Anda di halaman 1dari 19

MAKALAH BAHASA INDONESIA

BENTUK DAN MAKNA KATA

OLEH
KELOMPOK 16 C
Miftah Habi Farid (1810313032)
Salsabilla Firdaus (1810311036)
Asyifa Delfilaura (1810312088)
Fatimah Azzahra Zetta (1810313034)
Adhima Indriyani (1810312075)
Iqbal Muhammad Helmi (1810313007)
Rajib Alfikri (1810311005)
Bella Alvina Lim (1810312047)
Nanda Fuji Lestari (1810313047)
Tsurayya Pertiwi Femilia (1810312099)

UNIVERSITAS ANDALAS
FAKULTAS KEDOKTERAN
2019
i
KATA PENGANTAR

Alhamdulillah wa syukru Lillah karena dengan rahmat, karunia, serta taufik dan
hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah “Bentuk Dan Makna Kata” pada mata
kuliah Bahasa Indonesia dengan baik. Terima Kasih kepada ibuk Lilimiwirsi, S.S., M.Hum.
selaku dosen mata kuliah Bahasa Indonesia yang telah memberikan tugas kepada kami.
Kemudian, terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu kami dalam pembuatan
makalah ini.

Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan
serta pengetahuan kita mengenai bentuk dan makna kata. Kami beharap makalah yang telah
disusun ini dapat berguna bagi kami sendiri maupun orang yang membacanya. Semoga
makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya.

Demikian yang dapat kami sampaikan, kami mengharapkan kritik dan saran untuk
kami agar lebih baik kedepanya dalam pembuatan makalah.

Padang, 22 Februari 2019

Penulis

ii
DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL ....................................................................................... i

KATA PENGANTAR ..................................................................................... ii

DAFTAR ISI.................................................................................................... iii

BAB I PENDAHULUAN ......................................................................... 1

1.1 Latar Belakang .......................................................................... 1

1.2 Rumusan Permasalahan .......................................................... 1

1.3 Tujuan ...................................................................................... 2

1.3.1 Tujuan Penelitian ......................................................... 2

1.3.2 Manfaat Penelitian ......................................................... 2

BAB II PEMBAHASAN............ .................................................................. 2

2.1 Kajian Teoritis.............................................................................. 2

2.1.1 Pengertian bentuk kata .................................................... 2

2.1.2 Bentuk Kata .................................................................... 2

2.1.2.1 Fonem .............................................................. 2

2.1.2.2 Morfem ............................................................ 3

2.1.2.3 Kata .................................................................. 5

2.1.2.4 Frasa.................................................................... 7

2.1.3 Makna Kata... .................................................................. 8

2.1.2.1 Pengertian Makna Kata .................................... 8

iii
2.1.2.2 Jenis Makna Kata ............................................. 8

2.1.2.3 Pergeseran dan Perubahan Makna ................... 9

2.1.2.4 Macam – macam pergeseran makna ................ 9

2.2 Pembahasan........................................................................13

BAB III PENUTUP........................................................................................... 13

3.1 Kesimpulan........................................................................ 13

3.2 Kritik dan Saran..................................................................13

DAFTAR PUSTAKA........................................................................................... 14

iv
v
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Penguasaan bahasa indonesia secara intensif sangat penting di dalam era modern saat ini.
Penggunaan bahasa yang baik dan benar secara individu maupun kelompok merupakan usaha
kita dalam melestarikan bahasa negara kita. Bahasa indonesia juga merupakan alat
komunikasi resmi bagi seluruh penduduk nusantara.

Tetapi pada masa kini banyak orang yang berbahasa indonesia sehari-hari, namun belum
begitu mengerti tentang bentuk dan maknanya. Hal itu dimungkinkan karena kurangnya
pendidikan dan faktor lingkungan. Jadi pembelajaran dan penerapan berbahasa indonesia
secara baik dan benar sangat penting. Hal itu dilakuakan untuk membangun bangsa dan
negara, serta meningkatkan sistem komunikasi dan informasi dengan tepat.

Sebagai langkah awal sebagai mahasiswa baru perlu adanya pembekalan untuk penguasaan
bahasa indonesia dengan baik dan benar. Oleh karena itu kami rasa sangat penting untuk
membahas judul “Bentuk dan Makna” di dalam bahasa indonesia, dengan harapan supaya
mahasiswa dapat memajukan sistem komunikasi dan informasi bangsa dan negara.

1.2 Batasan Masalah


Mengingat banyaknya perkembangan yang bisa ditemukan dalam permsalahan ini, maka
perlu adanya batasan-batasan masalah yang jelas mengenai apa yang dibuat dan diselesaikan
dalam makalah ini. Oleh sebab itu, makalah ini dibatasi hanya berkaitan dengan bentuk dan
makna kata yang ada dalam kaidah bahasa Indonesia

1.3 Rumusan Masalah


1. Apa pengertian bentuk kata?
2. Apa saja bentuk kata?
3. Apa pengertian makna kata?
4. Apa saja makna kata?

1
1.4 Tujuan Penulisan

Tujuan dari penulisan ini adalah untuk optimalisasi bagi mahasiswa dalam mengetahui secara
intensif mengenai mata kuliah bahasa indonesia dengan target sebagai berikut:

1. Mahasiswa mampu mendefinisikan dan memahami bentuk kata.


2. Mahasiswa mampu menentukan pembagian bentuk kata.
3. Mahasiswa mampu untuk mendefinisikan dan memahami makna kata.
4. Mahasiswa mampu menentukan pembagian makna kata.

1.5 Manfaat Penelitian


Makalah ini berisi penjelasan tentang bentuk dan makna kata yang ada dalam bahasa
Indonesia serta tentang penggunaan kalimat efektif, yang diharapkan bisa membantu para
pembaca dalam memahami bahasa Indonesia lebih mendalam.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 KAJIAN TEORITIS

2.1.1 PENGERTIAN BENTUK KATA


Morfologi atau ilmu bentuk kata adalah cabang linguistik yang mengidentifikasi
satuan-satuan dasar bahasa sebagai satuan gramatikal. Morfologi mempelajari seluk-beluk
bentuk kata serta pengaruh perubahan-perubahan bentuk kata terhadap golongan dan arti
kata. Dapat pula dikatakan bahwa morfologi mempelajari seluk-beluk bentuk kata serta
fungsi perubahan-perubahan bentuk kata itu, baik fungsi gramatikal maupun fungsi semantik.

2.1.2 BENTUK KATA


1. FONEM
Fonem adalah bunyi bahasa yang berbeda atau mirip kedengarannya. Ejaan
merupakan lambang bunyi yang diklasifikasikan dalam konsonan, vokal, dan diftong.
Dalam ilmu bahasa fonem itu ditulis di antara dua garis miring: /.../. /p/ dan /b/ adalah dua
fonem karena kedua bunyi itu membedakan arti.
Contoh:

2
pola — /pola/ : bola — /bola/
parang — /paraŋ/ : barang — /baraŋ/
peras — /peras/ : beras — /beras/

Fonem dalam bahasa dapat mempunyai beberapa macam lafal yang bergantung pada
tempatnya dalam kata atau suku kata. Fonem /p/ dalam bahasa Indonesia, misalnya, dapat
mempunyai dua macam lafal. Bila berada pada awal suku kata, fonem itu dilafalkan secara
lepas. Pada kata /pola/, misalnya, fonem /p/ itu diucapkan secara lepas untuk kemudian
diikuti oleh fonem /o/. Bila berada pada akhir kata, fonem /p/ tidak diucapkan secara lepas;
bibir kita masih tetap rapat tertutup waktu mengucapkan bunyi ini.
Dengan demikian, fonem /p/ dalam bahasa Indonesia mempunyai dua variasi.Variasi
suatu fonem yang tidak membedakan arti dinamakan alofon. Alofon dituliskan di
antara dua kurung siku [...]. Kalau [p] yang lepas kita tandai dengan [p] saja,
sedangkan [p] yang tak lepas kita tandai dengan [p>], maka kita dapat berkata bahwa
dalam bahasa Indonesia fonem /p/ mempunyai dua alofon, yakni [p] dan [p>].Bunyi-
bunyi yang dapat dikatakan mirip secara fonetis adalah sebagai berikut :a) bunyi-
bunyi yng lafalnya mirip dan seartikulasi. Misalnya, bunyi [p] dan [b].b) bunyi-bunyi
yang lafalnya mirip dan daerah artikulasinya berdekatan. Misalnya, bunyi [b] dan
[d].c) bunyi-bunyi yang lafalnya jauh berbeda dan seartikulasi. Misalnya, bunyi [b]
dan [m].d) bunyi-bunyi yang lafalnya mirip dan daerah artikulasinya berjauhan.
Misalnya, bunyi [m] dan [n].

2. MORFEM
Kata dan Morfem adalah dua pengertian yang berbeda, perhatikan contoh berikut :1.
Rumah itu bermandikan cahaya (4 kata)2. Rumah-itu-ber-mandi-kan-cahaya (6 morfem)Jadi
Kata merupakan unsur terkecil yang dapat berdiri sendiri dan berbentuk bebas, dan dapat
terdiri dari 1, 2 atau lebih morfemSedangkan Morfem adalah satuan bentuk terkecil dalam
sebuah bahasa yang masih memiliki arti dan tidak bisa dibagi menjadi satuan yang lebih kecil
lagi.

Pembagian Morfem
1. Berdasarkan posisi, yakni penempatannya terdiri atas.
a. Morfem prefiks (awalan) : di, ber-, me-, ke-, ter-b.

3
b. Morfem infiks (sisipan) : -el, -er, -emc.
c. Morfem Sufiks (Akhiran) : -kan, -an, -Id.
d. Morfem gabungan : ber-an, di-kan, me-kane.
e. Morfem Konfiks : per-an, ke-an2.
2. Berdasarkan distribusi, terdiri atas.
a. Morfem bebas :
morfem yang terdiri dari kata yang bisa berdiri sendiri, dapat diucapkan tersendiri,
dan dapat diletakkan dalam hubungan kalimat.
- 1 suku kata : tak, jin, jam, bus
- 2 suku kata : kapal, buku, pensil, guru, teman
- 3 suku kata : kemeja, celana, jendela
- 4 suku kata : kendaraan, kelelawar, distribusi
- 5 suku kata : partispasi, imajinasi
- 6 suku kata : rekapitulasi
b. Morfem terikat :
morfem yang tidak bisa berdiri sendiri, memerlukan ikatan dengan imbuhan dalam
kata atau dalam kalimat. Ikatan dengan imbuhan dalam kata atau dalam kalimat.
 Keterikatan dengan imbuhan
bayang = berbayang = berbayangan
 Keterikatan dengan kata
mete = jambu mete
sawit = kelapa sawit
gurau = senda gurau
3. Berdasarkan pemakaiannya ;
a. Morfem produktif (morfem terbuka) ; morfem tambahan yang pemakaiannya
lebih luas dan bisa diberi imbuhan lagi.
Contoh :
me + ekor = mengekor
me + tatap = menatap
ter + dengar = terdengar
mem + beri + kan = memberikan
b. Morfem nonproduktif (morfem tertutup) ; morfem yang sangat terbatas
pemakaiannya terhadap kata.

4
contoh :
el + tapak = telapak
em + tali = temali
er + gigi = gerigi
c. Morfem asing ; morfem dari bahasa asingyang dipakai dalam bahasa Indonesia
karena kemampuan adaptasinya dalam perluasan pemakaiannya.
contoh :
Non : nonproduktif, nonteknis, nonformal
Dwi : dwifungsi, dwiwarna
Awalan a : Amoral
Awalan re : reorganisasi
4. Berdasarkan fonem yang membentuk
a. Morfem segmental ; morfem yang terdiri atas fonem-fonem konsonan dan vokal
atau diftong (ai,au, oi).
b. Morfem suprasegmental, morfem yang terlukis dari lagu atau lafal yang
membedakan arti kata.
3. KATA
Pembagian Kata
1. Berdasarkan Bentuknya
a. Kata Dasar ; kata yang belum mendapatkan imbuhan.
b. Kata Jadian ; kata yang sudah mendapatkan imbuhan.
c. Kata ulang ; kata dasar atau jadian yang mengalami perulangan.
d. Kata berklitika ; diawal atau diakhir kata.
e. Kata majemuk ; gabungan dua kata atau lebih yang menyatakan makna khusus atau
mempunyai arti baru
2. Pembagian menurut kebutuhan bahasa Indonesia
a. Kata Benda
 kongkret ; nama diri, nama jenis, nama zat, nama kumpulan
 abstrak ; nama keadaan, nama pekerjaan, nama sifat, nama ukuran,
nama pengertian.
b. Kata Kerja
Bentuknya : dasar, berimbuhan, ulang, majemuk; jalan, jalan-jalan, berjalan, mencampur
aduk.

5
c. Kata Sifat
Bentuknya : dasar,, ulang, terbentuk dari frasa, dari kata serapan; baik, baik-baik, baik
hati, produktif.
d. Kata Keterangan ; menerangkan kata yang bukan kata benda
Pembagiannya kata keterangan : waktu, tempat, modalitas(cara), tekanan, sifat dan
jumlah, dan bilangan.
e. Kata Ganti ; kata yang menggantikan benda atau sesuatu yang dibendakan.
 Kata ganti orang
Orang I tunggal : aku, hamba, saya
Orang II jamak : kita, kami
Orang II tunggal : engkau, kamu, saudara
Orang II jamak : hadirin, kalian
Orang III tunggal : ia, dia, beliau
Orang III jamak : mereka, ia, sekalian
 Kata ganti kepunyaan ; aku, ku, mu, nya-
 Kata ganti penunjuk, misal: buku ini, rumah itu
 Kata ganti penghubung ; kata yang menghubungkan suatu kata benda dengan
sifatnya atau dengan kata yang menerangkannya.
contoh :
buku yang mahal
barang yang banyak diperebutkan
 Kata ganti penanya : menayakan benda atau sesuatu yang menerangkannya. : apa,
mana, siapa, apabila, bagaimana, manakala, berapaf. Kata Depan
f. Kata depan sejati (asli): di, ke, dari- Kata depan tak sejati (tak asli) : akan, demi,
daripada, tentang dsb.
g. Kata Sambung atau kata penghubung : kata yang menghubungkan dua kata
dalam kalimat menjadi satu kalimat yang utuh.
h. Kata Sandang ; digunakan untuk menjadikan kata atau bagian kalimat bersifat kata
benda serta memberi ketentuan kepada kepada kata benda. contoh; si, sang, para, yangi.
i. Kata Bilangan
- K.B. utama : 1,2,3…
- K.B. tingkat : kesatu, kedua, ketiga …
- K.B. tak tentu : semua, beberapa, setiap

6
- K.B. kumpulan: berdua, bertiga
- K.B. bilangan : sebilah pisau, seutas tali.
j. Kata Seru (interjeksi)
Kata seru yang berdiri sendiri : wah!, astagfirullah!
Kata seru yang kedudukannya terpisah : ah, hei
Kata seru yang mengikuti atau menyelinap di antara kalimat : eh, bukan, ampuni kami,
ya Tuhan….
Kata seru yang menyatakan luapan perasaan : aduh, sakit!, aduh, cantiknya!
4. FRASA
Frase atau kelompok kata adalah gabungan dua kata atau lebih yang membentuk
kesatuan dan merupakan unsur-unsur pembentuk kalimat.
Frase terbagi atas :
 Frase bertingkat (endosentrik) ; memiliki pola inti, pola DM atau MD.
Contoh : Penuh wibawa Gembira Sekali
M D (inti) D(inti) M
 Frase setara (eksesentrik) ; tidak memiliki inti frase, unsur-unsurnya merupakan
kelompok kata yang setara
Contoh : tanya jawab

Penggolongan frase berdasarkan ;


a) Frase Nominal ; distribusinya sama dengan kata benda ; rumah mewah
b) Frase Verbal ; distribusinya sama dengan kata kerja ; belum pergic.
c) Frase Sifat; distribusinya sama dengan kata sifat; jujur sekalid.
d) Frase bilangan ; distribusinya sama dengan kata bilangan ; tujuh helaie.
e) Frase Depan ; frase yang diawali kata depan dan diikuti dengan kata benda, kerja,
bilangan dan keterangan ; dari terminalf.
f) Frase keterangan ; distribusinya sama dengan kata keterangan ; minggu depan
Menurut polanya
a) Frase berpola DM
Misalnya ; Mesin tangan
D Mb.
b) Frase berpola MD
Misalnya ; Seluruh negeri

7
M Dc.
c) Frase berpola MDM
Misalnya : Keterangan Bapak Dokter
M D M

2.1.3 MAKNA KATA

1. Pengertian Makna Kata

Makna adalah pengertian yang diberikan kepada suatu bentuk kebahasaan (KBBI).

2. Jenis Makna Kata

1. Makna Denotatif dan Makna Konotatif


a. Makna Denotatif
Makna denotatif adalah makna dalam alam wajar secara eksplisit. Makna wajar ini
adalah makna yang sesuai dengan apa adanya. Denotatif adalah suatu pengertian
yang dikandung sebuah kata secara objektif. Makna denotative sering juga disebut
makna konseptual. Misalnya kata makan, bermakna memasukkan ke dalam mulut,
dikunyah dan ditelan. Makna kata makan seperti itu adalah makna denotatif.
Makna denotatif ialah arti harfiah kebutuhan pemakaian bahasa. Makna denotatif
ialah arti harfiah suatu kata tanpa ada suatu makna yang menyertainya.
Makna denotatif adalah makna yang bersifat umum.
Contoh: Dia adalah wanita cantik.
b. Makna Konotatif
Makna konotatif adalah makna asosiatif, makna yang timbul dari sikap sosial, sikap
pribadi, dan kriteria tambahan yang dikenakan pada sebuah makan konseptual. Kata
makan dalam makna konotatif dapat berarti untung atau pukul.

Makna konotatif tidak tetap, berbeda dari zaman ke zaman. Kata kamar kecil
mengacu kepada kamar yang kecil (denotatif) tetapi kamar kecil berarti juga jamban
(konotatif). Dalam hal ini kita kadang-kadang lupa apakah makna denotatif atau
konotatif.

Makna-makna konotatif sifatnya lebih professional dan operasional daripada makna


denotatif. Dengan kata lain, makna konotatif adalah makna yang dikaitkan dengan
suatu kondisi dan situasi tertentu. Misalnya: dibuat (dirakit, disulap)

8
Makna konotatif adalah makna kata yang mempunyai tautan pikiran, peranan dan
lain-lain yang menimbulkan nilai rasa tertentu. Dengan kata lain, makna konotatif
lebih bersifat pribadi dan khusus.

Contoh : Dia adalah wanita manis.

2. Makna Umum dan Makna Khusus


Kata umum adalah kata yang cakupannya lebih luas. Kata khusus adalah kata yang
memiliki cakupan yang lebih sempit. Misalnya bunga termasuk kata umum,
sedangkan kata khusus dari bunga adalah bunga mawar, melati, anggrek.
3. Makna Leksikal dan Makna Gramatikal
Makna Leksikal adalah makna yang sesuai dengan hasil observasi alat indra atau
makna yang sungguh-sungguh nyata dalam kehidupan.
Contoh: kata nyamuk, makna leksikalnya adalah binatang yang menyebabkan
timbulnya penyakit.
Makna gramatikal adalah untuk menyatakan makna jamak bahasa Indonesia,
menggunakan pengulangan kata, seperti kata: meja yang bermakna “sebuah meja”,
menjadi meja yang bermakna “banyak meja”.
3. Pergeseran dan Perubahan Makna

Pergeseran makna adalah gejala perluasan, penyempitan, pengonitasian (konotasi),


penyinestesian (sinestesia), dan pengasosiasian sebuah makna kata yang masih hidup dalam
satu medan makna. Dalam pergeseran makna, rujukan awal tidak berubah atau diganti, tetapi
rujukan awal mengalami perluasan atau penyempitan rujukan.

Perubahan makna adalah gejala pergantian rujukan dari symbol bunyi yang sama. Ini
berarti dalam konsep perubahan makna terjadi pergantian rujukan yang berbeda dengan
rujukan semula. Rujukan yang lama diganti dengan rujukan yang baru. Misalnya, kata
canggih bahasa Indonesia pernah bermakna “suka mengganggu (rebut, bawel, dsb)” (KUBI
1976, 183), sedangkan dewasa ini kata canggih mendapat makna atau rujukan baru “sangat
rumit dan ruwet dalam bidang teknologis karena keterkaitan antarkomponen atau unsur”.
Makna rujukan awal dan makna baru tidak berada dalam satu medan makna, apalagi makna
awal tidak pernah hidup lagi dalam pemakaian bahasa Indonesia kontemporer.

4. Macam-macam Pergeseran Makna


1. Perluasan Arti

9
Yang dimaksud dengan perluasan arti adalah suatu proses perubahan
makna yang dialami sebuah kata yang tadinya mengandung suatu makna yang
khusus, tetapi kemudian meluas sehingga melingkupi sebuah kelas makna yang
lebih umum. Kata berlayar dulu dipakai dengan pengertian: bergerak di laut
dengan menggunakan layar. Sekarang semua tindakan mengarungi lautan atau
perairan dengan mempergunakan alat apa saja disebut berlayar. Dulu kata bapak
dan saudara hanya dipakai dalam hubungan biologis, sekarang semua orang yang
lebih tua atau lebih tinggi kedudukannya disebut bapak, dan lain-lainnya dengan
saudara. Demikian pula halnya dengan kata putra dan putri; dahulu hanya dipakai
untuk anak-anak raja, sekarang semua anak laki-laki dan wanita disebut putra dan
putri. Laksamana pada mulanya nama orang, saudara Rama; kemudian dipadkai
untuk pangkat yang tertinggi dalm kerajaan Melayu. Dalam pemerintahan
Republik Indonesia mula-mula dipakai untuk jenjang kepangkatan yang tertinggi
pada angkatan laut dan angkatan udara, terakhir hanya untu angkatan laut. Kata
buah pada beberapa bahasa daerah berarti ‘pinang’. Pinang adalah suatu buah
yang sangat penting dalam kehidupan adat-istiadat bangsa Indonesia. Dalam
Bahasa Melayu kemudian semua jenis buah-buahan disebut juga buah.
Sering pula nama-nama orang dipergunakan untuk menyatakan tingkah-
lakunya yang terkenal atau menyebut hasi ciptaan tingkah-lakunya atau hasil
ciptaannya. Kaisar sebagai nama jabatan tadinya adalah nama seorang penguasa
Romawi terkenal Julius Caesar. Nama-nama lain yang sekarang sudah diabadikan
dalam istilah-istila yang umum adalah: mujair, watt, volt, diesel, boikot dan
sebagainya. Di samping itu, nama-nama perusahaan sering pula dipakai untuk
menyebut barang-barang yang dihasilkannya: fridger, selofan, philips, dan lain-
lain

2. Penyempitan Arti
Penyempitan arti sebuah kata adalah sebuah proses yang dialami sebuah
kata di mana makna yang lama mebih luas cakupannya dari makna yang baru.
Kata pala tadinya berarti buah pada umumnya, sekarang hanya dipakai untuk
menyebutkan jenis buah tertentu. Kata sarjana dulu dipakai untuk menyebutkan
semua orang cendikiawan. Sekarang dipakai untuk gelar universiter. Pendeta dulu
berarti orang berilmu. Sekarang dipakai untuk menyebut guru agama Kristen atau
domine. Kata bau tadinya mengandung pengertian yang lebih luas untuk

10
menyebut segala macam gas yang dapat diserap oleh indra penciuman. Sekarang
kata bau selalu diartikan busuk (bau busuk).

3. Ameliorasi
Ameliorasi adalah suatu proses perubahan makna, dimana arti yang baru
dirasakan lebih tinggi atau lebih baik nilainya dari arti yang lama. Kata wanita
dirasakan nilainya lebih tinggi dari kata perempuan; kata istri atau nyonya
dirasakan lebih tinggi dari kata bini. Kata pria mengalami pula perkembangan
yang sama bila dibandingkan dengan kata laki-laki.

4. Peyorasi
Peyorasi adalah suatu proses perubahan makna sebagai kebalikan dari
ameliorasi. Dalam peyorasi arti yang baru dirasakan lebih rendah nilainya dari arti
yang lama. Kata bini dianggap tinggi pada jaman lampau, sekarang dirasakan
sebagai kata yang kasar; kata perempuan dulu tidak mengandung nilai yang
kurang baik, tetapi sekarang nialinya dirasakan sudah merosot; oleh kebanyakan
orang nilainya dianggap kurang baik dibandingkan kata wanita. Kata kaki tangan
dulu dipakai (sekarang masih di pakai Malaysia) dalam arti yang baik yaitu
pembantu, sekarang dipakai dengan arti yang kurang baik.
Peyorasi bertalian erat dengan sopan santun yang dituntut dalam
kehidupan kemasyarakatn. Ada kata yang boleh diucapkan secara terus terang,
ada yang harus disembunyikan. Kata yang mulanya dipakai untuk
menyembinyikan kata yang dianggap kurang sopan itu suatu waktu dapat
dianggap kurang sopan, sehingga harus diganti dengan kata lain. Kata bunting
dianggap kurang sopan, lalu diganti dengan hamil atau mengandung, kemudian
diganti dengan berbadan. Sekarang kita berbicara mengenai WC, pergi ke WC,
sebelum mengenal kata Inggris itu kita mempergunakan kata ke belakang, dan
bagaimana sebelumnya?

5. Metafora
Perubahan makna yang dinamakan peyorasi, ameliorasi, menyempit dan
meluas dilihat dari nilai rasa dan luas lingkup makna dulu dan sekarang.
Disamping itu perubahan makna dapat dilihat dari sudut persepsi kemiripan
fungsional antara dua obyek. Metafora adalah perubahan makna karena

11
persamaan sifat antara dua objek. Ia merupakan pengalihan semantic berdasarkan
kemiripan persepsi makna. Kata matahari, putri malam (untuk bulan), pulau
(empu laut), semuanya dibentuk berdasarkan metafora. Salah satu sub-tipe dari
metafora adalah sinestesia yaitu perubahan makna berdasarkan pergeseran istilah
antara dua indra, misalnya dari indra peraba ke indra penciuman. Kita mengatakan
penciuman yang tajam, walaupun kata tajam sebenarnya menyangkut indra
peraba; suaranya terang kedengaran dari sini walaupun kata terang sebenarnya
menyangkut masalah penglihatan bukan pendengaran.
Ada juga metafora yang masih jelas sebagai gaya bahasa yang tidak masuk
dalam perubahan makna yang sudah membeku. Bila kita mendengar orang
mengatakan, “Saya tidak ingin mendengar serigala berbicara dan berlagak
sebagai domba-domba dalam ruangan sidang ini”, itu adalah metaphor yang
menyangkut gaya bahasa.

6. Metonimi
Metonimi sebagai suatu proses perubahan makna terjadi karena hubungan
yang erat antara kata-kata yang terlibat dalam suatu lingkungan makna yang sama,
dan dapat diklasifikasi menurut tempat atau waktu, menurut hubungan isi dan
kulit, hubungan antara sebab dan akibat. Kata kota tadinya berarti susunan batu
yang dibuat mengelilingi sebuah tempat pemukiman sebagai pertahanan terhadap
serangan dari luar. Sekarang tempat pemukiman itu disebut kota, walaupun sudah
tidak ada susunan batunya lagi. Gereja berarti tempat ibadah umat Kristen, tetapi
juga dipakai untuk mengacu persekutuan umat Kristen. Bila kita berbicara
mengenai Istana Merdeka maka yang dimaksud adalah Presiden Republik
Indonesia. Penemuan-penemuan yang sering disebut menurut penemunya
termasuk gejala ini: ohm, ampere, watt; demikian juga hasil produksi disebut
menurut tempatnya: eau de cologne, bordeaux, champagne, dan sebagainya.
Hubungan yang lebih sempit lagi disebut sinekdoke, yaitu bagian untuk
keseluruhan, atau keseluruhan untuk bagian: kepala, jiwa untuk manusia.
Suatu gejala yang mirip metonimi adalah ellipsis. Dua kata atau lebih yang sering
muncul bersama-sama, dapat memberi pengaruh timbal balik yang semantic.
Sehingga bila sala satunya dihilangkan, maka seluruh makna tetap dipertahankan.
Misalnya: (surat kabar) harian, (oratio) prosa, (mode) ala Prancis, sebuah
(lukisan) Picasso, sebotol (anggur) Burgundi, dan lain-lain.

12
2.2 PEMBAHASAN

Satuan bentuk terkecil dalam bahasa adalah fonem dan yang terbesar adalah
karangan. Di antara fonem dan karangan terdapat deretan bentuk morfem, kata, frasa,
kalimat, dan alinea. Ketujuh satuan bentuk bahasa itu baru diakui eksistensinya jika
mempunyai makna atau dapat mempengaruhi makna. Maksudnya adalah kehadirannya dapat
mengubah makna atau menciptakan makna baru. Hubungan antara bentuk dan makna dapat
diibaratkan sebagai dua sisi mata uang: satu sama lainnya saling melengkapi. Karena bentuk
yang tidak bermakna atau tidak dapat mempengaruhi makna tidak terdapat dalam tata satuan
bentuk bahasa

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Fonem adalah bunyi dari lambang suatu huruf yang dapat membedakan arti,
misalnya perbedaan huruf /e/ pada kata sate, pedas, dan enak. Morfem adalah satuan
bentuk terkecil yang dapat membedakan makna; dan atau mempunyai makna, misalnya
di-per-main-kan. Kata adalah satuan bentuk terkecil (dari kalimat) yang dapat berdiri
sendiri dan mempunyai makna, misalnya sepeda. Frasa adalah gabungan dua kata atau
lebih yang bersifat non predikatif dan bermakna leksikal, misalnaya gunung tinggi.
Pembagian jenis kata ada lima, yaitu (1) verba/kata kerja; (2) adjektiva/kata sifat;
(3) adverbia/kata keterangan; (4) rumpun kata benda, meliputi nomina/kata benda dan
nama, pronomina/kata ganti, numeralia/kata bilangan; (5) rumpun kata tugas, meliputi
preposisi/kata depan, konjungtor/kata sambung, interjeksi/kata seru, artikel/kata sandang,
partikel.
Makna adalah hubungan antara bentuk bahasa dengan objek atau sesuatu (hal)
yang diacunya. Pembagian makna ada dua macam, yaitu leksikal/denotasi (makna
sebenarnya) dan gramatikal/konotasi (makna tidak sebenarnya). Perubahan makna ada
enam bentuk, yaitu Meluas, Menyempit, Amelioratif, Penyoratif, Sinestesia, dan
Asosiasi.

3.2 Kritik dan Saran


Demikian penjelasan mengenai “Bentuk dan Makna” dalam Mata Kuliah Bahasa
Indonesia, semoga bisa bermanfaat bagi segenap pembaca. Kami mohon maaf apabila

13
ada kesalahan baik berupa penulisan maupun pembahasan di atas karena keterbatasan
pengetahuan. Kiranya kritik dan saran yang membangun sangat kami perlukan untuk
perbaikan penulisan makalah ini kedepan. Sekian, dan Wallahu ‘Alam bish Showab.

DAFTAR PUSTAKA

Keraf, Gorys. 2007. Diksi dan Gaya Bahasa, Komposisi Lanjutan I. Jakarta: Gramedia Pustaka
Utama.

Hudaa, Syihaabul. 2018. Estetika Berbahasa: Mengapresiasi Bahasa Indonesia. Jawa Barat: Jejak.

Kushartanti, Untung Yuwono dan Multamia RMT Lauder (Penyunting). 2007. Pesona Bahasa:
Langkah Awal Memahami Linguistik. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

14