Anda di halaman 1dari 5

Immunomodulator

Senyawa yang mampu berinteraksi dengan sistem imun sehingga dapat


menaikkan atau menekan aspek spesifik dari respon imun dapat digolongkan
sebagai imunomodulator atau pengubah respon biologik. Imunomodulator digunakan
untuk memperbaiki sistem imun dengan cara stimulasi (imunostimulan) pada
kondisi defisiensi imun dan menekan (imunosupresan) atau menormalkannya pada
saat reaksi imun berlebihan (Barbour et al., 2004).
Imunosupresan adalah senyawa atau obat yang dapat menekan respon imun.
Biasanya diberikan pada penerima organ transplan, untuk menekan sistem imunnya
agar tidak menolak organ yang diterima. Imunosupresan mampu menghambat
transkripsi dari sitokin dan memusnahkan sel T. Imunosupresan dapat dibagi
menjadi 5 kelompok, yaitu agen alkilasi, tiopurin, antimetabolit, produk fungi
misalnya siklosporin, dan golongan kortikosteroid (Tan, 2007).
Imunostimulator adalah senyawa atau obat yang memacu sistem imun
dengan cara menginduksi atau meningkatkan aktivitas dari komponen-komponen
sistem imun. Imunostimulator dapat mereaktivasi sistem imun dengan berbagai cara
seperti meningkatkan jumlah dan aktivitas sel T, sel NK dan makrofag serta
melepaskan interferon dan interleukin (Tan, 2007). Imunostimulator digolongkan
menjadi dua yaitu imunostimulator spesifik dan nonspesifik. Imunostimulator spesifik
adalah senyawa yang memberikan spesifisitas antigenik dalam respon imun,
misalkan vaksin atau antigen lain sedangkan imunostimulator nonspesifik adalah
senyawa yang tidak bersifat antigenik, tetapi dapat meningkatkan respon imun dari
antigen lain atau menstimulasi komponen sitem imun tanpa mempunyai sifat
imunogenik, misalkan adjuvan. Dewasa ini, senyawa-senyawa dari bahan alam
diklaim mempunyai efek imunostimulator.
Tanaman herbal yang berkhasiat sebagai imunosupresan yaitu :

 Meniran (Phyllantus niruri L.)

Salah satu bahan alami yang dapat digunakan sebagai immunomodulator


adalah Phyllanthus niruri L. (Williams, 2001). Meniran merupakan herba, semusim,
tumbuh tegak, tinggi 30-50 cm, bercabang–cabang. Batang berwarna hijau pucat.
Daun tunggal, letak berseling. Helaian daun bundar memanjang, ujung tumpul,
pangkal membulat, permukaan bawah berbintik kelenjar, tepi rata, panjang sekitar
1,5 cm, lebar sekitar 7 mm, berwarna hijau. Dalam satu tanaman ada bunga betina
dan bunga jantan. Bunga jantan keluar di bawah ketiak daun, sedangkan bunga
betina keluar di atas ketiak daun. Buahnya kotak, bulat pipih, licin, bergaris tengah 2-
2,5 mm. Bijinya kecil, keras, berbentuk ginjal, berwarna coklat (Syamsyuhidayat &
Hutapea, 1991).
Sistematika Tumbuhan Meniran (Badan POM RI, 2008).
Divisi : Spermatophyta
Sub divisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledoneae
Ordo : Euphorbiales
Famili : Euphorbiaceae
Genus : Phyllanthus
Spesies : Phyllanthus niruri Linn
Nama daerah : Meniran ijo, memeniran (Sunda), meniran (Jawa).
Phyllanthus niruri L., telah digunakan pada Ayurvedic medicine selama lebih
dari 2000 tahun untuk penyakit batu empedu, gonorhoe, dan diabetes. Secara
topikal dipakai untuk mengobati ulkus, luka, bengkak, dan gatal-gatal. Pada
Ayurvedic Medicine juga digunakan untuk pengobatan bronkhitis, lepra, anemia, dan
asma. Phyllanthus juga memiliki efek dalam terapi disentri, influenza, vaginitis,
tumor, diabetes, diuretik, jaundice, batu ginjal, dispepsia, antiviral dan juga
antihiperglikemia (Paithankar et al., 2011).
Meniran (Phyllanthus niruri L.) mengandung komponen fitokimia seperti
flavonoid, alkaloid, tanin, dan saponin (Mangunwardoyo dkk., 2009). Meniran
memiliki aktivitas imunostimulator yang dapat meningkatkan sistem imun pada
binatang percobaan maupun manusia (Christever, 2001). Ekstrak meniran hijau
meningkatkan aktivitas fagositosis makrofag dan produksi nitrit oksida yang
meningkat pada mencit Balb/c (Ibnul, 2012). Penelitian yang dilakukan oleh Maat
(1996), diketahui efek meniran pada mencit dapat meningkatkan fagositosis dan
kemotaksis makrofag, kemotaksis neutrofil, sitotoksisitas sel NK dan aktivitas
hemolisis komplemen. Penelitian Aldi dkk. (2014) menggunakan dosis 100 mg/kgBB
ekstrak etil asetat meniran untuk meningkatkan respon imun mencit jantan putih.
Pemberian ekstrak meniran dapat meningkatkan aktivitas dan fungsi
beberapa komponen imunitas nonspesifik serta imunitas spesifik, baik humoral
maupun selular. Efek terhadap respon imun nonspesifik berupa peningkatan
fagositosis makrofag. Meniran juga memiliki aktivitas untuk meningkatkan proliferasi
dari sel B dan sel T limfosit (Nworu et al., 2010). Senyawa-senyawa yang
terkandung dalam meniran antara lain kuersetin, kuersitrin, isokuersitrin, astragalin,
rutin, alkaloid, terpenoid, lignin, polifenol, tanin, kumarin dan saponin (Paithankar et
al, 2011). Beberapa penelitian terdahulu menyebutkan bahwa arabinogalaktan yang
terdapat di dalam meniran merupakan substansi yang berperan dalam stimulasi
sistem imun dengan mendorong makrofag untuk memfagositasi dengan
meningkatkan produksi anion superoksida (Mellinger et al., 2008).
Tjandrawinata et al., (2005) telah melakukan penelitian uji pra-klinis untuk
menguji aktivitas meniran. Uji pra-klinis terhadap tikus dan mencit dilakukan untuk
menentukan keamanan dan karakteristik imunomodulasi. Hasil penelitian bahwa
ekstrak P. niruri dapat memodulasi sistem imun melalui proliferasi dan aktivasi
limfosit T dan B, sekresi beberapa sitokin spesifik seperti interferon-gamma, TNF-α
dan beberapa interleukin, aktivasi sistem komplemen, aktivasi sel fagositik seperti
makrofag, dan monosit. Penelitian Zalizar (2013) juga menyebutkan bahwa flavonoid
meniran memiliki aktivitas imunomodulator khususnya sebagai imunostimulator
karena mampu meningkatkan aktivitas dan kapasitas fagositosis serta titer antibodi
pada tikus Wistar jantan yang diinduksi S.aureus.
DAFTAR PUSTAKA

Badan POM RI, 2008, Taksonomi Koleksi Tanaman Obat Kebun Tanaman Obat
Citeurep Edisi I, Badan POM RI, Jakarta.

Barbour, E.K., Sagherian, V.K., Talhouk, R.S., Harakh, S. & Talhouk, S.N., 2004, Cell
Immunomodulation against Salmonella enteritidis in Herbal Extract-treated
Broilers, Journal of Applied Research in Veterinary Medicine, 2 : 67-73.

Christever, 2001, Pengaruh Meniran dan Jombang dalam Mengurangi Reaksi


Peradangan secara Makroskopis serta Menekan Jumlah Eosinofil dalam Darah
pada Dermatitis, Badan Litbang Kesehatan, Jakarta.

Ibnul, 2012, Uji Komparasi Aktivitas Fagositosis Makrofag dan Produksi Nitrit Oksida
pada Mencit Balb/c Akibat Perlakuan Ekstrak Meniran Hijau (Phyllanthus niruri)
dan Meniran Merah (Phyllanthus urinaria) yang diinfeksi Bakteri Salmonella
thypi, Tesis, Pascasarjana Biosains, Universitas Sebelas Maret, Surakarta.

Mangunwardoyo, W.E. & Cahyaningsih, T., 2009, Ekstraksi dan Identifikasi Senyawa
Antimikroba Herba Meniran (Phyllanthus niruri L), Jurnal Ilmu Kefarmasian
Indonesia, 7 (2) : 57-63.

Mellinger, C.G., Thales R.C., Guilhermina R.N., Elaine R.C., Maria B., Philip A.J. &
Gorin, M.I., 2008, Chemical and Immunological Modifications of an
Arabinogalactan Present in Tea Reparations of Phyllanthus niruri After
Treatment with Gastric Fluid, International Journal of Biological
Macromolecules 43.

Nworu, C.S., Akah, P.A., Okoye, F.B., Proksch, P. & Esimone, C.O., 2010, The effect
of Phyllanthus niruri Aqueous Extract on The Activation of Murine Lymphocytes
and Bone-Derived Macrophages, Immunol Invest., 39 (3) : 46-47.

Paithankar, V. V., Raut, K. S., Charde, R. M. & Vyas, J. V., 2011, Review Article,
Phyllanthus niruri : A Magic Herb, Research in Pharmacy 1 (4) : 1-9.

Syamsuhidayat, S.S. & Hutapea, J.R., 1991, Inventaris Tanaman Obat Indonesia,
Departemen Kesehatan RI, Jakarta.

Williams, J.E., 2001, Review of Antiviral and Immunomodulating Properties of Plants


of The Peruvian Rainforest with a Particular Emphasis on Uña de Gato and
Sangre de Grado, Alternative Medicine Review, 6 : 567-79.