Anda di halaman 1dari 40

Drainase

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Problem drainase disebabkan oleh kelebihan air, baik dipermukaan tanah
ataupun didaerah akar dibawah permukaan tanah. Jika air tetap berada ditanah, maka
itu termasuk salah satu problem drainase air permukaan. Tipe lain dari problem
drainase adalah mengenai air yang terdapat di bawah permukaan tanah. Seringkali
keberadaan muka air tanah yang tinggi bukan berarti suatu bukti dari pemeriksaan
tanah.
Tujuan utama dari drainase adalah untuk memperoleh lingkungan yang baik
untuk pertumbuhan tanah.
Air yang memenuhi pori-pori tanah tidak hanya menggantikan keberadaan
udara didalamnya, juga menghalangi pemberian gas-gas lainnya yang berasal dari
akar tanaman.
Problem drainase terjadi dimana-mana, antara lain di pertanian, lapangan
terbang, gedung bertingkat ataupun pemukiman.
Untuk itu dalam tugas ini akan direncanakan sistem drainase untuk wilayah
pemukiman. Rumah adalah salah satu kebutuhan primer manusia. Dan dewasa ini
memiliki berbagai perspektif. Dari sudut prioritas, rumah merupakan kebutuhan
utama mutlak untuk menunjang kehidupan manusia itu sendiri. Di jaman serba
modern, lahan-lahan semakin sempit dan bidang perekonomian semakin maju,
sehingga menimbulkan gagasan untuk membuat satu unit perumahan.
Drainase kota merupakan prasarana kota yang intinya berfungsi untuk
mengendalikan limpasan air hujan yang berlebihan. Drainase sangat dibutuhkan di
daerah perkotaan karena secara garis besar seluruh daerah perkotaan mempunyai nilai
ekonomis. Jika tidak disediakan fasilitas sistem drainase yang baik maka seluruh nilai
ekononomis di daerah perkotaan tersebut dapat hilang karena kelangsungan dan
kesinambungan kegiatan masyarakat terhenti disebabkan oleh bencana banjir.

1
Nisa Noor Fadhila Soeseno
Drainase

Fungsi dari sistem drainase adalah :


1. Untuk menjaga serta meningkatkan kesehatan lingkungan pemukiman.
Dengan tersedianya sistem drainase yang baik maka diharapkan :
 Dapat mengurangi / menghilangkan genangan-genangan air yang
menyebabkan bersarangnya nyamuk dan hewan pengerat lainnya.
 Pengendalian kelebihan air permukaan atau run off dapat dilakukan
dengan aman, lancar, efisien, dan dapat mendukung lingkungan dan
kesehatan masyarakat.
 Dapat digunakan sebagai bagian rencana tata kota yang berguna dalam
proses perencanaan pembangunan dalam kota yang bersifat eksternal dan
internal.
2. Untuk memperpanjang umur ekonomis sarana-sarana fisik antara lain jalan-
jalan di kawasan pemukiman. Akibatnya genangan atau banjir menimbulkan
kerusakan atau gangguan kegiatan akibat tidak berfungsinya prasarana
drainase.

1.2 Maksud dan Tujuan


Tujuan dari perencanaan sistem drainase adalah :
 Mengenal prinsip dari sistem drainase.
 Memahami tata cara penyusunan perencanaan sistem drainase.
 Mampu melakukan perhitungan dan mengambil keputusan berdasarkan
perhitungan tersebut.
 Mampu memilih bahan bangunan yang sesuai untuk sistem drainase.
 Mampu mengenal perlengkapan sistem drainase dan tata letaknya serta
perhitungan sarana drainase.

1.3 Ruang Lingkup


Ruang lingkup dari tugas ini meliputi :

2
Nisa Noor Fadhila Soeseno
Drainase

 Perencanaan alternatif jalur saluran


 Perencanaan intensitas hujan rencana
 Perencanaan dimensi saluran

3
Nisa Noor Fadhila Soeseno
Drainase

BAB II
GAMBARAN UMUM DAERAH STUDI

Dalam melakukan perencanaa Penyaluran Drainase dalam suatu wilayah pada


perencanaan tugas ini, pada kurun waktu tertentu diperlukan suatu analisa seperti
area, luas area dan data – data yang dapat mendukung perencanaan tersebut seperti
data curah hujan, daerah pengaliran saluran ( topongrafi,hidrologi, morfologi
sungai,sifat tanah dan tata guna lahan) sehingga diperoleh debit, dimensi dan elevasi
perencanaan drainase yang baik. Begitupun dengan perencanaan sistem Drainase di
kota Trisakti Damai pada tugas ini.
Kota Trisakti Damai merupakan kota besar yang cukup padat penduduknya
dan terletak pada berbagai ketinggian antara 100 sampai 125 meter diatas permukaan
laut. Di kota ini terdapat sebuah waduk yang bernama waduk Kedungicut yang
terletak di seselah timur kota. Selain waduk, terdapat juga dua buah sungai yang
terletak di sebelah timur kota.
Kota Trisakti Damai ini terdiri dari 3 jenis pemukiman penduduk dengan
kepadatan penduduk yang berbeda-beda, yaitu :

(A) kepadatan penduduk = 430 jiwa/ha

(B) kepadatan penduduk = 370 jiwa/ha

(C) kepadatan penduudk = 300 jiwa/ha


Selain itu kota ini juga dilengkapi dengan berbagai fasilitas, yaitu :
- Rumah Sakit (RS) dengan kepadatan 400 bed/ha.
- Sekolah (s) dengan kepadatan 1000 orang/ha.
- Stasiun bis (ST) dengan kepadatan 1100 bis/hari
- Kantor (K) dengan kepadatan 1500 orang/ha.
- Mesjid (M)

4
Nisa Noor Fadhila Soeseno
Drainase

Pada akhir perencanaan Sistem Drainase padatugas ini direncanaan air hujan
yang mengalir dialirkan secara gravitasi dan langsung ke waduk dan sungai yang
terdekat. Untuk perencanaannya dibutuhkan data-data seperti :

Tabel 2.1 Data Untuk Perhitungan Intensitas Hujan


t
(menit) a b
1 5.85 21.6
5 29.1 116
10 73.8 254
15 138 424
20 228 636
25 351 909
30 524 1272
35 774 1781
40 1159 2544
45 1811 3816
50 3131 6360
55 7119 13992
59 39083 75048

Tabel 2.2 Data Untuk Perhitungan Intensitas Hujan


Curah
Tahun Hujan(Xi)
1995 65
1996 92
1997 76
1998 61
1999 75
2000 90
2001 211
2002 132
2003 125
2004 73

5
Nisa Noor Fadhila Soeseno
Drainase

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

3.1 Pengertian Drainase


Drainase secara bahasa berasal dari kata drainage yang berarti tindakanuntuk
mengeringkan, kemudian menjadi kata to drain yang berarti penyaluran air yang
menyebabkan daerah daratan menjadi kering (suprapto, 1992). Secara umum drainase
dapat didefinisikan sebagai satu tindakan untuk mengeringkan suatu daerah yang
tergenang air dengan cara menyalurkan genangan air dari wilayah tersebut menuju
satu daerah tujuan pembangunan. (Materi Training Tingkat Staf Tekhnik Proyek PLP
Sektor Drainase, 1987).
Tujuan dibangunnya prasarana saluran drainase perkotaan adalah untuk untuk
daerah yang sudah ada sistem drainasenya, perlu juga dipelajari dan dikumpulkan
data mengenai kondisi fasilitas sistem drainase yang sudah ada, termasuk didalamnya
data-data mengenai masalah genangan air yang diakibatkan oleh banjir yang telah
terjadi.
Sistem drainase yang diterapkan dalam perencanaan ini adalah sistem drainase
utama, yang nantinya akan melayani seluruh masyarakat daerah perencanaan.
Prinsip dasar dalam perencanaan sistem drainase dalam tugas ini sebagai
berikut:
1. Saluran drainase dapat mengalikan air secepat mungkin dan sependek mungkin
berupa saluran terbuka menuju saluran pembuangan akhir.
2. Saluran drainase harus mampu mengalirkan air hujan sesuai dengan tahapan
pembangunan kota, dimana kapasitas terakhir disesuaikan dengan kecepatan
pembangunan dan kepadatan daerah pemukiman.
3. Kecepatan aliran di dalam saluran drainase tidak boleh merusak badan saluran
dan menimbulkan erosi. Dengan batasan harus dapat self cleaning pada

6
Nisa Noor Fadhila Soeseno
Drainase

kecepatan minimum dan tidak boleh merusak badan saluran pada kecepatan
maksimum.
4. Pada daerah yang relatif datar, kemiringan dasar saluran dibuat sesuai dengan
kemiringan batas, dimana saluran harus mempunyai kecepatan aliran minimum
yang self cleaning.
5. Dipertimbangkan aspek-aspek teknis dan non teknis.

3.2 Jenis dan Macam Saluran Drainase


Saluran Drainase yang baik yang alami maupun yang buatan, yang berada
atau melintasi didalam wilayah administrasi kota, dibagi menjadi dua golongan yaitu
saluran drainase regional dan saluran drainase kota. (Revisi Perencanaan DED
Drainase Kota Karawang ,2000)
a. Saluran drainase regional adalah saluran drainase yang berawalan dari luar batas
administrasi kota, awalan atau hulunya berada relative jauh dari batas kota.
Lajur salurannya melintasi wilayah kota.
b. Saluran drainase kita adalah saluran drainase yang mempunyai hulu atau awalan
aliran berada di dalam wilayah kota. Saluran drainase kota mungkin bermuara
pada saluran drainase regional, baik yang berada di wilayah kota maupun
berada di luar wilayah batas kota, bagian lajur yang berada diluar batas kota
dapat disebut lajur saluran drainase regional.
Jenis dan macam saluran drainase kota :
1. Drainase Mayor I, dimana memepunyai luas daerah pengaliran lebih besar dari
100 Ha.
2. Drainase Mayor II, dimana memepunyai luas daerah pengaliran 50 – 100 Ha.
3. Daerah Minor, dimana mempunyai luas daerah pengaliran lebih kecil dari 50
Ha, yang dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
a. Saluran drainase induk atau saluran primer, dimana mempunyai luas daerah
pengaliran antar 25 – 50 Ha.

7
Nisa Noor Fadhila Soeseno
Drainase

b. Saluran drainase cabang atau saluran sekunder mempunyai luas wilayah


pengaliran antara 5 – 25 Ha.
c. Saluran drainase awalan atau saluran tersier memepunyai luas wilayah
pengaliran antara 0 – 5 Ha.

3.3 Daerah Operasional sistem Drainase


Drainase dalam tindakannya secara teknis adalah suatu kegiatan untuk
memeperbaiki daerah becek, genangan air dan banjir, bahkan untuk menurunkan
permukaan air yang tinggi. Cara pembuangan atau penyalurannya supaya tidak terjadi
kerusakan tanah, misalnya terjadi erose dan adanya endapan, maka diperlukan daerah
operasional sebagai berikut :
1. Tanah belerang atau memepunyai kemiringan besar.
Kecepatan aliran pada daerah ini biasanya tinggi dan sering terjadi erosi,
terlebih lagi jika tanahnya gembur dan lembek maka akan terjaid pengikisan
tanah dan terjadi endapan Lumpur pada daerah bawah aliran. Pencegahannya
dapat dengan bangunan teracering dan bangunan bronjong.
2. Tanah yang dilanda banjir limpasan, karena kurangnya saluran drainase
permukaan serta persyaratannya.

3. Tanah yang dilanda banjir akibat meluapnya sungai atau saluran selama waktu
tertentu oleh adanya hujan lebat, keadaan banjir ini sering disebut banjir
kiriman. Daerah yang sering dilanda banjir ini adalah daerah lembah sungai
yang elevasinya lebih rendah dari tebing sungainya. Proteksinya adalah dengan
memebuat tanggul sepanjang tepi sungai pada daerah lembah dan membuat
parit kaki tanggul pada daerah lembah.
4. Tanah yang mempunyai kedalaman permukaan tanah sangat kecil sehingga
permukaan terjadi becek. Cara penanggulangannya adalah dengan membangun
sarana saluran drainase bawah permukaan beserta perlengkapannya.

8
Nisa Noor Fadhila Soeseno
Drainase

Sebelum menghitung besarnya intensitas hujan yang terjadi, data yang


diperoleh dari badan meteorology dan geofisika harus diuji homogenitasnya. Suatu
data dikatakan homogen bila berasal dari satu populasi yang sama. Bila data tersebut
tidak homogen, maka data tersebut tidak dapat digunakan.
Ketidakhomogenitasnya hujan mungkin disebabkan karena gangguan-
gangguan atmosfer oleh pencemaran udara atau adanya hujan buatan yang sifatnya
insidentil.

3.4 Kriteria Analisis Hidrologi


3.4.1 Umum

Dalam perencanaan sistem penyaluran air hujan salah satu factor yang sangat
penting adalah analisa hidrologi. Dalam analisa tersebut sangatlah penting
dipengaruhi oleh factor iklim yang memberikan gambaran mengenai besarnya curah
hujan beserta factor-faktor lain seperti factor geologi, dan sifat permukaan tanahnya
yang dapat memberikan perkiraan seberapa besar prosentase air hujan yang mengalir
di permukaan tanah dan arah alirannya. Di dalam analisis hidrologi, salah satu hasil
akhir yang sering diharapkan adalah perkiraan besar banjir rencana untuk suatu
bangunan. Banjir rencana ditafsirkan sebagai besar banjir yang menentukan untuk
mendimensi bangunan hidrolik dalam hal ini jaringan sistem drainase.

3.4.2 Data Curah Hujan Periode Ulang

Data-data hidrologi yang tersedia untuk perencanaan yang diperoleh dan


dikumpulkan dari institusi pengelola dalam hal ini BMG. Data curah hujan yang
diambil adalah dalam jangka waktu yang berbeda-beda sesuai dengan bangunan
hidrolik rancangan. Misalnya lapangan terbang dibutuhkan curah hujan selama 50
tahun sedangkan untuk pemukiman cukup 10 atau 20 tahun saja.

9
Nisa Noor Fadhila Soeseno
Drainase

3.4.3 Periode Ulang

Dalam perencanaan suatu sistem penyaluran air hujan, digunakan beberapa


klasifikasi periode ulang yang penentuannya didasarkan pada pertimbangan-
pertimbangan ekonomis serta kondisi curah hujan daerah setempat. Periode ulang
untuk perencanaan sistem drainase sangat penting, karena menyangkut keamanan
saluran. Semakin besar periode ulang, akan semakin aman saluran dan semakin mahal
pula biaya untuk pembangunan saluran. Periode ulang yang biasa digunakan adalah
periode ulang berdasarkan jenis kota dan jenis saluran.

3.4.4 Koefisien Pengaliran ( c )

Dalam menentukan angka pengaliran untuk suatu daerah urban banyak faktor
yang berpengaruh misalnya :

 Tipe curah hujan


 Lama waktu hujan
 Topografi
 Keadaan fauna
 Intensitas hujan
 Distribusi hujan
 Geologi
 Perubahan-perubahan akibat ulah manusia
Angka pengaliran berubah dari waktu ke waktu sesuai dengan perubahan yang
terjadi pada daerah urban terhadap faktor-faktor tersebut.

Dalam menentukan besarnya angka aliran sebagai pengaruh dari setiap factor
tersebut sangatlah sulit sehingga menyebabkan sukarnya penentuan angla pengaliran
(C).

Tabel 5 Hubungan Kondisi Permukaan tanah dan Koefisien Pengaliran (c)

10
Nisa Noor Fadhila Soeseno
Drainase

Kondisi Permukaan Tanah Nilai c

Jalan Beton dan jalan aspal 0,70 – 0,95

Jalan kerikil dan jalan tanah 0,40 – 0,70

Kondisi Permukaan Tanah Nilai c


Bahu jalan:
 Tanah berbutir halus 0,40 -0,65
 Tanah berbutir kasar 0,10 – 0,20

 Batuan massif keras 0,70 – 0,85

 Batuan massif lunak 0,60 – 0,75


Daerah perkotaan 0,70 – 0,95
Daerah pinggir kota 0,60 – 0,70
Daerah industri 0,60 – 0,90
Pemukiman padat 0,40 – 0,60
Pemukiman tidak padat 0,40 – 0,60
Taman dan kebun 0,20 – 0,40
Persawahan 0,45 – 0,60
Perbukitan 0,70 – 0,80
Pegunungan 0,75 – 0,90
Sumber : SNI 03.3424.1994

3.4.5 Waktu limpasan (time of overland flow)


Waktu yang diperlukan oleh aliran air pada muka tanah di suatu daerah
pengaliran untuk mengalir dari titik terjauh sampai masuk dalam saluran sedemikian
rupa, sehingga daerah pengaliran tersebut sudah memberikan aliran dan debit
maksimum.

3.4.6 Waktu Pengaliran (time of drain, td)

11
Nisa Noor Fadhila Soeseno
Drainase

Mencari waktu pengaliran dalam saluran dapat menggunakan asumsi Vd lalu


diperiksa kembali bila debit sudah didapat.

3.4.7 Waktu konsentrasi (time of concentration, tc)


Waktu konsentrasi adalah jumlah waktu yang dibutuhkan oleh banjir untuk
dapat berkumpul atau masuk ke dalam saluran serta mengalir pada suatu titik
tinjauan. Waktu konsentrasi (tc) tergantung dari beberapa faktor:
a. Luas dan bentuk daerah
b. Kondisi permukaan tanah dan koefisien pengaliran
c. Kondisi topografi
Lama waktu konsentrasi merupakan penjumlahan dari waktu yang diperlukan
air untuk mengalir melalui permukaan tanha ke saluran yang terdekat (To) dan waktu
untuk mengalir di dalam saluran ke titik pengukuran (Td).

3.5 Hidrolika Saluran


1. Dimensi saluran
Penentuan dimensi saluran dihitung dengan rumus Manning

Tabel 3.5.1 Kekasaran Dinding saluran


Jenis Saluran (n)
Pasangan beton 0.015
Pasangan batu kali 0.o46
Pasangan batu kali diplester 0.025
Saluran tanah 0.035
Saluran alam 0.045

2. Kecepatan Aliran
Besarnya kecepatan aliran dalam saluran tergantung pada :
a. Bahan saluran yang digunakan
b. Kondisi fisik

12
Nisa Noor Fadhila Soeseno
Drainase

c. Sifat hidrolisnya
Penentuan kecepatan aliran di dalam saluran dimaksudkan agar tidak terjadi
sedimentasi pada aliran minimum dan penggerusan pada aliran maksimum. Untuk
saluran yang dilapisi (beton, pasangan batu kali, plester, dll) kecepatan minimum
yang dianjurkan adalah 0,6 – 0,9 m/dtk atau rata-rata 0,75 m/dtk. Sedangkan
kecepatan maksimum yang diijinkan adalah 3 m/dtk.

3. Freeboard
Besarnya freeboard biasanya ditentukan berdasarkan asumsi, hanya untuk
mencegah luapan air akibat gelombang dan fluktuasi permukaan air di dalam saluran.
Besarannya berkisar antara 0.2 – 0.5 meter.

3.6 Bangunan Pelengkap


Got

Kapasitas pengaliran dari got tergantung pada kemiringan dan kekasarannya.


Persamaan Manning dapat dipergunakan untuk menghitung aliran didalam got.

Bangunan Pompa

Dibutuhkan dalam sistem drainase untuk mengangkut air hujan dari tempat
yang rendah ke tempat yang lebih tinggi.

Bangunan Sadap

Aliran dalam got disadap dan diarahkan ke saluran pembuang dibawah tanah
oleh bangunan sadap terjun. Terdapat dua jenis bangunan sadap dengan berbagai pola
komersial yang terdapat untuk tiap- tiap jenis :

 Bangunan sadap berkisi adalah lubang-lubang didasar got yang dilindungi oleh
kisi-kisi.

 Bangunan sadap lubang penahan adalah suatu lubang dipermukaan penahan


yang bertindak serupa dengan bangunan pelimpah alur samping. Bangunan

13
Nisa Noor Fadhila Soeseno
Drainase

sadap lubang penahan hanya cocok jika penahannya mempunyai permukaan


yang cukup tegak.

Lubang Orang

Lubang orang melayani dalam dua tujuan adalah :

 Sistem drainase, yaitu menyediakan jalan masuk kedalam selokan drainase


untuk pembersihan.
 Sebagai kotak pertemuan untuk cabang-cabang saluran drainase.

Street Inlet

Dalam kriteria struktur perencanaa sistem drainase ini diperlukan street inlet.
Street inlet berfungsi untuk menampung dan menyalurkan air hujan yang ada di
sepanjang jalan menuju saluran di tepi jalan.

Street inlet ini dan cekungan penampangnya harus mempunyai ukuran yang
memadai untuk menerima dan menyalurkan limpasan potensial yang dihitung tanpa
menyebabkan luapan. Konstruksinya harus berdaya tahan tinggi sehingga tidak
terkikis dan dapat menerima beban potensial tanpa resiko ambruk.

Ada beberapa street inlet, yaitu :

 Crub opening inlet, merupakan lubang yang vertikal terletak pada sisi trotoar.
Inlet ini digunakan jika kemiringan memanjang jalan, datar dan kemiringan
melintang jalan, terjal.

 Gutter inlet, jika kemiringan melintang jalan, datar dan kemiringan memanjang
terjal.

14
Nisa Noor Fadhila Soeseno
Drainase

 Combination inlet multiple, merupakan kombinasi antara kedua jenis diatas

BAB IV
DASAR-DASAR PERENCANAAN

4.1 Prinsip Drainase yang Diterapkan

15
Nisa Noor Fadhila Soeseno
Drainase

Prinsip pengaliran drainase diperlukan supaya jalur yang dibuat dapat


mengalirkan air hujan tanpa menyebabkan genangan air dengan secepat mungkin,
maka prinsip pengalirannya adalah sebagai berikut :
1. Pengaliran air hujan dari tempat jatuh sampai dengan kebadan air harus secepat
mungkin
2. Jalur pembuangan akhir harus sedekat mungkin
3. Daerah pengaliran sekecil mungkin
4. Kapasitas saluran harus mencukupi untuk menampung dan mengalirkan
limpasan permukaan dari daerah tangkapan
5. Kecepatan air dalam saluran tidak boleh mengakibatkan kerusakan saluran
pengendapan
6. Kemiringan saluran diusahakan mengikuti permukaan tanah, maka bila daerah
yang kemiringannya cukup besar, kemiringan saluran berdasarkan kecepatan
maksimum yang diijinkan

4.2 Persyaratan Sistem Drainase


Persyaratan sistem drainase dalam tugas ini yaitu :
1. Perencanaan drainase harus sedemikian rupa sehingga fungsi fasilitas drainase
sebagai penampung, pembagi dan pembuang air dapat sepenuhnya berdaya
guna
2. Pemilihan dimensi dari fasilitas drainase harus mempertimbangkan faktor
ekonomi dan faktor keamanan
3. Perencanaan drainase harus mempertimbangkan pula segi kemudahan dan nilai
ekonomis terhadap sistem drainase tersebut
4. Sebagai bagian dari sistem drainase yang lebih besar atau sungai-sungai
pengumpul drainase
5. Perencanaan drainase ini tidak termasuk untuk sistem drainase areal tetapi harus
tetapi harus tetap diperhatikan dalam perencanaan untuk tempat air keluar.

16
Nisa Noor Fadhila Soeseno
Drainase

4.3 Data-data yang Diperlukan


Saluran drainase yang direncanakan untuk mengalirkan air hujan harus
memenuhi syarat-syarat perencanaan drainase, maka diperlukan data-data sebagai
berikut :
1. Data Primer
Adalah data yang sangat dibutuhkan dalam perencanaan drainase perkotaan,
yang diperoleh baik dari lapangan maupun dari pustaka, mencakup :
a. Data permasalahan dan data kuantitatif pada setiap lokasi daerah perencanaan,
meliputi : Luas daerah tangkapan, curah hujan, kemampuan daya serap atau
permeabilitas tanah
b. Data keadaan fungsi, sistem, seometri dan dimensi saluran
c. Data pengaliran sungai atau saluran : Topografi, hidrologi, morfologi sungai, sifat
sungai, tata guna lahan
d. Data Prasarana dan fasilitas kota yang telah ada dan yang di rencanakan.
2. Data sekunder
Adalah data tambahan yang dipergunakan dalam perencanaan drainase
perkotaan yang sifatnya menunjang dan atau melengkapi data primer, terdiri atas :
a. Rencana pengembangan kota
b. Geoteknik
c. Foto udara
d. Pembiayaan
e. Kependudukan
f. Institusi atau kelembagaan
g. Sosial ekonomi
h. Peran serta masyarakat
i. Keadaan kesehatan lingkungan pemukiman

4.4 Tahapan Perencanaan Drainase


Tahapan Drainase dibagi menjadi dua yaitu :

17
Nisa Noor Fadhila Soeseno
Drainase

1. Tahap Perencanaan dan Pelaksanaan


- Mengevaluasikan, menganalisis secara sistematis, mengolah data dan informasi
yang telah ditentukan
- Membuat alternatif-alternatif solusi atau pemecahan persoalan dari masalah yang
dihadapi, termasuk didalamnya menentukan skala prioritas dari tahapan
pelaksanaan pekerjaan yang akan dijalani. Skala prioritas biasanya diukur dari
beberapa parameter, yaitu : kualitas genangan yang terjadi,frekuensi genangan
dalam kurun waktu satu tahun. Kerugian finansial dan ekonomi yang ditimbulkan
serta gangguan sosial
- Membuat perhitungan-perhitungan hidrologi, hidrolika dan struktur konstruksi
dan selanjutnya perhitungan-perhitungan tersebuit digunakan untuk membuat
rencana dan gambar lebih detail mengenai letak saluran, kemiringan saluran, jenis
konstruksi dan ukuran profil melintang
2. Tahap Pemeliharaan
- Pemeriksaan atau pengontrolan terhadap kondisi sistem drainase secara berkala
atau jangka waktu tertentu
- Mengadakan perbaikan-perbaikan terhadap bagian sistem yang mengalami
kerusakan

4.5 Faktor-faktor Umum


Faktor-faktor yang terkait dalam perencanaan drainase antara lain :
1. Faktor Sosial Ekonomi
- Pertumbuhan penduduk
- Kebutuhan nyata dan prioritas daerah
- Keseimbangan pembangunan antar kota dan dalam kota
- Ketersediaan dan tata guna tanah
- Pertumbuhan fisik kota dan ekonomi pedesaan

18
Nisa Noor Fadhila Soeseno
Drainase

2. Faktor Medan dan Lingkungan


- Topografi, keberadaan jaringan saluran, drainase, jalan, sawah, perkampungan,
laut, pantai, tata guna tanah, pencemaran lingkungan, estetika, dan sebagainya
yang mempengaruhi dan dipengaruhi sistem drainase perkotaan perlu
dipertimbangkan dan di perhitungkan dalam perencanaan
- Dalam merencanakan sistem drainase perkotaan yang terletak pada daerah
lereng pegunungan agar diperhitungkan terhadap masalah longsor yang
disebabkan oleh kandungan air tanah.
- Dalam merencanakan sistem drainase perkotaan yang terletak pada daerah datar
agar diperhitungkan tersedianya air penggelontor untuk mengatasi kemungkinan
pengendapan dan pemcemaran
- Dalam merencanakan sistem drainase perkotaan yang terletak pada daerah yang
terkena pengaruh pengepangan dari laut, danau atau waduk dan sungai agar
diperhitungkan tehadap pembendungan atau pengempangannya.

4.6 Dasar Kriteria Perencanaan


4.6.1 Pertimbangan Teknik
1. Aspek Hidrologi, meliputi :
a. Penentuan debit rencana agar dihitung melalui lengkung kekerapan durasi
deras hujan
b. Penentuan Debit desain dan tinggi jagaan agar didasarkan pada macam kota,
macam daerah, macam saluran
c. Penetapan karakteristik daerah aliran, berupa luas daerah aliran, koefisien
aliran, dan penetapan tinggi jagaan agar didasarkan pada macam kota dan
daerah
d. Drainase perkotaan yang menggunakan bangunan stasiun pompa, perlu
mempertimbangkan penyediaan waduk atau kolam tandon dan
memperhitungkan volume total aliran serta waktu konsentrasi curah hujan.

19
Nisa Noor Fadhila Soeseno
Drainase

2. Aspek Hidrolik
a. Kecepatan maksimum aliran agar ditentukan tidak lebih besar dari pada
kecepatan maksimum yang diizinkan sehingga tidak terjadi kerusakan
b. Kecepatan minimum aliran agar ditentukan tidak lebih kecil dari pada
kecepatan minimum yang dizinkan sehingga tidak terjadi pengendapan dan
pertumbuhan tanaman air
c. Bentuk penampang saluran agar dipilih tanpa segi-empat, trapesium,
lingkaran, bagian dari lingkaran, bulat telur, bagian dari bulat telur, atau
kombinasi dari bentuk-bentuk tersebut
d. Saluran sebaiknya dibuat dengan bentuk majemuk, terdiri atas saluran kecil
dan saluran besar, guna mengurangi beban pemeliharaan
e. Kelancaran pengaliran air dari jalan kedalam saluran drainase agar
dilewatkan melalui lubang pematus yang berdimensi dan berjarak
penempatan tertentu
f. Dimensi bangunan pelengkap seperti gorong-gorong, pintu air dan lubang
pemeriksaan agar ditentukan berdasarkan kriteria desain sesuai dengan
macam kota, daerah, macam saluran.
3. Aspek Struktur
a. Jenis dan mutu bahan bangunan agar dipilih sesuai dengan persyaratan
desain, tersedia cukup banyak dan mudah diperoleh
b. Kekuatan dan kestabilan bangunan agar diperhitungkan sesuai dengan umur
layanan yang ditentukan.

4.7 Sistem Drainase yang di terapkan


Sistem Drainase yang diterapkan dalam perencanaan kota ini yaitu merupakan
sistem drainase perkotaan. Sistem drainase perkotaan dapa dijelaskan sebagai
berikut :
a. Ditinjau dari segi fisik, sistem drainase perkotaan terdiri atas saluran primer,
sekunder, tersier dst.

20
Nisa Noor Fadhila Soeseno
Drainase

b. Ditinjau dari segi fungsi pelayanan, sistem drainase perkotaan terdiri atas
sistem drainase utama dan lokal.
c. Drainase perkotaan agar direncanakan sebagai sistem drainase terpisah pada
keadaan tertentu dan mendesak, sistem drainase gabungan boleh
direncanakan dengan melalui koordinasi dengan instansi yang berwenang.
d. Saluran drainase perkotaan dapat direncanakan sebagai saluran terbuka atau
saluran tertutup dengan mempertimbangkan terhadap faktor tersedianya tanah
dan keadaan alam setempat, pembiayaan, operasi dan pemeliharaan.

BAB V
PERHITUNGAN

5.1 Perhitungan Curah Hujan


Untuk perencanaan ini akan dipakai metode Gumbel dan metode Distribusi Loq
Person Tipe, kemudian dari hasil perhitungan curah hujan dengan dua cara ini akan
dipilih hasil metode curah hujan yang nilainya paling kecil dari 2, 5 dan 10 tahun.

21
Nisa Noor Fadhila Soeseno
Drainase

Dalam perencanaan ini setelah dihitung dengan kedua metode yang paling
memungkinkan adalah curah hujan dengan metode Distribusi Loq Person Tipe.
5.1.2 Metode Gumbel
Tabulasi perhitungan dapat di lihat pada tabel D.1.a Data curah Hujan metode
Gumbel.
- Persamaan gumbel untuk kala ulang Tr :

Sx = Σ( X i- X )2
n-1

Dimana : X = X rata – rata tahunan


Sx = simpangan baku
n = jumlah data

Xt = X + K x (Sx)
Xt = X + ((Yt-Yn)/Sn) x (Sx))

Dimana : Xt = curah hujan yang terjadi dengan kala ulang T


Yn dan Sn = besaran yang merupakan fungsi dari n
n = jumlah data
Sx = simpangan baku
Yt = reduksi sebagai fungsi dari probabilitas

- Perhitungan curah hujan untuk perencanaan 2, 5 dan 10 tahun :

Sx = Σ( X i- X )2
n-1

22
Nisa Noor Fadhila Soeseno
Drainase

Rumus PUH t
Xt = X + ((Yt-Yn)/Sn) x (Sx))

Dimana : Xt = periode ulang hujan untuk kala ulang T


Yn, Sn = besaran yang merupakan fungsi dari n
Sx = simpangan baku
Yt = reduksi sebagai fungsi dari probabilitas
Tabel 5.1 Variasi Nilai Yt
Periode Ulang ( tahun ) Variasi Yang berkurang

2 0.3668
5 1.5004
10 2.2510

Xt = X + ((Yt-Yn)/Sn) x (Sx))
Metode Log Person
Tabulasi perhitungan dapat dilihat dalam tabel D.1.b Data Curah Hujan Metode
Distribusi Loq Person.
Loq XTR = LoqX + KTR (SloqX)
Loq X = Σ Loq Xi /n
S Loq X = ((Σloq Xi – Loq X)2))
n -1
qLog X = (n(Σloq Xi – Loq X)3))
(n -1) (n -2) (SloqX)3
Dimana : Kr = faktor penyimpangan K untuk T tertentu
X = rata–rata tahunan
XTR = reduksi sebagai fungsi dari probabilitas
n = jumlah data
- Perhitungan curah hujan untuk perencanaan 2, 5 dan 10 tahun

23
Nisa Noor Fadhila Soeseno
Drainase

Loq X = Σ Loq Xi /n

S Loq X = ((Σloq Xi – Loq X)2))=


n-1
q Log X = (n(Σloq Xi – Loq X)3)) =
(n -1)(n -2)(SloqX)3
q Loq X = 0
Loq XTR = Loq X + KTR (S loq X)

5.2 Intensitas Hujan


Intensitas hujan (I) adalah laju rata-rata hujan yang lamanya sama dengan lama
waktu konsentrasi dengan masa hujan tertentu. Lama waktu konsentrasinya untuk
berbagai daerah didalam kota adalah berbeda–beda.
Intensitas hujan akan dicari untuk tiap PUH yaitu 2, 5 dan 10 tahun masing–
masing PUH dengan durasi yang sama (1 menit s.d 59 menit). Kemudian akan dicari
intensitas curah hujan dengan menggunakan cara Talbot, Sherman dan Ishiguro. Dari
ketiga metode ini akhirnya akan diperoleh rumus intensitas hujan. Dengan
memasukkan nilai t (durasi) ke dalam rumus tersebut, maka akan diperoleh intensitas
hujan dengan durasi yang berbeda–beda dan untuk PUH yang berbeda pula.
Tabel 5.2 Konstanta nilai a dan b
t (menit) A b
1 5.85 21.6
5 29.1 116
10 73.8 254
15 138 424
20 228 636
25 351 909
30 524 1272
35 774 1781
40 1159 2544
45 1811 3816

24
Nisa Noor Fadhila Soeseno
Drainase

50 3131 6360
55 7119 13992
59 39083 75048

- Langkah perhitungannya adalah :


R = a x R24
B + R24
I= R x 60
t
Dimana :
R24 = data curah hujan (mm)
R24 diperoleh dari perhitungan curah hujan yang tepilih yaitu
metode distribusi log person.
t = waktu lamanya hujan
I = intensitas hujan (mm/jam)
a, b = konstanta yang diperoleh dari data untuk menghitung
intensitas hujan
contoh perhitungan intensitas hujan t = 1 menit untuk PUH 2,5
dan 10 tahun :
2 tahun, R = (5,85 x 187,93) / (21,6 x 187,93) = 5,25 mm
I = (60 /1) x 5,25 mm = 314,28 mm/jam
5 tahun, R = (5,85 x 199,07) / (21,6 x 199,07) = 5,28 mm
I = (60 / 1) x 5,28 mm = 316,64 mm/jam
10 tahun, R = (5,85 x 205,12) / (21,6 x 205,12) = 5,29 mm
I = (60 / 1) x 5,29 mm = 317,56 mm/jam

5.3 Perhitungan 3 Jenis Persamaan Intensitas Hujan


Dalam perhitungan 3 jenis persamaan intensitas hujan, ada 3 jenis persamaan
yang akan digunakan yaitu Talbot, Sherman dan Ishiguro.

25
Nisa Noor Fadhila Soeseno
Drainase

1. Rumus Talbot
a
I=
t +b

a = (Σ(I x t) x Σ(I2) - Σ (I2 x t) x Σ(I)) / (n x Σ (I2) – Σ(I) x Σ (I))


b = (Σ(I x t) x Σ(I) – Σ(I2 xt) x n) / (n x Σ(I2) –Σ (I) x Σ(I))
I = Intensitas curah hujan (mm/jam)
T = Lamanya waktu curah hujan
N = jumlah waktu hujan dalam perencanaan ini = 13
2. Rumus Sherman
I = a/tn
Loq a = Σ(loq I) x Σ(loq t)2 – Σ(loq t x loq I) x Σ(loq t)
n x Σ(loq t)2 – Σ(loq t) x Σ(loq t) x Σ(loq t)
n= Σ(loq I) x Σ(loq t) – n x Σ(loq t x loq I)
n x Σ(loq t)2 – Σ(loq t) x Σ(loq t)

3. Metode Ishiguro
I = a / (t) + b
a = (Σ(I x I x t) x Σ(I2) –Σ (I2 x t ) x Σ I )/ ( n x Σ (I2) – Σ(I)x Σ (I)

5.4 Perhitungan Deviasi dari ke 3 Jenis Persamaan


Perhitungan deviasi ini dimaksudkan untuk memilih metode yang terbaik pada
setiap PUH. Metode yang terpilih merupakan metode yang mempunyai standar
deviasi yang terkecil. Perhitungan deviasi dari 3 jenis metode dan intensitas hujan
dapat dilihat pada tabel D.1.e dan metode yang terpilih pada tabel D.1.f.

Rumus :
n n
1 1
Δ= ∑ ( Ii−I )= ∑ αi
n i=1 N i=1

26
Nisa Noor Fadhila Soeseno
Drainase

Dimana :
 N (jumlah data ) = 20
 Ii =Perhitungan intensitas hujan dengan rumus Talbot, Sherman, dan Ishiguro.

5.5 Perhitungan Debit Air Saluran


Dalam perencanaan sistem drainase diperlukan analisa hidrologis yang
menyangkut curah hujan. Analisa curah hujan tersebut diperlukan untuk
memperkirakan debit banjir yang akan ditampung oleh masing-masing saluran.
Dalam perhitungan debit puncak diperlukan metode rasional yang berdasarkan
pengalaman bisa dipergunakan dengan ketelitian yang baik.

1) Debit Puncak
Rumus :
Q = (Cr x I x Σ A kumulatif )/360
Dimana :

Q = debit puncak (m3/dtk)

I = intensitas hujan maksimum selama waktu yang sama dengan lama


waktu (mm/jam)

2) A : Luas daerah aliran (Ha)


3) Σ A : Kumulatif luas daerah dalam satu cacthment area ( Ha )

4) C : Konsentrasi pengaliran

Angka Pengaliran C
Angka pengaliran untuk suatu daerah dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu :
 Karakteristik air hujan
 Intensitas hujan dan lama waktu hujan
 Distribusi hujan
 Topografi

27
Nisa Noor Fadhila Soeseno
Drainase

 Keadaan tumbuh-tumbuhan dan perubahan-perubahan karena aktifitas


manusia.
pengaliran (C).

Tabel Hubungan Kondisi Permukaan tanah dan Koefisien Pengaliran (c)


Kondisi Permukaan Tanah Nilai c

Jalan Beton dan jalan aspal 0,70 – 0,95

Jalan kerikil dan jalan tanah 0,40 – 0,70

Kondisi Permukaan Tanah Nilai c


Bahu jalan:
 Tanah berbutir halus 0,40 -0,65
 Tanah berbutir kasar 0,10 – 0,20

 Batuan massif keras 0,70 – 0,85

 Batuan massif lunak 0,60 – 0,75


Daerah perkotaan 0,70 – 0,95
Daerah pinggir kota 0,60 – 0,70
Daerah industri 0,60 – 0,90
Pemukiman padat 0,40 – 0,60
Pemukiman tidak padat 0,40 – 0,60
Taman dan kebun 0,20 – 0,40
Persawahan 0,45 – 0,60
Perbukitan 0,70 – 0,80
Pegunungan 0,75 – 0,90
Sumber : SNI 03.3424.1994

5) Cr ( C rata-rata ), didapat dari Σ A/( c x A )


6) Ho1, merupakan elevasi muka tanah dari awal limpasan atau titik terjauh dari
akhir limpasan
7) Ho2, merupakan elevasi muka tanah akhir limpasan.

28
Nisa Noor Fadhila Soeseno
Drainase

8) Panjang limpasan (Lo)


Dihitung dari sisi terjauh bangunan ke saluran drainase terdekat.
9) Panjang saluran (Ld)
Adalah panjang saluran yang direncanakan untuk melayani suatu
daerah.
10) Kemiringan medan limpasan ( Slope )
Menghitung kemiringan medan limpasan dengan mengukur ketinggian
saluran dan ketinggian titikterjauh suatu daerah kemudian mengukur panjang
lintasan dari titik yang terjauh ke saluran.

Rumus :
So = (Ho2 - Ho1) / Lo

11) Lama Waktu Konsentrasi


Adalah jumlah waktu yang dibutuhkan oleh air hujan untuk mengalir pada
suatu titik tinjauan.
Lama waktu konsentrasi (Tc) terdiri atas waktu yang diperlukan air untuk
mengalir melalui permukaan tanah dari titik yang terjauh sampai masuk ke
saluran terdekat (to) dan waktu untuk mengalir dalam saluran ketempat yang
diukur (td).
Rumus :
to  untuk daerah pengaliran  300 m
to = [(3.26 (1.1 – C) x (Lo)1/2] / So1/3

to  untuk daerah pengaliran 300  L  1000 m


to = [108 n (Lo)1/3] / So1/3

td = Ld / Vd
tc = to + td
to’

29
Nisa Noor Fadhila Soeseno
Drainase

to’ didapat dari : pada saluran awal nilai to yang terbesar dari daearah
yang dialiri oleh salurannya. Sedangkan pada jalur selanjutnya sampai
ke pembuangan to’ dibandingkan dengan to saluran selanjutnya
dengan tc pada saluran sebelumnya.
12) Kecepatan Aliran ( m/detik )
Kecepatan aliran di dalam suatu saluran ditentukan berdasarkan kecepatan
minimum dan kecepatan maksimum yang diperbolehkan sesuai dengan bahan
saluran yang dipergunakan. Kriterianya 0.6 – 3 m/dtk.
13) PUH ( tahun ), digunakan periode 2, 5, 10 tahun. Pada jalan raya sebaiknya
digunakan PUH yang lebih besar.
14) I ( Intensitas ) ( mm/jam )
Adalah besarnya intensitas rata-rata hujan yang diperlukan dari lamanya hujan
dan waktu konsentrasi.

Untuk I dari metode yang terpilih pada perencanaan ini adalah


metode ishiguro, dengan rumus :
I = a/(tc1/2 )+ b

KETERANGAN TABEL D.2

Perhitungan Debit Saluran

Kolom 1&2 : jalur saluran, sesuai dengan peta

Kolom 3 : daerah pengaliran

Kolom 4 : peruntukan

Kolom 5 : luas wilayah dalam Ha

Kolom 6 :sigma A

Kolom 7 :koefisien runoff/angka pengaliran

Kolom 8 : [5] x [7]

30
Nisa Noor Fadhila Soeseno
Drainase

Kolom 9 : sigma C x A

Kolom 10 : sigma C x A kumulatif

Kolom 11 : Cr

Kolom 12 : elevasi muka tanah awal limpasan

Kolom 13 : elevasi muka tanah akhir limpasan

Kolom 14 : panjang limpasan

Kolom 15 : {[12]-[13]}/[14]

Kolom 16 : (108*0.015*([14]^0.33))/([15]^0.33)

Kolom 17 : panjang saluran

Kolom 18 : kecepatan asumsi saluran

Kolom 19 : {[17]/[18]}/60

Kolom 20 : - untuk awal pipa ambil to di kolom 19 yang paling besar

- untuk pipa selanjutnya pilih yang paling besar antara kolom [19]
pada jalur tersebut dengan kolom [21] jalur sebelumnya

Kolom 21 : [19] + [20]

Kolom 22 : PUH yang digunakan

Kolom 23 :a

Kolom 24 :b

Kolom 25 : [24][21] + [24] ( Ishogiro )

Kolom 26 : {[11] x [25] x [6]}/360

5.6 Perencanaan Dimensi Saluran

31
Nisa Noor Fadhila Soeseno
Drainase

Profil saluran yang dipergunakan adalah berbentuk segi empat dengan dua tipe.
Pertama asumsikan besar dari y (ketinggian muka air)’
Kemiringan dasar dan kemiringan dinding sesuai dengan kondisi yang ada.
Perhitungan dimensi saluran diperhitungkan dengan menggunakan rumus Manning.
Rumus ini memperhitungkan kemiringan muka air (slope, kekasaran dinding) dasar
saluran dan jari – jari hidrolis untuk mendapatkan kecepatan aliran.
Perhitungannya dapat dilihat pada tabel D.3 dengan keterangan :
1) Q (m3/dtk ), diambil pada tabel D.2
2) h1 merupakan elevasi awal saluran
3) h2 merupakan elevasi akhir saluran
4) L ( m ) merupakan jarak antar saluran
5) Slope Tanah ( % )
Slope = h1 – h2/L
6) Slope Saluran ( % )
Slope saluran diusahakan agar sama dengan slope tanah tetapi dapat diubah
jika diperlukan untuk memenihu kriteria perencanaan.
7) b ( lebar saluran ) ( m ), besarnya b dapat diasumsikan sesuai dengan
perencanaan yang dibutuhkan.
8) Y ( tinggi muka air )
Nilai Y dapat disumsikan sesuai kebutuhan.

9) Ambang bebas (Freeboard)


Ambang bebas pada saluran adalah jarak vertikal dari permukaan tertinggi
saluran ke permukaan air didalam saluran pada kondisi perencanaan. Tinggi
ambang bebas dapat diambil (0.10 – 0.50) m.
10) H ( tinggi saluran )
Rumus : Y + F
11) R ( jari-jari hidrolis ) ( m )
Rumus : ( b x Y )

32
Nisa Noor Fadhila Soeseno
Drainase

2(b+Y)
12) V max, diambil dari tabel D.2
13) V check, kecepatan aliran (m/dtk)
Rumus Manning :
Q = 1/n x A x R2/3 x S1/2
V = 1/n x R2/3 x S1/2
Dimana :

Q = Debit (m3/dtk)

V = kecepatan aliran (m/dtk)


A = luas penampang basah (m2)
R = jari-jari hidrolik (m)

S = kemiringan dasar saluran


n = koefisien kekasaran dinding
Tabel Kekasaran Dinding saluran
Jenis Saluran (n)
Pasangan beton 0.015
Pasangan batu kali 0.o46
Pasangan batu kali diplester 0.025
Saluran tanah 0.035
Saluran alam 0.045
14) A ( m² )
Rumus : b x Y
15) Qcheck
Rumus : Vcheck x A

KETERANGAN TABEL D.3

Perhitungan Dimensi dan Saluran Drainase

Kolom 1&2 : jalur saluran sesuai dengan peta

Kolom 3 : Q dari D.2

33
Nisa Noor Fadhila Soeseno
Drainase

Kolom 4 : Slope tanah

Kolom 5 : Slope saluran

Kolom 6 : Y, [8]-[7]

Kolom 7 : F, disumsikan 0.1– 0. m5

Kolom 8 : asumsi

Kolom 9 : b , diasumsikan

Kolom 10 : [9][6]/[9] + 2x[6]

Kolom 11 : Vd, diambil dari D.2

Kolom 12 : Vcheck ( manning ) = 1/n x [10]2/3 x [5]1/2

Kolom 13 : panjang saluran

Kolom 14 : A, [9] x [6]

Kolom 15 : [12] x [14]

5.7 Perhitungan Elevasi Permukaan Saluran


Dengan menggambarkan elevasi dasar permukaan saluran dapat terlihat
kemiringan saluran, tinggi air, dan tinggi saluran, juga terlihat apakah aliran mengalir
secara gravitasi atau menggunakan pompa untuk mengalirkannya ke badan air.
Tabulasi dapat dilihat pada tabel D.4
1) Elevasi dasar saluran
 Elevasi dasar saluran awal = Elevasi tanah – H
 Elevasi dasar saluran akhir = Elevasi dasar saluran awal –
(S x L)
2) Elevasi muka air
 Elevasi muka air awal ( hanya jalur pertama) = elevasi
dasar saluran awal + Y

34
Nisa Noor Fadhila Soeseno
Drainase

 Elevasi muka air awal untuk jalur selanjutnya sesuai


dengan nilai tiap saluran dari sebelumnya.
 Elevasi muka air akhir = elevasi dasar saluran akhir + Y
3) Kedalaman galian
 Kedalaman galian awal = Elevasi tanah awal – elevasi
dasar saluran awal
 Kedalaman galian akhir = Elevasi tanah akhir – elevasi dasar
saluran akhir
KETERANGAN TABEL D.4

Perhitungan Kedalaman Saluran

Kolom 1&2: jalur sesuai dengan peta

Kolom 3 : Y dari tabel D.2

Kolom 4 : F dari tabel D.2

Kolom 5 : H dari tabel D.2

Kolom 6 : b dari tabel D.2

Kolom 7 : V dari tabel D.2

Kolom 8 : L dari tabel D.2

Kolom 9 : slope saluran dari tabel D.2

Kolom 10 : elevasi tanah awal

Kolom 11 : elevasi tanah akhir

Kolom 12 : [10]-[5]

Kolom 13 : [12]-{[9]x[8]}

Kolom 14 : [12]+[3]

Kolom 15 : [13] +[3]

35
Nisa Noor Fadhila Soeseno
Drainase

Kolom 16 : [10] – [12]

Kolom 17 : [11] – [13]

Kolom 18 : Keterangan

BAB VI
PENUTUP

6.1 Kesimpulan
Indonesia terletak di daerah tropis dan terletak di garis khatulistiwa, sehingga
memiliki dua musim, yaitu musim hujan dan musim kemarau. Dengan demikian
negara kita ada musim hujan yang cukup lama, sehingga pengetahuan drainase sangat
penting untuk :
 menghindarkan terjadinya banjir
 keberhasilan tanaman pertanian, tanaman pangan, tanaman-tanaman, dan
penghijauan

36
Nisa Noor Fadhila Soeseno
Drainase

 kenikmatan penghuni rumah pada daerah pemukiman


Masalah drainase dapat menjadi masalah yang serius bila tidak ditangani
dengan baik. Selain itu masalah drainase dapat mengakibatkan dampak negatif yang
merugikan, terutama dalam hal ekonomi, keselamatan jiwa dan dalam segi pelestarian
lingkungan dan ekosistem.
Perencanaan sistem drainase pada kota Bumi Trisakti Damai adalah
menggunakan metode terpisah antara sistem penyaluran air buangan dengan sistem
drainasenya. Perencanaan drainase kota Bumi Trisakti Damai ini menggunakan
sistem pengaliran terbuka.
Perencanaan sistem drainase kota Bumi Trisakti Damai telah mengikuti standar
dan ketentuan yang berlaku. Persyaratan dan ketentuan yang diikuti antara lain
berdasarkan Standar Nasional Indonesia (SNI) dan berbagai ketentuan teknis yang
harus dipatuhi dalam perencanaan sistem drainase di manapun.

6.2 Saran
Untuk mendapatkan desain dan perhitungan yang tepat diperlukan ketelitian,
baik dalam memilih jalur, meletakkan manhole, memilih penampang saluran dan
merencanakan debit dan kecepatan. Dengan demikian diharapkan masalah drainase
dapat diatasi dengan baik sehingga tidak menimbulkan gangguan yang berarti.

37
Nisa Noor Fadhila Soeseno
Drainase

DAFTAR PUSTAKA

Al-Layla, M. Amis et al. 1978. Water Supply Engineering. Michigan : Design Ann
Arbor Science.

Departemen Pemukiman dan Prasarana Wliayah. 1998. Petunjuk Teknis


Perencanaan Induk dan Studi Kelayakan Sistem Penyedotan Air Minum Kota.
Jakarta

Luthin, James N. 1970. Drainage Engineering. New Delhi : Wiley Eastern Private
Limited.

38
Nisa Noor Fadhila Soeseno
Drainase

Metcalf and Eddy. 1991. Wasterwater Engineering. McGraw-Hill International


Edition.

Sri Harto Br. 1993. Analisis Hidrologi. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.

39
Nisa Noor Fadhila Soeseno
Drainase

40
Nisa Noor Fadhila Soeseno

Anda mungkin juga menyukai