Anda di halaman 1dari 248

iTAKAAN

JIPAN
ATIMUR
]

KALKULUS
DIFERENSIAL

MuHAMMAD Rnznu
MnUMUD N, SrnEenB
FnnronwAw MnnpAUNG

$u.*[]:,il51^
Kalkulus Diferensial
Copl,right@Muhammad PtazaJJ, Mahmud N. Siregar, Faridawaty N{arpaung

Hak Cipta dilindungi oleh Undang-Undang Nomor 19 Tahun2002.


Dilarang memperbanyak/menyebarluaskan dalam bentuk apapun
tanpa izin tertulis dari penerbit Ghalia Indonesia.

Penerbit Ghalia Indonesia, Agusrus 2010


Jl. Rancamaya Km. 1 No. 47,
'Warung
Nangka, Ciawi - Bogor 16120
Telp.: (0251) 8240628 (runting) Fax.: (0251) 8243617
e-mail: editorialperti@gmail. com

Perpustakaan Nasional Katalog Daiam Terbitan (KDT)


Muhammad Raza)s,, Mahmud N. Siregar, Faridawaty Marpaung
I(alkulus Diferensial, Cet. 1
Bogot: Penetbit Ghalia Indonesia, 2010
x + 246 hlm; 175 mm x 250 mm
ISBN: 97 B-97 9 -450-581 -6

t
Kalkulus merupakan mata kuliah keahlian dasar yang dipelajari oleh mahasiswa
jurusan matematika, sains dan teknik. Ia merupakan mata kuliah utama yang
mengantarkan mahasiswa untuk dapat memahami cabang-cabang matematika
tingkat tinggi, mengingat perannya sebagai fundamen yang menopang keahlian
matematika lanjut dan keahlian keteknikan.
Materi kalkulus terdiri atas dua cabang utama, yaitu kalkulus diferensial dan
kalkulus integral. Masing-masing cabang dibangun dengan uraian teori dan aplikasi
yang cukup banyak dan buku ini membahas khusus tentang kalkulus diferensial.
Pemaparan buku ini disusun secara rinci, menyertakan beragam contoh aplikasi
kalkulus diferensial pada berbagai bidang, seperti fisika, kimia, bisnis, ekonomi,
demografi, sosiologi, dan lain-lain. Buku ini memuat lebih dari 160 contoh soal dan
penyelesaiannya. Solusi-solusi soal yang melibatkan angka dan simbol semaksimal
mungkin disertai dengan penjelasan yang mudah dipahami. Di samping itu, buku
ini mengupayakan agar pembuktian teorema dan rumus-rumus tidak terlalu
mendominasi, sehingga buku ini dapat menjadi acuan bagi mahasiswa selain jurusan
matematika.
Dari sisi struktur sususannya, buku ini disusun dalam lima bab. Bab satu hingga
bab tiga merupakan pengantar awal yang sangat diperlukan untuk memasuki bab
empat yang membahas tentang turunan, teorema-teorema turunan dan teknik-teknik
menentukan turunan beragam fungsi. Bab satu merupakan pengantar yang bersifat
membuka wawasan pembaca seputar topik-topik yang dibahas dalam kalkulus. Bab
7
dua dikhususkan pada pembahasan fungsi mengingat mayoritas topik kalkulus
terkait dengan fungsi. Bab tiga memberi penjelasan lengkap tentang konsep limit
yang merupakan fundamen yang mendasari kalkulus. Bab empat secara khusus
membahas tentang turunan, definisinya, teorema-teorema turunan, dan teknik-
teknik untuk mencari turunan sebarang fungsi. Bab lima membahas penafsiran dan
contoh aplikasi kalkulus diferensial.
Kepada mahasiswa, penulis menyampaikan bahwa cara baik belajar kalkulus
adalah Anda haruS membacanya sambil menggoreskan pulpen pada kertas dan ikut
terlibat mencoba menyelesaikan setiap contoh soal dan latihan yang diberikan. Jika
jawaban rinci bagi setiap contoh soal telah tersedia, Anda disarankan untuk tetap
mencoba menyelesaikan kembali jawabarurya dengan goresan pulpen Anda sendiri,
kemudian bandingkan jawaban Anda dengan jawaban yang tersedia. Gunakan
kalkul4tor sebagai alat bantu komputasi dan bahkan jika memungkinkan, jangan
ragu-ragu menggunakan perangkat lunak (software) seperti Mathematica, Maple, atau
Matlab untuk berkesperimen dengan soal yang diberikan. Latihan soal sebanyak
mungkin adalah kunci sukses yang akan mengantarkan Anda pada keberhasilan
dalam mempelajari kalkulus.
Penulis berhutang budi kepada para pakar matematika di sepanjang abad hingga
abad ini, yang pemikiran dan ide-ide brilian mereka telah menjadi dasar pemikiran
yang memenuhi buku ini.
Penulis menyadari masih banyak materi yang belum dibahas di sini dan juga
pada kekurangan di dalam buku ini, menjadi harapan untuk terus berkarya lebih
baik di masa yang akan datang.... Semoga!

Muhammad Razali
Mahmud N. Siregar
Faridawaty Marpaung
=

Daftar Isi

ix

BAB 1. PENGANTAR MENUJU KALKULUS


A. Apakah Kalkulus itu.............. 1

B. Fundamen yang Dibutuhkan Untuk Memulai Pelajaran Kalkulus........... 3

C. Himpunan Bilangan... 4
D. Variabel 6

E. Selang 6

F. Pertaksamaan............ 7

G. Nilai Mutlak ................ '12


H. Rumus Jarak ........ 16

[. Koordinat Titik Tengah Garis Lurus 17

J. Persamaan Lingkaran 17
K. Trigonometri.............. 18

BAB 2 FUNGSI 25
A. Pendahuluan............... 25
B. Definisi Fungsi....... 27
7
C. Fungsi Sebagai Proses lnput-Output................ 30
D. Penyajian Fungsi 30
E. Jenis-Jenis Fungsi 34
F. Linier........
Lebih Lanjut dengan Persamaan 54
G. Menggambar Grafik Fungsi dengan Mathematica............... 60

BAB 3 LIMIT DAN KONTINUITAS......... 69


A. Pendahuluan .............. 69
B. Limit Fungsi 69
C. Limit Arah Kiri dan Limit Arah Kanan................. 71.

D. Syarat Keberadaan Limit Fungsi....... /J


E. Menentukan Limit Fungsi dengan Grafik 75
F. Menentukan Limit Fungsi dengan Substitusi Langsung.. 77
G. Menentukan Limit Fungsi dengan Manipulasi Aljabar 79
H. Sifat dan Aturan Dasar Penghitungan Limit.... 84
I. Limit Fungsi Trigonometri .............. 87
I. Definisi Formal tentang Limit.......... 95
K. Limit yang Melibatkan Bentuk Tak Hingga................. 97
L. Menghitung Limit dengan Mathematica ............... 101
M. Kontinuitas Fungsi ............... 102
N. Masalah Garis Singgung dan Laju Perubahan..{................ 107
O. Laju Perubahan..{...... 111

BAB 4 TURUNAN 125


A. Pendahuluan.............. 125
B. Turunan.... 126
C. Langkah-Langkah Menetukan Turunan... 127
D. Beberapa Notasi Turunan 128
E. Eksistensi Turunan... 129
F. Aturan-Aturan dalam MenentukanTurunan 130
G. Menyatakan Turunan dengan Notasi Leibniz 1,40

H. Persamaan Implisit dan Turunannya 1,41,

I. Turunan Kedua atau Lebih Tinggi........ L46


I. Turunan Fungsi Trigonometri .............. 1,47

K. Turunan Fungsi Eksponensial dan Fungsi Logaritma. 152


L. Fungsi Invers Trigonometri dan Turunannya ................ 159
M. Fungsi Hiperbolik dan Turunannya 762
N. Menentukan Turunan Fungsi yang Dinyatakan Secara Numerik... 766

BAB 5 PENAFSIRAN DAN APLIKASI TURUNAN 171.

A. Pendahuluan.............. 177
B. Aplikasi 1 : Penafsiran Turunan 1,71,

C. Aplikasi 2:Laju Perubahan Terkait Waktu....... 200


D. Aplikasi 3 : Hampiran Linier dengan Memanfaatkan Caris Singgung..... 204
E. Aplikasi 4 : Memahami Makna Diferensial dy............... 207
F. Aplikasi 5 : Metode Newton untuk Pencarian Akar Persamaan f(x) = 6.. 21.0

G. Aplikasi 6 : Turunan untuk Menentukan Nilai Maksimum dan Minimum


Fungsi 217
H. Aplikasi 7: Aplikasi Turunan pada Masalah Optimisasi ............ 224
I. Aplikasi 8 : Aplikasi Turunan pada Aturan L'Hopital.................. 230
I. Aplikasi 9 : Ekspansi Fungsi ke Deret Maclaurin. .. 23L
DAFTAR PUSTAKA 239

GLOSARIUM............... 241,

TENTANG PENULIS 245

Daftar Isi
BAB

PENGANTAR MENUJU KALKULUS

A. APAKAH KALKULUS ITU?


Para ahli mengatakan, bahwa salah satu sumbangan yang paling besar bagi ilmu
matematika, sains, dan rekayasa modern ialah penemuan kalkulus menjelang akhir
abadl7. Dikatakan bahwa tanpa cabang utama ilmu matematika ini, banyak prestasi
teknologi, seperti pendaratan manusia di bulan, tentunya akan sulit atau tidak mung-
kin dicapai.
Sehari-hari kita sering mendengar dan menyebut kata "mengkalkulasi" yung
artinya menghitung. Kata "mengkalkulasi" adalah kata yang dekat dengan kata
"kalkulus". Kalkulus berasal dari bahasa latin yang berarti "batu ketikil". Nama ini
barangkali asalnya ialah karena batu kerikil dipergunakan beribu-ribu tahun yang
lalu untuk menghitung dan mengerjakan soal hitungan.
Dua orang yang hidup dalam abad ke-17 berjasa sekali dengan Penemuan
kalkulus, yaitu Sir Isaac Newton dari Inggris dan Gottfied Wilhelm von Leibniz dari
Jerman. Ide pokok kalkulus dikembangkan secara sendiri-sendiri oleh mereka selama
bertahun-tahun.
Newton yang merupakan ahli ilmu alam yang sangat terkenal, menerapkan kal-
kulus pada teori gerak dan gravitasi. Teori ini yang sering disebut sebaf,ai hukum
Newton memungkinkan dia menggambarkan secara matematis semua benda dalam
jagadraya, daripelemparan bola sampai kepada perputaran bumi dan planet-planet
lain dalam tata surya di sekeliling matahari.
Sebelum era Newton dan Leibniz, ilmu matematika yang dipergunakan untuk
memecahkan soal adalah semacam matematikayangdiajarkan di sekolah menengah
modern. Matematika itu meliputi mata pelajaran seperti ilmu hitung, aljabar,
geometri, dan trigonometri. Prinsip dasar mata pelajaran ini dikenal paling tidak
.i 1.500 tahun sebelum Newton dan Leibniz. Meskipun prinsip matematika yang
1';ia:
dipelajari dalam mata pelajaran ini berguna untuk memecahkan bermacam-macam
soal tertentu, namun prisip-prinsip itu tidak semuanya cocok untuk memecahkan
soal-soal mengenai jumlah yang berubah-ubah atau bervariasi. Adalah dengan
maksud menghitung kuantitas yang berubah-ubah dan bervariasi dalam kehidupan
kita sehari-hari, maka ditemukan kalkulus. Oleh karena itu, kita dapat mengatakan
bahwa kalkulus adalah matematika perubahan,l Di mana terdapat gerak dan per-
ubahan, maka kalkulus menjadi alatyangpaling tepat untuk memodelkannya secara
matematis.
Tujuan utama kalkulus adalah analisis masalah-masalah perubahan yang di-
bangun dari penyelidikan garis singgung kurva dan perhitungan luas dan isi bang-
un geometri. Dua masalah ini sangat mendasar, sebab kita hidup di dunia yang terus
berubah, bergerak dan fenomena pasang surut. Demikian juga sangat banyak tema
dalam matematika tingkat tinggi yang memanfaatkan ide-ide kalkulus. Oleh sebab
itu, dikatakan kalkulus merupakan pintu gerbang menuju hampir semua cabang
matematika tingkat tinggi. Hingga saat ini kalkulus tetap menjadi topik hangat,
karena teknik penghitungan dalam kalkulus masih tetap berfungsi sebagai bahasa
kuantitatif utama dari ilmu pengetahuan dan teknologi. Tak hanya itu, penerapan
kalkulus penerapan kalkulus merambah semakin luas hinggapada cabang ilmu so-
sial seperti bisnis, ekonomi dan psikologi.
Kalkulus terbagi dalam dua cabang, yaitu kalkulus diferensial dan kalkulus in-
tegral. Kalkulus diferensial berurusan dengan gradien garis singgung kurva yang
merupakan bentuk geometri dari turunan yang sering ditafsirkan sebagai laju
perubahan, seperti laju perubahan jarak terhadap n aktu, laju perubahan kecepatan
terhadap waktu, laju perubahan temperatur, laju perubahan muatan listrik, laju
perubahan populasi dan sebagainya. Ia juga berurusan dengan penentuan nilai
maksimum atau minimum yang dapat dicapai oleh suatu fungsi kontinu. Adapun
kalkulus integral berurusan dengan penentuan sebuah fungsi asal yang fungsi
turunannya diketahui. Misalnya, kecepatan dari sebuah benda yang bergerak adalah
merupakan fungsi turunan dari fungsi asal, yaknijarak yang ditempuh oleh benda
tersebut pada sebarang waktu. Artinya jika sebuah rumus bagi kecepatan sebuah
benda diketahui sebagai fungsi dari waktu, maka kita dapat menggunakan integral
untuk mendapatkan rumus yang menjelaskan sejauh mana jarak yang ditempuh
benda tersebut dari titik berangkatnya pada sebarang waktu. Ia juga berurusan dengan

L
Dari artikel Murray Spiegel pada llmu Pengetahuan Populer Jld. 2, Grolier Intemational, Inc. 1988

d'
;;,,.,ti,,i:::l'," 2 l(alkulus Diferens:lal
IH ttttitttttttttttt,ll,,,,ll',]]',,:
.' ::::::::::::::::::::::::::).:):.:1:a:aaaaaa:l:aLaaa:a:aaaa:

IL
penentuan panjang lintasan sebuah kurva,luas area bidang datar tak beraturan yang
dibatasi oleh beberapa kurva, volume-volume bangun dimensi tiga yang dibatasi
oleh selubung (kurva) permukaan, pusat gravitasi dari sebuah benda, nilai rata-rata
suatu fungsi, kerja atau usaha yang dilakukan oleh sebuah gaya yang beraksi pada
sebuah benda, dan sebagainya.
Diferensial dan integral merupakan dua sisi yang saling melekat dalam kalkulus.
Satu sisi merupakan proses balikan dari yang lain. Satu dan lainnya tidak bisa
dipisahkan dan saling berdiri sendiri. Sains dan rekayasa modern menggunakan
diferensial dan integral secara bersamaan untuk menyatakan beragam hukum alam
dengan memanfaatkan bahasa matematika dan menjelaskan dampak dari hukum-
hukum tersebut.

B. FUNDAMEN YANG DIBUTUHKAN UNTUK MEMUTAI


PELAJARAN KALKUTUS
Secara umum, beberapa cabang matematika seperti aljabar, geometri analitik,
fungsi dan trigonometri merupakan fundamen yang dibutuhkan untuk menguasai
kalkulus. Selain itu, beberapa istilah berikut ini akan sering kita jumpai pada kal-
kulus.
"rril: Himpunan bilangan. Perhitungan pada kalkulus didasari oleh sistem bilangan
real. Oleh sebab itu, kita akan mengawali fundamen dengan membahas sistem
himpunan bilangan.
'i.." Variabel. Kalkulus dan matematika tidak terlepas dari penggunaan simbol-simbol
untuk menyatakan sebuah besaran yang nilainya berubah-ubah. Besaran seperti
ini dinamakan oariabel. Oleh karena nilai sebuah variabel dapat menjelajahi
angka-angka dalam wilayah bilangan real, maka kita perlu memahami tentang
selang interval dan pertaksamaan.
.:3 Fungsi dan grafik fungsi. Mayoritas bagian dari kalkulus terkait dengan fungsi
dan grafik fungsi. Hal ini karena fungsi atau persamaan merupakan alat yang
paling tepat untuk menyatakan hubungan antara dua buah variabel atau lebih.
Fungsi atau persamaan merupakan dasar dari setiap pemodelan matematika.
Grafik sebuah kurva juga merupakan salah satu alat untuk mengamati perilaku
hubungan antara dua variabel atau lebih. Grafik kurva merupakan visualisasi
dari fungsi atau persamaan. Pembahasan tentang fungsi akan selalu terkait
dengan grafik atau kurva. Hal ini disebabkan karena grafik dapat dipakai untuk
mempelajari persamaan dan demikian pula sebaliknya.
d: Kontinuitas. Fungsi atau persamaan yang dibahas dalam kalkulus biasanya
bersifat kontinu. Dalam perhitungannya, kalkulus diferensial dan integral sering
mensyaratkan adanya sifat kontinuitas pada fungsi. Oleh sebab itu, konsep

Menuju lGlkulns 3

ffil-. rry r -'5-.-r'--*i


kontinuitas merupakan salah satu aspek penting yang harus dipahami dengan
baik manakala kita ingin mempelajari kalkulus.
'$ Limit. Konsep limit fungsi merupakan tulang punggung yang mendasari kalkulus
diferensial dan integral. Definisi-definisi yang dibangun serta pembuktian ru-
rl mus-rumus dan teorema-teorema dasar dalam diferensial dan integral selalu
.r ril
menggunakan ide limit. Oleh sebab itu, pemahaman yang baik mengenai kalkulus
akan sulit dicapai manakala konsep limit tidak dipahami dengan baik.

C. HIMPUNAN BILANGAN
Bilangan dapat diklasifikasikan ke dalam beberapa himpunan:himpunanbilang-
an bulat, himpunan bilangan rasional, himpunan bilangan irasional, himpunan bi-
langan real, himpunan bilangan khayal (bilangan imajiner) dan himpunan bilangan
komplek. Perhitungan dalam kalkulus berdasarkan sistem bilangan real.
Bilanganbulat terdiri dari semua bilangan bulat positif dan negatif.
Bilangan rasional adalah bilangan yang dapat dinyatakan sebagai hasilbagi da-
ri dua buah bilangan bulat seperti:

1,2=
u, -1.1= -1\' +=!
5102
Himpunan bilangan rasional terdiri dari semua bilangan bulat dan sebagian
bilangan pecahan.
Bilangan irasional adalah bilangan yang tidak dapat dinyatakan sebagai hasil
bagi dari dua buah bilangan bulat. Ia merupakan kebalikan dari bilangan rasional dan
tak satu pun bilangan bulat yang merupakan bilangan irasional. Berikut ini beberapa
contoh bilangan irasional:

Ji =1.,41.421g562... ;1og 12=1,079181.2...; e=2,778281828...; sin210=0,358368...

Titik'...'bermakna angka dibelakang koma terus dapat ditulis tanpa batas.


Bilangan rasional dan irasional memiliki perbedaan yaitu:
angka di belakang koma pada bilangan irasional tidak pernah habis dan tidak
mempunyai pola berulang. Sedangkan angka di belakang koma pada bilangan ra-
sional selalu mempunyai pola berulang. Misalnya bilangan berikut ini adalah rasional,
karena angka dibelakang koma mempunyai pola berulang:

L = 0,77777777... ar.t E = 1,1818181818....


911
Bilangan real rneliputi semua bilangan bulat, bilangan rasional dan bilangan
irasional. Jika diilustrasikan secara skematis maka keadaannya seperti berikut:
-l

bilangan irasional

bilangan real bilangan bulat

sebagian dari bilangan


pecahan

Bilangan khayal atau bilangan imajiner muncul akibat mengambil akar bilangan
negatif. Bilangan khayal adalah bilangan yang satuannya i di mana i = J-7 . Misalnya:
2i, -34i,0,6i,dan lain-lain. Himpunan bilangan khayal berdiri sendiri di luar himpunan
bilangan real. Perhitungan dalam kalkulus tidak melibatkan himpunan bilangan
khayal.
Bilangankomplek dinyatakan dengan simbol zterdiri dari dua komponen,yattu
komponen real dan komponen khayal. Bilangan komplek biasa ditulis z = x + yi di
mana x merupakan komponen real dari z dan y merupakan komponen lchayal z.
Misalnya z=3+2i atauz=-45-l2idanlain-lain.Jikadiilustrasikansecaraskematis,
maka keadaannya seperti berikut

bilangan khayal

bilangan real

Dari skema ini, tampak bahwa bilangan komplek meliputi semua himpunan
bilangan yang ada. Namun, kembali kita ingatkan bahwa bilangan komplek tidak
menjadi bilangan dasar perhitungan dalam kalkulus. kalkulus menggunakanbilang-
an real.
Sebelum kita lanjutk ant, ada dua hal penting yang selalu harus diingat dalam
kalkulus, yaitu:
pertama, tidak diijinkan membagi dengan nol. Pernyataan-pernyataan seperti:
1,-9 11 x+3
2' o'2'2' 2+7-9
dianggap sebagai t ak-t er ilefinisi (undet'ined).
kedua, akar dari bilangan negatif adalah tak-terdefinisi.Misalnya,

fi adalahtak-teilefinisi
Ini karena perhitungan kalkulus berdasarkan sistem bilangan real. Sementara
akar dari bilangan negatif terdefinisi hanya pada himpunan bilangan khayal.

:i
D. VARIABEL
:l
Dalambanyak masalahpemodelanmatematik, seringkali kita harus menggunakan
notasi, misalnya a,b, x, untuk menyatakan besaran yang belum diketahui nilainya
seperti waktu, volume, kecepatan, percepatan t gaya. Besaran yang belum diketahui
nilainya ini disebut oariabel. Dalam memilih notasi sebuah variabel, dapat digunakan
huruf-huruf seperti fl, b, c, ffir /t, x, y dan sebagainya. Tetapi dalam beberapa kasus
adalah lebih baik menggunakan huruf awal dari besaran yang dimaksud. Misalnya
notasi t (time) untuk menyatakan variabel waktu, zt (volume) untuk menyatakan
volume, F (force atau gaya) untuk menyatakan variabel gaya dan sebagainya.
Variabel adalah besaran yang nilainya tidak tetap dan dimungkinkan untuk
berubah-ubah. Kebalikan dari pengertian ini dinamakan konstanta. Peubah adalah
nama lain yang sering digunakan untuk menyatakan variabel. Misalkan x adalah
sebuah variabel yang menyatakan umur atau daya tahan bola lampu merk tertentu.
Jika dianggap bahwa umur tertingginya adalah 3500 jam, maka selang atau jelajah ni-
lai yang mungkin bagi x adalah setiap bilangan real yang berada pada
Dalam contoh ini, r disebut variabel yang menyatakan umur atau daya tahan bola lampu,
sebab nilainya dimungkinkan untuk berubah-ubah dalam selang Akan
tetapi, jlkax telah ditetapkan nilainya, misalnya3200jam, maka di sini x dinamakan
konstanta, bukan variabel. Mengapa disebut konstanta? Karena nilai r telah dite-
tapkan pada satu harga saja dan tidak berubah-ubah lagi.

E. SETANG
Selang merupakan himpunan bilangan real yang sering digunakan dalam kal-
kulus untuk menyatakan garis bilangan. Nama lain bagi selang adalah interval di
mana padanya terdapat bilangan tertentu yang menjadrbatasbawah danbatas atas.
Secara umum selang terbagidua,yakni selang terbuka dan selang tertutup. Selainnya
adalah kombinasi salah satu di antara keduanya. Misalkan a dan b adalah bilangan
real di mana a <b, maka yang dinamakan selang terbuka adalah semua bilangan x
yang terletak antara a dan b dan ditulis dengan lambang (a , b) atau dengan notasi
pembentuk-himpunan : {x I a < x < b}. Perhatikan bahwa kedua ujung selang yakni a
dan b, tidak termasuk nilai yang dijangkau oleh x. Secara geometri, hal ini dijelaskan
oleh gambar 1.1.

Gambar 1.1
tt

Adapun selang tertutup dari a ke b dinyatakan dengan lambang [a , b] atau dalam


notasi pembentuk-himpunan {* I a <x< b}. Perhatikan bahwa nilai x menjangkau
kedua ujung selang, yakni a dan b. Secara geometri, hal ini dijelaskan oleh gambar
1.2.

Gambar 1.2

Ingat bahwa pada selang terbuka dan selang tertutup terdapat perbedaan tanda
kurung, yakni tanda kurung biasa ( ) untuk selang terbuka dan tanda kurung siku
[ ] untuk selang tertutup. Seringkali kita menggabungkan kedua tanda ini sekaligus,
misalnya (a, b] untuk menyatakan selang a < x < b atau [a, b) untuk menyatakan
a < x < b. Tabel berikut ini menampilkan beragam selang yang sering muncul dalam
kalkulus.
Lambang Notasi Pembentuk-Himpunan Tipe

(a,b) {xla<x<b} Selang terbuka

la,bl {xla(x(bi Selang tertutup

{xla<x ( b1
(a,bI Selang semi terbuka

a,b) {xla ( x<b} Selang semi teibuka

(-co, al Selang semi terbuka


{xlx(a1
cco, a) {xlx<a} Selang terbuka

(a, m) {xlx>a} Selang terbuka

{xlx ) a}
[a, co) Selang semi terbuka
Himpunan semua bilangan real

Selang terbuka
t-m.oo)
Tanda * oO menyatakan "tak terhingga" baik itu positif atau negatif.

F. PERTAKSAMAAN
Sebuah ekspresi matematika disebut pertaksamaan jika di dalamnya terlibat
simbol-simbol seperti : <, >, 3, 2. Ketika berurusan dengan pertaksamaan, kita
harus mengingat kaidah-kaidah berikut ini.
1. Jika a < b, menambah atau mengurangkan kedua ruas dengan sebuah bilangan
c, tidak mengubah tanda pertaksamaan.
2. Jika a < b, mengalikan kedua ruas dengan sebuah bilangan positif c tidak meng-
ubah tanda pertaksamaan.
3. Jika a <b, mengalikan kedua ruas dengan sebuah bilangan negatif c akan meng-
ubah tanda pertaksamaan (yakni dari < menjadi > atau sebaliknya)
r
4. Jika0<a<b, maka 1,/a > 1,/b

Contohl: selesaikanpertaksamaan (a) 2x+3>x-5 (b)4-9x<6+7x


Penyelesaian:
(a) 2x+3>x-5 - kurangkan kedua ruas dengan x ( kaidah 1);
x+3>-5 - Tambahkan kedua ruas dengan -3 (kaidah 1);
ir x>-8 - Jadi penyelesaiannya adalah himpunan semua bilangan
real yang lebih.besar dari -8. Dalam notasi pembentuk
himpunan ditulis {x I x > -8};
I
I (b) 4-9x<6+7x - Tambahkan kedua ruas dengan - 4 (kaidah i);
1'.
i

-9x <2 + 7x - Kurangkan kedua ruas dengan 7x (kaidah 1);


l

-2x <2 - Kalikan kedua ruas dengan-1/z (kaidah4);


x>-L - Perhatikan bahwa tanda < berubah menjadi > ketika kedua
rnas dikalikan dengan bilangan negatif r/2. Ini adalah
konsekuensi kaidah 4 . Jadi, penyelesaiannya adalah semua
bilangan real yang lebih besar dari -1.

Selain mengikuti kaidah-kaidah tersebut, kita juga dapat menyelesaikan per-


taksamaan dengan memindah ruas suku-sukunya atau koefisien suku-suku tersebut.
Cara ini lebih cepat. Lihat contoh-contoh berikut.
Contoh2:selesaikanpertaksamaan: (a) 2x+3 >x-5 (b) 9x<18 (c)9x>18
(d) - 9x < 18 (e) 18 < -9x

Penyelesaian:
(a) 2x+3>x-5 - pindahkan +3 yang ada di ruas kiri ke ruas kanan dan x
yang ada di ruas kanan ke ruas kiri;
2x-x>-5-3 - sederhanakanmasing-masing ruas;
x>-8 - jadi penyelesaiannya adalah himpunan semua bilangan
real yang lebih besar dari -8. Dalam notasi pembentuk
himpunan ditulis {x I x > - 8}.
Untuk soal b hingga e, kita sengaja memberi angka yang sama, namun hanya
dibedakan oleh tanda positif, negatif dan arah pertaksamaan. Tujuannya adalah agar
jelas bagi kita bahwa pemindahan ruas bagi koefisien suku tidak akan mengubah tanda
pertaksamaan jika koefisien yang dipindah-ruas bernilai positif. Sebaliknya, jika
koefisien yang dipindah-ruas bernilai negatif akan mengubah tanda pertaksamaan
(dari < menjadi > atau sebaliknya). Mari kita perhatikan penyelesaiarurya:
(b) 9x < 18 - pindahkan +9 yang ada diruas kiri ke ruas kanan;
x< 78/2 - sederhanakan masing-masing ruas;
x<2 - Perhatikanbahwatanda < tidakberubahmenjadi > karena
koefisien x yakni 9 bernilai positif.
(c) 9x > 18 - pindahkan +9 ke ruas kanan;
x> 18/2 - sederhanakan masing-masing ruas;
x>2 - perhatikanbahwa tanda > tidakberubah menjadi < karena
koefisien x yakni 9 bernilai positif.
(d) - 9x < 18 - pindahkan -9 ke ruas kanan;
x> 18/ -9 - perhatikan bahwa tanda < berubah menjadi > karena ko-
efisien x yang di pindah-ruas, yakni -9 bernilai negatif;
x> -2 - solusi akhir.
(e) 18 < -9x - pindahkan -9 ke ruas kiri;
L8/-2 >x - perhatikan bahwa tanda < berubah menjadi > karena
koefisien x yang di pindah-ruas dari ruas kanan, yal<ni -9
bemilai negatif;
-2> x - solusi akhir. Solusi ini dapat ditulis menjadi x < -2.

Terkadang kita berhadapan dengan pertaksamaan yang bentuknya:

122. O, 1 , O, a.b < 0 atau a.b > 0. Untuk menyelesaikan pertaksamaan seperti ini
maka kita harus mengingat aturan-aturan berikut ini:

i. Jika
'2 1 .O,maka a<0danb >0 atausebaliknya:a>0danb <0
1
ii. lika ;2 > 0,makaa> 0danb> 0 atausebaliknya: a < 0danb <0

iii. Jika a.b < 0, maka a < 0 danb > 0 atau sebaliknya:a > 0 danb < 0
iv. Jika a.b > 0, maka a > 0 danb > 0 atau sebaliknya:a < 0 danb < 0
Contoh 3: Selesaikan pertaksamaan-pertaksamaan berikut ini.

(a) **5 ,o (b) ',**! .,


4x-72 x+2
Penyelesaian:

(a) Menurutaturan(ii),pecahar, i1l ,g bernilaipositif (>0) jikapembilangdan


penyebut lebih besar dari nol atau sebaliknya pembilang dan penyebut sama-
sama lebih kecil dari nol. Jadi, terdapat dua kasus bagi pertaksamaan ini:
7'
$. kasusl:x+5>0 dan 4x-12>0.
$ kasus2:x+5<0 dan 4x-12<0
kasus 1 mengakibatkan: x > -5 dan x > 3. Kedua pertaksamaan ini diwikili oleh
x>3
kasus 2 mengakibatkan: x < -5 dan x < 3. Kedua pertaksamaan ini diwikili oleh

I
x<-5
I akhirnya, jawaban kasus 1 dan kasus 2 dapat digabungkan menjadi: x < -5 atau
I x>3.
Kesimpulannya:
^ ' " >0 akan benar jika x < -5 atau x > 3
x+5
4x-12

(b) q+ < 1. Pindahkan 1 yang ada di ruas kanan ke ruas kiri menjadi:
x-2
2x+3
- 1- < 0 samakan penyebut ruas kiri menjadi: 4:+ + < 0. sederha-
x+2 x+1 x+2
tJ1 1 g
nakan menjadi:
x+2
Untuk pertaksamaan terakhir ini, selesaikan dengan calayarrg sama sePerti soal
(3a). pertaksamaan ini akan bernilai negatif atau nol jika memenuhi salah satu dari
dua kasus berikut.
$ kasusl; x+ 1 < 0 dan x+2>0. Selesaikanmenjadi:
x(-1danx>-2.
Kedua pertaksamaan ini (yaitu: x
( -1 dan x > -2) dapat digabung menjadi:
-2<x< -1.
$ kasus2: x+ L > 0dan x+2<0. Selesaikanmenjadi:
x>-1danx<-2
Tak satupun nilai x yang secara beirsamaan iebih besar dari -1 dan sekaligus ia
lebih kecil d.ari -2,karena di sini kita menggunakan hubung "dar." ' Artinya kasus
2

tidak memberi solusi bagi soal yang dimaksud. Kesimpulallnya, pertaksamaan ini
hanya dipenuhi oleh jawabankasus 1. Jadi:

., adalahbenar jlka -2<x ( -1


3x+1'
,-2 ='
Contoh4: Selesaikan (a) -2+3x>Bx+18 (b) 5<4x-6<12
Penyelesaian:
(a) -2 + 3x > 8x +18 pindahkan 8x ke ruas kiri dan - 2 ke ruas kanan menjadi:

3x-8x>L8+2 sederhanakan kedua ruas menjadi:


-5x > 20 pindahkan -5 ke ruas kanan sehingga arah pertaksamaan
berubah menjadi < (ingat bahwa yang dipindahkan adalah
bilangan negatif sehingga mengubah > menjadi < ):
x <20/ -5 sederhanakan menjadi:
x<-4 inilah penyelesaiannya!

(b) 5<4x-6<1.2 - tambahkan masing-masing ruas dengan 6 lagor suku ruas


tengah menjadi 4x saja) menjadi:
11<4x<18 - bagilah masing-masing ruas dengan 4 (agar suku ruas
tengah menjadi x saja) menjadi:
1.1./4 <x<1.8/4 - inilah penyelesaiannya!
Contoh 5: Selesaikan pertaksamaan (a) *' > 9 (b) x2 <9
Penyelesaian:
(a) x' >9
x2 - 9 > 0. Faktorkan ruas kiri menjadi:
(x + 3)(x - 3) > 0. Menurut aturan 4, hasil kali kedua faktor (x + 3)(x - 3) akan
positif jika memenuhi salah satu dari dua kasus berikut.
{i kaszs 1: x +3 > 0danx-3 > 0
x >-3danx>3.
Penggabungan kedua pertaksamaan ini akan benar jika x>3
* kasus 2: x + 3 < 0danx-3 < 0
x<-3danx<3
Penggabungan kedua pertaksamaan ini akan benar jika x < -3
Jikakitagabungkanjawabankasus l dankasus2,makapenyelesaianpertaksamaan
xz > 9 adalah x > 3 atau x < -3.

(b) x' < 9. Penyelesaiannya seperti soal sebelumnya.


x2 -9<0.
(x + 3)(x - 3 ) < 0. Dari sini muncul dua kasus:
7
$ kasusT: x+3 <0 danx-3 >0.
x <-3danx >3
Pada saat yang sama, tak satu pun bilangan x yang secara bersamaan lebih kecil
dari -3 dan sekaligus lebih besar dari 3. Jadi, kasus 1 tidak memberikan solusi.
$ kasus2: x+3>0danx-3<0
x>-3danx<3.
Pada saatyangsama,x ) -3 dan x < 3 dapatditulismenjadi-3 < x <3. Inilah
penyelesaiannya. Jadi:
x2<9jika:-3<x<3.
Menyelesaikan Pertaksamaan dengan Mathematica2
Pandang kembali contoh 4a dan 4b. Soal ini kita selesaikan dengan software
Mathematica:
((Algebra' Inegual i tySolve'
InegualitySolvel-2 + 3 x ) 8 x * 18,x1
x<- 4

((Algebra' f nequal i tySolve'


InequalitySolve [5 < 4 x - 6 1 L2,xl
11 9
42
Solusi untuk soal4a dan 4b berturut-turut adalah x < -4 dan
11 9
12
G. NILAI MUTLAK
Nilai mutlak dari suatu bilangan a dinyatakan oleh iambang la l, menyatakan
jarak a dari titik asal0 pada garis bilangan rea1. Karena jarak senantiasa positif atau
nol,maka lul > 0 untuksetiapbilanganreala.Misalnya l-5 l=5 dan llZl=12
Definisi Nilai Mutlak: Nilai mutlak dari suatu bilangan a dinyatakan oleh lam-
bang la I adalah:
rur=lu
r..r iil'u=9...ti1
jikaa<0
{_a

: Penjelasan lengkap tentang Mathematica dapat dibaca pada buku "Carq Mudah Menyelesaikan Matemalika dengan
Mathemotica" oleh penulis, diterbitkan oleh penerbit Andi..
Bilangan a jaraknya adalah la I satuan ke arah kanan dari titik asal 0 jika a > 0
dan a satuan ke arah kiri dari titik asal 0 jika a < 0.
Nilai mutlak digunakan untuk menyatakan jarak antara dua bilangan (titik) pada
garis bilangan. Artinya, jarak antara bilangan x, dan bilangan x, pada sebuah garis
bilangan dinyatakan oleh rumus:
l*, - *, I ... (ii)

Contoh 6: Tentukan jarak antara dua bilangan ini.


(a) 3dan-4 (b)-3dan-4
Penyelesaian:
(a) Denganrumus (ii) maka jarak antara 3 dan - 4 adalah l- 4-3 I = | -7 | =Z
l-4-(-3) l= l-4*3 l= l-11=t
ft) Secara geometri masing-masing soal ini digambarkan sebagai berikut.
7

-4-
Gambar 1.3.a Gambar 1.3.b

Gambar 1.3

Contoh 7: Nyatakanlah soal berikut tanpa menggunakan tanda nilai mutlak


@)lax-71 (b)le+5xl (c) 13*nl (d) ln-sl
Penyelesaian:
(a) soal ini, | 4x -7 | , lnilangkan tanda mutlaknya dengan rumus (i). Menurut rumus
(i),
:{ i
r,r
iif::j
Dari soal ini kita ar.ggap a = 4x - 7 . Dengan rumus (i) diperoleh:
lax-7 | = { - .!x-z- lt\a 4x-7 >0 selesaikan masing-masingbaris pada ruas kanan
[ t+x - z) iika 4x-7 <o

= I 7+*-7
-ax
ilka 4x>7
| jlka 4x <7

_ t +"-z jlka x>7 /4


l7 -4x jika x<7/4
b. Soal ini, l9 + 5x l, diselesaikan dengan cara yang sama seperti soal (a). Jadi,
""t: { .?*l*. iif'?.:'>!
19 + 5xl
[-(9+5x) jika 9+5x<o
selesaikanmasing-masingbarispadaruaskanan

_l 9+5x jika5x>-9
- i-l-s* iitu s*.-o
_l 9+5x jika x>-9/5
- | -o-sx jika x<-9/5
Untuk soal (c) dan (d), cukup melihat apakah bilangan yang berada dalam tanda
mutlak lebih besar atau lebih kecil dari nol.
Untuk soal (c) : l3 - n l, bilangan dalam tanda mutlak lebih kecil dari nol, maka
dengan rumus (i) kita peroleh:
13-n l=-(3-n)=n-3
Untuk soal (d) : I r -3 l, bilangan dalam tanda mutlak lebih besar dari nol, maka
dengan rumus (i), kita hilangkan tanda mutlaknya, diperoleh:

ln -31 = n -3
Sifat-sifat Nilai Mutlak
Misalkan a dan b sembarang bilangan real dan n adalah bilangan bulat positif,
maka berlaku:
L. labl=lullbl
2. lgl = lul:dimanab+o
lul lbl
3. la"l = lal"
Misalkan a > 0 maka berlaku:
4. l*l =u jikax= *a
5. l*l <, jika-a<x<a
6. l*l >ujikax>a ataux< -a
Adanya sifat 4,5 dan 6 akan memudahkan kita ketika berurusan dengan per-
samaan atau pertaksamaan yang melibatkan tanda mutlak.

Contoh8:Selesaikan (a). 14x-51 =3 (b). l3-2*l <6 (c). l-6*-31 >4


Penyelesaian:
(a) Gunakan sifat 4:
l4x-51 =8 jika 4x-5= *8. Iniartinya:
4x-5=8atau4x-5=-8
4x=1,3 atau4x =-3
x=13/4 ataux =-3/4
O) Gunakan sifat 5:

l3 -2x | < 6 jika - 6 <3-2x<6. Selesaikanpertaksamaan ini


- 6 <3 -2x < 6 - kurangkan masing-masing ruas dengan 3 (agar suku ruas
tengah menjadi 1x saja) menjadi:

-9 <-2x <3 - bagilah masing-masing ruas dengan -2 (agar suku ruas


tengah menjadi x saja) dan baliklah arah pertaksamaannya:
9 /2 > x > 3/2 - inilahpenyelesaiannya!
Jawaban ini dapatjuga ditulis sebagai 3/2 < x < 9/2
(c) Gunakan sifat 6:
I -6*-3 I > 4 jika -6x -g > 4atau -6x -3 < - 4. Ini artinya:
-6x-3>4atau-6x-3<-4
-6x>7atau-6x<-1
x < -7 / 6 atau x > 1/ 6 (ingat! arah pertaksamaan berubah)

Menyelesaikan Masalah Nilai Mutlak dengan Mathematica


Lihatkembali contoh 8a : l4x-5 | = 8
Solve [Abs [4 x-5] ==$,11
( n
l{*-r-9}, {x-+ a}l
13 I
[ 4 4)
Solusinya adalah x = -3 / 4dan x = 1,3 /4

Pertaksamaan Segitiga
Salah satu sifat penting lainnya dari nilai mutlak adalah srfat pertaksamaan
segitiga. Sifat ini seringkali muncul dan dipakai tidak hanya dalam kalkulus, tetapi
dalam matematika pada umufirnya. Pertaksamaan segitiga menyatakan bahwa:
la+bl < lul* lbl
Dari pertaksamaan segitiga ini, jika a dan b kedua-duanya adalah bilangan
negatif, atau kedua duanya bilangan positif, maka nilai ruas kiri akan sama dengan
ruas kanan.
7

Nilai Mutlak sebagai Batas Toleransi


pengukuran(nrcasurement) rrtaka
Ketika nilai mutlak diapiikasikan pada masalah
pengukuran' Batas toleransi
ia dapat dipandang sebugai batas toliransi pad,a hasil
(deviasi) pengukuran dari standar yang
mengijinkan adrnya sedikit penyimpangan
ditetapkan.
jika
pada kemasannya tertera beratnya
contoh g: saat kita membeli satu sak semen,
tidaklah pas 40 kg, namun bervariasi
40 kg t 1, artinya pada satu sak semen
beratnya
hat ini dapat tulis sebagai berikut'
antara 39 kg hingga 41 kg. Dalam nilai mutlak
misalkanw=beratsatusaksemen(dalamkg)'maka:
40-L<w340+1
39<w34L
pertaksamaan pada baris terakhir dapat
ditulis dalam nilai mutlak sebagai
lw-a0l < 1

H. RUMUS JARAK
jarak antara dua buah titik pada
Nilai mutlak iuga digunakan untuk menyatakan
pada gamb ar 1.4, P(x, , y,) dan Q(x, ,yr) adalah dua titik
sistem koordinat kartesius.
pada sistem koordinat kartesius. saat kita
be,g"tui dari titik P ke Q' terjadi perubahan
koord inat dalam arah x dan dalam arah y.
Perubahan dalam arah x dinyatakan dengan
dengan simbol A y' Jadi'
simbol A x dan perubahan dalam arah y dinyatakan
x Ax = xr- x..
Perubahan dalam =
AY = Yz' Yt
Perubahan dalam Y =
BesarpertrbahanAxdanAydapatbernilaipositif,negatifataunol.

Gambar 1.4
Dengan dalil Phytagoras, jarak d antara P dan Q dinyatakan oleh rumus

rumus ini disebut rumus jarak.

Contoh 10: Tentukan jarak antara (a) P(-3,5) dan Q(4, -2) (b) A(2,3) dan B(-1,7)

Penyelesaian:

(r) lpal =@=rF,*(,zf =Jq9+49 = J98 =7 J,


Jadi, jarak antara titik P(-3,5) dan Qe, -2) adarahT Ji
(b)
Jal=rf .(? if = ,,[3F *(4F = J2s = 5
Jadi, jarak antara titik A(2 , 3) dan B(,1. ,7) adalah 5.

I. KOORDINAT TITIK TENGAH GARIS LURUS


Koordinat titik tengah M dari sebuah garis lurus yang titik ujungnya P (x,, y,)
dan Q (x,yr) dapat ditentukan dengan rumus:

,(!+,r*,,t

Contoh 11: Tentukan koordinat titik tengah dari garis lurus yang titik-titik ujungnya
adalah:
(a) P (-3 ,5) dan Q (4, -2) (b) A (2 ,3) danB (-1 ,7)
Penyelesaian:
(a) 141-3+4, 5+(-z) )=M(1, 3
2 2 22 )
16) *,2+C1),112
'2 1=vr11,st
'2
2'
J. PERSAMAAN LINGKARAN
Dari rumus jarak menuju persamaan lingkaran hanyalah sebuah langkah kecil.
Jika P(a, b) adalah titik pusat lingkaran dan Q(x, y) adalah sebarang titik yang terletak
di lingkaran, maka jarak dari P ke Q sama dengan panjang jari-jari r. |adi

IPQI =r= (* - u)2


Kuadratkan kedua ruas persamaan menjadi:
(x - a)' + (y - b)' = r' ... (i)
a
Persamaan (i) merupakan persamaan lingkaran dengan jarijari r dan pusat di (a, b).
Jika koordinat pusat lingkaran (0,0), maka persamaan (i) menjadi:
Y'= 12 "'ii)*' +
Persamaan (ii) merupakan persamaan lingkaran dengan koordinat pusat (0, 0).
Khususnya jika r = L, maka persamaan (ii) menjadi:
x2+y2-1
yang disebut sebagai lingkaran satuan (unit circle), yakni lingkaran dengan pusat (0,
0) dan jari-jari 1.

Contoh 12: Tentukan persamaan lingkaran yang koordinat pusat dan jari-jarinya
adalah:
a. (-g,4) dan r = 5 b. (2, -7) dan r = .,6 c. (2,\) d,anr =9

Penyelesaian:
a. Masukkan a=-3, b =4danr = 5kedalampersamaanlingkaran
(x-a)'+(y-b)'=r'
(x+3)2+(y-4)'=25
b. Seperti jawaban a
b'(x- 2)'+(Y+7)'- Jl' =3 ,'
t
c. (x-2)' + (y - 1)2 = 81

K. TRIGONOMETRI
Trigonometri merupakan cabang matematika yang membahas hubungan antara
sudut dan sisi-sisi suatu segitiga. Kita akan sering menjumpai persamaan maupun
fungsi trigonometri dalam kalkulus. Oleh sebab itu, sangat bermanfaat untuk
menyegarkan kembali ingatan kita tentang beberapa topik trigonometri, terutama
mengenai operator-operator dasar trigonometri, seperti sinus, cosinus, dan tangen
suatu sudut.

y = sisi depan

x = sisi apit
Gambar 1.5
Dari gambar L.5, kita memiliki segitiga siku-siku dengan panjang sisi x, y dan
r dan sudut 0. Dalam hubungannya dengan sudut 0, maka sisi x disebut 'sisi apit'
karena sisi x adalah salah satu sisi yang mengapit sudut 0. Sisi y disebut'sisi depan'
karena ia berada didepan sudut 0 sedangkan sisi r disebut'sisi miring'.
Dalam trigonometri, rasio (perbandingan) panjang sisi depan 0 dan sisi miring
disebut sebagai sinus 0. Jadi, sinus, cosinus, tangen, cotangent, secan dan cosecan su-
dut 0 didefinisikan oleh:

sisi deoan cos 0


sin 0
sisi miring
cot 0 =-sin0

sisi apit 1
cos 0 sec 0
sisi miring cos0

sisi deoan X 1
foA cosec 0
srcr aplt V sin0

]ika posisi sudut 0 pada gambar 1.5 di atas diubah seperti pada gambar 1.6 berikut
ini maka nilai sinus, cosinus, dan lain-lain akan tetap mengikuti prinsip di atas.

y = sisi apit

x = sisi depan

Gambar 1.6

Oleh karena itu, sisi x menjadi sisi depan, dan sisi y menjadi sisi apit sehingga
x
sin0 = =_r
s$r mlrlng
sisi aoit V
cos 0
sisi miring
=-r
x
tg0 = sisi_--r-
deoan
srsl aplt v
r Dua Segitiga Istimewa
Terdapat dua segitiga siku-siku istimewa dalam trigonometri. Dikatakan de-
mikian karena, sudut-sudut yang ada pada masing-masing segitiga tersebut sering
digunakan dalam perhitungan trigonometri. Dua segitiga tersebut adalah segitiga
dengan kombinasi sudut-sudut:450, 450, 900 dan 300, 600, 900 seperti pada gambar
1..7.a danl-.7.b

Gambar 1.7a Gambar 1.7b

Dari gambar 1.7.a dan 1.7.b kita peroleh nilai trigonometri bagi masmg-masmg
sudut ini.

1
1 ..6_ 1r
sin 450 =
a sin 300 =
2 2
-J3
2

1 € ='Ji I
o cos3oo-
22 2

t;
vr
tg45o
: -.)-- =l =t tg3oo=#=].n tg 600 =
l;
-=vJ
I
1 1
li
'1T:1_ '
cos 900 = 0 I tg eOo = tak terdefinisi (6 )

Ukuran Derajat dan Radian


Ukuran sudut biasa dinyatakan dengan dua cara: derajat dan radian. Sudut
dalam pembahasan trigonometri terkait erat dengan lingkaran. Ukuran sudut 1 ile-
raiat (10) adalah fr revolusi lingkaran, di mana satu revolusi (perputaran) penuh
setara dengan 360 derajat. Putaran sudut positif dilakukan berlawanan dengan arah
perputaranjarumjamdanputaransudutnegatif dilakukansearahdenganperputaran
jarum jam. Perhatikan gambar 1.8, sebuah sudut positif 1 derajat dibentuk oleh
sumbu x positif dan segmen anak panah yang berpusat di titik asal (0, 0). Ini adalah
representasi sudut dalam derajat.
\

A 1 putaran penuh 3600

270,

+
Gambar 1.8

llkuran sudut 1 radian (1 rad) adalah setara dengan 190 revolusi lingkaran di
mana n = 3,14159. Oleh karena itu, L radian = 180 = 57,2960'.'Perhatikan gambar 1,.9.
Diberikan sebuah lingkaran satuan, yaitu ling[<aran dengan panjang jari-jari 1,. 1,
radian adalah perjalanan sebuah partikel dari titik A ke titik B disepanjang lintasan
lingkaran dengan panjang busur 1 jari-jari. Jadi, satu radian adalah busur AB
sepanjang 1jari-jari. Ini setara dengan sebuah revolusi 57,2960.

1 putaran penuh 360o

2700

*
Gambar 1.9
7
l
Rumus Konversi Derajat ke Radian
Kita dapat mengubah satuan derajat ke radian dan sebaliknya dengan mengguna-
kan rumus berikut:
0derajat _x radian
180 TE

Contoh L3: Ubahlah sudut 450 ke dalam radian!

Penyelesaian:
Dari soal ini diketahui 0 = 45 dan mau dicari x = ... radian. Masukkan ke dalam rumus
di atas:
45 x
-
180 rE
+kalisilangmenjadi
" 180x= 45n
= r=9=Iradian.
180 4
Jadi45o =TE/Aradian.

Contoh 14: Ubahlah sudut 1,5 radian ke dalam derajatl

Penyelesaian:
Di sini diketahui x = 1,5 radian dan mau dicari e - ... derajat. Gunakan rumus di
atas, lakukan kali silang:
0 - 1'5 .tralisilangmenjadi 180(1'5)
180 Tt -T o )- 180(1,5)=ltr0= 0- =85,94870.
T

Jadi, 1,5 radian = 85,94370 .

Contoh 15: I-Ibahlah


ftradian ke dalam derajat
Penyelesaian:
Di sini diketahui x = ft dan mau dicari e - ... derajat. Dengan rumus di atas

/'o j=kalisilangmenjadi
e 180=100+ 0 = 18-0 =1g0.
-0===
180 =*=
Tc 180 10 ' 10

Jadi, ft radian=18o.
Latihan Bab 1

Tentukan interval nilai x yang memenuhi pertaksamaan pada soal 1 - 10!

1. -4x+7 <2 2. -5(3-x)>3x-1


3. -8<4x<0 4. -4<x-3<10
5. 3<-x<8 6.(x-3)(2x+5)>0
7. l*-81<0,001 8. l-3x+51 >12
3x+1 _
o/' ^ 10.x2+5x-6<0
x-2
-\Z
11. Tentukan jarak antara (a) P(-3,5) dan Q(3, 13) (b) ,4(6,-3) dan B(12,3)!
12. Tentukan koordinat titik tengah garis lurus yang titik-titik ujungnya (2 ,5) dan
(6,L1).
13. Tentukan persamaan lingkaran yang koordinat pusat dan jari-jarinya adalah:
a. (-1,2) dan r = 3 b. (3, 0) dan r = 2 c. (0 , 1.5) dan r = 0.25
14. Ubahlah sudut 650 ke dalam satuan radian!
15. Ubahlah sudut 2,5 rudianke dalam satuan derajat!
16. Ubahlah f radian ke dalam satuan derajat!
BAB

FUNGSI

A. PENDAHULUAN
Para peneliti terkadang ingin mengamati hubungan antara dua buah besaran
atau lebih. Misalnya:
S seorang insinyur elektro mengamati bagaimana hubungan tegangan dan arus
yang melewati sebuah tahanan (resistor) pada sebuah rangkaian;
S seorang ahli mikrobiologi melihat bagaimana perubahan populasi suatu koloni
bakteri pada selang waktu tertentu setelah koloni tersebut diberi toksin;
$ seorang ahli pemasaran melihat dampak biayaiklan (promosi) terhadap tingkat
penjualan sebuah produk.

Dari contoh-contoh di atas, studi matematis untuk melihat hubungan antara be-
saran atau variabel yang terkait, akan melibatkan konsep matematikayang dikenal
dengan nama fungsi. Hampir semua bagian dari kalkulus dan matematika pada
umumnya berhubungan dengan fungsi, karena fungsi merupakan alat yang paling
tepat untuk menyatakan hubungan antara dua buah variabel atau lebih. Lazimnya
fungsi dinyatakan dengan salah satu dari tiga cara berikut ini, yaitu:
S persamaan eksplisit;
O tabel nilai data berpasangan;
* grafik.
Ketiga cara tersebut merupakan fungsi yang sering kita temui. Mari kita per-
hatikan beberapa contoh berikut.
a. y = 2x2 + 20x- log 10x
t"-
b. h- /t'+8
2-t
-5t+rZ
\
c. s= v. t dimana s = jarak, v = kecepatanbenda, t = waktutempuh
d. V = I. R dimanaV = tegangan,I = arus listrik, danR= tahanan

Empat persamaan di atas adalah fungsi. Berikut adalah penjelasan masing-


masing contoh di atas.
a. Pada contoh a, nilai variabel y bergantung (dipengaruhi) pada nilai x yang di
berikan. Misalnya jika di berikan nilai x = 1 maka y menjadi 21. Kita katakan
y adalah fungsi dari variabel x. y dinamakan oariabel tak-bebas (dependent
o ari ab I e) sedang x dinamak an a ari ab el b eb a s (in ilep en dent o ari ab I e),

b. Pada contohb, nilaivariabelhbergantung (dipengaruhi)pada variabel t. Misalnya


jika anda berikan nilai t = 0, maka nilai h menjadi 14 atau 10 (ingat bahwa nilai
suku yang memiliki tanda 'akar'adalah 2 atau - 2). Kita katakan h adalah fungsi
dari variabel t. h dinamakan oailabel tak-bebas sedang t dinamakan aariabel
bebas,
c. Pada contoh (c), nilai variabel jarak s tergantung pada dua variabel lain, yaitu
variabel kecepatan v dan waktu t. Misalnya, suatu benda bergerak dengan
kecepatan tetap v = 50 km/jam selama t = 2 jam, maka jarak s yang ditempuhnya
adalah s = 50 .2 -- 1.00 km. Di sini kita katakan s adalah fungsi variabel v dan t. s
dinamakan oariabel tak-bebas sedangkan v dan t dinamakanoariabelbebas.
d. Sama seperti contoh c, teganganV adalah fungsi dari dua variabel I dan R. V
dinamakan oariabel tak-bebas sedangkan I dan R ztariabelbebas.

Contoh (a) dan (b) merupakan fungsi yang memiliki satu variabel bebas,
sedangkan (c) dan (d) merupakan fungsi yang memiliki dua variabel bebas. Untuk
sementara pembahasan kita batasi pada fungsi satu variabel bebas.
Dalam matematika, cara simbolik untuk mengatakan'y adalah fungsi dari aa-
riabel r'cukup dengan menulis:
Y = f(x)

yang kita b aca'y sama dengan fungsi dari x'. Cara simbolik ini diperkenalkan pertama
kali oleh Leonhard Euler (1707 - 1783), seorang ahli matematika Prancis.
Demikian juga untuk mengatakan 'V adalah fungsi dari variabel I dan R' cukup
dengan menulis
V=f(I,R)
yang kita baca'V sama dengan fungsi dari I dan R'.

B. DEFINISI FUNGSI
Definisi fungsi z Sebuah fungsi f dengan nilai real yang didet'inisiknn pada himpunan
bilangan real D adalah aturan yang memetakan setiap bilangan x yang berada dalam D ke
tepat satubilangan real, dinyatakan denganf(x). Himpunan D yangberanggotaknn seluruh
bilangan di mana f(x) didet'inisikan disebut domain atau daerah asal fung.i r Bilangan f(x)
yang merupakan fungsi dari x disebut nilai f pada bilangan (titik) x. Sedangkan himpunan
semlta nilai y = f(x) disebut range (jelajaD dari f.

Gambar 2.1 mengilustrasikan apayang dimaksud oleh kalimat di atas

Gambar 2.1. llustrasi lungsi

Nilai Suatu Fungsi


Nilai suatu fungsi f(x) untuk x = a dinyatakan oleh simbol f(a). Jika
Y=f(x)=x2+10x+5
maka nilai f(x) untuknilaixberturut-turut di mana x = 0,2,-3, h, (a + h) adalah:
(0) = 0 + 0+5=5
f(2) =22+10(2)+5=29
(-3) = (-3)'+10(-3)+5= -L6
f(h) = h2+10h+5
f(a+h)= (a +h)'z+ 10(a +h) + 5=a2 +Zah+h3+ 10a + 10h+5

Kita akan sering menggunakan variabel y untuk mewakili nilai fungsi f(x) dengan
menyatakan y = f(x). Jadi, untuk f(0) = 5, f(2) = 29, f(3) = -16 kita katakan juga sebagai
y=5, y=29, y=-16.
Domain dan Range Fungsi
Di atas telah dijelaskan pengertian domain (daerah asal) dan range (daerah hasil)
fungsi. Hal ini penting untuk dipahami dengan baik.
Domain: Himpunan D yang beranggotakan seluruh bilangan real x (variabel
bebas) yang untuknya f(x) didefinisikan disebut domain (daerah asal) fungsi f.
Range: Range (daerah hasil) adalah himpunan semua nilai y = f(x) dari fungsi f.

Contoh L: Tentukan domain dan range dari fungsi!


y=f(x)= x2+10x +5; dimana -3 < x < 4

Penyelesaian:
Domain fungsi ini adalah semua nilai x yang terletak antara - 3 hingga 4. Artinya,
kitamendefinisikanfungsif(x)=12+10x+5dalamselang-3(x<4.Untukmelihat
rangefungsiini,buatlahtabelnilaixdanY=f(x),dimanaxberadadalamselang-3
( x ( 4. Hasilnya sebagai berikut:
-2 'I 2 3 4
x -3 -1 0

y = f(x) -16 11 -4 5 16 29 44 61

Dari tabel di atas, kita iihat bahwa nilai y terkecil adalah -16 yaitu ketika x = -3
dan nilai y terbesar adalah 61. Jadi, range fungsi ini adalah semua nilai y yang berada
antara -16 dan 61 atat dalam notasi himpunan ditulis {y | -t0 < y ( 61}. Selain
dengan tabel, kita juga dapat mengetahui range fungsi ini dengan membuat grafiknya
dan melihat nilai y terkecil dan terbesar pada sumbu vertikal. Kita gambarkan grafik
fungsi f(x) = az + 10x + 5 . Hasilnya seperti pada gambar 2'2
Dari gamb ar 2.2. dan dengan bantuan tabel nilai x dan y, kita lihat jejak kurva

Gambar 2.2
dalam jelajah nilai y pada sumbu vertikal bergerak dari y = -16 hinggay = 61. Maka
range fungsi f(x) = x2 + 10x + 5; untuk -3<x<4
adalah: {yl't0<y<61}
Contoh 2: Tentukan domain dan range fungsi y = 1/x agar y bernilai real!

Penyelesaian:
Persamaan Y = 1/x akan menghasilkan nilai y real untuk semua x kecuali x = 0,
sebab untuk x = 0 maka y tak terdefinisi (oo ). Dari sini dapat dikatakan bahwa:
- domain bagi x adalah: x < 0 atau x > 0, yakni semuabilanganreal kecuali
nol.
- range bagi y adalah: y < 0 atatt y > 0, yakni semua bilangan real kecuali
nol.

Contoh 3: Tentukan domain xagar fungsi y = -2x+6 bernilai real.

Penyelesaian:
Agar fungsi ini bernilai real, maka suku dalam tanda akar harus lebih besar atau
sama dengan nol (sebab akar bilangan negatif tidak didefinisikan dalam himpunan
bilangan real, kelqali dalam bilangan komplek. Coba hitung dengan kalkulator
anda nilai dari V-4 ? Kalkulator Anda akan menjawab E (error). Mengapa? Karena
jawaban pada kalkulator (kecuali tipe tertentu) diprogram hanya untuk bilangan
real). Artinya
-2x+6>0
-2x > -6

x (3 (domain atau daerah asal x)

Contoh 4: Tentukan domain fungsi-fungsi berikut!


(3x+2)(-2x-5)
a. f(x) = 45 -3x b. g(x) = x2 + 3xs + 2 c. h(x) =
x+9
Penyelesaian:
a. Berapa pun x yang disubstitusikan pasti akan menghasilkan f(x) yang terdefinisi
(ada). Jadi, domainnya adalah semua x elemen bilangan real atau ditulis .
b. Sama seperti jawaban a.
c. Karena h(x) terdefinisi untuk semua nilai x * -9 maka domainnya adalah semua
bilangan real kecuali -9.
C. FUNGSI SEBAGAI PROSES INPUT.OUTPUT
Fungsi atau persamaan dapat juga dipandang sebagai proses input-outpuf. Jika
diberikan fungsi Y = f(x), maka x yang merupakan oariabel bebas dapat dipandang
sebagai variabel masukan atau input, sedangkan y yar.g merupakan aariabel tak-bebas
dapat dipandang sebagai variabel keluaran atauoutput dan f dapat dipandang sebagai
ruang-proses yang mengolah input menjadi output. Diagramnya adalah sebagai beri-
kut.

Flo,ees !

Misalnya diberikan sebuah fungsi I = f(x) = 3x2 - 5. Jika diberikan input x =


10 maka ruang-proses f akan mengolah input ini dan menghasilkan output y sebagai
berikut.
' .,. ,,..',.rhsee.f: ,. .

.*<a
fikan,]Nasiatl,lrp ui
I----------t/
tnput O0 = 1o ) dengr4q I,kunudian,,:
ri,,ku{anghqn :hasilnp,,,
, dawa11',5"'::.:a''.:' t,

D. PEI{YAJIAN FUNGSI
Sebelumya telah kita singgung bahwa fungsi dapat dinyatakan dalam tiga cara,
yaitu:
'il.' dalam bentuk persamaan eksplisit;
* dalam bentuk tabel nilai berpasangan;
{} dalam bentuk visual atau grafik;

Ketiga cara ini sering digunakan secara bersamaan tatkala kita ingin melihat
hubungan dua variabel atau lebih. Kita telah melakukan hal ini sebelumnya pada
contoh L, di mana kita memiliki:
S sebuahPersamaan:Y=f(x) = x2+ 10x +5;domain-10 ( x (10
Dan dari persamaan ini kita buat:
* tabel nilai x dan y dengan memasukkan beberapa nilai real x untuk mendapatkan
nilai-nilai y seperti dalam tabel berikut.
-10 < x <0...

1< x <10

Dari tabel nilai (x ,y) diatas kita buat:


grafik persamaannya:
PLotlx^2 * 10 x * 5, tx ,-L0,10),p1otsty1e--+{Thicknesst0.01l
}l

Gambar 2.3. Grafik fungsi y


= f $) = x2 + 70x + S

Demikianlah ketiga cara ini (persamaan,


tabel nilai dan grafik) sering digunakan
secara bersamaan yang tuiuannya
adalah untuk mendafatkan informali
hubungan antara variabel-variatel terkait #ngenai
yang terlibrt'drlam sebuah fungsi atau
persamaan.

Grafik Fungsi
Pada dasarnya, membuat sketsa
butuhkan hanya dua langkah saja.
vgrafik fungsi y = f(x) tidaktah sulit, yang kita
$ Langkah 1: Tetapkan beberapa nilai
x untuk mendapatkan nilai y. susunlah
nilai tersebut dalam sebuarrtabel n,ai nilai-
yang memuat x dan y yang bersesuaian
serta buatlah pasangan koordinat (x,y);
* Langkah2: Nyatakan letak titik-titik koordinat
(x,y) dalam sistem koordinat
kartesius, kemudian tarik garis yang
menghubungkar-, semua titik (x,y) tersebut;
Contoh 5: Buatlah sketsa grafikfungsi y = f(x) = x2 + 10x + 5 ; domain -10 < x <10!

Penyelesaian:
Kita ikuti prosedur langkah L dan langkah 2.

Langkah 1 :Kita ambilbeberapahargax = -10, -9, -8,..., 8, 9,10. Masukkannilai-nilai


x ini ke dalam fungsi y = f(x) = x2 + 10x + 5. Buatlah tabel untuk memuat pasangan
nilai x dan y yang telah diperoleh!
$ tabel nilai x dan y
-10<x<0...
x -10 -9 -8 -7 -6 -5 -4 -3 -2 1 0

5 -4 11 -16 -19 20 -19 -16 11 -4 5


v

...lanjutan: 1<x<10
X
'1
2 3 4 5 6 7 I I 10

v 16 29 44 61 80 101 124 149 176 205

Langkah 2:Dari tabel ini kita memiliki 21 pasang koordinat (x,y). Nyatakan letak
titik-titik tersebut dalam sistem koordinat Cartesius. Hasilnya pada gambar 2.4.
* plot koordinat (x,y). Plotnya adalah:
f [x_] :=x^2 * 10 x * 5
a=Tab1e[{x,f [x] ], {x,-10,10}l
ListPlot Ia, PlotStyle-+PointSize t0.02] l

Gambar 2.4

Setelah dibuat plotnya, tarik garis untuk menghubungkan semua titik dalam gambar
2.4. Grafikyang diinginkan tampak pada gambar 2.5.
Gambar 2.5. Grafik tungsi y = f (x) = x2 + 10x + 5

Uii Garis Vertikal


Menurut definisi fungsi, untuk setiap bilangan x dalam domain D, terdapat tepat
satu bilangan y di dalam range f(x) yang menjadi pasangan bagi x. Secara geometri,
ini berarti bahwa sebuah garis vertikal x = a akan memotong grafik fungsi f(x) paling
banyak sekali.
Pengamatan geometri ini akan membawa kita pada sebuah kriteria penting yang
disebut uji garis aertikal.
Sebuah kuraa pada bidang datar disebut grafik fungsi f(x) jikn dan hanya jika uji garis
aertikal x = a memotong kuraa itu tepat di satu titik.Perhatikan beberapa kurva berikut.

grafik fungsi, garis vertikal bukan grafik fungsi, garis vertikal bukan grafik fungsi, garis vertikal
memotong kurva di satu titik memotong kurva di tiga titik memotong kurva di dua titik

Gambar 2.6 Garis vertikal untuk menguji gralik fungsi


E. JENIS-JENIS FUNGSI
Fungsi memiliki beragam jenis dan bentuk. Di sini kita akan menyajikan beberapa
jenis fungsi yang sering muncul dalam kalkuius dan matematika pada umumnya.
Fungsi-fungsi tersebut di antaranya adalah: fungsi polinomial (meliputi fungsi
konstan, fungsi linier, fungsi kuadrat, fungsi kubik), fungsi komposit, fungsi invers,
fungsi trigonometri, fungsi eksponensial, fungsi logaritma, fungsi hiperbolik, fungsi
gunjit dan fungsi genap. Berikut ini kita terangkan sebagian dari fungsi di atas.

Fungsi Polinomial
Fungsi polinomial adalah fungsi yang bentuknya:

f(x) = 4r,," + a,,-rxt-1 + "'+arx' + a1x + a0


di mana n adalah bilangan bulat positif dan dn , ?n-1 ,... ,?2 ,d1 ,?g adalah konstanta'
Secara
)ika a,, + 0,makabilanganbulatndisebutderajatdarifungsipolinomialf(x).
khusus fungsi konstan, fungsi linier, fungsi kuadrat, fungsi kubik dan fungsi kuartik,
berturut-turut merupakan fungsi polinomial derajat nol, derajat satu, derajat dua,
derajat tiga, dan derajat emPat.

Fungsi Konstan
Fungsi f(x) = a di mana a adalah konstanta disebut fungsi konstan, misalnya:
f(x) = -4 atau f(x) = 10 atau selainnya
Pada fungsi konstan f(x) = a,berapa pun input x yanS dimasukkan maka hasiinya
tetapa.Misalnya,untukfungsikonstanf(x)=lgdalamdomain|-2,1,3),makaf(-2)=
f(3) = i13,6; = ...= f(13) = 10.
Grafikfungsikonstanf(x)=nadalahgarislurusyangsejajardengansumbuxdan
memotong sumbu y di titik y = a. Jadi, untuk f(x) = 10 maka grafiknya seperti pada
gambar 2.7

Gambar 2.7
Fungsi Linier
Fungsi polinomial derajat satu disebut fungsi linier. Bentuk fungsi linier adalah:
f(x)=alx+ao
di mana ao dan a, konstanta. Boleh juga ditulis f(x) = ax + b di mana a dan b adalah
konstanta. Grafik fungsi linier adalah sebuah garis lurus yang memotong sumbu x di
titik x = -38- dan memotong sumbu y di titik y = oo.
Contoh 6: Gambarkan sketsa grafik fungsi linier y = f(x) = 2x- 4l

Penyelesaian:
Di sini = -4 dan a, = 2. Untuk menggambar grafiknya, kita tentukan dulu
do
koordinat titik potong fungsi ini pada sumbu x dan sumbu y. Grafik fungsi linier ini
memotong sumbu x di titik +,- = I = 2.ladi,koordinat titik potong di sumbu x
\Z
adalah (2,0). Titik potong dengan sumbu y adalah di y = do= -4. Jadi, koordinat titik
potong di sumbu y adalah (0, -4).Kemudian tarik garis lurus yang melewati kedua
titik ini. Hasilnya pada gambar 2.8:

Gambar 2.8

Fungsi linier termasuk jenis fungsi yang sederhana, namun kesederhanaannya


justru menjadi alat ampuh dalam pemodelan matematik. Sangat banyak kasus
alamiah yang pemodelan matematiknya dihampiri dengan baik oleh fungsi linier.
Kelak, diakhir bab ini, kita akan membahas lebih lanjut mengenai fungsi linier.
I
Fungsi Kuadrat \,
Fungsi polinomial derajat dua disebut fungsi kuadrat. Bentuk fungsi kuadrat
adalah:
f(x)= a2x2+&1x*&6
di mana ao, a, dan a, adalah konstanta. Boleh juga ditulis f(x) = axz +bx + c di mana
a, b dan c adalah konstanta. Grafik fungsi kuadrat adalah sebuah kurva parabola
terbuka ke atas (jika a, > 0) atau terbuka ke bawah (jika a, < 0) seperti gambar 2.9
3r'0 3r' 0

Gambar 2.9

Gambar 2.10 a dan b menampilkan grafik persamaan kuadrat f(x) = x2 - 3x dan


f(x) = 1 - * yang terbuka ke atas dan terbuka ke bawah. Grafik fungsi kuadrat
memiliki " satlt belokan" .

4l

3l

2l

.,I

Gambar 2.10.a f (x) - x2 - 3x Gambar 2.10.b t(x) = 7 -,x2 ,

.: t' -t'i

Fungsi Kubik
Fungsi polinomial derajat tiga disebut fungsi kubik. Bentuk fungsi kubik
adalah:
f(x) = arva + arx'+ a1x + ao
di mana a's, dy a, dan a, adalah konstanta. Boleh juga ditulis f(x) = axz + bxz + cx + d
di mana a,b, c dan d adalah konstanta. Grafik fungsi kubik memiliki paling banyak
"duabelokan" .Misalnya grafik fungsi f(x) = 13 - 2x2 - 5x + 6 seperti pada gambar
2.11
15

-5 belokan pertama

-10
I

-15 I

-2011
belokan kedua

,q! -1

Gambar 2.11 Fungsi kubik dengan dua belokan pada kurvanya

Sementara grafik fungsi polinomial derajat empat yang disebut fungsi kuartik
memiliki paling banyak tigabelokanpadakurvanya. Misalnya grafik fungsi kuartik:
f(x) = 1a + 3x3 - 13xz -14x+24
memiliki tigabuahbelokan pada kurvanya seperti pada gambar 2.12:

Gambar 2.12 Gratik fungsi kuartik dengan tiga belokan pada kurvanya

Fungsi Komposisi
Terkadang kita mempunyai sebuah fungsi pertama f(x), di mana fungsi f(x) ini
digunakan sebagai variabel bebas (input) dari fungsi kedua, misalnya fungsi g(x),
sehingga kita menulis fungsi kedua g(x) sebagai g[f(x)]. Notasi g[f(x)] artinya f(x)
adalah variabel bebas dari fungsi g. Hal sebaliknya juga dapat terjadi yaitu f tg(x)l di
mana fungsi g(x) menjadi variabel bebas dari f. Inilah yang dimaksud dengan fungsi
komposisi.
Fungsi komposisi yang dinyatakan dengan notasi f o g didefinisikan oleh:
(f'gX*)=flg(x)I
Notasi f . g dibac a "f ilari fungsi g"
Sebaliknya, fungsi komposisi yang dinyatakan dengan notasi g o f didefinisikan
oleh:
(g"fXx)=g[f(x)l
Notasi I' f dibaca "g dari fungsi f'
Contoh 7: Jlkaf(x)= x2+2x+5dang(x)= Jx, tentukanlahf og dan g of

Penyelesaian:
f " g didefinisikan oleh f[g(*)] sehingga:
flg(x)l = f(Ji) = (J* )' + 2( J* ) * 5 = x + zJi + 5
g . f didefinisikan oleh g[f(x)] sehingga:

glf(x)l = Blx'+ 2x + 5l = x2 +2x+5

ContohS:Jikaf(x)=2*-5 dang(x)=10x2+ 3x -e', tentukanlahf oB dangol


Penyelesaian:
f og didefinisikan oleh f[g(*)] sehingga:
ftg(")l =f[10x2+ 3x -e.] = 2(10x2+ 3x -e')- 5 = 2Ox2 +6x-2e.-5
g " f didefinisikan oleh gtf(x)] sehingga:
g[f(x)] = gl2x-51 = 10(2x-5)'? + 3(2x-5)-s(2x-5) = 40x2 -194x- g(zx-s) '+ fJ$

Contoh 9: Aplikasi Fungsi Komposisi


Polusi udara merupakan masalah bagi kebanyakan daerah metropolitan. Mi-
salkan sebuah penelitian yang dilakukan di suatu kota metropolitan memberi
indikasi bahwa pada saat jumlah penduduk kota adalah p, maka rata-rata kadar
karbon monoksida per hari diberikan oleh formula:

L(p) = 0.7 E 4 (dalam p.p.m) ... (1)


Penelitiankeduamemperkirakanbahwapadattahundarisekarang, jumlahpenduduk
p pada kota tersebut merupakan fungsi waktu t yang didefinisikan oleh:
p(t) = 0.02t3 + 1 (dalam ratusan ribu orang) ... (2)
]ika diasumsikan bahwa kedua formula tersebut adalah benar, berapakah kadar
polusi udara pada saat 4 tahun ke depan?
Penyelesaian:
Perhatikan kembali formula (1) dan formula (2). Pada Formula (1), L adalah
variabel kadar polusi udara yang dipengaruhi oleh variabel p (jumlah penduduk).
Melihat formula (2), p bukan variabel tunggal, namun ia masih dipengaruhi oleh
variabel waktu t. Jadi formula (1) yang mengandung variabel p masih terkait dengan
formula (2) di mana p pada formula (2) merupakan fungsi waktu t. Keadaan ini
adalah salah satu contoh dari kasus fungsi komposit, /aitu L o p.
Kadar polusi udara adalah L(p) = 0.7 E +3 di mana p(t) = 0.02t3 + 1. Oleh
karena itu, kadar polusi udara pada waktu t merupakan fungsi komposit L o p yang
diberikan oleh:

(L. pXt) = Llp(t)l = L[0.02f + 1] = 9.97 (0.02t3 +1)2 +3

Sedangkan untuk t = 4, maka (L. p)(a) = 0.07J(0.02(4)3 +1)2 +3 = 2.00 p.p.m


Cara Singkat. Cara lain yang lebih singkat adalah sebagai berikut.
Ini adalah kasus fungsi komposit (L.p)(t) = L[p(t)]. Pada saat t = 4,maka:

P(0 = P@) = 0,02(4)3 + 1 = 2,28.


rtp(a)l = 0.7 tfr28' *3 = 2,oo43p.p.m.
Hasil ini cukup dekat dengan jawaban sebelumnya.

Fungsi Invers
Pertimbangkan fungsi f(x). Anggaplah f ini menerima input x dan kemudian
menghasilkan output f(x). Sekarang anggap pula output f(x) ini dibuat menjadi input
fungsi g(x), dan output g(x) ini kembali ke x, yakni:
g[f(x)] = a
Kita dapat memandang g(x) sebagai proses (pekerjaan) balikan dari f(x). Pada
situasi seperti ini fungsi g(x) disebut sebagai invers dari f dan ditulis sebagai f -'(*) .
Karena f-'(*) adalah pekerjaan balikan dari f(x) maka dapat ditulis menjadi:
f1f 11x;; = f-',(f(x)) = x
Cambar 2.L3 mengilustrasikan situasi ini.

s(f(x)) = x

Gambar 2.13

. i: .,j
lftqgs, 3s l'l i ::
''i:t;r:-':
:',:.1.: , , l:, :
.- r. ::.:Fi:**rr.r
Contoh 10: ]ika f(x) = 7*,periksalah bahwa invers dari fungsi f ini adalah f-l1x; = x
1
Penyelesaian:
Fungsi f menerima input x dan menghasilkan outpr.tt 7x. Dafi sini kita anggap
fungsi invers f-l menerima input 7x danmenghasilk an otiput x. Ini dapat ditulis
f-l17x7 = Y

Sekarang kita perkenalkan variabel baruz di mana


z =7x
,Z
makax= -
7
sehingga f-l12x; = x dapat ditulis menjadi:

f-|(r)=*- Z
7
Jadi, f-l (z) =

lika inpti-.f-l
f-l(x) = 1.
7
x
Hasil ini telah memperlihatkan bahwa invers dari fungsi f(x) = 71 adalah f-l1x; = .
7
Contoh 11: Iika f(x) = 3x - 5 tentukanlah f-1(x).

Penyelesaian:
Fungsi f menerima inpttt x dan menghasilkan output 3x - 5. Jadi ketika fungsi
invers f-l menerima input 3x - 5 maka ia akan menghasilkan output x. Artinya
adalah:

f -1 13x - 5) = x ..... (i)


Kembali kita perkenalkan variabel baru z = 3x - 5, maka
z+5
J

sehingga (i) menjadi:

f-l(z\-*-ZE. o
J

Jadi, f-r (r) = *...(ii). lnput d.arifungsi invers f-l pada (ii) adatah z. Sekarang
J
gantilah z dengai x. Akhirnya fungsi invers f-l pada (ii) menjadi:

f-l(*) = " 1 5 . Inilahfungsi inversnya.


J
Penting untuk diingat bahwa tidak semua fungsi mempunyai invers. Misalnya
fungsi:
f(x) = 1z dalam selang -oo < x < oo

Fungsi ini memiliki aturan 'kuadratkan input'. Karena nilai positif dan nilai
negatif x dalam selang (-@,@ ) akan tetap menghasilkan output x2 yang sama, maka
aturan invers diberikan oleh 'ambil plus atau minus akar kuadrat input'. Karena
aturan ini adalah pemetaan dari satu-ke-banyak (one-to-many), maka pemetaan
seperti ini jelas bukan fungsi. Sebab yang dinamakan fungsi itu adalah pemetaan
dari satu-ke-satu (one-to-one). Jadi, fungsi f(x) = x2 dalam selang (-oo,oo ) dikatakan
tidak mempunyai invers. Jelaslah bahwa tidak semua fungsi memiliki fungsi invers.
Namun, jika kita pandang kembali fungsi f(x) = az, tetapi dengan mengambil domain
x2 0, maka fungsi ini mempunyai invers, karena ia merupakan pemetaan dari satu-ke-
satu. Fungsi inversnya adalah f*'(*) diberikan oleh: f-I (x) = + J*

Kita hanya mengambil bagian positif dari akar di atas karena domain x3 0.

Jelaslah bahwa f-l1f1x;; = f-l(x') = x di mana x, adalah bagian positif dari akar x2.

Uji Garis Horisontal


Mirip seperti uji garis vertikal untuk menguji apakah sebuah kurva merupakan
grafik fungsi, maka untuk menguji apakah sebuah fungsi f(x) mempunyai invers
f-t(*), kita dapat melakukannya dengan cara yang hampir sama, yakni dengan uji
garis horisontal.
Uji Garis Horisontal
Fungsif(x) mempunyai inaers f-t(*) jika danhanya jika sebuah garishorisontal memotong
grat'ikf(x) tepat di satu titik.

Perhatikan contoh berikut.

Contoh 12: Grafik fungsi f(x) = x2 dalam domain (-*,* ) seperti diperlihatkan oleh
gambar 2.14. U)i garis horizontal memotong grafik f(x) = x2 di dua titik (lebih dari
satu titik). Oleh karena itu, fungsi f(x) = x2 dalam domain (-*,*) tidak memiliki
invers.
garis horizontal memotong grafik dua titik

/\

Contoh L3: Grafik fungsi f(x) = x2 dalam domain [0,-) seperti diperlihatkan
oleh gambar 2.15. Uji garis horizontal memotong grafik f(x) = x2 di satu titik. Oleh
karena itu, fungsi f(x) = 1z dalam domain [0,m ) memiliki invers.

nI
garis horizontal memotong grafik
'f satu titik

:l
.f
-l \

-3 0.5 1 1.5 2.5

Gambar 2.75

Grafik Fungsi Invers f-1

Kita akan melihat bagaimana sifat grafik fungsi f(x) dari grafik fungsi invers
f-'(^) . Jika (a, b) adalah sebuah titik yang teletak pada grafik f(x), maka b = f(a) dan
a = f-l (b) sehingga titik (b, a) akan terletak pada grafik invers f-'(*) . Kita melihat
bahwa kedua titik ini, yakni (a, b) dan (b, a) adalah "saling bayangan" jika dicerminkan
(direfleksikan) terhadap garis y = x. Ini berarti bahwa grafik f(x) dan f-'(lr) saling
simetri terhadap garis y = x. Gamb ar 2.16 mengilustrasikan sifat simetri f(x) terhadap
f-'(*) pada pencerminan terhadap garis y = 1
Gambar 2.16

Teknik Menggambarkan Grafik f-1

Jika f-l ada, maka grafiknya dapat digambarkan dengan mencerminkan grafik
fungsi f terhadap garis y = a.

Fungsi Trigonometri
Pada bab 1 telah dibahas beberapa materi dasar trigonometri. Kini kita bahas
sekilas tentang fungsi trigonometri. Fungsi trigonometri adalah fungsi yang variabel
bebasnya melibatkan operator-operator trigonometri, seperti sinus, cosinus, tangen,
cotangen, secan, dan cosecan. lnput pada fungsi trigonometri adalah sudut (dalam
derajat atau radian) dan outpuf-nya adalah bilangan real. Berikut ini beberapa fungsi
trigonometri dasar:
a. f(x) = sin x b. f(x) = cos r c. f(x) = tg x
sin x dan cos r adalah dua fungsi trigonometri dasar di mana kombinasi keduanya
menghasilkan fungsi trigonometri lainnya, seperti tg x, cotg N, sec x dan cosec r.

Nilai Fungsi Trigonometri


Jikaf(x)adalahfungsitrigonometri,makanilaif(x) diperolehdenganmemasukkan
x ke dalam fungsinya.

Contoh 14: Jika f(x) = si1-, 2x + cos x maka untuk x = nilai f(x) menjadi:
X
f(t)=sin2ft+cosf, =sinf +cosf, =r*1 '[i =7,70711
2
Penting untuk diingat, jika sudut x dinyatakan dalam derajat, maka suku-suku dalam
variabel x pada fungsi f(x) yang tidak memiliki operator trigonometri (sin, cos dan
selainnya) harus dihitung dalam satuan radian, misalnya seperti contoh berikut.

Contoh 1,5: Tentukan nilai dari f(x) =2x+ x2 + sin 2r + cos x untukx = 450.
Penyelesaian:
Di sini x = 450 dinyatakan dalam derajat (bukan dalam radian). Fungsi f (x) memiliki
dua suku yang tidak mengandung operator trigonometri, yakni suku 2x dan x2. jika
kita masukkan langsung x = 450 ke dalam f(x) = 2v + x2 + sin2x + cos r, masalah tidak
muncul di suku ketiga dan keempat : sin 2(450) + cos 450. Tetapi masalah muncul di
suku pertama dan kedua : 2x dan x2. Jika kita masukkan langsung x = 450 pada suku
pertama dan kedua, hasilnya menjadi : 2(450) + (450)'z = 900 + 202500. Tentunya besaran
202500 membingungkan. Dengan substitusi x = 450 menghasilkan:

f(x) = 21 + x2 + sin 2x + cos.1,

f(x) = 960 + 202500 + sin 900 + cos 450

f(x) = ggtr + 2025oo * t *!Ji .


2

Kita tentu dibuat bingung oleh satuan "derajat-derajat"pada 2025 dan jumlah
keempat suku ini tidak mungkin dilebur manjadi satu. Artinya, mem.asukkan
langsung sudut derajat akan mengacaukan proses aritmatik, sehingga nilai fungsi
tidak dapat diperoleh. Masalah ini diatasi dengan terlebih dahulu mengonversisudut
derajnt menjadi sudut radian. Setelah konversi derajat ke radian selesai, maka proses
substitusi nilai x ke dalam fungsi f(x) dapat dilakukan. Untuk soal ini, ubah dahulu x
= 450 ke dalam radian dengan formula:
0 dalamderajat _ x dalamradian

!adi,
180 n

x=450 =! radian

Sekarang masukkan x = f radian ke dalam f(x) :

f(x) = 2x + x2+ sin 2x + cos x

(,) = 2(t)*(t)' + sm z(i)+ cosf


*2
f$)= 1+.o, n ldenganr=3,\4)
;*T*sin
f(x) = 1,57 + 2,4649 + 1+ 0,707 = 3,89385

Untuk lebih aman bekerja dengan sudut, sebaiknya satuan yang digunakan adalah
radian, dan lazimnya dalam kalkulus, pembahasan yang menyangkut trigonometri
dan sudut lebih banyak menggunakan satuan radian daripada derajat.
Grafik Fungsi Trigonometri
Berikut ini kita tampilkan grafik sin x dan cos r dalam selang l0,2nl

grafik f(x) = sin x grafik f(x) = cos x

Gambar 2.17

Bagaimana kita membuat sketsa grafik trigonometri ini? Perhatikan bagaimana


kita membangun sketsa grafik sin x dalam selang 10,2P1t.
Pertama: ambil beberapa nilai x dalam selang l0,2pl untuk mendapatkan nilai fungsi
y = f(x) = sin x Akibatnya, kita akan mendapat beberapa pasang koordinat (x, y),
seperti dalam kolom 4pada tabel berikut.
-0 x radian Y=stnx koordinat (x, y)
0 0 =0 0 (0,0)

30 n/ 6 = 0,5236 0,5 (0,5236,0,5)


60 n/3 = 1.,0472 0,866 (1,0472 ,0,866)

90 n/2 = 1,5708 1 (1,5708 ,1)


120 2n/3 = 2,0944 0,866 (2,0944,0,866)
150 5n/ 6 = 2,6179 0,5 (2,6179,0,5)
180 n = 3,74 0 (3,r4,0)
210 7n/ 6 = 3,6652 -0,5 (3,6652 , -0,5)

240 4n/3 = 4,1.888 -0,866 (4,1888 , -0,866)

270 3n/2 = 4,7124 1 (4,7124 , -1.)

300 5n/3 = 5,2359 -0,866 (5,2359 , -0,866)

330 11.n/ 6 = 5,7596 -0,5 (5,7596 , -0,5)

360 2n = 6,2832 0 (6,2832,0)

Kedua: Buat plot koordinat (r, , y) pada sistem koordinat kartesius. Hasil plotnya
seperti gambar 2.18 berikut.

[, IK
'{.:r:.!:.
ilr}iBail
i',. t i: rsi !:s;n
is,r';a 'i'imu!
Gambar 2.18 Plot lungsi sin x
2.18' Hasilnya
Ketiga.,tarik garis untuk menghubungkan semua titik pada gambar
tampak pada gambat 2.19.

456

Gambar 2-19. Grafik f(x) = sin x

Berikut ini adalah plot grafik f(x) = sin 2x d'alamselang lO'2nl dengan 61
titik data
(*, y).
Grafik gambar 2.20 ditampilkan dengan Mathematica dengan perintah:
f[ x_] ::Sin[ 2 x]
a:Tabfe[ { x, f[ x] ],{ x,0,2 Pi,Pi /30}) / /N;
ListPlot[ a, PlotStyle-+PointSize[ 0 . 02) ]
Berikut ini adalah grafik f(x) = 6er x . sin x2 dalam selang [0,2n]
PIot[ Sin[ x^2] Cos[ x] ,{x,0,2Pi})

Gambar 2.21 Grafik l(x) = cos x . sin x2

Jika selangnya diperluas menjadi 10, 4n), grafik gambar 2.21 menjadi seperti
gambar 2.22.

Gambar 2.22

Ketika selangnya diperluas menjadi [0, 8n] maka gelombang grafik ini akan
semakin padat seperti tampak pada gambar 2.23.

lit,,
i rll 'r

f 'rlllli

Gambar 2.23

Fungsi dengan Aturan Berbeda

Jenis fungsiyang telah kita bahas sejauh ini adalah fungsi-fungsi dengan satu
aturan yang sama yang didefinisikan dalam domainnya, seperti
a. f(x) = az + x3 dalam [a, b]
b. f(x) = sin x + cos 3r dalam [c, d] dan sebagainya.

Fungsi f(x) pada a memiliki satu aturan yang sama di dalam seluruh domainnya,
yakni i x2 + x3. Sementara fungsi f(x) pada b memiliki satu aturan yang sama: sin x +
cos 3r , ]ika grafik kedua fungsi ini tidak pernah terputus di dalam domainnya, maka
fungsi ini dikatakanfungsi kontinu dalam domainnya.
Terkadang kita dihadapkan pada fungsi dengan lebih dari satu aturan di dalam
domainnya. Misalnya:
l2x+1, ;-3
I
S x <0
f(x)=l x2+5;0<x<3
l1r0 ;3(x(8
Fungsi ini berada dalam selang [-3 , 8], tetapi memiliki tiga aturan berbeda dalam
tiap sub-selangnya:
aturan 1 : f(x) = 2x + 1 jika x berada dalam sub-selang [-3, 0)
aturan 2 : f(x) = x2 + 5 jika x berada dalam sub-selang [0, 3)
aturan 3 : f(x) = 10 jika x berada dalam sub-selang [3,8]
Fungsi seperti ini dinamakan fungsi dengan aturan berbe da.

Menentukan Nilai Fungsi dengan Aturan Berbeda


Pandang kembali fungsi

(2x+1 ;-3 < x <0


I

f(x)=lx2+5;0<x<3
l'

'1.10 ;3(xS8
Untuk menentukan nilai f(x) ketika x = a, p€rhatikan contoh berikut!

Contoh 16 : Tentukan f(3), f(-1), f(2), f(3), f(5), f(- ) dan f(9)

Penyelesaian:
f(-3) = 2(-3) + 1 = -5 (gunakan aturan 2x + lkarena x = -3 berada dalam [-3, 0))
f(-1) = 2(-1) + 1 = -1 (gunakan aturan 2x + 1, karena x = -3 berada dalam [-3, 0))
f(2) = (2)'z + 5 = 9 (gunakan aturan x2 + 5 karena x = 2 berada dalam [0, 3))
f(3) = 19 (gunakan aturan 10 karena x = 3 berada dalam [3,8])
f(5) = 19 (gunakan aturan 10 karena x = 3 berada dalam [3,8])
f(-4) dan f(9) tidak terdefinisi (tidak ada) karena nilai x berada diluar domain [-3, 8]
Grafik Fungsi dengan Aturan Berbeda
]ika fungsi f(x) pada contoh di atas digambarkan grafiknya, maka kita akan
memiliki tiga buah jejak grafik yang berbeda satu dari lainnya di dalam domain
[-3, 8]. Dalam subselang [-3,0) jejak grafik berupa garis lurus, karena aturan 2x + 1
adalah fungsi linier dengan grafik berupa garis lurus. Dalam subselang [0, 3) jejak
grafik berupa parabola kuadrat dan dalam subselang [3, 8] jejak grafik berupa garis
horisontal f(x) = 10. Sketsa grafik fungsi f(x) diperlihatkan oleh gambar 2.24. Pada
gambar 2.24 kita gunakan noktah o disalah satu ujung grafik untuk menyatakan
bahwa x meliputi ujung selang tersebut, dan noktah o di salah satu ujung grafik
untuk menyatakan bahwa r tidak meliputi ujung selang dimaksud. Grafik fungsi ini
tidak kontinu menyeluruh dalam selang [-3, 8] karena ia terputus di x = 0 dan di x
= 3, namun ia kontinu dalam tiap-tiap sub-selangnya. Grafik seperti ini dinamakan
sebagai grafik kontinu sep otong- sep ot ong (piecewise continuous).
Grafik f(x) dapat juga digambarkan dengan Mathematica. Programnya sebagai
berikut, dan hasilnya diperlihatkan pada gambar 2.25.
a=P1otl2x+L, {x, -3, 0} ] ;b=PlotIx^2*5, {x,0,317 ;c=Plot[10, {x,3,
I ) I ; show [a,b, c] .

Gambar 2.24
Gambar 2.25

2x+1 ;-3 < x <0


|
f(x)=lx2 + 5 ;0 < x <3
lLto
;3<x<8
Contoh sederhana dari fungsi dengan aturan berbeda adalah grade nllai mahasiwa
(A,8, c, D, E) yang ditentukan dalam selang x antara 0 hingga 100 sebagai berikut.
A ;80<x<100
B ;65<x<80
f(x)= C ;55(x<65
D ;45<x<55
fE ;0 <x <45
Fungsi ini menyatakan jika nilai ujian akhir berada dalam selang [80, 100] maka
grade nilai mahasiswa = A, dan seterusnya. Masih banyak contoh fungsi dengan
aturan berbeda, seperti biaya pengiriman paket pada perusahaan ekspedisi/kargo
yang harganya berbeda-beda menurut berat paket yang akan dikirim ataupun jarak
perjalanan.

Contoh 16: Tentukan aturan fungsi yang menghasilkan grafik berikut!

= f(x) y = f(x)

t
ol

t/
t/ 26
Gambar 2.26a Gambar 2.26b
Penyelesaian:
Jejak grafik dalam selang 10,2) adalah garis lurus yang melewati dua titik (0, 0)
dan (2,4) yang persamaannya f(x) = 2x. Sedangkan jejak grafik dalam selang [2, 6l
adalah garis horisontal yang persamaannya f(x) = 4. Oleh karena itu, aturan fungsi
dalam selang [0,6] adalah:

l.z* ;0<x<2
f(x) = I
14 ;2axa6
Jejak grafik dalam selang [0, 1) adalah garis lurus yang persamaannya f(x) = -x +
2. Sedangkan jejak grafik dalam selang [1, 8] adalah garis lurus yang persamaannya

f(x) = -1. . 9. Oteh karena itu, aturan fungsi dalam selang [0,8] adalah:
77
[-r*2 ;0<x<1
f(x)=l 1 15
l+-i"*, ;1(xs8
Fungsi Genap dan Fungsi Ganjil
Sebuah fungsi terkadang dapat dikelompokkan sebagaifungsi genap ataufungsi
ganjiljika ia memenuhi sifat-sifat fungsi genap atau fungsi ganjil.
Fungsi Genap: Sebuah fungsi f(x) dikatakan fungsi genap jika memenuhi f(-x) = f(x)
untuk semua nilai x dalam daerah asalnya.
Fungsi Ganjil: Sebuah fungsi f(x) dikatakan fungsi ganjil jika memenuhi f(-x) = -f(x)
untuk semua nilai x dalam daerah asalnya.

Contoh 17: Tentukan apakah fungsi-fungsi f(x) berikut termasuk kelompok fungsi
genap, fungsi ganjil atau tidak keduany
a. f(x) = 4x3 - 3x b. f(x) = 1a - *z c. f(x) = az

Penyelesaian:
Kita akan menggunakan* rumus definisi fungsi genap dan fungsi ganjil, yaitu jika
f(x) memenuhi:
. f(-x) = f(x) maka f(x) adalah fungsi genap
. f(-x) = -f(x) maka f(x) adalah fungsi ganjil
Jadi:
a. Jika f(x) = 4x3 - 3x maka:
f(-x) = 4(-x)'-3(-x) = 4x3 + 3x = - (4xu-3x) = -i1*;
kesimpulannya,karena fungsi f(x) = 4x3 - 3x memenuhi hubungan f(-x) = -11r;,
maka fungsi f(x) = 41a - 3x adalah fungsi ganjil.
'3. Jika f(x) = x3 - x2 maka:
f(-x) = (-x)'-(-x)' =-x3- (x') = -x3- x2 =-(x3 +x2).
Kesimpulannya adalah, karena dari hasil di atas f(-x) * - f(x) dan juga f(-x) + (x)
maka fungsi f(x) = 1a - x2 tidak termasuk fungsi genap maupun fungsi ganjil.
.. Kita uji sebagai berikut.
f(-x)=(-x)'= x2 = f(x).
Karena f(-x) = f(x) maka f(x) = x2 adalah fungsi genap.

Contoh 18: Tunjukkan apakah ff.l=J*t7 fungsi genap atau ganjil.

Penyelesaian:

f(-x)=
(-x)3 + 3(-x) -x3 -3x x3 +3x a/-.\
= ^\'\/
(-r)n - 3(-x)2 +4 xo -3x2 +4 xn -3xz +4
Karena dari hasil uji diperoleh f(-x)=- f(x), maka f1*;=-& t- merupakan
I
fungsi ganjil. x* -3x'+4
-

Contoh 19: Apakah fungsi f(x) = az + 2x + 5 fungsi genap atau ganjil ?

Penyelesaian:
Ini adalah satu contoh di mana fungsi ini bukan fungsi genap dan bukan juga
fungsi ganjil. Artinya, pengelompokan fungsi tidak harus bersifat dikotomi (jika
tidak fungsi genap maka dia harus fungsi ganjll, atau sebalik yr, tidak demikian !).
Mari kita uji.
f(-x) = (-x), + 2(-x) + 5 = x2 -2x +5 = -(x, + 2x -5)
Dua bagian terakhir, yakni x2 - 2x + 5 = -(x' + 2x - 5) bukan f(x) dan bukan pula
-f(x). Artinya pengujian kita tidak sampai pada keadaan f(-x) = f(x) atau keadaan
f(-x)= -f(x). Jadi, fungsi ini bukan fungsi genap dan bukan pula fungsi ganjil.

Mengamati Grafik Fungsi Genap dan Fungsi Ganiil


Grafik Fungsi Genap
Secara visual, fungsi genap dapat diketahui dengan melihat grafiknya yang
simetri (setangkup atau simetri lipat) terhadap sumbu y. Jika sumbu y dianggap se-
bagai cermin, maka jejak kurva untuk x > 0 akan memiliki bayangan pada wilayah di
mana x < 0. Gambar 2.27.a - d menampilkan grafik fungsi genap. Kita melihat jejak
grafik di x> 0 setangkup dengan jejaknya di x < 0 pada pencerminan terhadap sumbu
y. Inilah ciri-ciri grafik fungsi genap.

Gambar 2.27.a Gratik f(x) = f - x2 Gambar 2.27b Grafik f(x) = cos x

Gambar 2.27.c Grafik l(x) = x2 cos x2 Gambar 2.27.d Gratik f(x) = sech x

Fungsi Ganjil

Secara visual, fungsi ganjil dapat diketahui dengan melihat grafiknya yang
simetri (setangkup) terhadap titik asal. Gambar 2.28.a- d menampilkan grafik fungsi
ganjil. Kita melihat jejak grafik di x > 0 setangkup dengan jejaknya di x < 0 pada
pencerminan terhadap titik asal. Inilah ciri-ciri grafik fungsi ganjil.

Gambar 2.28.a Gambar 2.28.b


Gralik f (x) = x3 sech x2 Gralik t(x) = stn x dalam [ -n,n ]
Gambar 2.28.c Grafik t(x) =196 y Gambar 2.28.d Gralik f(x) = llx

Setelah kita melihat grafik fungsi genap dan fungsi ganjil, berikut ini perhatikan
pula dua contoh grafik yang bukan fungsi genap dan bukan fungsi ganjil, seperti
pada gambar 2.29. Keduanya tidak simetri terhadap sumbu y dan terhadap titik
asal.

Gambar 2.29.a Gambar 2.29.b


Gratik tungsi l(x) = x'? d Gratik lungsi f(x) = x2 + 2x - 3

F. LEBIH LANJUT DENGAN PERSAMAAN LINIER


Model matematika dari sebuah persamaan linier dua variabel x dan y adalah
y = mx + c. Bentuk grafiknya adalah garis lurus, sehingga persamaan linier dua
variabel disebut juga sebagai persamaan garis lurus. Koefisien m pada persamaan
ini dinamakan gradien (kemiringan) dan c adalah ordinat titik potong garis tersebut
dengan sumbu-y. Ciri utama persamaan linier adalah dia berubah dengan laju yang
tetap sebesar m. Misalnya, persamaan y =2x-3 adalah persamaan linier (garis lurus)
dengan rasio perubahan y terhadap x bernilai tetap, yakni 2 (karena persamaan ini
memiliki gradien m = 2).Grafik persamaan ini adalah:
Gambar 2.30

Sebuah garis lurus yang melewati titik P(x, , y,) dan Q(x, , yr) daPat ditentukan
persamaannya dengan rumus: .:.

Y -Yt= in(x - x,) "' (i)


di mana:

.rr=
A'
Ax -Yz-Yr
Xz-Xr
adalah gradien garis tersebut.

Contoh 20: Tentukan persamaan garis lurus yang melewati titik:


a. (2 , 3) dan (-3
,7)
b. C5,5) dan titik asal.
Penyelesaian:
a. Menggunakan rumus (i) kita peroleh Xr=2, Yr=3 dan x, = -3, Yr= 7' Sehingga

,n= 7-3 --4


persamaan garis ini adalah:
-3-2 5
Jadi,
y_yt= m(x_xr)
A
y -3 = -; (x-2).

Y=-i'* t23
Di sini kita bebas menentukan manapun dari pasangan titik-titik tersebut yang
menjadi (x, , y1) atau (xr,yr).
b. Titik asal adalah titik pangkar koordinat (0, 0). Di sini gradien * = 5
_- _0- = _1
Jadi, Persamaan garis ini adalah: -5- 0

y-yt= m(x-xr)
y-0 =_1(x_0).
Y=-x
Kemiringan sebuah garis lurus
Diberikan sebuah garis lurus seperti gambar dibawah. Titik p(x,, yr) dan
e(x*yr)
terletak pada garis tersebut.

Gambar 2.31

Kemiringan m garis tersebut didefinisikan oleh: :

*=9Ax _yz-yr...(ii)
Xz_Xr
di mana A (dibaca'delta') adalah simbol yang menyatakan perubahan.
Dari rumus kemiringan garis lurus pada (i) dan gambar 2.31 di atas, dapat
dikatakan bahwa kemiringan atau gradien garis lurus adalah sama dengan:
o hasil bagi perubahan dalam arah vertikal (arah sumbu y, yaitu ay terhadap
perubahan dalam arah horizontal (arah sumbu x, yaitu Ax);
)
o nilai tangensial dari sudut 0, di mana 0 adalah sudut yang dibentuk oleh
garis
tersebut dengan sumbu-x arah positif.

]adi, nilai gradien sebuah garis lurus dapat dihitung dengan tiga cara:
r jika kita mengetahui koordinat dua buah titik yang terletak pada garis lurus
tersebut, maka kita dapat menggunakan rumus (i);

' menghitung hasil bagi panjang perubahan dalam arah y dan arah x (gunakan
penggaris);

' Menghitung nilai tangen dari sudut yang dibentuk oleh garis tersebut
dengan
sumbu-x arah positif (garis horisontal) dan berlawanan dengan arah perputaran
jarum jam.

Contoh 21: Hitunglah gradien (kemiringan) garis lurus yang melewati titik-titik:
(a) (-2 ,4) dan (9 , -3) (b) (2 ,6) dan (5 , 7)

Penyelesaian:
Karena kita mengetahui dua buah titik yang terletak pada garis lurus tersebut,
maka, rumus (1.8.1) dapat digunakan:
Av **_*,
m=ft= v"-vr 4-(-g) '7
(a) =7 =
= X=h=-;. |adi, gradien garis tersebut adalah
negatif (-7 /tl) karena garis tersebut'miring ke arah kiri'

(b) m = 1y = Yz-Yt = T+ = 1 .1rdi, gradien garis tersebut positif karena garis


Ax Xz -Xr 5-2 3
itu'miring ke arah kanan'.

Contoh 22: Hitunglah kemiringan garis lurus yang diberikan pada gambar di bawah
ini:

Gambar 2.32.a Gambar 2.32.b

Penyelesaian:
titik koordinat A dan B pada garis tersebut, sehingga
Pada soal ini tidak diberikan
rumus (i) tidak dapat digunakan.Jadi, di sini kita dapat menggunakan cara dua dan
cara tiga, yaitu dengan menggunakan penggaris atau busur (untuk menghitung nilai
tangen sudut 0 dan cx, ).
(a) Kita gunakan penggaris untuk mengukur besar perubahan dalam arah sumbu-x
dan dalam arah sumbu y.

+4
Gambar 2.33
Perubahan dalam arah sumbu x = Ax = + 4 (diberi tanda positif karena
perubahannya ke arah sumbu x positif/arah kanan).
Perubahan dalam arah sumbu y = Ay = * 3 (diberi tanda positif karena per-
ubahannya ke arah sumbu y positif/arah atas). Jadi, nilai kemiringan m untuk
garis ini adalah:
9 =0,7s
-= 4
jika kita gunakan busur untuk mengukur besar sudut 0, kita peroleh 0 = 300,
Sehingga nilai kemiringan m adalah:
m=tB0= tB30o = 0,75
(b) Kita gunakan busur untuk menghitung sudut yakni sudut yang dibentuk oleh
cx,
garis itu dengan sumbu x arah positif dan berlawanan dengan arah perputaran
jarum jam.

Sudut
/l---\
V-\
B ) o,n,n
Y1 sudut ini

Gambar 2.34

Setelah diukur, misalnya, diperoleh sudut cr = 1500, sehingga m = tg 1500 = -0,578.

Kemiringan garis horizontal dan garis vertikal


Kemiringan m = 4I drri sebuah garis lurus horisontal (sejajar sumbu-x) adalah
Axa
nol, sebab nilai Ay = 0. Sehingga m - -L =0. Kemiringan
Ax-Ax
m= $ au.i sebuah garis

lurus yang vertikal (sejajar sumbu y) adalah'tak terdefinisi (tak terhingga), sebab nilai

Ax = 0 sehingga m = ?0 =oo. Jadi sebuah garis vertikal tidak memiliki kemiringan.

Garis sejaiar dan garis tegak lurus

Jika diberikan dua buah garis lurus dengan persamaan:


yr = ffirX + c,l dan yz= r:rt2x + cz

kita katakan bahwa:


. kedua garis tersebut saling sejaiar jika m, = m,
r kedua garis tersebut saling tegak lurus (ortogonal) jika m,.m, = -1

yl

//
($r -

m"= -1/g

Gambar 2.35.a. Gambar 2.35.b


Dua garis saling sejajar Dua garis saling tegak lurus

Contoh 23: Tentukan persamaan garis yang melalui titik (2, 3) dan sejajar dengan
garis.
2x-5v=1,0.

Penyelesaian:
)
Garis 2x-Sy = 10 dapat dinyatakan dalambentuk y = - 2. Garis inimemiliki
;"
kemiringan *,
= ?. Agar garis yang melewati titik (2,3) sejajar dengan garis 2x - 5y
= 10 maka kemiringan garis itu juga harus !, sehingga persamaan garis yang kita
cari adalah:

Y -Yr= m(x - xr) dengan Xr=2 dan y, = 3 dan *= ?


]adi:
y -3 = ?<*-rl
y = ?* + $ atau dalam bentuk lain: 2x - 5y = -11
Contoh 24: Tunjukkan bahwa garis 3x - 5y = 4 tegak lurus dengan garis 5x + 3y = 9

Penyelesaian:

Garis 3x- 5y = 4 dapatditulis dalambentuk y = 1x - +.Jadi, kemiringan garis


ini adalah -, = *. Garis 5x + 3y = 9 dapatditulis dalambentuk y = +x + 3. ]adi,
kemiringan garis ini adalah *,
?. Kedua garis ini akan saling tegak lurus jika
=
ffir.ffi2 = -1. Karena m1.m2 = ? f ?) = -\,maka terbuktibahwa kedua garis ini saling

tegak lurus.
Aplikasi Persamaan Linier
Banyak persoalan yang pemodelan matematikanya dinyatakan dalam bentuk
persamaan linier atau garis lurus. Berikut ini diberikan contoh

Contoh 25: Manajemen: Total penjualan sebuah perusahan kecil pada tahun kedua
sejak perusahaan itu mulai beroperasi adalah $ 27.000 dan total penjualan di tahun
kelima adalah $ 63.000. Jika diasumsikan bahwa data penjualan per tahun dapat
dihampiri oleh model linier (garis lurus), tentukan total penjualan perusahaan itu
pada tahun keempat dan tahun ketujuh!

Penyelesaian:
Misalkan t adalah variabel bebas yang menyatakan tahun dan y adalah variabel
tak-bebas yang menyatakan total penjualan pada tahun t. Kita mengasumsikan bahwa
data tersebut dapat dihampiri oleh model persamaan linier dengan persamaan:

Y=mt+b
di sini kita mempunyai dua titik (t, , y,) = (2 , 27 .000) dan (t, , y r) = (5 , 63.000), maka
nilai gradien m adalah:

63.000-27.000
m= = 12.000
5-2
kemudian gunakan rumus (1.8.2), (dengan mengganti x menjadi t) kita peroleh:
y-27.000=12.000(t-2)
y = 12.000t + 3.000 ...(.)

Persamaan (*) adalah persamaan linier yang menyatakan model matematik dari
total penjualan perusahaan itu pada tahun ke-t. Dengan menggunakan persamaan
ini, kita dapat memperkirakan (menduga) total penjualan di tahun keempat dan
ketujuh masing-masing adalah:
t= 4-+ y = 12.000 (a) + 3.000 = $ 51.000 (tahunke-4)
t =7 _+ y = 12.000 (7) + 3.000 = $ 87.000 (tahunke_7)

G. MENGGAMBAR GRAFIK FUNGSI DENGAN MATHEMATICA


Mathematica merupakan suatu sistem interaktif yang diciptakan oleh Wolfram
Researchyangmengintegrasikanfasilitaskomputasisimbolikdannumerik,visualisasi,
grafik dan bahasa pemrograman dalam suatu lingkungan yang mudah digunakan.
Di sini kita gunakan Mathematica un|uk menggambar beragam grafik fungsi.
Untuk sementara kita hanya menggunakan sintak program yang sederhana, yaitu:
Plot[fungsi, {x, xmin, xmaks}I. xmin dan xmax menyatakan domain yang
dipilih.

Contoh 25: Gambarlah grafik fungsi di bawah ini dengan Mathematica!


x
(a) y=x3-3x+1 (b) y=xJxi (c) y=:-
, Xr+l (d)
\-/ y=
t Xr+9
Penyelesaian:
a. Grafik Y = x3 - 3x + L pada gambar 2.36
Plot[x^3 - 3 x +L,{x,-3,3}l

Gambar 2.36

b. Grafik y = xlxi pada gamb ar 2.7


Plot[x Sqrt[x+2J, {x,-2,3}l

Gambar 2.37

a
1
c. Grafik y = -=
x-+l
pada gambar2.38

Plot[3/(xn2+1), {r-3,3}]
Gambar 2.38

d.
' -+-
Grafik y = pada gamb ar 2.39
x'+9 '
PlotIx/(x^2+9), {x,-3,3}]

Gambar 2.39

Berikut ini beberapa fungsi yang sering muncul dalam kalkulus dan bagaimana
bentuk grafik fungsi tersebut. Kita gunakan Mathematica dengan sintaks:
Plot[f(x), {x, a, b}, Gridlines->Automatic, Frame->True, Axesl-abel->yl
3

-1

-2

-3

v =X Y=x2
0.6
2.5
0.4
2
0.2
1.5

1
-0.2

-o.4

-0.6
y= lrl I=x3

1.75

1.5

1.25

0.75
0.5
0.25

Y= Jx Y=1/x

456

10

4
2

-1

Y=coshx
Y=sinhx

Y=ex

Gambar 2.40 Koleksi beberapa grafik lungsi


Latihan Bab 2

1. Tentukan domain dari fungsi-fungsi berikut ini!


a. f(x)=31-5 b. g(x)=2x-1.;x*-3 c. H(x)=
(2x-1)(x+3)
d. I(x) =
2-cosx
d. P(x) = e. f(x) =
(x-5)
2. Tentukan nilai fungsi berikut ini untuk harga x yang diberikan!
a. f(x) = 2t + 3 ; f(2), f(-1), f(0)
b. f(x) = 3x2 + 5x-2; f(0), f(2), f(a + h)
c' f(x) = x+1/x ; f(-1),f(1),f(2)
d. f(x) = (2x - L)-t rz ' f(1) , f(l / 2) , (13)

lz ; jikax <-5
e. f(x)=l x2 +1. ; jika-5 < x ( 5 ; f(-6), f(-5), f(5), f(6)

tfi ;jikax>5
3. ]ika f(x) = x2 + 2x, tentukanlah!
f(a+h) - f(a)
a. f(x') b. f(x2 + 4) c. f(-x) + f(x) dl
4. Misalkan total biaya (dalam dolar) untuk memproduksi q unit produk tertentu
diberikan oleh persamaan:
C(q) = q'- 30q'+ 400q + 500

a. Hitunglah besarnya biaya memproduksi 20 unit produk tersebut!


b. Hitunglah biaya untuk memproduksi unit ke-20 dari produk tersebut!
Diberikan grafik berikut, tentukan mana dari grafik tersebut yang merupakan
grafik fungsi I = f(x) dan mana yang bukan!
Untuk soal6 - 10 tentukan fungsi komposisi f " g dan g o 11

6. f(x) = 1z + 2 dan 8(x) = -3x


7. f(x)=sinx dan 8(x)=2-x2
8. f(x) = ../" dan g(x) = 12
9. f(r) = *-1 da.rg(x)= x+1
x+1 x-1

10. f(x) = I dan 8(x) = tan x


1

x
11. Hitunglah nilai dari (f " gX3) untuk soal6 - 8!

12. Hitunglah nilai dari (g " fX2) untuk soal9 - 11!

13. Klasifikasikan fungsi-fungsi berikut ini, apakah termasuk fungsi ganjil, fungsi
genap atau bukan keduanya!
a. f(x)=xa+2 b. f(x) = J1 c. f(x)=1s**
d. f(x) = e. f(x) = f. f(x)= lxl
(x3 + 5)2 (x3 + x)2

14. Jika f(x) = 3;. - 4, temukanlah inversnya, f{ jika ada!


15. ]ika f(x) = az + 5x - 9. Untuk nilai x berapakah sehingga f(2x) = f(3x) ?

16. Tentukan nilai dari f(x) = 2x + x2 + sin 2x + cos x untuk x = 4 (ingat untuk terlebih
dahulu mengubah mode kalkulator kepada mode RAD)!
17. Tentukan aturan fungsi yang menghasilkan grafik berikut, beserta domain
masing-masing fungsi!

y = f(x) y = f(x)

18. Tenfukan persamaan garis lurus yang melewati:


a. titik (-5 ,2) dan (3, -8) b. (-6 ,12) dan titik asal.
19. Hitunglah gradien (kemiringan) garis lurus yang melewati titik-titik:
(a) (-3 ,2) dan (1, ,2) (b) (1 ,2) dan (3,4)
20. Tentukan persamaan garis yang melalui titik (L,4) dan sejajar dengan garis
6x-2Y =$g'
21. Tunjukkan bahwa garis 3x - 5y = 4 tegak lurus dengan garis 5x + 3y = !!
22. Sebuah pabrik membeli mesin produksi dengan harga $20.000 dan dianggap
bahwa penyusutan harga mesin tersebut setelah 10 tahun merupakan fungsi
linier, dan harga mesin itu L0 tahun ke depan adalah $10.000.

a. Nyatakan harga mesin tersebut sebagai fungsi waktu t dan gambarkan


grafiknya!

b. Hitunglah harga mesin tersebut 4 tahun setelah dibeli!


illilllllllilillillrllltriiiiiiiiiiiitiririiril'lii.:.'.:'i'ir I rr 'r ' t H
,.:i:ir.iiir,i.:ri.il:r:il:lll]..ri,r.:..ii:,...,.4.'
r:|lr,lrilirlli:.:irrt::.r... rrr':,r'...,.r,i
r': ..i i r.,... .
I
l
.rlti..!.iiall'l .:. :.
I

UryHggy$gg*jll*.*riuj" :iii:] iii:

DN$$,i)sjiil\rr;ffi "'1r:
:

llllllllllllllllllillll1lllllllllllSllllllllllllrilillllllillilr(rllli!llilllllllllli;irllllliiilfii

BAB

LIMIT DAN KONITINUITAS

A. PENDAHUTUAN
Konsep limit fungsi merupakan fundamen yang mendasari kalkulus diferensial
dan integral. Definisi-definisi yang dibangun serta pembuktian teorema-teorema
dasar dalam kalkulus selalu menggunakan pendekatan limit. Itulah sebabnya me-
ngapa semua buku kalkulus menempatkan pembahasan tentang limit pada bab-bab
awal. Kita pun akan mengikuti tradisi tersebut. Mari kita mulai pembahasan tentang
limit.

B. LIMIT FUNGSI
Salah satu aspek penting pada kalkulus adalah menganalisis bagaimana nilai
suatu fungsi berubah ketika nilai input (variabel bebas) fungsi tersebut berubah.
Kalimat ini: "Analisis mengenai perubahan nilai fungsi ketika input fungsi itu bergerak
mendeknt semakin deknt tetapi tidak pernah sampni kepada nilai tertentlt A" , rrrerl)pakan
kalimat pengantar yang tepat untuk mengawali pembahasan tentang limit. Kita akan
memulai pembahasan limit dengan mengulang kembali ide tentang fungsi, karena
pembahasan limit akan terkait erat dengan fungsi. Kita telah mengetahui bahwa
sebuah fungsi dapat dinyatakan dalam tiga bentuk: persamaan, tabel nilai data ber-
pasangan dan grafik. Ketiga bentuk penyajian fungsi ini akan kita gunakan silih
berganti saat menjelaskan ide limit.
Jika diberikan sebuah fungsi:
f(x) = 4113
Kita tahu jika input (variabel bebas) x = 3 maka nilai fungsi f(x) = 15. Sekarang
jika dibuat nilai x terus berubah mendekat semakit dekat kepada 3 (tetapi x I 3).
Bagaimanakah pengaruhnya terhadap output fungsi f(x). Tabel nilai di bawah ini
memperlihatkan perubahan output f(x) = 41 + 3 ketika x bergerak menuju 3 dari arah
kiri (x < 3) dan dari arah kanan (x > 3).

V-arialel x bergerak rnerdekati 3 dari arah kanan VariaUel x bergerakmendet<ati 8.darj arah kanan

x 1 2 2.5 2.9 2.99 2.999...3.001 3.01 3.1 3.5 4 5

f(x) 7 11 13 14.6 14.96 14.996...15.004 15.04 15.4 17 19 23

Nilai tungsi f(x) bergarak mendekali 15 Nllai fuagsil(x) ber$erak mendskati 15

Dari tabel nilai di atas, kita lihat bahwa ketika x bergerak semakin dekat menuju
3, baik dari arah kiri maupun dari arah kanan, maka nilai f(x) akan semakin dekat
kepada 15. Jadi secara ringkas dikatakan:
"Ketika x mendekati 3, maka f(x) mendekati 15"
Kala "mendekati" merupakan kata kunci dalam memahami konsep limit. Oleh
sebab itu tanda panah "-->" setirl1 digunakan untuk menyatakan kata "mendekati",
Jadi pernyataan:
"Ketika xmendekati 3, maka f(x) = 4* + 3 mendekati15"
dapat ditulis menjadi:
ketika x-+3 maka 4x + 3 -+15
Angka 15 disebut sebagai limit dari f(x) = 4x + 3 ketika x mendekati 3. Kita dapat
meringkas pernyataan ini sebagai:
ltq (4x+3) = 15
Pernyataan
- lim (4x + 3) = 15 dibaca: "limit fungsi f(x) = 4x + 3 ketika x mendekati 3
x->3
adalah 15."
Di sini kita harus tetap menyadari bahwa x selamanya tidak akan pernah sama
dengan 3 karena simbol x-+3 tidak sama artinya dengan x = 3. Pada simbol x--+3
kita hanya boleh mengganti x dengan sebarang angka yang sangat dekat dengan
3 dari arah kiri (misalnya x = 2,99999999....) atau dari arah kanan (misalnya x =
3,0000000. ..1), tetapi bukan x = 3. Demikian juga dengan angka L5 yang merupakan
limit bagi fungsi f(x) = 4x + 3. Di sini f(x) = 4x + 3 tidak pernah sama dengan 15,
namun angka yang sangat dekat dengan 15 (misalny a 14,99999...atau 15,000.. .1).

Contoh 1: Tentukan nilai limit dari fungsi f(x)=x2 +4x-12


, ^ ketika x mendekati 2!
Penyelesaian:
Soal ini dapat ditulis menjadi:
,. x'+4x-12
lglt-2'
Kita akan menggunakan tabel nilai untuk mencari nilai limit dari fungsi
f(x)=x2 +4x-12 ketika x-+2. Hasilnya adalah sebagai berikut.
xr r*
x -) 2* dari arah kanan x -->2 dari arah kiri
x f(x) x f(x)

2,5 3,4 1,5 5,0


2,1 3,857142857 1,9 4,157894737
2,01 3,985074627 1,99 4,015075377
2,001 3,998500750 1,999 4,001500750
2,0001 3,999850007 1,9999 4,000150008
2,00001 3,999985000 1,99999 4,000015000

Dari sini tampak, ketika x mendekati2 dari arah kiri dan dari arah kanary maka

f(x) mendekati 4. Kita katakan limit X*l=#* ketika x-->2 adatah;.

Lalu bagaimanakah nilai fungs i t1x1=t!!x:12 ketika x = 2?


x" -2x
Jawabannya adalah: tak terdefinisi, sebab saat x = 2 maka f(x) = f(2) = 9. ,.rrrny,
adalah menjaga agar x +2.

C. LIMIT ARAH KIRI DAN LIMIT ARAH KANAN


Kita telah membahas simbol x-+a diartikan x mendekati a dari arah kiri dan dari
arah kanan. Untuk x bergerak menuju a dari arah kiri, dinyatakan dengan simbol
x-+a. Sedangkan untuk x menuju a dari arah kanan, dinyatakan dengan simbol
x-+a*.

Definisi limit arah kiri: Kita nyatakan


lim f(x) = t-
x-)a

sebagai limit arah liri aa.i fungsi f(x) ketika x mendekati a dari arah
kiri adalah L.
I

-t

Contoh 2: Tentukan limit fungsi (*) = ketika x-+0 dari arah kiri!
fi
Penyelesaian: Ini adalah masalah limit arah kiri, yakni untuk nilai-nilai x < 0 dan kita
tidak perlu memikirkan nilai-nilai x > 0. Dalam notasi limit, soal ini ditulis:

Iim 1 -.....?
*-o- lx I

Limit arah kiri untuk fungsi ini dapat diperoleh dengan melihat tabel nilai berikut ini.
Tabel limit arah kiri nol

x -2 -1 -0,1 -0,01 -0,0001 .

r(x) -l -l -l -l -1

Dari perilaku nilai f(x) pada tabel ini, tampakbahwa limit fungsi f(x) = -I- ketika
lxl
x-+0 dari arah kiri adalah -1. Contoh lain misalnya,kitakembali pada contoh 1. Dari

tabel nilai tampak bahwa limit fungsi tf*l=#5f ketika x--+2 dari arah kiri
adalah4, yakni: '
,'+14*-12
lim =4
x+2- X'-2X
Inilah yang kita maksud dengan limit arah kiri.

Definisi limit arah kanan: Kita nyatakan:

=L
]1pf(x)
sebagai limit arah kanan dari ftrngsi f(x) ketika x mendekati a dari arah
kanan adalah L.
Contoh 3: Tentukan limit fungsi f(x) = -a ketika x-+0 dari arah kanan!
l*l
Penyelesaian: Ini adalah masalah limit arah kanan, yakni untuk nilai-nilai x > 0 dan
kita tidak perlu memikirkan nilai-nilai x < 0. Dalam notasi limit, soal ini ditulis:

.9.fi -....?
Nilai limit arah kanan bagi fungsi ini dapat diperoleh dengan melihat tabel nilai
berikut.
Tabel limit arah kanan nol

x 2 1 0,1 0,01 0,0001 ..

f(x) 11111

Dari tabel ini tampak bahwa limit fungsi f(x) x


ketika x-->0 dari arah kanan
adalah 1. lxl
Contoh lain misalnya, kita kembali pada contoh 1. Dari tabel nilai tampak bahwa

limit fung si f(4=+5:ketika x-+2 dari arah kanan adalah 4, yatcni:


x2 +_4x-12 _
,r^ n
x+2t x" -2x
Inilah yang kita maksud dengan limit arah kanan.

D. SYARAT KEBERADAAN LIMIT FUNGSI


Setelah kita membahas tentang pengertian limit arah kiri dan limit arah kanan,
kini kita akan membahas syarat keberadaan limit suatu fungsi. Limit suatu fungsi f(x)
dikatakan ada dan nilainya adalah L jika nilai limit arah kiri fungsi itu sama dengan
nilai limit arah kanannya. Jadi nilai limit fungsi f(x) ketika x-+a adalah sama dengan
L jika dan hanya jika nilai limit arah kiri fungsi tersebut sama dengan nilai limit arah
kanannya. Ringkasnya adalah:

,,liiii l 't:t..1:

lim f(x)
x+a
= L iika dan hanya jika lim f(x) = lim f(x)
' *-"-
= I
x-+a*
Contoh 4 : Kita gunakan kembali contoh 1 untuk menunjukkan bahwa:

li^*'+-4*_12 =4
x+2 X'-2X

Dengan mengamati tabel limit arah kanan dan arah kiri:

limit arah kanan limit arah kiri

2.5 3.4 1.5 5.0


2.1 3.857142857 1.9 4.157894737
2.01 3.985074627 1.99 4.015075377
2.001 3.998500750 1.999 4.001500750
2.0001 3.999850007 1.9999 4.000150008
Lihat di sini Lihat di sini
2.00001 3.999985000 1.99999 4.000015000
f(x) menuju 4- f(x) menuju 4

Tampak bahwa limit arah kiri = nilai limit arah kanan = 4

..
h x' +4x-12 ,. *2 +4x-12
l-^ =
*9. *'- r* = +

Maka dengan terpenuhinya syarat limit arah kiri = limit arah kanary maka kita
katakan bahwa:
.. x'+4x-12
ls *2,. =*
Contoh 5: Di sini kita akan melihat contoh di mana limit arah kiri I limit arah kanan:
lim x =...?
x-+o lxl
Penyelesaian:
x
Kita akan menghitung limit arah kiri dan limit arah kanan fungsi f(x) =
lxl
ketika x-+0. Dari contoh 2,kLta ketahui bahwa limit arah kiri fungsi ini adalah:

,1?; = ',

Sedangkan limit arah kanannya adalah:

= ,
.liT ,n
Dari kedua jawaban di atas tampak bahwa nilai limit arah kiri # nilai limit aruh
kanan di mana -1, # 1,. Jadi, karena syarat limit arah kiri = limit arah knnan trdak
terpenuhi maka kita katakan bahwa:

fir4
*+o
-I- = tak terdefinisi (tidak ada)
lxl

E. MENENTUKAN LIMIT FUNGSI DENGAN GRAFIK


Jika diberikan grafik sebuah fungsi, lalu kita harus menentukan limit fungsi itu
ketika variabel bebasnya mendekati angka tertentu a. Bagaimanakah cara menentukan
iimit grafik fungsi itu? Caranya tidak sulit. Kita masih tetap menggunakan prinsip:
limit arah kiri sama dengan limit arah kanan. Telusuri jejak grafii. -,.--gsi itu dari
arah kiri a dan dari arah kanan a dan lihat apakah nilai fungsi itu menuju kepada
satu angka tertentu L.Jika demikian, maka L adalah limit bagi grafik fungsi itu ketika
x mendekati a.Jika tidak demikian, maka fungsi itu tidak mempunyai timit ketika x
mendekati a.

Contoh 6: Jika diberikan grafik g(x) yang kontinu seperti gambar 3.1 berikut ini

2.5

Gambar 3.1

maka limit g(x) ketika x + 2 adalah sama dengan 4. Jika x-+2- maka g(x) akan bergerak
turun menuju 4 (lihat di sumbu y di mana nilai g(x) 'bergerak turun' dariT menuju
4). Demikian juga jika x-+2* maka nilai g(x) akan 'bergerak naik' dari 1 menuju 4.
Jadi tampak bahwa nilai limit arah kiri = nilai limit arah kanan = 4, sehingga kita
katakan:
l.g1S(*) = +
Contoh 7: Contoh lain, perhatikan grafik g(x) pada gambar 3.2 berikut ini!

-1

-2
-3
-4
-5

Gambar 3.2

Dari grafik ini tampak bahwa nilai limit arah kiri, yakni S(*) = 2, sedangkan
*1]l_
nilai limit arah kanan.lT. S(*l= 2. Karena limit arah kiri = limit arah kanan = 2,
maka limit fungsi g(x) ketikax-+-4 adalah sama dengan2, atau ditulis:

=z
]11s(')
Contoh 8: Perhatikan grafik fungsi f(x) paga gambar 3.3 berikut ini :

(1,4)
3
2
'l

-1

-2 (1,-2)
-3
-4
-5

Gambar 3.3

Kita katakan bahwa tf.l fiilak ada, sebab limit arah kiri tidak sama dengan
1T,
nilai limit arah kanan. Lihat grafik pada gambar 3.3, ketika x mendekati 1 dari arah
kiri, maka nilai f(x) mendekati 4. Sedangkan, ketika x mendekati 1 dari arah kanan,
maka nilai f(x) mendekati angka -2.Di sini tampak bahwa nilai limit arah kiri tidak
sama dengan nilai limit arah kanan, sehingga:
iT rl*l = tidak ada
Contoh 9: Gambar 3.4 merupakan grafik fungsi f(x) = GrafiknYa tak terdefinisi
ketika x =3. Z

Gambar 3.4

a. Tentukan nilai lim f(x) b. Tentukan nilai lim f(x)


x-+3 x-+0
Penyelesaian:
a. Dari grafik tampak bahwa nilai limit arah kiri, yakni =- co sedangkan
:+
nilai limit arah kanan, yakni oo . Karena limit- arah kiri tidak sama
l* ;}=+
dengan limit arah kanan, maka:

riry
ji
= tak ada (tak terdefinisi)
a-l
x-+3
2x^
b. Dari grafiktampakbahwanilailimitarahkiri,yakni lim =0 danlimitarah
x-+o- X-3
2X
kanan Iim ---:^ =0. Karena limit arah kiri = limit arah kanan = 0, maka:
x-+o+ x-3
Iim 2x
x-+0
=o
1-l

F. MENENTUKAN LIMIT T'UNGSI DENGAN SUBSTITUSI


LANGSUNG
Kita telah melihat bagaimana cara menentukan limit fungsi f (x) dengan menyusun
tabel nilai x dan f(x). Kita juga telah mengetahui bahwa limit fungsi f(x) dapat juga
ditentukan secara grafis, tentunya dengan terlebih dahulu menggambarkan grafik
f(x). Sekarang kita akan menentukan limit dari:
rr,.l
1g
dengan cara substitusi langsung, yakni dengan memasukkan nilai x = a ke dalam
lungsi f(x). Cara ini persis seperti saat kita menentukan nilai fungsi f(x) ketika x

.te-"' .. 5x2
c. Iim v
d. llm_ -2x3+l
x-+4 X-3 x-+10 X - 8
Penyelesaian:
a. lim5x-6=5(4)-6=1.4 b. Iim -1-,0)t- = 1- t0 = -9,4
x->5 x)5
C.
...8*t'
L
I1ITI = -5 d. lim 5x2 -2x3 +l
= -749,5
x-+4 X-3 x-+10 x-8
Demikian jawabannya. Cara ini sangat mudah. Kita dapat memastikan kebenaran
jawaban ini dengan cara menggambarkan grafik fungsi masing-masing soal dan
mengamati nilai limitnya. Kita akan menuliskan program Mathematica untuk me-
nampilkan grafik fungsi untuk soal a dan soal d. Inilah hasilnya
Grafik soal a di mana f(x) = 51- 6 adalah: Plot[S x-6,1x,0,6]l

Gambar 3.5

Dari grafik ini terlihat bahwa limit f(x) ketika x mendekati 4 adalah 1.4.

Untuk soal d di mana f(x)= a1:23 +l , dengan mengambil interval yang


x-8
sempit di sekitar x = 10, yakni interval :9,9 1 x I 70,2. Ini dilakukan agar pengamatan
kita terhadap kecenderungan nilai f(x) di sekitar x = 10 dapat terlihat jelas. Hasilnya
adalah:
Plot[(S x^2 - 2 x^3 +1)i(x-8), {x, 9.9,L0.2}l

Arah kiri 10 -+-745

Gambar 3.6 3

Dari grafik ini tampak jelas bahwa nilai limit f(x) ketika x mendekati L0 adalah
-749,5

G. MENENTUKAN LIMIT FUNGSI DENGAN MANIPULASI


ALJABAR
Kita telah melihat bagaimana mudahnya menentukan limit fungsi dengan cara
substitusi langsung. Saat kita masukkan nilai x = a ke dalam fungsi yang bersangkutan
dan diperoleh bilangan real tertentu L, maka L adalah jawabannya dan hasil yang
diberikan oleh cara substitusi langsung dapat kita benarkan. Namun, terdapat
banyak soal di mana hasil yang diberikan oleh cara substitusi langsung justru tidak
dapat dibenarkan. Situasi ini muncul manakala kita berusaha menyelesaikan soal
limit yang bentuknya:

,S#
dan 9 -,.rr,.rl akibat penerapan substitusi langsung. 9 brkr.,luh sebuah
bilangan tert\ntu, ia 'tak-terdefinisi' dan disebut sebagai bentuk tak-tentu. Untuk
menghindari hql ini, kita dapat menempuh cara 'manipulasi aljabar' yakni dengan
melakukan bebe langkah aLjabar sehingga fungsinya menjadi lebih sederhana.
Penyederhanaan alj r dapat dilakukan, misalnya dengan memfaktorkan fungsi
(jika mungkin) kem ian mencoret suku-suku sejenis, atau dengan melakukan
rasionalisasi (khusus untuk fungsi yang memiliki bentuk akar) atau menyamakan

,. ]
ril
+rS
,:+]!
:'::*
. ffi
penyebut dari beberapa pecahan atau cara-cara lainnya. Perhatikan beberapa contoh
berikut.

Contoh 11: Hitunglah 11* "11!119


x-+-2 X+2
PenYelesaian:
x2 +5x+6 _
Fungsi yang akan dihitung limitnya adalah f(x) = . Fungsi ini tidak
;
terdefinisi di x = -2, sebab substitusi langsung nilai x = -2 ke dalam fungsi itu akan
menghasilkrr',
ao 9 Kita dapat mencari nilai limit ini dengan membuat tabel nilai limit
arah kiri dan limit arah kanan seperti pada contoh 4. Tetapi bukan ini tujuan kita,
sebab kita akan menerapkan manipulasi aljabar. Cara manipulasi aljabar akan jauh
lebih baik (dan lebih mudah) daripada membuat tabel nilai.

x2 + 5x+ 6
Pada lim , faktorkan bagian pembilang sehingga menjadi:
x ;-2 X+2

(x+3)(x+2)
lim#.Coretsukuyangsamapadapembi1angdanpenyebut
x+-2 (x+2)
hasilnya menjadi:
linq (x + 3)

Akhirnya, gunakan substitusi langsung pada fungsi

lim (x+3) =-2+3=L


x+-2
)--rJ^-ru
v_l\vlA

Jadi,
' lim ^ hm (x+3) =-2+3=L
= x>-2'
x+z X+2

Contoh L2:Cari
m #
Penyelesaian:
Substitusi langsung x = 4 ke dalam soal akan menghasilkur, 9. Karena soal ini
0
mengandung tanda akar, coba sederhanakan dengan cara rasionalisasi. Hasilnya:

r14 x-4 =r^(&-zgj2l


ri_Ji-2 .-+[ x-4 Jx+2)
(x-4)
= lim
x->4 (x-aXJx+2)
(x-4)
x-+ (x _ aXVx + 2)

= lim
*-+ --L- = penyederhanaan
I selesai, masukkan x
(.r/x + 2)
11
d4+21 4
r- 2
Iadi lim "lx -
' x+4 x-4 -1'4

Contoh 13: Hitung lim


./." -J-
Penyelesaian:
./i+* -./i-
r--------r-
Substitusi langsung x = 0 ke fungsi f(x) = menghasilkrn
UO 9. Untuk
itu kita lakukan penyederhanaan aljabar. Karena fungsi ini memiliki tanda akar, kita
pilih proses penyederhanaan dengan cara rasionalisasi, yakni mengalikan f(x) dengan
h;- -+ lt
pecahan Vl+x Vr-x yang nilainya setara dengan 1. Jadi,
{r+x +{l-x

.,[+" -Jf _ .f-r' -.[_* J.,l ++-,


x x .r[.. +1tt-x
(1+x)-(1-x)
x(Jt+x+Jt-x1 ,1
,/
lc,, ralx yang ada pada pembilang dan
penyebut di luar tanda kurung)
*k;*;,ili,

lni adalah hasil penyederhanan lungsi


(J.. + rtt-"1
semula

Sehingga

ri*6;-f-
x->0
= lim
*-o --2-_--
(r/l+x * Jl-il = (substitusikan nilai x = 0 ke dalam soal)

2-
- .I.0 + vti-o -
-_-t ^

]adi 1,* @-F=,


i_l
x4
Contoh 14: Cari lim
x+4 x-4
Penyelesaian: 1_r 0
Substitusi langsung x = 4 ke fungsi f(") = menghasilku" .Fungsi seperti
;:t ;
ini disederhanakan dengan menyamakan dahulu suku-suku bagian pembilang,
selanjutnya membagi pembilang dan penyebut. Lihat berikut ini!
4-x
(4*)
1_1
x4
x-4 x4
(a-x)
4* (x-a)
(4-x)
4" -l-(a-x). =+ (coret faktor yang sama)

1_1 , 1_1
Jadi
' = --l- sehingga lim * 4
lim ^
*4(4)
x-4 -4x x-->4x-4 x-+4 -4x 16

Dari contoh 11 hingga contoh 1.A,klta telah melihat bagaimana proses manipulasi
(penyederhanaan) aljabar bekerja dalam menyelesaikan soal limit. Namun di sana
terdapat pula fungsi-fungsi yang sulit diselesaikan dengan proses penyederhanaan/
sehingga kita kembali harus menggunakan cara tabel nilai untuk mendapatkan limit
fungsinya. Misalnya seperti contoh 15.

Contoh L5: Hitung 16 t:.t&I


x-+0 x'
Penyelesaian:
Substitusi langsung nilai x = 0 menghasilkan 9. frngri ini sulit disederhanakan.
U

Kita coba mencari limitnya dengan membuat tabel nilai limit arah kiri dan arah
x
axJ f(x)
kanan. Kita akan melihat bagaimana perilaku numerik fungsi = - -tgx ketika
x mendekati 0 dari arah kiri dan arah kanan. Kita akan mencoba menghitungnya
dalam dua interval yang berbeda:
Pertama: kita amati nilai f(x) dalam interval nilai x yang memuat angka 0, yakni
dalam interval -5 ( x < 5 dengan perubahan x pada kelipatan 1.
Kedua : kita amati nilai f(x) dalam interval nilai x yang lebih sempit lagi yang
masih memuat angka 0, yakni dalam interval -0,01< x (0,01 dengan
perubahan x pada kelipatan 0,001.

Dengan Mathematica hasilnya adalah sebagai berikut.


Interval pertama: -5 S x < 5 dengan kelipatan 1. Hasilnya:
TableForm[Table[{x, (x - Tan[ xl)/x^3], {x, -5,5,1}ll//N

-5 0,0670441
-4 o,044409
ketika x mendekati 0 dari arah
-3 0,116391
kanan, hasilnya -0,557408
-2 0,52313
-1 -0,557408
0 lndeterminate
1 -0,557408
2 0,52313
ketika x mendekati 0 dari arah kiri,
J 0,116391 hasilnya -0,557408
4 0,044409
5 0.0670441

Hasil yang diberikan oleh tabel ini mengesankan bahwa ketika x mendekati nol,
jawabannya -0,557408, sebab nilai limit arah kiri = limit arah kanan. Namun hasil
ini belum dapat diterima karena di sini nilai x yang terdekat dengan nol adalah x
= +1.Nilai+lbelum dekat dengan nol. Untuk itu, mari kita lihat perilaku
numerik fungsi ika x semakin dekat dengan nol dalam interval kedua yang
lebih sempit yakni -0,01< x <0,01.
Interval k/draz -0, 0 1< x < 0, 0 1 dengan kelipatan 0,001. Hasilnya:
TableFormlTable[{x, (x - Tan[ x])/x^3], {x,-0.0L, 0.01, 0.001}ll

-0,01 -0,333347
-0,009 -0,333344
-0,008 -0,333342
-0,007 -0,33334
-0,006 -0,333338
-0,005 -0,333337
-0,004 -0,333335
-0,003 -0,333335
-0,002 -0,333334
-0,001 -0,333333
0. lndeterminate
0,001 -0,333333
0,002 -0,333334
0,003 -0,333335
0,004 -0,333335
0,005 -0,333337
0,006 -0,333338
0,007 -0,33334
0,008 -0,333342
0,009 -0,333344
0,01 -0,333347

Hasil yang diberikan oleh tabel ini meyakinkan kita bahwa

$=# =-0,333333 = -of


Walaupun kita belum mengakhiri bab ini, untuk sementara kita dapat menyimpulkan
bahwa limit fungsi dapat dihitung dengan empat cara:
1. dengan substitusi langsung;
2. dengan manipulasr aljabar;
3. dengan tabel nilai arah kiri dan arah kanan;
4. dengan cara grafis, namun cara ini membutuhkan perangkat lunak untuk meng-
gambarkan grafik fungsinya.

H. SIFAT DAN ATURAN DASAR PENGHITUNGAN LIMIT


Sekarangkitaakanmenguraikanbeberapasifatdasardanafuran-aturanmatematis
terkait dengan langkah-langkah penentuan limit fungsi. berikut ini beberapa sifat
dan aturan dasar dalam menghitung limit.

L. Sifat dan Aturan Dasar Limit

Jika k adalah konstanta, x adalah variabel dan untuk sebarang bilangan real a,
misalkan, bahwa fungsi f(x) dan g(x) kedua-duanya memiliki limit di X = d, maka
berlaku:
Aturan konstanta lim k= k untuk sebarang konstanta k
x-)a
Limit aturan & substitusi langsung limx=a
x-)a
Aturan perkalian dengan konstanta k lim k.f(x) = t< lim f(x)
x-)a x-)a
(konstanta k boleh dikeluarkan dari proses limit)

Aturan penjumlahan lim [f(x) lim f(x) + lim g(x)


- + g(x)] = x-)a
x-+a x-)a
(limit dari jumlah fungsi = jumlah dari limit fungsi)

rm [f(x) hm f(x) - lim g(x)


Aturan selisih
- - g(*)] = x-)a
x-)a x-)a
(limit dari selisih fungsi = selisih dari limit fungsi)

Aturan perkalian fungsi lim = lim f(x) . lim g(x)


x-+a[f(x).g(x)] x-)a x-)a
(timit darpperkalian fungsi = perkalian dari limit fungsi)

lim f(x)
t(*) ;;; ' ' ryr.rt lim g(x) *
Aturan hasil bagi li- = dengan o
x-+a g(x) lim g(x) ^-d
x-)a
(timit dari hasilbagi fungsi = hasilbagi dari limit fungsi)

Iln
Aturan pangkat lim [f(x)]n = | lim f(x;11 di mana n bilangan rasional
x-+a Lx+a !
dan limit ruaskanan ada.

Co ntoh4fr5eles aikan-timit b erikut ini !


a. lim (-35) b. lim 3y+tz c. lim x2 d. lim l0x2
x-->2
x+5 x+5 x-+3

.. x2 -x
e. lirn_3y +t2 f. lim [3x5 _9x3 +3x2 -l5l s. llm
x-+l 0 x-1
y-+) x-+2

Penyelesaian:
-
a. lim (-35) = -35 (aturan konstanta di mana k = -35)
x-+5

b. Iim 3y+ t2 =3y + t2 (aturan konstanta, di sini konstantanya adalah 3yz + t,sebab
x-+5
yang berperan sebagai variabel adalah x, karena ia yang bergerak menuju 5. y
dan t dianggap konstan)
c. lim x2 = (2)' = 4 (limit aturan x, substitusi langsung)
x-->2

d. lim 10x2 = 10 lim x2 = 10. (3)'z = 90 (aturan perkalian dengan konstanta k)


x-+3 x-+3
e. lim_ 3y+t2 = 3(5) + t2 = 15 + t'z (di sini yang menjadi variabel adalah y)
y-+5

f. lim [3x5 -9x3+4x2-15] = 1im3x5 - 1im9x3 + lim4x2 -lS


x-+2 x-+2 x-+2 x-+2

(aturan penjumlahan dan selisih)

= :[h-r') - ,[,,**' l* +[ri..,*Y - ru


Ir-z] l.*-z) t.*-z]
(aturan perkalian dengan konstanta)

z15z13r'2
=:l h*, l-r[ h...*l*+lt*,. I -r 5
l.*-z] (.^-z) [*-z,l -'-'-/-
(aturan pangkat)
....-
= 3 (2)5 -9 (2)' + 4(2)'z-15 = 25

(limit aturan x, substitusi langsung)

xr li* *2-*
g. lim -:x *ll0
lim x - .I
o = (aturanhasilbagi)
x-+10 x-l
x-+1 0

_ lo2-lo = 1o
10-l
2. Limit Fungsi Polinomial
Jika kita lihat kembali limit fungsi pada contoh 1,6.f, sangat mudah bagi kita
untuk melihat bahwa fungsi tersebut, yakni f(x) = 3x5 -9x3 +4x2 -15 adalah
fungsi polinomial di mana limitnya ketika x-+2 dapal ditentukan langsung dengan
mensubstitusikan x = 2 ke dalam f(x) = 3x5-9x3 +4x2_15. Dari sini dapat kita
tetapkan suatu aturan khusus dalam menentukan limit fungsi polinomial:

Limit Fungsi Polinomial . , :::.

Jika P(x) adalah fungsi polinomial, maka

Contoh 17: Hitunglah lim (x2 + *3 - "5;


x-->-2
Penyelesaian:
Ini adalah fungsi polinomial P(x) = ,2 + *3 - ,5 dengan c = -2 sehingga:

-2)2 - - =-l=
3?z)
+(-8)-(-321=29
(-2)2 +3(-2)-s 7
t** --****
Limit Fungsi Rasional
I
: ]ika I(') Ii* P(*) = P(c)
' Q(x) u6u1u1l fungsi rasional di mana Q(x) I o.' maka x-+c Q(x) Q(c)
' dengan syarat nilai limQ(x)*0
:
!

-I .
t,lx"
Contoh 18: Hitunglah lim -3x-2
x-+-2Fx'+3x-5
Penyelesaian:

Ini adalah fungsi rasional di mana P(x) = dan Q(x)= x2+3x-5 dengan
nilai c = -2 dan lim Q(x)= -7 +0 .Jadi
x->-2

"r-;-
lim llx" -3x-2
x-+-2 x2 +3x-5 (-2)2 +3(-z)-s

I. LIMIT FUNGSI TRIGONOMETRI


-=
Limit fungsi trgon6'metri ditentukan dengan cara yang sama seperti contoh yang
telah dibaha>ffielurrrnya. Kita dapat memilih cara substitusi langsung, manipulasi
aljabar, tg6l nilai ataupun cara grafik. Teorema berikut ini akan memudahkan kita
mern\il'ras limit fungsi trigonometri.

Teorema: Limit fungsi trigonometri


]ika a adalah sebaiang bilangan,dalam daerah asal fungsi ya.g diberikan,
maka: ,

I 7.
I. [In SlnX=SIna 2. lim cosx=cosa 3. lim tgx =tg;a
x-+a x--)a . ,.' x-+a

4. lim cscx=csca 5. lim secx=seca 6. lim ctgx=ctga


x-+a x-+a x-+a

87
Perlu diingat kembali, bahwa dalam kalkulus, semua sudut dinyatakan dalam
radian. Tabel berikut ini memberikan hubungan derajat dan radian

Deralat 0 30 45 60 90 180 270 360

Radian 0 TEI6 Iv4 ?v3 fl2 TI 3TLI2 2It

di mana rE=3,\4L592654 ...

Rumus konversi derajat ke radian adalah: x0 - 1n radian.


180

Contoh: Ubah 200 ke dalam satuan radian!


/
I
Penyelesaian: I
/
x = 200+Jadi 200 = Lnradian = 1n radiarr =113,t+; radian = 0.g4906l radian
180 9 9'
Contoh 19 : Hitunglah limit berikut ini!
1_- ,'u
a. lim x3 cosrx b. lim'^ c. lim (sin2y+l.gx
x-++ cos4x
3

x-+0 CoSx
"++
Penyelesaian:
Ketiga soal ini dapat diselesaikan dengan substitusi langsung.

a. *-+ I
rim x3cosnx = flI.orln= .l=
1

\3/ 3 27 2 s4
b. x+0 2-x
hm
cos x
=2-o
cos 0
=Z=2 1

= sin2(t) +t1i
3
c. lim (sin2x + tgx- J=l
COS4X cos(a.f,)
=sin**l-
- cos 7r
"+t
=1+1-3 (- 1) -5

Dua Limit Trigonometri yang Spesial


limit trigonometri yarrgpaparkan di atas, terdapat dua limit trigonometri
Selain
yang spesial karena keduanya memainkan peran penting dalam kalkulus. Dua limit
trigonometri yang spesial itu adalah:

1. li* stt* = 1 dan 2. li* "ot'-l =o


x-+0 X x-+0 x
Bukti: Sudah tentu nilai limit kedua fungsi ini ketika x-+0 tidak dapat dihitung
dengansubstitusilangsungx=0dantidakjugadenganmanipulasialjabar. Olehkarena
itu, kita akan membuktikan limitnya dengan cara grafik, yakni dengan membuat
grafik fungsinya dan mengamati perilaku nilai fungsi itu ketika x mendekati nol dari
arah kanan dan arah kiri. Perhatikan apa yang ditampilkan oleh Mathematica:

a.
.. sinx
llm _
x-+0 X

Fungsinya adalah f(x) = $Y . Kita akan menggambar f(x) = llnl dalam selang
xx
-2n < x < 2n. Hasilnya: Plot[Sin[x)/ x, lx, -2Pi,2Pi]1

Gambar 3.7

Gambar 3.7

sinx
Dari gambag tampak bahwa f1x; = bergerak mendekati 1 ketika x
x
nol dari arah kanan dan dari arah kiri. Jadi, berdasarkan
pendekatan grafik, tampak bahwa:

li* sh* = 1
x-+0 X

..
llffr
cos x- 1

b. x-+0 x
,

Fungsinya adalah f1x; = S91I1. Kita gunakan selang -2n x< 2n. Hasilnya:
x
Plot[(Cos [xl-L\ I x, {x, -2 P i, 2 P i}l
Gambar 3.8

Dari grafik gambar 3.8 tampak bahwa f(x) =


cosx -I bergerak mendekati nol
x
ketikaxbergerakmenujunoidariarahkanandandariarahki@------
pendekatan grafik,tampak bahwa: /
li* tot'-1 = o
x-+0 x
cosx
lim -
1
Contoh 20: Buktikan bahwa =0
x-+0 x
Penyelesaian:
Substitusi langsung x = 0 tidak akan menghasilkan jawaban. Kita akan mem-
buktikan masalah ini secara aliabar. Fungsinya adalah:

!- J91x
f1x; = . Kita rasionalkan dengan mengalikan pecahan ini dengan konjungsi
x
bagianpembilang, yakni
I + cosx
. Hasilnya adalah
1 - cosx - 1 - cosx
.
1 + cosx
" l+cosx ' x x l+cosx
l-cos2x
='''""', ubah pembilang dengan identitas trigonometri : 1 - cos2x = sirLrx
x(1+ cos x) =

sin2 x sinx (sinx)


x(l+cosx) x(l+cosx)
Jadi,
1 - cosx sinx (sinx)
x x(1+cosx)

Sehingga,

llm _ -
1 cosx ,: -- sin x (sin x) ,. sin x (sin x)
= lrm = llm
x-+0 x x-+0 x(l+cosx) x-+0 x (1+cosx)
.---*-.:
Untuksukurkiri ambil'faita um fll1*,t,
I r,* tt^ * ',l

[,,- x )--
sin
I

\x+o x /(x-+ol+cosxJ Unfuk suku kanan'lakuktn substi*Ut ',,,,,,,


langsungx=0 .,. r'
,

' :

0 (terbukti)

Contoh 21: Hitunglah a. hm


tgx r. stnx
rD.[m- ..
C. Irm
sin 4x
x-+0 x x-+0 r/x x-+0 7x
Penyelesaian: -
sln x
Semua soal ini akan kita selesaikan dengan memanfaatkan rumus: lim
x

rm tsx = ,,*[&'l = r,r, sinx


a. x-+0 x x-+01 x I x-+0xcosx
\,,

=tsT[s*) =,*=,
Kita dapat 9relnUutctitan jawaban ini dengan pendekatan grafik. Kita gunakan
Matherya{cauntuk menggambar grafik f(*) = I dalam interval yang memuat x
/nnx
= O.
/'22Pertama, kitapilih interv at: -L < * < 1 . Perintah dan hasilnya adalah:

PlotlTan [xl I x, {x,-P il 2,P il 2ll


-1.5 -1 -0.5 0.5 1 1.5

Gambar 3.9
/
Walaupun apayangditampilkan oleh jejak grafik tidak begitu jelas, kita r/enduga
bahwa fungsi f(x) = IEx bergerak menuju 1 saat x--+0. Untuk lebih mg(rpe4elas
x-l
pandangan pada jejak grafik disekitar x = 0, kita perlu menggamb/r grafik ini
dalam interval x dan interval y = f(x) yang lebih sempit lagi. Artin/a kita lakukan
"zoom" di area yang di lingkari.

Gambar 3.10

Kita pilih interval -0,5 < x ( 0,5 dan 0,8 < y < 1,2
Dengan Mathematica, perintah dan hasilnya adalah:
Show[%, PlotRange-+{G0.10.5},10.8,1.211, Frame->True,Gridlines-+Automatic]
1.15

1.1

0.95

0.9

-0.4 -0.2 0 0.2 0.4


Gambar 3.11

t8x
Dariarea "zoom" tampaknyatabahwa lim = 1
x-->0 X

b.
,.
lllTl:
sinx= ,. (sinx fi )
lllTll:.-.--:.l
x-+o Jx r-+o I Jx J" )

ri* [,F sinx'] = limJi ri* si^* = J0 .1=0


= x-+0\' x ) x-+0 x->0 x

C. li- tit4* - ....? = ubah dahulu fungsi


fur f(x) = sin4x menjadi:
x+0 7x i
sin4x 4 sin4x
7x74x\i
i 4 sino

II . ,. sin4x704 sinO
taol-=-.-semngsa:
lTxTgaa
l

\' .. 4 sin7 4 ..
sin4x ltm-.- sin0 4 -| 4
Itm = - llm-
=
\ x-+o 7x o-+07 e 7 e-+o 0 - -7 = -7
filrit Fungsi yang Kontinu Sepotong-Sepoto ng{Pieceuise Coutinuous Functionl
Pada bab dua telah dibahas tentang fungsi kontinu sepotong-sepotong di dalam
domainnya. Sekarang kita akan membahas bagaimana menentukan limit fungsi yang
kontinu sepotong-sepotong. Perhatikan contoh-contoh berikut!
di mana:
Contoh 22:Diberikan fungsi f(x) yang kontinu sepotong-sepotong

l,x2 + z jikax>0
f(x) = j
ll_4* jikax<0
Hitunglah: a. 15 rt,l b. lim
x-+0-
f(x) c. I'S tt*l
Penyelesaian:
Iim x2 +2 =02 +2 = 2 (kitagunakanaturanf(x)=12+2karena
a. lim f(x) = x-)0*
x->0* yakni x > 0
* -, O- bermakna ia dalam interval pertama' )'

b. lim f(x) = x-+0lim - 4x = -4' (0) = 0 (kita gunakan aturan f(x) = -4x karena
x+0-
. - O- bermakna ia dalam interval kedua, yakni x < 0 )'
c. Dari interval daerah asalxyangberbeda (x > 0 danx < 0),makadixtitik = 0 tidak
x = 0'
ikut serta dalam kedua interval ini. Artinya f(x) tidak didefinisikan
sehingga nilai tidak ada. Demikian juga karena nilai limit arah kanan
lT;'r-l
tidak sama dengan limit arah kiri'

I x+1 iika x>0


Contoh 2zJika f(x)= I ,
llx- +t jika x<0
Hitunglah: a. lim f(x) b. lim f(x) c. lim f(x)
x-+0 x-+0
x-+-3

Penyelesaian:
a. lim f(x) = (-3)'+ 1 = 10
x+-3
adalah x < 0
Kita gunakan aturan f(x) = az + 1 karena x-+-3 maknanya
b. lim f(x) =(0)2+1=1
x-->0-
adalah x < 0
Kita gunakan aturan f(x) = 1z + 1 karena x-+0-maknanya
kita uii nilai limit
c. lim f(x) = ...? di sini f(x) tak-terdefinisi di x = 0, namun saat
x-+0
arah kiri dan limit arah kanannya diperoleh:
. lim f(x) = lim x2 + 1 = 1 (limit arah kiri)
x-+0- x-+0-

. Iim f(x) = lim x+1 =1(limitarahkanan)


x--+0- x-+0

ft).) = 1, maka kita simpulkan bahw" f(x) = 1


)adi, karen,]t]It- f (x) = I5. lt$
I x+1 jika x>0
Grafik fungsi f(x)= I ,
Ilx' + jika x<0
1

tampak pada gambar 3.12. Jika dilihat dari arah kiri dan arah kanan nol maka
nilai lim f(x) = 1
x-+0

Gambar 3.12

J. DEFINISI FORMAL TENTANG TIMIT


Sejauhini kita telah memahami pengertian dan definisi limit secara intuitif (pe-
rasaan) dengan menggunakan definisi sementara: " jikn x mendekati a maka fungsi f(x)
akan mendekatiLz.Definisi sementara ini, telah memberi kemudahan dalam memahami
pengertian dan menghitung nilai limit fungsi dengan empat cara yang telah dibahas.
Namun demlkian, kalimat: " jika x mendekati a makn fungsi f(x) akan mendekati L" adalah
"definisi yang tidak tegas" secara matematika.
Pada abad ke-19, matematikawan Augustin-Louis Cauchy (1789 - 1857) dan Karl
Weierstrass (1815 -1,897) memperjelas gagasan tentang limit dan membangun definisi
naling tepat tentang limit. Inilah definisi formal yang tepat tentang limit:
\S

Pernyataan tentang limit


. lim f(x) =1
x-}a l

bermakna bahwa untuk setiap bilangan t > 0, terdapat bilangan lain yang
sepada yakni 6 > 0 sedemikian rupa sehingga

I f(x)-L I< c bilamana 0< | x-a | < E


Simbol e (epsilon) dan 6 (delta) merupakan abladYunani yangbiasa digunakan
untuk menjelaskan definisi limit. Oleh karena itu definisi formal ini terkadang disebut
sebagai definisi "epsilon-delta". Secara geometri, definisi "epsilon-delta" daPat
dijelaskan oieh gambar 3.13 berikut ini:

-+t
l(x) - L I < atau area f(x)

7
I
L
disekitar L
L-t

Gambar3.13 a-t a a+t

0<lx-al<tatauareax
disekitar a

contoh 24: Dengan menggunakan definisi formal buktikan bahwa:

lg ,*- 2 =t0
Penyelesaian:
\
Tujuan dari contoh ini adalah untuk menunjukkan langkah-langkah pembuktian
dengan menggunakan definisi "epsilon-delta" (definisi formal). Kita cocokkan soal
ini dengan definisi "epsilon-delta" maka: f(x) = 3x-2 ; a = 4 ; dan L = 10' Tugas
kita adalah menunjukkan bahwa untuk setiap bilangan t ) 0, terdapat bilangan lain
vang sepadan, yakni 6 > 0 yang memenuhi hubunganberiku'

f(x)-L | < e bilamana 0< I *-a I < 6

Tadi:

3x-2-10 I < a bilamana0< | x-4 | < 5


3x-\21 < e bilamanaO< | x-a | < 6
3 r-4 I <e bilamana0< I *-4|; <6.'.o
Bagiankeduadaripertaksamaanterakhir (*),yakni 0 < I * -4 | <S dapatditulis
menjadi l*-4 | < 6. Jadipertaksamaan(*)menjadi:
3 I *-4 I < e bilamana I x- | < 6
I ,-4 ;<9
J
bilamana I *-4 I < 6 ...(**)

Perhatikan bahwa ruas kiri kedua pertaksamaan pada (**) adalah 'sarr.a', maka
dapat kita simpulkan bahwa sisi kanan (ruas kanan) dari kedua pertaksamaan (**)
adalah sama,yakni |J = A . Atau dalambentuklain, e = 36 . Kita telahmemperoleh
bilangan 6 yang nilainya lebih kecil (sepertiga) dari e, sehingga hubungan berikut.

If(*)-L I < e bilamana 0< I *-a | < 6 akanterpenuhi.


Memasukkan nilai nilai 6 = | t" dalam hubungan:
J

\ I f(r)-L I <e bilamana o< I *-a I <6


akan memenuhi hubungan tersebut. Inilah hasilnya:
\'
l3x-2-10 l<ebilamana(jika) 0< l*-41<f J (terbukti)

Di sini, ketika e = 36 , tampak bahwa untuk sebarang bilangan € ) 0, kita telah


mendapatkan bilangan lain yakni 6 yang nilainya setara dengan sepertiga dari e
sedemikian rupa sehingga:

I f(r,)-L I < e bilamana 0< I *-a I < 6


Jadi, begitulah cara kita membuktikan pernyataan limit lim 3x-2= 10 secara
formal. Ringkasnya adalah: "andaikan kita memiliki sebarang bilangan positif e sehingga
kita harus mencari (menemuknn) bilangan positif lainnya yakni 6 yang tnenyebabknn
hubungan lf(*)-L I < e bilamana 0< I *-a | < 6 terpenuhi"

K. TIMIT YANG MELIBATKAN BENTUK TAK.HINGGA


Pada bagian ini kita akan membahas limit fungsi yang melibatkan bentuk tak-
hingga yang sirr,rbolnya oo. Di sini pembahasannya akan kita bagi menjadi dua:
1,. limit f(x) menjadi tak-hingga (+ oo atau - co ) ketika x-+a dari arah kanan atau dari
arah kiri. Ringkasnya ditulis:
f{*) atau lim f(x) = -oo
.!I;
2. limit f(x) ketika x -) +oo atau ketika x -+ -oo. Ringkasnya ditulis:
tim f(x) atau lim f(x) x-)-co
x-++oo
I,tntuk situasi pertama, kita pastikan bahwa limitnya tidak ada atau tak-terdefinisi,
sebab limitnya menghasilkan *oo . Perhatikan contoh 25 hingga 27.Ked:ua contoh ini
teiah cukup untuk menggambarkan situasi pertama.

Contoh 25: Hitunglah lim l


x->o x/
Penyelesaian:
I
4- . Ketika x -+ 0 maka nilai fungsi f(r) = * akan semakinmembesar
Di sini f(*) =
x"rx-
tanpabatasmenuju m'Jadi,
- ri*^ 1 = .o =takterdefinisi=takada'
x-->o x'
1

Tabel berikut ini memperlihatkan bagaimana nilai fungsi f(x) = ., terus mem-
x"
besar ketika x dibuat semakin dekat kepada nol.

x -0,1 -0,001 -0,000001 0 0,000001 0,001 0,1

f(x) = 17xz 100 106 101' tak terhingga 1012 106 100

1
Jadi kita katakan bahwa nilai fungsi f(x) adalah divergen ketika x -+ 0.
x')
Contoh 26: Hitunglah lim 4::
x-s2 x-2

Penyelesaian:

Di sini f(x) = 4::. Ketika x -+ 2- (dari arah kiri 2) maka nilai dari fungsi (*) =
1-r?+
zx
x-2
-r akan menuju -oo . Sedangkan ketika x --> 2+ (dari arah kanan 2) maka nilai
x-2 .-*q 2x+3
aa.i iur"rgsi f(x) = akan menuju +co . Jadi, kita katakan bahwa
+: l* -_,
tidak ada.

Contoh 27: Hltunglah limit arah kanan dari lim (lnx)

Penyelesaian:
Jika kita ambil nilai x yang sangat dekat dengan nol dari arah kanan (yakni
bilangan positif yang sangat kecil semisal x = 0,000...01), maka hasilnya adalah
bilangan negatif yang terus membesar (divergen) menuju -a . Jadi,
lim (lnx) = -oo = tak ada
x-+0*

tlntuk situasi kedua,limitnya mungkin ada (terdefinisi) atau mungkin juga tidak
ada (tak-terdefinisi), tergantung bentuk fungsi f(x). Perhatikan contoh 28 hingga 30.
4x3 +2x2 -7 +2x-7
4x3
Contoh 28: Hitunglah: a. lim b. Iim --
x-)00 _7x3 +13 x-+a -JY+ +l3xt

c. rim
5x2 + 2x- 3 -
. x-)oo 3x- 4
Penyelesaian:
Semua fungsi pada contoh 28a - c merupakan fungsi rasional di mana pembilang
dan penyebutnya adalah polinomial. Untuk kasus seperti ini, kunci penyelesaiannya
adalah dengan membagi semua suku pembilang dan penyebut dengan pangkat
tertinggi dari x.
a. Di sini f(x) = 4x3 +2x2 -7 Jika kita coba masukkan x = oo ke dalam f(x), maka
-7x3 +13 @
hasil yang diperoleh adalah yang merupakan salah satu dari bentuk t ak-t entu.
-@
Kita mungkin akan menganggap hasilnya'tak-terhingga' (karena pembilangnya
sangat besar), atau nol (karena penyebutnya sangat besar) atau mungkin -1. Akan
tetapi tidak satu pun dari ketiga anggapan ini benar. Jawaban yang benar adalah

{. U.,r.rt mendapatkan jawaban ini, perhatikan caranya sebagai berikut:

lim
4x3 +2x2 -7
x-+00 -7x3 +13
4x3 zx2!_ _
7

= lim x' -x' x'


x-)co -7 xt I
13
l'1
x- x-
)'7
4+1- .
4
XX'
= lim _
x-)oo _'I lt L _
13 -7
x'

b.
4x3 +2x-7
rrrrr ----------------t
T*;",*;;;;;;;;il*;;l
! penyebut merupakan polinomial, maka bagilah !

x--+a: -JYa +13x" I tiap suku pembilang dan penyebut dengan I

4x3r 2x 7 427 -L
427
'- - '1L -+
= ;;; lim x x" lJ;;x
lim *4 --*4 4^4 = x-)@ =+
@@@
_ 13
-ixa t3x2 a ,
-ttj l- -l+
*4'x4 x- oo
-0

ti^ 4^'!2*-1 g
Jadi x-+a =
-J Ya + I 3X'

q,,2r.r*_1 Bag!!&hrtiap suku pernbilang dan penyebui


_
c. llm dengan'panqkat tertirnggidarirx','
x-+co 3x-4

5x2r-- 2x J )7 )7
\+--- ) 5+
-
x-')') x' 7 XX" 5+0-0 5
0-0 =-0
@@
= lim 3x4 = lim 34
x-+00 34 = =
x-)co
x-)- x-) --
xx' ) @@

-
-5xz +2x-3
Tadi. lim = oo (tidak ada)
x-+co 3x_ 4

Contoh 29: Hitunglah lim 3x5 + 4x3 - 7x


x-)oo
Penyelesaian:
_A'7
lim 3x5 + 4x3 - 7x = lim x5Q*+-
X-+oo X' a) X

= [,,*
x-+co\ "')[l*('.#-+))
= oo(3 *4 -L) =oo(3+0-0)=co
@@

ladi, lim 3x5 + 4x3 - 7x = qt (tak-terdefinisi)


x->co

o5x - o-3x
Contoh 30:Hitung*n
11} ffi
Penyelesaian: .o
Tika kita masukkan langsung x = oo maka hasilnya adalah bentuk tak-tentu -
.: i tidak punya arti. Untuk menghindari hal tersebut, faktorkanlah pembilang dfn
:,::','ebut dengan e8* (suku dengan pangkat tertinggi). Gunakan fakta bahwa e' = .o
::-- .-' = 0. Hasilnya adalah:
lx; .. * e-- + e-* 0
lim -= -'' , =lim
o5x o-3x e-3*
1"-3x * u-l
*-+* gu*
"8x -lrffi- "-llx
x-+co l-e-lzx l-e--
-: I =0
- e-4'
x-)co e8*(I - "-12x;
o5x - o--lx
Iadi, =o
*Iim e8l;4x

L. MENGHITUNG LIMIT DENGAN MATHEMATICA


Kita dapat dengan mudah menghitung limit fungsi lim f(x) menggunakan
x-+a
Mathematica. Perintahnya adalah sebagai berikut:
Limit[f(x), x-+a]
Dalam Mathematica, tanda panah -+ ditampilkan dengan menekan berturut-
turut tombol-kemudian tombol > (jangan menekan keduanya bersamaan). Mari kita
perhatikan beberapa contoh berikut.

Contoh 3l-: Hitunglah lim 3x5 + 4x3 * 7x


x-+2
Penyelesaian:
Limit[3 x^5 + 4 x^3 - 7 x, x -> 2 ] (tekan tombol "Shift-Enter" untuk menampilkan
hasilnya). Hasilnya adalah 114. Tombol ^ menyatakan pangkat. Perkalian dari 7 dan
x ditulis dengan memberi spasi antara 7 dan x yang oleh Mathematica dianggap
sebagai perkalian.

Contoh3l: Hitunglah lim (l+2x1t/*


\ I
x--+o
Penyelesaian:
Limit[(1 + 2xl^{Llx), x -> 0l

"2
Jadi, hasilnya e2 .

Contoh 33: Hitung lim


2x+3
Penyelesaian:
Di sini x menuju -co yang di dalam Mathematica ditulis Infinity. Hasilnya:
LimitlSqrt[xn2 - x-21I (2x+ 3), x -> -Infinityl

_,I

Jadi hasilnya adalah -l.2


- :.:iik menghitung limit arah kiri, x-+a
lim- f(x), gunakan perintah:
Limit[f(x), x-+a, Direction-+1]
-\dapun limit arah kanan, lim f(x), gunakan perintah:
x-+a

Limit[f (x), x-+a, Direction-+-1]


tanx tanx

Contoh 34: Hitunglah a. li* el'6 du.t b. lim "16


*-1* *-]
Penyelesaian:
a. timitlExplTanlxl/LoglCoslxll l, x->Pil2,Direction-> -1I
@ tanx

Jadi, hasil limit arah kanan dari lim* el^(tosx) - -


*-+ I
b. timitlExPlTanlxl/LoglCoslxll 7, x->Pil2,Direction->1I
o tut'*
jadi, hasil limit arah kiri dari lim- el^(tosx) - 0
*)t
M. KONTINUITAS FUNGSI
Sebuah fungsi dikatakan kontinu dalam selang a < x < b jika grafik fungsi tersebut
tersambung utuh dan tidak terputus dan tidak memiliki titik diskontinu di dalam
selang tersebut.

Kontinuitas
Iika x = c ad,alah sebuah titik yang berada di dalam selang a < x <b, maka sebuah
fungsi f(x) dikatakan kontinu di titik c jika memerurhi ketiga syarat berikut ini.
a. nilai f(c) terdefinisi (ada);

b. lim f(x) ada;


x-+c
c. lim f(x)=
x->c
f(c).

Jikalsalah satu dari ketiga syarat ini tak ierpendi, maka fungsi
f(x) dikatakan
tidak kontinu aititit< c. Iika f(x) tidak kontinu dititik'c,'naka f(x) dikatakan
diskontinu di c

102 i\
Secara geometri, gambar 3.14 menampilkan tiga keadaan di mana fungsi f (x) tidak
kontinu (diskontinu) di titik X = Cr sebagai lawan (kebalikan) dari syarat kontinuitas
yang disebutkan di atas.

Gambar 3.14

Contoh 35: Tunjukkan bahwa fungsi f(x) = 2x2 + 5x- 6 kontinu dititik x = 1

Penyelesaian:
Untuk menunjukkan bahwa f(x) = 2x2 + 5x - 6 kontinu di titik x = 1 (di sini kita
ambil c = 1) maka kita harus menguji satu persatu ketiga syarat kontinuitas di atas,
yakni.
o Untuk syarat (a) nilai f(c) harus terdefinisi. Maka f(c) = 111; =2(7)' + 5(1) + 6 =13.
Jadi syarat pertama, f(c=t; = 13 terpenuhi (ada).
r Untuk syarat (b): lim f(x) harus ada. Maka lim f(x)= lim 2x2 +5x+6= 13. Jadi
x-)c x-+c x+l
syarat kedua telah terpenuhi karena nilai lim f(x) ada, yakni 13.
x-)c
o Untuk syarat t.)' f(x) = 116;. Disini kita harus melihat apakah jawaban syarat
lr*
(a) sama dengan jawaban syarat (b). Kita teiah memperoleh bahwa jawaban
syarat (a) sama dengan jawaban syarat (b), yakni: f(c) = 13 dan lim f(x) = 13. 1u4i,

otomatis syarat (c) juga telah terpenuhi, yaknr, f(x) = 116; = 13. Karena ketiga
1T
syarat kontinuitas ini terpenuhi, maka kita katakan bahwa fungsi f(x) = 2x2 + 5x
-6kontinudititikx=1.
Begitulah caranya menguji kontinuitas fungsi f(x) di titik c.

Contoh 35: Tunjukkan apakah fungsi X*)' = 4x+2 kontinu dititik x= -2

Penyelesaian:
Di sini nilai c = 1, mari kita uji satu per satu ketiga syarat kontinuitas ini:
Svarat (a): f(c - -2) = *-2+2 = 90
= trk-terdefinisi.
- Karena satu dari tiga syarat
u2_L
kontinuitas tak terpenuhi, yakni syarat (a), maka fungsi f(x) = tidak kontinu
;
dititik x= -2. Jadi, kita tak perlu lagi menguji syarat kedua dan ketiga.

Dalam soal ini, perlu diingat bahwa fungsi f(x) =# hanya mengalami
diskontinuitas di titik x = -2 sa)a. Adapun pada semua nilai x lainnya selain x = -2,

maka fungsi ini senantiasa kontinu .Jadi,f(x) =


#
kontinu dengan syarat x* -2.

Contoh 37: Diberikan grafik f(x)pada gambar a - d . Tunjukkan apakah f(x) kontinu
dititik x = c.

Gambar 3.15

Penvelesaian:
Hanya grafik f(x) pada gambar 3.15.d yang kontinu di titik x = c. Selainnya
mengalami diskontuitas di x = c
-* - --t
Teorema nilai antara (lntermediate aalue theorem) :

Iika f(x) adalah fungsi yang kontinu dalam selang tertutup as , . b


I

dan Madalah sebuah bilangan antara (A) dan f(b), maka akan terdapat I

paling sedikit satu bilansan c aniaia a dan'brsehtrgga berlaku f(c)= [,4 i

Teorema nilai antara secara implisit mengatakan bahwa setiap fungsi f(x) yang
kontinu dalam selang tertutup a ( x < b pasti akan meliputi (mengambil) semua
bilangan yang berada antara nilai f(a) dan f(b). Gambar 3.16 mengilustrasikan ide
mengenai teorema nilai antara.

Gambar 3.16
.---___ Seperti terlihat pada gamb ar 3.1.6, jika kita pilih satu nilai M antara f(a) dan f(b)
pada sumbu y, kemudian kita tarik garis lurus yang sejajar sumbu x dan melewati
titik M, maka garis lurus itu akan memotong grafik f(x) pada beberapa titik x = C' C",
c3 ...yang semuanya berada dalam selang [a, b]. Disini akan tampak nyata bahr,r'a
f(c,) = f(cr)= f(cr)=M.

Contoh 38: Gunakan teorema nilai antara untuk menunjukkan bahwa fungsi
f(x)=x3-8x2+x+42
memiliki akar pada titik c yang berada di dalam selang -3 < x < 8.
Penyelesaian:
Yang dimaksud dengan akar fungsi f(x) = 1a - 8x2 + x + 42adalah nilai x = c antara
-3 dan 8 y*g menyebabkan f(x) = 0. Jika c merupakan akar f(x), maka haruslah f(c)
- 0. Dengan menggunakan teorema nilai antara, kita ambil M = 0. Di sini kita harus
menunjukkan bahwa terdapat bilangan f(c) = 1y1 = 0 yang terletak di antara fC3) dan f(8).
Karena f(x) = 1a - 8x2 + x + 42, maka:
f(-3) = -6s
f(8) = 59
Jadi, jelasbahwa -60 = f(-3) < f(c) = M = 0 < f(8) = 50. Karena M = Oberada di
antara f(-3) dan f(8) maka akan terdapat paling sedikit satu bilangan c antara -3 dan
8 sehingga berlaku f(c) = g.
Pertanyaan lain, berapakah nilai akar x = c yang menyebabkan f(x) = x3 - Bx2 + x
+ 42bernllai nol? Jawabannya.akan kita tampilkan dengan perintah Mathematica:
Roots[x^3 - 8 x^2 + x + 42== 0,x]
x==-2f lx== 3llx==7
Hasilnya adalah x= -2 atau x = 3 atau x=7. Jadi, terdapat 3 akar (tiga nilai c) dalam
selang -3 S x < B yang menyebabkan f(x) = x3- 8x2 + x + 42bernllai nol.
Selain menggunakan perintah Roots, dapat juga digunakan perintah Solve:
Solve[x^3 - 8 x^2 + x + 42== 0,x]
{{x-+-2},{x--+3},{x+7}}

Hasilnya tetap sama. Untuk lebih meyakinkan, kita gambarkan grafik fungsi
f(x) = x3 - 8x2 + x + 42 dalamselang -3 < x < 8. Dengan Mathematica, inilah
hasilnya:
Plot[ (x+2X x-31 (*.-71,{x,-3,8}]

Gambar 3.17
N. MASATAH GARIS SINGGUNG DAN LAJU PERUBAHAN
Garis singgung kurva adalah garis lurus yang menyinggung kurva pada sa-
tu titik. Garis singgung merupakan masalah geometri yang telah dibahas oleh Ar-
chimedes, seorang ilmuwan Yunani kuno (abad 2 SM). Pertanyaan kita adalah:
"Apa gunanya kita membicarakan tentang garis singgung?" Nanti kita akan melihat
bahwa masalah garis singgung, yang merupakanpersoalan geometri, ternyata dapat
ditafsirkan dalam bentuk lain sebagai masalah gerak, kecepatan dan laju perubahan
yang merupakan masalah mekanik. Masalah garis singgung ini nanti juga akan
memainkan peran penting dalam salah satu cabang utama kalkulus, yakni kalkulus
diferensial.
Perhatikan gambar 3.18 berikut ini!

Gambar 3.18 a Gambar 3.18 b

Gambar 3.18 a memperlihatkan garis L yang menyinggung kurva lingkaran di


titik P. Garis L disebut garis singgungkurua. Gambar 3.18 b memperlihatkan garis L
yang memotong kurva lingkaran di dua titik P dan Q. Di sini, garis L tidak disebut
garis singgung, tetapi garis potong. Perhatikan juga gambar 3.19r.

Gambar 3.19

Garis lurus yang melewati titik P1 dan P, disebut garis singgung kutaa, karena
kedua garis ini menyinggung kurva masing-masing di titik P1 dan P.. Sedangkan
garis yang melewati titik P2 dan P, tidak disebut garis singgung kurva, sebab kedua
garis ini memotong kurva. Secara geometri akan tampak jelas mana garis yang
menyinggung kurva dan mana garis yang memotong kurva.
Setelah kita memahami pengertian garis singgung kurva, sekarang kita akan
berusaha untuk menentukan nilai kemiringan (gradien) garis singgung kurva
tersebut. Pada bab dua kita telah membahas bagaimana menentukan gradien sebuah
iaris lurus. Jika diketahui dua titik (x, , 1z,) dan (*, ,yr) yang terletak pada garis
:ersebut, maka gradien garis itu adalah m:

, =9
Ax -y2-yt
x2-xt
... (t)

Dari rumus (1), untuk dapat menentukan gradien sebuah garis lurus, kita
membutuhkan minimal dua titik yang terletak pada garis lurus itu. Lalu bagaimana
cara menentukan gradien garis singgung, karena di sini kita hanya memiliki satu titik
saja yang terletak pada garis itu yakni titik singgung. Perhatikan gambar 3.201

S ((x + h), f(x + h))

Gambar 3.20

Titik R dengan koordinat (x, f(x)) terletak pada kurva y = f(x). Garis L adalah garis
singggung kurva f(x) di titik R, sedangkan h adalah jarak horisontal dari titik R dan S
yang merupakan lebar selang antara x dan (x + h). h disebut juga perubahan dalam
x. Untuk menentukan gradien garis L, yakni mL, kita membutuhkan dua titik yang
terletak pada L, tetapi kenyataannnya titik R merupakan satu-satunya titik terletak
pada garis L. Di sini, rumus (1) tidak dapat dipakai untuk untuk menentukan gradien
garis singgung L. Mengapa? Karena rumus (1) menghendaki dua titik. Agar gradien
garis L dapat dihitung, kita membutuhkan garis lurus lainnya, yakni garis RS. Garis
RS adalah garis yang memotong kurva y = f(x) di dua titik yang terletak pada kurva,
yakni titik R dan titik S. Koordinat titik R dan S berturut-turut adalah: R(x, f(x)) dan
S((x+h), f(x+h)). Gradien garis RS adalah:
f(x+h)-f(x) _ f(x+h)-f(x)
mRS = ...(2)
(x+h)-x h

Jika kita buat posisi titik R tetap, sementara posisi titik S bergerak di sepanjang
kurva f(x) ke arah S, S, S, dan seterusnya semakin mendekati titik R, maka gradien
garis RS akan terus mengalami perubahan, sehingga ketika titik S berada pada posisi
S" yang sangat dekat dengan titik & maka nilai gradien garis RS akan sama (secara
Iimit) dengan gradien garis L (yakni m.). Ketika titik S bergerak mendekati titik R
maka lebar h akan semakin kecil. Jadi ketika S+R maka lebar h--+0. Secara limit,
ketika h-+0, garis RS akan semakin mendekati garis L. Pada posisi di mana titik S-
sangat dekat dengan titik R maka gradien mo, pada rumus (2) akan menjadi:

f(x+h)-f(x)
m-,(b= lim
h-+o

Pada situasi seperti ini, gradien m* akan mendekati gradien m., sehingga nilai
gradien garis singgung L yang semula tidak dapat dihitung, pada akhirnya dapat
diketahui dengan cara hampiran, menggunakan gradien garis RS ketika h-+0. Jadi :

f(x+h)-f(x)
ffio" = lim =mL
h-+0
--...----l
Gradien G aris Singgung Kuro a
]ika diberikan kunra kontinu y = f(x),'66Lu gradien garis smggung L 'Da81 !

kurva f{x) di titik P(x , (x)) adalah:


.t....

m, = ,.
[m f(x+h)-f(x)... (J/
,^\
_-
' h-+o h
dengan syarat lirrrit ter$ebut ada ,

Contoh 39: Tentukan gradien garis singgung kurva f(x) = x2 di titik P(-2,4)

Penyelesaian:
Titik singgungnya adalah P(-2,4). Substitusikan nilai x = -2 ke dalam rumus (3):

f(-2+h)-f(-2)
m- lim
= h--o
"
Dengan mengingat kembali persamaan kurvanya adalah f(x) = az, kita selesaikan
limit ini.
m- = lim f(-2+h)-f(-2)
" h-o h
(-2+h)2 -(-D2
= lim h
h-+0

4-+h+l'? -4
= lim
h-+0
,. -4h+h' ,. h(-4+h)
h-+o h h-+o h
= lim(-a+h) - -4
h-+0

Jadi, gradien garis singgung kurva f(x) = x2 di titik P(-2,4) adalah -4. Gambar 3.21.
menunjukkan situasi geometri garis lurus yang menyinggung kurva f(x) = 1z di titik
(-2,4). Gradien garis singgungnya sama dengan- 4.

\ f(x)=x'

15
titik si ggung ( t,4)

10
\

-5

-5-4-3-2-101
Gambar 3.21 Kurva f(x) = x2 dan garis singgungnya di (-2,4)

Contoh 40: (Gradien garis singgung kurva f(x) di sebarang titik): tentukan gradien
garis singgung kurva f(x) = 1z di sebarang titik P(x, y)

Penyelesaian:
Contoh 40 menggunakan kurva yang sama dengan contoh 39. Tetapi tujuan kita
di sini lebih umum dari contoh 39, yakni menentukan gradien garis singgung kurva
tersebut di sebarang titik P(x, y). Dengan rumus (3) diperoleh:
,. f(x+h)-f(x)
mL =iTt h
(x+h)2 - x2
= h-+0
lim
h
x2 +2xh+h2 - *2
lim
h-+0 h
2xh+h2 h(2x+h)
lim = llm
h-+0 h h-+o h
lim (2x+h) = 2x
h-+0

p,.irr
Jadi gradien garis singgung dari kurva f(x) = x2 di sebarang titik p(;
2x. Jawaban contoh 40 memberikan formula yang lebih umum dari jaw;
39. Dengan begitu, kita bisa menentukan gradien garis singgung kurv;
titik manapun. Misalnya, jikakita gunakan formula ini untuk menyelesarr"*- __
39, maka gradien garis singgung di titik P(-2, 4) adalah 2x = 2(-2) = -4 yang haslln-,--ra
sama sePerti jawaban contoh 39. Jika diberikan titik lainnya seperti P(10, 100), maka
gradien f(x) = 1z di titik ini adalah adalah 2x = 2(10) = 20, demikian seterusnya.

O. LAJU PERUBAHAN
Satu dari sekian banyak aplikasi penting dari kalkulus adalah menentukan
bagaimana satu variabel mengalami perubahan dalamhubungannya denganvariabei
lain. Misalnya, seorang ahli marketing ingin mengetahui bagaimana keuntungan
(variabel-1: keuntungan) perusahaannya mengalami perubahan (meningkat) dalam
hubungannya dengan biay a iklan (vari ab er-2 : biay a iklan) yang dikeluarkan.
Pembahasan mengenai laju perubahan berhubungan dengan masalah kecepatan,
yakni rasio perubahan dari variabel tak-bebas suatu fungsi terhadap variabel be-
basnya. Di sini kita akan memusatkan perhatian pada dua macam laju perubahan:
laiu perubahan rata-rata dan laju perubahan sesaat. Jenis pertama berhubungan
dengan perubahan variabel bebas dalam selang yang cukup lebar, sedangkan jenis
kedua berhubungan dengan perubahan variabel bebas dalam selang yang sangat
sempit.

Definisi laiu perubahan rata-rata


Jika y = f(x) maka laju perubahan rata-rata y terhadap x dinyatakan oleh
rasio

3Y,,; Vr -Vr
Ax x2-xl

Perhatikan bahwa: x, dan yr = nilai awal


x, dan yz = nilai akhir

Perhatikan gambar 3.22. Jika titik P(x,, y,) bergerak di sepanjang kurva f(x) ke titik
Q(xr,yr), maka laju perubahan rata-rata fungsi f(x) dari p ke Q adalah

yz-yt _ f(xz)-f(xr)= Ay
x2-xt x1-xl Ax

., ttr
:,:
xr) - f(x,) = Ax

Xr-X,=A1
Gambar 3.22

Dari rumus di atas, laju perubahan rata-rata dapat diartikan sebagai rasio
perubahan variabel tak bebas terhadap variabel bebas. Di sisi lain, pada bab dua
kita telah mempelajari tentang gradien garis lurus. Kita melihat bahwa rumus laju
perubahan rata-rata ini adalah sama dengan rumus gradien garis lurus. Jika y adalah
variabel "jarak tempuh" dan x adalah variabel "waktu" , maka rumus di atas akan
bermakna kecepatan rata-rata, sehingga laju perubahan rata-rata dapat diartikan sebagai
kecepatan rata-rata.

Contoh 41: Sebuah tangki air yang berisi 1000 liter air memiliki keran penutup
pada bagian dasar lantainya. Pada jam 12.00, keran penutupnya dibuka sehingga
air mengalir keluar dari tangki. Tepat pada jam 12.15, keran penutupnya ditutup
kembali dan air yang tersisa di dalam tangki 750liter. Hitunglah laju perubahan rata-
rata volume air dalam tangki tersebut selama keran penutupnya dibuka.

Penyelesaian:
Dalam kasus ini ada dua variabel yang berhubungan yakni waktu t (menit) dan
volume air V (liter) di mana V merupakan fungsi waktu (Mengapa? Karena perubahan
volume air dalam tangki tergantung pada berapa lama keran penutup dibuka). Jadi,
V = f(t).
V, (volume awal di jam 12.00) = 1000liter
V, (volume akhir L5 menit kemudian) = 750liter
x, (waktu awal) = 0 (jam 12 dianggap sebagai menit ke-0)
x, (waktu akhir) = 15 (jam 12.15 dianggap sebagai menit ke-15)
Maka laju perubahan rata-rata volume air selama 15 menit (dari jam 12 hingga 12.15)
adalah
vz-Y 750liter-l000liter -250liter
--::jj:::: = -50liter/menit.
x2-xl =
l5menit- 0 menit= l5menit

Kesimpulan: dalam selang 15 menit air dalam tangki berkurang dengan laju
(kecepatan) rata-rata 50 liter per menit. Kita dapat mengartikan laju perubahan
rata-rata sebagai kecepatan rata-rata, Tanda negatif pada hasil perhitungan artinya
'berkurang'.

Contoh 42:Jika diberikan fungsi kontinu y = f(x) = x2, hitunglah besar laju perubahan
rata-rata y terhadap x ketika:
a. xberubahdari2ke6
b. xberubahdaril0keS
Penyelesaian:
a. Ketika Xr= 2 maka yr= f(2) = 22 = 4
Ketika xr= 6 maka Yr= f(6) = 62 = 36

' Yz-Yt rc
Jadi laju perubahan rata-ratanya adalah
x2-xr=':-:
4-2 = *2 =

Kita tidak memberi satuan apapun pada hasil tersebut karena pada soal ini tidak
ada pernyataan mengenai satuan y dan x.
b. Ketika xr = 10 maka y, = f(10) = 1"02 = 100
KetikaXr= 8 makayr=f (8) =82 =64

Jadi,laju perubahan rata-ratanya adalah ' Yz-Yr = ul-]:o = 16 = tg


x2-xt 8-10 -2
Laju Perubahan Sesaat
Jika diberikan sebuah fungsi kontinu y = f(x), maka yang dinamakan dengan
laju perubahan sesaat adalah limit dari rasio perubahan y terhadap perubahan x di
mana besarnya perubahan x adalah sangat kecil. Misalnya, nilai awal variabel bebas
adalah x dan nilai akhirnya adalah (x + h) dengan h adalah bilangan yang sangat
kecil. Jika diberikan nilai awal x = 5 dan ia mendapat tambahan h yang sangat kecil,
misalnya h = 0,00001, maka nilai akhir x adalah (x + h), yakni (5 + 0,00001) = 5,00001.
Di sini kita katakan x berubah dengan pertambahan yang sangat kecil, sebesar h =
0,00001. Namun, seberapa pun kecilnya perubahan variabel bebas x, maka variabel
tak-bebas y iuga akan mengalami perubahan sebagai dampak berubahnya x. Dalam
masalah yang berkaitan dengan gerak dan kecepatan, laju perubahan sesaat sering
kali ditafsirkan sebagai kecepatan sesaat.
Definisi laju perubahan sesaat
! 1ika y = f(x), maka laju perubahan sesaat y terhadap x pada saat x = Xo
dinyatakan oleh:

,,_^ f(ro +h)-f(xo) A\


IIm -h ... t(+)
h-+0
dengan syarat limitrya ada

Definisi laju perubahan sesaat yang dinyatakan oleh rumus (4) adalah sama
dengan definisi gradien garis singgung yang dinyatakan oleh rumus (3). Kita telah
melihat ternyata masalah garis singgung merupakan masalah yang identik dengan
laju perubahan sesaat (kecepatan sesaat). Mari kita perhatikan contoh 43 dan memberi
perhatian khusus pada bagian c.

Contoh 43: Jarak y (meter) yang ditempuh oleh sebuah benda yang bergerak jatuh
bebas dari ketinggian tertentu di atas permukaan tanah x detik setelah dijatuhkan
dinyatakan oleh rumus V = di mana g adalah konstanta gravitasi yang besarnya
10 m/detik2.
lS*'
Tentukanlah:
a. jarak yang ditempuh benda itu 5 detik setelah dijatuhkan;
b. kecepatan rata-rata benda tersebut dalam selang waktu x = 3 detik hingga x= 7
detik;
c. kecepatan benda itu pada saat x = 7 detik.

Penyelesaian:
Di sini, jarak tempuh y benda itu merupakan fungsi waktu x yang dinyatakan
oleh persamaan gerak V =
\Z*t .
a. Untuk x = 5 detik, makl jarak yang ditempuh benda itu adalah:
7'tl
t = )2"' = ,tto)s2 = 125 meter
b. Untuk X, = 3 detik, maka yr= (1/2) (10) 3'z = 45 meter
Untuk xr=7 detik, maka yr= (1/2) (7q7'z = 245 meter
Sehingga, kecepatan rata-rata benda itu dalam selang 3 hingga 7 detik ketika ia
dijatuhkan adalah:
Ly _yz-yr 245rn-45rn 2oom
Ax x2-xl
_
7 detik-3 detik
- 4detik = 5o m/detik
c. Soal ini merupakan masalah laju perubahan sesaat. Kita diminta menentukan
kecepatan jatuh benda itu pada saat x = 7 detik. Sekilas hal ini tidak mungkin
dihitung, karena kita hanya memiliki data satu nilai waktu X, = 7 detik dan sahr
posisi benda yr= 245 meter. Artinya, kita membutuhkan data posisi benda lebih
dari satu waktu yakni n. Untuk menyelesaikan masalah kecepatan sesaat iru
yang perlu dilakukan adalah menghampirinya dengan pendekatan limit, vakni
menentukan nilai x2yang dipandang cukup dekat dengan Xr=7 detik. Misalnr-a
kita ambil X, = 8 detik, sehingga dalam selang waktu 7 < x < 8 diperoleh
kecepatan rata-rata:

Yz-Yt _ 320-245
=75 m/det
x2-xr 8-7
Kecepatan 75 m/ detlk masih merupakan kecepatan rata-rata dalam selang 7 < x
< 8 dan belum dapat dikatakan sebagai kecepatan sesaat di x = 7 detik. Mengapa
? Karena selang waktu x yang kita gunakan, yakni 7 < x < 8, masih terlaiu lebar
untuk dikatakan cukup dekat ke x = 7 detik. Agar kecepatan rata-rata berubah
menjadi kecepatan sesaat, maka kita perlu membuat selang waktu x yang lebih
sempit lagi sehingga selang tersebut semakin mendekati x = 7 detik. Berikut ini
kita berikan tabel selang x yang terus bergerak menyempit menuju nilai x = 7
bersamaan dengan nilai kecepatan benda pada tiap interval.

Selang waktu x Kecepatan jatuh


No
(detik) (m/detik)

1. 7<x<8 75
2. 7<x<7,5 72,5
3. 7<x<7,1 70,5
4. 7<x<7,01. 70,05
5. 7 <x<7,001 70,005
6. 7 <x<7,000L 70,0005

Dari tabel di atas, perhatikan bagaimana perubahan kecepatan jatuh, secara limit,
terus bergerak menuju angka 70 m/ detikketika kita mempersempit selang waktu
x, sehingga selang tersebut menuju kepada nilai x = 7 detik. Pada selangT . x
< 7,0001 dan seterusnya (jika ingin menambah selang waktu berikutnya), kita
akan memperoleh fakta bahwa selang berikutnya akan terus bergerak menuju x
= 7 detik. Pada saat itu, kita akan melihat bahwa kecepatan jatuh akan semakin
dekat kepada 70 m/detik Hingga pada tahap interval waktu sesempit inilah
kita layak mengatakan bahwa kecepatan rata-rata telah berubah menjadi kecepatan
sesaat. Jadi, kecepataan sesaat (laju perubahan sesaat) ketika x = 7 detik adalah
sama dengan 70 m /detik.
Kita dapat juga mendekati x =7 dari arah kiri. Hasilnya diperlihatkan pada tabel
berikut. Kecepatan jatuh dihitung dari arah kiri 7 adalah 70mldetik.

No. Selang waktu x Kecepatan jatuh (m/


(detik) detik)

1. 6<x<7 65
2. 6,5<x<7 67,5

3. 6,9<x<7 69,5
4. 6,99sx<7 69,95
5. 6,999sxs7 69,995
6. 6,9999s x < 7 69,9995

Dari kasus soal43 c, untuk selang x yang semakin sempit, besarnya perubahan
x, yakni h (di mana h adalah simbol yang sama artinya dengan Ax) secara limit akan
terus bergerak menuju nol. Dari tabel nilai di atas kita mempunyai nilai h berturut-
turut:h=1; h=0,5; h=0,1; h=0,01; h=0,001; dan h=0,0001. Misalnyadalam
selang 7 < x < 7,0001., kita katakan bahwa X,.=7 dan x, =7,0001,. Kita mempunyai :
h = Xz-Xr = 0,0001. Nilai h = 0,000L adalah nilai yang sangat dekat dengan nol. Itulah
sebabnya mengapa definisi laju perubahan sesaat harus dinyatakan dalam persepsi
limit h -r 0 sebagai berikut.
f(x+h)-f(x)
Iim
h-+0

Dalam memahami definisi laju perubahan sesaat (kecepatan sesaat) di atas,


ingatlah karena y = f(x), maka:
. f(x) = nilai awal y,
. f(x + h) = nilai akhir y,
o h = xz- xr- perubahan dalam x, sehingga simbol h+ 0 bermakna bahwa
perubahan dalam x begitu kecilnya, sehingga selisih dari x, dan x, begitu
kecil menuju nol. Ingat bahwa simbol h dan simbol Ax memiliki pengertian
yang sama.

Dalam perhitungan praktis, sering kali indeks o pada xo dihilangkan sehingga


cukup ditulis x. ]adi rumus laju perubahan pada (4) cukup ditulis sebagai:

f(x+h)-f(x)
lim
h-+0
Menyelesaikan Contoh 4.c Menggunakan Rumus (5)
Persamaan geraknya adalah:

y=f(x) =(\/2)gx2=Sxz
f(x+h)-f(x)
:I_jiI
Dengan menggunakan rumus (5): lim kita diperoleh,
h-+0 h
5(x+h)2 -5x2
= lim
h+0 h
5(x2 +Zr.h+ln21-sxz
lim
= h-+0 h

lim
= h-r0
5x2 +loxh+ 5h2 - 5x2
h
1Oxh+5h2
= lim
h-+0 h
h(l0x+5h)
= lim
h+0

- .lim
h-+0
(10x+5h) = LOx + 5(0) = 1Ox

Kita peroleh bahwa laju perubahan sesaat disembarang waktu x adalah L0x. Se-
hingga laju perubahan sesaat di x = 7 detik adalah 10x = 10(7) = T}meter / detik.
Untuk lebih memperluas pemakaian rumus (5), dengan tetap menjaga prinsip
dasarnya, kita dapat menggunakan variabel lain selain x (misalnya t untuk waktu,
v untuk kecepatan) dan simbol lain seperti s atau lainnya sebagai pengganti simbol
fungsi f.
Berikut ini kita akan menggunakan rumus limit laju perubahan sesaat untuk
menyelesaikan contoh M yang berhubungan dengan masalah gerak benda. Di sini
kita menggunakan variabel t (waktu) sebagai pengganti x dan s (jarak) sebagai
pengganti fungsi f.

Contoh Jarak s (daIam satuan kaki) yang ditempuh oleh sebuah benda yang
442
bergerak pada waktu t (dalam detik) dinyatakan oleh persamaan:
s(t)=29-5t+40
Tentukanlah kecepatan benda tersebut pada saat t = 4 detik!
Penyelesaian:
Ini adalah masalah menghitung kecepatan sesaat (laiu perubahan sesaat), ketika t
= 4 detik. Kita mengetahui bahwa jarak yang ditempuh benda itu ditentukan dengan
memasukkan nilai t = 4 ke dalam persamaan gerak s(t):
s(4) = 2 (4)'- 5(a) + 40 = 52 kaki.
Untuk menghitung kecepatan benda itu saat t = 4 detik, kita gunakan rumus limit
laju perubahan sesaat (kecepatan sesaat):

f(x+h)-f(x)
1im
h-+0

Di sini kita ganti f dengan s dan x dengan t = .Jadi, rumus di atas menjadi:

s(t+h)-s(t)
lim
h+0 h

karena s(t) = 29 - 5t + 40 maka:


. s(4+h) =2(4+h)' 5(4+h)+40
=2(16+8h+W)-20-5h+40
=32+ 16h+ 2h2-5h+20
=2W+11h+52
o dan s(4) = 2 (4)'- 5( ) + 40 = 52 c

Maka
. s(4+h)-s(4) = (2h2+ 11h+ 52)-52=2hr+ 11h

Sehingga kecepatan sesaat di t = 4 adalah:

.. s(t+h)-s(t) .. 2hz + llh


llm = llm--
rr-+o h h+o h
=
,. h(2h+11)
h+0 h
= Ir5b (2h+l t) = 2 (0) + 11 = 11 kaki/detik.
]adi, kecepatan benda tersebut pada saat t = 4 detik adalah 11 kaki/detik.

Konsep laju perubahan selain dapat ditafsirkan sebagai kecepatan dari benda
yang bergerak, juga dapat diperluas penafsirannya pada sebarang fungsi lainnya.
Misalnya:
kita ingin mengamati tentang laju perubahan jumlah populasi suatu jenis hewan
terhadap waktu;
. kita ingin mengetahui laju perubahan arus listrik yang mengalir dalam sebuah
rangkaian terhadap waktu;
mengetahui laju perubahan tekanan air di bawah permukaan laut terhadap
kedalamannya dihitung dari permukaan air;
' seorang ahli metereologi ingin mengetahui laju perubahan kelembaban udara
terhadap suhu udara;
i seorang ahli ekonomi ingin mengamati biaya marjinal, yaitu biaya untuk mem-
produksi secara tambahan satu satuan barang.

Dari beberapa contoh di atas, maka kita memandang laju perubahan sebagai
suatu konsep yang sangat penting dan dapat diterapkan pada beragam cabang ilmu
alam, ilmu rekayasa dan ilmu-ilmu sosial. Mari kita perhatikan contoh 45 dengan
menafsirkan laju perubahan untuk bidang manajemen.

Contoh 45: (manajemen): Sebuah perusahaan manufaktur memperkirakan bahwa


braya C yang harus dikeluarkan (dalam juta rupiah) untuk memproduksi x unit
barang tertentu dapat dinyatakan oleh fungsi:

C(x) = -0,2x2+8x+40; (0 <x< 40)

a. Tentukanlah biaya produksi rata-rata perunit untuk memproduksi barang antara


5 hingga 10 unit!

b. Tentukan laju perubahan sesaat dari biaya produksi perunit ketika perusahaan
itu memproduksi tepat sebanyak 5 unit barang!
c. Tentukan laju perubahan sesaat dari biaya produksi perunit ketika perusahaan
itu memproduksi tepat sebanyak 10 unit!

Penyelesaian:
a. Gunakan rumus laju perubahan rata-rata. Di sini persamaan untuk fungsi biaya
adalah:
C(x)= -0'2x2 +8x+40
Ketikax = 5 unitmaka: C(x) = C(5) = -0.2 (s)'? + 8(5) + 40 =75.
ladi,biaya untuk memproduksi 5 unit barang adalah Rp 75 juta.
Ketika x = 10 unit maka : C(x) = C(10) = -0.2 (1.0)'z + 8(10) + 40 = 100

Jadi,biaya untuk memproduksi 10 unit barang adalah Rp 100 juta.


Sehingga biaya produksi rata-rata perunit untuk memproduksi barang antara 5
hingga 10 unit adalah:
C(10) - C(5) 100juta - 75 juta _ 25 juta _I(p.ciuta/unit
_ n- tr:.,
*IU-5 = l0unit-5unit =_-_ 5unit t '
)adi secara rata-rata,biaya produksinya meningkat dengan laju Rp. s juta/unit
jika barang yang diproduksi ditingkatkan antara 5 hingga 10 unit.

b. Laju perubahaan sesaat dari biaya produksi perunit ketika perusahaan itu
memproduksi tepat sebanyak x = 5 unit barang dapat dihitung dengan rumus
limit laju perubahan sesaat:

-- C(x+h) - C(*)
i5l
,.
n

ambil x = 5, sehingga rumus diatas menjadi:

C(s+h)-C(5)
lim
h-+0

Karena C(x) = -0,2x2 + 8x + 40 maka:


C(5 + h) = -0,2 (5 + h)'z + 8 (5 + h) + 40 = 6h -0,2h2 +75
dan C(5) = 75

C(s+h)-C(s) (6h-0,2h2 +75) - 75


Sehingga:
li5; = h-+0
lim

l'm -o'2h2 = hm h(6 - 0'2h) -


6h
= h-+o h h+o h
hm (6 - 0,2h) =
h-+o'
6

Hasilnya adalah Rp. 6 juta/unit. Artinya, ketika perusahaan itu memproduksi 5


unit, maka biayanya meningka! dengan laju Rp. 6 juta per unit.

c. Laju perubahan sesaat dari biaya produksi per unit ketika perusahaan itu mem-
produksi tepat sebanyak 10 unit barang. Di sini x = 10. Teknik perhitungannya
sama saja dengan bagian b. ]adi:
,, -- C(I0+h)-C(I0)
I1III-
h-+0 h

lim [-0,
= h+0
2 (l 0 + h)2 + 8 (1 0+ h)+ a0] - [-0, 2 (1 0)2 + 8 (1 0) + 40]
h
.. 4h--- 0,2h2
lim
= h-+o -'--- = lim h(4- o,2h) = rim (4-0,2h) = 4
h h-+0 h h-+o'

Hasilnya adalah Rp. 4 juta/unit. Artinya, ketika perusahaan itu memproduksi 10


unit barang, maka biayanya meningkat dengan laju Rp. 4 juta per unit. Dengan
membandingkan hasil jawaban b dan c, kita melihat bahwa biaya produksi barang
per unit akan makin turun ketika jumlah barang yang diproduksi semakin besar.
Laju perubahan fungsi biaya seperti contoh ini dinamakan biaya marjinal yaitu
biaya unfuk memproduksi secara tambahan satu satuan barang.

Latihan Bab 3

1. Jelaskan dengan kalimat Anda, apa yang dimaksud dengan persamaan


lim f(x) = 19
x-+4
Jelaskan pula apa yang dimaksud dengan f(4) = 19
2. Jelaskan dengan kalimat Anda, apayang dimaksud dengan:
lim f(x) dan lim f(x)
x+4- x-)4*
Jelaskan pula apa yang terjadi pada tt.l ketika fim_ f(x) * lim f(x)
lg
3. a f(x) =
Jika diberikan fungsi t: ,hitunglah ,trl dengan cara membuat
x_2 l5;
tabel nilai limit arah kiri dan arah kanan (lihat contoh 1)!

Untuk soal4 - 9, hitunglah limit yang dimaksud dengan substitusi langsung:

4. lim (x3 - 2x2 + 3) 5.


..
Irm
x -2x2
x-+2 x-+2 x-4
r--- .. 2x+l
6. JT, rJ*' - 2)(Jx + I 7. llm- _
x-->-2 3x-4
8. ,|potz*'-x+k2) ,.
llm
2x+l
9.
y-+-2 3x - 4
-
Untuk soal L0 - 15, hitunglah limitnya dengan manipulasi (penyederhanaan) aljabar:

10. li* -8*3


11. llm
J*- +
x-+2 x- 2 x-+16 x- 16

12. lim
)
x'-x-6
13.
.. _Ji-.6
Irm
x-+-2 x+ 2 x-+5 x- 5
L4. tim *3-3*2-x+3 15. lim U/(x+3)l-r/3
x-+3 x-3 x-+0
Untuk soal 16 - 25, gttnakan kalkulator untuk memperkirakan nilai limitnya di
sekitar nilai yang didekati oleh x. Nyatakan nilai-nilai tersebut dalam tabel nilai (arak
kiri dan arah kanan). lika fungsi yang diberikan melibatkan bentuk trigonometri,
pastikan dahulu agar kalkulator Anda berada (diset) dalam mode radianlRADl.

3,&+1-x-3 17. li- ti^3'


1,6. lim
x+0 ,2 x-+0 x
sinex 1- x 1

18. lim 19. lim


x-+1 x-1 x-+1 x-1
..
lrm
2x-n 21.. lim x
20.
x-+% cosx x+0 ex -1
,. I cosx tut 5*
22. lrm - 2g. li*
x+0 sinx x-+0 tan2x
lnx
24. (.
- ln lx l) 25. lim _
lTl x-+1 x-1

26. a. Buatlah sketsa grafik fungsi dengan aturan berbeda berikut ini.

[, -* jikax< -2
f(x)=lx+2 jika-2<x<2
,[t jikax > 2

kemudian hitunglah:
b. lim f(x) c. lim f(x) d. lim f(x)
x-+-2 x-+ 1 x-+ 2

Untuk soal27 lim f(x) = 16 dan lim g(x) = 8. Gunakan sifat dan
- 32, dlberikan x-+4 x-+4
aturan dasar limit untuk menjawab soal-soal yang diberikan

27. lim [f(x)-S(x)] 28. lim [f(x).g(x)] 2e. li- 8"(')


x-->4 x-+4 x-+4 f'(y)

30
lS+# st 1'5ilm).;I"x 32. lim [f(x) g(x)]a

33. Nilai penjualan mingguan (dalam ribuan rupiah) pada sebuah supermarket
minggu setelah kegiatan promosi berakhir dinyatakan oleh P(t):

+
P(t)=sooo #
Tentukanlah:
a' P(2) b. |,i nttl c. ,1$u n(tl
34. Biaya produksi jam dinding merk tertentu dinyatakan oleh:
c(x)=20'000 +5x
di mana x adalah jumlah unit jam dinding yang diproduksi. Biaya produksi rata-

rata perunit adalah c(x), di mana clxi diperoleh dengan cara membagi c(x)
dengan x.
Tentukanlah:

a. (1000) b. c(100.000) c. lim c(x)


x-+10.000

ffi.;rdli?t,
l
#:,i
t1\'$rc$+
.ffi::,r. :]]]*::\l
,1iri,

ffil$s,,i'iii
...,si:r:,ri:1@
BAB

TURUNAN

A. PENDAHULUAN
Hampir semua ide kalkulus dibangun oleh konsep fungsi dan limit. Kedua tema
penting ini, yakni fungsi dan limit telah kita bahas, sehingga pemahaman tentang
keduanya telah memadai unfuk mengantarkan kita pada pembahasan cabang pertama
kalkulus, yakni kalkulus diferensial. Fokus utama pembahasan kalkulus diferensial
berkisar pada masalahperubahan atauaariasi. Pada bab tiga, kitd telah rnelihatbahr.t a
persoalan utama yang dibahas dalam masalah garis singgung dan laju perubahan
adalah masalah perubahan. Tiap kali kita berbicara tentang dua masalah penting ini,
yakni masalah garis singgung dan masalah laju perubahan fungsi f(x), sebuahlimit
unik,yakri:
f(x+h)-f(x)
lim
h-+0

akan senantiasa muncul sebagai substansi utama pada dua masalah tersebut. Oleh
sebab itu, kita perlu memberi nama khusus bagi limit unik ini. Limit seperti ini (jika
limibrya ada) dinamakanturunan.Pernbahasanbab ini ditekankanpadapemahaman
mengenai pengertian furunan dan teori-teori yang perlu dikuasai untuk dapat
menenfukan turunan sebarang fungsi. Adapun mengenai penafsiran turunan dan
aplikasinya akan di bahas pada bab lima.
B. TURUNAN
Kita mulai pembahasan turunan dengan mendefinisikannya secara matematis.

Definisi Turunan
Unfuk fungsi Y = f(x) maka turunannya di titik x didefinisikan oleh:

f (x) ti* f(*+l)-f(r) ... (1)


=
h-+0 h
asalkan limit ini ada. Jika f (x) ada, maka kita katakan fungsi f{x) terdiferensialkan (dapat
diturunkan) di titik x

Jadi, sekali lag| yang dinamakan turunan adalah limit unik yang bentuknya:

,. f(x+h)-f(*)
iil r"'

Kita menggunakan notasi f' (x) (dibaca: "f aksen x") untuk menyatakan turunan
yang didefinisikan oleh limit tersebut. Proses penentuan turunan fungsi f(x) disebut
pendiferensialan. Sedangkan cabang kalkulus yang berhubungan dengan turunan
disebut kalkulus diferensial. ]adi sekarang cukup jelas bagi kita mengapa turunan
merupakan konsep utama dalam kalkulus diferensial. Sekarang, mari kita coba
menghitung turunan beberapa fungsi dengan menggunakan definisinya.

Contoh 1: Tentukan turunan fungsi f(x) = 3*z + 5x - 25

Penyelesaian:
Gunakan definisi turunan f' (x) = t'- f(x+!)-f(x) . Di sini f(x) = 312 + 5x - 25, maka:
h--+0 h
3(x+h)2 +5(x+h)-2 5 -(3xz + 5x - 25)
f'(x) = lim
h
h-+0

3(x2 +2xh+h2)+ 5x+5h-25 - 3x2 - 5x + 25


= lim h
h-+0

3x2 +6xh+3h2 + 5x+5h .25 - 3x2 - 5x + 25


= lim
h-+0

6xh+3h2 + 5h
= lim
h-+0 h
h(6x+3h+5)
= lim lim (6x+3h+5) = 6x + 5
h-->0 h-+0
Jadi, turunannya adalah fl (x) = 6x + 5.
Jika kita ingin memperoleh nilai numerik dari f' (x) di sebarang titik x, cukup masukkan
nilaixke dalamf' (x) = 6x + 5. Misalnyaturunanf(x) di x=7 adalahf (x = 7)=6(7) +5=47.

C. LANGKAH.LANGKAH MENENTUKAN TURUNAN


Untuk membantu kita dalam menentukan turunan f' (x), ikutilah empat langkah berikut
m1.

S Langkahl Tentukan f(x + h)

$ Langkah2 Tentukan selisih f(x + h) - f(x)


f(x+h)-f(x)
S Langkah3 Bagilah dengan h untuk mendapatkur',
h

Langkah 4 : Ambil limit h -+ 0,lalu hitung f' (x) =


g+3
H
Mari kita gunakan empat langkah di atas untuk menetentukan turunan fungsi
f(x) pada contoh berikut.

Contoh 2: Hitunglah turunan fungsi berikut ini.

a. f(x) =1z-3 b. (r)=* c. f(x) = fi


Penyelesaian:

a. Fungsinya f(x) = az - 3. Dengan meneraPkan empat langkah di atas:


. Langkahl: f(x+h)=(x+h)2-3= x2 + 2xh + h2 -3
. Langkah2:f(x+h)-f(x)=(x2 + 2xh + hr -3)-(x'-3)= 2xh+h2

. f(x+!)-f(x) 2xh+h2 h(2x+h)


Langkrnr.
hhh - - = 2x+h

. f(x+h)-f(x) ,)-
Langkah 4 : Ambil h -+0, jadi f '(x) = lim = lim (2x+h) -
h-+0 h-+0

Jadi, ttrrunan f(x) = x2 - 3 adalah f (x) = 2v.

b. . LangkahL :Tentukanf(x+h) =,'0,


3(x+h)
. l0
Langkah2:Tentukan:f(x+h)-f(x) = ^,10,. -
3(x+h) 3x

10(x+h)
10x-10x-10h -10h
==-3x(x+h) 3x(x+h)
. Langkah.3 : Bagilah hasil langkah 2 dengan h, hasilnya:
-10h.-10h1-10 .'
-= :x(x+h)'" = --
3x(x+h) -h
=
.L_

3x(x+h)

. -:n 4 : Ambil limit hasil langkah 3 untuk h -+ 0. Hasilnya:


Langkah
f(x+h)-f(x) ..
lim-.-=
-10
IlIfl-_---:-_
-10
ilb h rlib:x1x+rr; 3x2

Jadi, turunannya f (*) = #.


3x' $
t'

c. . Langkahl:f(x+h)= Jx+h i

. Langkah 2: f(x + h) - f(x = .Fr -Jn


f(x+h)-f(x) {E;r-Jx
. Langkah3r- -= (rasionalisaikan bagian pembilang)
n
ff+n+J, I =- _!!h1:-
(ffilEl h(!&lT + Ji )

=-hr-F;TJ =
IF-;TJ
. Langkah 4:,Hitung limit hasil langkah 3 untuk h -+ 0. Hasilnya

2J*
I
|adi, turunannya adalah f' (x) =
2rl*

D. BEBERAPA NOTASI TURUNAN


(x)' Selain itu'
Kita telah menyatakan turunan fungsi Y = f(x) dengan notasi f'
turunan, di
terdapat beberapa notasi lain yang sering digunakan untuk menyatakan
antaranva adalah:
y, ff, r 1*1, fi[r1x)], D,.[r1x)], D,v, #
Kita bisa memakai notasi-notasi ini untuk menyatakan turunan dan semua notasi
ini populer digunakan pada buku kalkulus. Huruf d atau D yang digunakan pada
notasi di atas di baca sebagai "diferensial". Semua notasi ini mewakili ekspresi limit
unik hm f(x+!)-f(x) yang disebut turunan. jadi:
h-r0 h

1-
h-+0
S1P4
h
=r,(x) =y, =:l = ftrt.ll = D*[f(x)] = D*y = # =turunan

E. EKSISTENSI (KEBERADAAN) TURUNAN


Suatu fungsi f(x) dikatakan terdiferensialkan pada titik x = c jika nilai limit unik
tersebut ada (terdefinisi). Tetapi jika limitnya tidak ada, maka fungsi f(x) dikatakan
tidak-terdiferensialkan di x = c. lJmumnya, terdapat tiga situasi di mana fungsi f(x)
gagalmemiliki turunan di x = c di dalam domainnya. Tiga situasi tersebut secara
geometri dapat diilustrasikan oleh gambar 4.1' a- c.

a. titik pojok b. garis singgung c. titik diskontinu


vertikal
Gambar 4.1

Contoh 3: Tunjukkan bahwa fungsi f(x) = | x I tidak mempunyai turunan di titik x


-0.
Penyelesaian:
Grafikfungsinilaimutlak f(x) = I x I ditunjukkanolehgambar 4.2.Kltagunakan
software Mathematica untuk menampilkan grafiknya dengan perintah Plot:

Plot[Ab s [xl,{x,'4, 4}, Axe sL ab el-){" x", "f (x)" 17


Gambar 4.2. Grafik t(x) = | x I

Perhatikan, bahwa jejak grafik fungsi f(x) = | x I merupakan dua buah garis yang
bertemu di titik x = 0, kedua garis ini memiliki gradien yang berbeda. Gradien garis
singgung kurva tersebut di sebelah kiri x = 0 adalah -1, dan gradien garis singgung
di sebelahkanan x = 0 adalah +1. Grafik fungsi ini memilikititik suilut di titik asal
(0, 0) sehingga mencegahnya untuk memiliki turunan di x = 0. Mari kita buktikan
masalah ini dengan definisi turunan. Kita ambil x = 0.

'{lr Langkah 1 f(0+h)= l0+h | = lh I

{r Langkah 2 f(0+h)-f(0)= lh I - l0l = lh I

f(0+h)-f(0) lhl
{, Langkah 3
h h
f(0+h)-f(0)
{l\ Langkah4 lim = 6* lhl = tidak ada.
h+0 h-+0 h
Limit pada langkah 4 tidak ada (tidak eksis atau tak terdefinisi). Jadi fungsi f(x)
= lx I tidak terdiferensialkan (tidak mempunyai turunan) di titik x = 0.

F. ATURAN-ATURAN DALAM MENENTUKAN TURUNAN


Kita telah membahas bagaimana menentukan turunan fungsi y = f(x) dengan
menggunakan definisi turunan, yaltu dengan limit empat langkah yang telah
dibahas. Proses penentuan turunan dengan cara seperti ini seringkali membutuhkan
banyak manipulasi allabar, sehingga memakan waktu dan tidak praktis. Untuk
mengatasinya, kita perlu mengembangkan aturan-aturan yang bersifat umum yang
dapat diterapkan pada beragam fungsi. Masing-masing aturan akan menjadi teorema
tersendiri yang memudahkan kita dalam menentukan turunan. Sebagian dari teorema
ini kita buktikan dan sebagian lain dibiarkan untuk anda buktikan sendiri.
Teorema 1 (Aturan Fungsi Konstanta)
I
I Jit u (*) = c, di mana c adalah konstanta, maka untuk sebarang x berlaku f (x) = g
**--*.,.,
Jadi, untuk setiap fungsi konstan, maka turunannya pada sebarang x adalah
sama dengan nol.
Bukti: Kita buktikan teorema 1 dengan definisi turunan:
f(x+h)-f(x)
fl (x) = t',,'
h-+0 h
f, (x)= r.*f(x+h)-f(x) = limc-c = lim 9 = 0.
t'-o h h-+o h h-+o h

Jadi, terbukti jika f(x) = g maka f' (x) = I

Contoh 4: Tentukan turunan fungsi f(x) = 15

Penyelesaian:
Berdasarkan teorema 1, karena f(x) = 15 merupakan fungsi konstan, maka
turunannya sama dengan nol.
r-'------**
i
!
Teorema 2 (Aturan Pangkat)

! litu f(x) = xn di mana n sebarang bilangan rasional, maka turunannya adalah:

Bukti: Gunakan definisi turunan


. Langkah 1: f(x + h) = (x + h)"
= uraikan dengan rumus binomial, diperoleh
n(n-1)
= x^ + ,r*.-1n* *n-162 +...+nxh'-l +h'
2!
t)
r Langkah 2: f(x + h) - f(x) = [xn + .rr,^-l h* "(:,2l rn-l 62 +...+ nxht-l +ht1-x'
n(n-1)
- .rr.-1n* 2l
*n-162 +...+ nxh.-l + h^

n(n-1)
,..,r.-1n* *n-162 +...+ nxhn-l + h.
. f(x+h)-f(x) 2l
Langkah3:
h

h [nx^-l
'2t *"(1, l) *t-1h *...+ nxht-2 + h"-1]
n(n-l)
= nxn-l * *.-l h +...+ nxh.-2 + h^-1
2l
. Langkah 4 : Ambil limit h -+ 0 untuk hasil akhir langkah 3 diperoleh:
f(x+h)-f(x)
fl (x)= ,'-
h-+0 h
f, (x)= lim (nxt-l * "(1;1) *^-1h +...+ nxh'-2 + hd-l) ... (i)
h+0' 2l
f' (x)= ,,.*t-l
Perhatikan (i), semua suku yang mengandung h akan menjadi nol sehingga )rang
tersisa hanya suku nxt-l . |adi, jika f(x) = x^ maka fl (x) = nxn-'
Dari pembuktian teorema L dan teorema 2, tampak jelas bahwa limit sangat
berperan dalam proses pembuktian teorema-teorema turunan. Untuk memahami
pemakaian teorema 2, contoh 5 menampilkan tabel yang memuat fungsi dan
turunannya.

Contoh 5: Kolom 2 pada tabel berikut menampilkan 5 macam fungsi dan kolom 3
memuatturunanmasing-masingfungsi.Turunannyadiperolehdenganmemanfaatkan
teorema 2.
Pangkat n Fungsi f(x) Turunan f'(x)

3 x3 3x2

10 x1o 1Oxe

-7 x7 -7xB

1 x1 atau llx 1x2atau-1I^


tv.
0,7 x0,7 0,7x0,7 -1=0,7x-0,3
jadi, dengan teorema 2 kita tak perlu lagi menentukan turunan dengan
menggunakan definisinya (eveluasi limit). Cara ini jelas lebih mudah.

Teorema 3rr(Atufrn Perkaliah,Fungsi dBn$aittr Koncttnta)-,1,,,1,,, ... ,..,

Misalkan k adalah sebarmg bil$n riil' ]ika gt. (x),.ada maka h ltary,,dart
!rygsi f(x),; k; g(i)iradalahi
f (x)=kg,,F)
(Aitinvai turunad:darirper iimr,konstantal,k d*r$an fUxgsi g($ adalah'sama
denganperk*iiankoxan-ta kldengan n$',, },r)

Contoh 5: Tentukan turunan fungsi f(x) = 191-z


Penyelesaian:
Di sini k = 10, g(x) = x-' ,{ (x) = -7x-a sehingga:

dv
# =f (x)=kg (")

+ =f (x) = 1o (-7x-8) = -70 x-8


dx

Untuk menyatakan turunan, kita dapat menggunakan notasi !dx ata,t? (x) atau
Iainnya.

Contoh 7: Tabel berikut menampilkan lima macam perkalian konstanta dengan


fungsi. Kolom 2 memuat turunannya. Turunan tersebut diperoleh langsung dengan
memanfaatkan teorem a 2 dan teorema 3.

Fungsi f(x) Turunan f'(x)

25x3 (25)(3x'?) = Tsxz

-15x10
(-i5 \6 )(10x'g) = -'15sxs

.6x' t.6 X-z*') = -2.,6 x-g

0,9 x1 (0,9)(-1 x2 ) = -0,9 x2

43 xo'7 (43)(0,7x0'?-1) = 30,1 x{'3

Cukup mudah, kita tinggal mengalikan konstanta tersebut dengan turunan fung-
sinya.

,,,,,,1;o1emra,4,{Aiumn,tumlah,;, gsfsihl'
rrrrlikl' dib$k ft$gsi f{x}.* gk),,,,,,},,,rh(t} di Aaffii.rr.$r) **th(x}rrrbidi$eit lkfi
f,,,,1(x),,,xr,'g (x),, x,lhi., (xl...l,l',l.,l

,'1 ,. i a)*( ri,( &atrau,i lr igsi,adal aerig ,iadarr


,r6D.t; id ..i1tlii Atulal:t ini tetap berlqku-pada,@-ryi
.aia*l&ih);r

Bukti: Kita ambil kasus jumlah dua fungsi: f(x) = g(x) + h(x).
Dengan menggunakan definisi turunan:
f(x+h)-f(x)
f' (x) = li6
h-+0
untuk f(x) = g(x) + h(x), maka:
. Langkah 1 f(x+h)=g(x+h)+h(x+h)
. Langkah2 f(x+h) -f(x = [g(x+h) +h(x +h)] -[g(x) +h(x)]
= [g(* + h) - g(x)] + [h(x + h) - h(x)]

. f(x+h)-f(x) _ [g(x + h) - g(x)] + [h(x + h) -h(x)]


Langkah 3
hh
f(x+h)-f(x) _ [g(x + h) - g(x)] ,
[h(x+h)-h(x)]
hh
Kemudian, ambil limit h + 0, diperoleh:

. Langkah4 lim lim lh(x+h)-h(x)l


h-+0 h h-+0 h h-+0 h
I
I

I t I
f'(x) g'(x) h'(x)

Dengan definisi turunan, kita telah membuktikan teorema 4. Untuk pembuktian


kasus selisih dua fungsi, caranya sama seperti di atas. Pada contoh 8, kita akan
memanfaatkan empat teorema yang telah dibahas.

Contoh 8: Tabel berikut memuat fungsi, turunan dan teoremayang digunakan.

Nomor teorema yang


Fungsi f(x) Turunan f'(x) digunakan

25x3 -2x2 + 4 75x2-4x+0' 1,2,3, 4

xs +1Sx'o 5x4 + 150xs 2,3,4

1,2,3,4
J1 * 4x1; - 13 -t Ji ,-" + 6,8x0'7 + 0
^'
0,9 x-' + 6xB - 3x2 - 11 -0,9 x-2 + 48x7 - 6x - 0 1,2,3,4

* Catatan: Di sini kita tetap menulis angka nol dengan tujuan untuk menjelaskan langkah-
langkah dalam proses diferensiasi. Hal ini nantinya tak perlu dilakukan lagi, cukup
ditulis 75x2 - 4x
I Teorema 5 (Aturan Perkalian)
I / \ l. / \ I 1 / \ -1-.-,r,lrr-----,--1,---
]ika f(x) = g(x) . h(x) di mana g(x) dan h(x) dapat diturunkan, maka turunan dari
----l-^L--

f(x) adalah:
g" (x) . h(x)

Contoh 9: Tentukan turunan fungsi f(x) = (8** - 3x'z) (-x3 + 7)

Penyelesaian:
Misalkan: g(x) = (8*n - 3x2) g' (x) = 32x3 - 6x
=
h(x) = (-x3 + 7) h' (x) = -312
=
Kita telah mendapatkan empat suku yang diperlukan untuk disubstitusikan ke
dalam rumus teorema 5. ]adi turunannya adalah:
e (x) = g(x) .h' (x) + g' (x) . h(x)
e(x) = (8xa-3x').(-3x') + (32x3-6x).(-x3+7)
1I

g(x) h- (x) g'(x) h(x)

Hasil di atas kita uraikan dengan Mathematica, menggunakan perintah Expand.


Programnya adalah:
Expand[(8 x^4 - 3 x^2)G3 x^2) + (32 x^3 - 5 x)Gx^3 + 7)]
- 42 x + 224 x3 + 15 xa - 56 x6 (output Mathematica)

Jadi,turunanftrngsif(x) =(8xa-3x2)(-x3+7)adalah f (x)= -56x6 +15xa +224x3-42x.

Teorema 6 tAturan Pembagian) v


*h(x)Or*.u
|ika,,diberikan f(x)'= '
g(x) dan h(x) terdiferensialkan maka tu-
d*n"t; adalah:'
h(x)s'(x)' - g-(x) h'(x)
f' (x)
\"/=
Ih(*)12

Contoh 10: Tentukan turunan fungsi f(x) ''= -'\'*'J'


t:-Ji
Penyelesaian:
Ini adalah fungsi rasional. Turunannya dicari dengan teorema 6. Misalkan:
g(x) = -3x3 + 2x2 , jadi g' (x) =- 9x2 + 4x
-l
h(x)=13- Jx , jadi h, (x;= -!*-, dan [h(x)], = (13- fi),
2

Masukkan nilai-nilai g(x), h(x), { (x), h, (x) dan [h(x)], di atas ke dalam rumus
teorema 6, hasilnya:

t t_.\ _ h(x)g'(x). - g(x) h'(x)


I\^/_[hE)P
1

(13-J;X-g x2 +4x)- (-3*3 +z*2 1g!*i 1


t,
r \t-.\,r - 2

Menurunkan fungsi pecahan seperti contoh 10 harus dilakukan dengan teorema


6. Secara manual (dengan pulpen) akan memakan waktu lebih lama. Sekarang,
mari kita gunakan Mathematica untuk mencari turunan fungsi pada contoh 10. Kita
gunakan perintah D[fungsi,x]. Program dan hasilnya adalah:
y = G3 x^3 + 2x^2ll(13 - Sqrtlxl);
D[y,xl
4x-9x2 2x2 -3x3
13- Jx 203 - Jx )r Jx

hasil ini disederhanakan dengan perintah Simplify, maka:


Jika -r-(OUtOut)
Simplify[%l
x(1oa-6Ji -zzqxntx%) (output)
z1-t:+Ji)2

Contoh 1t: Tentukan turunan fungsi f(x) = (x2 + 3x)12

Penyelesaian:
Disinikitaanggap: n=12; g(x) =x2+3x; g'(x)=2x+3 dan [g(x)]"-t-(x2+
3x)ll sehingga:

f' (x) = n . [g(x)] (" -1) . g' (x)


f (x)= 12 (x2 + 3x)11 . (2x + 3)
f' (x) = (24x +36) . ( x2 + 3x)11

Jadi turunan fungsi f(x) = (x2 + 3x)12 adalah f' (x) = (24x + 36). ( xr + 3x)11. Irri
adalah polinomial derajat 23. lika f' (x) = (24x + 36) . ( x2 + 3x)11 diuraikan suku demi
suku dengan Mathematica, hasilnya adalah:
Expand[(24 x + 35Xx^2 + 3 x)^11]
637j292x1 + 2j634932xt2 + 54561276xt3 + 64953900x14 + 51963120x15 + 294457 68xt6

+ l2l2472gxt1 + 3656664x1s + g0lg00x'e + 124740x20 + 13068x21 + 828x22 + 24x23

Contoh 12: Tentukan turunan f1*1 = t['* * t

Penyelesaian: 1
Tuliskan fungsi ini dalam pangkat pecahan : f(x) = (2x-3 + x)2

Kita ambil: 'zI


n=L/2; ,-,\ B'(x)=
-.r /-.\
ra---3
g(x) =(2x-3+x); t-.-4
-6x-a+1 a^^ [g(*)]"-'=
, 1 dan r-t (2x-3+ x)
Jadi
fl (x) = n.[g(x)]1"-tr . gr (x)
I -l
f' (x)= I', (Z*-'+ x) 2. (-6x-a+ 1)
_,
f, (x) = (-3*-4 +1/2).(2^-3 + x) 2

Di samping cara di atas, terdapat cara lain yang lebih mudah. Fungsi f(x) berikut:
I
f(x)= (2x-3+x)z
kita bagi dua menjadr "fungsi luar" dan "fungsi dalam" sebagai berikut
rTg't'{ uz
f(x) = (2x-3 +1)funesiluar

Untuk mendapatkan f' (x), lurunkanfungsi luar dengan membiarkanfungsi dalanr


" tetap" . Jadi, kita hanya menurunkan pangkat / 2 saia. Hasilnya: 1.

rl
I2 Q"-'+ x) 2 ... (hasil turunan fungsi luar)

Kemudian turunkan/rz ngsi dalam,yakni 2x-3 + x . Turunannya adalah:

-6x-4 + I ... (hasil turunan fungsi dalam)


Akhirnya, kalikan turunan fungsi luar dengan turunan fungsi dalam. Jadi:
r,_l
f' (x) = - (2x-'+ x) 2 (-6*-a +l)= (-3*-* +1/2).(2*-3+x)
1

i
2'
. Lebih Laniut dengan Aturan Rantai
Aturan rantai sangat sering digunakan untuk menetukan turunan fungsi,
terutama fungsi komposit, yaitu fungsi yang variabel bebasnya didefinisikan dalam
bentuk fungsi lain. Untuk itu, kita perlu memaparkan beberapa ide lain berkaitan
dengan aturan rantai.

Aturan Rantai
Misalkan terdapat dua fungsi Y = f(u) dan u = f(x) yang diferensiabel (dapat
diturunkan), maka turunan y terhadap x adalah:
dy=dydu
dx du dx
Contoh 13:Jika y adalah fungsi u dan u adalah fungsi x di mana:
y=u3+2u-a dan u-3x1/3-5x
_ dv
tentukan r
dx
Penyelesaian:
Dengan aturan rantai, kita tentukan dahulu:

+
du = -8u-5 =
3u2 3(3x1/3-Sx)r- 8(3112:- 5x)-s aur., $ = y-2/3- 5 sehingga:
dx
dy=dydu
dx du dx
= 3(3x1/3 _ 5x)'_ g(3xtza _ Sx)-s (x -rl3 _ 5)

Kita telah menguraikan tujuh teorema untuk mencari turunan beragam fungsi.
Dengan memanfaatkan teorema-teorema tersebut, turunan sebarang fungsi dapat
ditentukan dengan mudah.

. Turunan f(x) di titik (a, b)


Kita telah memanfaatkan teorema-teorema di atas untuk menghitung turunan
fungsi f(x) pada sebarang titik x. Turunan f(x) pada contoh sebelumnya, semuanya
dinyatakan dalam bentuk fungsi. Sekarang, kita akan menentukan turunan f(x)
pada sebuah titik (a,b). Turunan fungsi f(x) pada titik (a, b) dinyatakan oleh simbol
e (x)l atau ditulis langsung f' (x = a).
lx=a
Sebagai contoh, pertimbangkan kembali contoh T.Jlkakita ingin mencari turunan
fungsi pada tabel berikut di titik tertentu, misalnya di x = 2, maka turunan di x = 2
adalah | (2).Hasilnya kita nyatakan pada kolom 3.

Fungsi f(x) Turunan f'(x) Nilai turunan di f '(x = 2)

25x3 (25)(3x'?) = 75x'? 75(2)'z = 300

- 1 5x1o (-15)(1Ox'g) = -150xs -150(2)'g = -76800

t;
!J x' tJi x-t* '; = -7 "'[ r-' -t Ji el8 = -0.0473608

0,9 x-' (0,9X-1 x-2)=-0,9x2 -0,e 12;-z = -0.225


43 xol (a3X0,7x 0,7-1) = 30,1 x -o 3
30,1 (2) 4'3 = 24.4488

Jadi, untuk menentukan f (x) di titik (a,b), kita tinggal memasukkan x = a ke


dalam f' (x). Artinya f' (x) menjadi f' (a). Notasi f' (a) ditafsirkan sebagai gradien garis
singgung kuraa f(x) di titik x = a. Bllangan pada kolom ketiga tabel di atas ditafsirkan
sebagai gradien garis singgung masing-masing fungsi f(x) di titik x = 2.

Contoh lain, pertimbangkan kembali contoh 10 di mana 61*1 =


-3"'f dan turun-
l3-Jx
x (1oa- 6Ji - zt+x+tsxli)
annya menurut perhitungan Mathematica adalah fl (x) =
2eB+Ji)2
maka turunan f(x) di titik (4, -]!q)
ll
adalah:

fl 1x
:4) : 4 (ro4- 6J 4 - nag) + t sg1) z 1 1448
zl rj,+J4)2 t2l
Hasil tersebut dihitung dengan Mathematica. Terlebih dahulu, definisikanlah
fungsi f(x) dengan program berikut.

f[x_]:=x(104-6 Sqrt[x]-234 x + 15 x^(3 /2)) / (2(-13+Sqrt[x])^2)

Selanjutnya kita hitung turunarLnya dititik x = 4 dengan menulis perintah f[4].


Hasilnya adalah:
fl4l
1448
r21
Program Mathematica berikut ini menampilkan nilai turunarrnya di x = 5, x = 10
danx=1:
{f[s], f[L0], ftllyiN
{-19.6723, -97.9931, -0.420139\
Jadi, hasilnya berturut-turut adalah: -19,6723, -91,9931 dan -0,420139

G. MEI{YATAKAN TURUNAN DENGAN NOTASI LEIBNIZ


Sejauh ini, kita gunakan notasi f' (x) untuk menyatakan turunan. Sekarang, kita

akan menggunakan notasi lain, yakni *orrri ini diperkenalkan pemakaiannya


fl.
pertama kali oleh seorang matematikawan besar dari Jerman, Gottfried Wilhelm von

Leibniz (1.642 - 1727).Itulah sebabnya mengapa notasi at.,u*akan sebagai notasi


fl
Leibniz. Notasi $dx ru.,gut populer digunakan untuk menyatakan turunan fungsi y

= f(x).
Jika diberikan fungsi y = f(x), maka turunan fungsi ini dengan notasi Lelbniz
dinyatakan oleh:
dy
---L= ,. Ay ltm
hm '= ,.
f(x+Ax)-f(x)
dx Ax-+0 Ax Ax-+0 h

Limit pada ruas kanan yakni ri*^ I!1YLI! memiliki arti yang sama dengan
' ax-+o h
f(x+h)-f(x)
,. -r-----.1------ . Artinya, perubahan kecil h, digantikan oleh simbol
Irm Ax. Pada
h-+0 h
9Y
simbol d dibaca "diferensia 1". 'Jadi $ arUr., : diferensial y terhadap
dx',
6.1111
dx
r. Dalam notasi rni, aariabel tak-bebas diletakkan di bagian pembilang, dan ztariabel
bebasnya diletakkan di bagian penyebut. Sebagai contoh, jika diberikan fungsi s = f(t)
maka:
s = variabel tak-bebas dan t = variabel bebasnya
sehingga turunannya ditulis $. Outu*bentuk limit, notasi turunan $dt dit.rlir r"bu-
gai berikut
dt
ds .. As = lim f(t+At)-f(t)
_-lrm_
dt At-+o At At-+0 At

dz
Untuk fungsi z = f(s) maka turunannya adalah
E , demikian seterusnya.
Contoh 14: Nyatakan turunan fungsi berikut ini dengan notasi LeLbntz.

a. Y=f(x)=3x6 b. Y=xa-x3+x2+5 c. y=(x'+2x)1/t


Penyelesaian:
dy d(:x6 )
dx dx
dy= d(ra - x3 + x2 +5)
b.
dx
= 4x3 -3x2 +2x
dx
3
dy= d(x2 + 2xl/t !$'
= + 2x) a .(2x + 2)
dx dx 4'

H. PERSAMAAN IMPTISIT DAN TURUNANI{YA


Sebagian besar fungsi yang telah kita bahas selalu dinyatakan dalam bentuk
persamaan y = f(*), di mana y dinyatakan secara eksplisit (tegas/jelas) dalam x. Fungsi
eksplisit adalah fungsi yang variabel bebas (x) dan variabel tak-bebasnya (y) dapat
dikenali secara langsung, karena y sebagai variabel tak-bebas selalu ditulis diruas kiri
persamaan, sedangkan x sebagai variabel bebas selalu dituliskan diruas kanannya.
Namun, dalam kebanyakan persoalan, kita akan sering menghadapi persamaan yang
tidak dinyatakan secara ekspisit, di mana variabel bebas dan variabel tak-bebasnya
ditulis secara bercampur baur dalam satu ruas yang sama pada sebuah persamaan.
Kondisi ini akan menyulitkan kita untuk memastikan mana variabel bebas dan
variabel tak bebasnya. Sebagai contoh, perhatikan persamaan berikut ini.

*'+y'=4, x3 -3ry *y'=12,x2Y3 -7 =2Y3 +x

Dari tiga persamaan ini, kita tidak bisa mengatakan bahwa y = f(x) atau sebaliknya
x = f(y). Persamaan seperti ini disebut persamaan implisit, karena kesamaran 'rr.ar:.a'
variabel yang berperan sebagai variabel bebas dan 'mana' yung berperan sebagai
variabel tak bebas. Pada persamaan implisit, biasanya variabel bebas dan variabel
tak-bebas ditulis secara bercampur baur dalam satu ruas yang sama. Walaupun
untuk persamaan implisit seperti:

x2+71=4
kita dapat menyatakannya sebagai fungsi eksplisit dengan mengubahnya menjadi:

(ekspisit karena y = f(x))


atau menjadi
(ekspisit karena x = f(y))

Namun, persamaan lainnya seperti:

x3-3xy *y'=12 dan ,'y'-7 =2y3 +x


adalah persamaan implisit, karena tidak dapat dinyatakan secara eksplisit dalam
bentuk Y = f(x) mauPun dalam bentuk x = f(y).
Untuk mencari turunan fungsi eksplisit y = f(x) tidaklah sulit, sebagai misal, jika
diberikan fungsi eksplisit y = f(x) sebagai berikut.

dy
maka turunannya, , diperoleh dengan memanfaatkan aturan rantai (chain rule).
dx
Jadi,

dvI1
' - -r_
1

dx -(4-x'l
2'
Tetapi untuk mencari turunan sebuah persamaan implisit tidaklah semudah
itu. Demikianlah kesan yang ditampilkannya, tetapi untunglah kita memiliki cara
praktis untuk mengatasi kesan sulit yang ditampilkannya. Untuk memahami cara
praktis dalam menentukan turunan persamaan implisit, mari kita perhatikan contoh
15 bersama penyelesaiannya.

Contoh 15: Turunan persamaanl impiisit

Tentukan $ox arri fungsi implisit y' + Zyu -3x7 = -9x2


Penyelesaian:

Karena kita diminta menentukan turunarl


gy, maka anggap y sebagai variabel
dx
tak-bebas (karena y diletakkan pada bagian pembilang
!I
; aun x kita anggap sebagai
dx
9I
variabel bebas (karena x diletakkan pada bagianp"ny"brt ;. f"-rdian turunkan
dx
semua suku persamaan itu terhadap *. uurilyu'
d(y5)
* d(2y') _ d(3x7) _ d(-qx2) ... (i)
dx dx dx dx

I Kita lebih memilih kata persantaan implisit daripadafungsi inpli.sit. Alasannya karena kebanyakan persamaan implisit
::Jlk memenuhi syarat unfuk disebut sebagai fungsi. Uji garis vertikal seringkali menunjukkan bahwa garis vertikal memotong
r:n a implisit dilebih dari satu ritik..

142
Sekarang kita tentukan turunan masing-masing suku (i) sebagai berikut.

-)
= u., .9r
d(ys)
dx'dxl
d(2y3)=6v,.9_ ! tul
dx 'dx
t
d(r7)
dxdx)-7*,4 -7*o I

d(-gx2) _1gx 4
oun = _1gx
dx = dx

Kemudian substitusikan hasil turunan pada (ii) ke dalam (i), kita peroleh:

dY
5#.gI + 6v2. - 7xb = -r8x
'dx'dx
(sy' + ofl*
'dx =7xo -78x

dy (zx6 -lsx)
dx = (sya + 6y2)

1zx6 - t8x;
Jadi, turunan persamaan implisit yu + 2y' - 3x7 =- 9x2 adalah +dx =
(sy4 * 6y')'
Contoh 16:
Carilah turunan $oy untuk persamaan imptisit pada contoh 15.

Penyelesaian:

Karena kita akan mencari turunan $dy , *uku anggap x sebagai variabel tak-bebas
(karena x sebagai pembilang
" $dy') dan y sebagai variabel bebas (karena y sebagai

penyebutnya). Kemudian turunkan semua suku persamaan itu terhadap y. Hasilnya:

d(ys) d(2y3 d(:x7) d(-0x21


) -?=.;;
.,.'|.. (ii)

Kita hitung dahulu turunan masing-masing suku (ii) terhadap y yaitu:

d(v5)
\i ' dv
r-5V* dan
d(zv3)
, dv
=5Vr. =6V-.---L=$yz
dy"dy"dy'dyr
d(*7) dx d(-lx2) dx
---- dan
dy dy
dy dy = -1Bx
= 7x6

Kemudian, substitusikan turunan masing-masing suku di atas ke dalam (i)'


Hasilnya adalah:

qfl -dey3) _ d(3x7) - d(-ex2)


dy dY dY dY

St' + 6y' - 7x6+


dy =
-rax $dY ... (iii)

41
kumpulkan suku-suku yang mengandung dy t" dalam satu ruas yang sama, se-
hingga (iii) menjadi

5f +6Y'=-,t**dy + 7xu !
dy

(-18x + 7xb)* =Uy' + 6y'


oy

d* sra +6Y2.
dy= -18x + 7x6
ladi, dx/ dy dari persamaan implisi t ys + 2y3 - 3x7 = - 9x2 adalah:

d* sYa + 6Y2-
=
dy - + 7x6
.'

-l8x
sebenarnya, secara singkat, kita dapat langsung mengitung
a".,srn cara
ff
telah diperoleh pada contoh 15. Perhatikanberikut ini'
membalik
fl ,u",
dy (7x:
- 18I)
Karena = maka dengan membalik pembilang menjadi penyebut,
dx (Sy" + 6y')
dx = 5Ya + 6Y2
kita tangsung memperoteh _G;Ai
.

*
ContohlT: Hitungrun $dt au. $ds daripersamaanimplisit s2 + 3sat7 + f = t2-8

!&
Penyelesaian:
Kita sengaja memilih persamaan dalam s dan t. Mana dari kedua variabel ini

yang berperan sebagai variabel bebas? Ini tergantung apakah kita menghitung
$
ds
ataukah S. t,tu t tta menghitung maka yang menjadi variabel tak-bebas adalah
ds ;,
s (karena ia sebagai pembilang) dan yang menjadi variabel bebas adalah t (karena ia

sebagai penyebut). Demikian juga sebalik


-dt
yr, ketika kita menentukan . Untuk
ds
mencari $, in r, langkah-langkah berikut ini.
dt'
. Langkah 1: Turunkan semua suku persamaan implisitnya terhadap t. Kita
peroleh:

s2 + 3sat7 + t3= t2-8


d(rr ) d(3sat7 ) d(t3) d(t2
' ) d(8) ,:\
f ----:-----1
"' \r/
dt dt dt =
dt -
Untuk memudahkan, kita hitung dahulu turunan masing-masing suku (i) di atas:
d(rr) d(t3) d(t2)
,
dt =2rE dt =3p:
dt' dt =3tr4 dt = dt =Zt,d(8)
2t94 =0
dt
q+A = 3so. 7t6 + t2s3y. +dt ... (ii)
dt
Untuk mengetahui proses penurunan suku (ii), kita cari dengan rumus aturan
hasil kali (teorema 5), yakni:
d(:sat7 ) d(t7) d(3s4) L7
= 3sa.
dt dt dt
d(:sat7 ) dt * 91. t,
=3s4. 7to. 12sr.
dt dt dt
d(zs4t7 ) ds
=3sa. 716 + 12s3 t7.
dt dt
Langkah 2: Masukkan nilai turunan masing-masing suku pada langkah 1ke
dalam (i).
ladi,
d(r2)* d(:sat7) * d(tt) d(t') _ d(8)
dt dt dt
= dt dt
zr!9 * 3sa. 7t6 + r2ss tz.9! + 3t, = Zt-o
dt dt
zr!9
dt
* rzs, t'. E
dt
= 2t - 3s4 7t6 - 3t2

(2s + 72s3t1
ds
' 'dt = 2t- 21s4t6-3t2
(2s+
' 'dt = 2t- 21.s4t6-3t
12s1Y)E

2t-2lsat6 -3t2
2s + l2s3t7
ds 2t_ 2lsat6 -3t2
fadi, kita telah memperoleh turunan =
- 2s + l2s3t7

Kemudian, untuk mencari turunan Urgt fungsi yang sama, kita cukup mem-
fl
S. Kita peror"n 4 - 2s + l-2s3t7
barik -
"*"" dt ds 2t - 2ls4t6 - 3t2

I. TURUNAN KEDUA ATAU YANG LEBIH TINGGI


sejauh ini kita telah membahas turunan fungsi Y = f(x) dengan sekali Proses

penurunan yang kita beri simbol y ' atauF (x) atau $dx . ,,r.r.,an seperti ini dinamakan

turunan pertama, yang biasa disebut turunan saja. Adapun yang dinamakan turunan
kedua adalah turunan dari turunan pertama. Artinya, kita melakukan dua kali proses
penurunan terhadap fungsi y = f(x). Simbol turunan kedua dari fungsi Y = f(x) adalah

y" atau f "(x) ataq Q.


dx2'
|adi, jika Y = f(x) maka:
y' atatf' (x) atau
* = turunan Pertama

y" atau f "(x) = turunan kedua

y"' atau f "'(x) atau


gl
= turunan ketiga
dxr

y(')atau 1r"r(x) utu,


dl"I = turunan ke-n.
dx'
dan seterusnya.
Contoh 18: Tentukan turunan kedua dari fungsi-fungsi berikut

a. y=xa +4x3-3x2+1.2 b. y=3(2xa+5x)10

Penyelesaian:

a. y' = x3 + 4x3 + 12x2 - 6x dan y" = 1,2x2 + 24x- 6


Jika kita ingin menentukan turunan ketiga, maka turunkan turunan ked.uanva
Turunan ketiganya adalah:
Y"'=24x+24
b. y' = 3(10)(2xa + 5x)e (8x3 + 5) = 30(Bx3 + 5)(2xa + 5x)e
Jadi, turunan pertama / = 30(8x3 + 5)(2xa + 5x)e
Untuk mencari turunan kedua, kita turunkan y' dengan memanfaatkan teorema
5 (aturan perkalian). Pada persamaan turunan:
y' = 30(Bx3 + 5)(2xa + 5x)'... (i)
Kita misalkan:
g(x) = 30(8x3 + 24) +
g' (x) = 30(24x'?) = 720x2
h(x) = (2xa + 5x)e +h, (x) = 9(2xa + 5x)8 (8x3 +5) = (72x3 + 45) (2xa +5x)8

Dengan teorema 5, turunan (i) menjadi turunan kedua :


y" = g(x) h, (x) + g, (x) h(x)
Y" = 30(8x3 + 5) (72x3 + 45) (2xa + 5x)8 + 720x2 (2xa + Sx)e

J. TURUNAN FUNGSI TRIGONOMETRI


Sekarang kita akan membahas mengenai turunan dari enam macam fungsi
trigonometri: sinus, cosinus, tangen, cotangen, secan, dan cosecan. Satu dari fungsi
trigonometri ini, yakni fungsi sinus akan kita turunkan dengan menggunakan definisi
turunan (limit unik), dan yang lain akan diturunkan dengan memanfaatkan teorema
6 (aturan pembagian). Kali ini kita menggunakan simbol $clx untuk menyatakan
turunan.
Kita mulai dengan turunan y = sin r

Turunany=sinx
Jika y = sin x maka turunannya *i
dx
l
Bukti: fungsinya adalah y = f(x) = sin .x. Dalam proses penurunan sinus dan
cosinus, kita membutuhkan tiga rumus berikut ini'

a. sin(x+h) =sinx. cosh + cosx. sinh

b. cos(x + h) = cos x. cosh-sinx. sinh

c. sit' cosx-1
= 0 (dua limit trigonometri
Hm = 1 dan t'rn spesial di bab tiga)
x+0 x x-+0 x

{} Langkah 1: f(x + h) = sin(x + h)

s Langkah 2: f(x + h)- f(x) = sin(x + h) - sin x + (uraikan dengan rumus a)

= sin x. cos h + cosx . sinh- sin x

= sinx (cos h- 1) + cos x. sinh


f(x+h)-f(x)
Langkah3,-
sinx(cosh-l)+cosx.sinh
h = h

= ,ir*.(toth-1)
hh
+ cos*.ti'h

Kemudian, kita ambil limit h -+ 0, diperoleh:

f(x+h)-f(x)
\r Langkah4:
- lim
h-+0

.. t . (cosh-l)
l1m I S[lX.-
sinh
* COSX. l, I

=
h-+o[ h h !
(cos-h-l)
ri.'*[,',.
- * .or*[r,* +il+ lsel"rrikan dengan rumus c)
=
Lti-o h ]I Ln-oh.l
Dengan menggunakan rumus c, maka limit pada langkah 4 menjadi:
gI-
dx
=sinx (o) + cosr (1) = q.t,

Jadi, terbukti jika Y = sin r maka *dx = .o, ,

jikA y,ll = eO$,s,, m4ka furunannya il*" =,,,:sin r


Pembuktiannya mengikuti cara yang sama seperti pembuktian turunan y = sin
x. Gunakan rumus b dan rumus c untuk membantu langkahJangkah pembuktian.

Bukti: Karena y = tan , = T1, maka dengan menggunakan teorem a 6, kita


misalkan: cosx

B(x) = sin r = g' (x) = cos /


h(x) = cos1
= h' (x) = -sin r
Masukkan keempat fungsi ini ke dalam rumus teorema 6 untuk mendapatkan:

dy _ ,, r,.., _ h(r)g'(x). - g(x) h'(x)


d"-r\^/-E
Jadi:

dy cos x(cos x)- sin x(- sin x)


dx [cosx]2

cos2 x+sin2 x
+ ( ingat bahwa cos2 x + sin 2 x = 1)
aor2 *
l,
= - '' =sec''tr
cos" x

Jadi,terbuktijikay =tanx maka +dx = sec2/

Untuk membuktikan turunantiga fungsi trigonometri lainnya,yaitu cot x, sec


r dan csc x gunakanlah cara yang sama seperti pembuktian y = tan x. Ingat bahwa:

.otr= tlt* ,".r- 1 cscx= I


sin x cosx sin x

Selengkapnya, turunan fungsi-fungsi trigonometri tersebut dirangkum dalam tabel


berikut ini.
Tabel Turunan Fungsi Trigonometri Dasar

fungsi (y) sin x cos x tanx cot x sec.r csc x

dv
turunan /
a
cos .r -sln -x
1
sec".r -csc- x sec x tan x -csc2 x cot x
dx

Contoh L9: (turunan fungsi trigonometri dengan teorema 5):

Tentukan turunan y = x2sin r kemudian tentukan nilai *dx'x=-:


t..-^

Penyelesaian:
Fungsi y = x2 sin r berasal dari perkalian dua fungsi : g(x) = x2 dan h(x) = sin ,.
Turunannya ditentukan dengan menggunakan teorema 5 :
dv
= g(x) .h' (x) + g' (x) . h(x) ...(i)
#
di mana:
g(x) = x2 dan h(x) = sin,
9 (x) = 2x danh' (x) = g651
Kemudian masukkan nilai g(x), h(x) dan turunan keduanya ke dalam (i). Hasilnya
adalah:

9dx = *'. cos x + 2x.sin x ... (ii)


Kita telah memperoleh turunarurya. Selanjutnya, untuk mendapatkan 4r a,,mr
dx
x= n/ 4, masukkan x= nl4 ke dalam (ii). Hasilnya:

= @/ 4)2. cos @/ a) + 2(x/ 4) sin(n/4)


fl'.=o 4

=
[;)t;r).(;)(ir)
=
!a("' *l)
2 [16 2)
l
i
Plotlx^2 Sin[x], {x,0,2 Pi}l

-5

-'10

-15

-20

Gambar 4.3 Grafik fungsi y = x2 sin x dalam selang 0s xs 2n

Plot[x^2 Cos[x]+ 2 x Sin[x], {x,O,2Pi}l

40

30

20

10

Gambar 4.4 Menampilkan grafik turunan tungsi y = x2 sin x dalam selang 0 s x s 2n


K. TURUNAN FUNGSI EKSPONENSIAL DAN FUNGSI LOGARITMA
Fungsi eksponesial dan fungsi logaritma dengan basis e (e = 2,7L828... adalah
bilangan natural) memainkan peranan sangat penting dalam kalkulus. Dari semua
kelompok fungsi eksponensial, maka fungsi eksponensial natural e' adalah yang
terpenting di antara mereka, demikian juga dengan fungsi logaritma. Di antara
kelcmpok fungsi logaritma, maka fungsi logaritma dengan basis e, yakni ln r, adalah
termasuk yang terpenting di antara mereka. Sekarang, kita akan membahas rumus
untuk menentukan turunan fungsi eksponensial dan fungsi logaritma.

Turunan Fungsi Eksponensial y = s*


Untuk mendapatkan rumus turunan fungsi eksponensial f(x) = e' kita perlu
menggunakan definisi turunan:

f(x+h)-f(x)
f' (x) = ]ip
h-+0

Mari kita mulai langkah-langkah untuk mendapatkan turunan f(x) = s*

Langkah 1 f(x + h) = ex+h = e* . eh

Langkah 2 f(x+h)-f(x) = e*.eh -e*


f(x+h)-f(x) _ e* .eh -e* _ e* (eh -t)
Langkah 3
h
Langkah 4 Hitung limit langkah 3 untuk h -+ 0. Hasilnya adalah:
f(x+h)-f(x) ,. e* ("h -t)
f' (x)= 1i* = Ilm
h-+0 h-+0 h
/
f, (x) = [ li-.*
( n-+o /
]l ri* r"hh-rt ) |

[n-o )
untuk suku pertama, karena yang menjadi variabel adalah h, sedangkan x
dipandang sebagai konstanta, maka limitnya adalah:
e.
lgex =
untuk suku kedua, limitnya kita hitung dengan tabel limit arah kiri dan arah
kanan'.

h -0,001 -0,0001 -0,0000'l 0 0,00001 0,0001 0,001

-1 0,99950 0,999950 0,9999950 1,0000050 1,000050 1,00050


"h
h
Dari tabel tersebut tampak bahwa limitnya L. Jadi, limit suku kedua:

igl#='
Hasil akhir langk ah 4, y altu:

f, (x) = (r,,' )[,,,,' -G1-!]


"* i[n-o h )
\n--'o
f'(x) = e*.1 = e"
Kesimpulannya, jika f(x) = e* maka f' (x) = g.

Contoh 20: Tentukan turunan fungsi berikut ini.

a. f(x) = x2 . e' b. y=(3x5+4e*)6

Penyelesaian:

a. Gunakan aturan hasil kali (teorema 5), dengan memisalkan g(x) = x2 dan h(x) = s'
maka g' (x) = 2x dan h' (x; = e. sehingga turunannya:
f (x)= g(x) .kr (x) + g' (x) . h(x)
fl (x) = x2' e'+ 2x.e*
f' (x) = e. (x2. + 2x)
b. Untuk menurunkan y = (3x5 + 4e.)6, kita gunakan aturan rantai:

+
dx =
6(3x'+ ae^;u. $1:xs + 4e*)
dx

= 6(3xs + 4e*)5'. (15x4 + 4e.)

Contoh 21,:l1ka f(x) = x2 . e'. Tentukan nilai-nilai x yang menyebabkan fl (x) = Q

Penyelesaian:
Untuk menentukan nilai-nilai x yang menyebabkan fl (x) = 0, terlebih dahulu
kita tentukan f' (x). Nilai f (x) adalah
fl (x) = e" (x2' + 2x)
Karena f (x) = 0, maka e* (x'. + 2x) = Q. Dari persamaan e" (x'. + 2x) - 0, kita
simpulkan:
e*=0 atanx2+2x=0
Karena e'+ 0 untuk berapapun nilai x, maka hanya x2 + 2x = 0 yang dapat memenuhi
kesimpulan ini. Jadi karena xz + 2x = 0 maka, nilai-nilai x yang menyebabkan f' (x) =
0adalah x= 0ataux=-2
Turunan fungsi eksponensial y = ss{*)
Untuk menentukan turunan fungsi eksponensial yang pangkatnya adalah fungsi
x, seperti y = ss(x) di mana g(x) adalah fungsi x, gunakanlah aturan rantai'

---
Jika y - eg('r maka
dv
Il- = gg(xt .Dot (x)I I
t

Contoh 22: Tentukan turunan fungsi-fungsi berikut ini.

a. / - gx'-5x b. Y= e"i'z*
Penyelesaian:

a. 1, - sx'-5x. Misalkan g(x) = x3-5x,maka g' (x) = 3x2-5 sehingga:


y = e*'-5^ = g sc) . Jadi, turunarurya adalah:
dv
:L = g, (x)
clx "sr^r.

g = .x'-5x. (3xr-5)
dx
b. y = e "i"k. Misalkan Misalkan g(x) = sirt2x, maka I (*) = 2. cos2x
sehingga y = e "i'z' = ss(x) . Jadi, turunannya adalah :

dv
. g, (x)
# =
"sr,r

+dx =
"
snzr (2. cos 2x)

Turunan fungsi eksponesial y=


"*
Sekarang kita akan menentukan turunan fungsi eksponensial dengan basis a
yakni y = a'. Di sini a adalah sebarang bilangan real yang nilainya lebih besar dari nol
danale.
dy
[ikay=a^ rnaka =a*. lna
dx
Kemudian

Jita Y = 4e(x) maka


tna).g'S) i
, S=1u*,

berikut ini'
Contoh 23: Tentukan turunan fungsi-fungsi

a' Y=2* b. y= 4x'+e' c. Y = 10"i"r'

Penyelesaian:
dY 2=0,692(2")
a. Disini a=2.Jadr,turunandariy = 2. adalah dx =2,.ln
(x) = 2x + e' , sehingga turunan dari
b. Di sini a = 4, g(x) = x2 + e" dan g'

y - 4*'+t' adalah
dY (x)
= (as{*) In a) . g,
dx
_ ( +*r*". ) . 0n4) . (2x + e.)
\/
Sama seperti soal b' maka turunan
c. Di sini a= 10, g(x) = sin 4x dan g'(x) = 4'cos 4x'
Y= 10sh4x adalah'

dY (x)
= (astxr 1r, a) . g,
dx
4x)
= fgsinax . (ln 10) (4.cos

Turunan fungsi logaritma Y = ln x


e'
Fungsi logaritma Y = in x adalah
logaritma dengan basis bilangan natural
dv1
jikaY=lnx maka * =;

Turunan fungsi logaritma y = ln [g(x)]


\

q_=
I

i litu Y= ln Is(x)l maka turunannya adalah dx i..


g(x),' t-l i

i
I
Contoh 24: Tentukan turunan fungsi-fungsi berikut ini.

a. y=e'.lnx b. y=1n(x2+3x) c. y=ln3(sinx)


Penyelesaian:
a. Gunakan aturan perkalian, misalkan 8(x) = e* dan h(x) = ln x maka 8' (x) = e*

dan h' (x) = :, sehingga


1

x
dv
= g(x) .h, (x) + S (x) . h(x)
#
dvl e.. -l
:L + e^. InX
=
dxx
dv e^(-
::L .1
+Inx)
=
CI.X X

Gambar 4.5 menampilkan grafik fungsi asal y = e*.ln x dalam domain 10,1, ,27
Plot[E^x Log[xl, {x,0.L,2}, Axeslabel-+ {"x" /'y"}l

Gambar 4.5
dvl
'
dxx-e^(-
Gambar 4.6 menampilkan grafik fungsi turunannya,yaitu +lnx)
Plot[E^x (Llx + Log[x]), {x, 0.1, 2}, Axeslabel -+ l"x","y"ll

Gambar 4.6
Untukfungsiy= In1*z + 3x), misalkan g(x) = x2 + 3x dang' (x) = 2x + 3, sehinggga
turunannya menjadi:
dvl.
---L = g, (X)
a
dx g(x)
-.
I
= x'+3x
, (2x+ 3)
2x+3
=-
x2 +3x

c. y = ln 3(sin r) = [ln(sin x)]3. Untuk menurunkannya, perhatikan langkah-langkah


berikut ini.
o Langkah 1 : Turunkan terhadap pangkat 3 saja danbiarkan semua suku dalam
kurung seperti semula. Turunannya adalah:
3[ln(sin r)]' ... (i)

. Langkah 2 : Turunkan terhadap bagian logaritma ln(sin x) saja dengan


membiarkan suku dalam kurung sin x. Turunannya adalah :

1
. ... (ii)

. Langkah 3 : Terakhir turunkan bagian paling dalam dari fungsi itu, yakni sin
x. Turunannya adalah:
.l

cos x ... (iii)

o Langkah 4 : Kalikan semua hasil turunan pada langkah 1,2 dan 3. Hasilnya
adalah:

+ 3[ln(sin *)], (.-l- ) (cos x)


ox = srn x

+ 3.t:t*
ox = slnx [ln(sin x)]'z

+
dx
= 3.cotx.ln'z(sinx)

Jadi, jika y = ln 3(sin x)'dx


maka + = 3.cot x . 1n'?(sin r)
Turunan fungsi logaritma dengan basis a

Fungsi logaritma ln x yang telah kita jelaskan di atas adalah logaritma dengan
basis e = 2,718... Sekarang kita akan menentukan turunan fungsi logaritma dengan
basis a.

u
Turunan fungsi logaritma y = log[g(x)]
u
Jika diberikan fungsi logaritma y = log[g(x)] maka turunarurya adalah:
dY I e,(x)
=
dx g(x).ln a" '
Contoh 25: Tentukan turunan fungsi-fungsi berikut ini.
Slogx b.y= 5log(x3+2sinx)
a. Y=
Penyelesaian:

a. Di sini a = 8 maka = -+^ . ]ika kita hitung dengan Mathemati.u, *uku 9I


+o"x'ln8raadx
=l*".,,u*,
x.lnS '
1/(x Log[8])//N

0.480898
x
81og* 0.480898
Jadi,turunany= adalah =
*
s
b. Untuk menentukan turunan y = log(r,3 +2sinx), kita gunakan rumus turunan
fungsi logaritma y = a log[g(x)]. Turunannya adalah:

dY I
dx =
s,(x)
B(x).ln a" ' '
Misalkan pada fungsi y =
tlog(x3 +2sinx) kita anggap g(x) = x3 + 2sin x, maka
g' (x) = 3x2 + 2 cos x. Sehingga:
gy.= (3x2 +2cosx)
dx x3"__!_
+2sinx
dy 3x2 +2cosx
dx = x3 +2sinx

Terakhir, untuk lebih memudahkan, kita buat ringkasan rumus-rumus furunan


fungsi eksponensial dan fungsi logaritma di atas sebagai berikut.

Turunan Fungsi Eksponengial dan Logaritrna

'w Jikay=e*maka
#=".
S .dy " -
maka gc(.). gr(x)
Jikay=ec(x)
dx

* ]ikay=a* maka # =a'.lna

S " ]ikay
;, (ast.r ln a) . gr(x)
=,,6s(xl,maka
fr=
l-- r

|ikay=lnx maka ?dxx= 'r=

* gx
]ika f = ln [g(x; maka dx s'{*;
s61
w ..1...
* ]ika y *''ulog* *uUu'
..'.

di x.lna
S Jika y =ralog[g{x)] maK
ka !Idx = -;i,
g(x).ma
I
g'(x)

L. T'UNGSI,INVERS TRIGONOMETRI DAN TURUNANT{YA


Sekarang kita akan membahas turunan fungsi invers trigonometri. Jika f(x) dan g(x)
adalah dua fungsi yang saling invers, maka akan berlaku:

8'(x)' = -:^
f '(g(x))

Dua fungsi adalah saling invers jika f(g(x)) = x dan g(f(x)) = y.

Invers Sinus
Berikut ini merupakan definisi fungsi invers sinus:
y = sin-1x <+ sin y = x untuk -Irt rZ
Perhatikan, bahwa -1 pada sin-lx tidak boleh dipahami sebagai "pangkat -1."
namun -1 tersebut hanyalah simbol semata yang menyatakan fungsi invers.

Contoh 26: Hitungtah y =


' si^-lf+)
\2)
Penyelesaian:

Jika soal rrli, y= sin-l[]J f.t" cocokkan dengan definisi fungsi invers sinus di
'=
,f"f, r',ifui * !. t 'r v = sin-l
Tudi,menurut definisinva, [1.'I uaufun
\2)
setara (sama) dengan sin y = ,2 * = ]. Ini bermakna bahwa kita diminta mencari sudut

y yanghasil sinus sudut y dalam selang -,Ir t < L ad.alah sama dengan 1/2.Jadi

kita mengetahuibahwa siny = x = 1 bilu-u.ra nilai y = 300 = 1. Kesimpularurya

adatah rir,-,[1,) = I =3oo.


\2) 6

Invers Cosinus
Berikut ini merupakan definisi fungsi invers cosinus :

'','Y = to'.-l * <+ cos-y = x .untuk


0< y s'
/
Contoh 27: Hitunglah y = .or-11 -Y^)
' [ 2./ I

Penvelesaian:
Di sini, = -' -' sehingga y
"" = cos-ll -+ dapat dinyatakan sebagai cos y =
6 2 \ 2.)|
-Y2 Kita harus menemukan besar sudut y dalam selang 0< y < n di mana nilai

cos y - -+
,2atJ4 Dari hubungan ini kita dapatkan besar sudut y = + = 1350.

Turunan Fungsi Invers Trigonometri


Jika diberikan fungsi invers sinus y = sin-lx, maka turunannya adalah:
d..-r 'X) = : I
dx'
-(s11r- lt - r,
v'-'
I
l

|ika diberikan fungsi invers cosinus y = cos-l x maka turunannya adalah:


d-r 'x) I
*(cos =---
r/1- *'
Jika diberikan fungsi invers tangen y = tan-t r maka turunannya adalah:

9(tu,,-'*;
dx =
-L--
1+x'
Untuk melengkapinya dengan turunan fungsi invers cotangen, secan dan
cosecan, tabel berikut ini menampilkan turunan enam fungsi invers trigonometri.

Tabel Rumus Turunan Fungsi Invers Trigonometri

d,. -r^X) :: I d, -r'vl : - I


dx'
-(sllr ,1,
_ dx'
-lcos '11
{l-*'
",
: d.(cot -1x): _+
9(o.-'x)
dx' ' --1-
l+ x2
,
dx l+ x'

: d.
9(r"c-r*)
ox dx'
-(csc

Contoh 28: Tenfukan turunan fungsi invers trigonometri berikut ini.

a. Y=2 cos-lx -4csc-1x


b' Y=x2' sin-lx
Penyelesaian:

a. dY
dx= z.e-Ll -+t--!1
x{x' -
Jr_"r' I

dv -2 4 -2x+ 4
dx il=
L-f-

.,['J ,,[=
b. Untuk turunan fungsi y = x2. sin-l x misalkan:
f(x) = az sehingga f' (x) =2x
g(x) = sin-l x sehingga g' (x)
l-x2
Dengan menerapkan aturan hasil kali, maka turunan dari fungsi y = x2. sin-l x
adalah:

dy
= f' (x).g(x) + f(x).g' (x)
dx

= 2x. sin-1x + x'?. ---1-


f-1
r/1- *'
-_l stn 'x + ,2
x
= 2x.
l-x2
-
Catatan: Selain notasi "-1." yang kita gunakan, terdapat notasi lain yang populer
untuk menyatakan fungsi invers trigonometri, yakni dengan mengawali sin x,
cos x dan lain-lain dengan huruf "arc".Jadi:
sin-1 x = arcsin r; aor-l x = arccos x; tan -1x = arctan x
cot -1x = arccot x; sec -lx = arcsec x; csc -1x = arccsc x

M. FUNGSI HIPERBOLIK DAN TURUNANI{YA


Sekarang kita akan membahas fungsi hiperbolik dan turunannya. Dalam banyak
masalah sains, kombinasi antara fungsi eksponensial ex dan e-* seringkali muncul.
Karena kombinasi kedua fungsi eksponensial ini seringkali muncul, maka kita perlu
memberi nama khusus bagi kombinasi kedua fungsi eksponensial tersebut dengan
nama fungsi hiperbolik. Jika x dipandang sebagai variabel bebas, maka dua fungsi
hiperbolik yang utama adalahfungsi sinus hiperbolik, ditulis sinh x danfungsi cosinus
hiperbolik, ditulis cosh x.

= l.*- l.--...(r)
l*"" -e-*)'22
sinh x =

coshx= 1("'+e-*) = 1"*+1e-*...(z)


2'22"
Empat macam fungsi hiperbolik lairurya, yakni tanh x, coth x, sech x dan cosech x,
berasal dari kombinasi rasio sinh x dan cosh x serta kebalikan dari sinh x dan cosh x.
Ide dasar rumus-rumus identitas pada fungsi hiperbolik sangat mirip dengan fungsi
trigonometri. Dengan memanfaatkan definisi sinh r dan cosh r pada (1) dan (2), kita
peroleh:
I
slnnx +,{e*-e-*)
rt
e* -e-*
tanhr -
coshx I e* +e-*
,(e*+e-")
1(u* * )
coshx _2' "-' e* + e-*
coth x - -
sinhx 1r".
2' -"1 e* - e-*
I 2
."rh. =-e' + e-*
sech x =

I
cosech
sinhx e* - e-*

Perhatikan bahwa fungsi hiperbolik tidak sama dengan fungsi trigonometri.


Argumen x pada fungsi trigonometri (misal, sin 3) menyatakan sudut dalam derajat
atau radian, sedangkan x = 3 pada fungsi hiperbolik (misal, sinh 3) adalah sebarang
bilangan real yang bukan sudut. Jadi,

sinh3= l("3-u-')
2' = !12,118283-2,7t828-3)
2'
= 20,0855

sedangkan,
sin 3 = 0,14712 (dalam radian) dan sin 30 = 0,052336 (dalam derajat)

Contoh lain, misalnya kita menghitung nilai cosech 3:

cosech3 = sinh3
.] - = 1/20,0855 = 0.0497872
Gambar 4.7 berikut ini adalah grafik masing-masing fungsi hiperbolik di atas
f(x) = 3i15 x f(x) = se56 x

f(x) = 6e16 * f(x) = ss66 x f(x) - cosech x

Gambar 4.7 Gratik Fungsi Hiperbolik

Sifat Identitas Fungsi hiperbolik


Sama seperti pada fungsi trigonometri, fungsi hiperbolik jugamemiliki beberapa
persamaan identitas yang berguna saat kita menyelesaikan persoalan yang melibatkan
fungsi-fungsi hiperbolik, yaitu:

S sinh(-x) = -sinh x (lihat grafik sinh x meruPakan fungsi ganjil)

S cosh(-x) = cosh x (tihat grafik cosh x meruPakan fungsi genap)

$ cosh 2x - sinh 2x = L

S 1 -tanh 2x
= sech2x

Turunan Fungsi Hiperbolik


Karena fungsi hiperbolik dinyatakan dalam suku-suku fungsi eksponensial,
maka proses menentukan furunannya tidaklah sulit. Sekarang, kita mulai proses
penurunan fungsi hiperbolik sinh x'
d.. d(r"*_1"-.)
*(sinhx)=d*[, 2 )

= 1ul l"-*
22*
= cosh x
|adi, turunan f(x) = sinh x adalah f (x) = cosh x
Kita dapat menentukan turunan fungsi hiperbolik lainnya dengan cara yang hampir
sama seperti di atas. Tabel berikut ini memuat ringkasan masing-masing turunan fungsi
hiperbolik.

*(ri.n*) - coshx ! sinh'x


ctx

$1,r.nr1
clx
..:... a:.. 1...... . .'....,

'' -r*fu'1';gi6 a =:iosedrrxcothx


*t,.'';,r,

Contoh 29: Tentukan turunan fungsi hiperbolik berikut ini.

a. f(x) = ar sinh x

b. h(x) = cosh a(2x5 - 13)


tanhx
c. c(x) =
2+sinhx

Penyelesaian:

a. Untuk menentukan turunannya, gunakan aturan hasil kali


f (x) = g(x) .h' (x) + g' (x) . h(x).
Anggaplah B(x) = x', g, (x) = 3x', h(x) = sinh x, ftl (x) = cosh x
sehingga:
f (x) = x3. cosh x + 3x2. sinh x

= x2 (x.cosh x + 3.sinh x)
Jadi, turunan f(x) = x3 sinh x adalah fl (x) = x2 (x.cosh x + 3.sinh x)
b. Gunakan aturan rantai. Jadi:
h (x) = [4.cosh 3(2x5 - 13)].[sinh(2x5 - 13)].[10x4]
= 40x4. sinh(2xs - 13). cosh 3(2xs - 13)

c. Gunakan aturan hasil bagi

h(x)g'(x). - g(x) h'(x)


c' (x) =
lh(*)12
dengan memisalkan
g(x) =tanhx; g (x)=sech2xi h(x)=2+sinhx; h'(x)=coshx maka

(2+sinhx).sech2x - tanhx coshx


c' (x) =
[2+sinhx]2

N. MENENTUKAN TURUNAN FUNGSI YANG DII{YATAKAN


SECARA NUMERIK
Seluruh fungsi yang telah kita bahas adalah fungsi-fungsi yang dinyatakan
dalam bentuk persamaan matematis, sehingga turunannya dapat diperoleh dengan
memanfaatkan teorema-teorema yang tersedia. Misalnya, fungsi dengan Persamaan
y = x3 + 3x2 +9 mempunyai turunan dy / dx = 3x2 + 6x. Sekarang, kita akan membahas
bagaimana mencari turunan fungsi yang diberikan secara numerik dalam bentuk
tabel nilai. Misalnya, jika kita memiliki data mengenai perubahan konsentrasi
(kadar) obat dalam aliran darah t menit setelah obat itu disuntikkan ke dalam tubuh
pasien. Dianggap logis bahwa t menit setelah obat disuntikkan ke dalam tubuh
maka konsentrasi obat (dalam mg/ cc) di dalam aliran darah akan berubah dengan
berubahnya waktu. Datanya adalah sebagai berikut.

t (menit) 0 0,1 0,2 0,3 0,4 0,s 0,6 0,7 0,8 0,9 1,0

c(t) (dlm mg/cc) 0,84 0,89 0,94 0,98 1,00 1,00 0,97 0,90 0,79 0,63 0,41

Tabel ini adalah fungsi di mana t variabel bebas dan c(t) variabel tak bebas.

Contoh 30: Berdasarkan tabel di atas, tentukan turunan c' (t).

Penyelesaian
Kita akan menaksir nilai turunan c menggunakan data dalam tabel ini. Untuk
melakukannya, datavariabel bebas (t) harus dibuat dalam selang yang cukup sempit
agar tidak menimbulkan 'fluktuasi liar' dalam data variabel tak bebasnya. Jadi,
kita asumsikan interval/selang t cukup kecil dan perubahan nilai c(t) antara selang
r ang saling berdekatan tidak terlalu tajam. Dari tabel ini, kita melihat konsentrasi c
meningkat antara t = 0 hingga t=0,4. Kita katakanbahwa turunan c' (t) dalam selang
ini adalah positif. Namun, karena peningkatan c dalam selang t = 0 hingga t = 0,4
cukup kecil maka kita katakan bahwa nilai turunan c' (t) cukup kecil. Konsentrasi c
tidak mengalami perubahan dalam selang t = 0 ,4 hingga t = 0,5, sehingga turunan c' (t)
dalam selang ini adalah nol. Dari t = 0,5 hingga t = 1,0 konsentrasi c mulai mengalami
penurunan dengan laju penurunan yang semakin membesar. Dalam selang ini kita
mengharapkan turunan c' (t) bernilai negatif yang terus membesar hingga t = 1,0.
Kita dapat memperkirakan turunan c' (t) dari data ini dengan menggunakan
rumus:

c(t+h)- c(t)
c'(t) = ... ( i )
n
-
dengan h = 0,1. Sebagai contoh untuk t = 0, maka

c(O+h) - c(0) c(0,1) - c(0) 0,89 - 0,84

Jadi, taksiran kita untuk turunan c di t = 0 adalah c' (t) = Q,5.

Demikian juga, ketika menaksir turunan c di t = 0,1 maka hasilnya adalah:

c(0'l+h)- c(0'1) c(0'2)- c(0'l) 9Y


c, (0,1) - h - 0,1 =
0,1
=O,s

Untuk memperoleh c' (0,2), c' (0,3), c' (0,4) ,..., C' (0,9) gunakan rumus ( i ):

c'

c'

Turunan c' (t) selengkapnya untuk data tabel nilai di atas ditampilkan oleh tabel
turunan di bawah ini.
Tabel turunan c(t)

t c' (t)

0 0,5
0,1 0,5
0,2 0,4
0,3 0,2
0,4 0,0
0,5 -0,3
0,6 -0,7
0,7 -1,1

0,8 -1,6
0,9 -2,3
Latihan Bab 4

Untuk soal 1 - 4, gunakan definisi turunan untuk menghitung turunan fungsi f(x)
berikut.

1. f(x)=21:-3x+1
2. t1"7 = ,f2x + 3

3. f(x) =
2x-l
x+4
.|
4. --- 1 *
f(x) = -
x-
5. Dengan menggunakan teorema-teorema turunan, hitunglah kembali turunan
fungsi f(x) pada soal L - 4.

6. Gunakan teorema-teorema turunan untuk menentukan turunan fungsi-fungsi


berikut ini.
1 71
x'+x-''
a. f(x) = (2xa + 5x2) 1-vz,e - 7x) b. gt^i = -------
-Vx + 15
_/-
c. h(x) = (x2o + 3x2)10 d. i(x) = fl2*-3 + *s
.r/
e.i(x)=lz* * *'\u
(
,l f. k(x) = * *t)"
[: -:x' ]
7. Gunakan notasi Leibniz untuk menyatakan turunan fungsi pada soal 6a- d.

B. ]ika y adalah fungsi u dan u adalah fungsi x di mana


y =li + 2uq dan u - 2x1/2 - 4x3

Tentukanlah:
a. dy/du b. du/dx c. dy/dx d. dx/dy e. du/dy
9. Tentukan dy/dx dari persamaan implisitberikut ini.
a. yu-4t'*'+x4=x3-10 b. *%*y%=lO%

rc. t* f =,
"169916 d. 8-2)2 * (Y -3)2
-,
10. Tentukan dx/ dy dari persamaan implisit soal 9

11. Carilahnilai $l ,.,(


dx'e,'\')
daripersamrrr,
' {9 * 44 =,
12. Tentukan turunan kedua dan turunan ketiga, y" dan Y"' , dati fungsi-fungsi
padasoalL-4.
Untuk soal 13 - L9 berikut ini, diberikan fungsi-fungsi trigonometri dan
transenden. Hitunglah turunannya!

13. a. y = sin 3x b. y=cos(2x-x3) c. y= tg (2x) . csc (2x)

x2 + sin2x
1.4.a. y=sin3(x3-2x) b. y= $inxTcos5x c. y=
cotx - cos4x
15. a. Y=x3.es' b. y=(3xs+4e-x)1/2 c' Y=eltz*
-'-"^ 7log(ex+lnx)
1,6. a. Y= e^*l-ao,* b. Y= 5tg+" c. Y=
cos 'x
I
17. a. y = sin-l 2x - tg-tx + csc -1x b. Y = e2.

a. y = (cosh 4x +2x)7 + x2. sinh x


-b. 2x + sechx
-----------;-
18. ' = l_ cosh'x
V

(/,,sinhx + -2x r4\


1,9. a. y= (tnr-e*.sin2^)-3 b. v=Inl
' I sinx-2x ]
20. Diberikan data berikut, di mana y adalah fungsi x (y = f(x))'
-l
t (menit) 0 2 1 3 4 5 6 7 8 9 10

c(t) (dlm mg/cc) 0,78 0,75 0,74 0,71 0,69 0,67 0,70 0,64 0,66 0,62 0,57

Buatlah tabel turunan y'(x) yang berasal dari tabel data di atas, (Petunjuk: lihat
contoh 30 pada bab 4)!
BAB

PENAFSIRAN
DAN APLIKASI TURUNAN

A. PENDAHULUAN
Pada bab empat kita telah membahas tentang definisi turunan dan teori-teori
untuk menentukan turunan sebarang fungsi. Sekarang kita akan memusatkar^.
perhatian kita pada dua aspek utama yang berhubungan dengan turunan, yakn::
penafsiran turunan dan aplikasinya. Kedua aspek ini sangat penting dan menarrk
untuk dibahas, karena dengan mengenal keduanya, kita akan melihat lebih luas dar.
mendalam aplikasi kalkulus. Sekaligus melihat bahwa dy / dx bukan sekedar simbol
turunan yang tidak memiliki penafsiran yang menarik.

APLIKASI-1

B. PENAFSIRAN TURUNAN
Pada bagian akhir bab dua, kita telah membahas dua tema penting yakni: gradien
garis singgung kurva f(x) dan laju perubahan sesaat fungsi f(x). Kedua masalah
yang berbeda ini pada akhirnya bertemu dan memunculkan satu limit unik yang
sama, yaitu:
f(x+h)-f(x)
lim
h-+0
yang kita namakan turunan. Dari fakta ini, kita dapat menyimpulkan beberapa inter-
pretasi penting mengenai turunan yaitu:
1. turunan dy / dx ditafsirkan sebagai gradien garis singgung kurva f(x) di titik x.
2. turunan dy / dx ditafsirkan sebagai laju perubahan dari fungsi f(x) di titik x.
3. turunan dy / dx ditafsirkan sebagai kecepatan sesaat dari sebuah persamaan gerak
f(x) di titik x.

Penafsiran pertama bersifat geometri, sedangkan penafsiran kedua dan ketiga


lebih dekat kepada sifat "perubahan atau variasi". Itulah sebabnya mengapa kalkulus
diferensial disebut juga sebagai kalkulus perubahan. Sekarang kita akan melihat
beragam contoh di mana turunan ditafsirkan sebagai salah satu dari tiga penafsiran di
atas.

,.: Penafsiran Turunan Sebagai Gradien Garis Singgung

Contoh 1: (Masalah Geometri): Tentukanlah persamaan garis L yang menyinggung


kurva Y=4xa-1Lx2 -5x-3 dititik P(-1.5,0)
Penyelesaian:
Persamaan garis lurus L yang memiliki gradien m dan melewati titik P(x,, yr)
adalah:
Y-Yr= m(X-xr) ...(i)
Di sini, titik P(x,, y,) = (-1.5, 0). Jadi Xr = -1,5 dan y, = 0. Titik P terletak pada
kurva y = 4xa - 1Lx2 - 5x - 3 dan pada garis singgung L. Dari penafsiran turunan, kita
:rrengetahui bahwa dy / dx = m = gradien garis singgung kurva y = 4xa - 11x2 - 5x - 3.
Oleh sebab itu, persamaan (i) dapat ditulis menjadi:

y-o= Idx fr+1,5) ...(ii)


:

Untuk menyelesaikan persamaan (ii), kita tinggal mencari nilai dy / dx di titik x =


-i,5.Karena y=4xa-1.1x2 -5x-3 maka dy/dx=L6x3-22x-5 dan
q = 16(-1,5)3 -22(-1,,b)-s = -26= jadi m=-26
dxl*=-r,s

-hingga persamaan (ii) menjadi:


Y = -26 (X + 1,5)
atau Y =-26X-39
Persamaan pada baris terakhir merupakan persamaan garis lurus yang me-
:.-,lnggung kurva y = 4xa - 11x2 - 5x - 3 di titik P.
y= 4xa - 1.1.x2 - 5x - 3 di titik P(-1.5 , 0).
Dengan Mathematica, kita gambarkan grafik Y = 4xa -1'1x2 - 5x - 3 dalam selang
l-2,3lbeserta garis singgungnya di titik P(-1.5,0). Program dan hasilnya adalah
:

a=Plot[4 x^4-].1 x^2 - 5 x - 3,{x,'2,3}l;


b=Plot[-26 x - 39,{x,-2,3}l;
Show[a,b]

Gambar 5.1. Kurva dan garis singgungnya di P(-1'5 ,0)

* Rumus Persamaan Garis Singgung Kurva Y = f(x) Di titik (a, b)


Dari contoh 1 dapat kita buat sebuah persamaan garis singgung yang melalui
kurva y = f(x) di titik (a, b) adalah:

Y-b = t (a). (X-a) ...............'....'(1)

Di sini kita menyatakan gradien m dengan notasi f (a).

contoh 2 (Masalah Geometri) : Tentukan persamaan garis singgung kurva:

y = f(x)
" '-
= l+x' di titik (0.45, 0.9742).

Penyelesaian:
Dengan rumus (1) kita peroleh nilai a = 0,45 dan b = 0,3742, dan karena fungsi

f(x)= x- makafllx;= *(1+x')' sehingga f (0,45)=0,551519.


l+x'
Jadi, persamaan garis singgungnya adalah:
y-b =f (a).(X-a)
Y -0,3742 = 0,551519. (X-0,45)
Y =0,551519X +0,126016
Dengan Mathematica, kita tampilkan grafik kurva y = f(x) =
* dan
l+x',
_ garis
singgungnya di titik (0.45, 0.g742).
ClearIk,s]
k =Plot[x / ( 1+x^2),1x,-3,31];
s = Plot[0.551519 x + 0.126016,1x,-0.5,2]l;
Show[k,s]

1.25

1
gans srnggung

0.75

Gambar 5.2 Kurva dan garis singgungnya di titik (0.45, 0.3742)

Contoh 3: Persamaan garis singgung fungsi trigonometri.


Tentukan persamaan garis singgung kurva trigonometri y = 661x - 2 csc x di titik
X=
)-
T.
Penyelesaian:
Ketika, = +, maka kita mempunyai y = cot ! - Z.rc f --3 -Jl -,(+)=
+3 .Jadi,kita telah memperoleh titik singgung kurva diP(+ , -s.A -f). Persamaan

garis singgung kurva di titik P tersebut diperoleh dengan rumus:


y_yt=m(x_xr)
<1,
Kita telah memperoleh nilai x, 2n
= .,
dan y, = +. Sementara, nilai gradien
garis singgung kurva di titik P adalah m = dy / dx. Kita dapatkan m dengan mencari
dy/dxdi titik x= +. Jadi, untuk:
y=cot ! -zcsc!
maka,
dy / dx= alcotx-2cscx)
dx'
= - csc2,x - 2 (-csc xcotx))
dy / dx = 2 csc x cot x - csc2 x
maka gradien garis singgung di x= + adalah:
dr,
m= +l
dx
I

,, = 2csc f cot f -csc'f


lx=a
: , (*)(d)-(r)':
+
Kita peroleh m = l.r SrUrrttusikan nilai m dan x,, dan y, ke dalam persamaan
garis singgung:
y_yr=m(x_xr)
kita peroleh:

v_ -s.,6 -8 , 1r '
J)3) ;' -_(x_z+)

24x+9y + 15..6 -16n =O


atau Y = -2,667x +2,698
Inilah persamaan garis singgung kurva y = cot x- 2 csc x di titik x= + .
Jika kita gunakan Mathematica untuk menghitung turunan y = cot x - 2 csc x di
titik x = +,caranya adalah sebagai berikut.
D[Cot[x]-2 Csc[x],xll.x -+ 2Pi/3
-8
J

Hasilnya sama dengan perhitungan yang telah kita kerjakan.

Contoh 4 (turunan persamaan implisit):


Carilah sebuah titik yang terletak pada kurva 3f - 3xy + x2 = 1 di mana gradien
garis singgung pada titik tersebut adalah horisontal.

Penyelesaian:
Persamaankurvapadasoaliniadalahpersamaanimplisit. Dalampenyelesaiannya,
kita membutuhkan turunan persamaan implisit. Kita akan mencari titik pada kurva
ini di mana gradien garis singgung di titik tersebut adalah horisontal. Mari kita
uraikan pengertian ini satu per satu.
. Gradien garis singgung m sama artinya dengan dy / dx dari kurva implisit itu.
Jadi, m = ly/dx
. Dikatakan bahwa gradien garis singgung di titik-titik tersebut adalah horisontal.
Ini berarti bahwa s= ly / dx = 0. Ingat kembali bahwa garis horisontal memiliki
gradien sama dengan nol.

Dari kedua pengertian di atas, kita harus mencari dy / dx dan menyamakan


nilainya dengan nol. Hasil dari persamaan dy / dx = 0 akan menuntun kita kepada
titik (x, y) yang hendak dicari. Dengan turunan fungsi implisit, maka dy / dx dari 3y2
-3ry+x2=ladalah:
d(zy2) _ d(3xy)
* d(*') = d(t)
dx dx dx dx
eu 9-(391.v + 3x. {, *2x.4 = o
' dx dx' dx' dx
9 3v- g*.4I
'dx'dx-
or +2x = o

(6Y - g*)P
'dx =-2x + 3Y J

dy= -2x +3y


dx 6y-3x
dy= -2x + 3y
dx -3x+ 6y
Karena g = 0, maka -?^x +
lV = 0. Pecahan ini akan bernilai nol ketika bagian
dx -3x+ 6y
pembilang sama dengan nol. Jadi,
-2x+ 3Y = 0
2x
Y =I "'(1)
2x
Masukkan y = ;J ke dalam persamaan implisit semula, diperoleh:
3Y2 -3xY + x2 =L
/^ 12

3(4Y-r*f4)-x2=l
\3i
. \3/
+J - 2x2 + x2 = 1. (kalikan dengan 3)
4x2-3x2 = 3
x2= 3
,=aE
I
Kita telah mendapatkan nilai * = ..6. Masukkan x = "v5
ke dalam (i), sehingga I

1- (- 2.6 )
diperoteh V = . Jadi, titik yang dicari adalah
iJl [J3, -1. 3)
Kurva fungsi implisit dapat digambarkan dengan Mathematica. Caranya dengan
'memanggil' (mengetik) perintah <<Graphics'ImplicitPlot', kemudian tekan tombol
Shift-Enter, dilanjutkan dengan menuliskan perintah ImplicitPlot[persamaan, {x, a,
b)]. Jika kita gambarkan grafik 3y2 -3xy + x2 = 1 dalam selang -2 < x A 2, maka
hasilnya seperti pada gambar 5.3
< <Graphics' ImplicitPlot'
ImplicitPlot[3 y^2- 3 * y + x^2 : :1.,1x,-2,21)

Gambar 5.3

Contoh 5 (masalah geometri dengan persamaan implisit): Misalkan kita menjatuhkan


(meletakkan) lingkaran berjari-jari 1 ke dalam parabola y = 2x2. Pada titik manakah
lingkaran akan menyentuh parabola?

Penyelesaian:
Masalah ini akan lebih mudah dipahami jika kita buat sketsa lingkaran dan
parabola tersebut. Sketsanya adalah sebagai berikut.
Gambar 5.4

Dari gamba r 5 .4 , anggap bahwa koordinat titik pusat lingkaran adalah (0, b). Maka
persamaan lingkaran ini adalah x'? + (y - b)' = 1. Hal paling penting untuk diamati
adalahbahwa gradien garis singgung lingkaran dan gradien garis singgung parabola
adalah sama di titik di mana keduanya saling bersentuhan. Ini berarti bahwa:
turunan persamaan parabola = turunan Persamaan lingkaran

Turunan persamaan parabola adalah +dx = 4x ... (i)

Turunan persamaan lingkaran adalah 2x + 2(y- b) = 0 ....(ii)


"dx +
Substitusi nilai $dx = 4x ke dalam (ii) menghasilkan:

2x + 2(y-b)(ax) = 0'...(iii)
Kita bagi persamaan (iii) dengan dua:
x+4x(Y-b)=0
x(1 + 4(y-b)) = 0 ....(iv)
Lingkaran ini terlalu besar untuk dapat dimasukkan ke dalam parabola hingga
menyentuh titik (0, 0). Jadi, untuk persamaan (iv), kita asumsikan bahwa x * 0 dan
dianggap:
1+ 4(Y -b) = 0
y=b-]...r"1
4
Substitusikan nilai y pada (v) ke dalam persamaan lingkarannya, x2 + (y - b)' = 1.

Hasilnya
x'z+(b-+-b)'=1
4

*. (-i) = ,
X= +JE
4

Substitusikan nilai * = tf ke dalam persamaan parabola y = 2xzdiperoleh nilai


y,g= +. Jadi koordinat di ,."J [ngkaran dan parabola saling bersentuhan adalah di
dua titik:
( ,\i rs) , ('tE rs)
[- + 'T.,J "u"I o 'tJ
Contoh 6 (Masalah Geometri): Untuk fungsi , = -1r' + 6x2 - 11x - 50, tentukan-
lah titik P(x, y) di mana gradien garis singgung fungsi tersebut di titik P sama dengan
nol!

Penyelesaian:
Dikatakan bahwa gradien garis singgung di titik P sama dengan nol. Artinya,

- = $dx = 0. Jadi untuk mendapatkan titik P, kita harus menurunkan fungsi y =


-1r' * 6x2 -l lx - 50 dan menyamakan turunannya dengan nol.
J

+dx = -x2 + 12x-11= 0; faktorkan menjadi (x * 1)(x - 11) = I

Jadi, x, = 1 dan xr= 1L.

Masukkanx= L danx= 11 ke dalamfungsiy = -1r, + 6x2 -llx - 50,sehingga


J
diperoleh koordinat titik P, yaitu : p(t, -166 )dan P(11,
334 Pada kedua
). titik inilah
33
gradien garis singgung kurva , = -1*' + 6x2 _ 1lx - 50 bernilai nol.
Berikut ini kita tampilkan program Mathematica untuk menampilkan grafik
fungsi tersebut beserta kedua garis singgungnya.
Plot[{G1l3) x^3 + 6 x^2 - L1 x - 50, -16613, 3341 3},{x,-2,1.4}l
= -166/3

Gambar 5.5. Kurva dan kedua garis singgung horisontalnya

Kedua garis singgung tersebut adalah garis horisontal dengan Persamaan y =


334/3 dan y = -166/3- Kedua garis ini memiliki gradien nol'
$ Penafsiran Turunan Sebagai Laiu Perubahan
Penafsiran turunan yang berikutnya adalah sebagai laju perubahan, yaitu laju
perubahan variabel tak-bebas terhadap variabel bebasnya. Kita akan memilih contoh
pada beragam bidang ilmu agar dapat memperluas sisi pandang kita terhadap
pemakaian turunan (kalkulus).

Contoh 7 (Sosiotogi): Diperkirakan bahwa x bulan dari sekarang, jumlah populasi


penduduk suatu kota kecil dapat dipredisi dengan Persamaan:
P(x) = x2 +20x + 8'000
a. Tentukan laju pertumbuhan penduduk 15 bulan dari sekarang!
b. Tentukan pertumbuhan rata-rata jumlah penduduk selama 15 bulan dari se-
karang!
c. Tentukan banyaknya pertumbuhan penduduk antara bulan ke 15 hingga bulan
ke 16!

Penyelesaian:

a. Kalimat laju pertumbuhan penduduk dapat ditafsirkan sebagai laju perubahan


jumlah penduduk P(x) terhadap waktu x. Laju perubahan jumlah penduduk
P(x) terhadap waktu x dapat dikatakan sebagai turunan P terhadap x. Secara

matematis, hal ini kita tulis sebagai P' (x) atau $.


dx
Orrrr,yu,

Laju pertumbuhan penduduk = P' (x) = 2x + 20.


Jadi, laju pertumbuhan penduduk kota tersebut pada sebarang x bulan dinyatakan
oleh persamaan turunan P' (x; = 2x + 20. Sehingga laju pertumbuhan penduduk
pada saat x = L5 bulan dari sekarang adalah:

P' (x = 15) = p' (15) = 2 (15) + 20 = 50 orang per bulan.


Hasil ini menyatakan laju pertumbuhan penduduk di bulan ke 15 adalah 50
orang per bulan.
b. Pertumbuhan rata-rata jumlah penduduk selama 15 bulan dari sekarang dihitung
dengan rumus rata-rata pertumbuhan:
AP _ P(x2)-P(xr)
Ax x2-xl
dimanax,=O dan x, = 15.

P(x2)- P(x1) - P(15) - P(0) 8525- 8000


Sehingga
x2-xl l5-0 - 15
= 35 orangperbulan.

Hasil ini menunjukkan pertumbuhan rata-rata selama 15 bulan dari sekarang.


Perhatikan perbedaan kalimat antara soal a dan b, dengan kata-kata: di bulan ke
15 dan selama 15 bulan.
c. Banyaknya pertumbuhan penduduk antara bulan ke 15 hingga bulan ke 16
dihitung dari selisih nilai P(16) - P(15) = 8.576 - 8.525 = 51 orang. Jadi, daribulan
ke 15 hingga bulan ke L6, penduduk kota itu bertambah sebanyak 51 orang.

Contoh 8 (Ekonomi): Pendapatan bruto nasional (GNP = Gross National Product) pada
sebuah negara dinyatakan (secara prediksi) oleh model matematika:
N(t) = t2 + 5t + 106 (dalam milyar dollar AS)
t tahun setelah tahun 1980. Tentukan laju perubahan GNP Negara itu pada tahun
1990.

Penyelesaian:
Tahun 1980 bersesuaian dengan t = 0 dan tahun 1990 bersesuaian dengan t = 10. Maka
laju perubahan GNP pada tahun 1990 adalah turunan dari N(t) untuk t = 10, ditulis N' (t = 10).
N' (t) = 2t + 5. Sehingga N' (10) = 2 (10) + 5 = 25 milyar dollar AS per tahun
Kita dapat menyatakan laju perubahan pada contoh 8 ini dalam persentase. Rumusnya
adalah:
Persentase Laiu Perubahan

]ika y = f(x) maka persentase laju perubahan y terhadap x dinyatakan'oleh


formula
dYld'too%
= t(x) ,loo7o :
f,11)
P
Persentase Laiu 'erubahur,
v

Contoh (Ekonomi): Berapa persenkan besarnya laju perubahan GNP negara pada
contoh 18 di tahun 1990?
Jadi, jika jawaban contoh 8 kita nyatakan dalam persentase, maka hasilnya adalah
sebagai berikut.

Penyelesaian:
Tahun 1990 =t = 10 (10 tahun dari 1980). Dengan menggunakan rumus Persentase
laju perubahan, kita tentukan dahulu nilai N' (10) dan N(10), yaitu:
N'(10) = 25 milyar dollar AS per tahun
N(10) = 256 milyar dollar AS

Jadi, persentase laju perubahan (laju pertumbuhan) GNP di tahun 1990 adalah:

*'i'9).rooz,
N(10) = = 9,71 ohper tahun
2s6
-2Ltoo'6
Contoh 9 (Ekonomi/Manajemen): Sebuah perusahaan manufaktur memperkirakan
bahwa biaya C yang harus dikeluarkan (dalam juta rupiah) untuk memproduksi x
unit barang tertentu dapat dinyatakan oleh fungsi:

C(x) = -0,2x2+8x+40; (0 < x < 40)

a. Tentukanlah biaya produksi rata-rataper unit untuk memproduksi barang antara


5 hingga L0 unit!

b. Tentukan laju perubahan sesaat dari biaya produksi perunit ketika perusahaan
itu memproduksi tepat sebanyak 5 unit barang!
c. Tentukan laju perubahan sesaat dari biaya produksi perunit ketika perusahaan
itu memproduksi tepat sebanyak 10 unit!

Penyelesaian:
a. Gunakan lumus laju perubahan rata-rata. Di sini fungsi biaya adalah:
C(x)= -0,2x2 +8x+40
Ketika x = 5 unit, maka:C(x) = C(5) = -0.2(S)'z + 8(5) + 40 =75.
Jadi,biaya untuk memproduksi 5 unit barang adalah Rp 75 juta
Ketika x = 10 unit, maka : C(x) = C(10) = -0.2(10)'? + 8(10) + 40 = 100
Jadi biaya untuk memproduksi 10 unit barang adalah Rp 100 juta. Artinya biaya
produksi rata-rata per unit untuk memproduksi barang antara 5 hingga 10 unit
adalah:

C(10) - C(s) _ l00juta - 75 juta _ 25iuta _


Rp. 5 iuta/unit
10-5 l0unit-5unit 5unit
Jadi, secara rata-rata,jika produksi ditingkatkan antara 5 hingga 10 unit, maka
biaya produksinya meningkat dengan laju Rp. 5 jutalunit
b. Laju perubahaan sesaat dari biaya produksi perunit ketika memproduksi tepat
sebanyak x = 5 unit barang ditentukan dengan mencari nilai C' (5) :
C' (x) = -0,4x + 8
C'(5)=-0,4(5)+8=6
Hasilnya adalah Rp. 6 jutalunit. Artinya, ketika perusahaan itu memproduksi 5
unit, maka biayanya meningkat.dengan laju Rp. 6 jtfia per unit.
c. Laju perubahan sesaat dari biaya produksi perunit ketika perusahaan itu
memproduksitepatsebanyak 10 unitbarang. Disinix = 10. Teknikperhitungannya
sama saja dengan bagian b. Jadi:
C' (x) = -0,4x + 8
C'(10)=-0,4(10)+8=4
Hasilnya adalah Rp. 4 juta/unit. Artinya, ketika perusahaan itu memproduksi
10 unit barang, maka biayanya meningkat dengan laju Rp. 4 juta per unit.
Dengan membandingkan jawaban b dan c, kita melihat bahwa biaya produksi
barang per unit akan semakin menurun ketika banyaknya (umlah) unit barang
yang diproduksi semakin besar. Laju perubahan fungsi biaya seperti contoh ini
dinamakan biaya marjinal, yaitu biaya untuk memproduksi secara tambahan
satu satuan barang.

Contoh 10 (Biomedik): Berdasarkan penelitian biomedik, peyuntikan sebanyak x


(dalam satuan cc) dosis obat tertentu ke dalam tubuh seorang pasien akan memberi
pengaruh pada tekanan darah pasien. Misalkan, bahwa tekanan darah pasien B(x)
dapat diprediksi oleh model matematik:
B(x) = 0'05x2 -0'3x3
Gambarkan kurva dosis versus tekanan darah, beri komentar. Tentukanlah laju
perubahan tekanan darah terhadap dosis obat yang diberikan! Gambarkan kurva laju
perubahan tersebut!
Penyelesaian:
Kurva dosis versus tekanan darah adalah:
Plot[0.05 x^2-0.3 x^3,{x,0,5},Axeslabel ){" dosis x",
"Tekanan darah B")I
Tekanan darah B

Gambar 5.6. Grafik dosis versus tekanan darah

Grafik ini
mengindikasikan bahwa tekanan darah pada tubuh pasien akan
menurun secara drastis, jika dosis obat (hingga kadar tertentu) yang disuntikkan ke
dalam tubuhnya semakin tinggi.
Laju perubahan tekanan darah terhadap pemberian x dosis obat ke dalam tubuh
pasien dapat ditentukan dengan mengambil turunan B(x) terhadap dosis x, yakni:
B' (x) = 0'7x-0'9x2
Kurva laju perubahan ini adalah:
Plot[0.1 x - 0.9 x^2, {x,0, 5L Axeslabel+{"dosis x","Tekanan darah B"}, Grid-
Lines-+Automaticl

Tekanan darah B

-5

-10

-15

-20

Gambar 5.7 Kurva laju perubahan tekanan darah terhadap dosis obat
Contoh 11 (Elektro/Fisika): Besarnya muatan listrik Q (dalam satuan Coloumb) yang
mengalir pada suatu rangkaian pada waktu t (dalam satuan detik), dinyatakan oieh
Persamaan:

Q(t): 1S -1rz+lot+3; dimana o < t < 10


62
Carilah:
a. besarnya arus yang mengalir pada t = 3 detik dan t = 8 detik!
b. nilai arus terendah di dalam selang 0 < t < 10
Penyelesaian:
a. Menurut hukum fisika, arus rata-rata (I,^,^) yang mengalir pada suatu rangkaian
dari waktu t, hingga t, adalah:

I,.,.
rara = 4 (rasio
\ Iperubahan muatan dalam selang At = tz - tr)
At

Rumus ini adalah menyatakan laju perubahan rata-rata muatan Q yang ditafsirkan
sebagai arus rata-rata yang mengalir selama waktu At. ]ika kita ambil limit At -+
0 maka rumus laju perubahan rata-rata ini akan berubah menjadi laju perubahan
sesaat pada saat t = ti, yaitu:

1* 4Q = arus I yang mengalir pada saat t


At-+0 At

Limit ini, lirr, AQ, artinya sama dengan


a 49 atau Q'(t). Jadi, kita dapat
At-+0 At dt
mengatakan bahwa persamaan arus I(t) = Q'(t). Karena turunan Q'(t) adalah
sama dengan besarnya arus I(t), maka untuk menentukan berasnya arus pada
saat t = 3 dan t = 8, terlebih dahulu kita cari Q'(t):
7
Q' (t) : I(t): !t2 - 5t + lo ... (i)

Jadi, pada t = 3, maka:

I(t) = 113; - ' t - 5t + r0 = lof


-t 2.
_ 5(3) + r0 =26,5Ampere.

Dan ketika t-= 8, *uku'

I(t) =113; =!t'-5t+to = 1(s)2-s(8)+10 = 194Ampere.


22"
b. Untuk menentukan nilai arus I terendah di dalam selang 0< t < 10, kita
penyelidikan secara graf:,s, dengan menggambarkan grafik persamaan (i) sebagai
berikut.
PLotIOl2l t^2 - 5 t + L0,{1 0,L0},Axeslab g--s{"t" ," Arus I"}I

Arus I

300

250

200

150

100

50

246810
Gambar 5.8. Grafik Arus I terhadap waktu t

Arus I dinyatakan pada sumbu vertikal (sumbu y). Dari gambar 5.8, kita melihat
bahwa arus terendah berada dalam selang t = 0 hinggat = 2. Untuk memperjelas
nilai arus terendah I dalam segmen grafik di antara t = 0 hingga t = 2, mari kita
perbesar segmen grafik dalam daerah yang dilingkari pada gambar 5.9. Kita
gunakan Mathematica:

Arus I

300

250

200

150

100

46

Gambar'5.9

Hasil 'perbesaran' grafik yang dilingkari pada gambar 5.9 ditampilkan oleh
gambar 5.10.
Plotl7 I2l t^2 - 5 t + 10,{t 0,1},Gridlines-+Automatic,Frame->Truel

9.2

I
8.8

8.6

8.4

8.2
0 0.2 0.4 0.6 0.8 1

Hasit"zoomins', puo" sambar 3.10


""nH:fi#ffii
Dari gambar 5.10 tampak bahwa arus I terendah + 8,2 Ampere, teriadi dalam
selang t = 0,7 hingga t = 0,75. Lebih jelas, perhatikan segmen grafik ini dalam
selang yang lebih sempit, yakni: 0,7 < t < 0,75. Hasilnya adalah:
Pl ot[O I 2) t^2 - 5 t + 10,1t,0.7,0. 75], Gri d Lines-+Automati c,Frame-+Tru el

8.2't65

8.216

8.2155

8.215

8.2145

0.7 0.71 0.72 0.73 0.74 0.75

Gambar 5.11.
Hasil "zooming" segmen grafik dalam selang 0,7 <I< O,7S

Tampak bahwa arus I terendah sekitar 8,21.40 Ampere.

selain cara grafis, Mathematica menyediakan perintah yang dapat digunakan


rlntuk mencari nilai terendah I pada persamaan:
7
I(Q=11:-5t+10
2
yaitu dengan perintah Minimizelpersamaary variabeU//N. Inilah hasil eksak yang
ditampilkan oleh Mathematica dengan menggunakan perintah tersebut:
Minimize[(7 / 2) t^2- 5 t + 10,t]//N
{8 .21 429,|t -->0 .7 1 428 6}J

Dari hasil di atas, nilai arus terendah adalah I = 8.21,429 Ampere, terjadi saat
t = 0.7L4286 detik.

Kita dapat menggunakan turunan langsung (tanpa bantuan grafik) untuk


memastikan nilai terendah arus I pada persamaan I(0 di atas, namun tema ini akan
di bahas nanti pada bagian aplikasi turunan (masalah optimisasi/maksimum dan
minimum).

Contoh 12 (masalah perubahan volume air): Misalkan bahwa volume air (dalam
liter) yang berada di dalam tangki setelah t menit dinyatakan oleh:
V(0 = 2P -16t + 35
Jawablah pertanyaan ini!
a. Apakah volume air dalam tangki bertambah atau berkurang pada saat t=L
menit?
b. Apakah volume air bertambah atau berkurang pada t = 5 menit?
c. Apakah volume air dalam tangki berubah lebih cepat ketika t = 1 atau ketika
t=5?
d. Pernahkanvolume air dalam tangki tetap (tidakberubah) ? Jika pernah, kapankah
itu?

Penyelesaian:
a. Bertambah atau berkurangnya volume air pada waktu t diketahui dengan melihat
tanda aljabar (positif atau negatif) dari laju perubahan atau turunan V(t), yaitu:
V' (t) = 4t -1'6
Ketika t = 1 maka V' (1) = 4(1) - L6 = -12 liter/menit.
Jadi, karena tanda aljabar V'(1) negatif maka kita katakan volume airnya
berkurang ketika t = 1 menit (air berkurang dengan lajul2liter/menit).
b. Sama seperti soal a, V'= 4 liter/menit.
(5) = 4(5) - 1.6

Jadi, karena tanda aljabar V' (5) positif maka kita katakan volume airnya
bertambah ketika t = 5 menit (air bertambah dengan laju4liter/menit).
c. Untuk menjawab apakah air berubah lebih cepat di t = 1 atau di t = 5, abaikan
tanda aljabar (+ atau -) jawaban a dan b. Yang penting adalah melihat mana dari
kedua angka V' (1) atau V' (5) yang lebih besar. Kita peroleh bahwa Y' (11 = 12
adalah lebih besar dari V' (5) = 4. Jadi, volume air lebih cepat berubah di t = -

menit.
d. Volume tidak akan berubah pada saat laju perubahan V '(t) = 0. ]adi,
v' (t) = 4t-1,6 = 0
=t=4menit.
Artinya, volume air dalam tangki tidak berubah (untuk sementara waktu) per:is
padasaatt=4menit.

{,} Penafsiran Turunan Sebagai Kecepatan Sesaat


Sekarang kita akan menafsirkan turunan sebagai kecepatan sesaat, r'akni
kecepatan sebuah benda yang bergerak pada satu waktu tertentu t. Pada benda vanq
sedang bergerak, ada tiga hal yang menjadi perhatian, yaitu:
s
Jarak : Seberapa jauh benda itu bergerak/berpindah dari posisi semula?
Waktu t : Berapa lamakah perjalanan yang ditempuhnya?
Kecepatan v : Berapa kecepatannya?

Tiga hal tersebut adalah variabel jarak (s), waktu (t) dan kecepatan (v). Biasanr a,
kecepatan rata-rata v ditentukan oleh rasio:

perubahan jarak s _ At .
perubahan waktut At
Misalnya, jika diketahui jarak yang ditempuh oleh sebuah mobil yang melajtr
selama 2 jar.rr (dari jam 9.00 - 11.00) adalah 120 km, maka kecepatan rata-rata mobil
itu dalam selang waktu tersebut adalah:
As l20km
Km/Jam'
vrata-rata= = = bU
At ,j^^
Angka ini hanyalah angka kecepatan rata-rata selama 2 jarn. Jelas bahn-a
kecepatan mobit itu akan bervariasi di atas atau di bawah 60 km/jam, tergantung
pada kondisi jalan yang dilaluinya. Rumus kecepatan rata-rata sama sekali tidak
memberi informasi tentang berapa besar kecepatan mobil pada saat tepat jam
9.20, atau pada saat jam 10.30 atau pada waktu tertentu lainnya. Tetapi dengan
memanfaatkan kalkulus, yakni konsep turunan, dengan menggunakan pendekatan
limit unik, masalah ini dapat kita pecahkan. Masalah seperti ini kita sebut sebagai
masalah kecepatan sesaat, atau laju perubahan sesaat.
Jika diberikan persamaan gerak s = f(t) dengan s adalah jarak dan t adalah waktrl,
maka kecepatan sesaat v(to) pada waktu tertentu to adalah sama dengan turunan:
f(to +h)-f(to)
lim
h-+0

189 I
l
I

I
I
I
Jadi, turunan yang pada situasi tertentu ditafsirkan sebagai gradien garis
singgung dan laju perubahan, kini ditafsirkan sebagai kecepatan sesaat pada waktu to.
Kesimpulannya:

Percepatan
Percepatan a(t) pada sebarang waktu t merupakan laju perubahan kecepatan terhadap
waktu.

,,,.;y, (t)
"(*)
=
lS*
Artinya, percepatan merupakan turunan dari fungsi kecepatan.

Contoh 1-3 (Fisika): Misalkan bahwa posisi s (dalam kilometer) dari sebuah benda yang
bergerak setelah t jam dinyatakan oleh persamaan gerak:

s(t)= -t
t+1
Jawablah tiga pertanyaan berikut ini!
a. Apakah benda itu bergerak ke arah kanan atau ke arah kiri ketika t = 2 jarn?
b. Apakah benda itu pada suatu waktu akan berhenti bergerak?
c. Berapa besar percepatarurya ketika t = 4 jam?

Penyelesaian:
Sebelum menjawab ketiga pertanyaan ini, kita perlu menentukan persamaan
turunan s(t). Dengan menggunakan teorema 6 (aturan pembagian), kita peroleh
turunan dari:
t
s(t) = t+l
adalah

s' (t) = = kecepatan sesaat.


(t + 1)2

Persamaan turunan s' (t) menyatakan kecepatan benda pada saat t.


Untuk menentukan apakah benda itu bergerak ke kanan atau ke kiri pada saat
t = 2, kita harus memasukkan nilai t = 2 ke dalam persamaan kecepatan s'(t).
Jika nilai kecepatan s' (t) positif maka benda itu bergerak ke kanan, dan jika nilai
kecepatan s' (t) negatif maka benda itu bergerak ke kiri. Mengapa demikian?
Karena kecepatan sesaat di t = 2 adalah sama artinya dengan gradien garis
singgung fungsi kecepatan s' (t) di titik t = 2. ladi ketika t = 2 kita peroleh:

s'(2)=--= = 1k*/iu-
(2+l)' 9
Karena kecepatan sesaat di t = 2 adalah positif, maka kita simpulkan bahwa
benda itu bergerak ke arah kanan pada saat t = 2. Untuk memperkuat fakta ini,
kita tampilkan grafik fungsi jarak s(t) versus waktu t. Gradien garis singgung di t
= 2iamditunjukkan oleh garis panah yang mengarah ke kanan. Ini membuktikan
bahwa pada saat t = 2,benda itu bergerak ke arah kanan. Grafiknya ditampilkan
pada gambar 5.12:
Plot[U(t+l),1t,0,12],AxesLabel-+ {"waktu t"," jarak s"}, Gridlines-+Automaticl

jarak s

0.8

0.6

0.4

waktu I

Dari gambar di atas, jika kita berjalan dari titik pangkal koordinat menelusuri
jejak kurva yang menanjak ke arah atas, jelas bahwa dari selang waktu t = 0
hingga t = 12, kita akan tetap bergerak ke arah kanan.
b. Benda itu akan berhenti bergerak jika kecepatarurya = 0. Persamaan kecepatan
pada sebarang waktu t adalah:

s' (t) =
(t + 1)2
Dari persamaan ini, kecepatannya tidak akan pernah bernilai nol untuk berapapun
nilai t, karena bagian penyebut pecahan ini tidak pernah bernilai negatif. Artinya,
benda ini tidak pernah berhenti bergerak. Perhatikan grafik kecepatan versus
waktu t pada gambar 5.13. Lihat, ketika t makin (besar) nilai kecepatan v secara
limit mendekati nol tetapi tidak pernah sama dengan nol.
Plot[1/(t+1) ^\,{t,0,12},AxesLabel-+{"waktu t","kecep atan"}]

kecepatan

waktu t
68
Gambar 5.13

Perhatikan gambar 5.14, jika kita amati jejak grafik ketika t semakin besar,
misalnya t = 100 jam hingga t = 1000 jam, maka nilai kecepatannya tetap tidak nol,
meskipun nilai kecepatan tersebut memang secara limit semakin kecil menuju
nol, tetapi kecepatannya tidak pernah sama dengan nol.
Plot[1/(t+1) ^
1,{t,100,1000},AxesLabel->{"waktu t"," kecepatan"}]
kecepatan

0.008

0.006

0.004

0.002

waktu
200 400 600 800 1000
Gambar 5.14.
Kecepatan * 0 meskipun t makin besar

c. Percepatan a(t) = Turunan dari kecepatan:

s' (t) =
(t + 1)2

Dengan teorema 6, turunan persamaan kecepatan s' (t) ini adalah:


,rtt =
e\r/
j-
(t + r)3

Jadi, percepatan benda itu pada sebarang waktu t adalah a(t) = . 2 -, sehingga
percepatannyapad.asaatt=4adalah: (t + 1)-

.,
a(4) =
a
=
-- km/lam'
(4 + l)3 -125
Tanda negatif pada percepatan menunjukkan bahwa benda itu mengalami
'perlambatan' (yakni kecepatannya menurun).

Contoh 14 (fisika): Sebuah bola dilemparkan secara vertikal dari atas permukaan
tanah dengan kecepatan awal v = 64 kaki per detik. larakyang ditempuh bola itu t
detik setelah ditembakkan dinyatakan oleh:
s(t)=-1612*Unt
a. berapakah kecepatan bola itu 1 detik setelah ditembakkan?
b. berapa lama bola itu mencapai ketinggian maksimumnya?
c. berapa kaki ketinggian maksimum yang dicapai bola itu?

Penyelesaian:
a. Kecepatan bola itu adalah v(t) = s' (t) = -32t + 64, sehingga kecepatannya pada t
-1.
v(1) = -32(1) + 64= 32 kaki/detik
b. Pada saat bola mencapai ketinggian maksimum, kecepatannya = 0. Artinya,
v(t) = -32t+64=0
32t = 64
t = 2detik.
Jadi, bola itu akan mencapai ketinggian maksimum dua detik setelah dilem-
parkan
c. Dari jawaban b, ketinggian maksimum terjadi 2 detik setelah bola dilemparkan,
maka jarak yang ditempuh bola itu ketika t = 2 adalah:
s(t)=-1612*Unr
s(2) = -1.6(2)2 + 6aQ) = 64 kaki.
Jadi, ketinggian maksimum yang dicapainya adalah 64 kaki.

't93

s
. Beberapa Contoh Aplikasi Turunan Fungsi Eksponensial dan Logaritma
Berikut ini di berikan beberapa contoh aplikasi turunan fungsi eksponensial dan
logaritma pada bidang manajemen, sosial, psikologi, dan ilmu alam.

Contoh 15: (Kimia fislk/physical chemistry)


Misalkan jumlah A(t) radioaktif yang tersisa pada suatu unsur kimia tertentu
setelah waktu t (bulan) dinyatakan oleh model eksponensial negatif:
A(t) = 500.e-0'2st (dalam satuan gram)
Tentukanlah besarnya laju perubahan jumlah radioaktif unsur tersebut ketika:
a. t=1 b. t=4
c. Apakah unsur itu meluruh (berkurang) lebih lambat atau lebih cepat dengan
bertambahnya waktu?

Penyelesaian:
Persamaan A(t) adalah fungsi eksponensial yang menyatakan jumlah radioaktif
yang tersisa pada saat t. Ingat kembali bahwa laju perubahan = turunan. Jadi, laju
perubahan jumlah radioaktif diperoleh dengan menurunkan A(t) terhadap t:

dA
::-: = 500.e-o,2st .(-0,25)
dt
dA
= -125 e-o,25t
;
Setelah kita peroleh persamaan laju perubahan jumlah radioaktif unsur tersebut
pada sebarang waktu t, maka sekarang kita dapat menentukan besarnya laju per-
ubahan pada saat t = 1, t = 4 dan t = 10 bulan sebagai berikut.
a. Ketika t = 1 maka besar laju perubahan jumlah radioaktif adalah:

S f
'=
t = -725e-o'2s(1) = -97'35o1gram/bulan'

Tanda negatif artinya adalah'berkurang atau meluruh'

b. Ketika t = 4, maka besar laju perubahan jumlah radioaktif adalah:

't=4 =
*dt l,=. =
-125e-0'25(4) -45,9849sram/bulan.

c. Untuk melihat apakah unsur itu meluruh lebih lambat atau lebih cepat dengan
bertambahnya waktu, maka dapat kita amati dengan melihat jejak grafik
persamaan A(t) = 500.e-0'2st. Lakukan dengan bantuan grafik, sebagai berikut.
Plot[500 E^ (-0.25 t),{1 0,30},Axeslab el-+ {" t'," At' l)

10 15 20

Gambar 5.15

Dari grafik gambar 5.15 kita lihat bahwa kadar radioaktif dalam unsur tersebut
meluruh "cepat" dalam selang waktu 0 hingga 11 bulan (lebih kurang), dan
setelah t > L1 kecepatan peluruhan lebih lambat dan semakin lambat (grafiknya
landai) dengan bertambahnya waktu. Kita juga dapat menampilkan besar laju
perubahan (kecepatan) kadar radioaktif unsur tersebut dengan mengarnati nilai
turunan dA/dt, misalnya dalam selang 0 < t < 20, seperti yang dihasilkan oleh
perhitungan Mathematica berikut ini.
w=Table[{t,-125 E^(-0.25 0},{t 0,20}]
TableForm[w,TableHeadings-+{Automatic,l"tbttlan","nilai laju peluruhan A"}}]

t bulan Nilai laju peluruhan A


1 0 -125
2 1 -97.3501

3 2 -75.8163
4 3 -59.0458
5 4 -45.9849
6 5 -35.8131

7 6 -27.8913
8 7 -21.7217

I 8 -16.9169
10 9 -13.1749

11 10 -10.2606
12 11 -7.99098

13 12 -6.22338
14 13 -4.84678
15 14 -3.77467
16 15 -2.93972
17 16 -2.28945
18 17 1.78303
19 18 -1.38862
20 19 -.1.08146

21 20 -0.842243

Kolom pertama menyatakan nomor urut data, kolom kedua adalah waktu t
dan kolom ketiga adalah nilai laju peluruhan A(t). Secara geometri, nilai-nilai
laju peluruhan A(t) pada kolom ketiga menyatakan gradien (kecuraman) garis
singgung kurva A(t) pada gambar 5.15. Nilai-nilai laju peluruhan A(t) tersebut
terus mengalami penurunan (dengan mengabaikan tanda negatifnya) dengan
bertambahnya waktu t. Kesimpulannya adalah unsur itu meluruh lebih lambat
dengan bertambahnya waktu.

Contoh 16 (ekonomi/marketing): Sebuah perusahaan ingin meningkatkan unit pen-


jualan produknya dengan cara mengeluarkan biaya tertentu untuk pemasangan iklan
atau promosi. Misalkan bahwa model matematik berikut ini menyatakan pengaruh
biaya iklan (dalam juta rupiah) terhadap banyaknya unit produk yang terjual:
N(a) = 3000 + 600 ln a' a >1'

di mana:
N(a) = banyaknya produk yang terjual
a = jumlah biaya yang dikeluarkan untuk iklan (dalam juta rupiah)
a. Berapa banyak produk yang terjual setelah perusahaan itu mengeluarkan dana
100?

b. Tentukan N' (a) dan N' (100)

Penyelesaian:

a. Untuk a = 100, maka banyaknya unit produk yang terjual adalah:


N(a) = 3000 + 600,n a
N(100) = 3000 + 600' ln (100)
= 5763,1 = 5.763 unit (dibulatkan)
Jadi, diprediksi bahwa produk akan terjual sebanyak 5.763 untt manakala biaya
iklan yang dikeluarkan sebanyak Rp. 100 juta. Gambar 5.1'6 jumlah produk yang
laku:
Plot[3000+600 Log[al,{a,1,100},Axeslabel-+ {"biay a a"," unit terjual N"}]
unit terjual N

4500

4000

3500

biaya a
2A 40 60 80 100

Gambar 5.16

Dengan melihat grafik 5.16, secara kasar kita mengatakan bahwa pengaruh btaya
iklan dalam selang 1. < a < 20 jt:ta tampak sangat nyata dalam meningkatkan
jumlah produk yang terjual. Ini tampak dari tajamnya tanjakan (gradien) kurva
dalam selang tersebut. Sedangkan dampak biaya ketika a > 80 juta (lebih kurang)
tidak memberi pengaruh besar terhadap penjualan.
b. N' (a) diperoleh dengan menurunkan model matematik N(a) = 3000 + 600 ln a
HasiLrya adalah:

600
N' (a) -
a

Kemudian, nilai N' (100) = 999 = U


100
Contoh 17 (Fisika-masalah gerak): Misalkan posisi S (dalam meter) dari sebuah
benda yang bergerak setelah t detik dinyatakan oleh persamaan:
S(t)=1"' ; t>0
Apakah benda itu akan berhenti pada suatu waktu ataukah ia akan terus bergerak
tanpa pernah berhenti?

Penyelesaian:

Pertama kita membutuhkan informasi tentang turunan S(t). Kita mengetahui

bahwa turunan $dt airutrirkan sebagai kecepatan benda itu pada saat t. Benda itu

akan berhenti pada waktu t = a jika kecepatan benda itu sama dengan nol, yaitu jika
dS
= 0. Kita akan menunjukkan dapatkah kecepatannya bernilai nol pada waktu
dt
t= a?.
Jadi:

9=
dt ",+tet=e,(1+t)

Persamaan turunan (kecepatan ) yang dihasilkan adalah S' (t) = et(1 + t) . Untuk
t > 0, nilai kecepatan et(1 + t) tidak akan pernah bernilai nol, sebab berapapun nilai t
yang kita masukkan tidak akan pernah membuat nilai kecepatan et(1 + t) menjadi nol.
Gambar 5.17 menampilkan grafik kecepatan S'(t) versus waktu t.
Plot[E^t(1+t),tt 0,3],Axeslabel+{ " t'," 5' (t)'l7

sr

Gambar 5.17
Semakin besar nilai t maka kecepatan S' (t) makin tinggi

Dari gambar 5.17, yang terjadi adalah kecepatan,benda itu makin tinggi dengan
bertambahnya waktu. Ini menujukkan benda itu terus bergerak.

Contoh 18 (DemografilKependudukan): Misalkan pada suatu kota tertentu, ber-


dasarkan data sensus tahun 1980 hingga saat ini, jumlah populasi penduduk kota itu
pada waktu t dinyatakan oleh model matematika:

P(t) = 50.000(1 + 0,2t)e-0'0at ; (0 <t< 40)

di mana t = 0 berkorespondensi dengan tahun 1980.

Tentukanlah jawaban pertanyaan-pertanyaan berikut!


a. Berapa laju perubahan populasi pada tahun t?
b. Apakah populasi penduduk kota itu akan bertambah atau berkurang pada tahun
1985,1995, dan 2005?
Penyelesaian:
dP
a. Laju perubahan populasi pada tahun ke-t diberikan dengan mencari turunan
dt
dengan Mathematica, hasilnya adalah:
D [50000(1+0.2 t)E^C0.04 t),t]
10.000 e_0,04t _ 2.000 e_0,041 (l + 0,2t)

'dt I
ladi: = 10.000 e-0,04t - 2.000 e-0,04t (r + O,2t)

b. Untuk mengetahui apakah populasinya akan bertambah atau berkurang pada


tahun tertentu t = d, kita cukup memasukkan nilai t = a ke dalam persamaan
turunan pada jawaban poin a. ]ika nilai turunannya positif, maka jumlah populasi
meningkat. Sebaliknya, jlka turunannya negatif, maka populasinya berkurang.
Lihat hasil berikut ini,
Untuk tahun 1985, nilai t = 5, maka:

+l
dt - = 10.000 e-0,04(5) - 2.000 e-0,04(s) (1 + 0,2 (s)) = agtz,z8 (positif)
lt=5
Jadi, populasi penduduk pada tahun 1985 bertambah. Hasil perhitungan tersebut
dapat dengan dihitung dengan Mathematica. Perintahnya adalah:
D[50000(L+0.2 t)E^(-0.04 t),t]/.t-+ 5
Untuk tahun 1995, nilai t = 15, maka

dPl (15) (1s)


I
= 10.000 e-0,04 - 2.000 e-0,04 (1 + 0,2 (15)) = 1,097,62 (positif)
dt lt=ts

Jadi populasi penduduk pada tahun 1995 jugabertambah


Untuk tahun 2005, nilai t = 25, maka:

gtl + 0,2(25)) =
= 10.000 e-0,04(25) - 2.000 e-0'04(25) (1. -735,759(negatif.l
dt lt=zs
Jadi, populasi penduduk pada tahun 2005 berkurang. Kesimpulan kita pada
poin b diperkuat oleh gambar 5.18. yang menampilkan grafik jumlah populasi
P(t) pada saat t. Dari grafik, kita melihat bahwa jumlah populasi P(t) meningkat
dari tahun 1980 hingga tahun 2000 (bersesuaian dengan t = 20) dan kemudian
mengalami penurunan setelah tahun 2000.
Plot[50000(7+0.2 0E^('0.04 tl, {t,0,40}, Axeslabel-s{"t","P"}, Gridlines--+
Automaticl
Gambar 5.18

APLIKASI.2

C. LAJU PERUBAHAN TERKAIT WAKTU


Kebanyakan fenomena perubahan di alam semesta ini terkait dengan waktu.
Oleh karena itu, sekarang kita akan membahas tentang laju perubahan yang terkait
dengan waktu. Dalam pembahasan ini kita akan melihat aplikasi menarik lainnya dari
kalkulus diferensial. Untuk pembahasan ini, perhatikan beberapa contoh berikut.

Contoh L9: Udara dipompakan ke dalam balon berbentuk bola dengan laju 7 cm3 /
menit. Tentukan laju pertambahan panjang jari-jarinya ketika diameter balon adalah
20 cm!

Penyelesaian:
Hal pertama yang perlu kita lakukan adalah mengidentifikasi informasi yang
terkandung di dalam soal ini dan menetapkan apa yang akan cari. Kita harus ingat
bahwa volume V dan jari-jari r balon akan berubah dengan bertambah lamanya
waktu pemompaan. Jadi, keduanya adalah fungsi waktu t. Dari soal, kita ketahui
bahwa udara dipompakan ke dalam balon dengan lajuT cm3/menit. Ini merupakan
informasi tentang laju pertambahan volume balon. Kita mengetahui bahwa laju
pertambahan (laju perubahan) volume V dapat diartikan sebagai turunan V' (t),
sehingga informasi ini dapat ditulis sebagai:

Y' (t) =7
Sekarang kita ingin menentukan laju perubahan jari-jarinya ketika diameter d =
20 cm. Sekali lagi, laju perubahan jari-jari adalah sama dengan turunan oariabel jari-
jari r terhadap waktu t. Jadi, masalah ini dapat ditulis sebagai:
/(t)=? ketika.=9=4=fi
22
Hingga di sini, kita telah memaparkan informasi-informasi yang terkanJ'-:::
dalam soal dan kita telah menetapkan apa yang ingin dituju, yakni menentukan / :
pada sebarang waktu t ketika r = L0 cm.
Sekarang, masalahnya adalahbagaimana menghubungkan antara V dan r sebaga.
fungsi waktu t agar kita dapat menggunakan data V, (t) = 7 untuk menetapkan nila:
r' (t)? Kita dapat menggunakan rumus volume bola (karena balonnya berbenhrk
bola):

4x
v(t) lr(t)l'
J

Kita turunkan V(t):


V' (t) = 4nr2 r'(t) ... (i)

Substitusikan nilai V' (t) = 7 danr = 10 ke dalam (i) diperoleh:

n_ 4n(10)2 r'(t) ... (ii)

Persamaan (ii) dapat ditulis menjadi:


7
r' (t) = cm/menit
400n
7
Jadi, laju pertambahan jari-jarinya ketika diameter balon 20 cm adalah
menit. 400n

Kita menetapkan satuan cm/menit untuk laju perubahan ini karena mengingat:

r' 1t; = 9r
dt
Kita mengetahui bahwa satuan bagian pembilang 'dr' adalah cm dan satuar
bagian penyebut'dt' adalah menit, sehingga satuan untuk turunan r, (t) menjadi cm
menit. Ini adalah cara yang paling mudah dalam menetapkan satuan bagi sebuah
turunan.

Contoh 20: Sebuah tangga yang panjangnya 7 meter disandarkan pada tembok
vertikal. Kaki tanggayang mula-mula berada pada jarak 5 meter dari dasar tembok,
kemudian didorong ke arah tembok dengan kecepatan l meter/detik, menyebabkan
ujung tangga yang menempel di tembok bergerak naik ke atas. Seberapa cepatkah
ujung tangga bergerak naik 8 detik setelah didorong?
Penyelesaian:
Hal pertama yang perlu kita lakukan adalah membuat sketsa yang menggambarkan
situasi masalahnya, seperti tampak pada gambar berikut.

v':?

{-
r:-{
Dari sketsa ini kita telah nyatakan bahwa:
. x adalah jarak kaki tangga ke tembok;
. y adalah tinggi ujung tangga dari dasar tembok;
o x' (g = -+3 adalah kecepatan bergesernya kaki tangga x (diberi tanda negatif
karena jarak x mengalami pengurangan).

Sekarang kita ingin mencari laju ujung tangga yang bergerak ke arah atas
tembok, yakni f .lngat, bahwa y' harus bertanda positif, karena nilai y bertambah.
Sama seperti contoh sebelumnya, kita perlu membangun hubungan antara x dan y.
Ini dapat dilakukan dengan dalil Phytagoras:
x' + Y' = (7)2 = 49 ... (i)
Karena x dan y adalah fungsi yang terkait dengan waktu t, maka yang perlu
dilakukan adalah mendiferensialkan masing-masing ruas persamaan (i) terhadap t.
Hasilnya adalah:
2x.x' +2Y.Y' =0 ...(ii)
Persamaan (ii) memiliki dua besaran yang tidak diketahui nilainya dan kita
harus menemukan nilai kedua besaran agar persamaan ini dapat diselesaikan. Kita
perlu menentukan nilai x dan y. Kita mengetahui nilai awal x = 5 dan dan kaki
tangga didorong ke arah tembok dengan laju x' (0 = -+ meter/detik, dan kita ingin
-')

mengetahui apa yang terjadi setelah 8 detik kemudian. Ini berarti bahwa:

*=5-+(8) =Zmeter
JJ

Untuk mendapatkan nilai y,


J'agunakan kembali dalil Phytagoras, ---'o*^'"* = Z,
-r---o-^---' dengan
3'
sehingga:
= 6,59966 = 6,6

'7 I
Setelah itu, masukkan nilai
J
y = 6,6 dan laju x, = -iJ ke dalam persamaan
(ii) untuk memperoleh y':

zQl e!) + 2(6,6).y' = s


+12,2y, =O
+
Jadi, 14/
/ (t) =
#=o'117845meter/detik
Perhatikanbahwatanday'(12)adalahpositifkarenanilaiybertambah. Andaikan
hasilnya negatif, maka ada yang salah dalam perhitungannya, sehingga kita harus
mengulang kembali dari awal.

Contoh 2L: Seorang pria tinggi 6 kaki berjalan lurus menjauhi iampu jalan yang
tingginya 20 kaki dengan lajuT kaki/detik. Tentukanlah laju pertambahan panjang
bayangan pria tersebut!

Penyelesaian: Kita buat sketsa yang menggambarkan situasi tersebut.

Gambar 5.19

Di sini ada dua variabel yang berubah, yakni bayangan pria itu x, dan jarak pria
itu y dari lampu jalan. Keduanya adalah variabel yang tergantung pada waktu t. Kita
memPunyai informasi bahwa pria itu bergerak lurus menjauhi lampu jalan dengan

laiu 7 kaki per detik.Ini berarti ! = , . Kita harus mencari laju pertambahan bayangan,

,r*,
'dt( $. Suturang lihat ,k"1t, di atas, perhatikan bahwa AABC dan ADEC adalah
sebangun, sehingga dapat dinyatakannya dalam bentuk kesamaan perbandingan:

x+y_x ..(i)
206
,

Persamaan (i) dapat ditulis menjadi:

Y =
]x "'(ii;
Sekarang, turunkan masing-masing suku persamaan (ii) terhadap t:

dy= 7dx ... (iii)


dt 3dt
dy
Substitusikan nilai =7 ke dalam (iii) sehingga diperoleh:
dt
- 7dx (kalikan dengan3/7)

Kita peroleh nilai laju bayangan dx/ dt = 3 kaki/detik. Jadi, jika pria itu berjalan
lurus menjauhi lampu jalan dengan laju 7 kaki/detik, maka laju pertambahan
bayangan pria tersebut adalah 3 kaki/detik.

APTIKASI-3

D. HAMPIRAN LINIER DENGAN MEMANFAATKAN GARIS


SINGGUNG
Pada bagian ini kita akan melihat aplikasi tak langsung dari turunan, yakni
dengan memanfaatkan persamaan garis singgung sebagai alat untuk menghampiri
(mengaproksimasi) fungsi. Tentu saja untukmendapatkanpersamaan garis singgung
fungsi f(x), kita harus mengambil turunan fungsi itu terlebih dahulu.Itulah sebabnya
mengapa kita mengatakannya sebagai aplikasi tak langsung dari turunan.
Jika diberikan fungsi f(x), maka persamaan garis singgungnya, yakni L(x), di titik
x = a adalah:
L(x) = f(a) + t (a) (x - a) ... (1)
Secara geometri, masalah ini diilustrasikan oleh gambar 5.20. Gambar ini
memperlihatkan grafik fungsi f(x) dan garis singgung L(x) di titik x = a.

(a, f(a))

Grafik f(x) .".ixl3il?n'3nn.ru di x = a

Dari grafik di atas, kita melihat bahwa pada titik-titik yang dekat dengan x = a
(disekitar a), maka grafik f(x) akan hampir sama bentuknya dengan garis singgung
L(x). Artinya, penggalan kurva f(x) di sekitar x = a akan menyerupai bentuk garis
singgung L(x). Fakta ini memberi kita satu manfaat bahwa fungsi f(x) di sekitar x = a
dapat dihampiri atau diaproksimasi oleh garis singgung L(x). Dalam kasus ini, garis
singgung L(x) pada rumus (i) di katakan sebagai hampiran linier (linear approximation)
bagi fungsi f(x) di x = a. Lalu apa manfaat rumus hampiran linier ini? Perhatikan
contoh berikut!

Contoh 22: Tentukan hampiran linier untuk fungsi f(x) = W A x = 8. Gunakan


hampiran linier untuk menghampiri nilai dari {8,07 dan VE.

Penyelesaian:
Untuk menentukan hampiran linier bagi fungsi W ai x = 8, kita gunakan
rumus:
L(x) = f(a) + f' (a) (x - a)
12
Disinif(x)= {v = 1i dan a=8 sehinggafl (x) =
}*-';
e (8) =
It f(8)=2
Substitusikan nilai-nilai ini ke dalam rumus L(x), sehingga diperoleh rumus
hampiran linier bagi fungsi f(x) = {>< di sekitar x = 8 adalah:
r14
L(x)=2+--(x-8)--x+-
12' 12 3
Jadi, hampiran liniernya adalah:

L(x)=lx +-4
t2 J

Sekarang kita akan menggunakan rumus ini untuk menghampiri nilai llW
dar.w.
Karena:

L(x)= !^*!
123
maka:
I 4
L(8,07) = ;J = 2,00583 sedangkan nilai aktual V8"07 =2,00582
-(8,07)+
L(25\ = l,ru, * ;4 =3,4L667 sedangkan nilai aktual W =2,92402
12 J

Jadi, untuk nilai x yang cukup dekat dengan a = 8, yakni di x = 8,07 rumus
hampiran L(x) bekerja sangat baik dalam menghampiri nilai aktual Sr? . Namun
ketika x cukup jauh dari a = 8, yakni ketika x = 25 maka hampiran L(x) tidak begitu
memuaskan untuk menghampiri nilai aktual dari W. Fakta ini menunjukkan
bahwa hampiran linier bagi sebarang fungsi f(x) bekerja dengan baik hanya bila x cukup
dekat dengan a.

Contoh 23: Tentukan hampiran linier bagi ?,19

Penyelesaian:
-?
Di sini kita ambil f(x) = ffi ' fl (x) = 11
J
3
; pilih a = 8 ( karena a = 8 cukup dekat
I
dengan x = 9) sehingga f(8) = 2 dan f' (x) = .Jadi,
12
L(x)=f(a)+f (a)(x-a)
L(x)=Z+!(x-8)= 1r*4
12' t2 3
Oleh karena itu, nilai hampiran L(x) untuk 1/9 adalah:

L(9)=1,r,* !=z,ogzgg
t2'3
sedangkan nilai aktual V9 = 2,08008. Hasil ini memperlihatkan rumus hampiran
linier L(x) bekerja cukup memuaskan dalam menghampiri nilai fungsi (r) = W
= W . Catat, bahwa metode hampiran linier bekerja dengan baik tergantung pada
bentuk/jenis fungsinya dan juga pada bagaimana kita memilih nilai a.
Contoh 24: Tentukan nilai hampiran dari tan 460

Penyelesaian:
Ingat bahwa perhitungan sudut dalam kalkulus selalu dilakukan dalam satuan
radian. Jadi, kita terlebih dahulu mengubah 460 ke dalam satuan radian. Catat, bahwa

4 Ll8o='+.Sekarang
460 = 4So+ 10 bersesuaian dalam satuan radian sebagai *
--- --o--- I ( kita
90
ambilfungsif(x)=1nnx danambil u=|,sehingga f (x)=sec2x dan f til=""r'I

-- '4' = tanl
2 danf(1)
4
= 1. Jadi, hampiran linier L(x) bagi tan 460 adalah:
L(x)=f(a)+f (a)(x-a)
..ft. ..11, 11.
L(x)=f(o)*r \+). (*-Z)
7r.
L(x) = 1+ 2(x- -)
4'
Oleh karena itu,
23n 23n_ _)
+2(_ ft
L(460) =L( )=1
* 904
n
=1.+2. 180=t+!-90
3.t4t59?1
= 1 q 7-!l-' 11'1- = L,034906585
90

Tampak bahwa nilai hampiran L(460) = 1',034906585' Jika nilai hampiran ini kita
bandingkan dengan nilai tan 460 = 1.,035530314 (yang dihitung dengan kalkuiator
hingga 10 digit), maka hampiran yang diperoleh cukup memuaskan.
Dalam fisika optik, persamaan atau formula yang rumit sering kali diselesaikan
dengan menggunakan hampiran iinier. Hampiran linier juga digunakan untuk
menjelaskan gerak pendulum dan vibrasi (getaran) pada dawai/senar'

APTIKASI-4

E. MEMAHAMI MAKNA DIFERENSIAL dY


Bagian ini akan kita fokuskan untuk membahas pengertian diferensial. Ini
penting agar kita tidak tumpang tindih dalam memahami perbedaan (dan simbol
yang digunakan) antara turunan dan diferensial. Sebagian mahasiswa, sering kali
menyangka bahwa turunan sama artinya dengan diferensial. Seperti sebagian yang
mengatakan bahwa dy / dx adalah diferensial. Jelas, ini adalah sebuah kekeliruan
karena dy / dxadalah simbol turunan, di mana ia didefinisikan dalambentuk limit dan
memiliki beberapa penafsiran fisik seperti yang telah kita singgung pada pembahasan
sebelumnya. Diferensial y ditulis dengan simbol dy, sedangkan diferensial x ditulis
dengan simbol dx. Sebelum kita jelaskan lebih lanjut tentang pengertian diferensial dy,
ada baiknya kita ingat kembali simbol Ay yang telah di gunakan untuk menerangkan
"perubahan dalam y". Sebelum ini kita telah menggunakan simbol Ax dan Ay untuk
menyatakan perubahan dalam x dan perubahan dalam y. Misalnya jika diberikan
fungsi:

Y=f(x)=x2+3x
Jika x berubah (bertambah) dari 4 ke 4,2 maka Lx = 4,2 - 4 = 0,2. Variabel tak
bebas y yang merupakan fungsi x mengalami perubahan akibat berubahnya nilai x
dari 4ke 4,2
,r ketikax =4maka y =42 +3(4)=28
'..' ketika x= 4,2 maka y = 4,22 + 3(4,2) = 30,24

Jadi, perubahan dalam y adalah sebesar Ly = 30,24 - 28 = 2,24. Simbol Ay


menyatakanperubahan sebenarnya (aktual) dari y akibat berubahnya x.
Kemudian, bagaimana hubungan antara diferensial dy dengan Ly? Jawabannya,
Ay merupakanperubahan sebenarnya (aktual) dalam f , dania tidak mengandung galat
atau kesalahan nilai, sedangkan dy merupakan alat untuk menghampiri perubahan
sebenarnya dalam y. Jadi:
Ly = dy (kita baca: "nilai Ay dihampiri oleh dy").
Kita dapat membangun hubungan antara diferensial dy dan turunan dengan
menggunakan fakta bahwa:

dvJ _LI
(x)
dx

kalikan kedua ruas persamaan ini dengan dx diperoleh:

l
!

o'= r (x)'dx ... (i)


I I
..1

Rumus dy ini dapat digunakan untuk menghampiri perubahan sebenarnya Ay


ketika x mengalami perubahan.

Contoh 25: Mari kita gunakan kembali fungsi y = f(x) = x2 + 3x. Ketika x mengalami
perubahan dari(ke 4,2 maka perubahan dalam x adalah Ax = dx = 0,2.Karertax= 4
dan f' (x) = 2x + 3 maka:
dy = f' (x).dx
dy = (2x + 3).(0,2) = (2.4 + 3)(0,2) = 2,2

Coba bandingkan nilai hampiran dy = 2,2 dengan nilai perubahan sebenarnya Ay


= 2,24.Ini adalah sebuah pendekatan yang cukup baik. Hampiran dy bagi Ay akan
bekerja dengan baik jika perubahan Ax atau dx cukup kecil dan juga tergantung pada
bentuk fungsi f(x) nya. Tetapi ketika dx besar, maka nilai hampiran dy akan meleset
cukup jauh dari nilai Ay yang sebenarnya.

Contoh 26: Hitung dy dan Ay jika y = sin(x2 + 2) - 2x dengan x berubah dari 3 ke


2,97

Penyelesaian:
Pertama kita hitung nilai Ay:
Ay = sin(2,972 + 2) -2(2,97) - (sin(3'? + 2) - 2(3)) = 0,075207

Kemudian, kita hitung hampiran dy. Manfaatkan fakta bahwa x = 3, dx = -0,03 dan
f' (x) = Y' = 2x.cos(x2 + 2) -2. Jadi:
dy = f' (x).dx
dy = (2x.cos(x2 + 2) -2)(-0,03)
dy = (2.3. cos(32 + 2) - 2)(-0,03) = 0,0592034

Berapa besar kesalahan e hampiran dy ini? Kita hitung dengan mengambil nilai
mutlak selisih dy dan Ay sebagai berikut.

e = I dy-Ay I = 10,0592034-0,075207 I = 0,0160036


Jadi, kesalahan hampiran dy adalah 0,0160036. Sekilas kita tertipu karena nilai
kesalahan hampiran ini cukup kecil. Tetapi benarkah demikian? Jika kita hitung nilai
kesalahan e = 0,0160036 dalam bentuk persen, maka kita akan terkejut karena dalam
kasus ini, dy bukanlah hampiran yang baik bagi Ay. Berapa nilai kesalahan e jika
dihitung dalam persen? Inilah iawabannya:

o/oe
= ldY-aYl .rc,%
Ay

- 0'0160036
0,075207
.100"/o = 21,,2794'/"

Ternyata, setelah kita lihat persentase kesalahan hampiran dy, walaupun dx


cukup kecil, tetapi kesalahan hampiran dy sangat besar melampaui 20%. Mengapa?
Kemungkinan karena pengaruh bentuk fungsinya, yakni Y = sin(x2 + 2) - 2x. Ini
menunjukkan bahwa selain dx yang 'kecil', bentuk (definisi) fungsinya turut
mempengaruhi baik atau buruknya sebuah hampiran dy'

iP..: 209

a i,1-
iii::..:..,.,
Contoh 27: Sebuah bola diukur panjang jari-jarinya 50 inci dengan kemungkinan
kekeliruan maksimum 0,01 inci pada kesalahan pengukuran jari-jarinya. Tentukan
kemungkinan kesalahan maksimum pada taksiran volumenya jika menggunakan
jari-jari itu sebagai penentu volume bola.

Penyelesaian:
Pertama kita ingat kembali rumus volume bola:

V(r) = 1nr'
J

Sekarang, dengan mengambil r = 50 dan Ar = dr = 0,01, kita hampiri AV dengan


menggunakan diferensial volume dV. Ingat bahwa:

V,(r)= dV
*;aV=V,(r).dr
Karena V' (r) = 4fi12 dan r = 50 dan dr = 0,01, maka nilai dV menjadi:
dY = 4n 12 dr = 4n (50)2 (0,01) = 314,159 inci3

Jadi kesalahan maksimum dalam taksiran volume adalah 314,159 inci3. Jika
dilihat sekilas angka kesalahan taksiran volume dV ini sangat besar. Namun, jika
kita bandingkan dengan ukuran volume bola yang sebenarnya yakni Y = 523.599
inci3 (dengan r = 50) maka perbandingan kesalahan dV = 3L4,159 inci3 terhadap
volume Y = 523.599 inci3 adalah sebuah kesalahan yang relatif kecil. Hal ini bertolak
belakang dengan kasus di contoh 26.Jika kita hitung persentase kesalahan dV dalam
mengampiri nilai LY = 31.4,222maka hasilnya adalah:

ouo
kesalahan dv = l'u,.lul
I AV I
xroo% -ltt+):q-l.]_+,zzzl x r00z = o,o2oo5o/o
I
3t4,222 I

sebuah persentase kesalahan yang sangat kecil. Hampiran dV = AV cukup me-


muaskan.

APTIKASI-5

F. METODE NEWTON UNTUK PENCARIAN AKAR PERSAMAAN


F(X) = g
Seringkali dalam kebanyakan perhitungan matematika, kita harus menentukan
akar-akar dari suatu persamaan f(x) = O. ]ika persamaannya mudah seperti persamaan
linier atau persamaan kuadrat, kita dapat menyelesaikannya dengan mudah melalui
Proses faktorisasi atau dengan rumus abc. Namun, jika f(x) adalah polinom derajat
tiga atau lebih, atau jika f(x) merupakan fungsi transenden, maka kesulitan iaiam
menemukan akar-akar persamaan f(x) = 0 akan tampak nyata.
Sekarang, kita akan membahas sebuah metode yang ampuh untuk mencari :r.:r-
akar persamaan f(x) = 0. Metode ini dinamakan metode Newton, karena meto,fe ri
dikembangkan oleh Isaac Newton. Metode ini merupakan contoh lain dari ap.11}..;.i
turunan, karena kita akan melihat turunan digunakan dalam metode ini. Misair.::
kita mempunyai sebuah persamaan f(x) = 0. Persamaan ini mempunyai sebuah aL.:
x = r sebagaimana yang diilustrasikan oleh gambar 5.21.. Kita mulai dengan set u::-
tebakan a7.0al, xo, untuk menaksir akar sebenarnya x = r.

Gambar 5.21

Sekarang, kita mempunyai tebakan x, yang lebih baik (lebih dekat nilainya dengan
r). Untuk mendapatkan x1, kita tarik garis singgung kurva f(x) di titik xo, kemudian
tarik garis singgung ini hingga memotong sumbu x di titik x,. Titik x, di mana garis
singgung ini memotong sumbu-x, biasanya lebih dekat ke akar r yang sebenarnya.
Kemudian, kita lanjutkan kembali dengan menarik garis singgung kedua bagi kurva
f(x) di titik xr. Garis singgung f(x) di titik x, ini kita tarik hingga memotong sumbu-x
di titik xr. Titik x, akan lebih dekat lokasinya ke akar r yang sebanarnya. Demikian
proses ini kita ulangi berkali-kali (iterasi) hingga kita memperoieh akar hampiran x.
yang semakin dekat ke akar r yang sebenarnya.
Mari kita lanjutkan dengan melihat bagaimana rumus metode Newton ini kita
konstruksikan secara aljabar. Kita tahu bahwa kemiringan garis singgung kurva f(x)
di titik xo pada saat tebakan awal xo adalah sama dengan fl (xo). Oleh karena itu,
persamaan garis singgung di titik xo menjadi:

, - f(xo) = f, (xo).(x - xJ ... (i)


Pada titik di mana garis singgung ini memotong sumbu-x, kita memiliki y = g
dan x = x, sehingga (i) menjadi:
O - f(xo) = f, (xo).(x, - xr) ... (ii)

Selesaikan untuk x, kita peroleh

X = Xo- #q
f '(xo)
..... (iii)

Anggap bahwa f' (xo) + 0, proses untuk mendapatkan x, pada persamaan (iii) kita
ulangi lagi sehingga diperoleh tebakan akar xr'

X2=X'-#d
' f'(xt)
Secara ringkas, jika proses iterasi ini diulangi kembali, maka untuk rt = 0,1.,2,
3, ...kita berhasil mengkonstruksi rumus metode Newton untuk pencarian akar
g
Persamaan f(x) = sebagai berikut.

l
I

Metode *:*t,. l
I
l

.. f(x,,)
^n+l-Ar-- ' f '(*r, )

dengan anggapan bahwa f '(xrr)+ 0

Contoh 28: Gunakan metode Newton untuk menaksir akar dari V23 .

Penyelesaian:

Untuk menggunakan metode Newton, kita perlu membentuk persamaan f(x) = I


11
di mana 235 menjadi salah satu akarnya. Karena 235 adalah akar dari xs = 23 atau
x5 - 23 = 0, maka kita anggap fungsi f(x) nya adalah f(x) = xs - 23 = 0. Akar pangkat
5 dari persamaan ini tidak akan lebih dari 2 ( karena 25 = 32, melampaui 23). Oleh
sebab itu, kita pilih tebakan awal kita adalah Xo = 2. Sekarang f'(x) = 5x4. Jadi dari
dua data ini (xo = 2 dan f'(x) = 5x4), kita dapat membentuk metode Newton sebagai
berikut:

xn+1 = Xn-
*?^ - zl
s*X

4x1n + 23
Xn+l = ....(i)
5*l
Dengan menetapkan tebakan awal xo = 2 (di sini n = 0), kita gunakan persanlaar:
terakhir secara berulang (dengan iterasi), maka diperoleh nilai tebakan x,

axl + 23 4(2)s +.23


Xl = - = 1,gg75
s*6 5(2)*

Kita peroleh tebakan xr = 1,8875. Ulangi kembali rumus (i) dengan mengambil
tebakan x, sebagai dasar untuk memperoleh tebakan akar berikutnya x,. Jadi, unttrk
xr = 1,8875 (di sini n = 1) kita peroleh x,

- 6-i3-
4(l'8875)s + 23
*,= =r,872418793
5xi 5(1,887s)"

Pertanyaannya adalah, sampai kapan proses ini terus berulang ? Salah satu
jawabannya adalah hingga dua tebakan berturut-turut (x" dan x.
*,) menghasilkan
nilai yang hampir sama dan hingga nilai f(x") semakin kecil/dekat dengan nol. Tabel
berikut ini menyajikan hasil perhitungan di atas hingga tebakan ke-5 (dengan n
hingga 4).
Metode Newton dengan Xn=2
n x f(x")

0 Z I
1 1,8875 0,9571 30661
2 't,872418193 0,015173919
.J 1,872171296 0,000004020
4 1,872171231 0,000000027

Kita lihat untuk n = 3 dan 4, nilai tebakan ke-4 dan ke-5 (x, dan xn) hampir
berdekatan dan nilai f(xr) dan f(xr) semakin kecil menuju nol. Jadi, tebakan ke-5 bagi
soal ini adalah xs= 1,872171231.
Untuk dengan tebakan awal xo, kita bebas memilih nilai/angka tertentu sebagai
dasar tebakan awal. Namun, dalam keleluasaan memilih nilai tebakan awal, kita
tetap harus secara rasional memilih angka yang dipandang cukup dekat dengan akar
r yang sebenarnya. Sekarang, kita akan memberi sebuah tebakan awal xo = 10 bagi
soal ini. Apa yang terjadi? Jika kita gunakan tebakan awal xo = 10 (sebagai pengganti
tebakan awal xo = 2), kemudian melakukan proses perhitungan dengan persamaan
(i)'

Xn+l = +"
JXn

maka hasilnya dapat dilihat pada tabel berikut.


Metode Newton dengan xo = 10
n x n xn

0 10 6 2,679422313
1 8,000460000 7 2,232784753
2 6,401419079 I 1,971312452
3 5,123931891 I 1,881654220
4 4,105818871 10 1,872266333
5 3,300841811 11 1,872171240

Tabel ini menunjukkan bahwa tebakan awal xo = 10 yang terlalu jauh dari akar
r yang sebenarnya akan menjadikan proses iterasi perhitungan berjalan lamban dan
hasil yang baik baru dapat dicapai pada iterasi ke 11. Hasil ini, walaupun benar
namun, jelas tidak efisien dibanding hasil yang diberikan dengan tebakan awal
Xo= 2'

Contoh 29: Gunakan metode Newton untuk menentukan titik potong pertama dari
fungsi y = sinx dan fungsi Y = e-'

Penyelesaian:
Grafik kedua fungsi ini pada gambar 5.22
Plot[{Sinlx],E^-x},{x,-1,,8}I

Gambar 5.22

Dari gambar 5.22 kita lihat bahwa titik potong pertama kedua kurva ini terjadi
disekitar x = 0,5 hingga x = 0,75. Pada titik potong ini, nilai x dan y kedua kurva
adalah sama' Jadi:
sin x: e-x atau sin x - e-* = 0
Di sini kita anggap f(x) = 5in x - e-x = 0 dan Pilih tebakan awal xo = 0,5. Kemudian
gunakan metode Newton:
f(x''t)
*^-
Xn+l = '^n
f'(xr.,)
Turunan f' (x) adalah:
f'(x)=cosx+e-*
Jadi,

sinxr,- e-Xn
Xn+l = Xn-
cosxn'+e ^.
Dengan tebakan awal xo = 0,5 kita lakukan Proses perhitungan seperti contoh
sebelumnya. Hasilnya pada tabel berikut.
Tebakan awal xo= 0,5

n xn

0 0,5
1 0,585644
2 0,588s29
3 0,588533
4 0,58-8533

Untuk n = 4 kita peroleh tebakan xs = 0,588533. Jadi dengan metode Newton, titik
potong kurva Y = sin x danY = e-x adalahx = 0,588533.

Mencari Akar Persamaan f(x) = 0 dengan Mathematica


Mathematica menyediakan fungsi built-in untuk menyelesaikan persoalan seperti
ini. Perintahnya adalah dengan menggunakan fungsi built-in FindRoot sebagai
berikut.
FindRoot[persamaan, {variabel tebakan, nilai tebakan}]
Jadi untuk soal ini, dengan tebakan awal xo = 0,5 kita peroleh
FindRootlSinlxl -- E^Gx), {x,0.5}l
{x-+0,588533} (ini adalah hasib:rya)

Contoh 30: Gunakan metode Newton untuk menentukan taksiran akar real dari
Persamaan.
x3+x+1=0
Penyelesaian:
Pertama kita harus menetapkan fungsi f(x) = g. Dari soal ini kita anggap:
f(x)=x3+x+1=0
Tujuan kita adalah menerapkan metode Newton untuk mencari taksiran salah
satu akar real darif(x) = aa + x + 1 = 0. Turunannya adalah f' (x) = 3x2 + 1. Kemudian
kita tentukan tebakan awal. Berapakah nilai yang pantas bagi tebakan awal kita? Jika
kita pilih Xo = 1 maka f(17 = 3, sebuah nilai yang jauh dari nol. Kita coba tebakan iain
yang lebih dekat ke angka nol. Pilihan tebakan awal xo = -1 akan menghasilkan f(-1)
= -1. Angka ini cukup dekat ke f(x) = 0. Jadi, tebakan awalnya adalah Xo = -1. Karena
kita telah mendapatkan:
f(x) = a: + x + 1, dan f' (x) = 3x'+ 1, dan Xo = -1
maka:

x- f(x) x3+x+1 2x3-l


=x- ... (i)
f '(x) 3x2 +l 3x2 +1

Sekarang kita tambahkan indeks n disetiap x pada persamaan (i), sehingga


membentuk metode Newton:

Xn-r = *n - J(*r') = 1'3; - I ... rtl


t (xn) 3x"n + I

Jadi, untukn = 0, 1-,2,3,4, ... danmengambiln = 0 diperoleh X. = X0 = -1, se-


hingga (ii) menjadi:
r-]- t )(_rr3- r

X,=T=#=_O,7=(gunakantebakanx,=-0,75untukmempero1eh
' 3xfi+l 3(-t)'+l
x, dst).

zx?-t
I 2(-0,713 - 1

")
- 1 = -0,6860465
3xf+1 3(-0,75)2 + 1

zx1"
L - t 2(-0,6860465)3 - 1
=-0,6823396
Ar-
" 3xj+t 3(-0,6860465\2 + I

dan seterusnya. Jika kita cukup puas dengan tebakan hingga 2 angka di belakang
koma, maka taksiran kita untuk akar persamaan di atas adalah x" = -0,68. Kita
cukupkan iterasi hingga x, karena untuk dua angka dibelakang koma, nilai taksiran
x, dan x, telah sama.

Menggunakan Mathematica untuk Menyelesaikan Persamaan


Persamaan x3 + x + 1 = 0 adalah polinom derajat tiga yang mempunyai tiga buah
akar, baik real maupun imajiner. Kita dapat menggunakan perintah Solve untuk
menyelesaikan persamaan f(x) = g(x). Sintaknya adalah:
Solvelf(x) = = g(x), xl//N
Jadi akar-akar persamaan x3 + x + 1 = 0 adalah:
Solve[x3 + x + ]. = = 0, x]//N

{{x-+-0,6823281, {x-->0.341,1,64 -1,L61.54i1, lx-->O,341164 +1,t6l14il)


lusinya!)

Dari hasil yang diberikan Mathematica, akar realnya hanya satu yakni x =
-0,682328. Dua sisanya adalah akar-akar imajiner lx-+0.341L64 -l,r61s4i) dan
lx-+0,3 477 64 + 1.,1 615|r

APLIKASI.6

G. TURUNAN UNTUK MENENTUKAN NILAI MAKSIMUM DAN


MINIMUM FUNGSI
Jika diberikan sebuah fungsi f(x), ada beberapa pertanyaan mengenai nilai
maksimum dan nilai minimum fungsi f(x), di antaranya:
1.. Apakah f(x) mempunyai nilai maksimum?
2. Jika f(x) mempunyai nilai maksimum, berapakah nilai maksimumnya?
3. Jika f(x) mempunyai nilai maksimum, di manakah nilai maksimum itu terjadi?
Pertanyaan yang sama dapat kita ajukan mengenai nilai minimum f(x). Terkadang
pertanyaan seputar niiai maksimum dan minimum fungsi f(x) dibatasi dalam interval
tertentu, seperti berikut ini.
1. apakah f(x) memiliki nilai maksimum atau minimum dalam interval tertutup [a,
b] ? atau dalam interval terbuka (a,b)? atau dalam interval (0, +oo );
2. jika f(x) memiliki nilai minimum dalam interval tertutup la, bl, berapakah
nilainya;
3. jika f(x) memiliki nilai minimum dalam interval [10, +oo ),pad.atitik x manakah
nilai minimum itu terjadi?

Contoh 31: Grafik fungsi f(x) pada gambar 5.23berada dalam selang terbuka (-1,7).
Fungsi f(x) tidak memiliki nilai maksimum (karena kedua ujung selangnya adalah
terbuka). Fungsi f(x) memiliki nilai minimum 2 dannilai minimum ini terjadi di x = 3.
Gambar 5.24

Contoh 32: Grafik fungsi f(x) pada gambar 5.24 memiliki nilai maksimum dan
minimum dalam selang tertutup 14,101. Nilai maksimum f(x) =5te4adisaatx=4
dan x = 9, sedangkan nilai minimum f(x) = 1 terjadi dix = 7.
nila maksimum

/
\
/ \

Gambar 5.24

Contoh 33: Grafik f(x) = 2x + 1 dalam selang (0, 3l memiliki nilai maksimum f(x) = 7
di x = 3 dan tidak memiliki nilai minimum, karena selangnya terbuka di bawah.

Gambar 5.25
l

Contoh 34: Grafik fungsi f(x) = x3 - 12x dalam selang [-5, 5] diperlihatkan dalam
gambar 5.26

Gambar 5.26

Nilai minimum dan maksimum terjadi dikedua ujung selangnya, x = -5 dan x


= 5. Namun, di titik x = -2 dan x = 2, fttngsi f(x) juga berturut-turut mencapai nilai
maksimum dan nilai minimum. Dalam kasus ini, terdapat dua nilai maksimum dan
dua nilai minimum, yakni maksimum multak, maksimum relatif, dan minimum mutlak,
minimum relatif.
S Di titik x = -5, fungsi f(x) mencapai nilai minimum mutlak
S Di titik x = 2, fungsi f(x) mencapai nilai minimum relatif
q3 Di titik x = 5, fungsi f(x) mencapai nilai maksimum mutlak
$ Di titik x= -2, fungsi f(x) mencapai nilai maksimum relatif

Pertanyaannya adalah apa beda antara maksimum mutlak dengan maksimum


relatif? Perbedaannya sangat jelas. Misalkan c adalah sebuah titik di dalam domain
fungsi f(x). Maka f(c) disebut nilai maksimum mutlak dari fungsi f(x) pada domainnya
jika untuk semua x dalam domain tersebut berlaku f(c) > f(x). Sedangkan f(c) disebut
nilai maksimum relatif dari fungsi f(x) jika dalam suatu selang terbuka x yang sempit
yang memuat c berlaku f(c) < f(x). Pengertian yang sama berlaku untuk minimum
mutlak dan minimum relatif.
Perhatikan gambar 5.27. Fungsi f(x) kontinu dan diferensiabel dalam selang
tertutup [a, b]! Di titik x = c, fungsi f(x) mencapai nilai maksimum mutlak sementara di
titik x = e dan g, fungsi f(x) mencapai nilai maksimum relatif. Di titik x = f, fungsi f(x)
mencapai nllai minimum mutlak sedangkan di titik x = d, grafik f(x) mencapai nilai
minimum relatif .
Gambar 5.27 Sketsa gratik f(x) dalam selang [a, b]

Selanjutnya, perhatikan garis singgung di titik di mana f(x) mencapai nilai


maksimum dan minimum ( di x= c, d, e, f dan g). Garis singgung f(x) pada titik-titik
tersebut semuanya horisontal. Gradien garis singgung pada titik-titik ini adalah: m
=f,(x) =0
Ini memiliki arti yang sangat penting, yakni bahwa pada kondisi disebarang titik
X = Xk dalam interval [a, b] di mana f' (x) = 0 sering kali1 dapat dijadikan sebagai
petunjuk bahwa f(x) mencapai nilai maksimum atau minimum di titik xu tersebut.
Dari sini, kita dapat memanfaatkan turunan untuk menentukan nilai maksimum dan
nilai minimum (mutlak maupun relatif) fungsi f(x) di dalam domainnya. Kita cukup
menurunkan f(x) dan menyamakan turunarurya dengan nol. Persamaan turunan:
f' (x) = 0 akan memberitahu kita di mana f(x) akan mencapai nilai maksimum dan
minimum. Titik x = xk yang merupakan solusi darif (x) = 0 disebut titik ekstrim. Nilai
maksimum atau nilai minimum fungsi f(x) terkadang disebut nilai ekstrim.

Contoh 35: Tentukan nilai maksimum dan minimum fungsi fungsi f(x) = x2 - 5x + 6
dalam selang [1,5] dan tentukan titik ekstrimnya.

Penyelesaian:
Nilai maksimum dan minimum dapat terjadi di titik ujung selang [1,5] dan di titik
ekstrim di mana f' (x) = 0. Kita cari titik ekstrim dengan menyelesaikan persamaan
fl (x) = 0. Jadi,
f' (x) = 2x - 5 = 0. Iadi x = 2,5 (titik ekstrim)

' Kita pilih kata 'seringkali', karena terkadang terdapat kasus tertentu di titik x: xu di mana fl (x) :0 tidak menyebabkan
f(x) maksimum/minimum di titik x = x*. Ini disebabkan karena, salah satunya, x : xu adalah titik belok fangsi f(x).
Kemudian, kita uji nilai maksimum dan minimum f(x) = x2 - 5x + 6 di titik-titik
berikut:
o Titikujungselangx = l danx = 5
. Titik ekstrim x = 2,5
untukx=Lmakaf(1)=2
untuk x = 5 maka f(5; = 6- maksimum
untuk x=2,5 maka f(2,5) = -0,25-+minimum
Kesimpulan: nilai maksimum f(x) = 6 terjadi di ujung selang x = 5 dan nilai
minimumnya f(x) = -0,25 terjadi di titik ekstrim x = 2,5. Nilai maksimum dan
minimum dapat diketahui langsung jika grafik f(x) diberikan. Untuk f(x) = 1z - 5x + 6
maka grafiknya seperti pada gambar 5.28.

Gambar 5.28

Tampak bahwa nilai maksimum mutlak terjadi diujung selang di x = 5 dan nilai
minimum mutlak terjadi di titik ekstrim x = 2,5

Uji Turunan Kedua untuk Nilai Maksimum dan Minimum di Titik Ekstrim
Seperti telah disebutkan bahwa titik ekstrim x = c sebagai solusi persamaan
f' (x) = 0 adalah nilai ekstrim (maksimum atau minimum) fungsi f(x). Namun kita
tidak mengetahui apakah titik ekstrim c menyebabkan f(x) menjadi maksimum
atau minimum? Untuk memastikan apakah titik ekstrim x = c menyebabkan f(x)
maksimum atau minimum, maka kita dapat memanfaatkan turunan kedua :
$' jika c adalah titik ekstrim fungsi f(x) dan jika f "(c) < 0 maka c adalah titik ekstrim
maksimum (f(x) maksimum);
S jika c adalah titik ekstrim fungsi f(x) dan jika f "(c) > 0 maka c adalah titik ekstrim
minimum (f(x) minimum);
S jika c adalah titik ekstrim fungsi f(x) dan jika f "(c) = 0 maka c adalah titik belok
fungsi f(x).
Contoh 35: Tentukan titik ekstrim maksimum dan ekstrim minimum fungsi:

(") =+ - 3x2 +8x dalamselang 11,5,4,51


Penyelesaian:
Titik ekstrim diperoleh dengan menyelesaikan f' (x) = 0. Jadi:

fl (x)= *2 -6*+8 = 0

(x-2)(x -4)=0
x=2; x=4
Diperoleh dua titik ekstrim x = 2 dan x = 4. Pertanyaannya, apakah f(x) mencapai
nilai maksimum di x = 2 danmencapai nilai minimum di x = 4 atau sebaliknya? Kita
tidak mengetahuinya hingga menguji turunan kedua f "(x) di masing-masing titik
ekstrim ini.
f"(x) = 2x- 6

Karena f"(2) =2(2) - 6 = -2 < 0 maka x = 2 adalahtitik ekstrimmaksimum fungsi f(x).


Karena f "(4) = 2(4) - 6 = 2 > 0 maka x = 4 adalah titik ekstrim minimum fungsi f(x).

Sekarang untuk memastikan apakah maksimumnya adalah mutlak atau relatif


(demikian juga pada minimum), buatlah tabel nilai f(x) = :-
X".-
-3x' + 8x unfuk harga-
J
harga x = 1,5,2,4, dan 4,5 (titik-titik ujung selang dan titik-titik ekstrim) sebagai
berikut.

x 1,5 2 4 4,5

f(x) 6.375 6.66667 5.33333 5.625

Dari tabel di atas, nilai maksimum mutlak f(x)= 6,65667 terladi di titik ekstrim
x=2 dan nilai minimum mutlak f(x) = 5,33333 terjadi di titik ekstrim x = 4. Grafik
fungsi f(x) seperti pada gambar 5.29.
--t
*{

2.5 3

Gambar 5.29

Contoh 37: Misalkan f(x) = x2 + px + q. Tentukan nilai p dan e, demikian sehingga


f(1) = 3 adalah nilai ekstrim f(x) dalam selang [0, 2]. Kemudian tentukan apakah nilai
ekstrim tersebut minimum atau maksimum.

Penyelesaian:
Ada dua hal yang harus kita pertimbangkan:
:
pertama f(1) =3=12+p(1) + q +p + q= 2 ...(1)
kedua : karena f(1) = 3 adalah nilai ekstrim f(x), maka x = 1 adalah titik ekstrim
f(x). Ini berarti bahwa x = 1 merupakan penyelesaian dari f' (x) = 0. Jadi,
f'(x) =2x+p=g ...(2)
Karena x = 1 merupakan solusi dari persamaan (2), maka kita dapat memasukkan x
= 1 ke dalam persamaan (2) sehingga (2) menjadi:
2(1)+P=0 = P=-2
Kita telah memperoleh nilai p = -2. Kemudian masukkan p = -2ke dalam persamaan
( 1).

P+q=2
sehingga: -2 * q= 2 = q= 4
Kita telah mendapatkan p = -2 dan g= 4. Selanjutnya, masukkan nilai p dan q
ke dalam fungsi semula f(x) = x2 + px + q. Jadi, fungsi tersebut adalah f(x) = x2 -2x +
4. Untuk mengetahui apakah nilai ekstrim f(1) = 3 adalah minimum atau maksimum,
kita harus melakukan uji turunan kedua di x = 1 dengan ketentuan sebagai berikut.
o Jika f "(1) < 0 maka f(1) adalah nilai maksimum
o Jika f "(1) > 0 maka f(1) adalah nilai minimum
Karena f' (x) = 2x-2 dan f "(x) = 2 dan f "(l) = 2 > 0 maka kita simpulkanbahwa
f(1) = 3 adalah nilai minimum. Grafik f(x) = x2 -2x + 4 ditampilkan oleh gambar 5.30

100
v

11

10

nilai mtntmum mutlak


I

\
\

3b
\i
-t 1

Gambar 5.30

APLIKASI.T

H. APLIKASI TURUNAN PADA MASALAH OPTIMISASI


Dalam kehidupan sehari-hari kita sering dihadapkan pada situasi memilih
strategi/keputusan yang akan menghasilkan nilai maksimum atau minimum dari
variabel keputusanyangkita tetapkan. Misalnya menetapkan strategiuntukmencapai
keuntungan terbesar, menetapkan strategi untuk mengeluarkan biaya terkecil, atau
rute perjalanan terpendek, atau mendisain bahan dengan ukuran maksimum tetapi
dengan pemakaian material yang sesedikit mungkin dan sebagainya. Ini adalah
beberapa contoh kecil dari begitu banyak kasus pada masalah optimisasi. Ini semua
kita sebut sebagai masalah optimisasi. Pembahasan kita dalam masalah optimisasi
tidak membahas masalah optimisasi dalam cabang ilmu operation research (linear
programming, nonlinear programming, integer programming atau optinisasi kombinatorika)
tetapi hanya membahas masalah optimisasi yang melibatkan kalkulus diferensial.
Sebagai dasar pemikiran mengapa turunan dapat diaplikasikan pada masalah
optimisasi fungsi Y = f(x), perhatikan grafik fungsi f(x) pada gambar 5.31.
m=0

Gambar 5.31 Sketsa grafik l(x) dalam selang [a, b]

Jika y = f(x) adalah fungsi kontinu dan diferensiabel dalam interval [a, b] maka
f(x) pasti memiliki nilai maksimum dan minimum (mutlak maupun relatif) dalam
interval [a, b]. Di titik x = Cr e dan g, fungsi f(x) memiliki nilai maksimum (secara
khusus maksimum mutlak di x = c dan maksimum relatif di x = e dan g). Sementara di
titik x = d, grafik f(x) memiliki nilai minimum relatif dan nilai minimum mutlak tqrjadi
di x = f. Garis singgung di mana f(x) mencapai nilai maksimum dan minimum (relatif
mauPun mutlak, kecuali dikedua titik ujung selangnya) adalah garis horisontal yang
gradiennya adalah m = f' (x) = dy/dx = 0. Jadi, kondisi disebarang titik x = xr dalam
interval [a, b] di mana f, (x) = 0 seringkali dapat dijadikan sebagai petunjuk bahwa
f(x) mencapai nilai maksimum atau minimum di titik xo tersebut. Inilah ide dasar
mengaPa turunan dapat diaplikasikan untuk menyelesaikan masalah optimisasi.
Untuk memahaminya, kita berikan beberapa contoh.

Contoh 38: Tentukan dua buah bilangan bulat tak-negatif yang jumlahnya 30 dan
hasil kali keduanya sebesar mungkin.

Penyelesaian:
Pada soal ini kita harus menentukan dua buah bilangan bulat tak-negatif yang
jumlah keduanya adalah 30 dan hasil kali mereka sebesar mungkin. Ini adalah
masalah optimisasi maksimum. Kedua bilangan tersebut pasti berada dalam interval
[0,30]. Untuk menyelesaikan masalah ini, kita misalkan kedua bilangan itu adalah x
dan y. Karena:
x*y=30...(i)
dan
P = x.y... (ii)
Tujuan kita adalah memaksimumkan nilai P yang merupakan hasil kali x dan y.
Di sini P merupakan fungsi 2 variabelx dan f , atauP = f(x, y). Nyatakan P sebagai
fungsi L variabel saja (dalam x atau y saja) dengan memanfaatkan persamaan (i), di
manaY=30-x.Jadi:
P(x, y) - x.y
P(x) = x (30 - x) = 30x - x2 di mana x dalam interval [0,30]
Nilai optimum P(x) terjadi jika P' (x) = O. Karena:

P'(x)=30-2x=0
maka x = 15, sehingga y = 30 - x = 15. Jadi, agar hasil kali kedua bilangan tersebut
adalah sebesar mungkin dengan syarat jumlah keduanya harus 30, maka kedua
bilangan tersebut haruslah sama, yakni x = y = 15.

Contoh 39: Sebuah kawat lurus yang panjangnya 80 cm ditekuk (dibengkokkan)


siku-siku hingga membentuk huruf L. Tentukan pada jarak berapa dari salah satu
ujungnya kawat itu ditekuk agar diperoleh jarak terpendek antara kedua ujung
kawat itu.

Penyelesaian:
Misalkan ujung-ujung kawat kita beri simbol A dan B, seperti gambar berikut.

80-x

Misalkan x menyatakan jarak titik tekuk dari ujung A, maka jarak titik tekuk ke
ujung B adalah 80 - x. Jarak ujung A dan B dihitung dengan dalil Phytagoras. Jika L
menyatakan jarak A ke B, maka L adalah fungsi x di mana:

L(x) = (80 -x)-


1

L(x) = (2*2 -160x+3600),


I
Tugas kita adalah menentukan nilai x yang akan meminimumkan panjang L(x).
l

Dengan memanfaatkan turunan U (x)=0kitaperoleh:

2x-80
L'(x): I
-0
(z*' *too*+:ooo)z

Pecahan ini bernilai nol jika suku pembilangnya nol, sementara suku penyebut
tak perlu dihiraukan (karena tidak menjadi penentu yang menjadikan pecahan ini
bernilai nol). Jadi:

2x-80=0 = x=40cm
Kesimpulan: Agar diperoleh jarak terpendek antara ujung A dan B, maka kawat
itu harus ditekuk pada jarak 40 cm dari ujung A.

Contoh 40 : Sebuah kawat lurus yang panjangnya 30 inci dipotong menjadi dua bagian.
Potongan bagian pertama dibengkokkan menjadi bujur sangkar dan potongan bagian
kedua menjadi lingkaran. Tentukan di mana kawat harus dipotong agar jumlah luas
area yang dibatasi oleh kedua potongan itu sekecil mungkin.

Penyelesaian:
Untuk memahami masalah ini, kita gambarkan situasinya ke dalam sketsa
berikut.
x 30-x ,'.'.'..}

I 1
,/an titik potong

Gambar 5.32

bujur sangkar = x / 4 dan luas bujur sangkar = x2 / 16


Sisi
Keliling lingkaran = 30 - x. Jika d adalah diameter lingkaran, dan keliling ling-
karan = fid, maka:
30-x
d- _

sehingga luas lingka ,un= *4 =:(30:"


4[ n .)f = +t30-x)2
4n\ /
Jika A = luas area bujur sangkar + luas area lingkaran, maka:

*2 L1:o-*)2 di mana o < x < 30 ... (i)


A(x) = te * +n\ ,

Agar luas A(x) minimum, maka turunkan A' (x) = 0. Jadi:

A, (x)= x - !(:O-*) =O
82rc\/
xx15 - -u
82xn -
--t
(1 , I \I _ ls
xt f
\8 -
2x) n
(x+4 \
-.tt-
ts
(8n ) r
15.tt_(n+4 \ 120
n \8ru ) x+4
x = 16,803 inci.

Kesimpulan.' untuk memperoleh jumlah luas bujur sangkar dan lingkaran


terkecil (minimum), maka kawat harus dipotong pada jarak x = 16,803 inci dari salah
satu ujungnya. Substitusi nilai x = 16,803 ke dalam fungsi jumlah luas pada (i) akan
menghasilkan nilai A(x) sebagai berikut.

A(16,803) = O* . = 31,5056 inci2


|t30-16,803)2
Gambar 5.33 menampilkan grafik fungsi luas A(x) terhadap x
PlotIf Ix],{x,0,30},Frame-+True,GridLines-+Automaticl

10 15 20 30
Gambar 5.33
____!i

Contoh 41: Sebuah perusahaan farmasi memproduksi penisilin dalam bentuk cairan.
Penisilin itu dijual dengan harga $ 200 perunit. Jika biaya produksi untuk x unit
penisilin dinyatakan oleh persamaan:

C(x) = 500.000 + 80x + 0,003x2

dan jika kapasitas produksi harian (paling banyak) adalah 30.000 unit perhari, berapa
unit penisilin harus diproduksi perhari agar diperoleh keutungan yang maksimal?

Penyelesaian:
Jika O(x) menyatakan omset penjualan untuk x unit per hari, dan K(x) menyatakan
keuntungan dari x unit penilisin yang terjual, maka:

O(x) = 200x dan K(x) = O(x) - C(x)

Sehingga keuntungan K(x) adalah:

K(x) = 200x - (500.000 + 80x + 0,003x2)

K(x) = 200x- 500.000 - 80x - 0,003x2

Karena kapasitas produksi maksimum adalah 30.000 unit, maka x harus berada
dalam interval [0, 30.000]. Keuntungan maksimum K(x) dapat diperoleh dengan
menyelesaikan K' (x) = 0. Jadi:
K' (x) = 200 - 80 - 0,006x = 0
120-0,006x=0
x = 20.000
Karena titik kritis terletak dalam interval [0,30.000], maka keuntungan maksimum
akan terletak pada salah satu dari titik-titik berikut.

x=0 atau x=20.000 atau x=30.000

Substitusikan nilai-nilai x ini ke daiam persamaan keuntungan K(x):


K(x) = 200x -500.000-80x- 0,003x2

diperoleh:
K(0) = -500.000, K(20.000) = 700.000, K(30.000) = 400.000
maka keutungan maksimum terjadi di x = 20.000 unit dengan nilai keuntungan
$700.000. Artinya, perusahaan itu harus memproduksi sebanyak 20.000 unit penisilin
per hari agar diperoleh keuntungan maksimum.
APTIKASI-8

I. APLIKASI TURUNAN PADA ATURAN THOPITAL


Pada bagianini kita akan membahas tentang sebuah aturan untuk menentukan
limit suatu fungsi. Aturan ini digunakan dengan sukses untuk menentukan limit
fungsi yang substitusi langsung x = a ke dalam fungsi itu akan menghasilkan bentuk
tak-tentu (indeterminate form) seperti ar" a. Subugui misal, perhatikan dua limit
berikut.
f
*2-16 ctan
.. 4x2-5x
'T) x-4 i*f -p
- Substitusi langsung x = 4 pada limit pertama menghasilkan bentuk tak tentu
aurl yang kedua menghasilkan a. Guillaume Francois Antoine De L'Hopital
I0'aoc
(matematikawan) Prancis 1,661,-1704) memperkenalkan sebuah aturan untuk me-
nyelesaikan masalah seperti ini. Aturan ini kemudian dinamakan aturan L'hopital.
Dalam aturannya, L'hopital memanfaatkan turunan. Secara ringkas, aturan L'hopital
menyatakan jika kita memiliki limit berbentuk:

" f(x)= o utuu li* f(*) = t*


l* tfrl a x-+a g(x) +co

dengan a adalah sebarang bilangan real ataupun *oo, maka berlaku:

ti,,' f(*) = 1* f '(x)


x-+a g(x) x-+a g'(x)

Intinya, aturan L'hopital mengatakan jika kita memiliki limit fungsi yang dengan
substitusi langsung, menghasilkan bentuk tak tentu ! ut.-- ,, * -maka-r'- ---
0 yang-
perlu
-,
dilakukan hanyalah menurunkan suku pembilang dan menurunkan suku penyebut
secara terpisah (tidak menggunakan teorema aturan pembagian) dan kemudian
mengambil limitnya. Perhatikan contoh berikut!

Contoh 42: Hitung limit

,. *2 _ 16 5x4- 4x2 -l .. _slnx


a. llm _ b. lim c. Irm
x-+4 x-4 x-+1 l0-x-9x3 x+0 x

d.
..
llm
4x2 - sx
e. lim e*
o )
x-+co I - 3x' x-)oo x-

\
Penyelesaian:
a. Substitusi langsung x = 4 menghasilkan bentuk tak tentu 0/0. Gunakan aturan
L'hopital, turunkan pembilang dan penyebut:
*2- 16 2x
''"'
x-->4 x-4 = 1im
x-+4 1 -2()I -r
b. Turunkan pembilang dan penyebut:

5x4- 4x2 -l = lim 20x3 - 8x 2o(l)3 - 8(1) t2


Iim
x-+l l0-x-9x3 x-+l
-1-n7 -r - 27$)2 28

,. x
,. cos
sin
c. Ilm_=Ilm_=_=I
x cos 0
x-+0xx-->0 1 I

d. Substitusi langsung x = oo menghasilkan oo / oo . Gunakan aturan L'hopital,


turunkan pembilang dan penyebut secara terpisah lalu ambil limitnya.

4-*' 8* 5
ri- ?' = h- - . Namun limit ini masih menghasilkan bentuk *.
x-+)c I - ^3x' x-rco -6x
Ini tidak masalah, terapkan kembali aturan L'hopital pada , turunkan bagian
pembilang dan bagian penyebut menjadi fim ] = -8/6. Ringkasnya adalah:
x-)co - O

,'rr",4xj-5x = lim 8x-5 = lim 8 =-g/6


x-+x x-+co
| - 3xt x-+c. -6x -6
Dari soal d, proses aturan L'hopital boleh diulangi lebih dari sekali sampai
dihasilkan jawaban yang bukan bentuk tak tentu.

e. Bagian ini sama saja dengan soal d, kita menerapkan aturan L'hopital dari
sekali.
6x
lm l'= hm
e*
lim
e*e-oo
=OO
X-))o X- X-+:C 2x x-+oo 222
-=-=-
i
\
APLIKASl.9

J. EKSPANSI F'UNGSI KE DERET MACTAURIN


Aplikasi lain dari turunan adalah pada ekspansi (pengembangan) fungsi ke
dalam deret pangkat. Secara khusus, deret pangkat yang akan kita bahas adalah deret
Maclaurin. Kita menggunakan banfuan turunan untuk dapat mengeksapansikan
fungsi f(x) ke dalam deret pangkat dengan menggunakan deret Maclaurin.
]ika sebuah fungsi f(x) kontinu di x = 0 dan semua turunannya hingga ordo ke-n
juga ada (terdefinisi) di x = 0, maka fungsi f(x) pasti dapat diekspansikan ke dalam
deret Maclaurin.
Deret Maclaurin:

"(0)x2 "'(0)x3+f ""(0)x4+...


f(x)
'\"/ I r(n)to)
= /_t^ n!
xn = f(0)+f' - ,(0)x+f
,",'- '
21
+
f
31 4l
i)
... (\ r ,f

n=u
Syarat Agar Fungsi f(x) Dapat Diekspansikan ke Dalam Deret Maclaurin
Dari rumus di atas, ada dua syarat agar sebuah fungsi f(x) dapat diekspansikan
ke dalam deret Maclaurin:
1. f(x) adalah fungsi yang kontinu di x = 0
2. nilai-nilai f '(0), f (0), f u'(0),.... ada (terdefinisi)

Langkah-langkah Ekspansi Fungsi ke Dalam Deret Macaurin: -


Untuk memudahkan ekspansi fungsi ke dalam deret Maclaurin, ikuti langkah-
langkah berikut.
Pertama : Tentukannilai-nilai f(x), f '(x), f "(x), f "'(x),....
Kedua :Masukkan x = 0 ke dalam f(x),f'(x),f"(x),f"'(*),...., sehingga
diperoleh nilai:
f(0), f (o), f '(o), f ''(o),....
Ketiga : Masukkan nilai-nilai f(0), f '(0), f '(0), f u'(0),....ke dalam rumus deret
Maclaurin di atas.

Contoh 42: Uraikan fungsi f(x) = sin x ke daiam deret Maclaurin.

Penyelesaian:
Kita akan menyelesaikannya dengan langkah-langkah di atas. Langkah satu dan
langkah dua dilakukan sekaligus sebagai berikut.
Langkah 1: Langkah 2:

f(x) =sinx -) f(0) - 0


f '(x) = cos x -) f '(o) - 1.
f "(r)
= -sin x -+ f"(0; = g
f "'(x) = -cos x -+ f "'(0) - -L
f ""(x) = sin x -+ f""(0) =I
ltsl (x) = cos x -+ f6) (0) =1
f<ul (x) = -sin x -+ f(6) (0) =0
ltzl (x) = -cos x -+ f(7) (0) = _1
Langkah 3: Masukkan nilai-nilai f(0), f '(0), f "(0), f "'(0),.... ke dalam rumus deret
Maclaurin:

* f'
(,0)*:*f""(0)*o*...
f(x) = i 41E
n!
xn = f(0)+f'(0)x+!--(0).*,
2! 3!
-^
n=U 41.

f(x)=sinx =0+t.*+ l*2 * lr'* 9*o * lrs* 9*u * ]*'*...


2! 3! 4! 5! 6l 7t

f(x)=sinx=x -{.3! f-
5! 7l4.
Ini adalah hasil ekspansi sin x ke dalam deret Maclaurin.

Contoh 43: Uraikan fungsi f(x) = g. ke dalam deret Maclaurin!

Penyelesaian:
Lakukan langkah-langkah seperti pada contoh 42!
Langkah 1: Langkah 2:
Langkah 3:
f(x) = e' -+ (0) -1
f '(x) = e^ -) f(0) - 1

f "(x) = e* -+ f\0) - 1

f "'(x) = e^ -+ f*(0) - 1

f ""(x) - e' -+ f "(0) - 1

Kemudian, masukkan semua nilai-nilai f(0), f '(0), f "(0) yang telah kita peroleh
ke dalam rumus deret Maclaurin!

'-!0) f "'l(0)
f(x) i 41U x. == f(0)+f ,10;x+li(0),*,
= I':)"'r" 2l
*f
3!
*: *
4!
r+ *...

Hasilnya:

f(x)=s. =1+1.x * *1' * i*' * L*o *....

Jadi e' = 1 + 1.x + 2!-L*' *lr' * l*o * ....


3! 4t

Untuk fungsi f(x) = s6s x maka ekspansi deret pangkatnya adalah @uktikan sendiri).
)t68
f(x)=6ss1=1 -5* I- :*:-.....
21 4! 61 8!
Sejauh ini kita telah mencoba menguraikan tiga fungsi ke dalam deret Maclaurin,
yakni:
\1
x-
_+ x-x
sinx:x _-_J
3! 5! 7t

x') *4 ,6 *8
CoSX=1 f--

2! 4t 6! 8!

lrlrld
e* =1+x + -x'
2! -x-
+
3!
+
-x'
4l
+....

Sekarang, bagaimana dengan fungsi f(x) = ln x? Apakah fungsi ini dapat


diekspansikan ke dalam deret Maclaurin? Jawabnya, tidak! karena f(0) = ln 0 = tak
terdefinisi, dan demikian juga dengan f (0), f '(0), f '(0), f ''(0),....di mana semuanya
tak terdefinisi di x = 0.

Menggunakan Cara Substitusi untuk Mendapatkan Deret Lain yang Mirip


dengan Ketiga Deret di Atas
Perhatikan contoh berikut!

Contoh 44: Uraikan f(x) = sin 2x ke dalam deret Maclaurin dengan cara substitusi!

Penyelesaian:
Kita telah mempunyai deret dasar untuk sin x sebagai berikut.

.x3t5*7
slnx:x --+
5l- 7l*...
Dengan memanfaatkan deret dasar sin x di atas, kita ganti x dengan 2x, se-
hingga:

sin2x= 2x - Qi3 * (2x)5


- ('*)' * ...
3! 5! 7l

srnZx==2x 8x3+ 32xs 128x7


3! 5! 7l
---+.'..
Contoh 45: Uraikan f(x) = .*' k" dalam deret Maclaurin dengan cara substitusi.
Penyelesaian:
Kita gunakan deret dasar e'= 1+ x +
12 13 la
-x-+-x"+-x
21 3! 4!
Sehingga:

f(x)=sx'=1+x2 * *"0 **ru *i"t

Contoh 45: Gunakan lima suku pertama deret Maclaurin cos r untuk menghampiri
nilai cos 620

Penyelesaian:
Lima suku pertama cos x adalah:

cosx=I --**2 *4 - *6 * ,8
T 6! g!

Kita akan menghitung nilai hampiran cos 620 dengan memanfaatkan lima suku
deret cos x di atas. Ubah dahulu x = 620 ke dalam radian. Setelah itu, masukkan ke
dalam deret cos r di atas.
62
x = 620 = radian = L,082L radian.
lg0'
Jadi:

(1,0821)2 (1,0821)4 (1,0821)6 (1,0821)8


cos620=1 _ + - + =0.469476
2t 4!

Kesimpulan: Nilai hampiran bagi cos 620 hingga lima suku adalah 0,469476

Latihan Bab 5

1. Tentukanlah persamaan garis yang menyinggung kurva Y = 3xa - \6x3 - 18x2 di


titik P(2, -8)!
2. Tentukanlah persamaan garis singgung kurva y = x2tz (5 - x) di titik (5 ,0)!
J. Tentukan satu titik dalam selang [2 , 6) di mana gradien garis singgung kurva
- _1L
y=
' #x"+3 bernilainol!
Berikut ini adalah grafik fungsi y = sin 3x + x. cos 2x dalam selang [0 ,2nl
Dari grafik di atas, berapa kali gradien garis singgung kurva ini bemilai nol?
Secara kasar, tentukan titik-titik x yang menyebabkan gradien garis singgung kurva
ini bernilai nol!
5. Udara dipompakan ke dalam balon berbentuk bola dengan laju 12 cm3/menit.
Tentukan laju pertambahan panjang jari jarinya ketika diameter balon adalah 30
cm!
6. Sebuah tangga yang panjangnya 8 meter disandarkan pada tembok vertikal. Kaki

tangga yang mula-mula berada p adajarakll meter dari dasar tembok, kemudian
'4
didorong ke arah tembok dengan kecepatan meter/detik, menyebabkan ujung
tangga yang menempel di tembok bergerak naik ke atas. Seberapa cepatkah
ujung tangga bergerak naik 4 detik setelah didorong?
7. Pertimbangkan sebuah bola dengan jari-jari 10 cm

a. Hitung besar perubahan volumenya blla jari-jarinya bertambah menjadi 10,1


cm!

b. Berapa besar perubahan rata-rata volumenya bila jari-jarinya bertambah dari


L0 cm ke 10,2 cm?

8. Jumlah populasi penduduk suatu kota x bulan dari sekarang dapat dipredisi
dengan persamaan!
P(x)=x2+10x+5.000
a. Tentukan laju pertumbuhan penduduk 10 bulan dari sekarang!
b. Tentukan pertumbuhan rata-rata jumlah penduduk selama 10 bulan dari
sekarang!
c. Tentukan banyaknya pertumbuhan penduduk antara bulan ke 10 hingga
bulan ke 15
9. Misalkan bahwa volume air (dalam iiter) yang berada di dalam tangki setelah t
menit dinyatakan oleh:
V(t)=t2-10t+35
Jawablah pertanyaan ini!
a. Gambarkan sketsa kurva yang menyatakan hubungan volume air V dengan
waktu t!
b. Berapa volume mula-mula air dalam tangki tersebut?
c. Apakah volume air dalam tangki bertambah atau berkurang pada saat t = 2,
4, dan 6 menit?
d. Kapan air dalam tangki itu berada dalam volume terendah dan berapa volume
air pada saat itu?
e. Pada menit ke berapakah volume air akan kembali seperti volumenya semula?
Kemudian, setelah berapa menitkah volume air akan melebihi volume mula-
mula?
10. Tentukan nilai maksimum lokal dan minimum lokal dari fungsi:
f(x) =x3-3x2 +2x+2 ; [-1.,31
11. Tentukan nilai ekstrim lokal untuk masing-masing fungsi berikut.
a. f(x)=(x+2)/(x-6)
b. f(x) =1 + \/x
c. f(x) = x3 (1 + x)
d. f(x)=1/(1,+x2)
e. f(x) = cos 2x = 2 cos x untuk 0 3x<2n
12. Misalkan jumlah A(t) radioaktif yang tersisa pada suatu unsur kimia tertentu
setelah waktu t (bulan) dinyatakan oleh model eksponensial negatif:
A(t) = 200.e-0'4t (dalam satuan gram)
Tentukanlah besarnya laju perubahan jumlah radioaktif unsur tersebut ketika:
a. t=2
b. t=5
c. Apakah unsur itu meluruh (berkurang) lebih lambat atau lebih cepat dengan
bertambahnya waktu ?
13. Seorang pria dengan tinggi 5 kaki berjalan lurus menjauhi lampu jalan yang
tingginya 18 kaki dengan laju 5 kaki/detik. Tentukanlah laju pertambahan
panjang bayangan pria tersebut!
1.4. Tentukan hampiran linier untuk fungsi f(x) = fi ai x = 16. Gunakan hampiran
linier untuk menghampiri nilai dari +[16,06 |
15. Tentukan hampiran linier bagi V28 !

16. Hitung dy dan Ay jika y = cos(x2 +2x) -4x dengan xberubah dari 5 ke 5,1!
17. Sebuah bola diukur panjang jari-jarinya 40 inci dengan kemungkinan kekeliruan
maksimum 0,03 inci pada kesalahan pengukuran jari-jarinya. Tentukan kemung-
kinan kesalahan maksimum pada taksiran volumenya jika menggunakan jari-iari
itu sebagai penentu volume bola.
18. Gunakan metode Newton untuk menaksir akar dati W I

19. Gunakan metode Newton untuk menentukan titik potong pertama dari fungsi
y = cos x dan fungsi y = e-* !
20. Gunakan hampiran linier untuk mengestimasi nilai dari
a. tan 3Lo b. ln 1,3
Untuk masing-masing kasus, bandingkan jawaban Anda dengan hasil yang
diberikan oleh kalkulator
21. Hitung soal limit berikut ini dengan menggunakan aturan L'hospital!

b. li* ttt*
.. sin4x .,X
hm--
a. lrm c.
sinx
x-+0 sinTx x-+0x x-+0

.. tan 4x
d. ,'- 1-cosx e. lim xlnx t. llm
x-+0 x x-+0 x-+o tan11x
2

22. Gunakan cara substitusi untuk menguraikan fungsi f(x) -= ex ke dalam deret
Maclaurin!
23. Carilah nilai x yang memenuhi Persamaan berikut'
cosx-2x=x2+1
petunjuk: uraikan terlebih dahulu suku cos x ke dalam deret Maclaurin hingga2
suku pertama saja!
24. Gunakan lima suku pertama deret Maclaurin cos x untuk menghampiri
nilai cos
6101.

25. Gunakan lima suku pertama deret Maclaurin e'untuk menghampiri nilai e3!
Daftar Pustaka

Bittinger, Morel., App lie d Cal culu s, 199 4, Addison Wesley


Dass, H.K., Engineering Mathematics, 2002, S.Chand and Company
Dawkins, P ., Calculus L, http: / / tutorial.math.lamar.edu
Edwards., Penney., Calcultrs toith Analytic Geometry,Str'ed., Prentice Hall Inc.
Hughes, D., Hallet., Gleason et al., Cctlculus,JohnWiley and Sons.
Hoffman., Bradley., Cnlculus for business, economics and the social and life sciences, 5thed,
1992., McGraw Hill
Ilmu Pengetahuan Populer, )ilid 2, Grolier International Inc, Diedarkan oleh PT.
Widyadara.
Lial., Hungerford., Miller., Mathematics zuith Applications, Harper Collins
Razali,M., Cara Mudalt Menyelesaikan Matematika dengan Mathematica,2007., Penerbit
Andi Jogjakarta
Stewart, 1., Kalkulus. jilid 1, edisi 4, Penerbit Erlangga, 2008.

+
I
Glosarium

I Biaya marjinal: biaya untuk memproduksi secara tambahan satu satuan barang.
a Bilangan rasional: bilangan yang dapat dinyatakan sebagai rasio dari dua buah
bilangan bulat seperti0,66666... = 2/3 ; 7,2 = 12/1,0 ; -0,8 = -8/10 = 4/ -5 ;
12 = 24/2= 36/3
Bilangan irasional: kebalikan dari bilangan rasional yaitu bilangan pecahan
yang tidak dapat dinyatakan sebagai rasio dari dua buah bilangan bulat seperti
Ji = 1,414213562...;log12 = 7,0791812...; e =2,718281828... ; sin 210 = 0,358368...
Bilangan real: disebut juga bilangan nyata yakni bilangan yang kita gunakan
sehari-hari untuk menghitung (menghasilkan bilangan bulat) maupun mengukur
(menghasilkan bilangan bulat maupun pecahan desimal). Bilangan real meliputi
semua anggota bilangan bulat, bilangan rasional dan bilangan irasional.
Bilangan ktpyal: disebut juga bilangan imajiner, yakni bilangan yang satuannya
adalah i = J- t seperti : 2i ; -3i ;204i ; 0,07i dan lain-lain. Bilangan khayal muncul
karena menarik akar bilangan negatif.
Domain: disebut daerah asal yaitu himpunan bilangan real yang memuat semua
bilangan x yang menjadi inputbagi fungsi f.
Definisi epsilon-delta: istilah lain untuk membuktikan limit fungsi secara formal
dengan menggunakan pendekatan bilangan e (epsiion) dan 6 (delta). Definisi
ini merupakan definisi limit yang paling tepat secara matematis, diperkenalkan

,{

$
*
I
v
pertama kali oleh Chaucy dan Karl Weierstrass. Sebab sebelum mereka,
pengertian dan limit dinyatakan secara intuitif.
Fungsi: secara teknis dapat dikatakan sebagai sebuah proses yang memetakan
(memasangkan) satu buah masukan/input ke tepat dengan satu buah keluaran/
output. Secara definsi matematisnya: sebuah fungsi f dengan nilai real yang
didefinisikanpadahimpunanbilangan real D yang disebut domain adalah aturan
yang memetakan setiap bilangan x yang berada dalam D ke tepat satu bilangan
real yang dinyatakan dengan f(x).
Fungsi ganjil: sebuah fungsi f(x) disebut fungsi ganjil jika berlaku f(-x) = -f(x).
Grafi sebuah fungsi ganjil akan simetri/setangkup terhadap titik asal (0,0)
Fungsi genap: sebuah fungsi f(x) disebut fungsi genap jika berlaku f(-x) = f(x).
Grafik sebuah fungsi genap akan simetri/setangkup terhadap sumbu vertikal y
Fungsi invers: dua fungsi f(x) dan g(x) dikatakan saling invers jika f [g(x)] = x
dan g [f(x)] = x. Jika f(x) dan g(x) saling invers maka berlaku g'(x) =

I Fungsi komposit sebuah fungsi yang inputnya adalah output fungsi "-h
lain.
I Garis singgung: garis lurus yang menyentuh kurva pada satu titik. Titik tersebut
terletak pada kurva, disebut titik singgung
Gradien: gradien diartikan sebagai kemiringan garis lurus yaitu sebuah bilangan
yang diperoleh dari rasio perubahan dalam arah vertikal dan perubahan dalam
arah horisontal dari sebuah garis lurus.
Kontinuitas: suatu fungsi f(x) dikatakan kontinu pada sebuah titik x = c di mana c
berada dalam selang af,xf,b jika lim f(x) = f(c) . Diskontinu adalah kebalikan
dari istilah kontinu. Jika sebuah ffintisi f(x) kontinu dalam interval f, x f,b maka
grafik f(x) akan berjalan mulus/tersambung utuh dalam interval kontinuitasnya.
Sebaliknya, jika fungsi f(x) diskontinu di titik x = c dalam interval f, x f,b maka
grafik f(x) akan terputus (atau mengalami lompatan) di titik c. Titik c disebut titik
diskontinuitas f(x)
f Laiu Perubahan: secara teknis dapat diartikan sebagai kecepatan rata-rata
I Laju Perubahan Sesaat: limit hasil bagi dari perubahan variabel tak bebas
terhadap perubahan variabel bebas suatu fungsi, di mana perubahan nilai
variabel bebasnya terjadi dalam selang yang sangat sempit. Laju perubahan
sesaat merupakan penafsiran teknis dari turunan. Istilah laju perubahan sesaat
dapat ditafsirkan sebagai kecepatan sesaat.
Limit fungsi: dalam perspektif matematika, secara teknis limit fungsi merupakan
alat matematis untuk mengamati kecenderungan nilai fungsi f(x) ketika variabel
bebas atau input fungsi f , yaltu x bergerak mendekati sebuah bilangan tertentu.
Nilai mutlak: dinyatakan dengan simbol lx l, menyatakan jarak x dari titik asal
0 pada garis bilangan.
Pertaksamaan: sebuah ekspresi matematik yang melibatkan simbol-simb ol1, I ,
>dan)
Range: disebut daerah hasil, yaitu himpunan bilangan real yang memuat output
f(x) dari fungsi f
Selang: himpunan bilangan x yang dibatasi oleh sebuah atau dua buah bilangan
tertentu yang berperan sebagai batas bawah dan atau batas atas himpunan
bilanagn tersebut, seperti:x < a ;x> a;xf'a;x3 a; af,xf,b ,dimana a danb
adalah bilangan yang berperan sebagai batas bagi himpunan bilangan x
Teorema nilai antara (intermediate value theorem): teorema ini secara implisit
mengatakan bahwa setiap fungsi f(x) yang kontinu dalam selang tertutup f,xf,b
pasti akan meliputi/mengambil bilangan yang berad a antara nilai f(a) dan f(b).
Trigonometri: cabang matematik a yarrg membahas hubungan antara sudut dan
sisi-sisi pada sebuah segitiga.
Turunan: turunan merupakan substansi utama dalam kalkulus diferensial-
r(x+h]-f(x)
Turunan fungsi f(x) di definisikan dengan limit sebagrt . Jitca
lrS
limit ini ada,makahasil limit ini dinamakan turunan fungsi f(x).
Variabel: sesuatu besaran yang nilainya dapat berubah, ia dapat menerima
nilai yang berbeda seperti biaya, umur, suhu udara, konsumsi, investasi dan
sebagainya. Variabel biasa dinyatakan dengan sebuah simbol seperti x, Y,P
dan sebagainya. Istilah lain untuk variabel adalah perubah. Konstanta adalah
kebalikan/lawan dari variabel yaitu sesuatu yang nilainya tetap (tidak berubah
dan tidak bisa menerima nilai yang berbeda).
Variabel bebas dan variabet tak-bebas: pada fungsi Y = f(x) maka x disebut
variabel bebas dari fungsi f karena nilainya dapat ditentukan secara bebas di
dalam domainnya untuk kemudia menghasilkan nilai fungsi f yakni y atau f(x).
variabel bebas x disebut juga variabel input. Sedangkan y atau f(x) dinamakan
variabel tak-bebas dari fungsi f.
Dinamakan variabel tak-bebas karena kita tidak dapat menentukan/mengontrol
nilainya. Variabel tak-bebas y atau f(x) disebut juga variabel output. Nilai y atau
f(x) tidak dapat ditentukan secara bebas, tetapi tergantung kepada nilai input/
variabel bebas x yang diberikan pada fungsi f
Tentang Penulis

Muhammad Razali, S.Si., M.Si. Lahir di Kutacane, Aceh, pada tahun 1970.
Menyelesaikan pendidikan S-1 dari |urusan Matematika, IJniversitas Brawijaya,
Maiang pada tahun 1996 dan lulus dari Program Magister Matematika (konsentrasi
Optimisasi dan Riset Operasi) Universitas Sumatera Utara, Medan, pada tahun 20L0.
Setelah lulus S-1, bekerja di perusahaan riset pemasaran di Jakarta hingga tahun 1998.
Memulai karier sebagai staf pengajar Matematika pada Institut Teknologi Medan
(ITM) pada tahun 1998. Pada tahun 2005, beliau menjadi dosen Kopertis Wilayah I
Sumut-NAD dengan penempatan pada Institut Teknologi Medan. Hingga saat ini,
beliau aktif mengajar mata kuliah Knlkulus, Aljabar Linier, Matematika Teknik, Teori
Probabilitas dan Statistika,, serta Metode Numerik di Jurusan Teknik Elektro ITM dan
pada jurusan lainnya di beberapa kampus. Beliau juga aktif menulis pada jurnal
ilmiah berkala. Buku lain yang pernah ditulisnya adalah Cara Mudah Menyelesaiknn
Matematikn dengan Mathematica, Penerbit Andi, Yogyakarta.

Drs. Mahmud N. Siregar. Menyelesaikan pendidikan kesarjanaannya dari


Jurusan Matematika, Universitas Sumatera Utara, pada tahun 1985. Beliau adalah
dosen PNS Kopertis Wilayah I DPK pada Sekolah Tinggi Teknik Harapan (STTH)
Medan, mengajar mata kuliah Knlkulus dan Matematika Teknik pada Jurusan Teknik
Elektro STTH dan mengajar mata kuliah Matematikn Diskrit pada Jurusan Teknik
Informatika STTH.
Faridawaty uqrur L-U. Ivleoan Pada tahun 1971' Lulus s-1
2008,luius dari Program
dari ]urusan Matematit a usu pada tahun l996.Padatahun
(USU), Medan' Saat ini, beliau
Magister Matematika, Universitas Sumatera Utara
Negeri Medan (Unimed)
adalah staf pengalar pada Jurusan Matematika, Universitas
d'anBahasa Pemrograman Pascal'
dan mengajar mata kuliah Kalkulus,Teori Bilangan,

I,,T I LIK
!3i!(!;:t, i '+r1r'it i:rl<altr
!,.:. L,.. i",!'A-n
'fimur
F:'*1.'.;,ui Jrlqa