Anda di halaman 1dari 12

Praktikum ke-4

LAPORAN PRAKTIKUM ANATOMI TUMBUHAN

JARINGAN MERISTEM DAN DIFERENSIASINYA

Disusun oleh:

Nama : DIKRI ZULKARNAEN

NIM : 1167020019

Asisten : ZULFA IFLAHATUNADIYA

JURUSAN BIOLOGI

FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

2018
III. HASIL DAN PEMBAHASAN

Pada praktikum kali ini yang dilakukan adalah mengamati sampel

3.1. Nangka (Artocarpus heterophyllus)

GAMBAR LITERATUR
Daun

(Sumber: Cahyani, 2018)


(Sumber: Dok. Pribadi, 2018)
Perbesaran 40 x 0,65
Pucuk

(Sumber: Bangabandhu, 2015)

(Sumber: Dok. Pribadi, 2018)


Perbesaran 4 x 0,10
Keterangan:

Klasifikasi:
Kingdom : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Urticales
Famili : Moraceae
Genus : Artocarpus
Spesies : Artocarpus heterophyllus
Struktur anatomi batang dari nangka tidak berbeda dari tumbuhan dikotil lainnya. Pada
pengamatan kali ini dilakukan pada helaian daun dan pucuk nangka yang merupakan tempat meristem
apikal berada. Pada helaian daun terlihat adanya stomata serta trikoma walaupun tidak begitu jelas.
Nangka banyak dimanfaatkan oleh masyarakat baik itu buahnya, batang, daun bahkan bijinya.
Pohon Artocarpus heterophyllus memiliki tinggi 10-15 m. Batangnya tegak, berkayu, bulat,
kasar dan berwarna hijau kotor. Daun A. heterophyllus tunggal, berseling, lonjong, memiliki tulang
daun yang menyirip, daging daun tebal, tepi rata, ujung runcing, panjang 5-15 cm, lebar 4-5 cm,
tangkai panjang lebih kurang 2 cm dan berwarna hijau. Bunga nangka merupakan bunga majemuk yang
berbentuk bulir, berada di ketiak daun dan berwarna kuning. Bunga jantan dan betinanya terpisah
dengan tangkai yang memiliki cincin, bunga jantan ada di batang baru di antara daun atau di atas bunga
betina. Buah berwarna kuning ketika masak, oval, dan berbiji coklat muda (Heyne, 1987).
Daun tanaman ini di rekomendasikan oleh pengobatan ayurveda sebagai obat antidiabetes
karena ekstrak daun nangka memberi efek hipoglikemi (Chandrika, 2006). Selain itu daun pohon
nangka juga dapat digunakan sebagai pelancar ASI, borok (obat luar), dan luka (obat luar). Daging
buah nangka muda (tewel) dimanfaatkan sebagai makanan sayuran yang mengandung albuminoid dan
karbohidrat. Sedangkan biji nangka dapat digunakan sebagai obat batuk dan tonik (Heyne. 1987). Biji
nangka dapat diolah menjadi tepung yang digunakan sebagai bahan baku industri makanan (bahan
makan campuran). Khasiat kayu sebagai antispasmodic dan sedative, daging buah sebagai ekspektoran,
daun sebagai laktagog. Getah kulit kayu juga telah digunakan sebagai obat demam, obat cacing dan
sebagai antiinflamasi. Pohon nangka dapat dimanfaatkan sebagai obat tradisional. Kandungan kimia
dalam kayu adalah morin, sianomaklurin (zat samak), flavon, dan tannin. Selain itu, dikulit kayunya
juga terdapat senyawa flavonoid yang baru, yakni morusin, artonin E, sikloartobilosanton, dan artonol
B (Ersam, 2001). Bioaktivitasnya terbukti secara empirik sebagai antikanker, antivirus, antiinflamasi,
diuretil, dan antihipertensi (Ersam, 2001).
3.2. Jagung (Zea mays)
GAMBAR LITERATUR
Daun

(Sumber: Dok. Pribadi, 2018) (Sumber: Devin, 2006)


Perbesaran 40 x 0,65
Akar

(Sumber: Bangabandhu, 2015)


(Sumber: Dok. Pribadi, 2018)
Perbesaran 4 x 0,10
Keterangan:

Klasifikasi:
Divisio : Magnoliophyta
Classis : Liliopsida
Subclassis : Commelinidae
Ordo : Cyperales
Familia : Poaceae
Genus : Zea
Species : Zea mays
Pada daun jagung bermodifikasi menjadi trikoma, berasal dari penonjolan epidermis tabung.
Dan berfungsi: melindungi dan memantulkan radiasi cahaya matahari. Pada bagian epidermis bawah
terdapat sel kipas berdasarkan strukturnya yang berfungsi untuk menggulung daun sehingga
mengurangi penguapan (Suryani, 2008).
Akar primer memulai pertumbuhan tanaman. Kelompok akar sekunder berkembang pada buku-
buku pangkal batang dan tumbuh menyamping. Akar yang tumbuh relatif dangkal ini merupakan akar
adventif dengan percabangan yang amat lebat yang member hara pada tanaman. Akar layang
penyokong memberikan tambahan topangan untuk tumbuh tegak. Akar ini tumbuh rapat pada buku-
buku dasar dan tidak bercabang sebelum masuk ke tanah (Rubatzky dan Yamaguchi, 1998).
Sistem perakaran tanaman jagung terdiri dari akar-akar seminal, koronal, dan akar udara.
Pertumbuhan akar seminal pada umumnya menuju arah bawah, berjumlah 3-5 akar. Akar koronal
tumbuh dari bagian dasar pangkal batang, tumbuh kearah atas dari jaringan batang setelah plumula
muncul. Akar udara untuk memperkokoh batang terhadap kerebahan dan berperan dalam proses
asimilasi (Rukmana, 2003).
3.3. Kidamar (Agathis dammara)
GAMBAR LITERATUR
Daun

(Sumber: Simona dan Markus, 2008)


(Sumber: Dok. Pribadi, 2018)
Perbesaran 40 x 0,65
Batang

(Sumber: Burrows dkk., 2007)

(Sumber: Dok. Pribadi, 2018)


Perbesaran 4 x 0,10
Pucuk

(Sumber: Burrows dkk., 2007)


(Sumber: Dok. Pribadi, 2018)
Perbesaran 4 x 0,10
Keterangan:

Klasifikasi
Kingdom : Plantae
Divisi : Pinophyta
Kelas : Pinopsida
Ordo : Pinales
Famili : Araucariaceae
Genus : Agathis
Spesies : Agathis dammara
Pohon damar (Agathis dammara) berukuran besar dan tingginya bisa mencapai 65 meter.
Batangnya silindris dan lurus dengan diameter mencapai 1,5 meter. Kulit batang berwarna abu-abu
muda hingga coklat kemerahan. Kulit mengelupas dalam keping-keping yang tidak beraturan dan
biasanya bopeng karena resin.
Daun berbentuk jorong (bulat memanjang) dengan panjang 6 – 8 cm dan lebar 2 – 3 cm. Bagian
pangkal daun membaji sedangkan ujungnya runcing. Tulang daun sejajar dan banyak. Bunga jantan
dan betina berada pada tandan yang berbeda, pada pohon yang sama (berumah satu).
Damar merupakan tumbuhan asli Indonesia. Daerah sebarannya meliputi pulau Sulawesi,
kepulauan Maluku, dan kepulauan di Filipina. Namun kini, pohon damar telah dibudidayakan di
perkebunan-perkebunan di pulau Jawa. Tumbuh di hutan hujan tropis dataran rendah hingga ketinggian
1.200 meter di atas permukaan laut.
3.4. Benggala (Panicum maximum)
GAMBAR LITERATUR
Daun

(Sumber: Dok. Pribadi, 2018) (Sumber: Junior dkk., 2017)


Perbesaran 40 x 0,65
Batang

(Sumber: Slewinski, 2012)


(Sumber: Dok. Pribadi, 2018)
Perbesaran 4 x 0,10
Akar

(Sumber: Dok. Pribadi, 2018) (Sumber: Silva dkk., 2016)


Perbesaran 4 x 0,10
Keterangan:

Klasifikasi
Kingdom : Plantae
Divisi : Angiospermae
Kelas : Monocotyledonae
Ordo : Graminales
Famili : Graminaceae
Genus : Panicum
Spesies : Panicum maximum
Berdasarkan hasil praktikum diperoleh bahwa rumput benggala bertipe tumbuh erect, tipe daun
helaian sejajar, tipe bunga open panicle , jumlah node 4 sampai 5. Menurut Suyitno (2004), rumput
benggala berasal dari Afrika tropik dan subtropik. Ciri-cirinya bersifat perennial atau tanaman tahunan,
batang tegak, kuat dan membentuk rumpun, akarnya membentuk serabut dalam dan mempunyai lidah
daun yang berbulu. Menurut Rugayah dkk. (2004), Pannicum maximum tumbuh pada daerah daratan
rendah sampai pegunungan, dapat bertoleransi dengan berbagai jenis tanah, tahan naungan, responsif
terhadap pupuk nitrogen. Menurut Onrizal (2005), Panicum maximum berasal dari Afrika. Panicum
maximum diintroduksikan ke berbagai negara di dunia. Beberapa jenis kultivar Panicum maximum
adalah Panicum maximum cv Natsuyutaka, Panicum maximum cv Purple guinea, Panicum maximum cv
Hamil, Panicum maximum cv Gotton, Panicum maximum cv Natsukaze, Panicum maximum cv
Rivesdale, Panicum maximum cv T 58 dan Panicum maximum cv Petric.
3.5. Lengkuas
GAMBAR LITERATUR
Akar

(Sumber: Kadam dkk., 2012)

(Sumber: Dok. Pribadi, 2018)


Perbesaran 4 x 0,10
Keterangan:

Klasifikasi
Kingdom : Plantae
Divisi : Tracheophyta
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Zingiberales
Famili : Zingiberaceae
Genus : Alpinia
Spesies : Alpinia galanga
Lengkuas atau laos (Alpinia galanga) merupakan jenis tumbuhan umbi-umbian yang bisa hidup
di daerah dataran tinggi maupun dataran rendah. Umumnya masyarakat memanfaatkannya sebagai
campuran bumbu masak dan pengobatan tradisional. Pemanfaatan lengkuas untuk masakan dengan cara
mememarkan rimpang kemudian dicelupkan begitu saja ke dalam campuran masakan, sedangkan untuk
pengobatan tradisional yang banyak digunakan adalah lengkuas merah Alpinia purpurata K Schum.
Akar rimpang besar dan tebal, berdaging, berbentuk silindris, diameter sekitar 2-4 cm, dan
bercabang-cabang. Bagian luar berwarna coklat agak kemerahan atau kuning kehijauan
pucat,mempunyai sisik-sisik berwarna putih atau kemerahan, keras mengkilap, sedangkan bagian
dalamnya berwarna putih. Daging rimpang yang sudah tua berserat kasar. Apabila dikeringkan,
rimpang berubah menjadi agak kehijauan, dan seratnya menjadi keras dan liat.
3.6. Beringin (Ficus Benjamin)
GAMBAR LITERATUR
Akar

(Sumber: Long dan Huang, 1991)

(Sumber: Dok. Pribadi, 2018)


Perbesaran 4 x 0,10
Keterangan:

Klasifikasi
Kingdom : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Urticales
Famili : Moraceae
Genus : Ficus
Spesies : Ficus benjamina
Dari gambar diatas dapat dilihat bahwa pada bagian tengah atau endodermis akar beringin
terbentuk pola bintang yang sangat indah yang merupakan susunan antara xylem dan floem.
Pohon beringing merupakan tanaman yang tidak banyak dimanfaatkan oleh manusia. Padahal,
akar pada tanaman ini mengandung senyawa fenolik bersifat antioksidan (Hutapea, 1994).
Ditemukannya flavonoid dalam akar Ficus benjamina L. pada penelitian baru-baru ini semakin
menguatkan akar gantung tanaman ini dapat dimanfaatkan untuk menghambat peningkatan produksi
Reactive Oxygen Species (ROS) (Imran dkk., 2014). Sehingga bioaktifitas flavonoid pada akar gantung
pohon beringin (Ficus benjamina L.) diyakini potensial sebagai obat (Farihah, 2008).

KESIMPULAN
Dari praktikum yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa karakteristik jaringan meristem
pada akar, batang maupun daun memiliki persamaan dan perbedaan. Persamaan dari jaringan meristem
yaitu merupakan jaringan muda yang senantiasa membelah. Sedangkan perbedaannya adalah
banyaknya jaringan meristem tergantung kepada dimana ia berada dan juga jenis tanamannya.

DAFTAR PUSTAKA
Bangabandhu, S.M.R. 2015. Digital Herbarium of Corp Plants. Diakses di http://dhcrop.bsmrau.net
pada tanggal [05/11/18] pukul [12:26 WIB].
Bangabandhu, S.M.R. 2018. Digital Herbarium of Corp Plants. Diakses di http://dhcrop.bsmrau.net
pada tanggal [05/11/18] pukul [12:26 WIB].
Burrows, G.E., Meagher, P.F. dan Heady, R.D. 2007. An Anatomical Assessment of Branch Abscission
and Branch-base Hydraulic Architecture in the Endangered Wollemia nobilis. Oxford Journals:
Annals of Botany. 99: 609-623.
Cahyani, R. 2018. Laporan Praktikum VI- Anatomi Tumbuhan. Diakses di
https://cahyanirusdiana08.wordpress.com pada tanggal [05/11/18] pukul [12:14 WIB].
Candrika, 2006. Hypoglycaemic Action Of The Flavanoid Fraction of Artocarpus heterophyllus Leaf.
Afr. J. Trad. CAM. 3(2): 42-50.
Devin Nichols. 2006. Anatomy of Zea mays Devin Nichols IB 423 5/1/06. Diakses di
https://slideplayer.com pada tanggal [13/10/2018] pukul [05:44 WIB].
Ersam, T. 2001. Senyawa Kimia Makromolekul beberapa Tumbuhan Artocarpus Hutan Tropika
Sumatera Barat. Disertasi ITB. Bandung.
Farihah. 2008. Uji Toksisitas Ekstrak Daun Ficus Benjamina L. Terhadap Artemia Salina Leach Dan
Profil Kromatografi Lapis Tipis. Fakultas Farmasi Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Surakarta.
Heyne, K. 1987. Tumbuhan Berguna Indonesia Jilid II. Badan Litbang Kehutanan. Jakarta.
Hutapea, J.R. 1994. Inventaris Tanaman Obat Indonesia, Jilid III. Jakarta. Departemen Kesehatan RI
dan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan.
Imran, M., N. Rasool, R. Komal, M. Zubair, M. Riaz, M. Zia-Ul-Haq, A.R. Usman, N. Ayman and
Z.E.J. Hawa 2014. Chemical composition and Biological studies of Ficus benjamina L.
Chemistry Central Journal. 8(12): 1-10.
Junior, R.N.G., Fagundes, O.S., Benevenuti, A.S. dkk. 2017. Tropical forages: morphoanatomy of
plants grown in areas with the death of pasture syndrome. Brazilian Journal Biology. 77(4):
868-875.
Kadam, P.V., Kavita, N.Y., Ramesh, S.D. dkk. 2012. Pharmacognostical Evaluation of Root of Alpinia
Galanga Willd. International Journal of Pharmacy. 2(2): 426-431.
Long, L. dan Huang, K. 1991. The Study on Aerial Root of Ficus microcarpa L.f. (1) The Structure of
Root Cap. Journal of Taiwania. 36(3): 236-249.
Onrizal. 2005. Teknik Pembuatan Herbarium. E-USU Repository. Universitas Sumatra Utara. Sumatra
Utara.
Rubatzky, V.E. dan Yamaguchi, M., 1998. Sayuran Dunia I. ITB Press. Bandung.
Rugayah, R.A., Windadri F.I., dan A. Hidayat. 2004. Pengumpulan Data Taksonomi. Dalam Rugayah,
Widjawa E.A., dan Praptiwi (Penyunting). Pedoman Pengumpulan Data Kenaekaragaman
Flora. Pusat Penelitian Biologi-Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia.
Rukmana, R., 2003. Usaha Tani Jagung. Kanisius. Yogyakarta.
Silva, L.D.F., Talita, O.D.A., Luzimar, C.D.S. dkk. 2016. Arsenic accumulation in Brassicaceae
seedlings and its effects on growth and plant anatomy. Journal of Ecotoxicology and
Environmental Safety. Diakses di https://www.sciencedirect.com pada tanggal [05/11/18] pukul
[13:51 WIB].
Simona, D. dan Markus, R. 2008. Comparative study on epicuticular leaf waxes of Araucaria araucana,
Agathis robusta and Wollemia nobilis (Araucariaceae). Australian Journal of Botany. 56(8):
644-650. Diakses di http://www.publish.csiro.au pada tanggal [05/11/18] pukul [12:51 WIB].
Slewinski, T.L. 2012. Non-Structural Carbohydrate Partitioning in Grass Stem: a target to increase
yield stability, stress tolerance, and biofuel production. Journal of Experimental Botany. 63(13):
4647-4670.
Suryani, Cicik. 2008. Penuntun Praktikum Struktur Pertumbuhan II. Medan: FMIPA UNIMED.
Suyitno, A.L.2004. Penyiapan Specimen Awetan Objek Biologi. Jurusan Biologi FMIPA UNY.
Yogyakarta.
LAMPIRAN

(Sumber: Dok.Pribadi,2018) (Sumber: Dok.Pribadi,2018) (Sumber: Dok.Pribadi,2018)

(Sumber: Dok.Pribadi,2018) (Sumber: Dok.Pribadi,2018) (Sumber: Dok.Pribadi,2018)

(Sumber: Dok.Pribadi,2018) (Sumber: Dok.Pribadi,2018) (Sumber: Dok.Pribadi,2018)