Anda di halaman 1dari 10

PENGUKURAN TEGANGAN TINGGI (ALTERNATING

CURRENT)

Kelompok 3
Anggota:
Fenti Mira (3332141174)
Faradian Taufiq S (3332141124)
Ahmad Najib F (333214…..)
Yogi N (333214….)
PENGUKURAN TEGANGAN TINGGI METODE ELEKTRODA
BOLA

1.1 Umum
Pengukuran tegangan tinggi berbeda dengan pengukuran tegangan rendah,
sehingga perlu penjelasan khusus mengenai pengukuran ini. Ada tiga jenis
tegangan tinggi yang akan diukur dalam pengujian tegangan tinggi, yaitu tegangan
tinggi bolak-balik, tegangan tinggi searah, dan tegangan tinggi impuls. Pengujian
tegangan tinggi pada umumnya diperlukan untuk mengetahui apakah peralatan
tegangan tinggi yang diuji masih memenuhi standar kualitas dan kebutuhan yang
dispesifikasikan pada peralatan tersebut.

Dengan begitu banyaknya masalah yang mencakup tegangan tinggi, maka


dibutuhkanlah pengujian tegangan tinggi dengan maksud sebagai berikut:

1. Untuk meneliti sifat-sifat listrik dielektrik yang baru ditemukan, sebagai


usaha dalam menemukan bahan isolasi yang lebih murah.
2. Untuk verifikasi hasil rancangan isolasi baru
3. Untuk memeriksa kualitas peralatan sebelum terpasang, hal ini
dilakukan untuk menghindarkan kerugian bagi pemakai peralatan.
4. Untuk memeriksa kualitas peralatan setelah beroperasi dalam rangka
mengurangi kerugian semasa pemeliharaan.

Adapun peralatan-peralatan yang dibutuhkan untuk pengujian tegangan tinggi


adalah:

1. Pembangkit tegangan tinggi yang terdiri atas: pembangkit tegangan


tinggi ac, pembangkit tegangan tinggi dc, dan pembangkit tegangan
tinggi impuls.
2. Alat ukur tegangan tinggi yang terdiri atas alat ukur tegangan tinggi dc,
alat ukur tegangan tinggi ac, dan alat ukur tegangan tinggi impuls.
3. Alat pengukur sifat listrik dielektrik, antara lain alat ukur rugi-rugi
dielektrik, alat ukur tahanan isolasi, alat ukur konduktivitas, dan alat
ukur peluahan parsial.

1.2 Tegangan AC

Dalam laboratorium diperlukan tegangan tinggi bolak-balik untuk


percobaan dan pengujian dengan arus bolak-balik. Trafo uji yang biasa digunakan
untuk keperluan tersebut memiliki daya yang lebih rendah serta perbandingan
belitan yang jauh lebih besar daripada trafo daya. Arus primer biasanya disulang
dengan ototrafo sedangkan untuk kasus khusus disulang dengan pembangkit
sinkron.
Hampir semua pengujian dan percobaan dengan tegangan tinggi bolak-balik
mensyaratkan nilai tegangan yang teliti. Hal tersebut umumnya hanya akan
terpenuhi jika pengukuran dilakukan pada sisi tegangan tinggi; untuk itu telah
disusun berbagai cara dalam mengukur tegangan tinggi bolak-balik.
Bentuk V(t) untuk tegangan tinggi bolak-balik sering menyimpang dari bentuk
sinus. Dalam teknik tegangan tinggi, nilai puncak Vˆ dan nilai efektif Vef memiliki
arti yang sangat penting :

1 𝑇
√ ∫0 𝑉 2 𝑡 𝑑(𝑡)
𝑇

1.3 Mekanisme Terjadinya Tegangan Tembus

Suatu dielektrik tidak mempunyai elektron-elektron bebas, melainkan electron-


electron yang terikat pada inti atom unsur yang membentuk dielektrik tersebut.
Setiap dielektrik mempunyai batas kekuatan untuk memikul terpaan elektrik. Pada
gambar 1.1 ditunjukkan suatu bahan dielektrik yang ditempatkan di antara dua
elektroda piring sejajar. Bila elektroda diberi tegangan searah V, maka timbul
medan elektrik (E) di dalam dielektrik. Medan elektrik ini memberi gaya kepada
electron-elektron agar terlepas dari ikatannya dan menjadi electron bebas. Dengan
kata lain, medan elektrik merupakan suatu beban yang menekan dielektrik agar
berubah sifat menjadi konduktor. Jika terpaan elektrik yang dipikulnya melebihi
batas tersebut dan terpaan berlangsung cukup lama, maka dielektrik akan
menghantar arus atau gagal melaksanakan fungsinya sebagai isolator. Dalam hal ini
dielektrik disebut tembus listrik atau “breakdown”. Terpaan elektrik tertinggi yang
dapat dipikul suatu dielektrik tanpa menimbulkan dielektrik tembus listrik disebut
kekuatan dielektrik. Jika suatu dielektrik mempunyai kekuatan dielektrik Ek , maka
terpaan elektrik yang dapat dipikulnya adalah ≤ Ek .

Gambar 1.1 Medan Elektrik dalam Dielektrik

Jika terpaan elektrik yang dipikul dielektrik melebihi Ek , maka di dalam


dielektrik akan terjadi proses ionisasi berantai yang akhirnya dapat membuat
dielektrik mengalami tembus listrik. Proses ini membutuhkan waktu dan lamanya
tidak tentu tetapi bersifat statistik. Waktu yang dibutuhkan sejak mulai terjadi
ionisasi sampai terjadi tembus listrik disebut waktu tunda tembus (time lag). Jadi
tidak selamanya terpaan elektrik dapat menimbulkan tembus listrik, tetapi ada dua
syarat yang harus dipenuhi, yaitu:

1. Terpaan elektrik yang dipikul dielektrik harus lebih besar atau sama dengan
kekuatan dielektriknya
2. Lama terpaan elektrik berlangsung lebih besar atau sama dengan waktu
tunda tembus.

Tegangan yang menyebabkan dielektrik tersebut tembus listrik disebut


tegangan tembus atau breakdown voltage. Tegangan tembus adalah besar tegangan
yang menimbulkan terpaan elektrik pada dielektrik sama dengan atau lebih besar
daripada kekuatan dielektriknya
ELEKTRODA BOLA

2.1 Umum

Pengukuran tegangan tinggi dengan elektroda bola pada kenyataannya


dipengaruhi beberapa hal, salah satunya adalah keadaan udara. Dalam prakteknya,
keadaan udara saat pengujian tidak selalu sama dengan keadaan standar. Oleh
karena itu hasil pengukuran pada keadaan udara sembarang adalah sebagai berikut:

dimana :
^V= Tegangan sela bola pada saat pengujian (keadaan udara sembarang)
^Vs = Tegangan tembus sela bola standar
δ = faktor koreksi udara
Faktor koreksi udara tergantung kepada suhu dan tekanan udara, besarnya
adalah sebagai berikut :

𝛿
Θ = temperatur udara (0C)
p = tekanan udara (mmHg)
Elektroda bola standar dibuat dengan dua bola logam yang memiliki
diameter D yang identik dan memiliki kaki penopang, alat pengoperasian, dan
isolator pendukung. Elektroda tersebut biasanya terbuat dari tembaga, kuningan,
atau aluminium yang belakangan ini banyak digunakan karena biayanya lebih
murah. Diameter standar untuk elektroda bola-bola tersebut yang adalah
2,5,10,12,15,25,50,75,100,150, dan 200cm. Jarak-jarak itu dirancang dan dipilih
seperti itu agar flashover terjadi di dekat titik percik. Elektroda-elektroda itu
dirancang dan diproduksi dengan hati-hati sehingga permukaannya lembut dan
memiliki kelengkungan yang seragam/sama. Jari-jari kelengkungan diukur dengan
sebuah spherometer di titik-titik yang bervariasi pada area yang ditutup oleh sebuah
lingkaran 0,3D mengelilingi titik percik tidak boleh berbeda lebih ± %2 dari nilai
nominal. Permukaan bola harus bersih dari debu, minyak, atau pelapis lainnya.
Permukaan elektroda harus dipertahankan tetap bersih tetapi tidak perlu dipoles.
Jika ada lubang yang terjadi akibat tembus listrik yang berulang-ulang maka
elektroda harus dibersihkan.
Untuk memperoleh ketelitian yang tinggi, hal-hal ini diperhatikan:
1. Permukaan elektroda tidak boleh berdebu
2. Elektroda harus licin ( jangan dibersihkan dengan pembersih yang kasar)
3. Jarak benda disekitar elektroda >(0,25+ V/300)m.
4. Untuk mencegah osilasi saat percikan , sebuah resistor yang tahanannya >
500 ohm diserikan dengan elektroda bola.
Konduktor tegangan tinggi juga dirancang sehingga tidak mempengaruhi
konfigurasi medan listrik. Sebuah tahanan seri biasanya dihubungkan di antara
sumber listrik dan elektroda bola untuk membatasi arus yang terjadi akibat
tegangan tembus dan juga memperkecil osilasi yang tidak diinginkan pada sumber
tegangan listrik ketika terjadi tegangan tembus (pada kasus tegangan impuls). Nilai
resistansi seri bervariasi mulai dari 100 sampai 1000 kΩ untuk ac dan tidak lebih
dari 500 Ω pada kasus tegangan impuls. Pada kasus pengukuran tegangan puncak
ac dan tegangan dc, tegangan yang diberikan dinaikkan secara teratur sampai terjadi
tembus listrik pada sela bola.

2.2 Pengukuran Tegangan Tinggi Dengan Elektroda Bola Standar


Sela dua buah bola bila diberi tegangan akan menghasilkan medan listrik
yang merata pada ruang antara kedua bola tersebut. Ia selalu mempunyai tegangan
percikan yang nilainya sama, sesuai dengan nilai yang ditetapkan, pada keadaan
yang tetap. Oleh karena itu sela bola ini dapat dipakai untuk mengukur tegangan
puncak dari suatu tegangan sesuai dengan jarak sela udara yang diketahui.
Sela bola dapat disusun secara vertikan dan horizontal. Pada susunan
vertikal, bola yang terletak dibawah disambung dengan tanah. Sedangkan pada
susunan horizontal, salah satu bolanya disambung ketanah. Biasanya bola yang
tidak bertegangan. Tegangan yang akan diukur disambungkan pada salah satu bola
yang bertegangan dengan melalui suatu tahanan. Tahanan ini untuk membatasi arus
yag mengalir bila terjadi hubungan singkat antara kedua bola tersebut. Tegangan,
nilainya ditentukan oleh jarak kedua buah elektroda bola tersebut. Bila mana pada
permukaan bola terdapat debu atau serat (fiber) maka spark over akan terjadi pada
nilai.
Diameter elektroda bola terdiri atas beberapa ukuran standar, antara lain: 2
cm, 10 cm, 50 cm, bahkan ada yang berukuran sampai 200 cm. Pada keadaan udara
standar, yaitu temperatur udara 2000 C tekanan udara 760 mmHg, dan kelembapan
mutlak 11gr/m3 ,tegangan tembus sela bola standar untuk berbagai jarak sela bola
adalah tetap. Pada umumnya sela bola lebih sering digunakan untuk pengukuran
tegangan tinggi daripada sela dengan medan yang homogen maupun sela batang.
Pada beberapa kasus tertentu sela dengan medan yang homogen dan sela batang
juga digunakan, namun ketelitiannya kurang. Tegangan tembus sela bola
khususnya, tidak tergantung pada bentuk gelombang tegangan tinggi dan oleh
sebab itu sangat cocok untuk semua jenis bentuk gelombang dari tegangan dc
sampai impuls untuk kenaikan waktu yang singkat ( kenaikan waktu ≥ 5,0 µs ). Sela
bola juga dapat digunakan untuk pengukuran tegangan puncak ac pada frekuensi
radio (di atas 1 MHz).
Sela bola dibuat dari dua buah bola logam yang identik dengan diameter D
dan memiliki alat untuk mengoperasikan dan isolator pendukung. Sela bola dapat
disusun secara horizontal dengan kedua sela bola dihubungkan pada sumber
tegangan atau salah satunya dibumikan atau secara vertical dengan sela bola yang
lebih rendah atau letaknya di bawah dibumikan.

2.2.1 Pengukuran Dengan Susunan Elektroda Bola Secara Horizontal

Pada pengukuran dengan susunan elektroda bola secara horizontal, biasanya


disusun dengan kedua bola simetris pada tegangan tinggi di atas permukaan tanah.
Kedua bola yang digunakan harus memiliki bentuk dan ukuran yang identik.
Bentuk susunan elektroda bola secara horizontal dapat ditunjukkan pada gambar
2.1. Susunan horizontal digunakan untuk diameter D < 50 cm dengan rentang
tegangan yang lebih rendah sedangkan untuk diameter yang lebih besar digunakan
susunan vertikal yang mengukur besar tegangan terhadap bumi. Tegangan yang
akan diukur dilewatkan antara kedua sela bola dan jarak atau sela S diantara kedua
bola tersebut memberikan suatu ukuran dari besarnya tegangan tembus.

Gambar 1.2 Elektroda Bola Horizontal

Pada kasus nilai tegangan puncak ac dan pengukuran tegangan dc, tegangan
yang dipakai secara keseluruhan dinaikkan sampai terjadi tembus listrik pada sela
bola.

2.2.2 Pengukuran Dengan Susunan Elektroda Bola Secara Vertikal

Susunan elektroda bola secara vertikal lebih sering digunakan pada


pengukuran tegangan tinggi. Berbeda dengan elektroda yang disusun secara
horizontal yang lebih sering digunakan pada pengukuran tegangan yang relatif lebih
rendah. Bentuk susunan elektroda bola secara vertikal dapat dilihat pada gambar
2.2. Isolasi yang menopang bola di bagian atas harus berjarak kurang dari 0,5 D
dengan D adalah diameter. Elektroda bola itu disokong oleh sebuah kaki logam
yang bersifat konduktif yang tidak lebih dari 0,2 D dan paling sedikit sebesar D(
sehingga titik percik sekurang-kurangnya berjarak 2 D dari ujung yang lebih rendah
isolator bagian atas).
Gambar 2.2 Elektroda Secara Vertikal

Tegangan tinggi harus tidak boleh lewat dekat dengan elektroda yang ada
di atas. Idealnya tegangan tersebut harus dialirkan dari kaki elektroda menjauh
melalui sebuah bidang datar yang tegak lurus dengan kaki paling tidak 1 D dari
elektroda. Elektroda yang terletak di bawah harus berjarak paling sedikit 1,5 D di
atas permukaan tanah.

2.3 Pengaruh Objek Sekitar Terhadap Pengukuran Elektroda Bola-Bola

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi tegangan tembus pada pengukuran


dengan elektroda bola diantaranya adalah:

1. objek di sekitar elektroda bola,


2. kondisi dan kelembapan udara,
3. penyinaran dengan ultra-violet atau sinar x,
4. polaritas dan kenaikan waktu gelombang tegangan.
Kesimpulan

Pengukuran tegangan tinggi dengan elektroda bola pada kenyataannya


dipengaruhi beberapa hal, salah satunya adalah keadaan udara. Dalam prakteknya,
keadaan udara saat pengujian tidak selalu sama dengan keadaan standar.
Bahwa pengukuran Tegangan Tinggi (AC) tidak hanya dapat diukur dengan
Multimeter tetapi juga dapat di ukur dengan elektroda bola.
Dalam laboratorium diperlukan tegangan tinggi bolak-balik untuk
percobaan dan pengujian dengan arus bolak-balik. Trafo uji yang biasa digunakan
untuk keperluan tersebut memiliki daya yang lebih rendah serta perbandingan
belitan yang jauh lebih besar daripada trafo daya. Arus primer biasanya disulang
dengan ototrafo sedangkan untuk kasus khusus disulang dengan pembangkit
sinkron.