Anda di halaman 1dari 16

A.

DEFINISI
Craniotomy adalah Operasi untuk membuka tengkorak (tempurung
kepala) dengan maksud untuk mengetahui dan memperbaiki kerusakan otak
(Brown, 2009). Craniotomy adalah perbaikan pembedahan, reseksi atau
pengangkatan pertumbuhan atau abnormalitas di dalam kranium, terdiri atas
pengangkatan dan penggantian tulang tengkorak untuk memberikan
pencapaian pada struktur intracranial (Susan M, Tucker, 2008).
Menurut Hamilton M (2007), Craniotomy adalah operasi pengangkatan
sebagian tengkorak. Berdasarkan pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa
pengertian dari Craniotomy adalah operasi membuka tengkorak (tempurung
kepala) untuk mengetahui dan memperbaiki kerusakan yang diakibatkan oleh
adanya luka yang ada di otak.

B. TUJUAN
Craniotomi adalah jenis operasi otak. Ini adalah operasi yang paling
umum dilakukan untuk otak pengangkatan tumor. Operasi ini juga dilakukan
untuk menghilangkan bekuan darah (hematoma), untuk mengendalikan
perdarahan dari pembuluh, darah lemah bocor (aneurisma serebral), untuk
memperbaiki malformasi arteriovenosa (koneksi abnormal dari pembuluh
darah), untuk menguras abses otak, untuk mengurangi tekanan di dalam
tengkorak, untuk melakukan biopsi, atau untuk memeriksa otak (Brown, 2009).

C. KLASIFIKASI KRANIOTOMI
Klasifikasi kranotomi adalah sebagai berikut (Brunner & Suddarth, 2005) :
1. Epidural Hematoma (EDH) adalah suatu perdarahan yang terjadi di antara
tulang dan lapisan duramater
2. Subdural hematoma (SDH) adalah suatu perdarahan yang terdapat pada
rongga diantara lapisan duramater dengan araknoide.

D. INDIKASI KRANIOTOMI
Indikasi tindakan kraniotomi atau pembedahan intrakranial adalah sebagai
berikut (Brown, 2009) :
1. Pengangkatan jaringan abnormal baik tumor maupun kanker.
2. Mengurangi tekanan intrakranial.
3. Mengevakuasi bekuan darah.
4. Mengontrol bekuan darah.
5. Pembenahan organ-organ intrakranial.
6. Tumor otak,
7. Perdarahan (hemorrage),
8. Kelemahan dalam pembuluh darah (cerebral aneurysms)
9. Peradangan dalam otak
10. Trauma pada tengkorak

E. KOMPLIKASI PASCA BEDAH KRANIOTOMI


Beberapa komplikasi yang dapat terjadi pada pasien pascabedah intrakranial
atau kraniotomi adalah sebagai berikut (Brunner & Suddarth,2006) :
1. Peningkatan tekanan intrakranial
2. Perdarahan dan syok hipovolemik
3. Ketidakseimbangan cairan dan elekrolit
4. Infeksi
5. Kejang

F. PENATALAKSANAAN/JENIS-JENIS TINDAKAN
1. Pra-Operasi
Pada penatalaksaan bedah intrakranial praoperasi pasien diterapi
dengan medikasi antikonvulsan (fenitoin) untuk mengurangi resiko kejang
pascaoperasi. Sebelum pembedahan, steroid (deksametason) dapat
diberikan untuk mengurangai edema serebral. Cairan dapat dibatasi.
Agens hiperosmotik (manitol) dan diuretik (furosemid) dapat diberikan
secara intravena segera sebelum dan kadang selama pembedahan bila
pasien cenderung menahan air, yang terjadi pada individu yang mengalami
disfungsi intrakranial. Kateter urinarius menetap di pasang sebelum pasien
dibawa ke ruang operasi untuk mengalirkan kandung kemih selama
pemberian diuretik dan untuk memungkinkan haluaran urinarius dipantau.
Pasien dapat diberikan antibiotik bila serebral sempat terkontaminasi atau
deazepam pada praoperasi untuk menghilangkan ansietas. Kulit kepala di
cukur segera sebelum pembedahan (biasanya di ruang operasi) sehingga
adanya abrasi superfisial tidak semua mengalami infeksi (Sjamsuhidajat,
R. Wim de Jong. 2012).
2. Intra-Operasi
Pada proses operasi, craniotomy akan dimulai dengan menyayat lapisan
kulit kepala yang kemudian dijepit dan ditarik untuk memberikan lapang
pandang. Kemudian tulang tengkorak akan dibor. Setelah bagian tersebut
selesai, tulang tengkorak akan dipotong dengan menggunakan gergaji
khusus. Langkah selanjutnya, tulang diangkat dan dokter mulai mengakses
bagian otak yang perlu ditangani.Setelah pembukaan tulang tengkorak
telah selesai, bagian otak yang mengalami kerusakan atau masalah akan
diangkat. Jika pengangkatan sudah selesai dilakukan, bagian tulang dan
kulit kepala akan disambungkan kembali dengan menggunakan jahitan,
kawat, atau staples bedah. Namun jika Anda memiliki tumor pada tulang
tengkorak atau tekanan rongga kepala tinggi, maka penutupan tulang
tersebut mungkin tidak langsung dilakukan (Sjamsuhidajat, R. Wim & De
Jong, 2012).
3. Pasca-Operasi
Jalur arteri dan jalur tekanan vena sentral (CVP) dapat dipasang
untuk memantau tekanan darah dan mengukur CVP. Pasien mungkin atau
tidak diintubasi dan mendapat terapi oksigen tambahan (Sjamsuhidajat, R.
Wim & De Jong, 2012).
a. Mengurangi Edema Serebral
Terapi medikasi untuk mengurangi edema serebral meliputi
pemberian manitol, yang meningkatkan osmolalitas serum dan menarik
air bebas dari area otak (dengan sawar darah-otak utuh). Cairan ini
kemudian dieksresikan malalui diuresis osmotik. Deksametason dapat
diberikan melalui intravena setiap 6 jam selama 24 sampai 72 jam,
selanjutnya dosisnya dikurangi secara bertahap (Sjamsuhidajat, R. Wim
& De Jong, 2012).
b. Meredakan Nyeri dan Mencegah Kejang
Asetaminofen biasanya diberikan selama suhu di atas 37,50C dan
untuk nyeri. Sering kali pasien akan mengalami sakit kepala setelah
kraniotomi, biasanya sebagai akibat syaraf kulit kepala diregangkan dan
diiritasi selama pembedahan. Kodein, diberikan lewat parenteral,
biasanya cukup untuk menghilangkan sakit kepala. Medikasi
antikonvulsan (fenitoin, deazepam) diresepkan untuk pasien yang telah
menjalani kraniotomi supratentorial, karena resiko tinggi epilepsi setelah
prosedur bedah neuro supratentorial. Kadar serum dipantau untuk
mempertahankan medikasi dalam rentang terapeutik (Sjamsuhidajat, R.
Wim & De Jong, 2012).
c. Memantau Tekanan Intrakranial
Kateter ventrikel, atau beberapa tipe drainase, sering dipasang
pada pasien yang menjalani pembedahan untuk tumor fossa posterior.
Kateter disambungkan ke sistem drainase eksternal. Kepatenan kateter
diperhatikan melalui pulsasi cairan dalam selang. TIK dapat di kaji
dengan menyusun sistem dengan sambungan stopkok ke selang
bertekanan dan tranduser. TIK dalam dipantau dengan memutar
stopkok. Perawatan diperlukan untuk menjamin bahwa sistem tersebut
kencang pada semua sambungan dan bahwa stopkok ada pada posisi
yang tepat untuk menghindari drainase cairan serebrospinal, yang
dapat mengakibatkan kolaps ventrikel bila cairan terlalu banyak
dikeluarkan. Kateter diangkat ketika tekanan ventrikel normal dan stabil.
Ahli bedah neuro diberi tahu kapanpun kateter tanpak tersumbat. Pirau
ventrikel kadang dilakukan sebelum prosedur bedah tertentu untuk
mengontrol hipertensi intrakranial, terutama pada pasien tumor fossa
posterior (Sjamsuhidajat, R. Wim & De Jong, 2012).

G. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Prosedur diagnostik praoperasi dapat meliputi (Sjamsuhidajat, R. Wim &
De Jong, 2012) :
1. Tomografi komputer (pemindaian CT)
Untuk menunjukkan lesi dan memperlihatkan derajat edema otak sekitarnya,
ukuran ventrikel, dan perubahan posisinya/pergeseran jaringan otak,
hemoragik.
Catatan : Pemeriksaan berulang mungkin diperlukan karena pada
iskemia/infark mungkin tidak terdeteksi dalam 24-72 jam pasca trauma.
2. Pencitraan resonans magnetik (MRI)
Sama dengan skan CT, dengan tambahan keuntungan pemeriksaan lesi di
potongan lain.
3. Sinar-X
Mendeteksi adanya perubahan struktur tulang (fraktur), pergeseran struktur
dari garis tengah (karena perdarahan,edema), adanya fragmen tulang
4. Brain Auditory Evoked Respon (BAER) : menentukan fungsi korteks dan
batang otak
5. Fungsi lumbal, CSS : dapat menduga kemungkinan adanya perdarahan
subarakhnoid
6. Gas Darah Artery (GDA) : mengetahui adanya masalah ventilasi atau
oksigenasi yang akan dapat meningkatkan TIK.
H. PATHWAY KEPERAWATAN (YANG BERHUBUNGAN DENGAN KASUS TINDAKAN)

Craniotomi

Intra operasi
Pre operasi Post operasi

Tumor otak Pembiusan Pembedahan


hematoma Pengaruh
Luka insisi
Kesadaran dalam Insisi pembedahan anastesi
Peningkatan TIK pengaruh obat bius
Peningkatan Agitasi
Iskemia jaringan Terputusnya syaraf-syaraf
Peningkatan otak terjadi kelemahan pembuluh darah nyeri
syaraf-syaraf nyeri organ tubuh Resiko
Perdarahan Jatuh
Suplai O2 Gangguan
Sakit kepala menurun Terjadi kelemahan Rasa Nyaman
otot pernafasan
Syok Hipovolemik
Gangguan
Nyeri Akut
transport O2 Reflek batuk & Lidah Jatuh
Kurang menelan (-) Kebelakang Penurunan kadar Hb
pengetahuan Penurunan
perfusi jaringan Akumulasi sekret
Defisit Suplai O2 kejaringan Gangguan Perfusi
meningkat menurun Sianosis
Pengetahuan Jaringan Perifer
Ketidakefektifan
Perfusi Jaringan Ketidakefektifan
Ansietas
Serebral Bersihan Jalan Nafas (Sumber, Nurarif & Kusuma, 2015)
I. GAMBAR-GAMBAR

2. Hematoma Epidural 1. Hematoma Subdural 3. Kontusi Serebral


Hematoma Intraserebral

Pembedahan Craniotomy
J. DIAGNOSA KEPERAWATAN, INTERVENSI DAN RASIONAL
1. PRE OPERASI
DIAGNOSA TUJUAN DAN KRITERIA HASIL
NO INTERVENSI (NIC)
KEPERAWATAN (NOC)
1 Nyeri akut b.d Agen injuri Pain control Pain management
(biologi, kimia, fisik, Setelah dilakukan tindakan 1. Lakukan pengkajian nyeri
psikologis), kerusakan keperawatan selama ………….. 2. Observasi reaksi non verbal dari
jaringan pasien terbebas dari nyeri dibuktikan ketidaknyamanan
dengan kriteria hasil : 3. Kurangi faktor presipitasi nyeri
1. Mampu mengontrol nyeri 4. Ajarkan teknik relaksasi dan distraksi
2. Melaporkan bahwa nyeri 5. Kolaborasi dalam pemberian terapi
berkurang dengan menggunakan
manajemen nyeri
3. Mampu mengenali nyeri (skala,
intensitas, frekuensi dan tanda
nyeri)
4. Menyatakan rasa nyaman setelah
nyeri berkurang
2 Ansietas b.d Faktor keturunan, Anxiety self-control Anxiety Reduction (penurunan
Krisis situasional, Stress, Setelah dilakukan tindakan kecemasan)
perubahan status kesehatan, keperawatan selama …………..
1. Gunakan pendekatan yang
ancaman kematian, pasien tidak mengalami ansietas
menenangkan
perubahan konsep diri, kurang dibuktikan dengan kriteria hasil :
2. Jelaskan semua prosedur dan apa yang
pengetahuan dan hospitalisasi 1. Klien mampu mengidentifikasi
dirasakan selama prosedur
dan mengungkapkan gejala
3. Pahami prespektif pasien terhadap
cemas.
situasi stres
2. Mengidentifikasi,mengungkapkan
4. Temani pasien untuk memberikan
dan menunjukkan tehnik untuk
keamanan dan mengurangi takut
mengontol cemas.
5. Dengarkan dengan penuh perhatian
3. Vital sign dalam batas normal.
6. Identifikasi tingkat kecemasan
DIAGNOSA TUJUAN DAN KRITERIA HASIL
NO INTERVENSI (NIC)
KEPERAWATAN (NOC)
4. Postur tubuh, ekspresi wajah, 7. Bantu pasien mengenal situasi yang
bahasa tubuh dan tingkat menimbulkan kecemasan
aktivfitas menunjukkan 8. Dorong pasien untuk mengungkapkan
berkurangnya kecemasan. perasaan, ketakutan, persepsi
9. Instruksikan pasien menggunakan
teknik relaksasi
10. Berikan obat untuk mengurangi
kecemasan
3 Ketidakefektifan Perfusi Tissue prefusion : cerebral Peripheral Sensation
Jaringan Serebral b.d Setelah dilakukan tindakan 1. Monitor TTV
gangguan afinitas Hb oksigen, keperawatan selama ………….. 2. Monitor AGD, ukuran pupil, ketajaman,
penurunan konsentrasi Hb, pasien menunjukkan keefektifan kesimetrisan dan reaksi
Hipervolemia, Hipoventilasi, jalan nafas dibuktikan dengan kriteria 3. Monitor adanya diplopia, pandangan
gangguan transport O2, hasil : kabur, nyeri kepala
gangguan aliran arteri dan 1. Tekanan sistol dan diastol dalam 4. Monitor level kebingungan dan orientasi
vena. rentang yang diharapkan 5. Monitor tonus otot pergerakan
2. Tidak ada ortostatikhipertensi 6. Monitor tekanan intrakrnial dan respon
3. Komunikasi jelas neurologis
4. Menunjukkan konsentrasi dan 7. Catat perubahan pasien dalam
orentasi merespon stimulus
5. Pupil seimbang dan reaktif 8. Pertahankan parameter hemodinamik
6. Bebas dari aktivitas kejang 9. Tinggikan kepala 0 - 45 derajat pada
7. Tidak mengalami nyeri kepala kondisi pasien dan order medis.
8. MAP dalam batas normal 10. Memonitor MAP

3 Defisit Pengetahuan b.d Knowledge : Health Hehavior Teaching : Disease Proses


1. Keterbatasan kognitif Setelah dilakukan tindakan 1. Berikan penilaian tentang tingkat
2. Salah interpretasi keperawatan selama ................... pengetahuan pasien tentang proses
informasi penyakit yang spesifik
DIAGNOSA TUJUAN DAN KRITERIA HASIL
NO INTERVENSI (NIC)
KEPERAWATAN (NOC)
3. Kurang pajanan pasien menunjukkan pengetahuan 2. Jelaskan patofisiologidari penyakit
4. Kurang minat dalam yang lebih dengan Kriteria Hasil : dan bagaimana hal ini berhubungan
belajar 1. Pasien dan keluarga menyatakan dengan anatomi dan fisiologi, dengan
5. Kurang dapat mengingat pemahaman tentang penyakit, cara yang tepat.
6. Tidak familier dengan kondisi, prognosis, dan program 3. Gambarkan tanda dan gejala yang
informasi pengobatan biasa muncul pada penyakit, dengan
2. Pasien dan keluarga mampu cara yang tepat
melaksakan prosedur yang 4. Identifikasi kemungkinan penyebab,
dijelaskan secara benar dengan cara yang tepat
3. Pasien dan keluarga mampu 5. Sediakan informasi pada pasien
menjelaskan kembali apa yang tentang kondisi, dengan cara yang
dijelaskan perawat/tim kesehatan tepat
lainnya 6. Diskusikan perubahan gaya hidup
yang mungkin diperlukan untuk
mencegah komplikasi dimasa yang
akan datang dan atau proses
pengontrolan penyakit

2. INTRA OPERASI
NO DIAGNOSA TUJUAN DAN KRITERIA HASIL INTERVENSI (NIC)
KEPERAWATAN (NOC)
1 Ketidakefektifan Bersihan Respiratory status : Airway Airway Managemen
Jalan Nafas b.d patency 1. Buka jalan nafas, guanakan teknik chin
1. Infeksi, disfungsi Setelah dilakukan tindakan lift atau jaw thrust bila perlu
neuromuskular, keperawatan selama ………….. 2. Posisikan pasien untuk memaksimalkan
hiperplasia dinding pasien menunjukkan keefektifan ventilasi
NO DIAGNOSA TUJUAN DAN KRITERIA HASIL INTERVENSI (NIC)
KEPERAWATAN (NOC)
bronkus, alergi jalan jalan nafas dibuktikan dengan kriteria 3. Identifikasi pasien perlunya
nafas, asma, trauma hasil : pemasangan alat jalan nafas buatan
2. Obstruksi jalan nafas : 1. Mendemonstrasikan batuk efektif 4. Pasang mayo bila perlu
spasme jalan nafas, dan suara nafas yang bersih, tidak 5. Lakukan fisioterapi dada jika perlu
sekresi tertahan, ada sianosis dan dyspneu 6. Keluarkan sekret dengan batuk atau
banyaknya mukus, (mampu mengeluarkan sputum, suction
adanya jalan nafas bernafas dengan mudah, tidak 7. Auskultasi suara nafas, catat adanya
buatan, sekresi bronkus, ada pursed lips) suara tambahan
adanya eksudat di 2. Menunjukkan jalan nafas yang 8. Lakukan suction pada mayo
alveolus, adanya benda paten (klien tidak merasa tercekik, 9. Berikan bronkodilator bila perlu
asing di jalan nafas. irama nafas, frekuensi pernafasan 10. Berikan pelembab udara Kassa basah
dalam rentang normal, tidak ada NaCl Lembab
suara nafas abnormal) 11. Atur intake untuk cairan
3. Mampu mengidentifikasikan dan mengoptimalkan keseimbangan.
mencegah faktor yang penyebab. 12. Monitor respirasi dan status O2
4. Respirasi dan SPO2 dalam batas
normal
2 Syok Hipovolemik b.d Syok management Syok prevention
Hipotensi, Hipovolemi, Setelah dilakukan tindakan 1. Tanda Vital dalam batas normal
Hipoksemia, Hipoksia, Infeksi keperawatan selama ………….. 2. Monitor keadaan umum pasien
Sepsis, Sindrom respons pasien terhindar dari tanda syok 3. Kolaborasi dengan perawat ruang IBS
inflamasi sistemik hipovolemik dibuktikan dengan dalam pemberian cairan intravena
kriteria hasil :
1. Nadi dalam batas normal
2. Irama jantung dalam batas
normal
3. Frekuensi nafas dalam batas
normal
NO DIAGNOSA TUJUAN DAN KRITERIA HASIL INTERVENSI (NIC)
KEPERAWATAN (NOC)
3 Gangguan Perfusi Jaringan Tissue Perfusion : cerebral Intrakranial Pressure (ICP) Monitoring
Perifer b.d Setelah dilakukan tindakan (Monitor tekanan intrakranial)
1. Perubahan afinitas keperawatan selama ………….. 1. Berikan informasi kepada keluarga
hemoglobin terhadap pasien menunjukkan keefektifan 2. Set alarm
oksigen perfusi jaringan dibuktikan dengan 3. Monitor tekanan perfusi serebral
2. Penurunan konsentrasi kriteria hasil: 4. Catat respon pasien terhadap stimuli
hemoglobin dalam darah 1. Mendemonstrasikan status 5. Monitor tekanan intrakranial pasien
3. Keracunan enzim sirkulasi yang ditandai dengan : dan respon neurology terhadap
4. Gangguan pertukaran Tekanan systole dandiastole aktivitas
5. Hipervolemia dalam rentang yang diharapkan 6. Monitor jumlah drainage cairan
6. Hipoventilasi a. Tidak ada ortostatikhipertensi serebrospinal
7. Hipovolemia b. Tidak ada tanda tanda 7. Monitor intake dan output cairan
8. Gangguan transport peningkatan tekanan 8. Restrain pasien jika perlu
oksigen melalui alveoli intrakranial (tidak lebih dari 15 9. Monitor suhu dan angka WBC
dan membrane kapiler mmHg) 10. Kolaborasi pemberian antibiotik
9. Gangguan aliran arteri 2. Mendemonstrasikan kemampuan 11. Posisikan pasien pada posisi
atau vena kognitif yang ditandai dengan: semifowler
10. Ketidak sesuaian antara a. Berkomunikasi dengan jelas
ventilasi dan alirn darah dan sesuai dengan
kemampuan
b. Menunjukkan perhatian,
konsentrasi dan orientasi
c. Membuat keputusan dengan
benar
3. Menunjukkan fungsi sensori
motori cranial yang utuh : tingkat
kesadaran mambaik, tidak ada
gerakan gerakan involunter
3. POST OPERASI
DIAGNOSA TUJUAN DAN KRITERIA HASIL
NO INTERVENSI (NIC)
KEPERAWATAN (NOC)
1 Gangguan rasa nyaman b.d · Ansiety Anxiety Reduction (penurunan
Gejala terkait penyakit, Setelah dilakukan tindakan kecemasan)
Sumber yang tidak adekuat, keperawatan selama ………….. 1. Gunakan pendekatan yang
Kurang pengendalian pasien menunjukkan rasa nyaman menenangkan
Iingkungan, Kurang privasi, dibuktikan dengan kriteria hasil: 2. Nyatakan dengan jelas harapan
Kurang kontrol situasional, 1. Mampu mengontrol kecemasan terhadap pelaku pasien
Stimulasi lingkungan yang 2. Status lingkungan yang nyaman 3. Jelaskan semua prosedur dan apa
mengganggu, Efek samping 3. Mengontrol nyeri yang dirasakan selama prosedur
terkait terapi (mis.medikasi, 4. Kualitas tidur dan istirahat 4. Pahami prespektif pasien terhadap
radiasi) adekuat situasi stres
5. Respon terhadap pengobatan 5. Temani pasien untuk memberikan
6. Status kenyamanan meningkat keamanan dan mengurangi takut
7. Dapat mengontrol ketakutan 6. Dengarkan dengan penuh perhatian
7. Identifikasi tingkat kecemasan
8. Bantu pasien mengenal situasi yang
menimbulkan kecemasan
9. Dorong pasien untuk mengungkapkan
perasaan, ketakutan, persepsi
10. Instruksikan pasien menggunakan
teknik relaksasi
11. Berikan obat untuk mengurangi
kecemasan
2 Resiko Jatuh Trauma Risk For Fall Prevention
DIAGNOSA TUJUAN DAN KRITERIA HASIL
NO INTERVENSI (NIC)
KEPERAWATAN (NOC)
Faktor Resiko : Setelah dilakukan tindakan 1. Mengidentifikasi defisit kognitif atau
1. Dewasa keperawatan selama ………….. fisik pasien yang dapat meningkatkan
a. Usia 65 tahun atau pasien terhindar dari resiko jatuh potensi jatuh
lebih dibuktikan dengan kriteria hasil: 2. Mengidentifikasi perilaku dan faktor
b. Riwayat jatuh 1. Gerakan terkoordinasi : yang mempengaruhi risiko jatuh
c. Tinggal sendiri kemampuan otot untuk bekerja 3. Kunci roda dari kursi roda, tempat
d. Prosthesis sama secara volunter untuk tidur, atau brankar selama transfer
eksremitas bawah melakukan gerakan yang pasien
e. Penggunaan alat bertujuan 4. Gunakan teknik yang tepat untuk
bantu (mis, walker, 2. Perilaku pencegahan jatuh : mentransfer pasien ke dan dari kursi
tongkat) tindakan individu atau pemberi roda, tempat tidur, toilet, dan
f. Penggunaan kursi asuhan untuk meminimalkan 5. Mendidik anggota keluarga tentang
roda faktor resiko yang dapat memicu faktor risiko yang berkontribusi
3. Kognitif jatuh dilingkungan individu terhadap jatuh dan bagaimana
Penurunan status mental 3. Kejadian jatuh : tidak ada mereka dapat menurunkan resiko
4. Medikasi kejadian jatuh tersebut
a. Penggunaan alcohol 4. Pengetahuan : pemahaman 6. Berkolaborasi dengan anggota tim
b. Inhibitor enzyme pencegahan jatuh kesehatan lain untuk meminimalkan
pengubah efek samping dari obat yang
angiotensin berkontribusi terhadap jatuh
c. Agen anti ansietas (misalnya, hipotensi ortostatik dan
d. Agens anti hipertensi kiprah goyah)
e. Deuretik 7. Memberikan pengawasan yang ketat
f. Hipnotik dan / atau perangkat menahan
g. Narkotik/opiate (misalnya, bayi kursi dengan sabuk
h. Obat penenang pengaman) ketika menempatkan bayi
i. Antidepresan trisiklik /anak-anak muda pada permukaan
ditinggikan (misalnya, meja dan kursi
tinggi)
DAFTAR PUSTAKA

Brown CV, Weng J, Oh D, et al. Does routine serial computed tomography of the
head influence management of traumatic brain injury. A prospective
evaluation. Trauma. Nov 2009.

Hamilton MG, Frizzell JB, Tranmer BI.. Chronic subdural hematoma: the role for
craniotomy reevaluated. Neurosurgery. 2007

Nurarif H.A. dan Kusuma H. 2015. APLIKASI Asuhan Keperawatan Berdasarkan


Diagnosa Medis & NANDA NIC-NOC. Jogjakarta: MediAction

Sjamsuhidajat, R. Wim de Jong , Buku Ajar Ilmu Bedah. EGC, Jakarta. 2012.

Tucker, Susan M. et al.2008. Standar Perawatan Pasien: Perencanaan Kolaboratif


& Intervensi Keperawatan. Alih Bahasa : Yudha, Egi K. Novieastari, E.
Hartono, A. Salmiatun & Rosidah, Didah. Jakarta : Penerbit Buku
Kedokteran EGC