Anda di halaman 1dari 23

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Di dalam tubuh manusia terdapat sisitem koordinasi yang akan

mengatur agar semua organ dapat bekerja secara serasi. System koordinasi itu

bekerja untuk menerima rangsangan, mengolahnya, dan kemudian

meneruskannya untuk menanggapi rangsangan tadi. Rangsangan merupakan

informasi yang dapat di terima hewan. Informasi tersebut dapat berupa

informasi yang internal maupun yang eksternal. Rangsang eksternal (berasal

dari lingungan di luar tubuh hewan) dapat berupa sasuatu hewan. linitas

(kadar garam), suhu udara, kelembapan, dan cahaya. Sedangkan rangsangn

yang berasal dari dalam tubuh hewan (internal) dapat berupa suhu tubuh,

keasaman (pH) darah/cairan tubuh, kadar gula darah, dan kadar kalsium

dalam darah. Untuk dapat menerima rangsangan dan menghasilkan

tanggapan dengan baik, hewan harus memiliki alat untuk menerima rangsang

dan untuk menghasilkan tanggapan terhadap rangsang yang datang.. alat yang

di gunakan untuk menerima rangsang yang disebut sebagai reseptor yang

sangat bertalian erat dengan system koordinasi yang di miliki oleh semua

makhluk hidup khususnya hewan.

Reseptor atau penerima merupakan suatu struktur yang mampu

mendeteksi rangsangan tertentu yang berasal dari luar atau dari dalam tubuh.

Organ indra kita adalah reseptor (penerima rangsang). Pada indra terdapat

ujung-ujung saraf sensori yang peka terhadap rangsang tertentu. Rangsangan


yang di terima di teruskan melalui serabut sraf sebagai impuls saraf.

Sedangkan efektor merupakan struktur yang melaksanakan aksi sebagai

jawaban terhadap impuls yang datang padanya. Efektor yang penting pada

hewan adalh otot dan kelenjar.

γ-Aminobutyric acid (GABA) adalah neurotransmiter inhibisi utama

pada sistem saraf pusat. GABA berperan penting dalam mengatur exitability

neuron melalui sistem saraf. Pada manusia, GABA juga bertanggung jawab

langsung pada pengaturan tonus otot.

B. Tujuan

Untuk mengetahui mekanisme kerja obat pada reseptor GABA

C. Rumusan Masalah

Bagaimana mekanisme kerja obat pada reseptor GABA?


BAB II

KAJIAN TEORI

A. Reseptor

Informasi mengenai keadaan lingkungan yang dapat di terima hewan

sangat beragam, antara lain suhu, kadar garam, cahaya, kelembapan, dan

tekanan udara. Berkaitan dengan hal tersebut, alat penerima rangsang

(reseptor) yang di miliki hewan juga beragam. Berarti reseptor pada hewan

harus dapat berfungsi untuk menrima berbagai jenis informasi. Reseptor

adalah bagian dari sistem syaraf yang berperan sebagai penerima rangsangan

dan sekaligus sebagai pengubah rangsangan yang diterimanya menjadi impuls

sensoris. Impuls sensoris inilah yang dikirimkan ke Sistem Syaraf Pusat.

Stimulasi pada suatu reseptor merupakan informasi mengenai terjadinya

perubahan dari lingkungan eksternal dan internal tubuh terhadap Sistem

Syaraf Pusat. Selanjutnya, Sistem Syaraf Pusat akan mengolahnya dan

memberikan jawaban berupa pengaturan yang sesuai, sehingga kelestarian

hidup tetap terjamin dan terpelihara kelangsungannya. Stimulus, merupakan

suatu bentuk energi yang banyak ragamnya di alam ini.

Bentuk-bentuk energi tersebut adalah energi mekanis-tekanan, energi

thermis-derajad suhu, energi khemis-bau,rasa, kadar O2 dan kadar CO2,

energi cahaya-gelombang cahaya, energi suara-gelombang suara. Masing-

masing reseptor disesuaikan untuk memberikan respons pada suatu bentuk

energi tertentu. Bentuk energi khusus yang memberikan respons reseptor

paling peka disebut rangsangan adekwat. Reseptor sering kali berada di dalam
suatu wadah yang terbuat dari sel-sel non syaraf, membentuk suatu organ

sensorik (mata,telinga dan lain-lain). Reseptor rasa bagi asam-asam amino

telah diidentifikasi.

Cara berfungsinya reseptor yaitu, apabila suatu jens reseptor menerima

rangsang yang sesuai maka membrane reseptor tersebut akan mengalami

serangkaian pristiwa yang menyebabkan timbulnya potensial aksi pada bagian

tersebut. Potensial aksi yang terbentuk di namakan potensial reseptor atau

potensial local. Dalam hal ini, potensial aksi tidak menjalar ke bagian lainnya.

Namun, jika rangsang yanjg di terima reseptor cukup kuat, potensial reseptor

yang timbul akan lebih besar, makin besar rangsang yang di terima, makin

besar pula potensial local yang di hasilkan, hingga dapat melampaui batas

ambang perangsangan pada membran. Apabila hal ini terjadi, potensial aksi

akan menyebar ke membrane di sebelahnya, hingga ke sel saraf aferen,

bahkan ke membrane sel berikutnya. Dalam keadaan yang demikian, potensial

aksi yang terbentuk pada reseptor di namakan potensial generator. Misalnya

pada mekanoreseptor mempunyai pintu ion yang akan berubah keadaannya,

menjadi terbuka atau tertutup, akibat terjadinya deformasi mekanik pada pintu

ion tersebut.

Deformasi mekanik ialah perubahan bentuk protein penyusun pintu ion

akibat rangsang mekanik, misalnya sentuhan atau peningkatan tekanan. Saat

istirahat, protein penyusun pintu ion memperlihatkan bentuk fisik tertentu

sehingga jalan masuk ion dalam keadaan tertutup. Rangsang mekanik yang

sampai pada reseptor tersebut akan menyebabkan bentuk fisik protein


penyusun pintu ion berubah sedemikian rupa sehingga pintu untuk ion tertentu

akan terbuka. Ketika deformasi mekanik mennghasilkan pembukaan pintu ion

Na+, ion tersebut akan berdifusi ke dalam sel. Hal ini meyebabkan

depolarisasi membrane mekanoreseptor.

Mekanisme timbulnya depolarisasi pada reseptor tersebut sama seperti

yang terjadi pada sel saraf. Supaya dapat memberikan tanggapan yang sesuai

dengna rangsang yang di terimanya misalnya sentuhan, potensi local yang

timbul pada reseptor harus dijalarkan keseluruh bagian system saraf. Dengan

demikian, potensial yang terbentuk pada reseptor harus berupa potensial

generator.

Reseptor nyeri/sakit merupakan reseptor yang menunjukkan kemampuan

beradaptasi tonik. Bagi reseptor nyeri, kemampuan beradaptasi tonik

merupakan hal yang penting karena timbulnya rasa sakit merupakan

tanggapan yang bertujuan untuk melinddungi tubuh. Apabila reseptor nyeri

memperlihatkan gejala adaptasi fasik, hewan terancam bahaya yang besar

karena tidak akan berusaha menghindari rangsanng tersebut. Padahal,rangsang

yang menyakitkan pada umumnya berpotensi menimbulkan kerusakan. Oleh

karena itu, jelas bahwa gejala adaptasi tonik pada reseptor nyeri sangat

menguntungkan hewan.

B. Reseptor GABA

γ-Aminobutyric acid (GABA) adalah neurotransmiter inhibisi utama

pada sistem saraf pusat. GABA berperan penting dalam mengatur exitability
neuron melalui sistem saraf. Pada manusia, GABA juga bertanggung jawab

langsung pada pengaturan tonus otot.

GABA dibentuk dari dekarboksilasi glutamat yang dikatalis oleh

glutamate decarboxylase (GAD).GAD umumnya terdapat dalam akhiran

saraf. Aktivitas GAD membutuhkan pyridoxal phosphate (PLP) sebagai

kofaktor. PLP dibentuk dari vitamin B6 (pyridoxine, pyridoxal, and

pyridoxamine) dengan bantuan pyridoxal kinase. Pyridoxal kinase sendiri

membutuhkan zinc untuk aktivasi. Kekurangan pyridoxal kinase atau zinc

dapat menyebabkan kejang, seperti pada pasien preeklamsi.Reseptor GABA

dibagi dalam dua jenis: GABAA dan GABAB. Reseptor GABAA membuka

saluran florida dan diantagonis oleh pikrotoksin dan bikukulin, yang

keduanya dapat mnimbulkan konvulsi umum.


BAB III

PEMBAHASAN

A. Reseptor

Reseptor atau alat penerima rangsangan merupakan suatu struktur yang

yang mampu mendeteksi rasangan tertentu yang berasal dari luar atau dari

dalam tubuh. Pada hewan vertebrata, organ indranya merupakan reseptor atau

penerima rangsangan. Pada organ indra ini terdapatujung-ujung saraf sensori

yang peka terhadap rangsangan tertentu. Rangsangan yang diterima

diteriskan melalui serabut saraf sebagai inpuls.

Reseptor yang berupa saraf sensorik dapat mengubah bentuk energi

menjadi bentuk energi lain (transduser) misalnya jika efektor menerima

energi maka energi tersebut akan mengalami perubahan elektro kimia

menjadi energi listrik dan menimbulkan potensial aksi. Ketika yang diterima

rangsangan kecil, potensial aksi hanya cukup berubah menjadi potensial

reseptor tetapi jika yang diterima merupakan rangsangan besar maka

potensial aksi akan berubah menjadi potensial reseptor besar kemudian

pindah ke membran sebelahnya lalu menuju ke sel saraf eferen. Selain pindah

ke membran sel saraf sebelahnya, potensial reseptor yang besar ini pula

mindah ke membran sel yang lainnya. Potensial reseptor yang besar ini dapat

menimbulkan potensial generator.

Cara kerja reseptor misalnya pada mekanoreseptor. Mekanoresepor

memiliki pintu ion yang dapat terbuka dan tertutup yang dipengaruhi oleh

deportasi mekanik, yaitu perubahan bentuk protein penyusun pintu ion akibat
rangsang mekanik, misalnya sentuhan atau peningkatan tekanan sehimgga

bentuk fisik protein penyusun pintu ion berubah sedemikian rupa sehingga

pintu untuk ion tertentu akan terbuka. Adanya rangsangan dan tanggapan

yang memilki hubungan yang rumit dan erat tetapi menibulkan kekuatan

tanggapan yang berbeda dengan kekuatan rangsangan yang diterima

menciptakan terjadinya perbedaan kemampuan reseptor beradaptasi terhadap

rangsang. Adaptasi rangsangan dibedakan menjadi dua jenis, yaitu adaptasi

fisik (reseptor beradaptasi dengan cepat) dan adaptasi tonik (reseptor

beradaptasi sangat lambat).

B. Reseptor GABA

γ-Aminobutyric acid (GABA) adalah neurotransmiter inhibisi utama

pada sistem saraf pusat. GABA berperan penting dalam mengatur exitability

neuron melalui sistem saraf. Pada manusia, GABA juga bertanggung jawab

langsung pada pengaturan tonus otot.

GABA dibentuk dari dekarboksilasi glutamat yang dikatalis oleh

glutamate decarboxylase (GAD).GAD umumnya terdapat dalam akhiran saraf.

Aktivitas GAD membutuhkan pyridoxal phosphate (PLP) sebagai kofaktor.

PLP dibentuk dari vitamin B6 (pyridoxine, pyridoxal, and pyridoxamine)

dengan bantuan pyridoxal kinase. Pyridoxal kinase sendiri membutuhkan zinc

untuk aktivasi. Kekurangan pyridoxal kinase atau zinc dapat menyebabkan

kejang, seperti pada pasien preeklamsi. Reseptor GABA dibagi dalam dua

jenis: GABAA dan GABAB. Reseptor GABAA membuka saluran florida dan
diantagonis oleh pikrotoksin dan bikukulin, yang keduanya dapat mnimbulkan

konvulsi umum.

Reseptor GABAB yang secara selektif dapat diaktifkan oleh obat anti

spastik baklofen, tergabung dalam saluran kalium dalam membran

pascasinaps. Pada sebagian besar daerah otak IPSP terdiri atas komponen

lambat dan cepat. Bukti-bukti menunjukkan bahwa GABA adalah transmiter

penghambat yang memperantarai kedua componen tersebut. IPSP cepat

dihambat oleh antagonis GABAA, sedangkan IPSP lambat oleh antagonis

GABAB. Penelitian imunohistokimia menunjukkan bahwa sebagian besar dari

saraf sirkuit local mensintesis GABA. Satu kelompok khusus saraf dari sirkuit

local terdapat di tanduk dorsal sumsum tulang belakang juga menghasilkan

GABA. Saraf-saraf ini membentuk sinaps aksoaksonik dengan terminal saraf

sensoris primer dan bekerja untuk inhibisi presinaps.

Pada vertebrata, GABA berperan dalam inhibisi sinaps pada otak

melalui pengikatan terhadap reseptor spesifik transmembran dalammembran

plasma pada proses pre dan post sinaps. Pengikatan ini menyebabkan

terbukanya saluran ion sehingga ion klorida yang bermuatan negatif masuk

kedalam sel dan ion kalium yang bermuatan positif keluar dari sel. Akibatnya

terjadi perubahan potensial transmembran, yang biasanya menyebabkan

hiperpolarisasi. Reseptor GABAA merupakan reseptor inotropik yang

merupakan saluran ion itu sendiri, sedangkan Reseptor GABAB merupakan

reseptor metabotropik yang membuka saluran ion melalui perantara G protein

(G protein-coupled reseptor). Neuron-neuron yang menghasilkanyang


menghasilkan GABA disebut neuron GABAergic. Sel medium spiny

merupakan salahsatu contoh sel GABA ergic

GABAA merupakan reseptor ionotropik yang terkait dengan kanal Cl-

dan memperantarai penghambatan sinaptik yang cepat. Aktivasi pada reseptor

GABAA mengakibatkan peningkatan permeabilitas ion klorida ke dalam sel.

Setelah itu kondisi dalam sel berubah menjadi hiperpolarisasi sehingga

akhirnya mengakibatkan penurunan eksitabilitas atau aktivasi sel.

Reseptor GABAA termasuk dalam superfamili kanal ion yang

mempunyai gerbang ligand. Ia terdiri dari beberapa subunit-α, β, γ, dan δ,

yang membentuk kompleks kanal GABA/Cl- , dan juga target-target reseptor

modulatif untuk benzodiazepine dan barbiturate. Target GABA tampaknya

terletak di subunit- α dan β, sementara target modulatif untuk benzodiazepine

adalah lain dan terletak di subunit-γ. Reseptor GABAA terdiri dari beberapa

ligan, yaitu:

 Tempat ikatan GABAA,

 Kanal Cl-,

 Sisi modulator reseptor,

 Sisi modulator kanal Cl-.

Reseptor ini merupakan neurotransmitter inhibitor utama di otak.

Sehingga aksinya nanti adalah depresi CNS. Si reseptor GABA ini unik, karena

dia memiliki banyak tempat untuk berikatan dengan berbagai zat. Sisi aktifnya

untuk berikatan dengan GABA disebut ortosterik, sedangkan untuk berikatan

dengan senyawa lain disebut allosterik, antara lain terdapat benzodiazepin site,
barbiturat site, dan steroid site. Selain itu, etanol juga bisa berikatan di reseptor

GABA sehingga menyebabkan depresi CNS. Reseptor GABA ini terkait dengan

kanal Cl. Mekanisme yang terjadi pada reseptor ini :

GABA lepas dari ujung saraf --> berikatan dengan reseptor GABA -->

membuka kanal Cl --> Cl masuk --> hiperpolarisasi --> penghambatan

transmisi saraf --> depresi CNS

Hal ini dimanfaatkan sebagai strategi-strategi untuk memanipulasi si reseptor

GABA ini. Misalnya obat-obat golongan benzodiazepin, akan meningkatkan

afinitas reseptor terhadap GABA sehingga pembukaan kanal Cl lebih lama,

depresi CNS yang terjadi juga lebih lama dan besar. Begitu juga mekanisme yang

terjadi pada obat golongan barbiturat. Contoh orang yang terkena epilepsy, karena

tidak ada yang menekan sistem sarafnya, akibatnya ketika terjadi aktivasi, respon

yang diberikan pun berlebihan sehingga terjadi konvulsan *kejang*. Terapi yang

bisa diberikan salah satunya adalah dengan meningkatkan GABA, yaitu

meningkatkan GAD (enzim yang mengubah glutamat menjadai GABA) dengan

contoh obat gabapentin, menghambat reuptake GABA dengan contoh obat


tiagabin, atau dengan menghambat GABA transaminase sehingga GABA tidak

diubah menjadi metabolitnya, contoh obatnya vigabatrin.

GABA tidak hanya sebagai inhibitor di otak tetapi juga membantu dalam

produksi endorfin yang memberikan rasa kesejahteraan. GABA ini dihasilkan

melalui siklus krebs yaitu pada jaringan syaraf, di mana alpha ketoglutarat diubah

menjadi glutamate kemudian menjadi GABA. GABA disintesis dari glutamat

dengan bantuan enzim glutamic acid decarboxylase (GAD), dan didegradasi oleh

GABA-transaminase. Penghambatan enzim-enzim ini sangat berperan pada

pengobatan epilepsi, dimana pada penderita epilepsi mengalami kekurangan

GABA. Karena tidak ada yang menekan sistem sarafnya, akibatnya ketika terjadi

aktivasi, respon yang diberikan pun berlebihan sehingga terjadi konvulsan atau

kejang. Terapi yang bisa diberikana salah satunya adalah dengan meningkatkan

GABA, yaitu meningkatkan GAD (enzim yang mengubah glutamat menjadai

GABA), contohnya obat gabapentin, menghambat reuptake GABA atau dengan

menghambat GABA transaminase sehingga GABA tidak diubah menjadi

metabolitnya, contoh obatnya vigabatrin.

Adanya berbagai site pada reseptor ini dimanfaatkan sebagai strategi-

strategi untuk memanipulasi reseptor GABA. Misalnya obat-obat golongan

benzodiazepin, akan meningkatkan afinitas reseptor terhadap GABA sehingga

pembukaan kanal Cl lebih lama, begitu pula mekanisme yang terjadi pada obat

golongan barbiturat.

Pengikatan GABA (asam gamma amino butirat) ke reseptornya pada

membran sel akan membuka saluran klorida, meningkatkan efek konduksi


klorida. Aliran ion klorida yang masuk menyebabkan hiperpolarisasi lemah

menurunkan potensi postsinaptik dari ambang letup dan meniadakan

pembentukan kerja-potensial. Benzodiazepin terikat pada sisi spesifik dan

berafinitas tinggi dari membran sel, yang terpisah tetapi dekat reseptor GABA.

Reseptor benzodiazepin terdapat hanya pada SSP dan lokasi nya sejajar dengan

neuron GABA. Pengikatan benzodiazepin memacu afinitas reseptor GABA untuk

neurotansmitter yang bersangkutan, sehingga saluran klorida yang berdekatan

lebih sering terbuka keadaan tersebut akan memacu hiperpolarisasi dan

menghambat letupan neuron [ catatan : benzodiazepin dan GABA secara bersama-

sama akan meningkatkan afinitas terhadap sisi sisi ikatan nya tanpa perubahan

jumlah total sisi tersebut ]. Efek klinis berbagai benzodiazepin tergantung afinitas

ikatan obat masing-masing pada kompleks ikatan ion, yaitu kompleks GABA

reseptor dan klorida. Barbiturat barangkali mengganggu transpor natrium dan

kalium melewati membran sel. Ini mengakibatkan inhibisi aktivitas sistem

retikular mesensefalik. Transmisi polisinaptik SSP dihambat . Barbiturat juga

meningkatkan fungsi GABA memasukkan klorida ke dalam neuron, meskipun

obatnya tidak terikat pada reseptor benzodiazepine.

C. Contoh golongan obar yang bekerja pada reseptor GABA

Obat-obat yang bekerja untuk system saraf pusat (SSP) merupakan salah

satu yang pertama ditemukan manusia primitive dan masih dipergunakan

secara luas sebagai zat farmakologi. Obat-obat SSP bekerja pada resptor

khusus yang mengatur transmisi sinaps dan merupakan alat paling penting
untuk mempelajari aspek fisiologi SSP mulai dari terjadinya bangkitan

sampai pada penympanan memori jangka panjang.

Neurotransmiter adalah bahan kimia endogen yang mengirimkan sinyal

dari neuron ke sel target di sinapsis. Neurotransmitter yang dikemas kedalam

vesikel sinaptik berkerumun dibawah membran di sisi presinaptik sinaps dan

dilepaskan ke dalam celas sinaptik, dimana mereka mengikat pada reseptor

di membran pada postsinaptik dari sinaps.

Neurotransmiter merupakan senyawa kimia pembawa pesan yang

meneruskan informasi elektrik dari sebuah neuron ke neuron lain atau sel

efektor. Sifat neurotransmitter adalah sebagai berikut:

• Disintesis di neuron presinaps

• Disimpan di vesikel dalam neuron presinaps

• Dilepaskan dari neuron di bawah kondisi fisiologis

• Segera dipindahkan dari sinaps melalui uptake atau degradasi

• Berikatan dengan reseptor menghasilkan respon biologis.


Mekanisme kerja obat Golongan Benzodiazepin (benzodiazepam)

GABA sendiri akan menyebabkan pembukaan reseptor post sinaptik yaitu pada

reseptor GABA-A. Pembukaan tersebut akan menyebabkan ion Cl- masuk ke sel

dan terjadi hiperpolarisasi. Tapi saat dikasih obat seperti benzodiazepin maka

afinitas GABA ke reseptornya meningkat. Pembukaan kanal ion akan lebih sering

dan ion Cl- akan lebih sering masuk ke sel, akibatnya menimbulkan ngantuk.

Benzodiazepin

 Pengertian

Benzodiazepin adalah sekelompok obat golongan psikotropika yang

mempunyai efek antiansietas atau dikenal sebagai minor tranquilizer, dan

psikoleptika. Benzodiazepin memiliki lima efek farmakologi sekaligus,

yaitu anxiolisis, sedasi, anti konvulsi, relaksasi otot melalui medula

spinalis, dan amnesia retrograde. Benzodiazepin dikembangkan pertama

kali pada akhir tahun 1940-an dengan derivat pertama kali yang

dipasarkan adalah klordiazepoksid (semula dinamakan

methaminodiazepokside) pada tahun 1960, kemudian dilakukan


biotransformasi menjadi diazepam (1963), nitrazepam (1965), oksazepam

(1966), medazepam (1971), lorazepam (1972), klorazepat (1973),

flurazepam (1974), temazepam (1977), triazolam dan clobazam (1979),

ketazolam (1980), lormetazepam (1981), flunirazepam, bromazepam,

prazepam (1982), dan alprazolam (1983). Golongan Benzodiazepin

menggantikan penggunaan golongan Barbiturat yang mulai

ditinggalkan, Keunggulan benzodiazepine dari barbiturate yaitu rendahnya

tingkat toleransi obat, potensi penyalahgunaan yang rendah, margin dosis

aman yang lebar, dan tidak menginduksi enzim mikrosom di

hati. Benzodiazepin telah banyak digunakan sebagai pengganti barbiturat

sebagai premedikasi dan menimbulkan sedasi pada pasien dalam

monitorng anestesi.

 Penggolongan Benzodiazepin

Berdasarkan kecepatan metabolismenya dapat dibedakan menjadi 3

kelompok yaitu short acting, long acting, ultra short acting.

1) Long acting.

Obat-obat ini dirombak dengan jalan demetilasi dan hidroksilasi

menjadi metabolit aktif (sehingga memperpanjang waktu kerja) yang

kemudian dirombak kembali menjadi oksazepam yang dikonjugasi

menjadi glukoronida tak aktif.

2) Short acting

Obat-obat ini dimetabolisme tanpa menghasilkan zat aktif.

Sehingga waktu kerjanya tidak diperpanjang. Obat-obat ini jarang


menghasilkan efek sisa karena tidak terakumulasi pada penggunaan

berulang.

3) Ultra short acting

Lama kerjanya sangat kurang dari short acting. Hanya kurang dari

5,5 jam. Efek abstinensia lebih besar terjadi pada obat-obatan jenis ini.

Selain sisa metabolit aktif menentukan untuk perpanjangan waktu kerja,

afinitas terhadap reseptor juga sangant menentukan lamanya efek yang

terjadi saat penggunaan

 Rumus Kimia Benzodiazepin

Benzodiazepin adalah obat hipnotik-sedatif terpenting. Semua

struktur yang ada pada benzodiazepine menunjukkan 1,4-benzodiazepin.

Kebanyakan mengandung gugusan karboksamid dalam dalam struktur

cincin heterosiklik beranggota 7. Substituen pada posisi 7 ini sangat

penting dalam aktivitas hipnotik-sedatif.

 Mekanisme Kerja Golongan Benzodiazepin

Efek farmakologi benzodiazepine merupakan akibat aksi gamma-

aminobutyric acid (GABA) sebagai neurotransmitter penghambat di otak.

Benzodiazepine tidak mengaktifkan reseptor GABA A melainkan

meningkatkan kepekaan reseptor GABA A terhadap neurotransmitter

penghambat sehingga kanal klorida terbuka dan terjadi hiperpolarisasi

sinaptik membran sel dan mendorong post sinaptik membran sel tidak

dapat dieksitasi.
BDZs tidak menggantikan GABA, yang mengikat pada alpha sub-

unit, tetapi meningkatkan frekuensi pembukaan saluran yang mengarah

ke peningkatan konduktansi ion klorida dan penghambatan potensial

aksi. Hal ini menghasilkan efek anxiolisis, sedasi, amnesia retrograde,

potensiasi alkohol, antikonvulsi dan relaksasi otot skeletal.

 Farmakodinamik

Hampir semua efek benzodiazepine merupakan hasil kerja

golongan ini pada SSP dengan efek utama : sedasi, hypnosis, pengurangan

terhadap rangsangan emosi/ansietas, relaksasi otot, dan anti konvulsi.

Hanya dua efek saja yang merupakan kerja golongan ini pada jaringan

perifer : vasodilatasi koroner (setelah pemberian dosis terapi golongan

benzodiazepine tertentu secara iv), dan blokade neuromuskular (yang

hanya terjadi pada pemberian dosis tinggi).

 Farmakokinetik

Sifat fisikokimia dan farmakokinetik benzodiazepine sangat

mempengaruhi penggunaannya dalam klinik karena menentukan lama

kerjanya. Semua benzodiazepine dalam bentuk nonionic memiliki

koefesien distribusi lemak : air yang tinggi; namun sifat lipofiliknya daoat

bervariasi lebih dari 50 kali, bergantung kepada polaritas dan

elektronegativitas berbagai senyawa benzodiazepine. Semua

benzodiazepin pada dasarnya diabsorpsi sempurna, kecuali klorazepat;

obat ini cepat mengalami dekarboksilasi dalam cairan lambung menjadi N-

desmetil-diazepam (nordazepam), yang kemudian diabsorpsi


sempurna. Setelah pemberian per oral, kadar puncak benzodiazepin

plasma dapat dicapai dalam waktu 0,5-8 jam. Kecuali lorazepam, absorbsi

benzodiazepin melalui suntikan IM tidak tratur.

Secara umum penggunaan terapi benzodiazepine bergantung

kepada waktu paruhnya, dan tidak selalu sesuia dengan indikasi yang

dipasarkan. Benzodiazepin yang bermanfaat sebagai antikonvulsi harus

memiliki waktu paruh yang panjang, dan dibutuhkan cepat masuk ke

dalam otak agar dapat mengatasi status epilepsi secara cepat.

Benzodiazepin dengan waktu paruh yang pendek diperlukan sebagai

hipnotik, walaupun memiliki kelemahan yaitu peningkatan

penyalahgunaan dan dan berat gejala putus obat setelah penggunaannya

secara kronik. Sebagai ansietas, benzodiazepine harus memiliki waktu

paruh yang panjang, meskipun disertai risiko neuropsikologik disebabkan

akumulasi obat.
BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan

γ-Aminobutyric acid (GABA) adalah neurotransmiter inhibisi

utama pada sistem saraf pusat. GABA berperan penting dalam mengatur

exitability neuron melalui sistem saraf. Pada manusia, GABA juga

bertanggung jawab langsung pada pengaturan tonus otot.

Mekanisme kerjanya yaitu GABA sendiri akan menyebabkan

pembukaan reseptor post sinaptik yaitu pada reseptor GABA-A.

Pembukaan tersebut akan menyebabkan ion Cl- masuk ke sel dan terjadi

hiperpolarisasi. Tapi saat dikasih obat seperti benzodiazepin maka afinitas

GABA ke reseptornya meningkat. Pembukaan kanal ion akan lebih sering

dan ion Cl- akan lebih sering masuk ke sel, akibatnya menimbulkan

ngantuk.

Contoh obat : Efek farmakologi benzodiazepine merupakan akibat

aksi gamma-aminobutyric acid (GABA) sebagai neurotransmitter

penghambat di otak. Benzodiazepine tidak mengaktifkan reseptor

GABA A melainkan meningkatkan kepekaan reseptor GABA A terhadap

neurotransmitter penghambat sehingga kanal klorida terbuka dan terjadi

hiperpolarisasi sinaptik membran sel dan mendorong post sinaptik

membran sel tidak dapat dieksitasi.

BDZs tidak menggantikan GABA, yang mengikat pada alpha sub-

unit, tetapi meningkatkan frekuensi pembukaan saluran yang mengarah


ke peningkatan konduktansi ion klorida dan penghambatan potensial

aksi. Hal ini menghasilkan efek anxiolisis, sedasi, amnesia retrograde,

potensiasi alkohol, antikonvulsi dan relaksasi otot skeletal.

B. Saran

Berdasarkan makalah yang kami buat, kami rasa sudah cukup baik.

Apabila ada kritik dan saran yang membangun, kami siap menerima dan

berterima kasih.
DAFRTAR PUSTAKA

Anxiolitik, http://konsultasimedika.blogspot.com/2009/05/parkinson-kecemasan-

dan-anxiolitik.html, diakses pada tanggal 23 Desember 2012.

Gery Schmitz, dkk. (2009). Farmakologi dan Toksikologi. EGC. Jakarta.

Goodman & Gillman (2007). Dasar Farmakologi dan Terapi ed. 10. Jakarta:

EGC.

Guyton and Hall. (1998). Fisiologi Kedokteran. EGC. Jakarta.

http://dewi-sartika-sinaga.blogspot.com/2013/04/neurotransmitter.html

http://explore-3p.blogspot.com/2012/01/macam-macam neurotransmitter.html

Ikawati, Zullies, Ph.D., Apt., 2008, Pengantar Farmakologi Molekuler, Gadjah

Mada University Press, Yogyakarta.

Katzung, G Betram. (1997). Farmakologi Dasar dan Klinik. Edisi VI. Jakarta :

EGC.

Nugroho, Agung Endro, Dr., M.Si., Apt., 2012, Prinsip Aksi dan Nasib Obat

Dalam Tubuh, Pustaka Pelajar, Yogyakarta.


MAKALAH FARMAKOLOGI MOLEKULER

“MEKANISME KERJA OBAT PADA RESEPTOR”

OLEH

KELOMPOK 4

KARMILA WATI F1F1 12 105

KARTINI KULUHU F1F1 12 106

KIKI RESKIYANTI F1F1 12 107

LA ODE SUJANA RAMADHAN F1F1 12 109

JURUSAN FARMASI

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS HALU OLE

KENDARI

2015