Anda di halaman 1dari 12

Ulfah et al. J.E.K.

K 3 (1), 2018 29

JEKK Jurnal Epidemiologi Kesehatan Komunitas


3 (1), 2018, 29 - 40

Hubungan Karakteristik Demografi, Faktor Keselamatan Dan Kesehatan


Kerja (K3) Dan Lingkungan Terhadap Kejadian Leptospirosis
(Studi Pada Pekerja Sektor Informal di Kota Semarang Tahun 2013-2016)
Maria Ulfah*, Anies**, Mateus Sakundarno***, Henry Setyawan***, Ari Suwondo***
*
PT Electroconsult Palembang,**Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro
***
Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro

ABSTRACT

Background: Leptospirosis is a disease caused by pathogenic bacteria called Leptospira,


which is transmitted directly or indirectly. There were many of Leptospirosis study.
However, the relation between demographic characteristic, occupational health and safety,
and environmental factors foccusing on the workers of informal sectors was unclear. The
objectives of study were to measure the association between demographic characteristics,
Occupational, Health and Safety, and environmental factors with Leptospirosis in the
workers of informal sectors.
Methods: An observational study with case-control design. Popupation of the study were all
of workers of the informal sectors in Semarang City, it is including, but not limited to
farmers, cleaning worker, laborers (farming, construction, handyman) and traditional market
worker. Sample of the study were 82 persons, consist of 41 cases and 41 controls. Sample
were taking by consecutive sampling. Data analysis perform by univariant, bivariant, and
multivariant.
Results: The main risk factors were age (18–40 years old) p=0,017; aOR=42,22;
95%CI=1,96- 906,55; Gender (male) p=0,017; aOR=37,01, 95%CI=1,9- 718,6; history of
open wound during working p=0,042; aOR=10,85; 95%CI=1,08-108,24; home sanitation
(poor, with score <60%) p=0,025; aOR=25,25; 95%CI=1,5-423,3; and history of contact
with the source of infection p=0,003; aOR=56,98; 95%CI=3,8-849,2.
Conclusion: Demographic characteristics, Occupational, Health and Safety, and
environmental factors were associated with Leptospirosis.

Key words: Leptospirosis, occupational health and safety, environmental, workers of


informal sectors

*Penulis korespondensi : blogmaria85@gmail.com

©2018, JEKK, All Right Reserved


Ulfah et al. J.E.K.K 3 (1), 2018 30

Pendahuluan Metode

Leptospirosis adalah penyakit Penelitian ini adalah penelitian


infeksi yang disebabkan oleh bakteri observasional analitik dengan rancangan
patogen yang disebut Leptospira, yang penelitian kasus kontrol.9 Populasi kasus
ditularkan baik secara langsung maupun adalah seluruh penderita Leptospirosis
tidak.1,2 Kasus Leptospirosis di Jawa yang terdaftar pada laporan Dinas
Tengah pada tahun 2011 dilaporkan (184 Kesehatan Kota Semarang selama
kasus, CFR=17,93%), meningkat rentang waktu 2013-2016 yang bekerja
dibanding tahun 2010 (133 kasus, pada sektor informal. Jenis pekerjaan
CFR=10,53%). Sebanyak 38,04% kasus pada sektor informal dibatasi sesuai
pada tahun 2011 tersebut dilaporkan dengan faktor risiko paparan, yaitu
terjadi di Kota Semarang.3 Berdasarkan petani, peternak, pekerja kebun, petugas
persebarannya, kasus Leptospirosis di kebersihan, buruh (buruh tani, buruh
Provinsi Jawa Tengah selama 11 tahun serabutan, buruh bangunan, buruh cuci),
(2002-2012) cenderung meluas. pekerja di pasar tradisional. Populasi
Berdasarkan endemisitas wilayah Kontrol adalah seluruh pekerja sektor
terdapat 14 wilayah endemis informal yang tidak sakit Leptospirosis,
Leptospirosis, dengan kasus tertinggi di tidak memperlihatkan ciri-ciri umum
Kota Semarang.4 Leptospirosis Kota terserang Leptospirosis dan atau demam
Semarang tahun 2015 (Incidence Rate (selama 2x masa inkubasi
(IR) = 3,40 per 100.000 jiwa, terpanjang/2x30 hari).
CFR=14,29%). Berdasarkan Pengambilan sampel dirinci dalam
persebarannya, kasus Leptospirosis di tahapan sebagai berikut: (1)
Kota Semarang semakin meluas, yaitu Pengumpulan data kasus Leptospirosis
dari 81 kasus pada 21 puskesmas (2012) tahun 2016-2013 berdasarkan puskesmas.
menjadi 71 kasus pada 23 puskesmas (2) Penelusuran dan konfirmasi data
(2013) dan meningkat menjadi 75 kasus kasus ke setiap puskesmas dengan
pada 28 Puskesmas (2014). Berdasarkan mengumpulkan dokumen PE. (3)
jenis pekerjaan sebanyak 38% kasus Pengumpulan data pasien PTM
Leptospirosis (2015) bekerja pada sektor konfirmasi data untuk kontrol dengan
informal.5-7 Tenaga kerja sektor informal data rekam medis pada simpus
adalah tenaga kerja yang bekerja pada puskesmas. Analisis data menggunakan
segala jenis pekerjaan tanpa ada SPSS versi 20. Analisis bivariat dengan
perlindungan negara dan atas usaha uji chi square, nilai ditentukan dengan
tersebut tidak dikenakan pajak. Pekerja OR (odds ratio) pada confidence interval
sektor informal seperti buruh dianggap (CI) sebesar 95% dan α=0,05. Analisis
sebagai pekerja kasar (blue collar) multivariat untuk mengendalikan
sebagai pekerja pada pekerjaan yang pengaruh variabel confounding dan
mengandalkan kekuatan fisik.8 mengetahui pengaruh variabel bebas yang
Penelitian mengenai Leptospirosis paling dominan terhadap variabel terikat
pada manusia sudah banyak dilakukan, yang dilakukan secara bersama dengan
tetapi hubungan antara karakteristik menggunakan uji regresi logistik metode
demografi, K3 dan lingkungan yang backward LR pada CI=95%.10
terfokus pada pekerja sektor informal
sebagai faktor risiko Leptospirosis sejauh Hasil
ini masih belum jelas dan jarang Probabilitas faktor risiko kejadian
dilakukan. Tujuan penelitian ini adalah Leptospirosis pada pekerja sektor
untuk mencari hubungan antara informal, pemodelan variabel bebas dan
karakteristik demografi, K3 dan confounding berdasarkan rumus
lingkungan pada pekerja sektor informal probability event disajikan pada Tabel 1-
di Kota Semarang. 3.

©2018, JEKK, All Right Reserved


Ulfah et al. J.E.K.K 3 (1), 2018 31

Tabel 1. Distribusi kasus dan kontrol serta hasil analisis bivariat


Kasus Kontrol
Variabel 95%CI OR P
n (%) n (%)
Kategori Umur
umur 18- 40 tahun 12 29,3 5 20,7
umur >40 tahun 29 70,7 36 87,8 0,1-1,06 0,33 0,057
Jumlah 41 100,0 41 100,0
Jenis Kelamin
Laki-laki 33 80,5 25 61,0
Perempuan 8 19,5 16 39,0 0,9-7,1 2,64 0,052
Jumlah 41 100,0 41 100,0
Kategori Pendidikan
Rendah (<9 tahun) 21 51,2 19 46,3
Tinggi (> 9 tahun) 20 48,8 22 53,7 0,5-2,9 1,21 0,659
Jumlah 41 100,0 41 100,0
Kategori Perilaku
Buruk (Skor <60,0%) 24 58,5 3 7,3
Baik (Skor >60,1%) 17 41,5 38 92,7 4,7-67,6 17,88 <0,0001
Jumlah 41 100,0 41 100,0
Penggunaan APD
Tidak 39 95,1 31 75,6
Ya 2 4,9 10 24,4 1,2-30,8 6,29 0,010
Total 41 100,0 41 100,0
Lama Kerja
>8 jam perhari 5 12,2 1 2,4
<8 jam perhari 36 87,8 40 97,5 0,6-49,8 5,56 0,210
Jumlah 41 100,0 41 100,0
Riwayat Luka saat bekerja
Ya 27 65,9 13 31,7
Tidak 14 34,1 28 68,3 1,6-10,4 4,15 0,002
Jumlah 41 100,0 41 100,0
Kondisi Sanitasi Rumah
Buruk (Skor < 60%) 36 87,8 9 22,0
Baik (skor > 60%) 5 12,2 32 78,0 7,7-84,3 25,60 <0,0001
Jumlah 41 100,0 41 100,0
Kategori Kondisi Sanitasi tempat kerja
Buruk (Skor <51,0%) 36 87,8 11 26,8
Baik (Skor >=52,0%) 5 12,2 30 73,2 6,1-62,1 19,63 <0,0001
Jumlah 41 100,0 41 100,0
Tikus di tempat kerja
Ya 38 92,7 11 46,3
Tidak 3 7,3 3 53,7 3,8-55,2 14,66 <0,0001
Jumlah 41 100,0 41 100,0
Riwayat Kontak dengan sumber infeksi
Ya 37 90,2 7 17,1
Tidak 4 9,8 34 82,9 12,0-167,1 44,92 <0,0001
Jumlah 41 100,0 41 100,0

©2018, JEKK, All Right Reserved


Ulfah et al. J.E.K.K 3 (1), 2018 32

Tabel 2. Hasil Pemodelan Akhir Variabel Bebas dan Variabel Confounding

No Faktor Risiko Koefisien B 95% CI aOR p

1 Umur Desasa 3,743 1,96-906,55 42,22 0,017


(18-40 tahun)

2 Jenis Kelamin 3,661 1,907-718,6 37,01 0,017

3 Riwayat Luka 2,384 1,08-108,24 10,85 0,042


saat Bekerja

4 Kondisi Sanitasi 3,229 1,507-423,3 25,25 0,025


Rumah

5 Riwayat Kontak 4,043 3,824-849,2 56,98 0,003


dengan sumber
infeksi

Constant -9,513

Tabel 3. Probability event Leptospirosis pada Pekerja Sektor Informal menurut


Variabel Independen dan Variabel Confounding

No Faktor Risiko Probabilitas (%)


1 Tanpa faktor risiko 0,006
2 Umur 18-40 tahun 0,323
3 Jenis kelamin laki-laki 0,284
4 Riwayat Luka pada saat bekerja 0,084
5 Kondisi Sanitasi Rumah 0,194
6 Kondisi Sanitasi Tempat kerja 0,073
7 Riwayat Kontak dengan sumber infeksi 0,435
8 2 Variabel Independen (R.Luka, dan R.kontak) dan tanpa
4,457
variabel counfonding
9 3 Variabel confounding (Umur,JK,Sanitasi rumah), tanpa 3
74,322
faktor risiko
10 Dengan semua variabel terbukti (umur+JK+R.Luka+Sanitasi
rumah+Sanitasi tempat kerja+R.kontak dengan sumber 99,942
infeksi

Pembahasan
Lokasi penelitian ini di Kota Timur dan Semarang Utara) terletak di
Semarang yang merupakan daerah pusat kota, dengan kasus Leptospirosis
endemis Leptospirosis yaitu pada 9 terjadi setiap tahun (2013-2016) memiliki
kecamatan (Kecamatan Candisari, area yang tidak terlalu luas namun
Gajahmungkur, Gayamsari, Genuk, kepadatan penduduknya sangat tinggi.11
Pedurungan, Semarang Selatan, Semarang Rata-rata suhu udara di Kota Semarang

©2018, JEKK, All Right Reserved


Ulfah et al. J.E.K.K 3 (1), 2018 33

mencapai 28,43oC yang merupakan suhu Leptospirosis pada pekerja sektor


udara optimal untuk perkembangbiakan informal. Hasil tersebut sesuai dengan
bakteri Leptospira12-13 penelitian yang menyebutkan adanya
Subyek dari penelitian ini terfokus riwayat luka di antara kurun waktu 4
pada pekerja sektor informal yang minggu sebelum sakit mempunyai risiko
dibatasi, dikaitkan dengan potensi paparan 44,38 kali lebih besar untuk terjadi
sumber infeksi Leptospirosis selama Leptospirosis dibandingkan yang tidak.18
subyek penelitian bekerja. Pekerja sektor Responden dengan riwayat mengalami
informal merupakan pekerja-pekerja yang luka terbuka ringan di bagian tangan,
bekerja di sektor yang tidak terlindungi kaki, muka dan juga ada bagian kaki dan
(unprotected sector), akan tetapi orang tangan yang membekas seperti bekas
masuk ke sektor ini relatif bebas (free terendam air dalam waktu lama. Adanya
entry). Adanya ‘free entry’ membuat luka terbuka dapat meningkatkan risiko
sektor informal dibanjiri pekerja yang masuknya bakteri Leptospira ke dalam
kurang terdidik dan kurang trampil tubuh pada saat terjadi kontak dengan
ataupun tenaga kerja yang tidak bisa atau air, tanah, atau tanaman yang diduga
belum terserap sektor formal.14-15 Sektor terkontaminasi urin yang mengandung
informal juga merupakan suatu unit usaha bakteri Leptospira dan atau pada saat
dengan pola kegiatan tidak teratur baik terendam banjir ataupun air rob yang
waktu, modal, maupun penerimaannya, diduga terkontaminasi Leptospira.18
hampir tidak tersentuh oleh peraturan atau Apabila dikorelasikan dengan
ketentuan dari pemerintah, modal, penggunaan APD, sebanyak 87,5%
peralatan dan perlengkapan serta omset pekerja sektor informal dengan riwayat
yang diperoleh biasanya kecil dan luka selama bekerja tidak memakai APD
dilakukan oleh masyarakat yang selama bekerja. 67,5% responden dengan
berpenghasilan rendah, tidak riwayat luka mempunyai riwayat kontak
membutuhkan keahlian khusus dalam dengan sumber infeksi, dimana riwayat
menjalankan kegiatannya, dan pada kontak langsung: 17,5% dengan bangkai
umumnya satuan usahanya tikus, 5% dengan tikus, 37,5% dengan air
mempekerjakan tenaga kerja yang sedikit selokan, 50% dengan genangan air,
dari lingkungan, hubungan keluarga, serta 53,5% dengan sampah dan 35% dengan
dengan mudah dapat berganti atau beralih kotoran tikus. Hal ini mendukung teori
keusaha lain. Mereka yang memasuki konsep kejadian Leptospirosis yang
usaha berskala kecil ini, mulanya disebutkan oleh WHO, bahwa salah satu
bertujuan mencari kesempatan kerja dan cara bakteri Leptospira masuk ke tubuh
menciptakan pendapatan. Kebanyakan manusia adalah dengan melalui luka atau
dari mereka yang terlibat adalah migran lecet pada kulit, sehingga apabila tidak
dari golongan miskin, berpendidikan memakai APD maka Leptospira dapat
rendah dan kurang terampil.14,16,17 masuk ke tubuh.18-20
Hal tersebut didukung juga dengan
teori yang menyebutkan bahwa syarat
Riwayat mendapatkan luka pada saat timbulnya infeksi adalah bahwa
bekerja organisme yang menular harus mampu
melekat, menduduki/ memasuki hospes
Hasil analisis menunjukkan
dan berkembang biak paling tidak sampai
bahwa adanya riwayat luka yang didapat
taraf tertentu. Kulit merupakan batas
selama bekerja berhubungan signifikan
utama antara lingkungan dan tubuh
terhadap kejadian Leptospirosis, dan
manusia yang menjadi imunitas non
membuktikan hipotesis yang menyatakan
spesifik lapis pertama. Kulit yang utuh
riwayat mendapatkan luka pada saat
memiliki lapisan keratin atau lapisan
bekerja merupakan faktor risiko

©2018, JEKK, All Right Reserved


Ulfah et al. J.E.K.K 3 (1), 2018 34

tanduk pada permukaan luar dan epitel Riwayat kontak dengan sumber
berlapis gepeng sebagai barier mekanis infeksi
yang baik sekali terhadap infeksi. Jasad
renik sulit menembus barier mekanis ini, Hasil analisis statistik
namun apabila terjadi luka iris, abrasi atau menunjukkan bahwa adanya riwayat
maserasi memungkinkan agen menular kontak dengan sumber infeksi
masuk.21 Jika agen berhasil menembus berpeluang 56,98 kali lebih besar untuk
salah satu barier tubuh dan memasuki terkena Leptospirosis dibandingkan
jaringan, maka pertahanan berikutnya pekerja sektor informal tanpa riwayat
adalah reaksi , yang merupakan respon kontak dengan sumber infeksi.
imun innate, yang diperlihatkan dengan Hubungan yang signifikan ini dapat
reaksi inflamasi. Jika reaksi peradangan dijelaskan bahwa salah satu dari jalur
akut tidak sanggup mengatasi penyerang, infeksi Leptospirosis adalah adanya
infeksi menyebar lebih luas ke seluruh kontak dengan jaringan binatang yang
tubuh.21 terinfeksi bakteri Leptospira. Penularan
Apabila mikroorganisme dapat Leptospirosis juga bisa terjadi secara
melewati pertahanan nonspesifik/ innate langsung akibat adanya kontak langsung
immunity, maka tubuh akan membentuk antara manusia (host) dengan urin/
mekanisme pertahanan yang lebih jaringan binatang yang terinfeksi, dan
kompleks dan spesifik dimana imunitas secara tidak langsung akibat adanya
diperantai antibodi. Mekanisme imunitas kontak antara manusia dengan tanaman,
spesifik ini terdiri dari imunitas selluler air, tanah yang terkontaminasi urin
dan humoral. Respon imun spesifik binatang terinfeksi.18,20
selluler ini terjadi 7 hari setelah masa Apabila ditelusur, riwayat kontak
inokulasi yang terjadi berupa opsonisasi langsung responden infeksi dibagi
makrofag dan aktifasi netrofi. Sitem imun menjadi kontak langsung dan tidak
humoral yaitu produksi antibodi spesifik langsung. Riwayat kontak langsung
oleh sel limfosit B (T-dependent dan non dengan sumber infeksi dinyatakan sebesar
T-dependent) dan mekanisme Cell 13,4% kontak langsung dengan bangkai
mediated immunity (CMI). Sel limfosit T tikus (24,4% kasus, 2,4% kontrol), 4,9%
berperan pada mekanisme imunitas ini kontak langsung dengan tikus (7,3%
melalui produksi sitokin serta jaringan kasus, 2,4% kontrol). Tingginya proporsi
interaksinya dan sel sitotoksik matang di riwayat kontak langsung dengan sumber
bawah pengaruh interleukin 2 (IL-2) dan infeksi pada kasus yang lebih besar
interleukin 6 (IL-6).22 Respon imun dibandingkan kontrol mendukung
spesifik humoral pada Leptospirosis pendapat bahwa penularan Leptospirosis
ditandai dengan terbentuknya antibodi dan pada hewan ke manusia salah satunya
beberapa sitokin (IL-6, TNF-α dan melalui kontak langsung. Pada saat
transforming growth factor-β1 (TGF- manusia memegang jaringan hewan yang
β1)), nitrit oxide (NO) dan H2O2. diduga terinfeksi bakteri Leptospira maka
Berdasarkan antibodi yang diproduksi, pada saat itu pula proses masuknya bakteri
dibagi menjadi dua strain, yaitu strain Leptospira ke dalam tubuh manusia akan
Low (L) dan High (H). Strain H dimulai. Jalan masuk bakteri Leptospira
menunjukkan tendensi yang lebih tinggi melalui pori kulit manusia yang kemudian
terhadap respon Th2, dengan produksi akan masuk ke dalam aliran darah. Kontak
antibodi yang lebih besar, lesi jaringan langsung dengan tikus/bangkai
yang lebih luas serta adanya sintesis IL-4. tikus/wahana lain yang diduga telah
Strain L menunjukkan respon Th1, dengan terinfeksi Leptospira merupakan salah
produksi yang besar dari interferon (IFN), satu jalur penularan Leptospirosis dari
serta aktivasi makrofag.23 tikus ke manusia.18

©2018, JEKK, All Right Reserved


Ulfah et al. J.E.K.K 3 (1), 2018 35

Sebanyak 26,8% kontak langsung pada laki-laki dibandingkan wanita, dan


dengan air selokan, 36,6%kontak pada kelompok umur lanjut (>60 tahun)
langsung dengan sampah, 25,6% kontak maka risiko laki-laki dan wanita untuk
langsung dengan kotoran tikus. Hal ini terkena Leptospirosis adalah sama.(25)
berkaitan dengan jalur penularan Pada usia lanjut (geriartri) terjadi
Leptospirosisis berdasarkan diketahuinya degenerasi organ-organ tubuh yang
kemungkinan bahwa bakteri Leptospira berakibat pada penurunan fungsi organ
yang ada dalam ginjal tikus juga dapat sehingga kemampuan homeostatis tubuh
menginfeksi manusia pada saat kontak menurun dan meningkatkan risiko
dengan kulit melalui sentuhan secara gangguan fisiologis yang bersifat
sengaja maupun tidak sengaja, terinjak, sistemik maupun pathognomonik.3
atau terkena cipratan darah atau cairan Penurunan fungsi berbagai sistem organ
tubuh tikus yang terinfeksi (kontak yang berkaitan dengan pertambahan usia
langsung) maupun kontak dengan air, juga turut menimbulkan gangguan
tanah, dan tanaman terkontaminasi urin imunitas. Akhirnya, bersamaan dengan
dari hewan yang terinfeksi Leptospira pertambahan usia, kulit akan menjadi
(kontak tidak langsung).(18) Apabila tipis dan tidak begitu elastis lagi.
dikorelasikan dengan variabel lain, maka Neuropati perifer dan penurunan
sebanyak 61,4% responden dengan sensibilitas serta sirkulasi yang
riwayat kontak dengan sumber infeksi menyertainya dapat menimbulkan ulkus
memiliki riwayat luka pada saat bekerja, statis, dekubitus, ekskoriasi dan gejala
95,5% tidak memakai APD selama luka bakar. Gangguan integritas kulit
bekerja, 54,5% memiliki perilaku yang merupakan faktor predisposisi yang
buruk dan 79,5% memiliki kondisi memudahkan orang tua untuk mengalami
sanitasi tempat kerja yang buruk. infeksi mikroorganisme yang merupakan
bagian dari flora kulit yang normal.26
Sebuah studi Bappenas
Kategori umur mendukung kesimpulan diatas, bahwa
sektor informal masih memegang
Rerata umur responden 52 tahun,
peranan penting menampung angkatan
umur minimum 29 tahun dan maksimum
kerja, terutama angkatan kerja muda
81 tahun, Hasil analisis menunjukkan
yang masih belum berpengalaman atau
bahwa pekerja Sektor Informal umur
angkatan kerja yang pertama kali masuk
dewasa (18-40 tahun) berisiko 42,22 kali
pasar kerja, yang dapat mempunyai
lebih besar untuk terkena Leptospirosis
dampak positif mengurangi tingkat
dibandingkan umur tua. Hasil tersebut
pengangguran terbuka, tetapi di sisi lain
sesuai dengan pernyataan dimana banyak
menunjukkan gejala tingkat produktivitas
pekerja beralih masuk dan keluar dari
yang rendah, karena masih menggunakan
pasar tenaga kerja, serta masuk dan keluar
alat-alat tradisional, tingkat pendidikan
pada sektor informal. Kebanyakan
dan keterampilan yang relatif rendah.27
pemuda yang tidak memiliki pengalaman
Hasil diatas juga sesuai dengan
atau pendidikan yang diperlukan untuk
penelitian pada sektor informal yang
memperoleh pekerjaan formal, sehingga
terterdahulu dimana banyak pekerja
mereka umumnya memasuki pasar tenaga
beralih masuk dan keluar dari pasar tenaga
kerja dengan bekerja secara informal, baik
kerja, serta masuk dan keluar pada sektor
dengan bekerja tanpa bayaran pada usaha
informal. Kebanyakan pemuda yang tidak
keluarga/bekerja sebagai pekerja lepas.24
memiliki pengalaman atau pendidikan
Apabila umur dikaitkan secara
yang diperlukan untuk memperoleh
spesifik dengan risiko Leptospirosis dan
pekerjaan formal, sehingga mereka
jenis kelamin, maka risiko kelompok
umumnya memasuki pasar tenaga kerja
umur dewasa (20-59 tahun) lebih tinggi

©2018, JEKK, All Right Reserved


Ulfah et al. J.E.K.K 3 (1), 2018 36

dengan bekerja secara informal, baik sistem imun pada wanita dan pria adalah
dengan bekerja tanpa bayaran pada usaha sama, berkembang tanpa pengaruh
keluarga atau bekerja sebagai pekerja hormon seks.28 Kemampuan hormon-
lepas. Setelah mengumpulkan pengalaman hormon seks untuk memodulasi imunitas
dan aset, para pekerja di usia produktifnya telah diketahui dengan baik. Ada bukti
memiliki peluang lebih besar untuk yang menunjukkan bahwa estrogen
memasuki sektor formal atau menjadi memodulasi aktivitas limfosit T sementara
wiraswasta. Sedangkan pekerja diatas 50 androgen berfungsi untuk
tahun mempunyai peluang jauh lebih mempertahankan produksi interleukin-2
besar untuk memiliki usaha non-tani (IL-2) dan aktivitas sel supresor. Efek
sendiri, sebuah keadaan yang hormon seks pada sel-sel B tidak begitu
mengisyaratkan bahwa beberapa pekerja menonjol. Estrogen akan mengaktifkan
sektor informal mampu meningkatkan populasi sel B yang berkaitan dengan
kesejahteraannya sambil tetap di sektor autoimun yang mengekspresikan marker
informal.24 CD5 (marker antigenik pada sel B).
Sebanyak 64,7% responden dengan Estrogen cenderung menggalakkan
kategori umur 18-40 tahun mempunyai imunitas sementara androgen bersifat
riwayat kontak dengan sumber infeksi; imunosupresif. Umumnya penyakit
88,2% tidak memakai APD selama autoimun lebih sering dijumpai pada
bekerja; 29,4% mempunyai riwayat luka wanita ketimbang pada laki-laki.26
saat bekerja; sebanyak 41,2% memiliki Androgen yang dilepas pria bersifat
perilaku yang buruk; 70,6% terdapat imunosurpresif, dilepas selama menetap
tikus di tempat kerja; sebanyak 76,5% selama masa dewasa dan tidak
memiliki kondisi sanitasi tempat kerja berfluktuasi sampai usia lanjut. Pada
yang buruk dan sebanyak 52,9% wanita, respon imun terintegrasi dengan
memiliki kondisi sanitasi rumah yang sistem endokrin yang tujuannya agar janin
buruk. Sehingga dalam hal ini, dapat dalam kandungan tidak ditolak selama
diasumsikan bahwa kondisi pekerja usia hamil. Wanita mengalami lebih sedikit
dewasa (18-40 tahun) pada sektor infeksi selama hidupnya dibanding pria,
informal lebih banyak dan dengan yang diduga disebabkan oleh efek
kondisi minim pengalaman dan androgen. Meskipun terjadi
rendahnya pendidikan sehingga di penghambatan sel T episodik, wanita tidak
dukung dengan perilaku yang buruk serta menunjukkan infeksi yang lebih sering
kondisi lingkungan yang berpotensi dibanding pria, juga selama hamil. Hal ini
tinggi menularkan Leptospirosis, menunjukkan peran besar immunoglobulin
sehingga kasus Leptospirosis juga lebih terhadap infeksi.(28) Apabila jenis
tinggi pada kelompok umur dewasa (18- kelamin dikaitkan secara spesifik dengan
40 tahun) dibandingkan usia tua (> 40 risiko Leptospirosis dan pada kelompok
tahun). umur tertentu, maka risiko laki-laki untuk
terkena Leptospirosis pada kelompok
Jenis kelamin pekerja sektor informal umur dewasa (20-59 tahun) lebih tinggi
pada dibandingkan wanita, dan pada
Dari hasil analisis menunjukkan kelompok umur lanjut (>60 tahun) risiko
bahwa pekerja sektor informal dengan laki-laki dan wanita adalah sama. Hal ini
jenis kelamin laki-laki berpeluang 37,01 dikaitkan dengan peran dari kromosom
kali lebih besar untuk terkena “X” yang berjumlah 2 kromosom pada
Leptospirosis dibandingkan perempuan. wanita, dimana kromosom “X” ini
Apabila dikaitkan dengan sistem respon merepresentasikan beberapa gen yang
imun pada tubuh manusia, maka dapat diimplikasikan pada proses immunologi,
dijelaskan bahwa sebelum pubertas, seperti Toll-like receptors, multiple

©2018, JEKK, All Right Reserved


Ulfah et al. J.E.K.K 3 (1), 2018 37

cytokin receptors, gen pada aktivitas sel-T kemudian sampah diangkut oleh petugas
dan sel-B serta faktor pengaturan (56,1% kelompok kasus) setiap 2x
transkripsi dan translasi. Sedangkan pada seminggu (36,6% pada kelompok kasus),
kromosom “Y” berperan pada sejumlah 63,4% responden kelompok kasus terbiasa
gen pada inflammatory pathways.25 menyimpan makanan sisa pada malam
Hasil penelitian ini sejalan dengan hari. Sisa makanan dimalam hari
beberapa penelitian terdahulu yang merupakan sumber pakan tikus sehingga
menyebutkan bahwa berdasarkan jenis keberadaan sampah dan sisa makanan
kelamin, pekerja yang terpapar sebagian pada malam hari meningkatkan kontak
besar pekerja di pedesaan biasanya laki- dengan tikus.33 Hasil penelitian ini juga
laki.29 Rejeki menyebutkan jenis kelamin sejalan dengan penelitian Sarkar yang
responden pada kasus 76,2% laki-laki30 menyebutkan bahwa kondisi sanitasi
Proporsi kasus yang tinggi pada laki-laki tempat tinggal yang buruk dengan adanya
kemungkinan berhubungan dengan kumpulan sampah merupakan faktor
pekerjaan, dimana sebagian besar risiko kejadian Leptospirosis.34
penderita bekerja sebagai petani yang Berkaitan dengan keberadaan
lebih banyak dikerjakan laki-laki, dengan tikus, sebanyak 48,78% responden
perempuan membantu sewaktu-waktu menyatakan terdapat tikus didalam
(OR=9,6) serta didukung Poeppl32 yang rumahnya, serta 96,3% responden pernah
menyebutkan bahwa jenis kelamin melihat tikus didalam dan lingkungan
adalah salah satu faktor kejadian rumahnya. Tikus terutama Rattus
Leptospirosis, dimana paling banyak Norvegicus merupakan reservoir penting
pada laki-laki umur 18-57 tahun. dalam penularan Leptospirosis.35 Tikus
Dominasi ini dipengaruhi oleh rumah yang juga dikenal sebagai tikus
kecenderungan yang lebih besar untuk komensal (commensal rodent atau
berpartisipasi dalam kegiatan di luar synanthropic) seluruh aktivitas hidupnya,
ruangan sehingga risiko terpapar lebih seperti mencari makan, berlindung,
besar.31-32 bersarang, dan berkembang biak
dilakukan di dalam rumah. Adanya tikus
Sanitasi Rumah mengindikasikan lingkungan yang tidak
sehat.31 Keberadaan tikus disekitar rumah
Hasil analisis statistik
ditentukan oleh ketersediaan pakan dan
menunjukkan bahwa kondisi sanitasi
tempatberlindung/bersarang. Keberadaan
rumah yang buruk (skor <60%)
tikus dilingkungan tempat tinggal
merupakan faktor risiko kejadian
meningkatkan potensi penularan
Leptospirosis pada pekerja sektor
Leptospirosis.35
informal. Kebersihan rumah umumnya
Hasil ini sejalan dengan hasil
berhubungan dengan pengelolaan sampah
penelitian Priyanto yang menyatakan
rumah tangga atau bahan yang tidak
bahwa rumah yang didalamnya terdapat
digunakan atau terbuang, baik sampah
tikus bersiko terkena Leptospirosis
padat (refuse), sampah mudah busuk
sebesar 5,87x dibandingkan responden
(garbage), dan sampah tidak mudah busuk
yang didalamnya tidak dijumpai tikus
(rubbish). Rumah dengan penataan
serta Sarkar yang menyebutkan bahwa
perabotan yang berserakan cenderung
melihat tikus di dalam rumah berisiko 4,5
kebersihan rumahnya kurang, yang berarti
kali lebih besar untuk terjadi
banyak ditemukan sampah dan barang-
Leptospirosis. Infeksi bakteri Leptospira
barang tidak terpakai dirumahnya. Barang
sp. terjadi karena kondisi lingkungan
yang tidak tertata rapi dapat menjadi
perumahan yang banyak dijumpai tikus.
tempat persembunyian tikus.33 Sebanyak
Bakteri Leptospira sp. banyak menyerang
78% rumah responden kelompok kasus
tikus besar seperti tikus wirok (Rattus
terdapat sampah didalam rumahnya, untuk

©2018, JEKK, All Right Reserved


Ulfah et al. J.E.K.K 3 (1), 2018 38

norvegicus) dan tikus rumah (Rattus riwayat luka saat bekerja, kondisi sanitasi
diardii).31,34,35 rumah yang buruk, dan ada riwayat
Cara responden mengetahui kontak dengan sumber infeksi, sedangkan
keberadaan tikus diketahui dengan 0,058% sisanya disebabkan oleh tingkat
beberapa cara yaitu dengan melihat tikus pendidikan, perilaku, APD, lama kerja,
secara langsung (65,9% kasus, 9,8% kondisi sanitasi tempat kerja dan
kontrol), melihat tikus dilingkungan keberadaan tikus ditempat kerja.
sekitar rumah (82,9% kasus, 56,1%
kontrol), melihat bekas gigitan tikus Ucapan Terimakasih
(36% kasus, 0% kontrol), mendengar
suara tikus (56,1% kasus, 34,1% Terimakasih kepada Dinas
kontrol), mencium bau kotoran (43,9% Kesehatan Provinsi Jateng, Dinas
kasus, 7,3 kontrol) serta dengan melihat Kesehatan Kota Semarang, Dinas
kotoran dan bekas tikus (51,2% kasus, Kesbangpolinmas Kota Semarang,
12,2% kontrol). Puskesmas Pandanaran, Bandarharjo,
Berdasarkan hasil tersebut dapat Pegandan, Bangetayu, Tlogosari Wetan,
dilihat bahwa cara identifikasi responden Tlogosari Kulon, Halmahera, Candi
mengenai keberadaan tikus masih Lama, Bulu Lor, Kagok, Karangayu,
terbatas pada kehadiran (melihat tikus Sekarang, Rowosari, Miroto, Genuk,
secara langsung, mendengar), dan jarang Lebdosari dan Ngemplak Simongan, yang
mengetahui jika terdapat tanda tikus yang telah membantu dan memberikan ijin,
lain, seperti bau kotoran, kencing tikus, data dan konsultasi selama proses
bekas bekas gigitan/keratan tikus pada penelitian.
kain, perabot dan kayu. Pada kelompok
kasus, sebanyak 78% responden Daftar Pustaka
memiliki SPAL dengan sistem yang
masih terbuka, SPAL berbau (70,7%) 1. WHO, ILS. Human Leptospirosis:
dan SPAL tidak lancar (65,9%). Saluran Guidance For Diagnosis,
limbah yang terbuka dan airnya tidak Surveillance And Control. WHO
lancar sehingga tergenang dan banyak Library. 2003;45(5):P.1–109.
sampah sangat potensial sebagai tempat 2. WHO, FAO, OIE. Leptospirosis
bersarangnya tikus, terutama tikus got Surveillance Report 18. [Internet].
sebagai pembawa bakteri Leptospira Queensland; 2009 Jan-Dec:P.3-12.
sehingga memperbesar kemungkinan Available from:
penularan melalui kontak langsung http://www.health.qld.gov.au/qhcss/l
dengan air kotor/air selokan.33 ep_rep.asp
3. Wahyuni, Handayani SA, Susilastuti
Kesimpulan F, Setijowati H,Mardijanto D,
Sugihantono A. Kajian Leptospirosis
Faktor risiko kejadian di Kota Semarang. Makalah Seminar
Leptospirosis pada pekerja sektor informal Klinik Leptospirosis Dinas
adalah umur dewasa (18-40 tahun), jenis Kesehatan Provinsi Jawa Tengah.
kelamin laki-laki, riwayat mendapatkan Semarang; 2012:P.1-11
luka selama bekerja, sanitasi rumah yang 4. Dinkes. Leptospirosis. dalam: Buku
buruk, dan riwayat kontak dengan sumber Saku Kesehatan Triwulan I Tahun
infeksi. 2014. Semarang: Dinkesprop Jateng;
Probabilitas terjadinya 2014:P.30-31.
Leptospirosis pada pekerja sektor 5. Kementrian Kesehatan.
informal sebesar 99,942% pada pekerja Leptospirosis in Profil Kesehatan
sektor informal berusia dewasa (18-40 Indonesia 2012 [Internet]. Jakarta:
tahun), berjenis kelamin laki-laki, ada

©2018, JEKK, All Right Reserved


Ulfah et al. J.E.K.K 3 (1), 2018 39

Kementerian Kesehatan Republik Jayapura-Papua. Jurnal Ekonomi


Indonesia; 2012:P.108-111. Bisnis. 2011;2(16):P.155–60.
Available from: 17. Hakim L. Perkembangan Tenaga
http://www.kemkes.go.id Kerja Wanita Di Sektor Informal:
6. Kementrian Kesehatan. Profil Hasil Analisa Dan Proxy Data
Kesehatan Indonesia Tahun 2013 Sensus Penduduk. Among Makarti.
[Internet]. Jakarta:Kementerian 2011;4(7):P.20–32.
Kesehatan RI. 2014:P.507. Available 18. Menteri Pertanian. Surat Keputusan
from: Menteri Pertanian
http://scholar.google.com/scholar?hl No.555/Kpts/TN.240/9/1995,
=en&btnG=Search&q=intitle:Profil+ Tentang Syarat-Syarat Rumah
Data+Kesehatan+Indo Pemotongan Hewan.
nesia+Tahun+2011#0 19. Kemenkes RI. Petunjuk Teknis
7. Dinkes Kota Semarang. Profil Upaya Pengendalian dan
Kesehatan Kota Semarang 2014. Penanggulangan Kejadian Luar
Semarang: Dinkes Kota Semarang; Biasa (KLB). Jakarta: Bakti Husada;
2015:P.52-55. 2013:P.13-18.
8. Kuemba LS. Buruh Bagasi Kapal di 20. Kusmiyati, Noor SM, Supar. Animal
Pelabuhan Kota Bitung. P.1-11 and Human Leptospirosis in
9. Susila S. Metodologi Penelitian Indonesia. Wartazoa.
Retrospective/Ex post facto, Case 2005;15(4):P.213–9.
Control Causal Correlation. Boss 21. Wilson SAPLM. Patofisiologi.
Script; 2015:P.10-35. Konsep Klinis Proses-Proses
10. Kleinbaum DG. Logistic Regression, Penyakit. Edisi ke E. Penerbit Buku
A Self Learning Text. New York: Kedokteran EGC:P.82-83.
Springer-Verlag New York, Inc; 22. Resti M. Sistem imun
2002.P.2-30. [Internet]. 2012. Available
11. BPS. Statistik Kesejahteraan Sosial from:http://marsellyresti.blogspot.co.i
Kota Semarang 2015. 2015:P10-16. d/2012/10/sistem-imun.html.
12. Nugroho A. Analisis Faktor 23. Kerang Ijo. Leptospirosis [Internet].
Lingkungan dalam Kejadian https://kerangijo.wordpress.com/2011
Leptospirosis di Kabupaten /01/19/leptospirosis/. [cited 2016 Jun
Tulungagung. BALABA. 24]. Available from:
Vol.11(No.2):P.73–80. https://kerangijo.wordpress.com/2011
13. BPS. Statistik Daerah Kota /01/19/leptospirosis/.
Semarang 2016. 2016:P10-15. 24. ILO. Indonesia: Tren Sosial dan
14. Indrawan T.A. Hubungan Sektor Ketenagakerjaan Agustus 2014.
Informal Dengan Kesempatan Kerja Asian Decent Work Decade 2015-
dan Kesempatan Menyekolahkan 2016. Jakarta; 2015:P.1–4. Available
Anak (Studi Sektor Informal di from: www.ilo.org/jakarta
Pinggir Jalan Ki Hajardewantoro 25. Carmen Giefing-Kroll, Peter Berger,
Belakang Kampus Kentingan Gunter Lepperdinger, Beatrix
Universitas Sebelas Maret Surakarta. Grubeck-Loebenstein. Review: How
Fakultas Keguruan dan Ilmu Sex and Age Affect Immune
15. Ra. Leisa Triana. Soman Wisnu Responses, Susceptibility to
Darm. Dimensi Pekerja Informal Infections, and Response to
Sulawesi Barat. BPS Sulawesi Barat; Vaccination. Institute For Biomedical
2014:P.1–3. Aging Research of Innbruck
16. Arung L. Kondisi Sektor Informal University. Innbruck, Austria. DOI:
Perkotaan dalam Perekonomian 10.1111/acel.12326. Published by the

©2018, JEKK, All Right Reserved


Ulfah et al. J.E.K.K 3 (1), 2018 40

Anatomical Society and John Willey 32. Paeppl W. High Prevalence of


and Sons, Ltd. 2015.14.P.309-321. Antibodies Against Leptospira Spp.
26. Basrie S. Mekanisme Respon Imun. In Male Austrians Adults: a Cross-
[Internet]. Available from: sectional Survey. 2009:P.23-27.
http://biologijie.blogspot.co.id/2014/1 33. Ramadhani T, Yunianto B. Kondisi
1/mekanisme-respon-imun.html] Lingkungan Pemukiman yang Tidak
27. Direktorat Ketenagakerjaan dan Sehat Berisiko terhadap Kejadian
Analisis Ekonomi. Studi Profil Leptospirosis (Studi Kasus di Kota
Pekerja di Sektor Informal dan Arah Semarang). Suplemen Media
Kebijakan ke Depan. Jakarta; Penelitian dan Pengembangan
2002:P.1-18. Kesehatan. 2010;XX:P.46–54.
28. Baratawidjaja KG. Immunologi 34. Sarkar U., Nascimento SF., Barbosa
Dasar. Edisi ke-7. UI FK, editor. R., Martins R., Nuevo H., Kalafanos
Jakarta: Balai Penerbit FKUI; I. E al. Population-Based Case-
2006:P.131-135. Control Investigation Of Risk Factors
29. Faine S. Guidelines for the control of For Leptospirosis During An Urban
leptospirosis. WHO offset Epidemic. American Journal of
publication. 1982:P. 1–171. Tropical Medicine Hygiene.
30. Rejeki DSS. Faktor Risiko 2002:P.605–10.
Lingkungan Yang Berpengaruh 35. Priyanto A, Hadisaputro S, Santoso
Terhadap Kejadian Leptospirosis L, Gasem HSA. Faktor-Faktor Risiko
Berat. [Thesis]. Semarang: Undip; Yang Berpengaruh Terhadap
2005:P.1–129. Kejadian Leptospirosis (Studi Kasus
31. Ramadhani T, Yunianto B. Reservoir di Kabupaten Demak). [Thesis].
dan Kasus Leptospirosis di Wilayah Semarang : Undip; 2008:P.1–11.
Kejadian Luar Biasa Reservoir and
Case of Leptospirosis in Outbreak
Area. Kesehatan Masyarakat
Nasional. 2011;7(4):P.162–8.

©2018, JEKK, All Right Reserved