Anda di halaman 1dari 26

1

MAKALAH FARMAKOLOGI MOLEKULER

RESEPTOR GLUKOKOTIKOID & RESEPTOR


ESTROGEN

OLEH :

I MADE SATRIA BINAWA ALIT(F1F1 12 135)

WISDAYANTI NUR FATMA I. (F1F1 12 132)

WA ODE NUR BADRIYAH (F1F1 12 131)

MISRA FEBRIANTI (F1F1 12 134)

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS HALU OLEO

KENDARI

2015
2

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Reseptor intraseluler atau nuclear receptor (NR) adalah adalah

kelas reseptor yang diaktifkan ligan faktor transkripsi yang akan

menghasilkan up atau down regulasi ekspresi gen. Ligan yang yang

berikatan dengan reseptor intraseluler biasanya berbobot molekul rendah

<1000 dalton, bersifat lipofilik sehingga dapat menembus membran dengan

mudah.

Glukokortikoid adalah golongan hormon steroid yang memberikan

pengaruh terhadap metabolisme nutrisi. Penamaan glukokortikoid glukosa +

korteks + steroid menunjukkan keberadaan golongan ini sebagai regulator

glukosa yang disintensis pada korteks adrenal dan mempunyai

struktur steroid. Hormon golongan glukokortikoid mengaktivasi

konversi protein menjadi glukosa melalui lintasan glukoneogenesis di dalam

hati dan menstimulasi konversi lebih lanjut menjadi glikogen.

Glukokortikoid juga merupakan hormon steroid dari kelas

kortikosteroid, yang memiliki kapasitas untuk membinasakan limfosit,

mengembangkan timosit dan menginduksi apoptosis, sehingga sering

digunakan untuk penanganan peradangan sepertiartritis, collagen vascular

diseases, radang paru dan asma, beberapa jenis radang hati,beberapa

penyakit kulit dan granulomatous diseases, sub-akut tiroiditis dan

amiodarone-associated thyroiditis. Hormon ini berperan pada banyak sistem


3

fisiologis pada tubuh, misalnya tanggapan terhadap stres, tanggapan sistem

kekebalan tubuh, dan pengaturan inflamasi, metabolisme karbohidrat,

pemecahan protein, kadar elektrolit darah, serta tingkah laku.

Estrogen adalah hormon seks yang umumnya diproduksi oleh

rahim wanita yang merangsang pertumbuhan organ seks anak perempuan,

seperti halnya payudara dan rambut kelamin, dikenal sebagai karakteristik

seks sekunder. Hormon estrogen adalah hormon seks yang diproduksi oleh

rahim untuk merangsang pertumbuhan organ seks, seperti; payudara dan

rambut pubik; mengatur siklus menstruasi. Hormon Estrogen juga

merupakan hormon steroid kelamin karena memiliki struktur kimia

berintikan steroid dan secara fisiologik sebagian besar diproduksi oleh

kelenjar endokrin sistem reproduksi. Hormon ini dihasilkan oleh Folikel

Graaf. Pembentukan estrogen dirangsang oleh FSH.

1.2 Rumusan Masalah


Rumusan masalah dari makalah ini yaitu:
1. Apa yang dimaksud dengan reseptor glukokortikoid dan reseptor

estrogen?
2. Bagimana mekanisme kerja obat reseptor glukokortikoid dan reseptor

estrogen?
1.3 Tujuan
Tujuan dari makalah ini yaitu:
1. Untuk mengetahui pengertian dari reseptor glukokortikoid dan reseptor

estrogen.
2. Untuk mengetahui mekanisme kerja obat reseptor glukokortikoid dan

reseptor estrogen.
1.4 Manfaat
Manfaat dari makalah ini yaitu:
4

1. Agar mahasiswa dapat mengetahui pengertian dari reseptor

glukokortikoid dan reseptor estrogen.


2. Agar mahasiswa dapat mengetahui mekanisme kerja obat reseptor

glukokortikoid dan reseptor estrogen.


5

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Glukokortikoid Secara Umum

Kortikosteroid adalah hormon yang dihasilkan oleh korteks

adrenal. Hormon ini dapat mempengaruhi volume dan tekanan darah, kadar

gula darah, otot dan resistensi tubuh. Berbagai jenis kortikosteroid sintetis

telah dibuat dengan tujuan utama untuk mengurangi aktivitas mineral

kortikoidnya dan meningkatkan aktivitas antiinflamasinya, misalnya

deksametason yang mempunyai efek antiinflamasi 30 kali lebih kuat dan

efek retensi natrium lebih kecil dibandingkan dengan kortisol.

Kortikosteroid dibagi menjadi 2 kelompok berdasarkan atas

aktivitas biologis yang menonjol darinya, yakni glukokortikoid (contohnya

kortisol) yang berperan mengendalikan metabolisme karbohidrat, lemak,

dan protein, juga bersifat anti inflamasi dengan cara menghambat pelepasan

fosfolipid, serta dapat pula menurunkan kinerja eosinofil. Kelompok lain

dari kortikosteroid adalah mineralokortikoid (contohnya aldosteron), yang

berfungsi mengatur kadar elektrolit dan air, dengan cara penahanan garam di

ginjal. Beberapa kortikosteroid menunjukkan kedua jenis aktivitas tersebut

dalam beberapa derajat, dan lainnya hanya mengeluarkan satu jenis efek.

Glukokortikoid adalah golongan hormon steroid yang memberikan

pengaruh terhadap metabolisme nutrisi. Penamaan glukokortikoid glukosa +

korteks + steroid menunjukkan keberadaan golongan ini sebagai regulator


6

glukosa yang disintensis pada korteks adrenal dan mempunyai struktur

steroid.

Hormon golongan glukokortikoid mengaktivasi konversi protein

menjadi glukosa melalui lintasan glukoneogenesis di dalam hati dan

menstimulasi konversi lebih lanjut menjadi glikogen. Peningkatan senyawa

nitrogen pada urin yang terjadi setelah peningkatan glukokortikoid

merupakan akibat dari mobilisasi asam amino dari protein yang mengalami

reaksi proteolitik dan adanya senyawa karbon yang terjadi sepanjang

lintasan glukoneogenesis.

Glukokortikoid juga merupakan hormon steroid dari kelas

kortikosteroid, yang memiliki kapasitas untuk membinasakan limfosit,

mengembangkan timosit dan menginduksi apoptosis, sehingga sering

digunakan untuk penanganan peradangan seperti artritis, collagen vascular

diseases, radang paru dan asma, beberapa jenis radang hati, beberapa

penyakit kulit dan granulomatous diseases, sub-akut tiroiditis dan

amiodarone-associated thyroiditis.
7

Glukokortikoid, mendapat nama tersebut karena mereka

menunjukkan efek penting yang meningkatkan konsentraasi glukosa darah.

Akan tetapi, glukokortikoid mempunyai efek tambahan pada metabolisme

protein dan lemak yang mungkin sama pentingnya dalam fungsi tubuh

seperti efeknya pada metabolisme karbohidrat.

Hormon golongan glukokortikoid mengaktivasi konversi protein

menjadi glukosa melalui lintasan glukoneogenesis di dalam hati dan

menstimulasi konversi lebih lanjut menjadi glikogen. Peningkatan senyawa

nitrogen pada urin yang terjadi setelah peningkatan glukokortikoid

merupakan akibat dari mobilisasi asam amino dari protein yang mengalami

reaksi proteolitik dan adanya senyawa karbon yang terjadi sepanjang

lintasan glukoneogenesis.

Sedangkan pada metabolisme lipid, glukokortikoid memberikan 2

efek regulasi. Efek yang pertama adalah redistribusi senyawa lipid dan yang

kedua adalah aktivasi senyawa lipolitik. Dosis tinggi glukokrtikoid seperti

yang terjadi pada hiperkortisisme akan menyebabkan senyawa lipid

bergerak menuju upper trunk dan wajah. Hal ini diperkirakan berkaitan

dengan jumlah pencerap glukosa yang terdapat pada adiposit. Sel lemak

yang memiliki jumlah pencerap GLUT lebih banyak, akan merespon kadar

glukokrtikoid yang tinggi dengan menurunkan absorpsi glukosa sehingga

tidak terjadi penimbunan trigliserida. Sedang sel dengan pencerap lebih

sedikit lebih tidak terpengaruh oleh kadar glukokrtikoid sehingga lebih

responsif terhadap insulin dan menyebabkan penumpukan glukosa dan


8

trigliserida. Mobilisasi lipid dari tumpukan glukosa/trigliserida distimulasi

oleh hormon adrenalin dengan aktivasi GC.

Khasiat glukokortikoid adalah sebagai anti radang setempat, anti-

proliferatif, dan imunosupresif. Melalui proses penetrasi, glukokortikoid

masuk ke dalam inti sel-sel lesi, berikatan dengan kromatin gen tertentu,

sehingga aktivitas sel-sel tersebut mengalami perubahan. Sel-sel ini dapat

menghasilkan protein baru yang dapat membentuk atau menggantikan sel-

sel yang tidak berfungsi, menghambat mitosis (anti- proliferatif), bergantung

pada jenis dan stadium proses radang. Glukokotikoid juga dapat

mengadakan stabilisasi membran lisosom, sehingga enzim-enzim yang

dapat merusak jaringan tidak dikeluarkan. Glukokortikoid topikal adalah

obat yang paling banyak dan tersering dipakai.


9

2.2 Jenis Obat-Obatan Golongan Glukokortikoid


Beberapa jenis obat-obatan golongan glukokortikoid, yaitu :
a. BENOSON®Bernofarm

Komposisi : Betametason
Indikasi : RA, poliarthritis nodosa, lupus eritematosus,
dermatomikosis, keadaan-keadaan alergi.
Dosis : 0,5-9 mg/hari
Kontra Indikasi : Tukak peptik, osteoporosis, psikosis,
psikoneurosis berat, tbc aktif/tenang, infeksi
akut, vaksin hidup.
Perhatian : Hipertensi, payah jantung kongestif, DM,
penyakit infeksi, gagal ginjal kronik, uremia,
lansia, kehamilan.
Efek Samping : Retensi cairan dan garam, edema, hipertensi,
amenorea, hiperhidrosis, gangguan mental,
pankreatitis akut, osteonekrosis aseptik,
kelemahan otot, keadaan intraokular, gangguan
penglihatan, atrofi lokal, nafsu makan
bertambah, retardasi pertumbuhan.
Mekanisme Kerja : Obat dapat mengurangi aktivitas dan volume
limfatik, menghasilkan limpositopenia,
menurunkan konsentrasi imunologi reaktivitas
jaringan interaksi antigen-antibodi sehingga
menekan respon imun.
10

Betametason juga menstimulasi sel-sel eritroid


dari sumsum tulang; memperpanjang masa
hidup eritrosit dan platelet darah;
menghasilkan neutrofilia dan eosinopenia;
meningkatkan katabolisme protein,
glukoneogenesis dan penyebaran kembali
lemak dari perifer ke daerah pusat tubuh. Juga
mengurangi absorbsi intestinal dan menambah
ekskresi kalsium melalui ginjal.
Kemasan : Tablet 500 mcg (0,5 mg) 100 tablet

b. CETADEXON®Soho

Komposisi : Dexametason
Indikasi : Insufiensi adrenal, termasuk sekunder terhadap
hipopituitarisme. Kelainan darah, radang,
alergi.
Dosis : 1-3 tablet/hari
Kontra Indikasi : Tukak peptik, osteoporosis, psikosis atau
psikoneurosis berat, tbc aktif/tenang, infeksi
akut, vaksin hidup.
Perhatian : Hipertensi, payah jantung kongestif, DM,
penyakit infeksi, gagal ginjal kronik, uremia,
lansia, kehamilan.
Efek Samping : Retensi garam dan cairan, edema, hipertensi,
amenorea, hiperhidrosis, gangguan mental,
pankreatitis akut, osteonekrosis aseptik,
11

kelemahan otot, keadaan Cushiongoid,


peninggian tekanan intraokular, gangguan
penglihatan, atrofi lokal, nafsu makan
bertambah, kelambatan pertumbuhan.
Mekanisme Kerja : Deksametason adalah glukokortikoid sintetik
dengan aktivitas imunosupresan dan anti-
inflamasi. Sebagai imunosupresan
Deksametason bekerja dengan menurunkan
respon imun tubuh terhadap stimulasi
rangsang. Aktivitas anti-inflamasi
Deksametason dengan jalan menekan atau
mencegah respon jaringan terhadap proses
inflamasi dan menghambat akumulasi sel yang
mengalami inflamasi, termasuk makrofag dan
leukosit.
Kemasan : Tablet
0,5 mg 100tab 1.000tab
0,75 mg 100tab 1.000tab
c. KENACORT®Bristol-Myesrs-Squibb

Komposisi : Triamnicolon
Indikasi : RA dan demam reumatoid, asma bronkiale,
rhinitis vasomotor, leukemia, limfosarcoma,
penyakit Hodgin, fibrosis paru, bursitis akut.
Dosis : Dewasa : 4-48mg/hari
12

Kontra Indikasi : Tbc aktif, laten atau sembuh; psikosis akut.


Perhatian : Hipertensi, DM, penyakit ginjal. Konsumsi
protein harus cukup selama pengobatan.
Divertikulitis, anastomosis intestinal baru,
trombophlebitis, miastenia gravis, penyakit
infeksi, kecendrungan psikotik, nefritis kronik,
karsinoma metastatik, osteoporosis, infeksi
bakteri tidak terkontrol, herpes simpleks
okular, gromerulo nefritis akut.
Efek Samping : Faktor spontan, tukak peptik, perubahan-
perubahan cushingoid, purpura, kemerahan,
berkeringat, jerawat, striae, hirsutisme,
vertigo, sakit kepala, tromboembolisme,
nekrosis aseptik, angiitis nekrotik, pankreatitis
akut, esophagitis ulseratif, kelemahan otot,
peninggian tekanan intrakranial, papiledema,
kemungkinan katarak subkapsular.
Mekanisme Kerja : Kenacort mengandung triamcinolone, suatu
kortikosteroid yang poten. Berbeda dengan
beberapa kortikosteroid alami, triamcinolone
mempunyai efek antiinflamasi dan
pembentukan glikogen yang lebih besar, dan
berkurangnya efek samping retensi garam
dalam cairan tubuh.
Kemasan : Tablet 4 mg 100 tablet
13

d. PEHACORT®Phapros

Komposisi : Prednisone (mirconized)


Indikasi : AR, demam reumatik akut, asma bronkial,
alergi dan inflamasi pada kulit.
Dosis : Dosis supresif 4-6tab/hari.
Dosis pemeliharaan ½-4 tab/hari.
Kontra Indikasi : TB aktif, ulkus peptikum, herpes simplex
mata, infeksi akut, osteoporosis, infeksi jamur
sistemik, psikosis atau psikoneurosis berat,
vaksin hidup.
Perhatian : Hipertensi, gagal jantung, DM, penyakit
infeksi, gagal ginjal kronik, uremia, usia
lanjut, hamil.
Efek Samping : Edema, retensi natrium dan cairan, hipertensi,
amenore, hiperhidrosis, gangguan mental,
pankreatitis akut, osteonekrosis aseptik, lemah
otot, sindroma Cushing, peningkatan TIO,
gangguan penglihatan, atrofi lokal,
peningkatan nafsu makan, pertumbuhan
terhambat.
Mekanisme Kerja : Prednisone merupakan kortikosteroid sistemik
dengan efek glukokortikoid dan antiinflamasi.
Mekanisme kerja dengan mempengaruhi
14

sintesa protein, kortikosteroid bereaksi dengan


reseptor protein yang spesifik dalam
sitoplasma sel jaringan dan membentuk
kompleks reseptor steroid.
Kemasan : Tab 5 mg
e. AMTOCORT®Pharos

Komposisi : Triamcinolone
Indikasi : Asma bronkial, rintis alergi, AR, urtikaria,
dermatitis atopik & dermatitis kontak.
Kontra indikasi : Infeksi jamur sistemik, TBC, hipersensitif
terhadap Kortikosteroid.
Efek samping : Gangguan keseimbang cairan tubuh &
elektrolit, miopati steroid, kelemahan
otot,tukak peptik, osteoporosis, purpura, striae,
hiperpigmentasi.
Mekanisme Kerja : Triamcinolone mempunyai efek antiinflamasi
dan pembentukan glikogen yang lebih besar,
dan berkurangnya efek samping retensi garam
dalam cairan tubuh.

f. BETASON®Kimia Farma
15

Komposisi : Bethametasone.
Indikasi : AR, poliartritis nodosa, alergi, dermatomikosis
Kontra indikasi : Tukak peptic, osteoporosis, infeksi akut, TBC
aktif atau laten
Efek samping : Hipertensi, edema, amenorea, gangguan
mental, lemah otot, pankreatitis akut,
gangguan pertumbuhan.

Mekanisme Kerja : Obat dapat mengurangi aktivitas dan volume


limfatik, menghasilkan limpositopenia,
menurunkan konsentrasi imunologi reaktivitas
jaringan interaksi antigen-antibodi sehingga
menekan respon imun.
Betametason juga menstimulasi sel-sel eritroid
dari sumsum tulang; memperpanjang masa
hidup eritrosit dan platelet darah;
menghasilkan neutrofilia dan eosinopenia;
meningkatkan katabolisme protein,
glukoneogenesis dan penyebaran kembali
lemak dari perifer ke daerah pusat tubuh. Juga
mengurangi absorbsi intestinal dan menambah
ekskresi kalsium melalui ginjal.

g. CELESTONE®Schering-Plough
16

Komposisi : Bethametasone Na phosphate.


Indikasi : Insufisiensi kortek adrenal akut, pra- op &
trauma berat, syok, terapi tambahan pada
gangguan reumatik, gangguan penglihatan,
gangguan kulit, gangguan pernafasan, keadaan
inflamasi & alergik.
Kontra Indikasi : Infeksi jamur sistemik.
Efek Samping : Gangguan cairan & elektrolit, kelemahan otot,
ulkus pepticum, glaukoma, kerusakan syaraf
optik.

Mekanisme Kerja : Obat dapat mengurangi aktivitas dan volume


limfatik, menghasilkan limpositopenia,
menurunkan konsentrasi imunologi reaktivitas
jaringan interaksi antigen-antibodi sehingga
menekan respon imun.

2.3 Mekanisme kerja Obat pada reseptor steroid


17

Reseptor glukokortikoid ini dijumpai hampir disemua jaringan.

akan tetapi sebagian besar berada didalam sitoplasma (90% disitoplasma,

10%di nukleus). Glukokortikosteroid secara langsung bekerja pada sel

epithelia, sel otot dan eusinofil pada sistem imun. Sel target untuk

glukokortikosteroid yaitu suatu membrane yang bersifat lipid atau lemak.


Sehingga glukokortikosteroid dapat menembus membrane sel

tersebut dan dapat masuk kedalam sitoplasma. Setelah masuk maka

glukokortikosteroid akan berikatan dengan reseptornya yaitu

Glukokortikoid Reseptor (GR) yang akan membentuk suatu kompleks

glukokortikosteroid reseptor. (GR) merupakan suatu protein yang sebagian

besar terdapat didalam sitoplasma dan dapat berikatan dengan suatu

hormon yang bersifat lipofilik dan reseptor ini pada umumnya berada pada

sel epithelium awal dan pembuluh darah diseluruh sel.


Kompleks glukokortikosteroid reseptor akan menghasilkan efek

jika berikatan dengan suatu protein aktivasi yaitu AP-1. Efek dari AP-1
18

yakni menghambat respon sel terhadap pesan kimiawi sehingga dapat

mengurangi respon inflamasi. Setelah itu masuk kedalam intisel. Dimana

terdapat Glukokortikoid Respon Elements (GRE) yaitu suatu landasan

untuk GR. Kemudian antara GR dan GRE akan meregulasi transkrpsi gen

yang mana akan berefek seperti mengontrol produksi protein. Yang mana

respon biologis yang muncul yaitu :


1. Menurunkan produksi sitokin proinflamasi
2. Meningkatkan protein anti inflamasi.
2.4 Reseptor Estrogen

Reseptor estrogen merupakan salah satu anggota reseptor inti yang

memperantarai aksi hormone estrogen didalam tubuh. estrogen bekerja

meregulasi pertumbuhan dan diferensiasi sel-sel system reproduksi baik

pada wanita dan pria. Dapat juga meningkatkan kadar kolesterol HDL dan

menurunkan LDL, sehingga berpotensi mengurangi resiko penyakit

kardiovaskuler. Estrogen berperan penting pada perkembangan otak,

penyakit autoimun, dan metabolism tulang dan pada sisi lain, estrogen

dapat memicu pertumbuhan, proliferasi dan metastase kanker

payudara.Reseptor estrogen terdiri dari 2 subtipe yaitu, estrogen α (ER α)

dan estrogen ß (ER ß). Kedua reseptor ini berbeda dalam lokalisasi dan

konsentrasinya di dalam tubuh.

Proses pengikatan hormone pada reseptor estrogen di membran sel,

dan ikatan tersebut berikatan dalam bentuk dimer. Setelah hormon

berikatan dengan reseptornya, reseptor berpindah ke inti sel dan kemudian

reseptor tersebut berikatan ERE (estrogen response element) dan kompleks


19

tersebut akan berikatan dengan koaktivator sehingga faktor transkripsi

menjadi aktif yang dapat mengubah ekspresi gen. Kemudian regulasi

transkripsi gen akan menghasilkan suatu protein spesefik yang terlibat

dalam fungsi biologis tertentu.

Golongan obat yang terkait dengan reseptor estrogen adalah SERM

(selective estrogen receptor modulators), memicu konformasi yang

membiarkan ineraksi parsial dengan co-repressor dan coactivator.

Perbedaan tingkat coactivator dan co-repressor mungkin tergantung pada

tipe sel, yang kemungkinan aktivitas cell-context-dependent ligand, yang

berbeda pada estrogen receptor. Contohnya adalah tamoksifen. Tamoxifen

bersifat agonis dan antagonis untuk ER-α namun hanya bersifat antagonis

untuk ER-β. Efek yang menguntungkan dari tamoksifen adalah mencegah

pertumbuhan sel kanker payudara, mencegah osteoporosis, dan

mengurangi resiko penyakit kardiovaskuler. Tetapi, efek yang tidak

menguntungkannya adalah bersifat estrogenic pada sel-sel endometrium

uterus, sehingga meningkatkan resiko terjadinya kanker rahim.

Estrogen dibagi menjadi dua, yaitu:

 Estrogen Alami : Estrogen diproduksi oleh folikel ovarium, dan juga

adrenal dan testis. Merupakan hormon steroid yang memiliki 18 atom

kabon dengan cincin-A (aromatik) tidak tersaturasi.


 Estrogen Sintetis : Senyawa sintetis (buatan) yang mempunyai efek

estrogenik kuat bila diberikan secara oral.

Berdasarkan struktur kimia, estrogen yang digunakan dalam terapi

dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu:


20

1. Steroid

 Ketiga estrogen alami utama dalam perempuan estron (E1),

estradiol (E2), dan estriol (E3). Estradiol (E2) adalah bentuk

dominan pada wanita tidak hamil, estron diproduksi selama

menopause, dan estriol merupakan estrogen utama kehamilan.

Dalam tubuh ini semua diproduksi dari androgen melalui tindakan

enzim.
 Meskipun orang sering menganggap estrogen sebagai entitas

tunggal, hormon ini sebenarnya tiga molekul biokimiawi berbeda

yang secara alami tubuh memproduksi Ketiga molekul estrogen

memiliki kegiatan yang berbeda yang membuat mereka lebih atau

kurang "estrogenik:".
 Estrone lebih lemah dari estradiol. Estron dibuat dari lemak

tubuh.Dari menarche dengan menopause estrogen utama adalah

17β-estradiol. Pada wanita postmenopause lebih estron hadir dari

estradiol. Ia wujud dengan banyak untuk wanita yang putus-haid.


 Estradiol adalah dihasilkan dari testosteron dan estron dari

androstenedion oleh aromatase. Estradiol dibuat dari ovarium, dan

memberikan penampilan wanita melengkung mereka.


 Estriol hadir dalam jumlah kecil dan sebagian besar dibuat selama

kehamilan

Premarin, obat estrogenik sering diresepkan, mengandung estrogen

dan steroid equilin equilenin, selain estron sulfat tetapi karena resiko

kesehatan, lebih banyak estrogen genetik bernama Progynova

(estradiol valerat) sekarang lebih sering diresepkan.


21

2. Nonsteroid

Berbagai bahan sintetis dan alami telah diidentifikasi yang juga

memiliki aktivitas estrogenik.

 Zat sintetis dari jenis ini dikenal sebagai xenoestrogens.


 Tanaman produk dengan aktivitas estrogenik yang disebut

fitoestrogen.
 Yang dihasilkan oleh jamur yang dikenal sebagai mycoestrogens.

Fungsi Estrogen yang umumnya diproduksi oleh rahim yakni :

1. Merangsang pertumbuhan organ seks anak perempuan, seperti halnya

payudara dan rambut kelamin, dikenal sebagai karakteristik seks

sekunder.
2. Estrogen juga mengatur siklus menstruasi.
3. Menjaga kondisi dinding vagina dan elastisitasnya, serta dalam

memproduksi cairan yang melembabkan vagina.


4. Mereka juga membantu untuk menjaga tekstur dan fungsi payudara

wanita.
5. Mencegah gejala menopause seperti hot flushes (rasa panas didaerah

tubuh bagian atas dan gangguan mood)


6. Mempertahankan fungsi otak.
7. Mengatur pola distribusi lemak di bawah kulit sehingga membentuk

tubuh wanita yang feminine


8. Meningkatkan pertumbuhan dan elastisitas serta sebagai pelumas sel

jaringan (kulit, saluran kemih, vagina, dan pembuluh darah).


9. Estrogen juga mempengaruhi sirkulasi darah pada kulit,

mempertahankan struktur normal kulit agar tetap lentur, menjaga

kolagen kulit agar terpelihara dan kencang serta mampu menahan air.
10. Produksi sel pigmen kulit
11. Pada pria, estrogen tidak memiliki fungsi yang diketahui. Namun,

kadar yang terlalu tinggi dapat mengurangi selera seksual,


22

menyebabkan kesulitan ereksi, pembesaran payudara, dan kehilangan

rambut tubuh pada beberapa pria.


2.5 Mekanisme Kerja

Tamoxifen kompetitif mengikat reseptor estrogen pada tumor

dan target jaringan lainnya, menghasilkan sebuah komplek nuklir yang

berkurang DNA sintesis dan menghambat estrogen efek. Itu adalah agen

non dengan properti antiestrogenic ampuh yang bersaing dengan

estrogen untuk mengikat di payudara dan jaringan lain. Tamoxifen

menyebabkan sel untuk tetap tinggal di G0 dan1 G tahap siklus sel.

Karena itu mencegah sel-sel kanker (pra) membagi tetapi tidak

menyebabkan kematian sel., tamoxifen cytostatic daripada cytocidal.

Tamoxifen itu sendiri adalah prodrug, yang memiliki relatif

sedikit afinitas terhadap target yang protein, estrogen receptor. Itu

adalah mengalami dalam hati oleh sitokrom P450 isoform CYP2D6 dan

CYP3A4 ke metabolit aktif seperti 4-hydroxytamoxifen N-desmethyl-

4-hydroxytamoxifen (endoxifen) yang memiliki 30 - 100 kali lebih

banyak kesamaan dengan reseptor estrogen dari tamoxifen itu sendiri.

Metabolit ini aktif bersaing dengan estrogen dalam tubuh untuk

mengikat ke reseptor estrogen. Dalam jaringan payudara, 4-

hydroxytamoxifen bertindak sebagai tokoh antagonis reseptor estrogen

sehingga transkripsi responsif estrogen gen dihambat.

Tamoxifen mengikat untuk estrogen receptor (ER) yang pada

gilirannya berinteraksi dengan DNA. ER/tamoxifen kompleks direkrut

protein lain yang dikenal sebagai co-repressors untuk menghentikan


23

gen yang diaktifkan oleh estrogen. Beberapa protein ini termasuk

NCoR dan SMRT. Tamoxifen fungsi dapat diatur oleh sejumlah

variabel yang berbeda termasuk faktor pertumbuhan. Tamoxifen perlu

memblokir faktor pertumbuhan protein seperti ErbB2/HER2 karena

tingkat tinggi ErbB2 telah menunjukkan terjadi di tahan tamoxifen

kanker. Tamoxifen tampaknya memerlukan protein PAX2 untuk efek

antikanker penuh. Di hadapan para tinggi PAX2 ekspresi,

tamoxifen/estrogen receptor kompleks ini dapat menekan ekspresi pro-

proliferatif ERBB2 protein. Sebaliknya, ketika ekspresi AIB-1 lebih

tinggi daripada PAX2, tamoxifen/estrogen receptor kompleks

upregulates ekspresi ERBB2 mengakibatkan stimulasi pertumbuhan

kanker payudara.
24

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

1. Hormon glukokortikoid adalah hormon yang dihasilkan pada bagian

korteks adrenal. Salah satu bentuk hormon glukokortikoid adalah

kortison. Dengan adanya rangsangan stress pada hipotalamus akan

mengaktifkan adrenokortikotropin (ACTH) yang akan mensekresikan

kortison pada korteks adrenal. Glukokortikoid sangat berperan dalam

metabolime karbohidrat terutama dalam proses glukoneogenesis, selain

itu juga berperan dalam metabolisme protein, lemak, dan lisosom.

Reseptor estrogen merupakan salah satu anggota reseptor inti yang

memperantarai aksi hormone estrogen didalam tubuh. estrogen bekerja

meregulasi pertumbuhan dan diferensiasi sel-sel system reproduksi baik

pada wanita.
2. Mekanisme kerja obat Glukokortikosteroid secara langsung bekerja

pada sel epithelia, sel otot dan eusinofil pada sistem imun. Sel target

untuk glukokortikosteroid yaitu suatu membrane yang bersifat lipid

atau lemak. Sehingga glukokortikosteroid dapat menembus membrane

sel tersebut dan dapat masuk kedalam sitoplasma. Setelah masuk maka

glukokortikosteroid akan berikatan dengan reseptornya yaitu

Glukokortikoid Reseptor (GR) yang akan membentuk suatu kompleks

glukokortikosteroid reseptor. Mekanisme kerja Obat reseptor esterogen


25

Tamoxifen kompetitif mengikat reseptor estrogen pada tumor dan target

jaringan lainnya, menghasilkan sebuah komplek nuklir yang berkurang

DNA sintesis dan menghambat estrogen efek


3.2 Saran
Semoga dengan adanya makalah ini dapat menambah referensi

bagi pembaca khususnya mahasiswa farmasi Universitas Halu Oleo.


26

DAFTAR PUSTAKA

Arif Manjoer,.dkk,. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi Ketiga. Jilid I. Media


Aesculapius. FKUI. Jakarta. 2001

Guyton, arthur C. 1987. Guyton fisiologi manusia dan mekanisme penyakit.


Penerbit Buku Kedokteran ECG.

Ikawati, Z. 2008. Pengantar Farmakologi Molekuler. UGM Press: Yogyakarta.

MIMS Indonesia Petunjuk Konsultasi. Edisi 10 2010/2011.BIP KELOMPOK


GRAMEDIA.