Anda di halaman 1dari 9

ABSTRAK

ANALISIS KAPASITAS SALURAN DRAINASE TERHADAP


ALIH FUNGSI LAHAN

Oleh
Candra Dwi Ismartoyo
NIM : 2411161167

Imam Arif Syaifudin


NIM : 2411161195

Prasarana dan sarana atau infrastruktur diartikan sebagai fasilitas fisik suatu kota
atau negara yang sering disebut pekerjaan umum yang meliputi bangunan atau
fasilitas-fasilitas dasar, peralatan-peralatan, dan instalasi yang dibangun untuk
mendukung berfungsinya suatu sistem perkotaan. Mengingat begitu luasnya
cakupan infrastruktur maka dalam hal ini kajian memfokuskan pada saluran
drainase.
Drainase dapat didefinisikan sebagai serangkaian bangunan air yang berfungsi
untuk mengurangi dan atau membuang kelebihan air dari suatu kawasan atau
lahan, sehingga lahan dapat difungsikan secara optimal. Saluran drainase
direncanakan untuk dapat melewatkan debit rencana dengan aman. Perencanaan
drainase yang harus diperhatikan adalah data curah hujan, tata guna lahan dan
dimensi saluran.
Saluran drainase direncanakan untuk menampung debit rencana dengan aman
berdasarkan data curah hujan, tata guna lahan dan dimensi saluran. Saluran
drainase di daerah tangkapan air hujan sepanjang jalan Batujajar merupakan salah
satu Prasarana yang mendukung berfungsinya suatu sistem perkotaan di Kota
Cimahi. Pada saluran yang ada di sepanjang jalan Batujajar tersebut sering terjadi
genangan setiap musim hujannya maka perlu dilakukan kajian untuk menganalisis
kapasitas saluran drainase tersebut.
Data yang digunakan dalam perencanaan adalah data sekunder. Data sekunder
diperoleh dari gambar skema saluran drainase dan data-data mengenai dimensi
saluran serta data hidrologi. Data-data yang diperoleh kemudian di analisis untuk
memperoleh debit rencana dan kapasitas saluran drainase. Debit rencana dihitung
dengan mengunakan rumus rasional dan kapasitas saluran dihitung dengan rumus
kontinuitas dan manning.

Kata-kata kunci : Debit Rencana, Kapasistas Saluran Drainase, Dimensi Saluran


Drainase
KATA PENGANTAR

Puji Tuhan penulis ucapkan kepada Tuhan atas segala nikmat dan kasih
karunia-Nya sehingga Tugas Akhir ini dapat terselesaikan. Penyusunan Tugas
Akhri yang berjudul “Analisis Kapasitas Saluran Drainase Terhadap Alih Fungsi
Lahan” merupakan salah satu syarat untuk menyelesaikan studi jenjang strata satu
(S1) di Program Studi Teknik Sipil, Universitas Jenderal Achmad Yani.

Penulis ingin mengucapkan terimakasih kepada bergagai pihak yang telah


memberikan bantuan, dukungan, dan do’a, baik secara langsung maupun tidak
langsung atas terselesaikannya penyusunan Tugas Akhri ini, kepada yang
terhormat:

1. K.R.T.H. Rono Hadinagoro, Ir., MT. Kajur Teknik Sipil Universitas


Jenderal Achmad Yani.
2. Dr. Ir. Ariani Budi Safarina, MT. Dosen Pembimbing. Terima kasih
penulis lanturkan atas semua waktu, bimbingan, saran serta nasihat yang
diberikan selama penyusunan Tugas Akhir ini;
3. Semua dosen dan karyawan di jurusan Teknik Sipil, terima kasih atas ilmu
yang diajarkan kepada penulis serta bantuannya;
4. Kedua orang tua, Terima kasih sebesar-besarnya karena sudah mendidik
dan membesarkan penulis dengan penuh kasih sayang, serta doa-doanya
yang tidak pernah terputus.
5. Sahabat seperjuangan di Teknik Sipil Universitas Jenderal Achmad Yani,
terima kasih atas kasih sayang atas pertemanan yang kalian berikan.

Di dalam penyusunan Tugas Akhir ini, penulis telah berusaha maksimal,


walaupun demikian, penulis menyadari bahwa Tugas Akhir ini jauh dari
sempurna. Oleh karena itu, penulis akan selalu menerima segala bentuk hal baik
berupa masukan atau kritik untuk menyempurnakan Tugas Akhir ini.
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Air adalah unsur utama bagi kehidupan umat manusia. Tetapi air juga dapat
menjadi musuh dahsyat bagi manusia bila tidak ditata dengan baik sebagaimana
dialami oleh banyak Negara di dunia ini, termasuk Indonesia. Permasalahan
lingkungan yang sering dijumpai di Negara kita pada saat ini adalah terjadinya
banjir pada musim hujan, dan salah satu upaya dalam menanggulangi banjir ini
adalah dengan membuat saluran drainase yang mampu menampung air hujan
dengan baik.

Drainase secara umum didefinisikan sebagai ilmu pengetahuan yang mempelajari


usaha untuk mengalirkan air yang berlebihan dalam suatu konteks pemanfaatan
tertentu (H.A. Halim Hasmar 2011). Drainase juga diartikan sebagai usaha untuk
mengontrol kualitas air tanah dalam kaitannya dengan salinitas. Dalam bidang
teknik sipil, drainase secara umum dapat didefinisikan sebagai salah satu tindakan
teknis untuk mengurangi kelebihan air, baik yang berasal dari air hujan, rembesan,
maupun kelebihan air irigasi dari suatu kawasan atau lahan. Jika penanganan
drainase kurang baik, maka akan mengakibatkan tergenangnya daerah sekitar
saluran drainase.

Menurut Kusnaedi (2011) permasalahan lingkungan yang sering dijumpai di


negara kita saat ini adalah terjadinya banjir pada musim hujan dan kekeringan
pada musim kemarau. Selain itu, di beberapa tempat terjadi pula penurunan
permukaan air tanah. Hal ini disebabkan adanya penurunan kemampuan tanah
untuk meresapkan air sebagai akibat adanya perubahan lingkungan yang
merupakan dampak dari proses pembangunan. Tergenangnya daerah sekitar
saluran di sepanjang jalan Batujajar disebabkan oleh beberapa faktor, salah
satunya adalah air yang mengalir di saluran drainase melebihi kapasitas
tampungan saluran sehingga air meluap dan akhirnya menimbulkan genangan di
daerah sekitarnya.

Saluran drainase atau pengendalian banjir adalah salah satu dari 12 komponen
umum infrastruktur, sehingga perlu dilakukan kajian untuk mengetahui kapasitas
saluran drainase dapat menampung debit rencana atau tidak. Tergenangnya daerah
sekitar saluran drainase di jalan Batujajar, karena air yang mengalir di saluran
drainase melebihi kapasitas tampungan saluran sehingga air meluap dan
menimbulkan genangan di daerah sekitarnya. Oleh sebab itu perlu dilakukan
kajian, dalam hal ini difokuskan pada sistem saluran drainase di daerah tangkapan
air hujan sepanjang jalan Batujajar.

1.2 Rumusan Masalah

Masalah yang dapat dirumuskan dari latar belakang masalah di atas adalah:

1. Apakah saluran drainase di daerah tangkapan sepanjang jalan Batujajar di


Kota Cimahi dapat menampung debit rencana?
2. Solusi apa saja yang dapat menjadi alternatif lain untuk menangani masalah
banjir di jalan Batujajar?

1.3 Lokasi Pengamatan

Lokasi yang ditinjau berada di jalan Batujajar Kota Cimahi


1.4 Batasan Masalah

Untuk mengektifkan hasil penelitian maka perlu adanya pembatasan masalah


sehingga pembahasan tidak terlalu melebar, yaitu:

1. Studi kasus dilakukan di saluran daerah tangkapan sepanjang jalan Batujajar


Kota Cimahi, dengan penekanan pada permasalahan drainase.
2. Saluran drainase yang dipantau sesuai dengan skema daerah tangkapan sistem
drainase Kota Cimahi.
3. Air yang mengalir dalam saluran drainase berasal dari hujan.
4. Saluran drainase di daerah tangkapan sepanjang jalan Batujajar Kota Cimahi
berupa saluran terbuka.
5. Desain saluran mengacu pada buku Drainase Perkotaan yang Berkelanjutan
(Suripin 2004)

1.5 Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah :

1. Untuk menganalisis kapasitas sistem saluan drainase di daerah tangkapan air


hujan sepanjang jalan Batujajar Kota Cimahi.
2. Dapat membuat solusi dari permasalahan genangan yang terjadi di jalan
Batujajar Kota Cimahi.

1.6 Manfaat Penelitian

Manfaat yang diharapkan muncul dari penelitian ini adalah :

1. Manfaat Teoritis
Untuk pengembangan ilmu pengetahuan di bidang teknik sipil sesuai dengan
teori yang didapat di bangku perkuliahan khususnya mengenai permasalahan
drainase dan solusi yang atas permasalahan tersebut.
2. Manfaat Praktis
Hasil penelitian ini dapat memberikan tambahan informasi kepada
masyarakat dan Dinas Pekerjaan Umum wilayah Kota Cimahi dalam hal
perencanaan sistem drainse yang telah dibangun pada lokasi tersebut.
1.7 Sumber Data

Laporan ini menyajikan pandangan secara umum dengan uraian dan penjelasan
berdasarkan data hasil dari pengambilan data. Metode pengumpulan data sebagai
dasar untuk menyusun laporan ini diperoleh dari buku catatan dan literatur yang
terkait.

1.8 Sistematika Penyusunan Laporan

Laporan Tugas Akhir ini terdiri dari 5 Bab yang berhubungan dengan masalah
drainase. Secara garis besar sistematika penyusunan laporan Tugas Akhir ini
adalah sebagai berikut :

BAB 1. PENDAHULUAN

Berisi tentang latar belakang, rumusan masalah, batasan masalah, tujuan


penelitian, manfaat penelitian, , sumber data, dan sistematika penyusunan laporan.

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

Berisi tentang tinjauan pustaka dan dasar teori.

BAB 3. METODE PENELITIAN

Berisi tentang lokasi penelitian, waktu penelitian, obyek penelitian, parameter


yang diteliti, langkah-langkah penelitian.

BAB 4. PENGOLAHAN DATA DAN PEMBAHASAN

Berisi tentang pengumpulan data, pengolahan data dan pembahasan.

BAB 5. KESIMPULAN

Berisi tentang kesimpulan dan saran


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Umum

Infrastruktur air perkotaan meliputi tiga sistem yaitu sistem air bersih (urban
water supply), sistem sanitasi (waste water) dan sistem drainase air hujan (strom
water system). Ketiga sistem tersebut saling terkait, sehingga idealnya dikelola
secara integrasi. Hal ini sangat penting untuk mengoptimalkan pemanfaatan
sumberdaya dan fasilitas, menghindari ketumpang-tindihan tugas dan tanggung
jawab, serta keberlanjutan pemanfaatan sumberdaya air.

Sistem air bersih meliputi pengadaan (acquisition), pengolahan (treatment), dan


pengiriman/pendistribusian (delivery) air bersih ke pelanggan baik domestik,
komersil, industri, maupun sosial. Sistem sanitasi dimulai dari titik keluarnya
sistem air bersih. Sistem pengumpul mengambil air buangan domestik, komersil,
industri dan kebutuhan umum. Ada dua istilah yang banyak dipakai untuk
mendiskripsikan sistem air buangan (wastewater system) yaitu, “waste water” dan
“sewage”. Air buangan digunakan untuk menunjukkan perpipaan, stasiun pompa,
dan fasilitas yang menangani air buangan (wastewater). Sedangkan “sanitary
sewage” merupakan peristilahan umum yang biasanya untuk permukiman.

2.2 Sistem Drainase

Drainase secara umum didefinisikan sebagai ilmu pengetahuan yang mempelajari


usaha untuk mengalirkan air yang berlebihan dalam suatu konteks pemanfaatan
tertentu (H.A. Halim Hasmar 2011). Dilihat dari hulunya, bangunan sistem
drainase terdiri dari saluran penerima (interceptor drain), saluran pengumpul
(collector drain), saluran pembawa (conveyor drain), saluran induk (main drain)
dan badan air penerima (receiving waters). Di sepanjang sistem sering dijumpai
bangunan lainnya, seperti gorong-gorong, siphon, jembatan air (aquaduct),
pelimpah, pintu-pintu air, bangunan terjun, kolam tando dan stasiun pompa. Pada
sistem yang lengkap, sebelum masuk ke badan air penerima, air diolah dahulu di
instalasi pengolah air limbah (IPAL), khususnya untuk sistem tercampur. Hanya
air yang telah memenuhi baku mutu tertentu yang dimasukan ke badan air
penerima, sehingga tidak merusak lingkungan.

Drainase perkotaan merupakan sistim pengeringan dan pengaliran air dari wilayah
perkotaan yang meliputi : Pemukiman, kawasan industri & perdagangan, sekolah,
rumah sakit, & fasilitas umum lainnya, lapangan olah raga, lapangan parkir,
instalasi militer, instalasi listrik & telekomunikasi, pelabuhan udara, pelabuhan
laut/sungai serta tempat lainnya yang merupakan bagian dari sarana kota.

Dengan demikian kriteria desain drainase perkotaan memiliki ke-khususan, sebab


untuk perkotaan ada tambahan variabel design seperti : keterkaitan dengan tata
guna lahan, keterkaitan dengan master plan drainase kota, keterkaitan dengan
masalah sosial budaya (kurangnya kesadaran masyarakat dalam ikut memelihara
fungsi drainase kota) dan lain-lain.

2.3 Permasalahan Drainase

Banjir merupakan kata yang sangat populer di Indonesia. Khususnya pada musim
hujan, mengingat hampir semua kota di Indonesia mengalami bencana banjir.
Banjir adalah suatu kondisi fenomena bencana alam yang memiliki hubungan
dengan jumlah kerusakan dari sisi kehidupan dan material. Banyak faktor yang
menyebabkan terjadinya banjir. Secara umum penyebab terjadinya banjir di
berbagai belahan dunia (Suripin, 2004) adalah :

1. Pertambahan penduduk yang sangat cepat, di atas rata-rata pertumbuhan


nasional, akibat urbanisasi baik migrasi musiman maupun permanen.
Pertambahan penduduk yang tidak diimbangi dengan penyediaan
prasarana dan sarana perkotaan yang memadai mengakibatkan
pemanfaatan lahan perkotaan menjadi tidak teratur.
2. Keadaan iklim; seperti masa turun hujan yang terlalu lama, dan
mengakibatkan banjir sungai. Banjir di daerah muara pantai umumnya
disebabkan karena kombinasi dari kenaikan pasang surut, tinggi muka air
laut dan besarnya ombak yang di asosiasikan dengan terjadinya
gelombang badai yang hebat.
3. Perubahan tata guna lahan dan kenaikan populasi; perubahan tata guna
lahan dari pedesaan menjadi perkotaan sangat berpotensi menyebabkan
banjir. Banyak lokasi yang menjadi subjek dari banjir terutama daerah
muara. Perencanaan penaggulangan banjir merupkan usaha untuk
menanggulangi banjir pada lokasi-lokasi industri, komersial dan
pemukiman. Proses urbanisasi, kepadatan bangunan, kepadatan populasi
memiliki efek pada kemampuan kapasitas drainase suatu daerah dan
kemampuan tanah menyerap air, dan akhirnya menyebabkan naiknya
volume limpasan permukaan. Meskipun luas area perkotaan lebih kecil
dari 3 % dari permukaan bumi, tapi sebaliknya efek dari urbanisasi pada
proses terjadinya banjir sangat besar.
2.4 Dasar-dasar dan Kriteria Perencanaan Drainase

Tujuan perencanaan ini adalah untuk mengalirkan genangan air sesaat yang terjadi
pada musim hujan serta dapat mengalirkan air kotor hasil buangan dari rumah
tangga. Kelebihan air atau genangan air sesaat terjadi karena keseimbangaan air
pada daerah terentu terganggu. Disebabkan oleh air yang masuk dalam daerah
tertentu lebih besar dari air keluar. Pada daerah perkotaan, kelebihan air terjadi
oleh air hujan. Kapasistas infiltrasi pada daerah perkotaan sangat kecil sehingga
terjadi limpasan air sesaat setelah hujan turun. Dalam perancangan saluran
drainase akan digunakan dasar-dasar perancangan saluran tahan erosi yaitu
saluran yang mampu menahan erosi dengan memuaskan dengan cara mengatur
kecepatan maupun menggunakan dinding dan dasar diberi lapisan yang berguna
menahan erosi maupun mengontrol kehilangan rembesan.

Kriteria dalam perencanaan dan perancangan drainase perkotaan yang umum


(Suripin, 2004) yaitu :

1. Perencanaan drainase haruslah sedemikian rupa sehingga fungsi fasilitas


drainase sebagai penampung, pembagi dan pembuang air dapat
sepenuhnya berdaya guna dan berhasil guna.
2. Pemilihan dimensi dari fasilitas drainase haruslah mempertimbangkan
faktor ekonomis dan faktor keamanan.
3. Perencanaan drainase haruslah mempertimbangkan pula segi kemudahan
dan nilai ekonomis dari pemeliharaan sistem drainase.

2.4.1 Analisis Hidrologi


2.4.2 Debit
2.4.3 Sistem Pengaliran Air
2.4.4 Syarat Sistem Pengaliran
2.4.5 Tata Letak Jalur Saluran
2.4.6 Operasi dan Pemeliharaan Drainase Berkelanjutan
2.4.7