Anda di halaman 1dari 4

Tugas Geografi Penduduk

Rengga Permana Putra Januari 2018


PERMASALAHAN KEPENDUDUKAN DI KOTA PADANG

Letak Geografis

Kota Padang terletak dipantai barat pulau Sumatra dan berada antara 0°44'00"- 1°08'35" LS, serta
antara 100°05'05"-100°34'09" BT. Menurut PP No.17 Tahun 1980, Luas Keseluruhan KotaPadang
adalah 694,96 km²; atau setara dengan 1,65 persen dari luas Provinsi Sumatera Barat. Dariluas
tersebut lebih dari 60% nya yaitu ± 434,63 km² merupakan daerah perbukitan yang ditutupihutan
lindung, baru selebihnya merupakan daerah efektif perkotaan. Kota Padang memiliki garispantai
sepanjang 84 km dan pulau kecil sebanyak 19 buah diantaranya yaitu Pulau Sikuai diKecamatan
Bungus Teluk Kabung seluas 38,6 km², Pulau Toran di kecamatan Padang Selatan seluas25 km²,
dan Pulau Pisang Gadang seluas 21,12 km² juga di Kecamatan Padang Selatan. Daerah perbukitan
membentang dibagian timur dan selatan kota. Bukit-bukit yang terkenal di Kota Padangantara lain,
Bukit Lampu, Gunung Padang.

Bukit Gado-Gado, Bukit Pegambiran, dll Wilayah daratan Kota Padang ketinggiannya sangat
bervariasi, yaitu antara 0 m sampai 1.853 m di ataspermukaan laut dengan daerah tertinggi adalah
Kecamatan Lubuk Kilangan. Kota Padang memilikibanyak sungai, yaitu 5 sungai besar dan 16
sungai kecil, dengan sungai terpanjang yaitu Sungai Batang Kandis sepanjang 20 km. Tingkat
curah hujan Kota Padang mencapai rata-rata 405,58 mm per bulan dengan rata-rata hari hujan 17
hari per bulan pada tahun 2003. suhu udaranya cukup tinggi yaitu antara 23°-32° C pada siang hari
dan pada malam hari adalah antara 22°-28° C.

Permasalahan Kota Padang

Permasalahan sampah di Kota Padang cukup membuat wisatawan geleng-geleng kepala. Saat
hujan deras mengguyur beberapa jam saja, tumpukan sampah bakal menyusul terdampar di
sepanjang bibir Pantai Padang.

Lima sungai besar yang bermuara di pesisir Kota Padang, menghanyutkan berton-ton sampah yang
terbawa dari hulu sungai. Jika sudah begitu, Pantai Padang berubah layaknya tempat pembuangan
dengan berbagai jenis sampah ditemukan di sana, mulai dari popok bayi sampai ban bekas.
Musim penghujan dan angin kencang berhasil menghanyutkan sampai dari sungai menuju laut dan
diempaskan lagi ke daratan. Puncaknya, pada pekan kedua Oktober 2017, media massa baik lokal
dan nasional ramai memberitakan kondisi Pantai Padang yang kotor tersebut.

Akibat pengelolaan sampah dan pemeliharaan sungai di kota padang yang kurang baik, maka
menjadi salah satu penyebab terjadinya banjir di kota padang. Selokan serta sungai yang
mendangkal akibat tumpukan sampah tidak mampu lagi menampung curah hujan yang rata-rata
tinggi di kota padang. Perkampungan kumuh dan pencemaran lingkungan adalah salah satu bukti
wujud ketidak beresan pengelolaan Kota dan buruknya tata krama sosial secara massal. Dengan
harapan menjalani kehidupan yang lebih baik, tinggal di kota besar malah membawa ketidak
nyamanan dan ketidak amanan hidup dari waktu ke waktu. Laju pembangunan yang menjanjikan
kesejahteraanharus dibayar mahal dengan penurunan kualitas hidup manusia dan penurunan
kualitas daya dukung lingkungan hidup. Maka menjadi sebuah kemubaziran, karena pengeluaran
ekonomi untuk memenuhi standar kehidupan yang sehat hampir menyamai penghasilan dari jerih
payah meningkatkan laju pembangunan, malah bisa melebihinya.

Memanfaatkan trotoar hanya untuk pejalan kaki. Trotoar selama ini hanya dianggap sebagaia
ksesoris pelengkap jalan raya bagi kenderaan bermotor. Fokus pembangunan kota masih kurang
memperhatikan kepentingan manusiawi bagi kenyamanan dan keselamatan pejalan kaki. Jika
mengamati perlalulintasan kota Padang, banyak trotoar jalan saat ini yang fungsi awalnya untuk
pejalan kaki. Tapi kenyataan di lapangan, trotoar jadi tempat parkir papan reklame yang notabene
hampir menutup jalur trotoar.

Banyak cara menuju Roma. Sama halnya dengan mengatasi kemacetan lalulintas. Seperti
membuka jalan lingkar kota Padang guna mengantisipasi kesemrautan jalan akibat pertumbuhan
volume kendaraan yang tidak sebanding dengan panjang jalan. Jalan lingkar kota dapat
mengurangi jumlah kenderaan yang bertonase besar seperti bus, truck yang hanya melintasi kota
sekedar numpang lewat saja. Melintasnya kendaraan bertonase besar di dalam kota sangat
mengganggu kelancaran aktifitas warga dalam berkendaraan dan membuat pengemudi menjadi
stress, sesak nafas,memerihkan mata dan mengeluarkan suara gaduh. Saat ini kota Padang akan
makin padat. Pembangunan apartemen, hotel dan pusat perbelanjaan juga semakin pesat.

Permasalahan kota-kota besar di Indonesia adalah masalah sampah dan kemacatan lalu
lintas.Permasalahan ini tak pernah habis-habisnya diperbincangkan. Mulai dari program daur
ulangsampah sampai kepada pemisahan sampah organik dan organik. Sama halnya dengan
permasalahanlalulintas, mulai dari perubahan arus lalulintas dari dua jalur menjadi satu jalur,
memberlakukandaerah larangan becak, larangan angkutan umum, AKAD dan AKAP serta upaya-
upaya lainnya.Bila diindentifikasi permasalahan perkotaan yang krusial antara lain; lahan
pekerjaan dan kemiskinan, tata ruang tanah dan permukiman, jumlah kepadatan penduduk,
kesehatan danpendidikan. Tetapi yang tidak kalah pentingnya lagi, kota juga memiliki masalah
yang teramat sulit dipecahkan yakni persoalan transportasi dan lalulintas yang setiap hitungan
detik pula terus berubah-ubah. Bertambahnya volume kendaraan tidak diimbangi dengan kondisi
badan jalan yang terusmenyempit sehingga tetap saja memiliki dampak sosial bagi kelancaran arus
lalu lintas

Kota Padang adalah salah satu kota sekaligus merupakan ibu kota Provinsi Sumatera
Barat,Indonesia. Kota ini adalah pusat perekonomian, pendidikan, kesehatan dan pelabuhan di
SumateraBarat. Saat ini kota Padang sedang berbenah ke arah pembangunan kepariwisataan.
Sumber :

https://nasional.republika.co.id/berita/nasional/daerah/18/02/04/p3m0jk382-mengurai-
permasalahan-sampah-di-kota-padang

https://www.cendananews.com/2018/03/masalah-banjir-di-kota-padang-mulai-temukan-
solusi.html