laporan keuangan. Representasi ini digunakan oleh auditor untuk memperhatikan
berbagai salah saji dalam laporan keuangan yang mungkin terjadi”. [ISA 315
alinea 4(a)]
Dengan menyerahkan laporan keuangannya kepada auditor atau pihak lain,
manajemen membuat representasi secara tersirat maupun tersurat.
Representasi oleh manajemen kepada auditor yang paling umum dikenal
ialah “ laporan keuangan secara keseluruhan atau secara menyeluruh disajikan
secara wajar sesuai dengan kerangka pelaporan keuangan yang berlaku”. (“the
financial statement as whole are presented fairly in accordance with applicable
financial reporting framework”) .
Representasi umum tersebut sesungguhnya mengandung beberapa asersi
(embedded assertion)

5
Gambar diatas menunjukan asersi-asersi laporan keuangan dan dampak
keuangannya jika asersi tersebut salah. Jika manajemen memberikan asersi yang
benar maka dampak kesalahan keuangan (extent of monatery error) tidak ada. Hal
ini digambarkan dalam bidang berwarna gelap “correctly stated amount” (angka-
angka disajikan dengan benar) khusus untuk transaksi dan saldo (karena
pengungkapan atau disclosure brsifat kualitatif).
Jika manajemen memberikan asersi yang salah, maka dampak kesalahan
keuangannya bisa berupa angka-angka yang dinyatakan terlalu
rendah/understated (digambarkan kesebelah kiri bidang berwarna gelap) atau
terlalu tinggi/overstated (digambarkan disebelah kanan bidang berwarna gelap).
Kesalahan manajemen dalam asersi laporan keuangan mempunyai dampak
kuantitatif dan kualitatif. Auditor harus memberikan perhatian terhadap asersi
laporan keuangan.

2.2 Tinjauan Umum


Asersi-asersi ini berhubungan dengan pengakuan (recognition)
pengukuran (measurement) , penyajian (representasion) dan pengungkapan
(disclosure) dari berbagai unsur dalam laporan keungan. Contoh-contoh asersi:
1. Semua aset dalam laporan keuangan benar-benar ada (exist),
2. Semua transaksi penjualan telah tercatat dalam periode terjadinya,

6
3. Persediaan dicantumkan dengan nilai yang tepat,
4. Utang merupakan kewajiban entitas,
5. Semua transaksi yang dicatat, terjadi dalam periode berjalan,
6. Semua jumlah (amounts) disajikan dengan tepat (properly presented)
dengan diungkapkan ( dengan penjelasan yang memadai) dalam laporan
keuangan.
Asersi-asersi ini disingkat dengan satu bahasa inggris seperti:
completeness (sesuatu itu lengkap), existence (eksistensi, atau sesuatu itu ada),
occurrence (sesuatu itu terjadi), accuracy (sesuatu itu akurat atau secara
matematis benar), valuation (sesuatu itu dinilai sesuai dengan kaidah kerangka
pelaporan keuangan berlaku) dan seterusnya.
Sebagai contoh manajemen membuat asersi kepada auditor bahwa saldo
akun penjualan dalam pembukuan telah mencakup seluruh transaksi penjulan
(completeness assertion) bahwa transaksi memang terjadi dan adalah transaksi
yang sah (occurrence assertion) dan bahwa transaksi penjualan terlah dibukukan
sebagaimana mestinya dan dalam periode yang benar (accuracy and cut-off
assertion)

2.3 Penjelasan Mengenai Asersi


ISA 315 alenia A111 menjelaskan kelopok asersi yang dapat digunakan
auditor untuk mempertimbangkan berbagai salah satu asji dalam laporan
keuangan kolompok asersi untuk jenis transaksi (classes of transaction) dan
peristawa (events).
Tabel Asersi untuk Jenis Transaksi
Asersi Penjelasan
Occurance Transaksi dan peristiwa yang sudah dicatat, memang terjadi dan
merupakan transaksi dan peristiwa dari entitas yang
bersangkutan.
Completeness Semua transaksi dan peristiwa yang seharusnya dicatat,
memang sudah dicatat.
Accuracy Angka-angka, jumlah-jumlah, dan data lain yang terkait dengan
transaksi dan peristiwa yang dicatat, sudah dicatat dengan
akurat.
Cut-off Transaksi dan peristiwa dicatat dalam periode akuntansi yang

7
benar.
Classification Transaksi dan peristiwa dicatat dalam akun yang benar

Tabel Asersi untuk Saldo Akun


Asersi Penjelasan
Existence Aset, kewajiban, dan ekuitas benar ada.
Rights and Entitas memiliki dan menguasai asset, dan utang
obligatons merupakan kewajiban entitas.
Completeness Semua aset, kewajiban, dan ekuitas yang seharusnya
dicatat, sudah dicatat.
Valuation and Aset, kewajiban, dan ekuitas dicantumkan dalam laporan
allocation keuangan dan jumlah yang benar (appropriate amounts),
dan semua penyesuaian atau adjustments untuk penilaian
(valuation) dan alokasi (allocation) telah dicatat dengan
benar.

Tabel Asersi tentang Penyajian & Pengungkapan


Asersi Penjelasan
Occurance, rights, Transaksi, peristiwa, dan hal-hal lain yang sudah
and obligations diungkapkan dalam laporan keuangan, memang terjadi
dan berkaitan dengan entitas yang bersangkutan.
Completeness Semua pengungkapan yang seharusnya dicantumkan,
memang sudah dicantumkan dalam laporan keuangan.
Classification and Informasi keuangan disajikan dan dijelaskan dengan tepat,
understandability dan pengungkapan dinyatakan dengan jelas.
Accuracy and Informasi keuangan dan informasi lainnya diungkapkan
valuation dengan wajar (fairy disclosed) dan dalam jumlah yang
benar (appropriate amounts).

Tabel Asersi – Jenis Transaksi, Saldo Akun, Penyajian & Pengungkapan


Asersi Classes of Account Presentations
Transactions Balances Disclosures
(Jenis (Saldo Akun) (Penyajian &
Transaksi) Pengungkapan)
Existence/occurrence √ √ √
Completeness √ √ √
Rights & obligations √ √

8
Accuracy/classification √ √
Cut-off √
Classification & √ √
understandability
Valuation/allocation √ √

2.4 Asersi Gabungan


ISA 315 membolehkan auditor menggunakan asersi yang dijelaskan pada
sebelumnya atau dengan cara berbeda sepanjang semua aspek yang dibahas telah
tercakup. Untuk memudahakan pengunaan asersi dalam entitas kecil, asersi-asersi
ini dapat digabungkan.
Penggabungan ini diperagakan dalam tabel dibawah. Dalam pembahasan
ini asersi gabungan disingkat sebagai C-compeltense, E-exixtence, A-accurance
and Cut-off dan V-valuation penggabungan asersi dalam empat kombinasi,
memudahkan penerapan pada ketiga kategori (jenis transaksi, saldo akun, dan
presentasi pengungkapan).
Tabel Penggabungan Asersi
Asersi Jenis Transaksi Saldo Akun Presentasi dan
Gabungan Pengungkapan
C-Completeness Completeness Completeness Completeness
E-Existence Occurrence Existence Occurrence
A-Accuracy and Accuracy Rights and Accuracy
Cut-off Cut-off Obligations Rights and Obligations
Classification Classification
Understandability
V-Valuation Valuation and Valuation
Allocation

Tabel Penjelasan Asersi Gabungan


Asersi Gabungan Penjelasan
C-Completeness Segala sesuatu yang harus dicatat atau diungkapkan dalam laporan
keuangan, telah dicakup.

Tidak ada aset,utang dan kewajiban,transaksi yang belum dicatat atau


diungkapkan; tidak ada catatan dalam laporan keuangan, yang

9
hilang/dihilangkan atau tidak lengkap.
E-Existence Segala sesuatu yang harus dicatat atau diungkapkan dalam laporan
keuangan,memang ada pada tanggal yang bersangkutan, dan memang
harus dicakup.

Aset, utang dan kewajiban,transaksi,dan hal-hal lain dalam catatan laporan


keuangan, memang ada, terjadi, dan terkait dengan entitas.

A-Accuracy and Semua kewajiban, pendapatan, beban, dan hak atas aset (yang dikuasai
cut-off atau di bawah pengendalian) merupakan kewajiban atau kekayaan entitas
dan telah dicatat dalam jumlah yang benar dan dialokasikan ke periode
yang benar. Juga telah dilakukan pengklasifikasian dan pengungkapan
yang benar dalam laporan keuangan.

V-Valuation Aset, kewajiban, dan ekuitas dicatat dalam jumlah atau nilai (at the
appropriate value) dalam laporan keuangan.
Penyesuaian (adjustments) untuk penilaian atau alokasi yang diperlukan
karena sifatnya atau sesuai dengan prinsip akuntansi yang diterapkan,
telah dicatat sebagaimana mestinya.

2.5 Asersi dalam Auditing


Berikut ini terjemahan dari ISA 315 alinea 25:
Auditor wajib mengidentifikasi dan menilai risiko salah saji pada:
(a) tingkat laporan keuangan (lihat alinea A105-A108); dan
(b) tingkat asersi untuk jenis transaksi, saldo akun, dan pengungkapan (lihat
alinea A109-A113) untuk merancang dan melaksanakan prosedur audit
selanjutnya.
Seperti disebutkan di atas,laporan keuangan mengandung berbagai asersi.
Asersi ini dapat digunakan auditor dalam menilai risiko di tingkat laporan
keuangan dan di tingkat asersi.

2.6 Penilaian Risiko di Tingkat Laporan Keuangan

10
Risiko salah saji yang material pada tingkat laporan keuangan, cenderung
bersifat pervasif (tersebar luas) dan karenanya mencakup semua asersi. Sebagai
contoh, jika kepala pembukuan tidak cukup kompeten, sangat boleh jadi
kekeliruan terjadi dalam laporan keuangan. Kekeliruan semacam ini sering kali
tidak terbatas pada satu saldo akun, atau satu jenis transaksi, atau suatu
pengungkapan saja. Kekeliruan juga tidak terbatas pada satu asersi saja, seperti
lengkapnya (completeness) transaksi penjualan. Kekeliruan dengan mudah
merambah ke asersi lain seperti accuracy, existence, dan valuation.

2.7 Penilaian Risiko di Tingkat Asersi


Risiko pada tingkat asersi berkaitan dengan saldo dari akun tertentu
(secara individu) pada saat tertentu (misalnya akhir tahun), atau untuk transaksi
tertentu pada suatu periode tertentu (misalnya dalam tahun buku bersangkutan),
dan berkenaan dengan penyajian dan pengungkapan tertentu dalam laporan
keuangan.
Relevansi setiap asersi untuk saldo akun (atau jenis transaksi, atau
penyajian dan pengungkapan) tertentu, akan berbeda, tergantung pada ciri saldo
akun itu potensi salah saji yang material. Sebagai contoh, ketika menilai valuation
assertion, auditor mungkin menilai risiko terjadinya kekeliruan sebagai rendah
namun, untuk persediaan di mana keusangan (obsolescence) merupakan faktor
penting, auditor menilai valuation risk tinggi. Contoh lain, karena kemungkinan
ilangnya persediaan relatifkecil, auditor menilai risiko salah saji yang material
berkenaan dengan completeness assertion, rendah. Akan tetapi, kelemahan dalam
menangani transaksi penjualan menyebabkan auditor menilai risiko salah saji
karena tidak lengkapnya saldo akun penjualan, sebagai risiko yang tinggi.
Perbedaan dalam penilaian risiko pada kedua tingkat ini (tingkat laporan
keuangan dan tingkat asersi), digambarkan dalam gambar berikut. Untuk
menyederhanakan penyajian, hanya beberapa saldo akun, jenis transaksi, dan
pengungkapan yang dicantunkan dalam gambar berikut.

11
Gambar Penilaian Risiko pada Tingkat Laporan Keuangan & Asersi

Relevant C Low
Assertions E Mod
(assess risk for A Low
each assertion) F High

Penjelasan Gambar sebagai berikut


1. Risiko pada tingkat laporan keuangan (lihat pada bidang pertama) bersifat
pervasif dan dapat terjadi pada banyak asersi. Dalam contoh ini, risiko
tersebut disebut “rendah” (low).
2. Pada bidang kedua menunjukkan risiko di tingkat asersi. Yang disajikan
hanyalah beberapa contoh, seperti:
(a) inventory (persedian), cash (kas dan bank), dan payables (utang) untuk
saldo akun
(b) Revenue (pendapatan) dan expenses (beban) untuk jenis transaksi
(c) Commitments (komitmen) dan related parties (pihak-pihak terkait)
untuk penyajian dan pengungkapan.
3. Risiko untuk masing-masing asersi harus dinilai, dan hasilnya
dikelompokkan sebagai low (rendah), moderate (sedang), atau high
(tinggi). Dalam contoh di atas (khusus untuk inventory), asersi
completeness dinilai low, existence dinilai moderate, accuracy dinilai low
dan valuation.dinilai high. Dengan klasifikasi risiko ini, auditor dapat

12
menanggapi risiko yang dihadapinya dengan prosedur audit yang
responsif.

2.8 Tujuan Auditor Menggunakan Asersi


1. Jenis Risiko Salah Saji
Dalam langkah ini auditor melaksanakan prosedur penilaian risiko
(risk assessment procedures). Sebagai contoh, auditor dapat mengajukan
pertanyaan sebagai berikut.
a. Apakah aset memang ada? (existence)
b. Apakah entitas memiliki aset tersebut? (rights and obligations)
c. Apakah transaksi penjualan dicatat dengan benar? (completeness)
d. Apakah saldo persediaan di-adjust untuk barang yang lambat
perputarannya (slow-moving) dan usang (obsolete)? (valuation)
e. Apakah saldo utang sudah meliputi semua kewajiban pada akhir
periode? (completeness)
f. Apakah transaksi dicatat dalam periode yang benar? (cut-off)
g. Apakah jumlah yang benar disajikan dan diungkapkan dalam laporan
keuangan? (accuracy)
2. Besar Kemungkinan Terjadinya Risiko
Risiko salah saji yang material merupakan kombinasi dari risiko
bawaan (inherent risk) dan risiko pengendalian (control risk). Oleh karena
itu, proses penilaian (assessment process) meliputi keduanya.
Mengenai risiko bawaan, auditor menentukan potensi salah saji
yang berkenaan dengan asersi yang mana. Ia kemudian menilai seberapa
besarnya kemungkinan terjadi risiko ini, dan taksiran atau ancer-ancer
jumlahnya.
Mengenai risiko pengendalian, auditor menentukan apakah ada
pengendalian intern yang relevan untuk mencegah dan menekan (mitigate)
assessed risks dan dampaknya terhadap asersi terkait.
3. Prosedur Audit Selanjutnya
Langkah terakhir ialah merancang prosedur audit yang menjawab
assessed risks untuk setiap asersi terkait. Sebagai contoh, jika risiko
piutang dinyatakan lebih besar dari sesungguhnya (overstated), itu tinggi,
maka prosedur audit harus dirancang untuk menjawab asersi tersebut
(dalam hal ini, existence assertion).

13
Jika asersi mengenai transaksi penjualan yang berkenaan dengan
completeness yang berisiko tinggi, auditor dapat merancang uji
pengendalian (test of controls) yang menyoroti completeness assertion ini.

14
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
ASERSI merupakan represtensasi oleh manajemen secara eskpelisit
(dalam bentuk pernyataan) maupun implisit (tersirat) yang terkandung dalam
laporan keuangan. Representasi ini digunakan oleh auditor untuk memperhatikan
berbagai salah saji dalam laporan keuangan yang mungkin terjadi. Dengan
menyerahkan laporan keuangannya kepada auditor atau pihak lain, manajemen
membuat representasi secara tersirat maupun tersurat. Jika manajemen
memberikan asersi yang salah, maka dampak kesalahan keuangannya bisa berupa
angka-angka yang dinyatakan terlalu rendah/understated) atau terlalu
tinggi/overstated.
Asersi dalam auditing dapat digunakan auditor dalam menilai risiko di
tingkat laporan keuangan dan di tingkat asersi. Resiko di tingkat laporang
keuangan merupakan risiko salah saji yang material pada tingkat laporan
keuangan, cenderung bersifat pervasif (tersebar luas) dan karenanya mencakup
semua asersi. Sedangkan, risiko pada tingkat asersi berkaitan dengan saldo dari
akun tertentu (secara individu) pada saat tertentu (misalnya akhir tahun), atau
untuk transaksi tertentu pada suatu periode tertentu (misalnya dalam tahun buku
bersangkutan), dan berkenaan dengan penyajian dan pengungkapan tertentu dalam
laporan keuangan.

3.2 Saran
Untuk memperhatikan berbagai salah saji dalam laporan keuangan yang
mungkin terjadi sebaiknya auditor menggunakan asersi. Karena dengan
menyerahkan laporan keuangannya kepada auditor atau pihak lain, manajemen
membuat representasi secara tersirat maupun tersurat. Jika manajemen
memberikan asersi yang salah, maka dampak kesalahan keuangannya bisa berupa
angka-angka yang dinyatakan terlalu rendah/understated) atau terlalu
tinggi/overstated.

15
DAFTAR PUSTAKA

Tuanakotta, Theodorus M. 2013. Auditing Berbasis ISA (International Standards


on Auditing. Penerbit: Salemba Empat.

16