Anda di halaman 1dari 25

HALAMAN JUDUL

MAKALAH
FILSAFAT DAN GAYA KEPEMIMPINAN
Disusun untuk memenuhi salah satu tugas Kepemimpinan Dan Berfikir Sistem

KELAS K3

DISUSUN OLEH KELOMPOK 2:

1. Evi Sartika (J1A1 17 037)


2. La Ode Nahrul Jamiat (J1A1 17 068)
3. Nasruddin (J1A1 17 088)
4. Siti Azzahra (J1A1 17 132)
5. Tuti Mulyanti (J1A1 17 143)
6. Winda Sari Ondjo (J1A1 17 285)
7. Emi Ayu Elsawati (J1A1 17 309)
8. Rahma Windi Astuti (J1A1 17 327)

JURUSAN KESEHATAN MASYARAKAT


FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2019

i
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami ucapkan atas kehadirat Allah SWT. Karena dengan
rahmat dan karunianya kami masih diberi kesempatan. Untuk menyelesaikan
tugas Kepemimpinan Dan Berfikir Sistem Kesehatan Masyarakat. Tidak lupa juga
kami ucapkan terima kasih kepada dosen pembimbing ibu Agnes Mersatika
Hartoyo, S.K.M., M.Kes, yang telah membimbing kami agar dapat mengerti
tentang bagaimana cara menyusun tugas ini. Tugas ini disusun agar pembaca
dapat memperluas ilmu Kepemimpinan Dan Berfikir Sistem Kesehatan
Masyarakat, yang kami sajikan berdasarkan pengamatan dari berbagai sumber.
Makalah ini di susun oleh kami dengan berbagai rintangan. Baik itu yang datang
dari diri kami maupun yang datang dari luar. Namun dengan penuh kesabaran dan
terutama pertolongan dari tuhan akhirnya tugas ini dapat terselesaikan.
Semoga tugas kami dapat bermanfaat bagi para mahasiswa umum
khususnya pada diri kami sendiri dan semua yang membaca tugas kami ini. Dan
mudah-mudahan juga dapat memberikan wawasan yang lebih luas kepada
pembaca. Walaupun tugas ini memiliki kelebihan dan kekurangan. Kami mohon
untuk saran dan kritiknya. Terima kasih.

Kendari, 27 Februari 2019

Penyusun

ii
DAFTAR ISI

iii
DAFTAR TABEL

iv
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kepemimpinan merupakan faktor yang sangat penting dalam sebuah
perusahaan. Kepemimpinan merupakan sebuah kepentingan bagi perusahaan
karena perusahaan pasti terdiri dari beberapa orang yang bergabung untuk
mencapai tujuan yang sama, dan dibutuhkan seorang pemimpin yang dapat
membuat peruashaan berjalan sesuai dengan tujuannya. Kepemimpinan telah
terbukti sebagai aset berharga bagi suatu perusahaan (Crossan & Apaydin, 2013).
Bahkan diantara komponen – komponen lain organisasi seperti struktur, budaya,
praktik manajerial, misi, visi, tujuan, strategi, kebijakan, prosedur serta iklim
kerja, kepemimpinan merupakan salah satu komponen terpenting atau inti (Yukl,
2008). Pentingnya peran kepemimpinan dalam sebuah perusahaan menjadi konsep
yang menarik perhatian para peneliti untuk melakukan penelitian di bidang
perilaku keorganisasian ini. Bass menyatakan bahwa kualitas dari pemimpin
sering kali dianggap sebagai faktor terpenting yang menentukan keberhasilan atau
kegagalan organisasi. Nielsen dan Daniels (2011) juga menyatakan bahwa
pemimpin mempunyai pengaruh besar terhadap keberhasilan organisasi.
Greenberg dan Baron (2000) menyatakan bahwa kepemimpinan merupakan suatu
unsur kunci dalam keefektifan organisasi. Kepemimpinan adalah proses
memengaruhi atau memberi contoh oleh pemimpin kepada pengikutnya dalam
upaya mencapai tujuan organisasi (Nurkolis, 2003). Hal ini sesuai dengan apa
yang diungkapkan oleh Mohyi (2006), yang mendefinisikan pemimpin sebagai
kegiatan mempengaruhi, mengorganisir, mengarahkan atau menggerakkan orang
lain untuk melaksanakan sesuatu demi mencapai tujuan. Pemimpin harus mampu
menumbuhkan motivasi dan memberikan wawasan kepada pengikutnya agar
sikap hormat dan kepercayaan tumbuh sehingg mereka dapat bergerak sesuai
dengan visi dan misi organisasi. Dalam situasi perekonomian yang semakin sulit
ini, kepimimpinan yang efektif sangatlah dibutuhkan di perusahaan manapun,
terutama untuk menghadapi ketidakpastian yang akan datang. Seorang pemimpin

1
2

yang efektif harus dapat mengetahui kelebihan dan kelemahan yang dimiliki
bawahannya, sehingga dapat memecahkan masalah dan kinerja organisasi akan
lebih maksimal.
Gaya kepemimpinan adalah pola menyeluruh dari tindakan seorang
pemimpin, yang tampak dan yang tidak tampak oleh bawahannya. Gaya
kepemimpinan menggambarkan kombinasi yang konsisten dari falsafah,
ketrampilan, sifat, dan sikap yang mendasari perilaku seseorang (Bass & Riggio,
2006). Gaya kepemimpinan seperti kepemimpinan transformasional dan
kepemimpinan transaksional akan sangat diperlukan dalam perusahaan saat ini.
Bass dan Riggio (2009) mendefinisikan kepemimpinan transformasional sebagai
pemimpin yang mempunyai kekuatan untuk mempengaruhi bawahan dengan cara
– cara tertentu. Istilah transformasional sendiri berasal dari kata transform yang
berarti merubah sesuatu menjadi bentuk yang berbeda. Didalam perusahaan,
kepemimpinan tranformasional dapat diartikan sebagai upaya yang dilakukan oleh
pemimpin untuk mentransformasikan secara optimal sumber daya yang ada untuk
mencapai tujuan organisasi sesuai dengan yang sudah ditetapkan. Kepemimpinan
transaksional merupakan gaya kepemimpinan yang harus memiliki informasi yang
jelas mengenai apa yang dibutuhkan dan diinginkan bawahannya (Melcafe, 2010).
Pada kepemimpinan transaksional, pemimpin menjanjikan dan memberikan
penghargaan pada bawahannya yang dinilai memiliki kinerja baik, dan sebaliknya
memberikan ancaman dan memberikan konsekuansi atas kinerja buruk. Bass
mengemukakan kepemimpinan transaksional adalah kepemimpinan di mana
pemimpin menentukan apa yang harus dikerjakan oleh karyawan agar mereka
dapat mencapai tujuan mereka sendiri atau organisasi dan membantu karyawan
agar memperoleh kepercayaan dalam mengerjakan tugas tersebut. Namun, Bass
(2006) menganggap bahwa seorang pemimpin dapat menggunakan kedua tipe ini
dalam waktu dan situasi yang berbeda. Tapi, hanya pemimpin transformasional
yang dapat mempengaruhi pengikutnya dengan emosional yang kuat.
3

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang diatas, maka rumusan masalah dalam makalah
ini antara lain :
1. Bagaimana Filsafat dari Kepemimpinan?
2. Bagaiman Gaya dari Kepemimpinan?
3. Bagaimana The Big Five Personality Traits?
4. Bagaimana Kepemimpinan Dan Pelayanan Kesehatan?

1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum
Tujuan umum penulis makalah ini adalah untuk mengetahui konsep
filsafat kepemimpinan dan gaya kepemimpinan, dan untuk memenuhi tuga
matakuliah kepemimpinan dan berpikir sistem kesehatan masyarakat.
1.3.2 Tujuan Khusus
Tujuan khusus penulisan makalah ini antara lain:
1) Untuk mengetahui Filsafat dari Kepemimpinan
2) Untuk mengetahui Gaya dari Kepemimpinan
3) Untuk mengetahui The Big Five Personality Traits
4) Untuk mengetahui Kepemimpinan Dan Pelayanan Kesehatan
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Filsafat Kepemimpinan
1. Model Plato
Plato yang hidup tahun 428-347 sebelum Masehi, banyak mengikuti ajaran
Socrates. Aliran filsafatnya berpendapat bahwa manusia dalam melihat segala
sesuatu senantiasa tergantung pada pikiran dan kejiwaannya. Aliran yang disebut
Idealisme ini, dalam kelompok Subyektif Idealisme, bertentangan dengan aliran
filsafat Naturalisme, sedangkan kelompok Obyektif Idealisme, bertentangan
dengan aliran filsafat Realisme. Pemahaman aliran Idealisme diibaratkan dalam
perumpamaan “Allegory of Cave”, yakni bila ada seseorang sepanjang hidupnya
di dalam gua, yang belakangnya terdapat nyala api, maka bayangan dirinya dalam
dinding gua akan dianggap sebagai suatu hal yang nyata.
Penganut Idealisme ini berpendapat, barang yang sama bisa dipersepsikan
sebagai sosok yang berbeda. Sebagai contoh, di jaman penjajahan, Bung Karno
oleh kolonialis Belanda dianggap sebagai pemberontak dan pengacau yang harus
disingkirkan, tapi bagi rakyat Indonesia, sosok yang sama ini adalah sebagai
pahlawan yang patut diagungkan.
Penganut Idealisme memiliki kehebatan bertujuan yang menganggapnya
sempurna, perfect, dan harus diwujudkan. Pendapat yang berbeda dianggapnya
harus diabaikan, bahkan dilawan. Dinilainya sebagai opini yang konservatif,
kuno, tidak sebagus atau maju, disbanding pendapat dirinya.
Gaya pemimpin idealis semacam ini sangat bagus kalau yang
bersangkutan memang menguasai bidangnya, serta memahami kekuatan dan
kelemahan gagasannya. Sebaliknya, sangat berbahaya bila dimiliki oleh pemimpin
yang tidak memahami bidangnya, hanya mendapatkan referensi dari sumber yang
salah, dan tidak komunikatif. Oleh karenanya, pengikut aliran ini memberikan
beberapa tambahan pencerahan. Rene Descartes (1596-1650) mengingatkan
mengenai penggunaan filsafat Idealisme untuk tidak bermodal pemikiran
yangburuk : “wipe the mirror clean to be ready for undistorted vision”.

4
5

Ditegaskan pula oleh Immanuel Kant (1724-1804): “it does not reflect the world,
but tries to understand and interpret it”.
Sekilas contoh, seorang idealis sangat bagus bila memiliki gagasan
melestarikan sumberdaya perairan. Namun akan menjadi buruk, bila kurang
faham, lantas membabat semua mata pencaharian orang yang menangkap ikan.
Seharusnya berkomunikasi dengan ahli yang memahami dan pelaku bidang
perikanan, untuk tetap membuka peluang bagi nelayan guna mencari nafkah,
namun diatur sehingga kelestarian juga tetap dipertahankan.

2. Model Aristoteles
Aristoteles (384-322 sebelum Masehi), anak seorang dokter istana,
ditinggal wafat ayahnya saat masih remaja. Ketika umur 17 tahun dikirim walinya
untuk “nyantri” pada Akademi yang dikelola Plato di Athena, hingga gurunya
tersebut wafat tahun 347 sebelum Masehi. Disamping mengajar, ia aktif meneliti
dan menulis. Karya Aristoteles, baik prosa populer maupun puisi, merambah
berbagai bidang. Mulai dari biologi—zoology maupun botani, fisika, politik,
psikologi, dan tentu saja filsafat. Banyak istilah keilmuan masa kini yang terambil
dari karya Aristoteles. Banyak pula filosof yang mengikuti pemikirannya,
Romawi maupun Kristen, bahkan ada juga dari Arab—al-Kindi dan Ibnu Sina di
Bagdad pada abad IX dan X, serta Ibnu Bajjah dan Ibnu Rushdi di Spanyol pada
abad XII.
Pada mulanya Aristoteles pengikut setia pemikiran Plato, hingga gurunya
tersebut wafat. Dalam periode sekitar 12 tahun setelahnya, ia sering mulai
mengkritisi beberapa pemikiran Plato. Sejak tahun 335 sebelum Masehi, ia
menolak pemikiran Plato, dengan meyakini pemikiran filsafatnya sendiri, yakni
metode keilmuan, dan menyanggah metafisik. Alirannya yang menjadi dasar
filsafat Realisme ini bersandar pada kenyataan yang dilihat dan dirasakan panca-
indera, lantas diolah oleh logika pemikiran.
Gaya pemimpin yang beraliran Realisme akan bagus karena realistis, tepat
untuk diaplikasikan, difahami oleh publik, dan rasional. Akan lebih hebat lagi
apabila diikuti dengan kreatifitas, akan memberikan kemajuan, inovasi, dan
6

manfaatyang besar. Hanya apabila tidak disertai etika hokum atau moral, bisa
mendatangkan pragmatisme yang negatif.
Contoh ilustrasi, penggagas gerakan Saemaul Udong di Korea Selatan
secara kreatif, setelah melihat realitas, berhasil mengendalikan liberalism dan
kapitalisme ekstreem, menggantikan dengan ekonomi kerakyatan tanpa
mengurangi modernitas dan produktivitas. Adapun contoh buruk aliran ini yang
melihat realitas kekayaan alam Nusantara, tanpa etika, melakukan penggalian
tambang mineral dan pembabatan hutan untuk perkebunan, yang demi mengeruk
keuntungan, mengabaikan kesejahteraan rakyat dan kelestarian.

3. Model Machiavelli
Niccolo Machiavelli (1469-1527) memang terkenal sebagai pemikir
politik dari Italia, dan sempat menjadi sekretaris Dewan Negosiasi Diplomatik
maupun Dewan Penasehat Perang dinegerinya. Dalam bukunya The Prince dan
The Discourses tertulis filosofinya tentang politik, yang pada intinya untuk
memperoleh kekuasaan, tidak perlu mempertimbangkan aspek moralitas, yang
penting cepat berhasil mencapai tujuan dan efisien. “A prince is admonished to
disregard the question of whether his action would be called virtuous or vicious.
A ruler ought to do whatever is appropriate to the situation in which he finds
himself and may lead most quickly and efficiently to success. Sometimes cruelty,
sometimes leniency, sometimes loyalty, sometimes villainy might be the right
course. The choice depends on circumstances”.
Memang ada pepatah, dalam politik hanya ada satu kepastian, yakni
ketidak pastian. Dalam bahasa halusnya sebagaimana yang diungkapkan oleh
tokoh reformis Cina, Deng Xiao Ping: “Tidak peduli kucing hitam atau putih,
yang penting dapat menangkap tikus”.

Bisa jadi dalam politik agak memaklumi apabila ada yang menghalalkan
segalacara. Namun apabila ada pemimpin yang bertabiat model Machiavelli,
tingkat kepercayaan public akan merosot, dan kemenangan pasti akan menjauh.
7

2.2 Gaya Kepemimpinan


Gaya kepemimpinan pada dasarnya dapat dilihat dari bermacam-macam
sudut pandangnya. Bila dilihat dari sudut perilaku pemimpin, apa yang
dikemukakan oleh Tannenbaum dan Schmidt (dalam Amran 1999), perilaku
pemimpin membentuk suatu kontinum dari sifat otokratik sampai demikratik.
Menurut beliau sifat esktrim ini dipengaruhi oleh intensitas penggunaan
kekuasaan oleh pemimpin dan penggunaan kebebasan oleh pengikut. Kombinasi
dari kedua factor inilah yang menentukan pada tingkat mana seorang pemimpin
mempraktikan perilaku kepemimpinan.
Di samping itu, ada beberapa pendapat tentang gaya kepemimpinan yang
diajukan oleh pakar yang semuanya dapat ditelusuri dalam beberapa literatur
kepemimpinan, organisasi, dan manajemen. Studi dari Ohoi State University
misalnya, mengemukakan dua orientasi utama pemimpin di dalam menerapkan
kepemimpinan, yaitu orientasi pada hubungan kemanusiaan dan orientasi pada
struktur tugas. (Nimran, 1999)
Menurut Sutarto (dalam Tohardi, 2002), pendekatan perilaku berlandaskan
pemikiran bahwa keberhasilan atau kegagalan pemimpin sitentukan oleh gaya
bersikap dan bertindak seorang pemimpin yang bersangkutan. Gaya bersikap dan
bertindak akan tampak dari:
1. Cara memberi perintah
2. Cara memberi tugas
3. Cara berkomunikasi
4. Cara membuat keputusan
5. Cara mendorong semangat bawahan
6. Cara memberti bimbingan
7. Cara menegakkan disiplin
8. Cara mengawasi pekerjaan bawahan
9. Cara meminta laporan dari bawahan
10. Cara memimpin rapat
11. Cara menegur kesalahan bawahan, dll. (Tohardi,2002)
Adapun gaya kepemimpinan yang ada, yaitu :
8

1. Gaya persuasif, yaitu memimpin dengan menggunakan pendekatan yang


menggugah perasaan, pikiran, atau dengan kata lain dengan melakukan ajakan
atau bujukan.
2. Gaya refresif, yaitu gaya kepemimpinan dengan cara memberikan tekanan-
tekanan, ancaman-ancaman, sehingga bawahan merasa ketakutan.
3. Gaya partisipatif, yaitu gaya kepemimpinan dimana memberikan kesempatan
kepada bawahan untuk itu secara aktif baik mental, spiritual, fisik, maupun
materi dalam kiprahnya di organisasi.
4. Gaya inovatif, yaitu pemimpin yang selalu berusaha dengan keras untuk
mewujudkan usaha-usaha pembaharuan didalam segala bidang, baik bidang
politik, ekonomi, sosial, budaya, ataupun setiap produk sesuai kebutuahn
manusia.
5. Gaya investigative, yaitu gaya pemimpin yang selalu melakukan penelitian
yang disetai dengan rasa penuh kecurigaan terhadap bawahannya sehingga
menimbulkan yang menyebabkan kreatifitas, inovasi, serta insiatif dari
bawahan kurang berkembang, karena bawahan takut melakukan kesalahan-
kesalahan.
6. Gaya inspektif, yaitu pemimpin yang suka melakukan acara-acara yang
sifatnya ptotokoler, kepemimpinan dengan gaya inspektif menuntut
penghormatan bawahan, atau pemimpin yang senang apabila dihormati.
7. Gaya motivatif, yaitu pemimpin yang dapat menyampaikan informasi
mengenai ide-ide nya, program-program, dan kebijakan-kebijakan pada
bawahan dengan baik. Komunikasi tersebut membuat segala ide, program dan
kebijakan dapat dipahami oleh bawahan sehingga bawahan mau
merealisasikan semua ide, program, dan kebijakan yang ditepatkan oleh
pemimpin.
8. Gaya edukatif, yaitu pemimpin yang suka melakukan pengembangan bawahan
dengan cara mendirikan pendidikan dan keterampilan kepada bawahan,
sehingga bawahan menjadi memiliki wawasan dan pengalaman yang lebih
baik dari hari ke hari. Sehingga seorangpemimpin yang bergaya edukatif
9

takkan pernah menghalangi bawahan yang ingin mengembangkan pendidikan


dan keterampilan.
9. Gaya naratif, yaitu pemimpin yang bergaya naratif merupakan pemimpin
yang banyak bicara namun tidak disesuaikan dengan apa yang ia kerjakan,
ataua dengan kata lain pemimpin yang banyak bicara sedikit bekerja.
10. Gaya retrogresif, yaitu pemimpin tidak suka melihat maju, apalagi melebihi
dirinya. Untuk itu pemimpin yang bergaya retrogresif selalu menghalangi
bawahannya untuk mengembangkan pengetahuan dan keterampilan. Sehingga
dengan kata lain, pemimpin yang bergaya retogresif sangat senang melihat
bawahannya selalu terbelakang, bodoh, dan sebagainya. (Tohardi, 2002)

Menurut Feiedler (Tohardi, 2002), tidak ada seseorang yang menjadi


pemimpin yang berhasil dengan hanya menerapkan 1 macam gaya kepemimpinan
untuk segala situasi. Untuk itu pemimpin yang berhasil harus mampu menerapkan
gaya kepemimpinan yang berbeda-beda sesuai dengan situasi yang berbeda-beda
pula.
Teori Feidler (Tohardi, 2002), mengkhususkan diri pada perilaku pemimpin
dalam memimpin yaitu berorientasi kepada tugas atau berorientasi pada bawahan.
Ada 3sikap situasi yang dapat memengaruhi efektivitas kepemimpinan, yaitu:
1. Hubungan antara pemimpin dengan bawahan
2. Derajat susunan tugas
3. Kedudukan kekuasaan seorang pimpinan. Fiedler (dalam Tohardi, 2002)

Sehubungan dengan permasalahan yang diteliti, hanya membahas gaya


kepemimpinan gaya partisipatif. Menurut Likert (dalam Thoha’ 1992),
mengemukakan bahwa pemimpin yang berhasil jika bergaya participative
management. Gaya ini menetapkan bahwa keberhasilan pemimpin yaitu jika
berorientasi pada bawahan, dan mendasarkan pada komuniaksi.
Selain itu, semua pihak dalam organisasi, bawahan maupun pemimpin,
menerapkan hubungan atau tata hubungan yang mendukung. Likert meraancang 4
sistem kepemimpinan dalam manajemen, sebagai berikut:
10

Sistem 1, dalam system ini pemimpin bergaya sebagai exploitative


authoritative. Manajer dalam hal ini sangat autokratis, mempunyai sedikit
kepercayaan kepada bawahannya. Suka mengeksploitasi bawahan, dan sikap
paternalistis. Cara pemimpin ini memotivasi bawahannya dengan member
ketakutan dan hukuman-hukuman dan pemberian penghargaan diberikan secara
kebetulan. Pemimpin dalam system ini, hanya mau memerhatikan pada
komunikasi yang turun kebawah, dan hanya membatasi proses pengambilan
keputusan ditingkat atas saja.
Sistem 2, dalam system ini pemimpin dinamakan “autokratis yang baik
hati.” Pemimpin atau manajer yang termasuk dalam system ini memiliki
kepercayaan yang terselubung, percaya pada bawahan, mau memotivasi dengan
hadiah dan ketakutan berikut hukuman, memperbolehkan adanya komunikasi ke
atas, mendengarkan pendapat-pendapat, ide-ide dari bawahan, dan
memperbolehkan adanya delegasi wewenang dalam proses keputusan. Bawahan
merasa tidak bebas untuk membicarakan sesuatu yang berkaitan dengan tugas
pekerjaannya denga atasannya.
Sistem 3, dalam system ini gaya kepemimpinan dengan sebutan “manajer
konsultatif”. Manajer dalam hal ini mempunyai sedikit kepercayaan kepada
bawahan biasanya dalam hal kalau ia membutuhkan informasi, ide, atau pendapat
bawahan, dan masih mengiginkan melakukan pengendalian atas keputusan-
keptusan yang dibuatnya. Pemimpin bergaya konsultatif ini melakukan motivasi
dengan penghargaan dan hukuman yang kebetulan, dan juga berkehendak
melakukan partisipasi. Dia juga suka menetapkan dua pola hubungan komunikasi
yakni ke atas dan ke bawah. Bawahan disini merasa sedikit bebas untuk
membicarakan sesuatu yang bertalian dengan tugas pekerjaan bersama atasannya.
Sistem 4, oleh Likert system ini dinamakan “pemimpin yang bergaya
kelompok yang berpatisipatif.” Manajer mempunyai kepercayaan yang empurna
terhadap bawahannya. Dalam setiap persoalan, selalu mengandalkan untuk
mendapatkan ide-ide dan pendapat-pendapat lainnya dari bawahan, dan
mempunyai niatan untuk menggunakan pendapat bawahan secara konstruktif.
Memberikan penghargaan yang bersifat ekonomis, dengan berdasarkan partisipasi
11

kelompok dan keterlibatan pada setiap urusan terutama dalam penetuan tujuan
bersama dan penilaian kemajuan pencapaian tujuan tersebut. Pemimpin bergaya
partisipatif ini juga mau mendorong bawahan, dan juga melaksanakan keputusan
tersebut dengan tanggung jawab yang besar. Bawahan merasa secara mutlak
mendapat kebebasan untuk membicarakan sesuatu yang bertalian dengan tugasnya
bersama atasannya. (Likert dalam Thoha, 1992)
Dalam Likert (dalam Thoha,1992), manajer yang termasuk system 4 ini
mempunyai kesempatan untuk lebih sukses sebagai pemimpin. Setiap organisasi
yang termasuk system manajemen 4 ini, adalah sangat efektif didalam
menetapkan tujuan-tujuan dan mencapainya, dan pada umumnya organisasi
semacam ini lebih produktif.

Menurut (SukriPalutturi, 2013) dalam bukunya yang berjudul ‘’PUBLIC


HEALT LEADERSHIP’’, gaya kepemimpinan terdiri atas:
1. Kepemimpinan otokratis
Gaya kepemimpinan otokratis berasumsi bahwa individu dimotivasi oleh
kekuatan eksternal seperti kekuasaan, kewenangan dan kebutuhan persetujuan.
Semua keputusan dibuat oleh pemimpin dan cenderung menggunakan paksaan
(coercion), sanksi ( punishment) dan arahan untuk mengubah perilaku pengikut
(followers) untuk mencapai hasil. Pemimpin otokratis cenderung mesentralisasi
otoritas dan mengandalkan keputusan legitimasi dan penghargaan untuk mengatur
bawahan.
2. Kepemimpinan demokratis
Gaya kepemimpinan ini berpendapat bahwa individu-individu dimotivasi
oleh kekuatan internal bukan kekuatan eksternal. Dengan demikian individu-
individu aktif berpartisipasi dalam pengambilan keputusan dan individu-individu
tersebut ingin memperoleh tugas. Pemimpin menggunakan peranan partisipasi dan
majority rule melakukan pekerjaan dalam mencapai tujuan. Gaya kepemimpinan
demokratis berorientasi pada manusia dan kepemimpinan ini menekankan pada
tanggung jawab dan kerjasama yang baik. Gaya kepemimpinan demokratis
mendelegasikan otoritas atau wewenang yang dimiliki oleh pemimpin kepada
orang lain dan mendorong lahirnya partisipasi dari karyawan.
12

3. Kepemimpinan laizzes-faire
Gaya kepemimpinan laizzes-faire (laizzes-faire leadership) berpandangan
bahwa individu-individu tetap perlu dimotivasi oleh kekuatan dan dorongan
internal dan individu-individu cenderung untuk diberi kesempatan mengambil
keputusan sendiri tentang bagaimana melakukan dan menyelesaikan
pekerjaannya. Gaya kepemimpinan ini menekankan bahwa pemimpin tidak
memfasilitasi dan tidak menyiapkan bimbingan atau arahan (the leaders provide
no direction or facilitation), hanya sedikt kekuasaan dan memberi banyak
kebebasan dan kewenangan kepada para bawahannya untuk mengambil keputusan
dan menjalankan program yang ada. Pemimpin hanya merupakan simbol dan
biasanya tidak memiliki keterampilan teknis. Semua pekerjaan dan tanggung
jawab harus dilakukan oleh bawahannya sendiri (Palutturi, Sukri., 2013).

Kelebihan dan Kekurangan Setiap Gaya Kepemimpinan


Setiap gaya kepemimpinan mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-
masing atau keuntungan (advantages) maupun kerugian (diadvantages). Bagian
ini hanya menjelaskan beberapa gaya kepemimpinan, yaitu:
1. Gaya kepemimpinan otokratik. Kelebihan dari gaya kepemimpinan ini adalah
pengambilan keputusan lebih cepat, memelihara kedisiplinan, terdapat
seseorang yang menjadi pusat kontrol dan bagus untuk kelompok yang kecil
dengan tugas yang relatif sederhana dan jelas (clarity). Meskipun demikian,
gaya kepemimpinan seperti ini juga mempunyai banyak kelemahan misalnnya
staf cenderung kurang dipercaya, tergantung pada ancaman artinya bahwa jika
bawahan tidak diancam atau dimarahi atau ditegur, maka bawahan cenderung
tidak bekerja. Kelemahan lain dari gaya kepemimpinan seperti ini adalah
bahwa staf tidak punya input terhadap atasan.
2. Gaya kepemimpinan demokratis (partisipatif). Kelebihan gaya kepemimpinan
ini adalah hubungan manajemen dengan pekerja lebih baik, mendorong
karyawan untuk mempunyai komitmen yang tinggi, meningkatkan pelayanan
masyarakat, menurunnya penolakan para pekerja (Conyers,n.d). sementara
kelemahan gaya kepemimpinan demokratis adalah bahwa biasanya
13

pengambilan keputusan lebih lambat karena selalu mempertimbangkan


keterlibatan anggota tim, biaya yang dibutuhkan bisa lebih mahal.
Gaya kepemimpinan permissive (laissez-faire). Kelebihan dari gaya
kepemimpinan ini adalah pemimpin memberikan kesempatan kepada
bawahannya untuk mengembangkan hubungan kerja dalam sebuah setting
informal dan menghasilkan kesempatan untuk mejadi orang yang lebih sukses
melalui keputusan mereka sendiri. Kelemahannya adalah anggota tim
mendominasi dan mengambil kontrol yamg dapat memimpin tim untuk
membuat keputusan yang salah dan memungkinkan sesama anggota tim bisa
bekerja kurang kurang maksimal dan mempengaruhi proses dan motivasi
mereka (Conyers, n.d)(Palutturi, Sukri., 2013).
Faktor yang Mempengaruhi Gaya Kepemimpinan yang Digunakan
Pilihan penerapan gaya kepemimpinan dapat dipengaruhi oleh empat
faktor, yaitu: faktor pemimpin, pengikut, situasi dan kemungkinan faktor
lain(Palutturi, Sukri., 2013).
1. Faktor pemimpin
a) Pola perilaku dan kebiasaan pemimpin dan lainnya dalam bekerja dengan
orang
b) Kepercayaan (confidence) pemimpin dalam pengikutnya
c) Sikap pemimpin terhadap partisipasi, sharing proses pengambilan
keputusan dan kelompok pengambilan keputusan
d) Kebutuhan pemimpin untuk kepastian dan prediksi
e) Siapa yang mempunyai informasi-pemimpin, pengikut atau keduanya
2. Faktor pengikut
a) Tingkat pengetahuan dan pengalaman
b) Keinginan mereka untuk melakukan pekerjaan yan independen
c) Kemampuan mereka untuk meduga tanggung jawab
d) Kepentingan mereka dalam masalah atau keseluruhan program
e) Seberapa baik lainnya dilatih dan seberapa baik pemimpin mengetahui
tugasnya.
3. Faktor situasi
14

a) Seberapa banyak waktu yang tersedia


b) Nilai, tradisi, dan kebijakan organisasi
c) Tingkat pengetahuan dan pengalaman
d) Kesatuan, kepaduan, dan semangat kelompok
e) Sifat dari masalah itu sendiri
4. Faktor lainnya
a) Apakah hubungan didasarkan atas rasa hormat dan kepercayaan atau
tidak?
b) Konflik internal
c) Tingkatan stress
d) Jenis tugas-terstruktur, tidak terstruktur, rumit atau sederhana
e) Peraturan atau prosedur yang ditetapkan atau rencana latihan

Berikut ini adalah jenis teori gaya kepemimpinan:


a) Teori X dan Y
Mc Gregor membagi dua gaya kepemimpinan (Rowitz, 2009) yaitu teori X
dan Y. Tabel 2.1 membandingkan antara gaya kepemimpinan teori X dan Y.

Tabel 1 Perbedaan Gaya Kepemimpinan Teori X dan Y

Teori X Teori Y
Cocok untuk organisasi yang tidak Cocok untuk organisasi dengan
menyukai situasi kerja mereka organisasi yang menyukai pekerjaan
Pegawai menghindari pekerjaan Pekerjaan menghasilkan ketenangan
Pegawai dipaksa, dikendalikan atau Pegawai menerima sasaran dan tujuan
ditegur agar tujuan organisasi dapat organisasi
tercapai
Pegaiwai mencari kendali karena Pegawai berkeinginan mengarahkan
mereka tidak tersedia mengarahkan diri sendiri dan bahkan mencari
proses kerja tanggung jawab yang lebih tinggi
Yang paling penting bagi mereka Pengambilan keputusan terjadi pada
adalah keamanan semua tingkat organisasi
15

Mc Gregor berpendapat bahwa ketika pegawai tidak senang dengan


pekerjaan mereka perlu ditegur dipaksa dan dikendalikan akan mendorong gaya
kepemimpinan otoriter, sementara mereka yang senang dengan pekerjaan,
pegawai menerima tanggung jawab mendorong lahirnya gaya kepemimpinan
demokratis (Rowitz 2009)

b) Kepemimpinan Situasional
Pemimpin mengguinakan gaya kepemimpinan yang berbeda pada situasi
yang berbeda pula. Ketika tugas mendesak dengan deadline waktu yang singkat
dan pegawai cenderung pesimis untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut, bisa jadi
gaya kepemimpinan yang paling tepat adalah otoriter. Pada waktu yang
bersamaan pegawai mau mengerjakannya dengan baik, ada jiwa optimisme yang
tinggi dengan target yang diharapkan, maka gaya kepemimpinan otoriter tidalk
diperlukan, bisa jadi yang paling tepat adalah gaya kepemimpinan demokratis.
Kerena itu, seorang pemimpin bisa menggunakan lebih dari satu gaya
kepemimpinan. Pemimpin menggunakan strategi yang berbeda untuk pegawai
yang berbeda pula.
c) Menganalisis Gaya/Teori Kepemimpinan Lainnya
Terdapat beberapa pembagian teori atau gaya kepemimpinan lainnya
meliputi: gaya kepemimpinan otokratis, demokratis, dan laizzes-faire; gaya
kepemimpinan transformasional dan transak-sional; studi kepemimpinan state
ohio; studi kepemimpinan Universitas Michigan dan the managerial Grid.

2.3 The Big Five Personality Traits


Menurut Weiten (2011), kepribadian adalah keunikan individu pada ciri-
ciri perilaku yang bersifat konsisten. Kepribadian merupakan pola sifat yang
relatif lebih permanen dan karakteristik unik yang konsisten dalam perilaku
seseorang (Feist & Feist, 2009). Sifat sendiri adalah perbedaan individu dalam
16

berperilaku dan konsisten dalam perilakunya dari waktu ke waktu maupun dalam
menghadapi berbagai situasi (Feist & Feist, 2009).
1. Neurotis (Neuroticism)
Orang yang memiliki trait neurotis yang tinggi akan cenderung merasa
cemas, mudah marah, mengasihani diri sendiri, sadar diri, emosional dan rentan
untuk terkena gangguan stres (Feist & Feist, 2009). Orang dengan trait neurotis
yang tinggi akan merasakan kecemasan dan ketegangan sehingga mereka takut
untuk melakukan kesalahan (John & Srivastava, 1999).

2. Ekstraversi (Ekstraversion)
Mereka yang memiliki nilai yang tinggi pada ciri ekstraversi akan
cenderung untuk menyayangi, periang, aktif berbicara, mudah bergabung,
menyenangkan dan berinteraksi dengan lebih banyak orang dibanding mereka
yang introversi (Feist & Feist, 2009). Selain itu, mereka juga cenderung penuh
semangat, antusias, dominan, ramah, dan komunikatif (Friedman & Schustack,
2012). (Feist & Feist, 2009). Selain itu, mereka juga cenderung penuh semangat,
antusias, dominan, ramah, dan komunikatif (Friedman & Schustack, 2012).
3. Keterbukaan (Openness)
Ciri ini membedakan antara individu yang memilih variasi dibandingkan
dengan individu yang menutup diri serta individu yang mendapatkan kenyamanan
dalam hubungan mereka dengan hal-hal dan orang-orang yang mereka kenal
(John & Srivastava, 1999). Orang yang terbuka pada pengalaman cenderung
mencari perbedaan dan pengalaman yang bervariasi dan berbeda (Feist & Feist,
2009). Mereka juga umumnya terlihat imajinatif, menyenangkan, kreatif, dan
artistik (Friedman & Schustack, 2012).
4. Kemufakatan (Agreeableness)
Orang-orang dengan dimensi kemufakatan (agreeableness) yang tinggi
cenderung mempercayai orang lain, murah hati, mudah menerima, selalu
mengalah, menghindari konflik dan baik hati (Feist & Feist, 2009). Mereka juga
cenderung ramah, kooperatif dan hangat (Friedman & Schustack, 2012).
17

Kemufakatan juga merujuk pada kualitas orientasi interpersonal seseorang


dimulai dari perasaan peduli hingga perasaan permusuhan dalam pikiran,
perasaan, dan tindakan (John & Srivastava, 1999).
5. Kesungguhan (Conscientiousness)
Faktor kelima adalah kesungguhan (conscientiousness) yang
mendeskripsikan orang-orang teratur, terkontrol, terorganisir, berambisi, fokus
pada hasil, dan disiplin. Secara umum, mereka yang memiliki skor yang tinggi
akan cenderung pekerja keras, cermat, tepat waktu dan tekun (Feist & feist, 2009).
Mereka juga umumnya berhati-hati, dapat diandalkan, teratur, dan bertanggung
jawab (Friedman & Schustack, 2012)
2.4 Kepemimpinan dan Pelayanan Kesehatan
Secara keseluruhan aktivitas kesehatan masyarakat adalah untuk mencegah
epidemik dan penyebaran penyakit, melindungi masyarakat terhadap dampak
lingkungan, mempromosikan dan mendorong prilaku yang sehat, merespon
disaster dan membantu pemulihan masyarakat, dan menjamin kualitas akses
pelayanan kesehatan (accesbility of health services) menurut United States
Departement of Health and Human Services, Public Heallth Sevices (1994) yang
dikutip oleh Novick et al (2007), aktivitas kesehatan masyarakat (public health
activities) terdiri dari :
1. Pencegahan epidemik
2. Melindungi lingkungan temapat kerja, perumahan, makanan dan air
3. Memantau status kesehatan penduduk
4. Menggerakkan aksi masyarakat
5. Respons terhadap disaster
6. Menjamin kualitas, aksesibilitas dan akuntabilitas pelayanan kedokteran
7. Menjangkau kelompok beresiko yang sulit dijangkau mengenai pelayanan
yang dibutuhkan
8. Meneliti untuk mengembangkan pandangan dan solusi inovatif yang baru
9. Memimpin pengembangan kebijakan dan perencanaan kesehatan
Untuk mencapai kesehatan masyarakat tersebut, terdapat 10 pelayanan
kesehatan masyarakat esensial (essential public health services). Pelayanan
18

kesehatan masyarakat tersebut dapat dihubungkan dengan aktivitas yang berkaitan


dengan dimensi kepemimpinan yaitu :

1. Memonitor status kesehatan untuk mengidentifikasi masalah kesehatan


masyarakat. Aktivitas kepemimpinan misalnya gunakan data data dalam
pengambilan keputusan.
2. Mengdiagnosa dan menginvestigasi masalah kesehatan dalam masyarakat.
Aktivitas kepemimpinan mencakup menggunakan data dalam pengambilan
keputusan.
3. Menginformasikan, mendidik dan memberdayakan masyarakat tentang isu-isu
kesehatan. Aktivitas kepemimpinan misalnya terlibat dalam kegiatan
mentoring, pelatihan, komunikasi, dan pemberdayaan masyarakat.
4. Menggerakkan kemitraan masyarakat untuk mengidentifiasi dan memecahkan
masalah kesehatan. Aktivitas kepemimpinan misalnya membangun kemitraan,
berbagi kekuatan dan membuat rencana tindak lanjut.
5. Mengembangkan kebijakan dan rencana yang mnedukung upaya kesehatan
individu dan masyarakat. Aktivitas kepemimpinan misalnya mengklarifikasi
nilai, mengembangkan misi dan membentuk visi dan mengembangkan sasaran
dan tujuan.
6. Memperkuat hukum dan regulasi yang dapat melindungi kesehatan dan
menjamin keamanan dan keselamatan masyarakat. Aktivitas kepemimpinan
misalnya memantau ketaatan terhadap aturan.
7. Menghubungkan masyarakat dengan pelayanan kesehatan personal yang
dibutuhkan dan menjamin ketersediaan pelayanan kesehatan. Aktivitas
kepemimpinan misalnya pendelegasian dan pengawasan program.
8. Menjamin keesehatan masyarakat dan tenaga kesehatan yang kompeten.
Aktivitas kepemimpinan misalnya membangun organisasi pembelajaran,
mendukung pelatihan dan membimbing para kolega.
9. Melakukan elvaluasi mengenai efektivitas, aksesibility dan kualitas pelayanan
kesehatan individu dan kelompok masyarakat. Aktivitas kepemimpinan
misalnya memantau kinerja dan mengevaluasi data yang ada.
19

10. Melakukan penelitian untuk memperoleh pandangan dan solusi baru terhadap
masalah kesehatan. Aktivitas kepemimpinan misalnya penggunaan hasil
penelitian untuk mengembangkan program (rowitz, 2009; United States
Department of Health and Human Services, 2001).
Fungsi kesehatan masyarakat adalah :
1. Pencegahan, surveilance dan pengendalian penyakit menular dan tidak
menular (communicable and non-comunicable diseases).
2. Monitoring situasi kesehatan
3. Promosi kesehatan
4. Kesehatan kerja
5. Perlindungan terhadap lingkungan
6. Legislasi dan regulasi kesehatan masyarakat
7. Manajemen kesehatan masyarakat
8. Pelayanan kesehatan masyarakat secara spesifik (kesehatan sekolah,
manajemen bencana dan laboratorium kesehatan masyrakat.
9. Perawatan kesehatan individu bagi kelompok rentan dan risiko tinggi
(kesehatan ibu dan KB, perawatan bayi dan anak) (Bettcher, Sapirie, & Goon,
1998).
BAB III
PENUTUP
3.1 Simpulan
Dari hasil tinjauan pustaka diatas dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Filsafat dari Kepemimpinan memiliki beberapa medel yaitu Model Plato,
Model Aristoteles, dan Model Machiavelli.
2. Adapun gaya kepemimpinan yang ada yaitu Gaya persuasif,Gaya refresif,
Gaya partisipatif, Gaya inovatif, Gaya investigative, Gaya inspektif, Gaya
motivatif, Gaya edukatif, Gaya naratif, dan Gaya retrogresif.
3. Dalam jurnal (Arnissa Wulandari, 2013) yang berjudul ‘’Hubungan antara
Lima Faktor Kepribadian (The Big Five Personality) dengan Makna Hidup
pada Orang dengan Human Immunodeficiency Virus’’, menyebutkan bahwa
The Big Five Personality Traits yaitu Neurotis (Neuroticism), Ekstraversi
(Ekstraversion), Keterbukaan (Openness), Kemufakatan (Agreeableness), dan
Kesungguhan (Conscientiousness).
4. Dalam mencapai kesehatan masyarakat, terdapat 10 pelayanan kesehatan
masyarakat esensial (essential public health services). Pelayanan kesehatan
masyarakat dapat dihubungkan dengan aktivitas yang berkaitan dengan
dimensi kepemimpinan.

20
DAFTAR PUSTAKA

Budiarso, J. D. 2016. Analisis Gaya Kepemimpinan Di PT Jaya Mulia Perkata.


Jurnal Agora. Vol. 4, No. 2 : 345-349.
https://forumkeadilan.com/2017/09/filsafat-kepemimpinan/
Palutturi, Sukri. 2013. PUBLIC HEALT LEADERSHIP. Yogyakarta: Pustaka
Pelajar
Sutrisno, Edy. 2009. Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta: Kencana Prenda
Media Group
Wulandari, Arnissa. 2013. Hubungan antara Lima Faktor Kepribadian (The Big
Five Personality) dengan Makna Hidup pada Orang dengan Human
Immunodeficiency Virus. Jurnal Psikologi Klinis dan Kesehatan Mental.
Vol. 02 No. 1 : 41-47.

20