Anda di halaman 1dari 23

GEOLOGI DAN KETERDAPATAN POTENSI AIR TANAH

MENGGUNAKAN METODE GEOLISTRIK PADA DAERAH


KABUPATEN SORONG
DISTRIK SALAWATI

OLEH:

ALEX WAY
NIM 2015-69-029

JURUSAN S1 TEKNIK GEOLOGI


FAKULTAS TEKNIK PERTAMBANGAN DAN PERMINYAKAN
UNIVERSITAS PAPUA
SORONG
2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat
serta karunia-Nya sehingga makalah yang berjudul EKSPLORASI AIR TANAH ini dapat
terselesaikan tepat pada waktunya.

Dalam proses penyusunan makalah ini, Penulis banyak mengalami kesulitan. Untuk
itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari Dosen penanggung jawab
dan teman-teman sekalian. Agar makalah ini dapat bermanfaat untuk di pelajari kedepannya.

Akhir kata, penulis ucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah berperan
serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Kami mengucapkan banyak
terimakasih.

Kendari, Desember 2017

Penulis
DAFTAR ISI

Kata Pengantar

Daftar isi

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang............................................................................................... ..
B. Tujuan............................................................................................................ ..
C. Rumusan Masalah ......................................................................................... ..
BAB II PEMBAHASAN

2.1 Hidrologi………………………………………………………………………………

2.11 Pengertian Hidrologi……………………………………………………………

2.2 Air Tanah……………………………………………………………………………..

2.11 Pengertian Air Tanah…………………………………………………………..

2.3 Metode – Metode Eksplorasi Air Tanah ........................................................ ...

2.3.1 Metode Geofisika………………………………………………………………

2.3.2 Metode Geofisika Untuk Menentukan Air Tanah…………………………...

2.3.3 Batasan Metode Geofisika……………………………………………………

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan ..................................................................................................... ...

3.2 Saran……………………………………………………………………………………

DAFTAR PUSTAKA
A. Latar Belakang

Air bawah tanah adalah semua air yang terdapat pada lapisan pengandung
air (akuifer) di bawah permukaan tanah, termasuk mata air yang muncul di
permukaan tanah. Air tanah tersimpan dalam suatu wadah (akuifer), yaitu formasi
geologi yang jenuh air yang mempunyai kemampuan untuk menyimpan dan
meloloskan air dalam jumlah cukup dan ekonomis.
Pentingnya penulis mengambil judul air tanah yaituh agar dapat menelitih
keterdapatan air tanah yang bisah dapat di gunakan oleh masyarakat dan juga
memberikan rekomendasi kepada pemerintah tentang keberadaan air tanah yang
baik dan tepat.
Karna air tanah sangat penting bagi kehidupan manusia maka permasalah sering
muncul yaitu jika Intensitas pengambilan air tanah yang cukup tinggi dan
melampaui jumlah rata-rata imbuhannya akan menurunkan muka air tanah dan
mengurangi potensi air tanah di dalam akuifer. Bila ini terjadi maka berbagai
dampak negatif akan muncul, seperti intrusi air laut, penurunan kualitas air tanah,
dan terjadinya tanah ambles.
Eksploitasi air tanah harus dilakukan dengan hati-hati serta mem pertimbangkan
keseimbangan antara discharge area (daerah lepasan) dan recharge area
(daerah imbuhan/ pengisian) agar tidak menimbulkan dampak negatif bagi
lingkungan. Sebelum melakukan eksplorasi dan eksploitasi air tanah perlu
dilakukan deteksi untuk mengetahu
tempat keberadaan air tanah, potensi airnya, dan debitnya.
Maka itu penulis mengunakan Cara metode dipol-dipol,dengan alat geofisika
untuk mengetahui keterdapatan air tanah pada bawah permukaan bumi. Metode
dipole-dipol adalah metode yang dapat digunakan sebagai alat untuk mengetahui
keadaan bawah permukaan bumi, seperti penyelidikan air tanah dan keberadaan
suhu reservoar batuan-batuan dalam tanah.
B. Tujuan

1. Untuk mengetahui keterdapatan air tanah


2. Untuk mengetahui bagaimana metode dipole-dipol yang di gunakan dalam
alat geolistrik untuk eksplorasi air tanah

C. Rumusan Masalah

1. Apa saja metode yang dapat di gunakan dalam eksplorasi air tanah?
2. Bagaimana ekplorasi air tanah dengan menggunakan alat geolistrik?
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Hidrologi

2.1.1 Pengertian Hidrologi


Studi tentang air dirasakan semakin penting, terutama di negara-negara berkembang
yangmasih masalah budaya dan teknologi dalam penelolaan air yang sesuai
denganlingkungannya. Cabang ilmu yang mempelajari tentang air tersebut adalah Hidrologi.
Secaraetimologi, berasal dari dua kata, yaitu hidro = air, dan logos = ilmu. Dengan demikian
secara umum hidrologi dapat berarti ilmu yang mempelajari tentang air.Konsep yang umum itu, kini
telah berkembang sehingga cakupan obyek hidrologi menjadilebih jelas.
Menurut Marta dan Adidarma (1983), bahwa hidrologi adalah ilmu yangmempelajari
tentang terjadinya, pergerakan dan distribusi air di bumi, baik di atas maupundi bawah
permukaan bumi, tentang sifat fisik, kimia air serta reaksinya terhadap lingkungandan
hubunganya dengan kehidupan. Hidrologi memiliki ruang lingkup atau cakupan yang luas. Secara
substansial, cakupan bidang ilmu itu meliputi:
1. asal mula dan proses terjadinyaair
2. pergerakan dan penyebaran air
3. sifat-sifat air
4. keterkaitan air dengan lingkungandan kehidupan.
Hidrologi merupakan suatu ilmu yangmengkaji tentang kehadiran dan gerakan air di
alam. Studi hidrologi meliputi berbagai bentuk air serta menyangkut perubahan-perubahannya,
antara laindalam keadaan cair, padat, gas, dalamatmosfer, di atas dan di bawah permukaan
tanah, distribusinya, penyebarannya, gerakannya dan lainsebagainya. Secara meteorologis,
air merupakan unsur pokok paling pentingdalam atmofer bumi. Air terdapat sampai pada ketinggian
12.000 hingga 14.000meter, dalam jumlah yang kisarannyamulai dari nol di atas beberapa gunungserta
gurun sampai empat persen di atassamudera dan laut. Bila seluruh uap air berkondensasi (atau
mengembun)menjadi cairan, maka seluruh permukaan bumi akan tertutup dengan curah hujan
kira-kira sebanyak 2,5 cm.

2.2 Air Tanah

2.2.1 Pengertian Air Tanah

Menurut Herlambang (1996:5) air tanah adalahair yang bergerak di dalam tanah yang
terdapatdidalam ruang antar butir-butir tanah yangmeresap ke dalam tanah dan
bergabungmembentuk lapisan tanah yang disebut akifer.Lapisan yang mudah dilalui oleh air tanah
disebutlapisan permeable, seperti lapisan yang terdapat pada pasir atau kerikil, sedangkan
lapisan yangsulit dilalui air tanah disebut lapisanimpermeable, seperti lapisan lempung atau
geluh.Lapisan yang dapat menangkap dan meloloskanair disebut akuifer. Menurut Krussman
danRidder (1970) dalam Utaya (1990:41-42) bahwa macam-macam akuifer sebagai berikut:
a.Akifer Bebas (Unconfined Aquifer)

yaitu lapisan lolos air yang hanya sebagian terisioleh air dan berada di atas lapisan
kedap air.Permukaan tanah pada aquifer ini disebut denganwater table (preatik level),
yaitu permukaan air yang mempunyai tekanan hidrostatik samadengan atmosfer.

b. Akifer Tertekan (Confined Aquifer)


yaitu aquifer yang seluruh jumlahnya air yang dibatasi oleh lapisan kedap air, baik
yang diatas maupun di bawah, serta mempunyai tekanan jenuh lebih besar dari pada
tekanan atmosfer.
c. Akifer Semi tertekan (Semi Confined Aquifer)
yaitu aquifer yang seluruhnya jenuh air, dimana bagian atasnya dibatasi oleh lapisan
semilolos air dibagian bawahnya merupakan lapisan kedap air.
d. Akifer Semi Bebas (Semi Unconfined Aquifer)
yaitu aquifer yang bagian bawahnya yang merupakan lapisan kedap air, sedangkan
bagianatasnya merupakan material berbutir halus, sehingga pada lapisan penutupnya
masihmemungkinkan adanya gerakan air. Dengan demikian aquifer ini merupakan
peralihan antaraaquifer bebas dengan aquifer semi tertekan

2.3 Metode – Metode Eksplorasi Air Tanah

2.3.1 Metode Geofisika


Geofisika adalah bagian dari ilmu bumi yang mempelajari bumi dengan
menggunakan kaidah atau prinsip-prinsip fisika. Di dalamnya termasuk juga meteorologi,
elektrisitas atmosferis dan fisika ionosfer. Penelitian geofisika umum bermanfaat untuk
mendapatkan gambaran geologi, bisa dalam arti yang luas ataupun dalam arti yang
khusus. Untuk mengetahui kondisi di bawah permukaan bumi penelitian geofisika
melibatkan pengukuran di atas permukaan bumi dari parameter-parameter fisika yang
dimiliki oleh batuan di dalam bumi. Dari pengukuran ini dapat ditafsirkan bagaimana sifat-
sifat dan kondisi di bawah permukaan bumi baik itu secara vertikal maupun horisontal.
Metoda geofisika yang dipakai luas dalam eksplorasi yaitu seismik, gravitasi,
kemagnitan dan metode elektrik. Beberapa metoda yang masih jarang digunakan di
Indonesia yaitu radioaktivitas dan pengukuran aliran panas.
Metode yang umum dipakai dalam pencarian cebakan hidrokarbon serta mineral
padat antara lain metoda seismik dan gravitasi yang banyak digunakan dalam eksplorasi
minyak, metoda elektrik yang sering dipakai untuk pencarian cebakan bijih dan pelacakan
air tanah sedangkan metoda magnetik dapat digunakan untuk kepentingan kedua hal itu.
Berikut ini di bahas secara singkat metoda-metoda tersebut :
a. Metoda Gaya Berat (Gravitasi)
Metoda ini untuk mengukur adanya perbedaan kecil medan gaya berat
batuan. Perbedaan ini disebabkan karena adanya distribusi massa yang tidak merata
di kerak bumi sehingga menimbulkan tidak meratanya distribusi massa jenis batuan.
Batu beku atau malihan yang umumnya mempunyai massa jenis lebih besar dari
batu sedimen dapat dibedakan dengan metoda ini. Demikian juga batuan dasar
(basement) dengan batuan sedimen diatasnya. Oleh karenanya metoda ini sering
dipergunakan untuk penelitian bentuk permukaan batuan dasar.
b. Metode Pengukuran Kemagnitan
Peta yang dihasilkan dari pengukuran kemagnitan akan menunjukkan variasi
medan magnit bumi. Variasi tersebut disebabkan oleh adanya perubahan struktur
ataupun litologi yang berbeda dengan harga kerentanan magnetik (magnetic
susceptibility) yang berbeda.
Batuan sedimen pada umumnya mempunyai harga kerentanan magnetik
yang lebih kecil bila dibandingkan dengan batuan beku ataupun batuan metamorf
(relatif lebih banyak mengandung mineral magnetit) sehingga pengukuran
kemagnitan lebih ditujukkan pada pelacakan struktur dasar cekungan sedimen
ataupun pencarian zona cebakan mineral magnetit secara langsung. Metode
magnetik pada awal mulanya digunakan dalam eksplorasi minyak dimana daerah-
daerah yang menunjukkan struktur geologi dari formasi lapisan minyak banyak
terkontrol oleh keadaan topografi, patahan ataupun punggungan pada batuan
dasarnya.
c. Metode Elektrik
Pemakaian metoda elektrik dalam geofisika eksplorasi sering pula disebut
sebagai metoda geolistrik atau resistivity sounding dan mempunyai berbagai metoda
yang satu sama lain agak berbeda dalam teknik operasionalnya. Metoda elektrik ini
dimaksudkan untuk mendapatkan informasi tentang lapisan batuan berdasarkan
perbedaan harga tahanan jenis (resitivity) lapisan batuan. Metoda ini telah cukup
lama digunakan untuk pemetaan batas lapisan. Pada cara ini kita alirkan suatu arus
listrik ke dalam lapisan batuan kemudian mencatat perbedaan potensial yang timbul
dari dua elektrode yang berbeda letaknya.
Dalam bidang teknik sipil, metoda ini dipakai untuk menentukan kedalaman
batuan dasar yang dipandang kuat untuk peletakan fondasi bangunan yang
diinginkan. Untuk keperluan penelitian airtanah, metoda geolistrik digunakan untuk
mendeteksi posisi penyebaran akuifer serta dapat digunakan untuk mencari lapisan-
lapisan berair asin. Dalam bidang penelitian panasbumi, metoda ini digunakan untuk
melokalisir daerah pengumpulan panas yang berada di dekat permukaan.
d. Metoda Seismik
Metode seismik ini dibagi lagi menjadi 2 metode, antara lain:
a. Metoda Seismik Bias
Dalam penggunaan seismik bias maka alat perekam sinyal seismik
diletakkan relatif jauh dari titik peledakan dinamit sehingga jarak itu lebih besar
dibandingkan kedalaman horison lapisan batuan yang akan dideteksi. Gelombang
getaran hasil ledakan sebagian besar akan menjalar secara horisontal di dalam
lapisan tanah, dan waktu yang diperlukan untuk perjalanan itu, untuk berbagai
jarak dari sumber ke penerima, akan memberi informasi tentang kecepatan dan
kedalaman horison bawah permukaan. Meskipun metoda seismik bias tidak akan
memberikan banyak informasi atau gambaran struktural yang tepat sebagaimana
pada seismik pantul, tetapi akan memberikan informasi kecepatan gelombang
pada lapisan pembias dan akan berguna bagi ahli geofisika untuk mengetahui
jenis litologinya. Cara ini umumnya lebih cepat untuk meliput suatu wilayah yang
sama luas dibandingkan seismik pantul sehingga menguntungkan secara
ekonomis.
Seismik pantul cukup baik untuk daerah berstruktur dengan permukaan
berkecepatan tinggi semisal dasar atau bagian atas dari lapisan batugamping.
Jika hal itu merupakan target geologinya. Bila untuk mengetahui bentuk dan
kedalaman cekungan sedimen dengan pemetaan permukaan dasar cekungan
sedimen dengan pemetaan permukaan dasar cekungan, metoda seismik bias
cukup efektif dan ekonomis untuk kebutuhan tersebut. Karena kecepatan
gelombang pada batuan di sekitarnya, maka metoda ini cukup baik pula untuk
mendeteksi struktur diapirif semacam kubah garam. Dalam keadaan yang
favorabel, metoda ini dapat dipakai untuk mendeteksi dan menentukan sesar
tegak zona patahan pada formasi-formasi berkecepatan tinggi, seperti batu
gamping masip atau batuan dasar cekungan. Seismik bias jarang digunakan
dalam eksplorasi minyak, umumnya dipakai untuk kepentingan pekerjaan teknik
sipil.
b. Metoda Seismik Pantul
Dengan metoda seismik pantul, keadaan struktur lapisan batuan di
bawah permukaan dapat diketahui dengan baik. Cara ini berdasarkan atas
perekaman pulsa seismik di permukaan yang disebabkan oleh sumber getar
buatan, yaitu peletusan dinamit di dekat permukaan tanah (ditanam pada
kedalaman dangkal) ataupun dengan cara mekanis semisal pemukulan palu.
Gelombang getaran yang terjadi akan merambat melalui media lapisan batuan,
dan sebagian gelombang tersebut akan dipantulkan oleh bidang batas antar
lapisan sehingga bergerak kembali ke permukaan tanah. Gelombang pantul
direkam oleh peralatan tertentu (disebut geofon) yang cukup peka terhadap
getaran di permukaan tanah. Alat-alat perekam diletakkan pada jarak-jarak
tertentu terhadap titik sumbernya.
Variasi waktu datang gelombang pantul tersebut akan mencerminkan
adanya kondisi struktural tertentu dari lapisan di bawah permukaan. Kedalaman
bidang antar lapisan dapat dihitung jika kita ketahui waktu datang gelombang
pantul serta data kecepatan gelombang di dalam lapisan batuan. Untuk
mengetahui kecepatan gelombang maka dilakukan uji coba pada lobang
pemboran. Pada perkembangan terakhir ini, data seisimik pantul telah dapat
digunakan untuk mengidentifikasi jenis liltologi terutama berdasar kecepatan dan
karakteristik getaran. Sedangkan untuk mengetahui adanya hidrokarbon
didasarkan atas data amplitudo pantulan dan indikator seismik lainnya.
Metoda seismik merupakan teknik prospeksi yang baik untuk mengetahui
keadaan struktur bawah permukaan. Hasil rekaman dari penampang seismik
sangat mirip dengan hasil rekonstruksi struktur yang dilakukan oleh ahli geologi,
tetapi ahli geologi perlu bersikap hati-hati untuk menginterpretasi data seismik
tersebut agar mendapat hasil interpretasi yang tepat, kecuali bila data rekaman
seismik betul-betul berkualitas tinggi. Pada kondisi yang ideal, relief struktural
dapat ditentukan dengan ketelitian sekitar 3 - 6 meter.
2.3.2. Metode Geofisika Untuk Menentukan Air Tanah
Hal yang pertama kali dilakukan dalam mendeteksi potensi dan keberadaan air
tanah adalah menyelidiki semua petunjuk-petunjuk di permukaan. Setelah memperkirakan
kondisi geologi di bawah permukaan dari petunjuk-petunjuk geologi yang ditemukan di
permukaan maka selanjutnya melakukan interpretasi. Hal ini tidaklah cukup, diperlukan
suatu pengukuran untuk lebih memastikan keadaan geologi dibawah permukaan tersebut.
Tentu saja cara yang paling baik untuk mengobservasi dan melihat kondisi di bawah
permukaan adalah dengan melihatnya secara langsung, namun hal ini sangat sulit
dilakukan dan hampir mustahil.
Metode geofisika memberikan cara untuk mendapatkan data kondisi di bawah
permukaan tanpa harus melihatnya ataupun menggalinya. Cara ini merupakan cara tidak
langsung dengan mengukur sifat-sifat geologi yang berhubungan dengan menggunakan
berbagai metode yang tersedia. Selanjutnya dengan data geofisika yang didapatkan
digabungkan dengan data geologi yang tersedia sehingga akan menghasilkan model
geologi yang lebih meyakinkan sehingga kita dapat mendeteksi potensi dan keberadaan air
tanah secara cepat dan tepat tanpa mengebornya. Berikut metode-metode geofisika yang
digunakan dalam menentukan air tanah.
a. Metode Geofisika
Berbagai metode geofisika tersedia, mulai dari yang rumit dan mahal hingga
yang relatif sederhana dan murah. Dalam melakukan eksplorasi air tanah, metode
geolistrik tahanan jenis atau resistivitas masih menjadi pilihan yang umum. Diantara
kelebihannya adalah relatif sederhana, murah dan mudah dilakukan dilapangan, serta
mampu memberikan data yang bisa diyakini. Metode resistivitas ini bisa digunakan
dalam eksplorasi air tanah karena sifat resistivitas batuan yang sangat dipengaruhi oleh
kandungan airnya, dan resistivitas kandungan air ini berhubungan dengan kandungan
ion-ionnya (Alile, 2011). Metode resistivitas dalam eksplorasi geofisika di daerah dengan
batuan sedimen telah terbukti memberikan hasil yang dapat dipercaya (Emenike, 2001
dalam Alile dkk., 2010).
Secara garis besar metode ini dibagi menjadi 2 jenis, yaitu: mapping dan
sounding. Mapping digunakan untuk melihat variasi ke arah lateral sedangkan sounding
digunakan untuk melihat variasi reristivitas ke arah vertikal.
a. Vertical electric sounding adalah merupakan ide yang digunakan untuk menentukan
perubahan tahanan di dalam batuan yang berada di bawah suatu titik acuan
dipermukaan dan mengkorelasikan dengan data geologi agar diketahui struktur
bawah permukaan bumi. Prosedur ini didasarkan pada kenyataan bahwa di bagian
arus listrik yang dimasukkan ke bumi menembus kedalaman tertentu bertambah
besar dengan makin jauh antara elektroda arus.

a
n=1
M A O B N
2
n=2
M A O B N
3
n=3
M A O B N

GAMBAR 1
KEDUDUKAN ELEKTRODA PADA VES
Walaupun demikian arus listrik yang menembus di lapisan homogen ini tidak
dapat digunakan sebagai pegangan yang berlaku untuk bumi yang tidak homogen
atau berlapis-lapis. Untuk bumi atau media heterogen dimana arus yang menembus
sampai kedalaman tertentu tergantung pada geometri susunan lapisan bumi.
b. Penerapan metode wenner merupakan kegiatan kombinasi antara kegiatan
lapangan dengan analisa laboratorium, hal yang terpenting adalah teknik
pengambilan data yang benar dan kemampuan interpreter yang menginterpretasi
data dari lapangan. Dengan mendapatkan data yang valid maka tingkat kesalahan
yang terjadi dapat diminimalkan sehingga akan didapatkan hasil pengukuran yang
mendekati nilai aslinya.
Kegunaan survey elektrik adalah untuk menentukan resistivitas di bawah
permukaan dengan melakukan pengukuran di permukaan. Dari pengukuran ini,
resistivitas sebenarnya pada bawah permukaan dapat diperkirakan. Resistivitas bumi
dipengaruhi oleh berbagai parameter geologi, kandungan mineral dan fluida, porositas
batuan, dan tingkat kejenuhan air di dalam batuan. Pada banyak studi kasus, keadaan
geologi bawah permukaan sebenarnya sangat kompleks dan resistivitas dapat berubah
dengan signfikan bahkan dalam jarak yang dekat (Keller dan Frischknecht 1966;
Daniels and Alberty 1966; dalam Srinivasamoorthy dkk., 2009) Arus listrik dapat
dihantarkan di bumi melalui kandungan air pada batuan maupun melalui pertukaran
kation pada mineral, biasanya mineral lempung. Resistivitas ini dinyatakan dalam
satuan ohm-m.
Pengukuran resistivitas biasanya dilakukan dengan menginjeksikan arus ke
tanah melalui dua elektroda arus, dan mengukur perbedaan voltase yang dihasilkan
melalui dua elektroda potensial. Berdasarkan nilai arus (I) dan voltase (V) maka nilai
resistivitas semu dapat dihitung (ρa):
ρa = k.V/I
Karena bumi bersifat tidak homogen dan isotrop, maka resistivitas yang terukur
bukanlah resistivitas yang sebenarnya melainkan disebut sebagai resistivitas semua
yaitu rata-rata nilai resistivitas sebenarnya dari suatu bagian penampang yang diukur.
Nilai k adalah faktor geometri yang bergantung kepada konfigurasi penyusunan
keempat elektroda. Untuk mendapatkan informasi perlapisan bawah permukaan yang
berupa harga resistivitas dan kedalamannya dilakukan metode Geolistrik Sounding.
Untuk keperluan pengambilan data sounding digunakan konfigurasi Schlumberger.
Pertimbangannya adalah untuk menghindari efek lateral yang mungkin muncul saat
pengambilan data resistivitas sounding. Dengan konfigurasi ini, elektroda di susun
secara simetris pada satu garis dengan elektroda arus pada bagian tepi (disebut
elektroda A dan B), dan elektroda potensial pada bagian dalam (disebut elektroda M
dan N). Selanjutnya elektroda arus akan digeser jaraknya semakin melebar secara
logaritmik untuk menambah kedalaman pengukuran resistivitas. Konfigurasi
Schlumberger dipilih karena kemudahannya karena sebenarnya hanya perlu melakukan
perpindahan terhadap elektroda A dan B saja. Namun pada prakteknya jika jarak antara
elektoda arus dan elektroda potensial terlalu besar, maka nilai pengukuran yang
didapatkan menjadi kurang dapat dipercaya. Untuk itu elektroda potensial perlu juga
diperlebar namun dengan frekuensi yang lebih rendah, umpamanya setelah tiga kali
perpindahan elektroda arus.

GAMBAR 2
KONFIGURASI SCHLUMBERGER
Salah satu cara untuk menginterpretasi data hasil pengukuran geolistrik adalah
dengan metode apa yang dikenal sebagai “curve matching” atau pencocokan kurva.
Grafik ini didapatkan dengan mengeplot nilai resistivitas semu dalam sumbu y dengan
jarak elektroda AB dibagi 2 (meter) pada sumbu x memakai skala logaritmik.
GAMBAR 3
CONTOH KURVA DATA GEOLISTRIK
Langkah pertama dalam menginterpretasinya adalah dengan melakukan
klasifikasi terhadap kurva resistivitas semu menjadi beberapa tipe. Klasifikasi ini
didasarkan kepada bentuk dari kurva tersebut, namun sebenarnya bentuk kurva ini juga
berkaitan dengan kondisi geologi dibawah permukaan lokasi pengukuran. Dari data ini,
dapat diperkirakan paramerter-parameter interpretasi yang selanjutnya akan digunakan
oleh komputer untuk melakukan proses iterasi. Dalam proses iterasi ini, data lapangan
akan dibandingkan dengan data model yang didapatkan dari hasil pencocokan kurva
sebelumnya. Proses diulang terus hingga didapatkan kesesuaian antara data dari model
dengan data dari lapangan. Sehingga akhirnya parameter-parameter, data lapangan,
data hasil kalkulasi, dan juga kurva teoritis menghasilkan penampang geolistrik yang
dapat digunakan untuk sebagai penunjuk penampang geologi.
Penampang geologi yang dihasilkan, berisi lapisan-lapisan dengan ketebalan
tertentu yang memiliki nilai resistivitas tertentu. Untuk mengetahui litologinya, nilai
resistivitas ini dapat dicocokkan dengan rentang nilai resistivitas untuk batuan yang
sudah diketahui dari berbagai penelitian. Teknik mencocokkan seperti ini sangat rentan
terhadap kesalahan karena nilai resistivitas batuan sangat bervariasi tergantung
kondisinya. Hal lainnya adalah beberapa batuan memiliki rentang nilai resistivitas yang
saling tumpang tindih sehinggga agak menyulitkan dalam menentukan jenis batuannya
ketika proses interpretasi.

GAMBAR 4
RENTANG RESISTIVITAS BERBAGAI BATUAN
Berdasarkan nilai tahanan jenis sebenarnya, dapat diinterpretasi jenis batuan,
kedalaman, ketebalan, dan kemungkinan kandungan air bawah tanahnya. Dengan
demikian dapat diperoleh gambaran daerah-daerah yang berpotensi mengandung air
tanah serta dapat ditentukan titik-titik pemboran. Untuk membatasi zona yang
berpotensi mengandung air tanah, dilakukan analisis spasial dengan memadukan peta
ketebalan akuifer dan overburden, peta kemiringan lereng (slope), peta kelurusan
(lineament), dan peta drainase sehingga menghasilkan peta potensi air tanah.
Dari hasil pengukuran geolistrik yang dilakukan, didapatkan pengetahuan
kondisi geologi di bawah permukaan daerah penelitian. Pengetahuan bawah permukaan
ini digunakan bersama dengan pengetahuan geologi permukaan dalam proses
interpretasi. Akhirnya dihasilkan model geologi dan sistem air tanah di daerah penelitian
yang dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan
b. Metode Seismik Bias
Metode seismik sering digunakan dalam eksplorasi hidrokarbon, batubara,
pencarian air tanah (ground water), kedalaman serta karakterisasi permukaan batuan
dasar (characterization bedrock surface), pemetaan patahan dan stratigrafi lainnya
dibawah permukaan dan aplikasi geoteknik.
Metode seismik bias merupakan salah satu metode geofisika untuk
mengetahui penampang struktur bawah permukaan, merupakan salah satu metode
untuk memberikan tambahan informasi yang diharapkan dapat menunjang penelitian
lainnya. Metode ini mencoba menentukan kecepatan gelombang seismik yang
menjalar di bawah permukaan. Metode seismik refraksi didasarkan pada sifat
penjalaran gelombang yang mengalami refraksi dengan sudut kritis tertentu yaitu bila
dalam perambatannya, gelombang tersebut melalui bidang batas yang memisahkan
suatu lapisan dengan lapisan yang di bawahnya yang mempunyai kecepatan
gelombang lebih besar. Parameter yang diamati adalah karakteristik waktu tiba
gelombang pada masing-masing geophone.
Keterbatasan metode ini adalah tidak dapat dipergunakan pada daerah
dengan kondisi geologi yang terlalu kompleks. Metode ini telah dipergunakan untuk
mendeteksi perlapisan dangkal dan hasilnya cukup memuaskan. Menurut Sismanto
(1999), asumsi dasar yang harus dipenuhi untuk penelitian perlapisan dangkal adalah:
1. Medium bumi dianggap berlapis-lapis dan setiap lapisan menjalarkan gelombang
seismik dengan kecepatan yang berbeda-beda.
2. Semakin bertambah kedalamannya, batuan lapisan akan semakin kompak.
3. Panjang gelombang seismik lebih kecil daripada ketebalan lapisan bumi.
4. Perambatan gelombang seismik dapat dipandang sebagai sinar, sehingga mematuhi
hukum – hukum dasar lintasan sinar.
5. Pada bidang batas antar lapisan, gelombang seismik merambat dengan kecepatan
pada lapisan dibawahnya.
6. Kecepatan gelombang bertambah dengan bertambahnya kedalaman.
Metode penelitian yang digunakan adalah metode seismik refraksi untuk
menghitung kecepatan rambat gelombang seismik dan kedalaman masing–masing
lapisan yang diturunkan dari kurva travel time sehingga akan didapatkan model struktur
bawah permukaan.
Secara umum metode interpretasi seismik refraksi dapat dikelompokkan
menjadi tiga kelompok utama, yaitu intercept time, delay time method dan wave front
method (Taib, 1984). Metode interpretasi yang paling mendasar dalam analisis data
seismik refraksi adalah intercept time (Tjetjep, 1995).

GAMBAR 5
METODE PENGAMBILAN DATA DENGAN TEMBAKAN MAJU
Hasil dari perhitungan gelombang seismik menggunakan metode Intercept Time
akan didapatkan nilai kedalaman lapisan pertama pada dua lintasan survei tersebut.
Kecepatan gelombang seismik pada lapisan pertama dan kecepatan gelombang
seismik pada lapisan kedua serta didapatkan dari kurva travel time. Pengolahan data
dilakukan menggunakan metode Intercept Time sehingga dapat dimodelkan
penampang bawah permukaan untuk setiap lintasan.

GAMBAR 6

DIAGRAM ALIR PENGOLAHAN DATA


Dengan permodelan penampang bawah permukaan maka akan didapat
perbedaan kecepatan gelombang pada lapisan pertama (V1), kecepatan gelombang
pada lapisan kedua (V2) serta kedalaman pada setiap lintasan. Dan menunjukkan
model penampang bawah permukaan beserta perbedaan kecepatan gelombang pada
setiap lapisan pada lintasan pertama. Dari penampang seismik yang telah dibuat terlihat
adanya struktur bawah permukaan dengan berberapa lapisan. Lapisan-lapisan ini
dapat terbentuk karena adanya nilai variasi kecepatan yang berbeda dari tiap lapisan.
Dari nilai variasi kecepatan yang berbeda ini menunjukan adanya jenis batuan
penyusun dari tiap lapisan yang berbeda, sehingga dari analisis tiap lapisannya
memperlihatkan kedalaman serta ketebalan tiap lapisannya, yang digunakan untuk
menganalisis letak lapisan akuifer, geometri akuifer dangkal.
Selain dengan metode geolistrik dan seismik untuk mendeteksi jebakan air
dapat menggunakan metode penyelidikan permukaan tanah lainnya yakni metode
gravitasi dan metode magnit. Dari metode-metode tersebut, metode geolistrik
merupakan metode yang banyak sekali digunakan dan hasilnya cukup baik.

2.3.3. Batasan Metode Geofisika


Bagaimanapun, metode geofisika tetap mempunyai kelemahan dan batasan-
batasan. Kelemahan pertama adalah apabila tidak terdapat suatu perbedaan yang cukup
signifikan diantara sifat-sifat dari batuan-batuan yang diukur. Akibatnya, perbedaan batuan
ataupun perbedaan karakternya yang ingin kita ketahui menjadi tidak terdeteksi.
Kelemahan lainnya adalah dari segi metodologi yang digunakan. Faktanya, hampir
semua penyelesaian geofisika ditentukan dari proses yang dinamakan “inverse modeling”.
Inverse modeling adalah proses dengan melihat suatu “akibat” yang ditimbulkan terlebih
dahulu dan dari sana baru menentukan “penyebabnya”. Contohnya dalam geofisika seperti
mendapatkan data resistivitas terlebih dahulu dan dari sana barulah menentukan jenis
batuannya. Hal ini sangat unik dikarenakan suatu “akibat” dapat muncul karena berbagai
macam “penyebab”. Oleh karena itu sangat penting untuk mendapatkan berbagai informasi
dan mengikutsertakannya dalam interpretasi agar didapatkan “penyebab” yang paling
mungkin.
Kelemahan selanjutnya adalah masalah resolusi. Resolusi dapat diartikan sebagai
kemampuan untuk memisahkan mendeteksi diantara sifat-sifat yang berdekatan dan mirip.
Resolusi yang diinginkan mungkin tidak dapat dicapai dengan metode geofisika tertentu
atau bisa akan terlalu mahal untuk mendapatkan data dengan resolusi yang diinginkan.
Kelemahan terakhir adalah apa yang disebut dengan noise. Noise dapat diartikan
sebagai signal yang tidak diinginkan atau sebuah gangguan yang sama sekali tidak
merepresentasikan data. Noise ini apabila terlalu banyak dapat menutupi data sebenarnya
sehingga mengganggu dalam proses interpretasi. Noise ini dapat muncul dari alat yang
digunakan, atau dari kondisi lingkungan ketika melakukan pengukuran.
BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan
1. Metode geofisika adalah metode yang dapat digunakan sebagai alat untuk mengetahui
keadaan bawah permukaan bumi tanpa harus melihatnya ataupun menggalinya seperti
penyelidikan air tanah dan keberadaan suhu reservoar batuan-batuan dalam tanah.
2. Dalam melakukan eksplorasi air tanah, metode geolistrik tahanan jenis atau resistivitas
masih menjadi pilihan yang umum.
3. Secara garis besar metode ini dibagi menjadi 2 jenis, yaitu: mapping dan sounding.
Mapping digunakan untuk melihat variasi ke arah lateral sedangkan sounding digunakan
untuk melihat variasi reristivitas ke arah vertikal.
4. Metode seismik bias merupakan salah satu metode geofisika untuk mengetahui
penampang struktur bawah permukaan, merupakan salah satu metode untuk
memberikan tambahan informasi yang diharapkan dapat menunjang penelitian lainnya.
5. Metode geofisika mempunyai kelemahan dan batasan-batasan antara lain metodologi,
resolusi, noise, dan apabila tidak terdapat suatu perbedaan yang cukup signifikan
diantara sifat-sifat dari batuan-batuan yang diukur akibatnya perbedaan batuan ataupun
perbedaan karakternya yang ingin kita ketahui menjadi tidak terdeteksi.

3.2 Saran
1. Dalam pemilihan metode geofisika untuk menentukan air tanah sebaiknya memilih
metode geolistrik karena relatif sederhana, murah dan mudah dilakukan dilapangan
serta mampu memberikan data yang bisa diyakini.
2. Sebelum melakukan eksplorasi dan eksploitasi air tanah perlu dilakukan deteksi untuk
mengetahui tempat keberadaan air tanah, potensi airnya, dan debitnya.
DAFTAR PUSTAKA

Eddy Ibrahim, (2009), Materi Kursus Geolistrik, indralaya.

Prof. Deny Juanda Puradimaja. (2007). Slide power point eksplorasi dan pemetaan geologi:
Bandung. ITB.