Anda di halaman 1dari 46

MAKALAH

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN POST PARTUM


DENGAN KOMPLIKASI
“ Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Keperawatan
Maternitas II”

Disusun : Kelompok 3

Asep Sandi
Fitri Nurwahyuni
Leli Nuryati
Muhammad Rizal A
Riska Lestari
Sifa Rizkia
Zakia Hafiani

PROGRAM STUDI S1 ILMU KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKES)
MITRA KENCANA TASIKMALAYA
2018
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Bertambahnya jumlah populasi di dunia, memungkinkan


peningkatan berbagai macam kondisi dan keadaan serta tindakan yang
menyebabkan banyak penyakit berkembang akibat perubahan gaya hidup,
kebiasaan, dan pemahaman terkait kesehatan. Adanya perubahan tersebut
mengakibatkan semua orang menjadi rentan terhadap penyakit. Khususnya
pada individu dengan keadaan khusus, seperti ibu hamil dan penderita
penyakit bawaan. Hal itu, tentunya mempengaruhi pada semua sistem
yang ada di dalam tubuh individu tersebut. Salah satu penyakit yang dapat
timbul yaitu infeksi saluran kemih (ISK). Dengan adanya peningkatan
jumlah populasi khususnya di Indonesia, seperti yang dipaparkan diatas.
Sehingga penulis ingin memberikan sedikit gambaran terkait ISK. Pada
umumnya ISK atau infeksi saluran kemih ini banyak terjadi pada wanita,
hal itu kemungkinan besar dikarenakan uretra wanita lebih pendek
sehingga mikroorganisme dari luar lebih mudah mencapai kandung kemih
dan jugaletaknya dekat dengan daerah perianal dan vagina.

Infeksi Saluran Kemih (ISK) juga menjadi suatu komplikasi pada


saat masa nifas hal itu dikarenakan berbagai faktor penyebab baik
langsung ataupun tidak langsung pada ibu nifas. Saluran kencing yang
pendek pada perempuan dan kebersihan daerah sekitar kelamin luar yang
menjadi bagian yang sulit dipantau pada perempuan hamil akan
mempermudah ISK. ISK postpartum adalah infeksi bakteri pada traktus
urinarius, terjadi sesudah melahirkan, ditandai kenaikan suhu sampai 38
derajat celcius atau lebih selama 2 hari dalam 10 hari pertama pasca
persalinan, dengan mengecualikan 24 jam pertama. Keperawatan
memiliki peran penting dalam memberikan pelayanannya terhadap klien
yang menderita ISK, sehingga perlu yang dapat diberikan pada klien yang
menderita ISK dengan harapan perawat dapat menjalankan perannya
dalam memberikan asuhan dengan baik dan benar
Setelah melahirkan pasien wanita mengalami peningkatan resiko
untuk mengalami masalah kemih karena diuresis pos partum normal,
penurunan sensitivitas kandung kemih, dan kemungkinan terhambatnya
persyarafan setelah anestesia. Yang mungkin mengalami kesulitan
berkemih karena trauma jaringan, pembengkakan, dan nyeri perineal.
Kemih dalam jumlah sedikit dan dengan interval sering, menandakan
retensi dengan aliran yang berlebihan. Bila urine tertahan maka akan
menjadi pertumbuhan bakteri yang amat baik dan kemungkinan terjadi
ISK pada ibu hamil.

Pada wanita, masa nifas merupakan salah satu factor risiko


terjadinya tromboemboli. Sebenarnya, tromboemboli ini merupakan
kejadian yang jarang ditemui akan tetapi apabila terjadi dapat
menyebabkan komplikasi serius bahkan sampai pada kematian. Barbour
(1999) menyatakan bahwa masa nifas meningkatkan risiko 5 kali lipat
untuk terjadinya tromboemboli dibanding wanita tidak pada masa nifas
dan golongan umur yang sama. Dahulu, tromboemboli dikenal sebagai
kejadian unik yang hanya terjadi pada masa nifas akan tetapi sekarang ini
justru kejadian tromboemboli pada masa nifas cenderung berkurang. Hal
ini kemungkinan disebabkan oleh 2 hal yaitu diterapkannya secara luas
konsep mobilisasi dini pada masa nifas dan yang kedua kemungkinan
karena peningkatan kejadian tromboemboli pada masa antepartum.

B. Rumusan Masalah
1. Apa itu Post Partum?
2. Bagaimana Asuhan Keperawatan pada Klien Post Partum dengan
Komplikasi Infeksi Saluran Kemih?
3. Bagaimana Asuhan Keperawatan pada Klien Post Partum dengan
Komplikasi Perdarahan dan Tromboemboli?
C. Tujuan
Berdasarkan latar belakang diatas, tujuan dari penulisan makalah ini
adalah:
1. Untuk mengetahui definisi Post Partum
2. Untuk mengetahui bagaimana Asuhan Keperawatan pada Klien Post
Partum dengan Komplikasi Infeksi Saluran Kemih
3. Untuk mengetahui bagaimana Asuhan Keperawatan pada Klien Post
Partum dengan Komplikasi Perdarahan dan Tromboemboli.
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Post Partum

Postpartum adalah masa sesudah persalinan dan kelahiran bayi,


plasenta, serta selaput yang diperlukan untuk memulihkan kembali organ
kandung seperti sebelum hamil dengan waktu kurang lebih 6 minggu
(Saleha, 2009)

Masa nifas (puerpurium) dimulai setelah kelahiran plasenta dan


berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum
hamil. Masa nifas berlangsung selama kira-kira 6 minggu.

Masa nifas (puerpurium) adalah masa pulih kembali, mulai dari


persalinan selesai sampai alat-alat kandungan kembali seperti pa-hamil.
Lama masa nifas ini yaitu 6-8 minggu.

B. Askep pada klien post partum dengan Komplikasi ISK


1. Definisi

ISK adalah infeksi akibat berkembang biaknya mikroorganisme


di dalam saluran kemih, yang dalam keadaan normal air kemih tidak
mengandung bakteri, virus atau mikroorganisme lain.

Infeksi Saluran Kemih adalah suatu keadaan adanya infeksi


bakteri pada saluran kemih. (Enggram, Barbara, 1998).

Infeksi saluran kemih (ISK) adalah infeksi bakteri yang terjadi


pada saluran kemih. Kejadian infeksi saluran kemih pada masa nifas
relative tinggi dan hal ini dihubungkan dengan hipotoni kandung
kemih akibat trauma kandung kemih waktupersalinan, pemeriksaan
dalam yang sering, kontaminasi kuman dari perineum, atau katerisasi
yang sering (Krisnadi, 2005).
2. Etiologi

Sebagian besar ISK diawali dan disebabkan oleh


bakteri Eschericia Coli (80%-90%). Sebagian besar sisa kasus ISK
disebabkan oleh Staphylococcus saprophyticus dan C.Trachomatis.

ISK dapat terjadi setelah kelahiran dari hipotonia kandung


kemih, stasis kencing, luka kelahiran, kateterisasi, pemeriksaan vagina
yang rutin, atau obat bius epidural. Selama kelahiran, kandung kemih
dan uretra terluka dengan tekanan janin yang turun. Setelah kelahiran,
kandung kemih dan uretra yang hipotonik dapat meningkatkan stasis
perkemihan dan retensi urin.

3. Manifestasi Klinis
a. Disuria
b. Urgensi perkemihan
c. Sering bekemih
d. Warna yang tidak biasa pada urin
e. Leikositosis
f. Kram pada area suprapubis
g. Nyeri pada punggung bawah sampai tengah
h. Demam
i. Anoreksia
j. Mual, muntah
k. Malaise

4. Penatalaksanaan Keperawatan
a. Mengurangi nyeri dan ketidaknyamanan

Nyeri dan ketidaknyamanan dapat dikurangi dengan ketika


antimikrobia dimulai. Agen antispamodic mebantu dalam
mengurangi iritabilitas kandung kemih dan nyeri. Aspirin,
pemanasan perineum dan mandi rendam panas membantu
mengurangi ketidaknyamanan dan spasme.
b. Mengurangi frekuensi (berkemih), urgency dan hesitancy

Pasien didorong untuk minum dengan bebas sejumlah


cairan (air adalah pilihan terbaik) untuk mendukung aliran darah
renal dan untuk membilas bakteri dari traktur urinarius. Hidari
cairan yang dapat mengiritasi kandung kemih (misal ; kopi, teh,
cola, alkohol).

c. Pendidikan pasien
Pasien harus menerima perncian instruksi berikut :

Mengurangi konsentrasi patogen pada orifisium vagina


(khusus pada wanita) melalui tindakan hygnie : seing mandi
pancuran dari pada rendam karena bakteri dalam air bak dapat
masuk ke uretra, bersihkan sekeliling perineum dan meatus uretra
setiap selesai defekasi dengan gerakan dari depan ke belakang.

Minum dengan bebas sejumlah cairan dalam sehari untuk


membilas keluar bakteri dan hindari untuk minum kopi, teh, cola
dan alkohol.

Berkemih setiap 2-3 jam dalam sehari dan kosongkan


kandung kemih dengan sempurna hal ini mencegah distensi
kandung kemih yang berlebihan dan gangguan terhadap suplai
darah ke dinding kandung kemih yang merupakan predisposisi
systitis.

Jika bakteri tetap muncul dalam urin, terapi antimikrobia


jangka panjang diperlukan untuk mencegah kolonisasi area
periuretral dan kekambuhan infeksi.

Konsul ke tenaga kesehatan secara teratur untuk tindak


lanjut, kekambuhan gejala atau infeksi nonresponsif terhadap
penanganan.

5. Pemeriksaan Penunjang

Urinalisis
 Leukosuria atau piuria: merupakan salah satu petunjuk penting
adanya ISK. Leukosuria positif bila terdapat lebih dari 5
leukosit/lapang pandang besar (LPB) sediment air kemih
 Hematuria: hematuria positif bila terdapat 5-10 eritrosit/LPB
sediment air kemih. Hematuria disebabkan oleh berbagai
keadaan patologis baik berupa kerusakan glomerulus ataupun
urolitiasis.

Bakteriologis

Mikroskopi

Biakan bakteri

Kultur urine untuk mengidentifikasi adanya organisme spesifik

Hitung koloni: hitung koloni sekitar 100.000 koloni per milliliter urin dari
urin tampung aliran tengah atau dari specimen dalam kateter dianggap
sebagai criteria utama adanya infeksi.

Metode tes

Tes dipstick multistrip untuk WBC (tes esterase lekosit) dan nitrit (tes
Griess untuk pengurangan nitrat). Tes esterase lekosit positif: maka psien
mengalami piuria. Tes pengurangan nitrat, Griess positif jika terdapat
bakteri yang mengurangi nitrat urin normal menjadi nitrit.

Tes Penyakit Menular Seksual (PMS):

Uretritia akut akibat organisme menular secara seksual (misal, klamidia


trakomatis, neisseria gonorrhoeae, herpes simplek).

Tes- tes tambahan:

Urogram intravena (IVU). Pielografi (IVP), msistografi, dan ultrasonografi


juga dapat dilakukan untuk menentukan apakah infeksi akibat dari
abnormalitas traktus urinarius, adanya batu, massa renal atau abses,
hodronerosis atau hiperplasie prostate. Urogram IV atau evaluasi
ultrasonic, sistoskopi dan prosedur urodinamik dapat dilakukan untuk
mengidentifikasi penyebab kambuhnya infeksi yang resisten.

6. Asuhan Keperawatan
a. Pengkajian
1) Pemerikasaan fisik
2) Riwayat atau adanya faktor-faktor resiko:
Adakah riwayat infeksi sebelumnya?
Adakah riwayat obstruksi pada saluran kemih?
Adanya faktor predisposisi pasien terhadap infeksi nosokomial
Imobilisasi dalam waktu yang lama
Apakah terjadi inkontinensia urine?
Pengkajian dari manifestasi klinik infeksi saluran kemih
Bagaimana pola berkemih pasien? untuk mendeteksi factor
predisposisi terjadinya ISK pasien (dorongan, frekuensi, dan
jumlah)
Adakah disuria?
Adakah urgensi?
Adakah hesitancy?
Adakah bau urine yang menyengat?
Bagaimana keluaran volume orine, warna (keabu-abuan) dan
konsentrasi urine?
Adakah nyeri-biasanya suprapubik pada infeksi saluran kemih
bagian bawah
Adakah nyeri panggul atau pinggang-biasanya pada infeksi
saluran kemih bagian atas
Peningkatan suhu tubuh biasanya pada infeksi saluran kemih
bagian atas.
Pengkajian psikologi pasien:
Bagaimana perasaan pasien terhadap hasil tindakan dan
pengobatan yang telah dilakukan? Adakakan perasaan malu
atau takut kekambuhan terhadap penyakitnya
b. Diagnosa Keperawatan Yang Mungkin Muncul
 Nyeri berhubungan dengan ISK
 Gangguan eliminasi urin
 Defisit pengetahuan yang berhubungan dengan terapi dan
pencegahan ISK
 Ansietas mengenai efek ISK
c. Rencana Keperawatan :

Diagnosa Perencanaan
No
Keperawatan Tujuan Intervensi Rasionalisasi

1. Nyeri Berhubungan Setelah dilakukan Pain manajemen : 1. untuk


dengan agen cedra tindakan menentukan
1. Lakukan
biologis keperawatan selama tindakan
pengkajian nyeri
...x24 jam klien selanjutnya terkait
secara
diharapkan dapat nyeri.
komprehensif
mencapai pain
termasuk lokasi, 2. untuk
control dengan
karakteristik, mengetahui apakah
kriteria hasil :
durasi, frekuensi, reaksi verbal yang
- Mampu kualitas dan faktor dinyatakan sesuai
mengontrol nyeri presipitasi dengan reaksi non
(tahu penyebab verbal.
2. observasi reaksi
nyeri, mampu
nonverbal dari 3. supaya klien
menggunakan
ketidaknyamanan merasa nyaman saat
teknik non
berinteraksi ,
farmakologi untuk 3. gunakan teknik
sehingga lebih
mengurangi nyeri, komunikasi
mudah
mencari bantuan) terapeutik untuk
mendapatkan
dari skala ... ke ... mengetahui
informasi.
pengalaman nyeri
- Melaporkan
pasien 4. untuk
bahwa nyeri
mengetahui apa
berkurang dengan 4. kaji kultur yang
menggunakan mempengaruhi yang menyebabkan
manajemen nyeri respon nyeri timbulnya nyeri,
dari skala ... ke ... sehingga dapat
5. evaluasi
menentukan tindak
- Mampu pengalaman nyeri
lanjut.
mengenali nyeri masa lampau.
(skala, 5. supaya dapat
intensitas, frekuensi membandingkan
dan tanda nyeri) antara nyeri yang
dari skala ... ke ... sedang dialami
dengan nyeri masa
- Mengatakan
lampau.
rasa nyaman setelah
nyeri berkurang dari
skala ... ke ...

- TTV dalam
rentang normal dari
skala ... ke ...

2. Perubahan Setelah dilakukan Urinary 1. Untuk


Eliminasi Urine tindakan elimination mengetahui warna,
berhubungan keperawatan selama management: frekuensi, bau,
dengan ISK ...x24 jam klien volume, dan warna
1. Memonitor
diharapkan dapat
eliminasi urine 2. Untuk
mencapai urinary
termasuk mengetahui tanda
elimination dengan
frekuensi, bau, dan gejala retensi
kriteria hasil:
volume, dan warna urine
- Pola
2. Memonitor 3. Supaya pasien
eliminasi dari skala
tanda dan gejala mengetahui tanda
... ke ...
retensi urine dan gejala ISK
- Bau urine
3. Beri tahu 4. Agar pasien
dari skala ... ke ... pasien tanda dan untuk mengetahui
gejala ISK pasien seberapa banyak
- Jumlah urine
dan seberapa sering
dari skala ... ke ... 4. Anjurkan
keluaran urine
pasien untuk
- Warna urine
memantau keluaran 5. Untuk
dari skala ... ke ...
urine mendapatkan
- Kejernihan penanganan segera
5. Rujuk ke
urine dari skala ... bila terjadi ISK.
dokter jika tanda
ke ...
dan gejala ISK
- Asupan terjadi.
cairan dari skala ...
ke ...

- Disuria dari
skala ... ke ...

- Urgensi
perkemihan dari
skala ... ke ...

C. Askep pada klien Post Partum dengan komplikasi Perdarahan dan


Tromboemboli
1. Pengertian Perdarahan

Perdarahan post partum (HPP) adalah kehilangan darah


sebanyak 500 ml atau lebih dari traktus genetalia (Palupi Widyastuti,
2001).

Perdarahan post partum (HPP) adalah kehilangan darah


sebanyak 500 ml/lebih setelah persalinan (Kathyn A. Melson, 1999).

Perdarahan post partum (HPP) adalah perdarahan yang terjadi


dalm 24 jam setelah persalinan berlangsung (Ida Bagus Gde Manuaba,
1998)
2. Klasifikasi perdarahan post partum :
a. Perdarahan post partum primer

Perdarahan yang terjadi dalam 24 jam pertama sesudah bayi


lahir, disebut sebab perdarahan pasca persalinan dini (early post
partum hemorrhage) atau lazim disebut “ Perdarahan pasca
persalinan”.

b. Perdarahan post partum sekunder

Perdarahan yang terjadi setelah > 24 jam bayi lahir disebut


“Perdarahan nifas” (puerperal hemorrhage).

3. Etiologi
a. Etiologi HPP primer
1) Atonia uteri (uterus gagal berkontraksi dengan baik setelah
persalinan)
2) Trauma genital (meliputi penyebab spontan dan trauma akibat
penatalaksanaan atau gangguan, misalnya: kelainan yang
menggunakan peralatan yang termasuk seksio sesaria,
episiotomi, pemotongan “ghisiri”).
3) Retentio plasenta.
4) Sisa plasenta dan
5) Robekan jalan lahir.
b. Etiologi HPP sekunder
1) Fragmen plasenta atau selaput ketuban tertahan.
2) Pelepasan jaringan mati setelah persalinan macet (dapat terjadi
diservik, vagina, kandung kemih, rectum).
3) Terbukanya luka pada uterus (setelah seksio sesaria atau ruptur
uterus)

4. Faktor resiko
a. Grande multipara.
b. Jarak persalinan kurang dari 2 tahun.
c. Persalinan yang dilakukan dengan tindakan: pertolongan kala uri
sebelum waktunnya, pertolongan oleh dukun, persalinan dengan
tindakan paksa, persalinan dengan narkosa, terapi tokolitik.
d. Kelahiran sulit atau manual dari plasenta.
e. Persalinan lama atau di induksi.
f. Persalinan mendadak atau traumatik.
g. Penyakit yang diderita (Penyakit jantung, DM,dan kelainan
pembekuan darah).

5. Patofisiologi

Faktor resiko yang terdiri dari: Grande multipara, jarak


persalinan kurang dari 2 tahun, persalinan dengan tindakan:
pertolongan dukung, tindakan paksa, dengan narkosa, kelahiran sulit
atau manual dari plasenta, penyakit yang diderita (Penyakit jantung,
DM dan kelainan pembekuan darah) dapat menyebabkan terjadinya
atonia uteri, trauma genital (perineum, vulva, vagina, servik, atau
uterus), retensio plasenta, sisa plasenta dan robekan jalan lahir. Pada
atonia uterus ditandai dengan uterus tidak berkontraksi dan lembek
menyebabkan pembuluh darah pada bekas implantasi plasenta terbuka
sehingga menyebabkan perdarahan. Pada genetalia terjadi robekan atau
luka episiotomi, ruptur varikositis, laserasi dinding servik, inversi
uterus menyebabkan perdarahan. Pada retensio plasenta ditandai
plasenta belum lahir setelah 30 menit. Sisa plasenta ditandai dengan
plasenta atau sebagian selaput (mengandung pembuluh darah) tidak
lengkap dan robekan jalan lahir terjadi perdarahan segera setelah bayi
lahir, jika ditangani dengan baik dapat menimbulkan komplikasi.
Tetapi, apabila perdarahan tidak ditangani dengan baik dapat
menimbulkan komplikasi : dehidrasi, hipovolemik, syok hipovolemik,
anemia berat, infeksi dan syok septik, sepsis purpuralis, ruptur uterus,
kerusakan otak, trombo embolik, emboli paru. Pada kehamilan
berikutnya dapat mengalami aborsi spontan, hipoksia intra uterin,
retardasi pertumbuhan intra uteri dan dampak terakhir menimbulkan
kematian.

6. Manifestasi klinik
a. Atoni uteri
1) Uterus tidak berkontraksi dan lembek.
2) Perdarahan segera setelah anak lahir.
b. Trauma genital
1) Titik perdarahan terlihat pada perineum, vulva, dan vagina
bagian bawah
2) Titik perdarahan tidak terlihat pada vagina bagian atas, servik
dan uterus.
c. Retensio plasenta
1) Plasenta belum lahir setelah 30 menit
2) Perdarahan segera setelah anak lahir.
3) Uterus kontraksi baik.
4) Tali pusat putus akibat traksi berlebihan.
5) Inversio uteri akibat tarikan.
6) Perdarahan lanjutan
d. Sisa plasenta
1) Plasenta atau sebagian selaput (mengandung pembuluh darah )
tidak lengkap.
2) Perdarahan segera setelah anak lahir.
3) Uterus berkontraksi tetapi tinggi fundus tidak berkurang
e. Robekan jalan lahir
1) Perdarahan segera setelah anak lahir.
2) Darah segar yang mengalir segera setelah bayi lahir.
3) Uterus kontraksi baik.
4) Plasenta lengkap.
5) Pucat ,lemah
6) Fragmen plasenta
7) Nyeri tekan perut bawah
8) Sub involusi uterus
9) Perdarahan lebih dari 24 jam setelah persalinan (persalinan
sekunder)perdarahan bervariasi (ringan atau berat, terus
menerus atau tidak beraturan) dan berbau jika disertai infeksi.
10) Anemia
11) Demam
Ruptura uteri
12) Perdarahan segera setelah anak lahir (perdarahan intra
abdominal dan atau vaginum)
13) Nyeri perut berat
14) Nyeri tekan perut
15) Denyut nadi ibu cepat
f. Pemeriksaan Penunjang
a. Golongan darah
b. Darah lengkap
Hb/Ht menurun, sel darah putih meningkat dan laju endap
sedimentasi meningkat
c. Kultur uterus dan vaginal
Infeksi pasca partum
d. Koagulasi
FDP/FSP meningkat, fibrinogen menurun, masa protombin
memanjang karena adanya KID, masa tromboplastin parsial
diaktivasi, masa tromboplastin parsial (APTT/PTT)
e. Sonografi
Menentukan adanya jaringan plasenta tertahan.
7. Penatalaksanaan
a. Medis
 Pemberian oksitosin 10 IU IV atau ergometrin 0,5mg IV,
berikan IM jika IV tidak tersedia.
 Lakukan pemeriksaan hemoglobin, golongan darah dan
pencocokan silang.
 Berikan cairan IV dengan natrium laktat.
 Jika terjadi perdarahan yang berlebih, tambahkan 40 IU
oksitosin/liter pada infus IV dan aliran sebanyak 40 tetes/ menit
 Pada kasus syok yang parah gunakan plasma ekspander atau
tranfusi darah dan pemberian oksigen
 Berikan antibiotik berspektrum luas dengan dosis tinggi
o Benzilpenisillin 5 juta IU IV kemudian 2 juta IU setiap
6 jam dan gentamisin 100mg stat IM, kemudian 80 mg
setiap 8 jam dan metronidazol 400 atau 500 mg secara
oral setiap 8 jam.
o Atau ampisilin 1gram IV diikuti 500 mg secara im
setiap 6 jam dan metronidazol 400/500 mg secara oral
setiap 8 jam.
o Atau benzil penisilin 5 juta IU IV kemudian 2 juta
setiap 6 jam dan gentamisin 100mg stat IM lalu 80mg
setiap 8 jam.
o Atau benzilpenisilin 5 juta IU IV kemudian 2 juta IU IV
setiap 8 jam dan kloramfenikol 500 mg secara IV setiap
6 jam.
o Jika mungkin, persiapkan pasien untuk pemeriksaan
segera dibawah pengaruh anestesi.
b. Keperawatan
 Percepat kontraksi dengan cara melakukan masase pada
uterus jika uterus masih dapat teraba.
 Kaji kondisi pasien (misalnya kepucatan, tingkat
kesadaran) dan perkiraan darah yang keluar.
 Ambil darah untuk pemeriksaan hemoglobin, golongan
darah dan pencocokan silang.
 Pasang infus IV sesuai instruksi medis.
 Jika pasien mengalami syok pastikan jalan nafas selalu
terbuka palingkan wajah kesamping dan berikan oksigen
sesuai dengan indikasi sebanyak 6-8 liter/menit melalui
masker atau nasal kanul.
 Mengeluarkan setiap robekan uterus yang ada dan menjahit
ulang jika perlu.
 Pantau kondisi pasien dengan cermat. Meliputi TTV, darah
yang hilang, kondisi umum (kepucatan, tingkat kesadaran)
asupan kesadaran dan haluaran urine dan melakukan
pencatatan yang akurat.
 Berikan kenyamanan fisik (posisi yang nyaman) dan
hygiene, dukungan emosionil, lakukan instruksi medis dan
laporkan setiap perubahan pada dokter.
8. Pengkajian
1. Data Biografi (nama, umur, alamat, pekerjaan, dll)
2. Riwayat Obstetri/Persalinan yang lalu
Gravida, partus, abortus.
Lamanya gestasi.
3. Riwayat persalinan : normal, sc, dengan bantuan.
4. Tipe anestesi dan penyulit.
5. Banyaknya perdarahan.
6. BB lahir bayi.
7. Komplikasi ibu selama kehamilan
8. Riwayat Kesehatan Keluarga

Adakah keluarga yang menderita penyakit tertentu yang dapat


memperberat/menimbulkan komplikasi pada ibu hamil misal:
penyakit hipertensi, diabetes, TB paru, dll

9. Riwayat Kesehatan Sekarang


10. Aktifitas/istirahat
- Kelelahan berlebihan
11. Sirkulasi
- Kehilangan darah 400-500 ml (kehilangan pervagina), 600-
800 (kehilangan pada saat sc).
- Riwayat anemia kronis.
- Defek koagulasi congenital/insiden.
- Idiopatik trombositopenia purpura.
12. Integritas ego
- cemas, ketakutan, khawatir.
13. Seksualitas
- Persalinan lama atau diinduksi, mendadak/traumatic penggunaan
frosep anesthesia umum, terapi tokolitik (terapi obat untuk
mengurangi motilitas uterus).
- Kelahiran sulit atau manual dari plasenta.
- Kelahiran vagina setelah sesaria (VABC).
- Pemeriksaan plasenta setelah kelahiran menunjukan hilangnya
fragmen-fragmen plasenta, robekan/bukti terlilit pembuluh darah.

9. Diagnosa Keperawatan
 Kekurangan volume cairan b.d kehilangan cairan vaskuler
berlebihan.
 Perubahan perfusi jaringan perifer b.d hipovolemia.
 Ansietas b.d krisis situasi, ancaman perubahan status keshatan
,respon fisiologis (pelepasan katekolamin).
 Resiko tinggi kelebihan volume cairan b.d penggantian
berlebihan cepat dari kehilangan cairan, perpindahan cairan
intravaskuler.
 Resiko tinggi infeksi b.d trauma jaringan, status cairan tubuh
(lokhial) penurunan Hb, prosedur invasive.
 Resiko tinggi rasa nyaman nyeri b.d trauma, distensi jaringan.
 Kurang pengetahuan mengenai kondisi, prognosis dan
kebutuhan tindakan b.d kurang informasi.
10. Rencana Tindakan Keperawatan
a. Kurangnya volume cairan b.d kehilangan vaskular berlebihan
Tujuan: Ibu menunjukkan volume cairan kembali adekuat
KH :
- Pengisian kapiler cepat
- TTV stabil : TD :110/70 –120/80 mmHg
- Nadi :80-100 x/menit
- Suhu :36-37 c
- RR :18-20 x/menit
- Membran mukosa dan kulit lembab
- Sianosis (-)
- Volume perfusi /sirkulasi adekuat
- IO seimbang

Intervensi

- Tinjau ulang kehamilan dan persalinan/kelahiran, perhatikan


faktor-faktor penyebab atau pemberat pada situasi hemoragi.

R/: Membantu membuat rencana perawatan yang tepat dan


membatasitejadinya komplikasi.

- Kaji dan catat jumlah, tipe, dan sisi perdarahan; timbang dan
hitung pembalut.

R/: Perkiraan kehilang darah, arterial versus vena dan adanya


bekuanmembantu membuat diagnosa banding dan menentukan
kebutuhan penggantian.

- Kaji lokasi uterus dan derajat kontraktilitas uterus

R/: Peningkatan kontraktilitas miometrium dapat menurunkan


kehilangan darah.

- Perhatikan hipotensi /takikardi,pelambatan pengisian kapiler


atau sianosis dasar kuku,membran mukosa dan bibir .
R/:Tanda-
tanda ini menunjukan hipovolemik dan terjadinya syok.

Sianosis adalah tanda akhir dari hipoksia.

- Lakukan tirah baring dengan kaki ditinggikan 20-30 dan


tubuh horizontal .
R/:
Pengubahan posisi yang tepat meningkatkan aliran balik v
ena.Menjamin persediaan darah ke otak dan organ vital lainya
lebih besar .

- Observasi masukan dan haluaran;perhatikan berat jenis urin.

R/:
Bermanfaat dalam memperkirakan luas/signifikansi kehilan
gancairan. Volume perfusi/sirkulasi adekuat ditunjukan dengan
haluaran 30-50 ml per jam atau lebih besar.

- Hindari pengulangan / gunakan kewaspadaan bila melakukan


pemeriksaan vaginal atau rectal.

R/: Dapat meningkatkan haemoragi bila raserasi servik,


vagina, atau perineal atau hematoma terjadi.

- Kolaborasi

Pemberian infus melalui vena .Beriakan darah lengkap atau produk


darah (mis:plasma)

R/: Cairan/produk darah meningkatkan volume sirkulasi dan men-

cegah pembekuan

- Berikan obat-obatan sesuai indikasi,oksitosin,metilergononovin


naleat,prostaglandin f a

R/:
Meningkatkan kontraktilitas dari uterus yang menonjol dan

miometrim, menutup sinus vagina yang terpajan dan


menghentikan hemoragi pada adanya atoni.

- Pemasangan kateter indwelling besar kedalam kanal servikal .

R/:
Mengontrol hemoragi yang disebabkan oleh implantasi
plasenta kedalam segmen servikal non kontraktil.

- Pantau pemeriksaan laboratorium sesuai indikasi:Hb,Ht


R/: Membantu dalam menentukan jumlah kehilangan darah.

b. Perubahan perfusi jaringan perifer b.d hipovolemi


Tujuan: Perfusi jaringan kembali adekuat
KH:
- TTV dalam batas normal
- TD : 120/80 mmHg
- RR : 18-20 x/menit
- Suhu: 36-370 C
- Nadi :80-100 x/menit
- AGD normal : pH: 7,35-7,45; PO2 : 80-100 mmHg ; PCO2 :
35-45 mmHg
- Hb : 12-14 gr % Ht : 35-54 gr %
- Sianosis (-)
- Kesadaran kompos mentis
- Membran mukosa lembab.

Intervensi

- Perhatikan Hb/Ht sebelum dan sesudah kehilangan darah


R/: Nilai banding membantu dalam menentukan beratnya
kehilangandarah.
- Pantau tanda vital :catat derajat dan durasi episode
hipovolemik.
R/: Luasnya keterlibatan hipofisis dapat dihubungkan dengan
derajatdan durasi hipotensi. Peningkatan frekuensi pernafasan
dapat menunjukan upaya untuk mengatasi asidosis metabolik.
- Perhatikan tingkat kesadaran dan adanya perubahan perilaku.
R/: Perubahan sensorium adalah indicator dini dari hipoksia.
- Kaji warna dasar kuku, mukosa mulut, gusi dan lidah:
perhatikan warna kulit.
R/:
Pada kompensasi vasokontriksi dan pirau organ vital, sirku
lasipada pembuluh darah perifer diturunkan yang
mengakibatkan sianosis dan suhu kulit dingin.
- Kaji payudara setiap hari,perhatikan ada atau tidaknya laktasi
dan perubahan pada ukuran payudara .
R/: Kerusakan atau keterlibatan hipofisis anterior
menurunkan kadarproklaktin, mengakibatkan tidak adanya
produksi ASI dan akhirnya menurunkan jaringan payudara.
- Kolaborasi
Pantau AGD dan kadar pH

R/: Membantu dalam mendiagnosa derajat hipoksia jaringan


atauasidosis yang diakibatkan dari terbentuknya asam laktat
dari metabolisme anaerobic.

Berikan terapi oksigen sesuai kebutuhan

R/:
Memaksimalkan ketersedian oksigen untuk transporsirkulasi

kejaringan.

- Pasang jalan nafas:penghisap sesuai indikasi

R/: Memudahkan pemberian oksigen.

c. Ansietas b.d krisis situasi,perubahan status kesehatan, respon


fisiologis/pelepasan katekolamin.
Tujuan:Ansietas klien berkurang/hilang.
KH :
- Klien tampak rileks
- Gelisah (-)
- Cemas (-)
- TD :120/80 mmHg
- Nadi:80-100 x/menit
- RR:18-20 x/menit

Intervensi

- Evaluasi respon psikologis serta persepsi klien terhadap


kejadian hemoragi post partum.Klarifikasi kesalahan konsep.
R/: Membantu dalam membentuk rencana perawatan .Persepsi
kliententang keladian mungkin menyimpang sehingga
memperberat ansietasnya.
- Evaluasi respon fisiologis pada hemoragi pasca partum; mis:
takikardi, takipnea, gelisah atau iritabilitas.

R/: Meskipun perubahan pada tanda vital mungkin karena


responfisilogis ini dapat diperberat atau dikomplikasi oleh
faktor-faktor psikologis

- Sampaikan sikap tenang, empati dan mendukung.


R/:
Dapat membantu klien mempertahankan kontrol emosion
aldalam berespon terhadap perubahan status fisiologi.
Membantu dalam menurunkan tranmisi ansietas antar pribadi.
- Berikan informasi tentang modalitas tindakan dan keefektifan
intervensi
R/: Informasi akurat dapat menurunkan ansietas dan ketakutan
yangdiakibatkan dari ketidak tahuan.
- Bantu klien dalam mengidentifikasi perasaan ansietas: berikan
kesempatan pada klien untuk mengungkapkan perasaan.

R/:
Pengungkapan memberikan kesempatan untuk memperjela
sinformasi memperbaiki kesalahan konsep dan meningkatkan
perspektif,memudahkan proses pemecahan masalah.

Kolaborasi
- Rujuk klien/pasangan untuk konseling atau kelompok
pendukung komunitas.

R/:
membantu menurunkan ansietas melalui sebaya atau

dukungan professional dan interaksi.

- Resti kelebihan volume cairan b.d penggantian


berlebihan/cepat dari kehilangan cairan, perpindahan cairan
intra vascular.

Tujuan : Volume cairan kembali seimabang.

KH :

- Intake out put seimbang

- Edema (-)

- Dispnea (-)

- Stridor, ronkhi (-)

- Kesadaran kompos mentis

- Ht : 35-54 gr %

- TTV stabil TD : 110/70 – 120/80 mmHg

- Nadi : 80-100 x/menit

- Suhu : 36-37 oC

- RR : 18-20 x/menit

Intervensi:

- Pantau adanya peningkatan TD dan nadi perhatikan pernafasan


terhadap tanda dispnea, stidor, ronkhi basah atau ronkhi
R/: Bila penggantian cairan berlebih,gejala-gejala kelebihan
bebansirkulasi dan kesulitan pernafasan (mis: edema paru)
dapat terjadi.

Pantau frekuensi infus secara manual/elektronik, catat masukan


/ haluaran, ukur berat jenis urin .

R/: Masukan harus kurang lebih sama dengan haluaran dengan


kadarcairan stabil. Berat jenis urin berubah kebalikan dengan
haluaran sehingga bila fungsi ginjal membaik angka berat berat
jenis urin menurun dan sebaliknya.

- Kaji status neurologis, perhatikan perubahan perilaku dan


peningkatan iritabilitas.

R/:
Perubahan perilaku mungkin tanda awal dari edema serebr
alkarena retensi cairan.

Kolaborasi

- Pantau kadar Ht

R/: Bila volume plasma membaik, kadar Ht menurun

d. Resiko tinggi infeksi b.d trauma jaringan, statis cairan tubuh


(ioktisial) penurunan Hb. prosedur invasif.
Tujuan: Infeksi tidak terjadi
KH:
- TTV dalam batas normal
- Suhu:36,5-37oC
- Nadi: 80-100 x/menit
- Tanda-tanda infeksi: dolor (-), kalor (-), tumor (-), rubor (-),
fungsio laesa (-)
- Leukosit :5000-10000 ul
- Involusi uterus normal.
Intervensi :

- Demonstrasikan mencuci tangan yang tepat dan teknik


perawatan diri

R/: Mencegah kontaminasi silang/penyebaran organisme


infeksius.

- Perhatikan perubahan pada tanda-tanda vital atau jumlah SDP.

R/: Peningkatan suhu, takhikardi atau leukositosis menandakan


infeksi.

- Perhatikan gejala malaise, menggigil, anoreksia, nyeri tekan


uterus, atau nyeri pelvis.

R/: Gejala-
gejala ini menandakan keterlibatan sistemik, kemungkinan

menimbulkan bakteremia, syok dan kematian bila tidak


teratasi.

- Pantau kecepatan involusi uterus dan sifat serta jumlah rabas


lokhia.

R/: Infeksi uterus memperlambat involusi dan memperlama


aliran lokhia.

- Selidiki sumber potensial lain dari infeksi, seperti pernafasan


(perubahan pada bunyi nafas, batuk produktif, sputum purulen),
mastitis (bengkak, eritema, nyeri) atau infeksi saluran kemih
(urin keruh, bau busuk, dorongan frekuensi, nyeri)

R/: Diagnosa banding adalah penting untuk pengobatan yang


efektif.

Kolaborasi

- Kaji kadar Hb/Ht, berikan suplemen zat besi sesuai indikasi.


R/: Anemia sering menyertai infeksi, memperlambat
pemulihan dan

merusak system imun.

- Dapatkan pewarnaan gram atau kultur bakteri bila lokhia


berbau busuk atau banyak.

R/:
Pewarnaan gram mengidentifikasi tipe infeksi; kultur me
ngidentifikasi patogen khusus.

- Berikan antibiotik intra vena, sesuai indikasi

R/: Antibiotik spectrum luas mungkin diberikan sampai


hasil kulturdan sensitivitas tersedia.

e. Resiko tinggi terhadap nyeri b.d distensi jaringan

Tujuan:Nyeri klien berkurang atau hilang.

KH: Klien tampak rileks

- Skala nyeri berkurang (0-3)

- Klien tidak tampak menringis

- TTV :TD=120/80 mmHg

- N : 80-100 x/menit

Intervensi :

- Tentukan karakteristik, tipe, lokasi dan durasi nyeri. Kaji klien


terhadap nyeri perineal yang menetap, perasaan penuh pada
vagina, kontraksi uterus atau nyeri tekan abdomen.

R/: Membantu dalam diagnosa dan pemilihan metode tindakan.

- Kaji kemungkinan penyebab psikologis dari ketidak nyamanan.

R/: Situasi darurat dapat mencetuskan rasa takut dan ansietas


yangmemperberat persepsi ketidak nyamanan.
- Instruksikan klien untuk melakukan tehnik relaksasi; berikan
aktivitas hiburan dengan tepat.

R/: Metode psikologis dan fisiologis dari kontrol nyeri


menurunkanansietas dan persepsi ketidak nyamanan klien.

- Berikan tindakan kenyamanan, seperti pemberian kompres es


pad perineum atau lampu pemanasan pada penyambungan
episiotomi.

R/:
Kompres dingin meminimalkan edema dan menurunka
nhematoma serta sensasi nyeri; panas meningkatkan
vasodilatasi, yang memudakan resorpsi hematoma.

Kolaborasi

- Berikan analgesik,narkotik atau sedatif sesuai indikasi.

R/: Menurunkan nyeri dan ansietas, meningkatkan relaksasi.

f. Kurang pengetahuan mengenai kondisi, prognosis dan kebutuhan


tindakan b.d kurangnya informasi
Tujuan: Pengetahuan klien bertambah.

KH :

- Klien dapat menjelaskan kembali tentang kondisi


danprognosis penyakitnya.
- Klien dpat mengulang kembali pengobata-pengobatan pada
penyakitnya
- Cemas klien berkurang.
- Klien dapat mengambil keputusan untuk rencana pengobatan
dan tindakan.
Intervensi :

- Jelaskan factor predisposisi atau penyebab dan tindakan khusus


terhadap penyebab hemoragi.

R/: Memberikan informasi untuk membantu.klien atau pasang


untukmemahami dan mengatasi situasi

- Kaji tingakat pengetahuan klien atau pasangan kesiapan dan


kemampuan untuk belajar. Dengarkan, bicara dengan tenang
dan berikan waktu untuk bertanya dan meninjau materi.

R/:
Berikan informasi yang perlu untuk mengembangkan renca
naperawatan individu. Menurunkan ansietas dan stress, yang
dapat menghambat pembelajaran dam memberikan klasifikasi
dan pengulangan untuk meningkatkan pemahaman.

- Diskusikan implikasi jangka pendek hemoragi pasca partum,


seperti pelambatan atau interupsi pada proses kedekatan ibu-
bayi.

R/: Menurunkan ansietas dan memberikan kerangaka waktu


yangrelistis untuk melakukan ikatan serta aktivitas-aktivitas
perawatan bayi.

- Diskusikan implikasi jangka panjang hemoragi pasca partum


dengan tepat: misal. resiko hemoragi pasca partum pada
kehamilan selanjutunya, atoni uterus, atau ketidak mampuan
untuk melahirkan anak pada masa datang bila histereoktomi
dilakukan.

R/:
Memungkinkan klien untuk membuat keputusan berdasarka
ninformasi dan mulai mengatasi perasaan tentang kejadian-
kejadian masa lalu dan sekarang.
- Intuksikan klien untuk melaporkan kegagalan untuk menyusui,
kelelahan, kehilangan rambut pubis atau aksila, amenorea,
atrofi genital, proses penuan premature (kaheksia).

R/: Tanda-tanda ini menunjukan sindrom Sheehan, yang terjadi


pada15% yang selamat dari hemoragi pasca partum berat;
menybabkan kehilangan fungsi tiroid, adrenokortikal, dan
gonad baik parsial maupun total serta memerlukan tindakan
jangka panjang dengan estrogen, tiroid atau terapi penggantian
kortisol.

- Rujuk pada kelompok pendukung bila tepat.

R/:
kelompok spesipik, seperti kelompok pendukunghistereokt
omi, dapat memberikan infomasi terus menerus untuk
memudahkan adaptasi positif.

11. Imlpememtasi keperawatan

Melakukan semua tindakan keperawatan yang telah


direncanakan sesuai dengan prioritas masalah dan kondisi pasien.

12. Evaluasi
a. Volume cairan kembali adekuat.
b. Perfusi jaringan adekuat.
c. Cemas berkuarang atau hilang.
d. Volume cairan seimbang.
e. Infeksi tidak terjadi.
f. Nyeri berkurang atau hilang.
g. Pengetahuan klien bertambah.
Askep pada Klien Post Partum dengan Komplikasi Tromboemboli

A. Pengertian

Tromboemboli berasal dari kata thrombus dan emboli.


Trombus adalah kumpulan factor darah terutama trombosit dan fibrin
dengan terperangkapnya unsur seluler yang sering menyebabkan obstruksi
vaskuler pada akhir pembentukannya.

Tromboemboli adalah obstruksi pembuluh darah dengan bahan


trombolik yang dibawa oleh darah dari tempat asal untuk menyumbat .
Statis vena pada ekstremitas bawah yang disebabkan karena melemahnya
dinding pembuluh darah dan penekanan vena – vena utama akibat
pembesaran uterus. Meskipun system bekuan darah kembali ke tingkat
normal sebelum kehamilan 3 minggu setelah persalinan, risiko terjadi
thrombosis tetap berlanjut 4 – 5 minggu setelah persalinan.

B. Patofisiologi

Persalinan khususnya pada saat terlepasnya placenta, kadar


fibrinogen serta factor lain yang memegang peranan dalam pembekuan
meningkat sehingga memudahkan timbulnya pembekuan. Peredaran darah
dalam kaki menjadi lebih lambat karena tekanan uterus berisi janin beserta
berkurangnya aktivitas yang berlangsung sampai masa nifas. Pada
persalinan, terutama yang diselesaikan dengan pembedahan, ada
kemungkinan gangguan pada pembuluh darah terutama di daerah pelvis.
Terjadinya tromboemboli melibatkan 3 faktor yang saling berhubungan
yaitu :

1. Perubahan Koagulasi

Pada saat persalinan, factor pembekuan V, VII dan X kadarnya


akan meningkat 2 kali lipat dan tetap tinggi di masa nifas.
Placenta dan cairan amnion merupakan sumber dari tromboplastin
jaringan (factor III ). Pengeluaran semua material dalam persalinan dan
akan merangsang jalur ekstrebsi pembekuan darah.
2. Statis Vena

Statis vena terjadi karena

- Terjadi penurunan secara bertahap aliran darah vena dari kaki


ke paha
- Obstruksi bermakna dari vena cava akibat penekanan uterus
yang semakin membesar
- Turunnya tonus vena pada anggota gerak bawah sejak awal
kehamilan
- Dilatasi vena panggul
- kemungkinan terjadinya disfungsi daun katup vena.
Semua hal tersebut mempunyai potensi untuk meningkatkan
risiko terjadinya penggumpalan trombosit dan pembentukan
fibrin.
Jika thrombus telah terbentuk maka akan terjadi statis aliran
darah yang progresif dengan akibat thrombus yang makin luas.
Keadaan tersebut diperparah dengan tirah baring yang lama dan
proses persalinan dengan tindakan.
3. Trauma endothelium vaskuler
Merupakan barier fisiologis terhadap thrombosis diantaranya
dengan menghasilkan prostasiklin yang berfungsi mencegah terjadinya
agregasi dan aktivasi trombosit.

Faktor yang mempengaruhi

Faktor risiko umum terjadinya tromboemboli :

1. Tromboemboli herediter (mutasi factor)


2. Riwayat tromboemboli sebelumnya
3. Penggunaan katup jantung artificial
4. Fibrilasi atrial
5. Sindroma antifosfolipid
Faktor risiko khusus yang meningkatkan kecenderungan tromboemboli
adalah :

1. Bedah kebidanan (SC)


2. Persalinan pervaginam dengan tindakan
3. Usia lanjut ibu hamil dan melahirkan
4. Dupresi laktasi dengan menggunakan preparat estrogen
5. Sickle cell disease
6. Riwayat tromboflebitis sebelumnya
7. Penyakit jantung
8. Immobilisasi yang lama
9. Obesitas
10. Infeksi maternal dan insufisiensi vena kronik
11. Multipara
12. Varises
13. Infeksi nifas

Faktor risiko penting terjadinya tromboemboli :


1. Merokok
2. Preeklamsia
3. Persalinan lama
4. Anemia
5. Perdarahan

C. Klasifikasi Tromboemboli

Trombi vena umumnya terjadi pertama kali pada vena-vena kecil


di daerah betis dan meluas ke proksimal sampai vena femoralis atau iliaka,
jarang sampai pada vena cava inferior.

Daerah yang juga sering mengalami thrombosis pada masa nifas


adalah vena-vena pelvis karena kurangnya aliran darah akibat hipertrofi
vena uterus. Trombi dapat meluas ke ena iliaka dan dapat diikuti dengan
terjadinya emboli paru yang fatal.
Jika terjadinya bekuan darah dalam vena tanpa didahului oleh
inflamasi sebelumnya, keadaan ini disebut sebagai flebotrombosis.
Bekuan darah umumnya tidak melekat erat dan hanya
menyebabkan oklusi yang parsial, sedangkan jika thrombosis terjadi akbat
adanya peradangan dinding vena sebelumnya disebut dengan
tromboplebitis.
Tromboemboli pada masa post partum mencakup:

1. Trombosis vena superficial (TVS) lebih sering diderita oleh


wanita dengan varises dan kejadiannya tidak dipengaruhi oleh
intervensi obstetrik yang traumatic, biasanya disertai
peradangan sehingga disebut tromboflebitis.
Klasifikasi tromboflebitis dibagi dua yaitu :
1) Pelviotromboplebitis, yaitu mengenai vena-vena dinding
uterus dan ligamentumlatum, yaitu vena ovarika, vena
uterine dan vena hepogastrika.
2) Tromboplebitis femoralis, yaitu mengenai vena – vena pada
tungkai misalnya vena femoralis, poplitea dan vena savena.
2. Trombosis vena dalam (TVD) sangat dipengaruhi oleh
intervensi obstetric, sebagai contoh kejadiannya meningkat
menjadi 1,8-3 % setelah tindakan bedah sesar.
3. Emboli paru (EP), 15-25 % penderita dengan TVD yang tidak
tertangani dengan baik akan mengalami emboli paru (EP) dan
12-25% dari jumlah tersebut akan berakibat fatal.

D. Tanda dan gejala


Tromboemboli pada masa nifas pada umumnya sering ditandai
dengan :
1. Manifestasi klinik klasik yang disebut dengan phlegmasia alba dolens
atau milk yaitu berupa edema tungkai dan paha
2. Disertai rasa nyeri yang hebat
3. Sianosis lokal
4. Demam yang terjadi karena terlibatnya vena dalam dari kaki sampai
region illeofemoral
Nyeri pada otot betis baik spontan ataupun akibat peregangan
tendon Achilles (homan’s sign) tidak mempunyai arti klinis yang
bermakna karena tanda yang sama seringkali ditemukan pada awal
masa nifas akibat tekanan oleh peyangga betis meja obstetric saat
persalinan.
Derajat nyeri tidak berhubungan dengan risiko terjadinya emboli
karena banyak penderita emboli paru yang sebelumnya tidak
menunjukkan tanda-tanda thrombosis vena.
TVS ( thrombosis vena superficial)
1. Pelviotrmboplebitis :
1) Nyeri pada perut bagian bawah dan atau bagian samping,
timbul hari kedua-tiga masa nifas dengan atau tanpa panas.
2) Penderita tampak sakit berat dengan gambaran :
a) Menggigil berulangkali, 30-40 menit dengan interval hanya
beberapa jam dan kadang-kadang 3 hari. Penderita hamper
tidak panas.
b) Suhu badan naik turun secara tajam ( 36 menjadi 40) yang
diikuti dengan penurunan suhu dalam 1 jam.
c) Penyakit dapat berlangsung 1-3 bulan.
d) Cenderung berbentuk pus yang menjalar kemana-mana
terutama paru-paru.
3) Gambaran darah :
a) Terdapat leukositosis
b) Untuk membuat kultur darah, darah diambil pada saat tepat
sebelum mulainya menggigil. Meskipun bakteri ditemukan
di dalam darah selama menggigil, kultur darah sangat sukar
dibuat karena bakterinya adalah anaerob.
c) Pada periksa dalam hamper tidak ditemukan apa-apa karena
yang paling banyak terkena ialah vena ovarika, yang sukar
dicapai pada pemeriksaan dalam
2. Tromboplebitis femoralis
1) Keadaan umum tetap baik, suhu badan subfebris selama 7
sampai 10 hari, kemudian suhu mendadak naik kira-kira
pada hari ke 10-20, yang disetai dengan menggigil dan
nyeri sekali.
2) Pada salah satu kaki yang terkena biasanya kaki kiri, akan
memberikan tanda-tanda sebagai berikut :
a) Kaki sedikit dalam keadaan fleksi dan rotasi keluar
serta sukar bergerak, lebih panas dibanding dengan kaki
lainnya
b) Seluruh bagian dari salah satu vena pada kaki terasa
tegang dank eras pada paha bagian atas
c) Nyeri hebat pada lipat paha dan daerah paha
d) Reflektori akan terjadi spasmus arteria sehingga kaki
menjadi bengkak,tegang, putih, nyeri dan dingin dan
pulsasi menurun
e) Edema kadang-kadang terjadi sebelum atau setelah
nyeri dan pada umumnya terdapat pada paha bagian
atas, tetapi lebih sering dimulai dari jari-jari kaki dan
pergelangan kaki, kemudian meluas dari bawah keatas
f) Nyeri pada betis, yang dapat terjadi spontan atau
dengan memijit betis atau dengan meregangkan tendo
akhiles (tanda human).

TVD (thrombosis Vena dalam)

Kira-kira 50% tidak menimbulkan gejala. Dapat diduga jika


terdapat nyeri yang menjalar/nyeri tekan pada vena yang terkena.
Sering terjadi pada kaki kiri. Jika bekuan tidak merusak pembuluh
darah maka klien tidak merasakan nyeri. Biasanya terjadi pada 2
minggu setelah persalinan.
Gejala-gejala terdiri atas :

1. Nyeri di kaki bila berjalan


2. Kadang-kadang dapat dilihat bahwa kaki membengkak sedikit
3. Kemungkinan suhu badan agak naik

Emboli paru menimbulkan gejala-gejala :

1. Dispnea
2. Pleuritis
3. Tachypnea
4. Stridor
5. Nyeri dada
6. Batuk
7. Sinkop
8. Hemoptisis

E. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan obyektif yang dapat dilakukan meliputi :
1. Pemeriksaan invansif (venografi)
2. Pemeriksaan non invansif ( compression ultrasound= CUS, impedance
phletysmography=IPG dan magnetic resonance venography = MRV).
Venografi merupakan gold standar untuk diagnosis TVD. CUS salah
satu cara cara pemeriksaan untuk TVD proksimal.
3. Jika hasil pemeriksaan non invasive ini negative sedangkan secara
klinis tetap patut diduga terjadi TVD.
4. Ultrasonografi dan ultrasonografi dopler secara akut dapat
mengidentifikasi thrombosis vena proksimal.
5. Computed tomografi atau CT dipertimbangkan sebagai pemeriksaan
yang paling akurat dalam mengidentifikasi TVD panggul dan
abdomen.
6. Angiografi paru merupakan gold standar untuk diagnosis.
F. Diagnosis Banding
1. Pielonefritis
2. Appendixcitis
3. Hematoma ligament yang luas
4. Torsi adneksa
5. Abses pelvis
6. Nefrolitiasis
7. Demam obat
8. Sindrom viral

G. Komplikasi
1. TVS Pelviotromboplebitis
a. Komplikasi pada paru-paru : infark, abses, pneumonia
b. Komplikasi pada ginjal sinistra : nyeri mendadak, yang diikuti
dengan proteinuria dan hematuria
c. Komplikasi pada persendian, mata dan jaringan subcutan
d. Tromboflebitisseptik
2. TVD
a. Kadang-kadang thrombosis menutup sama sekali vena femoralis
dengan akibat timbulnya edema yang padat pada kaki dan nyeri
yang sangat hebat. Sesudah keadaan menjadi tenang, bias
tertinggal sindroma pasca flebitis, terdiri atas edema, varices,
eksema dan ulkus pada kaki.
b. Emboli paru
3. Emboli paru
a. Emboli paru besar dapat menutup arteria pulmonalis serta
menimbulkan syok dan kematian.
b. Emboli paru menimbulkan gawat darurat kardiovaskuler dan
sindrom pernafasan berat yaitu adanya dyspnea, nyeri dada dan
cianosis.
H. Penatalaksanaan
1. Trombosis ringan khususnya dari vena -vena di bawah permukaan
ditangani dengan :
a. Istirahat dengan kaki agak tinggi
b. Pemberian obat-obat seperti asidumasetilosalisilikum
c. Jika ada tanda peradangan, dapat diberi anti biotika
d. Segera setelah rasa nyeri hilang, penderita dianjurkan untuk mulai
berjalan
2. Pelviotromboplebitis
a. Rawat inap : penderita tirah baring untuk pemantauan gejala
penyakitnya dan mencegah terjadinya embolipulmonum
b. Terapi medic : pemberian antibiotika, heparin jika terdapat tanda-
tanda atau dugaan adanya emboli pulmonum
c. Terapi operatif : pengikatan vena cava inferior dan vena ovarika
jika emboliseptik terus berlangsung sampai mencapai paru – paru
meskipun sedang dilakukan heparinisasi
3. Tromboplebitis femoralis
a. Perawatan : kaki ditinggikan untuk mengurangi edema, melakukan
kompresi pada kaki. Setelah dimobilisasi, kaki hendaknya tetap
dibalut elastic atau memakai kaos kaki panjang yang elastic selama
mungkin.
b. Mengingat kondisi ibu yang sangat jelek, sebaiknya jangan
menyusui
c. Terapi medik : pemberian antibiotika dan analgetika
4. TVD membutuhkan rujukan dokter segera untuk mendapatkan
penanganan lebih lanjut.
a. Stocking untuk menekan
b. Terapi antikoagulan dengan heparin melalui intravena lebih dari
40.000 U setiap hari
c. Wafarin diberikan mula-mula 10 mg sehari, kemudian 3 mg sehari.
d. Pengobatan dilanjutkan selama 6 minggu untuk kemudian
dikurangi dan dihentikan dalam 2 minggu
e. Pemberian analgesic
f. Istirahat total
5. Emboli paru :
a. Usaha menanggulangi syock
b. Pemberian antikoagulan
c. Pada embolus kecil yang timbul berulang dapat dipertimbangkan
mengikat vena di atas tempat thrombus
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN TROMBOEMBOLI

A. Pengkajian
Perlunya data factor risiko terjadinya tromboemboli yaitu :
Faktor risiko umum terjadinya tromboemboli :
1. Tromboemboli herediter (mutasi factor )
a. Riwayat tromboemboli sebelumnya
b. Penggunaan katup jantung artificial
c. Fibrilasi atrial
d. Sindroma antifosfolipid
Faktor risiko khusus yang meningkatkan kecenderungan
tromboemboli adalah :
a. Bedah kebidanan,( SC)
b. Persalinan pervaginam dengan tindakan
c. Usia lanjut ibu hamil dan melahirkan
d. Dupresi laktasi dengan menggunakan preparat estrogen
e. Sickle cell disease
f. Riwayat tromboflebitis sebelumnya
g. Penyakit jantung
h. Immobilisasi yang lama
i. Obesitas
j. Infeksi maternal dan insufisiensi vena kronik
k. Multipara
l. Varises
m. Infeksi nifas
Faktor risiko penting terjadinya tromboemboli :
a. Merokok
b. Preeklamsia
c. Persalinan lama
d. Anemia
e. Perdarahan
2. Pengkajian yang komprehensif berfokus pada adanya data obyektif dan
subyektif yang mendukung adanya tromboemboli.
Data focus yang didapatkan :
a. Manifestasi klinik klasik yang disebut dengan phlegmasia alba
dolens atau milk yaitu berupa edema tungkai dan paha
b. Disertai rasa nyeri yang hebat
c. Sianosis local
d. Demam yang terjadi karena terlibatnya vena dalam dari kaki sampai
region illeofemoral
e. Nyeri pada otot betis baik spontan ataupun akibat peregangan
tendon Achilles (homan’s sign) tidak mempunyai arti klinis yang
bermakna karena tanda yang sama seringkali ditemukan pada awal
masa nifas akibat tekanan oleh peyangga betis meja obstetric saat
persalinan. Derajat nyeri tidak berhubungan dengan risiko
terjadinya emboli banyak penderita emboli paru yang sebelumnya
tidak menunjukkan tanda-tanda thrombosis vena.
3. Pemeriksaan penunjang yang dibutuhkan :
a. Laboratorium
b. Foto Thoraks
c. Sonografi
4. Analisa data
Data yang didapatkan dikelompokkan dalam karakteristik jenis
tromboemboli yang mempunyai data khusus meskipun pada dasarnya
hampir sama yaitu :
a. Adanya nyeri
b. Hipotermi atau hipertermi
c. Pemenuhan ADLmengalami hambatan
d. Gangguan konsep diri
e. Risiko infeksi
f. Proses infeksi
g. Hambatan menyusui
B. Diagnosa yang Mungkin Muncul
1. Nyeri/kerusakan integritas jaringan berhubungan dengan :
 Proses infeksi
2. Ansietas/harga diri rendah/gangguan citra tubuh berhubungan dengan :
 Akibat infeksi jangka panjang
 Efek yang dipersepsikan pada hubungan seksual dan proses
keluarga
3. Proses menyusui tidak efektif berhubungan dengan :
 Nyeri
 Tirah baring lama
4. Kurang pengetahuan yang berhubungan dengan :
 Tranmisi/pencegahan infeksi/enfeksi berulang
 Penatalaksanaan dan penyebab infeksi
5. Risiko tinggi gangguan peran menjadi orang tua yang berhubungan
dengan :
 Rasa takut terhadap penyebaran infeksi
6. Perubahan pola eliminasi yang berhubungan dengan :
 Tirah baring lama
 Adanya edema
 Nyeri
 Gangguan fungsi urinarius
7. Perubahan proses keluarga yang berhubungan dengan :
 Komplikasi yang tidak diharapkan pada pemulihan pasca
partum
 Kemungkinan harus berpisah dari bayi baru lahir

C. Intervensi Keperawatan
Rencana keperawatan dirumuskan secara spesifik untuk memenuhi
kebutuhan kebutuhan fisik dan psikososial ibu. Hasil akhir yang
diharapkan adalah sebagai berikut :
1. Infeksi ibu akan sembuh
2. Ibu akan mengalami penurunan nyeri atau nyeri akan hilang,edema
hilang, tidak terjadi tromboemboli
3. Ibu akan kembali memperoleh fungsi kemihnya yang sebelumnya dan
pola eliminasinya tanpa akibat atau infeksi ulang
4. Ibu akan mengatakan bahwa kecemasanya berkurang
5. Ibu akan mengidentifikasi dan mampu menyebutkan etiologi,
penatalaksanaan, dan dugaan perjalanan infeksi dan pencegahanya.
6. Tidak terjadi komplikasi
7. Proses menyusui kembali efektif

D. Evaluasi Keperawatan
1. Tidak adanya infeksi
2. Nyeri hilang, tidak ada edema dan tidak terjadi tromboemboli
3. Fungsi kemih akan kembali normal
4. Kecemasan berkurang
5. Pengetahuan ibu bertambah setelah dilakukan tindakan keperawatan
6. Tidak adanya komplikasi
7. Menyusui kembali efektif
Daftar Pustaka

1. Bobak, I.M., Lowdermilk, D.L., & Jensen, M.D. (1995). Maternity


nursing. (4th ed.), Mosby: Years Book-Inc.
2. Pilliteri, A. (2003). Maternal & child health nursing care of the
chilbearing & childrearing family. (4 th ed.), Philadelphia: Williams &
Wilkins.
3. Abdul Bari Saifudin,SpOG,MPH,dr,prof, Buku Acuan Nasional
Pelayanan kesehatan Maternal dan Neonatal, 2000, JNPKKR-POGI,
Jakarta.
4. Lowdermilk, D.L., Perry, S.E., & Bobak, I.M.(2000). Maternity
women’s health care. (7 nd ed.).
5. Hanifa Wiknjosastro,(1991), Ilmu Kebidanan,Yayasan Bina Pustaka
Sarwono P, Jakarta.
6. Hariadi.R,(2004), Ilmu Kedokteran Fetomartenal edisi perdana,
Himpunan Kedokteran Fetomaternal-POGI, Surabaya