Anda di halaman 1dari 62

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sistem Muskuloskeletal merupakan penunjang bentuk tubuh dan mengurus

pergerakan. Komponen Utama dalam sistem Muskuloskeletal adalah tulang dan jaringan

ikat yang menyusun kurang lebih 25% berat badan dan otot menyusun kurang lebih

50%. System ini terdiri dari tulang, sendi, otot, rangka, tendon, ligament, dan jaringan-

jaringan khusus yang menghubungkan struktur ini. (Price. 2002)

Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas tulang dan atau tulang

rawan yang pada umumnya disebabkan oleh rudapaksa. (syamsuhidajat, 2005).Berbagai

penyebab fraktur diantaranya cidera atau benturan, faktor patologik,dan yang lainnya

karena faktor beban. Selain itu fraktur akan bertambah dengan adanya komplikasi yang

berlanjut diantaranya syok, sindrom emboli lemak, sindrom kompartement, kerusakan

arteri, infeksi, dan avaskuler nekrosis. Komplikasi lain dalam waktu yang lama akan

terjadi mal union, delayed union, non union atau bahkan perdarahan. (Price, 2002)

Kejadian fraktur di Indonesia sebesar 1.3 juta setiap tahunnya dengan jumlah

penduduk 238 juta jiwa, merupakan terbesar di Asia Tenggara. Kejadian fraktur di

Indonesia yang dilaporkan depkes RI (2007) menunjukan bahwa sekitar 8 juta orang

mengalami fraktur dengan jenis fraktur yang berbeda. Insiden fraktur di Indonesia 5,5%

dengan rentang setiap provinsi antara 2.2-9% (depkes 2007).

Berdasarkan data dari ruang Bedah RSUD Raden Mattaher Jambi diketahui jumlah

pasien yang akan melakukan operasi pada tahun 2008 sebanyak 933 orang dan yang

mengalami penundaan operasi sebanyak 58 orang sedangkan pada tahun 2009 jumlah

pasien yang akan melakukan operasi sebanyak 1.128 dan pada tahun 2010 sebanyak

1.129 orang dan yang mengalami penundaan operasi sebanyak 70 orang. Beberapa

1
alasan terjadinya penundaan operasi yaitu sedikitnya jumlah dokter sehingga jadwal

pelaksanaan operasi yang ditunda serta kecemasan yang datang dari diri pasien sendiri

sehingga menyebabkan tanda-tanda vital abnormal yang tidak memungkinkan untuk

dilaksanakan operasi.

Dampak yang sering terjadi pada klien yang mengalami fraktur yaitu adanya atropi

atau pemendekan tulang. Operasi adalah tindakan pengobatan yang menggunakan cara

invasif dengan membuka atau menampilkan bagian tubuh yang akan ditangani Prosedur

pembedahan yang sering dilakukan pada pasien fraktur meliputi reduksi terbuka dengan

fiksasi interna (Open reduction and internal fixation/ORIF). Sasaran pembedahan yang

dilakukan untuk memperbaiki fungsi dengan mengembalikan gerakan, stabilitas,

mengurangi nyeri dan disabilitas (Smeltzer & Bare, 2002).

Peran perawat pada kasus fraktur meliputi sebagai pemberi asuhan keperawatan

langsung kepada klien yang mengalami fraktur, sebagai pendidik memberikan

pendidikan kesehatan untuk mencegah komplikasi. Dari latar belakang diatas maka

penulis tertarik mengangkat asuhan keperawatan klien dengan kasus Fraktur.

B. Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah yang diangkat pada makalah ini adalah bagaimana

pelaksanaan asuhan keperawatan padaTn. L dengan Kasus Pemicu Fraktur Femur Dextra

tertutup di Ruang Bedah RSUD Raden Mattaher Jambi.

C. Tujuan

1. Tujuan Umum :

Mahasiswa mampu memahami dan memberikan asuhan keperawatan pada Tn. L

dengan Kasus Pemicu Fraktur di Ruang Bedah RSUD Raden Mattaher Jambi.

2
2. Tujuan Khusus :

a. Mahasiswa mampu melakukan pengkajian pada Tn. L dengan Kasus Pemicu Fraktur

Femur Dextra di Ruang Bedah RSUD Raden Mattaher Jambi.

b. Mahasiswa mampu merumuskan diagnosa keperawatan dalam asuhan keperawatan

dengan pada Tn. L dengan Kasus Pemicu Fraktur Femur Dextra di Ruang Bedah

RSUD Raden Mattaher Jambi.

c. Mahasiswa mampu membuat perencanaan dalam asuhan keperawatan dengan pada

Tn. L dengan Kasus Pemicu Fraktur Femur Dextra di Ruang Bedah RSUD Raden

Mattaher Jambi.

d. Mahasiswa mampu melakukan implementasi atau tindakan keperawatan dalam

rangka penerapan asuhan keperawatan pada Tn. L dengan Kasus Pemicu Fraktur

Femur Dextra di Ruang Bedah RSUD Raden Mattaher Jambi.

e. Mahasiswa mampu mengevaluasi terhadap intervensi yang telah dilakukan dalam

asuhan keperawatan pada Tn. L dengan Kasus Pemicu Fraktur Femur Dextra di

Ruang Bedah RSUD Raden Mattaher Jambi.

D. Manfaat

1. Bagi Mahasiswa

a. Mahasiswa dapat memahami tentang konsep Fraktur.

b. Mahasiswa mendapat memahami dan mempraktekkan tentang asuhan

keperawatan pada klien dengan Fraktur Femur Dextra di Ruang Bedah RSUD

Raden Mattaher Jambi.

2. Bagi Institusi Pendidikan Khususnya Keperawatan

Sebagai tambahan informasi dan bahan pustaka bagi Sekolah Tinggi Kesehatan

Harapan Ibu Jambi (Stikes HI) mengenai asuhan keperawatan pada pasien Fraktur.

3
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Anatomi dan Fisiologi system musculoskeletal

1. Anatomi Tulang

Tulang terdiri dari sel-sel yang berada pada ba intra-seluler. Tulang berasal dari

embrionic hyaline cartilage yang mana melalui proses “Osteogenesis” menjadi

tulang. Proses ini dilakukan oleh sel-sel yang disebut “Osteoblast”. Proses

mengerasnya tulang akibat penimbunan garam kalsium. (Syaifudin B.A 2005)

Menurut (Syaifudin B.A 2005) Ada 206 tulang dalam tubuh manusia, Tulang

dapat diklasifikasikan dalam lima kelompok berdasarkan bentuknya :

1). Tulang panjang (Femur, Humerus) terdiri dari batang tebal panjang yang

disebut diafisis dan dua ujung yang disebut epifisis. Di sebelah proksimal dari

epifisis terdapat metafisis. Di antara epifisis dan metafisis terdapat daerah

tulang rawan yang tumbuh, yang disebut lempeng epifisis atau lempeng

pertumbuhan. Tulang panjang tumbuh karena akumulasi tulang rawan di

lempeng epifisis. Tulang rawan digantikan oleh sel-sel tulang yang dihasilkan

oleh osteoblas, dan tulang memanjang. Batang dibentuk oleh jaringan tulang

yang padat. Epifisis dibentuk dari spongi bone (cancellous atau trabecular).

Pada akhir tahun-tahun remaja tulang rawan habis, lempeng epifisis berfusi,

dan tulang berhenti tumbuh. Hormon pertumbuhan, estrogen, dan testosteron

merangsang pertumbuhan tulang panjang. Estrogen, bersama dengan

testosteron, merangsang fusi lempeng epifisis. Batang suatu tulang panjang

memiliki rongga yang disebut kanalis medularis. Kanalis medularis berisi

sumsum tulang.

4
2). Tulang pendek (carpals) bentuknya tidak teratur dan inti dari cancellous

(spongy) dengan suatu lapisan luar dari tulang yang padat.

3). Tulang pendek datar (tengkorak) terdiri atas dua lapisan tulang padat dengan

lapisan luar adalah tulang concellous.

4). Tulang yang tidak beraturan (vertebrata) sama seperti dengan tulang pendek.

5). Tulang sesamoid merupakan tulang kecil, yang terletak di sekitar tulang yang

berdekatan dengan persediaan dan didukung oleh tendon dan jaringan fasial,

misalnya patella (kap lutut).

Tulang tersusun atas sel, matriks protein dan deposit mineral. Sel-selnya terdiri

atas tiga jenis dasar-osteoblas, osteosit dan osteoklas. Osteoblas berfungsi dalam

pembentukan tulang dengan mensekresikan matriks tulang. Matriks tersusun atas

98% kolagen dan 2% subtansi dasar (glukosaminoglikan, asam polisakarida) dan

proteoglikan). Matriks merupakan kerangka dimana garam-garam mineral anorganik

ditimbun. Osteosit adalah sel dewasa yang terlibat dalam pemeliharaan fungsi tulang

dan terletak dalam osteon (unit matriks tulang ). Osteoklas adalah sel multinuclear (

berinti banyak) yang berperan dalam penghancuran, resorpsi dan remosdeling tulang.

Osteon merupakan unik fungsional mikroskopis tulang dewasa. Ditengah

osteon terdapat kapiler. Dikelilingi kapiler tersebut merupakan matriks tulang yang

dinamakan lamella. Didalam lamella terdapat osteosit, yang memperoleh nutrisi

melalui prosesus yang berlanjut kedalam kanalikuli yang halus (kanal yang

menghubungkan dengan pembuluh darah yang terletak sejauh kurang dari 0,1 mm).

Tulang diselimuti dibagian oleh membran fibrous padat dinamakan periosteum.

Periosteum memberi nutrisi ke tulang dan memungkinkannya tumbuh, selain sebagai

tempat perlekatan tendon dan ligamen. Periosteummengandung saraf,

5
pembuluhdarah, dan limfatik. Lapisan yang paling dekat dengan tulang mengandung

osteoblast, yang merupakan sel pembentuk tulang.

Endosteum adalah membran vaskuler tipis yang menutupi rongga sumsum

tulang panjang dan rongga-rongga dalam tulang kanselus. Osteoklast , yang

melarutkan tulang untuk memelihara rongga sumsum, terletak dekat endosteum dan

dalam lacuna Howship (cekungan pada permukaan tulang).

Gambar 1 Anatomi tulang panjang

Struktur tulang dewasa terdiri dari 30 % bahan organik (hidup) dan 70 %

endapan garam. Bahan organik disebut matriks, dan terdiri dari lebih dari 90 % serat

kolagen dan kurang dari 10 % proteoglikan (protein plus sakarida). Deposit garam

terutama adalah kalsium dan fosfat, dengan sedikit natrium, kalium karbonat, dan ion

magnesium. Garam-garam menutupi matriks dan berikatan dengan serat kolagen

melalui proteoglikan. Adanya bahan organik menyebabkan tulang memiliki kekuatan

6
tensif (resistensi terhadap tarikan yang meregangkan). Sedangkan garam-garam

menyebabkan tulang memiliki kekuatan kompresi (kemampuan menahan tekanan).

Pembentukan tulang berlangsung secara terus menerus dan dapat berupa

pemanjangan dan penebalan tulang. Kecepatan pembentukan tulang berubah selama

hidup. Pembentukan tulang ditentukan oleh rangsangn hormon, faktor makanan, dan

jumlah stres yang dibebankan pada suatu tulang, dan terjadi akibat aktivitas sel-sel

pembentuk tulang yaitu osteoblas.

Osteoblas dijumpai dipermukaan luar dan dalam tulang. Osteoblas berespon

terhadap berbagai sinyal kimiawi untuk menghasilkan matriks tulang. Sewaktu

pertama kali dibentuk, matriks tulang disebut osteoid. Dalam beberapa hari garam-

garam kalsium mulai mengendap pada osteoid dan mengeras selama beberapa

minggu atau bulan berikutnya. Sebagian osteoblast tetap menjadi bagian dari osteoid,

dan disebut osteosit atau sel tulang sejati. Seiring dengan terbentuknya tulang,

osteosit dimatriks membentuk tonjolan-tonjolan yang menghubungkan osteosit satu

dengan osteosit lainnya membentuk suatu sistem saluran mikroskopik di tulang.

Kalsium adalah salah satu komponen yang berperan terhadap tulang, sebagian

ion kalsium di tulang tidak mengalarni kristalisasi. Garam nonkristal ini dianggap

sebagai kalsium yang dapat dipertukarkan, yaitu dapat dipindahkan dengan cepat

antara tulang, cairan interstisium, dan darah.

Sedangkan penguraian tulang disebut absorpsi, terjadi secara bersamaan

dengan pembentukan tulang. Penyerapan tulang terjadi karena aktivitas sel-sel yang

disebut osteoklas. Osteoklas adalahsel fagositik multinukleus besar yang berasal dari

sel-sel mirip-monosit yang terdapat di tulang. Osteoklas tampaknya mengeluarkan

berbagai asam dan enzim yang mencerna tulang dan memudahkan fagositosis.

7
Osteoklas biasanya terdapat pada hanya sebagian kecil dari potongan tulang, dan

memfagosit tulang sedikit demi sedikit. Setelah selesai di suatu daerah, osteoklas

menghilang dan muncul osteoblas. 0steoblas mulai mengisi daerah yang kosong

tersebut dengan tulang baru. Proses ini memungkinkan tulang tua yang telah

melemah diganti dengan tulang baru yang lebih kuat.

Keseimbangan antara aktivitas osteoblas dan osteoklas menyebabkan tulang

terus menerus diperbarui atau mengalami remodeling. Pada anak dan remaja,

aktivitas osteoblas melebihi aktivitas osteoklas, sehingga kerangka menjadi lebih

panjang dan menebal. Aktivitas osteoblas juga melebihi aktivitas osteoklas pada

tulang yang pulih dari fraktur. Pada orang dewasa muda, aktivitas osteoblas dan

osteoklas biasanya setara, sehingga jumlah total massa tulang konstan. Pada usia

pertengahan, aktivitas osteoklas melebihi aktivitas osteoblas dan kepadatan tulang

mulai berkurang. Aktivitas osteoklas juga meningkat pada tulang-tulang yang

mengalami imobilisasi. Pada usia dekade ketujuh atau kedelapan, dominansi

aktivitas osteoklas dapat menyebabkan tulang menjadi rapuh sehingga mudah patah.

Aktivitas osteoblas dan osteoklas dikontrol oleh beberapa faktor fisik dan hormon.

Faktor-faktor yang mengontrol Aktivitas osteoblas dirangsang oleh olah raga

dan stres beban akibat arus listrik yang terbentuk sewaktu stres mengenai tulang.

Fraktur tulang secara drastis merangsang aktivitas osteoblas, tetapi mekanisme

pastinya belum jelas. Estrogen, testosteron, dan hormon perturnbuhan adalah

promotor kuat bagi aktivitas osteoblas dan pertumbuhan tulang. Pertumbuhan tulang

dipercepat semasa pubertas akibat melonjaknya kadar hormon-hormon tersebut.

Estrogen dan testosteron akhirnya menyebabkan tulang-tulang panjang berhenti

tumbuh dengan merangsang penutupan lempeng epifisis (ujung pertumbuhan

8
tulang). Sewaktu kadar estrogen turun pada masa menopaus, aktivitas osteoblas

berkurang. Defisiensi hormon pertumbuhan juga mengganggu pertumbuhan tulang.

Vitamin D dalam jumlah kecil merangsang kalsifikasi tulang secara langsung

dengan bekerja pada osteoblas dan secara tidak langsung dengan merangsang

penyerapan kalsium di usus. Hal ini meningkatkan konsentrasi kalsium darah, yang

mendorong kalsifikasi tulang. Namun, vitamin D dalam jumlah besar meningkatkan

kadar kalsium serum dengan meningkatkan penguraian tulang. Dengan demikian,

vitamin D dalam jumlah besar tanpa diimbangi kalsium yang adekuat dalam

makanan akan menyebabkan absorpsi tulang.

Adapun faktor-faktor yang mengontrol aktivitas osteoklas terutama dikontrol

oleh hormon paratiroid. Hormon paratiroid dilepaskan oleh kelenjar paratiroid yang

terletak tepat di belakang kelenjar tiroid. Pelepasan hormon paratiroid meningkat

sebagai respons terhadap penurunan kadar kalsium serum. Hormon paratiroid

meningkatkan aktivitas osteoklas dan merangsang pemecahan tulang untuk

membebaskan kalsium ke dalam darah. Peningkatan kalsium serum bekerja secara

umpan balik negatif untuk menurunkan pengeluaran hormon paratiroid lebih lanjut.

Estrogen tampaknya mengurangi efek hormon paratiroid pada osteoklas.

Efek lain Hormon paratiroid adalah meningkatkan kalsium serum dengan

menurunkan sekresi kalsium oleh ginjal. Hormon paratiroid meningkatkan ekskresi

ion fosfat oleh ginjal sehingga menurunkan kadar fosfat darah. Pengaktifan vitamin

D di ginjal bergantung pada hormon paratiroid. Sedangkan kalsitonin adalah suatu

hormon yang dikeluarkan oleh kelenjar tiroid sebagai respons terhadap peningkatan

kadar kalsium serum. Kalsitonin memiliki sedikit efek menghambat aktivitas dan

9
pernbentukan osteoklas. Efek-efek ini meningkatkan kalsifikasi tulang sehingga

menurunkan kadar kalsium serum.(Syaifuddin B.A. 2005)

b. Fisiologi Tulang

Menurut Syaifudin B.A 2005 Fungsi tulang adalah sebagai berikut :

1). Mendukung jaringan tubuh dan memberikan bentuk tubuh.

2). Melindungi organ tubuh (misalnya jantung, otak, dan paru-paru) dan jaringan

lunak.

3). Memberikan pergerakan (otot yang berhubungan dengan kontraksi dan

pergerakan).

4). Membentuk sel-sel darah merah didalam sum-sum tulang belakang (hema

topoiesis).

5). Menyimpan garam mineral, misalnya kalsium, fosfor.

B. Defenisi

Frakturatau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang dan atau

tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh rudapaksa. (syamsuhidajat. 2005).

Patah Tulang Tertutupadalah patah tulang dimana tidak terdapat hubungan antara

fragmen tulang dengan dunia luar. Pendapat lain menyatakan bahwa patah tulang

tertutup adalah suatu fraktur yang bersih (karena kulit masih utuh atau tidak robek) tanpa

komplikasi (Handerson, M. A, 2002).

C. Etiologi

Menurut Smeltzer & Bare 2002 menyebutkan penyebab fraktur dapat dibagi menjadi

beberapa bagian yaitu :

10
1. Trauma langsung

Kekerasan langsung menyebabkan patah tulang pada titik terjadinya kekerasan.

Fraktur demikian demikian sering bersifat fraktur terbuka dengan garis patah

melintang atau miring.

2. Trauma tidak langsung

Kekerasan tidak langsung menyebabkan patah tulang ditempat yang jauh dari

tempat terjadinya kekerasan. Yang patah biasanya adalah bagian yang paling lemah

dalam jalur hantaran vektor kekerasan.

3. Kekerasan akibat tarikan otot

Patah tulang akibat tarikan otot sangat jarang terjadi.Kekuatan dapat berupa

pemuntiran, penekukan, penekukan dan penekanan, kombinasi dari ketiganya, dan

penarikan.

4. Proses Penyakit

Bisa dikarenakan pasien mengalami osteoporosis yang menyebabkan fraktur yang

patologis pada klien

D. Manifestasi Klinik

Menurut Smeltzer & Bare (2002) manifestasi klinik pada pasien Fraktur yaitu:

1. Deformitas

Daya tarik kekuatan otot menyebabkan fragmen tulang berpindah dari tempatnya,

perubahan keseimbangan dan kontur terjadi seperti rotasi pemendekan tulang dan

penekanan tulang.

2. Bengkak

Edema muncul secara cepat dari lokasi dan ekstrakviksasi darah dalam jaringan yang

berdekatan dengan fraktur

11
3. Spasme otot, spasme involunter dekat dengan Fraktur

4. Tenderness

Nyeri mungkin disebabkan oleh spasme otot berpindah tulang dari tempatnya dan

kerusakan struktur didaerah yang berdekatan. Kehilangan sensasi seperti mati rasa

mungkin terjadi dari rusaknya syaraf/perdarahan

5. Shock Hipovolemik

6. Krepitasi

E. Patofisiologi

Dari etiologi yang dapat menyebabkan fraktur diatas, fraktur dibagi menjadoi dua

yaitu fraktur tertutup dan frkatur terbuka. Pada fraktur tertutup akan terjadi kerusakan

pada kanalis havers dan jaringan lunak diarea fraktur, akibat kerusakan jaringan tersebut

akan terbentuk bekuan darah dan benang-benang fibrin serta hematoma yang akan

membentuk jaringan nekrosis. Maka terjadilah respon informasi informasi fibroblast dan

kapiler-kapiler baru tumbuh dan membentuk jaringan granulasi. Pada bagian ujung

periosteum-periosteum, endeosteum dan sumsum tulang akan mensuplai osteoblast,

kemudian osteoblast berproliferasi membentuk fibrokartilago, kartilago hialin dan

jaringan penunjang fibrosa. Selanjutnya akan dibentuk fiber-fiber kartilago dan matriks

tulang yang menghubungkan dua sisi fragmen tulang yang rusak, sehingga terjadi

osteogenesis dengan cepat sampai terbentuknya jaringan granulasi. (syamsuhidajat.

2005)

Sedangkan pada fraktur terbuka terjadi robekan pada kulit dan pembuluh darah,

maka terjadilah perdarahan, darah akan banyak keluar dari ekstra vaskuler dan terjadilah

syok hipovolemik, yang ditandai dengan penurunan tekanan darah atau hipotensi syok

hipovolemik juga dapt menyebabkan cardiac output menurun dan terjadilah hipoksia.

12
Karena hipoksia inilah respon tubuh akan membentuk metabolisme an aerob adalah

asam laktat, maka bila terjadi metabolisme an aerob maka asam laktat dalam tubuh akan

meningkat.

Trauma Penyakit Sekunder Stress/tekanan berulang

Fraktur

Fraktur tertutup Fraktur terbuka

Kerusakan kanalis havers dan Robekan pada kulit dan

Jaringan lunak diarea fraktur pembuluh darah

Terbentuknya bekuan darah dan Perdarahan

Benang-benang fibrin

Hematoma Syok hipovolemik

Membentuk jaringan nekrotik Hipotensi

Respon inflamasi Penurunan cardiac

Output

13
Fibroblast dan kapiler-kapiler Hipoksia

baru tumbuh dan membentuk Metabolisme anaerob

jaringan granulasi

Bagian ujung periosteum, endosteum Meningkatkan asam

bagian sumsum tulang mensuplai esteoblast laktat

Proliferasi osteoblast yaitu fibrokartilago,

Katilago hialin dan dari penunjang fibrosa

Membentik fiber-fiber kartilago dan matriks

tulang yang berhubungan dengan dua sisi

Fragmen tulang yang rusak

Osteogenesis dengan cepat

Terbentuk jaringan granulasi

F. Penatalaksanaan

Menurut Henderson (2002) penatalaksanaan terbagi atas 2 yaitu medis dan

14
Fisioterapi yang dapat dijelaskan sebagai berikut :

a. Medis

1) Traksi

Secara umum traksi dilakukan dengan menempatkan beban dengan tali

pada ekstreminasi klien. Tempat tarikan disesuaikan sedemikian rupa sehingga

arah tarikan segaris dengan sumbu tarikan tulang yang patah. Kegunaan traksi

adalah antara lain mengurangi patah tulang, mempertahankan fragmen tulang

pada posisi yang sebenarnya selama penyembuhan, memobilisasikan tubuh

bagian jaringan lunak, memperbaiki deformitas.

Jenis traksi ada dua macam yaitu : Traksi kulit, biasanya menggunakan

plester perekat sepanjang ekstremitas yang kemudian dibalut, ujung plester

dihubungkan dengan tali untuk ditarik. Penarikan biasanya menggunakan katrol

dan beban. Traksi skelet, biasanya dengan menggunakan pin Steinman/kawat

kirshner yang lebih halus, biasanya disebut kawat k yang ditusukan pada tulang

kemudian pin tersebut ditarik dengan tali, katrol dan beban.

2) Reduksi

Reduksi merupakan proses manipulasi pada tulang yang fraktur untuk

memperbaiki kesejajaran dan mengurangi penekanan serta merenggangkan

saraf dan pembuluh darah.

Jenis reduksi ada dua macam, yaitu : Reduksi tertutup, merupakan metode

untuk mensejajarkan fraktur atau meluruskan fraktur, dan Reduksi terbuka,

pada reduksi ini insisi dilakukan dan fraktur diluruskan selama pembedahan

dibawah pengawasan langsung. Pada saat pembedahan, berbagai alat fiksasi

internal digunakan pada tulang yang fraktur.

b. Fisiotherapi

15
Alat untuk reimobilisasi mencakup exercise terapeutik, ROM aktif dan pasif.

ROM pasif mencegah kontraktur pada sendi dan mempertahankan ROM normal

pada sendi. ROM dapat dilakukan oleh therapist, perawat atau mesin CPM

(continous pasive motion).ROM aktif untuk meningkatkan kekuatan otot.

G. Komplikasi

Menurut Iskandar (2008) komplikasi yang dapat terjadi pada pasien fraktur adalah

sebagai berikut:

1) Komplikasi Awal

a. Kerusakan Arteri

Pecahnya arteri karena trauma bisa ditandai dengan tidak adanya nadi, CRT

menurun, cyanosis bagian distal, hematoma yang lebar, dan dingin pada

ekstrimitas yang disebabkan oleh tindakan emergensi splinting, perubahan

posisi pada yang sakit, tindakan reduksi, dan pembedahan.

b. Kompartement Syndrom

Kompartement Syndrom merupakan komplikasi serius yang terjadi karena

terjebaknya otot, tulang, saraf, dan pembuluh darah dalam jaringan parut. Ini

disebabkan oleh oedema atau perdarahan yang menekan otot, saraf, dan

pembuluh darah. Selain itu karena tekanan dari luar seperti gips dan embebatan

yang terlalu kuat.

16
c. Fat Embolism Syndrom

Fat Embolism Syndrom (FES) adalah komplikasi serius yang sering terjadi

pada kasus fraktur tulang panjang. FES terjadi karena sel-sel lemak yang

dihasilkan bone marrow kuning masuk ke aliran darah dan menyebabkan

tingkat oksigen dalam darah rendah yang ditandai dengan gangguan

pernafasan, tachykardi, hypertensi, tachypnea, demam.

d. Infeksi

System pertahanan tubuh rusak bila ada trauma pada jaringan. Pada trauma

orthopedic infeksi dimulai pada kulit (superficial) dan masuk ke dalam. Ini

biasanya terjadi pada kasus fraktur terbuka, tapi bisa juga karena penggunaan

bahan lain dalam pembedahan seperti pin dan plat.

e. Avaskuler Nekrosis

Avaskuler Nekrosis (AVN) terjadi karena aliran darah ke tulang rusak atau

terganggu yang bisa menyebabkan nekrosis tulang dan diawali dengan adanya

Volkman’s Ischemia.

f. Shock

Shock terjadi karena kehilangan banyak darah dan meningkatnya permeabilitas

kapiler yang bisa menyebabkan menurunnya oksigenasi. Ini biasanya terjadi

pada fraktur.

2) Komplikasi Dalam Waktu Lama

a. Delayed Union

Delayed Union merupakan kegagalan fraktur berkonsolidasi sesuai dengan

waktu yang dibutuhkan tulang untuk menyambung. Ini disebabkan karena

penurunan supai darah ke tulang.

17
b. Nonunion

Nonunion merupakan kegagalan fraktur berkkonsolidasi dan memproduksi

sambungan yang lengkap, kuat, dan stabil setelah 6-9 bulan. Nonunion ditandai

dengan adanya pergerakan yang berlebih pada sisi fraktur yang membentuk

sendi palsu atau pseudoarthrosis. Ini juga disebabkan karena aliran darah yang

kurang.

c. Malunion

Malunion merupakan penyembuhan tulang ditandai dengan meningkatnya

tingkat kekuatan dan perubahan bentuk (deformitas). Malunion dilakukan

dengan pembedahan dan reimobilisasi yang baik.

H. Tes Diagnostik

a. Pemeriksaan Rontgen : menentukan lokasi/luasnya fraktur/luasnya trauma, scan

tulang, temogram, scan CI: memperlihatkan fraktur juga dapat digunakan untuk

mengidentifikasi kerusakan jaringan lunak.

b. Hitung darah lengkap : HB mungkin meningkat/menurun.

c. Peningkatan jumlal sop adalah respons stress normal setelah trauma.

d. Kreatinin : traumaa otot meningkatkan beban kreatinin untuk ginjal.

e. Profil koagulasi : perubahan dapat terjadi pada kehilangan darah, transfusi multiple,

atau cederah hati.

(Iskandar. 2008).

18
I. Asuhan Keperawatan Teoritis

1. Pengkajian

Pengkajian merupakan tahap awal dan landasan dalam proses keperawatan,

untuk itu diperlukan kecermatan dan ketelitian tentang masalah-masalah klien

sehingga dapat memberikan arah terhadap tindakan keperawatan. Keberhasilan

proses keperawatan sangat bergantuang pada tahap ini. Tahap ini terbagi atas:

a. Pengumpulan Data

1) Anamnesa

a) Identitas Klien

Meliputi nama, jenis kelamin, umur, alamat, agama, bahasa yang

dipakai, status perkawinan, pendidikan, pekerjaan, asuransi, golongan

darah, no. register, tanggal MRS, diagnosa medis.

b) Keluhan Utama

Pada umumnya keluhan utama pada kasus fraktur adalah rasa nyeri.

Nyeri tersebut bisa akut atau kronik tergantung dan lamanya serangan.

Untuk memperoleh pengkajian yang lengkap tentang rasa nyeri klien

digunakan:

(1) Provoking Incident: apakah ada peristiwa yang menjadi yang

menjadi faktor presipitasi nyeri.

(2) Quality of Pain: seperti apa rasa nyeri yang dirasakan atau

digambarkan klien. Apakah seperti terbakar, berdenyut, atau

menusuk.

(3) Region : radiation, relief: apakah rasa sakit bisa reda, apakah rasa

sakit menjalar atau menyebar, dan dimana rasa sakit terjadi.

19
(4) Severity (Scale) of Pain: seberapa jauh rasa nyeri yang dirasakan

klien, bisa berdasarkan skala nyeri atau klien menerangkan seberapa

jauh rasa sakit mempengaruhi kemampuan fungsinya.

(5) Time: berapa lama nyeri berlangsung, kapan, apakah bertambah

buruk pada malam hari atau siang hari.

c) Riwayat Penyakit Sekarang

Pengumpulan data yang dilakukan untuk menentukan sebab dari

fraktur, yang nantinya membantu dalam membuat rencana tindakan

terhadap klien. Ini bisa berupa kronologi terjadinya penyakit tersebut

sehingga nantinya bisa ditentukan kekuatan yang terjadi dan bagian

tubuh mana yang terkena. Selain itu, dengan mengetahui mekanisme

terjadinya kecelakaan bisa diketahui luka kecelakaan yang lain

(Ignatavicius, Donna D, 2005).

d) Riwayat Penyakit Dahulu

Pada pengkajian ini ditemukan kemungkinan penyebab fraktur dan

memberi petunjuk berapa lama tulang tersebut akan menyambung.

Penyakit-penyakit tertentu seperti kanker tulang dan penyakit paget’s

yang menyebabkan fraktur patologis yang sering sulit untuk

menyambung. Selain itu, penyakit diabetes dengan luka di kaki sanagt

beresiko terjadinya osteomyelitis akut maupun kronik dan juga diabetes

menghambat proses penyembuhan tulang

e) Riwayat Penyakit Keluarga

Penyakit keluarga yang berhubungan dengan penyakit tulang

merupakan salah satu faktor predisposisi terjadinya fraktur, seperti

diabetes, osteoporosis yang sering terjadi pada beberapa keturunan, dan

20
kanker tulang yang cenderung diturunkan secara genetik (Ignatavicius,

Donna D, 2005).

f) Riwayat Psikososial

Merupakan respons emosi klien terhadap penyakit yang dideritanya dan

peran klien dalam keluarga dan masyarakat serta respon atau

pengaruhnya dalam kehidupan sehari-harinya baik dalam keluarga

ataupun dalam masyarakat (Ignatavicius, Donna D, 2005).

g) Pola-Pola Fungsi Kesehatan

(1) Pola Persepsi dan Tata Laksana Hidup Sehat

Pada kasus fraktur akan timbul ketidakutan akan terjadinya

kecacatan pada dirinya dan harus menjalani penatalaksanaan

kesehatan untuk membantu penyembuhan tulangnya. Selain itu,

pengkajian juga meliputi kebiasaan hidup klien seperti penggunaan

obat steroid yang dapat mengganggu metabolisme kalsium,

pengkonsumsian alkohol yang bisa mengganggu keseimbangannya

dan apakah klien melakukan olahraga atau tidak.(Ignatavicius,

Donna D,2005).

(2) Pola Nutrisi dan Metabolisme

Pada klien fraktur harus mengkonsumsi nutrisi melebihi

kebutuhan sehari-harinya seperti kalsium, zat besi, protein, vit. C dan

lainnya untuk membantu proses penyembuhan tulang. Evaluasi

terhadap pola nutrisi klien bisa membantu menentukan penyebab

masalah muskuloskeletal dan mengantisipasi komplikasi dari nutrisi

yang tidak adekuat terutama kalsium atau protein dan terpapar sinar

21
matahari yang kurang merupakan faktor predisposisi masalah

muskuloskeletal terutama pada lansia. Selain itu juga obesitas juga

menghambat degenerasi dan mobilitas klien.

(3) Pola Eliminasi

Untuk kasus fraktur humerus tidak ada gangguan pada pola

eliminasi, tapi walaupun begitu perlu juga dikaji frekuensi,

konsistensi, warna serta bau feces pada pola eliminasi alvi.

Sedangkan pada pola eliminasi uri dikaji frekuensi, kepekatannya,

warna, bau, dan jumlah. Pada kedua pola ini juga dikaji ada kesulitan

atau tidak.

(4) Pola Tidur dan Istirahat

Semua klien fraktur timbul rasa nyeri, keterbatasan gerak,

sehingga hal ini dapat mengganggu pola dan kebutuhan tidur klien.

Selain itu juga, pengkajian dilaksanakan pada lamanya tidur, suasana

lingkungan, kebiasaan tidur, dan kesulitan tidur serta penggunaan

obat tidur (Doengos. Marilynn E, 2002).

(5) Pola Aktivitas

Karena timbulnya nyeri, keterbatasan gerak, maka semua bentuk

kegiatan klien menjadi berkurang dan kebutuhan klien perlu banyak

dibantu oleh orang lain. Hal lain yang perlu dikaji adalah bentuk

aktivitas klien terutama pekerjaan klien. Karena ada beberapa bentuk

pekerjaan beresiko untuk terjadinya fraktur dibanding pekerjaan yang

lain (Ignatavicius, Donna D, 2005).

(6) Pola Hubungan dan Peran

22
Klien akan kehilangan peran dalam keluarga dan dalam

masyarakat. Karena klien harus menjalani rawat inap (Ignatavicius,

Donna D, 2005).

(7) Pola Persepsi dan Konsep Diri

Dampak yang timbul pada klien fraktur yaitu timbul ketidakutan

akan kecacatan akibat frakturnya, rasa cemas, rasa ketidakmampuan

untuk melakukan aktivitas secara optimal, dan pandangan terhadap

dirinya yang salah (gangguan body image) (Ignatavicius, Donna D,

2005).

(8) Pola Sensori dan Kognitif

Pada klien fraktur daya rabanya berkurang terutama pada bagian

distal fraktur, sedang pada indera yang lain tidak timbul gangguan.

begitu juga pada kognitifnya tidak mengalami gangguan. Selain itu

juga, timbul rasa nyeri akibat fraktur (Ignatavicius, Donna D, 2005).

(9) Pola Reproduksi Seksual

Dampak pada klien fraktur yaitu, klien tidak bisa melakukan

hubungan seksual karena harus menjalani rawat inap dan

keterbatasan gerak serta rasa nyeri yang dialami klien. Selain itu

juga, perlu dikaji status perkawinannya termasuk jumlah anak, lama

perkawinannya (Ignatavicius, Donna D, 2005).

10) Pola Penanggulangan Stress

Pada klien fraktur timbul rasa cemas tentang keadaan dirinya,

yaitu ketidakutan timbul kecacatan pada diri dan fungsi tubuhnya.

Mekanisme koping yang ditempuh klien bisa tidak efektif.

23
11) Pola Tata Nilai dan Keyakinan

Untuk klien fraktur tidak dapat melaksanakan kebutuhan

beribadah dengan baik terutama frekuensi dan konsentrasi. Hal ini

bisa disebabkan karena nyeri dan keterbatasan gerak klien

2) Pemeriksaan Fisik

Dibagi menjadi dua, yaitu pemeriksaan umum (status generalisata) untuk

mendapatkan gambaran umum dan pemeriksaan setempat (lokalis). Hal ini

perlu untuk dapat melaksanakan total care karena ada kecenderungan dimana

spesialisasi hanya memperlihatkan daerah yang lebih sempit tetapi lebih

mendalam.

a) Gambaran Umum

Perlu menyebutkan:

(1) Keadaan umum: baik atau buruknya yang dicatatadalah tanda-

tanda, seperti:

a. Kesadaran penderita: apatis, sopor, koma, gelisah,

komposmentis tergantung pada keadaan klien.

b. Kesakitan, keadaan penyakit: akut, kronik, ringan, sedang, berat

dan pada kasus fraktur biasanya akut.

c. Tanda-tanda vital tidak normal karena ada gangguan baik fungsi

maupun bentuk.

24
(2) Secara sistemik dari kepala sampai kelamin

(a) Sistem Integumen

Terdapat erytema, suhu sekitar daerah trauma meningkat,

bengkak, oedema, nyeri tekan.

(b) Kepala

Tidak ada gangguan yaitu, normo cephalik, simetris, tidak ada

penonjolan, tidak ada nyeri kepala.

(c) Leher

Tidak ada gangguan yaitu simetris, tidak ada penonjolan, reflek

menelan ada.

(d) Muka

Wajah terlihat menahan sakit, lain-lain tidak ada perubahan

fungsi maupun bentuk. Tak ada lesi, simetris, tak oedema.

(e) Mata

Tidak ada gangguan seperti konjungtiva tidak anemis (karena

tidak terjadi perdarahan)

(f) Telinga

Tes bisik atau weber masih dalam keadaan normal. Tidak ada lesi

atau nyeri tekan.

(g) Hidung

Tidak ada deformitas, tak ada pernafasan cuping hidung.

25
(h) Mulut dan Faring

Tak ada pembesaran tonsil, gusi tidak terjadi perdarahan, mukosa

mulut tidak pucat.

(i) Thoraks

Tak ada pergerakan otot intercostae, gerakan dada simetris.

(j) Paru

(1) Inspeksi

Pernafasan meningkat, reguler atau tidaknya tergantung pada

riwayat penyakit klien yang berhubungan dengan paru.

(2) Palpasi

Pergerakan sama atau simetris, fermitus raba sama.

(3) Perkusi

Suara ketok sonor, tak ada erdup atau suara tambahan

lainnya.

(4) Auskultasi

Suara nafas normal, tak ada wheezing, atau suara tambahan

lainnya seperti stridor dan ronchi.

(k) Jantung

(1) Inspeksi

Tidak tampak iktus jantung.

(2) Palpasi

Nadi meningkat, iktus tidak teraba.

(3) Auskultasi

26
Suara S1 dan S2 tunggal, tak ada mur-mur.

(l) Abdomen

(1) Inspeksi

Bentuk datar, simetris, tidak ada hernia.

(2) Palpasi

Tugor baik, tidak ada defands muskuler, hepar tidak teraba.

(3) Perkusi

Suara thympani, ada pantulan gelombang cairan.

(4) Auskultasi

Peristaltik usus normal  20 kali/menit.

(m)Inguinal-Genetalia-Anus

Tak ada hernia, tak ada pembesaran lymphe, tak ada kesulitan

BAB.

b) Keadaan Lokal

Harus diperhitungkan keadaan proksimal serta bagian distal terutama

mengenai status neurovaskuler (untuk status neurovaskuler  5 P yaitu

Pain, Palor, Parestesia, Pulse, Pergerakan). Pemeriksaan pada sistem

muskuloskeletal adalah:

(1) Look (inspeksi)

Perhatikan apa yang dapat dilihat antara lain:

(a) Cicatriks (jaringan parut baik yang alami maupun buatan seperti

bekas operasi).

(b) Cape au lait spot (birth mark).

27
(c) Fistulae.

(d) Warna kemerahan atau kebiruan (livide) atau hyperpigmentasi.

(e) Benjolan, pembengkakan, atau cekungan dengan hal-hal yang

tidak biasa (abnormal).

(f) Posisi dan bentuk dari ekstrimitas (deformitas)

(g) Posisi jalan (gait, waktu masuk ke kamar periksa)

(2) Feel (palpasi)

Pada waktu akan palpasi, terlebih dahulu posisi penderita

diperbaiki mulai dari posisi netral (posisi anatomi). Pada dasarnya ini

merupakan pemeriksaan yang memberikan informasi dua arah, baik

pemeriksa maupun klien.

Yang perlu dicatat adalah:

(a) Perubahan suhu disekitar trauma (hangat) dan kelembaban kulit.

Capillary refill time Normal 3 – 5 “

(b) Apabila ada pembengkakan, apakah terdapat fluktuasi atau

oedema terutama disekitar persendian.

(c) Nyeri tekan (tenderness), krepitasi, catat letak kelainan (1/3

proksimal, tengah, atau distal).

Otot: tonus pada waktu relaksasi atau kontraksi, benjolan yang

terdapat di permukaan atau melekat pada tulang. Selain itu juga

diperiksa status neurovaskuler. Apabila ada benjolan, maka sifat

benjolan perlu dideskripsikan permukaannya, konsistensinya,

pergerakan terhadap dasar atau permukaannya, nyeri atau tidak, dan

ukurannya.

28
(3) Move (pergerakan terutama lingkup gerak)

Setelah melakukan pemeriksaan feel, kemudian diteruskan

dengan menggerakan ekstrimitas dan dicatat apakah terdapat keluhan

nyeri pada pergerakan. Pencatatan lingkup gerak ini perlu, agar dapat

mengevaluasi keadaan sebelum dan sesudahnya. Gerakan sendi

dicatat dengan ukuran derajat, dari tiap arah pergerakan mulai dari

titik 0 (posisi netral) atau dalam ukuran metrik. Pemeriksaan ini

menentukan apakah ada gangguan gerak (mobilitas) atau tidak.

Pergerakan yang dilihat adalah gerakan aktif dan pasif.

(Reksoprodjo, Soelarto, 2005)

3) Pemeriksaan Diagnostik

a) Pemeriksaan Radiologi

Sebagai penunjang, pemeriksaan yang penting adalah “pencitraan”

menggunakan sinar rontgen (x-ray). Untuk mendapatkan gambaran 3

dimensi keadaan dan kedudukan tulang yang sulit, maka diperlukan 2

proyeksi yaitu AP atau PA dan lateral. Dalam keadaan tertentu

diperlukan proyeksi tambahan (khusus) ada indikasi untuk

memperlihatkan pathologi yang dicari karena adanya superposisi. Perlu

disadari bahwa permintaan x-ray harus atas dasar indikasi kegunaan

pemeriksaan penunjang dan hasilnya dibaca sesuai dengan permintaan.

Hal yang harus dibaca pada x-ray:

(1) Bayangan jaringan lunak.

(2) Tipis tebalnya korteks sebagai akibat reaksi periosteum atau

29
biomekanik atau juga rotasi.

(3) Trobukulasi ada tidaknya rare fraction.

(4) Sela sendi serta bentuknya arsitektur sendi.

Selain foto polos x-ray (plane x-ray) mungkin perlu tehnik khususnya

seperti:

(1) Tomografi: menggambarkan tidak satu struktur saja tapi struktur

yang lain tertutup yang sulit divisualisasi. Pada kasus ini ditemukan

kerusakan struktur yang kompleks dimana tidak pada satu struktur

saja tapi pada struktur lain juga mengalaminya.

(2) Myelografi: menggambarkan cabang-cabang saraf spinal dan

pembuluh darah di ruang tulang vertebrae yang mengalami

kerusakan akibat trauma.

(3) Arthrografi: menggambarkan jaringan-jaringan ikat yang rusak

karena ruda paksa.

(4) Computed Tomografi-Scanning: menggambarkan potongan secara

transversal dari tulang dimana didapatkan suatu struktur tulang

yang rusak.

b) Pemeriksaan Laboratorium

(1) Kalsium Serum dan Fosfor Serum meningkat pada tahap

penyembuhan tulang.

(2) Alkalin Fosfat meningkat pada kerusakan tulang dan menunjukkan

kegiatan osteoblastik dalam membentuk tulang.

(3) Enzim otot seperti Kreatinin Kinase, Laktat Dehidrogenase (LDH-

5), Aspartat Amino Transferase (AST), Aldolase yang meningkat

30
pada tahap penyembuhan tulang.

c) Pemeriksaan lain-lain

(1) Pemeriksaan mikroorganisme kultur dan test sensitivitas: didapatkan

mikroorganisme penyebab infeksi.

(2) Biopsi tulang dan otot: pada intinya pemeriksaan ini sama dengan

pemeriksaan diatas tapi lebih dindikasikan bila terjadi infeksi.

(3) Elektromyografi: terdapat kerusakan konduksi saraf yang

diakibatkan fraktur.

(4) Arthroscopy: didapatkan jaringan ikat yang rusak atau sobek karena

trauma yang berlebihan.

(5) Indium Imaging: pada pemeriksaan ini didapatkan adanya infeksi

pada tulang.

(6) MRI: menggambarkan semua kerusakan akibat fraktur.

(Ignatavicius, Donna D, 2005)

J. Diagnosa Teoritis

Menurut Doengoes. 1999 diganosa keperawatan yang mungkin muncul pada pasien yang

mengalami fraktur yaitu:

a. Kerusakan mobilitas fisik b.d cedera jaringan sekitasr fraktur, kerusakan rangka

neuromuskuler

b. Nyeri b.d spasme tot , pergeseran fragmen tulang

c. Kerusakan integritas jaringan b.d fraktur terbuka , bedah perbaikan

d.

31
BAB III

TINJAUAN KASUS

Nama Tn. L umur 39 tahun jenis kelamin laki-laki Agama Islam Suku bangsa melayu

Pekerjaan swasta Alamat RT 15 Telanai Pura jambi masuk Rumah sakit diruangan Bedah

melalui IGD denganAlasan masuk rumah sakit yaitu nyeri pada bagian paha kanan akibat

kecelakaan motor dijalan raya. Saat pengkajian klien mengeluh nyeri pada bagian paha kanan

skala nyeri 6 dan nyeri bertambah saat klien menggerakan kakinya. Nyeri dirasakan seperti

tertusuk-tusuk. klien Tampak lemah, kesadaran komposmentis, tampak bengkak, terdapat

ruam merah pada paha kanan. TD 110/80 Nadi 80x/menit RR 21x/menit Suhu 36oC.

Aktivitas klien tampak dibantu keluarga. Klien tampak cemas dengan kondisinya. Pada

ekstremitas bawah pada bagian dekstra sulit digerakan. Jika digerakan terasa nyeri dan klien

tidak dapat melawan hambatan. Dari hasil pemeriksaan Labor didapatkan HB 11 gr/dl,

Leukosit 10.000 ml3Trombosit 173.000/mm3, Dokter mengindikasikan untuk segera

dilakukan Operasi ORIF pada daerah Femur dekstra. Karena dari hasil Rontgen terdapat

Fraktur 1/3 distal Femur Dextra.

32
A. PENGKAJIAN

Tanggal Masuk : 9 agustus 2015

Tanggal Pengkajian : 10 agustus 2015

Unit : III

Ruang : IGD

1. Identitas

a. Klien

Nama : Tn. L

Umur : 39 tahun

Jenis Kelamin : laki-laki

Agama : Islam

Suku bangsa : melayu

Pekerjaan : swasta

Alamat : RT 15 Telanai Pura jambi

b. Penaggung jawab

Nama : Ny. S

Alamat Rumah : Telanai Pura Jambi

Hubungan dengan klien : Istri klien

2. Data Medik

Diagnosa Medis

a. Saat Masuk : Nyeri

33
b. Saat Pengkajian : Fraktur Femur Dextra Post ORIF

3. Alasan Masuk Rumah Sakit

Alasan masuk rumah sakit yaitu nyeri pada bagian paha kanan akibat kecelakaan

motor dijalan raya.

4. Riwayat Kesehatan

a. Riwayat Kesehatan Sekarang

Saat pengkajian klien mengeluh nyeri pada bagian paha kanan skala nyeri 6 dan

nyeri bertambah saat klien menggerakan kakinya. Nyeri dirasakan seperti tertusuk-

tusuk. klien Tampak lemah, kesadaran komposmentis, tampak bengkak, terdapat

ruam merah pada paha kanan. TD 110/80 Nadi 80x/menit RR 21x/menit Suhu

36oC. Aktivitas klien tampak dibantu keluarga. Klien merasa sedikit cemas karena

nyeri yang dirasakannya terus bertambah dan juga saat dokter memberitahu kalau

akan dilakukan tindakan operasi.

b. Riwayat Kesehatan Dahulu

Klien tidak pernah mengalami patah tulang sebelumnya dan juga tidak pernah

masuk rumah sakit bahkan sampai dioperasi.

c. Riwayat Kesehatan Keluarga

Tidak ada anggota keluarga yang menderita penyakit keturunan ataupun penyakit

menular lainnya.

Keterangan

: Laki-laki :Penderita

: Perempuan : Tinggal 1 rumah

34
.

Kebiasaan sehari-hari

a. Nutrisi cairan / makanan

1) Keadaan sebelum sakit nafsu makan klien ada, jumlah makan 3x sehari yang

masuk satu porsi, klien tidak ada merasakan nyeri ulu ati dan mual. Jumlah

minum klien kurang lebih 6-7 gelas/ hari dengan air mineral.

2) Keadaan sejak sakit nafsu makan klien relative baik juga, jumlah makan 3x/ hari

yang masuk kurang dari 1 porsi kadang satu porsi habis, tidak ada nyeri ulu hati.

Tidak ada mual tidak ada muntah. Jumlah minum klien kurang lebih 5 gelas/hari

air putih.

b. Eliminasi

1) Keadaan sebelum sakit : frekuensi BAB hanya 1 x 24 jam, waktu BAB sering

pagi hari, bentuk feses lunak / padat, klien tidak ada keluhan saat BAB.

35
Frekuensi BAK 3x / 24 jam atau 4x/ 24 jam, warna urine kuning bening,

volumenya kurang lebih 800 cc, baunya khas, pasien BAK lancar.

2) Keadaan sejak sakit : frekuensi BAB 1 x/ 48 jam, waktu BAB pagi terkadang

malam hari, bentuk feses lembek, dan tidak ada keluhan BAB. Frekuensi BAK

4x / 24 jam, warna urin kuning, volumenya kurang lebih 600 cc, baunya khas.

c. Aktifitas – Latihan

1) Keadaan sebelum sakit : aktivitas / perawatan diri pasien dilakukan mandiri.

2) Keadaan sejak sakit : perawatan diri pasien makan, minum, mandi, berpakaian,

mau BAB dan BAK. Tampak dibantu oleh keluarga.

d. Tidur / istirahat

1) Keadaan sebelum sakit : klien ada tidur siang kurang lebih sekitar 11/2 jam, tidur

malam kurang lebih sekitar 7 jam, sebelum tidur kebiasaan klien sering nonton

TV.

2) Keadaan sejak sakit : klien ada tidur siang kurang lebih sekitar 1 jam, tidur

malam kurang lebih sekitar 6 jam, ekspresi wajah mengantuk (-) , tampak

menguap (-).

5. Data Sosial

Tempat tinggal klien : Telanai Pura Jambi, Jambi. Hubungan klien dengan

keluarga/kerabat dan orang lain terjalin baik, Hubungan klien dengan dengan perawat

terjalin baik dan Adat istiadat yang di anut Melayu.

6. Data psikologis

36
Klien tampak cemas dengan kondisinya. Apa lagi setelah dokter memberitahu

kalau pasien akan dilakukan prosedur dalam operasi pemasangan ORIF.

7. Data Spiritual

Klien menganut agama islam, klien tampak memahami agamanya dan klien sering

berdoa untuk kesembuhannya.

8. Pemeriksaan Fisik

a. TTV

Kesadaran pasien komposmetis, GCS: E4, V5, M6. Pasien masih dalam kesadaran

normal.

1) TD : 110/80 mmHg

2) Nadi : 80x / menit

3) RR : 21 x / menit

4) Suhu : 36 0C, menggunakan Axila

b. Antropometri

lingkaran tangan atas : 27 cm, lipat kulit triceps: 23,5cm, TB : 170 cm, BB : 59

kg, IMT : 20,41 kg/m2

c. Kepala

Bentuk kepala simetris, warna rambut hitam, keadaan rambut lebat, kulit kepala

bersih, tidak ada benjolan. Tidak ada lesi.

d. Mata/Penglihatan

Ketajaman penglihatan normal, alis mata simetris, bulu mata berwarna hitam, dan

simetris, kelopak mata klien normal, isokor, sclera jernih/putih,, palpebra berwarna

37
gelap, pandangan mata baik, mata klien tidak ada peradangan serta pasien tidak

menggunakan alat bantu penglihatan.

e. Hidung/Penciuman

Bentuk hidung mancung, simetris, warna stuktur dalam hidung merah muda.

Fungsi penciuman baik. Tidak ada perdarahan dan pembengkakan pada hidung.

f. Telinga/Pendengaran

Warna telinga sawo matang, Tidak terdapat lesi, fungsi pendengaran baik, tidak

ada nyeri, tidak menggunakan alat bantu penderangan.

g. Mulut/Pengecapan

Bibir berwarna merah kehitaman, simetris, kelembaban kurang (mukosa bibir

kering), gigi bersih, gigi lengkap, tidak menggunakan gigi palsu, keadaan gigi dan

gusi baik, fungsi mengunyah baik, fungsi mengecap baik, fungsi bicara baik.

h. Leher

Saat diraba tidak terdapat pembengkakan kelenjar getah bening klien. Kelenjar

thyroid dan submandibularis klien normal/baik, kaku kuduk klien tidak ada.

i. Dada

I : bentuk dada simetris, kualitas napas klien cepat, pasien tidak ada batuk dan

tidak terdapat penggunaan otot bantu pernafasan.

P : Tidak terdapat benjolan, krevitasi tidak ada

P : Disaat perkusi sonor

A : Suara nafas vesikuler

j. Kardiovaskuler

I : tampak ictus kordis

P : Denyut nadi perifer meningkat, ictus kordis teraba.

P : Perkusi jantung pekak

38
A : Bunyi jantung normal Lub Dub (tidak ada bunyi tambahan)

k. Abdomen

I : Tidak terdapat lesi, ascites ( - )

A : Bising usus (10 x /menit )

P : Tidak teraba masa, tidak ada nyeri tekan

P : Perkusi terdengar : Tympani

l. Neurologi

1) Nervus olfaktorius (N.1) : fungsi penciuman baik

2) Nervus Optikus (N.II) ; fungsi penglihatan baik

3) Nervus okumotorius (N.III) : fungsi kelopak mata baik

4) Nervus trokhlearis (N.IV) : fungsi gerakan bola mata baik

5) Nervus trigeminus (N.V) : fungsi panca indra baik

6) Nervus Absuden (N.VI) : fungsi bola mata baik

7) Nervus Fasialis (N.VII) : ekspresi wajah normal

8) Nervus Verstibulokoklearis (N.VIII) : Pendengaran baik

9) Nervus glosofringeus (N.IX) : sensasi Pengecapan baik

10) Nervus Vagus (N.X) : reflek muntah baik

11) Nervus accecorius (N.XI) : klien dapat menggerakan bahu

12) Nervus hipoglosus (N.XII) : dapat menjulur lidah dengan baik

m. Ekstremitas

Extremitas Atas : Tangan kiri dan tangan kanan normal dapat bergerak sesuai

fungsi. Tidak ada nyeri saat digerakan. Konsistensi otot klien baik

39
Extremitas Bawah : kaki kiri klien normal dapat digerakan sesuai fungsi tidak ada

nyeri tekan dan dapat bergerak normal. Tonus otot klien dengan konsistensi

kekenyalan baik. Pada kaki kanan terpasang Bidai pada daerah Femur. Dan

terdapat tremor serebellar. Nyeri saat digerakan dan tampak bengkak,

5555 5555

5555 2222

n. Integumen /Kulit

Warna kulit sawo matang, pada kaki kanan terdapat ruam merah dan sedikit

pembengkakan.

9. Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan Laboratorium : Tanggal 10/08/2015

a. HB : 11 gr/dl ( P : 14 - 18 gr dan W : 12 - 16 gr )

b. Leukosit : 10.000 ml3 ( 4000 – 11000 / 5000 – 10000 )

c. Trombosit : 173.000/mm3 ( 150.000 – 450.000 / mm3 / 150 – 300 103/mm3)

d. Pemeriksaan Rontgen terdapat Fraktur 1/3 distal Femur Dextra.

10. Terapi

a. IVFD RL : 20 tetes/menit

b. Citicholin 3x1 (IV)

c. Dexametason 2x1 amp(IV)

d. Keterolac 3x1 (IV)

e. Ranitidine 2x1 IV

40
ANALISA DATA

Nama : Tn. L

Umur : 39 tahun

DATA ETIOLOGI PROBLEM

DS : Trauma Langsung Nyeri.

(pergesaran Fragmen
 Klien mengeluh nyeri pada bagian paha
Tulang)
sebelah kanan.

 Klien mengatakan seperti ada yang

menonjol keluar pada bagian paha

kanannya

 Klien mengatakan skala nyeri yang

dirasakannya 6 (1-10)

 Klien mengatakan nyeri bertambah saat

kaki digerakan

 Klien mengatakan nyeri seperti tertusuk-

tusuk

DO :

 Klien tampak meringis

 Tampak pembengkakan pada bagian

paha

 Tremor Serebellar (+)

 Paha klien tampak bengkak

 Tampak kemerahan

41
DS : Diskontinuitas Tulang Gangguan mobilitas

(Fraktur) Fisik
 Klien mengatakan sulit untuk

menggerakan kaki nya

 Klien mengatakan jika aktivitasnya

sering dibantu keluarga

DO :

 Klien tampak lemah

 Aktivitas klien tampak dibantu

keluarga

 Tampak pembengkakan pada kaki

 Klien tampak meringis kesakitan saat

menggerakan kakinya

 Kekuatan Otot

5555 5555

5555 2222

DS : Kurang pengetahuan Ansietas

tentang pengobatan
 Klien mengatakan kalau takut akan
(Operasi Pemasangan
dioperasi
ORIF)
 Klien mengatakan tidak mengetahui

ORIF itu apa

 Klien mengatakan kalau dirinya ragu

untuk dilakukan pemasangan ORIF

42
DO:

 Klien tampak gelisah

 Klien tampak sering bertanya teknik

pemasangan ORIF

 Klien selalu meminta saran dengan

perawat dan keluarga untuk

meyakinkan dirinya terhadap operasi

pemasangan ORIF

43
RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN

Nama : Tn. L

Umur : 39 tahun

No Diagnosa Tujuan/KH Intervensi Rasional

Keperawatan

1. Nyeri Tujuan : Mandiri : 08.00 WIB

Berhubungan
Setelah 1. Pertahankan 1. Menghilangkan
dengan
dilakukan imobilisasi bagian nyeri dan
Trauma
intervensi 1 x 24 yang sakit dengan mencegah
Langsung
jam diharapkan tirah baring, gips kesalahan posisi

Nyeri klien atau pembidaian tulang atau

berkurang/teratas 2. Tinggikan dan jaringan yang

i. dukung ekstremitas cedera

yang terkena 2. Meningkatkan


KH :
3. Evaluasi keluhan aliran balik vena,
a. Klien tidak
nyeri, perhatikan menurunkan
mengeluh
lokasi, karakteristik edema dan
nyeri lagi
dan intensitas nyeri menurunkan nyeri.
b. Skala
4. Lakukan kompres 3. Pengawasan dalam
nyeri menurun.
dingin 24-48 jam keefektifan

pertama sesuai intervensi

keperluan. 4. Menurunkan

5. Kolaborasi edema/

44
pemberian analgetik pembentukan

6. Direncanakan untuk hematum dan

pemasangan ORIF menurunkan

sensasi nyeri

5. Untuk menurunkan

nyeri atau spasme

otot

2. Hambatan Tujuan : Mandiri : 09.00 WIB

Mobilitas
Setelah 1. Kaji derajat 1. Pasien mungkin
fisik
dilakukan imobilitas yang dibatasi oleh
berhubungan
intervensi 3 x 24 dihasilkan oleh persepsi diri
dengan
jam diharapkan cedera tentang
diskontinuita
aktivitas klien 2. Berikan papan kaki, keterbatasan fisik
s jaringan
bisa dilakukan bebat pergelangan actual, memerlukan
tulang
secara mandiri. 3. Bantu mobilisasi informasi
(fraktur)
dengan kursi roda, 2. Berguna untuk
KH :
kruk, tongkat mempertahankan
a. Klien
sesegera mungkin, fungsi fungsional
melakukan
intruksikan ekstremitas
aktivitas
keamanan dalam tangan/kaki
secara
menggunakan alat mencegah
mandiri.
mobilisasi kontraktur

45
4. Awasi TD dengan 3. Menurunkan

melakukan aktivitas komplikasi tirah

5. Kolaborasi dengan baring,

ahli fisioterapi meningkatakan

penyembuhan

fungsi organ

4. Hipertensi pertural

adalah masalah

umum menyertai

tirah baring lama

dan dapat

memerlukan

intervensi khusus

5. Untuk

merencanakan

program terapi

yang tepat

3. Ansietas Tujuan : Mandiri :

berhubungan
Setelah 1. Kaji tingkat 1. Untuk mengetahui
dengan
dilakukan kecemasan klien tingkat kecemasan
prosedur
intervensi 1 x 24 2. Meminta keluarga klien
pemasangan
jam diharapkan untuk selalu 2. Agar klien merasa
ORIF
tingkat mendampingi klien aman dan nyaman

kecemasan klien 3. Memberikan 3. Meningkatkan pola

46
menurun. support system dan koping yang

motivasi kepada efektif


KH :
klien 4. Informasi yang
a. Klien tampak
4. Jelaskan prosedur jelas yang
tenang
dan tindakan diberikan kepada
b. Klien tidak
pengobatan klien dapat
gelisah lagi
menurunkan

tingkat kecemasan

pada klien sendiri

47
CATATAN KEPERAWATAN DAN PERKEMBANGAN

Nama : Tn. L

Umur : 39 tahun

Hari Tanggal Diagnosa Implementasi Catatan

Keperawatan
ke perkembangan

1. 10 DX.1 1. Mempertahankan imobilisasi S: klien

agustus bagian yang sakit dengan tirah mengatakan

2015 baring, gips atau pembidaian masih terasa

H: klien masih tampak meringis nyeri dibagian

2. Meninggikan dan dukung paha kanan

ekstremitas yang terkena Skala Nyeri 6

H: klien sedikit merasa nyaman


O: klien
3. Mengevaluasi keluhan nyeri,
tampak
perhatikan lokasi, karakteristik
meringis
dan intensitas nyeri
A: masalah
H: Klien mengeluh Nyeri di
belum teratasi
paha kanan dengan skala 6

4. Melakukan kompres dingin 24- P: intervensi

48 jam pertama sesuai dilanjutkan

keperluan. besok 11

H: Klien sedikit rileks Agustus 2015

5. Berkolaborasi pemberian

analgetik

48
H: pasien mengatakan nyeri

sudah sedikit berkurang

6. Direncanakan untuk prosedur

pemasangan ORIF

1. Mengkaji derajat imobilitas

yang dihasilkan oleh cedera

H: skala nyeri 6
S : klien
2. Memberikan papan kaki, bebat
mengata
pergelangan
kan
H: pasien tidak bsa
masih
menggerakan kaki dengan
DX. II sangat
luluasa
sulit
3. Membantu mobilisasi dengan
untuk
kursi roda, kruk, tongkat
beraktivi
sesegera mungkin, intruksikan
tas
keamanan dalam menggunakan
sendiri
alat mobilisasi
O : aktivitas
H: pasien hanya bergerak pada
tampak
daerah sekitar kamar saja
dibantu
4. Mengawasi TD dengan
keluarga
melakukan aktivitas

H: TD 110/70 mmHg A : masalah

5. Berkolaborasi dengan ahli belum

49
fisioterapi terataasi

P : intervensi
1. Mengkaji tingkat kecemasan
1 – 5
klien
dilanjutk
H: klien mengatakan cemas saat
an
tahu akan dilakukan

pemasangan ORIF

2. Meminta keluarga untuk selalu S : klien

mendampingi klien mengata

H: klien tampak tenang kan

3. Memberikan motivasi dan sudah

support system kepada klien mulai

H: klien merasa keberanian ny merasa

bertambah dan tidak takut lagi yakin

4. Menjelaskan prosedur dan untuk

tindakan pengobatan prosedur


DX. III
H: klien mengatakan menjadi pemasan

lebih yakin untuk pemasangan gan

ORIF ORIF

O : klien

tampak

tenang.

Tidak

gelisah

50
lagi

A : masalah

keperaw

atan

teratasi

P : intervensi

dihentik

an

2. 11 DX.I 1. Mempertahankan imobilisasi S: klien

agustus bagian yang sakit dengan tirah mengatakan

2015 baring, gips atau pembidaian masih terasa

H: klien masih tampak sedikit nyeri tapi


Jam
meringis sedikit sudah

2. Meninggikan dan dukung mulai

ekstremitas yang terkena berkurang

H: klien sedikit sudah merasa


O: klien
merasa nyaman
tampak sedikit
3. Mengevaluasi keluhan nyeri,
rileks,
perhatikan lokasi, karakteristik
A: Masalah
dan intensitas nyeri
Keperawatan
H: Klien mengeluh Nyeri di
teratasi
paha kanan dengan skala 5
sebagian
4. Melakukan kompres dingin 24-

48 jam pertama sesuai P: intervensi

51
keperluan. 2,3,45

H: Klien sedikit rileks dilanjutkan

5. Berkolaborasi pemberian besok tanggal

analgetik 12 agustus

H: pasien mengatakan nyeri 2015

sudah sedikit berkurang skala

nyeri 5

6. Direncanakan untuk prosedur

pemasangan ORIF

H: pemasangan ORIF

dijadwalkan pukul 15.00

1. Mengkaji derajat imobilitas

yang dihasilkan oleh cedera

H: skala nyeri 5

2. Memberikan papan kaki, bebat S: pasien

pergelangan mengatakan

H: pasien tidak bsa masih

menggerakan kaki dengan membutuhkan

luluasa bantuan

DX. II 3. Membantu mobilisasi dengan keluarga

kursi roda, kruk, tongkat dalam

sesegera mungkin, intruksikan beraktivitas

keamanan dalam menggunakan


O: aktivitas

52
alat mobilisasi klien tampak

H: pasien hanya bergerak pada dibantu

daerah sekitar kamar saja keluarga

4. Mengawasi TD dengan
A: masalah
melakukan aktivitas
keperawatan
H: TD 110/80 mmHg
belum teratasi
5. Berkolaborasi dengan ahli
P: intervensi
fisioterapi
1-5
H: diinstruksikan untuk
dilanjutkan
melakukan gerakan ringan
besok 12
setelah post Operasi
agustus 2015

3. 12 DX. I 2. Meninggikan dan dukung S: klien

agustus ekstremitas yang terkena mengatakan

2015 H: klien sudah merasa merasa nyeri sudah

nyaman setelah post Orif mulai

3. Mengevaluasi keluhan nyeri, berkurang

perhatikan lokasi, karakteristik skala nyeri 4

dan intensitas nyeri


O: klien
H: Klien masih mengeluh Nyeri
tampak rileks
di paha kanan dengan skala 4
A: Masalah
4. Melakukan kompres dingin 24-
keperawatan
48 jam pertama sesuai
teratasi
keperluan.
sebagian
H: Klien tampak rileks

53
5. Berkolaborasi pemberian P: intervensi

analgetik dihentikan.

H: pasien mengatakan nyeri Pasien

sudah sedikit berkurang skala melakukan

nyeri 4 rawat jalan

1. Mengkaji derajat imobilitas

yang dihasilkan oleh cedera

H: skala nyeri 4

2. Memberikan papan kaki, bebat

pergelangan S: keluarga

H: klien sudah mulai membaik mengatakan

3. Membantu mobilisasi dengan aktivitas nya

kursi roda, kruk, tongkat sudah mulai

sesegera mungkin, intruksikan dilakukan

keamanan dalam menggunakan sendiri tapi

alat mobilisasi terkadang

H: klien sudah mulai bergerak masih dibantu

keluar ruangan keluarga

4. Mengawasi TD dengan O: klien


melakukan aktivitas tampak makan
H: TD 110/80 mmHg dan minum
5. Berkolaborasi dengan ahli sendiri

fisioterapi
A: intervensi

54
H: diinstruksikan untuk teratasi

melakukan aktivitas keluar sebagian

ruangan
P: intervensi

dihentikan

pasien

melakukan

rawat jalan

dan segera

pulang.

55
BAB IV

PEMBAHASAN

A. Pengkajian

Pengkajian pada Tn. L dilakukan dengan dengan cara anamnesa (keluhan utama,

riwayat yang berhubungan dengan keluhan utama, dan pengkajian psikososiospiritual),

observasi, wawancara pada keluarga klien, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan

diagnostik.

Pada pengkajian yang telah dilakukan pada tanggal 10 Agustus 2015 didapatkan

bahwa klien mengalami tiga masalah keperawatan. Masalah keperawatan tersebut adalah

nyeri, Mobilitas fisik, dan ansietas pasca pre Orif.

Terkait dengan masalah keperawatan nyeri, hal tersebut terjadi karena kondisi

trauma langsung yang mengakibatkan Fraktur yang mengakibatkan kehilagan integritas

tulang sehingga mengakibatkan ketidakstabilan posisi fraktur apabila organ fraktur

digerakan sehingga fragmen tulang yang patah menusuk organ sekitar.

Masalah keperawatan gangguan mobilitas fisik secara klinis disebabkan karena

perubahan fragmen tulang sehingga terjadi kerusakan pada jaringan dan pembuluh darah

mengakibatkan perdarahan local atau terjadi hematoma pada daerah fraktur. Sehingga

mengakibatkan aliran darah pada daerah distal berkurang atau terhambat. Ditandai

dengan warna jaringan pucat nadi lemah dan terjadinya sianosis. Disebut juga dengan

kerusakan neuromuscular. Sehingga fungsi organ distal terganggu.

Pengkajian terhadap psikologis klien didapatkan kecemasan klien akan kondisi

yang dialami. Klien terlihat cemas dan gelisah. Klien maupun keluarga klien sering

56
bertanya dengan dokter yang memeriksa dan perawat yang merawat tentang prognosis

penyakit yang diderita.

Berdasarkan gejala-gejala klinis, riwayat terdahulu klien, dan hasil pemeriksaan

diagnostik yang menyatakan terdapat adanya Fraktur pada bagian 1/3 distal femur

dekstra, dapat disimpulkan bahwa klien mengalami Penyakit Fraktur Femur Dekstra

Tertutup. Sehingga asuhan keperawatan yang diberikan pada klien lebih difokuskan dan

penanganannya bersifat komprehensif (menyeluruh).

B. Diagnosa

Pada kasus terdapat 3 diagnosa yaitu : Nyeri berhubungan dengan trauma langsung,

pergesaran fragmen tulang, yang kedua yaitu Gangguan Mobilitas fisik berhubungan

dengan diskontinuitas tulang dan yang terakhir yaitu Ansietas berhubungan dengan

prosedur operasi ORIF

Yang menjadi pembeda antara kasus pemicu dan teoritis yaitu diteoritis terdapat

kerusakan integritas jaringan akan tetapi di kasus pemicu tudak ada. Dikarenakan data-

data untuk menunjang tegaknya diagnose kerusakan integritas jaringan sangat minim

sekali. Akan tetapi di kasus muncul masalah baru yaitu tingkat kecemasan klien terhadap

prosedur pemasangan ORIF yang harus diatasi.

C. Intervensi

Diagnosa yang muncul selanjutnya disusun prioritas berdasarkan kebutuhan dasar

manusia menurut Maslow. Setelah diprioritaskan kemudian disusun rencana

keparawatan yang mengacu kepada teori yang ada, namun disesuaikan dengan kondisi

pasien serta sarana dan prasarana yang ada. Rencana yang disusun untuk masing-masing

diagnosa sebanyak 6-10 rencana.

57
Ada beberapa rencana yang ada pada teori tetapi tidak diangkat pada kasus karena

disesuaikan dengan kondisi pasien serta sarana dan prasarana yang ada

D. Implementasi

Pada tahap implementasi hampir semua rencana tindakan dapat dilaksanakan sesuai

dengan intervensi yang direncanakan. Tindakan keperawatan yang dapat dilaksanakan

pada diagnosa pertama adalah Mempertahankan imobilisasi bagian yang sakit dengan

tirah baring, gips atau pembidaian, Meninggikan dan dukung ekstremitas yang terkena,

Mengevaluasi keluhan nyeri, perhatikan lokasi, karakteristik dan intensitas nyeri,

Melakukan kompres dingin 24-48 jam pertama sesuai keperluan, Berkolaborasi

pemberian analgetik, Direncanakan untuk prosedur pemasangan ORIF

Pada diagnose kedua intervensi yang diberikan yaitu: Mengkaji derajat imobilitas yang

dihasilkan oleh cedera, Memberikan papan kaki, bebat pergelangan, Membantu mobilisasi

dengan kursi roda, kruk, tongkat sesegera mungkin, intruksikan keamanan dalam

menggunakan alat mobilisasi, Mengawasi TD dengan melakukan aktivitas, Berkolaborasi

dengan ahli fisioterapi.

Pada Diagnosa ketiga intervensi yang diberikan yaitu : Mengkaji tingkat kecemasan

klien, Meminta keluarga untuk selalu mendampingi klien, Memberikan support system

dan motivasi kepada klien, Menjelaskan prosedur dan tindakan pengobatan

Dari ketiga diagnosa tersebut semua intervensi dapat dilaksanakan sesuai yang telah

direncanakan. Walaupun ketika dievaluasi masih terdapat masalah keperawatan yang

belum teratasi. Pada saat setelah selesai klien menjalani operasi pemasangan ORIF

keluarga ingin Tn. L dirawat diruangan yang lebih baik. Jadi keluarga memindahkan

58
pasien dari kelas 3 ke kelas 1. Dan intervensi dilanjutkan oleh perawat yang bertugas

disana

E. EVALUASI

Tahap evaluasi adalah menilai keberhasilan dari asuhan keperawatan yang telah

dilakukan berdasarkan tujuan yang telah ditetapkan. Dari diagnosa keperawatan yang

telah ditegakkan, dan implementasi yang telah dilakukan sesuai dengan rencana tindakan

keperawatan didapatkan hasil yang dicantumkan kedalam evaluasi masih terdapat

beberapa intervensi yang harus dilanjutkan guna pemantauan yang berkesinambungan

terhadap komplikasi-komplikasi yang dapat terjadi.

59
BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan asuhan keperawatan yang telah dilakukan pada Tn. L, maka dapat

disimpulkan sebagai berikut :

1. Pada pengkajian didapatkan bahwa klien mengalami Tiga masalah keperawatan

yakni nyeri, Gangguan mobilitas fisik, dan ansietas. Gejala yang ditemukan pada

klien yaitu nyeri pada ekstremitas bawah pada bagian Femur Dekstra, tampak

bengkak dan muncul ruam merah, klien tampak lemah. Pada pengkajian

psikologis terdapat kecemasan yang dialami klien terhadap penyakit yang diderita.

Hasil pengkajian didapatkan beberapa faktor penyebab klien didiagnosis Penyakit

Fraktur Femur Dekstra Tertutup yakni pada bagian Femur dekstra sulit dan terasa

nyeri saat digerakan. Dan hasil rontgen menunujukan Patahan pada bagian 1/3

distal femur dekstra.

2. Pada kasus terdapat 3 diagnosa yaitu : Nyeri berhubungan dengan trauma

langsung, pergesaran fragmen tulang, yang kedua yaitu Gangguan Mobilitas fisik

berhubungan dengan diskontinuitas tulang dan yang terakhir yaitu Ansietas

berhubungan dengan prosedur operasi ORIF.

3. Rencana asuhan keperawatan yang dilakukan pada klien dilakukan secara intensif

dan terpadu. Rencana asuhan keperawatan yang dilakukan disusun berdasarkan

teori Maslow yang disesuaikan dengan situasi dengan kondisi rumah sakit.

Prioritas intervensi dilakukan berdasarkan kebutuhan dasar manusia.

4. Implementasi secara umum dapat dilakukan sesuai dengan rencana. Klien dapat

menjalani asuhan keperawatan yang diberikan. Implementasi keperawatan yang

dilakukan pada Tn. L adalah pemberian terapi analgetik (Ranitidin, Citicolin,

60
dexametason), obat-obatan golongan antasida, IVFD RL 20 tetes/menit.

Melakukan pengkajian riwayat nyeri dengan pendekatan PQRST, membantu

mibilisasi pasien. Berkolaborasi dalam aktivitas klien dengan fisioterapi. Terkait

psikologis klien, mengkaji kecemasan klien dan memberikan dukungan semangat

pada klien terhadap kondisi penyakit yang dialami klien dan yakin dalam

pemasangan ORIF

5. Evaluasi dilakukan terhadap tiga diagnosa keperawatan yang telah ditegakkan.

Diagnosa keperawatan nyeri teratasi sebagian sampai hari ketiga perawatan.

Diagnosa keperawatan Gangguan mobilitas fisik juga teratasi sebagian sampai

hari ketiga perawatan, diagnosa keperawatan kecemasan teratasi sebelum pasien

dilakukan pemasangan ORIF.

B. Saran

1. Bagi mahasiswa

Mahasiswa keperawatan hendaknyaa dapat menerapkan asuhan keperawatan yang

telah didapatkan secara teoritis yang telah disajikan dalam penulisan kasus ini dan

mampu memberikan informasi kepada masyarakat mengenai PenyakitFraktur Femur

tertutup dengan mengadakan suatu penyuluhan atau pendidikan kesehatan.

2. Bagi Akademik

Diharapkan kepada lembaga institusi kesehatan khususnya Sekolah Tinggi Harapan

Ibu (STIKES-HI) Jambi dapat memberikan bimbingn secara terus-menerus kepada

para Mahasiswa yang melakukan penulisan ilmiah/karya tuliis mengenai Penyakit

Fraktur Femur tertutup sehingga para mahasiswa dapat lebih terarah/terfokus dalam

mencapai sasaran penulisan yang diinginkan.

61
Daftar Pustaka

Donges Marilynn, E. (1999). Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi 3, Jakarta. EGC

Smeltzer Suzanne, C (2002). Buku Ajar Medikal Bedah, Brunner&Suddart. Edisi 8.

Vol 3. Jakarta. EGC

Price Sylvia, A (2002), Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-ProsesPenyakit. Jilid 2 .

Edisi 4. Jakarta. EGC

SyamsuHidajat Dkk (2005) Ilmu penyakit dalam. Jilid I. Jakarta : FKUI

Syaifudin B.A (2005) Anatomi Fisiologi Bagi Mahasiswa Perawat. Jilid II. Jakarta :

EGC

Handerson M.A (2002) Penyakit-Penyakit Muskuloskeletal. Buku saku kedokteran.

Jakarta : Kapita Selekta

Ignatavicius, Donna D, medical Surgical Nursing: A Nursing Process Approach, W.B

Saunder Company 2005.

Iskandar (2008) Asuhan Keperawatan Pada pasien Fraktur.

www.muskuloskeletal.com/askepfrakturtertutup.html diakses pada tanggal 27

agustus 2015 pukul 08.00 Wib.

62