Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Struktur kayu merupakan suatu struktur yang elemen susunannya adalah
kayu. Dalam perkembangannya, struktur kayu banyak digunakan sebagai
alternatif dalam perencanaan pekerjaan-pekerjaan sipil, diantaranya adalah :
rangka kuda-kuda, rangka dan gelagar jembatan, struktur perancah, kolom, dan
balok lantai bangunan.
Pada dasarnya kayu merupakan bahan alam yang banyak memiliki
kelemahan struktural, sehingga pengunaan kayu sebagai bahan struktur perlu
memperhatikan sifat-sifat tersebut. Oleh sebab itu, maka struktur kayu kurang
populer dibandingkan dengan beton dan baja. Akibatnya saat ini terdapat
kecenderungan beralihnya peran kayu dari bahan struktur menjadi bahan
pemerindah (dekoratif).
Namun demikian pada kondisi tertentu (misalnya : pada daerah tertentu,
dimana secara ekonomis kayu lebih menguntungkan dari pada penggunaan
bahan yang lain) peranan kayu sebagai bahan struktur masih digunakan.
Batang lentur didefinisikan sebagai batang struktur yang menahan baban
transversal atau beban yang tegak lurus sumbu batang. Batangbatang lentur pada
struktur yang biasanya disebut gelagar atau balok bisa dikategorikan sebagai
berikut:
- Joist: adalah susunan gelagar-gelagar dengan jarak yang cukup dekat antara
satu dan yang lainnya, dan biasanya berfungsi untuk menahan lantai atau atap
bangunan
- Lintel: adalah balok yang membujur pada tembok yang biasanya berfungsi
untuk menahan beban yang ada di atas bukaan-bukaan dinding seperti pintu
atau jendela

1
- Balok spandrel: adalah balok yang mendukung dinding luar bangunan yang
dalam beberapa hal dapat juga menahan sebagian beban lantai
- Girder: adalah susunan gelagar-gelagar yang biasanya terdiri dari kombinasi
balok besar (induk) dan balok yang lebih kecil (anak balok)
- Gelagar tunggal atau balok tunggal
Gelagar biasanya direncanakan sebagai gelagar sederhana (simple beam)
dengan perletakan sendi-rol, perletakan jepit, jepit sebagian atau sebagai
balok menerus. Gelagar atau balok pada umumnya akan mentransfer beban
vertikal sehingga kemudian akan terjadi lenturan. Pada saat mengalami
lenturan, bagian atas dari garis netral tertekan dan bagian bawah akan
tertarik, sehingga bagian atas terjadi perpendekan dan bagian bawah terjadi
perpanjangan

1.2. Rumusan Masalah


Berdasarkan gambaran umum tentang struktur kayu dan apa itu batang lentur,
kemudian kami merumuskan masalah berkaitan batang lentur yaitu:
1. Apa itu perencanaan lentur?
2. Apa itu perencanaan geser?
3. Apa itu perencanaan lendutan?
4. Apa itu perencanaan tumpuan?

1.3. Tujuan Penulisan


1. Mengetahui apa itu perencanaan lentur
2. Mengetahui apa itu perencanaan geser
3. Mengetahui apa itu perencanaan lendutan
4. Mengetahui apa itu perencanaan tumpuan

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Perencanaan Lentur


Batang lentur direncanakan untuk dapat mendukung gaya momen lentur dan
gaya geser.

Mu ≤ λ Φb M’ 6.1a

Vu ≤ λ Φv V’ 6.1b

Dengan :

Mu : momen lentur terfaktor


Vu : gaya geser terfaktor
M’ : tahanan lentur terkoreksi
V’ : Tahanan geser terkoreksi
λ : faktor waktu
Φb : faktor tahanan lentur 0,85
Φv : faktor tahanan geser 0,75

Bentang rencana harus digunakan dalam menghitung momen lentur,


tegangan geser dan lendutan: Untuk komponen struktur berbentang sederhana
yang tidak menyatu dengan tunpuan-tumpuannya maka bentang rencana adalah
bentang bersih ditambah setengah kali panjang tumpukan pada masing-masing
ujung.

3
L netto

L rencana

Takikan pada balok harus dihindari, terutama yang terletak jauh dari
tumpuan dan berada pada sisi tarik. Konsentrasi tegangan yang disebabkan oleh
takikan dapat dikurangi menggunakan konfigurasi takikan yang diiris miring
secara bertahap daripada menggunakan takikan sudut tajam. Apabila harus dibuat
takikan dengan sudut tajam, maka diperkuat dengan alat pengencang perlu
ditambahkan untuk mencegah timbulnya retak seperti pada gambar berikut:

Gambar 2.1 Takikan pada tumpuan ujung; (a) takikan miring, (b) penambahan
alat pengencang.

Takikan pada ujung balok tidak boleh melampaui seperempat tinggi balok
untuk balok massif, dan sepersepuluh tinggi balok untuk balok glulam (kayu
laminasi struktural). Balok tidak boleh ditakik dilokasi selain diujung balok

4
bertumpu bersederhana. Tahanan lentur balok pada setiap penampang yang
bertakik, baik disisi tarik maupun disisi tekan, tidak boleh melampaui tahanan
lentur dari penampang netto pada lokasi yang bertakik, bila takikannya berada
pada sisi tekan. Bila suatu takikan berada pada sisi tarik, dan momen yang
bekerja disepanjang bagian yang bertakik tersebut melebihi setengah tahanan
lentur balok yang dihitung pada penampang netto minimum bertakik maka
tahanan lentur seluruh balok ditentukan oleh netto bertakik tersebut.

Pada konstruksi sistem lantai dimana terdapat tiga atau lebih balok kayu
yang tersusun dengan jarak tidak lebih dari 600 mm (jarak pusat ke pusat)
kemudian disatukan dengan sistem penutup, maka kekuatan konstruksi tidak
sepenuhnya bergantung pada masing-masing tahanan lentur satu balok. Pada
sistem konstruksi ini, semua balok akan bekerja secara bersama-sama sehingga
kekuatan secara sistem lebih besar dari pada penjumlahan kekuatan masing-
masing balok. Apabila terdapat beban terpusat pada satu balok, maka beban
tersebut akan didukung tidak hanya oleh satu balok melainkan secara bersama-
sama oleh seluruh balok pada sistem tersebut. Untuk mempertimbangkan
perilaku sistem lantai ini, maka tahanan lentur acuan dapat dikalikan dengan
faktor koreksi pembagi beban (C r) yaitu sebesar 1,15

Apabila balok diletakan secara tidur (dimensi lebar lebih besar dari pada
dimensi tebal/tinggi) sehingga menderita tegangan lentur pada sumbu lemahnya,
maka tahanan lentur acuan dapat dikalikan dengan faktor koreksi penggunaan
(Cfu) seperti pada Tabe1 6.1.

5
Tabel 2.1 faktor koreksi penggunaan datar (Cfu)

Tebal/tinggi
Lebar
50mm dan 75 mm 100 mm
50 mm dan 75 mm 1,00 -
100 mm 1,10 1,00
125 mm 1,10 1,05
150 mm 1,15 1,05
200 mm 1,15 1,05
250 mm dan lebih 1,20 1,10

1. Pengaku lateral (Bracing)

Balok yang memiliki perbandingan tinggi terhadap lebar lebih besar


daripada dua dan dibebani terhadap sumbu kuatnya harus memiliki pengaku
lateral pada tumpuan-tumpuannya untuk mencegah terjadinya rotasi atau
peralihan lateral. Pengaku lateral tidak diperlukan pada balok berpenampang
bundar, bujur sangkar, atau persegi panjang yang mengalami lentur terhadap
sumbu lemahnya saja.

Untuk balok kayu masif, kekangan yang d igunakan untuk mencegah


rotasi atau peralihan lateral ditentukan berdasarkan nilai perbandingan tinggi
normal terhadap tebal nominal, d/b, sebagai berikut:

a. d/b < 2: tidak diperlukan pengekang lateral.


b. 2 < d/b < 5: Semua tumpuan harus dikekang menggunakan kayu masif
pada seluruh ketinggian balok.
c. 5 < d/b < 6: sisi tekan harus dikekang secara menerus sepanjang balok;
d. 6 < d/b < 7: pengekang penuh setinggi balok harus dipasang untuk setiap
selang 2400 mm kecuali bila kedua sisi tekan dan tarik dikekang secara

6
bersamaan atau bila sisi tekan balok dikekang pada seluruh panjangnya
oleh lantai dan pada tumpuan-tumpuannya diberi pengekang lateral untuk
mencegah rotasi;
e. d/b > 7: kedua sisi tekan dan tarik dikekang secara bersamaan pada seluruh
panjangnya.

Pengaku lateral harus diadakan pada semua balok kayu masif


berpenampang persegi panjang sedemikian sehingga rasio kelangsingannya
(Rb) tidak melebihi 50 seperti pada Persamaan 6.2.

Ie d
Rb  2
 50
b 2.2

dengan le : adalah panjang efektif ekivalen yang nilainya dapat dilihat pada
tabel berikut

Faktor-faktor untuk menetapkan panjang efektif ekivalen (le) untuk


penampang persegi panjang massif

Jenis
Jenis beban Jenis pengaku le
tumpuan
Untuk semua keadaan yang tidak tercantum di Lu/d 7≤lu/d
lu/d >14,3
bawah <7 ≤14,3
Berpengaku
Beban terpusat
ditengah
Tumpuan ditengah bentang
ujung 2,06 lu 1,84 lu 1,63 lu+ 3d
sederhana Beban terdistribusi
Pengaku
merata
dikedua

7
ujung
Beban terpusat pada
ujung bebas - 1,80 lu 1,37 lu + 3d
Kantilever
Beban terdistribusi - 2,06 lu 1,63 lu + 3d
merata
1,87 lu 1,44 lu + 3d
1,33 lu 0,90 lu + 3d
Pengaku Le
Beban terpusat
pada setiap
dengan jarak
titik kerja
seragam
beban 1,11 lu
 Beban tunggal
terpusat 1,86 lu
 Beban ganda
Panjang Lu = L/2 1,54 lu
 Tiga beban
bentang L Lu = L/3 1,68 lu
 Empat beban
Lu = L/4 1,73 lu
 Lima beban
Lu = L/5 1,84 lu
 Enam beban
Lu = L/6 1,84 lu
 Tujuh beban
Lu = L/7
atau lebih
_
Bentang
dengan
momen
- - 1,84 lu
momen
ujung yang
sama besar
Catatan lu adalah panjang segmen diantara dua pengaku lateral yang berurutan

8
2. Tahanan lentur balok yang terkekang dalam arah lateral
Anggapan balok yang terkekang penuh dalam arah lateral dijumpai pada
kondisi-kondisi berikut:
a. Balok berpenampang bundar atau bujur sangkar.
b. Balok berpenampang persegi panjang yang terbebani pada arah sumbu
lemahnya saja.
c. Balok berpenampang persegi panjang yang terbebani pada arah sumbu
kuat dan memenuhi persyaratan pengaku lateral (bracing) seperti yang
telah diuraikan sebelumnya.
Tahanan lentur balok dihitung dengan anggapan nilai faktor koreksi
stabilitas balok (CL) sama dengan 1,00. Tahanan lentur terkoreksi dari balok
berpenampang prismatis yang terlentur terhadap sumbu kuatnya (x-x) adalah:

M’ = Mx’ = Sx Fbx’ 2.3

Keterangan :
M’ = Mx’ : tahanan lentur terkoreksi terhadap sumbu kuat.
Sx : modulus penampang lentur terhadap sumbu kuat
Fbx’ :kuat lentur terkoreksi terhadap sumbu kuat dengan nilai
factor koreksi CL = 1,00
Tahanan lentur terkoreksi dari balok berpenampang prismatik yang terlentur
terhadap sumbu lemahnya (y-y) adalah :

M’ = My’ = Sy Fby’ 2.4

Keterangan :
M’ = My’ : tahanan lentur terkoreksi terhadap sumbu lemah.
Sy : modulus penampang lenturterhadapsumbu lemah
Fby’ :kuat lentur terkoreksi terhadap sumbu lemah dengan nilai factor
koreksi CL = 1,00

9
Tahanan lentur terkoreksi yang ditetapkan oleh Persamaan 6.3 harus
dikalikan dengan faktor koreksi bentuk (Cf ) sebesar 1,15 untuk komponen
struktur berpenampang bundar. untuk tiang pancang, harus dikalikan dengan
faktor bentuk sebesar 1,40 untuk komponen struktur berpenampang persegi
panjang yang terlentur terhadap sumbu diagonal.

3. Tahanan lentur balok tanpa pengekang lateral penuh


Tahanan lentur terkoreksi terhadap sumbu kuat (x-x) dari balok
berpenampang prismatis persegi panjang tanpa pengekang lateral atau bagian
yang tak-terkekang dari balok tersebut, adalah:

M’ = CL Sx Fbx* 2.5

Faktor kestabilan kolom(CL) dihitung sebagai berikut:

2
1  b  1  b  b
CL     
2cb  2cb  cb
2.6

Dengan :

c Pe
c 
 c P ' o 2.7

Dengan
Sx : adalah modulus penampang untuk lentur terhadap sumbu kuat (x-x)
M x* :adalah tahanan lentur untuk lentur terhadap sumbu kuat (x-x)
dikalikan dengan semua faktor koreksi kecuali faktor koreksi penggunaan
datar (Cfu) dan faktor koreksi stabilitas balok (CL); Cb=0,95; Φs = 0,85 faktor
tahanan stabilitas ;

10
Me : Momen tekuk lateral elastis yang dapat diperoleh pada persamaan 2.8

Iy
Me  2,40 E ' y 05
le 2.8

2.2. Perencanaan Geser


Apabila beban yang mengakibatkan lentur bekerja pada muka balok yang
berlawanan dengan muka tumpuan maka seluruh beban yang terletak di dalam
jarak d (tinggi balok) dari bidang muka tumpuan tidak perlu diperhitungkan
dalam menentukan gaya geser perlu seperti pada gambar.

Gambar 6.2 reduksi gaya geser sejarak tinggi balok da ri muka tumpuan

11
Tahanan geser terkoreksi (V’) dihitung dengan Persamaan 2.9

F'v I b
V ' 2.9
Q

Dengan
Fv' : kuat geser sejajar serat terkoreksi.
I : momen inersia balok.
b : lebar penampang balok.
Q : momen statis penampang terhadap sumbu netral.

Untuk penampang persegi panjang dengan lebar b, dan tinggi d, Persamaan 2.9
dapat disederhanakan menjadi Persamaan 2.10.

2
V ' F ' v bd 2.10
3
1. Tahanan geser di daerah takikan

Pada penampang di sepanjang takikan dari sebuah balok persegi panjang


setinggi d, tahanan geser terkoreksi pada penampang bertakik dihitung
dengan Persamaan 2.11, dengan d adalah tinggi balok tanpa takikan dan dn
adalah tinggi balok di dalam daerah takikan.

2  dn 
V '   F ' v bdn   2.11
3  d 
Sebagai laternatif, apabila pada ujung takikan terdapat irisan miring dengan
sudut θ (lihat Gambar 2.1) terhadap arah serat kayu untuk mengurangi

12
konsentrasi tegangan maka tahanan geser terkoreksi pada penampang bertakik
dihitung sebagai:

2  d  dn sin  
V '   F ' v bdn 1   2.12
3  d 
2. Tahanan Geser Di Daerah Sambungan

Apabila suatu sambungan pada balok persegi panjang menyalurkan gaya


yang cukup besar sehingga menghasilkan lebih dari setengah gaya geser di
setiap sisi sambungan maka tahanan geser terkoreksi dihitung berdasarkan
Persamaan 2.13 dengan d adalah tinggi efektif balok pada daerah sambungan
seperti ditunjukkan pada Gambar 2.3.

2  de 
V '   F ' v bde   2.13
3  d 

Gambar 2.3 definisi tinggi balok efektif pada daerah sambungan

13
2.3. Perencanaan Lendutan

Selain mengalami lenturan dan geser, batang lentur juga menderita


lendutan. Lendutan pada batang lentur dapat mengakibatkan terjadinya
peningkatan tegangan.

Batang lentur pada sistim lantai diharuskan memiliki lendutan yang kecil
untuk menghindari timbulnya keretakan pada penutup lantai seperti keramik.
Sehingga pada beberapa jenis struktur tertentu sering kali dimensi penampang
balok ditentukan oleh pembatasan nilai lendutan, tidak oleh tegangan lentur.

Lendutan sebuah batang lentur seperti Gambar 2.4 ditentukan oleh banyak
faktor seperti gaya-gaya luar yang bekerja, bentang balok, momen inersia
penampang, dan modulus elastisitas lentur terkoreksi seperti dinyatakan dalam
Persamaan 2.14.

Gambar 2.4 Bentuk lendutan pada balok dengan tumpuan sederhana

 P, w, l 
Max   f   2.14
 I , E ' 

Modulus elastisitas lentur terkoreksi merupakan hasil perkalian antara


modulus elastisitas lentur dengan faktor koreksi. Untuk balok lentur dengan

14
beban merata sepanjang bentang, lendutan maksimum dihitung berdasarkan
Persamaan 2.15.

 5 w L4 
Max     2.15
 384 E ' I 
Untuk balok dengan beban terpusat di tengah bentang, lendutan maksimum
dihitung berdasarkan Persamaan 2.16.

 p L3 
Max     2.16
 48 E ' I 
Lendutan ijin

a. Batang lentur pada konstruksi terlindung adalah L/300.


b. Batang lentur pada konstruksi tidak terlindung adalah L/400.
L adalah panjang bentang bersih (L netto). Nilai lendutan ijin perlu
diperhitungkan pada pembebanan yang berasal dari berat sendiri dan
beban tetap.

2.4. Perencanaan Tumpuan


Balok kayu pada bagian tumpuan atau pada lokasi dimana gaya gaya luar
bekerja secara langsung menderita tegangan tekan tegak lurus serat seperti pada
Gambar 2.5

15
P1

fc┴
fc┴

Tumpuan balok

Gambar 2.5 Tegangan tekan tegak lurus serat pada daerah tumpuan

Oleh karena itu, bidang kontak antara balok dengan tumpuan atau dengan
gaya-gaya luar harus direncanakan sedemikian sehingga Persamaan 2.17
dapat terpenuhi.

Pu
fc    c F ' c  2.17
A
Pu : gaya tekan terfaktor.
A : luas tumpuan.
Φc : = 0,90.
F'c adalah tegangan tekan tegak lurus serat terkoreksi yang diperoleh pada
Persamaan 6.18.

F ' c  Fc  CM Ct C pt 2.18

Apabila panjang bidang tumpu (lb) dalam arah panjang komponen struktur
tidak lebih dari 150 mm dan jarak ke bidang tumpu dari ujung kolom (la) lebih
besar dari 75 mm seperti Gambar 2.5, maka tahanan tekan tegak lurus serat
dapat dikalikan dengan faktor koreksi bidang tumpu (Cb) seperti pada
Persamaan 2.19 dengan nilai lb dalam satuan mm.

16
Cb = (lb + 9,5)/lb

Apabila bidang kontak antara tumpuan dengan balok lentur tidak tegak
lurus serat, melainkan bersudut θ seperti pada Gambar 2.6, maka kontrol
tegangan tekan harus dilakukan berdasarkan Persamaan 2.20. Tegangan tekan
terkoreksi pada sudut θ dapat diperoleh dengan persamaan Hankinson seperti
pada Persamaan 2.21. F'c adalah tegangan tekan sejajar serat terkoreksi yang
diperoleh pada Persamaan 2.22.

Gambar 2.6 Tegangan tekan sudut pada struktur atap miring

Pu
f     c F ' 2.20
A
F 'c F 'c 
F ' 
F 'c sin 2   F 'c  cos 2  2.21

F’c = Fc Cm C1 Cpt…….. 2.22

17
Contoh perencanaan batang lentur

Contoh 1

Balok dari sistim lantai mendukung beban mati terbagi merata sebesar 5 kN/m'
(termasuk berat sendiri) seperti gambar di bawah. Apabila dimensi balok kayu yang
digunakan adalah 80/200 dengan kode mutu E19, tunjukkan apakah dimensi balok
yang dipilih memenuhi persyaratan tahanan lentur, geser, dan lendutan ijin. Gunakan
faktor koreksi CM = C1= Cpt = 1,00.

W = 5 kN/M’
200mm

80mm
2500mm

Karena balok berasal dari sistem lantai, maka dapat diasumsikan terdapat kekangan
lateral pada kedua ujungnya setinggi balok dan kekangan pada sisi tekan (sisi atas)
balok sepanjang bentang. Sehingga faktor koreksi stabilitas balok (CL) tidak perlu
diperhitungkan.

18
Hasil analisis struktur dengan kombinasi pembebanan 1,4D

wL 2 1,4 x5 x2,52
Momen lentur maks    5,47 kNm
8 8

1,4 x5 x 2,5
Gaya geser mak s  wL   8,75 k Nm
2 2
a. Kontrol tahanan lentur Fb kayu E 19 = 44

F’bx = Fb* CM Ct Cpt CF

F’bx = 44 x 1,00 x 1,00 x 1,00 x 1,00 = 44 MPa

Modulus Penampang (Sx)

bd 2 80 x 200 2
Sx    533 .33mm 3
6 6
Tahan momen lentur terkoreksi (M’X)

M’X= Sx F’bx = 533,33 x 44 = 23, 47 kNm

Momen lentur terfaktor

Mu ≤ λ Φb M’x

5,47 kNm ≤ 0,6 x 0,85 x 23,47 = 11,97 kNm…………………….ok

b. Kontrol tahan geser Fv kayu E 19 Fv= 5,6

19
F’v = Fv* CM Ct Cpt

F’v= 5,6 x 1,00 x 1,00 x 1,00 = 5,6 MPa

Tahan geser terkoreksi

2 2
V ' F ' v bd  5,6 x80 x200  59,73kN
3 3
Gaya geser terfaktor Vu

Vu ≤ λ Φv V’

8,7 kN≤ 0,6 x 0,75 x 59,73 = 26,88 kN……………..ok

c. Kontrol lendutan kayu E 19 Ew= 18000 kayu E 19


E’v = EW CM Ct Cpt

E’ = 18000 x 1,00 x1,00 x 1,00 = 18000 MPa

Lendutan ijin = L/300 = 2500/300 = 8,3 mm

Lendutan maksimum Δ

I = bd3/12 = ((80x2003)/12 = 53,33 x 106 mm4

5 w L4 5 x5 x 2500 4
   2,65 mm
384 E ' I 384 x18000 x53,33 x10 6

2,65mm << 8,3 ………………………0k

20