Anda di halaman 1dari 20

PRAKTIKUM GEOLOGI STRUKTUR

LABORATORIUM DINAMIS
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
PROBLEMA TIGA TITIK DAN POLA PENYEBARAN SINGKAPAN

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pada prinsipnya sebuah bidang dapat digambarkan dari sebuah titik dan sebuah
garis, atau tiga buah titik. Dalam pengertian geologi titik ini dapat berupa singkapan,
sehingga kedudukan batuan dan penyebarannya pada peta dapat diketahui. Seringkali
singkapan yang ada di daerah tropis dengan curah hujan tinggi tertutupi oleh soil yang
tebal dan vegetasi yang lebat sehingga sulit untuk mendapatkan singkapan yang segar.
Namun dari minimal tiga singkapan yang terpisah-pisah dengan ketinggian yang
berbeda dapat dicari kedudukan perlapisan batuan. Metoda untuk mencari kedudukan
lapisan dari batuan tersebut dikenal dengan metoda problema tiga titik. Metoda ini
dapat juga digunakan untuk mencari kedudukan lapisan bawah permukaan dari data
lubang bor, dengan syarat lapisan tersebut belum terganggu struktur.
Kedudukan suatu singkapan umumnya terdapat di bawah permukaan
bumi. Sehingga untuk mengetahui kedudukan dari suatu singkapan tersebut dapat
dilakukan dengan menggunakan metoda pengukuran tiga titik.
Pola singkapan merupakan bentukan yang berbeda dari kedudukan lithologi
dan bentuk morfologi yang mengakibatkan terbentuknya pola penyebaran lithologi
dipermukaan dan perpotongan antara bidang lithologi dan bidang permukaan bumi.
Sehingga dalam penggeambarannya digunakan peta geologi yang merupakan
suatu sarana yang menggambarkan tubuh batuan, penyebaran batuan, kedudukan
unsur struktur geologi dan hubungan antar satuan batuan serta merangkum berbagai
data lainnya. Peta geologi juga merupakan gambaran teknis dari permukaan bumi dan
sebagian bawah permukaan yang mempunyai arah, unsur - unsurnya yang merupakan
gambaran geologi, dinyatakan sebagai garis yang mempunyai kedudukan yang pasti.
Untuk menjadi seorang eksplorer dibuhtuhkan akuisisi data yang akurat dan
detail oleh sebab itu mempelajari pola penyebaran batuan dan problema tiga titik
adalah suatu keharusan, di mana prinsip – prinsip dari kegiatan tersebut sangat
bermanfaat dalam kegiatan eksplorasi.

SALFINA SYARIF FAHRUL TANDRA


093 2015 0085 093 2016 0210
PRAKTIKUM GEOLOGI STRUKTUR
LABORATORIUM DINAMIS
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
PROBLEMA TIGA TITIK DAN POLA PENYEBARAN SINGKAPAN

1.2 Maksud dan Tujuan

1.2.1 Maksud
Maksud dari praktikum ini kami dapat memahami pola penyebaran
batuan dan problema tiga titik di lapangan nantinya agar mengetahui
kedudukan dari suatu bidang perlapisan.
1.2.2 Tujuan
1. Kami dapat memahami definisi Problema Tiga Titik (Three-point
Problem) dan Pola Penyebaran Singkapan.
2. Kami dapat menentukan kedudukan bidang dari tiga titik yang diketahui
posisi dan ketinggiannya yang terletak pada bidang rata yang sama.
3. Kami dapat Menentukan penyebaran dari singkapan yang telah diketahui
kedudukannya dari satu titik.

1.3 Alat dan Bahan

1.3.1 Alat
1. Drawing Pen
2. Penggaris 30 cm

3. Busur 360o
4. Papan Standar
5. Kalkulator
1.3.2 Bahan
1. Kertas grafik A3 10 lembar
2. Buku Penuntun

SALFINA SYARIF FAHRUL TANDRA


093 2015 0085 093 2016 0210
PRAKTIKUM GEOLOGI STRUKTUR
LABORATORIUM DINAMIS
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
PROBLEMA TIGA TITIK DAN POLA PENYEBARAN SINGKAPAN

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Problema Tiga Titik

Seringkali singkapan yang ada di daerah tropis dengan curah hujan yang tinggi
tertutupi soil yang tebal dan vegetasi yang lebat sehingga sangat sulit untuk
mendapatkan singkapan yang segar. Namun dari minimal tiga singkapan perlapisan
batuan yang berbeda lokasi dan ketinggian dapat dicari kedudukan perlapisan batuan
sesungguhnya. Metode ini dikenal dengan metode problema tiga titik. Selain dari data
singkapan, metode ini juga dapat digunakan untuk mencari kedudukan lapisan batuan
dengan menggunakan data lubang bor.
Problema tiga titik dapat digunakan apabila data – data memenuhi syarat :
1. Ketiga titik singkapan yang telah diketahui lokasi dan ketinggiannya
terletak pada satu bidang /merupakan satu perlapisan.
2. Bidang perlapisan tersebut belum terganggu oleh struktur
(terpatahkan/terlipatkan).
Dalam menyelesaikan problema tiga titik ini terdapat dua cara yaitu :
1. Cara proyeksi
2. Cara grafis
2.1.1 Cara Proyeksi
Contoh :
Diketahui suatu lapisan batupasir yang kaya dengan bijih tembaga tersingkap
di tiga titik pengamatan. Pada lokasi B yang berjarak 450 m dari titik A dengan arah
N 200o E dan titik C berjarak 400 m dengan arah N 150o E dari titik A. Tentukan strike
dan kemiringan lapisan batupasir tersebut. Ketinggian titik A 175 meter, B 50
meter,dan C 100 meter. Skala 1 : 10.000
Penyelesaian :
Lihat gambar 2.1 Urutan penyelesaian sebagai berikut :
1. Tentukan letak ketiga titik A, B, dan C yang sudah diketahui.
2. Buat garis k yang berarah timur – barat (0 meter). Proyeksikan titik A, B, dan
C pada k sehingga diperoleh A’, B’, dan C’.
3. Dengan menggunakan garis k sebagai garis rebahan, tentukan titik A”, B”, dan
C” dengan jarak dan ketinggian yang sesuai dengan skala.
SALFINA SYARIF FAHRUL TANDRA
093 2015 0085 093 2016 0210
PRAKTIKUM GEOLOGI STRUKTUR
LABORATORIUM DINAMIS
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
PROBLEMA TIGA TITIK DAN POLA PENYEBARAN SINGKAPAN

4. Buat garis l sejajar k melalui titik C” (titik yang berada di dua ketinggian)
hingga memotong A”B” di titik D”, kemudian proyeksikan balik titik D” ini
ke garis AB sehingga didapat D.

Gambar 2.1 Penyelesaian Cara Proyeksi


5. Hubungkan titik D dan C sebagai garis DC yang merupakan strike perlapisan.
6. Buat garis tegak lurus DC sebagai garis m dengan ketinggian 175 meter (titik
tertinggi).
7. Pada garis DC buat titik C” dengan jarak yang sama dengan ketinggian A (titik
tertinggi) dikurangi ketinggian B (titik menengah).
8. Hubungkan titik C”’ dan B”’ hingga berpotongan di garis m di A”’.
9. Sudut yang dibentuk antara garis tersebut dengan garis m merupakan sudut
kemiringan lapisan batuan sedangkan arah dari dari strike diketahui dari
memperhatikan ketinggian relatifnya.
10. Maka kedudukan lapisan batuan N 70o E/20o
2.1.2 Cara Grafis
Contoh sama dengan pada cara proyeksi.
Penyelesaian (Gambar 2.2) :
1. Plot lokasi ketiga titik

SALFINA SYARIF FAHRUL TANDRA


093 2015 0085 093 2016 0210
PRAKTIKUM GEOLOGI STRUKTUR
LABORATORIUM DINAMIS
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
PROBLEMA TIGA TITIK DAN POLA PENYEBARAN SINGKAPAN

2. Tentukan D dengan menggunakan rumus perbandingan jarak :


Ketinggian A – Ketinggian B Jarak AB
=
Ketinggian C – Ketinggian B Jarak BD
3. Titik D mempunyai ketinggian yang sama dengan C. Garis yang
menghubungkan kedua titik tersebut adalah strike perlapisan.
4. Buat garis tegak lurus DC sebagai garis m dengan ketinggian 175 meter
(ketinggian tertinggi).

Gambar 2.2 Penyelesaian Cara Grafis


5. Pada garis DC buat titik C’ dengan jarak dari garis m sebesar selisih ketinggian
A (titik tertinggi) dan B (titik menengah).
6. Buat garis sejajar DC (strike) melalui A dan berpotongan dengan garis m di
titik A’.
7. Hubungkan titik A’ dan C’ sebagai garis A’C’. Sudut yang dibentuk oleh garis
A’C’ dengan garis m merupakan kemiringan lapisan batuan.
8. Kedudukan lapisan N 70o E/20o

2.2 Pola Penyebaran Singkapan

Terkadang, pada suatu daerah dengan topografi yang komplek, akan


memberikan pola penyebaran singkapan yang komplek pula. Penyebaran singkapan
batuan dapat diperkirakan dari hubungan antara kedudukan lapisan batuan tersebut

SALFINA SYARIF FAHRUL TANDRA


093 2015 0085 093 2016 0210
PRAKTIKUM GEOLOGI STRUKTUR
LABORATORIUM DINAMIS
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
PROBLEMA TIGA TITIK DAN POLA PENYEBARAN SINGKAPAN

dengan kontur topografinya. Aturan – aturan yang mengatur mengenai hubungan


tersebut disebut dengan Hukum ”V”. Beberapa hal yang dapat digunakan sebagai dasar
dalam menentukan penyebaran suatu singkapan batuan :
1. Lapisan yang memiliki kedudukan horisontal akan mempunyai kontak yang
konstan terhadap ketinggian. Kontak akan tepat dengan atau paralel terhadap
kontur topografi (Gambar 2.3)
2. Tetapi ketika lapisan memiliki kedudukan vertikal, kontak akan memotong
topografi secara tegas dan lurus tanpa mengikuti kontur topografi (Gambar 2.3)

Gambar 2.3 Pola Penyebaran Singkapan.


3. Lapisan dengan kemiringan yang kecil akan membentuk kontak batuan yang
agak mengikuti kontur topografi, sedangkan lapisan dengan kemiringan yang
besar akan kurang mengikuti kontur topografi.
Dibawah ini akan digambarkan suatu seri peta yang memperlihatkan
perpotongan kontak batuan dengan topografi. Kontur struktur dan kontur topografi
memiliki interval 100 meter. Kontak digambarkan dengan warna hijau dan batuan
yang ada dibawah kontak berwarna kuning. Diketahui jurus lapisan 45o dan berada
pada ketinggian 700 meter.
a) Kemiringan lapisan berlawanan dengan slope topografi
Pada peta – peta dibawah ini, slope topografi ke arah tenggara sedangkan
kemiringan lapisan ke arah barat laut.

SALFINA SYARIF FAHRUL TANDRA


093 2015 0085 093 2016 0210
PRAKTIKUM GEOLOGI STRUKTUR
LABORATORIUM DINAMIS
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
PROBLEMA TIGA TITIK DAN POLA PENYEBARAN SINGKAPAN

Gambar 2.4 Peta Penyebaran Singkapan Yang Dibentuk Dari Perpotongan


Kontur Topografi (Coklat) Dengan Kontur Struktur (Merah)
(1)Horisontal. (2) Dip 9o NW. (3)Dip 17o NW. (4) Dip 32o NW

Gambar 2.5 Peta Penyebaran Singkapan Yang Dibentuk Dari Perpotongan


Kontur Topografi (Coklat) Dengan Kontur Struktur (Merah)
(1) Dip 52o NW. (2) Dip 68o NW. (3)Dip 79o NW. (4) Vertikal

SALFINA SYARIF FAHRUL TANDRA


093 2015 0085 093 2016 0210
PRAKTIKUM GEOLOGI STRUKTUR
LABORATORIUM DINAMIS
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
PROBLEMA TIGA TITIK DAN POLA PENYEBARAN SINGKAPAN

Catatan : Kontak akan membentuk huruf V apabila kontak memotong


pegunungan atau lembah. Kontak yang membentuk huruf V akan
mengarah ke downdip dimana kontak itu memotong lembah (Gambar
2.6 a,b,c)
b) Kemiringan lapisan searah dengan slope topografi
Pada peta – peta dibawah ini akan digambarkan suatu kontak dengan
slope topografi yang berarah tenggara. Interval konur struktur yang berkurang
setengah dari satu peta ke peta berikutnya.

3 4

Gambar 2.6 Peta Penyebaran Singkapan Yang Dibentuk Dari Perpotongan


Kontur Topografi (Coklat) Dengan Kontur Struktur (Merah)
(1)Horisontal. (2) Dip 9o NE. (3)Dip 17o NE. (4) Dip 32o NE
Pada peta 2 kontak kemiringan berada pada down-valley, tetapi kontak
membentuk V mengarah ke upvalley. Kemudian pada peta 3, bentuk V membalik dan
mengarah ke downvalley.
Pada peta 2 kemiringan lapisan mendekati sama dengan slope dari dasar
lembah, sehingga kontaknya mengarah ke upvalley. Jika slope tepat sama dengan
kemiringan lapisan, maka kontak akan berada di sepanjang dinding lembah dengan
ketinggian yang konstan diatas dasar lembah.
Pada peta 1, kontak juga membentuk V yang mengarah ke upvalley, dimana
hal ini merupakan ciri dari kontur topografi. Hukum V pada kontak yang miring dapat
digunakan pada kemiringan yang relatif ke lembah atau pegunungan yang dipotong.

SALFINA SYARIF FAHRUL TANDRA


093 2015 0085 093 2016 0210
PRAKTIKUM GEOLOGI STRUKTUR
LABORATORIUM DINAMIS
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
PROBLEMA TIGA TITIK DAN POLA PENYEBARAN SINGKAPAN

Sangat jarang ditemukan dasar lembah atau puncak bukit yang memiliki slope sangat
curam, sehingga kebanyakan kontak pada peta geologi membentuk V yang mengarah
ke downdip seperti halnya lembah. Pada peta 3 bidang lapisan lebih terjal daripada
topografinya, sehingga bentuk V mengarah ke downvalley.
Sebagai catatan bahwa antara peta 2 dan 3, daerah kuning secara jelas membalik dari
SW to NE. Alasannya bahwa slope topografi regional berada diantara 9o – 17o SW.
Pada peta 2, bidang lapisan memiliki kemiringan yang lebih landai dibandingkan
topografi tetapi pada peta 3, bidang lapisan lebih terjal daripada topografi.

Gambar 2.7 Peta Penyebaran Singkapan Yang Dibentuk Dari Perpotongan


Kontur Topografi (Coklat) Dengan Kontur Struktur (Merah)
(1) Dip 52o NW. (2) Dip 68o NW. (3)Dip 79o NW. (4) Vertikal

SALFINA SYARIF FAHRUL TANDRA


093 2015 0085 093 2016 0210
PRAKTIKUM GEOLOGI STRUKTUR
LABORATORIUM DINAMIS
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
PROBLEMA TIGA TITIK DAN POLA PENYEBARAN SINGKAPAN

Gambar 2.8 Penyebaran singkapan batuan berdasarkan topografi dan ke-


bkjgkjgkkkjkjmiringan lapisan batuan (Hukum V)

2.3 Pembuatan Pola Penyebaran Singkapan

Untuk membuat pola penyebaran singkapan, dilakukan kombinasi antara data


kedudukan lapisan batuan dan data topografi untuk dapat mengetahui penyebaran
singkapan batuan tersebut. Pola penyebaran singkapan tergantung pada :
1. Tebal lapisan
2. Topografi
3. Besar kemiringan lapisan batuan
4. Bentuk struktur lipatan
Sedangkan topografi dikontrol oleh batuan penyusun, struktur geologi, dan proses
geomorfik.
Bila setiap singkapan batuan yang sama dihubungkan satu sama lain dan batas
satuan batuan tersebut digambarkan pada peta topografi, maka akan tampak suatu pola
penyebaran singkapan. Hubungan antara kedudukan lapisan, penyebaran singkapan,
dan topografi dirumuskan ke dalam suatu aturan tertentu yang disebut dengan Hukum
V (lihat gambar 2.8)
Pola penyebaran singkapan dapat digambarkan pada peta topografi apabila :
1. Letak titik singkapan pada peta topografi diketahui

SALFINA SYARIF FAHRUL TANDRA


093 2015 0085 093 2016 0210
PRAKTIKUM GEOLOGI STRUKTUR
LABORATORIUM DINAMIS
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
PROBLEMA TIGA TITIK DAN POLA PENYEBARAN SINGKAPAN

2. Strike dan kemiringan lapisan batuan diketahui


3. Terdapat garis ketinggian pada peta topografi
4. Singkapan batuan yang akan dibuat polanya belum terganggu oleh struktur.
Contoh :
Di lokasi X tersingkap batas batulempung dengan batugamping dengan kedudukan N
90o E/20o dimana batugamping berada di atas batulempung. Peta topografi dan posisi
X diketahui.
Penyelesaian :
Lihat gambar 2.9 Urutan penyelesaian sebagai berikut :
1. Buat garis SS’ yang sejajar dengan strike lapisan batuan yang melewati X.
2. Buat garis tegak lurus SS’ sebagai garis AB dan berpotongan di C (ketinggian
800 meter).
3. Buat garis CE yang melalui C dan menyudut terhadap garis AB dengan sudut
sebesar kemiringannya (dip = 20o).
4. Pada garis SS’ buat skala sesuai dengan ketinggiannya mulai dari titik C, ke
arah luar semakin kecil, sesuai dengan skala peta.
5. Buat garis yang melalui titik – titik ketinggian tersebut sejajar dengan garis AB
dan berpotongan dengan garis CE pada titik – titik tertentu.
6. Dari titik tersebut buat garis sejajar strike lapisan hingga berpotongan dengan
garis kontur.
7. Buat titik perpotongan garis tersebut dengan kontur yang mempunyai
ketinggian yang sama sebagai titik sama tinggi.
8. Hubungkan titik – titik tersebut dari masing – masing ketinggian sehingga
membentuk suatu pola penyebaran singkapan.

SALFINA SYARIF FAHRUL TANDRA


093 2015 0085 093 2016 0210
PRAKTIKUM GEOLOGI STRUKTUR
LABORATORIUM DINAMIS
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
PROBLEMA TIGA TITIK DAN POLA PENYEBARAN SINGKAPAN

Gambar 2.9 Membuat Pola Penyebaran Singkapan

SALFINA SYARIF FAHRUL TANDRA


093 2015 0085 093 2016 0210
PRAKTIKUM GEOLOGI STRUKTUR
LABORATORIUM DINAMIS
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
PROBLEMA TIGA TITIK DAN POLA PENYEBARAN SINGKAPAN

BAB III
PROSEDUR PERCOBAAN

Pertama – tama sebelelum kita memulai praktikum kita berdoa terlebih dahalu
kemudian menyiapkan alat dan bahan yaitu kertas hvs secukupnya, kertas grafik
(milimeterblock), pensil, pengapus, penggaris 30 cm, dan busur 360o. Kemudian
Asisten menjelaskan pengertian – pengertian dasar tentang problema tiga titik,
bagaimana cara memproyeksikannya, kemudian menjelaskan tentang pola penyebaran
suatu singkapan dimana kedudukan lapisan batuan tersebut dibantu dengan garis
kontur topografinya pada peta dan juga menjelaskan tentang aturan – aturan yang
mengatur mengenai hubungan tersebut disebut dengan Hukum ”V”.
Setelah asisten selesai menjelaskan kami memulai melakukan beberapa contoh
penggambaran tiga titk di suatu daerah tertentu yang mepunyai ketinggian masing -
masing yang diproyeksikan pada kertas grafik (milimeterblock) yang dibawa
menggunakan pesil, pada saat pengambaran kita memakai alat bantu busur derajat dan
penggaris agar ketepatan dalam penggambaran lebih baik. Setelah selesai
menggambar, dilanjutkan penggambaran pola penyebaran singkapan yang di mana
penggambarannya menggunakan garis kontur yang ada pada peta yang memiliki
keterangan skala, interval kontur, dan juga dip lalu kita proyeksikan polanya dan
terbentuklah pola yang menyerupai huruf V.

SALFINA SYARIF FAHRUL TANDRA


093 2015 0085 093 2016 0210
PRAKTIKUM GEOLOGI STRUKTUR
LABORATORIUM DINAMIS
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
PROBLEMA TIGA TITIK DAN POLA PENYEBARAN SINGKAPAN

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil

PROBLEM SET
PROBLEMA TIGA TITIK DAN POLA PENYEBARAN SINGKAPAN
1. Diketahui suatu singkapan batugamping yang tersingkap pada tiga titik
pengamatan. Pada lokasi B yang berjarak 550 m dari titik A dengan arah N 260o E
dan lokasi C yang berjarak 700 m dari lokasi A dengan arah N 170o E. Tentukan
kedudukan dari singkapan batugamping tersebut! Ketinggian titik A = 308 m, titik
B = 408 m, dan titik C = 258 m, dengan skala 1 : 10.000 (Interval Kontur = 20).
2. Pada suatu daerah ditemukan suatu lapisan batupasir yang tersingkap pada tiga titik
pengamatan. Pada lokasi B yang berjarak 700 m dari titik A dengan arah N 30 o E
dan lokasi C yang berjarak 800 m dari lokasi A dengan arah N 120o E. Tentukan
arah jurus dan kemiringan pada batupasir tersebut! Ketinggian titik A = 408 m,
titik B = 223 m, dan titik C = 273 m, dengan skala 1 : 10.000 (Interval Kontur =
20).
3. Sebuah lapisan batubara yang tersingkap pada tiga titik pengamatan dengan lokasi
B yang berjarak 300 m dari titik A dengan arah N 120o E dan lokasi C yang berjarak
400 m dari lokasi A dengan arah N 200o E. Tentukan arah strike dan kemiringan
pada lapisan batubara tersebut! Ketinggian titik A = 618 m, titik B = 558 m, dan
titik C = 458 m, dengan skala 1 : 10.000 (Interval Kontur = 20).
4. Pada sebuah daerah penelitian ditemukan laminasi batupasir yang tersingkap di
tiga titik pengamatan, yaitu pada lokasi B yang berjarak 450 m dari titik A dengan
arah N 200o E dan lokasi C yang berjarak 400 m dari lokasi A dengan arah N 150o
E. Tentukan kedudukan dari laminasi batupasir tersebut! Ketinggian titik A = 253
m, titik B = 128 m, dan titik C = 178 m, dengan skala 1 : 10.000 (Interval Kontur
= 20).

SALFINA SYARIF FAHRUL TANDRA


093 2015 0085 093 2016 0210
PRAKTIKUM GEOLOGI STRUKTUR
LABORATORIUM DINAMIS
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
PROBLEMA TIGA TITIK DAN POLA PENYEBARAN SINGKAPAN

4.2 Pembahasan

1. Dik : A-B = 550 m = 5,5 cm, N 260oE

A-C = 700 m = 7 cm, N 170oE

Titik Ketinggian : A = 350 m, B = 450 m, C = 300 m

Skala : 1:10.000

IK : 20

A-B A-C
Dtot = 5.5 Dtot = 9
Btot = 450-350 = 100 Btot = 350-300 = 50
Bta = 450-440 = 10 Bta = 350-340 = 10
Btb = 360 – 350 =10 Btc = 320 – 300 = 20
5.5 𝑥 10 7 𝑥 10
Da = = 0,55 Da = = 1,84
100 50
5.5 𝑥 10 7 𝑥 20
Db = = 0,55 Dc = = 2,8
100 50
5,5−(0,55+0,55) 7 −(1,4+2,8)
440−360
Dk = = 1,1 Dk =
340−320
= 2,8
20
20

B-C
Dtot = 9
Btot = 450-300 = 150
Btb = 450-440 = 10
Btc = 320 – 300 = 20
9 𝑥 20
Db = = 0,6
150
5.5 𝑥 10
Dc = = 1,2
100
9 −(0,6+1,2)
440−320
Dk = = 1,1
20

SALFINA SYARIF FAHRUL TANDRA


093 2015 0085 093 2016 0210
PRAKTIKUM GEOLOGI STRUKTUR
LABORATORIUM DINAMIS
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
PROBLEMA TIGA TITIK DAN POLA PENYEBARAN SINGKAPAN

2. Dik : A-B = 700 m = 7 cm, N 30 E o

A-C = 800 m = 8 cm, N 120oE

Titik Ketinggian : A = 450 m, B = 265 m, C = 315 m

Skala : 1:10.000

IK : 20

A-B A-C
Dtot = 7 Dtot = 8
Btot = 450-265 = 185 Btot = 450-315 = 135
Bta = 450-440 = 10 Bta = 450-440 = 10
Btb = 320 – 300 = 15 Btc = 320 – 315 = 5
7 𝑥 10 8 𝑥 10
Da = = 0,37 Da = = 0,59
185 135
7 𝑥 15 8𝑥5
Db = = 0,56 Dc = = 0,29
185 135
7 −(0,37+0,56) 8 −(0,59+0,29)
440−280 440−320
Dk = = 0,75 Dk = = 1,1
20 20

B-C
Dtot = 10,5
Btot = 315-265 = 50
Btb = 315-300 = 15
Btc = 280 – 265= 15
10,5 𝑥 15
Db = = 3,15
50
10,5 𝑥 15
Dc = = 3,15
50
10,5 −(3,15+3,15)
300−280
Dk = = 4,2
20

SALFINA SYARIF FAHRUL TANDRA


093 2015 0085 093 2016 0210
PRAKTIKUM GEOLOGI STRUKTUR
LABORATORIUM DINAMIS
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
PROBLEMA TIGA TITIK DAN POLA PENYEBARAN SINGKAPAN

3. Dik : A-B = 300 m = 3 cm, N 120 E o

A-C = 400 m = 4 cm, N 200oE

Titik Ketinggian : A = 660 m, B = 600 m, C = 500 m

Skala : 1:10.000

IK : 20

A-B A-C
Dtot = 3 Dtot = 4
Btot = 660-600 = 60 Btot = 660-500 = 160
Bta = 660-640 = 20 Bta = 660-640 = 20
Btb = 620 – 600 = 20 Btc = 520 – 500 = 20
3 𝑥 20
Da = =1 4 𝑥 20
60 Da = = 0,5
160
3 𝑥 20
Db = =1 4 𝑥 20
60 Dc = = 0,5
160
3 −(1+1)
4 −(0,5+0,5)
640−620
Dk = = 0,5 Dk =
640−520
= 0,6
20 20

B-C
Dtot = 3
Btot = 600-500 = 100
Btb = 600-580 = 20
Btc = 520 – 500 = 20
3 𝑥 20
Db = = 0,9
100
3 𝑥 20
Dc = = 0,9
100
3 −(1+1)
580−520
Dk = = 0,9
20

SALFINA SYARIF FAHRUL TANDRA


093 2015 0085 093 2016 0210
PRAKTIKUM GEOLOGI STRUKTUR
LABORATORIUM DINAMIS
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
PROBLEMA TIGA TITIK DAN POLA PENYEBARAN SINGKAPAN

4. Dik : A-B = 4,50 m = 4,5 cm, N 200 E o

A-C = 200 m = 2 cm, N 150oE

Titik Ketinggian : A = 295 m, B = 170 m, C = 220 m

Skala : 1:10.000

IK : 20

A-B A-C
Dtot = 2 Dtot = 4
Btot = 295-170 = 125 Btot = 295-220 = 75
Bta = 295-280 = 15 Bta = 295-280 = 15
Btb = 180 – 170 = 10 Btb = 240 – 220 = 20
2 𝑥 15 4 𝑥 15
Da = = 0,2 Da = = 0,8
125 75
2 𝑥 10 4 𝑥 20
Db = = 0,1 Dc = =1
125 75
2 −(0,2+0,1) 4 −(0,8+1)
280−1800 280−240
Dk = = 0,3 Dk = = 1,1
20 20

B-C
Dtot = 3,5
Btot = 220-170 = 50
Btb = 220-200 = 20
Btc = 180 – 170 = 10
3,5 𝑥 20
Db = = 1,4
50
3,5 𝑥 10
Dc = = 0,7
50
4 −(01,4+0,7)
200−180
Dk = = 1,4
20

SALFINA SYARIF FAHRUL TANDRA


093 2015 0085 093 2016 0210
PRAKTIKUM GEOLOGI STRUKTUR
LABORATORIUM DINAMIS
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
PROBLEMA TIGA TITIK DAN POLA PENYEBARAN SINGKAPAN

BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Problema tiga titik merupakan metode pencarian kedudukan lapisan bawah


permukaan dari data yang ada, dengan syarat lapisan tersebut belum terganggu
struktur. Kedudukan suatu singkapan umumnya terdapat di bawah permukaan
bumi. Sehingga untuk mengetahui kedudukan dari suatu singkapan tersebut dapat
dilakukan dengan menggunakan metode ini. Pola penyebaran singkapan batuan dapat
diperkirakan dari hubungan antara kedudukan lapisan batuan tersebut dengan kontur
topografinya. Aturan – aturan yang mengatur mengenai hubungan tersebut disebut
dengan Hukum ”V”.

5.2 Saran

5.2.1 Saran Untuk Laboratorium


Laboratoium sekiranya perlu di perluas karena terlalu sempit untuk melakukan
praktikum pengambaran.
5.2.2 Saran Untuk Asisten
Untuk asisten agar lebih sabar lagi dalam membimbing kami, dan kalau boleh
beri kami kesempatan lebih lagi untuk belajar dan memperbaiki kesalahan kami dalam
pengetikan untuk kesempurnaan laporan ini karena kami mengambil konsentrasi
eksplorasi dimohon pengertiannya atas keterlambatan dalam asistensi kami.

SALFINA SYARIF FAHRUL TANDRA


093 2015 0085 093 2016 0210
PRAKTIKUM GEOLOGI STRUKTUR
LABORATORIUM DINAMIS
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
PROBLEMA TIGA TITIK DAN POLA PENYEBARAN SINGKAPAN

DAFTAR PUSTAKA

https://ilmugeografi.com/kartografi/peta-topografi.

https://www.academia.edu/25969480/PROBLEMA_TIGA_TITIK_POLA_SINGKA
PAN_DAN_PETA_GEOLOGI_A_Pendahuluan.

Tim Asisten Geologi Struktur 2018-Panduan Praktikum Geologi Struktur.

Benyamin Sapiie-Prinsip Dasar Geologi Struktur.

SALFINA SYARIF FAHRUL TANDRA


093 2015 0085 093 2016 0210