Anda di halaman 1dari 9

1. INFEKSI (PERADANGAN) sumber.

kumpulan kuliah farmakologi


Infeksi adalah proses invasif oleh mikroorganisme dan berproliferasi di dalam tubuh
yang menyebabkan sakit (Potter & Perry, 2005).
Infeksi adalah invasi tubuh oleh mikroorganisme dan berproliferasi di dalam jaringan
tubuh (Kozier, at al, 1995).
Menurut kamus keperawatan disebutkan bahwa infeksi adalah multiplikasi
mikroorganisme dalam jaringan tubuh. Khususnya yang menimbulkan cedera seluler
setempat akibat metabolisme kompetitif, toksin, replikasi intra seluler atau reaksi antigen-
antibodi.
Kata imun berasal dari bahasa Latin immunis yang berarti bebas dari beban
(Benjamini et al., 2000). Dahulu imunitas diartikan sebagai daya tahan realtif
hospes terhadap mikroba tertentu (Bellanti, 1985). Sistem imun adalah semua
mekanisme yang digunakan tubuh untuk mempertahankan keutuhannya sebagai
perlindungan terhadap bahaya yang ditimbulkan berbagai bahan dalam
lingkungan hidup yang dianggap asing bagi tubuh (Baratawidjaja, 2000;
Benjamini et al., 2000). Mekanisme tersebut melibatkan gabungan sel, molekul,
dan jaringan yang berperan dalam resistensi terhadap infeksi yang disebabkan
oleh berbagai unsur patogen yang terdapat di lingkungan sekitar kita seperti virus,
bakteri, fungus, protozoa dan parasit (Kresno, 1996; Baratawidjaja & Rengganis,
2009). Sedangkan reaksi yang dikoordiansi oleh sel-sel, molekul-molekul dan
bahan lainnya terhadap mikroba disebut dengan respon imun (Baratawidjaja &
Rengganis, 2009).

2. mekanisme terjadinya imunitas normal


3. makanisme terjadinya
1.Pus dan Supurasi
Pus (nanah) adalah suatu cairan hasil proses peradangan yang terbentuk
dari sel-sel leukosit (Levinson, 2004).
Pus merupakan suatu campuran neutrofil
dan bakteri (yang hidup, dalam proses mati, dan yang mati), debris seluler, dan
gelembung minyak (Underwood, 1999). Infeksi bakteri sering menyebabkan
konsentrasi netrofil lebih tinggi di dalam jaringan dan banyak dari sel ini mati
serta membebaskan enzim-enzim hidrolisis.
Keadaan ini menyebabkan enzim netrofil mampu mencernakan jaringan
di bawahnya dan mencairkannya. Kombinasi agregasi netrofil dan pencairan
jaringan di bawahnya disebut supurasi. Jika muncul supurasi lokal pada jaringan
padat berakibat abses. Abses adalah lesi
yang sulit diatasi oleh tubuh karena
kecenderungannya meluas ke jaringan, membentuk lubang dan resisten terhadap
penyembuhan (Price & Wilson, 1994).

Pembentukan pus
Bila netrofil dan makrofag menelan sejumlah besar bakteri dan jaringan nekrotik, pada
dasarnya semua netrofil dan sebagian besar makrofag akhirnya akan mati. Sesudah beberapa
hari, di dalam jaringan yang meradang akan terbentuk rongga yang mengandung berbagai
bagian jaringan nekrotik, netrofil mati, makrofag mati, dan cairan jaringan. Campuran seperti
ini biasanya disebut pus. Setelah proses infeksi dapat ditekan, sel-sel mati dan jaringan
nekrotik yang terdapat dalam pus secara bertahap akan mengalami autokatalisis dalam waktu
beberapa hari, dan kemudian produk akhirnya akan diabsorpsi ke dalam jaringan sekitar dan
cairan limfe hingga sebagian besar tanda kerusakan jaringan telah hilang.
(Guyton, 2007)
2. mekanoisme infeksi
Mikroba patogen agar dapat menimbulkan penyakit infeksi harus bertemu dengan pejamu
yang rentan, melalui dan menyelesaikan tahap-tahap sebagai berikut.

Tahap I
Mikroba patogen bergerak menuju tempat yang menguntungkan (pejamu/penderita) melalui
mekanisme penyebaran (mode of transmission). Semua mekanisme penyebaran mikroba
patogen tersebut dapat terjadi di rumah sakit, dengan ilustrasi sebagai berikut.

1. Penularan langsung Melalui droplet nuclei yang berasal dari petugas,keluarga/pengunjung,


dan penderita lainnya. Kemungkinan lain melalui darah saat transfusi darah.

2. Penularan tidak langsung


Seperti yang telah diuraikan , penularan tidak langsung dapat terjadi sebagai berikut.

a) Vehicle-borne, yaitu penyebaran/penularan mikroba patogen melalui benda-benda mati


(fotnite) seperti peralatan medis (instrument), bahan-bahan/material medis, atau peralatan
makan/minum untuk penderita.
Perhatikan pada berbagai tindakan invasif seperti pemasangan kateter, vena punctie, tindakan
pembedahan (bedah minor, pembedahan di kamar bedah), proses dan tindakan medis
obstetri/ginekologi, dan lain-lain.

b) Vector-borne, yaitu penyebaran/penularan mikroba patogen dengan perantara vektor


seperti lalat. Luka terbuka (open wound), jaringan nekrotis, luka bakar, dan gangren adalah
kasus-kasus yang rentan dihinggapi lalat.

c) Food-borne, yaitu penyebaran/penularan mikroba patogen melalui makanan dan minuman


yang disajikan untuk penderita. Mikroba patogen dapat ikut menyertainya sehingga
menimbulkan gejala dan keluhan gastrointestinal, baik ringan maupun berat.

d) Water-borne, kemungkinan terjadinya penularan/penyebaran penyakit infeksi melalui air


kecil sekali, mengingat tersedianya air bersih di rumah sakit sudah melalui uji baku mutu.

e,) Air-borne, peluang terjadinya infeksi silang melalui media perantara ini cukup tinggi
karena ruangan/bangsal yang relatif tertutup, secara teknis kurang baik ventilasi dan
pencahayaannya. Kondisi ini dapat menjadi lebih buruk dengan jumlah penderita yang cukup
banyak.
Dari semua kemungkinan penyebaran/penularan penyakit infeksi yang telah diuraikan di atas,
maka penyebab kasus infeksi nosokomial yang sering dilaporkan adalah tindakan invasif
melalui penggunaan berbagai instrumen medis (vehicle-borne).

Tahap II
Upaya berikutnya dari mikroba patogen adalah melakukan invasi ke jaringan/organ pejamu
(penderita) dengan cara mencari akses masuk untuk masing-masing penyakit (port d’entree)
seperti adanya kerusakan/lesi kulit atau mukosa dari rongga hidung, rongga mulut, orificium
urethrae, dan lain-lain.

1. Mikroba patogen masuk ke jaringan/organ melalui lesi kulit. Hal ini dapat terjadi sewaktu
melakukan insisi bedah atau jarum suntik. Mikroba patogen yang dimaksud antara lain virus
Hepatitis B (VHB).

2. Mikroba patogen masuk melalui kerusakan/lesi mukosa saluran urogenital karena tindakan
invasif, seperti:
a) tindakan kateterisasi, sistoskopi;
b) pemeriksaan dan tindakan ginekologi (curretage);
c) pertolongan persalinan per-vaginam patologis, baik dengan bantuan instrumen medis,
maupun tanpa bantuan instrumen medis.

3. Dengan cara inhalasi, mikroba patogen masuk melalui rongga hidung menuju saluran
napas. Partikel in feksiosa yang menular berada di udara dalam bentuk aerosol. Penularan
langsung dapat terjadi melalui percikan ludah (droplet nuclei) apabila terdapat individu yang
mengalami infeksi saluran napas melakukan ekshalasi paksa seperti batuk atau bersin. Dari
penularan tidak langsung juga dapat terjadi apabila udara dalam ruangan terkontaminasi.
Lama kontak terpapar (time of exposure) antara sumber penularan dan penderita akan
meningkatkan risiko penularan. Contoh: virus Influenza dan Al. tuberculosis.

4. Dengan cara ingesti, yaitu melalui mulut masuk ke dalam saluran cerna. Terjadi pada saat
makan dan minum dengan makanan dan minuman yang terkontaminasi. Contoh: Salmonella,
Shigella, Vibrio, dan sebagainya.

c. Tahap III
Setelah memperoleh akses masuk, mikroba patogen segera melakukan invasi dan mencari
jaringan yang sesuai (cocok). Selanjutnya melakukan multiplikasi/berkembang biak disertai
dengan tindakan destruktif terhadap jaringan, walaupun ada upaya perlawanan dad pejamu.
Sehingga terjadilah reaksi infeksi yang mengakibatkan perubahan morfologis dan gangguan
fisiologis/ fungsi jaringan.

Reaksi infeksi yang terjadi pada pejamu disebabkan oleh adanya sifat-sifat spesifik mikroba
patogen.

a. Infeksivitas
kemampuan mikroba patogen untuk berinvasi yang merupakan langkah awal melakukan
serangan ke pejamu melalui akses masuk yang tepat dan selanjutnya mencari jaringan yang
cocok untuk melakukan multiplikasi.

b. Virulensi
Langkah mikroba patogen berikutnya adalah melakukan tindakan destruktif terhadap jaringan
dengan menggunakan enzim perusaknya. Besar-kecilnya kerusakan jaringan atau cepat
lambatnya kerusakan jaringan ditentukan oleh potensi virulensi mikroba patogen.

c. Antigenitas
Selain memiliki kemampuan destruktif, mikroba patogen juga memiliki kemampuan
merangsang timbulnya mekanisme pertahanan tubuh pejamu melalui terbentuknya antibodi.
Terbentuknya antibodi ini akan sangat berpengaruh terhadap reaksi infeksi selanjutnya.

d. Toksigenitas
Selain memiliki kemampuan destruktif melalui enzim perusaknya, beberapa jenis mikroba
patogen dapat menghasilkan toksin yang sangat berpengaruh terhadap perjalanan penyakit.

e. Patogenitas
Sifat-sifat infeksivitas, virulensi, serta toksigenitas mikroba patogen pada satu sisi, dan sifat
antigenitas mikroba patogen pada sisi yang lain, menghasilkan gabungan sifat yang disebut
patogenitas. Jadi sifat patogenitas mikroba patogen dapat dinilai sebagai “deralat keganasan”
mikroba patogen atau respons pejamu terhadap masuknya kuman ke tubuh pejamu.

Reaksi infeksi adalah proses yang terjadi pada pejamu sebagai akibat dari mikroba patogen
mengimplementasikan ciri-ciri kehidupannya terhadap pejamu. Kerusakan jaringan maupun
gangguan fungsi jaringan akan menimbulkan manifestasi klinis, yaitu manifestasi klinis yang
bersifat sistemik dan manifestasi klinis yang bersifat khusus (organik).

Manifestasi klinis sistemik berupa gejala (symptom) seperti domain, merasa lemah dan terasa
tidak enak (malaise), nafsu makan menurun, mual, pusing, dan sebagainya. Sedangkan
manifestasi klinis khusus akan memberikan gambaran klinik sesuai dengan organ yang
terserang. Contoh:

• Bila organ paru terserang, maka akan muncul gambaran klinik seperti batuk,sesak
napas,nyeri dada, gclisah, dan sebagainya.

Mikroba patogen yang telah bersarang pada jaringan/organ yang sakit akan terus berkembang
biak, sehingga kerusakan dan gangguan fungsi organ semakin meluas. Demikian seterusnya,
di mana pada suatu kesempatan, mikroba patogen ketuar dari tubuh pejamu (penderita) dan
mencari pejamu baru dengan cara menumpang produk proses metabolisme tubuh atau produk
proses penyakit dari pejamu yang sakit.

4. jenis infeksi berdasarkan faktor penyebabkan

PENYEBAB

Penyebab infeksi bermacam-macam, mulai dari bakteri, virus, jamur, hingga parasit. Berikut
adalah penjelasan macam-macam infeksi yang disebabkan oleh berbagai mikroorganisme.

 Bakteri: Bakteri merupakan organisme yang memilki satu sel. Salah satu cara bakteri untuk
menginfeksi tubuh adalah dengan mengeluarkan toksin (racun) yand dapat merusak jaringan
tubuh. Bakteri dapat menyebabkan infeksi tenggorokan, infeksi saluran pencernaan, infeksi
pernapasan (seperti TBC), infeksi saluran kemih, hingga infeksi genital. Terdapat empat
kelompok bakteri yang dapat diklasifikasikan berdasarkan bentuknya: Bacilli, cocci,
spirochaetes, dan vibrio.
o Bacilli berbentuk batang dengan panjang sekitar 0,03 mm. Penyakit yang biasanya
disebabkan oleh bakteri berbentuk bacilli antara lain tifoid dan sistitis.
o Cocci berbentuk bulatan dengan diameter sekitar 0,001 mm. Bakteri berbentuk cocci
biasanya membentuk kelompok-kelompok seperti berpasangan, membentuk garis
panjang, atau berkumpul seperti anggur. Penyakit yang biasanya disebabkan oleh
bakteri cocci antara lain infeksi stafilokokus dan gonorrhea.
o Spirochaetes berbentuk seperti spiral. Bakteri ini menyebabkan penyakit sifilis.
o Vibrio berbentuk seperti koma. Bakteri ini menyebabkan penyakit kolera.
 Virus: Virus berukuran lebih kecil dari bakteri dan membutuhkan host, seperti orang,
tanaman, atau hewan, untuk bermultiplikasi. Saat virus masuk ke dalam tubuh, biasanya ia
menginvasi sel tubuh yang normal dan mengambil alih sel untuk memproduksi virus
lainnya.Virus dapat menyebabkan penyakit yang paling ringan seperti common cold hingga
sangat berat seperti AIDS. Seperti bakteri, terdapat berbagai bentuk virus yang dapat
menyebabkan berbagai penyakit. Bentuk-bentuk virus tersebut antara lain:
o Icosahedral: Lapisan luarnya terdiri atas 20 sisi datar yang memberikan bentuk seperti
bola. Icosahedral merupakan bentuk yang dimiliki oleh kebanyakan virus.
o Helical: Lapisan luarnya membentuk seperti batang,
o Enveloped: Lapisan luarnya terbungkus oleh membran yang longgar, yang dapat
berubah-ubah bentuk namun biasanya sering terlihat seperti bola.
o Kompleks: Tidak memiliki lapisan luar, tapi intinya terlapisi.
 Jamur: Jamur merupakan organisme primitif yang dapat hidup di udara, tanah, tanaman,
atau di dalam air. Beberapa jamur juga hidup di dalam tubuh manusia. Infeksi jamur
biasanya tidak bahaya, namun beberapa dapat mengancam kehidupan. Jamur merupakan
penyebab banyak penyakit kulit. Penyakit lain yang disebabkan oleh jamur antara lain infeksi
di paru-paru dan sistem saraf. Jamur dapat menyebar jika seseorang menghirup spora atau
menempel langsung di kulit. Seseorang juga akan lebih mudah terkena jamur jika sistem
imunnya sedang lemah atau sedang meminum antibiotik.
 Parasit: Parasit merupakan mikroorganisme yang membutuhkan organisme atau host
lainnya untuk bertahan. Beberapa parasit tidak mempengaruhi host yang ia tinggali,
sedangkan beberapa lainnya mengalami pertumbuhan, reproduksi, dan bahkan
mengelurkan toksin (racun) yang menybabkan host mengalami infeksi parasit. Infeksi parasit
disebabkan oleh 3 jenis organisme: protozoa, helminth (cacing), dan ektoparasit.
o Protozoa merupakan organisme yang hanya mempunyai satu sel yang dapat hidup
dan bermultiplikasi di dalam tubuh manusia. Infeksi yang disebabkan oleh protozoa
antara lain giardiasis, yaitu infeksi pencernaan yang dapat terjadi akibat meminum air
yang terinfeksi oleh protozoa,
o Helminth marupakan organisme yang memiliki banyak sel (multi sel) yang biasanya
dikenal dengan nama cacing. Terdapat berbagai jenis cacing yang dapat menginfeksi
manusia, seperti flatworm, tapeworm, ringworm, dan roundworm.
o Ektoparasit merupakan organisme yang juga memilikibanuak sel yang biasanya hidup
atau makan dari kulit manusia, seperti nyamuk, lalat, kutu, atau tungau.

5. gejala pada terjadinya infeksi


Tanda-tanda infeksi (peradangan) ini oleh Celsus, seorang sarjana Roma yang hidup
pada abad pertama sesudah Masehi, sudah dikenal dan disebut tanda-tanda infeksi utama.
Tanda-tanda infeksi ini masih digunakan hingga saat ini. Tanda-tanda infeksi mencakup
rubor (kemerahan), kalor (panas), dolor (rasa sakit), dan tumor (pembengkakan). Tanda
pokok yang kelima ditambahkan pada abad terakhir yaitu functio laesa (perubahan fungsi)
(Abrams, 1995; Rukmono, 1973; Mitchell & Cotran, 2003).

Dolor
Dolor adalah rasa nyeri, nyeri akan terasa pada jaringan yang mengalami infeksi. Ini terjadi
karena sel yang mengalami infeksi bereaksi mengeluarkan zat tertentu sehingga
menimbulkan nyeri menangis. Rasa nyeri mengisyaratkan bahwa terjadi gangguan atau
sesuatu yang tidak normal [patofisiologis] jadi jangan abaikan rasa nyeri karena mungkin saja
itu sesuatu yang berbahaya.

Kalor
Kalor adalah rasa panas, pada daerah yang mengalami infeksi akan terasa panas. Ini terjadi
karena tubuh mengkompensasi aliran darah lebih banyak ke area yang mengalami infeksi
untuk mengirim lebih banyak antibody dalam memerangi antigen atau penyebab infeksi.

Tumor
Tumor dalam kontek gejala infeksi bukanlah sel kanker seperti yang umum dibicarakan tidak
boleh tapi pembengkakan. Pada area yang mengalami infeksi akan mengalami
pembengkakan karena peningkatan permeabilitas sel dan peningkatan aliran darah.

Rubor
Rubor adalah kemerahan, ini terjadi pada area yang mengalami infeksi karena peningkatan
aliran darah ke area tersebut sehingga menimbulkan warna kemerahan.

Fungsio Laesa
Fungsio laesa adalah perubahan fungsi dari jaringan yang mengalami infeksi. Contohnya jika
luka di kaki mengalami infeksi maka kaki tidak akan berfungsi dengan baik seperti sulit
berjalan atau bahkan tidak bisa berjalan.

Jika infeksi sudah cukup lama maka akan timbuh nanah (pes). Nanah terbentuk karena
"perang" antara antibody dengan antigen bertarung sehingga timbulah nanah. Dengan
pemeriksaan nanah ini kita bisa mengetahui jenis antigen yang menyebabkan infeksi.

Atau

GEJALA

Gejala dari infeksi bervariasi, bahkan ada sebuah kondisi dimana infeksi tersebut tidak
menimbulkan gejala dan sub klinis. Gejala yang ditimbulkan kadang bersifat lokal (di tempat
masuknya mikroorganisme) atau sistemik (menyebar ke seluruh tubuh). Gejala paling umum
dirasakan oleh orang yang terkena infeksi adalah demam. Berikut adalah beberapa gejala
yang timbul berdasarkan penyebabnya.

 Bakteri: Gejala yang ditimbulkan oleh infeksi bakteri bervariasi tergantung bagian tubuh
mana yang diinfeksi. Namun, gejala paling umum adalah demam. Jika seseorang terkena
infeksi bakteri di tenggorokan, maka ia akan merasakan nyeri tenggorokan, batuk, dan
sebagainya. Jika mengalami infeksi bakteri di pencernaan, maka ia akan merasakan
gangguan pencernaan seperti diare, konstipasi, mual, atau muntah. Dan jika mengalami
infeksi pada saluran kemih, maka ia akan merasakan keinginan buang air kecil (BAK) yang
terus menerus, BAK tidak puas, atau bahkan nyeri saat BAK.
 Virus: Gejala yang ditimbulkan oleh infeksi tergantung dari tipe virus, bagian tubuh yang
terinfeksi, usia dan riwayat penyakit pasien, dan faktor lainnya. Gejala dari infeksi virus
dapat mempengaruhi hampir seluruh bagian tubuh. Gejala yang biasanya ditimbulkan antara
lain gejala seperti flu (demam, mudah lelah, nyeri tenggorokan, nyeri kepala, batuk, pegal-
pegal, dan sebagainya), gangguan pencernaan (diare, mual, muntah, dsb), rash (kemerahan
di kulit), bersin-bersin, malaise, hidung berair dan tersumbat, pembesaran kelanjar getah
bening (KGB), pembengkakan tonsil, atau bahkan turunnya berat badan.
 Jamur: Kebanyakan jamur menginfeksi kulit, meskipun terdapat bagian tubuh lain yang
dapat terinfeksi seperti paru-paru dan otak. Gejala infeksi kulit yang disebabkan oleh jamur
antara lain gatal, kemerahan, kadang terdapat rasa terbakar, kulit bersisik, dan sebagainya.
Gejala lainnya tergantung dari tempat yang terinfeksi.
 Parasit: Kebanyakan dari infeksi parasit menyebabkan gejala pencernaan. Gejala spesifik
berdasarkan jenis infeksinya antara lain:
o Malaria: penyakit yang disebabkan oleh plasmodium dan diperantarai oleh nyamuk.
Gejala yang sering muncul antara lain demam, menggigil, dan penyakit seperti flu.
o Trichomoniasis: penyakit yang disebabkan oleh hubungan seksual. Gejala yang sering
muncul antara lain gatal, kemerahan, iritasi, atau cairan tidak wajar yang terdapat
dari area genital.
o Giardiasis: infeksi saluran pencernaan. Gejala yang sering muncul antara lain diare,
gas, gangguan lambung, feses yang berlendir, dan dehidrasi.
o Toksoplasmosis: gejala yang sering muncul seperti flu, kelenjar getah bening yang
membengkak dan nyeri, nyeri otot yang berlangusng selama lebih dari sebulan.

6. Penanganan terhadap terjadinya infeksi

Bagaimana mengadopsi alergi obat?

Alergi obat dapat didiagnosis melalui:

 Pemeriksaan fisik: dokter akan memeriksa reaksi fisik terhadap obat-obatan seperti
tanda-tanda ruam dan lenting, atau mendengarkan detak jantung serta memeriksa
saluran pernapasan Anda.
 Menanyakan sejarah reaksi alergi, sejarah pengobatan, dan situasi Anda. Jika Anda
alergi terhadap obat lainnya dengan kandungan yang sama, Anda mungkin memiliki
alergi terhadap jenis obat tersebut.

Dokter mungkin akan melakukan tes laboratorium untuk mengetahui Anda memiliki alergi
terhadap kandungan apa. Tes tambahan meliputi:

 Tes kulit
 Tes darah

Bagaimana cara mengobati alergi obat?


Alergi obat dapat ditangani dengan mengurangi gejala alergi atau menggunakan penanganan
alergi lainnya yang dapat membantu Anda mengonsumsi obat tersebut.

Menangani gejala alergi meliputi:

 Berhenti menggunakan obat yang menyebabkan alergi


 Mengonsumsi antihistamin untuk menghambat zat sistem imun teraktivasi selama
reaksi alergi
 Mengonsumsi corticosteroid untuk mengatasi peradangan terkait dengan reaksi yang
lebih serius
 Mendapatkan suntikan epinefrin dan perawatan medis untuk menjaga tekanan darah
dan pernapasan.

Penanganan yang membantu Anda mengonsumsi obat yang memicu alergi dilakukan di
bawah pengawasan dokter. Penanganan ini ditujukan untuk membantu Anda lebih tidak
sensitif terhadap obat tersebut.

 Mulai dengan dosis kecil dan kemudian tingkatkan secara bertahap setiap 15 hingga
30 menit dalam beberapa jam atau hari hingga tidak terjadi reaksi.
 Menguji untuk melihat di dosis mana alergi Anda mulai bereaksi.

7. PENGOBATAN

Bakteri: pengobatan bakteri adalah antibiotik. Namun, antibiotik tidak dapat digunakan
begitu saja. Saat seseorang meminum antibiotik, maka ia harus mengikuti petunjuk yang
diberikan dengan sangat hati-hati. Karena jika kita tidak memiliki perilaku minum antibiotik
yang baik, suatu saat bakteri yang ingin kita hancurkan sudah terlanjur resisten dengan
antibiotik yang kita minum.

Virus: Beberapa infeksi virus biasanya dapat dicegah dengan vaksinasi (seperti campak,
hepatitis, dan sebagainya). Antivirus juga biasanya digunakan dalam mengobati infeksi virus,
namun antivirus biasanya hanya efektif digunakan untuk beberapa infeksi, seperti herpes,
hepatitis B dan C, dan HIV. Infeksi virus ringan sebenarnya bersifat self-limited, atau dapat
sembuh dengan sendirinya. Hanya saja seseorang harus memiliki daya tahan tubuh yang kuat
untuk melawan virus-virus tersebut. Antibiotik tidak pernah efektif untuk melawan virus.

Jamur: Jamur biasanya sulit untuk dibunuh. Untuk infeksi kulit dan kuku, terdapat
pengobatan anti jamur topikal yang dapat digunakan dengan cara dioleskan ke bagian tubuh
yang terinfeksi. Namun, jika infeksi jamur meluas atau serius, maka terdapat pengobatan anti
jamur yang bisa diminum.
Parasit: Tidak semua parasit memiliki pengobatan. Pengobatan yang biasanya diberikan
untuk orang-orang yang terinfeksi parasit antara lain antiparasit, seperti antiamuba dan
antimalaria.