Anda di halaman 1dari 15

See discussions, stats, and author profiles for this publication at: https://www.researchgate.

net/publication/329521465

13Rosmala Faktor BBLR

Article · December 2016

CITATIONS READS

0 231

15 authors, including:

Rosmala Nur
Universitas Tadulako
11 PUBLICATIONS   3 CITATIONS   

SEE PROFILE

All content following this page was uploaded by Rosmala Nur on 09 December 2018.

The user has requested enhancement of the downloaded file.


Jurnal Preventif, Volume 7 Nomor 1, Maret 2016 : 1- 64

ANALISIS FAKTOR RISIKO KEJADIAN BERAT BADAN LAHIR RENDAH


DI RUMAH SAKIT UMUM ANUTAPURA PALU

Rosmala Nur1, Adhar Arifuddin2, Redita Novilia2

1.Bagian Kependudukan, Program Studi Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan,
Universitas Tadulako
2.Bagian Epidemiologi, Program Studi Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan,
Universitas Tadulako

ABSTRAK

Berat badan lahir rendah sangat menentukan kesehatan di masa dewasa bayi yang
dilahirkan dengan Berat badan kurang dari 2500 gram berkorelasi erat dengan penyakit
degeneratif di usia dewasa. Provinsi sulawesi tengah menjadi provinsi yang paling
tinggi kejadian BBLR pada tahun 2013. Prevalensi BBLR di Sulawesi Tengah tertinggi
terjadi di Kota Palu Sebesar 231 Kasus (3,2%). Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui faktor risiko kejadian BBLR Di RSU Anutapura Palu. Metode penelitian
yang digunakan adalah observasional dengan pendekatan case control. Sampel kasus
adalah ibu yang melahirkan BBLR dan sampel kontrol adalah ibu yang melahirkan
normal dengan perbandingan 1 : 2 dengan macthing umur. Data dianalisis dengan uji
OR pada batas kemaknaan (alfa 5%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa paritas (OR
= 1,703 pada 95%, CI 0,862-3,363), jarak kehamilan (OR = 3,231pada 95% CI 1,633-
6,391) cakupan penimbangan berat badan (OR = 2,519 pada 95% CI 1,261-5,031),
cakupan pemeriksaan tekanan darah (OR = 2,692 pada 95% CI 1,397-5,184), dan
cakupan pemeriksaan kadar Hb (OR = 3,154 pada 95% CI 1,451-6,855), merupakan
faktor risiko terhadap BBLR. Disarankan kepada ibu hamil agar lebih memerhatikan
kondisi kesehatan janinnya, dan rutin melakukan kunjungan antenatal care sehingga
bayi yang dilahirkan tidak mengalami BBLR.

Kata Kunci : BBLR, Risiko BBLR, Antenatal Care

Jurnal Kesehatan Masyarakat (Rosmala Nur, Adhar Arifuddin, Redita Novilia: 29-42) 29
Jurnal Preventif, Volume 7 Nomor 1, Maret 2016 : 1- 64

A. PENDAHULUAN kali dalam trimester ketiga (antara


Angka Kematian Bayi merupakan minggu 28-36 dan setelah minggu ke
indikator yang sangat penting untuk 36), dan pemeriksaan khusus bila
mengetahui gambaran tingkat terdapat keluhan-keluhan tertentu.
permasalahan kesehatan masyarakat. Antenatal care atau pemeriksaan
Upaya menurunkan Angka Kematian kehamilan adalah salah satu cara untuk
Bayi dan Balita tidak dapat dipisahkan menyiapkan baik fisik maupun mental
dengan upaya meningkatkan derajat ibu di dalam masa kehamilan dan
kesehatan ibu, perbaikan gizi, kelahiran serta menemukan kelainan
pencegahan dan pemberantasan dalam kehamilan dalam waktu dini
penyakit menular, pelayanan rujukan sehingga dapat ditangani secepatnya.
serta dukungan lintas sektor, organisasi Pemeriksaan kehamilan yang dilakukan
profesi dan lembaga swadaya secara teratur dapat menurunkan angka
.[11]
masyarakat kecatatan dan kematian baik ibu
Faktor yang mempengaruhi maupun janin, juga memantau berat
kematian bayi antara lain tingkat badan janin.[3]
pelayanan antenatal, status gizi ibu Faktor risiko yang mempengaruhi
hamil, tingkat keberhasilan program terhadap kejadian BBLR, antara lain
KIA-KB serta kondisi lingkungan dan adalah karakteristik sosial demografi
sosial ekonomi. [10] ibu (umur kurang dari 20 tahun dan
Beberapa hasil penelitian umur lebih dari 34 tahun, ras kulit
menunjukkan bahwa Berat badan lahir hitam, status sosial ekonomi yang
rendah sangat menentukan kesehatan di kurang, status perkawinan yang tidah
masa dewasa. Bayi yang dilahirkan sah, tingkat pendidikan yang rendah).
dengan Berat badan kurang dari 2500 Risiko medis ibu sebelum hamil juga
gram berkorelasi erat dengan penyakit berperan terhadap kejadian BBLR
degeneratif di usia dewasa. BBLR lebih (paritas, berat badan dan tinggi badan,
rentan terhadap kejadian kegemukan pernah melahirkan BBLR, jarak
dan berisiko menderita NCD (Non kelahiran). Status kesehatan reproduksi
Communicable Diseases) di usia ibu berisiko terhadap BBLR (status gizi
dewasa, oleh karena itu untuk ibu, infeksi dan penyakit selama
meningkatkan kualitas kesehatan kehamilan, riwayat kehamilan dan
seseorang harus dimulai sedini mungkin komplikasi kehamilan). Status
sejak janin dalam kandungan. pelayanan antenatal (frekuensi dan
Pemeriksaan rutin saat hamil atau kualitas pelayanan antenatal, tenaga
antenatal care salah satu cara mencegah kesehatan tempat periksa hamil, umur
terjadinya bayi lahir dengan BBLR. kandungan saat pertama kali
Kunjungan antenatal care minimal pemeriksaan kehamilan) juga dapat
dilakukan 4 kali selama kehamilan. Satu beresiko untuk melahirkan BBLR. [8]
kali dalam trimester pertama (sebelum Paritas mempunyai risiko sebesar
14 minggu), satu kali dalam trimester 68,2% untuk melahirkan BBLR. Paritas
kedua (antara minggu 14-28), dan dua 0 dan paritas lebih dari 3 mempunyai

Jurnal Kesehatan Masyarakat (Rosmala Nur, Adhar Arifuddin, Redita Novilia: 29-42) 30
Jurnal Preventif, Volume 7 Nomor 1, Maret 2016 : 1- 64

risiko lebih besar dibanding paritas 1, 2 pemeriksaan kadar hemoglobin.


dan 3 yang melahirkan BBLR hal ini Antenatal care dilakukan selama masa
disebabkan karena tidak siapnya fungsi kehamilan, Pelayanan yang dilakukan
organ dalam menjaga kehamilan dan secara rutin merupakan upaya untuk
menerima keadaan janin. faktor yang melakukan deteksi dini kehamilan
mempengaruhi paritas yang tinggi beresiko sehingga dapat dengan segera
adalah pendidikan, keadaan ekonomi, dilakukan tindakan yang tepat untuk
dan budaya. Upaya Pencegahan paritas mengatasi dan merencanakan serta
yang tinggi dapat dilakukan dengan memperbaiki kehamilan. [10]
Ber-KB yang bukan hanya bisa Menurut World Health
dilakukan oleh wanita tetapi pria juga Organization (WHO), BBLR adalah
bisa ber-KB.[5] berat badan saat lahir kurang dari 2.500
Jarak kehamilan juga memiliki gram. Prevalensi global untuk BBLR
risiko 14,3% melahirkan BBLR yang adalah 15,5%, yang artinya sekitar 20,6
memiliki jarak kehamilan ≤ 2 tahun. juta juta bayi yang lahir setiap
Sedangkan yang memiliki jarak tahunnya, dan 96,5% berada di negara
kehamilan ≥ 2 tahun sebanyak 85,7% berkembang. Insiden paling tinggi
melahirkan bayi yang tidak BBLR. terjadi di Asia Tengah dan Asia Selatan
Seorang ibu memerlukan waktu 2 (27,1%) dan paling rendah di Eropa
sampai 3 tahun antara kehamilan agar (6,4%).[12]
pulih secara fisiologis dan persalinan Menurut data Riset Kesehatan
sebelumnya dan mempersiapkan diri Dasar (Riskesdas) tahun 2013,
untuk kehamilan berikutnya.Semakin prevalensi bayi dengan BBLR
pendek jarak antara kehamilan berkurang dari 11,1% tahun 2010
sebelumnya semakin besar risiko menjadi 10,2% tahun 2013. Variasi
melahirkan BBLR, hal tersebut antar provinsi sangat mencolok dari
disebabkan karena seringnya terjadi terendah di Sumatera Utara (7,2%)
komplikasi perdarahan waktu hamil, sampai yang tertinggi di Sulawesi
partus prtmatur dan anemia berat. Tengah (16,9%). Untuk provinsi
Upaya pencegahan jarak kehamilan Sulawesi Tengah, meskipun terjadi
yang singkat juga bisa dilakukan penurunan kasus BLLR dari 17,6%
dengan ber-KB.[5] pada tahun 2010 menjadi 16,9% pada
Kunjungan antenatal care juga tahun 2013, tetapi pada tahun 2013
berisiko terhadap kejadian BBLR, ibu menjadi provinsi dengan kejadian
yang melakukan kunjungan Antenatal BBLR paling tinggi dibandingkan
care secara tidak teratur pada saat hamil provinsi lain di Indonesia. Data dari
berisiko 2.33 kali lebih besar untuk Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi
melahirkan BBLR. Sesuai kebijakan Tengah tahun 2013, kasus BBLR paling
program pelayanan asuhan antenatal tinggi terjadi di Kota Palu dengan
care harus sesuai standar “14T, salah jumlah 231 kasus (3,2%). [9]
satunya yaitu penimbangan berat badan, Dari hasil observasi yang dilakukan
pengukuran tekanan darah, dan di dua rumah sakit yang ada dikota palu

Jurnal Kesehatan Masyarakat (Rosmala Nur, Adhar Arifuddin, Redita Novilia: 29-42) 31
Jurnal Preventif, Volume 7 Nomor 1, Maret 2016 : 1- 64

data yang diperoleh di Rumah sakit 174 responden untuk total keseluruhan.
umum madani, angka kejadian berat Pengambilan sampel dilakukan secara
badan lahir rendah pada tahun 2011 Purposive sampling didasarkan pada
terdapat 93 kasus dari 194 kelahiran suatu pertimbangan tertentu yang dibuat
dalam 1 tahun. Tahun 2012 terdapat 49 oleh peneliti sendiri. Sebagai kasus
kasus dari 222 kelahiran dalam 1 tahun. yang memenuhi kriteria inklusi yaitu
Tahun 2013 terdapat kelahiran dengan ibu yang melahirkan BBLR dan ibu
status BBLR yaitu sebanyak 30 orang yang melahirkan normal sebagai kontrol
dari 113 kelahiran. Pada tahun 2014 dalam bentuk berpasangan (matching).
kasus Berat Badan Lahir Rendah Untuk setiap sampel kontrol dipilih
mengalami peningkatan yaitu 77 kasus berdasarkan umur sebagai matching.
dari 167 kelahiran dalam 1 tahun.
Sedangkan data di RSU Anutapura Palu C. HASIL DAN PEMBAHASAN
yang memiliki jumlah kasus BBLR Risiko Paritas Terhadap Berat Badan
yang cukup tinggi. Berdasarkan data Lahir Rendah
Rekam Medik RSU Anutapura Palu, Hasil penelitian diperoleh bahwa
kasus BBLR pada tahun 2013 paritas merupakan risiko kejadian berat
berjumlah 412 kasus dan pada tahun badan lahir rendah. Berdasarkan hasil
2014 meningkat menjadi 439 kasus. uji statistik diperoleh nilai OR yaitu
Melihat masalah diatas peneliti 1,703, hal ini menunjukkan bahwa
tertarik untuk melakukan penelitian paritas adalah faktor risiko kejadian
mengenai Anlisis Faktor risiko kejadian berat badan lahir rendah atau dengan
Berat Badan Lahir Rendah di RSU kata lain ibu yang memiliki paritas yang
Anutapura Palu. tinggi berisiko 1,703 kali lebih besar
untuk melahirkan berat badan lahir
B. METODE PENELITIAN rendah dibandingkan dengan ibu yang
Jenis penelitian yang digunakan memiliki paritas rendah. Nilai lower
dalam penelitian ini adalah penelitian limit dari uji statistik yaitu 0,862 dan
epidemiologi observasional analitik upper limit yaitu 3,363. Karena nilai
dengan pendekatan case control (Kasus- lower limit dari paritas tidak mencapai
kontrol). Penelitian ini dilaksanakan di angka 1 maka penelitian mengenai
Rumah sakit Umum Anutapura Palu paritas belum mampu menjelaskan
pada tanggal tanggal 16 maret sampai 8 adanya hubungan yang bermakna antara
Juni tahun 2015. Populasi dalam paritas dengan kejadian BBLR. Hal ini
penelitian ini adalah ibu yang dikarenakan dalam penelitian sebagian
melahirkan di Rumah Sakit Anutapura besar responden berumur diantara 20-24
Palu. Besar sampel minimal pada tahun yang rata-rata melahirkan anak
penelitian ini menggunakan kedua dan ketiga sehingga tidak
perbandingan 1:2 sebanyak 58 reponden memiliki paritas yang tinggi.
untuk kelompok kasus, dan 116
responden untuk kelompok kontrol dan

Jurnal Kesehatan Masyarakat (Rosmala Nur, Adhar Arifuddin, Redita Novilia: 29-42) 32
Jurnal Preventif, Volume 7 Nomor 1, Maret 2016 : 1- 64

Tabel 1. Risiko Paritas, Jarak Kehamilan, Cakupan Penimbangan Berat


Badan, Cakupan pemeriksaan Tekanan Darah, dan Cakupan Pemeriksaan Kadar
Hemoglobin Terhadap Kejadian Berat Badan Lahir Rendah di Rumah Sakit
Umum Anutapura Palu
Kejadian BBLR OR
Jumlah
Faktor Risiko Kasus Kontrol (Cl 95 %)
n % n % n %
Paritas
Risiko tinggi 21 36,2 29 25,0 50 28,7 1,703
Risiko rendah 37 63,8 87 75,0 124 71,3 (0,862-3,363)
Jarak Kehamilan
Risiko tinggi 42 72,4 52 44,8 94 54,0 3,231
Risiko rendah 16 27,6 64 55,2 80 46,0 (1,633-6,391)
Cakupan Penimbangan Berat
Badan
Risiko tinggi 23 39,7 24 20,7 47 27,0 2,519
Risiko rendah 35 60,3 92 79,3 127 73,0 (1,261-5,031)
Cakupan Pemeriksaan Tekanan
Darah
Risiko Tinggi 38 65,5 48 41,4 86 49,4 2,692
Risiko Rendah 20 34,5 68 58,6 88 50,6 (1,397-5,184)
Cakupan Pemeriksaan Kadar
Hemoglobin
Risiko Tinggi 48 82,8 70 60,3 118 67,8 3,154
Risiko Rendah 10 17,2 46 39,7 56 32,2 (1,451-6,855)

Sumber: Data Primer

Pada penelitian ini diperoleh pada yang memiliki paritas tidak berisiko,
paritas tinggi, 21 responden (36,2%) ada 57,1% subyek yang melahirkan bayi
diantaranya melahirkan dengan berat BBLR. Hasil uji statistik menyimpulkan
badan lahir rendah, pada paritas rendah, ada hubungan yang signifikan antara
terdapat 37 responden (63,8%) yang paritas dengan kejadian BBLR (OR=5,3
melahirkan dengan berat badan lahir CI 95%=1,244-22,563). Hal ini
rendah. menunjukkan bahwa subyek dengan
Hal tersebut didukung oleh paritas lebih dari sama dengan empat
penelitian yang dilakukan oleh Ismi kali mempunyai risiko 5,3 kali untuk
Triardani di Wilayah Kerja Puskesmas melahirkan BBLR dibandingkan subyek
Singkawang Timur Dan Utara Kota dengan paritas kurang dari empat kali.
singkawang pada tahun 2011, Hal ini dikarenakan risiko komplikasi
Berdasarkan paritas sebagian besar yang serius, seperti perdarahan dan
berat badan lahir normal terjadi pada infeksi meningkat secara bermakna
subyek yang tidak berisiko (kurang dari mulai dari persalinan yang keempat dan
empat). Hasil analisis hubungan antara seterusnya, sehingga ada kecenderungan
paritas dengan kejadian BBLR bayi lahir dengan kondisi BBLR bahkan
diperoleh bahwa ada sebanyak 42,9% terjadinya kematian ibu dan bayi.[6]
subyek yang memiliki paritas lebih dari Dari hasil penelitian adanya risiko
sama dengan empat kali melahirkan paritas terhadap berat badan lahir
bayi BBLR, sedangkan diantara subyek rendah menunjukan jumlah kasus berat

Jurnal Kesehatan Masyarakat (Rosmala Nur, Adhar Arifuddin, Redita Novilia: 29-42) 33
Jurnal Preventif, Volume 7 Nomor 1, Maret 2016 : 1- 64

badan lahir rendah dengan paritas yang penimbangan berat badan, 51,7% yang
berisiko tinggi sebanyak 36,2%. melakukan pemeriksaan tekanan darah,
Tingginya kasus dikarenakan kurangnya 34,5% yang melakukan pemeriksaan
pengetahuan ibu akan dampak dari kadar hemoglobin dan juga dapat
paritas, Sering terpapar oleh asap rokok, dipengaruhi faktor lainnya seperti
memiliki riwayat penyakit tertentu memiliki status gizi yang baik dan tidak
seperti hipertensi, hipotensi, dan terpapar oleh asap rokok.
anemia, dan tidak melakukan kunjungan Pada penelitian ini adanya risiko
antenatal care. Berdasarkan hasil paritas terhadap berat badan lahir
analisis adanya kasus tidak hanya rendah menunjukan jumlah kasus berat
disebabkan oleh paritas yang tinggi, badan lahir rendah dengan paritas
ditemukan bahwa 57,1% responden rendah sebanyak 63,8%. Dalam hal ini
diantaranya juga memiliki jarak berat badan lahir rendah tidak hanya
kehamilan risiko tinggi, 23,8% dipengaruhi oleh paritas tetapi juga bisa
responden tidak melakukan disebabkan oleh faktor lain.
penimbangan berat badan, 57,1% Berdasarkan hasil analisis dari 63,8%
responden tidak melakukan yang mempunyai risiko paritas rendah
pemeriksaan tekanan darah, dan 71,4% namun menjadi kasus dalam kejadian
responden tidak melakukan BBLR ditemukan bahwa, 81,1%
pemeriksaan kadar hemoglobin. diantaranya memiliki jarak kehamilan
Pada penelitian ini adanya risiko yang berisiko tinggi, 48,6% yang tidak
paritas terhadap berat badan lahir melakukan penimbangan berat badan,
rendah menunjukan jumlah kontrol 70,3% yang tidak melakukan
berat badan lahir rendah dengan paritas pemeriksaan tekanan darah, 89,2% yang
yang berisiko tinggi sebanyak 25,0%. tidak melakukan pemeriksaan kadar
Dalam hal ini ibu yang memiliki paritas hemoglobin, dan juga dapat dipengaruhi
tinggi bisa mengantisipasi melahirkan faktor risiko lainnya.
berat badan lahir rendah apabila ibu Risiko Jarak Kehamilan terhadap
melakukan kunjungan antenatal care Berat Badan Lahir Rendah
yang rutin dengan mengontrol berat Hasil penelitian diperoleh bahwa
badan, memeriksakan tekanan darah, jarak kehamilan merupakan risiko
dan juga memeriksakan kadar kejadian berat badan lahir rendah.
hemoglobin, memiliki jarak kehamilan Berdasarkan hasil uji statistik diperoleh
> 2 tahun, dan faktor lain seperti tidak nilai OR yaitu 3,231, hal ini
terpapar asap rokok, dan status gizi ibu menunjukkan bahwa jarak kehamilan
yang baik. Berdasarkan hasil analisis adalah faktor risiko kejadian berat
paritas tinggi namun menjadi kontrol badan lahir rendah atau dengan kata lain
dalam kejadian BBLR ditemukan ibu yang memiliki jarak kehamilan < 2
bahwa 86,2% diantaranya memiliki tahun berisiko 3,231 kali lebih besar
jarak kehamilan yang berisiko rendah, untuk melahirkan berat badan lahir
79,3% yang melakukan kunjungan rendah dibandingkan dengan ibu yang
antenatal care, 75,9% yang melakukan memiliki jarak kehamilan ≥ 2 tahun.

Jurnal Kesehatan Masyarakat (Rosmala Nur, Adhar Arifuddin, Redita Novilia: 29-42) 34
Jurnal Preventif, Volume 7 Nomor 1, Maret 2016 : 1- 64

Nilai lower limit dari uji statistik yaitu anemia, dan tidak melakukan kunjungan
1,633 dan upper limit yaitu 6,391. antenatal care. Berdasarkan hasil
Jarak kehamilan merupakan faktor analisis adanya kasus tidak hanya
risiko dikarenakan responden yang disebabkan oleh jarak kehamilan yang
banyak berumur 20-25 tahun memiliki berisiko tinggi, ditemukan bahwa 28,6%
jarak kehamilan yang sempit dan belum diantaranya juga memiliki paritas
menggunakan kontrasepsi. tinggi, 45,2% tidak melakukan
Pada penelitian ini diperoleh pada penimbangan berat badan, 66,7% tidak
jarak kehamilan risiko tinggi, 42 melakukan pemeriksaan tekanan darah,
responden (72,4%) diantaranya dan 81,0% tidak melakukan
melahirkan dengan berat badan lahir pemeriksaan kadar hemoglobin.
rendah, pada jarak kehamilan risiko Dari hasil penelitian adanya risiko
rendah, terdapat 16 responden (27,6%) jarak kehamilan terhadap berat badan
yang melahirkan dengan berat badan lahir rendah menunjukan jumlah kontrol
lahir rendah. berat badan lahir rendah dengan jarak
Penelitian ini juga sejalan dengan kehamilan yang berisiko tinggi
penelitian yang dilakukan oleh Almira sebanyak 44,8%. Dalam hal ini ibu yang
Githa Di RSD Panembahan Senopati memiliki jarak kehamilan yang berisiko
Bantul Pada tahun 2007 yang tinggi bisa mengantisipasi melahirkan
menyatakan bahwa Nilai OR sebesar berat badan lahir rendah apabila ibu
2,67 menunjukkan bahwa jarak melakukan kunjungan antenatal care
kehamilan pada ibu bersalin di RSD yang rutin dengan mengontrol berat
Panembahan Senopati Bantul tahun badan, memeriksakan tekanan darah,
2007 mempunyai risiko 2,67 kali dan juga memeriksakan kadar
melahirkan bayi dengan BBLR. hemoglobin, memiliki paritas rendah,
Sehingga jarak kehamilan merupakan dan faktor lain seperti tidak terpapar
faktor risiko terhadap kejadian berat asap rokok, dan status gizi ibu yang
badan lahir rendah. Hal ini disebabkan baik. Berdasarkan hasil analisis jarak
pada penelitian banyaknya ibu tidak kehamilan yang berisiko tinggi namun
menggunanakan alat kontrasepsi menjadi kontrol dalam kejadian BBLR
sehingga jarak kehamilan tidak ditemukan bahwa 92,3% diantaranya
teratur.[1] memiliki paritas rendah, 82,7% yang
Dari hasil penelitian adanya risiko melakukan kunjungan antenatal care,
jarak kehamilan terhadap berat badan 75,0% yang melakukan penimbangan
lahir rendah menunjukan jumlah kasus berat badan, 50,0% yang melakukan
berat badan lahir rendah dengan jarak pemeriksaan tekanan darah, 26,9% yang
kehamilan yang berisiko tinggi melakukan pemeriksaan kadar
sebanyak 39,7%. Tingginya kasus hemoglobin dan juga dapat dipengaruhi
dikarenakan kurangnya pengetahuan faktor lainnya seperti memiliki status
ibu, Sering terpapar oleh asap rokok, gizi yang baik dan tidak terpapar oleh
memiliki riwayat penyakit tertentu asap rokok.
seperti hipertensi, hipotensi, dan

Jurnal Kesehatan Masyarakat (Rosmala Nur, Adhar Arifuddin, Redita Novilia: 29-42) 35
Jurnal Preventif, Volume 7 Nomor 1, Maret 2016 : 1- 64

Pada penelitian ini adanya risiko disebabkan karena setiap kunjungan


jarak kehamilan terhadap berat badan antenatal care yang dilakukan oleh
lahir rendah menunjukan jumlah kasus responden sebagian besar melakukan
berat badan lahir rendah dengan jarak cakupan penimbangan berat.
kehamilan yang berisiko rendah Pada penelitian ini diperoleh pada
sebanyak 27,6%. Dalam hal ini berat cakupan penimbangan berat badan
badan lahir rendah tidak hanya risiko tinggi, 23 responden (39,7%)
dipengaruhi oleh jarak kehamilan tetapi diantaranya melahirkan dengan berat
juga bisa disebabkan oleh faktor lain badan lahir rendah, sedangkan pada
seperti kurangnya pengetahuan ibu, cakupan penimbangan berat badan
paritas yang tinggi. Berdasarkan hasil risiko rendah, terdapat 35 responden
analisis yang mempunyai risiko jarak (60,3%) yang melahirkan dengan berat
kehamilan rendah namun menjadi kasus badan lahir rendah.
dalam kejadian BBLR ditemukan Penelitian ini sejalan dengan
bahwa 56,3% diantaranya memiliki penelitian yang dilakukan oleh colti
paritas tinggi, 25,0% yang tidak sistiarani di yang menyatakan bahwa
melakukan penimbangan berat badan, dari analisis faktor risiko kualitas
62,5% yang tidak melakukan pelayanan antenatal didapatkan OR =
pemeriksaan tekanan darah 87,5% yang 5,85 (95% CI:1,91-17,8) artinya ibu
tidak melakukan pemeriksaan kadar yang memiliki kualitas pelayanan
hemoglobin, dan juga dapat dipengaruhi antenatal yang kurang baik mempunyai
faktor risiko lainnya. peluang melahirkan BBLR 5,85 kali
Risiko Cakupan penimbangan Berat dibandingkan ibu yang memiliki
Badan Terhadap Berat Badan Lahir kualitas pelayanan antenatal baik. Hal
Rendah ini disebabkan Banyak ibu yang
Hasil penelitian diperoleh bahwa melahirkan tidak melakukan pelayanan
Cakupan Penimbangan Berat Badan antenatal pada trimester pertama,
merupakan risiko kejadian berat badan mereka baru memeriksakan kehamilan
lahir rendah. Berdasarkan hasil uji setelah hamil memasuki bulan keempat.
statistik diperoleh nilai OR yaitu 2,519, Hal ini dapat mempengaruhi kehamilan
hal ini menunjukkan bahwa Cakupan karena pertama kali ibu melakukan
Penimbangan berat badan adalah faktor pelayanan antenatal merupakan saat
risiko kejadian berat badan lahir rendah yang sangat penting karena berbagai
atau dengan kata lain ibu yang tidak faktor risiko dan komplikasi bisa dapat
melakukan cakupan penimbangan segera diketahui seawal mungkin
beraat badan berisiko 2,519 kali lebih sehingga dapat segera dikurangi atau
besar untuk melahirkan berat badan dihilangkan.[2]
lahir rendah dibandingkan dengan ibu Pada penelitian ini adanya risiko
yang melakukan cakupan penimbangan penimbangan berat badan terhadap berat
berat badan. Nilai lower limit dari uji badan lahir rendah menunjukan jumlah
statistik yaitu 1,261 dan upper limit kasus berat badan lahir rendah
yaitu 5,031. Nilai lower yang kurang penimbangan berat badan yang berisiko

Jurnal Kesehatan Masyarakat (Rosmala Nur, Adhar Arifuddin, Redita Novilia: 29-42) 36
Jurnal Preventif, Volume 7 Nomor 1, Maret 2016 : 1- 64

tinggi sebanyak 39,7%. Hal ini rokok, dan status gizi ibu yang baik.
disebabkan kunjungan antenatal care Berdasarkan hasil analisis penimbangan
ibu hamil yang kurang dan tidak berat badan yang berisiko tinggi namun
melakukan penimbangan berat badan menjadi kontrol dalam kejadian BBLR
selama hamil sehingga tidak ditemukan bahwa 45,8% diantaranya
terkontrolnya berat badan ibu selama memiliki jarak kehamilan yang rendah,
hamil mempunyai risiko tinggi 70,8% yang memiliki paritas rendah,
terjadinya BBLR. Kurangnya 25,0% responden yang melakukan
pemahaman dan pengetahuan ibu hamil kunjungan antenatal care, 25,0% yang
tentang pentingnya kunjungan ANC melakukan pemeriksaan tekanan darah,
pada saat ibu tersebut merasa dirinya 16,7% yang melakukan pemeriksaan
hamil agar mendapatkan diagnosis kadar hemoglobin dan juga dapat
kehamilan serta ada tidaknya masalah dipengaruhi faktor lainnya seperti
atau komplikasi yang terjadi, sering memiliki status gizi yang baik dan tidak
terpapar oleh asap rokok, memiliki terpapar oleh asap rokok.
riwayat penyakit tertentu seperti Pada penelitian ini adanya risiko
hipertensi, hipotensi, dan anemia. penimbangan berat badan terhadap berat
Berdasarkan hasil analisis adanya kasus badan lahir rendah menunjukan jumlah
tidak hanya disebabkan oleh kasus berat badan lahir rendah dengan
penimbangan berat yang berisiko tinggi, penimbangan berat badan yang berisiko
ditemukan bahwa 21,7% diantaranya rendah sebanyak 60,3%. Dalam hal ini
juga memiliki paritas tinggi, 82,6% berat badan lahir rendah tidak hanya
memiliki jarak kehamilan berisiko dipengaruhi oleh penimbangan berat
tinggi, 73,9% tidak melakukan badan tetapi juga bisa disebabkan oleh
pemeriksaan tekanan darah, dan 95,7% faktor lain. Berdasarkan hasil analisis
tidak melakukan pemeriksaan kadar penimbangan berat badan dengan risiko
hemoglobin. rendah namun menjadi kasus dalam
Pada penelitian ini adanya risiko kejadian BBLR ditemukan bahwa
penimbangan berat badan terhadap berat 45,7% diantaranya memiliki paritas
badan lahir rendah menunjukan jumlah tinggi, 65,7% yang memiliki jarak
kontrol berat badan lahir rendah dengan kehamilan risiko tinggi, 60,0% ryang
penimbangan berat badan yang berisiko tidak melakukan pemeriksaan tekanan
tinggi sebanyak 20,7%. Dalam hal ini darah, 74,3% yang tidak melakukan
ibu yang tidak melakukan penimbangan pemeriksaan kadar hemoglobin dan juga
berat badan bisa mengantisipasi agar dapat dipengaruhi faktor risiko lainnya.
tidak melahirkan berat badan lahir Risiko Cakupan Pemeriksaan
rendah dengan melakukan kunjungan Tekanan darah Terhadap Berat
antenatal care yang rutin, memeriksakan Badan Lahir Rendah
tekanan darah, dan juga memeriksakan Hasil penelitian diperoleh bahwa
kadar hemoglobin, memiliki jarak Cakupan pemeriksaan tekanan darah
kehamilan > 2 tahun paritas rendah, dan merupakan risiko kejadian berat badan
faktor lain seperti tidak terpapar asap lahir rendah. Berdasarkan hasil uji

Jurnal Kesehatan Masyarakat (Rosmala Nur, Adhar Arifuddin, Redita Novilia: 29-42) 37
Jurnal Preventif, Volume 7 Nomor 1, Maret 2016 : 1- 64

statistik diperoleh nilai OR yaitu 2,692, pada saat hamil berisiko 1,71 kali
hal ini menunjukkan bahwa Cakupan melahirkan bayi dengan Berat Badan
pemeriksaan tekanan darah adalah Lahir Rendah dibandingkan ibu yang
faktor risiko kejadian berat badan lahir melakukan pemeriksaan tekanan darah
rendah atau dengan kata lain ibu yang pada saat hamil. Hal ini disebabkan
tidak melakukan cakupan pemeriksaan masih kurangnya ibu melakukan
tekanan darah berisiko 2,692 kali lebih kunjungan antenatal care dan tidak
besar untuk melahirkan berat badan melakukan pemeriksaan tekanan darah
lahir rendah dibandingkan dengan ibu sehingga tekanan darah ibu tidak
yang melakukan cakupan pemeriksaan terkontrol selama kehamilan.[4]
tekanan darah. Nilai lower limit dari uji Pada penelitian ini adanya risiko
statistik yaitu 1,397 dan upper limit pemeriksaan tekanan darah terhadap
yaitu 5,184. Cakupan pemeriksaan berat badan lahir rendah menunjukan
tekanan darah merupakan faktor risiko jumlah kasus berat badan lahir rendah
kejadian BBLR disebabkan responden dengan pemeriksaan tekana darah yang
yang melakukan kunjungan antenatal berisiko tinggi sebanyak 65,5%. Hal ini
care tidak melakukan pemeriksaan dikarenakan kunjungan antenatal care
tekanan darah sehingga tekanan darah ibu hamil yang kurang dan tidak
tidak terkontrol selama masa kehamilan. melakukan pemeriksaan tekanan darah
Upaya pencegahan yang dapat selama hamil sehingga tidak
dilakukan adalah rutin melakukan terkontrolnya tekanan darah ibu selama
kunjungan antenatal care dan hamil yang dapat menyebabkan
melakukan pemeriksaan tekanan darah hipertensi ataupun hipotensi
setiap kali kunjungan. mempunyai risiko tinggi terjadinya
Pada penelitian ini diperoleh pada BBLR. Kurangnya pemahaman dan
cakupan pemeriksaan tekanan darah pengetahuan ibu hamil tentang
risiko tinggi, 38 responden (65,5%) pentingnya kunjungan ANC pada saat
diantaranya melahirkan dengan berat ibu tersebut merasa dirinya hamil agar
badan lahir rendah, sedangkan pada mendapatkan diagnosis kehamilan serta
cakupan pemeriksaan tekanan darah ada tidaknya masalah atau komplikasi
risiko rendah, terdapat 20 responden yang terjadi. Berdasarkan hasil analisis
(34,5%) yang melahirkan dengan berat adanya kasus tidak hanya disebabkan
badan lahir rendah. oleh pemeriksaan tekanan darah yang
Penelitian ini sejalan dengan berisiko tinggi, ditemukan bahwa 31,6%
penelitian yang dilakukan oleh Fitrah diantaranya juga memiliki paritas
Ernawati pada tahun 2011 menyatakan tinggi, 73,3% memiliki jarak kehamilan
bahwa frekuensi pemeriksaan tekanan berisiko tinggi, 44,7% tidak melakukan
darah berisiko terhadap kejadian berat penimbangan berat badan, dan 92,1%
badan lahir rendah dimana nilai OR tidak melakukan pemeriksaan kadar
yang didapatkan yaitu 1,71 sehingga hemoglobin.
dapat disimpulkan bahwa ibu yang tidak Pada penelitian ini adanya risiko
melakukan pemeriksaan tekanan darah pemeriksaan tekanan darah terhadap

Jurnal Kesehatan Masyarakat (Rosmala Nur, Adhar Arifuddin, Redita Novilia: 29-42) 38
Jurnal Preventif, Volume 7 Nomor 1, Maret 2016 : 1- 64

berat badan lahir rendah menunjukan diantaranya memiliki paritas tinggi,


jumlah kontrol berat badan lahir rendah 70,0% memiliki jarak kehamilan risiko
dengan pemeriksaan tekanan darah yang tinggi, 30,0% yang tidak melakukan
berisiko tinggi sebanyak 41,4%. Dalam penimbangan berat badan, 65,0%
hal ini ibu yang tidak melakukan responden yang tidak melakukan
pemeriksaan tekanan darah bisa pemeriksaan kadar hemoglobin dan juga
mengantisipasi melahirkan berat badan dapat dipengaruhi faktor risiko lainnya.
lahir rendah dengan melakukan Risiko Cakupan Pemeriksaan Kadar
kunjungan antenatal care yang rutin Hemoglobin Terhadap Berat Badan
dengan, melakukan penimbangan berat Lahir Rendah
badan, dan juga memeriksakan kadar Hasil penelitian diperoleh bahwa
hemoglobin, memiliki jarak kehamilan Cakupan pemeriksaan kadar
> 2 tahun, paritas rendah, dan faktor hemoglobin merupakan risiko kejadian
lain seperti tidak terpapar asap rokok, berat badan lahir rendah. Berdasarkan
dan status gizi ibu yang baik. hasil uji statistik diperoleh nilai OR
Berdasarkan hasil analisis pemeriksaan yaitu 3,154, hal ini menunjukkan bahwa
tekanan darah yang berisiko tinggi Cakupan pemeriksaan kadar
namun menjadi kontrol dalam kejadian hemoglobin adalah faktor risiko
BBLR ditemukan bahwa 45,8% kejadian berat badan lahir rendah atau
diantaranya memiliki jarak kehamilan dengan kata lain ibu yang tidak
yang berisiko renda, 70,8% yang melakukan cakupan pemeriksaan kadar
memiliki paritas rendah, 62,5% yang hemoglobin berisiko 3,154 kali lebih
melakukan kunjungan antenatal care, besar untuk melahirkan berat badan
62,5% yang melakukan penimbangan lahir rendah dibandingkan dengan ibu
berat badan, dan juga dapat dipengaruhi yang melakukan cakupan pemeriksaan
faktor lainnya seperti memiliki status kadar hemoglobin. Nilai lower limit dari
gizi yang baik dan tidak terpapar oleh uji statistik yaitu 1,451 dan upper limit
asap rokok. yaitu 6,855. Cakupan pemeriksaan
Pada penelitian ini adanya risiko kadar hemoglobin merupakan faktor
pemeriksaan tekanan darah terhadap risiko kejadian BBLR disebabkan
berat badan lahir rendah menunjukan karena dalam kunjungan antenatal care
jumlah kasus berat badan lahir rendah masih banyak responden yang tidak
dengan pemeriksaan tekanan darah yang diperiksa kadar hemoglobinnya
berisiko rendah sebanyak 34,5%. sehingga kadar hemoglobin tidak
Dalam hal ini berat badan lahir rendah terkontrol dengan baik selama masa
tidak hanya dipengaruhi oleh kehamilan yang dapat berdampak
pemeriksaan tekanan darah tetapi juga responden mengalami anemia sehingga
bisa disebabkan oleh faktor lain. melahirkan BBLR. Upaya pencegahan
Berdasarkan hasil analisis pemeriksaan yang dapat dilakukan adalah rutin
tekanan darah dengan risiko rendah melakukan kunjungan antenatal care
namun menjadi kasus dalam kejadian dan melakukan pemeriksaan kadar
BBLR ditemukan bahwa 45,0%

Jurnal Kesehatan Masyarakat (Rosmala Nur, Adhar Arifuddin, Redita Novilia: 29-42) 39
Jurnal Preventif, Volume 7 Nomor 1, Maret 2016 : 1- 64

hemoglobin 2 kali kunjungan dalam mendapatkan diagnosis kehamilan serta


masa kehamilan. ada tidaknya masalah atau komplikasi
Pada penelitian ini diperoleh pada yang terjadi. Berdasarkan hasil analisis
cakupan pemeriksaan kadar hemoglobin adanya kasus tidak hanya disebabkan
risiko tinggi, 48 responden (82,8%) oleh pemeriksaan kadar hemoglobin
diantaranya melahirkan dengan berat yang berisiko tinggi, ditemukan bahwa
badan lahir rendah, sedangkan pada 31,3% diantaranya juga memiliki
cakupan pemeriksaan kadar hemoglobin paritas tinggi, 70,8% memiliki jarak
risiko rendah, terdapat 10 responden kehamilan berisiko tinggi, 72,9% tidak
(17,2%) yang melahirkan dengan berat melakukan pemeriksaan tekanan darah,
badan lahir rendah. dan 45,8% tidak melakukan
Penelitian ini sejalan dengan penimbangab berat badan.
penelitian yang dilakukan oleh Lia Pada penelitian ini adanya risiko
amalia di RSUD dr. MM Bunda pemeriksaan kadar hemoglobin
Gorontalo pada tahun 2011 yang terhadap berat badan lahir rendah
menunjukkan bahwa pemeriksaan menunjukan jumlah kontrol berat badan
Antenatal care berisiko terhadap lahir rendah dengan pemeriksaan kadar
kejadian Berat Badan Lahir Rendah hemoglobin yang berisiko tinggi
dengan nilai OR= 1,944 sehingga ibu sebanyak 60,3%. Dalam hal ini ibu yang
dengan pemeriksaan Antenatal Care < 4 tidak melakukan pemeriksaan kadar
kali berisiko 1,944 kali melahirkan bayi hemoglobin bisa mengantisipasi
dengan berat badan lahir rendah melahirkan berat badan lahir rendah
dibandingkan dengan ibu dengan apabila ibu melakukan kunjungan
pemeriksaan antenatal care 4 kali. [7] antenatal care yang rutin dengan,
Pada penelitian ini adanya risiko memeriksakan tekanan darah, dan juga
pemeriksaan kadar hemoglobin melakukan penimbagan berat badan,
terhadap berat badan lahir rendah memiliki jarak kehamilan > 2 tahun,
menunjukan jumlah kasus berat badan paritas rendah, dan faktor lain seperti
lahir rendah dengan pemeriksaan kadar tidak terpapar asap rokok, dan status
hemoglobin yang berisiko tinggi gizi ibu yang baik. Berdasarkan hasil
sebanyak 82,8%. Hal ini dikarenakan analisis pemeriksaan kadar hemoglobin
kunjungan antenatal care ibu hamil yang berisiko tinggi namun menjadi
yang kurang dan tidak melakukan kontrol dalam kejadian BBLR
pemeriksaan kadar hemoglobin selama ditemukan bahwa 45,7% diantaranya
hamil sehingga tidak terkontrolnya memiliki jarak kehamilan yang rendah,
kadar hemoglobin ibu selama hamil 72,9% yang memiliki paritas rendah,
yang dapat menyebabkan anemia 74,3% yang melakukan kunjungan
mempunyai risiko tinggi terjadinya antenatal care, 31,4% yang melakukan
BBLR. Kurangnya pemahaman dan pemeriksaan tekanan darah, 71,4% yang
pengetahuan ibu hamil tentang melakukan penimbangan berat badan
pentingnya kunjungan ANC pada saat dan juga dapat dipengaruhi faktor
ibu tersebut merasa dirinya hamil agar

Jurnal Kesehatan Masyarakat (Rosmala Nur, Adhar Arifuddin, Redita Novilia: 29-42) 40
Jurnal Preventif, Volume 7 Nomor 1, Maret 2016 : 1- 64

lainnya seperti memiliki status gizi yang 5. Cakupan pemeriksaan kadar


baik dan tidak terpapar oleh asap rokok. hemoglobin merupakan faktor risiko
Berat badan lahir rendah tidak dan memiliki hubungan yang
hanya dipengaruhi oleh pemeriksaan bermakna terhadap kejadian berat
kadar hemoglobin tetapi juga bisa badan lahir rendah di RSU
disebabkan oleh faktor lain. Anutapura palu
Berdasarkan hasil analisis pemeriksaan
kadar hemoglobin dengan risiko rendah Berdasarkan hasil penelitian ini,
namun menjadi kasus dalam kejadian maka peneliti memberikan beberapa
BBLR ditemukan bahwa 60,0% saran dan rekomendasi yaitu:
diantaranya memiliki paritas tinggi 1. Disarankan kepada ibu hamil agar
80,0% memiliki jarak kehamilan risiko lebih mengontrol jumlah paritas dan
tinggi, 10,0% yang tidak melakukan meningkatkan pengetahuan
penimbangan berat badan, 30,0% yang mengenai dampak dari paritas
tidak melakukan pemeriksaan tekanan tinggi, dan menggunakan alat
darah dan juga dapat dipengaruhi faktor kontrasepsi.
risiko lainnya. 2. Disarankan kepada ibu hamil agar
lebih mengontrol jarak kehamilan
D. KESIMPULAN DAN SARAN dan meningkatkan pengetahuan
Adapun kesimpulan yang dapat mengenai dampak jarak kehamilan
diambil dari penelitian ini adalah kehamilan yang terlalu sempit, dan
sebagai berikut: menggunakan alat kontrasepsi.
1. Paritas merupakan faktor risiko tetapi 3. Disarankan kepada ibu hamil agar
tidak memiliki hubungan yang melakukan kunjungan anteatal care
bermakna terhadap kejadian berat yang rutin dan melakukan cakupan
badan lahir rendah di RSU penimbangan berat badan sehingga
Anutapura palu selama kehamilan berat badan dapat
2. Jarak Kehamilan merupakan faktor terkontrol dengan baik sehingga
risiko dan memiliki hubungan yang menghindarkan melahirkan berat
bermakna terhadap kejadian berat badan lahir rendah
badan lahir rendah di RSU 4. Disarankan kepada ibu hamil agar
Anutapura palu melakukan kunjungan anteatal care
3. Cakupan penimbangan berat badan yang rutin dan melakukan cakupan
merupakan faktor risiko dan pemeriksaan tekanan darah sehingga
memiliki hubungan yang bermakna selama kehamilan tekanan darah
terhadap kejadian berat badan lahir dapat terkontrol dengan baik
rendah di RSU Anutapura palu sehingga menghindarkan melahirkan
4. Cakupan pemeriksaan tekanan darah berat badan lahir rendah
merupakan faktor risiko dan 5. Disarankan kepada ibu hamil agar
memiliki hubungan yang bermakna melakukan kunjungan anteatal care
terhadap kejadian berat badan lahir yang rutin dan melakukan cakupan
rendah di RSU Anutapura palu pemeriksaan kadar hemoglobin

Jurnal Kesehatan Masyarakat (Rosmala Nur, Adhar Arifuddin, Redita Novilia: 29-42) 41
Jurnal Preventif, Volume 7 Nomor 1, Maret 2016 : 1- 64

sehingga selama kehamilan berat Kebidanan STIKES Muhammadiyah


badan dapat terkontrol dengan baik Klaten
sehingga menghindarkan melahirkan 6. Ismi Triardani. 2011. Faktor Risiko
berat badan lahir rendah Kejadian Berat Badan Lahir Rendah
6. Untuk peneliti selanjutnya di Wilayah Kerja Puskesmas
diharapkan mampu mengkaji lebih Singkawang Timur. Singkawang:
dalam lagi faktor apa saja yang dapat Program Studi Ilmu Gizi, Fakultas
berisiko terhadap berat badan lahir Kedokteran Universitas Diponegoro
rendah sehingga akan memudahkan 7. Lia Amalia. 2011.Faktor Risiko
dalam mencari solusi yang baik Kejadian Berat Badan Lahir rendah
untuk perbaikan kesehatan di RSUD dr. MM Bunda Gorontalo.
masyarakat. Gorontalo:Universitas Negeri
Gorontalo Fakultas Kesehatan
DAFTAR PUSTAKA Masyarakat.
1. Almira Githa.2007. Hubungan Jarak 8. Proverawati Atikah, & Ismawati
Kehamilan Dengan kejadian Berat Cahyo, S. (2010). BBLR : Berat
Badan Lahir Rendah di RSD Badan Lahir Rendah. Yogyakarta:
Panambahan Senopati Tahun 2007. Nuha Medika
Bantul. 9. Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas)
2. Colti Sistiarani.2008.Faktor 2007. Badan Penelitian dan
Maternal Dan Kualitas Pelayanan Pengembangan Kesehatan
Antenatal yang Berisiko Terhadap Kementerian Kesehatan RI.Jakarta.
Kejadian BBLR di RSUD Banyumas. 10. Rotua H Samuel.2010.Hubungan
Program Studi Magister Ilmu antara frekuensi antenatal care
Kesehatan Masyarakat: Jurusan dengan kejadian bayi berat lahir
Manajemen Kesehatan Ibu dan Anak rendah berdasarkan masa kehamilan
3. Depkes RI, 2009. Sistem Kesehatan di RSUD Dr.Moewardi Surakarta.
Nasional. Jakarta. Surakarta:Fakultas Kedokteran
4. Fitrah.2011. Hubungan Antenatal Universitas Sebelas Maret.
Care dengan Berat Badan Lahir 11. Timmreck
Bayi di Indonesia (Analisis Lanjut T.C.2005.Epidemiologi:Suatu
Data Riskesdas 2010). Pusat pengantar.Jakarta:EGC
Teknologi Terapan Kesehatan dan 12. WHO, 2011, Guidlines on Optimal
Epidemiologi Klinik Feeding of Low Birth Weight Infants
5. Handayani Sri, Umi in Low-and-Middle-income
Rozigoh.2008.Paritas Dengan countries, WHO Library Cataloguing
Kejadian Berat Badan Lahir Rendah in Publication Data. Diakses melalui
Di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. http :// www
Soeradji Tirtonegoro Klaten Tahun .who.int/maternal_child_adolescent/
2008. Klaten:Program Studi DIII ocuments/infant_feeding_low_bw/en
/. Pada tanggal 26 april 2015.

Jurnal Kesehatan Masyarakat (Rosmala Nur, Adhar Arifuddin, Redita Novilia: 29-42) 42

View publication stats