Anda di halaman 1dari 17

PRAKTIKUM GEOLOGI STRUKTUR

LABORATORIUM DINAMIS
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
KETEBALAN DAN KEDALAMAN

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Geologi struktur adalah studi mengenai distribusi tiga dimensi tubuh batuan
dan permukaannya yang datar ataupun terlipat, beserta susunan internalnya.
Geologi struktur mencakup bentuk permukaan yang juga dibahas pada studi
geomorfologi, metamorfisme dan geologi rekayasa. Dengan mempelajari struktur
tiga dimensi batuan dan daerah, dapat dibuat kesimpulan mengenai sejarah tektonik,
lingkungan geologi pada masa lampau dan kejadian deformasinya. Hal ini dapat
dipadukan pada waktu dengan menggunakan kontrol stratigrafi maupun
geokronologi, untuk menentukan waktu pembentukan struktur tersebut.
Secara lebih formal dinyatakan sebagai cabang geologi yang berhubungan dengan
proses geologi dimana suatu gaya telah menyebabkan transformasi bentuk, susunan,
atau struktur internal batuan kedalam bentuk, susunan, atau susunan intenal yang
lain. Untuk memahami struktur geologi yang ada dan bagaimana proses terjadinya
maka sangatlah perlu diadakan pengamatan secara langsung.
Pengertian Data dalam ilmu kebumian selalu berkaitan dengan kedalaman
dan ketebalan. Oleh karena itu, seorang ahli ilmu kebumian harus mempunyai
kemampuan untuk menentukan kedalaman dan ketebalan. Kedalaman sendiri
sebenarnya adalah lokasi sebuah titik, yang diukur secara vertical terhadap
ketinggian titik acuan. Dalam ilmu Geofisika misalnya. Dikenal klasifikasi
gempaberdasarkan kedalaman. Menurut Fowler, 1990, Seperti halnya kedalaman,
kemampuan untuk menentukan ketebalan jugasangat diperlukan dalam ilmu
kebumian. Dengan mengetahui cara menghitungketebalan, ahli kebumian bisa
menyelidiki ketebalan lapisan-lapisan penyusunbumi sehingga kita bisa mengetahui
bahwa ketebalan kerak bumi mencapai 100km, ketebalan matel adalah sekitar 2900
km, liquid outer core sekitar 2200 km,dan solid inner core sekitar 1250 km. Jadi
jelaslah bahwa sangat bermanfaat sekali, khususnya bagi orang-orang yang
mempelajari ilmu kebumian, untuk mengetahui (cara) danmenentukan kedalaman.
Karena mempelajari bumi berarti mempelajari segalayang ada di dalamnya. Dan itu
berhubungan langsung dengan kedalaman dan ketebalan

FAHMI HIDAYAH FAHRUL TANDRA


09320150050 09320160210
PRAKTIKUM GEOLOGI STRUKTUR
LABORATORIUM DINAMIS
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
KETEBALAN DAN KEDALAMAN

1.2. Maksud dan Tujuan

1.2.1. Maksud

Adapun maksud dilaksanakan praktikum ini adalah umtuk memenuhi mata


kuliah Geologi Struktur yang berjumlah tiga sks di Jurusan Teknik Pertambangan
Fakultas Teknologi Industri Universitas Muslim Indonesia, serta untuk meningkatkan
keterampilan dan pengetahuan.

1.2.2. Tujuan
Adapun tujuan dilaksanakan praktikum ini adalah:

1. Agar kami dapat memahami tentang ketebalan dan kedalaman.


2. Agar kami dapat menghitung ketebalan dan kedalaman dari suatu singkapan
batuan.

1.3. Alat dan Bahan

1.3.1. Alat

1. Alat tulis menulis

2. Penggaris

3. Busur 3600

1.3.2. Bahan
1. Kertas A4
2. Problem set (Kertas Grafik A4)
3. Buku Penuntun

FAHMI HIDAYAH FAHRUL TANDRA


09320150050 09320160210
PRAKTIKUM GEOLOGI STRUKTUR
LABORATORIUM DINAMIS
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
KETEBALAN DAN KEDALAMAN

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Dasar Teori

Struktur garis adalah struktur batuan berbentuk garis yang mempunyai arah dan
kedudukan. Struktur garis dijumpai sebagai sumbu lipatan, garis sesar dan lain
sebagainya. Garis merupakan unsur dari bidang sehingga kedudukannya dapat
mengikuti suatu bidang dan dapat juga berdiri sendiri sebagai struktur garis. Struktur
garis dalam geologi struktur dapat kita bedakan menjadi dua, yaitu struktur garis
riil dan struktur garis semu :
1. Struktur garis riil adalah struktur garis yang arah dan kedudukannya dapat
diamati secara langsung di lapangan, misalnya gores yang terdapat pada bidang
sesar.

Gambar 2.1 Struktur Patahan atau Sesar

2. Struktur garis semu adalah struktur garis yang arah serta kedudukannya
ditafsirkan dari orientasi suatu unsur struktur yang membentuk pada satu
kelurusan atau liniasi. Liniasi adalah keadaan dimana mineral-mineral
prismatik membentuk kenampakan penjajaran pada batuan seperti genggaman
pensil. Contohnya pada suatu fragmen breksi besar, mineral-mineral pada

FAHMI HIDAYAH FAHRUL TANDRA


09320150050 09320160210
PRAKTIKUM GEOLOGI STRUKTUR
LABORATORIUM DINAMIS
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
KETEBALAN DAN KEDALAMAN

batuan beku, arah liniasi pada struktur batuan, kelurusan sungai, topografi dan
sebagainya.

Gambar 2.2 Fragmen Breksi Besar

Berdasarkan pembentukannya, struktur garis dapat dibedakan menjadi dua


macam, yaitu :
1. Struktur Garis Primer
Struktur garis primer meliputi liniasi atau penjajaran dari mineral yang terdapat
pada batuan beku tertentu dan arah liniasi dari struktur sedimen. (Anonim, 2013)

Gambar 2.3 Lapisan - lapisan Sedimen Graded Bedding

FAHMI HIDAYAH FAHRUL TANDRA


09320150050 09320160210
PRAKTIKUM GEOLOGI STRUKTUR
LABORATORIUM DINAMIS
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
KETEBALAN DAN KEDALAMAN

2. Struktur Garis Sekunder


Struktur garis sekunder meliputi gores garis liniasi memanjang fragmen breksi
sesar, kelurusan dari sungai, garis poros lipatan, topografi dan lain-lain.
Dalam mempelajari struktur garis, ada beberapa istilah-istilah yang
digunakan dan harus dipahami, agar mempermudah dalam menggambarkannya.
Istilah-istilah yang digunakan tersebut, yaitu :
1. Arah Penunjaman (Trend)
Arah penunjaman atau trend adalah jurus dari bidang vertikal yang melalui
garis dan menunjukkan arah penunjaman garis tersebut. Trend hanya
menunjukkan suatu arah tertentu.
2. Penunjaman (Plunge)
Plunge adalah suatu sudut vertikal yang diukur dari arah bawah pada suatu
bidang vertikal di antara garis horizontal.
3. Arah Kelurusan (Bearing)
Bearing adalah suatu jurus bidang vertikal yang melalui suatu garis tetapi
tidak menunjukkan suatu arah daripada penunjaman garis itu atau menunjukkan
arah dimana salah satu arahnya merupakan suatu sudut pelurus.
4. Rake (Pitch)
Rake adalah suatu besar sudut yang terletak di antara dua garis horizontal
yang diukur pada bidang dimana garis tersebut berada, besarnya sama dengan
atau lebih kecil.

FAHMI HIDAYAH FAHRUL TANDRA


09320150050 09320160210
PRAKTIKUM GEOLOGI STRUKTUR
LABORATORIUM DINAMIS
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
KETEBALAN DAN KEDALAMAN

Gambar 2.4 Contoh Rake (Pitch)

Gambar 2.5 Struktur Garis


Keterangan :
AE = Struktur garis pada bidang ABCD
AL = Arah Penunjaman (trend)
Α = Rake (pitch)
Θ =Penunjaman (plunge)

FAHMI HIDAYAH FAHRUL TANDRA


09320150050 09320160210
PRAKTIKUM GEOLOGI STRUKTUR
LABORATORIUM DINAMIS
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
KETEBALAN DAN KEDALAMAN

Penulisan (notasi) struktur garis dapat dinyatakan dengan plunge dan trend.
Sedangkan pada sistem azimuth hanya mengenal satu cara penulisan, yaitu : N XoE,
Yo dimana :
Yo = plunge yang besarnya 0o – 90o
Xo = trend yang besarnya 0o – 360o
Untuk sistem kwadran penulisannya tergantung posisi kwadran yang
diinginkan, seperti halnya pada struktur bidang, dimana :
Sistem Kwadran = S 45o E, 20o maka Sistem Azimuth = N 135o E, 20o
Sistem Kwadran = N 45o W, 25o maka Sistem Azimuth = N 315o E, 25o
Dalam garis trend hasil dari pengukuran yang dituliskan dengan tepat sesuai
dengan arah pembacaan kompas, dan pada satu titik dimana ada struktur garis
yang akan diukur diberikan tanda panah pada ujung-ujung garis tersebut sesuai
dengan arah yang ditunjukkannya. Untuk itu perlu dituliskan besar penunjaman pada
ujung tanda anak panah tersebut.

: Trend and plunge of line

: Horizontal line

: Double line

: Attitude of elongated pebble

: Attitude of mineral grains


30
: Or the bed

Gambar 2.6 Simbol Struktur Garis

Adapun cara pengukuran struktur garis dengan kompas geologi antara lain
sebagai berikut :
1. Pengukuran struktur garis yang mempunyai Trend
Adapun yang termasuk struktur garis ini adalah gores garis pada bidang
sesar, arah arus pembentukan struktur sedimen dan garis sumbu lipatan.

FAHMI HIDAYAH FAHRUL TANDRA


09320150050 09320160210
PRAKTIKUM GEOLOGI STRUKTUR
LABORATORIUM DINAMIS
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
KETEBALAN DAN KEDALAMAN

a. Pengukuran Arah Trend


Tempelkan alat bantu (dapat berupa buku lapangan atau (clipboard) pada
posisi tegak dan sejajar dengan struktur garis yang akan diukur.
b. Tempelkan sisi W atau E kompas pada posisi kanan atau kiri alat bantu
dengan visir kompas (sighting arm) mengarah ke penunjaman struktur garis
tersebut.
c. Levelkan atau horizontalkan kompas (bull’s eye level dalam keadaan
horizontal), maka harga yang ditunjuk oleh jarum utara kompas adalah
harga arah penunjamannya (trend).
2. Pengukuran Plunge (Sudut Penunjaman)
a. Tempelkan sisi W kompas pada sisi atas alat bantu yang masih dalam
keadaan vertikal.
b. Levelkan dinometer dan baca besaran sudut vertikal yang ditunjukkan oleh
penunjuk pada skala dinometer.

Gambar 2.7 Mengukur Plunge Menggunakan Kompas

Pengukuran struktur garis yang tidak mempunyai trend (horisontal).Adapun


yang termasuk dalam struktur garis ini pada umumnya berupa arah-arah kelurusan
(arah liniasi fragmen breksi sesar, arah kelurusan sungai, arah kelurusan garis sesar).
Jadi yang perlu diukur hanya arah kelurusan (bearing) saja.
1. Pengukuran Rake (Pitch)

FAHMI HIDAYAH FAHRUL TANDRA


09320150050 09320160210
PRAKTIKUM GEOLOGI STRUKTUR
LABORATORIUM DINAMIS
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
KETEBALAN DAN KEDALAMAN

a. Buat garis horizontal pada bidang dimana struktur garis tersebut berada
(sama dengan jurus bidang tersebut) yang memotong struktur garis yang
akan diukur rake-nya.
b. Ukur besar sudut lancip yang dibentuk oleh garis horizontal, dengan
struktur garis tersebut menggunakan busur derajat. Pengukuran struktur
garis yang tidak mempunyai trend (horizontal).
2. Pengukuran Bearing
a. Arah visir kompas sejajar dengan unsur-unsur kelurusan struktur garis yang
akan diukur, misalnya sumbu memanjang fragmen breksi besar.
b. Pada posisi dalam langkah pertama, levelkan kompas (bull’s eye level
dalam keadaan horizontal), maka harga yang ditunjuk oleh jarum utara
kompas adalah harga arah bearing-nya.

Gambar 2.8 Mengukur Bearing Menggunakan Kompas

Penentuan tebal dan kedalaman dalam geologi struktur pada dasarnya


merupakan aplikasi dari metode grafis dan geometris. Tebal merupakan jarak tegak
lurus antara dua bidang yang sejajar, yang merupakan batas lapisan batuan.

FAHMI HIDAYAH FAHRUL TANDRA


09320150050 09320160210
PRAKTIKUM GEOLOGI STRUKTUR
LABORATORIUM DINAMIS
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
KETEBALAN DAN KEDALAMAN

BAB III
PROSEDUR KERJA

3.1. Kedudukan Struktur Garis Dan Pitch Pada Struktur Bidang

Bayangkan (tidak perlu digambar!) permasalahan dalam tiga dimensi. COED


adalah bidang miring. Beda tinggi antara garis jurus CO dan garis jurus DE adalah t
(t dapat ditentukan secara bebas). Garis FG adalah proyeksi garis DE pada bidang
peta. Dapat dilihat bahwa untuk dapat mengukur besar penunjaman, kita harus
memutar bidang OAB ke bidang peta dengan menggunakan garis OA sebagai garis
lipat. Untuk dapat mengukur sudut besar pitch, kita harus memutar bidang COED ke
bidang peta dengan menggunakan garis CO (garis jurus) sebagai garis lipat. Kedua
garis jurus pada arah N45oE dengan panjang bebas \ Tentukan posisi titik C pada
garis ini (bebas). Gambar garis CI tegak lurus jurus (searah dengan arah kemiringan
sebenarnya). Ketiga Jadikan garis CI sebagai garis lipat F1, putar bidang penampang
ke bidang peta. Gambar garis CJ yang membentuk sudut 30o (kemiringan struktur
bidang) dengan CI. Keempat Buat garis KL tegak lurus CI (sejajar jurus). Garis ini
memotong garis CI dan CJ di titik F dan D'. Dalam pembuatan garis KL ini,
usahakan agar panjang FD' memiliki angka yang bulat dalam satuan milimeter. Garis
KL ini merupakan proyeksi garis jurus DE pada bidang peta. Dalam penggambaran
yang baru saja dilakukan, beda tinggi antara garis jurus CO dan garis jurus DE
adalah sebesar panjang FD' (t). Penentuan penunjaman struktur garis. Kelima
Gambar garis OA pada arah N1800E. Garis OA ini merupakan proyeksi struktur
garis pada bidang peta. Keenam Jadikan OA sebagai garis lipat F2, putar bidang
penampang ke bidang peta. Gambar garis AB'' tegak lurus OA sepanjang t. Ketujuh
Gambar garis OB''. Sudut AOB'' merupakan penjunjaman struktur garis. Penentuan
pitch. Kedelapan Jadikan garis jurus CO sebagai garis lipat F3, putar bidang miring
COED ke bidang peta. Dengan menggunakan jangka, gambar busur penghubung dari
titik D' ke D'', di mana D'' terletak di sepanjang garis lipat CI dan titik C sebagai
pusat busur penghubung. Panjang CD'' sama dengan panjang CD'. Kesembilan
Gambar segi empat COE'D''. Segi empat ini adalah bidang miring COED yang telah
diputar ke bidang peta dengan menggunakan garis CO sebagai garis lipat. Setelah
perputaran ini, titik B yang sebelumnya berada di bidang miring, akan terputar ke B'

FAHMI HIDAYAH FAHRUL TANDRA


09320150050 09320160210
PRAKTIKUM GEOLOGI STRUKTUR
LABORATORIUM DINAMIS
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
KETEBALAN DAN KEDALAMAN

di bidang peta. Kesepuluh Gambar garis OB'. Garis ini adalah struktur garis OB yang
telah diputar ke bidang peta dengan menggunakan garis CO sebagai garis lipat.
Sudut COB adalah pitch. Kesebelas Pengukuran dengan menggunakan busur
menghasilkan kedudukan struktur garis 23o, N180oE, dan besarnya pitch 50o.

3.2. Struktur garis yang terbentuk dari perpotongan dua struktur bidang

Gambar jurus kedua struktur bidang pada skala yang cocok dan saling
berpotongan di titik K. Tandai arah kemiringan pada kedua garis jurus. Gambar garis
lipat F1 tegak lurus jurus lapisan batugamping dan garis lipat F2 tegak lurus jurus
korok andesit, putar bidang-bidang penampang ke bidang peta. Gambar garis PX
dan BI yang masing-masing membentuk sudut 40o dan 25 o
terhadap F1 dan F2.
Kemudian Gambar garis YV tegak lurus F1. Garis ini memotong F1 dan PX di titik
U dan S'. Dalam pembuatannya, usahakan agar US' memiliki panjang yang bulat
dalam satuan milimeter, dan dalam hal ini dicontohkan panjangnya t. Kemudian Gambar
garis JG tegak lurus F2. Garis ini memotong F2 dan BI di titik F dan C'. Dalam
pembuatannya, FC' harus memiliki panjang t. Kemudian Garis YV dan JG
berpotongan di titik M. Gambar garis KM yang merupakan proyeksi zona
mineralisasi pada bidang peta. Karena itu, arah KM merupakan arah penunjaman
zona mineralisasi. Kemudian Jadikan KM sebagai garis lipat, putar bidang
penampang ke bidang peta. Gambar garis MZ' tegak lurus KM dengan panjang t.
Gambar garis KZ'. Sudut MKZ' adalah penunjaman zona mineralisasi. Kemudian
Pengukuran dengan menggunakan busur menghasilkan kedudukan zona mineralisasi
20o,N216oE.Pitch dari zona mineralisasi terhadap lapisan batugamping dan korok
andesit dapat ditentukan dengan menggunakan metode Pitch zona mineralisasi
terhadap lapisan batugamping = 41o dan terhadap korok andesit =78o.

3.3. Penentuan Penunjuman Semu

Memperlihatkan permasalahan yang ada. Kita ingin menentukan kedudukan


proyeksi lubang bor pada penampang. Dari Gambar dapat dibayangkan bahwa
o
proyeksi lubang bor pada penampang akan memiliki arah penunjaman N90 E.
Kemudian Gambar ulang garis penampang dan garis proyeksi lubang bor pada peta.
Tentukan titik X pada garis proyeksi lubang bor. Kemudian Gunakan garis OX
sebagai garis lipat F1, putar bidang penampang ke bidang peta. Buat garis OA yang

FAHMI HIDAYAH FAHRUL TANDRA


09320150050 09320160210
PRAKTIKUM GEOLOGI STRUKTUR
LABORATORIUM DINAMIS
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
KETEBALAN DAN KEDALAMAN

membentuk sudut 30 o (penunjaman struktur garis) dengan OX. Kemudian Buat garis
dari titik X yang tegak lurus OX. Garis ini memotong OA di titik Kemudian Ukur
jarak XW, misalkan jarak ini adalah d. Kemudian Proyeksi titik X pada penampang
adalah titik Y. Kemudian Gunakan garis OY sebagai garis lipat F2, putar bidang
penampang ke bidang peta. Buat garis dari titik Y yang tegak lurus OY dengan
panjang d, menghasilkan titik Z. Buat garis OZ. Kemudian Sudut YOZ adalah
penunjaman semu yang dicari. Pengukuran dengan busur menghasilkan penunjaman
semu =39o. Dengan demikian, kedudukan proyeksi lubang bor pada penampang
adalah 39o, N90oE

FAHMI HIDAYAH FAHRUL TANDRA


09320150050 09320160210
PRAKTIKUM GEOLOGI STRUKTUR
LABORATORIUM DINAMIS
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
KETEBALAN DAN KEDALAMAN

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. HASIL

1. Suatu zona mineralisasi dianggap sebagai zona atau garis lurus, yang merupakan
perpotongan antara lapisan batu gamping dengan kedudukan N 1310 E / 30 SW,
dan suatu korok andesit dengan kedudukan S 210 W/ 350 NW. tentukan
kedudukan struktur garis yang merupakan zona mineralisasi tersebut.
2. Suatu struktur bidang memiliki kedudukan N 660 E / 350 SE. pada bidang
tersebut terdapat struktur garis berarah N 1350 E. Tentukan :
a) Tentukan kedudukan dan pitch struktur garis tersebut.
b) Gambarkan geometri 3 dimensinya.
3. Lubang bor memiliki kedudukan 250 , N 350 W. tentukan kedudukan proyeksi
lubang bor ini pada penampang vertical berarah E-W.
4. Suatu zona mineralisasi dianggap sebagai zona atau garis lurus, yang merupakan
perpotongan antara lapisan batu gamping dengan kedudukan N 210 E / 450 SE,
dan suatu korok andesit dengan kedudukan S 810 W/ 300 NW. Tentukan
kedudukan struktur garis yang merupakan zona mineralisasi tersebut.
5. Suatu urutan batuan terkena sesar dan kedudukan bidang sesar tersebut adalah N
460 E/300. Cerminan gores-garis pada bidang tersebut mempunyai pitch. Sebesar
500. Diukur dari jurus bidang sesar kecermin gores garis searah dengan jarum
jam. Ditanyakan kedudukan cermin gores-garis tersebut ( trend dan plunge ).
6. Suatu struktur bidang memiliki kedudukan N 1210 E / 350 SW. pada bidang
tersebut terdapat struktur garis N 2410 E. Tentukan :
a) Tentukan kedudukan dan pitch struktur garis tersebut.
b) Gambarkan geometri 3 dimensinya
7. Pada suatu struktur bidang batuan memiliki kedudukan N 1260 E / 330 SW. pada
bidang tersebut terdapat struktur garis berarah N 2210 E. tentukan kedudukan
dan pitch struktur garis tersebut.
8. Pada zona mineralisasi yang dianggap sebagai susatu zona atau garis lurus, yang
merupakan perpotongan antara lapisan batugamping dengan kedudukan N 560 E

FAHMI HIDAYAH FAHRUL TANDRA


09320150050 09320160210
PRAKTIKUM GEOLOGI STRUKTUR
LABORATORIUM DINAMIS
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
KETEBALAN DAN KEDALAMAN

/ 350 SE, dengan suatu korok andesit dengan kedudukan N 1560 E / 300 SW.
tentukan kedudukan struktur garis yang merupakan zona mineralisasi tersebut.
9. Pada suatu struktur bidang batuan memiliki kedudukan N 1510 E / 350 SW. pada
bidang tersebut terdapat struktur garis berarah N 2660 E. tentukan kedudukan
dan pitch struktur garis tersebut.
10. Suatu urutan batuan terkena sesar dan kedudukan bidang sesar tersebut adalah N
360 E / 400 SE. cermin gores-garis pada bidang tersebut mempunyai pitch
sebesar 270. Diukur dari jurus bidang sesar kecermin gores-garis berlawanan
arah dengan jarum jam. Ditanyakan kedudukan dari cermin gores-garis tersebut
( trend dan plunge )

4.2. Pembahasan

1. Dari hasil penggambaran suatu zona mineralisasi dianggap sebagai zona atau
garis lurus, yang merupakan perpotongan antara lapisan batu gamping dengan
kedudukan N 1300 E / 30 SW, dan suatu korok andesit dengan kedudukan S 200
W/ 350 NW. Maka kedudukan struktur garis yang merupakan zona mineralisasi
adalah 240, N 2390 E.
2. Dari hasil penggambaran suatu struktur bidang memiliki kedudukan N 650 E /
350 SE. pada bidang tersebut terdapat struktur garis berarah N 1350 E. Maka
kedudukannya 330, N 1350 E dan pitch 740
3. Dari hasil penggambaran suatu lubang bor memiliki kedudukan 250 , N 350 W.
maka kedudukan proyeksi lubang bor ini pada penampang vertical berarah E-W
adalah 230.
4. Dari hasil penggambaran suatu zona mineralisasi dianggap sebagai zona atau
garis lurus, yang merupakan perpotongan antara lapisan batu gamping dengan
kedudukan N 200 E / 450 SE, dan suatu korok andesit dengan kedudukan S 800
W/ 300 NW. Maka kedudukan struktur garis yang merupakan zona mineralisasi
tersebut adalah 390, E N 1620 E
5. Dari hasil penggambaran suatu urutan batuan terkena sesar dan kedudukan
bidang sesar tersebut adalah N 460 E/300. Cerminan gores-garis pada bidang
tersebut mempunyai pitch. Sebesar 500. Diukur dari jurus bidang sesar kecermin

FAHMI HIDAYAH FAHRUL TANDRA


09320150050 09320160210
PRAKTIKUM GEOLOGI STRUKTUR
LABORATORIUM DINAMIS
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
KETEBALAN DAN KEDALAMAN

gores garis searah dengan jarum jam. Maka kedudukan cermin gores-garis
tersebut ( trend dan plunge ) adalah trend yaitu N 960 E dan plunge yaitu N 240
E.
6. Dari hasil penggambaran suatu struktur bidang memiliki kedudukan N 1200 E /
350 SW. pada bidang tersebut terdapat struktur garis N 2400 E. Maka
kedudukannya 300, N 2400 E dan pitch struktur garis tersebut adalah 500
7. Dari hasil penggambaran suatu struktur bidang batuan memiliki kedudukan N
1250 E / 330 SW. pada bidang tersebut terdapat struktur garis berarah N 2200 E.
Maka kedudukannya adalah 340, N 2200 E dan pitch struktur garis tersebut
adalah 820.
8. Dari hasil penggambaran suatu zona mineralisasi yang dianggap sebagai susatu
zona atau garis lurus, yang merupakan perpotongan antara lapisan batugamping
dengan kedudukan N 500 E / 350 SE, dengan suatu korok andesit dengan
kedudukan N 1550 E / 300 SW. Maka kedudukan struktur garis yang merupakan
zona mineralisasi tersebut adalah 230, N 1990 E
9. Dari hasil penggambaran suatu struktur bidang batuan memiliki kedudukan N
1510 E / 350 SW. pada bidang tersebut terdapat struktur garis berarah N 2660 E.
Maka kedudukannya adalah 350, N 2650 E dan pitch struktur garis tersebut
adalah 710.
10. Dari hasil penggambaran suatu urutan batuan terkena sesar dan kedudukan
bidang sesar tersebut adalah N 360 E / 400 SE. cermin gores-garis pada bidang
tersebut mempunyai pitch sebesar 270. Diukur dari jurus bidang sesar kecermin
gores-garis berlawanan arah dengan jarum jam. Maka kedudukannya dari cermin
gores-garis tersebut adalah trend N 600 E dan plunge 210.

FAHMI HIDAYAH FAHRUL TANDRA


09320150050 09320160210
PRAKTIKUM GEOLOGI STRUKTUR
LABORATORIUM DINAMIS
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
KETEBALAN DAN KEDALAMAN

BAB V
PENUTUP

5.1. Kesimpulan

Dari praktikum Geologi Struktur mata acara struktur garis dapat kita ketahui
bahwa , Arah penunjaman (trend) adalah jurus dari bidang vertikal yang melalui
garis dan menunjukkan arah penunjaman garis tersebut (hanya menunjukkan satu
arah tertentu) (Siburian, 2014).
Arah kelurusan (bearing) adalah Jurus dari bidang vertikal yang melalui garis
tetapi tidak menunjukkan arah penunjaman garis tersebut (menujukkan arah-arah
dimana salah satu arahnya merupakan sudut pelurusannya) (Siburian, 2014).
Rake (pitch) adalah besar sudut antara garis dengan garis horizontal, yang
diukur pada bidang dimana garis tersebut terdapat. Besarnya rake sama dengan atau
lebih kecil 90o (Siburian, 2014).
Plunge merupakan Sudut penunjaman atau sudut yang dibentuk antara struktur
garis dengan bidang proyeksi horizontal (Siburian, 2014).
Dari praktikum garis juga kita dapat mengetahui cara menentukan kedudukan
struktur garis pada perpotongan dua stuktur bidan , apparent plunge , trend , pitch
dan plunge.

5.2. Saran

5.2.1 Untuk Laboratorium


Praktikan menyarankan agar laboratorium punya ruangan sendiri agar
jalannya lab kedepan dapat lebih baik.
5.2.2 Untuk Asisten
Praktikan menyarankan kepada asisten agar pada saat memberikan materi
praktikum sebaiknya semua asisten hadir di dalam laboratorium, agar lebih maksimal
lagi dalam memberikan arahan kepada praktikan.

FAHMI HIDAYAH FAHRUL TANDRA


09320150050 09320160210
PRAKTIKUM GEOLOGI STRUKTUR
LABORATORIUM DINAMIS
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
KETEBALAN DAN KEDALAMAN

DAFTAR PUSTAKA

Djauhari Noor, 2011, ”Geologi Untuk Perencanaan ”, Edisi pertama . Yogyakarta.


Salahuddin Dkk, 2008. ”Panduan Praktikum Geologi struktur”. Laboratorium
Geologi Dinamika. Jurusan Teknik Geologi. Universitas Gadjah Mada.
Bandung.
Tim Dosen dan Asisten., 2016. “Penuntun Praktikum Geologi Struktur”.
Laboratorium Dinamis. Jurusan Teknik Pertambangan. Universitas
Muslim Indonesia. Makassa

FAHMI HIDAYAH FAHRUL TANDRA


09320150050 09320160210