Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH TEKNOLOGI FARMASI

“KUALIFIKASI DAN VALIDASI”

Disusun Oleh :

Jessica Margareta J. 16.0552

Cicilia Dian Kurniasari 16.0564

Maria Yosefa Puspitasari 16.0588

Nella Wulansari 16.0596

PROGRAM STUDI DIPLOMA TIGA FARMASI


POLITEKNIK KATOLIK MANGUNWIJAYA
SEMARANG
2019
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Industri farmasi merupakan industri yang berperan dalam memproduksi dan
mendistribusikan obat untuk memenuhi kebutuhan pasar dan masyarakat.
Dalam memproduksi suatu obat untuk menjamin mutu dari produk sediaan
farmasi, maka pemerintah melalui BPOM mengeluarkan suatu aturan yang
dikenal dengan Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB). CPOB merupakan
pedoman pembuatan obat bagi industri farmasi di Indonesia yang bertujuan
untuk menjamin obat yang dibuat secara konsisten dapat memenuhi persyaratan
yang ditetapkan dan sesuai dengan tujuan penggunaannya.
CPOB mencakup seluruh aspek produksi dan pengendalian mutu. Aspek –
aspek yang berpengaruh terhadap CPOB antara lain manajemen mutu,
personalia, bangunan dan fasilitas, peralatan, sanitasi dan higiene, produksi,
pengawasan mutu, inspeksi diri yang meliputi penanganan keluhan terhadap
produk dan penarikan kembali produk, dokumentasi, kualifikasi dan validasi.
Salah satu aspek dalam CPOB adalah mengenai kualifikasi dan validasi yang
perlu dilakukan supaya menghasilkan produk sesuai dengan yang diharapkan.
Berdasarkan BPOM (2018) validasi merupakan suatu tindakan pembuktian
dengan cara yang sesuai bahwa tiap bahan, proses, prosedur, kegiatan, sistem,
perlengkapan atau mekanisme yang digunakan dalam produksi dan pengawasan
akan senantiasa menghasilkan produk yang diinginkan dan kualifikasi adalah
suatu tindakan pembuktian dengan cara sesuai bahwa desain, konstruksi serta
mekanisme kerja suatu alat/sistem sudah tepat sehingga dapat difungsikan
sesuai tujuannya untuk senantiasa memberikan hasil (kinerja) yang diinginkan.

B. Tujuan
1) Mahasiswa mengetahui apa yang dimaksud kualifikasi dan validasi.
2) Mahasiswa mengetahui tingkatan kualifikasi.
3) Mahasiswa mengetahui cara perawatan/ pemeliharaan alat produksi.
4) Mahasiswa mengetahui jenis, kriteria, dan langkah validasi.
5) Mahasiswa mengetahui dokumen validasi.
BAB II
ISI

A. Pengertian
Validasi merupakan suatu tindakan pembuktian dengan cara yang sesuai
bahwa tiap bahan, proses, prosedur, kegiatan, sistem, perlengkapan atau
mekanisme yang digunakan dalam produksi dan pengawasan akan senantiasa
menghasilkan produk yang diinginkan. Kualifikasi merupakan bagian dari
proses validasi yang akan memverifikasi kinerja sistem sebelum suatu
instrumen digunakan supaya saat digunakan instrumen terjamin baik dan jika
muncul masalah dapat diidentifikasi. Kualifikasi adalah suatu tindakan
pembuktian dengan cara sesuai bahwa desain, konstruksi serta mekanisme kerja
suatu alat/sistem sudah tepat sehingga dapat difungsikan sesuai tujuannya
untuk senantiasa memberikan hasil (kinerja) yang diinginkan (BPOM, 2018).
Prinsip kualifikasi dan validasi yang dilakukan di industri farmasi sesuai
CPOB mensyaratkan industri farmasi untuk mengidentifikasi validasi yang
perlu dilakukan sebagai bukti pengendalian terhadap aspek kritis dari kegiatan
yang dilakukan. Perubahan signifikan terhadap fasilitas, peralatan dan proses
yang dapat mempengaruhi mutu produk hendaklah divalidasi. Pendekatan
dengan kajian risiko hendaklah digunakan untuk menentukan ruang lingkup dan
cakupan validasi.

B. Tingkatan Kualifikasi
Kualifikasi mesin, peralatan produksi dan sarana penunjang terdiri dari 4
tingkatan, yaitu Kualifikasi Desain (Design Qualification/DQ), Kualifikasi
Instalasi (Installation Qualification/IQ), Kualifikasi Operasional (Operational
Qualification/OQ), dan Kualifikasi Kinerja (Performance Qualification/PQ).
1) Kualifikasi Desain (Design Qualification/DQ)
Kualifikasi Desain merupakan unsur pertama dalam melakukan validasi
terhadap fasilitas, sistem atau peralatan baru. Desain hendaknya memenuhi
ketentuan CPOB dan didokumentasikan.
2) Kualifikasi Instalasi (Installation Qualification/IQ)
Kualifikasi Instalasi merupakan kualifikasi yang dilakukan terhadap
fasilitas, sistem dan peralatan baru atau yang dimodifikasi. Kualifikasi
instalasi hendaknya mencakup :
a) Instalasi peralatan, pipa dan sarana penunjang dan instrumentasi
hendaknya sesuai dengan spesifikasi dan gambar teknik yang didesain.
b) Pengumpulan dan penyusunan dokumen pengoperasian dan perawatan
peralatan dari pemasok
c) Ketentuan dan persyaratan kalibrasi
d) Verifikasi bahan konstruksi
3) Kualifikasi Operasional (Operational Qualification/OQ)
Kualifikasi Operasional dilakukan setelah Kualifikasi Instalasi selesai
dilaksanakan, dikaji dan disetujui. KO hendaknya mencakup :
a) Pengujian yang perlu dilakukan berdasarkan pengetahuan tentang
proses, sistem dan peralatan.
b) Pengujian yang meliputi satu atau beberapa kondisi yang mencakup
batas operasional atas dan bawah, dikenal sebagai kondisi terburuk
(worst case).
Penyelesaian KO yang berhasil hendaknya mencakup finalisasi
kalibrasi, prosedur operasional dan prosedur pembersihan, pelatihan
operator dan persyaratan perawatan preventif. Setelah selesai KO maka
pelulusan fasilitas, sistem dan peralatan dapat dilakukan secara formal.
4) Kualifikasi Kinerja (Performance Qualification/PQ)
Kualifikasi Kinerja hendaknya mencakup :
a) Pengujian dengan menggunakan bahan baku, bahan pengganti yang
memenuhi spesifikasi atau produk simulasi yang dilakukan berdasarkan
pengetahuan tentang proses, fasilitas, sistem dan peralatan.
b) Uji yang meliputi satu atau beberapa kondisi yang mencakup batas
operasional atas dan bawah.
C. Cara Perawatan/ Pemeliharaan Alat Produksi
Peralatan untuk pembuatan obat hendaklah memiliki desain dan konstruksi
yang tepat, ukuran yang memadai serta ditempatkan dan dikualifikasi dengan
tepat, supaya mutu obat terjamin sesuai desain serta seragam antar bets dan
memudahkan pembersihan serta perawatan agar dapat mencegah kontaminasi
silang, penumpukan debu atau kotoran dan, hal-hal yang umumnya berdampak
buruk pada mutu produk. Perawatan peralatan dilakukan sesuai jadwal untuk
mencegah malfungsi atau pencemaran yang dapat mempengaruhi identitas,
mutu atau kemurnian produk. Jika terdapat kegiatan perbaikan dan perawatan
sebisa mungkin tidak menimbulkan risiko terhadap mutu produk.
Proses produksi yang menggunakan bahan pendingin, pelumas dan bahan
kimia lain seperti cairan alat penguji suhu dilakukan evaluasi dan disetujui
dengan proses formal. Pelaksanaan perawatan dan pemakaian suatu peralatan
utama dicatat dalam buku log alat yang menunjukkan tanggal, waktu, produk,
kekuatan dan nomor setiap bets atau lot yang diolah dengan alat tersebut.
Catatan untuk peralatan yang digunakan khusus untuk satu produk saja dapat
ditulis dalam catatan bets. Peralatan dan alat bantu hendaknya dibersihkan,
disimpan, dan bila perlu disanitasi dan disterilisasi untuk mencegah
kontaminasi atau sisa bahan dari proses sebelumnya yang akan mempengaruhi
mutu produk termasuk produk antara di luar spesifikasi resmi atau spesifikasi
lain yang telah ditentukan. Bila peralatan digunakan untuk produksi produk dan
produk antara yang sama secara berurutan, peralatan hendaknya dibersihkan
dalam jarak waktu yang sesuai untuk mencegah penumpukan dan sisa
kontaminan. Peralatan umum hendaknya dibersihkan setelah digunakan
memproduksi produk yang berbeda untuk mencegah kontaminasi-silang.
Peralatan hendaknya diidentifikasi isi dan status kebersihannya dengan cara
yang baik. Buku log untuk peralatan utama dan kritis hendaklah dibuat untuk
pencatatan validasi pembersihan dan pembersihan yang telah dilakukan
termasuk tanggal dan personil yang melakukan kegiatan tersebut.
(CPOB, 2018)
D. Jenis Validasi
Validasi proses umumnya dilakukan sebelum produk dipasarkan (validasi
prospektif). Jika hal tersebut tidak memungkinkan dalam keadaan tertentu
validasi dapat juga dilakukan selama proses produksi rutin dilakukan (validasi
konkuren). Proses yang sudah berjalan hendaklah juga divalidasi (validasi
retrospektif). Fasilitas, sistem dan peralatan yang digunakan hendaklah telah
terkualifikasi dan metode analisis hendaklah divalidasi. Personil yang
melakukan validasi hendaklah mendapat pelatihan yang sesuai. Fasilitas,
sistem, peralatan dan proses hendaknya dievaluasi secara berkala untuk
verifikasi bahwa fasilitas, sistem, peralatan dan proses tersebut masih bekerja
dengan baik. Jenis – jenis validasi yaitu : (CPOB, 2018)
1. Validasi Prospektif
Persyaratan dokumentasi validasi prospektif sebagai berikut:
a) Uraian singkat suatu proses;
b) Ringkasan tahap kritis proses pembuatan yang harus diinvestigasi;
c) Daftar peralatan/fasilitas yang digunakan termasuk alat ukur, pemantau
dan pencatat serta status kalibrasinya;
d) Spesifikasi produk jadi untuk diluluskan;
e) Daftar metode analisis yang seharusnya;
f) Usul pengawasan selama-proses dan kriteria penerimaan;
g) Pengujian tambahan yang akan dilakukan termasuk kriteria penerimaan
dan validasi metode analisisnya, bila diperlukan;
h) Pola pengambilan sampel (lokasi dan frekuensi);
i) Metode pencatatan dan evaluasi hasil;
j) Fungsi dan tanggung jawab; dan
k) Jadwal yang diusulkan;
Dengan menggunakan prosedur (termasuk komponen spesifik) yang
telah ditetapkan, bets berurutan dapat diproduksi dalam kondisi rutin.
Secara teoritis, jumlah proses produksi dan pengamatan yang dilakukan
sudah cukup menggambarkan variasi dan menetapkan tren sehingga dapat
memberikan data yang cukup untuk keperluan evaluasi. Secara umum, 3
(tiga) bets berurutan yang memenuhi parameter yang disetujui dapat
diterima telah memenuhi persyaratan validasi proses. Ukuran bets yang
digunakan dalam proses validasi hendaklah sama dengan ukuran bets
produksi yang direncanakan. Jika bets validasi akan dipasarkan, kondisi
pembuatannya hendaklah memenuhi ketentuan CPOB, hasil validasi
tersebut hendaklah memenuhi spesifikasi dan sesuai izin edar.
2. Validasi Konkuren
a) Dalam kondisi khusus, dimungkinkan tidak menyelesaikan program
validasi sebelum produksi rutin dilaksanakan.
b) Keputusan untuk melakukan validasi konkuren harus dijustifikasi,
didokumentasikan dan disetujui oleh kepala bagian Manajemen Mutu
(Pemastian Mutu).
c) Persyaratan dokumentasi untuk validasi konkuren sama seperti validasi
prospektif.
3. Validasi Retrospektif
a) Validasi retrospektif hanya dapat dilakukan untuk proses yang sudah
mapan, namun tidak berlaku jika terjadi perubahan formula produk,
prosedur pembuatan atau peralatan.
b) Validasi proses hendaklah didasarkan pada riwayat produk. Tahap
validasi memerlukan pembuatan protokol khusus dan laporan hasil
kajian data untuk mengambil kesimpulan dan memberikan rekomendasi.
c) Sumber data hendaklah mencakup, tetapi tidak terbatas pada Catatan
Pengolahan Bets dan Catatan Pengemasan Bets, rekaman pengawasan
proses, buku log perawatan alat, catatan penggantian personil, studi
kapabilitas proses, data produk jadi termasuk catatan data tren dan hasil
uji stabilitas.
d) Bets yang dipilih untuk validasi retrospektif hendaklah mewakili seluruh
bets yang dibuat selama periode pengamatan, termasuk yangtidak
memenuhi spesifikasi, dan hendaklah dalam jumlah yang cukup untuk
menunjukkan konsistensi proses. Pengujian tambahan sampel pertinggal
mungkin perlu untuk mendapatkan jumlah atau jenis data yang
dibutuhkan untuk melakukan proses validasi retrospektif.
e) Pada umumnya, validasi retrospektif memerlukan data dari 10 (sepuluh)
sampai 30 (tiga puluh) bets berurutan untuk menilai konsistensi proses,
tapi jumlah bets yang lebih sedikit dimungkinkan bila dapat dijustifikasi.
4. Validasi pembersihan
a) Validasi pembersihan hendaklah dilakukan untuk konfirmasi efektivitas
prosedur pembersihan. Penentuan batas kandungan residu suatu produk,
bahan pembersih dan pencemaran mikroba, secara rasional hendaklah
didasarkan pada bahan yang terkait dengan proses pembersihan. Batas
tersebut hendaklah dapat dicapai dan diverifikasi.
b) Hendaklah digunakan metode analisis tervalidasi yang memiliki
kepekaan untuk mendeteksi residu atau cemaran. Batas deteksi masing-
masing metode analisis hendaklah cukup peka untuk mendeteksi tingkat
residu atau cemaran yang dapat diterima.
c) Biasanya validasi prosedur pembersihan dilakukan hanya untuk
permukaan alat yang bersentuhan langsung dengan produk. Hendaklah
dipertimbangkan juga untuk bagian alat yang tidak bersentuhan
langsung dengan produk. Interval waktu antara penggunaan alat dan
pembersihan hendaklah divalidasi demikian juga antara pembersihan
dan penggunaan kembali. Hendaklah ditentukan metode dan interval
pembersihan.
d) Prosedur pembersihan untuk produk dan proses yang serupa, dapat
dipertimbangkan untuk memilih suatu rentang yang mewakili produk
dan proses yang serupa. Studi validasi tunggal dapat dilakukan
menggunakan pendekatan kondisi terburuk dengan memerhatikan isu
kritis.
e) Validasi prosedur pembersihan hendaklah dilakukan tiga kali berurutan
dengan hasil yang memenuhi syarat untuk membuktikan bahwa
prosedur pembersihan tersebut telah tervalidasi.
f) “Uji sampai bersih” (test until clean) bukan merupakan pilihan untuk
melakukan validasi prosedur pembersihan.
g) Untuk produk yang beracun atau berbahaya dalam keadaan tertentu
dapat disimulasikan dengan produk lain yang mempunyai sifat fisika-
kimia yang sama.
5. Validasi ulang
Fasilitas, sistem, peralatan dan proses termasuk proses pembersihan
hendaklah dievaluasi secara berkala untuk konfirmasi keabsahannya. Jika
tidak ada perubahan yang signifikan terhadap status validasi, peninjauan
dengan bukti bahwa fasilitas, sistem, peralatan dan proses memenuhi
persyaratan yang ditetapkan akan kebutuhan revalidasi.
6. Validasi metode analisis
Tujuan validasi metode analisis adalah untuk menunjukkan bahwa
metode analisis sesuai tujuan penggunaannya. Perlu dipertimbangkan
mengenai karakteristik yang berlaku untuk identifikasi, pengujian terhadap
impuritas dan prosedur penetapan kadar
Validasi metode analisis umumnya dilakukan terhadap 4 jenis:
a. Uji identifikasi
Uji identifikasi bertujuan untuk memastikan identitas analit dalam
sampel. Uji ini biasanya dilakukan dengan membandingkan
karakteristik sampel (misal: spektrum, profil kromatogram, reaksi
kimia, dan lain-lain) terhadap baku pembanding.
b. Uji kuantitatif kandungan impuritas (impurity)
Pengujian impuritas dapat dilakukan melalui uji kuantitatif atau uji
batas impuritas dalam sampel. Masing-masing pengujian tersebut
bertujuan merefleksikan secara tepat karakteristik kemurnian
sampel. Karakteristik validasi yang lain diperlukan untuk uji
kuantitatif dibanding untuk uji batas impuritas.
c. Uji batas impuritas
d. Uji kuantitatif zat aktif dalam sampel bahan aktif obat atau obat atau
komponen tertentu dalam obat
Prosedur penetapan kadar bertujuan untuk menentukan kadar analit
dalam sampel. Dalam hal ini penetapan kadar menunjukkan
pengukuran komponen utama yang terkandung dalam bahan aktif
obat. Untuk obat, karakteristik validasi yang serupa juga berlaku
untuk penetapan kadar zat aktif atau komponen tertentu.
Karakteristik validasi yang sama juga dapat dilakukan untuk
penetapan kadar yang berkaitan dengan metode analisis lain (misal
uji disolusi).

E. Kriteria Validasi
Kriteria validasi yang umumnya perlu diperhatikan, yaitu akurasi, presisi,
ripitabilitas, intermediate precision, spesivisitas, batas deteksi, batas kuantitasi,
linearitas, dan rentang (CPOB, 2018).
1. Akurasi
Akurasi adalah kesesuaian hasil uji yang didapat dari metode tersebut
dengan nilai yang sebenarnya, dengan kata lain akurasi ukuran ketepatan
dari hasil suatu metode analitik. Akurasi sering dinyatakan sebagai persen
perolehan kembali (recovery) dari suatu pengujian terhadap penambahan
sejumlah analit dengan jumlah yang diketahui, syarat dari perolehan
kembali adalah 95 %-105 % .
2. Presisi
Presisi adalah kedekatan beberapa nilai pengukuran seri sampel yang
homogen pada kondisi normal (sampel yang sama dan diuji secara
berurutan).
3. Ripitabilitas
Dinyatakan sebagai hasil presisi dibawah perlakuan yang sama (analisa dan
alat yang sama) dalam interval waktu pemeriksaan yang singkat.
4. Intermediate Precision
Dilakukan dengan cara mengulang pemeriksaan tersebut dengan
menggunakan alat yang berbeda, hari yang berbeda, analis yang berbeda
dan sebagainya.
5. Spesivisitas
Kemampuan metode analisa untuk membedakan senyawa yang diuji dengan
derivat / metabolitnya atau ukuran spesifisitas metode analisa.
6. Batas Deteksi
Batas deteksi adalah konsentrasi terendah dari analit dalam contoh yang
masih dapat dideteksi atau jumlah analit yang terkecil yang dapat
memberikan respon yang signifikan dibandingkan blanko tanpa adanya
pengaruh dari alat.
7. Batas Kuantitasi
Batas kuantitasi adalah konsentrasi analit yang dapat ditetapkan dengan
presisi / repeatibilitas yang masih dapat diterima pada kondisi pengujian
tertentu. Limit kuantitas adalah parameter penetapan kadar untuk
konsentrasi terendah dari bangunan matrik contoh dan biasanya digunakan
untuk menentukan impurity bagi produk yang tidak bagus.
8. Linearitas
Linieritas adalah kemampuan dari suatu metode uji untuk menghasilkan
hasil uji yang proporsional terhadap kepekatan analit dalam contoh
dalam jangkauan kepekatan tertentu. Lineritas suatu metode dapat
diperoleh dengan memplot hasil uji terhadap kepekatan analit, biasanya
ditetapkan dengan perhitungan garis regresi dengan metode least square
(kuadrat terkecil) dari hasil uji terhadap kepekatan analit. Slope dari garis
regresi terhadap variabel menghasilkan perhitungan matematik dari
linearitas.
9. Rentang
Berkaitan dengan linearitas untuk mengetahui kuantitas yang terukur
proporsional melalui rentang / batas minimum sampai maksimum terhadap
kadar senyawa uji dalam sampel.
(USP, 1995)
F. Langkah Validasi
Langkah-langkah pelaksanaan validasi adalah sebagai berikut :
1. Membentuk komite validasi yang bertanggungjawab terhadap pelaksanaan
validasi di industri farmasi yang bersangkutan.
2. Menyusun Rencana Induk Validasi (RIV), yaitu dokumen yang
menguraikan secara garis besar pedoman pelaksanaan validasi.
3. Membuat dokumen validasi, yaitu prosedur tetap (protap), protokol serta
laporan validasi.
4. Pelaksanaan validasi.
5. Melaksanakan peninjauan periodik, change control dan revalidasi
(Priyambodo, 2007)

G. Dokumen Validasi
Dokumen validasi yang menyajikan informasi mengenai program kerja /
kegiatan validasi dalam industri farmasi secara keseluruhan termasuk jadwal
pelaksanaannya disebut Rencana Induk Validasi (RIV). Dokumen RIV memuat
antara lain :
1. kebijakan validasi.
2. Struktur organisasi kegiatan validasi.
3. Ringkasan fasilitas, sistem, peralatan dan proses yang akan divalidasi.
4. Format dokumen: format protokol dan laporan validasi, perencanaan dan
jadwal pelaksanaan.
5. Pengendalian perubahan.
6. Acuan dokumen yang digunakan.
(CPOB, 2018)
BAB III
PENUTUP

B. Kesimpulan
1. Validasi merupakan suatu tindakan pembuktian dengan cara yang sesuai
bahwa tiap bahan, proses, prosedur, kegiatan, sistem, perlengkapan atau
mekanisme yang digunakan dalam produksi dan pengawasan akan
senantiasa menghasilkan produk yang diinginkan. Kualifikasi adalah suatu
tindakan pembuktian dengan cara sesuai bahwa desain, konstruksi serta
mekanisme kerja suatu alat/sistem sudah tepat sehingga dapat difungsikan
sesuai tujuannya untuk senantiasa memberikan hasil (kinerja) yang
diinginkan.
2. Kualifikasi mesin, peralatan produksi dan sarana penunjang terdiri dari 4
tingkatan, yaitu Kualifikasi Desain (Design Qualification/DQ), Kualifikasi
Instalasi (Installation Qualification/IQ), Kualifikasi Operasional
(Operational Qualification/OQ), dan Kualifikasi Kinerja (Performance
Qualification/PQ).
3. Perawatan/pemeliharaan alat produksi dilakukan sesuai jadwal untuk
mencegah pencemaran yang dapat mempengaruhi identitas, mutu atau
kemurnian produk. Pelaksanaan perawatan dan pemakaian suatu peralatan
utama dicatat dalam buku log alat yang menunjukkan tanggal, waktu,
produk, kekuatan dan nomor setiap bets atau lot yang diolah dengan alat
tersebut. Peralatan umum hendaknya dibersihkan setelah digunakan
memproduksi produk yang berbeda untuk mencegah kontaminasi-silang.
4. Jenis – jenis validasi yaitu validasi prospektif, validasi konkuren, validasi
retrospektif, validasi pembersihan, validasi ulang, dan validasi metode
analisis.
5. Kriteria validasi yang umumnya perlu diperhatikan, yaitu akurasi, presisi,
ripitabilitas, intermediate precision, spesivisitas, batas deteksi, batas
kuantitasi, linearitas, dan rentang.
6. Langkah-langkah pelaksanaan validasi adalah sebagai berikut :
a. Membentuk komite validasi yang bertanggungjawab terhadap
pelaksanaan validasi di industri farmasi yang bersangkutan.
b. Menyusun Rencana Induk Validasi (RIV), yaitu dokumen yang
menguraikan secara garis besar pedoman pelaksanaan validasi.
c. Membuat dokumen validasi, yaitu prosedur tetap (protap), protokol
serta laporan validasi.
d. Pelaksanaan validasi.
e. Melaksanakan peninjauan periodik, change control dan revalidasi
7. Dokumen validasi disebut sebagai Rencana Induk Validasi (RIV) yang
merupakan dokumen yang menyajikan informasi mengenai program kerja /
kegiatan validasi dalam industri farmasi secara keseluruhan termasuk
jadwal pelaksanaannya.
DAFTAR PUSTAKA

BPOM, 2018. Perubahan Atas Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan
Makanan No. HK HK03.1.33.12.12.8195 Tahun 2012 Tentang Penerapan
.

Pedoman Cara Pembuatan Obat yang Baik. Badan Pengawas Obat dan
Makanan Republik Indonesia : Jakarta.
Priyambodo, B., 2007. Manajemen Industri Farmasi. Global Pustaka Utama :
Yogyakarta.
USP, 1995. The United States Pharmacopeia The National Formulary, Twinbrook
ParkWay Rockville : USA.
Uraian tugas anggota kelompok :
Jessica : Bab 2, edit makalah, print, jilid
Cicil : Bab 2
Nella : Bab 3, ppt
Yosefa : Bab 1