Anda di halaman 1dari 2

antioksidan kuat pada konsentrasi 80,81 ppm.

Namun, untuk yang lebih tinggi, maka terjadi peristiwa penyerapan


kadar flavonoid daun katuk tidak diteliti. Begitu juga (absorpsi) energi oleh molekul.
penelitian yang telah dilakukan oleh Indah (2006) dan Yudi Suatu grafik yang menghubungkan antara banyaknya
(2007) melakukan penelitian pada daun yang berbeda. sinar yang diserap dengan frekuensi (panjang gelombang)
Namun, informasi untuk jenis daun lain yang telah sinar merupakan spektrum absorpsi (jamak: spektra). Spektra
diidentifikasi memiliki kandungan flavonoid masih tebatas. juga dapat berfungsi sebagai bahan informasi yang bermanfaat
Maka berdasarkan penelitian-penelitian tersebut peneliti untuk analisa kualitatif. Banyaknya sinar yang diabsorpsi pada
tertarik untuk meneliti tentang kadar flavonoid pada berbagai panjang gelombang tertentu sebanding dengan banyaknya
jenis daun tanaman obat lainnya dengan melihat karakteristik molekul yang menyerap radiasi, sehingga spektra absorpsi
optiknya terutama sifat absorbansinya. Jenis daun yang juga dapat digunakan untuk analisa kuantitatif.
dijadikan sampel dalam penelitian adalah daun ekor naga, Dalam suatu molekul, yang memegang peranan
daun sirih merah, daun sirsak dan daun katuk. Daun-daun penting adalah elektron valensi dari setiap atom yang ada
tersebut dipilih berdasarkan pengamatan pada masyarakat di hingga dapat menentukan sifat suatu materi. Elektron-elektron
lingkungan tempat tinggal peneliti banyak menkonsumsi daun yang dimiliki oleh suatu molekul dapat berpindah (eksitasi),
tersebut dalam pengobatan. Artikel ini berisi analisis nilai berputar (rotasi) dan bergetar (vibrasi) jika dikenai suatu
absorbansi dalam penentuan kadar flavonoid untuk berbagai energi.
jenis daun tanaman obat. Ketika cahaya dengan berbagai panjang gelombang
Analisis kualitatif flavonoid dapat dilakukan dengan (cahaya polikromatis) mengenai suatu molekul, maka cahaya
menggunakan spektrofotometer UV-Vis. Spektrum serapan dengan panjang gelombang tertentu saja yang akan diserap.
ultra violet dan serapan tampak merupakan cara tunggal yang Jika molekul menyerap cahaya tampak dan UV maka akan
paling bermanfaat untuk mengidentifikasi struktur terjadi perpindahan elektron dari keadaan dasar menuju ke
flavonoid[5]. Flavonoid mengandung sistem aromatis yang keadaan tereksitasi. Perpindahan elektron ini disebut transisi
terkonjugasi dan dapat menunjukkan pita serapan kuat pada elektronik. Apabila cahaya yang diserap adalah cahaya
daerah UV-Vis[8]. Metode tersebut juga dapat digunakan inframerah maka elektron yang ada dalam atom atau elektron
untuk melakukan uji secara kuantitatif untuk menentukan ikatan pada suatu molekul hanya akan bergetar (vibrasi),
jumlah flavonoid yang terdapat dalam ekstrak metanol juga sedangkan gerakan berputar elektron terjadi pada energi yang
dilakukan dengan spetrofotometer UV-Vis yaitu dengan lebih rendah lagi.
mengukur nilai absorbansinya[10]. Absorbansi sebagai analisa Atas dasar inilah spektrofotometri dirancang untuk
kuantitatif dilakukan berdasarkan Hukum Lambert-Beer. mengukur konsentrasi yang ada dalam suatu sampel, dimana
Spektrofotometri adalah ilmu yang mempelajari molekul yang ada dalam sel sampel disinari dengan cahaya
tentang penggunaan spektrofotometer. Sektriofotometer
yang memiliki panjang gelombang tertentu. Ketika cahaya
adalah alat yang terdiri dari spektrofotometer dan fotometer.
Spektofotometer adalah alat yang digunakan untuk mengukur mengenai sampel, sebagian akan diserap, sebagian akan
energi secara relatif jika energi tersebut ditransmisikan, dihamburkan dan sebagian lagi akan diteruskan. Pada
direfleksikan, atau diemisikan sebagai fungsi dari panjang spektrofotometri, cahaya datang atau cahaya masuk atau
gelombang. Spektrofotometer menghasilkan sinar dari cahaya yang mengenai permukaan zat dan cahaya setelah
spektrum dengan panjang gelombang tertentu, dan fotometer melewati zat tidak dapat diukur, yang dapat diukur adalah
adalah alat pengukur intensitas cahaya yang ditransmisikan transmittansi atau absorbansi.
atau yang diabsorpsi.
Cahaya yang diserap diukur sebagai absorbansi (A)
Apabila radiasi atau cahaya putih dilewatkan melalui
sedangkan cahaya yang hamburkan diukur sebagai
larutan berwarna, maka radiasi dengan panjang gelombang
transmitansi (T), dinyatakan dengan hukum lambert-beer atau
tertentu akan diserap (absorbsi) secara selektif dan radiasi
Hukum Beer yang berbunyi, “jumlah radiasi cahaya tampak
lainnya akan diteruskan (transmisi). Absorbansi adalah
(ultraviolet, inframerah dan sebagainya) yang diserap atau
perbandingan intensitas sinar yang diserap dengan intensitas
ditransmisikan oleh suatu larutan merupakan suatu fungsi
sinar datang. Nilai absorbansi ini akan bergantung pada kadar
eksponen dari konsentrasi zat dan tebal larutan”.
zat yang terkandung di dalamnya, semakin banyak kadar zat
Secara kualitatif, absorpsi cahaya dapat diperoleh
yang terkandung dalam suatu sampel maka semakin banyak
dengan pertimbangan absorbsi cahaya pada cahaya tampak.
molekul yang akan menyerap cahaya pada panjang gelombang
Kita melihat objek dengan pertolongan cahaya yang diteruskan
tertentu sehingga nilai absorbansi semakin besar atau dengan
atau dipantulkan. Apabila cahaya polikromatis (cahaya putih)
kata lain nilai absorbansi akan berbanding lurus dengan
yang mengandung seluruh spektrum panjang gelombang
konsentrasi zat yang terkandung didalam suatu sampel.
melewati daerah tertentu dan menyerap panjang gelombang
Jika suatu molekul bergerak dari suatu tingkat energi
tertentu, maka medium itu tampak berwarna. Karena panjang
ke tingkat energi yang lebih rendah maka beberapa energi
gelombang yang diteruskan sampai ke mata, maka panjang
akan dilepaskan. Energi ini dapat hilang sebagai radiasi dan
gelombang inilah yang menentukan warna medium. Warna ini
dapat dikatakan telah terjadi emisi radiasi. Jika suatu molekul
disebut warna yang komplementer terhadap warna yang
dikenai suatu radiasi elektromagnetik pada frekuensi yang
diabsorpsi.
sesuai sehingga energi molekul tersebut ditingkatkan ke level

78
Jika suatu berkas cahaya melewati suatu medium Menurut Bohm 1987, diacu dalam Estierte et al. 1999
homogen, sebagian dari cahaya datang (I0) diabsorpsi kadar flavonoid dan senyawa fenolik lain di dalam tanaman
sebanyak (Ia), sebagian dapat dipantulkan (Ir), sedangkan berbeda-beda di antara setiap bagian, jaringan, dan umur
sisanya ditransmisikan (It) dengan efek intensitas murni tanaman, serta dipengaruhi oleh faktor-faktor lingkungan.
sebesar : Faktor-faktor ini adalah temperatur, sinar ultraviolet dan
tampak, nutrisi, ketersediaan air, dan kadar CO2 pada
(Io)=(Ia)+(It)+(Ir) atmosfer.
Keterangan : (Io) = Intensitas cahaya datang
(Ia) = Intensitas cahaya diabsorpsi METODE PENELITIAN
(Ir) = Intensitas cahaya dipantulkan
(It) = Intensitas cahaya ditransmisikan Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen yang
Lambert (1796), Beer (1852) dan Bouger menunjukkan dilakukan di Laboratorium Fisika yaitu Laboratorium Fisika
hubungan antara transmittan dengan intensitas cahaya sebagai Material dan Biofisika serta Laboratorium Kimia yaitu labor
berikut (Mustafa,2007) : penelitian Kimia FMIPA Universitas Negeri Padang.
= = 10-abc Alat dan bahan yang digunakan dalam penelitian ini
Keterangan : T = Transmittansi adalah spektrofotometer Uv Vis T872, etanol, timbangan
It = Intensitas sinar yang diteruskan digital, kertas saring, vacum rotary evaporator, plat tetes dan
Io = Intensitas sinar datang corong pisah.
a = Tetapan absorptivitas Sampel pada penelitian ini adalah empat jenis daun
b = Jarak tempuh optik tanaman obat yakni ekornaga (Rhaphidophora pinnata (L.f.)),
c = Konsentrasi sirih merah (Piper crocatum Ruiz), sirsak (Annona muricata
( )= =− Linn) dan katuk (Sauropus androgynus (L.) Merr yang
[ ] [ ] diambil di Kecamatan Nan Sabaris, Kabupaten Padang
-Log (T) = = = = . Pariaman.
[ ] [ ]
dengan A = absorbansi, –Log T = abc = A = εbc
Transmittansi adalah perbandingan intensitas cahaya Variabel Penelitian
yang ditransmisikan ketika melewati sampel (It), dengan Variabel penelitian terdiri dari:
intensitas cahaya mula-mula sebelum melewati sampel (Io). ε Variabel bebas
adalah absorptivitas molar atau koefisien molar ”extinction”, Yang menjadi variabel bebas pada penelitian ini adalah
nilainya dipengaruhi oleh sifat-sifat khas dari materi yang jenis daun yang berbeda yakni daun ekornaga, daun sirih
diradiasi. Jika konsentrasi dalam satuan gram/liter maka ε merah, daun sirsak dan daun katuk.
dapat diganti dengan a disebut sebagai ”absorptivitas
spesifik”.
Absorptivitas (a) merupakan suatu konstanta yang
tidak tergantung pada konsentrasi, tebal kuvet, dan intensitas
radiasi yang mengenai larutan sampel. Absorptivitas Variabel terikat
tergantung pada suhu, pelarut, struktur molekul, dan panjang Yang menjadi variabel terikat dalam penelitian ini
gelombang radiasi (Yanlinastuti, 2009). adalah nilai absorbansi dan kadar flavonoid yang terkandung
pada daun obat.
Kadar flavonoid dalam sampel herbal dapat ditentukan
dengan berbagai metode. Metode yang diakui oleh Variabel Kontrol
Departemen Kesehatan RI adalah spektrofotometri UV yang Yang menjadi variabel kontrol pada penelitian ini
berdasar pada prinsip kolorimetri[10]. Absorbansi dari warna adalah massa daun, panjang gelombang yang digunakan untuk
yang terbentuk diukur dengan spektrometer UV. Kadar menentukan kadar yaitu 370 nm dan panjang gelombang yang
kuersetin dihitung sebagai kadar flavonoid total dalam digunakan untuk mendeteksi jenis flavonoid yaitu pada
sampel[11]. Perhitungan ini berdasarkan pada hukum Lambert- rentang 200nm-450nm.
Beer yang menunjukkan hubungan lurus antara absorbans dan
kadar analat. Prosedur Penelitian
Untuk menentukan kadar flavonoid pada berbagai jenis Pengambilan Daun Sampel
daun obat berdasarkan nilai absorbansi digunakan data larutan Sampel daun diambil dan dikumpulkan. Selanjutnya
standar. Data larutan standar ini digunakan untuk membuat daun-daun tersebut disortir dan dicuci, kemudian daun-daun
persamaan regresi yaitu persamaan yang digunakan untuk tersebut diiris tipis-tipis. Selanjutnya irisan daun dikeringkan
menghitung kadar flavonoid : selama 2 hari.
y=ax+b Pembuatan Ekstrak Sampel [11]
Dengan : y = nilai absorbansi Sebanyak 25 g serbuk masing-masing daun sampel
x = kadar flavonoid dimaserasi selama 24 jam dengan etanol teknis dalam labu
a, b = konstanta bulat 1000 ml, sambil sesekali dikocok. Maserat dalam labu

79