Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Makhluk hidup memiliki ciri di antaranya dapat berkembang biak, begitu

juga dengan manusia. Manusia hanya mengalami reproduksi secara kawin

(seksual/generatif). Laki-laki dan perempuan memiliki sistem reproduksi

yang berbeda sesuai dengan fungsinya. Proses reproduksi pada manusia

membutuhkan sperma dan ovum. Sperma merupakan sel kelamin manusia

yang dihasilkan oleh laki-laki.Adapun Ovum merupakan sel kelamin manusia

yang dihasilkan oleh perempuan (Hengki, Lukas. 2016).

Proses reproduksi pada manusia diawali dengan pembentukan sel

kelamin pada laki-laki. Pembentukan sel kelamin pada laki-laki (sperma)

disebut spermatogenesis. Spermatogenesis terjadi pada testis. Pada testis

terdapat sel induk sperma (spermatogonia) yang secara berurutan akan

membelah menjadi spermatosit primer, spermatosit sekunder, spermatid, dan

terbentuklah sperma. Seorang laki-laki dapat menghasilkan sperma sepanjang

hidupnya selama dia sehat (Hengki, Lukas. 2016).

Semen, yang diejakulasikan selama aktivitas seksual pria, terdiri atas

cairan dan sperma yang berasal dari vas deferens (kira-kira 10% dari

keseluruhan semen), cairan dari vesikula seminalis (kira-kira 60%), cairan

dari kelenjar prostat (kira-kira 30%), dan sejumlah kecil cairan dari kelenjar

mukosa, terutama kelenjar bulbouretralis. Jadi, bagian terbesar semen adalah

cairan vesikula seminalis, yang merupakan cairan terakhir yang

diejakulasikan dan berfungsi untuk mendorong sperma keluar dari duktus

1
ejakulatorius dan uretra. pH rata-rata dari campuran semen mendekati 7,5

cairan prostat yang bersifat basa menetralkan keasaman yang ringan dari

bagian semen lainnya. Cairan prostat membuat semen terlihat seperti susu,

sementara cairan dari vesikula seminalis dan dari kelenjar mukosa membuat

semen menjadi agak kental (Trinil, Susilawati M.S. 2011).

Sehingga, untuk mengetahui apakah seseorang pria infertil ataupun fertil

peranan analisa semen sangatlah penting. Semen yang akan dipergunakan

dalam analisa semen diambil setelah abstinensia minimal 48 jam sampai

maksimal 7 hari dengan cara masturbasi (Trinil, Susilawati M.S. 2011).

1.2 Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah pada praktikum kali ini ialah bagaimana cara

pemeriksaan sperma menggunakan metode mikroskopis dan makroskopis?

1.3 Tujuan Praktikum

Adapun tujuan pada praktikum kali ini ialah untuk mengetahui

pemeriksaan sperma menggunakan metode mikroskopis dan makroskopis.

1.4 Manfaat Praktikum

Adapun manfaat pada praktikum kali ini ialah agar mahasiswa dapat

mengetahui pemeriksaan sperma menggunakan metode mikroskopis dan

makroskopis.

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Spermatozoa
Spermatozoa merupakan sel yang dihasilkan oleh fungsi reproduksi pria.

Sel tersebut mempunyai bentuk khas yaitu mempunyai kepala, leher dan ekor.

Spermatozoa merupakan sel hasil maturasi dari sel epitel germinal yang

disebut spermatogonia. Spermatogonia terletak dalam dua sampai tiga lapisan

sepanjang batas luar epitel tubulus. Proses perkembangan spermatogonia

menjadi spermatozoa disebut spermatogenesis. (Fajar, 2014)


Spermatozoa merupakan sel yang sangat terspesialisasi dan padat yang

tidak lagi mengalami pembelahan atau pertumbuhan, berasal dari gonosit

yang menjadi spermatogonium, spermatosit primer dan sekunder dan

selanjutnya berubah menjadi spermatid dan akhirnya berubah menjadi

spermatozoa. Spermatozoa terdiri atas dua bagian fungsional yang penting

yaitu kepala dan ekor. (Ahmad, 2014)

Spermatozoa memiliki antioksidan dalam jumlah terbatas sesuai dengan

volume sitoplasma yang sedikit. Kondisi tersebut mengakibatkan

spermatozoa menjadi rentan terhadap stress oksidatif yang disebabkan

reactive oxygen species (ROS). Ros adalah radikal bebas yang berupa

oksigen, radikal bebas ini dapat menyebabkan kerusakan oksidatif terhadap

molekul protein, DNA, lemak membrane sel, dan komponen sel atau jaringan

yang lain. Selain itu, plasma membran spermatozoa yang kaya asam lemak

tak jenuh untuk menjaga fluiditas membran mengakibatkan spermatozoa

mudah berikatan dengan ROS. Mekanisme tersebut menimbulkan stres

oksidatif sebagai hasil peroksidasi plasma membran sehingga menyebabkan

3
kerusakan spermatozoa dan mekanisme pertahanannya. (Silvia dan triana,

2015)

2.2 Tahap Pembentukan Sperma

Gambar 2.2.1 Tahap Pembentukan Sperma

Proses pembentukannya disebut spermatogenesis. Spermatogenesis

adalah suatu proses pembentukan spermatozoa (sel gamet jantan) yang terjadi

di tubuli seminiferi yang terletak di testis, testis 90% tersusun oleh tubuli

seminiferi, sedangkan yang 10% sel intertitiel dan jaringan ikat. Spermatozoa

yang dihasilkan oleh tubuli seminiferi dikeluarkan kesaluran reproduksi

jantan yang terdapat silia dan muskulernya yang dapat menggerakan

spermatozoa dalam proses transportasi, saluran reproduksi jantan tersebut

adalah reteteste, vas defferens epididimis, vas efferens dan terakhir di uretra.

(Trinil, 2011)

Proses spermatogenesis terjadi di dalam tubulus seminiferus selama

kehidupan seksual aktif. Hal ini sebagai akibat dari rangsangan oleh hormon

4
gonadotropin yang dihasilkan oleh hipofisis anterior dan dimulai rata-rata

pada usia 13 tahun dan berlansung sepanjang hidup. Pada tahap pertama dari

spermatogenesis, spermatogonia primitif berkumpul tepat ditepi membrane

basal dari epitl germinativum, disebut spermatogonia tipe A, membelah empat

kali untuk membentuk 16 sel yang lebih berdiferensiasi, yaitu spermatogonia

tipe B. Pada tahap ini, spermatogonia bermigrasi ke arah sentral di antara sel-

sel Sertoli. Sel-sel Sertoli mempunyai membran yang sangat kuat berlekatan

satu sama lain pada bagian dasar dan bagian sisi, sehingga dapat membentuk

suatu lapisan pertahanan yang mencegah dari peneterasi dari kapiler-kapiler

yang mengelilingi tubulus. Namun spermatogonia yang sudah dipersiapkan

untuk menjadi spermatozoa dapat menembus lapisan pertahanan tersebut.

(Fajar, 2014)

Proses berikutnya ialah pembelahan secara meiosis. Dalam waktu 24

hari, setiap spermatogonium yang masuk ke dalam lapisan sel-sel Sertoli

dimodifikasi secara berangsur-angsur dan membesar untuk membentuk suatu

spermatosit primer. Pada akhir hari ke-24, setiap spermatosit terbelah menjadi

dua spermatosit sekunder. Pembelahan ini disebut sebagai pembelahan

meisosis pertama. Pada tahap awal pembelahan meiosis ini, semua DNA

dalam 46 kromosom bereplikasi. Dalam proses ini, masing-masing 46

kromosom menjadi dua kromatid yang tetap berikatan bersama pada

sentromer, kedua kromatid memiliki gen-gen duplikat dari kromosom

tersebut. Pada waktu ini, spermatosit primer membelah menjadi dua

spermatosit sekunder, yang setiap kromosom berpisah sehingga ke-23

kromosom, yang masing-masing memiliki dua kromatid, pergi ke salah satu

5
spermatosit sekunder sementara 23 kromosom yang lain pergi ke spermatosit

sekuder lainnya. Dalam dua sampai tiga hari, pembelahan meiosis kedua

terjadi, di mana kedua kromatid dari 23 kromosom berpisah pada sentromer,

membentuk dua pasang 23 kromosom, satu pasang terdapat dalam satu

spermatid dan satu pasang yang lain terdapat pada spermatid kedua.

Manfaat pembelahan secara meiosis adalah bahwa setiap spermatid

hanya terdapat 23 kromosom, sehingga spermatozoa yang akhirnya

membuahi ovum wanita akan menyediakan setengah dari bahan genetic ke

ovum yang dibuahi dan ovum akan menyediakan setengah bagian berikutnya.

(Fajar, 2014)

2.3 Struktur Spermatozoa

Gambar 2.3.1 Struktur Spermatozoa

a. Kepala Spermatozoa

Bagian kepala spermatozoa didominasi oleh inti sel yang mengandung

materi genetik (DNA dan RNA). Inti bersifat seperti gram positif,

mengandung DNA, RNA, lipid, mucoprotein, magnesium, ferum, Cu, K,

fosfat dan vakuola yang mengandung kalium. Inti spermatozoa bisa

diwarnai oleh metil hijau, toluidin blue dan brilian kresil blue. (Hengki,

2016)

6
Bentuk kepala spermatozoa bermacam-macam, pada spermatozoa

manusia berbentuk oval, sedangkan leher sangat pendek yang berfungsi

sebagai penghubung bagian kepala dengan ekor. Dua pertiga bagian depan

inti semua spermatozoa ditutupi oleh akrosom. Akrosom terletak di bagian

ujung kepala di antara membran inti dan membran sel. Membran luar

akrosom berhadapan dengan membran sel dan membran dalam akrosom

melapisi membran inti sel. Di antara kedua membran ini terdapat matriks

akrosom. Terbentuknya kompleks akrosom, berasal dari vesikel yang ada

di sitoplasma yang dibentuk oleh kompleks golgi, terakumulasi di tepi inti

dan bergabung membentuk vesikel pro-akrosom. Bentuk awal vesikel

adalah pipih, berkembang menjadi vesikel pro-akrosom berbentuk granula

di bagian luar inti. Vesikel akrosomal dibentuk dari korteks dan matriks

elektronik. Mangkok sub- akrosomal kemudian berkembang, melingkar

dan merata. Di bagian atas inti dan mangkok sub-akrosom terdapat daerah

epinuklear. Perforatorium adalah bagian kecil yang terdapat antara

akrosom dan inti yang dikelilingi oleh mangkok sub- akrosomal. Sebagian

dari perforatorium dan vesikel akrosom diidentifikasikan sebagai daerah

sub-akrosomal. (Hengki, 2016)

b. Leher Spermatozoa

Bagian leher spermatozoa (connecting piece) merupakan bagian yang

menghubungkan kepala dengan ekor spermatozoa. Leher terdiri dari

susunan lipid, kalium, kalsium, besi, Cu, fosfat dan sulfhidril serta

disulfida dan kolesterol. Pada bagian leher terdapat mitokondria terletak

pada bagian ini tersusun secara spiral dan dilindungi dari bagian luar oleh

7
membran sel. Mitokondria merupakan tempat untuk sintesis energi

(adenosine triphosphate, ATP) yang digunakan untuk pergerakan

spermatozoa. Pergerakan terjadi dengan mengubah energi kimia menjadi

energi kinetik. Struktur spermatozoa berturut-turut dari luar adalah

membran sel, mitokondria, serabut tebal, dan serabut halus (mikrotubulus).

(Hengki, 2016)

c. Ekor Spermatozoa

Ekor spermatozoa terdiri atas bagian tengah (middle piece), bagian

utama (principle piece), dan bagian akhir (end piece). Pembagian tersebut

berdasar letak, struktur dan fungsinya, terdiri dari susunan lipid, kalium,

kalsium, besi, Cu, fosfat dan sulfhidril serta disulfida dan kolesterol.

(Hengki, 2016)

Organel sel yang ada di ekor spermatozoa, selain mitokondria, serabut

(mikrofibril), juga sitoplasma tetapi jumlahnya sangat sedikit. Sebagian

besar sitoplasma penyusun spermatozoa telah diabsorpsi oleh sel sertoli di

tubulus seminiferus saat spermiogenesis. Ekor atau flagella spermatozoa

bagian middle piece tersusun oleh membran sel, mitokondria, dan serabut

tebal penyusun aksonema (9+2 mikrotubulus). Makna aksonema 9+2

adalah jumlah serabut penyusunnya, yaitu 9 pasang mikrotubulus yang

terletak di bagian tepi (perifer) dan 2 mikrotubulus yang terletak di bagian

sentral. Setiap organel tersebut mempunyai peran dalam menjalankan

fungsi spermatozoa. Serabut tebal dan serabut halus merupakan organel

penyusun aksonema yang berperan sebagai motor penggerak terjadinya

motilitas spermatozoa. Struktur middle piece dapat dilihat lebih jelas

8
melalui potongan membujurnya. Aksonema yang terdapat di sepanjang

ekor spermatozoa membantu penggerak ekornya. (Hengki, 2016)

2.4 Faktor Motilitas Semen

Gangguan motilitas dapat ditimbulkan oleh beberapa faktor yaitu

kurangnya energi yang dihasilkan oleh mitokondria, terlalu banyak zat

koagulasi dalam semen sehingga menghalangi gerakan spermatozoa, dan

kerusakan struktur normal terutama pada ekor (flagel) yang merupakan satu-

satunya alat gerak spermatozoa. Kerusakan pada ekor yang dimaksud dapat

berupa kerusakan tingkat ultrastruktural seperti kerusakan membran

pembungkus ekor spermatozoa dan kerusakan aksonem. (Fajar, 2014)

Sebagian kecil dari sperma motil pada semen dapat diukur baik dengan

cara penghitungan manual atau menggunakan computer assisted semen

analysis (CASA). Motilitas dapat diperkirakan pada waktu likuifaksi dan

antara 1 sampai 3 jam untuk mendeteksi asthenozoospermia. Cara

penghitungan manual meliputi pemeriksaan motilitas kuantitatif dan

kualitatif. Motilitas kuantitatif ditentukan dengan menghitung spermatozoa

motil dan imotil pada sekurang-kurangnya 10 lapangan pandangan yang

terpisah dan dilakukan secara acak (tetapi tidak boleh yang dekat pojok gelas

penutup). Persentase spermatozoa motil dihitung dari rata-rata persentase

motilitas untuk semua lapangan pandangan yang dihitung. Nilai yang

diperoleh dibulatkan mendekati nilai yang dapat dibagi 5% (contohnya 73%

menjadi 75%; atau 68% menjadi 70%). Motilitas kualitatif ditentukan secara

subjektif berdasarkan pergerakan spermatozoa yang bergerak lurus kedepan

dengan baik dan pergerakan spermatozoa yang bergerak lambat dan sulit

9
maju lurus. Pembagiaannya adalah : kemudian diberi kode : x Gerakan cepat

dan maju lurus (derajat a), x Gerakan lambat dan sulit maju lurus (derajat b),

x Tidak bergerak maju (derajat c), x Tidak bergerak (derajat d). Semen yang

normal menunjukkan 60% spermatozoa motil atau lebih dengan sebagian

besar menunjukkan pergerakan baik sampai sangat baik dalam waktu

setengah sampai tiga jam sesudah ejakulasi. Bila terdapat motilitas yang

abnormal, misalnya pergerakan sirkuler, maka perlu dicatat (Fajar, 2014)

2.5 Pemeriksaan Makroskopis

Sifat makroskopik dari sampel semen meliputi volume, warna, pencairan,

dan viskositas. Volume (normal> 2 mL) dari ejakulasi merupakan indikator

akurat dari berbagai kelainan. Tidak adanya volume ejakulat setelah orgasme,

diistilahkan aspermia dimana kemungkinan terjadi pada pasien dengan

neuropati diabetes, mengkonsumsi asupan obat simpatolitik dan pernah

mengalami prosedur bedah yang merusak pleksus saraf simpatik atau reseksi

prostat. Dalam beberapa kasus ini, mungkin ada aliran semen retrograde ke

dalam kandung kemih, sehingga pemeriksaan urin post ejaculatory harus

dilakukan. Hypospermia (ejakulat volume <0,5 ml), bisa karena hilangnya

sebagian dari ejakulasi selama pengumpulan, periode pantang (abstinensia)

pendek atau orgasme tidak lengkap. Hypospermia dengan pH kurang dari 7,4

mengindikasikan obstruksi duktus ejakulasi sebagian / lengkap atau tidak ada

vesikula seminalis. Jika hypospermia dikaitkan dengan pH lebih dari 7,8, itu

bisa menunjukkan penurunan fungsi kelenjar aksesori seperti dalam kasus

hipogonadisme, peradangan atau asupan narkotika . Warna ejakulat menjadi

pertanda bagi kondisi klinis yang terkait, seperti pada kondisi berlebihan

10
eritrosit, yaitu hematospermia (warna merah). Sampel ejakulat yang normal

biasanya menggumpal segera setelah ejakulasi dan kemudian mencair dalam

waktu 15-30 menit. Kegagalan koagulasi menunjukkan kurangnya sekresi

dari vesikula seminalis, yang mungkin karena obstruksi atau tidak adanya

vesikula seminalis. (Hengki, 2016)

2.6 Pemeriksaan Mikroskopis

Mikroskopis semen analisis rutin meliputi konsentrasi sperma, motilitas,

viabilitas, morfologi serta komponen seluler nonsperm dalam bentuk

konsentrasi leukosit dan sel-sel germinal belum matang. Titik cut off dari 20

juta spermatozoa / mL disarankan sebagai nilai normal untuk konsentrasi

spermatozoa. Pengamatan konsentrasi sperma rendah, oligozoospermia,

ditunjukkan ketika konsentrasi spermatozoa di bawah 5-10 × 106 / mL. Ini

mungkin disebabkan oleh hilangnya sebagian dari ejakulat, obstruksi parsial

saluran ejakulasi, obat atau kelainan genetik. faktor lain termasuk obat seperti

nitrofurantoin dan paparan panas yang berlebihan. Di samping itu,

azoospermia, mungkin karena obstruksi pada saluran yang berhubungan

dengan transportasi spermatozoa, hipogonadisme, dan penyebab iatrogenik ,

seperti kemoterapi atau faktor idiopatik, yang paling mungkin berasal dari

genetik jika azoospermia terdeteksi, analisis semen harus diulang untuk

mengkonfirmasi . azoospermia adalah salah satu kondisi, di mana analisis

kimia dari seminal plasma mungkin penting. Fruktosa, biasanya hadir dalam

seminal plasma , berasal terutama dari vesikula seminalis. Tidak adanya

fruktosa dalam pasien azoospermia mungkin menunjukkan obstruksi saluran

ejakulasi. (Hengki, 2016)

11
Kehadiran spermatozoa dengan motilitas progresif dalam ejakulat sangat

penting untuk memastikan transportasi spermatozoa yang memadai.

Kehadiran motilitas spermatozoa yang rendah, asthenozoospermia, bisa

terjadi sebagai akibat dari waktu yang terlalu lama untuk mengumpulkan

sampel. Kontainer sampel mungkin sebagai paparan racun bagi spermatozoa,

dan sampel yang suhu nya ekstrim atau sinar matahari dapat menyebabkan

menurun nya motilitas spermatozoa. Penyebab lain asthenozoospermia

termasuk kelainan pada axonemal sperma, leukosit yang berlebihan, dan

idiopatik. Asthenozoospermia juga paling sering terlihat dengan antibodi

antisperma dari ovum. Kegagalan fertilisasi salah satunya disebabkan oleh

persentase rendahnya acrosomes. Satu studi mengidentifikasi korelasi erat

antara kelainan kepala sperma dan penurunan respon terhadap reaksi

akrosom. Dengan sederhana, evaluasi morfologi akrosom, dapat memprediksi

kemampuan fisiologis sperma untuk fertilisasi . Sejumlah investigasi telah

menemukan hubungan positif antara kelainan kepala sperma dan kelainan

DNA. Sebuah studi tertentu, kepala sperma dibandingkan dengan kelainan

DNA, dan menemukan tingkat signifikan lebih tinggi dari gangguan genetik

dipasien teratozoospermia, menunjukkan bahwa kelainan kepala sperma

mungkin sebagian disebabkan oleh pengurangan kondensasi kromatin, itu

dimungkinkan ada pengaruh terhadap DNA oksidatif stres dan fluktuasi suhu

yang berbahaya, sehingga akhirnya menyebabkan kegagalan fertilisasi. Oleh

karena itu, selama penilaian morfologi sperma penting untuk memilih teknik

pewarnaan yang paling akurat menunjukkan potensi kesuburan pria.

Spermatozoa normal yang dicari dalam ejakulat adalah spermatozoa yang

12
secara biologis dipilih yang dimana mampu mencapai lendir endoserviks ,

pada penelitian yang pernah ada, spermatozoa ini diperiksa denga pewarnaan

metode papaniculaou dan kemudian diamati kelainan kepala atau ekor dan

didapati kesimpulan bahwa sebuah populasi yang normal morfologis

spermatozoanya adalah mereka yang erat terikat pada zona pelusida.

(Hengki, 2016)

BAB III

METODE PRAKTIKUM

13
3.1 Waktu dan tempat pratikum

Pelaksanaan praktikum kimia klinik dilaksanakan pada hari rabu, tanggal

06 & 13 maret 2019. Bertempat dilaboratorium Fitokimia & Kimia STIKES

Bina Mandiri Gorontalo

3.2 Pra Analitik

3.2.1 Makroskopik

Adapun alat dan bahan yang akan digunakan dalam praktikum percobaan

sperma yaitu pot sampel, kertas label, gelas ukur, kertas indikator,

mikroskop, objek glass, cairan sperma segar

3.2.2 Mikroskopik

Adapun alat dan bahan yang akan digunakan dalam praktikum

percobaan sperma yaitu pot sampel, kertas label, cover glass, mikroskop,

objek glass, kamar hitung, pipet leukosit, cairan sperma segar, eosin 0,5 %,

giemsa, aquadest, metil alkohol, oil emersi.

3.3 Analitik

3.3.1 Makroskopik

a. Siapkan alat dan bahan.

b. Memindahkan sperma ke gelas ukur 5 atau 10 ml kemudian hitung

(ukur) volume sperma.

c. Catat volume, warna dan kekeruhan air mani.

d. Celupkan kertas indikator kedalam wadah yang berisi air mani

kemudian cocokan dengan sakala warna pH.

e. Catat hasil

3.3.2 Mikroskopik

14
1. Uji Motilitas

a. Teteskan air mani sebanyak 1 tetes diatas objek glass dan tutup

dengan cover glass.

b. Periksa dibwah mikroskopik dengan pembesaran 40x.

c. Amati berapa % spermatozoa yang bergerak aktif dan hitung waktu

yang berlalu setelah ejakulasi.

d. Campurkan sedikit air mani dengan eosin 0,5% untuk

membedakan spermatozoa yang bergerak dan telah mati.

2. Jumlah spermatozoa

a. Isi pipet leukosit sampai tanda 0,5 dengan sperma yang sudah

mencair.

b. Pipet aquadest hingga tanda II.

c. Hitung jumlah spermatozoa dalam kotak leukosit.

d. Hasil yang diperoleh dikalikan 200.000 V.

3. Pemeriksaan morfologi

a. Buat apusan air mani seperti membuat apusan darah tepi.

b. Fiksasi dengan metanol selama 5 menit.

c. Warnai dengan giemsa selama 3-5 menit.

d. Periksa morfologi sperma dengan pembesaran 100x.

e. Hitung % kelainan bentuk kepala dan ekor.

4. Jumlah leukosit

15
Hitung leukosit yang ditemukan pada kamar hitung dan catat

jumlah leukosit.

3.4 Pasca Analitik

Berdasarkan hasil pemeriksaan semen secara makroskopis dan

mikroskopis didapatkan bahwa sampel tersebut masih kategori normal.

BAB IV

16
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil

Berdasarkan hasil praktikum yang telah dilakukan pada pemeriksaan

sperma metode makroskopis dan mikroskopis antara lain:

N
Parameter Hasil Keterangan
o
1. Bau Khas (pandan) Normal
2. Warna Putih ke abu- Normal

abuan
3. pH 7,8 Normal
4. Kekentalan Kental Normal
5. Pencairan 20 menit Normal
6. Volume 1,6 ml Tidak Normal

Mikroskopis Hasil Satuan Keterangan


1. Uji motilitas
a. Pergerakan aktif 70 % Normal
b. Pergerakan lemah 20 % Normal
c. Tidak bergerak 10 % Normal
2. Jumlah sperma 65.650.000 Ml Normal
3. Morfologi spermatozoa
a. Normal Normal
1. Kepala 70 %
2. Ekor 65

b. Abnormal
1. Kepala 30 % Normal
2. Ekor 35
4. Jumlah leukosit 85
Normal

4.2 Pembahasan

Spermatozoa merupakan sel yang dihasilkan oleh fungsi reproduksi pria.

Sel tersebut mempunyai bentuk khas yaitu mempunyai kepala, leher dan ekor.

Spermatozoa merupakan sel hasil maturasi dari sel epitel germinal yang

17
disebut spermatogonia. Spermatogonia terletak dalam dua sampai tiga lapisan

sepanjang batas luar epitel tubulus. Proses perkembangan spermatogonia

menjadi spermatozoa disebut spermatogenesis.

Pemeriksaan makroskopik sperma di dapatkan hasil sperma normal

tampak berwarna putih jernih dan berbau seperti daun pandan. Sperma yang

berbau busuk diduga disebabkan oleh suatu infeksi. Dalam keadaan normal,

semen mencair dalam waktu 15 menit pada suhu kamar. Dalam beberapa

kasus pencairan tidak terjadi secara sempurna dalam 15 menit. Apabila lewat

20 menit sperma belum mencair merupakan keadaan yang perlu dilaporkan.

pencairan terjadi karena daya kerja dari enzim-enzim yang diproduksi oleh

kelenjar prostat, enzim ini disebut enzim seminim. Bila sperma yang diterima

langsung encer, ini disebabkan karena tidak mempunyai coagulum yang

disebabkan karena saluran pada kelenjar vesica seminalis buntu atau memang

tidak mempunyai kelenjar vesica seminalis.

Setelah diamati penampilannya, dilanjutkan dengan pengukuran volume

sperma. Volume sperma diukur dengan gelas ukur atau dengan cara

menghisap seluruh sperma ke dalam pipet pasteur. Nilai normal >/2,0 ml. Jika

volume sperma terlalu sedikit maka tidaklah cukup untuk menetralkan

keasaman suasana rahim. Dengan demikian, sperma yang berada di rongga

rahim akan segera mati sehingga kehamilan tidak terjadi. Volume dianggap

abnormal jika sperma < 2,0 ml. Volume yang melebihi batas normal disebut

hyperspermia yang disebabkan oleh kerja kelenjar prostat dan vesika

seminalis terlalu giat, dan dapat juga disebabkan karena minum obat hormone

laki-laki. Sedangkan untuk volume sperma yang kurang dari batas normal

18
disebut hypospermia, dapat disebabkan karena ejakulasi yang berturut-turut,

vesica seminalis kecil (buntu cabstuksi), dan penampung sperma yang tidak

sempurna. Volume sperma yang diperoleh yaitu 2 ml artinya volume sperma

normal karena memenuhi nilai normal.

Pemeriksaan makroskopik dilakukan dengan melihat konsistensinya.

Konsistensi juga diukur dengan cara memasukkan tangkai kaca ke dalam

sperma, kemudian mengamati benang yang terbentuk pada saat tangkai kaca

tersebut dikeluarkan. Panjang benang > 2 cm dikatakan abnormal. Semen

yang terlalu encer maupun terlalu kental kurang baik bagi sperma. Pada

semen yang mempunyai konsitensi tinggi, kecepatan gerak sperma akan

terhambat. Dengan demikian, akan mengurangi kesuburan pria tersebut.

Sebaliknya, semen yang terlalu encer biasanya mengandung jumlah sperma

yang rendah sehingga kesuburan juga berkurang.

Pemeriksaan makroskopik yang lain adalah pemeriksaan pH semen

tersebut. Cara mengukur pH semen relatif mudah. Setetes semen disebarkan

secara merata di atas kertas pH. Setelah 40 detik, warna daerah yang dibasahi

akan merata, kemudian dibandingkan dengan kertas kaliberasi untuk dibaca

pH-nya. pH semen normal yang diukur dalam waktu satu jam setelah

ejakulasi berada dalam kisaran 7,2 sampai 7,8. Jika pH lebih besar dari 7,8

maka dicurigai adanya infeksi. Sebaliknya, jika pH kurang dari 7 pada sperma

azoospermia. Hasil pH yang diperoleh pH 7,4. Artinya pH sperma dalam

keadaan yang normal.

Pada pemeriksaan mikroskopik, uji motilitas Untuk melihat jumlah

persentase spermatozoa yang bergerak aktif dan tidak aktif. Motilitas sperma

19
(baik sperma bergerak dengan baik atau tidak) merupakan kemampuan sperma

untuk bergerak. Sperma terdiri dari dua jenis – sperma yang berenang, dan

sperma yang tidak berenang. dimana mereka yang berenang maju cepat dalam

garis lurus - seperti peluru kendali. GradeB (lambat progresif) sperma

berenang ke depan, tetapi baik dalam garis melengkung atau bengkok, atau

perlahan. Sperma diperiksa motilitas. Cara yang biasa dipakai adalah bahan

sperma satu tetes dibubuhkan pada slide. Pemeriksaan dilakukan dengan

mikroskop perbesaran 40X. Diperoleh banyak sperma yang hidup dengan

motilitas pergerakan yang cepat.

Selanjutnya untuk pemeriksaan mikroskopis tentang morfologi sperma.

Sperma normal memiliki bentuk kepala oval beraturan dengan ekor lurus

panjang di tengahnya. Sperma yang bentuknya tidak normal

disebut teratozoospermia seperti kepala bulat, kepala pipih, kepala terlalu

besar, kepala ganda, tidak berekor, dan lain-lain, adalah sperma abnormal dan

tidak dapat membuahi telur. Hanya sperma yang bentuknya sempurna yang

disebut normal. Pria normal memproduksipaling tidak 30% sperma berbentuk

normal. Bentuk – bentuk morfologi abnormal adalah kepala makro, kepala

mikro, kepala taper, kepala piri, kepala double, kepala amorf, kepala round,

kepala pin, midpiece abnormal, sitoplasma droplet, ekor double, ekor koil,

ekor bent. Kriteria morfologi normal bila pada pemeriksaan didapatkan bentuk

spermatozoa normal ≥ 30 %.

Kemudian pada pemeriksaan mikroskopis tentang jumlah spermatozoa

pria subur memiliki konsentrasi sperma di atas 20 juta/ml atau 40 juta secara

keseluruhan. Jumlah di bawah 20 juta/cc dikatakan konsentrasi sperma rendah

20
dan di bawah 10 juta/cc digolongkan sangat rendah. Istilah kedokteran untuk

konsentrasi sperma rendah adalah oligospermia. Bila sama sekali tidak ada

sperma disebut azoospermia. Semen pria yang tidak memiliki sperma secara

kasat mata terlihat sama dengan semen pria lainnya, hanya pengamatan

melalui mikroskoplah yang dapat membedakannya.

Dengan meneteskan satu tetes (10 µl) semen pada tiap kamar hitung

haemocytometer, lalu dihitung jumlah spermatozoa yang ada. Jika sampel

kurang dari 10 spermatozoa per lpb, maka menghitung seluruh kotak besar

yang berjumlah 25. Jika 10 - 40 spermatozoa terlihat per lpb, maka cukup

menghitung 10 kotak besar. Jika sampel > 40 spermatozoa terlihat per lpb,

maka cukup menghitung 5 kotak besar.

Selanjutnya bila telah menghitung 25, 10 atau 5 kotak besar pada

Haemocytometer maka dibagi dalam faktor konversi sesuai kotak besar yang

telah dihitung, yang hasilnya adalah konsentrasi spermatozoa dalam juta per

milliliter. Konsentrasi spermatozoa normal bila ≥ 20 juta/ml.

Kemudian pada pemeriksaan mikroskopis jumlah leukosit. Sebagian besar

semen mengandung sejumlah sel darah putih, tetapi pada batas yang masih

dianggap normal. Elemen bukan sperma yang terdapat dalam semen tersebut

hanya sedikit, yaitu 3 sel di antara 100 spermatozoa. Berarti keberadaan sel

tersebut masih dalam kadar normal. Sel darah merah bisa terdapat dalam

semen apabila terjadi luka pada saluran reproduksi. Jumlah sel darah putih

yang meningkat dalam semen juga dapat dijadikan suatu indikator terjadinya

infeksi.

21
BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil praktikum yang telah dilakukan, maka dapat

disimpulkan bahwa pemeriksaan sperma menggunakan metode makroskopis

yang menjadi parameter pemeriksaannya yakni volume, pH, warna,

kekentalan, bau, dan pencairan. Sedang untuk pemeriksaan mikroskopis yang

menjadi parameter pemeriksaannya yakni uji motilitas, jumlah sperma,

morfologi sperma, dan jumlah leukosit. Kemudian hasil yang didapatkan pada

pemeriksaan sperma menggunakan metode makroskopis dan mikroskopis

yakni masih dalam keadaan normal.

5.2 Saran

Adapun saran yang dapat disampaikan untuk praktikum selajutnya agar

praktikan bisa mengefisienkan waktu praktikum agar hasil yang diperoleh

lebih akurat atau maksimal, dan juga memperhatikan kesterilan alat dan

bahan.

22
DAFTAR PUSTAKA

Ahmad, Sauqy. 2014. Evaluasi Kromatin Sperma Sebagai Indikator Kualitas


Sperma. MKS, Th. 46, No. 3, Juli 2014, Hlm 2.

Fajar, Taufiq. 2009. Hubungan Antara Jumlah Leukosit Dengan Motilitas Sperma
Pada Hasil Analisa Sperma Pasien Infertilitas Di Rsup Dr Kariadi
Semarang. Fakultas Kedokteran. Universitas Diponegoro

Hengki, Lukas. 2016. Perbandingan Hasil Pemeriksaan Morfologi Spermatozoa


Manusia Menggunakan Metode Pewarnaan Papanicolaou, Diff-Quik dan
Safranin-Kristal Violet di RSUD dr. Soetomo Surabaya. Program
Pendidikan Dokter Spesialis Andrologi. Fakultas Kedokteran. UNAIR.

Silvia dan Triyana. 2015. Fragmentasi DNA Spermatozoa: Penyebab, Deteksi,


dan Implikasinya pada Infertilitas Laki-Laki. Vol. 3, No. 2, Agustus 2015.
Hlm 4.

Trinil, Susilawati M.S. 2011. Spermatology. Malang : Universitas Brawijaya Press


(UB Press).

23
24