Anda di halaman 1dari 44

LAPORAN SEMINAR ASUHAN KEPERAWATAN

ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA NY. J DENGAN HIPERTENSI PADA


NY.J
DI RT.01 / RW.05 PANDANWANGI
WILAYAH PUSKESMAS PANDANWANGI
KOTA MALANG

OLEH:
Rifandi Handrianto (P17211186015)
Ni Putu Devi Indriyani (P17211186023)
Yaomil Dayu Satriani (P17211186031)
Rachmatul Hasanah (P17211186034)

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MALANG


JURUSAN KEPERAWATAN
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI NERS PROGRAM PROFESI
TAHUN 2019
LAPORAN SEMINAR ASUHAN KEPERAWATAN

ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA NY. J DENGAN HIPERTENSI PADA


NY.J
DI RT.01 / RW.05 PANDANWANGI
WILAYAH PUSKESMAS PANDANWANGI
KOTA MALANG

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Laporan Kelompok Praktek Profesi Ners Departemen
Keperawatan Keluarga

OLEH:
Rifandi Handrianto (P17211186015)
Ni Putu Devi Indriyani (P17211186023)
Yaomil Dayu Satriani (P17211186031)
Rachmatul Hasanah (P17211186034)

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MALANG


JURUSAN KEPERAWATAN
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI NERS PROGRAM PROFESI
TAHUN 2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah
melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan laporan seminar
asuhan keperawatan dengan judul “Asuhan Keperawatan Keluarga Ny. J Dengan Hipertensi
Pada Ny.J Di Rt.01 / Rw.05 Pandanwangi Wilayah Puskesmas Pandanwangi Kota Malang”
sebagai salah satu syarat tugas akhir Praktik Klinik Keperawatan Keluarga di Politeknik
Kesehatan Kemenkes Malang Program Studi Profesi Ners Jurusan Keperawatan Malang.
Kami menyadari bahwa dalam laporan ini tidak lepas dari bimbingan, bantuan, dan
dukungan dari berbagai pihak, sehingga kendala-kendala yang kami hadapi dapat diatasi. Oleh
karena itu, kami menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan sebesar-besarnya
kepada:
1. Pembimbing Akademik Program Studi Profesi Ners Politeknik Kesehatan
Kemenkes Malang yang telah membimbing kami.
2. Perseptor Klinik UPT Puskesmas Pandanwangi yang telah membimbing kami.
3. Semua pihak yang telah memberikan dorongan dan bantuannya dalam
menyelesaikan laporan ini.
Akhir kata, dengan segala kerendahan hati, kami menyadari bahwa masih terdapat
banyak kekurangan dalam penulisan laporan ini, sehingga kami mengharapkan adanya kritik
dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan laporan ini.

Malang, 28 Februari 2019

Kelompok 4
DAFTAR ISI

Sampul Luar

Sampul Dalam

Kata Pengantar ................................................................................................................

Daftar Isi .........................................................................................................................

BAB I Pendahuluan
1.1 Latar Belakang.................................................................................................
1.2 Rumusan Masalah ...........................................................................................
1.3 Tujuan ..............................................................................................................
1.4 Manfaat ............................................................................................................

BAB II Tinjauan Pustaka


2.1 Konsep Penyakit ..............................................................................................
2.2 Konsep Asuhan Keperawatan..........................................................................

BAB III Laporan Asuhan Keperawatan


3.1 Pengkajian .......................................................................................................
3.2 Analisis Data ...................................................................................................
3.3 Prioritas Masalah .............................................................................................
3.4 Rencana Keperawatan .....................................................................................
3.5 Implementasi dan Evaluasi ..............................................................................

BAB IV Penutup
4.1 Kesimpulan ......................................................................................................
4.2 Saran ................................................................................................................
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Paradigma keperawatan konsep sehat sakit memandang bentuk pelayanan

keperawatan diberikan selama rentang sehat dan sakit. Status kesehatan digambarkan

mulai sehat normal, sehat sekali dan sejahtera, sebagai status sehat yang paling tinggi.

Batasan sehat yaitu keadaan yang sempurna baik secara fisik, mental dan sosial serta

dan tidak hanya bebas dari penyakit atau kelemahan (Hidayat, 2008).

Karakteristik sehat antara lain, memiliki kemampuan merefleksikan perhatian

pada individu sebagai manusia, dan memiliki pandangan terhadap sehat dalam konteks

lingkungan, baik secara internal maupun eksternal dan memiliki hidup yang kreatif dan

produktif (Hidayat, 2008). Sakit pada dasarnya keadaan terganggunya seseorang dalam

proses tumbuh kembang fungsi tubuh secara keseluruhan atau sebagian, serta

terganggunya proses penyesuaian diri manusia atau bisa dikatakan sebagai gangguan

fungsi yang normal di mana individu sebagai totalitas dari keadaan organisme sebagai

sistem biologis dan adaptasi sosial (Hidayat, 2008).

Keluarga sebagai unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga

dan beberapa orang yang berkumpul dan tinggal di suatu atap dalam keadaan saling

ketergantungan. Keluarga yang sehat sangat berperan penting untuk kelangsungan

hidup yang sejahtera. Dengan memiliki keluarga yang sehat tanpa memiliki penyakit

akan menjamin kesejahteraan keluarga yang harmonis dan bahagia. Beberapa ahli

berpendapat bahwa bertambah umur, merupakan faktor terjadinya Hipertensi. Oleh

sebab itu pengawasan dan pengelolaan keluarga terhadap faktor pencetus dari

peningkatan tekanan darah sangat disarankan agar terhindar dari keadaan yang lebih

parah (Harmoko, 2012).


Hipertensi adalah tekanan darah tinggi yang abnormal dan diukur paling tidak

pada tiga kesempatan yang berbeda (Corwin, 2009). Hipertensi adalah tekanan darah

persisten dimana tekanan sistoliknya diatas 140 mmHg dan tekanan diastoliknya diatas

90 mmHg (Smeltzer, 2010).

Keluarga dengan anggota keluarga yang mengalami penyakit Hipertensi saat

sekarang sangat mudah kita temui di lingkungan sekitar kita, baik yang berasal dari

anggota keluarga kita sendiri maupun dari anggota keluarga lainnya. Masalah tersebut

dapat disebabkan oleh berbagai faktor seperti gaya hidup yang tidak sehat, genetik,

stress yang berkepanjangan, serta kurangnya pengetahuan tentang kesehatan khususnya

penyakit Hipertensi.

Dampak penyakit Hipertensi pada seseorang khususnya pada anggota keluarga

yang menderita Hipertensi dapat menyebabkan gangguan dalam pemenuhan kebutuhan

dasar manusia yaitu seperti gangguan dalam kebutuhan jasmainah, kebutuhan

keamanan, kebutuhan untuk memiliki dan cinta, kebutuhan harga diri dan kebutuhan

aktualisasi diri. Banyak orang yang berasumsi jika penyakit Hipertensi adalah penyakit

yang tidak bisa disembuhkan, karena terbebani dengan penyakit tersebut membuat

stressor pembuat stress bekerja jauh lebih meningkat. Akibatnya timbul gangguan

psikologis berupa kecemasan baik itu kecemasan ringan, sedang maupun kecemasan

berat yaitu depresi. Koping yang tidak baik dan depresi menyebabkan penurunan

kualitas hidup (Maslow dalam Asmadi, 2008).

Menurut laporan Noncommunicable Diseases, naiknya tekanan darah

diperkirakan menyebabkan 7,5 juta kematian di seluruh dunia. kejadian ini untuk 57

juta disability adjusted life years (DALY) atau 3,7% dari total DALY. Peningkatan

tekanan darah merupakan faktor risiko utama untuk penyakit jantung koroner dan

iskemik serta stroke hemoragik. Karena faktor pertumbuhan penduduk dan penuaan,
jumlah penderita Hipertensi meningkat dari 600 juta pada tahun 1980 menjadi hampir

1 miliar pada tahun 2008 (WHO,NCDs Report, 2013).

Prevalensi Hipertensi di Indonesia berdasarkan wawancara terjadi peningkatan

dari 7,6 persen tahun 2013 menjadi 9,5 persen tahun 2013 dengan prevelensi sebesar

26,5%. Sedangkan pravelensi kasus Hipertensi di Kalimantan Barat adalah 28,3%

(Depkes, Riskesdas, 2013).

Menurut data dari Dinas Kesehatan Kota Singkawang jumlah kasus Hipertensi

di area pelayanan Puskesmas Pajintan Kecamatan Singkawang Timur sebanyak 103

kasus sepanjang bulan Desember 2014. Sedangkan sepanjang tahun 2014 sebanyak

1.995 kasus. Menurut hasil survey yang dilakukan oleh peneliti ditemukan fenomena

dimana kurangnya pengetahuan dan pola hidup yang kurang sehat menjadi pemicu

terhadap tingginya angka kejadian Hipertensi di area pelayanan kesehatan Puskesmas

Singkawang Timur, peneliti tertarik untuk melakukan studi kasus dengan judul Asuhan

Keperawatan Keluarga Dengan Penyakit Hipertensi yang bertujuan untuk

meningkatkan kualitas dan mutu kesehatan keluarga yang lebih baik.

B. Rumusan Masalah

Bagaimanakah Asuhan Keperawatan Keluarga Dengan Hipertensi Di

Puskesmas Pandanwangi Kecamatan Blimbing?"

C. Tujuan Penelitian

Asuhan Keperawatan Keluarga Dengan Hipertensi Di Puskesmas Pandanwangi

Kecamatan Blimbing

1. Tujuan Umum

Tujuan umum dari makalah ini untuk mengidentifikasi Asuhan Keperawatan

Keluarga Ny. J Dengan Hipertensi.


2. Tujuan khusus

a. Mengetahui hasil pengkajian pada keluarga Ny. J dengan Hipertensi.

b. Mengetahui rumusan diagnosa keperawatan pada keluarga Ny. J dengan

Hipertensi.

c. Mengetahui rencana tindakan keperawatan yang diterapkan pada keluarga Ny.

J dengan Hipertensi.

d. Mengetahui implementasi tindakan keperawatan pada keluarga Ny. J dengan

Hipertensi.

e. Mengetahui hasil dari evaluasi apa saja yang didapat pada keluarga Ny. J dengan

Hipertensi.

D. Manfaat Penelitian

1. Manfaat Bagi Penulis

a. Mendapatkan pengalaman dan dapat menerapkan asuhan keperawatan keluarga

pada klien dengan Hipertensi

b. Menambah pengetahuan, wawasan dan pengalaman dalam penerapan asuhan

keperawatan keluarga pada klien dengan Hipertensi.

2. Manfaat Bagi Institusi

Adapun manfaat bagi institusi adalah sebagai bahan bacaan untuk menambah

wawasan. Dapat sebagai acuan ataupun referensi dalam pembelajaran di institusi.

3. Manfaat Bagi Pasien dan Keluarga Partisipan

Adapun manfaat bagi pasien dan keluarga partisipan adalah untuk mengurangi

dampak dari Hipertensi bagi klien dan meningkatkan derajat kesehatan klien serta

dapat menambah wawasan dan pengetahuan keluarga dalam menghadapi anggota

keluarga yang menderita Hipertensi.


BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

A. KONSEP KELUARGA
1. Pengertian Keluarga
Keluarga adalah sekumpulan dua orang atau lebih yang hidup bersama melalui
ikatan perkawinan dan kedekatan emosi yang masing-masing mengidentifikasi diri
sebagai bagian dari keluarga (Ekasari, 2000).
Menurut Duval, 1997 (dalam Supartini, 2004) mengemukakan bahwa keluarga
adalah sekumpulan orang yang dihubungkan oleh ikatan perkawinan, adopsi, dan
kelahiran yang bertujuan menciptakan dan mempertahankan budaya yang umum,
meningkatkan perkembangan fisik, mental, emosional dan sosial setiap anggota.
Bailon, 1978 (dalam Achjar, 2010) berpendapat bahwa keluarga sebagai dua atau
lebih individu yang berhubungan karena hubungan darah, ikatan perkawinan atau
adopsi, hidup dalam satu rumah tangga, berinteraksi satu sama lain dalam peranannya
dan menciptakan serta mempertahankan budaya.
Jadi dapat disimpulkan bahwa keluarga adalah sekumpulan dua orang atau lebih
yang dihubungkan oleh ikatan perkawinan, adopsi, hubungan darah, hidup dalam satu
rumah tangga, memiliki kedekatan emosional, dan berinteraksi satu sama lain yang
saling ketergantungan untuk menciptakan atau mempertahankan budaya, meningkatkan
perkembangan fisik, mental, emosional, dan sosial setiap anggota dalam rangka
mencapai tujuan bersama.

2. Tahap dan Tugas Perkembangan Keluarga


Tahap dan siklus tumbuh kembang keluarga menurut Duval 1985 dan Friedman
1998, ada 8 tahap tumbuh kembang keluarga, yaitu :
a. Tahap I : Keluarga Pemula
Keluarga pemula merujuk pada pasangan menikah/tahap pernikahan. Tugas
perkembangan keluarga saat ini adalah membangun perkawinan yang saling
memuaskan, menghubungkan jaringan persaudaraan secara harmonis,
merencanakan keluarga berencana.
b. Tahap II : Keluarga sedang mengasuh anak (anak tertua bayi sampai umur 30
bulan)
Tugas perkembangan keluarga pada tahap II, yaitu membentuk keluarga muda
sebagai sebuah unit, mempertahankan hubungan perkawinan yang memuaskan,
memperluas persahabatan dengan keluarga besar dengan menambahkan peran
orang tua kakek dan nenek dan mensosialisasikan dengan lingkungan keluarga
besar masing-masing pasangan.
c. Tahap III : Keluarga dengan anak usia pra sekolah (anak tertua berumur 2-6 tahun)
Tugas perkembangan keluarga pada tahap III, yaitu memenuhi kebutuhan anggota
keluarga, mensosialisasikan anak, mengintegrasikan anak yang baru sementara
tetap memenuhi kebutuhan anak yang lainnya, mempertahankan hubungan yang
sehat dalam keluarga dan luar keluarga, menanamkan nilai dan norma kehidupan,
mulai mengenalkan kultur keluarga, menanamkan keyakinan beragama, memenuhi
kebutuhan bermain anak.
d. Tahap IV : Keluarga dengan anak usia sekolah (anak tertua usia 6-13 tahun)
Tugas perkembangan keluarga tahap IV, yaitu mensosialisasikan anak termasuk
meningkatkan prestasi sekolah dan mengembangkan hubungan dengan teman
sebaya, mempertahankan hubungan perkawinan yang memuaskan, memenuhi
kebutuhan kesehatan fisik anggota keluarga, membiasakan belajar teratur,
memperhatikan anak saat menyelesaikan tugas sekolah.
e. Tahap V : Keluarga dengan anak remaja (anak tertua umur 13-20 tahun)
Tugas perkembangan keluarga pada tahap V, yaitu menyeimbangkan kebebasan
dengan tanggung jawab ketika remaja menjadi dewasa dan mandiri, memfokuskan
kembali hubungan perkawinan, berkomunikasi secara terbuka antara orang tua dan
anak-anak, memberikan perhatian, memberikan kebebasan dalam batasan tanggung
jawab, mempertahankan komunikasi terbuka dua arah.
f. Tahap VI : Keluarga yang melepas anak usia dewasa muda (mencakup anak
pertama sampai anak terakhir yang meninggalkan rumah)
Tahap ini adalah tahap keluarga melepas anak dewasa muda dengan tugas
perkembangan keluarga antara lain : memperluas siklus keluarga dengan
memasukkan anggota keluarga baru yang didapat dari hasil pernikahan anak-
anaknya, melanjutkan untuk memperbaharui dan menyelesaikan kembali hubungan
perkawinan, membantu orang tua lanjut usia dan sakit-sakitan dari suami dan istri.
g. Tahap VII : Orang tua usia pertengahan (tanpa jabatan atau pensiunan)
Tahap keluarga pertengahan dimulai ketika anak terakhir meninggalkan rumah dan
berakhir atau kematian salah satu pasangan. Tahap ini juga dimulai ketika orang tua
memasuki usia 45-55 tahun dan berakhir pada saat pasangan pensiun. Tugas
perkembangannya adalah menyediakan lingkungan yang sehat, mempertahankan
hubungan yang memuaskan dan penuh arah dengan lansia dan anak-anak,
memperoleh hubungna perkawinan yang kokoh.
h. Tahap VIII : Keluarga dalam tahap pensiunan dan lansia
Dimulai dengan salah satu atau kedua pasangan memasuki masa pensiun terutama
berlangsung hingga salah satu pasangan meninggal dan berakhir dengan pasangan
lain meninggal. Tugas perkembangan keluarga adalah mempertahankan pengaturan
hidup yang memuaskan, menyesuaikan terhadap pendapatan yang menurun,
mempertahankan hubungan perkawinan, menyesuaikan diri terhadap kehilangan
pasangan dan mempertahankan ikatan keluarga antara generasi.

3. Tipe Keluarga
Menurut Maclin, 1988 (dalam Achjar, 2010) pembagian tipe keluarga, yaitu :
a. Keluarga Tradisional
1) Keluarga inti adalah keluarga yang terdiri dari suami, istri dan anak-anak yang
hidup dalam rumah tangga yang sama.
2) Keluarga dengan orang tua tunggal yaitu keluarga yang hanya dengan satu
orang yang mengepalai akibat dari perceraian, pisah, atau ditinggalkan.
3) Pasangan inti hanya terdiri dari suami dan istri saja, tanpa anak atau tidak ada
anak yang tinggal bersama mereka.
4) Bujang dewasa yang tinggal sendiri
5) Pasangan usia pertengahan atau lansia, suami sebagai pencari nafkah, istri
tinggal di rumah dengan anak sudah kawin atau bekerja.
6) Jaringan keluarga besar, terdiri dari dua keluarga inti atau lebih atau anggota
yang tidak menikah hidup berdekatan dalam daerah geografis.
b. Keluarga non tradisional
1. Keluarga dengan orang tua yang mempunyai anak tetapi tidak menikah
(biasanya terdiri dari ibu dan anaknya).
2. Pasangan suami istri yang tidak menikah dan telah mempunyai anak
3. Keluarga gay/ lesbian adalah pasangan yang berjenis kelamin sama hidup
bersama sebagai pasangan yang menikah
4. Keluarga kemuni adalah rumah tangga yang terdiri dari lebih satu pasangan
monogamy dengan anak-anak, secara bersama menggunakan fasilitas, sumber
dan mempunyai pengalaman yang sama.
Menurut Allender dan Spradley (2001)
a. Keluarga tradisional
1) Keluarga Inti (Nuclear Family) yaitu keluarga yang terdiri dari suami, istri, dan
anak kandung atau anak angkat
2) Keluarga besar (extended family) yaitu keluarga inti ditambah dengan keluarga
lain yang mempunyai hubungan darah, misalnya kakek, nenek, paman, dan bibi
3) Keluarga dyad yaitu rumah tangga yang terdiri dari suami istri tanpa anak
4) Single parent yaitu rumah tangga yang terdiri dari satu orang tua dengan anak
kandung atau anak angkat, yang disebabkan karena perceraian atau kematian.
5) Single adult yaitu rumah tangga yang hanya terdiri dariseorang dewasa saja
6) Keluarga usia lanjut yaitu rumah tangga yang terdiri dari suami istri yang
berusia lanjut.
b. Keluarga non tradisional
1) Commune family yaitu lebih dari satu keluarga tanpa pertalian darah hidup
serumah
2) Orang tua (ayah/ ibu) yang tidak ada ikatan perkawinan dan anak hidup bersama
dalam satu rumah
3) Homoseksual yaitu dua individu yang sejenis kelamin hidup bersama dalam
satu rumah tangga
Menurut Carter dan Mc Goldrick (1988) dalam Setiawan dan Darmawan
(2005)
a. Keluarga berantai (sereal family) yaitu keluarga yang terdiri dari wanita dan pria
yang menikah lebih dari satu kali dan merupakan satu keluarga inti.
b. Keluarga berkomposisi yaitu keluarga yang perkawinannya berpoligami dan hidup
secara bersama-sama.
c. Keluarga kabitas yaitu keluarga yang terbentuk tanpa pernikahan
4. Fungsi Keluarga
Fungsi keluarga merupakan hasil atau konsekuensi dari struktur keluarga atau
sesuatu tentang apa yang dilakukan oleh keluarganya :
Fungsi keluarga menurut Friedman (1998) dalam Setiawati dan Darmawan
(2005), yaitu:
a. Fungsi afektif
Fungsi afektif merupakan fungsi keluarga dalam memenuhi kebutuhan
pemeliharaan kepribadian anggota keluarga.
b. Fungsi sosialisasi
Fungsi sosialisasi bercermin dalam melakukan pembinaan sosialisasi pada anak,
membentuk nilai dan norma yang diyakini anak, memberikan batasan perilaku yang
boleh dan tidak boleh pada anak, meneruskan nilai-nilai budaya anak.
c. Fungsi perawatan kesehatan
Fungsi perawatan kesehatan keluarga merupakan fungsi keluarga dalam melindungi
keamanan dan kesehatan seluruh anggota keluarga serta menjamin pemenuhan
kebutuhan perkembangan fisik, mental, dan spiritual, dengan cara memelihara dan
merawat anggota keluarga serta mengenali kondisi sakit tiap anggota keluarga.
d. Fungsi ekonomi
Fungsi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan keluarga seperti sandang, pangan, dan
papan, dan kebutuhan lainnya melalui keefektifan sumber daya keluarga.
e. Fungsi biologis
Fungsi biologis bukan hanya ditujukan untuk meneruskn keturunan tetapi untuk
memelihara dan membesarkan anak untuk kelanjutan generasi selanjutnya.
f. Fungsi psikologis
Fungsi psikologis terlihat bagaimana keluarga memberikan kasih saying dan rasa
aman/ memberikan perhatian diantara anggota keluarga, membina pendewasaan
kepribadian anggota keluarga dan memberikan identitas keluarga.
g. Fungsi pendidikan
Fungsi pendidikan diberikan keluarga dalam rangka memberikan pengetahuan,
keterampilan membentuk perilaku anak, mempersiapkan anak untuk kehidupan
dewasa mendidik anak sesuai dengan tingkatan perkembangannya.
5. Tugas Keluarga
Tugas keluarga merupakan pengumpulan data yang berkaitan dengan ketidakmampuan
keluarga dalam menghadapi masalah kesehatan. Asuhan keperawatan keluarga
mencantumkan lima tugas keluarga sebagai paparan etiologi/ penyebab masalah dan
biasanya dikaji pada saat penjajagan tahap II bila ditemui data malaadapti pada
keluarga. Lima tugas keluarga yang diaksud adalah:
a. Ketidakmampuan keluarga mengenal masalah, termasuk bagaimana persepsi
keluarga terhadap tingkat keparahan penyakit, pengertian, tanda dan gejala, factor
penyebab dan persepsi keluarga terhadap masalah yang dialami keluarga.
b. Ketidakmampuan keluarga mengambil keputusan, termasuk sejauh mana keluarga
mengerti mengenai sifat dan luasnya masalah, bagaimana masalah dirasakan
keluarga, bagaimana keluarga menanggapi masalah yang dihadapi, adakah rasa
takut terhadap akibat atau adakah sifat negative dari keluarga terhadap masalah
kesehatan, bagaimana system pengambilan keputusan yag dilakukan keluarga
terhadap anggota keluarga yang sakit.
c. Ketidakmampuan keluarga merawat anggota keluarga yang sakit, seperti
bagaimana keluarga mengetahui keadaan sakitnya, sifat, dan perkembangan
perawatan yang diperlukan, sumber-sumber yang ada dalam keluarga serta sikap
keluarga terhadap anggota keluarga yang sakit.
d. Ketidakmampuan keluarga memodifikasi lingkungan seperti pentingnya hygiene
sanitasi bagi keluarga, upaya pencegahan penyakit yang dilakukan keluarga. Upaya
pemeliharaan lingkungan yang dilakukan keluarga, kekompakan anggota keluarga
dalam menata lingkungan dalam dan lingkungan luar rumah yang berdampak
terhadap kesehatan keluarga.
e. Ketidakmampuan keluarga memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan, seperti
kepercayaan keluarga terhadap petugas kesehatan dan fasilitas pelayanan
kesehatan, keberadaan fasilitas kesehatan yang ada, keuntungan keluarga terhadap
penggunaan fasilitas kesehatan, apakah pelayanan kesehatan terjangkau oleh
keluarga, adakah pengalaman yang kurang baik yang dipersepsikan keluarga.

B. KONSEP HIPERTENSI
A. Pengertian

Hipertensi berasal dari dua kata yaitu hiper yang berarti tinggi dan tensi yang artinya
tekanan darah. Menurut American Society of Hypertension (ASH), pengertian hipertensi
adalah suatu sindrom atau kumpulan gejala kardiovaskuler yang progresif, sebagai akibat
dari kondisi lain yang kompleks dan saling berhubungan (Sani, 2008).
Hipertensi adalah tekanan darah sistolik sama dengan atau lebih dari 140mmHg dan
tekanan diastolik sama dengan atau lebih dari 90mmHg (WHO, 1999). Pada populasi
manula hipertensi didefinisikan sebagai tekanan sistolik 160 mmHg dan tekanan diastolik
90 mmHg. (Mansjoer Arief, 2009).
B. Etiologi

Berdasarkan penyebabnya hipertensi dibagi menjadi 2 golongan, yaitu: hipertensi


esensial atau hipertensi primer dan hipertensi sekunder.
a. Hipertensi essensial atau hipertensi primer yang tidak diketahui penyebabnya disebut juga
hipertensi idiopatik. Terdapat sekitar 95 % kasus. Banyak faktor yang mempengaruhinya
seperti genetik, lingkungan, hiperaktifitas susunan saraf simpatis, sistem renin angiotensin,
defek dalam ekskresi Na, peningkatan Na dan Ca interseluler, dan faktor-faktor yang risiko
seperti obesitas, alkohol, merokok.
b. Hipertensi sekunder atau hipertensi renal, penyebab spesifiknya diketahui seperti
penggunaan estrogen, penyakit ginjal, hipertensi vaskuler renal, hipertensi
aldosteronisme primer, dan sindrom chusing, feokromositoma, koarkfasio aorta,
hipertensi yang berhubungan dengan kehamilan dan lain-lain (Mansjoer, Arif dkk,
2011).
C. Penyebab

Tekanan sistolik dan diastolik dapat bervariasi pada tingkat individu. Namun
disepakati bahwa hasil pengukuran tekanan darah yang lebih besar dari 140/90 mmHg
adalah hipertensi (WHO, 1999 dan JNC, 2007). Tabel pengklasifikasian hipertensi dapat
dilihat dibawah ini :
Tabel 1 Klasifikasi Hipertensi menurut WHO
Kategori Sistol (mmHg) Diastol (mmHg)
Optimal < 120 < 80
Normal < 130 < 85
Tingkat 1 (hipertensi ringan) 140-159 90-99
Sub grup : perbatasan 140-149 90-94
Tingkat 2 (hipertensi sedang) 160-179 100-109
Tingkat 3 (hipertensi berat) ≥ 180 ≥ 110
Hipertensi sistol terisolasi ≥ 140 < 90
Sub grup : perbatasan 140-149 < 90

Tabel 2 Klasifikasi Hipertensi menurut JNC7 (Joint National Committee 7)


Kategori Sistol (mmHg) Dan/atau Diastole (mmHg)
Normal <120 Dan <80
Pre hipertensi 120-139 Atau 80-89
Hipertensi tahap 1 140-159 Atau 90-99
Hipertensi tahap 2 ≥ 160 Atau ≥ 100

D. Tanda dan Gejala


a. Gelisah
b. Nadi Cepat
c. Sukar Tidur
d. Sesak Nafas
e. Sakit Kepala
f. Lemah dan Lelah
g. Rasa Pegal di bahu
h. Jantung berdebar-debar
i. Pandangan menjadi kabur
j. Mata berkunang-kunang

E. Faktor Resiko Hipertensi

 Faktor yang dapat dikendalikan atau dimodifikasi


a. Keturunan/ genetik
b. Usia
c. Jenis kelamin
d. Ras/ etnis
e. Tipe Kepribadian
 Faktor yang dapat dikendalikan atau dimodifikasi
a. Makan berlebihan
b. Obesitas
c. Tidak berolahraga
d. Merokok
e. Minum alcohol
F. Bahaya Hipertensi
Hipertensi dapat menimbulkan kerusakan organ tubuh, naik secara langsung
maupun secara tidak langsung. Kerusakan organ target yang umum ditemui pada pasien
hipertensi adalah:
a. Penyakit ginjal kronis
b. Jantung
- Hipertrofi ventrikel kiri
- Angina atau infark miokardium
- Gagal jantung
c. Otak
- Strok
- Transient Ischemic Attack (TIA)
d. Penyakit arteri perifer
e. Retinopati
Beberapa penelitian menemukan bahwa penyebab kerusakan organ-organ tersebut
dapat melalui akibat langsung dari kenaikan tekanan darah pada organ, atau karena efek
tidak langsung, antara lain adanya autoantibodi terhadap reseptor ATI angiotensin II,
stress oksidatif, down regulation dari ekspresi nitric oxide synthase, dan lain-lain.
Penelitian lain juga membuktikan bahwa diet tinggi garam dan sensitivitas terhadap
garam berperan besar dalam timbulnya kerusakan organ target, misalnya kerusakan
pembuluh darah akibat meningkatnya ekspresi transforming growth factor-β (TGF-β)
(Yogiantoro, 2006).
Hipertensi dapat menimbulkan kerusakan organ tubuh, naik secara langsung
maupun secara tidak langsung. Kerusakan organ target yang umum ditemui pada pasien
hipertensi adalah:
f. Penyakit ginjal kronis
g. Jantung
- Hipertrofi ventrikel kiri
- Angina atau infark miokardium
- Gagal jantung
h. Otak
- Strok
- Transient Ischemic Attack (TIA)
i. Penyakit arteri perifer
j. Retinopati
Beberapa penelitian menemukan bahwa penyebab kerusakan organ-organ tersebut
dapat melalui akibat langsung dari kenaikan tekanan darah pada organ, atau karena efek
tidak langsung, antara lain adanya autoantibodi terhadap reseptor ATI angiotensin II,
stress oksidatif, down regulation dari ekspresi nitric oxide synthase, dan lain-lain.
Penelitian lain juga membuktikan bahwa diet tinggi garam dan sensitivitas terhadap
garam berperan besar dalam timbulnya kerusakan organ target, misalnya kerusakan
pembuluh darah akibat meningkatnya ekspresi transforming growth factor-β (TGF-β)
(Yogiantoro, 2006).

G. Cara Pencegahan
Pencegahan Hipertensi dapat dilakukan sendiri dengan :
a. Hindari Obesitas
b. Hindari merokok
c. Usahakan pikiran selalu tenang dan santai
d. Berolahraga secara teratur
e. Sering memakan buah-buahandansayuran
f. Kurangi minuman yang mengandung kafein (Kopi)
g. Hindari minuman beralkohol
h. Kurangi makanan yang banyak mengandung garam (Asin)
i. Rutin Kontrol ke tenaga kesehatan terdekat jika memang mempunyai riwayat
hipertensi

C. ASUHAN KEPERAWATAN
Proses keperawatan adalah metode ilmiah yang digunakan secara sistimatis untuk
mengkaji dan menentukan masalah kesehatan dan keperawatan keluarga,melaksanakan
asuhan keperawatan ,serta implementasi keperawatan terhadap keluarga sesuai rencana
yang telah direncanakan /dibuat serta mengevaluasi hasil asuhan keperawatan yang telah
dilaksanakan .
1. Pengkajian
a. Penjajakan pertama
Tujuan penjajakan tahap pertama adalah untuk mengetahui masalah yang dihadapi
oleh keluarga.
1) Pengumpulan data
Merupakan informasi yang diperlukan untuk mengukur masalah kesehatan
,status kesehatan, kesanggupan keluarga dalam memberikan perawatan pada
anggota keluarga .
a) Struktur dan sifat anggota keluarga
(1) Anggota –anggota keluarga dan hubungan dengan kepala keluarga.
(2) Data demografi : umur,jenis kelamin, kedudukan dalam keluarga.
(3) Tempat tinggal masing-masing anggota keluarga,
(4) Macam struktur anggota keluarga apakah matrikat,patrikat berkumpul
atau menyebar.
(5) Anggota keluarga yang menonjol dalam pengambilan keputusan.
(6) Hubungan dengan anggota keluarga termasuk dalam perselisihan yang
nyata ataupun tidak nyata.
(7) Kegiatan dalam hidup sehari-hari,kebiasaan tidur,kebiasaan makan dan
penggunaan waktu senggang
b) Faktor sosial budaya dan ekonomi
(1) Pekerjaan
(2) Penghasilan
(3) Kesanggupan untuk memenuhi kebutuhan primer
(4) Jam kerja ayah dan ibu
(5) Siapa yng menentukan keuangan dan penggunaannya
c) Faktor lingkungan
(1) Perumahan
(a) Luas rumah
(b) Pengaturan dalam rumah
(c) Persediaan sumber air
(d) Adanya bahan kecelakaan
(e) Pembuangan sampah
(2) Macam lingkungan / daerah rumah
(3) Fasilitas social dan lingkungan
(4) Fasilitas transportasi dan kesehatan
d) Riwayat kesehatan
(1) Riwayat kesehatan dari tiap anggota keluarga
(2) Upaya pencegahan terhadap penyakit
(3) Sumber pelayanan kesehatan
(4) Perasepsi keluarga terhadap peran pelayanan dari petugas kesehatan.
(5) Pengalaman yang lalu dari petugas kesehatan.
e) Cara pengumpulan data
i. Oservasi langsung : dapat mengetahui keadaan secara langsung.
1. Keadaan fisik dari tiap anggota keluarga.
2. Komunikasi dari tiap anggota keluarga
3. Peran dari tiap anggota keluarga
4. Keadaan rumah dan lingkungan
ii. Wawancara
Dapat mengetahui hal-hal :
1. Aspek fisik
2. Aspek mental
3. Sosial budaya
4. Ekonomi
5. Kebiasaan
6. Lingkungan
iii. Studi dokumentasi antara lain
1. Perkembangan kesehatan anak
2. Kartu keluarga
3. Catatan kesehatan lainnya
iv. Dilakukan terhadap angota keluarga yang mengalami masalah
kesehatan dan keperawatan antara lain :
1. Tanda-tanda penyakit
2. Kelainan organ tubuh
2. Analisa data
Analisa data bertujuan untuk mengetahui masalah kesehatan yang dialami oleh
keluarga. Dalam menganalisis data dapat menggunakan Typologi masalah dalam
family healt care.
Permasalahan dapat dikategorikan sebagai berikut :
a) Ancaman kesehatan adalah : keadaan yang dapat memungkinkan terjadinya
penyakit,kecelakaan atau kegagalan dalam mencapai potensi kesehatan.
Contoh :
(1) Riwayat penyakit keturunan dari keluarga seperti hipertensi
(2) Masalah nutrisi terutama dalam pengaturan diet
b) Kurang atau tidak sehat adalah : kegagalan dalam memantapkan kesehatan.
Contoh:
(1) Adakah didalam keluarga yang menderita penyakit hipertensi
(2) Siapakah yang menderita penyakit hipertensi
c) Krisis adalah : saat- saat keadaan menuntut terlampau banyak dari indivdu atau
keluarga dalam hal penyesuaian maupun sumber daya mereka.
Contoh :
Adakah anggota keluarga yang meninggal akibat hipertensi.
3. Penentuan prioritas masalah
Didalam menentukan prioritas masalah kesehatan keluarga menggunakan sistim
scoring berdasarkan tipologi masalah dengan pedoman sebagai berikut
No Kriteria Skala Bobot Skoring Rasional
1 Sifat Masalah 1
- Aktual 3
- Resiko 2
- Potensial/ weliness 1
2 Kemungkinan Masalah 2
dapat diubah
- Mudah 2
- Sebagian 1
- Tidak dapat 0
3 Potensial Masalah 1
untuk dicegah
- Tinggi 3
- Cukup 2
- Rendah 1
4 Menonjolnya Masalah 1
- Segera 2
- Tidak perlu segera 1
- Tidak dirasakan 0
Total
Skoring :
1. Tentukan skor untuk tiap criteria
2. Skor dibagi dengan angka tertinggi dan kalikanlah dengan bobot
𝑠𝑘𝑜𝑟
× 𝑏𝑜𝑏𝑜𝑡 =
𝑎𝑛𝑔𝑘𝑎 𝑡𝑒𝑟𝑡𝑖𝑛𝑔𝑔𝑖
3. Jumlahkanlah skor untuk semua criteria ,skor tertinggi 5 sama dengan seluruh
bobot
b. Penjajakan pada tahap kedua
Tahap ini menggambarkan sampai dimana keluarga dapat melaksanakan tugas-tugas
kesehatan yang berhubungan dengan ancaman kesehatan,kurang /tidak sehat dan krisis
yamg dialami oleh keluarga yang didapat pada penjajakan tahap pertama.
Pada tahap kedua menggambarkan ketidak mampuan keluarga untuk
melaklasanakan tugas-tugas kesehatan serta cara pemecahan masalah yang dihadapi. Karena
ketidakmampuan keluarga dalam melaksanakan tugas-tugas kesehatan dan
keperawatan,maka dapat dirumuskan diagnosa keperawatan secara umum pada keluarga
yang menderita penyakit hipertensi antara lain :
1) Ketidak sanggupan keluarga mengenal masalah penyakit hipertensi berhubungan dengan
ketidaktahuan tentang gejala hipertensi
2) Ketidaksanggupan keluarga dalam mengambil keputusan dalam melaksanakan tindakan
yang tepat untuk segera berobat kesarana kesehatan bila terkena hipertensi berhubungan
dengan kurang pengetahuan klien/keluarga tentang manfaat berobat kesarana kesehatan
3) Ketidak mampuan merawat anggota keluarga yang sakit berhubungan dengan kurangnya
pengetahuan tentang penyakit hipertensi ,cara perawatan dan sifat penykit hipertensi .
4) Keitdaksanggupan memelihara lingkungan rumah yang dapat mempengaruhi kesehatan
keluarga berhubungan dengan tadak dapat melihat keuntungan dan manfaat
pemeliharaan lingkungan serta kitidaktahuan tentang usaha pencegahan penyakit
hipertensi.
5) Ketidakmampuan menggunakan sumber yang ada di masyarakat guna memelihara
kesehatan berhubungan dengan kurangnya pengetahuan klien dan keluarga tersedianya
fasilitas kesehatan seperti JPS.,dana sehat dan tidak memahami manfaatnya.
Adapun diagnosa keperawatan yang berhubungan pengaturan diet pada klien
hipertensi adalah :
1) Ketidaktahuan mengenal masalah nutrisi sebagai salah satu penyebab terjadinya
hipertensi adalah berhubungan dengan kurangnya pengetahuan cara pengaturaan diet
yang benar.
2) Ketidak sanggupan keluarga memilih tindakan yang tepat dalam pengaturan diet bagi
penderita hipertensi berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang cara
pengaturan diet yang benar.
3) Ketidakmampuan untuk penyediaan diet khusus bagi klien hipertensi berhubungan
dengan kurangnya pengetahuan keluarga tentang cara pengolahan makanan dalam
jumlah yang tepat.
4) Ketidakmampuan meenyediakan makanan rendah garam bagi penderita hipertensi
berhubungan dengan kurangnya pengetahuan dan kebiasaan sehari-hari yang
mengkonsumsi makanan yang banyak mengandung garam
5) Ketidaktahuan menggunakan manfaat tanaman obat keluarga berhubungan dengan
kurangnya pengetahan tentang manfaat tanaman obat tersebut.

4. Perencanaan
Rencana keperawatan keluarga adalah sekumpulan tindakan keperawatan yang
ditentukan oleh perawat untuk dilaksanakan dalam memecahkan masalah kesehatan
dan keperawatan yang telah diidentifikasi (Nasrul Effendi,1998 : 54 )
Rencana tindakan dari masing –masing diagnosa keperawatan khusus diet pada klien
hipertensi adalah :
a. Ketidakmampuan mengenal masalah nutrisi sebagai salah satu penyebab
terjadinya hipertensi berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang cara
pengaturan diet yang benar.
1) Tujuan
Keluarga mampu mengenal cara pengaturan diet bagi anggota keluarga yang
menderita penyakit hipertensi.
2) Kriteria hasil
a) Keluarga mampu menyebutkan secara sederhana batas pengaturan diet bagi
anggota kelurga yng menderita hipertensi.
b) Keluarga dapat memahami danmampu mengambil tindakan sesuai anjuran.
3) Rencana tindakan
a) Beri penjelasan kepada keluarga cara pengaturan diet yang benar bagi
penderita hipertensi.
b) Beri penjelasan kepada klien dan keluarga ,bagaiman caranya menyediakan
makan-makanan rendah garam bagi penderita hipertensi .
4) Rasional
a) Dengan diberikan penjelasan diharapkan keluarga menimbulkan peresepsi
yang negatip sehingga dapat dijadikan motivasi untuk mengenal masalah
khususnya nutrisi untuk klieh hiperetensi
b) Dengan diberikan penjelasan keluarga mampu menyajikan makanan yang
rendah garam.
b. Ketidakmampuan dalam mengambil keputusan untuk mengatur diet terhadap
anggota keluarga yang menderita hipertensi berhubungan dengan kurangnya
pengetahuan keluarga tentang manfaat dari pengaturan diet
1) Tujuan
Keluarga dapat memahami tentang manfaat pengaturan diet untuk klien
hipertensi
2) Kriteria hasil
a) Keluarga mampu menjelaskan tentang manfaat pengaturan diet bagi klien
hiperetensi
b) Keluarga dapat menyediakan makanan khusus untuk klien hipertensi
3) Rencana tindakan
a. Beri penjelasan kepada keluarga tentang manfaat pengaturan diet untuk
klien hipertensi.
b. Beri penjelasan kepada keluarga jenis untuk klien hipertensi.
4) Rasionalisasi
a) Dengan diberi penjelasan diharapkan keluarga mampu melaksanakan cara
pengaturan diet untuk klien hipertensi
b) Keluarga diharapkan mengetahui jenis makanan untuk penderita hipertensi.
c. Ketidakmampuan keluarga untuk menyediakan diet khusus bagi penderita
hipertensi berhubungan kurangnya pengetahuan tentang cara pengolahan makanan
dalam jumlah yang benar .
1) Tujuan
Keluarga mampu menyediakan diet khusus untuk penderita hipertensi.
2) Kriteria hasil
a) Kilen dan keluarga mampu menyediakan diet khusus untuk penderita
hipertensi.
b) Keluarga mampu menyajikan makanan dalam jumlah yang tepat bagi klien
hipertensi.
3) Rencana tindakan
a) Berikan penjelasan kepada klien dan keluarga cara pengolahan makanan
untuki klien hipertensi.
b) Beri penjelasan kepada klien dan keluarga jumlah makanan yang dikonsumsi
oleh klien hipertensi.
c) Beri contoh sederhana kepada klien dan keluarga untuk memnbuat makanan
dengan jumlah yang tepat.
4) Rasionalisasi.
a) Dengan diberikan penjelasan diharapkanklien dan keluarga dapat cara
pengolahan makanan untuk klien hipertensi.
b) Diharapkan klien dapat mengkonsumsi makanan sesuai yang dianjurkan.
c) Dengan diberikan contoh sederhana caara membuat makanan dalam
jumlah yang tepat kilen dan keluarga mampu menjalankan
/melaksanakaannya sendiri.
d. Ketidakmampuan menyediakan makanan rendah garam bagi penderita hipertensi
berhubungan dengan kurang pengetahuan dan kebiasaan sehari-hari yang
mengkonsumsi makanan yang banyak mengandung garam.
1) Tujuan
Seluruh anggota keluarga membiasakan diri setiap hari mengkonsumsi
makanan yang rendah garam.
2) Kriteria Hasil
a) Klien dan keluarga dapat menjelaskan manfaat makanan yang rendah garam
b) Klien dan keluarga dapat menjelaskan jenis makanan yang banyak
mengandung garam.
c) Klien dan keluarga mau berubah kebiasaan dari mengkonsumsi makanan
yang banyak mengandung garam.
3) Rencana Tindakan
a) Beri penjelasan kepada klien dan keluarga tentang pengaruh garan terhadap
klien hipertensi.
b) Beri penjelasan kepada klien dan keluarga jenis makana yang banyak
mengandung garam.
c) Beri motivasi kepada klien dan keluarga bahwamereka mampu untuk
merubah kebiasaan yang kurang baik tersebut yang didasari padea niat dan
keinginan untuk merubah.

4) Rasional
a) Diharapkan klien dan keluarga memahami dan mengerti tentang pengaruh
garam terhadap klien hipertensi
b) Diharapkan klien dan keluarga dapat menghindari makanan yang banyak
mengandung garam.
c) Dengan diberi motivasi diharapkan klien dan kelarga mau merubah sikapnya
dari yang tidak sehat menjadi sehat
e. Ketidakmampuan menggunakan sumber pemanfaatan tanaman obat keluarga
berhubungan dengan kurang pengetahuan guna dari tanaman obat keluarga.
1) Tujuan
Diharapkan klien dan keluarga mampu memanfaatkan sumber tanaman obat
keluarga.
2) Kriteria hasil
Klien dan keluarga dapat menyebutkan tanaman obat yang dapat membantu
untuk pengobatan hipertensi
3) Rencana tindakan
a) Beri penjelasan kepada klien dan keluarga manfaat Toga.
b) Beri penjelasan kepada klien keluarga macam dan jenis tumbuhan /tanaman
yang dapat membantu menurunkan tekanan darah
c) Anjurkan kepada kepada klien dan keluarga agar berusaha memiliki
tanaman obat keluarga .
4) Rasional
a) Agar klien dan keluarga dapat memahami manfaat Toga.
b) Klien dan keluarga dapat mengetahui jenis tanaman yang dapat menurunkan
tekanan darah.
c) Dengan memiliki Toga sendiri klien dapat mengkonsumsi tanaman obat
tersebut kapan saja diperlukan.
5) Pelaksanaan
Pelaksanaan asuhan keperawatan pada anggota keluarga yang menderita
hipertensi sesuai rencana yang telah disusun.
Pada peleksanaan asuhan keperawatan keluarga dapat dilaksanakan antara lain
:
a) Deteksi dini kasus baru.
b) Kerja sama lintas program dan lontas sektoral
c) Melakukan rujukan
d) Bimbingan dan penyuluhan.
5. Evaluasi
Penilaian adalah tahap yang menentukan apakah tujuan tercapai (out put ) dan
penilaian selalu berkaitan dengan tujuan.Evaluasi juga dapat meliputi penilaian
input dan porses.
Evaluasi sebagai suatu proses yang dipusatkan pada beberapa dimensi ;
a) Bila evaluasi dipusatkan pada tujuan kita memperhatikan hasil dari tindakan
keperawatan.
b) Bila evaluasi digunakan pada ketepatgunaan (effisiensi ),maka dimensinya
dapat dikaitkaan dengan biaya.,waktu,tenaga dan bahan.
c) Kecocokan (Apprioriatenes ) dari tindakan keperawatan adalah kesanggupan
dari tindakan keperawatan untuk mengatasi masalah.
d) Kecukupan (Adecuacy) dari tindakan keperawatan (Family Healt )
BAB 3
ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA

Lampiran :
FORMULIR PENGKAJIAN DATA DASAR KELUARGA
A. Identitas klien /keluarga:
C. Struktur Keluarga
Nama : Ny. J Pola Komunikasi : Baik  Disfungsional
Umur : 75 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan Peran Dlm Keluarga : Tdk Ada Masalah  Ada Masalah
Suku : Jawa Pengambilan keputusan : Tdk ada masalah  Ada masalah
Alamat : Jl. Teluk Mandar No. 46 Nilai/Norma KLg : Tdk ada konflik nilai 
No. Telp :-
B. Riwayat Perkembangan Keluarga Ada Konflik 
Tahap Perkembangan Klg Saat Ini: D. Fungsi Keluarga
- Stage 8 : Aging Family (Keluarga usia lanjut) Fungsi Afektif : Berfungsi  Tdk Berfungsi
Tugas Perkembangan Keluarga: Fungsi Sosial : Berfungsi  Tdk Berfungsi
Dapat dijalankan  Tdk Dpt Dijalankan
Fungsi Ekonomi : Baik  Kurang Baik
Bila Tdk dijalankan, sebutkan : -
Fungsi Perawatan Kesehatan :
- Pengetahuan Tentang Masalah Kes : Tidak
- Pencegahan penyakit : Tidak
- Perawatan penyakit : Tidak
- Pemanfaatan layanan Kesehatan : Tidak

E. Pola Koping Keluarga :


Efektif  Tidak Efektif

Daftar Anggota keluarga :


No Nama (Inisial) Umur Gender Hubungan Pendidikan Pekerjaan
(L/P ) Dg KK
1 Ny. D 75 Thn P Kepala Tidak sekolah Ibu Rumah Tangga
Keluarga
2 Ny. S 30 Thn P Anak SMA Wiraswasta

Genogram Keluarga :

Ket :
: Tinggal Satu Rumah : Perempuan : Pasien

: Laki – Laki : Meninggal


Ny. J tinggal bersama anaknya yaitu Ny. S yang berusia 30 Tahun. Dalam keluarga tidak ada anggota keluarga yang
mengalami sakit hipertensi dan penyakit menular. Didalam keluarga ini untuk pengambil keputusan yaitu kepala keluarga yang
dilakukan dengan cara bermusyawarah dengan anggota keluarga.
Tipe Keluarga :
Keluarga Inti H. Spiritual:
Keluarga Besar Taat beribadah Ya
Keluarga Campuran Kepercayaan yg berlawanan
Single Parent  dengan kesehatan Tidak
F. Pola Aktifitas sehari-hari: Distress Spiritual Tidak
Pola Makan kurang I. Psikososial:
Pola Minum baik Keadaan emosi pada saat ini:
Istirahat baik  Marah Tidak
Pola BAK baik  Sedih Tidak
Pola BAB baik  Ketakutan Tidak
Pola Kebersihan diri kurang  Putus asa Tidak
Olahraga baik  Stres Tidak
Tingkat kemandirian baik Kurang interaksi dg orang lain Ya
G. Perilaku Tidak sehat: Menarik diri dg lingkungan Tidak
Merokok Tidak Konflik dengan keluarga Tidak
Minum kopi Tidak Penurunan harga diri Tidak
Mengkonsumsi garam berlebih Ya Gangguan gambaran diri Tidak
Mengkonsumsi gula berlebih Ya J. Faktor resiko masalah kesehatan:
Minuman beralkohol/obat Tidak Tidak pernah/jarang periksa kes. Ya
dan zat adiktif Sosial ekonomi kurang Ya
Rumah/lingkungan tdk sehat Ya
Sarana Kesehatan Yang digunakan: Hubungan klg tidak harmonis Ya
- Posyandu Lansia Obesitas Tidak
Keluhan utama yang dirasakan: Status gizi kurang
- Pasien mengeluh nyeri pada leher bagian belakang Ya

K. PEMERIKSAAN FISIK
Tanda vital:
TD : 170/100 mmHg Nadi : 80 x/mnt
RR : 22 x/mnt Suhu : 36,6oC
BB : 41 Kg TB : 153 cm
Indeks massa tubuh : 17,5
Keadaan umum : Baik Lemah 
Status mental Sistem kardiovaskuler Sistem Pernafasan
Bingung x Aritmia x Stridor x
Cemas x Nyeri dada x Wheezing x
Stres x Distensi vena jugularis x Ronchi x
Depresi x Jantung berdebar x Akumulasi Sputum x
Menarik diri x

Sistem integumen: Sistem perkemihan Sistem Muskuloskeletal


Cianosis x Disuria x Tonus otot kurang x
Akral Dingin x Hematuria x Paralisis x
Diaporesis x Frekuensi x Hemiparesis x
Jaundice x Retensi x ROM kurang x
Luka x Inkontinensia x Gangg.Keseimbangan x
Mukosa mulut x
Kapiler refil time : x
lebih 2 dtk
Sistem pencernaan Sistem persyarafan:
Intake cairan kurang x Nyeri kepala 
Mual/muntah x Pusing 
Nyeri perut x Tremor x
Muntah darah x Reflek pupil anisokor x
Flatus x Paralisis x
Distensi abdomen x Anestesi daerah perifer x
Colostomy x
Diare x
Konstipasi x
Bising usus x
Terpasang Sonde x
Riwayat pengobatan
Alergi Obat x Sebutkan : Tidak alergi obat
Jenis obat yang dikonsumsi : Captopril 25 mg

L. Tingkat Kemandirian Dalam Kehidupan Sehari-hari, dengan memberikan tanda √ pada kolom yang sesuai.
No. Jenis kegiatan sehari-hari Mandiri Dengan bantuan
1. Makan & minum 
2. Berpindah dari kursi ke tempat tidur dan sebaliknya 
3. Kebersihan diri; cuci muka, menyisir, mencukur dan 
aktifitas di kamar mandi.
4. Berjalan dijalan yang datar 
5. Naik turun tangga 
6. Berpakaian termasuk mengenakan sepatu 
7. Mengontrol buang air besar 
8. Mengontrol buang air kecil 
9. Olahraga/latihan fisik 
M. PENGKAJIAN LINGKUNGAN :
1. Ventilasi : (1) < 10 % luas lantai  (2) 10 % luas lantai
2. Pencahayaan : (1) Baik (2) kurang 
3. Lantai : (1) semen  (2) tegel (3) keramik (4) tanah (5) lainnya, …………
4. Kebersihan rumah : (1) baik (2) kurang 
5. Jenis bangunan : (1) Permanen  (2) Semi permanen (3) non permanent

Malang, 21 Februari 2019


Nama Perawat/Tanda tangan
ANALISA DATA /PENGKAJIAN FOKUS
No Data Fokus Penyebab Masalah
1. Ds : Ketidakmampuan Nyeri akut
- Ny. J mengatakan sering keluarga mengenal
mengeluh sakit kepala masalah kesehatan
- Ny. S mengatakan kurang
mengetahui tentang
hipertensi
P = nyeri kepala karena hipertensi
Q = seperti ditekan cekot-cekot
R = kepala+tengkuk kepala
S= skala nyeri 4
T = terus meneruus

Do :
- Keadaan umum lemah
- Kesadaran CM GCS 456
- Skala nyeri 4
- Grimace (+)
- Tampak memegangi area
nyeri
- Riwayat ht 20 tahun yg lalu
- TD= 170/100 mmHg
- N= 100 x/menit
- RR= 22 x/mnt
- S= 36.6 oC

2. Ds : Kurang informasi Defisiensi pengetahuan


- Ny. J sering mengeluh
pusing
- Ny. J jarang memeriksakan
TD
- Keluarga Ny J tidak mengerti
tentang diet HT dan kurang
mengerti tentang HT
- Ny J jarang kontrol ke
pelayanan kesehatan
Do :
- Keadaan umum lemah
- Kesadaran CM GCS 456
- TD = 170/100 mmHg
- N = 100 x/mnt
- RR = 22 x/mnt
- S = 36.6
- Ny. J banyak bertanya
- Kurang pengetahuan
3. Ds : Kurang pengetahuan Hambatan pemeliharaan
- Ny. J mengatakan belum tentang pemeliharaan rumah
sempat membersihkan rumah
rumahnya karena pusing
Do :
- Kesulitan mempertahankan
lingkungan yang nyaman
- Lingkungan rumah tidak
bersih dan berdebu
- Pencahayaan kurang
- Ventilasi kurang
3. PERUMUSAN DIAGNOSA KEPERAWATAN KELUARGA

NO Diagnosa Keperawatan Keluarga ( P E S )


1 Nyeri akut berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga mengenal masalah kesehatan
ditandai dengan Ny. J sering mengeluh nyeri kepala

2 Defisiensi pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi ditandai dengan kel


Ny. J kurang mengetahui tentang HT

3 Hambatan pemeliharaan rumah berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang


pemeliharaan rumah ditandai dengan lingkungan rumah dan sekitar rumah tidak bersih

PERENCANAAN
a. Prioritas diagnosa keperawatan keluarga ( Perhitungan skor terlampir )
Prioritas Diagnosa keperawatan keluarga Skor
1 Nyeri akut berhubungan dengan ketidakmampuan 5
keluarga mengenal masalah kesehatan ditandai dengan
Ny. J sering mengeluh nyeri kepala

2 Defisiensi pengetahuan berhubungan dengan kurangnya 4


informasi ditandai dengan kel Ny. J kurang mengetahui
tentang HT

3 Hambatan pemeliharaan rumah berhubungan dengan 3 1/6


kurang pengetahuan tentang pemeliharaan rumah
ditandai dengan lingkungan rumah dan sekitar rumah
tidak bersih
SKORING PRIORITAS DIAGNOSA KEPERAWATAN KELUARGA

Diagnosa Keperawatan keluarga:


Nyeri akut berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga mengenal masalah kesehatan
SKORE PEMBENARAN
KRITERIA
1. Sifat masalah ( bobot 1 ) 3/3 x 1 Nyeri kepala yang dirasakan karena
=1 peningkatan tekanan vaskular cerebral (HT)
Skala :
3 = aktual
2 = risiko
1 = sejahtera

2. Kemungkinan masalah dapat diubah 2/2 x 2 dengan kontrol yang teratur dan minum
( bobot 2 )
=2 obat teratur dapat menurunkan tekanan
Skala : darah dan mengurangi keluhan yang
2 = Mudah
dirasakan
1 = Sebagian
0 = Tidak dapat

3. Potensi masalah untuk dicegah 2/3 x 1 Rasa nyeri dapat dikurangi melalui
(bobot 1) pengobatan dan terapi atau perawatan yang
= 2/3
tepat
Skala :
3 = Tinggi
2 = Cukup
1 = Rendah

4. Menonjolnya masalah ( bobot 1 ) 2/2 x 1 Ny. J menyadari jika mempunyai masalah


=1 dampak dari hipertensi yang dialami. Maka
Skala :
2 = Berat , segera ditangani NY. J segera mengatasi masalah tersebut
1 = Tidak perlu segera ditangani
0 = Tidak dirasakan
SKORING PRIORITAS DIAGNOSA KEPERAWATAN KELUARGA

Diagnosa Keperawatan keluarga:


Defisiensi pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi
SKORE PEMBENARAN
KRITERIA
5. Sifat masalah ( bobot 1 ) 3/3 x 1 Kurang pengetahuan dapat dilihat dari
=1 antusias keluarga bertanya tentang
Skala :
3 = aktual masalah HT
2 = risiko
1 = sejahtera

6. Kemungkinan masalah dapat diubah 1/2 x 2 Keluarga kooperatif saat mendengarkan


( bobot 2 )
=1 penjelasan yang diberikan petugas. Namun
Skala : Ny. J sudah terlalu tua sehingga sedikit sulit
2 = Mudah
untuk benar-benar dapat memahami
1 = Sebagian
0 = Tidak dapat masalah yang dijelaskan

7. Potensi masalah untuk dicegah 3/3 x 1 Keinginan keluarga untuk mengetahui tentang
(bobot 1) pengertian, penyebab, cara mengatasi dan
=1
akibat dari hipertensi.
Skala :
3 = Tinggi
2 = Cukup
1 = Rendah

8. Menonjolnya masalah ( bobot 1 ) 2/2 x 1 Keluarga mengerti jika dirinya menderita


=1 penyakit HT tetapi belum terlalu paham
Skala :
2 = Berat , segera ditangani tentang hioertensi sehingga perlu diberi
1 = Tidak perlu segera ditangani
informasi agar masalah yang dialami klien
0 = Tidak dirasakan
dapat ditangani
SKORING PRIORITAS DIAGNOSA KEPERAWATAN KELUARGA

Diagnosa Keperawatan keluarga:


Hambatan pemeliharaan rumah berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang pemeliharaan rumah
SKORE PEMBENARAN
KRITERIA
9. Sifat masalah ( bobot 1 ) 3/3 x 1 Lingkungan rumah yang tidak sehat dapat
=1 menimbulkan penyakit dan dapat
Skala :
3 = aktual berdampak buruk pada keluarga
2 = risiko
1 = sejahtera

10. Kemungkinan masalah dapat diubah 1/2 x 2 Meningkatkan sumber-sumber yang ada di
( bobot 2 )
=1 keluarga butuh waktu dan biaya yang lebih.
Skala : Sedangkan Keluarga Ny. J merupakan klien
2 = Mudah
dengan keterbatasan ekonomi
1 = Sebagian
0 = Tidak dapat

11. Potensi masalah untuk dicegah 2/3 x 1 Keluarga tidk mengerti tentang pemeliharaan
(bobot 1) rumah dengan benar dan klien merupakan
= 2/3
lansia yang tinggl dengan 1 anaknya,
Skala : sedangkan anaknya lebih banyak
3 = Tinggi menghabiskan waktu diluar bekerja
2 = Cukup
1 = Rendah

12. Menonjolnya masalah ( bobot 1 ) 1/2 x 1 Keluarga mengerti dan paham dengan
= 1/2 masalah kesehatan yang ada namun perlu
Skala :
2 = Berat , segera ditangani waktu dan perencanaan dan biaya yang
1 = Tidak perlu segera ditangani
cukup untuk menangani masalah tersebut
0 = Tidak dirasakan
FORMAT RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA
Nama Keluarga : kel Ny. J
Puskesmas : Pandanwangi
No Tujuan umum dan khusus Kriteria hasil Rencana tindakan
Diagnosi
s
Nyeri TUM : 1. Melakukan teknik relaksasi dan 1. Anjurkan Ny. J melakukan
akut Setelah dilakukan asuhan distraksi untuk mengurangi teknik relaksasi/distraksi
keperawatan klien dapat nyeri (psikomotor) 2. Anjurkan Ny. J untuk
(Dx 1) mengontrol rasa nyerinya atau 2. Mempertahankan posisi nyaman menghindari perubahan
hilang. (psikomotor) posisi secara mendadak
3. Mengkonsumsi makanan sesuai 3. Anjurkan Ny. J tetap
TUK : dengan diet hipertensi (verbal menjaga pola makan
Setelah dilakukan kunjungan psikomotor) dengan baik dan
rumah 2 kali diharapkan 4. Memaksimalkan istirahat mengkonsumsi makanan
keluarga mampu memberikan (psikomotor) sesuai dengan diet
keperawatan pada anggota 5. Datang kepelayanan kesehatan hipertensi
keluarga yang sakit puskesmas (psikomotor) 4. Anjurkan Ny. J untuk
1. Klien mampu 6. Minum obat secara teratur mengatur jadwal tidur nya
melakukan/mengontrol nyeri (psikomotor) 5. Anjurkan Ny. J untuk
yang dirasa dengan manajemen 7. Memberi kompres hangat pada kontrol pada pelayanan
nonfarmakologi nyeri (psikomotor) kesehatan secara teratur
2. Klien mampu 6. Anjurkan Ny. J untuk
mempertahankan posisi mengkonsumsi obat secara
senyaman mungkin teratur
3. Klien mampu menjaga pola 7. Anjurkan keluarga untuk
makan dan mengkonsumsi memberi kompres hangat
makanan sesuai dengan diet pada tengkuk saat nyeri
HT
4. klien mampu istirahat
dengan baik
5. Klien mampu memanfaatkan
fasilitas kesehatan yang ada
6. Klien mampu minum obat
dengan teratur
7. Klien mampu mengontrol
atau mengurangi nyeri yang
dirasa
FORMAT CATATAN KEMAJUAN KEPERAWATAN
No
Diagn Tanggal/Jam Implementasi dan Perkembangan (SOAPIE) TTD
osis
Nyeri 21 Feb 2019 Implementasi
akut 14.00 WIB
1. Menganjurkan Ny. J melakukan teknik relaksasi/distraksi
(Dx - Ny. J dapat menirukan dan melakukan nafas dalam
1) dan senam hipertensi
2. Menganjurkan Ny. J untuk menghindari perubahan posisi
secara mendadak
- Ny J dan keluarga mengerti
3. Menganjurkan Ny. J tetap menjaga pola makan dengan
baik dan mengkonsumsi makanan sesuai dengan diet
hipertensi
4. Menganjurkan Ny. J untuk mengatur jadwal tidur nya
5. Menganjurkan Ny. J untuk kontrol pada pelayanan
kesehatan secara teratur
6. Menganjurkan Ny. J untuk mengkonsumsi obat secara
teratur
- Captopril 25 mg
7. Menganjurkan keluarga untuk memberi kompres hangat
pada tengkuk saat nyeri

Evaluasi
S : Ny. J mengatakan nyeri kepala yang dirasa berkurang
dan akan minum obat teratur
- P : nyeri kepala karena hipertensi
- Q : seperti ditekan-tekan cekot-cekot
- R : tengkuk kepala
- S : skala nyeri 3
- T : hilang timbul
O:
- Keadaan umum lemah
- Kesadaran CM gcs 456
- Grimace (+), nampak memegangi area nyeri
- Klien dapat melakukan teknik relaksasi dan distraksi
dengan dibantu
- Klien dapat menjelaskan kembali apa yang
dijelaskan perawat dengan dibantu
- Menyatakan akan minum obat teratur
- TD = 160/90 mmHg
- N = 96 x/mnt
- RR = 20 x/mnt
- S = 36.6
A:
Masalah teratasi
P:
Hentikan intervensi
FORMAT RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA
Nama Keluarga : Ny. J
Puskesmas : Pandanwangi
No Diagnosis Tujuan umum dan Kriteria hasil Rencana tindakan
khusus
2 TUM: 1. Menjelaskan kembali 1. Kaji pengetahuan klien
Defisiensi Setelah dilakukan tentan pengertian, tentang hipertensi dan
Pengetahuan kunjungan selama penyebab, tanda dan jelaskan pada klien
berhubungan 3x30 menit gejala dari hipertensi tentang pengertian,
dengan diharapkan masalah 2. Menjelaskan kembali penyebab, tanda dan
kurang defisiensi pengetahuan tentang akibat bila gejala terjadinya
terpaparnya keluarga teratasi hipertensi tidak ditangani hipertensi
informasi dan klien termotivasi 2. Jelaskan pada klien
TUK: untuk menangani masalah tentang akibat apabila
1. Klien mampu yang ada hipertensi tidak ditangani
mengenali tentang 3. Mempu menghindari hal- dan beri pujian atas
masalah yang hal yang dapat keputusan yang diambil
dialaminya mengakibatkan resiko klien
2. Klien mampu terjadinya peningkatan 3. Motivasi klien agar
mengenal tentang tekanan darah dan minum menghindari hal-hal
hipertensi obat secara berkala jika yang dapat
3. Klien dapat tekanan darah meningkat meningkatkan resiko
merawat anggota 4. Tercipta lingkungan yang terjadinya peningkatan
keluarga yang sakit yang mendukung tekanan darah dan
4. Keluarga mampu kesehatan klien anjurkan klien untuk
mempertahankan 5. Keluarga menggunakan minum obat dengan
lingkungan yang fasilitas kesehatan untuk teratur
sehat mengatasi masalah 4. Anjurkan klien untuk
5. Keluarga mampu kesehatan seperti berobat tetap mempertahankan
memanfaatkan ke puskesmas lingkungan yang
fasilitas kesehatan mendukung kesehatan
yang ada klien serta menhindari
lingkungan yang dapat
memperburuk keadaan
klien
5. Jelaskan dan yakinkan
keluarga tentang
pelayanan kesehatan dan
anjurkan klien untuk
memanfaatkan
pelayanan kesehatan
yang ada dengan baik
FORMAT CATATAN KEMAJUAN KEPERAWATAN
Nama Keluarga :
Puskesmas :
No Tanggal/ Tanda
Implementasi Perkembangan (SOAPIE)
Diagnosis Jam Tangan
2 21 Feb 1. Mengkaji pengetahuan S:
Defisiensi 2019 klien tentang hipertensi dan - Klien mengatakan sudah
Pengetahuan menjelaskan pada klien mengerti tentang hipertensi
berhubungan tentang pengertian,
dengan penyebab, tanda dan gejala O:
kurang terjadinya hipertensi - Keadaan umum lemah
terpaparnya 2. Menjelaskan pada klien - Kesadaran compos mentis
informasi tentang akibat apabila - GCS 456
hipertensi tidak ditangani - Klien dapat menjelaskan
dan memberikan pujian atas tentang pengertian,
keputusan yang telah penyebab, tanda dan gejala
diambil hipertensi dengan bantu
3. Memotivasi klien agar petugas
menghindari hal-hal yang - Klien dapat menjelaskan
dapat meningkatkan resiko kembali tentang akibatnya
terjadinya peningkatan apabila hipertensi tidak
tekanan darah dan ditangani dengan benar
menganjurkan klien untuk dengan dibantu
minum obat dengan teratur - Klien dapat menjelaskan
4. Menganjurkan klien untuk hal-hal yang dapat memicu
tetap mempertahankan peningkatan tekanan darah
lingkungan yang dengan dibantu
mendukung kesehatan klien - Klien belun mampu
serta menghindari menciptkan lingkungan
lingkungan yang dapat yang sehat
memperburuk keadaan - Klien mengunakan fasilitas
klien kesehatan berupa posyandu
5. Menjelaskan dan
meyakinkan keluarga A: Masalah Teratasi Sebagian
tentang pelayanan P : Lanjutkan Intervensi
kesehatan dan
menganjurkan klien untuk
memanfaatkan pelayanan
kesehatan yang ada
FORMAT RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA
Nama Keluarga : kel Ny. J
Puskesmas : Pandanwangi
No Tujuan umum dan khusus Kriteria hasil Rencana tindakan
Diagnosi
s
Hambata TUM : 1. Keluarga dapat menyebutkan 1. Kaji pengetahuan keluarga
n Stelah dilakukan kunjungan kembali apa itu pemeliharan tentang pemeliharaan
pemeliha rumah selama 2 kali kunjungan rumah dan tujuan pemeliharaan rumah dan jelaskan kepada
raan diharapkan keluarga dapat rumah keluarga tentang apa itu
rumah melaksanakan pemeliharaan 2. Keluarga dapat menyebutkan pemeliharaan rumah tujuan
(Dx 3) lingkungan rumah dengan baik kembalitata cara memelihara dan manfaatnya
kebersihan rumah dengan benar 2. Jelaskan cara memelihara
TUK : 3. Keluarga bisa melaksanakan kebersihn rumah dan beri
1. Keluarga mampu mengenal pemeliharaan rumah pujian atas keputusan yang
tata cara pemeliharaan 4. Tercipta lingkungan yang diambil
rumah yang benar mendukung kesehatan klien 3. Jelaskan pada keluarga
2. Keluarga mampu 5. Keluarga menggunakan fasilitas bahwa pemeliharaan rumah
mengambil keputusan kesehatan untuk mengatasi sangat penting dilakukan
dalam masalah masalah kesehatan untuk menjaga kesehatan
pemeliharaan rumah keluarga
3. Keluarga mampu mengatasi 4. Anjurkan keluarga untuk
masalah dalam memelihara tetap mempertahnakan
rumah lingkungan yang
4. Keluarga mampu mendukung kesehatan klien
mempertahankan serta menghindari
lingkungan yang lingkungan yang dapat
mendukung kesehatan memperburuk keadaan
anggota keluarga klien
5. Keluarga mampu 5. Jelaskan dan yakinkan
memanfaatkan fasilitas keluarga tentang pelayanan
kesehatan yang ada kesehatan dan ajarkan
untuk memanfaatkan
pelayanan kesehatan yang
ada dengan sebaik mungkin
FORMAT CATATAN KEMAJUAN KEPERAWATAN
Tanda
No Diagnosis Tanggal/Jam Implementasi dan Perkembangan (SOAPIE)
Tangan
Hambatan 21 Feb 2019 Implementasi
pemeliharaan 14.00 WIB
rumah 1. Mengkaji pengetahuan keluarga tentang
pemeliharaan rumah dan jelaskan kepada
(Dx 3) keluarga tentang apa itu pemeliharaan rumah
tujuan dan manfaatnya
- Keluarga belum terlalu mengerti tentang
pemeliharaan rumah
2. Menjelaskan cara memelihara kebersihn rumah
dan beri pujian atas keputusan yang diambil
- Klien berusaha untuk mewujudkan
pemeliharaan rumah yang baik
3. Menjelaskan pada keluarga bahwa pemeliharaan
rumah sangat penting dilakukan untuk menjaga
kesehatan keluarga
- Keluarga antusia dan kooperatif
4. Menganjurkan keluarga untuk tetap
mempertahnakan lingkungan yang mendukung
kesehatan klien serta menghindari lingkungan
yang dapat memperburuk keadaan klien
5. Menjelaskan dan yakinkan keluarga tentang
pelayanan kesehatan dan ajarkan untuk
memanfaatkan pelayanan kesehatan yang ada
dengan sebaik mungkin

Evaluasi
S : klien mengatakan belum mampu menciptakan
lingkungan yang nyaman karena keterbatasan
ekonomi dan tenaga

O:
- Keadaan umum lemah
- Kesadaran CM gcs 456
- Keluarga mampu menyebutkan kembali
tentng pemeliharaan rumah dan tujuan
pemeliharaan rumah
- Keluarga dpat menyebutkan kembali tentang
cara pemeliharaan rumah namun belum bisa
menerapknnya
- Belum tercipta lingkungan yg bersih

A:
Masalah teratasi

P:
Hentikan intervensi
BAB 4
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Pada pasien dengan kasus Hipertensi terdapat banyak sekali masalah
keperawatan yang muncul. Masalah keperawaan yang muncul terhadap setiap
individu sangatlah berbeda, tergantung bagaimana kondisi klinis dari pasien
tersebut. Dengan dilakukannya tindakan keperawatan atau tindakan komplementer
diharapkan masalah masalah keperawatan yang muncul dapat ditangani atau
meringankan masalah yang muncul.

4.2 Saran
Saran penulis dalam tindakan keperawatan selanjutnya yaitu pastikan dahulu
data yang didapat di dalam pengkajian yang kemudian dirumuskan menjadi masalah
keperawatan. Dan berikan penanganan atau tindakan keperawatan yang selalu
terupdate dengan mengacu pada jurnal jurnal terbaru.
Namun selalu koordinasikan dengan tim kesehatan lainnya untuk mengurangi
adanya kesalahan atau justru merugikan pasien.
DAFTAR PUSTAKA

Brunner & Suddarth. 2002. Buku Ajar : Keperawatan Medikal Bedah Vol 2, Jakarta, EGC,
Doengoes, Marilynn E. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman untuk Perencanaan
dan Pendokumentasian Perawatan pasien, Jakarta, Penerbit Buku Kedokteran,
EGC,
Goonasekera CDA, Dillon MJ, 2003. The child with hypertension. In: Webb NJA,
Postlethwaite RJ, editors. Clinical Paediatric Nephrology. 3rd edition. Oxford:
Oxford University Press
Imam, S Dkk.2005. Asuhan Keperawatan Keluarga.Buntara Media:malang