Anda di halaman 1dari 31

BAB 1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pelayanan kesehatan adalah pelayanan yang kompleks karena

melibatkan banyak sumber daya manusia, fasilitas, maupun dana sehingga

dapat menimbulkan banyak permasalahan.Rumah sakit merupakan salah satu

fasilitas pelayanan publik yang bergerak di bidang kesehatan.Undang-Undang

tentang Rumah Sakit No 44 Tahun 2009 menyebutkan rumah sakit adalah

institusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan

perorangan secara paripurna yang menyediakan pelayanan rawat inap, rawat

jalandan gawat darurat.

Salah satu bentuk pelayanan keperawatan dalam rangka meningkatkan

kualitas pelayanan adalah memberikan rasa tanggung jawab perawat yang

lebih tinggi sehingga terjadi peningkatan kinerja kerja dan kepuasan

pasien.Hubungan yang baik antara pasien dan perawat dapat dilakukan

apabila menerapkan suatu model asuhan keperawatan yang baik.Dengan

demikianmaka pelayanan pasien menjadi sempurna sehingga dapat

meningkatkan mutu dan keselamatan pasien di rumah sakit. Asuhan

keperawatan yang rendah menyebabkan mutu pelayanan keperawatan juga

menurun dan akhirnya memicu penurunan tingkat keselamatan pasien di

rumah sakit, hal yang demikian akan terus menerus berulang jika tidak segera

diatasi.

1
Keadaan ini sangat berpengaruh terhadap pelayanan perawatan yang

dengan sendirinya pemberian jasa pelayanan itu harus selalu tanggap dan

mampu menghadapi serta menyesuaikan diri dengan diantaranya adalah

terselenggaranya pelayanan kesehatan yang semakin bermutu dan

merata.Untuk mencapai sasaran ini, maka ditetapkan peningkatan mutu

pelayanan rumah sakit.Sebagai bagian dari tujuan program pembangunan

kesehatan (Nursalam, 2011).

Tuntunan masyarakat terhadap kualitas pelayanan keperawatan

dirasakan sebagai fenomena yang harus direspon oleh perawat.Respon yang

ada harus bersifat kondusif dengan belajar banyak tentang konsep pengelolaan

keperawatan dan langkah-langkah konkrit dalam pelaksanaanya.Pelayanan

keperawatan profesional merupakan bagian yang integral dari pelayanan

kesehatan yang berdasarkan ilmu keperawatan yang kokoh, berorientasi pada

pelayanan yang bermutu tinggi dalam bentuk pelayanan biopsikososial dan

spiritual, mulai dari tingkat individual dan mencakup seluruh sudut kehidupan

sampai tingkat masyarakat (Nursalam, 2011).

Mutu pelayanan kesehatan rumah sakit sangat ditentukan oleh tenaga

perawat, disebabkan profesi perawat memiliki proporsi yang relatif besar yaitu

hampir melebihi 50% dari Sumber Daya Manusia (SDM) rumah sakit. Kerja

dan tugasnya lebih banyak dibanding tenaga lain karena sifat dan fungsi

tenaga perawat adalah mendukung pelayanan medik yang berinteraksi dengan

2
pasien secara terus menerus dan berkesinambungan untuk memberikan asuhan

keperawatan yang komprehensif dan professional (Nursalam,2011).

Rumah sakit sebagai suatu tempat pelayanan kesehatan memiliki suatu

sistem yang terdiri dari tim pelayanan kesehatan seperti dokter, perawat, ahli

gizi dan tenaga kesehatan lainya, yang mempunyai satu tujuan untuk

meningkatkan pelayanan kesehatan. Rumah sakit merupakan suatu tempat

dimana orang yang sakit dirawat dan ditempatkan dalam jarak yang sangat

dekat (Gillies, 2005).

Tenaga perawat sebagai tenaga professional yang melaksanakan

asuhan keperawatan pada klien merupakan ujung tombak pelayanan kesehatan

dirumah sakit. Karena hubungan perawat dengan pasien adalah selama 24 jam

dalam mengalokasi berbagai kemampuan dan pengetahuannya untuk

memberikan pelayanan keperawatan, sehingga dapat menggambarkan kualitas

pelayanan kesehatan di suatu rumah sakit (Depkes RI, 2011).

Keperawatan sebagai bagian integral dari pelayanan kesehatan, ikut

menentukanmutu dari pelayanan kesehatan.Tenaga keperawatan secara

keseluruhan jumlahnya mendominasi tenaga kesehatan yang ada,dimana

keperawatan memberikan konstribusi yang unik terhadap bentuk pelayanan

kesehatan sebagai satu kesatuan yang relatif, berkelanjutan, koordinatif dan

advokatif.Keperawatan sebagai suatu profesi menekankan kepada bentuk

pelayanan professional yang sesuai dengan standart dengan memperhatikan

kaidah etik dan moral sehingga pelayanan yang diberikan dapat diterima oleh

masyarakat dengan baik (Astuti, 2009).

3
Ruangan Ash-Shafa merupakan salah satu ruangan di RSI Ibnu Sina

Padang yang memberikan pelayanan kesehatan pada masyarakat. Ruang Ash-

Sha memiliki tenaga kesehatan terdiri dari bidan dengan jumlah 10 orang dan

perawat dengan jumlah 7 orang , dan total jumlah tenaga medis di Ash-Shafa

adalah 17 orang karyawan, ruang Ash-Shafa merupakan ruangan kebidanan

dengan pasien penyakit obstetri ginekologi ibu partus dan post partum

Berdasarkan survey awal yang dilakukan oleh kelompok pada tanggal

4 s.d 7 Maret 2019di Ruang rawat inap Ash-Shafa RSI Ibnu Sina Padang

melalui observasi dan pembagian kuesioner pada 12 perawat/ bidan.

Didapatkan data bahwa dari 3 pasien yang beresiko tinggi untuk jatuh, ke-3

nya tidak terpasang gelang atau stiker kuning dan segitiga kuning. Selain

ditemukan masalah diatas ditemukan masalah yang baru yaitu didapatkan

pasien yang dijadwalkan pulang, terlihat perawat baru mengisi discharge

planning tidak melakukan edukasi pasien pulang hanya menjekaskan obat

yang diminum dan jadwal control ulang.

Dengan permasalahan yang ditemukan diatas maka mahasiswa

praktek profesi manajemen keperawatan bersama tenaga keperawatan di

ruangan Ash-Shafa tertarik untuk mengangkat masalah-masalah diatas untuk

dapat mencapai penyelesaian masalah tersebut sehingga dapat meningkatkan

mutu pelayanan asuhan keperawatan.

4
B. Tujuan Praktik

1. Tujuan Umum

Setelahmelaksanakanpraktekmanajemenkeperawatanmahasiswama

mpu mengidentifikasi masalah dan penyelesaian masalah (problem

solving) yang ada di Ruangan Rawat Inap Ash-Shafa RSI Ibnu Sina

Padang.

2. Tujuan Khusus

Setelah melakukan praktek manajemen keperawatan mahasiswa

mampu :

a. Mengidentifikasi masalah manajemen pelayanan keperawatan

diRuangan Rawat Inap Ash-Shafa RSI Ibnu Sina Padang.

b. Mengidentifikasi prioritas masalah manajemen pelayanan

keperawatan diRuangan Rawat Inap Ash-Shafa RSI Ibnu Sina

Padang.

c. Mengidentifikasi alternatif pemecahan masalah manajemen pelayanan

keperawatan di Ruangan Rawat Inap Ash-Shafa RSI Ibnu Sina

Padang.

d. Membuat planning of action (POA) bersama perawat ruangan untuk

pemecahan masalah manajemen pelayanan keperawatan di Ruangan

Rawat Inap Ash-Shafa RSI Ibnu Sina Padang.

5
BAB II
KAJIAN SITUASI MANAJEMEN KEPERAWATAN
RUANG ASH-SHAFA DI RSI IBNU SINA PADANG

A. Profil dan Kajian Situasi Rumah Sakit Islam Ibnu Sina Padang

1. Visi Rumah Sakit Islam Ibnu Sina Padang

Menjadi rumah sakit kelas B yang islami dan profesional tahun 2022

2. Misi Rumah Sakit Islam Ibnu Sina Padang

a. Membangun pengelolaan RS secara islami dan profesionnal

b. Meningkatkan dan melengkapi sarana dan pasarana sesuai standar

akreditasi

c. Membangun SDM yang profesional, akuntabel yang beriontasi pada

pasien serta berintegrasi tinggi dalam memberikan pelayanan

d. Memberikan pelayanan kesehatan yang bermutu serta berorientasi

pada keselamatan pasien

e. Menjalin kemitraan dengan pihak-pihak pengguna jasa pelayanan

3. Moto Rumah Sakit Islam Ibnu Sina Padang

a. Eksternal

Kepuasaan anda adalah kebahagiaan kami

b. Internal

Amanah dan ihsan dalam bekerja

4. Sifat, Maksud Dan Tujuan RS Ibnu Sina Padang

a) Terselenggaranya pelayanan keperawatan prima melalui proses

keperawatan

6
b) Terciptanya pelayanan kesehatan yang paripurna, bermutu dan

terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat

c) Terpeliharanya hubungan kerja sama yang efektif dengan semua

anggota tim kesehatan

d) Terlaksananya pengembangan sumberdaya manusia keperawatan

berkelanjutan bagi tenaga keperawatan baik formal maupun non

formal sesuai rencana pengembangan tenaga keperawatan

e) Terciptanya iklim yang menunjang proses belajar dalam kegiatan

pendidikan bagi pengembangan tenaga keperawatan.

5. Misi bidang keperawatan

a) Memberikan pelayanan asuhan keperawatan sesuai standar pelayanan

b) Meningkatkan citra keperawatan melalui penerapan etika keperawatan

dalam memberikan pelayanan prima

c) Menyelenggarakan pelayanan keperawatan prima dan terjangkau

seluruh lapisan masyarakat

d) Menyelenggarakan pelayanan keperawatan prima dan terjangkau

seluruh lapisan masyarakat

7
STRUKTUR ORGANISASI
DIREKTUR

UNIT CASEMIX KOMITE MEDIS UNIT RUHIS PPI UNIT TIK

KOMITE KEPERAWATAN

IGD & RAJAL BID PELAYANAN & BAGIAN UMUM, SDM


MANAJEMEN RESIKO & KEUANGAN

SEKSI PELAYANAN & BAGIAN ADUM &


RAWAT INAP & PEL PENUNJANG MEDIS PERENCANAAN
KHUSUS

SEKSI
SUB BAG SDM &
KEPERAWATAN
DIKLAT
INSTALASI
PENUNJANG
SEKSI MANAJEMEN SUB BAG AKUNTANSI 8
RESIKO & KEUANGAN
1. Karakteristik Ruangan

a. Visi dan Misi Ruangan Ash-Shafa

Ruangan Ash-Shafa belum memiliki Visi dan Misi

keperawatan, tetapi dalam pelaksanaan pengorganisasian diruangan

Ash-Shafa mengacu ke Visi dan Misi Rumah Sakit dan Bidang

Keperawatan.

b. Sifat Kekaryaan Ruangan

1) Fokus Telaah

Di dalam bidang pelayanan fokus telaah ruang Ash-Shafa

adalah mencakup semua jenis penyakit obgyn ibu partus dan post

partum .

2) Lingkup Garapan

Dalam bidang pelayanan lingkup garapan ruang Ash-Shafa

adalah pemenuhan dasar manusia. Berdasarkan fokus telaah, maka

lingkup garapan ruang rawat inap Ash-Shafa adalah memberikan

pelayanan secara terpadu dari berbagai multi disiplin ilmu secara

aman, berkualitas dan berkesinambungan dengan segala aktivitas

untuk mengatasi gangguan atau hambatan pemenuhan kebutuhan

dasar manusia dan meningkatkan kualitas hidup yang terjadi akibat

masalah atau gangguan fisiologis pada satu atau berbagai sistem

tubuh yang dialami oleh pasien.

9
3) Basis Intervensi

Basis intervensi ruang rawat inap Ash-Shafa merupakan

salah satu bagian dari pelayanan yang mengutamakan pelayanan

yang nyamandan kepuasan yang tinggi kepada pasien sehingga

memerlukan pelayanan yang profesional.

c. Model Pelayanan

Model pelayanan keperawatan yang diterapkan di ruangan Ash-

Shafa RSI Ibnu Sina Padang adalah dengan menggunakan metode tim.

Tim dalam ruangan ini dibagi menjadi 2 yaitu tim A dan tim B.

Masing-masing tim di ketuai oleh seorang ketua tim yang telah dipilih

oleh kepala ruangan. Tetapi pada pelaksanaan masih menggunakan

metode gabungan antara metode tim dan fungsional, tetapi pada

laporan penanggungjawabnya dilakukan oleh masih-masing ketua tim,

pada dinas sore dan malam kadang-kadang hanya memilih satu

penanggung jawab saja. Pre conference dan post coference ada

dilaksana, pre conference dibuka oleh karu dan karu mempersilahkan

ketua tim untuk menyampaikan laporan rencana tindak lanjut pasien.

d. Letak Ruangan

Letak ruangan Ash-Shafa berada dilantai dasar, RSI Ibnu Sina

dengan rincian sebagai berikut:

1) Disebelah Timur berbatasan dengan ruang Zam-zam

2) Disebelah Selatan berbatasan dengan IGD dan Rontgen

10
3) Disebelah Utara berbatasan dengan gedung IT dan CSSD

4) Disebelah Barat berbatsan dengan poliklinik dan rekam medis

e. Kapasitas Ruangan

Ruangan Ash-Shafa mempunyai ruangan untuk pasien yaitu :

Tabel 2.1
Jumlah Ruangan Rawat dan Bed Pasien
di Ruang Annisa

NO Ruangan Kelas Jumlah bed

1 Ash-Shafa 1 VIP 1 bed

2 Ash-Shafa 2 VIP 1 bed

3 Ash-Shafa 3 VIP 1bed

4 Ash-Shafa 4 1 2 bed

5 Ash-Shafa 5 1 2 bed

6 Ash-Shafa 6 1 2 bed

7 Kamar Bayi - 2 bed

8 Ash-Shafa 7 VIP 1 bed

9 Ash-Shafa 8 2 2 bed

10 Ash-Shafa 9 2 2 bed

11 Ash-Shafa 10 2 2 bed

12 Ash-Shafa 11 2 2 bed

13 Ash-Shafa 12 2 2 bed

14 Ash-Shafa 13 3 4 bed

15 Ash-Shafa 14 3 4 bed

11
Berdasarkan tabel diatas terdapat jumlah bed yang ada di ruang

Ash-Shafa berjumlah 30bed pasien

f. Bagian-bagian ruangan Ash- Shafa :

1) 1 Ruangan perawat

2) 1 Ruang dapur

3) 1 Ruang perasat

4) 1 Ruang penyimpanan stok barang

5) 1 Ruang bersalin/ tempat obat

6) 1 Ruang karu

7) 1 Ruang informasi

2. Analisis terhadap Pasien

a. Karakteristik

Karakteristik klien di ruang Ash-Shafa RSI Ibnu Sina Padang

adalah terdiri dari berbagai jenis diagnosa medis antara lain Ca

ovarium,Ca serviks, post operasi Sc dan berbagai diagnisa obstetri dan

ginekologi. Dari berbagai masalah ini pasien dapat diberikan

pelayanan keperawatan yang profesional, bermutu, dan unggulan di

kota Padang sesuai dengan visi dan misi rumah sakit dan sebagian

besar pasien yang dirawat di RSI Ibnu Sina Padang dengan jaminan

BPJS dan pasien umum.

12
b. Tingkat ketergantungan

Tingkat ketergantungan klien diruang Ash-Shafa untuk 1 hari

rawatan pada tanggal 4Maret 2019 yaitu dari 6 pasien terdapat pasien

dengan minimal care 5 pasien dengan parsial care 1 orang.

3. Sumber Daya/ Kekuatan Kerja

a. Manusia

Jumlah tenaga keperawatan diruang Ash-Shafa adalah 17 orang

yang terdiri dari 10 orang bidan dan 7 orang perawat

1) Metode

Adapun metode penugasan yang diterapkan diruang Ash-

Shafa adalah metode tim, yaitu kepala ruangan akan memilih

ketua tim (Tim A dan Tim B) dan kepala ruangan langsung

memilih perawat pelaksana untuk bertugas pada masing-masing

tim, kemudian katim dan perawat pelaksana berkolaborasi dalam

pemberian asuhan keperawatan pada pasien.

2) Money

Berdasarkan hasil wawancara dengan kepala ruangan dan

perawat pelaksana semua keuangan diruangan dikelola sepenuhnya

oleh administrasi rumah sakit.Sehingga kebutuhan pengembangan

ruangan disesuaikan dengan ketentuan-ketentuan serta permintaan

kebutuhan pasien yang sebelumnya diajukan oleh kepala ruangan

13
kepada pihak rumah sakit yaitu untuk masalah meringankan biaya

pihak rumah sakit bekerjasama dengan BPJS.

3) Machine

Hasil observasi diruang Ash-Sahafa diperoleh data bahwa

terdapat sarana dan prasarana guna mendukung kualitas pelayanan

optimal.Rumah sakit telah memberikan beberapa fasilitas

penunjang yang berkaitan dengan perkembangan teknologi

misalnya dengan mengadakan peralatan-peralatan medis yang

canggih seperti USG, rontgen, laboratorium yang merupakan

fasilitas penunjang rumah sakit.

4. Lingkungan Kerja

a. Lingkungan fisik

Lingkungan ruang Ash-Shafa memiliki jendela dan pencahayaan

yang baik, terdapat ventilasi.,blangko askep terletak pada

tempatnya yaitu dilemari dan stok benda-benda yang lain

ditempatkan disuatu ruangan

b. Lingkungan non fisik

Lingkungan non fisik diruangan dilihat dari sirkulasi udaranya

sudah optimal

14
5. Kajian Mutu Rumah Sakit

a. BOR

BOR adalah persentase pemakaian tempat tidur pada waktu

tertentu dimana normalnya adalah 60-85%.Indikator ini memberikan

gambaran tentang tinggi rendahnya pemanfaatan tempat tidur di rumah

sakit (DepKes RI, 2008).

Berdasarkan data rekam medik BOR dari bulan Januaritahun

2019didapatkan data dua bulan terakhir diantaranya pada bulan Januari

sebesar 52,53%

b. ALOS (Average Length of Stay = Rata-rata lamanya pasien di rawat)

Menurut DepKes RI (2005) adalah rata-rata lama rawat seorang

pasien. Indikator ini disamping memberikan gambaran tingkat efisiensi

juga dapat memberikan gambaran mutu pelayanan, apabila diterapkan

pada diagnosis tertentu dapat dijadikan hal pengamatan yang lebih

lanjut.Secara umum nilai ALOS yang ideal antara 6-9 hari (DepKes,

2008).

Rumus :

(Jumlah lama dirawat)

(Jumlah pasien keluar (hidup + mati))

Berdasarkan data rekam medik ALOS bulan Januari tahun

2019didapatkan data dua bulan terakhir diantaranya pada bulan

januarisebesar 2,74%

15
c. TOI (Turn Over Interval = Tenggang perputaran)

Menurut DepKes RI (2008) adalah rata-rata hari dimana tempat

tidur tidak ditempati dari telah diisi ke saat terisi berikutnya. Indikator

ini memberikan gambaran tingkat efisiensi penggunaan tempat

tidur.Idealnya tempat tidur kosong tidak terisi pada kisaran 1-3 hari.

Rumus :

((Jumlah tempat tidur x Periode) – Hari rawatan)

(Jumlah pasien keluar (hidup + mati))

Berdasarkan data rekam medik TOI pada bulan Januari tahun

2019 data dua bulan terakhir yakni pada bulan Januari sebesar

3,43%

d. BTO (Bed Turn Over = Angka perputaran tempat tidur)

Menurut Depkes RI (2008) adalah frekuensi pemakaian tempat

tidur pada satu periode, berapa kali tempat tidur dipakai dalam satu

satuan waktu tertentu. Idealnya dalam satu tahun, satu tempat tidur

rata-rata dipakai 40-50 kali.

Rumus :

Jumlah pasien dirawat (hidup + mati)

Jumlah tempat tidur

16
Berdasarkan data rekam medik BTO bulan Januari tahun 2019

didapatkan data dua bulan terakhir di ruang Ash-Shafayakni bulan

Januari sebesar 4,29%.

6. Analisis Pelaksanaan Fungsi-Fungsi Manajemen

a. Perencanaan

1) Visi dan misi

Berdasarkan hasil wawancara dengan kepala ruangan Ash-

Shafa pada tanggal 6 Maret 2019visi misi ruangan mengacu pada

visi misi rumah sakit RSI Ibnu Sina Padang.

Berdasarkan hasil kuesioner didapatkan 85% perawat

menyatakan belum ada visi dan misi ruangan Ash-Shafa

Analisis:Belum optimal penerapan visi dan misi ruangan

2) Kebijakan organisasi ruangan


Jajaran manajerial ruangan memiliki akses secara langsung

dengan kepala ruangan, setiap kebijakan kepala ruangan yang

diturunkan sudah melingkupi permasalahan dan aspek yang

memperhatikan kepentingan keperawatan.

Analisis: Potensial peningkatan pengambilan kebijakan

organisasi

3) Perencanaan Strategi Organisasi

Dari hasil observasi ruangan bahwa kepala ruangan terlibat

dalam perencanaan strategis ruangan dan juga melibatkan secara

17
langsung perawat pelaksana. Setiap kepala ruangan sudah

memiliki rencana tahunan.

Dari hasil observasi terdapat rencana strategis ruangan

yaitu rencana bulanan dan tahunan dari kepala ruangan.

Sesuai dengan teori Siswanto (2005), perencanaan aktifitas

untuk memilih dan menghubungkan fakta serta aktifitas membuat

rencana mengenai kegiatan-kegiatan apa yang akan dilakukan

dimasa depan.

Proses perencanaan sangat penting dilaksanakan sebagai

pedoman atau pegangan dalam pekerjaan aktifitas selanjutnya.

Adapun beberapa aktifitas perencanaan adalah

pengembangantujuan-tujuan, pengembangan strategi-strategi,

pemograman, penjadwalan, pengajaran, pengembangan

kebijakan-kebijakan dan pengembangan prosedur-prosedur.

Analisis: Potensial peningkatan perencanaan strategi

organisasi

b. Pengorganisasian

1) Struktur organisasi

Dari hasil wawancara dengan kepala ruangan

mengatakan struktur organisasi sudah ada, dibagi pada jadwal

dinasyaitu terdiri dari kepala ruangan, katim A, katim B dan

18
perawat pelaksana dan masing-masing perawat pelaksana

dibagi sesuai dengan jumlah tingkat ketergantungan pasien.

Dari hasilkuesioner didapatkan 71,4% perawat

mengatakan sudah adanya struktur organisasi diruangan.

Hasil observasi didapatkan kepala ruangan, katim A,

katim B dan perawat pelaksana sudah melaksanakan kegiatan

sesuai dengan tugas dan perannya.

Analisa : Potensial peningkatan penerapan struktur

organisiasi diruangan

2) Pengorganisasian Perawatan Pasien

DiruanganAsh-Shafatelah menerapkan metode asuhan

keperawatan yang optimal. Hasil wawancara dengan kepala

ruangan di ruang Ash-Shafa metode yang digunakan dalam

memberikan asuhan keperawatan yaitu dengan menggunakan

metode tim.

Berdasarkan hasil observasi di ruanganAsh-Shafaterdiri

1 kepala ruangan dan 2 ketua tim yaitu katim A dan katim B,

metode pemberian asuhan keperawatan menggunakan metode

tim untuk setiap sift dinas.

Analisis :Potensial penerapan metode tim asuhan

keperawatandiruangan.

19
c. Ketenagaan (staffing)

Berdasarkan hasil wawancara dengan kepala ruangan

didapatkan data bahwa perhitungan tenaga keperawatan diruangan

Ash-Shafaberdasarkan jumlah tingkat ketergantungan pasien.

Tabel :Klasifikasi dan Tingkat Ketergantungan Pasien menurut Dauglas

Klasifikasi klien

No. Minimal Parsial Total

Pagi Siang Malam Pagi Siang Malam Pagi Siang Malam

1. 0,17 0,14 0,07 0,27 0,15 0,10 0,36 0,30 0,20

2. 0,34 0,28 0,144 0,54 0,30 0,20 0,72 0,60 0,40

3. 0,51 0,42 0,42 0,81 0,45 0,30 1,08 0,90 0,60

Keterangan :

Jika satu pasien pada tingkat kebutuhan minimal care pada pagi

harinilai kebutuhan perawat 0,17, pada siang hari 0,14dan pada malam hari

0,07. Jika satu pasien pada tingkat kebutuhan parsial care pada pagi

harinilai kebutuhan perawat 0,27, pada siang hari 0,15 dan pada malam

hari 0,10. Jika pasien pada tingkat kebutuhan total care pada pagi harinilai

kebutuhan perawat 0,36, pada siang hari 0,30 dan pada malam hari 0,20.

Selanjutnya untuk mengembangkan karir staf, jenjangan

pendidikan tinggi, staf di berikan kesempatan mengikuti seminar atau

pelatihan keperawatan/ kebidanan yang dilakukan setiap tahun seperti

20
pelatihan PPGD, BTCLS dan BHD,PONEK,BPI,resusitasi neonatus. Jika

ingin menambah pendidikan dengan biaya sendiri maka perawat harus

malapor ke SDM dulu melalui kepala ruangan.

Analisa: Potensial peningkatan ketenagaan diruangan Ash-Shafa

d. Pengarahan dan pengawasan

a) Kegiatan Supervisi

Berdasarkan wawancara dengan kepala ruangan

didapatkan bahwa sebelumnya supervisi ada dilakukan tetapi

beberapa bulan belakang supervisi sempat vakum karena adanya

pergantian struktur baru

Berdasarkan hasilkuesioner didapatkan data 78,6%perawat

mengatakan adanya dilakukan supervisi diruangan

Pada saat observasi yang dilakukan pada tanggal 4-7

Maret 2019tidak ditemukan adanya kegiatan supervisi diruangan

dikarenakan saat observasi supervisi belum terjadwaltetapi karu

sudah merencanakan kapan supervise akan dilaksanakan

kembali

Analisis : Potensial penerapan supervisi diruangan

b) Kegiatan overan

Berdasarkan hasil wawancara dengan kepala ruangan

prosedur overan selama ini telah dilakukan pada setiap

pergantian shift. Timbang terima dilakukan 3 shift secara rutin

21
yaitu pagi ke sore jam 14:00, sore ke malam jam 21:00, malam

ke pagi jam 08:00 dengan melibatkan karu, katim, perawat

pelaksana.Dimana tim membahas tentang keadaan pasien

diantaranya keluhan, tindakan yang dilakukan selanjutnya.

Hasil kuesioner didapatkan 100%perawat mengatakan

melakukan overran setiap shiftnya

Berdasarkan hasil observasi perawat bidan dan karu ada

melakukan overran setiap shiftnya

Analisis : Potensial kegiatan dan pelaksanaan overan

c) Kegiatan Ronde Keperawatan

Berdasarkan hasil observasi pada tanggal 4-7 Maret

2019selama di ruangan Ash-Shafabelum ada dilakukan ronde

keperawatan, tapi ronde keperawatan sudah direncanakan dan

dijadwalkan oleh staff keperawatan yang akan diadakan 1 kali

sebulan oleh kepala ruangan dengan ketua tim ruangan Ash-

Shafa beserta bidang keperawatan, dan ronde itu dilakukan

secara rooling.

Analisis :Potensial pelaksanaan ronde keperawatan

diruangan

22
d) Kolaborasi dan koordinasi

Hasil wawancara dengan kepala ruangan ada dilakukan

rapat bulanan.Dalam acara tersebut didiskusikan masalah-

masalah yang terjadi diruangan dan informasi baru terkait

peningkatan mutu pelayanan rumah sakit.

Analisis:Potensial peningkatan kolaborasi dan koordinasi

e) Motivasi Kerja Perawat

Berdasarkan hasil wawancara dengan kepala ruangan

bahwa motivasi selalu diberikan dalam hal peningkatan kinerja

kepada perawat pelaksana.

Berdasarkan hasil kuesioner didapatkan bahwa 100%

perawat/bidan menyatakan mendapatkan motivasi kerja.

Hasil observasi didapatkan bahwa motivasi perawat cukup

baik, terlihat dari kehadiran perawat datang tepat waktu sesuai

dengan jadwal yang sudah ditetapkan.

Analisis:Potensial peningkatan motivasi kerja perawat

e. Pengendalian

a) Program Pengendalian Mutu

Berdasarkan hasil wawancara dengan kepala ruangan

program pengendalian mutu adanya mutu rumah sakit, mutu

ruangan dan mutu individu.

23
Kepala ruangan mengatakan bahwa mutu tersebut sudah

dijalankan dengan baik sesuai dengan tugas dan peran yang

diberikan.

Hasil dari kuesioner 100% perawat mengetahui dan

menerapkan program pengendalian mutu rumah sakit, ruangan

dan individu.

Berdasarkan hasil observasidiruangan Ash-Shafa ada

beberapa program pengendalian mutu yang belum berjalan

dengan baik yaitu pada mutu rumah sakit dan mutu individu

mengenai pengurangan resiko jatuh dan pelaksanaan assesmen

pasien jatuh beserta penerapan implementasinya. Pada saat itu

dari 12 pasien di ruangan Ash-Shafa terdapat 3 pasien yang

beresiko tinggi jatuh tidak dipasangkan tanda seperti stiker

kuning dan segitiga kuning, 2 pasien beresiko jatuh rendah tidak

dinaikkan pagar pengaman dan 7 pasien lainnya tidak beresiko.

Pada assesmen awal ditemukan dari 5 orang pasien 3

diantaranya tidak didapatkan assemen penilaian resiko

jatuhAnalisis:Belum optimal penerapan program

pengendalian mutu diruangan terutama mutu rumah sakit

dan mutu individu.

24
b) Pengembangan Standar (SPO)

Dari hasil wawancara dengan kepala ruangan untuk

pembuatan standar asuhan keperawatan dilakukan dengan jalan

rapat bidang keperawatan dengan kepala ruangan dan

disosialisaikan kepada perawat ruangan dan sudah dilaksanakan

secara optimal.

Hasil kuesioner didapatkan 100% perawat pelaksana

menyatakan ruangan memiliki SPO yang disahkan Rumah

Sakit.Hasil observasi bahwa SPO sudah ada diruangandalam

aplikasinya perawat sudah melakukan tindakan sesuai dengan

SPO.

Analisis :Potensial penerapan SPO diruangan Ash-Shafa

c) Dokumentasi Proses Keperawatan

a. Asesmen keperawatan

Hasil wawancara dengan kepala ruangan bahwa

dokumentasi format asuhan keperawatan sudah disediakan

dari bagian keperawatansehingga ruangan hanya mengikuti

format yang ada.

Hasil kuesioner didapatkan data bahwa 100%

perawat melakukan pendokumentasian rencana asuhan

keperawatan setiap pergantian shift.

25
Hasil observasi pada tanggal 4-7 Maret 2019

didapatkan sudah ada format pendokumentasian

keperawatan dan pendokumentasiannya sudah dilakukan

dalam status pasien.

Analisis :Potensial pendokumentasi asuhan

keperawatan.

b. Discharge Planning

Berdasarkan hasilkuesioner didapatkan 92,9%

perawat mennyatakan sudah melakukan dan menerapkan

pendidikan kesehatan dischart planning di ruangan

Berdasarkan hasil observasi dari 9 pasien, adanya 4

pasien yang dijadwalkan pulang, terlihat perawat baru

mengisi discharge planning. Dalam pengisian discharge

planning semua item di isi oleh perawat, tidak adanya

peran ahli gizi dalam memberikan diet pasien ataupun

farmasi untuk menjelaskan obat yang akan diminum oleh

pasien dan ditanda tangani oleh keluarga pasien atau

pasien. Dari 4 pasien tersebut, status pengisian format

discharge planning masih simpel dan masih banyak

penjelasan yang kosong sehingga membuat

pasien/keluarga tidak mendapatkan informasi perawatan

yang lebih lanjut dirumah. Dalam hal pemberian edukasi

26
sebagian besar perawat (85%) hanya menjelaskan jadwal

kontrol ulang pasien, tanpa memberi tau perawatan

penyakit pasien derita. Perawat tidak memberikan leaflet

kepada pasien/keluarga karena leaflet yang tersedia tidak

mencukupi penyakit yang diderita semua pasien.

Analisis : Belum optimalnya penerapan/pengisian

discharge planning

d) Keselamatan Pasien

Dari hasil wawancara dengan kepala ruangan untuk

manajemen keselamatan pasien sudah dilakukan, tetapi

penerapannya masih kurang optimal, hal ini dapat dilihat

dari beberapa pengisian kuesioner, wawancara dan

observasi terhadap perawat ruangan

Berdasarkan hasil wawancara dengan kepala ruangan untuk

menilai resiko jatuh sesuai dengan format yang sudah

disediakan.

Berdasarkan observasi dari 12 pasien di ruangan Ash-

Shafa terdapat 3 pasien yang beresiko tinggi jatuh tidak

dipasangkan tanda seperti stiker kuning dan segitiga

kuning, 2 pasien beresiko jatuh rendah tidak dinaikkan

pagar pengaman, 7 pasien lainnya tidak beresiko. Pada

27
assesmen awal ditemukan dari 5 orang pasien 3 diantaranya

tidak didapatkan assemen penilaian resiko jatuh

Analisis : Belum optimalnya pengurangaan resiko jatuh

e) Layanan Orientasi Pasien Baru Masuk

Berdasarkan hasil observasi tanggal 4 – 7maret

2019 terdapat 3 orang pasien baru masuk. Dari 3 orang

pasien masuk tidak diajarkan bagaimana cara mencuci

tangan .perawatmenjelaskan ruangan dan fasilitas, rutinitas

ruangan, (waktu mandi, waktu makan, jadwal pergantian

sprai, dan jadwal pembersihan ruangan), kebijakan rumah

sakit (kebijakan tentang penggunaan gelang identitas

pasien), tetapi perawat tidak menjelaskan tentang cara cuci

tangan, waktu kunjungan, larangan membawa anak-anak,

jumlah penunggu di ruangan pasien.

Berdasarkan hasil wawancara pasien atau keluarga

menyatakan tidak ada diajarkan tentang mencuci

tangan.Mereka hanya diberi tahu untuk mencuci tangan

saja.

Analisis :Belum optimalnya pelayanan orientasi pasien

baru masuk

28
29
30
DAFTAR PUSTAKA

Aditama, T.Y. (2010). Manajemen Administrasi Rumah Sakit. Edisi kedua.


Jakarta: UI Press
Gilles, D. A. (2008).Nursing management: a system approach 2th. Philadelpia:
W. B Saunders Company
Notoadmodjo, (2012).Metode Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.
Nursalam, (2006).Managemen Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.
Nursalam, (2008).Konsep dan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan :
Pedoman Skripsi, Tesis, dan Instrumen Penelitian. Jakarta: Salemba
Medika
Nursalam, (2011).Managemen Keperawatan

31