Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN PRAKTIKUM

PENGANTAR GENETIKA SEL


“Pengamatan Pembelahan Sel pada Akar Tanaman Bawang Merah (Allium
cepa L.) dan Jagung (Zea mays L.)

Disusun oleh:
NAMA : HERNA
NIM : D1B116013
KELAS : PEMULIAAN TANAMAN
KELOMPOK : II (DUA)
ASISTEN : NUR FAUZIYA SAMAUDDIN

LABORATORIUM AGROTEKNOLOGI

UNIT IN VITRO TANAMAN

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS HALU OLEO

2019
HALAMAN PENGESAHAN
“Pengamatan Pembelahan Sel pada Akar Tanaman Bawang Merah (Allium
cepa L.) dan Jagung (Zea mays L.)

Disusun oleh:
NAMA : HERNA
NIM : D1B116013

Disusun untuk Melengkapi Tugas Praktikum Mata Kuliah Pengantar

Genetika Sel Semester VI Tahun 2019.

Kendari, Maret 2019

Menyetujui,
Asisten Praktikum

NUR FAUZIYA SAMAUDDIN


I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pembelahan sel ini diawali dengan adanya pembelahan kromosom dalam

beberapa tahap pembelahan. Pada setiap tahap pembelahan mempunyai ciri-ciri

tertentu yang dapat diamati proses-prosesnya melalui teknik atau perlakuan

tertentu yang diberikan pada kromosom dalam sel tersebut. Pada umumnya

tanaman jagung mempunyai 20 kromosom. Tanaman jagung yang tetraploid

memiliki jumlah 40 kromosom.

Mitosis merupakan peristiwa pembelahan sel yang terjadi pada sel-sel

somatis (sangat aktif pada jaringan meristem) yang menghasilkan dua sel anak

yang memiliki genotip sama dan identik dengan sel induknya. Mitosis juga

merupakan salah satu contoh dari pembelahan secara tak langsung. Pembelahan

sel secara tak langsung adalah pembelahan sel melalui tahapan-tahapan tertentu.

Tahapan-tahapan pembelahan itu ditandai dengan penampakan yang berbeda-beda

dari kromosom yang dikandungnya. Pada waktu sel sedang membelah diri, terjadi

proses pembagian kromosom di dalamnya. Tingkah laku kromosom selama sel

membelah dibedakan menjadi fase-fase pembelahan sel.

Proses yang terjadi selama mitosis dibagi menjadi 4 tingkat atau fase yaitu

profase, metaphase, anaphase dan telofase. Pada fase profase, aktivitas

pembelahan sel ditandai dengan berubahnya kromatin menjadi kromosom.

Sementara itu terjadi penggandaan tiap kromosom menjadi dua yang disebut

kromatid. Tiap kromatid masih melekat, berarti sentromer induk masih satu.

Nukleolus hilang, karyoteheca hilang, sentriol diselimuti serat-serat radial pendek,


berpisah dan pergi ke kutub bersebrangan menjadi bintang kutub. Terbentuknya

serat gelendong di antara kedua bintang kutub. Pada fase metaphase, tiap

kromosom yang terdiri dari sepasang kromatid yang masih melekat pergi ke

bidang ekuator. Kromatid akan menggantung pada serat gelendong lewat

sentromernya.

Fase anafase ditandai dengan membelahnya sentromer, kromatid dalam

satu kromosom induk berpisah menjadi kromosom anak, lalu pergi ke kutub yang

bersebrangan. Fase telofase adalah fase yang ditandai dengan kromosom berubah

menjadi kromatin. Serat gelendong menghilang, terbentuk kariotheca. Nucleus

muncul, bintang kutub kembali menjadi sentriol. Gentingan pada bidang ekuator,

sampai ke tengah, putus, terbentuk dua sel anak, masing-masing mengandung

kromosom 2n.

Pengamatan pembelahan sel akar tanaman bawang merah dan jagung

diperlukan, salah satu teknik untuk mengamati pembelahan sel yaitu fiksasi

merupakan langkah awal yang penting untuk membuat sediaan utuh maupun

sediaan sayatan. Tujuan fiksasi yaitu untuk menghentikan proses metabolisme

secara cepat, mencegah kerusakan jaringan dan mengawetkan komponen sitologi.

Berdasarkan uraian di atas maka penting dilakukan praktikum mengenai

“Pengamatan Pembelahan Sel pada Sel Akar Tanaman Jagung (Zea mays L.)”.

1.2 Perumusan Masalah

Pengamatan pembelahan sel menggunakan akar tanaman bawang merah

dan jagung disebabkan karena akar bawang merah memiliki kromosom yang

besar, jumlah kromosomnya tidak terlalu banyak, sehingga lebih memungkinkan


untuk mendapatkan hasil percobaan yang lebih baik akan lebih mudah didapatkan.

Akar tanaman jagung ini merupakan salah satu jaringan yang tersusun oleh sel-sel

somatik, khusus pada ujung akar bersifat meristematik, akar tanaman jagung

mudah tumbuh, meruapakan suatu ide yang belum pernah diteliti pada

pembelahan sel akar tanaman jagung ini. Proses pembelahan sel mitosis dibagi

menjadi 4 tingkat atau fase yaitu profase, metaphase, anaphase dan telofase.

Faktor-faktor yang mempengaruhi pembelahan sel antara lain penempelan (sel

bertumpu), kerapatan sel dan faktor pertumbuhan. Salah satu teknik untuk

mengamati pembelahan sel yaitu fiksasi. Tujuan dari fiksasi salah satunya untuk

menghentikan proses metabolisme secara cepat.

Berdasarkan latar belakang dari uraian masalah di atas apakah ada waktu

fiksasi yang tepat digunakan agar mampu melihat tahapan-tahapan pembelahan

sel akar tanaman jagung secara jelas.

1.3 Tujuan

Tujuan dari praktikum ini yaitu untuk mengetahui waktu fiksasi yang tepat

yang digunakan untuk mengamati secara jelas tahapan-tahapan pembelahan sel

akar tanaman jagung.


II. TINJAUAN PUSTAKA

Tanaman bawang merah (Allium ascalonicum L.) merupakan tanaman

sayuran yang sering digunakan pada pengamatan mitosis karena memiliki

pertumbuhan yang cepat, mudah didapat, dan harganya terjangkau. Pada

pengamatan mitosis yang menggunakan akar bawang merah akan memudahkan

pengamatan karena memiliki jumlah kromosom yang sedikit dan berukuran besar.

Waktu yang efektif terhadap perendaman akar bawang merah (Allium

ascalonicum L.) menggunakan pewarnaan safranin 2% untuk mengamati keempat

fase mitosis. Lama waktu perendaman safranin yang terbaik untuk pengamatan

fase pembelahan mitosis pada sel akar bawang adalah 15 dan 30 menit. Untuk

efisiensi waktu, maka sangat disarankan perendaman akar bawang dalam safranin

selama 15 menit (Abdullah, 2017).

Tahap yang paling sedikit dijumpai pada pengamatan pembelahan sel akar

tanaman bawang adalah metafase, anafase dan telofase dengan jumlah rata- rata

sel adalah 2.00, 1.56, dan 1.61 sel. Lebih sedikitnya jumlah sel pada metafase,

anafase dan telofase yang dapat diamati diduga karena tahap ini terjadi dalam

waktu yang singkat dibandingkan dengan tahap interfase dan profase. Tahap

metafase ditandai dengan tersusunnya kromosom pada bidang ekuator sel.

Sedangkan pada tahap anafase kromosom mulai terpisah dan kromatid akan

menuju ke kutub sel. Migrasi dari dua set anakan kromosom yang berpindah ke

kutub yang berlawanan menandakan bahwa proses anafase telah selesai, dan

kedua anakan memiliki jumlah kromosom yang sama (Enger et al., 2012).
Pembelahan sel merupakan proses integrasi dari dua pembelahan yaitu

pembelahan inti atau kariokinesis dan pembelahan sitoplasma atau sitokinesis.

Mitosis terjadi pada sel-sel somatic, menghasilkan dua sel anak yang memiliki

jumlah kromosom sama dengan induknya. Proses mitosis dibagi dalam empat

stadium secara berturut-turut yaitu profase, metaphase, anaphase, dan telofase.

Tahap profase terjadi kondensasi kromosom menjadi lebih pendek dan tebal.

Nucleolus mulai tidak tampak, membrane inti menghilang. Tiap kromosom

membelah memanjang, anakan kromosom ini disebut kromatid. Tahap

metaphase, kromosom menempatkan diri di bidang equatorial (tengah) sel. Pada

tahap anaphase kedua buah kromatid memisahkan diri dan ditarik benag

gelendong ke tiap kutub sel yang berlawanan. Pada tahap telofase di setiap kutub

sel terbentuk set kromosom yang serupa. Benang-benang gelendong lenyap dan

membrane inti terbentuk kembali (Hartati, 2010)

Pembelahan sel selain pada akar tanaman bawang merah diperoleh juga

pembelahan sel pada cabe besar dar hasil penelitian yang didalamnya diamati

meliputi fase profase, metafase, anafase dan telofase menggunakan suspensi

Trichoderma sp. Persentase rata-rata pembelahan pada masing-masing tahap

mitosis perlakuan lebih tinggi dibandingkan dengan kontrol. Pembelahan sel pada

tahap profase, anafase dan telofase menunjukkan bahwa Trichoderma sp. tidak

berpengaruh terhadap persentase pembelahan sel. Pada tahap ini rerata persentase

perlakuan suspensi (77,14%) lebih tinggi dibandingkan dengan kontrol (66,14%).

Pada tahap metafase menunjukkan bahwa Trichoderma sp. berpengaruh terhadap

persentase pembelahan sel. Pada tahap ini rerata persentase perlakuan (12,96%)
lebih tinggi dibandingkan dengan kontrol (5,44%). Berdasarkan perhitungan rata-

rata, dapat diketahui bahwa pembelahan sel pada perlakuan lebih tinggi

dibandingkan dengan pembelahan sel pada kontrol. Hal ini disebabkan oleh

perlakuan dengan suspensi Trichoderma sp. dapat memacu pertumbuhan karena

dapat berfungsi sebagi zat pengatur tumbuh bagi tumbuhan (Raja, 2015).

Pengamatan kromosom pada ujung akar tanaman bawang merah yaitu

diantaranya bawang merah yang telah direndam dalam larutan etidium bromida

dipotong pada pukul 07.00-08.30 dan pukul 09.00-10.00 sepanjang 1-2 cm.

Akar yang telah dipotong dimasukkan ke dalam lima tabung Eppendorf yang

telah diisi larutan fiksatif farmer’s (Etanol absolut:asam asetat glasial (3:1)),

masing- masing tabung berisi 2 akar yang berasal dari satu umbi. Preparat akar

bawang merah dibuat dengan metode squash.Setelah ujung akar difiksasi dengan

larutan fiksatif selama 1- 24 jam pada suhu -20oC, akar dicuci dengan

aquades dan dihidrolisa dengan HCL 2N pada suhu 60oC selama 2-3

menit. Setelah dihidrolisa, akar dibilas dengan aquades kemudian diletakkan

diatas gelas benda dan dipotong 1-2mm, ditetesi pewarna acetoorcein 2%

sebanyak satu tetes, dibiarkan selama 30 menit-1 jam, preparat ditutup

dengan cover glass dan ditekan dengan kertas saring sambil diisap sisa pewarna

yang tercecer disekitar kaca penutup. Selanjutnya preparat dipanaskan diatas api

bunsen selama 1 menit agar pewarna meresap dengan sempurna. Preparat

diamati dibawah mikroskop (Imaniar, 2014).

Kromosom adalah benang-benang yang terdapat pada inti sel yang

berfungsi membawa DNA yang bersifat bawaan dan berisi tentang sebagian besar
informasi untuk aktivitas regulasi sel. Kromosom akan tampak jelas pada sel

yang aktif membelah. Jumlah kromosom di dalam inti sel dari berbagai

organisme berbeda-beda. Saat ini teknik penggandaan kromosom sudah mulai

digunakan pada tanaman jati. Namun hasil seleksinya hanya berdasarkan

penampilan fenotipnya saja, masih jarang yang meneliti mengenai perubahan

genotip. Penghitungan jumlah kromosom dapat dilakukan dengan cara analisis

kromosom dengan metode pewarnaan (Draghia, 2013).

Kromosom di dalam inti saat proses pembelahan sel. Kromosom

merupakan materi genetik yang berperan dalam pewarisan sifat suatu

individu. Kualitas preparat yang digunakan selama kegiatan pengamatan

memengaruhi pemahaman siswa dalam mempelajari pembelahan mitosis sel

Metode yang umum digunakan dalam membuat preparat mitosis yaitu

dengan squash. Metode squash yaitu suatu metode untuk mendapatkan suatu

preparat dengan cara meremas suatu potongan jaringan atau suatu organisme

secara keseluruhan, sehingga didapatkan suatu sediaan yang tipis yang

dapat diamati di bawah mikroskop Waktu pembelahan sel tiap tanaman

berbeda-beda dan tidak konstan sepanjang hari. Waktu pemotongan ini terkait

dengan durasi mitosis dan indeks mitosis. Perbedaan durasi mitosis

pada setiap spesies bergantung pada kondisi lingkungan. Temperatur dan

nutrisi, merupakan faktor utama dalam durasi mitosis (Abidin, 2014).

Kromosom dapat dilihat karena dapat berikatan dengan pewarna tertentu.

Kehati-hatian dalam penggunaan data kromosom yang dihasilkan oleh para

peneliti terdahulu perlu ditekankan, baik yang berhubungan dengan jumlah


maupun bentuk kromosom. Hal ini disebabkan selama proses fiksasi dan

pewarnaan yang tidak optimal. Kesalahan dalam identifikasi juga seringkali

terjadi. karena pada umumnya jumlah kromosom yang telah dipublikasikan pada

jenis tertentu tidak menyertakan asal/data dari individu yang diamati, apakah

langsung dikoleksi dari habitat alami atau hasil budidaya. Selain itu, hasil

pengamatan kromosom dari suatu jenis palem biasanya tidak menginformasikan

jumlah individu dan ulangan. Jumlah kromosom suatu jenis tumbuhan baru dapat

dipublikasikan setelah mengamati minimal 3 individu (Witono, 2008).

Fiksasi adalah berbagai perlakuan yang dapat melindungi struktur

sel dan komposisi biokimianya. Fiksasi dapat menstabilkan sel dan jaringan agar

dapat melindungi dari kekakuan pada saat proses pengolahan dan teknik

pewarnaan Fiksasi kimia biasanya dilakukan dengan merendam jaringan pada

larutan fiksatif atau pada sebagian kecil organ seperti paru dengan memasukkan

cairan fiksatif pada sistem vaskuler. Fiksasi kimia menjalankan perannya dalam

memproteksi sel dan jaringan dengan mendenaturasi protein menggunakan cara

koagulasi (fiksasi non- aditif), cross-linking (membentuk senyawa aditif) atau

dengan kombinasi keduanya.1,4,9 Fiksatif kimia adalah yang paling umum

digunakan untuk sediaan yang dilihat menggunakan mikroskop (Musyarifah,

2018).

Metode pencet atau metode squash adalah metode untuk mendapatkan

sesuatu sediaan dengan cara memencet suatu potongan jaringan atau suatu

organisme secara keseluruhan, sehingga didapatkan suatu sediaan yang titip yang

dapat diamati di bawah mikroskop, dalam pembuatan sediaan ini diusahakan agar
sel-sel terpisah satu sama lain, tetapi tidak kehilangan bentuk aslinya dan tersebar

dalam suatu lapisan di atas gelas benda. Pemencetan dapat dilakukan dengan

menggunakan ibu jari atau benda lain yang tumpul, misalnya pensil. Untuk

mendapat sebaran sel yang bagus, sangat bergantung oleh tingkat kelunakan objek

yang dibuat preparat. Dengan demikian apabila objek yang bersangkutan

tergolong keras, maka perlu dilakukan pelunakan terlebih dahulu sebelum

dilakukan pemejetan (Rudyatmi, 2015).

Pengamatan ujung akar tanaman dapat dilakukan diantaranya dengan

hidrolisis dilakukan dengan cara merendam sampel dalam larutan HCl 10% dan

diletakkan di dalam water bath pada suhu 60oC selama 30 menit. Proses

berikutnya adalah rehidrasi. Rehidrasi dilakukan dengan cara merendam sampel

dalam alkohol bertingkat (90%, 70%, 50%) masing-masing selama 2 menit yang

dilanjutkan dengan proses pewarnaan. Pewarnaan dilakukan dengan cara

merendam sampel dalam aceto-orcein dan diletakkan di dalam water bath pada

suhu 50oC selama 30 menit, lalu sampel ujung akar di-squash, diamati, dan

didokumentasikan (Mulyaningsih, 2015).


III. METODOLOGI PRAKTIKUM

3.1 Waktu dan Tempat

Praktikum ini di laksanakan pada hari Jumat, 14 Maret 2019 pada pukul

10.00 WITA-selesai. Bertempat di Laboratorium Agroteknologi Unit In Vitro

Fakultas Pertanian Universitas Halu Oleo.

3.2 Alat dan Bahan

Alat-alat yang digunakan pada praktikum ini yaitu silet, pipet tetes,

mikroskop, kaca preparat dan penutupnya, petrdist, tube, pinset, lampu bunsen,

alat tulis menulis dan kamera.

Bahan yang digunakan adalah akar tanaman bawang merah (Allium cepa L.)

dan akar tanaman jagung (Zea mays L.), tisu, aquadest larutan Aseton-orcein,

larutan carnoy dan spiritus.

3.3 Prosedur Kerja

Berikut prosedur kerja pengamatan pembelahan sel pada akar tanaman

bawang merah (Allium cepa L.) dan akar tanaman jagung (Zea mays L.) :

1. Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan.

2. Melakukan fiksasi dengan perbedaan waktu fiksasi masing diantaranya

masing-masing waktu selang 30 menit terdiri dari pukul 08.00; 08.30; 09.00;

09.30; 10.00 dan 10.30 menggunakan larutan karotenoid selama 2 hari 2

malam. Selanjutnya fiksasi pada pukul 12.00 menggunakan larutan aceto

orcein.
3. Menyiapkan ujung akar tanaman bawang merah (Allium cepa L.) dan akar

tanaman (Zea mays L.) yang telah difiiksasi.

4. Mengeluarkan potongan akar tanaman bawang merah (Allium cepa L.) dan

akar tanaman jagung (Zea mays L.) dari tube kedalam petridist yang

kemudian dibilas dengan aquadest sebanyak 3 kali 5 menit.

5. Setelah dilakukan pembilasan memasukan kembali kedalam tube kemudian

direndam menggunakan larutan Aceton-orcein selama 10 menit.

6. Setelah itu pindahkan akar tanaman bawang merah (Allium cepa L.) dan akar

tanaman jagung (Zea mays L.) diatas petridist kemudian lakukan pengirisan

ujung akar setipis mungkin.

7. Kemudian meletakkan ujung akar yang telah di iris ke atas kaca preparat,

meneteskan Aceto-orcein ke atas preparat, menutup preparat dengan kaca

penutup.

8. Melakukan proses pembakaran dengan melewatkan preparat ujung akar

tanaman bawang merah (Allium cepa L.) dan akar tanaman jagung (Zea mays

L.) di atas api spiritus.

9. Setelah pembakaran menekan preparat atau melakukan mengetukan dengan

cepat menggunakan karet penghapus pensil serta melakukan metode (squash)

mengamati fase pembelahan sel akar tanaman jagung di bawah mikroskop.

10. Mendokumentasi semua kegatan praktikum dan hasil pengamatan.


IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil

Hasil dari praktikum pengamatan pembelahan sel pada akar tanaman jagung

dan bawang merah dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 1.1 Hasil pengamatan pembelahan sel akar tanaman jagung (Zea mays L.)

dan bawang (Allium cepa L.)

No Nama Preparat Gambar Preparat Keterangan

1. Sel akar tanaman jagung 1. Dinding sel


(Zea mays L.)

Perbesaran 40x

Sel akar tanaman jagung 1. Dinding sel


(Zea mays L.)

Perbesaran 100x

2. Sel akar tanaman bawang 1. Dinding sel


merah (Allium cepa L.)
1

Perbesaran 40x

Sel akar tanaman bawang 1. Dinding sel


merah (Allium cepa L.)

11

Perbesaran 100x
4.2 Pembahasan

Setiap sel berasal dari sel sebelumnya. Pembelahan sel dapat dikatakan

sebagai suatu proses yang menyangkut terbentuknya sel-sel anak baru dari

induknya. Pada sel somatis (sel jaringan tubuh), akan terjadi suatu pembelahan

sel induk menjadi dua sel anak yang komponen-komponennya sama dan identik

dengan sel induk. Peristiwa pembelahan sel somatis semacam ini disebut sebagai

mitosis. Mitosis adalah pembelahan sel dimana berlangsung pembelahan dan

pembagian nukleus beserta kromosom-kromosom yang terdapat di dalamnya

Faktor-faktor yang mempengaruhi pembelahan sel : 1) penempelan (sel

bertumpu), sel membelah setelah sel bertumpu/menempel. 2) Kerapatan sel, sel

berhenti membelah setelah seluruh permukaan dilapisi satu lapis sel. 3) Faktor

pertumbuhan, walau seluruh permukaan telah penuh sel.

Mitosis mempertahankan pasangan kromosom yang sama melalui

pembelahan inti dari sel somatis secara berturut turut. Peristiwa ini terjadi

bersama-sama dengan pembelahan sitoplasma dan bahan-bahan di luar inti sel dan

memiliki peran penting dalam pertumbuhan dan perkembangan hampir semua

organisme. mitosis memiliki beberapa tahapan meliputi profase metafase, anafase,

dan telofase. Terjadi pada ujung akar, yang mengalami pembelahan awal. mitosis

terjadi dalam sel somatik yang bersifat meristematik, yaitu sel-sel yang hidup

terutama yang sedang tumbuh (ujung akar dan ujung batang), mitosis pada

tumbuhan terjadi selama mulai dari 30 menit sampai beberapa jam dan merupakan

bagian dari suatu proses yang berputar dan terus menerus. Proses mitosis ini

terjadi bersama dengan pembelahan sitoplasma dan bahan-bahan di luar inti sel.
Pada mitosis setiap induk yang diploid (2n) akan menghasilkan dua buah sel

anakan yang masing-masing tetap diploid serta memiliki sifat keturunan yang

sama dengan sel iduknya.

Pertumbuhan akar tidak akan terjadi apabila seluruh tunas dihilangkan

atau dalam keadaan istirahat. Pembelahan sel yang terjadi pada titik tumbuh

ujung-ujung akar tergantung pada prsediaan karbohidrat yang cukup. Pembelahan

tersebut dapat diamati dengan membuat preparat menggunakan metode

squash (Nugroho, 2010).

Kromosom adalah suatu struktur makromolekul yang berisi DNA di mana

informasi genetik dalam sel disimpan. Kata kromosom berasal dari kata khroma

yang berarti warna dan soma yang berarti badan Kromosom terdiri atas dua

bagian, yaitu sentromer / kinekthor yang merupakan pusat kromosom berbentuk

bulat dan lengan kromosom yang mengandung kromonema & gen berjumlah dua

buah (sepasang).

Pewarnaan dimaksudkan agar sel-sel yang akan diamati terlihat karena

jika tidak diwarnai maka akan transparan sehingga sulit diamati di bawah

mikroskop. Perendaman menggunakan asetocarmin selama 3 menit dimaksudkan

agar proses pewarnaan berjalan sempurna. Penggunaan bahan pewarna

acetoorcein supaya dapat memberi warna pada benang-benang kromatin. Hal ini

berhubungan dengan tujuan pembuatan preparat yaitu untuk mengamati

pembelahan mitosis yang terjadi pada ujung akar bawang merah (Allium cepa L.)

dan jagung (Zea mays L.). Dengan adanya pewarnaan menggunakan acetoorcein,
bagian ujung akar yang aktif membelah akan berwarna lebih tua dibandingkan

sel-sel yang telah terdiferensiasi.

Berdasarkan hasil yang diperoleh pada pengamatan kali ini kami tidak

dapat melihat kromosom yang terdapat pada inti sel, hal ini dikarenakan

keterbatasan alat yang digunakan. Pada praktikum kali ini, banyak sekali

kekurangan dalam pelaksanaan prosedur terlalu terburu-buru, sehingga hasil

pengamatan yang diperoleh kurang maksimal diantaranya kesalahan pada proses

pengerjaan dan keterbatasan alat serta bahan yang digunakan terutama larutan

acetoorcein yang terbatas sehingga cepat habis dan menjadi kendala dalam

pewarnaan sehingga tidak maksimal dalam mengamati pembelahan mitosis dan

kromosom di dalam inti sel. Selain daripada itu kurangnya keterampilan praktikan

dalam mengiris preparat yang akan diamati..

Factor-faktor yang mempengaruhi kegagalan dalam praktikum adalah

pada saat pemotongan akar bawang itu tidak teliti, cara pewarnaan pada kaca

preparat yang salah atau terlalu banyak memberi zat pewarna dan metode squash.

Squash merupakan metode yang biasa digunakan dalam mengamati proses pada

ujung akar. Kelebihan dari metode squash ini yaitu dapat melihat tahap

pembelahan mitosis pada tumbuhan dan dapat digunakan dalam jangka waktu

yang lama, tapi dibalik kelebihan terdapat pula kekurangan menggunakan metode

squash yaitu alat serta bahan yang kurang lengkap sehingga tidak dapat membuat

preparat secara maksimal.


V. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Pembelahan sel dapat dikatakan sebagai suatu proses yang menyangkut

terbentuknya sel-sel anak baru dari induknya. Salah satu teknik mengamati

pembelahan sel adalah dengan fiksasi. Fiksasi merupakan langkah awal untuk

membuat sediaan utuh dan sediaan sayatan. Berdasarkan hasil praktikum ini hasil

yang diperoleh tidak begitu jelas pada setiap fase namun dari kedua waktu fiksasi

yang digunakan nampak bahwa sel akar tanaman bawang yang jelas terlihat pada

waktu fiksasi pukul 12.00. Namun pada praktikum ini tetap tidak diperoleh

tahapan-tahapan pembelahan sel hal ini disebabkan keterampilan squash yang

kurang, keterampilan pemanasan serta proses pewarnaan sel.

5.2 Saran

Saran yang dapat saya ajukan pada praktikum ini yaitu sebaiknya

praktikan tertib dan tidak ribut dalam mengikuti kegiatan praktikum.


DAFTAR PUSTAKA

Abdullah FN, Adi SJ, Widayat. 2017. Penentuan Waktu Perendaman Sel (Fase
Mitosis) Akar Bawang Merah (Allium ascalonicum L.) Menggunakan
Safranin Untuk Mendukung Praktikum Biologi. Jurnal Bioleuser 1 (3) : 86-
91.

Abidin AZ, Budiono JD, Isnawati. 2014. Studi Indeks Mitosis Bawang untuk
Pembuatan Media Pembelajaran Preparat Mitosis. Jurnal Bioedu. 3 (3) :
571-579.
Draghia L, Chelariu EL, Sîrbu C, Brânzà M, Sandu Miculschi C. 2013.
Analysis of chromosome number in some Allium and Silène wild species
with ornamental use. Not Bot Horti Agrobo 41 (1) : 294-300.

Enger ED, Ross FC, Bailey DB. 2012. Concepts In Biology Fourteenth Edition.
McGraw-Hill, Americas New York.

Hartati, 2010. Genetika. Jurusan Biologi Fakultas Pendidikan Matematika Dan


Ilmu. Yogyakarta.

Imaniar EF, Made P. 2014. Kerusakan Kromosom Bawang Merah (Allium cepa
L.) Akibat Perendaman dengan Etidium Bromida. Jurnal Simbiosis II (2):
173- 183.

Mulyaningsih T, Astuti SP. 2015. Diktat Praktikum Mikroteknik Tumbuhan.


Universitas Mataram. Mataram.
Musyarifah Z, Salmiah A. 2018. Proses Fiksasi pada Pemeriksaan Histopatologik.
Jurnal Kesehatan Andalas.7 (3) : 443-453.
Raja PD, Eniek K, Nyoman ND. 2015. Indeks Mitosis Ujung Akar Kecambah
Cabe Besar (Capsicum annuum L.) Setelah Perlakuan Suspensi
Trichoderma sp. Jurnal Biologi 19 (2) : 80-85.

Rudyatmi E. 2015. Bahan Ajar Mikroteknik. Jurusan Biologi Fmipa Unnes.


Semarang.
Witono JR. 2008. Kilas Balik Penelitian Kromosom Palem Indonesia1
(Chromosome Research Flashback of Indonesian Palms). Jurnal Biologi
9(2) : 115-122.
DOKUMENTASI

Persiapan alat dan bahan dalam fiksasi

Persiapan fiksasi menggunakan larutan carnoy dan aseto orsein


pada akar tanaman jagung dan bawang merah

Persiapan alat dan bahan mengamati pembelahan sel

Proses persiapan pengamatan pembelahan sel akar tanaman jagung dan bawang
mengetuk-ngetuk dan mensquash

Pembelahan sel pada akar tanaman bawang merah Perbesaran 40x dan 100x

Pembelahan sel pada akar tanaman jagung Perbesaran 40x dan 100x

Anda mungkin juga menyukai