Anda di halaman 1dari 13

Nama : Aprilia Reski

NIM : A11114512

Sistem Keuangan dan Sistem Moneter Internasional

System moneter internasional dapat didefinisikan sebagai struktur, instrument,


institusi, dan perjanjian yang menentukan nilai tukar atau kurs mata uang dari berbagai
Negara di dunia, termasuk penyesuaian aliran modal, perdagangan internasional, dan neraca
pembayaran.

Sistem moneter internasional merupakan sistem keuangan yang berlaku untuk semua
Negara di dunia yang membahas tentang pembayaran atas transaksi lintas negara
dilaksanakan. Sistem ini menentukan bagaimana kurs tukar asing ditentukan dan bagaimana
pemerintah dapat mempengaruhi kurs tukar. Sistem moneter internasional yang berfungsi
dengan baik akan memfasilitasi perdagangan internasional dan investasi, serta mempermudah
adaptasi terhadap perubahan. Pembahasan inti dari sistem moneter internasional adalah
menentukan pengaturan sistem kurs tukar. Untuk itu dalam penulisan makalah ini penulis
akan membahas terkait dengan pengertian sistem moneter internasional, sejarah terbentuknya
system moneter internasional, fenomena aktual yamg terkait moneter, serta Faktor
penghambat non ekonomi penerapan Mata uang tunggal di asean
Semenjak dimulainya sistem standar emas hingga abad ke 20, sistem moneter
internasional telah mengalami pasang surut. Perubahan dari sistem ke sistem yang lain
diakibatkan oleh gejolak ekonomi pada saat itu. Sampai saat ini pun sistem moneter
internasional masih menjadi perhatian semua negara dan masih ingin merubah sistemnya
menjadi lebih berfungsi optimal. Belum lagi rencana anggota Negara-negara asean untuk
merumuskan kebijakan pemberlakuan mata uang bersama yang hanya berlaku tunggal di
kawasan asean. Oleh karena itu penulis tertarik untuk mengangkat tema sistem moneter
internasional.
Dalam ekonomi internasional dikenal suatu sistem yang memungkinkan suatu negara
dapat saling berhubungan satu dangan yang lain. Sistem tersebut disebut sebagai sistem
moneter internasional. Sistem moneter internasional menunjukkan seperangkat kebijakan,
institusi, praktik, peraturan dan mekanisme yang menentukan tingkat dimana suatu mata uang
diitukarkan dengan mata uang lain.(Shapiro, 1992). Sistem keuangan internasional dari
sejarahnya telah mengalami begitu banyak perkembangan dan transpormasi dari masa ke
masa. Perkembangan ini disebabkan oleh adanya perubahan ekonomi dan politik domestik
serta internasional pada masing-masing masa.
Jika dalam skala domestik atau nasional problema ketidakseimbangan pembayaran
antar daerah dapat disesuaikan melaui pergerakan modal ataupun kebijakan fiskal dan
moneter, dalam skala internasional akan sedikit lebih rumit. Pembayaran yang tidak
seimbang antar negara dapat diselesaikan melalui financing, perubahan kebijakan domestik
untuk menggeser pola perdagangan dan investasi, melalui kontrol devisa untuk melakukan
penjatahan pasokan devisa, atau dengan cara membiarkan nilai tukar mata uang berubah
sesuai situasi dan kondisi. Sehingga yang terpenting dalam sistem moneter internasional
adalah tersedianya alat atau cara untuk menyesuaikan ketidakseimbangan pembayaran
internasional.
Sejarah dan Perkembangan Sistem Moneter Internasional
Sistem Standar Emas (1876-1913)
Sistem standar emas internasional muncul mulai tahun 1870 di Inggris. Pemerintah
Inggris menetapkan nilai pounsterling dengan emas. Perkembangan industri yang terjadi di
Inggris serta perdagangan dunia yang makin berkembang pada abad 19 menambah
kepercayaan dunia terhadap emas. Kepercayaan ini diperkuat dengan ditemukannya tambang
emas di Amerika dan Afrika Utara. Dengan kejadian-kejadian tersebut sistem standar emas
merupakan suatu sistem yang dipakai oleh banyak negara semenjak 1970 hingga perang
dunia pertama.
Perdagangan yang semakin meningkat membuat kebutuhan sistem pertukaran yang
lebih formal menjadi semakin terasa. Standar emas pada dasarnya menetapkan nilai tukar
mata uang negara berdasarkan emas. Pemerintah atau Negara yang bersangkutan harus
menjaga persediaan emas yang cukup untuk menjamin jual-beli emas. Jika pemerintah negara
lain juga menetapkan nilai mata uangnya berdasarkan, maka kurs antar dua mata uang bisa
ditentukan. Nilai emas terhadap barang lain tidak banyak berubah dalam jangka panjang,
stabilitas nilai uang dan kurs mata uang tidak banyak berfluktuasi dalam jangka panjang.
Standar emas berbeda dengan mata uang fiat (fiat money). Dalam mata uang fiat, nilai
mata uang ditentukan berdasarkan kepercayaan terhadap kemauan pemerintah menjaga
integritas menjag mata uang tersebut. Seringkali kepercayaan tersebut disalahgunakan.
Pemerintah kadang tergoda menerbitan uang baru, karena biaya produksi penerbitan tersebut
adalah 0 rupiah. Dengan menggunakan standar emas, nilai mata uang didasarkan pada emas.
Pemerintah tidak bisa seenaknya menambah jumlah uang yang beredar , karena suplai uang
dibatasi oleh suplai emas.
Dengan proses tersebut kurs mata uang bisa terjaga selama negara-negara di dunia
memakai emas sebagai standar mata uangnya. Inflasi yang berkepanjangan tidak akan terjadi
di dalam situasi semacam itu.
Dengan adanya Perang Dunia I (1919-1923) serta depresi dunia (1931-1934) negara-
negara di Eropa dilanda inflasi serta ketidaksetabilan politik. Sistem moneter Internasional
menjadi kacau. Kekacauan ini menimbulkan kurang kepercayaan dunia terhadap pounsterling
yang masih dikaikan dengan emas. Ponsterling makin lama makin lemah posisinya.
Kelemahan ini ditambah keharusan Inggris untuk memberi bantuan kepada Jerman. Pada
tahun 1931 Inggris menanggalkan standar emas dan pounsterlling jatuh nilainya, diikuti oleh
dolar Amerika.
Periode Perang Dunia (1914-1994)
Perang dunia I mengakhiri standar emas klasik. Periode antara kedua perang dunia
secara umum ditandai oleh kekacauan perdagangan dan keuangan internasional. Terjadinya
fluktuasi kurs sejak akhir perang sampai tahun 1925 (kecuali di Amerika Serikat, yang
kembali ke standar emas dalam tahun 1919). Mulai tahun 1925, suatu usaha dilakukan untuk
menetapkan kembali standar emas, akan tetapi runtuh tahun 1991 pada waktu Depresi Besar.
Kemudian disusul dengan periode persaingan Devaluasi, ketika negara-negara mencoba
untuk mengekspor pengangguran mereka (kebijakan mengemis tetangga mereka). Tarif,
kuota dan pengawasan nilai tukar juga meluas, dengan akibat volume perdagangan dunia
berkurang hampir setengahnya. Kecenderungan devlasioner dapat diatasi sepenuhnya suaktu
negara-negara dipersenjatai kembali untuk perang dunia II.
Periode Kurs Tetap
Periode ini dimulai dengan perjanjian Bretton Woods. Melalui perjanjian ini, semua
negara menetapkan nilai tukar mata uangnya melaui emas, tetapi tidak diharuskan memenuhi
konverbilitas mata uang mereka dalam emas. Negara anggota diminta menjaga kursnya
dalam batas 1% (naik atau turun) dan bersedia menjaga kurs tersebut. IMF membantu negara
anggotanya dalam rangka menjaga kurs mata uangnya.
Tekanan spekulasi menyebabkan sistem kurs tetap tidak layak lagi dipertahankan. Pasar
keuangan dunia sempat tutup selama beberpa minggu dalam bulan Maret 1973. Ketika pasar
tersebut dibuka, kurs mata uang dibiarkan mengambang sampai ke kurs yang ditentukan oleh
kekuatan pasar.
Post Bretton Woods
Pada tanggal 22 Juli 1944 diadakan suatu konferensi moneter Internasional, yang
dikenal dengan The Bretton Woods Conference, yang dihadiri oleh 44 negara. Konferensi
tersebut bertujuan untuk menyusun rencana pembuatan sistem moneter. Dua tahun setelah
konferensi tersebut, didirikan IMF dan Bank Dunia untuk mengawasi sistem tersebut. .
Selama periode 1944-1973 dolar merupakan mata uang yang sangat penting dalam lalu
lintas pembayaran Internasional. Peranan dolar ini timbul setelah perang dunia II, dusebabkan
saat itu terjadi kekurangan dolar. Negara-negara Eropa yang sangat memerlukan uang /dana
untuk memulihkan keadaan ekonominya. Satu-satunya sumber adalah Amerika Serikat,
sehingga dolar banyak diminta. Konsekuensinya, emas menjadi tergeser oleh dolar. Sebab,
disamping memiliki tenaga beli yang kuat di Amerika, reserves dalam bentuk dolar akan
membelikan penghasilan bunga. Dengan semakin pentingnya fungsi dolar, maka setiap
anggota menetapkan perbandingan mata uangnya terhadap dolar, yang kemudian apabila
perlu dapat ditukarkan dengan emas.
DMI beranggotakan 134 negara, diantaranya 10 negara maju mempunyai posisi yang
sangat kuat di dalam mengambil keputusan. Setiap anggota memperoleh jatah/quota, yang
harus dibayar 25% dengan emas dan sisanya 75% dengan mata uangnya. Besarnya quota
menentukan hak suaranya serta jumlah pinjaman yang dapat diperoleh dari DMI. Dana
pertama DMI dengan sendirinya 25% terdiri dari emas dan 75% berbagai mata uang negara
anggota. Pinjaman diberikan kepada dalam mata uang negara lain yang harus di tukar dengan
mata uang negara peminjam.
Sistem semenjak 1973
Semenjak 1973 sistem moneter internasional merupakan campuran antara kurs tetap
dengan kurs berubah-ubah. Mata uang Yen, dolar Kanada, franc Perancis, dan Swiss
berfluktuas tergantung dari permintaan dan pernawaran. Sering juga penguasa moneter
negara-negara tersebut melakukan campur tangan di pasar valuta asing untuk mengurangi
fluktuasi kurs yang berlebihan. Caranya apabila negara mengalami defisit dalam neraca
pembayaran, kurs valuta asing cenderung naik. Untuk mencegah hal ini bank Central menjual
valuta asing. Demikian juga apabila surplus di dalam neraca pembayaran, bank sentral
membeli valuta asing di pasar untuk mengurangi penurunan kurs. Sisitem kurs demikian di
sebut “managed atau dirty” float, sebagai lawan dari “clean” floatt di mana bank Sentral
sama sekali tidak campur tangan di dalam pasar valuta asing.
Lima negara Eropa (Jerman Barat, Belgia, Luxembrug, Swedia, Netherlan dan Norwegia)
mengadakan pengaturan secara tersendiri. Krus tetap berlaku di antara mereka, tetapi
berubah-ubah secara bersama-sama terhadap mata uang negara lain. Sisten krus semacam ini
(mengambang bersama-sama) menghasilakan fluktuasi yang menyerupai ular, yang
kemudian disebut “Snake like”.
Negara-negara Eropa dan Jepang telah melepaskan ikatan mata uangnya dengan dolar
Amerika Serikat. Dengan demikian, telah merupakan mata uang yang mengambang. Namun
demikian Dolar masih memegang peranan penting dalam lalu lintas pembayaran
internasiolal. Pembayaran luar negeri, kebijakan campur tangan dalam valuta asing oleh Bank
Sentral, serta catatan-catatan statistik Dana Moneter Internasional dan Perserikatan Bangsa-
Bangsa masih menggunakan dasar mata uang Dolar.
Sistem Penetapan Kurs
Mekanisme penentuan kurs bisa dikategorikan menjadi beberapa kelompok:
2.3.1 Free Float (Mengambang Bebas)
Berdasarkan sistem ini, kurs mata uang dibiarkan mengambang bebas tergantung
kekuatan pasar. Beberapa faktor yang mempengaruhi kurs, misal inflasi, pertumbuhan
ekonomi, inflasi akan digunakan oleh pasar dalam mengevaluasi kurs mata uang negara yang
bersangkutan. Jika variable tersebut berubah, atau penghargaan terhadap variable tersebut
berubah, kurs mata uang akan berubah. Sistem mengambang bebas juga disebut sebagai clean
float.
2.3.2 Float yang dikelola(Managed Float)
Sistem mengambang bebas mempunyai kerugian karena ketidakpastian kurs cukup
tinggi. Sistem float yang dikelola, yang sering disebut juga sebagai dirty float, dilakukan
melalui campur tangan Bank Sentral yang cukup aktif.
Bank Sentral kemudian akan melakukan intervensi jika kurs yang terjadi di luar batasan
yang telah ditetapkan. Beberapa bentuk intervensi:
a) Menstabilkan fluktuasi harian. Bank Sentral melakukan cara ini dengan tujuan menjaga
stabilasisasi kurs agar perubahan atau pergerakan kurs tetap teratur.
b) Menunda kurs (leaning against the wind). Melalui cara ini bank sentral melakukan intervensi
dengan tujuan mencegah atau mengurangi fluktuasi jangka pendek yang cukup tajam, yang
diakibatkan oleh kejadian yang sifatnya sementara.
c) Kurs tetap secara tidak resmi (unofficial pegging). Melalui cara ini Bank Sentral melawan
kekuatan pasar dengan menetapkan (secara resmi) kurs mata uangnya.
2.3.3 Perjanjian zona target tertentu
Melalui perjanjian ini, beberapa negara sepakat untuk menentukan kurs mata uangnya
secara bersama dalam wilayah kurs tertentu. Jika kurs melewati batas atas atau batas bawah,
Bank Sentral negara yang bersangkutan akan melakukan intervensi.
2.3.4 Dikaitkan dengan mata uang lain
Sekitar 62 negara dari 162 negara anggota IMF mengkaitkan nilai mata uangnya terhadap
mata uang lainnya. Sebagian mengkaitkan nilai mata uangnya terhadap mata uang negara
tetangga.
2.3.5 Dikaitkan dengan kelompok mata uang lain
Sekitar 21 negara mengkaitkan mata uangnya terhadap kelompok mata uang lainnya.
Basket, kelompok, atau portofolio mata uang tersebut biasanya terdiri dari mata uang partner
dagang yang penting. 19 negara mengkaitkan nilai mata uangnya terhadap portofolio yang
mereka buat sendiri.
2.3.6 Dikaitkan dengan indikator tertentu
Dua negara, Chili dan Nikaragua, mengkaitkan mata uangnya terhadap indikator
tertentu, seperti kurs riil efektif, kurs yang telah memasukkan inflasi terhadap partner dagang
mereka yang penting.
2.3.7 Sistem kurs tetap
Di bawah sistem kurs tetap, pemerintah atau Bank Sentral menetapkan kurs secara
resmi. Kemudian Bank Sentral akan selalu melakukan intervensi secara aktif untuk menjaga
kurs yang telah ditetapkan tersebut. Jika kurs resmi dirasakan sudah tidak sesuai dengan
kondisi fundamental ekonomi negara tersebut, devaluasi atau revaluasi dilakukan. Cara yang
bisa dilakukan selain devaluasi adalah :
1. pinjaman asing
2. pengetatan
3. pengendalian harga dan upah
4. pembatasan aliran modal keluar
Cara Melakukan Transaksi Internasional
Adapun cara untuk melakukan pembayaran internasional yang timbul akibat
perdagangan dan peminjaman internasional antara lain sebagai berikut:
a. pembayaran dengan surat wesel dagang (Commercial Bill of Exchange atau Commercial
draft atau Trade Bill)
Surat wesel dagang adalah pembayaran yang dilakukan dengan cara eksportir menarik surat
wesel atas importir sejumlah harga barang-barang beserta biaya-biaya pengirimannya.
Dalam surat wesel tersebut harus dilampiri dokumen-dokumen berupa:
- faktur (invoice),
- konosemen atau surat muatan (bill of lading),
- daftar isi barang (packing list),
- surat keterangan asal barang (certificate of origin),
- surat keterangan pabean,
- surat asuransi (insurence).
Cara pembayaran semacam ini sekarang masih banyak digunakan dalam lalu lintas
pembayaran internasional. Dengan surat wesel, apabila eksportir membutuhkan uang sebelum
jatuh tempo, maka ia dapat menjualnya kepada pihak lain, yang kelak akan menukarkannya
kepada importir setelah wesel itu jatuh tempo.
b. Kompensasi pribadi
kompensasi pribadi adalah adalahcara pembayaran dengan mengalihkan penyelesaian utang
piutang pada seorang penduduk dalam satu negara tempat penduduk tersebut tinggal.
Cara pembayaran ini digunakan di Indonesia sekitar tahun 1960-an, namun sekarang sudah
tidak banyak lagi digunakan dalam perdagangan internasional.
c. Pembayaran tunai
Pembayaran tunai atau pembayaran di muka adalah pembayaran yang dilakukan dengan
menggunakan uang tunai atau cek, yang dilakukan bersama-sama dengan surat pesanan atau
menunggu diterimanya kabar bahwa barang yang telah dipesan dikapalkan oleh eksportir.
Cara pembayaran ini mempunyai risiko yang besar.
d. Pembayaran dengan letter of kredit
Letter of credit atau commercial letter of credit adalah surat yang dikeluarkan oleh bank atas
permintaan pembelian sejumlah barang di mana bank sendiri yang mengakseptir (menyetujui)
dan membayar surat wesel yang ditarik oleh eksportir.
Transaksi yang menggunakan fasilitas L/C terdiri atas:
- L/C biasa, artinya L/C dimana seorang importir bisa langsung membayar
sesuai dengan harga barang melalui bank yang ditunjuk
- Merchant L/C, artinya L/C dimana seorang importir dapat memasukkan
barang terlebih dahulu dengan melakukan pembayaran sebagian, sedangkan sisanya dibayar
kemudian.
- Indutrial L/C, artinya impor banang-barang industri atau barang modal
secara cepat dan tidak dipakai untuk barang konsumsi.
- Red Clause L/C, artinya L/C yang mencantumkan instruksi kepada
Advising Bank (bank yang ditunjuk) untuk melaksanakan pembayaran
sebagian dari jumlah L/C kepada eksportin sebelum mengapalkan
barang-barang ekspor.
- Usance L/C, artinya L/C yang pembayarannya baru dilakukan dengan
tenggang waktu tertentu, misalnya 1 bulan dari pengapalan barang atau 1 bulan setelah
penunjukan dokumen.
e. Pembayaran Kemudian atau Rekening Terbuka (Open Account)
Pembayaran kemudian atau rekening terbuka adalah cara membiayai transaksi perdagangan
internasional di mana eksportir mengirimkan barang kepada importir tanpa adanya dokumen-
dokumen untuk meminta pembayaran. Pembayaran dilakukan setelah barang laku dijual atau
satu sampai dengan tiga bulan setelah tanggal pengiriman, sesuai dengan penjanjian yang
disepakati bersama. Sistem ini sangat membantu pengimpor melakukan transaksi
perdagangan, akan tetapi berisiko besar bagi pengekspor.
f. Pembayaran dengan Konsinyasi (Consign 4311`ment)
Pembayararan secara konsinyasi dilakukan setelah barang yang dikirim sudah terjual
seluruhnya atau sebagian. Metode ini biasanya dilakukan kepada orang yang telah dikenal
dengan baik. Jadi, barang yang akan dijual merupakan barang titipan untuk jangka waktu
tertentu dan pembayaran dengan termin waktu. Untuk memperkecil risiko penjual, sebaiknya
menggunakan jasa bank dalam pengiriman dokumen penagihan dan bonded warehouse untuk
penitipan barangnya. Apabila barang sudah terjual, pembeli membayar kepada bank sejumlah
uang atas nilai barang dan sebagai gantinya bank akan menyerahkan delivery instruction
kepada bonded warehouse untuk mengeluarkan barangnya.

Fenomena Aktual Ekonomi internasional


Fenomena yang terjadi saat ini khususnya di kawasan asean adalah penyatuan mata uang
di antara Negara asean, atau pencanangan mata uang tunggal. Hal tersebut di lakukan kerena
mengingat adanya keberhasilan kawasan ekonomi eropa memberlakukan kebijakan mata
uang bersama.Dari sisi ekonomi jika sekelompok negara ternyata memiliki mata uang yang
berkorelasi sangat erat, maka secara implisit kelompok negara tersebut dapat menggabungkan
mata uangnya.
Dengan kata lain negara tersebut dapat melepaskan kekuasaan moneternya dan
memberikan kepada suatu badan supra nasional (dalam wadah ekonomi bersama).Salah satu
contoh yang paling sukses dari proses penggabungan ini adalah keberadaan European
Monetary Union, (EMU) dan mata uang tunggal dengan European Central Bank (ECB)
sebagai bank sentralnya. Namun demikian proses kearah penggabungan moneter sebenarnya
telah berlangsung cukup lama. Treaty Of Rome (1957) dapat dikatakan titik tolak yang
meletakkan dasar atau fase yang harus ditempuh dalam rangka pembentukan komunitas
ekonomi Eopa.Salah satu studi penting yang melakukan penelitian terhadap kesiapan
prasyarat optimum current area atau OCA di ASEAN dan perbandingan versus Uni Eropa
dilakukan oleh Bayoumi dan Mauro. Mereka berpendapat bahwa negara-negara ASEAN
telah mencapai level yang sama dengan Uni Eropa sebelum traktat Maastricth 1991 pada
beberapa aspek.
Aspek tersebut adalah:
1. Perdagangan intra wilayah (yang diukur oleh share perdagangan internal
terhadap GDP).
2. Komposisi perdagangan berdasarkan type produk. Dengan berlangsungnya
transisi ekonomi, negara-negara di wilayah ini (kecuali Singapura) memiliki tendensi sebagai
Negara manufaktur.
3. Pola goncangan ekonomi. Meskipun dampak goncangan adalah lebih besar di ASEAN tetapi
kecepatan pemulihan lebih tinggi di wilayah ini. Dengan demikian dapat dikatakan hasil
bersih dari pola goncangan ekonomi semacam ini adalah cenderung netral.
Namun demikian mereka juga menemukan beberapa faktor yang dianggap dapat mengurangi
daya tarik penyatuan moneter bagi wilayah ASEAN. Faktor-faktor ini adalah :
a) Diversifikasi budaya dan system politik di ASEAN cenderung lebih tinggi dibandingkan Uni
Eropa
b) Diversifikasi perdagangan yang signifikan.
Meskipun US, Jepang dan Zona Eropa adalah rekan dagang utama, namun proporsi
masing-masing adalah heterogen. Hal ini berimplikasi Pergerakan Bersama Mata Uang
ASEAN 4 Periode 1997-2005: Suatu Aplikasi Teori Optimal Currency Area Dengan
Menggunakan Model Vector Error Correction bahwa setiap negara ASEAN memiliki suatu
goncangan spesifik pada level tertentu.
3.OCA index (Eichengreen dan Bayoumi, 1996) menunjukkan kesiapan negara ASEAN
masih kalah dengan negara Eropa pra traktat Maastricth.
Disini ditunjukkan divergennya arah keterkaitan mata uang ASEAN terhadap salah satu
mata uang utama dunia. Singapura,Malaysia dan Philipina misalnya, lebih cocok masuk
sebagai blok USD. Sedangkan Indonesia dan Thailand cenderung kepada blok JPY. Hasil ini
mengkonfirmasi temuan empiris Frankel dan Wei (1994), Kim dan Ryou (2001) dan Alesina
et al (2002) bahwa permasalahan yang dihadapi dalam penyatuan keuangan Negara-negara
ASEAN adalah tidak adanya suatu mata uang anchor yang tunggal bagi mata uang negara
ASEAN tersebut. Dari sisi institusi, aktivitas ditingkat ofisial tentang keberadaan OCA dapat
dikatakan langka. Beberapa lembaga kerjasama regional telah ada diwilayah ini, misalnya
ASEAN, AFTA dan SEACEN, ASEAN misalnya bahkan telah berdiri sejak 1967.
Namun demikian diskursus mengenai suatu kerjasama regional yang lebih erat melalui
kerjasama moneter (dan mata uang bersama) baru terdengar pasca krisis keuangan Asia 1997.
Era sebelum ini suatu kerjasama moneter yang lebih serius tampaknya terkendala oleh
keberadaan rezim nilai tukar yang heterogen diwilayah Asia (Wilson, 2002).
Tahun 1997, Jepang menawarkan ide Asian Monetary Fund (AMF). Hal ini merupakan
wujud dari kesadaran terhadap perlunya suatu dana emergency yang siap digunakan ketika
dibutuhkan.
Tampaknya ini juga merupakan reaksi kecewa terhadap sikap lamban IMF dalam
mengatasi krisis Asia. Ide ini memperoleh resistensi keras dari IMF (dan stake holder
utamanya, sehingga akhirnya gagal diwujudkan. Sebagai pengganti, dalam kerangka
ASEAN+3 suatu kesepakatan dalam hal penyediaan dana emergency diwujudkan dalam
bentuk pejanjian swap. Inisiatif ini dikenal sebagai Chiang Mai Initiatives. Dari forum ini
tampaknya terlihat adanya perkembangan kearah suatu instrument obligasi Asia. Dari sisi
upaya penyatuan mata uang, negara-negara diwilayah ini terlihat jauh lebih kaku Meskipun
dibawah Hanoi Plan Action dibulan Desember 1998, pemimpin wilayah ASEAN sepakat
untuk memulai suatu studi kelayakan atas adopsi mata uang bersama. Namun baru Januari
2001, suatu proyek resmi untuk penelitian ini dimulai (Wilson, 2002). Proyek ini dikenal
dengan nama Kobe Research Project. Meskipun ditingkat pengambil kebijakan arah
penyatuan moneter adalah bergerak lamban, pra kondisi bagi negara Asia sebenarnya telah
ada. Eichengreen dan Bayoumi (1996) dalam suatu studinya berkesimpulan bahwa wilayah
Asia Timur telah memenuhi persyaratan standar OCA serta telah memiliki kesiapan yang
sama dengan wilayah zona Eropa. Bayoumi dan Mauro
Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan, April 2010 (1999) juga mengusulkan hal yang
serupa, namun dengan mesyaratkan perlunya suatu komitmen politik untuk memastikan
bahwa proyek ini akan berhasil. Proposal lainnya dapat dilihat misalnya Wilson (2002),
Mundel (2003), dan Branson dan Healy (2005). Syarat dan kondisi teoritis dimana penyatuan
mata uang adalah menguntungkan merupakan subyek dari teori Optimum Currency Area
(OCA). Teori OCA modern secara komprehensif diuraikan oleh Robert Mundell (1961)
dalam seminal paper nya yang berjudul A Theory Of Optimum Currency Areas.
Secara ringkas teori tersebut menguraikan bahwa sekelompok negara dapat memperoleh
manfaat yang lebih besar dengan melepaskan penggunaan mata uang sendiri dan (secara
bersama) mengadopsi mata uang lain atau menerapkan rezim nilai tukar tetap (khususnya
antar mata uang negara anggota OCA.
Manfaat yang lebih besar ini dapat terjadi karena berbagai hal misalnya signifikannya
transaksi perdagangan internal anggota OCA, mobilitas faktor produksi yang tinggi, korelasi
siklus bisnis. Dalam kondisi ini manfaat yang diperoleh dengan tetap menggunakan mata
uang sendiri (berupa seignorage dan independensi kebijakan moneter) lebih kecil dari
manfaat yang diperoleh dari penyatuan mata uang (berupa biaya transaksi yang rendah,
stabilitas dan kredibilitas kebijakan). Untuk mencapai optimalitas wilayah mata uang
bersama perlu dipenuhi beberapa karakteristik tertentu. Karakteristik ini menunjukkan
kondisi yang diperlukan agar manfaat OCA yang diperoleh para anggotanya dapat maksimal.
dibawah ini merangkum karakteristik OCA dimaksud (Mongeli, 2002).
Pada satu dekade belakangan ini berkembang suatu pemikiran kontemporer didalam teori
OCA. Berbeda dengan pola pemikiran sebelumnya dimana wilayah moneter bersama akan
optimal jika negara-negara anggotanya memenuhi syarat karakteristik OCA, Frankel dan
Rose (1998), justru berpendapat sebaliknya: karakteristik OCA adalah bersifat endogen.
Dengan kata lain sekelompok negara dapat saja tidak memenuhi satu-lebih karakteristik
OCA.
2.5.1 Persyaratan Optimum Currency Area
1. Fleksibilitas harga dan upah
2. Mobilitas faktor produksi
3. Integrasi pasar keuangan
4. Tingkat keterbukaan ekonomi
5. Diversifikasi produksi dan konsumsi
6. Kesamaan tingkat inflasi
7. Integrasi fiscal
8. Integrasi politis
2.5.2 Karakteristik OCA Persyaratan Untuk OCA
Fleksibilitas harga dan upah didalam dan diantara negara OCA memperkecil
penyesuaian nilai tukar apabila terjadi kejutan. Mobilitas faktor produksi, termasuk tenaga
kerja, antar negara OCA memperkecil penyesuaian harga factor produksi dan nilai tukar
terhadap kejutan Integrasi finansial dalam bentuk mobilitas modal (FDI, portfolio investment,
pinjaman) antar negara OCA memungkinkan penyesuian kejutan melalui aliran modal.
Keterbukaan ekonomi antara negara OCA yang tinggi akan memperbesar transmisi harga
internasional ke harga domestik.
Keberagaman tenaga kerja, sektor ekonomi dan produksi antar negaraOCA
memperkecil penyesuaian Term Of Trade Kesamaan inflasi (dalam arti rendah dan stabil)
antar negara OCA mendorong stabilitas term of trade dan
menyeimbangkan current account. Sistem transfer fiskal antar negara OCA memungkinkan
distribusi dana ke negara yang membutuhkan. Kemauan politik memperkuat kepatuhan
komitmen bersama, kerjasama berbagai kebijakan ekonomi, dan hubungan kelembagaan
antar Negara OCA.
2.5.3 Manfaat dan Biaya Integrasi Ekonomi
1. Peningkatan efisiensi mikro karena penggunaan uang yang lebih luas.
2. Perbaikan stabilitas makro dan pertumbuhan karena stabilitas harga dan
Akses dana yang lebih besar dari integrasi finansial.
3. Positive externality dari biaya transaksi dan cadangan devisa yang lebih
rendah serta koordinasi kebijakan yang lebih efektif.

Faktor penghambat non ekonomi penerapan Mata uang tunggal di asean


Heterogenitas kultur masyarakat di kawasan ASEAN
Masyarakat asean terdiri dari berbagai etnis, ras, budaya, bahasa, serta adat istiadat
yang berbeda-beda antar berbagai Negara, bahkan dalam satu lingkup negara pun masih
terdapat heterogenitas masyarakat di dalahnya, seperti yang terjadi di indonesia. Hal tersebut
menjadi salah satu penghambat penerapan mata uang tunggal di kawasan asean, dari hal
tersebut kemngkinan akan terjadi permasalahan di dalamnya, diantaranya konflik-konflik
kerena latarbalakang yang berbeda-beda.
Masih rendahnya tingkat pendidikan masyarakat di kawasan ASEAN
Dengan masih rendahnya tingkat pendidikan masyarakat di kawasan asean terutama
yang terdapat di Negara-negara seperti indonesia, Timor leste, dan Negara lain yang masih
tergolong Negara berkembang menjadi salah satu penghambat dari peneapan mata uang
tunggal di kawasan asean. Karna faktor pendidikan sangat domonan dalam melakukan
transformasi-transformasi di sebuah kawasan atau Negara.
Kondisi dan letak geografis kawasan ASEAN
Kondisi serta letak geografis Negara-negara di kawasan asean yang terdiri dari ribuan
pulau yang masing-masing di pisahkan oleh laut, menjadikan arus mobilitas, baik dari segi
ekonomi maupun social agak terganggu. Karena keberhasilan arus mobolitas sebuah
kawasan faktor yang utama di dukung oleh akses lalulintas ekonomi yang baik, serta mudah
di jangkau.hal tersebut menjadi salah stu masalah dalam memberlakukan penerapan mata
uang tunggal asean.
Kondisi keamanan yang belum setabil
Konflik-konflik yang terjadi di kawasan asean baik konflik horizontal.vertikal, maupun
diagonal yang terjadi di dalam Suatu Negara atau sengketa antar Negara belum dapat di
minimalisir secara optimal oleh pemerintah masing-masing Negara di kawasan asean,
contohnya konflik yang terjadi di Filipina Antara pemerintah flipin, Indonesia, Myanmar,
Thailand, serta Kamboja. Faktor tersebut menjadi salah satu penghambat penerapan mata
uang tunggal di asean.