Anda di halaman 1dari 1

Potensi (jurnal kwon2016)

Nanoliposom yang digunakan telah terbukti mempunyai potensi dalam membawa siRNA dalam
proses terapi gen. Pada traumatic brain injury atau TBI, trauma sekunder bisa memicu respon
dari disregulasi dari sawar darah otak, munculnya edema, disekresikannya neurotransmiter
eksitatori secara berlebihan, dan inflamasi. Efek tidak langsung ini bisa terjadi secara kronis dan
bisa menyebabkan kematian sel neuron secara meluas pada otak mulai dari jam hingga bertahun-
tahun sejak trauma pertama.
Untuk mencegah apoptosis neuron yang disebabkan oleh trauma sekunder, peneliti mengirimkan
siRNA yang menargetkan caspase 3. Caspase 3 dikenal sebagai komponen utama dalam proses
apoptosis setelah terjadi TBI (28). Pengiriman sekuens siRNA yang menargetkan caspase 3
menunjukan hasil yang signifikan yaitu level mRNA caspase 3 berkurang hingga 50% setelah 48
jam terapi (gambar 4A dan 6B). Selain itu, kadar zimogen dan caspase 3 bentuk aktif berkurang
juga secara signifikan.
Vaskuler pada otak mengalami perubahan permeabilitas yang bersifat temporer setelah
terjadinya trauma sehingga pemberian terapi ini sebaiknya dilakukan dalam 24 jam setelah
trauma. Perubahan permeablitas ini terjadi karena efek tidak langsung dari jalur persinyalan dari
respon trauma (12,23).
Ketika nanoliposom berbasis siRNA ini diadministrasikan, pengamatan menunjukan bahwa tidak
ada akumulasi dari peptida ini pada jaringan otak tikus yang lebih dalam. Selain itu, nanoliposom
berbasis siRNA ini juga banyak terakumulasi pada jaringan yang mengalami trauma saja dan
tidak terakumulasi pada jaringan yang sehat. Peneliti menggunakan antibodi antifluoresen untuk
memonitoring aktivitas siRNA. Hal ini membuktikan bahwa siRNA merupakan terapi gen yang
aman dan bisa meminimalisir efek off target pada jaringan non-target (gambar 5b).
nanoliposom berbasis siRNA ini hanya terakumulasi maksimal enam jam setelah administrasi
dan mengalami penurunan yang signifikan dalam 24 jam. Administrasi terapi ini juga
menunjukan efek lain seperti berkurangnya edema pada otak sehingga bisa mengurangi tekanan
intrakranial lokal. Hal ini membuktikan bahwa siRNA merupakan terapi gen yang aman karena
waktu kerjanya yang tidak terlalu lama. Sebab, jika waktu kerja suatu terapi gen lama, hal yang
ditakutkan adalah efek off target dan mempengaruhi ekspresi protein lain.
Administrasi siRNA yang dilakukan setelah lima menit terjadinya trauma, menunjukan hasil
yang signifikan dalam menurunkan level protein CASP3 dibandingkan dengan kontrol. (gambar
6a). Jika dipersentasikan, maka kurang lebih 80% protein CASP3 berhasil diknockdown pada
hemisfer yang mengalami trauma.